Guru Merdeka Belajar di Pekanbaru, Belajar Tanpa Paksaan

Awalnya saya ragu untuk mengadakan Nonton bareng (Nobar) Video Guru Merdeka Belajar yang akan saya lakukan di Kota Pekanbaru. Rasa percaya diri saya seolah hilang karena melihat berbagai sisi kesibukan para guru ataupun berbagai steakholder yang akan saya ajak untuk “Nobar”. Ditambah lagi masyarakat Pekanbaru kurang mengerti atau belum tau apa itu “Komunitas Guru Belajar (KGB)”.  Di tengah keraguan itu muncul keberanian saya untuk mengalahkan ego pribadi, kapan lagi saya akan berbagi informasi penting kepada para guru-guru berdaya, penerus estafet peradaban bangsa, yang selalu berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada peserta didik yang memasuki era milenial ini. Melihat perkembangan yang sangat cepat lalu diimbangi dengan berbagai inovasi pembelajaran yang mudah diakses dan dipelajari maka saya mencoba mengenalkan dan memulai menggugah emosi para guru walaupun hanya beberapa orang sekitar 10 orang  tapi rasanya saya bahagia dapat berdiri tegap dihadapan para guru. Mulailah saya rancang waktu pelaksanaan Nobar Merdeka Belajarkarena berbagai kesibukan saya pilih hari Jumat tanggal 28 Juni 2019 bertempat di Café Kopi Kirapa Jl. Ahmad Dahlan yang terkenal dengan nama Jl. Pelajar. Pelaksanaan dimulai pukul 14.00 mula-mula saya khawatir soalnya setelah saya sampai di Café Kopi Kirapa tepatnya pukul 13.00, belum terlihat orang-orang yang saya undang melalui grup WA ada juga yang melalui telpon dan sms langsung di tempat acara. Lalu saya mulai bertanya jangan-jangan mereka lupa atau para guru memilih berlibur bersama keluarga dari pada menghadiri undangan “Nobar Merdeka Belajar KGB Pekanbaru” yang belum jelas ini.  Setelah kurang lebih 30 Menit saya menunggu, akhirnya harapan saya mulai cerah untuk kesuksesan acara nobar beberapa guru mulai datang, pertama adalah Ibu Atika Hermansyah, M.Pd. yang sudah lama malang melintang di dunia KGB bahkan menurut informasi yang saya dapatkan beliau adalah utusan TPN dari riau tahun 2016 yang lalu, yang lebih luar biasa di sela-sela kesibukannya studi S3 di Padang menyempatkan waktu balik ke Pekanbaru untuk menghadiri acara Nobar yang saya buat. Setelah itu ada beberapa kawan-kawan guru dari sekolah lain turut hadir dan peserta mencapai 12 orang. Rasanya luar biasa saya tidak dapat membayangkan baru sekali saya melaksanakan Nobar Merdeka Belajar KGB Pekanbaru 12 orang yang antusias. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Setelah menyiapkan berbagai alat perlengkapan Nobar mulai dari proyektor, pengeras suara, dan sebagainya maka kegiatan Nobar dilaksanakan. Pada awal sebelum memulai saya mengajak kepada seluruh peserta untuk menjawab dan menyatukan berbagai pandangan mengenai informasi tentang apa itu merdeka belajar? Pak Ripi salah satu guru berdaya di MA Ma’arif Nahdlatul Ulama Riau mencoba memberikan argumentasinya tentang konsep merdeka belajar. Menurut beliau “Merdeka belajar adalah sebuah kebebasan untuk mencari informasi tentang segala hal terkait ilmu pengetahuan”. Setelah memberikan jawaban itu saya menguatkan jawaban beliau luar biasa jawaban bapak.  Ibu Sri dari salah satu sekolah ternama di Siak menambahkan jawaban terkait merdeka belajar menurut beliau merdeka belajar adalah belajar yang melekat kepada siapapun tanpa ada paksaan, tanpa embel-embel, hadiah, sertifikat untuk terus belajar. Setelah selesai saya menguatkan dan mengapresiasi jawaban peserta. Setelah mencoba memberikan pertanyaan tentang merdeka belajar saya coba pecahkan suasana bertanya kepada peserta apakah bapak/ibu guru ingin merdeka belajar’. Mereka serentak menjawab “Iya” Baiklah setelah selesai dengan sedikit pengetahuan tentang merdeka belajar saya ajak bapak ibu guru untuk menyaksikan video yang sudah disiapkan oleh Kampus Guru Cikal di web. Dimulailah video tersebut para peserta hening. Suasana menjadi hangat dan sepi semuanya dengan seksama menonton dan menyimak betul penjelasan dari bu Najelaa tentang apa itu merdeka belajar dan bagaimana ibu Najelaa mencoba menggugah suasana batin bapak ibu yang hadir dengan menjelaskan berbagai miskonsepsi belajar yang selama ini dimiliki oleh bapak ibu guru di seluruh Indonesia. Ada semacam ide-ide baru yang muncul dari gagasan yang disampaikan Ibu Najelaa terhadap kondisi pendidikan di Indonesia ini dan banyak tidak terpikirkan oleh para guru di seluruh Indonesia. Miskonsepsi-miskonsepsi ini yang nantinya saya diskusikan kepada para peserta Nobar yang saya lakukan. Setelah pemutaran video nobar, saya mengajukan 5 pertanyaan penting dari kegiatan nobar kepada para peserta. Kemudian saya mencoba mengulas sedikit tentang berbagai miskonsepsi dari penjelasan Ibu Najelaa, antara lain guru belajar menunggu sertifikat, uang pesangon, belajar hanya kepada ahli, individual, dan lain-lain. Mengawali dari tanggapan atau refleksi setelah melihat video itu ibu atika memberikan refleksi atau tanggapannya. Beliau mengatakan video tersebut membuat saya tergugah karena 20 tahun mbak Najelaa berkecimpung dalam dunia mendidik banyak salah kaprah dalam memahami arti belajar. Banyak aturan-aturan yang malah tidak membuat kreativitas guru meningkat, malah jarang sekali terjadi inovasi dalam pembelajaran.  Ibu Rini juga menambahkan beliau merasa terharu setelah nonton video tersebut beliau merasa selama 15 tahun mengajar belum memberikan yang terbaik untuk peserta didik sampai saat ini, oleh karena itu kedepan saya akan lebih baik lagi dan berusaha untuk melakukan inovasi pembelajaran. Maklum karena peserta sedikit dan pertama kali mereka masih malu-malu untuk bercerita santai tentang kemajuan pendidikan yang selama ini, hanya dua orang yang mau berefleksi, hehehe. Walaupun demikian rasanya luar biasa sudah bergabung dan bersama-sama untuk nobar dan mendapatkan pengalaman baru gagasan pendidikan kedepan. Di akhir pertemuan kami bersepakat untuk menumbuhkan semangat baru mengeksplor berbagai pengetahuan dalam diri, menjadikan “KGB” sebagai sarana untuk berubah dan berkembang. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Guru Merdeka Belajar, Ikut Pelatihan Tanpa Berharap Insentif

Pada  hari Rabu, 3 Juli 2019 pukul 10.00  WIB, Komunitas Guru Belajar (KGB) Pesisir Selatan mengadakan Temu Pendidik  Daerah ke-9 bertempat di SDN 26 Painan Selatan kecamatan IV Jurai. TPD Pessel ke-9  ini memiliki kegiatan inti Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Kegiatan TPD Pessel ke-9 ini di Moderatori  oleh saya sendiri Nofri Mayasril, sebagai salah satu calon penggerak dari KGB Pessel. Perkenalkan saya mengajar di SDN 03 Pelangai Gadang Ranah Pesisir, Pesisir Selatan. Kemudian pemandu nobar di pimpin oleh Ibu Rahmi Yanti selaku penggerak KGB Pessel yang sudah berpengalaman pada acara TPN 2018. Selain acara nobar, TPD ke-9 Pessel ini  juga diisi dengan penyampaian materi tentang Langkah-langkah menulis Essay dan bagaimana cara mempublikasikannya, yang disampaikan oleh saya sendiri Nofri Mayasril, S.Pd Kegiatan ini direncanakan mulai pada jam 10.00 WIB. Namun sayangnya peserta banyak yang datang terlambat, dikarenakan jarak dan lokasi tempuh dan luas nya Pesisir Selatan. Ketika itu peserta yang datang baru 5 orang dari 10 orang yang mendaftar. Sambil menunggu peserta lainnya datang, saya selaku moderator mempersilakan peserta mengisi absen secara online menggunakan media ponsel dari link yang telah ada. Pada saat pengisian absen secara online ini, peserta kaget, sebab belum pernah menghadiri sebuah pertemuan yang mengisi absen secara online. Kegiatan ini makin menambah  antusias peserta untuk mengikuti acara ini. Tidak lama kemudian, satu persatu peserta datang dan langsung mengisi absen online. Namun tidak semua peserta bisa mengisi absen, dikarenakan gangguan internet, nah disinilah dituntut kebersamaan dan saling membantu, sukses dan belajar bersama yang kita kemukakan. Kegiatan ini berjalan lancar dan peserta yang hadir pun, merupakan guru-guru yang belum pernah tahu tentang Komunitas Guru Belajar.  Berdasarkan hasil pengamatan saya, pada saat seorang peserta yang bernama Ibu Dani ketika menjawab pertanyaan di absen online tentang apa yang kamu ketahui tentang guru Komunitas Guru Belajar, beliau menjawab, ”Menambah  ilmu yang bermanfaat katanya.” Pada umumnya peserta ingin tahu tentang Komunitas Guru Belajar. Masuk ke kegiatan inti yaitu nonton bareng Guru Merdeka Belajar sebuah video ibu Najelaa Shihab pada Temu Pendidik Nusantara. Kegiatan ini di pandu oleh ibu Rahmi penggerak KBG Pessel, sebelum video di putar, beliau melemparkan pertanyaan ke peserta. “ Apa yang anda ketahui tentang guru merdeka belajar “ Saya sendiri termasuk awam dengan kegiatan ini, tidak pernah tau sebelum nya, Ibu rahmi pun menanyakan hal ini kepada saya, Beliau berkata silakan di jawaban Pak Nofri, silakan jawab apa yang terlintas apa yang Bapak pahami dengan Guru merdeka belajar. Saya pun menjawab, yang saya pahami dari Guru Merdeka Belajar, tidak ada keterikatan seorang Guru dalam mengajar dan belajar untuk mencapai tujuan. Kemudian para peserta lain pun menyampaikan hal apa yang mereka ketahui tentang Guru merdeka. Setelah penyampaian argumen tentang guru merdeka belajar tersebut, semua peserta menonton tayangan video tentang guru merdeka belajar. Terlihat antusias peserta serius mendengar dan mengamati tayangan video tersebut. Setelah tayangan selesai, tibalah saatnya sesi refleksi, ibu Rahmi menyampaikan pertanyaan “Diantara semua miskonsepsi, mana yang paling menggambarkan diri anda?” Lalu kebanyakan guru menjawab, kalau diberi insentif guru baru mau ikut pelatihan pada umumnya. Selanjutnya diskusi terus berlangsung tentang konsep merdeka belajar. Akhirnya semua peserta menyetujui dan sepakat bahwa untuk menjadi guru yang merdeka belajar haruslah memiliki  komitmen pada tujuan, kemudian mandiri serta mau melakukan refleksi. Meskipun tantangan yang paling besar bagi peserta adalah komitmen pada tujuan. Seorang guru mengeluhkan sulitnya mengubah mindset menjadi guru yang merdeka belajar karena situasi dan kondisi yang kurang mendukung.  Saya juga memahami dari hasil nobar hari ini. Komitmen seorang Guru Merdeka belajar adalah ketekunannya dalam perjalanan menuju tujuan yang bermakna bagi diri itu sendiri banyak hal yang terjadi di lapangan, ketidakpedulian seorang Guru terhadap murid bahkan terhadap dirinya sendiri.Tak heran saat di tanya bagaimana kelas hari ini dan apa yang dipelajari di kelas jawabannya biasa saja, seperti hari-hari yang lalu, bahkan murid ditanya ada yang tidak tau apa yang terjadi di kelas nya padahal si murid mengikuti proses belajar mengajar di kelas. Di sini semua peserta mau menjadi Guru merdeka Belajar dan telah membuat komitmennya masing-masing dan akan melakukan perubahan secara perlahan pada kelasnya. Mereka akan mulai menanamkan prinsip-prinsip guru merdeka belajar dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari hal yang kecil seperti; tidak mengharapkan insentif dan iming-iming sesuatu jika mengikuti pelatihan-pelatihan pembelajaran. Setelah acara Nobar, dilanjutkan dengan penyampaian materi tentang langkah-langkah menulis Essay dan bagaimana cara mempublikasikannya menjadi sebuah buku ber-ISBN. Peserta sangat antusias mendengarkan penyampaian materi. Kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara pemateri dan peserta tentang bagaimana cara menulis Essay, apa saja yang harus dipahami dan bagaimana cara mempublikasikannya. Di pertemuan perdana saya Nofri Mayasril, S.Pd bergabung dengan KGB sangat menarik, sangat memotivasi dalam menambah ilmu, saling berbagi dengan teman dan juga sebagai wadah komunikasi antar Guru dalam berbagi ilmu dan permasalahan yang ditemui dalam proses belajar mengajar di sekolah.  Demikian lah laporan singkat tentang liputan nobar Guru Merdeka Belajar. Tidak ada yang tidak mungkin dilakukan jika kita komitmen terhadap tujuan. Ayo mari kita benahi diri kita masing-masing sebagai seorang Guru, jadilah Guru yang Merdeka, berilmu dan melahirkan generasi penerus bangsa yang madani, tetap fokus dengan tujuan. Berkomitmen berarti bertanggung jawab, semua dilalui dengan tahap dan proses, tidak instan. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Guru Merdeka Belajar, Guru yang Berdaya dengan Berkolaborasi

Komunitas Guru Belajar Hulu Sungai Tengah (KGB HST) Kalimantan Selatan menyelenggarakan  Temu Pendidik Daerah dengan nonton bareng Guru Merdeka Belajar, Kamis 20 Juni 2019. Temu Pendidik Daerah ini mengambil tempat di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang dihadiri oleh sekitar 63 pendidik SD, SMP, dan Madrasah Aliyah. Dalam sambutannya Ketua KGB HST, Abdul Mujib melaporkan bahwa kegiatan ini mengawali dibentuknya KGB HST yang merupakan transformasi dari Komunitas Guru Menulis HST (KGM HST). Abdul Mujib juga menambahkan bahwa dia tidak menyangka kegiatan nobar tersebut mendapat respon positif dari para guru di Hulu Sungai Tengah yang semula dia mengira hanya akan dihadiri oleh sekitar 20 orang. Dalam 2 hari, pendaftaran peserta dibuka lewat formulir online, terpaksa harus ditutup dengan jumlah 63 pendaftar karena memperhitungkan kapasitas tempat acara. Dalam struktur kepengurusan KGB HST ada 3 orang, Abdul Mujib sebagai ketua, Taufik Rachman sebagai sekretaris dan Elizabeth Novita Y.L sebagai bendahara. KGB HST juga memiliki penasehat dari pengawas SMP Ibu Anton Nortasiah Rahmi yang juga hadir memberi sambutan pada agenda pembukaan. Dalam sambutannya Ibu Anton menegaskan bahwa guru tidak bisa berdaya sendirian, guru bisa berdaya dengan berbagi, bekerjasama dan berkolaborasi.    Temu Pendidik Daerah KGB HST dimulai dari jam 09.00 Wita juga dihadiri oleh Ibu Jumratil Kiptiah Kabid Bina SD mewakili Kepala Dinas Pendidikan HST bersama Bapak Muhammad Arsyad Kabid GTK dan Bapak Misran Kabid Paud Dikmas. Kepala Disdik HST dalam kesempatan ini diwakili Ibu Jumratil Kiptiah membuka acara, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas inisiatif dan inovasi guru-guru Hulu Sungai Tengah dalam berkumpul untuk berbagi dan bisa mengatasi permasalahan dengan duduk bersama.  Beliau juga menambahkan bahwa Disdik HST berharap lewat Komunitas Guru Belajar HST merupakan kumpulan orang-orang yang ingin maju bisa berkontribusi besar dalam memajukan pendidikan di bumi Murakata. Setelah seremoni pembukaan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan mengisi formulir daftar hadir secara online yang disediakan linknya oleh Kampus Guru Cikal. Pengisian tersebut dilaksanakan secara bersama-sama dan dipandu oleh Bapak Taufik Rachman. Kemudian acara dilanjutkan dengan nonton bareng video Guru Merdeka Belajar yang disampaikan  oleh ibu Najelaa Shihab, inisiator dan pendiri Kampus Guru Cikal. Sebelum pemutaran video, KGB HST melakukan survey kuisioner lewat aplikasi online (kahoot.it) kepada peserta. Survey berisi 8 pertanyaan tentang konsep merdeka belajar dan miskonsepsi yang ada dikalangan guru selama ini. Peserta nobar terlihat sangat antusias dan menikmati menjawab survey tersebut, dan beberapa peserta merasa kagum dengan penggunaan media digital dalam melakukan survey dan mereka menyatakan baru pertama kali melihatnya.  Video paparan tentang konsep merdeka belajar berdurasi sekitar 14 menit. Dalam video tersebut ibu Najelaa Shihab menyampaikan bahwa guru yang merdeka belajar adalah pendidik yang punya komitmen, memiliki kemandirian dan selalu reflektif. Beliau juga mengemukakan bahwa Guru Indonesia sulit untuk belajar karena sedang melawan banyak miskonsepsi yaitu: belajar perlu insentif, belajar harus dari ahli, belajar cukup tentang ‘how to’, belajar harus dengan target waktu, kompetensi bersifat individual, dan peran masyarakat adalah mensukseskan program pemerintah. Komunitas Guru Belajar hadir untuk membalik semua miskonsepsi tersebut. Dengan Komunitas Guru Belajar, guru bisa belajar sebagai kebutuhan alamiah, guru bisa belajar dengan efektif dari sesama guru sebagai figur realistis, guru bisa belajar dengan tujuan dalam konteks, guru bisa belajar dengan waktu yang tidak terbatas, guru bisa menumbuhkan kompetensi bersama lingkungan, dan Komunitas Guru Belajar punya mimpi dan harapan agar peran pemerintah bisa menguatkan praktik baik dari masyarakat. Selama pemutaran video tersebut seluruh peserta tampak memperhatikan dengan hikmat tayangan paparan konsep Merdeka Belajar. Selama 14 menit seisi ruangan tidak terdengar suara kecuali paparan dari video tersebut. Setelah tayangan video berakhir, rundown acara dilanjutkan dengan refleksi. Pada kegiatan refleksi ini dipandu oleh bapak Abdul Mujib dan peserta kegiatan duduk secara berkelompok dalam 6 kelompok kecil. Dalam kelompok, peserta melakukan kegiatan TPS (Think-Pair-Share). Peserta mendiskusikan refleksi mengikuti arahan 5 pertanyaan dari narasumber. Pertanyaan berisi tentang: gambaran miskonsepsi mana yang paling menggambarkan diri peserta? setujukah peserta dengan konsep merdeka belajar dan alasannya apa? inginkah peserta menjadi guru merdeka belajar? dan perubahan apa yang akan dilakukan di kelas sebagai guru merdeka belajar?. Ibu Barlian dari MAN 3 Hulu Sungai Tengah mengemukakan bahwa guru merupakan refleksi bagi peserta didiknya, apa yang dilakukan guru akan digugu dan ditiru peserta didiknya. Bapak Darlan guru MAN 3 HST juga menambahkan bahwa selain menjadi refleksi diri bagi peserta didik, guru merupakan saluran informasi utama bagi perserta didik untuk saling memberi dan menerima ilmu pengetahuan satu sama lain. Setelah diskusi dalam kelompok, peserta menuliskan refleksi mereka pada sticky note dan menempelkannya pada poster di dinding. Satu poster untuk catatan refleksi 2 kelompok. Selain membuat refleksi pada poster dinding, seluruh peserta juga memposting catatan refleksi mereka pada akun media sosial masing-masing dengan #NobarMerdekaBelajar #GuruBelajar dan #kgbhst. Acara nobar  diakhiri dengan foto bareng seluruh pendidik. Tampak raut kebahagian dalam kebersamaan Komunitas Guru Belajar HST. Apakah sahabat guru berdaya sudah atau ingin Merdeka Belajar? Mari bergabung bersama kami dalam wadah persaudaraan satu tujuan Komunitas Guru Belajar Hulu Sungai Tengah. Semua murid, semua guru.  Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Merdeka Belajar, Mewujudkan Pengalaman Belajar yang Bermakna

Pertama kali mendengar kata “merdeka belajar” cukup menggelitik hati saya. Apakah guru  bebas seenaknya mengajar, atau apakah murid bebas seenaknya belajar. Hal ini terjawab sudah setelah saya bergabung dalam KGB Pekalongan. Saya mulai mengenal KGB Pekalongan sejak mengikuti kegiatan Ransel Ramadhan tahun lalu. Mengikuti kegiatan-kegiatan KGB Pekalongan membuat semangat belajar saya semakin bertambah. Dengan mengikuti kegiatan KGB Pekalongan membuat saya sadar bahwa guru haruslah selalu meng-upgrade ilmu, guru harus selalu belajar, lebih-lebih bisa berbagi kepada teman sesama guru. Semakin lama semakin kami penasaran dengan praktek merdeka  belajar. Akhirnya ketika TPN 2018 saya memilih mengikuti kelas Guru Unun tentang Merdeka Belajar. Tidak hanya itu saja, sembari praktek merdeka belajar di kelas, agar sewaktu-waktu saya bisa kembali membuka materi, saya beli buku tentang merdeka belajar. Saya ingin praktek merdeka belajar yang positif ini menyebar di kota Pekalongan. Karena pengalaman belajar bermakna dapat terwujud karena adanya kemerdekaan belajar bagi guru dan siswa di sekolah. Dengan melobi sana sini, akhirnya ada sekolah yang bersedia untuk dijadikan tempat. Pada hari Kamis, 23 Mei 2019 pukul 13.00 WIB saya berkesempatan mengadakan nobar merdeka belajar. Tidak hanya nobar merdeka belajar saja, tetapi saya mengajak Guru Desi dan Guru Zidnil untuk berbagi. Guru Zidnil berbagi materi merdeka belajar menjelang PAT dan Guru Desi berbagi materi peningkatan literasi dengan panen tumbar. Tentang Guru Zidnil, beliau berbagi 3 kegiatan sekaligus. Yang pertama math challenge. Math challenge ini untuk mengetahui seberapa pemahaman anak terkait Matematika untuk persiapan PAT. Guru Zidnil mengolahnya dalam bentuk games. Anak tak terasa kalau masih evaluasi. Beberapa soal Matematika disebar di beberapa tempat dan anak menjelajahi beberapa sambil mengerjakan soal. Anak terlihat antusias mengerjakan dan belajar. Kegiatan kedua adalah smart id. Guru Zidnil memanfaatkan meja dan lantai untuk menempel double tip. Saling mengkaitkan dan membentuk sudut. Anak dibagi dalam beberapa kelompok dan dengan metode widow shopping. Ternyata cara ini membuat anak lebih semangat belajar daripada dengan metode ceramah saja. Kegiatan ketiga, Guru Zidnil berbagi pembelajaran dengan film memakai sinedu.id yang dipadukan dengan materi bahasa Indonesia. Anak-anak sangat senang dengan cara ini.  Selanjutnya, Guru Desi berbagi materi tentang peningkatan literasi dengan panen tumbar (papan temple dan kartu bergambar berbantuan kamus digital). Guru Desi mengajar mapel TIK. Sebelumnya guru Desi memilih musik untuk mengiringi pembelajaran. Sambil bermain dan belajar. Tiap kali music berhenti, giliran anak mencoba membaca kartu dan kemudian menempel pada papan. Kartu ini berisi gambar perangkat keras computer disertai dengan tulisan. Jadi anak tak hanya mengetahui tulisan dan pengucapan bahasa Inggris tetapi juga tahu fungsi dari alat tersebut. Jika anak masih salah dalam pelafalan maka bisa belajar sambil membuka oxford living dictionaries. Sebelum Guru Desi dan Guru Zidnil berbagi, kita mengadakan nobar merdeka belajar, kemudian dilanjut dengan diskusi, dan terakhir adalah refleksi. Kesimpulan hasil diskusi kami di antaranya adalah kita sepakat bahwa : Proses belajar membutuhkan kemerdekaan dan harus melibatkan semua pihak Pelajar dan guru yang merdeka mempunyai komitmen pada tujuan belajar. Pelajar mengetahui mengapa dan untuk apa dia belajar, begitu pun guru Pelajar dan guru merdeka adalah yang mandiri mengatur strategi untuk mencapai tujuan belajar. Seperti menekankan bahwa motivasi internal dalam belajar sangatlah penting, pelajar harus dilibatkan dalam merencanakan tujuan belajar, menjelaskan manfaat dan tujuan belajar, memberikan dukungan yang tepat, memberi kritik yang konstruktif, pelajar bertanggung jawab dalam proses belajarnya sendiri, merancang tantangan belajar, memberikan pilihan dalam proses belajar, melibatkan pelajar dalam proses asessment Pelajar dan guru merdeka harus melakukan refleksi. Memahami sejauh mana belajar, mengetahui sisi mana yang perlu dikembangkan, memantau seberapa jauh proses perjalanan belajarnya kemudian merencanakan follow up Pengalaman belajar bermakna akan terwujud jika ada kemerdekaan dalam belajar. Belajar itu tidak harus dengan ahli, tapi dengan sesama guru pun bisa belajar Belajar sebagai kebutuhan Belajar dengan tujuan dalam konteks Belajar butuh waktu Kompetensi tumbuh bersama lingkungan Merdeka belajar itu kita bisa belajar dengan siapapun, di manapun kita berada, dan kapan pun selalu belajar. Setelah nobar dan berdiskusi, saya mengajak teman-teman guru untuk berefleksi bersama. Setelah nobar kita jadi semakin sadar bahwa selama ini kita masih terkurung dengan segala miskonsepsi belajar. Padahal sebenarnya merdeka belajar adalah sebuah kebutuhan. Kita semua sepakat mengikis sedikit demi sedikit miskonsepsi yang selama ini ada dalam diri kita.

Guru Merdeka Belajar, Guru yang Mandiri

“Apa itu Merdeka Belajar?” “Apa berarti bebas tidak Belajar?” “atau justru Belajar yang seperti apa?” “Kenapa Guru harus Merdeka dalam Belajar?” Keempat pertanyaan ini merupakan pertanyaan pemantik yang saya tanyakan kepada peserta TPD KGB Lamongan pada tanggal 15 mei 2019 di MAN 1 Lamongan. Diawal diskusi peserta masih belum memahami makna merdeka belajar. Bagi peserta, merdeka belajar berarti belajar dengan cara sebebas-bebasnya, artinya belajar tidak harus berada di dalam kelas. Sayapun setuju dengan pernyataan itu, bahwa belajar tidak harus berada di dalam kelas, dimanapun tempatnya dan dengan siapapun orangnya kita dapat belajar bersama. Melalui forum ini saya menjelaskan kepada peserta bahwa konsep dari merdeka belajar sangat berkaitan dengan 4 kunci pengembangan guru, yaitu: Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi, dan Karier. Sebelum masuk ke materi kunci pengembangan guru, saya menanyakan kembali kepada peserta TPD mengenai cita-cita dari seorang guru. Seringkali sebagai seorang pendidik/guru menanyakan “Apa cita-citamu?” kepada murid, namun kita sering kali lupa akan cita-cita kita sendiri. Jawaban menarik terucap dari Guru Anis, “Saya ingin menjadi guru yang dapat berinovasi dalam pengembangan metode dan media ajar yang sesuai dengan kebutuhan murid”. Di saat saya bertanya apa alasannya Guru Anis menjawab “Agar murid saya menyukai mata pelajaran saya serta terlibat aktif dalam proses pembelajaran”.  Dari diskusi singkat tersebut dilanjutkan dengan penanyangan video merdeka belajar dari ibu Najelaa Shihab yang berdurasi 15 menit. Dalam video tersebut dipaparkan mengenai beberapa cara mejadi guru yang merdeka belajar dan miskonsepsi yang memang terjadi saat ini. Ada tiga poin utama mengenai Guru Merdeka Belajar. Pertama, guru yang merdeka belajar berarti guru yang memiliki komitmen pada tujuan. Guru yang merdeka akan memahami mengapa perlu mengajar suatu materi serta kaitannya dengan aplikasi kehidupan sehari-hari. Namun seringkali sebagai pendidik kita terjebak pada tugas-tugas administratif, akreditasi, serta ketentuan birokrasi yang sebenarnya hanyalah syarat yang kemudian berubah menjadi tujuan dan prioritas utama. Kedua, guru yang merdeka itu mandiri, selalu bergantung pada dirinya untuk mengatasi tantangan, tidak mudah menyerah menghadapi tantangan, serta tidak mudah menyalahkan orang lain dan keadaan. Ketiga, guru yang merdeka itu reflektif, artinya berani meminta umpan balik secara aktif dan menilai diri sendiri dengan objektif. Pada kenyataannya kita cenderung menutup mata menolak melihat cermin diri kita sendiri dengan seribu alasan. Kita selalu mengatakan bahwa masyarakat belum paham mengenai sistem pendidikan, anak-anak tidak mengerti, orang tua akan menentang, peraturan pemerintah yang ruwet, dan lain sebagainya. Padahal itu adalah ketakutan kita sendiri untuk menuju perubahan. Selanjutnya, dipaparkan mengenai ragam miskonsepsi yang kerap dilekatkan pada guru. Diantaranya mengenai stigma bahwa guru hanya mau belajar apabila mendapatkan sertifikat atau uang. Namun guru-guru di KGB justru melawan miskonsepsi tersebut. “Guru-guru belajar yang hadir hari ini sebetulnya belajar karena kebutuhan alamiah. Banyak yang tidak percaya bahwa rekan-rekan guru ini datang dengan biaya sendiri, tanpa janji sertifikat atau uang apapun, hanya untuk belajar,” ujar bu Najelaa.  Miskonsepsi lainnya adalah mengenai guru hanya bisa belajar dari ahli atau pakar pendidikan, faktanya di komunitas belajar, guru saling belajar dari pengalaman rekan seperjalanan. Selanjutnya mengenai miskonsepsi guru diburu target belajar yang dipaksakan, padahal guru belajar itu butuh waktu. Miskonsepsi selanjutnya adalah mengenai guru yang selama ini hanya cukup perlu diberikan cara bagaimana melakukan (how to) saja, tanpa perlu tau mengapa (why) perlu melakukan suatu hal dalam pembelajaran. Padahal Guru profesional itu sebetulnya guru yang adaptif. Kita yang ketemu anak setiap hari tahu, betapa pentingnya peran guru yang adaptif. Setiap tahun ajaran, setiap minggu, bahkan setiap hari. Setiap murid kita butuh hal yang berbeda dari kita, sehingga ‘tahu kenapa’ menjadi sangat esensial. Setelah menonton video tersebut, Guru Anis kembali bertanya “Bagaimana jika seorang guru yang ingin merdeka belajar namun tidak didukung oleh lingkungan kerjanya? Misalnya: saya sering sekali mengajak guru-guru di MAN untuk berdiskusi dan berfleksi mengenai inovasi cara atau proses belajar-mengajar dalam kelas, namun mereka selalu menolak dengan dalih lebih nyaman mengajar dengan cara text book” Pertanyaan ini mengingatkan saya pada buku yang ditulis oleh ibu Najelaa Shihab “Merdeka Belajar di Ruang Kelas”. Pada buku tersebut tertulis bahwa kemerdekaan guru membutuhkan lingkungan yang mendukung. Artinya, guru sebagai individu hanyalah potensi dan akan terwujud menjadi kompetensi bila ditumbuhkan oleh ekosistem yang mendukung. Lingkungan kerja perlu mengurangi rasa takut salah, menghormati proses pemecahan masalah bersama, optimis memfasilitasi usaha guru, memberikan umpan balik yang berdasarkan bukti dan observasi yang direncanakan.  Dari pemaparan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa menjadi guru yang merdeka belajar selain timbul dari dalam diri sendiri juga harus didukung oleh lingkungan kerja serta rekan kerja itu sendiri, dalam hal ini adalah sekolah dan rekan sesama guru. Karena sejatinya tidak ada guru yang bisa belajar sendirian dan tidak ada guru yang bisa merdeka belajar sendirian. Kemerdekaan guru adalah kapasitas individu yang didukung oleh ekosistem yang baik.  Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Merdeka Belajar, Kesadaran Sudah Dijajah Motivasi Eksternal

Sebagai ketua MGMP Bahasa Indonesia saya merasa tergerak untuk mengajak para pengurus MGMP untuk merdeka belajar. Ya, istilah Merdeka belajar pertama kali saya dapatkan saat mengikuti The Festeachval yang diselenggarakan Komunitas Guru Belajar Pekalongan tahun 2018 di Unikal. Kelas yang saya pilih dalam kegiatan tersebut yaitu Kelas Merdeka Belajar yang di pandu oleh Pak Bukik Setiawan. Setelah mengikuti kegiatan tersebut dan membaca buku Merdeka Belajar saya menjadi sadar bahwa selama ini ternyata ada motivasi-motivasi eksternal yang menjajah guru. Oleh karena itu, saya ingin mengajak para guru Bahasa Indonesia di Kota Pekalongan untuk Merdeka Belajar, mulai dari pengurus MGMP Bahasa Indonesia Kota Pekalongan. Akhirnya pada tanggal 27 Mei 2019 saya berkesempatan mengajak teman-teman pengurus MGMP Bahasa Indonesia Kota Pekalongan untuk menonton film Guru Merdeka Belajar. Kegiatan tersebut saya laksanakan di SMP 5 Pekalongan jam 09.00 sampai dengan 10.30 WIB. Memang awalnya teman-teman MGMP kurang memahami pesan film tersebut. Akhirnya setelah diskusi dan pemutaran film yang kedua kali mereka baru bisa memahami tentang miskonsepsi pendidikan dan guru merdeka belajar. Setelah menonton dan berdiskusi saya mengajak pengurus untuk melakukan refleksi. Dan teman-teman pengurus menyadari bahwa selama ini telah terjajah dengan motivasi eksternal seperti takut dengan atasan, belajar untuk sertifikat, dan lain-lain. Dan setelah tahu konsep tentang merdeka belajar saya dan teman-teman sepakat untuk bangun dari  zona nyaman dan ingin meningkatkan diri karena dorongan internal bahwa untuk mengembangkan diri dan untuk merdeka belajar memang sebuah kebutuhan.

Guru Merdeka Belajar, Guru yang Belajar Tanpa Iming-iming

Pada  hari Kamis, 16  Mei 2019 jam 9.30  WIB, Komunitas Guru Belajar (KGB) Pesisir Selatan mengadakan Temu Pendidik  Daerah ke-7 bertempat di Laboratorium Komputer SMP Negeri 1 Lengayang. TPD Pessel ke-7  ini memiliki kegiatan inti Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Kegiatan TPD Pessel ke-7 ini di Moderatori  oleh saya sendiri Salmiati, sebagai salah satu calon penggerak dari KGB Pessel. Kemudian pemandu nobar di lakukan oleh ibu Rahmi Yanti selaku penggerak KGB pessel yang sudah berpengalaman pada acara TPN 2018 kemaren. Selain acara nobar, TPD ke-7 Pessel ini  juga di isi dengan penyampaian materi tentang Guru Melek IT melalui pemanfaatan belajar berbasis TIK yang disampaikan oleh saya sendiri Salmiati, S.Pd . Kegiatan ini direncanakan mulai pada jam 9.30 WIB. Namun sayanganya peserta banyak yang dating terlambat. Ketika itu peserta yang datang baru 4 orang dari 10 orang yang mendaftar. Sambil menunggu peserta lainnya datang, saya selaku moderator mempersilakan peserta mengisi absen secara online menggunakan komputer di lab sekolah tersebut. Pada saat pengisian absen secara online ini, peserta kaget, sebab belum pernah menghadiri sebuah pertemuan yang mengisi absen secara online. Kegiatan ini makin menambah  antusias peserta untuk mengikuti acara ini. Tidak lama kemudian, satu persatu peserta datang dan langsung mengisi absen online. Namun sayangnya tidak semua peserta sempat mengisi absen online disebabkan oleh jaringan internet yang lemot, sehingga dilakukan absen manual dengan kertas. Kegiatan ini berjalan lancar dan peserta yang hadirpun, merupakan guru-guru yang belum pernah tahu tentang Komunitas Guru Belajar.  Berdasarkan hasil pengamatan saya, pada saat seorang peserta yang bernama ibu Poni ketika menjawab pertanyaan di absen online tentang apa yang kamu ketahui tentang guru Komunitas Guru Belajar, beliau menjawab,”Iseng-iseng dapat ilmu katanya”, sehingga peserta lain ikut tertawa mendengar jawaban peserta tersebut. Pada umumnya peserta ingin tahu tentang Komunitas Guru Belajar serta apa manfaatnya bagi kegiatan pembelajaran. Selanjutnya masuk ke kegiatan inti yaitu nonton bareng Guru Merdeka Belajar yaitu sebuah video dari ibu Najela Shihab pada  Temu Pendidik Nusantara. Kegiatan ini di pandu oleh ibu Rahmi selaku penggerak KBG Pessel sekaligus pemandu pada acara Nobar tersebur. Pada saat sebelum video di putar, bu Rahmi terlebih dahulu melemparkan pertanyaan ke peserta sebagai salah satu appersepsi untuk membuka acara seperti berikut: “Apa yang anda ketahui tentang guru merdeka belajar ?” Pada awalnya, peserta menjawab pertanyaan tersebut pada kertas stickynote , pada saat itu saya sudah menyediakan kertas tersebut dan membagikannya pada peserta, setelah semua pendapat dituliskan peserta pada kertas tersebut, barulah pemandu meminta penjelasan dari beberapa orang peserta terkait dengan jawaban yg telah mereka tuliskan. Salah satu peserta terlihat antusias dan mengacungkan tangan ketika pemandu meminta tanggapan tentang video guru merdeka belajar tersebut “Guru merdeka belajar adalah guru yang belajar tanpa paksaan dan iming-iming sesuatu,” kata bu Poni dengan sangat lantang dan jelas, sehingga semua peserta ikut serius mendengarkan penjelasannya. Selanjutnya pemandu memberikan penguatan terhadap jawaban dari bu Poni tentang konsep dari guru merdeka belajar. Berikut ini hasil cuplikan jawaban peserta tentang guru merdeka belajar sebelum video ditayangkan : Setelah penyampaian argumen tentang guru merdeka belajar tersebut, semua peserta menonton tayangan video tentang guru merdeka belajar. Terlihat beberapa peserta serius mendengar dan mengamati tayangan video tersebut. Setelah tayangan selesai, tibalah saatnya sesi refleksi, ibu Rahmi sebagai pemandu menyampaikan pertanyaan beberapa pertanyaan sesuai yang ada pada panduan Nobar. Salah satunya antara lain, ” Di antara semua miskonsepsi, mana yang paling menggambarkan diri anda?” Lalu kebanyakan guru menjawab, biasanya kalau diberi insentif guru baru mau ikut pelatihan, dan jika ada iming-iming sesuatu barulah banyak yang mau mengikuti pelatihan – pelatihan serta sebaliknya jika tidak ada semacam iming-iming seperti sertifikat, dana transpor , maka jarang yang mau mengikuti pelatihan. Selanjutnya diskusi terus berlangsung tentang konsep merdeka belajar. Akhirnya semua peserta menyetuji dan sepakat bahwa untuk menjadi guru yang merdeka belajar haruslah memiliki  komitmen pada tujuan, kemudian mandiri serta mau melakukan refleksi. Meskipun tantangan yang paling besar bagi peserta adalah komitmen pada tujuan. Seorang guru mengeluhkan sulitnya mengubah mindset menjadi guru yang merdeka belajar karena situasi dan kondisi yang kurang mendukung. Di sini semua peserta mau menjadi Guru merdeka Belajar dan telah membuat komitmennya masing-masing dan akan melakukan perubahan secara perlahan-lahan pada kelasnya. Mereka akan mulai menanamkan prinsip-prinsip guru merdeka belajar dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari hal yang kecil seperti; tidak mengharapkan insentif dan iming-iming sesuatu jika mengikuti pelatihan-pelatihan pembelajaran. Setelah acara Nobar, dilanjutkan dengan penyampaian materi tentang guru melek IT melalui pemanfaatan pembelajaran berbasis TIK. Guru – guru sangat antusias mempraktekkan langsung menggunakan komputer dan juga lewat Hp android nya masing-masing. Demikianlah liputan singkat tentang TPD Pessel ke7 dengan agenda NOBAR tentang guru merdeka belajar serta penyampaian materi tentang Guru Melek IT. Tidak ada yang tidak mungkin dilakukan jika kita komitmen terhadap tujuan. Ayo mari menjadi guru merdeka belajar, mulai dari diri sendiri dan mulai saat ini. Salam Merdeka Belajar! Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Guru Merdeka Belajar, Cukupkah Guru Sekadar Mengikuti Sistem?

Tidak ada komunikasi paling efektif selain pertemuan. Di dalam pertemuan komunikator dan komunikan dapat berkomunikasi secara langsung dengan intensif. Begitu pula dengan Temu Pendidik Sekolah. Temu Pendidik Sekolah adalah salah satu kegiatan dalam Komunitas Guru Belajar yang memfasilitasi para guru untuk dapat sharing segala hal yang dialami selama pembelajaran di sekolah. Kali ini dalam kegiatan Riyadhah Ramadhan, SMP Al-Azhar Syifa Budi bekerja sama dengan Komunitas Guru Belajar Solo Raya mengadakan kegiatan Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Kegiatan Temu Pendidik Sekolah ini dilaksanakan di SMP Al-Azhar Syifa Budi Solo selama 3 jam (08.00-11.00). Acara dibuka dengan salam dan perkenalan diri oleh Komunitas Guru Belajar Solo Raya. Setelah itu acara disambut oleh Kepala Sekolah yang memberikan respon positif terhadap kegiatan dan respon baik terhadap Komunitas Guru Belajar Solo Raya. “Saya mengapresiasi kegiatan ini dalam rangkaian kegiatan Riyadhah Ramadhan tahun ini. Semoga hal ini dapat menambah energi positif untuk belajar bagi para guru dan juga murid-murid. Selanjutnya, saya persilakan para guru untuk menonton video merdeka belajar yang telah disiapkan oleh Komunitas Guru Belajar”, jelas Bapak Mustaghfirin (Kepsek) Pukul 08.30 tepat kegiatan dimulai. Kegiatan pertama yaitu sosialisasi anti korupsi yang diberikan kepada murid kelas VII SMP Al-Azhar Syifa Budi selama dua jam (08.30-10.30). Sosialisasi ini disampaikan langsung oleh Penyuluh Anti Korupsi Jawa Tengah yang juga merupakan penggerak Komunitas Guru Belajar Klaten (Solo Raya) yaitu Ibu Intan Hestika, M.Pd.  Sosialisasi dimulai dengan memberikan materi mengenai Anti Korupsi kemudian refleksi dengan memberikan pertanyaan kepada murid mengenai alasan pentingnya anti korupsi. Materi dan refleksi selesai kemudian dilanjutkan dengan esbreaking yaitu tepuk integritas. Kegiatan yang terakhir yaitu bermain board game. Board game ini diciptakan oleh KPK sebagai media belajar pendidikan anti korupsi. murid dibagi menjadi tujuh kelompok dan bermain board game sesuai kelompoknya dilanjutkan refleksi dengan menuliskan pesan kesan selama mengikuti kegiatan pada hari ini. Acara inti kedua adalah nonton bareng video merdeka belajar. kegiatan ini dihadiri oleh bapak-ibu guru SMP Al-Azhar Syifa Budi dan fasilitator Taman Belajar Anak Hebat (TaBAH). Para guru menonton bersama video merdeka belajar dan menyimak dengan baik apa yang disampaikan dalam video. Setelah menonton video, Ibu Heni Surya selaku penggerak Komunitas Guru Belajar Solo Raya menyampaikan profil dari Guru Belajar Solo Raya berikut sejarah dan kegiatan yang ada di dalamnya. Kegiatan ini diikuti dengan khidmat oleh para peserta yang kemudian dilanjutkan dengan refleksi.  Pada kegiatan refleksi ini, para guru memberikan refleksi terhadap apa yang telah dilihat dalam video dan memberikan apresiasi baik terhadap Komunitas Guru Belajar. Dua perwakilan guru menyampaikan bahwa banyak ditemui sekarang guru di sekolah yang belum merdeka belajar. “Sekarang ini masih sering saya menemui bapak-ibu guru di sekolah. Artinya, Bapak-ibu yang profesinya menjadi guru. Bukan bapak-ibu guru yang perilakunya mencerminkan seorang pendidik yang memiliki banyak inovasi di dalam kelas”, tutur salah satu guru. Hal itu memang benar adanya. Masih banyak guru yang memprioritaskan obsesi penambahan materi bagi dirinya sendiri namun mengabaikan pentingnya sebuah pembelajaran bagi murid yang harus merdeka belajarnya. Masih banyak guru yang stagnan pada paradigma mengajar yang konvensional, serta hanya patuh pada sistem.  Refleksi lain disampaikan oleh guru Bahasa Inggris yang tampak antusias sedari awal hingga akhir video diputar. “Saya sangat beterima kasih atas kedatangan Komunitas Guru Belajar Solo Raya ini ke sekolah kami. Jujur, saya memang baru tahu kalau ternyata di solo ada komunitas seperti ini. Saya sangat setuju dengan apa yang telah disampaikan dalam video tersebut. Selama ini yang saya rasakan saat pembelajaran, murid dan guru hanya patuh pada sistem yang telah dibuat. Apalagi yang miris ketika MGMP, ketika ada tuntutan kepada guru tentang pembelajaran di kelas, ada guru yang menanyakan imbalannya terlebih dahulu. Bagaimana sertifikasinya, dsb.”  Salah satu ibu guru menambahkan bahwa “Dengan adanya Komunitas Guru Belajar kami berharap dapat terus belajar tentang merdeka belajar dan mengenai sistem mereka berharap para pemangku kebijakan agar dapat bekerja sama dengan baik dengan komunitas ini. Pada akhirnya kemerdekaan belajar ini diharapkan dapat dilakukan oleh seluruh pendidik di nusantara tanpa terkecuali.” Refleksi tersebut kemudian ditanggapi oleh penggerak Komunitas Guru Belajar Solo Raya, Heni Surya yang juga menyetujui pendapat guru tersebut. “Saya sangat setuju dengan pendapat bapak dan ibu. Kami sebagai penggerak di komunitas ini juga memiliki harapan untuk dapat menjembatani permasalahan-permasalahan yang terjadi di sekolah khususnya di dalam kelas. Banyak sekali kegiatan yang dapat diikuti terkait merdeka belajar dalam komunitas ini. Ada Temu Pendidik Online sehingga guru yang jauhpun dapat mengikuti kegiatan ini hanya melalui gadgetnya, Temu Pendidik Sekolah seperti ini, siaran di radio, dan masih banyak lagi. Mengenai sistem, saya setuju seperti apa yang disampaikan oleh bapak guru tadi. Kami juga sangat beharap bahwa pemangku kebijakan dapat mengetahui keberadaan pergerakan kami. Dapat kita saksikan bersama bahwa kegiatan hari ini kami bekerja sama dengan KPK. Siang nanti kami akan berdiskusi dengan Badan Narkotika Nasional kota Solo terkait dengan kegiatan kami. Kami juga berharap bahwa nantinya pergerakan kami juga akan dilihat oleh Dinas Pendidikan sehingga kolaborasi akan lebih hebat lagi.” Video guru merdeka belajar ini sebagai sarana untuk mengajak para pendidik sekolah untuk faham mengenai merdeka belajar dan menerapkannya di kelas masing-masing. Dengan adanya motivasi yang disampaikan di dalamnya guru diharapkan tidak hanya belajar dari pakar saja. Guru dapat belajar dari guru lain terutama yang memiliki kreativitas dalam mengajar. Komunitas Guru Belajar dan Kampus Guru Cikal setiap tahun mengadakan Temu Pendidik Nusantara. Pada acara tersebut guru satu dengan guru lain dapat saling belajar tentang merdeka belajar.   Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Merdeka Belajar, Belajar Merupakan Kebutuhan Alamiah

Pada hari Kamis, 27 Juni 2019 Komunitas Guru Belajar Pekanbaru mengadakan acara Temu Pendidik yang bertempat di The Gade Café Pekanbaru. Sesi terakhir dari rangkaian acara Komunitas Guru Belajar yang bekerjasama dengan guru-guru di Riau adalah nonton bareng. Nonton bareng cuplikan video Najelaa Shihab yang menjelaskan terkait “Merdeka Belajar”. Acara ini dipandu oleh Dr. Zahriyah Simargolang, MA selaku penggerak KGB nonton bareng. Selain itu acara ini juga di hadiri oleh Bapak Wakil Walikota Pekanbaru yang mendukung acara untuk memberikan kata sambutan. Dalam acara ini juga ada narasumber Yoga Mahardika selaku trainer Leadership. Selanjutnya dapat diamati antusias peserta yang datang dalam kegiatan bukan hanya dari daerah namun juga luar daerah. Selain itu dari berbagai kalangan masyarakat, murid, mahasiwa guru PAUD, guru SD, guru SMP, guru SMA maupun dosen. Sebagian guru dan mahasiswa memiliki ilmu pengetahuan yang banyak sehingga mereka memerikan respon pertanyaan maupun jawaban saat kegiatan berlangsung. Sebelum video di putar menurut Ibu Zahriyah sebagai penggerak mengatakan bahwa Kegiatan Gulu Belajar ini sangat penting dilakukan agar terciptanya kualitas pendidikan yang semakin baik karena adanya wadah guru untuk saling berbagi informasi, pengalaman dan wawasan sehingga dapat menampung ide dan solusi pembelajaran di sekolah. Maka dalam video ini dijelaskan bahwa ada 2 tipe guru yang mudah menerapkan merdeka belajar dan ada juga yang sulit, disebabkan tipe pertama adalah guru memiliki prinsip bahwa belajar perlu insentif eksternal, sedangkan guru tipe kedua menyatakan bahwa belajar sebagai kebutuhan alamiah. Seorang guru yang memiliki prinsip bahwa belajar merupakan kebutuhan alamiah akan dapat memberikan motivasi pada muridnya bahwa belajar itu menyenangkan dan tidak harus ada tekanan. Nilai-nilai pendidikan yang dapat diambil dari nontong bareng ini adalah: Guru memiliki kebutuhan alamiah dalam belajar dan mengajar Guru harus memiliki komitmen dalam melaksanakan dan mencintai pendidikan Guru harus memiliki kemandirian dalam belajar dan memberikan contoh tauladan Guru harus reflektif sehingga dapat terus melakukan perbaikan diri dalam mengajarkan ilmu Melalui nonton guru merdeka belajar dapat dipahami bahwa guru harus memiliki ilmu dan wawasan serta pergaulan sosial dengan temannya sehingga mampu menjadi pribadi yang ideal yaitu cerdas interpersonal dan intrapersonal. Merdeka belajar harus dirasakan oleh semua murid, maka dalam hal ini terlebih dahulu guru harus merdeka belajar, sehingga murid akan mengikuti gurunya yang mampu merdeka belajar.  Setelah mengetahui makna guru merdeka belajar itu sangat penting, maka di harapkan setiap guru dapat menerapkannya di sekolah masing-masing. Sehingga tujuan pembelajaran dapat terlaksana. Peran orang tua, lingkungan masyarakat dan sekolah sangat mempengaruhi seseorang untuk merdeka belajar. Hal ini disebabkan faktor fisik seseorang yang berbeda, ada yang sangat semangat dalam belajar sehingga ada peserta yang dapat  disiplin dalam memanajemen waktu agar dapat datang ke lokasi kegiatan belajar dengan tepat waktu. Tipe lainnya ada beberapa peserta yang mampu bersosialisasi sehingga dia memiliki banyak teman atau relasi, bukan hanya relasi yang dia kenal namun juga pada orang lain yang tidak dia kenal di ruangan tersebut dengan cara menyapa maupun bertanya tentang kegiatan saat coffee break, hal ini disebabkan pesserta memiliki kecerdasan interpersonal. Begitu juga keadaan peserta yang lainnya ada yang merasakan tenang sehingga ia dapat tekun belajar hal ini karena mereka telah merasakan merdeka belajar. Kegiatan yang berlangsung secara lancar membuat peserta merasakan manfaat dari kegiatan guru belajar tersebut. Adanya kondisi yang berbeda pada setiap peserta maka panitia juga berusaha untuk mengubah keadaan menjadi seperti yang diharapkan yaitu peserta tetap semangat belajar dan merasakan merdeka belajar dengan melihat kondisi peserta saat mereka jenuh maka panitia memberikan game agar peserta bersemangat dalam belajar. Pada saat kegiatan berlangsung ada kejadian yang menarik perhatian yaitu saat seorang ibu dan bapak yang mengikuti kegiatan tersebut mampu aktif maju ke depan memberikan pendapat meskipun diantara mereka ada yang masih muda dan ada yang tidak muda lagi. Namun yang menyentuh hati saya ada juga yang datang dari luar kota hanya untuk mengikuti kegiatan guru belajar tersebut. Kejadian lainnya yang sedih pada saat itu adalah saya lupa membawa charger laptop sehingga saya merasa sedih tidak dapat maksimal menggunakan laptop tersebut, namun pada saat itu  ada peserta yang membawa laptop sehingga kegiatan nonton bareng pun dilanjutkan hingga selesai. Kejadian pada saat kegiatan berlangsung memberikan makna bahwa setiap permasalahan ada jalan keluarnya dan ada yang memiliki perjuangan untuk belajar dan prinsip ini sangat menarik untuk dilanjutkan semua guru bahwa belajar itu harus dari hati yang merdeka sehingga dapat kita nikmati. Sedangkan menurut panitia merdeka belajar adalah suatu kebutuhan yang datang dari jiwa pendidik sehingga hatinya tergerak untuk belajar karena mencintai anak didiknya. Selain itu merdeka belajar menurut peserta adalah keinginan seseorang untuk belajar meskipun harus menempuh jarak yang jauh. Maka sebaiknya kita mampu menggerakkan sosialisasi untuk melaksanakan guru merdeka belajar sehingga tujuan pendidikan untuk memiliki murid yang memiliki ilmu pengetahuan, wawasan dan pendidikan karakter dapat terlaksana dengan baik. Konsep guru merdeka belajar harus terus dikembangkan menjadi lebih kreatif dan inovatif.  Sebab merdeka belajar sangat membantu menuju pendidikan yang berkualitas. 

Guru Merdeka Belajar, Meluruskan Miskonsepsi Belajar

Pada  hari Sabtu, 25  Mei 2019 jam 14.00  WIB sehabis shalat zuhur, Komunitas Guru Belajar (KGB) Pesisir Selatan mengadakan Temu Pendidik  Daerah ke-8 bertempat di ruang perpustakaan UPT SDN 01 Lunang. TPD. Pessel ke-8 ini memiliki kegiatan inti Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Kegiatan TPD Pessel ke-8 ini di Moderatori  oleh saya sendiri Rini Suryati, sebagai salah satu anggota dari KGB Pessel. Kemudian pemandu nobar juga di lakukan oleh Rini Suryati (saya sendiri) karena Cuma ada saya di daerah paling selatan kabupaten Pesisir Selatan tepatnya sekitar 15 km jaraknya dari daerah provinsi Bengkulu Utara. Kegiatan ini direncanakan pada hari Sabtu, 18  Mei 2019, saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari materi, slide, peralatan mulai dari laptop proyektor, speaker, dan sound system. Namun sayangnya tidak ada peserta dari sekolah lain yang datang, beberapa saat kemudian teman mengirim pesan via Whatsapp bahwa kegiatan nobar ini kita adakan di komunitas KKG (Kelompok Kerja Guru) saja, karena  hari ini sebagian guru punya kesibukan di sekolah masing – masing dan sebagian tidak dapat izin dari kepala sekolah. Akhirnya acara Nobar hari itu dibatalkan. Beberapa hari kemudian teman – teman di sekolah sendiri merasa penasaran, beberapa diantara mereka mengusulkan,”Bu Rini, bagaimana kalau kegiatan Nobarnya kita adakan saja cukup kita yang hadir di sekolah saja yang mengikutinya.” Ya menurut saya usulan mereka ada benarnya, mengapa kita harus menunggu lama sementara toh guru – guru di sekitar kita ada, sementara kalau ditunggu KKG kegiatannya sudah ditutup untuk tahun ajaran ini., dan akan dilaksanakan tahun ajaran baru nantinya. Dari pada menunggu lama akhirnya kegiatan Nobar kami lakukan pada hari Sabtu tanggal 25 Mei 2019. Kami bersama teman  – teman di sekolah kembali menyiapkan segala sesuatunya, karena yang ikut hanya guru – guru di sekolah, “Bu Rini, kegiatannya kita laksanakan di perpustaan aja ya biar agak santai.” Usul salah satu guru, kami sepakati kegiatan dilaksanakan di perpustakaan sekolah dengan jumlah guru yang hadir cuma berjumlah 10 orang, kepala sekolah tidak dapat menghadiri kerena ada acara rapat. Sebelum acara Nobar di mulai, saya membuka kegiatan dengan mengajukan pertanyaan sesuai dengan panduan,” Apa yang anda ketahui tentang merdeka belajar ?.”Sambil tertawa ringan peserta Nobar menjawab merdeka belajar itu murid tidak boleh dimarahi, apalagi dipukul, masing – masing memberi jawaban tapi jawaban tetap seputar itu. Setelah lima menit kegiatan Nobar dimulai, saya memutar video Bu Najelaa, bebrapa saat peserta fokus menonton. Lima belas menit kemudian video berakhir, mereka minta di putar sekali lagi setelah selesai tanpa dikomandoi salah satu peserta langsung berkomentar, videonya Cuma ini Bu Rini ?, “Saya kira tadi kita akan nonton tentang cara guru merdeka belajar mengajar, ada tidak ya videonya, kami juga butuh contoh lho bagaimana cara penerapan cara mengajar guru merdeka belajar.”Kata bu Milda. Saya jawab, O…yang sekarang ini dulu ya kita diskusikan, masalah  video cara penerapannya nanti kita tanya Kampus Cikal mungkin Kampus Cikal punya koleksi cara mengajar teman – teman yang sudah menerapkan cara mengajar guru merdeka belajar. “ Benar ya Bu Rini , tolong carikan biar jadi pedoman bagi kami,” pinta mereka. Kami masuk ke sesi refleksi, saya mulai mengajukan pertanyaan pertama, “Di antara miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri Anda?” Bu Rini kalau menurut pemahan saya selama ini belajar itu memang harus pada ahlinya, rata- rata jawaban mereka seperti itu,”Kalau begitu jika tidak ada ahlinya, apakah kita berhenti belajar?” Kata saya, semua peserta tertawa renyah, akhirnya bersama teman – teman guru kami meluruskan miskonsepsi belajar selama ini, bahwa kita belajar tidak harus menunggu para ahli atau pakar. Para ahli yang selama ini menurut kita hebat secara teori belum tentu dekat dalam praktiknya, kita guru lah yang berhadapan langsung dengan murid kita, kita gurulah yang lebih tahu permasalahan anak didik kita. Maka kita lah yang paling cocok saling berbagi tentang praktik cerdas kita dalam mengajar. “O, iya ya,” celetuk salah satu guru. Kami lanjut kan dengan mendiskusikan miskonsepsi yang lainnya, hingga kami menyepakati bahwa belajar itu butuh waktu tidak biasa dipaksakan mengejar target kurikulum akan memberikan dampak yang tidak baik bagi anak didik kita. Kompetensi murid akan tumbuh bersama lingkungan, bukan kompetensi individual. Saya mengajukan pertanyaan kedua, ciri guru merdeka belajar adalah komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara mengajar dan melakukan refleksi. “Apakah Anda setuju dengan pernyataan tersebut? Apa alasannya?” “Setujuuuu.”Kata mereka serentak. Salah satu guru memberi alasan, kita memang harus komitmen pada tujuan, sesuai dengan penjelasan Bu Najelaa bahwa guru merdeka belajar paham mengapa perlu mengajar suatu materi dan kaitannya dalam kehidupan sehari – hari, sehingga murid merasa materi pelajaran bermakna bagi dirinya dan menumbuhkan motivasi instrinsik bahwa belajar itu berarti bagi dirinya. Guru merdeka itu mandiri, selalu bergantung pada dirinya untuk mengatasi tantangan, tidak mudah menyerah menghadapi tantangan, atau menyalahkan orang lain dan keadaan. Guru merdeka belajar juga harus reflektif, berani meminta umpan balik secara aktif, dan menilai diri sendiri dengan objektif. Pertanyaan selanjutnya pada sesi refleksi adalah Apakah Anda mau menjadi guru merdeka belajar? Apa alasannya? “Kami mau Bu Rini, tapi kadang – kadang mood ini naik turun lho, kadang semangat kadang kendor, yang jelas kami coba ya” Mereka tertawa renyah. Kami ingin menjadi guru merdeka belajar, tapi kami butuh waktu untuk merubah mindset tentang murid, kebiasaan selama ini kita sering menyalahkan murid dari pada mencari solusi, mudah – mudahan seiring perjalanan waktu kami akan menjadi guru merdeka belajar”, ungkap Bu Milda .”Wow, tepuk tangan deh diskusi kita hari ini seru banget”, kata saya menimpali ungkapan Bu, Milda. Pertanyaan ke empat “Sebagai guru merdeka belajar, apa perubahan yang ingin anda lakukan di kelas ?” Mereka menjawab, “Insyaallah kami akan memulai dengan menata kelas, membuat kesepakatan kelas, ice breking di sela- sela pembelajaran, dan berusaha menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, dan tidak lupa di akhir pembelajaran diadakan refleksi bersama murid.” Pertanyaan terakhir, “Sebagai guru merdeka belajar apa pengembangan diri yang ingin anda lakukan bersama komunitas guru belajar?” “Kami ingin belajar menulis, setidaknya kami bisa menulis PTK” Kata salah seorang peserta. Di sesi penutup saya sedikit mengulas materi bahwa guru merdeka belajar adalah guru yang komitmen pada tujuan, guru harus tahu kenapa melakukan sesuatu dan apa manfaatnya serta bagaimana cara mengaplikasikan dalam kehidupan … Read more