Menumbuhkan Kemandirian Anak

Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya menjadi pribadi yang memiliki kemandirian. Akan tetapi terkadang justru sikap over protektif orang tua dalam mendidik anak menjadikan anak menjadi pribadi yang manja. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kebutuhan anak yang dipenuhi orang tua. Orangtua pasti berdalih ini bentuk kasih sayang. Bagaimana Komunitas Guru Belajar Solo Raya memandang kemandirian anak ini? Orangtua Ingin Anak Mandiri Selamat malam sahabat Ria di manapun berada, kami dari komunitas guru belajar (KGB) Solo Raya melihat fakta yang sama di lapangan, bahwa terkadang justru over protective kita sebagai orangtua dalam mendidik anak akan menjadikan mereka pribadi yang manja dan jauh dari kemandirian. Tidak ada yang salah sebenarnya, asalkan tidak over (berlebihan). Seperti pada pertemuan di bulan Juni tentang generasi Z dan Alfa, bahwa sebenarnya anak-anak zaman sekarang ini sudah memiliki naluri untuk hidup mandiri. Tetapi kita sebagai orangtua juga tetap harus melatih anak-anak kita menjadi pribadi yang mandiri agar mereka siap menghadapi apapun tantangan hidup saat mereka jauh dari kita. Sehingga kami memandang bahwa kemandirian sangat penting untuk dilatih ke anak-anak. Ciri – Ciri Anak Sudah Mandiri Kemandirian sangat penting untuk dilatihkan sejak dini. sejauh mana kita bisa mengetahui bahwa anak-anak sudah mandiri? Apakah ada ciri-ciri yang menunjukkan hal tersebut? Kita bisa mengenali bahwa seorang anak menunjukkan kemandirian berdasarkan beberapa hal. Menurut banyak ahli ada hal-hal yang kasat mata bisa kita lihat sebagai ciri kemandirian anak, antara lain: Kepercayaan pada diri sendiri. Rasa percaya diri, atau dalam kalangan anak muda biasa disebut dengan istilah ‘PD’ ini sengaja ditempatkan sebagai ciri pertama dari sifat kemandirian anak, karena memang rasa percaya diri ini memegang peran penting bagi seseorang, termasuk anak usia dini, dalam bersikap dan bertingkah laku atau dalam beraktivitas sehari-hari. Anak yang memiliki kepercayaan diri lebih berani untuk melakukan sesuatu, menentukan pilihan sesuai dengan kehendaknya sendiri dan bertanggung jawab terhadap konsekuensi yang ditimbulkan karena pilihannya. Kepercayaan diri sangat terkait dengan kemandirian anak. Dalam kasus tertentu, anak yang memiliki percaya diri yang tinggi dapat menutupi kekurangan dan kebodohan yang melekat pada dirinya. Oleh karena itu, dalam berbagai kesempatan, sikap percaya diri perlu ditanamkan dan dipupuk sejak awal pada anak usia dini ini. Motivasi intrinsik yang tinggi. Motivasi intrinsik adalah dorongan yang tumbuh dalam diri untuk melakukan sesuatu. Motivasi intrinsik biasanya lebih kuat dan abadi dibandingkan dengan motivasi ekstrinsik walaupun kedua motivasi ini kadang berkurang, tapi kadang juga bertambah. Kekuatan yang datang dari dalam akan mampu menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan. Keingintahuan seseorang yang murni adalah merupakan salah satu contoh motivasi intrinsik. Dengan adanya keingintahuan yang mendalam ini dapat mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang memungkinkan ia memperoleh apa yang dicita-citakannya. Dengan keinginan dan tekad yang kuat, orang biasanya menjadi lupa waktu, keadaan, dan bahkan lupa diri sendiri. Mampu dan berani menentukan pilihan sendiri. Anak mandiri memiliki kemampuan dan keberanian dalam menentukan pilihan sendiri. Misalnya dalam memilih alat bermain atau alat belajar yang akan digunakannya. Kreatif dan inovatif. Kreatif dan inovatif pada anak usia dini merupakan ciri anak yang memiliki kemandirian, seperti dalam melakukan sesuatu atas kehendak sendiri tanpa disuruh oleh orang lain, tidak ketergantungan kepada orang lain dalam melakukan sesuatu, menyukai pada hal-hal baru yang semula dia belum tahu, dan selalu ingin mencoba hal-hal yang baru. Bertanggung jawab menerima konsekuensi yang menyertai pilihannya. Di dalam mengambil keputusan atau pilihan tentu ada konsekuensi yang melekat pada pilihannya. Anak yang mandiri dia bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya apapun yang terjadi tentu saja bagi anak Taman Kanak-kanak tanggung jawab pada taraf yang wajar. Misalnya tidak menangis ketika ia salah mengambil alat mainan, dengan senang hati mengganti dengan alat mainan yang lain yang diinginkannya. Menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Lingkungan sekolah (Taman Kanak-kanak) merupakan lingkungan baru bagi anak-anak. Sering dijumpai anak menangis ketika pertama masuk sekolah karena mereka merasa asing dengan lingkungan di Taman Kanak-kanak bahkan tidak sedikit yang ingin ditunggui oleh orang tuanya ketika anak sedang belajar. Namun, bagi anak yang memiliki kemandirian, dia akan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Tidak ketergantungan kepada orang lain. Anak mandiri selalu ingin mencoba sendiri-sendiri dalam melakukan sesuatu tidak bergantung pada orang lain dan anak tahu kapan waktunya meminta bantuan orang lain, setelah anak berusaha melakukannya sendiri tetapi tidak mampu untuk mendapatkannya, baru anak meminta bantuan orang lain. Seperti mengambil alat mainan yang berada di tempat yang tidak terjangkau oleh anak. Ciri ciri kemandirian anak berkebutuhan khusus ditambah 2 komponen lagi yaitu: Mandiri sehubungan dengan kekhususannya. Mampu menghadapi tantangan sehubungan dengan kekhususannya. Upaya Menumbuhkan dan Menjaga Kemandirian Anak Melihat banyaknya ciri-ciri yang dapat kita lihat tersebut, bagaimana upaya yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan dan menjaga kemandirian anak? Sahabat ria yang berbahagia, untuk mendorong pertumbuhan dan kemandirian anak, Tracy Hogg dan Melinda Blau dalam bukunya “Secrets of the Baby Whisperer for Toddlers” memperkenalkan konsep baru yang disebut dengan HELP (Hold yourself back, Encourage exploration, Limit, and Praise), menjelaskan lebih lanjut bahwa:  Dengan menahan diri kita akan mengumpulkan banyak informasi dengan memperhatikan, mendengarkan, dan menyerap seluruh gambar untuk menentukan apa dan siapa anak kita, sehingga kita dapat mengantisipasi kebutuhan dan memahami bagaimana respon anak tersebut pada lingkungan sekitar. Dengan menahan diri, kita juga dapat mengirimkan sinyal bahwa ia kompeten dan kita mempercayainya anak melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya. Dengan mendorong penjelajahan, kita menunjukkan pada anak bahwa kita percaya pada kemampuannya untuk mengalami apa yang ditawarkan oleh kehidupan yang ia alami, dan kita ingin agar anak kita bereksperimen dengan benda-benda, orang, dan pada akhirnya ide-ide yang baru. Dengan demikian anak akan lebih terdorong untuk melakukan semua tindakan tanpa merasa takut dihantui oleh kita sebagai orang tuanya. Kegiatan membatasi (limit), orang tua mengemukakan dengan benar peran kita sebagai orang dewasa, menjaga anak dalam batas aman, membantunya membuat pilihan yang tepat, dan melindungi anak tersebut dari situasi berbahaya baik secara fisik maupun secara emosional. Dengan memuji (praise), kita mengukuhkan pembelajaran yang telah kita berikan, pertumbuhan, dan perilaku yang bermanfaat bagi anak ketika ia memasuki dunia dan berinteraksi dengan anak-anak dan orang dewasa lainnya. Hasil riset menunjukkan bahwa anak-anak yang diberikan pujian dengan benar, ia semakin terdorong untuk belajar lebih, dan dapat menikmati kerjasama yang terjalin antara dirinya dengan orang tuanya.  Tips Melatih … Read more

Benarkah Kita Ingin Anak Mandiri?

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi pribadi yang memiliki kemandirian. Akan tetapi terkadang justru sikap over protektif orang tua dalam mendidik anak menjadikan anak menjadi pribadi yang manja. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kebutuhan anak yang dipenuhi orang tua. Orangtua pasti berdalih ini bentuk kasih sayang. Bagaimana Komunitas Guru Belajar memandang kemandirian anak ini? Selamat malam sahabat Ria di manapun berada, kami dari komunitas guru belajar (KGB) Solo Raya melihat fakta yang sama di lapangan, bahwa terkadang justru over protective kita sebagai orang tua dalam mendidik anak akan menjadikan mereka pribadi yang manja dan jauh dari kemandirian. Tidak ada yang salah sebenarnya, asalkan tidak over (berlebihan). Seperti pada pertemuan di bulan Juni tentang generasi Z dan Alfa, bahwa sebenarnya anak-anak zaman sekarang ini sudah memiliki naluri untuk hidup mandiri. Tetapi kita sebagai orang tua juga tetap harus melatih anak-anak kita menjadi pribadi yang mandiri agar mereka siap menghadapi apapun tantangan hidup saat mereka jauh dari kita. Sehingga kami memandang bahwa kemandirian sangat penting untuk dilatih ke anak-anak. Kapan Kemandirian dilatihkan? Kemandirian sangat penting untuk dilatihkan sejak dini. sejauh mana kita bisa mengetahui bahwa anak-anak sudah mandiri? Apakah ada ciri-ciri yang menunjukkan hal tersebut? Kita bisa mengenali bahwa seorang anak menunjukkan kemandirian berdasarkan beberapa hal. Menurut banyak ahli ada hal-hal yang kasat mata bisa kita lihat sebagai ciri kemandirian anak, antara lain: Kepercayaan pada diri sendiri. Rasa percaya diri, atau dalam kalangan anak muda biasa disebut dengan istilah ‘PD’ ini sengaja ditempatkan sebagai ciri pertama dari sifat kemandirian anak, karena memang rasa percaya diri ini memegang peran penting bagi seseorang, termasuk anak usia dini, dalam bersikap dan bertingkah laku atau dalam beraktivitas sehari-hari. Anak yang memiliki kepercayaan diri lebih berani untuk melakukan sesuatu, menentukan pilihan sesuai dengan kehendaknya sendiri dan bertanggung jawab terhadap konsekuensi yang ditimbulkan karena pilihannya. Kepercayaan diri sangat terkait dengan kemandirian anak. Dalam kasus tertentu, anak yang memiliki percaya diri yang tinggi dapat menutupi kekurangan dan kebodohan yang melekat pada dirinya. Oleh karena itu, dalam berbagai kesempatan, sikap percaya diri perlu ditanamkan dan dipupuk sejak awal pada anak usia dini ini. Motivasi intrinsik yang tinggi. Motivasi intrinsik adalah dorongan yang tumbuh dalam diri untuk melakukan sesuatu. Motivasi intrinsik biasanya lebih kuat dan abadi dibandingkan dengan motivasi ekstrinsik walaupun kedua motivasi ini kadang berkurang, tapi kadang juga bertambah. Kekuatan yang datang dari dalam akan mampu menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan. Keingintahuan seseorang yang murni adalah merupakan salah satu contoh motivasi intrinsik. Dengan adanya keingintahuan yang mendalam ini dapat mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang memungkinkan ia memperoleh apa yang dicita-citakannya. Dengan keinginan dan tekad yang kuat, orang biasanya menjadi lupa waktu, keadaan, dan bahkan lupa diri sendiri. Mampu dan berani menentukan pilihan sendiri. Anak mandiri memiliki kemampuan dan keberanian dalam menentukan pilihan sendiri. Misalnya dalam memilih alat bermain atau alat belajar yang akan digunakannya. Kreatif dan inovatif. Kreatif dan inovatif pada anak usia dini merupakan ciri anak yang memiliki kemandirian, seperti dalam melakukan sesuatu atas kehendak sendiri tanpa disuruh oleh orang lain, tidak ketergantungan kepada orang lain dalam melakukan sesuatu, menyukai pada hal-hal baru yang semula dia belum tahu, dan selalu ingin mencoba hal-hal yang baru. Bertanggung jawab menerima konsekuensi yang menyertai pilihannya. Di dalam mengambil keputusan atau pilihan tentu ada konsekuensi yang melekat pada pilihannya. Anak yang mandiri dia bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya apapun yang terjadi tentu saja bagi anak Taman Kanak-kanak tanggung jawab pada taraf yang wajar. Misalnya tidak menangis ketika ia salah mengambil alat mainan, dengan senang hati mengganti dengan alat mainan yang lain yang diinginkannya. Menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Lingkungan sekolah (Taman Kanak-kanak) merupakan lingkungan baru bagi anak-anak. Sering dijumpai anak menangis ketika pertama masuk sekolah karena mereka merasa asing dengan lingkungan di Taman Kanak-kanak bahkan tidak sedikit yang ingin ditunggui oleh orang tuanya ketika anak sedang belajar. Namun, bagi anak yang memiliki kemandirian, dia akan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Tidak ketergantungan kepada orang lain. Anak mandiri selalu ingin mencoba sendiri-sendiri dalam melakukan sesuatu tidak bergantung pada orang lain dan anak tahu kapan waktunya meminta bantuan orang lain, setelah anak berusaha melakukannya sendiri tetapi tidak mampu untuk mendapatkannya, baru anak meminta bantuan orang lain. Seperti mengambil alat mainan yang berada di tempat yang tidak terjangkau oleh anak. Ciri ciri kemandirian anak berkebutuhan khusus ditambah 2 komponen lagi yaitu: Mandiri sehubungan dengan kekhususannya. Mampu menghadapi tantangan sehubungan dengan kekhususannya. Upaya Menumbuhkan dan Menjaga Kemandirian Anak Melihat banyaknya ciri-ciri yang dapat kita lihat tersebut, bagaimana upaya yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan dan menjaga kemandirian anak? Sahabat ria yang berbahagia, untuk mendorong pertumbuhan dan kemandirian anak, Tracy Hogg dan Melinda Blau dalam bukunya “Secrets of the Baby Whisperer for Toddlers” memperkenalkan konsep baru yang disebut dengan HELP (Hold yourself back, Encourage exploration, Limit, and Praise), menjelaskan lebih lanjut bahwa:  Dengan menahan diri kita akan mengumpulkan banyak informasi dengan memperhatikan, mendengarkan, dan menyerap seluruh gambar untuk menentukan apa dan siapa anak kita, sehingga kita dapat mengantisipasi kebutuhan dan memahami bagaimana respon anak tersebut pada lingkungan sekitar. Dengan menahan diri, kita juga dapat mengirimkan sinyal bahwa ia kompeten dan kita mempercayainya anak melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya. Dengan mendorong penjelajahan, kita menunjukkan pada anak bahwa kita percaya pada kemampuannya untuk mengalami apa yang ditawarkan oleh kehidupan yang ia alami, dan kita ingin agar anak kita bereksperimen dengan benda-benda, orang, dan pada akhirnya ide-ide yang baru. Dengan demikian anak akan lebih terdorong untuk melakukan semua tindakan tanpa merasa takut dihantui oleh kita sebagai orang tuanya. Kegiatan membatasi (limit), orang tua mengemukakan dengan benar peran kita sebagai orang dewasa, menjaga anak dalam batas aman, membantunya membuat pilihan yang tepat, dan melindungi anak tersebut dari situasi berbahaya baik secara fisik maupun secara emosional. Dengan memuji (praise), kita mengukuhkan pembelajaran yang telah kita berikan, pertumbuhan, dan perilaku yang bermanfaat bagi anak ketika ia memasuki dunia dan berinteraksi dengan anak-anak dan orang dewasa lainnya. Hasil riset menunjukkan bahwa anak-anak yang diberikan pujian dengan benar, ia semakin terdorong untuk belajar lebih, dan dapat menikmati kerjasama yang terjalin antara dirinya dengan orang tuanya.  Tips Melatih Kemandirian Anak Pada sesi terakhir ini, … Read more

Apa Peranan Orangtua dalam Mendidik Anak di Era Disrupsi?

Dunia saat ini berada dalam masa peralihan yang begitu dinamis. Perubahan ini lebih familier kita sebut era disrupsi. Banyak hal yang kemarin baru saja berubah, saat ini sudah berubah lagi, dan beberapa saat kemudian perubahan itu semakin tak terbendung. Perubahan tersebut otomatis juga terjadi pada dunia pendidikan. Bagaimana Komunitas Guru Belajar menyikapi hal ini? Yuk simak liputan dari KGB Solo Raya on Air di Ria FM Solo! Sahabat Ria yang berbahagia, perubahan zaman adalah keniscayaan. Disrupsi artinya tergantikannya semua hal dengan yang baru. Termasuk didalamnya juga peran orang tua/ guru dalam mendidik anak. Komunitas Guru Belajar justru hadir untuk menjawab semua hal tersebut. Mengubah paradigma belajar pola lama dengan paradigma baru dan masa depan. Dengan prinsip belajar siapapun bisa menjadi guru dan dimanapun bisa menjadi kelas, kami berusaha memanfaatkan segala hal yang ada saat ini untuk meramu dan merajut masa depan pendidikan. Hal yang paling mudah kita manfaatkan di era disrupsi ini adalah keberadaan internet dan gawai (gadget). Hampir semua orang sudah memiliki akses untuk kedua hal tersebut. Bagian inilah yang juga menjadi perhatian KGB untuk dioptimalkan dalam mendidik anak. Orangtua dan Guru Terhadap Gawai Keberadaan gawai dan internet memang sangat membantu dalam banyak hal. Kita bisa mengakses apapun, dimanapun, dan kapanpun. Disisi lain fenomena yang terjadi di tengah masyarakat, banyak kita jumpai anak yang justru lebih dekat dengan gawai terutama untuk game dari pada dengan orang tuanya sendiri. Apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtua/ guru? Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan dalam pemanfaatan gawai dan internet oleh anak-anak kita. KGB mengajak sahabat Ria menyimak pengakuan dari tokoh-tokoh pembuat teknologi dunia dalam memperlakukan anak-anaknya. Bill Gates – Founder of Microsoft Corporation. Beliau tidak memberikan akses (screen time) kepada anaknya hingga anaknya berusia 14 tahun. Hal ini agar anaknya mendapat waktu tidur yang semestinya. Steve Jobs – CEO of Apple Inc. Beliau membatasi screen time pada anaknya. Bahkan menurutnya terlalu banyak mengakses gawai adalah hal yang buruk. Kebiasaan keluarganya adalah makan malam bersama dan diskusi tentang buku dan sejarah. Mark Zuckerberg – CEO of Facebook. Beliau lebih menginginkan anak-anaknya bermain di taman dan melihat indahnya bunga-bunga. Hal ini disebabkan masa kecil hanya sekali dalam hidup, dan saat dewasa mereka tidak bisa mengulanginya. Evan Williams – CEO of Twitter. Beliau menerapkan aturan yang ketat pada anak-anaknya. Bahkan beliau lebih memilih membelikan buku dibanding tablet (gawai). Sahabat ria, dari beberapa pernyataan beberapa tokoh disrupsi tersebut, kita harus bisa belajar bahwa ada batasan akses gawai oleh anak-anak kita. Jangan sampai kita memberikan akses berlebihan dan atau jangan sampai kita justru membiarkan mereka mengakses gawai tanpa kendali. Pola Asuh Orang Tua Sangat menarik saat mendengarkan pengakuan tokoh-tokoh penguasa jagat teknologi saat ini. Mereka justru memperlakukan anak-anaknya seperti orang tua zaman dulu. Mereka justru meminta anak-anaknya untuk bermain, membaca buku, dan tidur yang cukup. Bagaimana KGB melihat hal ini? Sahabat Ria, kami di KGB selalu percaya bahwa pengalaman adalah hal terbaik. Kami menyebutnya sebagai praktik cerdas. Pengakuan tokoh-tokoh tersebut tentu harus kita yakini, karena mereka pembuat dan pasti tahu resiko-resiko gawai dan internet saat diakses oleh anak-anak. Dampak buruk yang ditimbulkan oleh keberadaan gawai dalam pola asuh dan pendidikan anak harus kita antisipasi sedini mungkin. Sebagai orang tua/ guru kita harus bisa memanfaatkan internet dan gawai untuk mendidik anak. Keberadaannya harus kita manfaatkan untuk memperoleh banyak informasi agar tidak salah melangkah. Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan: Batasi akses gawai kepada anak-anak, bahkan jangan sampai mereka mengakses sendiri. Upayakan keberadaan kita (guru/orang tua) pada setiap kegiatan mereka. Arahkan anak untuk gemar membaca buku Pancing kreativitas anak dengan mengeksplor benda-benda sekitar untuk dijadikan mainan atau benda yang lebih bermanfaat Ajak anak berdiskusi tentang hal-hal sederhana. Pancing anak untuk bercerita tentang keseharian dan apa yang mereka rasakan. Ajak mereka bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Beri contoh dengan tidak menggunakan/ batasi penggunakaan gawai ketika berada di dekat anak Ajak anak untuk bebrbicara tentang efek dari gawai sesuai usianya. Kerjasama Pengendalian Penggunaan Gawai Sahabat Ria, upaya pengendalian penggunaan gawai oleh anak, tentu akan menuai hasil optimal jika terjadi kerjasama yang solid antar pihak yang berada di lingkungan sekitar anak. Dalam hal ini orang tua, guru, pengasuh, keluarga lain seperti bibi, paman, kakaek, atau nenek juga perlu sama-sama memiliki satu pemikiran dan bersama-sama berkomitmen untuk menghindarkan anak dari efek kecanduan gawai yang sangat membahayakan anak. Jika kerjasama  ini dapat berjalan baik, maka bukan tidak mungkin anak akan lebih mudah untuk dididik di tengah gencarnya perubahan era disrupsi ini. Manfaat yang dapat dirasakan antara lain 1. Anak lebih dekat dengan keluarga Hal ini dikarenakan banyak waktu anak untuk berinteraksi dengan keluarga  dalam segala aktivitas daripada berada di depan layar gawai. 2. Orang tua lebih mudah membangun kelekatan dengan anak Kelekatan anak dengan orang tua sangat dibutuhkan di tengah derasnya arus disrupsi untuk mencegah efek negative daripadanya. Melalui kelekatan ini peran ortu melalui pendidikan dalam keluarga dapat menanamkan norma kehidupan yang akan menjadi filter bagi anak menghadapi kehidupan.  3. Orang tua akan dan anak akan lebih mudah mengungkapkan pemikiran dan perasaan Tanpa kecanduan gawai baik ortu maupun anak akan lebih mudah menyampaikan pemikiran and perasaan. 4. Terjadi kontak mata dan kontak fisik sebagai arti kasih sayang dalam keluarga Keluarga adalah tempat pertama dan utama dalam pendidikan awal anak, di mana didalamnya anak akan belajar pola interakasi sosial. Belajar tentang bagaimana proses stimulus dan respon dalam berinteraksi sosial aktivitas non gawai dapat menjadi arena belajar yang sangat baik bagi pertumbuhan sosial anak. 5. Anak lebih konsentrasi dalam belajar sesuai perkembangannya. Anak yang tidak kecanduan gawai tentu akan lebih mudah berkonsentrasi dalam belajar, memahami tujuan belajarnya, dan tahu apa yang menjadi tugas belajarnya. Sahabat Ria, demikian kompleksnya efek gencarnya perubahan di era disrupsi bagi perkembangan anak. Tentu semua akan menjadi baik jika kita sebagai orang tua, guru, atau orang yang  yang berada di lingkungan sekitar anak turut mengambil bagian dalam upaya menyelematkan anak dari efek negatif gawai.

Memahami Karakter Generasi Z

Banyak orang tua dan atau guru bercerita tentang susahnya mendidik anak-anak usia sekolah saat ini. Sangat berbeda dengan generasi terdahulu. Sebagian menyadari ini sebagai dampak perkembangan zaman, internet, bahkan revolusi industri 4.0, tapi sebagian orang tua atau guru tetap memaksakan untuk mendidik dengan cara yang dulu mereka dapatkan. Apa yang perlu kita pahami dari anak-anak saat ini agar kita sebagai orang tua atau guru bisa menentukan bentuk pendidikan yang tepat? Yuk cek liputan KGB on Air di Ria FM Solo berikut, dengan narasumber Guru Atik Astrini, dan Agus Riyanto dari KGB Solo Raya. Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Penguin (2004) didalamnya memuat sebuah teori generasi (Generation Theory) yang dikemukakan Graeme Codrington & Sue Grant-Marshall. Generasi manusia pasca perang dunia dibedakan 5 generasi manusia berdasarkan tahun kelahirannya, yaitu: (1) Generasi Baby Boomer, lahir 1946-1964; (2) Generasi X, lahir 1965-1980; (3) Generasi Y, lahir 1981-1994, sering disebut generasi millennial; (4) Generasi Z, lahir 1995-2010 (disebut juga iGeneration, GenerasiNet, Generasi Internet). DAN (5) Generasi Alpha, lahir 2011-2025. Menilik dari uraian di atas, maka anak-anak kita yang saat ini duduk di bangku sekolah adalah generasi Z. Generasi Z ini lahir saat internet sudah dapat diakses (di Indonesia akses internet dipegang oleh Indonet tahun 1994). Artinya generasi ini sangat akrab dengan teknologi. Mereka lahir di era digital yang semua hal dapat mereka akses secara mudah. Jika kita berbicara tentang revolusi industri 4.0 yang saat ini gencar, maka generasi ini paling terkena dampaknya. Sehingga kita sebagai guru atau orang tua memang harus mengenali hal ini. Jangan memaksakan untuk mendidik mereka dengan cara pendidikan yang kita terima. Sudah jauh berbeda, sangat berbeda. Karakter Generasi Z Melihat kondisi yang telah diuraikan tadi, bahwasanya generasi Z lebih akrab dengan teknologi dan informasi yang mereka akses melalui internet. Hal ini tentunya memutus jarang, ruang, dan waktu mereka dalam bersosialisasi terhadap orang lain di dunia nyata. Bagaimana sebenarnya karakter mereka? Betul sekali. Banyak sekali waktu mereka habis dengan dunia mereka secara digital. Mereka lebih rela menabung untuk beli kuota internet dibandingkan beli sepatu baru atau baju. Setidaknya ada beberapa karakteristik generasi Z yang perlu kita pahami.  Pertama, Fasih Teknologi , tech-savvy, web-savvy, appfriendly generation. Mereka adalah “generasi digital” yang mahir dan gandrung akan teknologi informasi dan berbagai aplikasi komputer. Mereka dapat mengakses berbagai informasi yang mereka butuhkan secara mudah dan cepat, baik untuk kepentingan pendidikan maupun kepentingan hidup kesehariannya. Kedua, Sosial. Mereka sangat intens berinteraksi melalui media sosial dengan semua kalangan. Mereka sangat intens berkomunikasi dan berinteraksi dengan semua kalangan, khususnya dengan teman sebaya melalui berbagai situs jejaring, seperti: FaceBook, twitter, atau melalui SMS. Melalui media ini, mereka bisa mengekspresikan apa yang dirasakan dan dipikirkannya secara spontan. Ketiga, Ekspresif. Mereka cenderung toleran dengan perbedaan kultur dan sangat peduli dengan lingkungan Keempat, Multitasking. Mereka terbiasa dengan berbagai aktivitas dalam satu waktu yang bersamaan. Mereka bisa membaca, berbicara, menonton, atau mendengarkan musik dalam waktu yang bersamaan. Mereka menginginkan segala sesuatunya dapat dilakukan dan berjalan serba cepat. Mereka tidak menginginkan hal-hal yang bertele-tele dan berbelit-belit. Kelima, Cepat berpindah dari satu pemikiran/pekerjaan ke pemikiran/pekerjaan lain (fast switcher). Keenam, Senang berbagi. Dari pelbagai karakter ini sebenarnya kita sebagai guru atau orang tua justru dimudahkan dalam hal pendidikan. Kita cukup memfasilitasi dan mengontrol saja dunia mereka. Yang menjadi masalah utama karena mereka jiwa sosialnya cenderung di dunia maya sehingga sedikit bertentangan dengan adat budaya kita sebagai bangsa Indonesia yang terkenal memiliki jiwa gotong royong tinggi dan kadang tidak mengenal tentangga di sekitarnya. Perilaku Generasi Z yang Dikeluhkan Orang Tua dan Guru Generasi Z dengan ciri dan karakternya tersebut sebenarnya justru memudahkan kita dalam pendidikan karena banyak sumber belajar bisa mereka akses. Mengapa justru saat ini banyak orang tua atau guru yang mengeluhkan perilaku mereka? Ada beberapa penyebab mengapa perilaku mereka terutama dalam karakter dan tatakrama yang menjadi keluhan orang tua dan guru dalam mendidik, antara lain: Pertama, kekurang pahaman orang tua atau guru tentang karakteristik anak-anak generasi Z. Kekurangpahaman ini tentu akan berakibat pada pemberian tindakan yang kurang tepat. Orang tua atau guru sadar atau tidak masih saja memaksakana model pendidikan lama. Generasi Z menyukai hal yang baru, dan tidak menyukai banyak aturan. Mereka merasa bahwa segala sesuatu bisa dilakukan secara mudah dan instan, mengapa harus bertele-tele. Hal ini membosankan bagi mereka, tidak menantang untuk dilakukan. Kedua, kesibukan orang tua atau banyaknya kegiatan guru sehingga kadang justru mengekang waktu belajar orang tua atau guru itu sendiri. Padahal sebagai orang tua atau guru, seharusnya kita berpegang teguh bahwa belajar itu sepanjang hayat. Tetapi coba kita lihat di lapangan. Orang tua kadang terlalu sibuk bekerja dan seolah menyepelekan pendidikan anaknya di rumah. Guru dengan pelbagai kegiatannya justru membiaskan kewajibannya sebagai yang digugu lan ditiru untuk terus belajar. Jika demikian dibiarkan maka karakter dan tatakrama anak pasti akan selalu seperti ini. Ketiga, kurangnya komunikasi dan rasa persahabatan antara orang tua dan atau guru dengan anak. Orang tua atau guru kadang masih menempatkan mereka pada posisi yang sederajat lebih tinggi. Memaksa anak generasi Z menghormati sungguh sangat sulit, tetapi dengan sedikit memberikan pengertian dan kedekatan hubungan akan lahirlah kesadaran dalam diri mereka tentang nilai dan karakter untuk menghormati sesama. Jadi orang tua dan guru jangan kaku, jangan konservatif, jangan minta dihormati, dan masih banyak lagi yang justru akan kontradiktif jika dilakukan terhadap generasi Z. Bagaimana Cara Memperlakukan Generasi Z Melihat beberapa penyebab tersebut, tentu kita berpikir bagaimana cara untuk memperlakukan mereka? Apapun mereka harus tetap diberikan pendidikan. Kita sebagai orang tua dan guru juga harus menyadari bahwa pendidikan sejatinya justru menekankan pada pembentukan karakter dan tatakrama sebagai indikator keberhasilannya. Bagaiman pendapat anda? Ada beberapa hal setelah kita memahami uraian-uraian tentang generasi Z tersebut sebagai titik awal dalam menentukan tindakan terbaik. Agar pendidikan yang dilakukan berhasil secara holistik (kognitif, affektif, dan psikomotor). Agar karakter dan tatakrama yang menjadi kebanggan bangsa tetap tertanam dalam jiwa anak-anak generasi Z. Pertama, belajar. Orang tua dan guru harus belajar. Menjaga agar kita semangat dalam belajar coba ikutlah dalam komunitas-komunitas. Salah satunya Komunitas Guru Belajar. Komunitas ini berprinsip bahwa semua orang bisa menjadi murid dan bisa menjadi guru. Semua tempat adalah sekolah, dan semua orang adalah guru. … Read more

Tips Bagi Orang Tua Menghadapi Anak yang Kecanduan Gawai

Banyak orang tua saat ini yang mengeluhkan bahwa putranya malasbelajar, kehilangan fokus saat belajar, atau menghabiskan waktuberjam-jam untuk bermain gawai. Mungkin sahabat ria ada juga mengalami hal demikian? Guru Agus Riyanto dan Guru Arga dari KGB Solo Raya membahas ini dalam KGB On Air – Ria FM Solo Apa hal pertama yang kita lakukan saat mendapati beberapa halseperti contoh di atas? Memarahi putra kita? Atau bahkan menyitagawai mereka? Atau mengancam akan dilaporkan guru di sekolahatau dengan perlakuan-perlakuan lain? Walau itu semua menjadi hak penuh kita selaku orang tua, tapi coba kita renungkan dulu deh, benar ngga cara-cara kekerasan seperti itu dapat menjadi solusi bagi putra kita? Kalaupun iya, benarkah bahwa besok kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi? Apakah kita harus marah-marah terus? Bukankah kelihatan konyol jika demikian adanya?! Sebagai orang tua, kita harus memaknai betul bahwa putra/i kita adalah amanah yang tak ternilai harganya. Sudah selayaknya kita memperlakukan mereka dengan penuh tanggung jawab. Orang tua harus menyadari betapa pokoknya peran kita dalam tumbuh kembang mereka. Tantangan kita dalam mendidik putra/i kita semakin hari terasa semakin berat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadikan kita dilema. Perkembangan ini mustahil kita hindari, tapi juga jangan sampai memberangus peranan kita dalam mendidik putra/i kita terutama pada pewarisan nilai-nilai luhur kehidupan dan pewarisan norma yang berlaku di masyarakat. Teknologi adalah Musuh? Melihat perkembangan teknologi dan informasi saat ini yang sangat dinamis, apa sajakah hal-hal yang berpotensi menjadi musuh anak kita dalam tumbuh kembangnya? Setidaknya ada 4 hal yang berpotensi menjadi musuh bagi tumbuh kembang putra/i kita. Keempat hal tersebut yaitu: Gawai, Televisi, Pasar, dan Kendaraan Bermotor. Saya katakan berpotensi karena memang saat ini setidaknya mungkin kita menyesal telah membelikan gawai putra/i kita, atau membeli televisi yang menjadikan putra/i kita lebih tertarik untuk menghabiskan waktunya untuk gawai dan televisi. Kemudian untuk pasar, tempat ini sebenarnya bukan tempat yang harusdihindari juga. Hanya kita harus lebih berhati-hati saat mengajak putra/ikita ke pasar. Tempat berkumpulnya banyak orang dengan berbagai latarbelakang ini tentunya sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang putra/i kita terutama saat mereka dini (belajar berbicara). Betapa banyakkita mendengar cerita, bahwa seorang anak kecil ketika sepulang daripasar mampu mengucapkan kata-kata yang jarang kita ucapkan di rumah.Paham atau tidak paham, putra/i kita hanya menirukan, karena merekamemang peniru terbaik. Khusus kendaraan bermotor, saat ini sudah menjadi barang yang wajib dimiliki oleh semua orang. Kendaraan kita gunakan untuk mobilitas/ aktivitas kita sehari-hari. Barang ini berpotensi menjadi musuh anak jika putra/i kita yang mengendarai. Biasanya dialami oleh putra/i kita yang memasuki masa remaja. Sekitar kelas 4 SD mereka biasanya merengek untuk minta diajari atau lebih parah jika justru kita yang mengajari mereka. Memangku Teknologi Lalu bagaimana cara menghindari keempat potensi musuh bagi putra/i kita tersebut? Kita tahu bersama bahwa menghindari adalah mustahil. Sebagai orang jawa, tentu kita akrab dengan istilah pangkon. pangkon itu berfungsi untuk mangku semua aksara dalam penulisan jawa. pangkon hanya digunakan di belakang, kecuali sangat terpaksa maka wignyan digunakan di tengah, tapi ini jarang kita temui. Lalu apa kaitannya? Kaitannya sederhana saja, bahwa segala perkembangan secanggih apapun itu harus kita pangku kita dudukkan agar perkembangan tersebut tetap tunduk pada kendali kita. Potensi menjadi musuh ini tadi juga harus bisa kita pangku agar potensi ini menjadi hilang dan akan hadir kebermanfaatan. Inilah yang kita namakan berkawan dengan musuh. Toh sejatinya teknologi dibuat untuk memudahkan manusia itu sendiri bukan sebagai musuh atau ancaman. Menyikapi Potensi “Musuh” Anak Lalu bagaimana sebaiknya kita menyikapi 4 potensi musuh bagi anak-anak kita tersebut agar bisa menjadi kawan yang menyenangkan dan tidak mengganggu tumbuh kembang putra/i kita? Luangkan waktu untuk melakukan kegiatan bersama putra/i kita. Jangan sampai membiarkan mereka lebih intens bersama dengan gawai dan televisi. Luangkan waktu setengah atau satu jam untuk bermain bercengkerama bersama mereka. Kendalikan dan awasi tumbuh kembang anak kita. Berikan pendampingan saat mereka berinteraksi dengan keempat hal tersebut. Mungkin bisa dengan mengatur berapa lama boleh menggunakan gawai, berapa lama dan kapan boleh menonton televisi, kapan diajak ke pasar, dan bagus juga jika diberi pengertian kapan seseorang boleh mengendarai motor. Belajar untuk mencari tahu manfaat keempat tersebut dalam tumbuhkembang anak kita. Kita bisa memanfaatkan keempatnya sebagai media dan atau sumber belajar yang menyenangkan lho. Misal: Menggunakan gawai untuk belajar mengenal warna, nama binatang, dan lain-lain. Menonton televisi pada saat diputar film anak, dan atau diputarkan film dan lagu anak melalui vcd. Teman-teman di KGB Solo Raya pernah bekerjasama dengan inibudi.org beberapa waktu lalu membuat video pembelajaran. Pasar bisa dimanfaatkan untuk belajar jual beli, melatih keberanian anak, dan melihat orang-orang sekitar agar kita bisa mengambil hikmah. Kendaraan bermotor mungkin bisa dikenalkan tentang gas buang yang beracun, bahan baku membuat ban, bahan membuat rantai, bentuk ban dan lain-lain. Ajak putra/i kita berinteraksi dengan tetangga, ajak pergi ke rumah ibadah, dan biarkan mereka berada di dunianya. Dunia mereka sesungguhnya dunia belajar bersosialisasi, menyukai hal-hal baru, dan bermain. Dari interaksi ini akan muncul dengan sendirinya nilai-nilai kehidupan. biarkan mereka asik dengan dunia alamiahnya mereka. Paling penting yaitu keteladanan kita. Jangan sampai kita membatasi putra/i kita, tetapi pada saat yang sama kita menggunakan terutama gawai dan menonton televisi tanpa mengenal waktu. Mari mencoba untuk selalu menjadi contoh bagi putra/i kita. Kadang mereka seperti ini seperti itu, mungkin karena melihat dan meniru perilaku kita sebagai orang tuanya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah keniscayaan yang berjalan beriring dengan tumbuh kembang putra/i kita. Tugas kita sebagai orang tua adalah memastikan bahwa perkembangan iptek tadi dapat bermanfaat bagi tumbuh kembang putra/i kita. Tugas kita adalah merangkul potensi musuh tadi menjadi kawan bagi putra/i kita bukan menghindarinya. Mendampingi tumbuh kembang putra/i kita ibaratnya seperti bermain layang-layang. Layang-layang itu bisa terbang setinggi apapun, bergerak kekanan kekiri sesuai hembusan angin, tapi kita memiliki simpul untuk mengendalikannya. Simpul itu adalah kasih sayang kita.

Peran Ayah dalam Pendidikan Anak

Mendidik anak tentu bukan hanya tanggung jawab seorang ibu. Sangat diperlukan sosok seorang ayah agar pendidikan terhadap anaknya dapat berjalan secara optimal. Lalu bagaimana kenyataan di lapangan saat ini?
Guru Agus Riyanto dari KGB Solo Raya dan Guru Siska Yuniyati dari Sukoharjo membahas ini dalam KGB On Air – Ria FM Solo