Menulis Praktik Baik Pembelajaran Merdeka Belajar

Tulisan merupakan salah satu media berbagi yang efektif. Semakin banyak guru berbagi pengalaman praktik baiknya, semakin banyak juga guru yang akan terinspirasi dan menerapkan hal yang sama. Sehingga perubahan pendidikan ke arah yang lebih baik akan semakin cepat dan semakin luas jangkauannya. Namun terkadang kita sering bingung ketika harus menulis. Dan kebingungan itu berubah menjadi ketakutan ketika beredarnya isu kalau menulis itu susah sehingga membuat kita mengurungkan niat untuk menulis. Apa kesulitan yang sering Bapak dan Ibu hadapi saat menulis praktik baik? Apakah Bapak Ibu sering mengalami writer’s block atau kebuntuan menulis karena rasanya sulit saat ingin mulai menulis ? Atau Bapak dan Ibu guru sering mengalami kesulitan saat mengembangkan paragraf? Jangan khawatir Bapak Ibu! Karena pada tulisan ini kita akan membahas jurus rahasia agar dapat menulis dengan mudah.   Yap, ada jurus rahasia  yang membuat menulis itu mudah. Berhubung pembahasan kita mengenai praktik baik pembelajaran yang merdeka belajar, maka tulisan ini akan menjabarkan jurus rahasia untuk mudah menulis praktik baik tersebut. Yap, jurus rahasia itu adalah formula ATAP. Formula ATAP terdiri dari Awal, Tantangan, Aksi, dan Perubahan. Berikut penjelasannya. 1.      Awal Bagian ini berada di bagian pembuka. Bapak dan Ibu guru bisa menjelaskan kondisi awal pembelajaran seperti tanggung jawab sebagai guru dan tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Contoh:  “Sebagai guru saya memiliki keinginan agar murid-murid saya bisa antusias dalam belajar.” Dari contoh di atas dapat kita lihat seorang guru yang memiliki keinginan atau tujuan agar murid-muridnya antusias dalam belajar. Hal ini memperlihatkan kondisi awal dimana murid-murid tersebut belum memiliki antusiasme dalam belajar. 2.      Tantangan Pada bagian ini, Bapak dan Ibu guru bisa menuliskan tantangan yang harus diselesaikan untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut. Bentuk tantangan in bisa bermacam-macam. Bisa berbentuk kebingungan, keresahan, ketakutan, masalah, atau suatu hal yang menghambat tercapainya tujuan pembelajaran. Contoh: “Namun ternyata murid saya lebih suka main HP di kelas saat pengajaran berlangsung.” Menyambung dari contoh poin nomor satu, ternyata guru tersebut menemukan kendala dalam mewujudkan tujuannya yakni murid-muridnya lebih suka main HP saat pembelajaran berlangsung. Baca juga: Mendaftar Temu Pendidik Nusantara, ini alasan penting yang perlu guru ketahui 3.      Aksi Pada bagian ini Bapak dan Ibu guru bisa menuliskan solusi atau strategi apa yang telah Bapak Ibu guru lakukan untuk mengatasi keresahan atau kendala yang terjadi. Di sini Bapak dan Ibu guru boleh menuliskan semua solusi yang telah Bapak Ibu coba. Misalkan Bapak Ibu sudah menerapkan strategi pertama namun belum berhasil lalu mencoba strategi kedua dan seterusnya, maka Bapak Ibu guru bisa menceritakan berapapun strategi yang Bapak Ibu guru lakukan hingga berhasil dan tujuan tercapai. Bapak Ibu guru bisa ceritakan bagaimana mendapat ide tersebut dan alasan memilihnya sebagai solusi dari masalah yang sedang dihadapi. Contoh: “Saya mulai mencari cara, salah satunya memanfaatkan kesukaan murid, yaitu membuat pengajaran menggunakan HP.” Dari contoh di atas dapat kita lihat jika guru tersebut berusaha mencari cara agar tujuannya tercapai namun tetap berorientasi pada murid. akhirnya guru tersebut memiliki ide untuk menggunakan HP sebagai media pengajaran karena disukai murid. Dibagian ini, Bapak Ibu guru bisa menceritakan langkah-langkah yang dilakukan apa saja atau bagaimana merancang pembelajaran tersebut. 4.      Perubahan Pada bagian akhir ini Bapak dan Ibu guru bisa menuliskan hasil refleksi terhadap keseluruhan proses. Pelajaran apa yang didapat selama menghadapi tantangan atau hambatan yang ada. Apa kelebihan dari aksi yang sudah dilakukan dan apa kelemahannya. Untuk kelebihan bisa dipertahankan kedepannya dan untuk kelemahan bisa diperbaiki dan dikuatkan agar lebih baik kedepannya. Contoh: “Tak disangka murid menjadi lebih antusias dalam belajar ketika dipahami dari apa yang mereka sukai.” dari contoh di atas dapat kita lihat bahwa strategi yang digunakan guru tersebut berhasil. Tujuan tercapai namun murid tetap senang dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Dari masing-masing bagian di atas, Bapak Ibu guru bisa menuliskan satu sampai empat kalimat saja sebagai poin pokoknya. Setelah mendapat kerangka tulisan dari format ATAP, Bapak Ibu guru bisa lanjut mengembangkan setiap pokok paragraf dari masing-masing bagian di atas. Sebenarnya kalau dilihat menulis dengan formula ATAP ini sama seperti menulis alur cerita di cerpen atau novel. Ada tahap pengenalan, konflik, lalu penyelesaian. Untuk membantu Bapak Ibu guru dalam menulis dengan Formula ATAP di atas, berikut disajikan gambar Kanvas Penulisan Praktik Baik Pembelajaran. Berikut disajikan contoh dari penulisan praktik baik pembelajaran dengan formula ATAP. Nah, bagaimana Bapak Ibu guru, menulis itu mudah kan? Ingin belajar menulis praktik baik lebih lanjut? Yuk, ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII yang akan diselenggarakan pada 20-21 November 2021. TPN kali ini bertema “Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar”. Bapak dan Ibu guru dapat belajar menulis praktik baik lebih lanjut di kelas menulis sekaligus belajar bersama #1000Pembicara. Yang sudah tidak sabar bisa langsung klik link di bawah ini ya. Daftar di sini tpn.gurubelajar.org

Media Ajar Matematika dengan GPS

Apakah Bapak dan Ibu guru merasa sedih saat mengajar matematika? Karena seperti yang kita tahu, banyak murid yang tidak suka dengan mata pelajaran matematika. Ingin membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, tapi bagaimana caranya? Ingin menggunakan media ajar? Tapi media ajar seperti apa yang selain menyenangkan juga bisa berdampak bagi murid dan masih relevan di masa sekarang maupun di masa depan? Jangan khawatir Bapak Ibu, karena pada tulisan kali ini kita akan membahas kisah dari seorang guru yang juga mengalami hal serupa. Guru ini mengajar matematika kelas 7. Namun guru ini mampu membuat pembelajaran matematika menjadi lebih menyenangkan sekaligus berdampak bagi murid dengan media ajar yang digunakannya. Nah kira-kira, siapa guru ini dan media ajar matematika apa yang digunakannya ya? Penasaran? Yuk langsung simak kisah selengkapnya di bawah ini! Guru ini bernama Febriandrini dari SMP Lazuardi Al Falah GIS Depok. Awalnya Guru Febri merasa dengan menyisipkan permainan atau menggunakan alat peraga saat beliau mengajar dulu, dirasa sudah cukup untuk membuat pembelajarannya menjadi lebih menyenangkan. Namun tidak untuk sekarang. Melihat pesatnya perkembangan zaman dan teknologi, Guru Febri sadar jika hampir separuh ilmu yang diajarkan saat ini bakal hilang ditelan zaman sekian tahun mendatang. Sudah banyak profesi baru yang membutuhkan ilmu baru yang bahkan belum diajarkan di sekolah. Karena itu Guru Febri juga mencoba hal baru dalam mengajar. yakni mencoba media ajar matematika menggunakan aplikasi peta dengan fitur GPS. Kebetulan waktu itu materi yang diajarkan tentang bilangan dan operasi dasar matematika. Guru Febri mengaitkan materi bilangan dengan aplikasi peta dengan fitur GPS. Di awal pembelajaran Guru Febri biasa memberikan sesi inkuiri dan bertanya apa gunanya angka atau bilangan dalam kehidupan manusia. Ada yang menjawab untuk mengetahui seberapa banyak barang yang kita miliki, seberapa tinggi sebuah gedung dan sebagainya. Lalu Guru Febri lanjutkan dengan bertanya, “Kalian tahu tidak kalau angka itu bisa menyelamatkan nyawa manusia?” “Masa? Kok angka bisa menyelamatkan manusia, Teacher?” sahut nurid-muridnya. “Iya, bisa. Ada yang tahu tentang GPS?” tanya Guru Febri. “Saya tahu. Itu biasanya yang ada di Google Maps, untuk menunjukkan lokasi kita,” sahut salah satu murid. “Betul, sekali. GPS atau  Global Positioning System menggunakan satelit yang mengirim data tentang lokasi kita di bumi. Jika kita tersesat di hutan dan sinyal smartphone masih aktif, kita bisa mengirimkan data lokasi dan meminta pertolongan untuk datang ke lokasi tersebut,” kata Guru Febri. “Data lokasi itu koordinat GPS, kan ya, Teacher?” murid lain menimpali. “Yep, betul. Nah, ada yang pernah tahu jenis bilangan apa yang digunakan untuk menuliskan koordinat GPS?” Guru Febri lanjut bertanya. Murid diam. “Ada yang tahu bagaimana kita bisa mendapat koordinat GPS dari Google Maps?” Guru Febri bertanya lagi. Murid saling melirik satu sama lain, lalu menggelengkan kepalanya. Di sini, Guru Febri akan menerapkan media ajar matematika yang telah ditentukannya. Guru Febri mulai mengajak murid mengeksplorasi bilangan desimal dalam koordinat GPS, mengaitkan pengetahuan mereka tentang posisi berdasarkan lintang dan bujur, serta kuadran dalam koordinat Kartesius. Baca juga: Membuat Asesmen yang Menyenangkan dengan Ekshibisi Mini Digital “Oke, sekarang Teacher akan tunjukkan caranya. Kita buka Google Maps, pastikan tombol Location atau GPS dalam keadaan aktif ya. Nanti akan terlihat titik biru seperti in, kita zoom hingga makimal, lalu tekan di titik biru itu sampai keluar pin merah. Nah, akan muncul deretan angka yang merupakan koordinat GPS. Yuk, yang bawa smartphone, bisa di coba.” Murid yang membawa smartphone pun mulai mencoba dan mereka heran ternyata mereka mendapatkan angka yang berbeda. Guru Febri pun meminta dua murid membacakan deretan angka tersebut dan Guru Febri menuliskan di papan tulis. Lalu Guru Febri bertanya, “Menurut kalian, ini angka apa?” “Desimal ya, Teacher?” jawab salah satu murid. “Betul, ada dua angka desimal di sini dan Kalian lihat dari dua koordinat yang Teacher tulis di sini, ada angka yang berbeda. Ini menunjukkan bahwa teman kalian tadi berada pada posisi yang berbeda. Nah, sekarang yang mau Teacher tanyakan adalah mengapa angka bulatnya –6 dan 106? Ada yang tahu?” “Apa ya? Tidak tahu,” jawab murid yang lain. “Coba masih ingat, Indonesia berada di bujur dan lintang berapa?” Guru Febri bertanya lagi. Sambil menunggu jawaban murid, Guru Febri menggambar sumbu koordinat di papan tulis. “Ingat, 6o lintang utara –11o lintang selatan kan?” jawab salah satu murid. “95o—141o bujur timur!” teriak murid yang di belakang. “Good. Coba sekarang lihat ke sini. Masih ingat empat arah mata angin, apa saja?” “Betul. Barat, Timur, Selatan, dan Utara.” Guru Febri dan murid-muridnya bersama-sama meletakkan nama mata angin di gambar. “Kalau gambar ini melambangkan posisi di bumi, kira-kira sumbu X ini menunjukkan apa?” sambil menggerakkan tangan Guru Febri di sepanjang sumbu X. “Khatulistiwa?” seorang murid menjawab dengan ragu-ragu. “Yak betul khatulistiwa. Selanjutnya, kalau batas Indonesia terletak di 6o lintang utara –11o lintang selatan, 95o—141o bujur timur. Bagaimana kita menggambarkannya di sini?” Guru Febri dan muridnya lalu meletakkan posisi batas-batas dan mereka sepakat tentang letak Indonesia. “Nah, sekarang kalau tadi Depok berada di (-6, 106), yang -6 menunjukkan lintang utara atau selatan?” Guru Febri bertanya. Ada yang menjawab utara, ada yang menjawab selatan. “Coba perhatikan baik-baik, tanda negatif di bagian utara apa selatan?” “Berarti lintang selatan, Teacher.” “Betul, berarti 106 menunjukkan bujur timur karena tanda positif ya.” Guru Febri dan muridnya lalu menggambar letak titik (-6, 106). “Sekarang, lihat dua pasangan koordinat yang tadi Teacher tulis. Kalau titik ini adalah A, kira-kira titik B di sebelah mana A? Perhatikan baik-baik angka desimalnya, ya.” Guru Febri dan muridnya lalu menggambar letak titik A dan B. “Nah, sekarang kalian sudah paham tentang koordinat GPS dan cara mendapatkannya. Teacher akan bagi kalian menjadi grup kecil. Satu orang dari setiap grup akan menempati sebuah posisi di sekitar sekolah, seakan menjadi orang yang harus kita selamatkan. Orang tersebut nanti akan mengirim data GPS lokasi ke kelompoknya supaya yang hilang sampai ketemu. Kalau sudah ketemu, langsung kembali ke tempat Teacher menunggu. Siap?” Berbekal alat tulis dan smartphone, setiap grup bersemangat keliling sekitar sekolah, mencari anggota mereka yang hilang.  Mereka melihat peta dan membangdingkn dengan data GPS yang dikirim dengan lokasi mereka. Akhirnya, semua grup berhasil menemukan anggota kelompoknya. Dari kegiatan ini, murid bisa merasakan kegunaan angka sebagai data GPS yang bisa digunakan … Read more

Membuat Asesmen yang Menyenangkan dengan Ekshibisi Mini Digital

Bingung membuat asesmen yang menyenangkan saat pembelajaran di masa pandemi? Asesmen sejatinya tidak hanya berupa penilaian atas hasil ulangan dan semacamnya. Rupanya asesmen seperti itu sudah menjadi momok bagi murid. Padahal kita tahu cara belajar masing-masing murid berbeda, maka dibutuhkan asesmen yang bisa mengakomodir perbedaan tersebut. Sehingga asesmen akan terasa lebih menyenangkan karena murid merasa dipahami. Tapi apa mungkin asesmen seperti itu bisa dilakukan saat pembelajaran di masa pandemi? Bagaimana menerapkannya? Nah, pada tulisan kali ini kita akan membahas kisah guru belajar dari PYP Al Firdaus Surakarta bernama Ibu Dwi Rakhmawati. Beliau juga pernah mengalami masalah serupa seperti yang sudah disebutkan di atas. Namun, beliau menganggap pandemi bukanlah hambatan melainkan tantangan tersendiri untuk tetap dapat melaksanakan asesmen yang memberi kegembiraan bagi murid. Beliau ingin menjadikan asesmen sebagai bentuk perayaan bagi murid untuk menunjukkan kemampuan, talenta, dan keahlian yang dimiliki sesuai dengan bakat kecerdasannya masing-masing meskipun tehalang oleh jarak. Selama diberlakukannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), di sekolah Bu Rakhmawati kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dengan penuh secara daring. Jadwal disusun dengan jam belajar sejak pukul 07.30 hingga 13.30 WIB. Platform digital yang digunakan yakni Zoom Meeting. Seperti Zoom Morning Briefing, Zoom materi Homeroom Teacher,  Zoom Subject Teacher, serta Zoom Refleksi. Sedangkan penugasan murid menggunakan ClassDojo. Dan tema yang dipelajari waktu itu tentang energi. Sejujurnya tidak mudah bagi Bu Rakhmawati membangun iklim belajar daring di kota kecil seperti di Solo. Berbagai kendala mulai dari perangkat, jaringan, hingga orangtua yang bekerja menjadi perkara tersendiri. Mau tidak mau guru kelas harus membangun kerja sama dengan orangtua agar kegiatan pembelajaran tetap berjalan.  Selain itu juga diharapkan mampu membawa manfaat serta pengalaman belajar. Karena itu, agar tidak membosankan, menu Zoom terus dibenahi dengan memberikan sentuhan berbagai aplikasi pendukung seperti memanfaatkan Whiteboard Zoom, Jamboard, Pear Deck, Quizizz, dan Kahoot. Baca juga: Mengembangkan Bakat Murid saat Pembelajaran di Masa Pandemi Melalui Asesmen Diagnosis Selaku pengampu murid kelas 4 dan 6, Bu Rakhmawati memberikan tugas sebagai asesmen akhir unit berupa pameran kecil yang dilakukan secara digital atau istilahnya Ekshibisi Mini Digital. Murid akan memamerkan karya sains yang dibuat berdasarkan tema yang pembelajaran waktu itu. Sebagai contoh kelas 4 yang mengambil topik pemanfaatan energi dan cara bijak menggunakannya. Bu Rakhmawati memberi kemerdekaan murid untuk bereksplorasi dengan berbagai bahan dan alat yang ada di sekitar rumahnya. Memang pameran karya ini dilakukan sejak kelas 4 agar nantinya saat di kelas 6, mereka telah terbiasa berbagi ide dan pengetahuan dalam ekshibisi di akhir pembelajaran di PYP. Tahapan pameran karya dalam asesmen ini tidak terlalu sulit. Tentu saja di masa pandemi ini peran orangtua murid sangat penting dalam mendukung murid. Langkah yang dilakukan antara lain: Menyusun perencanaan asesmen. Memberikan beberapa alternatif pilihan bentuk proyek yang dapat dipilih murid seperti benda miniatur, percobaan, atau poster tentang energi dan cara bijak menggunakannya. Hal ini bertujuan agar murid dapat dengan mudah menjelaskan perubahan energi yang terjadi. Menyusun rubrik penilaian dari setiap subjek (transdisiplinary). Menyusun rubrik penilaian skill yang diharapkan. Mempersiapkan perangkat dan jaringan yang mendukung pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Melakukan koordinasi antar wali kelas ataupun guru mata pelajaran yang terkait dengan tema. Menjalin komunikasi dengan orangtua murid tentang asesmen di akhir unit. Prinsip pameran karya ini antara lain sebagai media menampilkan ide, kreasi, dan yang terpenting adalah berani serta dapat menjelaskan bagaimana alat atau percobaan tersebut mengalami perubahan energi. Selama 4 hari dengan 4 rombel kelas, setiap murid mencoba mempresentasikan dan menjawab pertanyaan dari teman-temannya. Murid yang tampil dan murid yang menjadi audiensi akan memperoleh pengalaman belajar melalui pertemuan daring tersebut. Berikut ditampilkan hasil dokumentasi berupa gambar dari murid kelas 4 yang sedang presentasi. Murid yang ada pada gambar di atas sedang mempresentasikan alat rangkaian berbentuk miniatur elevator. Alasan murid tersebut membuatnya karena tidak lama lagi di kota Solo akan banyak gedung-gedung bertingkat dan bangunan yang ke atas. Jadi akan banyak menggunakan elevator yang memakai energi listrik yang diubah menjadi energi gerak. Dalam proyeknya, murid boleh dibantu orangtua dalam membeli perlengkapan hingga merangkainya. Presentasi dilakukan dengan menggunakan bahasa inggris. Namun, murid diperbolehkan menggunakan bahasa lain atau bilingual. Sedangkan gambar di atas menunjukkan presentasi dari seorang murid inklusi. Murid inklusi tersebut memiliki gangguan pendengaran, sehingga dibantu dengan mind mapping  atau teks dalam presentasinya. Dengan bantuan guru pendamping khusus, ia mampu menampilkan sebuah eksperimen berupa nyala lilin yang dapat memutarkan kertas di atasnya. Asesmen semacam ini memberikan beberapa manfaat antara lain: Kreativitas terbangun melalui proyek sains sederhana ataupun eksperimen sains. Mendorong murid untuk berani menampilkan ide gagasan. Melatih keahlian berkomunikasi. Melatih keberanian di depan pemirsa dalam Zoom Meeting (presentasi). Melatih berargumentasi dalam tanya jawab dengan teman sebaya ataupun guru. Sedangkan untuk kelas 6 nanti akan diadakan penelitian sederhana yang menjadi kemasan ekshibisi dengan bimbingan guru mentor dan asesmen dari leader. Puncaknya adalah perayaan dengan mengundang teman-teman dari sekolah lain untuk berkunjung. Inilah salah satu tantangan bagi Bu Rakhmawati dan sekolahnya dalam menyiapkan mental , skill berkomunikasi, serta melatih manajemen waktu sejak kelas bawah. Asesmen menjadi sarana perayaan yang dinanti. Pembelajaran akan bermakna apabila memberikan ruang bagi murid untuk berinovasi. Jika sebelum pandemi presentasi dilakukan di depan kelas masing-masing, kali ini teman dari kelas lain juga berkesempatan mengikuti kegiatan presentasi dan tanya jawab dalam Zoom Meeting. Hal in ternyata mampu menambah kepercayaan diri bagi murid. Mereka yang aktif akan banyak bertanya dan yang awalnya pasif juga termotivasi untuk ikut bertanya. Terakhir, setiap murid akan belajar menjawab pertanyaan dari audiensi dengan waktu yang sama. Tujuan lain dari kegiatan tersebut adalah jika asesmen dikemas secara fun learning, maka akan menghilangkan kesan menakutkan seperti sebuah ujian. Wah, ternyata membuat asesmen yang menyenangkan untuk murid tidak sulit ya. Meskipun harus dilakukan saat pembelajaran di masa pandemi. Bahkan punya poin lebih dan banyak manfaatnya lagi. Sekarang Bapak dan Ibu guru pasti sudah tidak bingung lagi kan membuat asesmen yang menyenangkan saat pembelajaran di masa pandemi. Untuk menemukan cerita inspiratif  lainnya, yuk ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII. Tema TPN kali ini adalah “Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar” yang akan diselenggarakan pada tanggal 20-21 November 2021. Dan di sini Bapak Ibu guru akan mendapat inspirasi dari #1000Pembicara. Cara daftarnya gampang banget. Tinggal klik tpn.gurubelajar.org Sumber: Surat … Read more

Mendaftar Temu Pendidik Nusantara, Ini Alasan Penting yang Perlu Guru Ketahui

Merasa ekosistem pendidikan di Indonesia masih terjadi miskonsepsi atau salah kaprah? Ingin melakukan perubahan tapi bingung mulai dari mana dan dengan siapa? Rasa-rasanya tidak mungkin melakukan perubahan seorang diri. Adakah wadah untuk bergerak bersama melakukan perubahan pendidikan yang lebih baik? Ada lah tentunya, bernama Temu Pendidik Nusantara (TPN). Temu Pendidik Nusantara merupakan ajang pertemuan tahunan yang mempertemukan seluruh pemangku kepentingan ekoistem pendidikan di Indonesia untuk mengekspresikan kemerdekaan belajar, mengembangkan kompetensi, menginisiasi kolaborasi dan membangun karier. Pemangku kepentingan ekosistem pendidikan itu siapa saja? Ada Guru, Pengawas, dan Pemimpin Sekolah. Meskipun begitu, semua orang bisa kok belajar bersama di Temu Pendidik Nusantara. Tapi khusus yang berprofesi sebagai guru perlu tahu alasan penting mendaftar Temu Pendidik Nusantara. 1.      Diberi Kebebasan Memilih Di Temu Pendidik Nusantara, guru bebas memilih ingin berpartisipasi menjadi apa. Apakah menjadi pembicara, peserta, atau relawan panitia. Guru yang sudah memiliki pengalaman mengajar bisa menjadi pembicara. Apalagi di TPN VIII ini akan ada #1000Pembicara untuk menyampaikan praktik baik guna melakukan perubahan pendidikan di konteks kelas, sekolah, hingga daerah. Sebagai peserta pun, guru bebas memilih topik yang ingin dipelajarinya. Guru bisa memilih topik yang sesuai kebutuhan, dan permasalahan di lapangan, dapat membantu menyelesaikan persoalan di kelas maupun sekolah. Nah, pada TPN VIII ini akan ada 7 sub topik yang akan menjadi pembahasan; (1) Pameran karya sebagai perayaan merdeka belajar; (2) Asesmen untuk personalisasi belajar; (3) Asesmen sebagai upaya merawat kemerdekaan belajar; (4) Asesmen terhadap capaian belajar murid; (5) Asesmen untuk pengembangan sekolah/madrasah merdeka belajar; (6) Asesmen lingkungan belajar, asesmen pelibatan warga sekolah; (7) Manajemen kelas campuran. 2.      Dapat Mengembangkan Karier Menjadi kepala sekolah bukanlah satu-satunya pilihan karier guru, di TPN guru belajar mengembangan karier dengan banyak cabang. Maksudnya guru dapat mengembangkan kariernya di berbagai bidang spesialisasi. Sebagai contoh guru bisa menjadi pelatih, penulis, dan masih banyak lagi. Karena memang, TPN ini dirancang sebagai kegiatan pengembangan karier guru. Belajar di TPN akan memberi pengalaman dan tantangan karier yang beragam. Di Temu Pendidik Nusantara ada namanya kelas karier, di sini peserta diharapkan untuk mempelajari perjuangan dalam merintis karier dari setiap pembicara untuk selanjutnya dapat mereka implementasikan sendiri guna merintis atau mengembangkan kariernya. 3.      Lebih Berdaya dan Produktif Di Temu Pendidik Nusantara ada kelas kemerdekaan. Di sini peserta belajar untuk berani mencoba menerapkan suatu strategi pengajaran. Strategi ini tentunya akan berdampak pada murid. Di kelas karier peserta dapat menyaksikan serta mendapatkan karya dan layanan guru. Peserta memang diajak berdaya dan lebih produktif. Peserta dituntun untuk melangkah dari awal sampai tingkat lanjut hingga mampu menghasilkan karya. Karena seyogyanya menjadi berdaya bukan hanya belajar lalu paham tapi juga menghasilkan. Menghasilkan karya yang bermanfaat untuk sesama guru maupun masyarakat luas, dengan atau tanpa peralatan canggih. 4.      Bergerak Melakukan Perubahan Seperti keresahan yang sudah disebutkan di awal, mustahil melakukan perubahan seorang diri. Dibutuhkan tempat untuk saling berkolaborasi melakukan gerakan perubahan pendidikan yang lebih baik. Di Temu Pendidik Nusantara VIII ini meskipun berada di tengah pandemi semangat kolaborasi tidak pernah surut, bahkan cakupannya semakin luas dan berdampak. Tidak hanya kolaborasi antar organisasi guru bahkan kolaborasi antar organisasi guru dengan jaringan sekolah, jaringan madrasah, komunitas pengawas, komunitas orangtua, komunitas pendidikan, penyedia sumber alat belajar, pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Kontenyang disajikan di Temu Pendidik Nusantara adalah konten yang membantu guru memandu murid menjadi pelajar merdeka. 5.      #BelajarDiTPNVIII Bersama #1000Pembicara Ada yang istimewa lho di Temu Pendidik Nusantara VIII ini karena kita akan belajar bersama #1000Pembicara. Apa yang menarik? Tentunya kita kan mendapatkan pembelajaran yang; (a) Lebih praktis, berupa praktik baik yang telah terbukti sesuai konteks kelas; (b) Lebih beragam, berasal dari lintas jenjang, jenis (swasta dan negeri) dan lintas daerah; (c) lebih berdampak, sehingga bermanfaat pada murid untuk perubahan pendidikan Indonesia yang lebih baik. Nah, sudah tidak bingung lagi kan mencari wadah untuk bergerak melakukan perubahan pendidikan. Dan pastinya sudah semakin yakin  untuk bergerak melakukan perubahan pendidikan yang lebih baik. Artinya semakin berminat untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara. Yuk mulai bergerak dengan mendaftar Temu Pendidik Nusantara (TPN) VIII yang bertemakan “Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar” pada tanggal 20-21 November 2021 dengan klik tpn.gurubelajar.org. atau tonton video tutorial “Cara Mendaftar Temu Pendidik Nusantara VIII” berikut. Sumber: Inilah 5 Keistimewaan Temu Pendidik Nusantara Ada apa di Temu Pendidik Nusantara VIII? Mengapa Guru, Pengawas dan Pemimpin Sekolah Harus ikut Temu Pendidik Nusantara?

Mengembangkan Bakat Murid saat Pembelajaran di Masa Pandemi Melalui Asesmen Diagnosis

Bingung bagaimana memfasilitasi bakat murid saat pembelajaran di masa pandemi? Sulit menemukan wadah untuk menyalurkan bakat dan minat mereka? Padahal murid sudah sangat jenuh belajar dari rumah. Tidak ada lagi kegiatan semacam ekstrakulikuler yang dapat mereka ikuti seperti saat PTM (Pembelajaran Tatap Muka). Mungkin hal ini yang sekarang masih membuat Bapak dan Ibu guru bimbang. Tenang Bapak Ibu, karena pada tulisan kali ini kita akan membahas kisah dari guru belajar yang mengalami kasus serupa namun bisa menanganinya melalui asesmen diagnosis. Benar, melalui asesmen diagnosis guru ini mampu menghadirkan pembelajaran yang bisa mengembangkan bakat murid di saat pembelajaran di masa pandemi. Guru ini bernama Bu Fitriana. Bu Fitriana merupakan guru di SDN Tugu Utara 05 sekaligus menjadi anggota Komunitas Guru Belajar (KGB) Jakarta Selatan. Sejak diberlakukannya PJJ dibarengi munculnya kebijakan Asesmen Nasional (AN) dalam bentuk survei karakter, survei lingkungan belajar, dan asesmen kompetensi minimum menuntun Bu Fitri untuk mencari informasi dan bergerak mengikuti perkembangan mengenai hal yang masih dianggapnya baru tersebut. Bu Fitri banyak mengikuti kegiatan webinar seperti Wardah Inspiring Teacher (WIT) 2020. Dari kegiatan ini Bu Fitri belajar mengenai empati kepada murid. Tak berselang lama, Bu Fitri juga mengikuti Seri Guru Belajar yang diadakan oleh Kemendikbud. Dari sini Bu Fitri belajar tentang Asesmen Nasional, macam-macam asesmen dan cara menindaklanjutinya. Selain itu Bu Fitri juga mendapat pemahaman tentang kegiatan pembelajaran yang mempertimbangkan kondisi murid (tidak memberatkan murid) dengan menghadirkan pembelajaran yang lebih variatif, inovatif, dan kreatif agar potensi murid dapat dioptimalkan. Sebelum melaksanakan pembelajaran, Bu Fitri melakukan asesmen diagnosis guna menggali informasi terkait kondisi murid-muridnya. Informasi tersebut Bu Fitri jaring dengan menyebar kuesioner kesiapan belajar kelas VI-A dalam Google Form. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa orangtua murid dominan bekerja sebagai buruh. Selain itu, Bu Fitri juga tahu keberagaman hobi murid, mulai dari futsal hingga menari. Data menunjukkan jika 50% muridnya sudah menggunakan gawai milik sendiri. Untuk hambatan saat pembelajaran di masa pandemi, murid Bu Fitri sebagian besar mengeluh akan bosannya belajar dari rumah, keterbatasan kuota, gangguan jaringan atau sinyal, dan merepotkan orang tua karena tidak bisa terus mendampingi mereka. Dari hasil asesmen diagnosis tersebut, Bu Fitri memulai pembelajaran dengan kegiatan proyek perkenalan diri. Dimulai dengan murid mengenal Bu Fitri melalui media sosialnya, kemudian murid diminta untuk menyimpulkan tentang Bu Fitri. Proyek ini cukup ampuh untuk membuat murid mengenal dan dekat dengan Bu Fitri. Bu Fitri juga memberikan opsi pada pengumpulan tugas, bisa berbentuk mind map, video, atau voice note. Dari kegiatan tersebut, Bu Fitri memberi kesempatan murid mengembangkan bakat-nya. Baca juga: Implementasi Asesmen Diagnosis untuk Membangun Disiplin Murid Di luar pembelajaran, murid-murid juga mengalami kejenuhan karena tidak bisa menyalurkan bakat dan minatnya di kegiatan ekskul ataupun kegiatan memperingati hari besar nasional seperti saat PTM dulu. Dengan melihat data hasil asesmen diagnosis yang menunjukkan bahwa 50% muridnya menggunakan gawai sendiri, Bu Fitri berencana untuk membuat panggung virtual dengan memanfaatkan aplikasi Stream Yard, Zoom, dan YouTube sebagai medianya. Bu Fitri mengajak teman-teman guru berdiskusi membahas peringatan HUT RI  dengan menyelenggarakan lomba-lomba secara virtual. Mulai dari jenis lomba, teknis lomba, sistem penilaian dan hadiahnya diusahakan persis seperti saat pandemi belum datang. Contoh lomba yang berhasil diselenggarakan dapat ditonton melalui tautan berikut: https://youtu.be/1y-q4d1HqX8  Namun setelah melakukan refleksi, Bu Fitri merasa kegiatan tersebut belum sepenuhnya dapat memaksimalkan potensi dan minat bakat murid. Bu Fitri mulai melibatkan orangtua murid dengan mengajak mereka berdiskusi. Bu Fitri sadar bahwa peran orangtua sangat besar dalam membantu murid menampilkan unjuk kreasi mereka.  Oleh karena itu, saat Hari Guru, Bu Fitri dan teman-teman guru mengadakan kegiatan lagi berupa pentas seni dan penampilan terbaik dari tiap kelas. Kegiatan dapat dilihat melalui tautan berikut: https://youtu.be/AMf05WTBESs. Namun setelah melakukan refleksi kembali, ternyata masih ditemukan beberapa hambatan seperti h beberapa murid yang tampil dari setiap kelas, kendala sinyal, dan kuota internet.  Pantang menyerah, demi mengembangkan bakat murid, Bu Fitri dan teman-teman guru di sekolahnya kembali memanfaatkan momen yang pas yakni ketika Isra Mikraj sebagai wadah menyalurkan bakat dan minat murid-muridnya. Berbekal refleksi sebelumnya, Bu Fitri kembali mengadakan kegiatan pentas seni dengan menambah tema dan pengisi acara dalam kegiatan tersebut. Kegiatan dapat dilihat melalui tautan berikut: https://youtu.be/H54Ui-SLuHw  Dan Bu Fitri tidak menyangka banyak yang mengirim video dari tiap kelas. Artinya banyak yang ingin tampil di pentas seni virtual. Mereka sangat antusias menyaksikan penampilan teman-temannya melalui YouTube. Mereka juga tidak sabar menanti penampilan mereka ditayangkan. Murid-murid menyaksikan kegiatan tersebut hingga akhir tanpa takut kuota mereka habis. Nah, bagaimana Bapak Ibu guru, apakah cerita inspiratif di atas sudah cukup menghilangkan kebingungan Bapak dan Ibu? Atau Bapak Ibu masih ingin mendapat cerita-cerita inspiratif lainnya? Yuk langsung aja daftar di Temu Pendidik Nusantara (TPN) VIII dengan tema Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar yang akan diselenggarakan pada 20-21 November 2021. Di sini Bapak Ibu akan mendapat inspirasi dari #1000Pembicara lho! Langsung aja klik tpn.gurubelajar.org Sumber: Surat Kabar Guru Belajar No.28 

Implementasi Asesmen Diagnosis untuk Membangun Disiplin Murid

Merasa pusing ketika mendisiplinkan murid? Lelah memikirkan cara agar murid bisa mengumpulkan tugas secara disiplin,  tepat waktu dan sesuai ketentuan? Apalagi ketika pandemi datang dan PJJ diberlakukan, rasa-rasanya hal tersebut menjadi semakin pelik meski sekadar dibayangkan. Apakah perkara-perkara tersebut masih sering mengganggu pikiran Bapak dan Ibu guru hingga tidur pun rasanya tidak nyenyak? Jangan Khawatir Bapak Ibu! Seperti kata pepatah “Di balik setiap masalah pasti ada solusi”. Pilihan yang tepat ketika Bapak dan Ibu sedang membaca tulisan ini maka Bapak dan Ibu guru juga akan menemukan solusi dari permasalahan yang kini tengah menghantui seperti yang telah disebutkan di atas. Lalu apa kaitannya dengan asesmen diagnosis ya? Bagaimana implementasi Asesmen Diagnosis bisa membangun disiplin murid? Simak penjelasannya di bawah ini ya! Sejak dicetuskannya Asesmen Nasional (AN) pada tahun 2020 sebagai pengganti Ujian Nasional (UN), mau atau tidak mau, siap atau tidak siap semua sekolah harus mengimplementasikannya, maka semua guru juga harus memahaminya. Meskipun asesmen menjadi trending topik kala itu, nyatanya masih banyak yang bingung bahkan terjadi miskonsepsi di antara pendidik maupun orangtua murid. Bersumber dari Surat Kabar Guru Belajar (SKGB) No.28 dengan judul Asesmen untuk Personalisasi Belajar, ada kisah guru belajar yang menghadapi masalah serupa. Guru tersebut bernama Ida Widaningsih, guru di SMP Negeri 160 sekaligus anggota Komunitas Guru Belajar (KGB) Jakarta Timur. Layaknya guru-guru lain, Guru Ida juga pernah mengalami miskonsepsi tentang asesmen. Padahal jauh sebelum AN dicetuskan, Guru Ida sudah sering mendengar dan membaca tentang asesmen, sayangnya semua itu bagai angin lalu. Awalnya Guru Ida menganggap asesmen hanya digunakan untuk mengetahui capaian belajar murid di akhir pembelajaran, namun kini Guru Ida tahu justru yang penting adalah bagaimana penilaian mampu meningkatkan kemampuan murid dalam proses belajar. Setelah mengetahui betapa esensialnya asesmen, Guru Ida segera mempelajari lebih lanjut mengenai Asesmen. Guru Ida mencari dan membuka berbagai sumber yang terkait dengan asesmen. Guru Ida mulai menonton konten-konten di Kanal Youtube KGBN (Komunitas Guru Belajar Nusantara), Kanal Youtube Kemendikbud dan membaca buku-buku yang membahas mengenai asesmen. Dari sini Guru Ida membuat kesimpulan bahwasannya selama ini dia belum paham sepenuhnya tentang tiga macam asesmen, yakni assessment for learning, assessment as learning, dan assessment of learning. Assessment for learning (asesmen diagnosis) mempunyai fungsi yang mirip dengan assessment as learning (asesmen formatif), yakni sebagai formatif dan dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. Sedangkan assessment of learning (asesmen sumatif) merupakan penilaian yang dilakukan setelah proses pembelajaran selesai dan tidak selalu di akhir tahun. Baca juga: Fungsi Asesmen Formatif: Mendukung Murid Belajar Ketika berbicara mengenai asesmen diagnosis, tidak dapat dipisahkan dengan pemahaman akan 5M (Memanusiakan hubungan, Memahami Konsep, Membangun keberlanjutan, Memilih tantangan, Memberdayakan konteks) karena secara tidak langsung sangat berkaitan erat. Untuk asesmen diagnosis sendiri dibagi menjadi dua yaitu asesmen diagnosis kognitif dan nonkognitif. Guru Ida mengaitkan asesmen diagnosis nonkognitif dengan 5M, yakni pada elemen Memanusiakan hubungan dengan mencari tahu profil murid dan elemen kedua, yakni Membangun keberlanjutan dengan memberikan tugas yang beragam sesuai minat murid. Pada awal pembelajaran jarak jauh (PJJ) Guru ida memang lebih fokus pada implementasi asesmen diagnosis nonkognitif, ia melihat adanya keberagaman situasi sosial dari profil murid. Guru Ida mencari tahu keadaan atau kondisi murid dengan mengajak mereka mengobrol santai melalui WA pribadi. Dan data pengamatan langsung sebelum diberlakukannya PJJ. Ternyata ada murid yang dengan tertatih berusaha mengumpulkan tugasnya. Dari obrolan tersebut terlihat kesungguhan murid, meski dalam keadaan yang serba sulit karena berasal dari keluarga kurang mampu. Itu contoh murid Guru Ida yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Guru Ida sangat memperhatikan kondisi murid dan tidak memaksakan tugas harus dikumpulkan pada hari itu juga. Murid tersebut tidak mempunyai gawai sendiri dan harus meminjam gawai milik anggota keluarga lain. Yang membuat Guru Ida bangga murid tersebut menabung untuk membeli gawai karena menganggap benda itu menjadi kebutuhan yang sangat penting untuk menunjang pembelajaran. Guru Ida mengajar materi tentang ikhtiar, tawakal, dan optimisme yang berkenaan dengan pandemi Covid-19 dan berhubungan dengan anjuran pemerintah. Dengan menerapkan diferensiasi dalam penyelesaian tugas, Guru Ida memberi kesempatan muridnya untuk mengerjakan tugasnya sesuai dengan minat masing-masing, sehingga mereka mengerjakan dengan suka cita, tanpa beban. Ada yang memilih untuk membuat video, PPT, poster, dll. Hasilnya sungguh di luar dugaan. Murid lebih bersemangat mengerjakan karena sesuai minatnya. Selain itu waktu yang diberikan juga longgar tapi bukan berarti tidak tegas. “Saya kagum akan kompetensi mereka yang beragam, termasuk kompetensi menulis, menggambar, atau bercerita yang selama ini terpendam.” (Ida Widaningsih) Menurut Guru Ida, ternyata dengan memperhatikan asesmen diagnosis non kognitif dapat memberikan ruang kepada murid untuk bereksplorasi dan memberikan kemerdekaan belajar. Tugas yang mereka kerjakan menjadi beragam. Guru Ida juga dapat mengetahui minat belajar murid. Dan guru tidak akan stres atau marah-marah lagi kepada murid. Kesimpulannya dengan dapat memahami asesmen khususnya asesmen diagnosis beserta implementasi-nya, guru dapat memahami muridnya. Guru jadi tahu keadaan murid dan alasan murid tidak mengumpulkan tugas secara disiplin, tepat waktu dan sesuai ketentuan. Dari pengalaman Guru Ida yang dilakukannya untuk menyikapi masalah tersebut adalah dengan mengubah sistem pengumpulan tugas dengan menerapkan diferensiasi penyelesaian tugas sesuai minat murid dan kelonggaran waktu pengumpulan. Apakah pening di kepala Bapak dan Ibu guru sudah hilang setelah membaca kisah Guru Ida di atas? Atau Bapak dan Ibu guru masih membutuhkan kisah inspiratif dan solutif lainnya? Yuk langsung aja daftar di Temu Pendidik Nusantara (TPN) VIII dengan tema Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar yang akan diselenggarakan pada tangga 20-21 November 2021. Di sini Bapak Ibu akan mendapatkan inspirasi dari #1000Pembicara. Langsung aja klik tpn.gurubelajar.org

Fungsi Asesmen Formatif: Mendukung Murid Belajar

Apakah Bapak dan Ibu guru sering bingung ketika mengisi penilain Kompetensi Dasar murid di akhir semester? Biasanya Bapak dan Ibu isi dengan apa? Nilai tugas akhir atau ulangan akhir murid yang hanya berupa angka? Apakah Bapak dan Ibu guru yakin penilaian semacam itu akurat dan dapat dipertanggungjawabkan? Dengan adanya standar pencapaian angka tertentu untuk mengukur keberhasilan murid dan memunculkan pelabelan terhadap murid seperti bisa atau tidak bisa, bukankah hal itu sudah termasuk tindak penghakiman? Dan bagaimana sih rasanya jadi orang yang dihakimi? Tertekan, takut, tidak nyaman, pengin marah atau protes tapi tidak bisa. Mungkin perasaan semacam itu yang sekarang dirasakan oleh murid Bapak dan Ibu. Atau mungkin yang Bapak dan Ibu rasakan sewaktu jadi murid dulu? Lalu apa kaitannya dengan Asesmen Formatif? Apa itu asesmen formatif dan fungsi-nya dalam kegiatan pembelajaran? Harap tenang! Bapak dan Ibu guru jangan risau karena pada tulisan kali ini akan membahas solusi dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Bersumber dari Surat Kabar Guru Belajar (SKGB) Edisi ke-3 tahun keenam dengan tema Asesmen Formatif sebagai Upaya Merawat Kemerdekaan Belajar, terdapat kisah guru belajar yang mengalami masalah serupa. Guru Maryati Hulalata namanya, mengajar di SMP Lazuardi dan anggota Komunitas Guru Belajar Depok. Lalu bagaimana beliau mengatasi pertanyaan-pertanyaan yang meresahkan di atas? Semuanya akan diulas dalam tulisan ini. Yuk Bapak dan Ibu segera simak kisahnya di bawah ini! Setiap awal tahun pelajaran, guru-guru diminta menyiapkan berbagai instrumen administrasi, seperti Program Tahunan , Program Semester, dan Program Project Plan atau yang sering dikenal dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Tidak hanya masalah administrasi, intrumen pra-mengajar pun tidak kalah penting untuk disiapkan, salah satunya adalah Rencana Asesmen. Namun Guru Maryati sering mengenyampingkannya, beliau hanya akan menyalin file tahun lalu yang sering kali sudah tidak relevan. Hingga Pandemi datang dan PJJ diberlakukan, Guru Maryati bingung untuk memberi nilai Kompetensi Dasar murid-muridnya karena pembelajaran seluruhnya dilakukan secara online. Pasalnya semua penugasan langsung diberikan skor tanpa ada masukan perbaikan dan penyesuaian pengajaran di dalam kelas online-nya. Guru Maryati merasa seperti kembali ke masa lalu ketika penilaian berpatok pada angka dan penghakiman bisa atau tidak bisa dan tahu atau tidak tahu. Memberi nilai layaknya sebuah ulangan harian waktu sekolah dulu. Ulangan harian yang kemudian menjadi nilai tambah nilai ujian akhir. Guru Maryati menganggap penilaian semaca itu tidaklah akurat dan kurang dapat dipertanggungjawabkan. Beliau merasa kecolongan, ketika kelas yang dibawakan sudah demikian menarik, penugasan proyek yang menantang, eh nilai diberikan begitu saja tanpa memberi masukan berkala. Setelah menyadari kekeliruan besar yakni dengan tidak menerapkan Asesmen Formatif dalam pembelajarannya, Guru Maryati segera membuka catatan ketika mengikuti pelatihan asesmen yang pernah diselenggarakan sekolahnya dan berdiskusi dengan rekan guru lainnya. Selain itu, Guru Maryati juga amat terbantu dengan konten-konten yang membahas mengenai asesmen dari media sosial Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar. Beliau membaca dan berusaha memahami kembali mengenai asesmen. “Asesmen sejatinya merupakan alat bantu kita untuk mengetahui kemajuan murid dan membantu mereka mencapai target pembelajaran. Asesmen tidak melulu sesuatu yang diberi nilai, berupa angka dan dilakukan di akhir” (Maryati Hulalata) Baca juga: Merdeka Belajar di PAUD, Bagaimana Menerapkannya? Guru Maryati melakukan refleksi pembelajaran selama satu semester yang lalu. Sudahkah memberikan kesempatan murid-muridnya untuk merefleksikan pembelajaran dan mengevaluasi diri sendiri? Sudahkah memberi umpan balik sepanjang proses belajar yang membantu murid melakukan perbaikan? Menyadari betapa esensialnya peran sebuah asesmen khususnya fungsi asesmen formatif, di awal semester baru Guru Maryati menyediakan waktu untuk menyusun rencana asesmen dengan memperhatikan asesmen formatif secara seksama dan dilaksanakan dengan benar agar tujuan asesmen tercapai. Berbekal format yang diberikan sekolahnya, Guru Maryati memulai dari tujuan belajar yang diambil dari Kompetensi Dasar. 1.      Tujuan belajar ini dibuat lebih pendek penjelasannya dan langsung pada kegiatan yang akan dilakukan di kelas. 2.      Di sebelah kolom Learning Goals, ada kolom jenis asesmen yang dilakukan. Ini penting, sebagai bentuk informasi kegiatan apa yang membutuhkan masukan intensif dan mana yang bisa diambil penilaian berupa angka. 3.      Menuliskan bentuk asesmen. Tidak kalah penting karena membantu untuk mempersiapkan proses asesmen agar menjadi lebih terarah sesuai dengan tujuan pembelajaran. 4.      Terdapat kolom untuk rencana diferensiasi (akomodasi) dan rubrik. Kolom diferensiasi disiapkan sebagai tindakan awal , meskipun saat pelaksanaan sangat bisa disesuaikan sesuai kebutuhan. Sedangkan kolom rubrik hanya sebagai pelengkap dan pengingat. Dengan merencanakan asesmen secara matang, kini Guru Maryati sudah tidak pusing untuk memberi penilaian di akhir pembelajaran saat kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring. Dan yakin jika penilaian yang diberikan sudah akurat dan dapat dipertanggungjawabkan serta tidak menghakimi. Guru Maryati tidak ingin keliru lagi dan berupaya memastikan efektivitas asesmen formatif dan memaksimalkan fungsi-nya dalam proses belajar murid. Selain itu murid juga terbantu dengan adanya asesmen ini. mereka menyadari keberadaan guru yang siap membantu dan peran rekan sebaya yang masukannya membantu mereka memperbaiki kualitas kerja. Bagaimana Bapak dan Ibu guru, apakah kisah guru belajar di atas sudah meyakinkan Bapak dan Ibu guru untuk memberi nilai kepada murid secara akurat dengan menerapkan Aseesmen Formatif? Atau Bapak dan Ibu guru masih membutuhkan kisah-kisah inspiratif dan solutif dari  guru belajar lainnya? Tenang, semua yang Bapak dan Ibu guru cari bisa didapatkan dengan mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII yang akan diselenggarakan pada 20-21 November 2021 dengan tema Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000Pembicara. Caranya gimana? Gampang banget, tinggal klik tpn.gurubelajar.org

Merdeka Belajar di PAUD, Bagaimana Menerapkannya?

Menerapkan merdeka belajar di PAUD susah? Bagaimana cara menetapkan tujuan belajarnya, kan harus melibatkan murid? Lalu cara menentukan asesmennya bagaimana, kan mereka masih kecil? Namun akan sangat sayang sekali kalau tidak segera diimplementasikan, karena merdeka belajar ini menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna sehingga murid menjadi berdaya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadikan guru khususnya di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) masih ragu dan bimbang untuk menerapkan merdeka belajar pada muridnya. Keraguan ini juga pernah dialami oleh Bu Anik Puspowati, guru di TK Sekolah Alam Arridho Semarang.  Berawal ketika mengikuti pelatihan Guru Merdeka Belajar, dari sini Bu Anik paham untuk menjadi pendidik yang merdeka belajar, perlu memiliki tiga hal esensial antara lain: komitmen pada tujuan, mandiri, dan reflektif. Awalnya Bu Anik sempat ragu untuk menerapkan proses menentukan tujuan belajar bersama anak usia dini. Namun Bu Anik tetap memberanikan diri untuk mencoba. Bu Anik menyatakan bahwa masa prasekolah merupakan masa yang sangat krusial dalam pendidikan seorang anak. Usia 0-6 tahun sering disebut sebagai masa emas perkembangan anak, karena otak anak mampu menyerap informasi hingga 80  persen. Di masa-masa ini, anak mulai terbentuk aspek perkembangannya: kognisi, bahasa, fisik-motorik, sosial-emosi, moral, kemandirian, dan seni. Bu Anik ingin memaksimalkan aspek-aspek perkembangan muridnya tersebut secara menyenangkan dan bermakna. Bu Anik mengidentifikasi gaya pembelajaran yang cocok dengan muridnya adalah gaya belajar kinestetik. Anak bisa mengeksplorasi dengan pancaindranya secara langsung pada objek pembelajaran dan secara tidak langsung hal tersebut mampu menumbuhkan aspek-aspek perkembangan mereka. Bu Anik menganggap belajar langsung dari objek belajarnya membuat anak lebih senang dan memiliki pengalaman bermakna. Metode yang digunakan Bu Anik adalah outing (belajar di luar kelas) atau belajar bersama alam istilahnya. Waktu itu tema pembelajaran mengenai ternak, kebetulan di dekat sekolah Bu Anik ada peternakan kuda pacu. Maka Bu Anik memanfaatkan tempat tersebut sebagai tempat pembelajaran yang kebetulan relevan dengan tema pembelajarannya. Sebelum berangkat mereka bersepakat tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama perjalanan dan ketika berkunjung. Ketika sampai di peternakan kuda, Bu Anik dan murid-muridnya berkumpul melingkar dan melakukan ice breaking. Hal seperti itu memang sudah biasa mereka lakukan sebelum memulai kegiatan. Lalu Bu Anik segera mengeluarkan kertas dan menempelkannya di papan tulis. Bu Anik mengajak tanya jawab murid-muridnya seputar apa yang mereka ketahui tentang ternak. Ada yang menjawab “ingin mengenal macam-macam binatang ternak (dalam hal ini kuda)”, dan lebih mengejutkan lagi ada yang menjawab “biar sayang sama ciptaan Allah”. Dan jawaban-jawaban tersebut ditulis Bu Anik sebagai tujuan pembelajaran. Dilanjutkan pembuatan rubrik penilaian sederhana ala anak-anak usia dini. Kriteria beserta dimensinya ditentukan bersama oleh Bu Anik dan murid-muridnya. Mereka menggunakan kriteria keren banget, keren dan keren sedikit. Keren banget untuk mengukur capaian kriteria tertinggi, keren berada di tengah antara capaian tertinggi dan terendah. Sebagai contoh, jika anak tidak berani mendekati kuda masuk kriteria keren sedikit, takut tapi mau mendekat masuk kriteria keren dan berani mendekat dan tidak takut masuk kriteria keren banget. Rubrik penilaian ini yang dijadikan sebagai bentuk asesmen. Berikut gambarannya. Secara umum rubrik penilaian seperti gambar di atas juga bisa digunakan untuk mengukur capaian murid dalam menguasai pembelajaran. Baca juga Memahami Merdeka Belajar Di tempat pembelajaran, anak-anak seolah sudah mengerti akan apa yang akan mereka lakukan. Mereka bahkan tidak sungkan untuk bertanya langsung (wawancara) dengan bapak-bapak pengurus istal di sana. Bertanya apa saja yang ingin mereka ketahui tanpa takut dan sungkan. Setelah outing, mereka kembali berdiskusi tentang apa yang mereka dapatkan atau mereka pelajari di tempat outing. Mereka merefleksikannya bersama. Anak-anak sangat antusias bercerita tentang apa yang telah mereka dapatkan melalui pancaindranya. Anak mampu belajar mengenai warna, ukuran besar-kecil, juga mampu belajar dengan indra peraba (kasar atau halus) ketika mengelus kuda. Mereka bahkan juga mendapatkan kosakata baru. Beberapa murid berinisiatif memberi makan kuda dan bahkan mencabut rumput untuk diberikan pada anak kuda. Ada juga anak yang awalnya takut mendekati kuda, lama kelamaan meminta Bu Anik untuk menemaninya mendekati kuda dan akhirnya berani mengelus dan tersenyum dengan senang. Tidak ada paksaan dan tekanan bagi murid yang masih takut. Bu Anik merasa tugasnya sebagai fasilitator belajar murid jauh lebih asyik dan mudah, karena pembelajaran dengan metode ini dirasa lebih mengakomodasi kebutuhan anak yang berbeda-beda. Dari cerita Bu Anik Puspowati yang bersumber dari buku Merdeka Belajar di Ruang Kelas karya Najelaa Shihab dan Komunitas Guru Belajar di atas dapat disimpulkan bahwasanya merdeka belajar bisa diterapkan pada murid usia dini. Yang perlu dilakukan guru adalah paham konsep merdeka belajar dan berani menerapkannya dengan kreatifitas masing-masing. Yang menunda keberhasilan bukanlah kegagalan melainkan keraguan dan ketakutan untuk mencoba. Nah, bagaimana Bapak Ibu guru? Apakah cerita guru merdeka belajar di atas sudah menjawab keraguan Bapak Ibu? Sebenarnya masih banyak lho cerita guru merdeka belajar yang inspiratif dan solutif lainnya. Dan semuanya akan Bapak Ibu temukan di Temu Pendidik Nusantara VIII dengan tema Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar yang akan diselenggarakan pada 20-21 November 2021. Yuk buruan daftar dengan klik tpn.gurubelajar.org dan jangan lupa catat tanggalnya ya!