Miskonsepi Literasi
Ternyata Literasi Tak Cuma Soal Baca Tulis Selama ini banyak sekali kekeliruan dalam menafsirkan dan memaknai konsep dari literasi. Padahal konsep literasi itu bersifat dinamis. Di masa kini, ada banyak perubahan dan perluasan makna literasi yang sudah berbeda dari makna kata dasarnya. Pada Temu Pendidik Mingguan ke-81 yang dilaksanakan di telegram.me/mudikmingguan hari Jum’at, 18 Januari 2019, pukul 18.30 – 20.30 WIB, dibahas mengenai berbagai miskonsepsi literasi yang perlu dipahami. Ibu Najelaa Shihab, Pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar, menjadi Narasumber pada Temu Pendidik Mingguan kali ini dan dipandu oleh Ibu Rani Indriani Kusumah, Guru Sekolah Cikal Amri Setu dan KGB JakartaTimur, sebagai moderator. Profil Narasumber Pendidikan adalah belajar, bergerak dan bermakna. Pendidik adalah kita, “semua murid semua guru.” Hal tersebut yang mendorong Najelaa Shihab terus berusaha berkontribusi dalam reformasi pendidikan Indonesia yang utuh melalui karya-karya nyata. Najelaa Shihab menyelesaikan studi S1 dan S2 di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan setelah memulai karirnya di kampus yang sama, memutuskan untuk mendirikan Sekolah Cikal pada 1999, saat ini berada di 9 lokasi di berbagai kota di Indonesia, melayani ribuan murid – mulai tingkat pra sekolah sampai dengan Sekolah Menengah Atas dan Kampus Guru Cikal. Lahir 11 September 1976 dari keluarga dengan nilai-nilai mendalam mengenai pendidikan dan kehidupan menumbuhkan keyakinannya untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya pada masyarakat. Elaa, panggilan akrabnya, dikaruniai tiga orang anak. Kontribusinya di dunia pendidikan selama puluhan tahun, dilakukan dengan meluncurkan berbagai inisiatif dan mendirikan organisasi pendidikan. Najelaa bukan hanya sekedar peduli pada kebutuhan anak-anak di berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga sangat yakin bahwa perubahan yang cepat yang terjadi di dunia saat ini, membuat kolaborasi dengan pemerintah, pendidik/guru, orang tua, keluarga, mutlak diperlukan untuk masa depan anak-anak kita. Mendirikan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) sejak 2007, Keluarga Kita dengan RANGKUL (relawan keluarga kita) sejak 2012, inibudi.org yang mengajak Guru Berbudi dan Teman Belajar sejak 2012, IslamEdu sejak 2013, Komunitas Guru Belajar Nusantara dengan penggerak-nya sejak 2014, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) di 2015, Sinedu, serta Youthmanual sejak 2016. Najelaa menginisiasi Pesta Pendidikan di tahun 2016, yang mengawali jaringan Semua Murid Semua Guru (SMSG). Jaringan ini bertujuan untuk menjadi simpul kolaborasi antar pemangku kepentingan pendidikan. SMSG juga berupaya meningkatkan kapasitas komunitas dan organisasi pendidikan untuk berinovasi dan memberikan contoh praktik baik dalam berbagai isu pendidikan yang penting disebarluaskan. Saat ini lebih dari 400 komunitas/organisasi yang beroperasi di 252 kota di Indonesia telah bergabung dalam jaringan. Merdeka Belajar, Merdeka dari Miskonsepsi Literasi Membaca adalah memahami rangkaian makna, bukan sekadar mengeja bahan pustaka. Artinya, pandai membaca adalah proses yang terus dipelajari, jauh sesudah kita bisa menggabungkan suku kata yang berarti. Karenanya, pembaca jagoan adalah yang terus mengusahakan pengenalan lingkungan, bukan sekadar melafalkan tulisan. Belajar membaca tidak sederhana. Dimulai dari bayi yang membaca emosi diri dan mengobservasi apa yang terjadi. Anak yang membedakan kanan dan kiri, mengeksplorasi bunyi dan pengalaman lain yang kadang tidak disadari, tapi sebenarnya bagian dari persiapan literasi dini. Berada di lingkungan yang kaya tulisan, seperti papan pengumuman atau koran di meja makan cukup untuk menunjukkan ke anak tentang pentingnya peraturan dan membuatnya mengenal pesan. Namun tidak ada yang lebih berkesan daripada orang dewasa dan teman sebaya yang meneladankan kegemaran bertukaran pikiran setelah menikmati bacaan. Karena dengan terlibat percakapan, anak belajar mendengarkan dan membuktikan kekuatan gagasan. Cita-cita agar literasi bisa membumi di negeri ini terasa hanya sekadar janji. Selama ini proses pendidikan menumbuhkan kegemaran membaca dengan sangat terbatas, menghafal lagu tentang vokal dan konsonan, kadang kala ditakuti ujian masuk sekolah dasar. Saat anak belum menguasai mekanik membaca, semua pemangku kepentingan “bekerjasama” membuatnya cepat bisa menamatkan buku. Guru PAUD khawatir dilabel tidak kompeten, orangtua ingin pamer anak pintar pada tetangga, toko buku bahkan tempat les membaca menyediakan sebanyak-banyaknya pilihan untuk anak usia dini. “Konspirasi” bertolak belakang terjadi saat anak sudah “bisa” membaca. Tugas bacaan di buku pegangan makin tidak relevan, semangat orang tua membacakan cerita tidak lagi jadi prioritas, bahkan penerbit dan pengarang buku pun tidak tertarik berusaha karena anggaran membeli bacaan terkalahkan biaya jajan atau permainan. Tidak heran hasil tes internasional menunjukkan walau anak Indonesia cukup mampu bersaing di pengukuran kemampuan dasar membaca usia dini, saat diukur beberapa tahun kemudian kita terus turun peringkat karena gagal memahami bacaan atau mengevaluasi informasi berkualitas. Tidak perlu tercengang, saat rasio antara warga dan perpustakaan kita cukup tinggi, pengunjung rutin bangunannya sering bisa dihitung jari. Dalam literasi kita seringkali mudah puas dengan pencapaian tujuan jangka pendek. Sulit untuk bisa mengharapkan ada perubahan signifikan bila propaganda pemerintah 72 tahun setelah kemerdekaan masih sekadar kesuksesan pemberantasan buta huruf. Tantangan masyarakat masa kini dan masa depan sudah banyak disuarakan, satu hal yang perlu reformasi segera adalah melek literasi. Reformasi tersebut adalah perjuangan melawan miskonsepsi literasi agar upaya menuju melek literasi mengarah pada tujuan esensial, bukan hanya untuk memenuhi kepentingan jangka pendek. Inilah lima miskonsepsi literasi Bukan hanya kemampuan membaca tapi juga kemampuan menalarLiterasi berkait kompetensi berpikir dan memproses informasi, karenanya bukan hanya soal keterampilan membaca apalagi mengeja. Seseorang dengan tingkat literasi tinggi, mempunyaikemampuan penalaran dan pemecahan masalah dalam berbagai bidang, berkait sains dan numerasi juga finansial. Belajar untuk membaca tapi tidak membaca untuk belajarBelajar untuk membaca berkait dengan kemampuan bahasa dalam mengenal huruf, mengeja dan instruksi yang cendrung lebih sederhana, bisa dikuasai di tingkat dasar dalam waktu singkat. Membaca untuk belajar adalah kemampuan lintas disiplin yang menempatkan membaca sebagai alat untuk memahami dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan. Membaca bukan tujuan akhir, tapi alat untuk tujuan belajar yang lebih besar. Aktif membaca tapi tidak membaca aktifMembaca banyak tulisan, tidak otomatis meningkatkan kemampuan, malah terkadang menurunkan minat atau menghasilkan pengetahuan yang tidak tepat. Kunci keberhasilan dari setiap aktivitas membaca adalah membaca aktif. Memprediksi isi bacaan atau berempati dengan latar belakang penulis sebelum membaca, mempertanyakan argumen dan beridentifikasi dengan karakter selama membaca, menyimpulkan dan mengaplikasikan dengan hal yang relevan dalam kehidupan sesudah membaca. Jangan bangga pada jumlah buku atau lama waktu membaca, belajar terjadi dari interaksi dengan literasi. Tidak menghubungkan kemampuan menulis dengan kemampuan membacaSalah satu cara paling efektif meningkatkan kemampuan sebagai penulis adalah pelajaran dari bacaan berkualitas. Semakin beragam bacaan, dari sudut genre, format ataupun penulis yang dipaparkan … Read more