Guru Merdeka Belajar, Cukupkah Jadi Pendidik? Atau Perlu Jadi Penggerak?

Awalan pen- pada kata pendidik menyatakan pekerjaan seseorang, sebagaimana awalan pen- pada kata pedagang, pengusaha, maupun penggerak. Istilah pendidik sudah pasti telah dipahami oleh masyarakat sedangkan penggerak masih sedikit yang mengetahuinya. Istilah “penggerak” sendiri sebenarnya  sudah banyak diperbincangkan dalam Komunitas Guru Belajar.  Apa itu penggerak? Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi (UU No. 20 Tahun 2003, PSL 39 (2)). Pelaksanaan tugas pendidik tersebut juga harus disesuaikan dengan kurikulum pendidikan nasional yang semakin berkembang dan terus mengalami perubahan. Tanpa disadari pada akhirnya sebagian besar pendidik lebih memprioritaskan pencapaian target dengan  mengesampingkan proses.  Mengajar hanya dilakukan sebagai ritual wajib setiap harinya bukan kebutuhan. Pembelajaran menjadi tidak bermakna dalam hati murid.  Yang dimaksud penggerak dalam Komunitas Guru Belajar adalah ia yang menjadikan kegiatan mengajar sebagai  kegiatan yang bermakna bagi murid. Penggerak ialah pendidik yang mau belajar meningkatkan kompetensi tidak hanya diri sendiri, tetapi juga kompetensi pendidik lain di lingkungannya, bukan sekadar pendidik yang mengajar hanya untuk meraih sertifikasi. Pendidik Yes, Penggerak Why Not? Terdapat sebagian pendidik yang merasa telah melakukan segala upaya agar mendapatkan hasil yang terbaik tetapi yang ia peroleh adalah hal yang sebaliknya. Terdapat sebagian lagi yang telah menyadari kekeliruannya dalam mengajar dan berhasil memperbaiki kompetensi diri tetapi enggan untuk berbagi kepada sesama di lingkungannya. Pendidik tipe yang kedua inilah yang secara sadar atau tidak ikut menjadi bagian dari pendidik yes but penggerak no. Padahal bangsa kita sangat mengenal filosofi sapu lidi: apabila lidi hanya satu tidak punya kekuatan dan mudah dipatahkan, tetapi apabila beberapa lidi diikat menjadi satu akan membentuk kekuatan yang tidak mudah dipatahkan. Apabila seorang diri dapat menghasilkan suatu hal yang baik maka dengan bersama-sama akan menciptakan hal yang luar biasa. Oleh karena itu, menjadi pendidik saja belum cukup melainkan diperlukan penggerak-penggerak  Komunitas Guru Belajar yang saling menularkan semangat mengajar mereka, berbagi metode-metode mengajar yang efektif di kelas, trik pengelolaan kelas yang baik, pengalaman keberhasilan dalam mengajar sehingga pada akhirnya setiap murid dapat mengalami apa yang disebut merdeka belajar di ruang kelas. Berkebalikan dengan pendidik yes but penggerak no, generasi pendidik yes and penggerak why not? merupakan mereka yang rela meluangkan waktu, tenaga, dan pemikirannya untuk menggerakkan komunitasnya. Belajar tuntas dan tuntas belajar adalah dua hal yang tak sama Menjadi seorang penggerak  memang tidak bisa instan untuk itu diadakan nonton bareng part 2 video Merdeka Belajar oleh Komunitas Guru Belajar Pemalang pada hari Jumat, 31 Mei 2019 dan dilanjutkan dengan acara buka bersama beberapa guru dari SMK N 1 Pemalang.  Kegiatan diawali dengan penayangan cuplikan dari kegiatan Temu Pendidik Nusantara tahun 2016 yang menampilkan Pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar, Najelaa shihab. Dalam video tersebut beliau membahas tentang apa itu Merdeka Belajar. Beliau mengatakan bahwa menjadi penggerak itu bukan diberikan begitu saja, namun harus diperjuangkan.  Selama penayangan video para peserta mendapat pemahaman baru tentang bagaimana merdeka belajar sebenarnya. Beberapa guru terlihat sesekali mengangguk seolah sependapat dengan isi video. Salah satu yang paling membuat suasana hidup yaitu ketika video menayangkan beberapa miskonsepsi guru. Dipaparkan bahwa guru bisa belajar dengan sesama guru bahkan belajar dari murid bukan hanya bisa menerima dari seorang ahli, miskonsepsi bahwa belajar bisa instan dan sebenarnya belajar butuh waktu, dan miskonsepsi-miskonsepsi lainnya.  Kegiatan yang dilaksanakan di kediaman Ibu Emi Sri Kadarwati yang terletak di desa Banjaran ini dimulai pada pukul 16.05 dan berjalan dengan baik terlihat dari antusias peserta nobar salah satunya Bu Nanik yang menceritakan keluh kesahnya. Ia mengatakan, “Tuntutan kurikulum agar murid  harus tuntas pada semua kompetensi di semua mata pelajaran membuat saya secara pribadi merasa mengajar seperti dikejar target. Bagaimana dengan teman guru yang lain?”. Pendapat tersebut ditanggapi oleh Bu Dwi Rahmawati yang merasa sependapat bahwa tuntutan tuntas belajar membuat murid hanya memahami  pengetahuan sebatas permukaan saja tanpa mendalami lebih melalui proses belajar tuntas. Padahal belajar tuntas merupakan proses yang perlu dilalui anak sehingga kondisi merdeka belajar dalam ruang kelas dapat tercapai.  Selain konsep tersebut muncul pertanyaan dari Bu Farah, “Bagaimana agar murid tertarik dengan pelajaran matematika sehingga tidak lagi mejadi momok yang menakutkan?”. Berbagai saran pun diberikan seperti datang ke pasar ketika sedang mempelajari aritmatika sosial, menggunakan metode story telling, mengajak bermain gim, mengajak bernyanyi, sampai memberikan soal yang mudah kepada murid. Topik ini menjadi bahan diskusi sampai acara buka bersama berlanjut dan acara ditutup pukul 18.50 dengan penyampaian kesan tuan rumah, “Ini adalah acara yang langka. Dalam acara ini, saya tidak hanya tahu apa itu guru merdeka belajar tetapi saya juga bisa mengenal teman-teman lebih dekat bersama keluarga dalam buka bersama malam ini. Terima kasih telah menyempatkan waktu datang ke kediaman kami”, ujar Bu Emi. Komunitas Guru Belajar Pemalang berharap kedepannya guru SMK N 1 Pemalang dapat mempraktikkan hakihat dari merdeka belajar dan menjadi bagian dari Komunitas Guru Belajar. Menjadi Pendidik sekaligus Penggerak Komunitas Guru Belajar, kenapa tidak? Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Guru Merdeka Belajar, Apakah Kita Melakukan Miskonsepsi Guru Belajar?

Dalam sebuah adegan persidangan akademik akibat menjalankan praktik pengobatan tanpa lisensi, Hunter “Patch” Adams, mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran Virgina, mengajukan pembelaannya bahwa mahasiswa kedokteran perlu berkolaborasi secara erat dengan perawat.  Perawatlah yang tiap hari berinteraksi dengan pasien dan, karena itu, mereka dapat menceritakan berbagai hal tentangnya. Perawat punya begitu banyak kekayaan pengalaman yang sangat bermanfaat bagi calon dokter. Setidaknya kesan itu yang terlukis jelas di film Patch Adams. Hal yang sama agaknya juga berlaku di dunia pendidikan. Pihak yang setiap hari berhubungan dengan murid adalah guru. Merekalah yang memiliki keragaman pengalaman pengajaran untuk dibagi kepada rekan guru lain dan diolah menjadi solusi-solusi pembelajaran. Melalui itu, guru tidak hanya belajar perihal materi pelajaran, tetapi juga macam-macam metode pembelajaran yang cocok di situasi tertentu, kelas tertentu, atau bahkan murid tertentu. Itu lah yang kiranya sedikit tergambar di acara Nonton Bareng  (Nobar) Guru Merdeka Belajar di SMK Negeri 1 Karangdadap, Pekalongan, Jumat (31/5/2019), yang dihadiri belasan guru sekolah itu. Merdeka Belajar dan Kebiasaan Mengajar “Saat bicara tentang merdeka belajar, selalu terbayang anak-anak,” kata Najelaa Shihab, pembicara dalam video yang dinikmati peserta. Merdeka belajar, yang mulai bergaung luas berkat giatnya Komunitas Guru Belajar (KGB) atas inisiasinya, merupakan cara pandang yang humanis dan terpusat pada murid. Diawali dengan pengenalan miskonsepsi guru belajar, peserta nobar kemudian membandingkan praktik pembelajaran yang lazim dilakukannya dengan miskonsepsi tersebut.  “Yang sesuai dengan keadaan saya ada di poin tiga, yaitu cukup tahu ‘how to’ dalam mengajar,” kata Guru Yeni, pengajar Matematika. Lebih jauh, ia juga menceritakan pengalaman mengajarnya yang amat berkesan, yakni saat mendapati muridnya mengerjakan salah satu soal Matematika dengan cara yang bahkan tidak terpikirkan sebelumnya oleh Guru Yeni.  “Bagi saya ini termasuk merdeka dalam memilih cara, dan saya membebaskan murid yang punya ide-ide seperti ini,” lanjutnya dengan semangat. Guru Musyafiah selaku fasilitator mengatakan, hadirnya guru-guru SMK Negeri 1 Karangdadap dalam acara tersebut merupakan bukti tindakan yang menegasikan salah satu miskonsepsi tadi, yakni ‘guru hanya mau belajar jika ada iming-iming sertifikat atau motivasi eksternal lainnya’. Dipaparkan dalam video itu, setidaknya terdapat lima miskonsepsi guru belajar yang disampaikan Najelaa, diantaranya yaitu guru hanya mau belajar jika ada iming-iming sertifikat, guru hanya dapat belajar dari para ahli,  dan belajar itu soal kompetisi, bukan kolaborasi.  “Permasalahan pendidikan memang sangat kompleks. Untuk mereformasinya pasti butuh waktu dan kesepakatan dari berbagai kepentingan,” lanjut Najelaa.  Oleh karenanya menjadi guru belajar adalah sebuah proses. Selanjutnya guru Musyafiah memaparkan tiga ciri guru belajar, antara lain komitmen pada tujuan, mandiri, dan refleksi, yang mendapat beragam respon dan pertanyaan dari peserta. Menanggapi ciri guru belajar tersebut, Guru Fullu, pengajar matematika, mengatakan, “Kita sebenarnya perlu mencari banyak aplikasi ilmu matematika dalam kehidupan sehari-hari agar murid tahu dan sadar bahwa belajar matematika punya manfaat praktis.” Ia juga melanjutkan, manfaat matematika muncul sesuai dengan profesi yang dijalani. Sebagai pedagang dan peneliti, misalnya, murid akan melihat bagaimana mapel itu diterapkan. Ketika ditanya mengenai aktivitas refleksi, semua peserta setuju bahwa langkah itu telah dilakukan, hanya saja tidak didokumentasikan.  “Refleksi harus dicoba, dilakukan dengan variasi cara, dan didokumentasikan,” ujar Guru Musyafiah memberi tanggapan. Refleksi membantu guru dalam melihat  dampak pembelajaran yang telah guru dan murid lakukan. Hal ini perlu dilakukan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk pembelajaran selanjutnya. Antusiasme  Ketika hendak menutup sesi refleksi bersama, baik mengenai miskonsepsi merdeka belajar maupun ciri guru belajar, sebagai akhir acara nobar, salah satu peserta menginterupsi fasilitator dengan pertanyaan.  Meski pada awalnya menolak, Guru Musyafiah, yang juga penggerak KGB Pekalongan, akhirnya memberikan tanggapan. Tidak hanya kepada satu penanya, bahkan empat hingga lima penanya. Diskusi pun berlangsung. Pertanyaan peserta lebih berupa kemungkinan bagaimana mewujudkan konsep merdeka belajar daripada sikap keputusasaan. Melihat antusiasme guru SMK Negeri 1 Karangdadap di acara Nobar Guru Merdeka Belajar itu, Guru Musyafiah mengajukan tawaran apakah berminat untuk mengadakan Temu Pendidik Sekolah (TPS). “Saya yakin sebenarnya bapak dan ibu guru ingin mengadakan TPS, terlihat dari pertanyaan yang panjenengan semua sampaikan ke saya beberapa waktu lalu.” ungkapnya diakhir acara. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Guru Merdeka Belajar, Mengajar dengan Tujuan Bukan Karena Tuntutan

Kegiatan mengajak kepada yang belum pernah tahu atau belum tahu itu sangat membuat hati deg-degan. Kenapa tidak, berada dalam lingkungan yang biasanya selalu bersifat rutin dan selalu itu-itu saja pasti susah untuk membuat sebuah hal baru dan berharap hal baru tersebut bisa diterima dan dijalani bersama. Sebagai guru kita tidak akan lepas dengan sesama teman guru, itu pasti. Namun menjadi guru yang hanya datang untuk mengajar murid-muridnya dengan cara biasa saja itu akan sangat menyayangkan bagi diri kita sendiri sebagai guru dan tentunya akan berdampak buruk bagi murid kita nantinya.  Mengajar mungkin bagi sebagian orang itu suatu yang mudah dan tak perlu apapun. Mungkin mengajar itu hanya memberikan pengetahuan yang dimiliki oleh guru kepada muridnya. Namun semua yang tersebut itu adalah sebuah kesalahan besar. Menjadi guru itu harus memiliki yang pertama adalah niat atau bisa dikatakan panggilan dari hati yang paling dalam tanpa itu guru tidak dapat menikmati dengan indah dan yang kedua guru itu harus punya rasa merdeka yang muncul dari hati terdalam juga. Niat dan kemerdekaan, keduanya itu adalah suatu hal yang musti dimiliki semua guru. Tanpa ada dua itu akan sulit untuk menjalankan kewajiban sebagai guru. Kalau niat, insyaallah sudah ada kalau memang ditanamkan. Nah, bagaimana dengan merdeka belajar? Merdeka belajar memiki tiga dimensi, yaitu komitmen pada tujuan, kemandirian dan senantiasa melakukan refleksi. Pada saat ini, perasaan merdeka itu sudah jarang ditemui di sekitar,yang ada bagi sebagian besar guru mengajar karena tuntutan, tuntutan atasan, tuntutan kebijakan dan masih banyak tuntutan-tuntutan lain. Sehingga tuntutan tersebut lebih didahulukan daripada komitmen pada tujuan awal. Padahal semestinya kebijakan itu bukanlah sebuah tuntutan, namun itu semua adalah sebuah teman yang mendukung tercapainya tujuan belajar dan mengajar. Untuk mengajak semua guru agar merasakan kemerdekaannya itu banyak sekali tantangan, namun dengan kekuatan tekad tantangan itu harus dilalui agar tercapai rasa merdeka itu ada di setiap hati guru. Salah satu kegiatan yang menjadi langkah awal saya yaitu dengan mengajak guru d ilingkungan madrasah atau sekolah untuk ikut serta dalam kegiatan nonton bareng film guru merdeka, kegiatan itu dilaksanakan hari rabu tanggal 29  mei 2019 bertempat di RM Serba Sambal Jepara, sembari menunggu waktu buka bersama dan dihadiri oleh 20 guru yang berada satu madrasah.  Kegiatan nonton bareng ini sangat menarik karena adanya respon positif dari peserta. Menjadi sebuah pelajaran berharga mengenai tentang kemerdekaan bagi guru yang sesungguhnya. Tanggapan positif itu muncul hampir dari semua peserta karena sangat antusias untuk melakukan perubahan ke lebih baik untuk bersama-sama saling belajar. Menyadarkan diri akan pentingnya belajar sesama guru atau pendidik untuk menemukan hal baru atau menyelesaikan permasalahan bersama. Sungguh banyak yang bisa diambil dari pertemuan pendidik sekolah ini. Selain nonton bareng ada juga diskusi tentang literasi yang lebih dalam, dengan adanya pengetahuan baru, semakin meyakini bahwa ternyata pertemuan diskusi kepadasesama guru atau pendidik itu sangat penting dan sebagai akhir di kegiatan ini kami semua sepakat akan ada diskusi atau pertemuan lagi untuk bersama-sama saling mendengarkan dengan saling memberi dan menerima pengetahuan serta pengalaman bersama. Demikian liputan nonton bareng film guru merdeka dan diskusi tentang literasi, itu sungguh belum cukup dan akan lanjut setelah itu. Bagaimana dengan guru-guru yang lain, mari kita lanjutkan belajar ini, bukan hanya murid yang belajar namun guru itu juga harus tetap belajar dan memiliki kemerdekaan. Salam Merdeka Belajar!

Guru Merdeka Belajar, Melawan Miskonsepsi Belajar

Hari Jum’at sore tanggal 24 Mei 2019, dalam rangka Temu Pendidik Daerah (TPD), Komunitas Guru Belajar (KGB) mengadakan nonton bareng atau nobar video Guru Merdeka Belajar di salah satu rumah penggerak, Guru Niken. Sambil menunggu waktu berbuka puasa, kami mencoba mengobrol ringan sambil menonton bersama video ibu Najelaa Shihab, pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar, saat berbicara di acara Temu Pendidik Nasional (TPN) 2016.  Banyak hal yang kami dapatkan setelah menonton video ini. Kami merasa mendapat sebuah pencerahan sebagai seorang guru. Pencerahan yang nantinya diharapkan dapat memberikan perubahan bagi kami. Perubahan yang sangat penting bagi kami yang mengabdikan separuh waktu dan tenaga untuk selalu menjadi bagian dari dunia pendidikan Indonesia. Apa yang kami rasakan adalah guru perlu menjadi guru yang merdeka belajar. Guru yang tidak berhenti untuk mengembangkan dirinya dan merasa terkekang. Guru yang terus berusaha melawan beberapa miskonsepsi yang terjadi di pendidikan. Dari sinilah kami menjadi paham dan menyadari bahwa setidaknya guru harus mencari solusi menjadi guru merdeka belajar di kelas untuk membawa pembelajaran di kelas lebih bermakna.  Sebelum menginjak acara inti yaitu pemutaran video guru merdeka belajar, saya sebagai fasilitator sekaligus moderator membuka acara nonton bareng dengan memberikan gambaran susunan acara. Peserta yang seluruhnya adalah guru terlihat sangat antusias. Ada sekitar 13 peserta yang hadir saat itu sehingga saya juga mengajak mereka untuk bertukar pikiran tentang hal-hal yang berkaitan dengan arti kata “merdeka”, apa sebenarnya merdeka belajar, bagaimana menciptakan kelas yang merdeka belajar, dsb. Ada beberapa jawaban mengenai apa itu merdeka belajar dari salah satu guru yang berkomentar bahwa guru merdeka belajar adalah guru yang punya kebebasan untuk belajar apapun yang tujuannya untuk selalu upgrade kemampuan diri. Setelah sesi bincang santai dilanjutkan sesi pemutaran video dengan durasi 15 menit.  Video yang berisi pemaparan dari Ibu Najelaa Shihab ini membuka jendela wawasan para peserta terutama diri saya pribadi. Video ini mampu menjawab rasa keingintahuan saya selama ini bahwa guru adalah seseorang yang perlu merasa merdeka dalam belajar. Bukan hanya saya saja yang merasakan pentingnya merdeka belajar, namun semua peserta guru merasakan hal sama. Bu Najelaa menjelaskan banyak sekali cara-cara seorang guru yang merdeka belajar. Menurut beliau ada tiga hal urgensi utama guru sebagai pendidik yang merdeka yaitu; 1) Komitmen, 2) Memiliki kemandirian, dan 3) Berefleksi. Di bawah ini akan saya paparkan secara singkat tiga hal di atas sesuai dengan apa yang Ibu Najelaa Shihab jelaskan di dalam video yang kami tonton bersama; 1). Komitmen Guru harus memiliki komitmen kuat terhadap tujuan yang akan diraih. Tujuan pembelajaran yang memberi pengaruh terhadap perkembangan anak didik di dalam kelas. Tujuan yang membawa guru untuk selalu semangat menciptakan inovasi-inovasi pembelajaran.Namun, ada saja tantangan yang dirasakan di dalam prosesnya yaitu kadangakala guru lupa membedakan mana yang termasuk cara dan tujuan komitmen. Banyak guru malah menghabiskan waktunya untuk fokus mengurus tugas administrasi, menyiapkan akreditasi, atau ketentuan birokrasi lainnya yang sebenarnya adalah cara namun kemudian menjadi prioritas dan tujuan utama. Sehingga, guru cenderung mengesampingkan komitmen awal yang dimiliki. 2). Kemandirian Dalam kemandirian, ada sebuah anak tangga tingkatan dimulai dari tingkata pertama yaitu anak tangga (1) manipulasi, (2) kesadaran, (3) interaksi/dialog, (4) masukan/konsultasi, (5) kemitraan, (6) pemberdayaan, (7) kendali, dan (8) mandiri. Menjadi guru mandiri tidaklah mudah karena ada banyak anak tangga yang perlu dilewati dan konsistensi sehingga menjadi guru yang memegang kendali atas proses belajar masing-masing dan kemudian berada di atas puncak sebagai guru mandiri.  3). Refleksi Kegiatan refleksi adalah kegiatan melihat cermin dan mengamati diri sendiri sebagai pelaku utama dalam kelas namun hal ini sulit untuk dilakukan. Akhirnya, banyak diantaranya yang selalu berdalih untuk melihat pelaku lain sebagai alasannya, seperti masyarakat belum paham, murid-murid tidak mengerti, orang tua yang menentang yang faktanya diri sendirilah yang merasa takut untuk berubah.  Ada banyak hambatan dan permasalahan untuk menjadi guru yang merdeka belajar yaitu memahami adanya miskonsepsi di dalam dunia pendidikan. Miskonsepsi yang perlu ditindaklanjuti oleh guru belajar agar dapat mewujudkan sistem pendidikan nasional, yaitu: Guru mau belajar seringnya terdorong karena motivasi eksternal (mendapat sertifikat, insentif, namun sejatinya guru perlu belajar sebagai kebutuhan alamiah. Tidak ada paksaan ataupun iming-iming saat mau belajar. Guru banyak yang ingin belajar dari para pakar pendidikan, padahal belajar antarsesama guru dapat menjadi salah satu cara efektif untuk saling bertukar informasi dan berbagi tentang praktik baik di pembelajaran. Guru hanya terbatas membangun pertanyaan dengan “how to”, tetapi secara aplikatif guru perlu mengenalkan hal-hal yang berbeda dan menarik kepada murid-muridnya. Guru yang adaptif belajar dengan tujuan dalam konteks yaitu dengan mmberikan pertanyaan-pertanyaan tentang “why” dalam setiap kondisi di dalam kelas. Guru sering fokus terhadap pemenuhan target yang dipaksakan  untuk selesai serta nilai capaian KKM dengan mengejar ketertinggalan materi di dalam kompetensi dasar pembelajaran. Namun, secara alami, proses belajar membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Seiring dengan proses belajar yang membutuhkan waktu, guru dapat menciptakan inovasi dengan baik dengan melihat dan memahami inovasi tersebut apakah sudah sesuai kebutuhan murid atau belum. Guru lebih mengutamakan kompetensi secara individual ketika belajar. Tetapi, guru merdeka belajar adalah mereka yang berani mengambil aksi untuk kompetensi tumbuh bersama lingkungan. Oleh karena itu, guru butuh teman kolaborasi untuk bertindak dan menyamakan persepsi menjadi guru merdeka belajar.  Setelah pemutaran video, sesi berikutnya adalah refleksi bersama. Di sesi refleksi, guru secara bergantian menjawab pertanyaan. Beberapa peserta menjelaskan pengalamannya berkaitan dengan miskonsepsi yang terjadi di lingkup pendidikan sekolah mereka. Pak Huda berpendapat bahwa miskonsepi yang beliau rasakan adalah belajar dikejar target materi yang terkadang membuat murid jenuh dan tertekan ditambah dengan adanya kompetisi-kompetisi atau lomba yang dapat mengurangi jam murid untuk belajar. Padahal idealnya, belajar membutuhkan waktu yang tidak sebentar (tidak bisa instan). Selain itu, masih banyak pendapat lain terkait menjadi guru merdeka belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan miskonsepsi di dunia pendidikan.  Akhirnya dari serangkaian kegiatan nonton bareng video merdeka belajar, kami sama-sama memahami bersama bahwa guru yang merdeka belajar tidak semudah yang dibayangkan. Guru merdeka belajar yaitu dia memiliki komitmen pada tujuan pencapaian, meningkatkan kemandirian, dan berusaha melakukan refleksi di setiap akhir kegiatannya. Pastinya guru merdeka belajar adalah guru yang memiliki semangat berkembang dan mandiri demi terwujudnya pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Guru Merdeka Belajar, Guru yang Menggerakkan

Salah satu ciri-ciri hidup adalah bergerak. Dan salah satu hidup yang bermakna adalah menggerakkan. Menggerakkan apa? Apapun yang digerakkan, tentu orientasinya pada kebaikan. Demikian halnya ketika guru ingin menggerakkan diri sendiri maupun orang lain agar mau belajar. Mestinya seorang guru pantang mengajar jika tidak mau belajar lagi. Apalagi melihat dinamika hidup yang terus berkembang. Rata-rata guru yang merupakan produk Abad ke-19 harus sering beradaptasi menghadapi murid-murid abad ke-21 yang tentu lebih kompleks tantangannya. Bagaimana mungkin kita tidak mau belajar lagi, sedangkan hidup terus memberikan pembelajaran?  Salah satu cara memotivasi guru untuk terus belajar adalah dengan cara melaksanakan kegiatan nonton bareng video guru merdeka belajar. Saya tertarik untuk mengajak teman-teman menonton video ini dengan harapan dapat menginspirasi teman-teman lain tentang guru merdeka belajar. Maka, kami mengagendakan kegiatan ini pada hari Kamis, 23 Mei 2019 di SMP Negeri 2 Kedungpring Lamongan ini. Tentu sebelumnya kami publikasikan dulu adanya kegiatan ini baik secara langsung dari mulut ke mulut maupun melalui media sosial. Alhamdulillah sampai hari yang ditentukan ada sepuluh teman yang bersedia hadir.  Sebelum kegiatan nobar video, terlebih dahulu saya mengajak teman-teman untuk berdiskusi dan berbagi tentang pengalaman belajar ketika menjadi guru. Saya pun mengawali bercerita. Pada awal menjadi guru, saya sering mendengar komentar negatif ketika melakukan kegiatan belajar. Ada orang yang mengatakan bahwa masa belajar guru adalah dulu saat sekolah dan kuliah. Sekarang saatnya mengajar, dan tak perlu lagi belajar. Ada pula yang berkomentar, “Enak cari sertifikat saja. Bayar sedikit sudah cukup. Daripada menghabiskan waktu untuk belajar atau pelatihan.” Dan yang lebih parah lagi saat saya menjadi juara I dalam sebuah kompetisi guru, ada guru lain yang berkomentar, “Cari sensasi saja!”. Tapi itu dulu, saat saya masih belajar sendirian dan butuh waktu untuk mengajak belajar teman-teman lainnya.  Apa yang saya ceritakan di atas ternyata diiyakan dan dialami oleh teman- teman yang lain. Bahkan ada yang merasa dijauhi teman-temannya karena dianggap guru yang sok ilmiah. Juga ada yang mendapatkan sikap sinis dan komentar, “Mau jadi apa kok ikut pelatihan, seminar, komunitas, dan organisasi? Mau cepat jadi Kepala Sekolah?”, dan lain-lain. Namun, dengan berlalunya waktu dan juga berkembangnya kebutuhan, sebagian guru sudah ikut semangat belajar. Meski sebagian lainnya masih mempertahankan pola pikir lamanya. Namun saya yakin perlahan-lahan kondisi ini akan membaik. Setelah kegiatan sharing tadi, saya mulai mengenalkan komunitas guru belajar. Keresahan dan keprihatinan yang selama ini saya rasakan, terjawab saat mengenal Komunitas Guru Belajar (KGB), Komunitas guru atau pendidik yang mau berbagi praktik cerdas pengajaran dan pendidikan yang diinisiasi Kampus Guru Cikal. Perkembangan KGB Lamongan juga menjadi materi kami.  Perlu diketahui bahwa KGB Lamongan selama ini telah menyelenggarakan Temu Pendidik Mingguan (TPM) sebanyak 6 kali secara daring. Saya menjadi narasumber pada TPM perdana, tanggal 7 Maret 2019 dengan moderator Sarah Aulia. Menyelenggarakan TPM Perdana bukan hal yang mudah. Apalagi bagi teman- teman yang belum terbiasa diskusi secara online. Dengan dibatasi waktu dan respon agak lambat, saya dan moderator sepakat untuk bekerja sama menghidupkan diskusi ini. Alhamdulillah semua terlaksana dengan baik dan TPM selanjutnya berjalan lancar.  Pada Temu Pendidik Daerah (TPD) perdana, saya dan Sarah Aulia sepakat untuk berbagi tentang kegiatan Wardah Inspiring Teacher yang kebetulan kami ikuti berdua. TPD kami jadwalkan pada tanggal 21 April 2019, bertepatan dengan hari Kartini. Namun ternyata yang hadir hanya 4 orang termasuk kami berdua. Sedih? Tentu. Namun, itu tak membuat kami patah semangat. TPD yang kedua adalah nobar di MAN I Lamongan. Saya kebetulan berhalangan hadir karena jatuh dari sepedamotor. Berapa yang hadir? Hanya Sarah dan satu teman lagi.  Kami tak menyerah. Saya berinisiatif mengadakan nobar lagi. Barangkali di Lamongan sebelah barat kejauhan jika harus ke Lamongan kota. Maka terlaksanalah kegiatan Nobar Video Guru Merdeka Belajar ini sesuai jadwal, yaitu  Kamis, 23 Mei 2019 pukul 13.00-15.00 WIB. Kegiatan nobar ini bertujuan : (1) adanya komunitas perintis yang mulai membuat kegiatan, dan (2) adanya pemahaman tentang merdeka belajar baik oleh anggota maupun penggerak.  Sebagai pengantar sesi nobar, saya sedikit mengulas tentang empat kunci dalam pengembangan kompetensi guru menurut kampus guru cikal yaitu: (1) kemerdekaan belajar adalah prasyarat agar setiap pelajar, guru, komunitas, dan organisasi melatih otonomi untuk tumbuh berkembang secara optimal, (2) kompetensi guru adalah fondasi terselenggaranya pendidikan berkelanjutan yang berkualitas, (3) kolaborasi memberdayakan guru dan semua pemangku kepentingan untuk saling dukung dan menghasilkan dampak positif terhadap ekosistem pendidikan, dan (4) karier guru yang jelas dan beragam menjadi daya dorong bagi guru untuk terus menerus berkarya dan berkontribusi pada negeri ini.  Pada point pertama yaitu kemerdekaan belajar merupakan materi yang didiskusikan dalam pertemuan TPD III ini. Semua peserta yang hadir menyimak video Merdeka Belajar yang berisi penjelasan tentang Merdeka Belajar oleh pemateri Najelaa Shihab. Najelaa Shihab menjelaskan bahwa ada tiga ciri-ciri merdeka belajar yaitu komitmen pada tujuan, mandiri untuk belajar yang berarti, dan refleksi berkala dalam pembelajaran.  Najelaa Shihab mengatakan, “Memerdekakan diri kita sendiri dimulai dari pembuktian bahwa kita dan perubahan yang kita lakukan adalah yang kita nanti- nantikan. Jadi, tidak perlu menunggu siapapun untuk merdeka belajar.” Guru yang merdeka belajar memiliki ketekunan dalam perjalanan menuju tujuan yang bermakna bagi dirinya. Tidak hanya memahami kewajiban, tetapi juga memiliki otonomi dan menggunakan otoritas dengan bijak. Guru yang merdeka juga memiliki kemandirian dalam meningkatkan kompetensi dirinya dan juga bisa memotivasi dan menumbuhkan kemandirian pada murid-muridnya. Dan yang tak kalah penting, guru merdeka belajar melakukan refleksi berkala dalam pembelajaran yang telah dilaksanakan. Refleksi ini penting dilakukan untuk mengevaluasi, memperbaiki, dan merencanakan apa yang akan dilakukan di masa mendatang.  Yenni Rinawati, guru termuda dari SMPN 2 Kedungpring mengungkapkan pendapatnya tentang kegiatan ini, “Wah,perlu juga nobar yang begini ini ya. Dapat ilmu dan motivasi dari Bu Najelaa.” Sementara itu Santhy Rahayu, guru SMK Muhammadiyah 7 Kedungpring menyatakan senang dapat mengikuti kegiatan ini. “Kegiatan ini sangat bermanfaat. Kalau selama ini kita menunggu diundang pelatihan dari pemerintah, maka susah mendapatkan kesempatan belajar. Tetapi dengan konsep guru merdeka belajar ini, kita jadi semangat untuk belajar dimanapun dan kepada siapapun,”ungkapnya.  Materi nobar ini juga dapat meluruskan miskonsepsi yang selama ini sering ditemui. Bahwa belajar itu harus ada insentif dari eksternal misalnya. Yang betul belajar itu sebagai kebutuhan alamiah kita. Banyak guru yang selama ini berpendapat bahwa belajar itu … Read more

Guru Merdeka Belajar, Mempertanyakan Proses Pendidikan

Bulan Mei ini jadwal guru se-Indonesia Raya semakin padat. Diawali dengan menyambut Ramadhan, pengumuman kelulusan siswa kelas XII dan IX, persiapan Penilaian Akhir Tahun, pelaksanaan hingga proses pengolahan nilainya. Hari ini, di sela-sela kesibukan mengolah nilai siswa di kantor, kami terlibat obrolan hangat terkait hasil UNBK yang telah diumumkan beberapa waktu yang lalu. Secara mengejutkan, perolehan nilai rata-rata untuk sekolah kami naik secara signifikan, menempatkan sekolah kami (SMAN 3 Teluk Keramat, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat) pada posisi 10 besar sekolah dengan perolehan nilai UNBK tingkat SMA/SMK/MA terbaik di kabupaten Sambas. Sebuah berita yang membanggakan seharusnya, namun kami malah tersenyum kecut, mengingat proses panjang berliku selama tiga tahun terakhir dan bagaimana kami telah mengenal dengan baik karakter siswa kami sendiri. Belum lagi jika membayangkan nasib siswa cemerlang tersebut ketika masa SMA berakhir, yang seringkali tak secemerlang nilainya. Disisi lain, nilai bertabur bintang ini menjadi kebanggaan dan lantas dibandingkan dengan perolehan nilai sekolah, kabupaten dan provinsi lain, untuk kemudian menjadi tolak ukur keberhasilan program dan landasan untuk menentukan arah program berikutnya bagi pejabat pembuat kebijakan di tingkat pusat. Obrolan kami kemudian bermuara pada beberapa pertanyaan; Apakah tujuan hakiki sistem pendidikan kita dan apa indikatornya? Lalu dimana peran guru seharusnya ditempatkan dalam sistem ini? Sangat wajar jika pertanyaan ini muncul, mengingat seringnya bongkar-pasang kurikulum yang diterapkan di negeri ini, yang seringkali tidak sesuai dengan daya dukung sekolah dan kebutuhan dunia kerja.  Saya kemudian teringat sebuah video “merdeka belajar” yang pernah dibagikan oleh teman saya, dan mengajak teman-teman untuk sejenak ikut menontonnya. Sebuah laptop dengan pengeras suara ditata sekenanya. Ada kesan kaget, heran di raut wajah teman-teman ketika menontonnya, terutama pada bagian penjelasan piramida pendidikan di Indonesia. Spontan, kami membandingkan apa yang dijelaskan dalam video tersebut dengan apa yang kami rasakan selama ini. Kami semua sudah paham alur kebijakan pendidikan di Indonesia dan menyadari ada yang salah dengan itu. Guru sebagai garda terdepan pendidikan yang lebih mengenal medannya, selama ini diatur oleh pembuat kebijakan yang berada di belakang.  Dan penjelasan tentang membalik piramida tersebut membuka pikiran kami, bahwa seharusnya seperti ini lah sistem pendidikan dijalankan. Lalu kami sampai pada diskusi, apa bedanya program ini dengan program Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan yang telah digagas oleh pemerintah beberapa tahun yang lalu? Program Merdeka Belajar membuka kesempatan bagi setiap orang untuk berperan dalam sistem dan belajar berproses dari bawah, menikmati jatuh bangunnya, karena belajar bukan hanya dari pakar, namun bisa dari mereka yang sama seperti kami, yang lebih memahami kondisi nyata yang kami hadapi. Akhirnya kami menyadari, bahwa suara kami sendiri tidak akan berpengaruh untuk perubahan, namun akan sangat berperan jika kami bersatu dalam komunitas. Perubahan itu seharusnya dimulai dari diri kami sendiri sebagai pendidik, dan kemauan untuk berubah itu sudah seharusnya ditularkan kepada semua yang merasa bahwa pendidikan kita butuh perhatian.

Guru Merdeka Belajar, Guru yang Tidak Takut untuk Berubah

Kami semua memutuskan untuk menjadi guru yang merdeka belajar dengan menjadi guru yang berdaya dan memegang kendali atas proses belajar kami sendiri. Kami percaya bahwa pendidikan itu penting dan harus dijadikan prioritas. Perubahan yang ingin kami lakukan yaitu belajar dengan tujuan dalam konteks. Kami harus menjadi Guru professional yang adaptif, karena kami sendirilah yang paling memahami siswa kami sendiri. Kami juga akan selalu mencoba untuk berinovasi dalam pendidikan “trial and error” sehingga suatu hari inovasi yang kami kembangkan bisa diterapkan di dalam kelas.

Merdeka Belajar, Tak Sesempit Arti Bebas

Pada hari Senin, 27 Mei 2019 yang bertepatan dengan 22 Ramadhan 1440, Komunitas Guru Belajar Solo Raya mengadakan acara Temu Pendidik Sekolah yang bertempat di MIM PK Kateguhan Boyolali. Sesi terakhir dari rangkaian acara Komunitas Guru Belajar yang bekerja sama dengan Guru-guru MIM PK Kateguhan Boyolali adalah nobar. Nonton bareng cuplikan video Najelaa Shihab (Bu Elaa) yang menjelaskan terkait “Merdeka Belajar” dalam acara Temu Pendidik Nusantara pada tahun 2016.  Acara ini dipandu oleh Kak Una, selaku anggota dari KGB Solo Raya. Kemudian sebelum video diputar ada beberapa untaian kata dari Bu Heni selaku Penggerak dari KGB Solo Raya, beliau mengatakan bahwa adanya Komunitas Guru Belajar ini sebagai wadah untuk menampung segala ide praktek belajar, tempat berbagi materi cerdas mengajar kepada guru-guru dari berbagai media. Bu Elaa dalam video tersebut menjelaskan bahwa sebagian besar anak Indonesia itu dunianya hanya sebatas ruang kelasnya, mimpinya hanya sebatas tingginya tangan untuk menjawab pertanyaan gurunya, yang kita inginkan adalah anak-anak yang mempunyai aspirasi tinggi, memiliki cita-cita yang melampaui langit, menembus batas, melampaui dunianya dan ini hanya terjadi pada saat anak-anak memiliki kemerdekaan belajar, tapi kemerdekaan belajar murid-murid hanya akan terjadi pada saat kita semua sebagai pendidik juga sebetulnya memiliki kemerderkaan. Dan kita sangat percaya bahwa proses kemerdekaan itu sebetulnya bukan sesuatu yang diberikan tapi sesuatu yang kita gerakkan dan harus diperjuangkan. Sebagai pendidik yang merdeka belajar adalah harus memiliki komitmen, memiliki kemandirian dan selalu reflektif. Pada saat kita berbicara tentang komitmen kita sebetulnya berbicara tentang komitmen terhadap tujuan, tapi semua dari kita yang setiap hari bergerak pasti dia tahu betapa susahnya untuk bisa konsisten terhadap tujuan. Tantangan utamanya adalah membedakan cara dengan tujuan, kita terjebak pada tugas-tugasadministratif, ketentuan-ketentuan birokrasi sehingga ujian, akreditasi, seleksi, nilai, yang sebetulnya semua hanya cara kemudian menjadi tujuan dan menjadi prioritas utama. Selanjutnya terkait kemandirian, kemandirian juga sulit, karena sebetulnya pada saat ketika kita melihat proses kemandirian pada tingkatan-tingkatannya itu banyak sekali. seperti manipulasi, kesadaran, interaksi/dialog, masukan/konsultasi, kemitraaan, pemberdayaan, Kenyataan dilapangan dalam upaya pengembangan guru yang penuh dengan manipulasi, banyak ketentuan, sebagian dari kita mungkin berhenti pada tingkatan ketiga yaitu menjadi teman konsultasi atau memberikan masukan, tapi masih jauh perjalanannya untuk sampai berdaya dan memegang kendali atas proses belajar kita sendiri. Kemudian hal yang menjadi bagian dari pendidik yang merdeka belajar adalah kemampuan untuk refleksi, refleksi ini mudah dikatakan tapi sulit sekali dilakukan, sebagian dari kita cenderung menutup mata menolak untuk melihat cermin dengan seribu satu alasan. Kita bilang masyarakat belum faham, kita bilang anak-anak tidak mengerti, kita bilang orang tua akan menentang, padahal itu sebetulnya alasan dari ketakutan diri kita sendiri untuk menuju  perubahan. Kita itu sedang melawan miskonsepsi, melawan miskonsepsi tentang guru belajar. Banyak yang bilang guru itu mau belajar kalau ada insentifnya, guru mau belajar kalau mendapatkan sertifikat atau uang, seharusnyaadalah guru-guru yang belajar berdasarkan kebutuhan alamiah. Banyak juga yang bilang bahwa guru itu hanya bisa belajar dari yang ahli,  dari pakar pendidikan, di temu pendidik ini kita buktikan bahwa guru itupaling belajar efektif dari sesama guru. Guru itu tidak perlu figur sempurna yang serba ahli, guru itu perlu figur yang realistis, yang belajar, mempraktekan apa yang dia pelajari, yang belajar banyak sekali kegagalan sebelum akhirnya berhasil. Guru profesional itu sebenarnya guru yang adaptif, kita yang ketemu anak setiap hari pasti tahu betapa pentingnya peran guru yang adaptif, setiap tahun ajaran, setiap pekan bahkan setiap hari, setiap murid kita butuh hal yang berbeda dari kita, sehingga tahu kenapa menjadi sangat esensial. Kita melawan target-target belajar yang diburu-buru dan dipaksakan, guru belajar itu butuh waktu. Pendidikan itu tidak pernah kekurangan inovasi, banyak sekali inovasi yang terjadi setiap saat, yang selalu kita katakan adalah guru butuh waktu, butuh waktu untuk memahami inovasi, butuh waktu untuk memiliki inovasi, butuh waktu untuk membuktikan apakah inovasi itu sesuatu yang sesuai atau sesuatu yang tidak bisa dipakai. Kita juga membuktikan bahwa kompetensi itu bukan soal individu, perlu kita sadari bahwa guru adalah kunci dalam pendidikan itu tidak cukup, tapi guru yang merdeka belajar adalah kunci. Karena pada saat orang bicara guru adalah kunci, sebetulnya yang sering ada dalam bayangannya adalah ini pabrik, gurunya input sehingga dia menjadi kunci terhadap sebuah output yang dihasilkan murid-murid kita, tapi pada saat kita bicara guru yang merdeka belajar adalah kunci maka kita yakin bahwa kompetensi itu bukan kompetensi individual. Kompetensi itu adalah potensi individu yang didukung oleh ekosistem yang baik, tidak ada guru yang bisa belajar sendirian, tidak ada guru yang bisa kompeten sendirian dan tidak ada guru yang bisa merdeka belajar sendirian. Setelah nonton bareng Kak Una selaku pemandu acara ini, kemudian mengajak para guru untuk merefleksikan terkait video merdeka belajar yang dipadukan dengan pengalaman praktek dilapangan. Pada acara itu, yang pertama memberikan ulasan adalah Bu Erma, beliau mengatakan: “Pertama, kami ucapkan terima kasih sekali kepada komunitas guru belajar solo raya, yang telah berkenan dan membagi ilmunya di sekolah kami. Alhamdulillah sudah membuka mindset kami semua, bahwa belajar yang sesungguhnya adalah yang seperti itu, kita bisa merasakan merdeka, dalam keadaan yang tak terbatasi dengan kelas, dengan kurikulum dsb. Namun, di lapangan kita masih sering terjebak dengan hal itu. Sebenarnya, jika sesi ini bisa dilanjutkan lagi, kami ingin lebih fokus; misalnya inspirasi mengelola kelas, untuk memanajemen peserta didik dan menelurkan materi-materi dalam media-media yang menarik, karena bapak-ibu guru yang ada di kelas atau sekolah tingkat dasar ini sangat memerlukan sekali. Supaya guru dan murid bisa belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar. Kami harap pertemuan yang singkat ini, bisa berlanjut ketahapan selanjutnya secara off-air atau on-air, offline ataupun online.” Kemudian dilanjutkan oleh Bu Narni, beliau mengatakan: “Senang sekali, siang ini bisa menikmati salah satu figur tentang Kampus Guru Cikal. Beberapakali di sosial media saya pernah melihat ada teman yang ikut juga, cuma saya tidak terlalu mengikuti lebih mendalam. Ternyata, sebuah komunitas yang menarik, gimana dengan tajuknya ‘merdeka belajar’. Ketika melihat kondisi kelas yang sekarang, mulai murid masuk kelas duduk, ya sepertinya belum merdeka belajar ya Bu.. sama yang diungkapkan oleh Ibu Kepala tadi, maka tantangannya kalau ingin merdeka belajar itu, gimana caranya jika dilihat sendiri misalnya sekolah formal kecuali memang mereka yang home schooling atau mereka yang … Read more

Perilaku Guru Merdeka Belajar

“Sebagai seorang guru kita semestinya selalu berinovasi, open mind dan percaya bahwa kita tidak sendirian untuk membawa perubahan, cari rekan sejawat yang sevisi. Nah di KGB ini, kita dapatkan partner belajar yang siap untuk diajak berkolaborasi”. Tutur Pak Rolis Salah satu ungkapan gelora Baper (bawa perubahan) pada siang itu memenuhi area kelas SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo (22/05/19). Ada pancaran LCD yang menyala, ternyata para guru di Komunitas Guru Belajar Sidoarjo sedang nonton bareng. Wah, nontonnya gak segambarangan. Mereka menyaksikan Film Merdeka belajar. Kegiatan tersebut digagas olehkomunitas guru belajar nusantara & kampus guru cikal dalam rangka menyambut Hardiknas 2019. Nonton bareng Film Merdeka belajar hadir sebagai ajang bagi para pendidik untuk berefleksi terhadap upaya-upaya kita dalam mendidik anak. Pasalnya setelah nobar, para guru berdiskusi mengenai bagaimana pembelajaran yang selama ini disajikan. Analisis mengenai Kebemaknaan belajar siswa, seberapa dekat hubungan yang terjalin dengan siswa, realisasi praktik literasi sampai upaya yang akan dilakukan para guru menyikapi masalah & tantangan yang ada. Seperti pernyataan Guru Enik berikut. “Di acara ini, kita bisa berbagi praktik baik melalui aktivitas refleksi terhadap pembelajaran yang telah kita laksanakan mulai dari miskonsepsi literasi, kebiasaan copypaste RPP dan sebagainya. Selain itu, selepas acara ini, kita akan kolaborasi bersama untuk menularkan virus merdeka belajar di lingkungan sekolah masing-masing”. Keseruan acara nobar terletak pada sesi refleksi. Pada seremoni ini, kami berbagi kisah, pengalaman bahkan curhat menjadi bagian yang penuh balutan emosi. Kisah Guru Syifa menarik perhatian peserta kala itu. “Anak itu tidak pernah tersenyum. Ia selalu terlihat murung. Sesekali terlihat merenung. Ada apa sebenarnya? Berbagai cara kucoba untuk membuatnya tersenyum, mulai dari mengajaknya untuk tersenyum, bercerita humor, senam wajah tapi belum berhasil. Kucoba cari tahu. Home visit pun aku tunaikan. Ternyata akar masalahnya ada pada kebiasaan si anak & orang tua. Saat di rumah, si ibu asyik sendiri dengan HP-nya. si anak dibiarkan belajar dengan sendirinya. Dari situlah, sang anak menjadi pribadi yang pemurung. Sejak saat itu, kubangun komuikasi dengan orang tua. Kusarankan pada ibunya agar sebelum tidur, si anak diajak untuk tersenyum dan ditemani saat belajar serta diajak komunikasi mengenai aktivitas harian si anak. Tak hanya itu, di kelas aku sampaikan mengenai hadits tentang pahala orang yang tersenyum, membiasakan anak-anak untuk tesenyum saat awal & akhir KBM serta saat saat berpapasan/ bertemu dengan teman, guru dan orang lain di jalan seraya berucap salam. Alhasil upayaku berhasil. Sungguh kebahagian yang tiada tara sebagai pendidik saat sukses menghantarkan anak didiknya”. Dari pengalaman Guru Syifa dan para guru lain yang saat itu hadir, kami sadar bahwa menjadi guru merdeka belajar harus memiliki komitmen yang diwujudkan dengan kemandirian untuk menemukan paduan yang pas antara kurikulum, kebutuhan murid dan situasi lokal. Kemudian, guru merdeka juga harus reflektif, berani meminta umpan balik secara aktif danmenilai diri sendiri dengan objektif. Mulai sekarang, kami sepakat bahwa pengembangan kemerdekaan guru bukan sekadar soal mengubah kebijakan, tetapi perilaku harian yang muncul dari kita, dari pembelajaran yang kita hadirkan, seberapa jauh mejangkau diferensiasi murid dan seberepa dekat kita memanusiakan hubungan dengan murid. Sebagaimana ungkapan Bu Najelaa Shihab, “Guru Merdeka itu tak hanya memahami kewajiban, tetapi juga memiliki otonomi dan menggunakan otoritas dengan bijak”. Terima kasih Kampus guru cikal yang telah menggerakkan para guru se-nusantara untuk menjadi guru pembelajar sepanjang hayat. Salam Guru Merdeka Belajar!!!

Menyebarluaskan Prinsip Merdeka Belajar

Bulan ini adalah waktu sibuk bagi kami guru menjelang akhir tahun. Kesibukan menyelesaikan materi dan menjelang PAT. Perasaan yang sangat acak kami rasakan. Di tengah perasaan ini, alarm ajakan untuk menjadi guru merdeka belajar berbunyi. Seketika cukup menggetarkan hati kami, para guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Belajar Pekalongan. Ada semangat untuk memulai aktivitas menjadi penggerak karena keresahan yang kami rasakan, namun di sisi lain kami sebagai calon penggerak barumerasa bingung. Menjadi penggerak itu yang bagaimana, sudahkah aktivitas merdeka belajar itu hadir di kelas-kelas kami atau belum. Semangat terus naik namun beriringan dengan kebimbangan yang terus muncul. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk berdiskusi dan mencari tahu, bagaimana aktivitas merdeka belajar yang sesungguhnya. Salah satu hal yang saya senangi di Komunitas Guru Belajar Pekalongan adalah membaurnya penggerak dengan anggota. Mungkin itu juga yang akhirnya menarik minat banyak anggota untuk turut serta bergerak dalam pendidikan yang lebih baik di Pekalongan. Kami (penggerak dan anggota) mendiskusikan bersama tentang apa itu merdeka belajar dan mekanisme menjadi penggerak. Tak ada sekat yang menghalangi kami untuk berdiskusi. Penggerak yang sudah aktif dengan senang hati menawarkan diri untuk membantu, sekedar memfasilitasi pertanyaan dengan tim Kampus Guru Cikal sampai ada yang menawarkan rumah dan peralatan nobar bagi calon penggerak. Kampus Guru Cikal sedang menyuarakan gerakan nobar Guru Merdeka Belajar. Akhirnya disepakati untuk mencari jawaban melalui kegiatan nobar tersebut. Penggerak yang sudah aktif memberikan kesempatan kepada calon penggerak untuk menjadi moderator dan memprakarsai acara, dari sejak awal membuat poster, mendaftarkan acara ke tim Kampus Guru Cikal, mengkoordinir peserta untuk nobar, dan mengadakan nobar kemudian membuat laporan. Saya adalah calon penggerak pertama yang mengadakan sesi nobar dengan bantuan penggerak yang sudah aktif. Awal kali bersepakat untuk mengadakan nobar di rumah Guru Niken, namun karena ada beberapa hal yang perlu disesuaikan jadwalnya dengan rapat ransel, akhirnya diputuskan nobar diadakan di rumah Guru Niam, tanggal 18 Mei 2019. Sebelum memulai nobar, saya mencoba membuka kembali obrolan tentang apa itu merdeka belajar ? Apa yang sudah kita pahami selama ini tentang merdeka belajar ? Beberapa guru menjawab merdeka belajar adalah bebas untuk belajar tanpa ada paksaan. Rata-rata jawaban berkutat seputar itu. Karena sudah tidak ada jawaban lain lagi, saya putarlah video merdeka belajar dari Bu Ela untuk mencari pencerahan bersama-sama, apa sih sebenarnya makna merdeka belajar itu. Dari penanyangan video tersebut, kami menemukan jawaban bahwa merdeka belajar itu berangkat dari keresahan bahwa dunia anak-anak hanya terbatas di ruang kelas. Mimpinya hanya terbatas oleh tingginya tangan mereka untuk menjawab pertanyaan guru. Padahal yang kita inginkan adalah anak-anak yang memiliki aspirasi yang tinggi, cita-cita yang tinggi melampui langit. Dan ini hanya baru akan terjadi ketika anak-anak itu memiliki kemerdekaan belajar dalam diri mereka. Sementara itu, agar anak-anak memiliki kemerdekaan belajar dalam diri mereka, pendidik harus terlebih dahulu memiliki kemerdekaan belajar.Beberapa kalimat tersebut membuat peserta nobar semakin bertanya, lantas apa itu sebenarnya merdeka belajar ? dan inilah hasil pembelajaran yang kami dapatkan. Ada beberapa esensi merdeka belajar, yaitu : komitmen, kemandirian, dan refleksi. Komitmen. Komitmen adalah fokus terhadap tujuan. Permasalahan kita sebagai pendidik saat ini adalah sulitnya membedakan antara cara dan tujuan. Kita masih terjebak pada tugas administratif dan keterikatan dengan birokrasi, yang seharusnya itu semua hanyalahcara kemudian menjadi tujuan dan prioritas bahkan lebih tinggi dari tujuan awal menjadi pendidik itu sendiri. Kemandirian. Banyak upaya pengembangan guru yang penuh manipulasi berupa insentif atau tunjangan lain yang membuat guru menjadi sulit untuk memegang kendali atas proses belajar dan mencapai kemandirian dalam belajar. Refleksi. Sebagian dari kita cenderung menutup mata dan menolak untuk melihat cermin namun lebih suka menyalahkan pihak lain di luar diri kita. Inilah yang sebenarnya menghambat kita untuk menjadi pendidik yang merdeka. Dari 3 esensi menjadi guru merdeka belajar di atas, saya melemparkan beberapa pertanyaan refleksi. Diskusi berjalan dengan sangat mengalir, satu sama lain saling bersahut memberikan refleksi tanda memiliki keresahan yang sama. 1. Apa yang dipahami tentang merdeka belajar setelah menonton video tersebut ? “Merdeka belajar adalah memiliki komitmen yang kuat terhadap pendidikan yaitu membuat murid menjadi berdaya, memiliki kemandirian terhadap kelas yang kita ajar dan selalu refleksi di akhir pembelajaran. Namun saya membayangkan ini adalah hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Mungkin bisa jadi awalnya kita sudah idealis memiliki tujuan kemudian merumuskan cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut, namun seringkali cara tersebut tidak berjalan saat kita dihadapkan pada tekanan-tekanan eksternal, misalnya waktu ulangan yang semakin mepet, agenda sekolah yang semakin sedikit karena penyesuaian kebijakan dan sebagainya. Ditambah lagi, kita masih sering lupa refleksi. Padahal refleksi yang akan membantu kita untuk mengevaluasi diri, proses mana yang terlewat dalam menerapkan merdeka belajar di ruang kelas kita. Hasilnya, penerapan cara yang masih sulit karena banyaknya tekanan dari luar tadi kurang terefleksikan. Proses mengajar berasa menjadi sebuah rutinitas tanpa mengarah pada tujuan” ucap Guru Rayinda 2. Apakah selama ini kita sudah menjadi pendidik yang menerapkan kemerdekaan dalam belajar ? “Saya tidak tahu apakah saya sudah bisa disebut sebagai guru merdeka belajar atau belum, sebab selama ini saya sendiri juga masih terbawa tuntutan untuk mengikuti berbagai macam yang terkadang aturan-aturan tersebut melupakan kemerdekaan belajar bagi murid. Namun sebisa mungkin saya berusaha untuk tetap bisa mengendalikan suasana belajar di kelas saya. Suatu malam tiba-tiba muncul ide untuk menerapkan pembelajaran dengan film, sebagaimana pelatihan yang sudah saya dapatkan melalui KGB Pekalongan bekerja sama dengan Sinedu dan Kampus Guru Cikal. Respon anak-anak luar biasa, mereka bisa refreshing sambil belajar, tanpa menghilangkan sisi pembelajaran. Kebetulan waktu itu adalah watunya belajar tentang unsur intrinsik dan ekstrinsik. Namun itu tadi, terkadang sulit untuk mengatur ritme karena ada tuntutan aturan dari lingkungan ekosistem tempat kami bekerja.” Ucap GuruZidnil 3. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya untuk menerapkan merdeka belajar ? Guru Niam sebagai pendamping kegiatan nobar kami memberikan jawaban yang mencerahkan dan membangun semangat kami kembali. “Oleh karena itu agar kita tidak terlalu kesulitan untuk menerapkan kemerdekaan belajar, hal yang harus kita lakukanadalah dengan mengajak sebanyak-banyaknya teman yang berada di lingkungan ekosistem kita untuk sama-sama merdeka. Dengan begitu kita akan lebih memiliki power untuk bergerak bersama menjadi guru merdeka belajar”. Ya betul, disadari peserta nobar yang datang kala itu berasal dari sekolah yang berbeda-beda. Artinya … Read more