Mempersiapkan Pameran Karya Murid Merdeka Belajar

Apa hal pertama yang muncul di pikiran Bapak Ibu ketika mendengar istilah Pameran Karya Murid? Apakah terbayang kumpulan karya murid dari kelas kesenian yang dipamerkan, kumpulan tugas-tugas yang dikerjakan murid, atau mungkin beberapa lembar kertas dimana murid menjelaskan mengenai prosesnya menghitung modal untuk jualannya? Ya, itu semua termasuk ke dalam karya murid. Namun beberapa hal tadi hanya contoh saja, pameran karya lebih luas daripada itu.  Pameran karya adalah waktu murid dapat menunjukkan hasil karya yang dibuatnya ketika pembelajaran di kelas. Inti dari pameran karya bukanlah sekedar dari seberapa bagus hasil karya yang dibuat oleh murid, namun lebih menunjukkan bagaimana proses belajar murid dan bagaimana dampaknya bagi perkembangan dirinya.  Ketika guru ingin membuat pameran karya, tentu banyak persiapan yang harus dilakukan. Mulai dari mempersiapkan lokasi, alur pembuatan karya, panduan, dan lain sebagainya. Namun, sebenarnya ada hal terpenting yang perlu dilakukan oleh guru untuk membuat pameran karya merdeka belajar, yaitu mempersiapkan murid. Ya, guru harus merancang strategi pembelajaran di kelas untuk dapat membantu murid mempersiapkan dirinya agar siap untuk membuat suatu karya. Apakah berarti mempersiapkan karya bukan hanya sekedar hal-hal teknis saja?  Pada tanggal 23 Maret 2021, Obrolan Guru Merdeka Belajar membahas mengenai topik “Bagaimana Mempersiapkan Pameran Karya Merdeka Belajar” bersama narasumber Marsaria Primadonna (Pima) dari Sekolah Cikal dan Titis Kartikawati (Titis) dari SDN 09 Sanggau. Obrolan yang dipandu oleh Ira Ari Nuraini dari Kampus Guru Cikal ini membahas lebih mendalam mengenai bagaimana pameran karya digunakan sebagai asesmen terhadap belajar (assessment as learning).  Asesmen terhadap belajar bertujuan untuk penilaian untuk mengukur pencapaian murid yang merupakan puncak dari proses belajar dan memberikan murid kesempatan untuk mendemonstrasikan apa yang telah dipelajari. Tujuannya untuk penilaian atau mengukur pencapaian murid. Asesmen ini tidak harus dilakukan di akhir pembelajaran  Asesmen Terhadap Belajar dapat berfungsi menjadi beberapa elemen seperti: menginformasikan dan meningkatkan belajar murid dalam proses pengajaran, dapat mengukur konsep dan pemahaman murid dan mendorong murid untuk melakukan aksi untuk mencapai kompetensi yang dituju. Lalu sebenarnya seberapa penting untuk guru dan sekolah melakukan pameran karya dalam proses pembelajaran? Menurut Guru Pima, pameran karya merupakan hal yang paling penting apalagi untuk pembelajaran yang berbasis proyek, “(Guru) melihat kinerja murid itu melalui apa yang dilakukan, keterampilannya, pengetahuan, dan kompetensi mereka, hasilnya pun tidak bisa sekedar angka namun juga dimensinya” tuturnya.  Sedangkan menurut Guru Titis, pameran karya merupakan sebuah perayaan belajar. Hal ini yang membuat pameran karya menjadi acara yang paling ditunggu oleh murid. Selain itu pameran karya memberikan dampak positif bagi murid dan bisa membantu guru menilai tiga aspek dari murid, “Sebenarnya ada tiga aspek yang bisa tercapai, yaitu dari sikapnya, pengetahuannya, dan keterampilannya” tutur guru SDN 09 Sanggau ini.  Baca Juga: Lebih Penting Pameran Karya atau Memajang Nilai Murid? Sebagai perayaan belajar, pameran karya perlu dipersiapkan jauh ketika mempersiapkan proses pembelajaran di sekolah. Setidaknya sekitar 6 bulan sebelum dilaksanakannya pameran karya. Hal yang harus dipersiapkan guru untuk mendampingi murid dalam membuat pameran karya dimulai dengan menentukan tema besar yang akan menjadi pembahasan selama pembelajaran. Kemudian mengajak murid untuk berdiskusi mengenai hal yang menjadi minat/passion mereka, hal yang menjadi inspirasi, dan hal yang menjadi permasalahan yang menjadi perhatian murid. Hal ini menjadikan guru lebih memahami murid-muridnya.  Dengan pola belajar design thinking, murid-murid dapat belajar juga untuk bisa berempati. Saat membuat sebuah karya atau proyek, murid perlu bisa menyampaikan dengan jelas alasan mereka memilih membuat proyek tersebut, “Memulai proses (pembuatan karya) penting untuk murid mengetahui dan menyampaikan alasan mereka membuat proyek tersebut dengan jelas. Sehingga mereka dapat benar-benar tahu seberapa bermakna proyek itu bagi mereka.” jelas Guru Pima.  Sejalan dengan yang disampaikan oleh Guru Pima, Guru Titis juga mengatakan bahwa murid harus bisa mempertanggungjawabkan setiap karya yang dibuatnya, salah satunya dengan cara menulis laporan, “Saya meminta murid membuat laporan. Setiap mereka membuat proyek, pasti ada laporannya. Berisi alasan mereka membuat proyek tersebut, latar belakangnya, tujuan, manfaatnya apa saja, sarana yang digunakan, dan cara membuatnya. Hal ini menjadi panduan untuk murid serta menjadi cara guru memahami murid.” cerita Guru Titis.  Produk pameran karya bisa sangat beragam. Dari mulai produk yang sederhana seperti poster, video pendek, lukisan, makanan, hingga yang lebih kompleks seperti alat pengisi daya dari sepeda dan augmented reality. Namun, pameran karya bukan berarti menjadi ajang kompetisi untuk ‘canggih-canggihan’ hasil produk. Melainkan semua itu kembali ke apa tujuan dari produk yang dihasilkan murid dan bisa menunjukkan apa minat/passion terbaik dari murid-murid.  Mempersiapkan pameran karya memerlukan perencanaan yang detail dan ada timeline yang tepat agar pameran karya bisa berjalan dengan lancar, “Sebulan sebelum pameran karya kita mulai membentuk tim kepanitiaan untuk teknis pameran karya, namun untuk persiapan pembelajaran tentunya disiapkan sejak awal tahun saat membuat RPP. Sebisa mungkin tujuan belajar dalam pembelajaran berbasis proyek bisa menggabungkan beberapa tujuan dari mapel yang berbeda.” jelas Guru Pima.  Pada sesi tanya jawab, ada beberapa pertanyaan yang muncul. Salah satunya dari Guru Arif Fauriyuddin, dimana ia bertanya mengenai pelaksanaan pameran karya di masa pandemi. “Masa pandemi karya siswa yang bagaimana yang bisa dipamerkan dan bagaimana cara menilainya.” tulisnya di kolom komentar.  Selama masa pandemi, bukan berarti menjadi penghalang untuk membuat pameran karya. Justru saat ini, guru bisa memanfaatkan teknologi yang ada dengan mempersiapkan pameran karya virtual. Jika biasanya karya-karya murid dipampang di sebuah ruangan, maka dengan teknologi guru bisa membuat ruang virtual untuk memajang karya murid.  “Tentunya di masa pandemi ini sudah pasti kita akan memanfaatkan teknologi yang kita punya. Apapun itu teknologinya. Biasanya pameran di tempel di tembok, sekarang kita buat tembok virtualnya. Bisa pakai Google Sites, Streamyard, dan lainnya. Anak-anak membuat presentasinya, kemudian nanti bisa dipamerkan secara virtual.” jelas Guru Pima.  Penilaiannya pun dapat dilakukan melalui bagaimana murid menjelaskan hasil karyanya melalui video presentasi dan sebagainya. Selain itu, pameran karya virtual lebih memungkinkan menjangkau lebih banyak audiens. “Saat pandemi ini justru akan bisa lebih menjangkau (banyak orang), menjangkau yang jauh-jauh juga yang gak bisa datang jika diadakan pameran secara offline. Kalau gak online gini, mana bisa dari Sanggau datang ke Cilandak gitu kan (untuk melihat pameran karya).” tambah Guru Pima sambil tertawa.  Kemudian ada pertanyaan dari akun Dokos Dokos, “Bu… Karya apa saja (yang) dibuat anak dan bagaimana (tanggapan) guru-guru maupun orang tua. … Read more

Pameran Karya Merdeka Belajar

Apa yang tertanam di benak atau yang dipikirkan jika mendengar kata “Pameran Karya” ? Apakah majalah dinding yang tertempel di papan sekolah, memajang piala-piala kejuaraan atau memamerkan karya seni yang dihasilkan oleh murid? Apa ya maksud dari pameran karya sebenarnya? Apalagi Pameran Karya Merdeka Belajar. Sebelum membahas pameran karya lebih dalam, kita akan kulik terlebih dahulu untuk menyamakan persepsi terkait apa itu pameran karya. Pameran Karya adalah sebuah program dimana anak-anak dapat menceritakan kembali apa yang sudah mereka dapatkan dan pahami dalam proses belajar, dimana anak-anak memiliki keinginan yang kuat dalam dirinya untuk  bisa membuat dan menghasilkan sebuah karya yang terbaik yang sekaligus dapat membagikan pesan yang ingin disampaikan melalui karya tersebut secara luas. Pameran karya menjadi salah satu bukti anak-anak dapat berkreasi dan bereksplorasi dengan pengetahuan, pengalaman dan kompetensi yang dimiliki, dan menjadi suatu kebanggan tersendiri ketika anak-anak dapat menghasilkan sebuah karya.   Pada Obrolan Guru Merdeka Belajar 9 Maret 2021 yang bertemakan “Pameran Karya Merdeka Belajar” tidak hanya mengajak guru menjadi narasumber tetapi turut serta mengajak murid-muridnya untuk bisa bergabung dan berbagi mengenai pameran karya yang sudah pernah dihasilkan di sekolah. Obrolan #GuruMerdekaBelajar dipandu oleh Mahayu Ismaniar dengan 4 narasumber, yaitu Dirayanti Bungawardani guru di Sekolah Cikal Serpong, Eka Priyantiningrum guru di Sekolah Pembangunan Jaya, sedangkan muridnya ada Rayyan Akman Arsyad dari Sekolah Cikal Serpong dan Ni Wayan Azalia Seca Devina murid dari Sekolah Pembangunan Jaya. Rayyan berbagi mengenai karya karya yang pernah dihasilkannya yaitu sebuah komik yang bercerita tentang sejarah kerusuhan yang terjadi pada tahun 1998, yang memiliki tujuan untuk menyelesaikan masalah kurang minatnya murid pada mata pelajaran sejarah dan adanya stigma bahwa mata pelajaran IPS yang membosankan, rumit dan banyak materi hafalan.  Sedangkan Azalia pada semester pertama membuat sebuah poster mengenai kerajaan-kerajaan di Indonesia salah satunya kerajaan Tidore, pada waktu semester kedua Azalia kembali membuat sebuah poster yang dilengkapi dengan video mengenai provinsi Kalimantan Barat yang dikerjakan secara berkelompok yang juga digunakan untuk penilaian tengah semester.  Menarik sekali hasil karya yang dihasilkan Rayyan dan Azalia yang mengangkat materi hafalan yang bisa dibilang membosankan dan kurang diminati bagi sebagian murid, justru menjadi cara belajar yang mengasyikkan melalui pameran karya ini yang membuktikan bahwa mata pelajaran apapun dapat dikemas dalam pameran karya yang unik dan menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Pameran karya menjadi salah satu bentuk asesmen yang dilakukan untuk mengetahui pemahaman murid, kompetensi yang dikuasai sampai dapat menghasilkan sebuah karya. Eka Priyantiningrum menjelaskan bahwa dengan adanya pameran karya ini mengandung sebuah istilah “ada udang dibalik batu”, maksudnya bahwa dalam sebuah pameran karya yang dihasilkan ada hal berharga yang dibagikan oleh murid-murid. Hal-hal berharga yang dimaksud antara lain keinginan guru-guru untuk dapat mengembangkan minat dan bakat siswa yang dimiliki, membuat sebuah project bermakna (berkolaborasi antar mata  pelajaran), melatih siswa membuat perencanaan, melatih dalam berkomunikasi (guru-guru; guru-siswa; siswa-siswa), critical thinking, dan yang terakhir dapat dijadikan sebagai penilaian lengkap kinerja murid (penilaian pengetahuan,keterampilan sampai penilaian sikap). Dirayanti Bungawardani pun menambahkan bahwa asesmen dalam pameran karya menggunakan rubrik yang mencakup beberapa kompetensi, yaitu komitmen, cerdas, dan berpusat pada aksi. Melalui proses pembuatan karya dapat dilihat seberapa besar komitmen murid dalam mengerjakan dan menyelesaikan sebuah tugas, mulai dari pembuatan timeline sebagai pedoman pengerjaan, pada kompetensi cerdas dapat digunakan untuk melihat apakah murid dapat menerapkan pengetahuan yang cukup komprehensif, dan pada kompetensi berpusat pada aksi untuk dapat mengambil solusi-solusi untuk dapat menyelesaikan tantangan selama pembuatan sebuah karya.  Kali ini Azalia bercerita tentang proses bagaimana membuat poster digital dan juga video yang sudah dipamerkan. Pada saat pembuatan poster digital dimulai dari bagaimana menggunakan aplikasi, penentuan tema agar tidak saling memiliki kesamaan tema, kemudian penentuan deadline pengumpulan karyanya, yang tentunya selama proses pembuatan guru turut serta menanyakan proses pembuatannya sudah sampai mana dan apakah menemukan kendala dalam proses pembuatan poster digitalnya. Setelah poster digital dikumpulkan dan dipertontonkan secara luas ada evaluasi yang diberikan dari hasil poster digital tersebut. Pada pembuatan poster dan video provinsi Kalimantan Barat yang dilakukan secara berkelompok tentunya ada beberapa bagian yang dibagi-bagi untuk saling berdiskusi, bekerja sama dan berkolaborasi, contohnya dalam pencarian informasi mengenai peta, lagu daerahnya, tarian yang dimiliki, dan yang lainnya.  Sedangkan Rayyan bercerita awal mula memilih kerusuhan tahun 1998 dikarenakan banyak perspektif teman-temannya mengenai pelajaran terutama pelajaran sejarah yang kurang menyenangkan, sedangkan menurut Rayyan sendiri pelajaran tersebut menyenangkan untuk dipelajari, lalu timbullah ide untuk membuat sebuah karya untuk mengemas pelajaran sejarah menjadi menarik untuk dipelajari yaitu melalui komik, tantangan terbesar yang ditemui selama proses membuat project itu adalah skill-skill yang dibutuhkan pada saat membuat project itu sendiri, seperti bagaimana membuat planning yang baik, riset informasi yang mendetail, dan mencari ide yang bisa menjadi pelajaran penting dalam menghasilkan karya.  Baca Juga: Lebih Penting Pameran Karya atau Memajang Nilai Murid? Pada Obrolan #GuruMerdekaBelajar peserta diberikan kesempatan untuk bertanya dengan narasumber antara lain Amalia Tjiandra dan Ika Amaliah. Ibu Amalia Tjiandra mengajukan pertanyaan kepada Rayyan dan Azalia tentang seberapa penting adanya pameran karya yang ada di sekolah untuk murid?, menurut Azalia sangat penting karena dengan adanya pameran karya dapat menambah kreativitas dan pengetahuan bagi murid itu sendiri, dan pada pameran virtual yang dilakukan dengan kecanggihan teknologi murid dapat lebih menguasai perkembangan dalam penggunaan teknologi sekarang ini yang dapat dengan mudah untuk membagikan hasil karyanya secara luas melalui link yang dibagikan. Sedangkan menurut Rayyan ilmu atau konsep yang diaplikasikan dalam menciptakan suatu karya akan sangat bermanfaat untuk kedepannya baik untuk belajar di jenjang yang lebih tinggi atau pada waktu bekerja nantinya.  Pertanyaan berikutnya dari Ibu Ika Amaliah untuk Azalia dan Ibu Eka tentang bagaimana menyiasati anggota kelompok yang tidak aktif dan sulit bekerja sama? Dan Bagaimana membuat kelompok tetap kondusif dari perencanaan sampai eksibisi? Wah banyak dirasakan juga oleh Bapak/Ibu juga sepertinya ya. Menurut Ibu Eka sebelum membentuk sebuah kelompok dalam pameran, sebaiknya sudah melakukan observasi kelas terlebih dahulu berdasarkan penilaian dari penugasan-penugasan yang diberikan secara individual untuk mengetahui murid siap dan bisa untuk bekerjasama dalam tugas yang dilakukan secara berkelompok, sedangkan menurut Azalia untuk teman yang bisa dikatakan kurang aktif akan selalu diingatkan dan ditagih terkait tugas atau peran yang sudah dibagikan kepada masing-masing murid di awal sesuai dengan kesepakatan dalam … Read more

Pameran Karya Sekolah: Lebih dari Sekadar Promosi

Memamerkan karya anak dalam gelaran pameran karya murid di sekolah / madrasah bukan hanya soal promosi. Banyak hal yang terangkai di sana. Apa saja? Menurut Marsaria Primadona, Manajer Program Sekolah Cikal dalam Obrolan #PemimpinMerdekaBelajar Minggu (21/2), tujuan pameran karya adalah berbagi. Karena dengan berbagi itu, anak/murid bahkan gurunya akan belajar dari tanggapan yang dilontarkan. Yakni, dari mereka yang menonton atau menyaksikan pameran karya tersebut. “Selain belajar percaya diri untuk memamerkan karyanya, juga mencari umpan balik dari karya-karya tersebut,” ungkapnya.  Dipandu oleh Niamil Hida, Ketua Jaringan Sekolah Madrasah Belajar (JSMB), Primadonna atau yang akrab disapa Pima dalam acara yang diunggah dalam youtube channel Sekolah Merdeka Belajar ini juga mengatakan bahwa yang terpenting dari itu semua, justru bukan hasil atau produk akhirnya. Melainkan proses yang dilakukan anak.  Pengalamannya di Sekolah Cikal, apa yang dipamerkan anak memang bukan hanya produk akhir hasil karya anak. Tetapi juga proses dari awal sampai jadi. “Jadi anak mempresentasikan proses itu,” sambungnya. Sebelumnya Pameran ini diadakan di GSG Cikal. Tata caranya murid presentasi dan ada tamu yang dijadwalkan untuk melihat dan menyimak presentasi dari murid. Jadi murid mempresentasikan proses.  Dalam praktiknya, ia kerap menggunakan formula ATAP, yakni awal, tantangan, aksi, dan perubahan ketika melihat anak melakukan proses karyanya. Di mana anak bisa memulai sendiri karyanya, dari tugas-tugas yang diberikan di hari-hari biasa, hingga menemukan tantangan, aksi, dan memberikan refleksi atas apa yang sudah mereka mulai.  Pima menyebut konsep ini sebagai berpikir desain (design thinking). Di mana dalam menentukan karya awal yang dibuat diawali dari berempati (empathize). Yaitu wawasan utuh mengenai apa yang akan mereka kerjakan dengan alasan-alasan yang diutarakan si murid sendiri. Sebelum kemudian menetapkannya (define), menguji masalah tersebut dengan ide-ide mereka (ideate), lalu melakukan uji coba awal dan mengetesnya (prototype and testing). Setelah rentetan hal tersebut dilakukan, maka produk karya murid siap dipamerkan/diluncurkan (launch). Di setiap pameran karya selalu ada lapisan mentoring, lapisan pameran karya yang dilakukan sebagai berikut: Murid memilih Tema dengan didampingi oleh bu Pima dan Guru Kelas. Murid-murid memilih mentor. Mentor bisa dari guru subjek atau dari guru jenjang lainnya asal tetap satu sekolah. Contoh, murid SD dibimbing oleh guru TK. Intinya murid berpasang dengan mentor yang memiliki passion tema yang sama. Sinergi. Setelah memilih mentor, jenjang berikutnya mentor ini dikoordinatori oleh guru kelas. Optimalisasi. Guru-guru kelas inilah yang dimentori oleh manajer/koordinator/kepala sekolah, dalam hal ini adalah Bu Pima. Dengan adanya lapisan mentor seperti di atas, langkah pertama ialah mentor briefing menggunakan jamboard. Mentor Briefing ini dilaksanakan oleh guru kelas dan Pima. Isian kegiatanya ialah pertanyaan, jadi Pima dan guru kelas bertanya untuk brainstorming. Terkadang murid masih bertanya lagi tentang pertanyaan yang diajukan, jadi guru harus menanyakan dengan pertanyaan berlapis atau bisa disebut lebih rinci dan dapat ditangkap oleh murid. Usai brainstorming, baru membuat kesepakatan untuk menentukan kapan diskusi tentang persiapan pameran karya. Baca Juga: Lebih Penting Pameran Karya atau Memajang Nilai Murid?  Biasanya dengan kegiatan pameran karya seperti ini, guru menganggap tugas tambahan dan belum siap mengatur. Langkah yang dilakukan Pima ialah gerilya dan menanyakan ke guru apa saja yang perlu dibantu agar siap menjadi mentor. Bermula dari hal itu, Pima paham kebutuhan guru yang akan jadi mentor. Pima juga menawarkan bantuan dan siap terjun untuk membantu jika ada kesulitan di tengah mentoring. Ketika membentuk mentoring, harus ada perbandingan mentor dan murid. Agar seimbang dan sesuai target. “Bu, bagaimana cara kita berempati dengan kebutuhan murid? Saya mengajar SMK dengan 300-an murid?” tanya Bu Eka Yuliana. Di Cikal murid diberikan pilihan antara Pameran Karya atau Presentasi. Jadi tidak semua memilih pameran dan presentasi. Ada pula juga yang memilih kelompok, sebab bersinggungan dengan tugas mata pelajaran.  Dalam komunikasi yang dilakukan, murid diberikan pilihan untuk menentukan. Jika ini dilakukan di SMK, malah lebih canggih dan bisa dibentuk kepanitiaan. Jadi murid bisa dilibatkan dalam penyelenggaraan. Jika di TK, bisa melibatkan orangtua. “Itu teknik-teknik percakapan yang menggerakkan ya, Bu?” tanya Bu Umi Kalsum.  Tentu saja, harus ada komunikasi yang terjalin antarguru, orangtua, dan murid. Hal ini akan memudahkan penyelenggaraan pameran. Maupun dalam proses menuju ke sana. Proses inilah yang nantinya akan memberikan percakapan-percakapan yang semakin mendekatkan guru dan murid, maupun para orangtua.  Perkembangan saat ini, Bu Pima mengatakan memang dibutuhkan adaptasi untuk menggelar pameran karya di sekolah. Mengingat adanya pandemi dan semua dilakukan serba online. Namun menurutnya, hal itu malah menjadi keuntungan. Karena guru dan murid bisa makin kreatif dalam menyajikan proses dan hasil karyanya. (*) Silakan tonton ulang Program Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar di bawah ini.

Lebih Penting Pameran Karya atau Memajang Nilai Murid?

Pernahkah kita berpikir, apa esensi sekolah? Mengapa sekolah harus menerbitkan rapor murid dan menyerahkannya kepada orangtua? Pentingkah nilai-nilai itu? Atau, sebenarnya sekolah harusnya punya visi misi lain yang lebih bermakna? Mengapa nilai murid lebih sering dipajang, namun jarang ada pameran karya? Dalam obrolan #PemimpinMerdekaBelajar yang digelar 13 Februari 2021, hal itulah yang jadi topik pembahasan. Dipandu oleh bu Puti Almirsha, obrolan kali ini berfokus pada bagaimana sebenarnya esensi sekolah. Mengapa sekolah didirikan dan menjadi bagian belajar murid? Termasuk hubungannya dengan pameran karya sebagai instrumen pembelajaran.  Pak Bukik Setiawan, Ketua Yayasan Guru Belajar (YGB) sebagai narasumber menyatakan pemahaman yang tepat atas sekolah ini sangat penting. Apalagi, ketika dihadapkan dengan realita saat ini. Di mana, dunia sudah begitu terbuka. Sekat-sekat karir yang sebelumnya terbatasi dalam segmentasi tertentu, kini menjadi lebih cair dan beragam. “Di zaman ini, siapa yang menduga, menjadi youtuber bisa menjadi karir,” ujar Bukik.  Menurutnya, realitas yang berkembang ini harus diimbangi dengan kesadaran bahwa sekolah harus kembali mencari tujuan yang tepat. “Bagaimana sebenarnya sekolah itu?” sambungnya dalam obrolan #PemimpinMerdekaBelajar yang ditayangkan channel You Tube Sekolah Merdeka Belajar ini.  Pak Bukik mengatakan, pemahaman tentang sekolah atau madrasah ini, akan menentukan mau seperti apa output yang dicapai. Jika misalnya, sekolah dimaknai sebagai lembaga birokrasi, maka tentu saja output yang dihasilkan adalah laporan pertanggungjawaban keuangan dan program. Laporan yang disampaikan kepada lembaga birokrasi yang lebih tinggi. Begitu seterusnya.  Demikian halnya, ketika sekolah dipandang sebagai lembaga penyuplai sumber daya manusia (SDM). Maka output yang dihasilkan adalah daftar panjang tentang sejauh mana SDM dalam hal ini murid berkembang. Sebatas keterangan tentang penilaian (scoring) dan rangking.   Apakah kedua konsepsi ini tepat? Pak Bukik mengatakan realitas itu terjadi. Tapi menurutnya, sekolah seharusnya menjadi tempat pendidikan anak. Tempat anak belajar. “Pertanggungjawaban sekolah itu adalah menunjukkan bukti bahwa anak di sekolah/madrasah itu telah belajar,” ujarnya.  Dengan cara apa? Di sinilah, lanjut Pak Bukik, pameran karya bisa menjadi solusi. Di mana, pameran karya siswa akan menjadi semacam etalase sekolah untuk menunjukkan proses belajar yang telah dilakukan. Sehingga, tidak perlu menunggu sampai lulus dan menunjukkan profil lulusan mereka, sekolah/madrasah bisa memulainya dengan membuat pameran karya anak, yang bisa dikerjakan dalam rentang yang lebih pendek.  Misalnya, lanjut Pak Bukik, sekolah/madrasah bisa mendorong para guru untuk membuat check point asesmen formatif dalam bentuk karya. Waktunya bisa 1 – 3 bulan sekali. “Dan, karena ini formatif, tidak perlu di-grading atau digunakan untuk menentukan nilai akhir,” ujarnya. Yang penting, lanjutnya, pemeran karya ini diharapkan bisa menjadi bahan percakapan antar murid  maupun murid dengan gurunya. “Sekaligus bukti anak belajar di sekolah/madrasah,” bebernya.    Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Membuka Mata Stakeholder Pendidikan  Tentu, selain mempunyai fungsi idealis, yakni menjadi bukti belajar murid di sekolah, pameran karya juga memiliki fungsi pragmatis. Pak Bukik mengatakan, dalam kenyataan di lapangan, tak bisa dipungkiri sekolah/madrasah membutuhkan murid. Keberlanjutan sebuah sekolah/madrasah bergantung dari banyak sedikitnya murid. Jika banyak, maka akan lebih lama bertahan, karena dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang terkucur semakin banyak. Jika sedikit, maka akan sempoyongan berdiri karena BOS yang diterima juga sedikit.   Maka dari itu, sekolah memerlukan sebuah ‘pertunjukkan’ yang bisa dilihat oleh banyak orang. Sehingga, hasil pembelajaran di sekolah terlihat secara masif oleh para stakeholder pendidikan. Jika rapor hanya menghubungkan hasil pendidikan murid, dari guru ke orangtua masing-masing, maka pameran karya menjadi solusi agar sekolah/madrasah bisa dikenal lebih luas.  Banyak yang akan melihat, jika misalnya satu sekolah berhasil menampilkan karya murid-muridnya yang punya karakter. Daya tarik itulah yang diharapkan bisa membuat sekolah mendapatkan banyak murid. “Ini sisi pragmatisnya,” ujar Pak  Bukik.   Lihat Potensi, lalu Kolaborasi  “Jangan melihat yang tidak ada,” kata pak Bukik menjawab pertanyaan dari seorang guru yang bertanya soal hambatan penyelenggaraan pameran karya di sekolah/madrasah kampung. Dengan kondisi anggaran terbatas dan fasilitas seadanya, apalagi mungkin jaringan internet yang sulit, menyelenggarakan pameran karya memang butuh upaya ekstra. Tapi pak Bukik mengatakan yang paling penting, bukan soal itu. Tetapi bagaimana sekolah/madrasah bisa membaca apa saja yang ada dan menarik untuk menjadi karya. “Lihat potensinya,” tandasnya.  Menurut pak Bukik, misalnya di sebuah desa, orangtua murid mencari nafkah dengan menjual tempe, maka tugas anak/murid harus berkaitan dengan itu. Mulai dari proses produksi misalnya, hingga ke pemasaran dan inovasi produk. “Pekerjaan orangtua dikolaborasikan dengan tugas murid,” bebernya.  Tentang pandemi dan kegiatan yang serba virtual? Pak Bukik mengatakan, bahkan jika pameran karya dilakukan secara luar jaringan (luring/offline), maka ia menyarankan agar ada upaya untuk memvirtualisasikan atau mengunggahnya ke media-media sosial. Baik guru, orangtua, atau murid sendiri.  Karena hal itu, lanjutnya, akan berdampak pada proses mengenalkan sekolah dalam cakupan yang lebih luas. “Keterbatasan adalah kesempatan untuk kreativitas kita,” tegas pak Bukik.  Karya yang Jadi Bahan Percakapan Dalam pameran karya ini, pak Bukik menyampaikan sekolah sebaiknya memamerkan karya yang otentik. Dalam artian, merupakan karya asli murid, dengan beraneka imajinasi dan kreativitasnya.  Menukil Alfie Kohn, dalam bukunya Memilih Sekolah Terbaik Untuk Anak: Mendobrak cara ajar Tradisional (2010), pak Bukik menyatakan bahwa secara umum, yang ditampilkan sekolah/madrasah biasanya adalah artifisial. Bukan hanya saat pameran karya, tetapi juga ornamen di dinding-dinding kelas. “Biasanya buatan guru atau barang-barang pabrikan,” ungkapnya. Jika yang sajikan dalam pemeran karya demikian, maka tidak akan ketemu tujuannya. Karena buat apa menyajikan karya yang biasa. Tidak unik karena sudah diproduksi pabrik. Karena jangankan dilirik, hal itu justru tidak sehat dan memicu pandangan miring bagi pendidikan di sekolah/madrasah. “Semakin otentik, maka akan semakin jadi bahan percakapan,” ujar pak Bukik. (*)