Membangun Kemampuan Literasi dengan Komikstrip, Memahami Murid dengan Bahasa Cinta

Pagi itu matahari begitu terik, padahal waktu baru menunjukkan pukul sembilan pagi. Satu persatu orang mulai berdatangan sambil membawa tentengan di tangan, yang sepertinya berisi jajan. Ya, pagi itu adalah kegiatan Temu Pendidik (mudik) pertama Komunitas Guru Belajar (KGB) Pekalongan setelah libur lebaran. Ada sekitar tiga puluh peserta yang hadir dalam kegiatan mudik itu.  Sekitar pukul 09.30, semua peserta sudah siap dan duduk melingkar. Sebelum acara dimulai, terlebih dahulu dibuka oleh Guru Anifah, sebagai moderator yang memandu perkenalan antar anggota. Cukup unik metode perkenalan yang dipakai. Setiap anggota wajib memperkenalkan namanya, tempat mengajarnya, dan teman yang sebelumnya. Jika sebelumnya ada empat teman yang sudah memperkenalkan diri, maka kita harus menyebutkan nama empat orang tersebut. Misalnya saya yang duduk di lingkaran agak tengah, maka saya harus menyebutkan cukup banyak teman sebelum saya. Begini bunyinya : nama saya Lilik – saya mengajar les private khusus anak SD – saya adalah temannya Bu Anif, Pak Lukman, Pak Septiar, Pak Wahyu, Pak Maman Basyaiban, Bu Laily, dan Bu Zidnil. Begitupun bila posisi duduk berada di ujung lingkaran, artinya harus menyebutkan semua teman-teman yang sudah memperkenalkan diri sebelumnya. Sebuah perkenalan yang cukup esensial untuk mencapai target tahu nama dan orangnya sekaligus. Selesai perkenalan, moderator langsung memperkenalkan dua narasumber yang sudah hadir dan siap berbagi praktik baik pengajaran. Mudik kali ini dikemas dalam konsep kelas kemerdekaan, sehingga tanpa pertanyaan dan praktik. Komikstrip Untuk Literasi Berbicara tentang miskonsepsi literasi, telah kita ketahui bersama bahwa media literasi bukan hanya buku saja. Banyak media yang bisa kita jadikan bahan penunjang literasi, salah satunya adalah komikstrip.  Komikstrip adalah komik singkat. Guru Lukman Hakim (Ukluk) memaparkan, berbeda dengan komik yang kita kenal pada umumnya, komikstrip hanya terdiri dari 4 / 5 / 6 panel saja. Bahkan ada komikstrip yang tanpa percakapan sama sekali, namun tetap bisa dipahami oleh pembaca. Hal ini dikarenakan bentuk komikstrip memiliki gambar yang berbeda dan berurutan, sehingga bisa memberikan penjelasan meskipun tanpa tulisan.  Komikstrip bisa digunakan sebagai media untuk menyampaikan poin-poin pembelajaran, khususnya pembelajaran yang memiliki materi yang lumayan kompleks. Penggunaan komikstrip akan memudahkan guru untuk menampilkan bentuk sederhana penjelasan tersebut.  “Lalu bagaimana penerapannya di pembelajaran ? apakah guru yang membuat kemudian menyampaikan ke murid, atau murid diajak untuk membuat komikstrip ?” Karena komikstrip ini adalah media ajar, maka bentuk penerapannya adalah dimulai dari guru. Guru yang membuat komikstrip untuk membantu mempermudah penjelasan atau untuk memberikan visualisasi kepada murid tentang materi yang sedang disampaikan. Cara membuat komikstrip tidak harus menggunakan gambar manual dengan tangan. Bisa juga menggunakan foto dan kemudian diedit dengan menambahkan pitch bentuk balon untuk menampilkan dialog. Demikian penyampaian penggunaan komikstrip untuk menunjang pembelajaran di kelas oleh Guru Ukluk. Sebelumnya, Guru Ukluk juga sudah membuka kelas komikstrip dalam acara Ransel yang digelas Bulan Ramadhan kemarin oleh Komunitas Guru Belajar Pekalongan. Kelas komikstrip lumayan diminati oleh peserta yang terdiri dari siswa SMP dan SMA di Pekalongan. Bahasa Cinta Untuk Murid Di sesi bahasa cinta, Guru Muchamad Arifin (Ipin) memberikan peserta sepuluh lembar sticky notes dengan warna yang berbeda. Masing-masing warna memiliki makna yang berbeda sesuai dengan aturan pemateri. Kuning 🡪 berkumpul  Hijau 🡪 motivasi  Pink 🡪 pelukan  Jingga 🡪 pelayanan  Peserta diajak untuk bermain menggunakan sticky notes yang sudah dibagikan. Aturan mainnya sebagai berikut : Peserta harus berkeliling dan menanyakan kepada peserta lainnya tentang apa yang menjadi kebutuhannya  Bila jawaban peserta yang ditanyai itu sesuai dengan warna yang dipegang oleh penanya, maka penanya wajib memberikan satu sticky notes kepada penjawab Dilakukan terus untuk menanyai peserta lainnya hingga sticky notes habis.  Para peserta nampak sangat menikmati permainan tersebut. Bertanya dan ditanya oleh peserta lainnya tentang kebutuhannya. Bukankah sebuah kebahagiaan jika kita ditanya tentang apa yang menjadi kebutuhan kita ? semacam ada yang mau memperhatikan kita begitu.  Sepuluh menit permainan selesai. Yang baru saja dilakukan bersama adalah simulasi menanyakan kebutuhan murid. Dalam profesi kita sebagai guru, menanyakan apa yang menjadi kebutuhan murid adalah hal yang sangat penting untuk kita dilakukan sebelum kita memulai proses belajar mengajar. Kebutuhan murid adalah input utama bagi kita sebagai guru untuk menyusun bahan belajar. Dengan begitu, rencana dan proses belajar yang kita buat benar-benar berangkat dari murid. Setiap murid pasti memiliki satu kebutuhan dominan. Entah itu kebutuhan berkumpul, motivasi, pelukan, atau pelayanan.  Penerapan bahasa cinta ini membutuhkan latihan dan kecerdasan guru. Jangan sampai setelah melakukan pemetaan kebutuhan ini kemudian kita menjadi terjebak, tidak bisa menjadikannya sebagai formulasi bahan belajar mengajar. Misalnya ada anak yang kebutuhan dominannya adalah motivasi, kemudian dia hanya mau belajar dengan diberikan cerita-cerita motivasi saja dan mata pelajaran lainnya diabaikan. Hal ini tidak boleh. Kebutuhan dominan adalah inputan bagi kita untuk memberikan penyikapan yang tepat sesuai dengan kondisi murid, bukan untuk mengikuti apa maunya murid kemudian mengabaikan proses belajar. Dengan mengetahui kebutuhan dominan, kita akan tahu kemampuan murid dan bagaimana kita memposisikan diri untuk menjadi teman belajar murid kita, tanpa memaksa atau memberikan target belajar yang jauh dari kondisi realistis murid.  Sepintar dan sekreatif apapun, bila kita tidak menggunakan cinta maka proses belajar tidak akan diterima dengan baik oleh murid.  Mudik kali ini memberikan wawasan baru kepada kita tentang media literasi, yaitu komikstrip. Komikstrip yang selama ini hanya kita kenal hanya sebagai media hiburan atau meme di media sosial, ternyata bisa juga kita gunakan sebagai media untuk proses pembelajaran kita di kelas.  Di sesi kedua, Guru Ipin kembali mengingatkan kita untuk memulai awal tahun ajaran baru dengan membuat pemetaan tentang kebutuhan murid. Dengan mengetahui kebutuhan murid, kita akan bisa membuat sistem pembelajaran yang memanusiakan hubungan di kelas, yang berangkat dari murid. 

Menyebarluaskan Prinsip Merdeka Belajar

Bulan ini adalah waktu sibuk bagi kami guru menjelang akhir tahun. Kesibukan menyelesaikan materi dan menjelang PAT. Perasaan yang sangat acak kami rasakan. Di tengah perasaan ini, alarm ajakan untuk menjadi guru merdeka belajar berbunyi. Seketika cukup menggetarkan hati kami, para guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Belajar Pekalongan. Ada semangat untuk memulai aktivitas menjadi penggerak karena keresahan yang kami rasakan, namun di sisi lain kami sebagai calon penggerak barumerasa bingung. Menjadi penggerak itu yang bagaimana, sudahkah aktivitas merdeka belajar itu hadir di kelas-kelas kami atau belum. Semangat terus naik namun beriringan dengan kebimbangan yang terus muncul. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk berdiskusi dan mencari tahu, bagaimana aktivitas merdeka belajar yang sesungguhnya. Salah satu hal yang saya senangi di Komunitas Guru Belajar Pekalongan adalah membaurnya penggerak dengan anggota. Mungkin itu juga yang akhirnya menarik minat banyak anggota untuk turut serta bergerak dalam pendidikan yang lebih baik di Pekalongan. Kami (penggerak dan anggota) mendiskusikan bersama tentang apa itu merdeka belajar dan mekanisme menjadi penggerak. Tak ada sekat yang menghalangi kami untuk berdiskusi. Penggerak yang sudah aktif dengan senang hati menawarkan diri untuk membantu, sekedar memfasilitasi pertanyaan dengan tim Kampus Guru Cikal sampai ada yang menawarkan rumah dan peralatan nobar bagi calon penggerak. Kampus Guru Cikal sedang menyuarakan gerakan nobar Guru Merdeka Belajar. Akhirnya disepakati untuk mencari jawaban melalui kegiatan nobar tersebut. Penggerak yang sudah aktif memberikan kesempatan kepada calon penggerak untuk menjadi moderator dan memprakarsai acara, dari sejak awal membuat poster, mendaftarkan acara ke tim Kampus Guru Cikal, mengkoordinir peserta untuk nobar, dan mengadakan nobar kemudian membuat laporan. Saya adalah calon penggerak pertama yang mengadakan sesi nobar dengan bantuan penggerak yang sudah aktif. Awal kali bersepakat untuk mengadakan nobar di rumah Guru Niken, namun karena ada beberapa hal yang perlu disesuaikan jadwalnya dengan rapat ransel, akhirnya diputuskan nobar diadakan di rumah Guru Niam, tanggal 18 Mei 2019. Sebelum memulai nobar, saya mencoba membuka kembali obrolan tentang apa itu merdeka belajar ? Apa yang sudah kita pahami selama ini tentang merdeka belajar ? Beberapa guru menjawab merdeka belajar adalah bebas untuk belajar tanpa ada paksaan. Rata-rata jawaban berkutat seputar itu. Karena sudah tidak ada jawaban lain lagi, saya putarlah video merdeka belajar dari Bu Ela untuk mencari pencerahan bersama-sama, apa sih sebenarnya makna merdeka belajar itu. Dari penanyangan video tersebut, kami menemukan jawaban bahwa merdeka belajar itu berangkat dari keresahan bahwa dunia anak-anak hanya terbatas di ruang kelas. Mimpinya hanya terbatas oleh tingginya tangan mereka untuk menjawab pertanyaan guru. Padahal yang kita inginkan adalah anak-anak yang memiliki aspirasi yang tinggi, cita-cita yang tinggi melampui langit. Dan ini hanya baru akan terjadi ketika anak-anak itu memiliki kemerdekaan belajar dalam diri mereka. Sementara itu, agar anak-anak memiliki kemerdekaan belajar dalam diri mereka, pendidik harus terlebih dahulu memiliki kemerdekaan belajar.Beberapa kalimat tersebut membuat peserta nobar semakin bertanya, lantas apa itu sebenarnya merdeka belajar ? dan inilah hasil pembelajaran yang kami dapatkan. Ada beberapa esensi merdeka belajar, yaitu : komitmen, kemandirian, dan refleksi. Komitmen. Komitmen adalah fokus terhadap tujuan. Permasalahan kita sebagai pendidik saat ini adalah sulitnya membedakan antara cara dan tujuan. Kita masih terjebak pada tugas administratif dan keterikatan dengan birokrasi, yang seharusnya itu semua hanyalahcara kemudian menjadi tujuan dan prioritas bahkan lebih tinggi dari tujuan awal menjadi pendidik itu sendiri. Kemandirian. Banyak upaya pengembangan guru yang penuh manipulasi berupa insentif atau tunjangan lain yang membuat guru menjadi sulit untuk memegang kendali atas proses belajar dan mencapai kemandirian dalam belajar. Refleksi. Sebagian dari kita cenderung menutup mata dan menolak untuk melihat cermin namun lebih suka menyalahkan pihak lain di luar diri kita. Inilah yang sebenarnya menghambat kita untuk menjadi pendidik yang merdeka. Dari 3 esensi menjadi guru merdeka belajar di atas, saya melemparkan beberapa pertanyaan refleksi. Diskusi berjalan dengan sangat mengalir, satu sama lain saling bersahut memberikan refleksi tanda memiliki keresahan yang sama. 1. Apa yang dipahami tentang merdeka belajar setelah menonton video tersebut ? “Merdeka belajar adalah memiliki komitmen yang kuat terhadap pendidikan yaitu membuat murid menjadi berdaya, memiliki kemandirian terhadap kelas yang kita ajar dan selalu refleksi di akhir pembelajaran. Namun saya membayangkan ini adalah hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Mungkin bisa jadi awalnya kita sudah idealis memiliki tujuan kemudian merumuskan cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut, namun seringkali cara tersebut tidak berjalan saat kita dihadapkan pada tekanan-tekanan eksternal, misalnya waktu ulangan yang semakin mepet, agenda sekolah yang semakin sedikit karena penyesuaian kebijakan dan sebagainya. Ditambah lagi, kita masih sering lupa refleksi. Padahal refleksi yang akan membantu kita untuk mengevaluasi diri, proses mana yang terlewat dalam menerapkan merdeka belajar di ruang kelas kita. Hasilnya, penerapan cara yang masih sulit karena banyaknya tekanan dari luar tadi kurang terefleksikan. Proses mengajar berasa menjadi sebuah rutinitas tanpa mengarah pada tujuan” ucap Guru Rayinda 2. Apakah selama ini kita sudah menjadi pendidik yang menerapkan kemerdekaan dalam belajar ? “Saya tidak tahu apakah saya sudah bisa disebut sebagai guru merdeka belajar atau belum, sebab selama ini saya sendiri juga masih terbawa tuntutan untuk mengikuti berbagai macam yang terkadang aturan-aturan tersebut melupakan kemerdekaan belajar bagi murid. Namun sebisa mungkin saya berusaha untuk tetap bisa mengendalikan suasana belajar di kelas saya. Suatu malam tiba-tiba muncul ide untuk menerapkan pembelajaran dengan film, sebagaimana pelatihan yang sudah saya dapatkan melalui KGB Pekalongan bekerja sama dengan Sinedu dan Kampus Guru Cikal. Respon anak-anak luar biasa, mereka bisa refreshing sambil belajar, tanpa menghilangkan sisi pembelajaran. Kebetulan waktu itu adalah watunya belajar tentang unsur intrinsik dan ekstrinsik. Namun itu tadi, terkadang sulit untuk mengatur ritme karena ada tuntutan aturan dari lingkungan ekosistem tempat kami bekerja.” Ucap GuruZidnil 3. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya untuk menerapkan merdeka belajar ? Guru Niam sebagai pendamping kegiatan nobar kami memberikan jawaban yang mencerahkan dan membangun semangat kami kembali. “Oleh karena itu agar kita tidak terlalu kesulitan untuk menerapkan kemerdekaan belajar, hal yang harus kita lakukanadalah dengan mengajak sebanyak-banyaknya teman yang berada di lingkungan ekosistem kita untuk sama-sama merdeka. Dengan begitu kita akan lebih memiliki power untuk bergerak bersama menjadi guru merdeka belajar”. Ya betul, disadari peserta nobar yang datang kala itu berasal dari sekolah yang berbeda-beda. Artinya … Read more