Mengatasi Bullying, Membangun Cinta

Kasus Bullying yang terjadi di salah satu SMP di kota  Malang membuat prihatin masyarakat sekitar. Lantas, bagaimanakah cara mengatasi bullying yang telah terjadi? Semuanya dijelaskan dalam temu pendidik Malang ke 19, dengan tema “Stop Bullying Start Loving” yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar Malang, pada Minggu (16/2) di aula MI Alam Bilingual, Sengguruh, Kepanjen. Acara yang dihadiri oleh 60 peserta dari pendidik dan orang tua ini menghadirkan empat pembicara ternama yakni Bapak Wahyudi Siswanto Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, Ibu Sri Wahyuningsih Direktur LSM  Women and Children Crisis Center, dan Ibu Elok Candra selaku Bibi korban, dan juga Mas Heri dari Peace Generation Malang. Di awal sesi acara, Bapak Wahyudi membuka dengan berbagai ice breaking yang meramaikan suasana acara. Acara ini dibagi empat sesi sesuai dengan urutan pembiacara. Di dalam sesi pertama, Dosen sekaligus pemilik MI Alam Bilingual ini menjelaskan bahwa salah satu pencegahan bullying melalui kasih sayang orang tua dan memberikan keteladanan yang baik bagi anak-anaknya. Bukan hanya itu, memberikan kekuatan spiritual kepada anak menjadi modal awal agar kelak anak mampu melakukan hal yang baik di mana saja.  Sesi pembicara kedua, Ibu Sri Wahyuningsih menambahkan jika kata bullying, berasal dari kata bull yang berarti banteng, sedangkan bully berarti gertakan, lantas jika digabungkan menjadi bullying yang bermakna tindakan agresif berupa penindasan dan pengintimidasian yang dilakukan oleh orang seseorang atau kelompok orang yang tidak bertanggung jawab dan dilakukan berulang-ulang, serta membuat korban menderita. Beliau juga menjelaskan ada beberapa jenis 4 jenis bullying yakni verbal (menghina, mengejek dll), fisik (dibanting, dipukul dll), relasional (menghindari, mengucilkan dll), dan elektronik (menyebar foto, mengancam dll). Selain menjelaskan jenis bullying kepada para peserta, beliau juga menjelaskan alasan perundungan atau bullying itu dapat terjadi di lingkungan sekitar kita, yakni pembully ingin dianggap berkuasa dan kelihatan keren karena meniru aksi film/game, tidak memiliki perhatian orang sekitar, akhirnya dia mengalihkan perhatian pada orang lain dengan cara menghina orang lain, melempar dll, pembully sebenarnya mantan korban bully yang akhirnya mencari korban bully berikutnya.  Baca Juga: Manajemen Konflik di Kelas Berbasis Sekolah Mantan Dosen hukum Universitas Brawijaya tersebut juga menjelaskan bahwa ada kajian hukum terhadap bullying anak yang tertuang dalam UU No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPS) yakni (1) anak yang berkonflik dengan hukum yaitu anak menjadi terduga pelaku tindak pidana, (2) anak korban tindak pidana, dan (3) anak yang menjadi sasksi tindak pidana. Maka Bullying anak dapat dikategorikan sebagai tindak pidana yang dilakukan oleh anak, terhadap anak, ada saksi anak, karena bullying anak tersebut sudah mengancam keselamatan anak.  Lantas, tindakan apakah yang tepat ketika bullying terjadi di sekolah? Direktur LSM WCC itu menjelaskan bahwa perlunya urun rembug bagi upaya penyelesaian dengan cara pemulihan psikologis korban maupun pelaku. Jika dari pelaku diberi dukungan dan motivasi untuk bisa bersemangat sekolah lagi, sedangkan para pelaku diberi pendampingan psikologis untuk meminta maaf kepada korban, membimbing dan menyadarkan perilaku tersebut bukanlah perilaku yang baik dan dapat berakibat tindak pidana jika terulang lagi.  Di sesi ketiga, Ibu Elok Candra selaku bibi korban, menjelaskan jika kondisi korban saat ini mulai membaik dan mau sekolah lagi. Jika ditanya perihal apakah ingin pindah sekolah, ternyata korban tidak mau pindah sekolah dan tetap sekolah di sana, sebab banyak teman baik yang mendukung dan memberi semangat kepadanya, sehingga dia mau bersekolah lagi.  Di sesi pembicara terakhir yakni Mas Heri Susilo dari komunitas Peace Generation menjelaskan jika pelaku bullying sebenarnya diperlukan tindakan konsekuensi dan penguatan mental yang bagus agar pelaku mengetahui konsekuensi atau resiko yang didapat dari bullying, sehingga pembully mampu membatalkan rencananya untuk melakukan pembullyian. Bukan hanya itu, mas Heri juga mengajak masyarakat untuk menjadi pelopor perhentian bully dan mengawali semua tindakan dengan saling menghargai satu sama lain.  Acara yang berlangsung 4 jam ini ditutup dengan menulis surat kecil yang berisi harapan kepada Dinas Pendidikan Malang dalam mengatasi masalah perundungan agar Malang menjadi salah satu kota yang bebas dengan budaya bully. Ingin mengikuti pelatihan Manajemen Emosi Guru Merdeka Belajar?

Cara Menggambar dengan Fun Drawing

Ketika ada instruksi menggambar dalam waktu 60 detik, yang muncul di benak kita adalah cara menggambar gunung, sungai, matahari dan awan. Bukan menggambar objek lainnya. Kira-kira apa penyebab orang menyukai gambar gunung secara turun temurun? Semua itu dijelaskan dalam acara workshop komik literasi dan media pembelajaran yang diselenggarakan oleh komunitas guru belajar Malang bekerja sama dengan Vohasi Young Scientis SMKN 1 Singosari, Sabtu (23/2) di aula SMKN 1 Singosari.  Acara yang dihadiri kurang lebih 30 peserta ini terdiri dari guru dan siswa, baik dari SMKN 1 Singosari maupun sekolah luar ini menghadirkan trainer couple dari Tangerang, yakni Bapak Cahyo Al-Mansyur (Founder Rumah Asah Asih Asuh dan Fun Drawing Nusantara) dan istrinya Ibu Nurhasanah (Owner dan Psikolog Rumah Psikologi Hasanah serta Ketua PUSPAGA Tangerang).  Di sesi pertama, Ketua PUSPAGA Tangerang ini menjelaskan fungsi belahan otak kiri dan kanan, seringkali orang menggambar menggunakan otak kiri, sehingga menggambar terkesan terstruktur, mengingat contoh dan meniru, sehingga tidak heran jika gambar gunung menjadi gambar turun temurun karena sebagian orang menggambar dengan cara meingat-ingat contoh guru yang telah lakukan di masa sekolah dasar dulu. Butuh otak kanan dalam menggambar, sehingga menggambar menjadi hal yang paling menyenangkan, luwes, dan bebas Baca Juga: Menulis Praktik Baik Pembelajaran Di sesi selanjutnya, Bapak Cahyo mempraktekkan langsung cara menggambar dengan otak kanan menjadi hal yang menyenangkan, dengan cara menyuruh peserta menggambar suatu objek dengan menggunakan angka dan huruf. Hasilnya, rata-rata peserta sering menggunakan otak kirinya dalam menggambar, seperti disuruh menggambar melalui angka 2, hasilnya menjadi angsa, padahal angka 2 bisa menjadi benda lainnya. Founder Fun Drawing Nusantara ini kemudian mencontohkan menggambar dengan menggunakan otak kanan dengan berimajinasi sekreatif mungkin dan tanpa perlu menggunakan struktur menggambar secara formal, kemudian beliau mencontohkan menggambar jerapah menggunakan fun drawing melalui huruf J. dengan menarik ke atas menjadi leher dan kepala, kemudian bagian tengah menjadi tubuhnya. Sangat sederhana dan tanpa harus berpikir lama-lama dalam menggambar.   Setelah mempraktekkan menggambar dengan hal yang menyenangkan dan imajinatif, tahap berikutnya peserta diajak untuk membuat rancangan dasar pembuatan komik. Ada tiga tahap pembuatan komik.  Pertama, membuat story board, yakni menentukan tokoh disertasi dengan karakternya, setting (tempat, suasana, dan waktu) dan juga konflik. Kedua, tahap penerapan. Peserta disuruh membuat tiga kolom untuk mengaplikasi storyboard yang telah dibuat menjadi komik kasaran. Ketiga, melipat dua kertas dan membuat komik sesungguhnya dari rancangan yang telah disusun sebelumya.  Terakhir, di sesi penutupan Owner Rumah Psikologi Hasanah ini menjelaskan jika pengaruh menggambar dengan fun drawingitu menimbulkan reaksi yang bagus pada otak reptile manusia. Di dalam otak repril tersebut menimbulkan suatu hal yang membuat seseorang merasa senang, sehingga akan meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan inovatif.

Membuat Video Pembelajaran dengan Toontastic

Kami belajar membuat video pembelajaran dengan aplikasi toontastic dalam rangkaian pesta kemerdekaan digelar oleh Komunitas Guru Belajar (KGB) Malang. Digelar mulai tanggal 20 Agustus 2020 hingga 31 Agustus 2020 nanti, kegiatan virtual ini mengajak guru-guru untuk menyemarakkan HUT RI ke 75 dengan aneka pembelajaran kelas merdeka belajar. Kelas merdeka belajar diawali dengan sesi kelas, “Merdeka Belajar Dengan Aplikasi Toontastic”. Melalui kelas ini, guru-guru diajak untuk belajar membuat video animasi pembelajaran dengan aplikasi toontastic. Tak dapat dipungkiri, semakin berkembangnya era digital menuntut kemerdekaan guru belajar untuk terus mencari cara untuk menyesuaikan diri dengan teknologi dalam menjawab kebutuhan belajar siswa. Kelas yang dilaksanakan pada, Kamis (20/08/2020) ini dinarasumberi langsung oleh Guru Dany Prima dari KGB Malang. Hadir juga Guru Bagus Satria yang menjadi pemandu jalannya kelas. Adanya ide ini berawal dari kegelisahan Guru Dany dalam merancang media pembelajaran yang menarik bagi siswa. Beliau mencari beberapa software animasi  untuk membuat konten pengajaran Bahasa Inggris hingga akhirnya Guru Dany berhasil menggunakan aplikasi toontastic dan membuktikan bahwa membuat media ajar animasi tak harus memiliki keahlian khusus pembuatan animasi. Aplikasi toontastic adalah aplikasi pembuat video berbasis animasi yang dipopulerkan oleh Google. Melalui aplikasi ini, pengguna dapat membuat video dengan mudah. Mulai dari pemilihan latar/background, karakter animasi, hingga pengisian suara dan efek suara yang ingin dihasilkan. Guru Dani juga mengatakan kemudahan dari aplikasi Toontastic ini,”Aplikasi ini tersedia untuk platform android dan IOS. Kerennya lagi, aplikasi ini gratis dan bisa dipakai secara offline.” Katanya. Terkait penggunaannya, aplikasi ini cukup mudah untuk digunakan oleh siapapun. “Pertama kita masuk aplikasi. Lalu, klik tanda panah. Kita dapat memilih scene yang akan diambil. Short, Classic, atau Science Story. Setelah dipilih, kita dapat memilih latar background yang ingin digunakan. Setelah itu, kita akan memilih berbagai karakter yang dapat kita gunakan. Jika ingin membuat karakter sendiri, pilih create own dan bisa digambar sendiri karakter yang akan digunakan. Untuk menambahkan suara, klik start lalu kita dapat merekam dengan suara kita sendiri. Secara otomatis aplikasi ini akan merekam dengan sendirinya. Jika suara telah terekam, bapak ibu dapat memilih apakah akan menggunakan efek suara apa tidak. Jika ya, maka suara yang sudah direkam volumenya harus lebih besar dari efek suara yang ingin ditambahkan. Terakhir klik extract untuk mengunduh video animasi yang sudah dibuat.” Jelas Guru Dani sembari memberi penayangan video yang disebar melalui WAG kelas Merdeka Belajar ini. Agar peserta tak bingung, Guru Bagus memberikan penugasan kepada peserta kelas kemerdekaan ini. Peserta diajak untuk langsung praktik membuat video animasi yang berisi perkenalan singkat masing-masing. Dengan durasi video maksimal tiga menit, masing-masing peserta mengumpulkan penugasan langsung melalui WAG. Bermacam-macam kreasi dibuat oleh para Guru KGB Malang.Guru Herlina membuat video perkenalan dengan latar dongeng, Guru Sakroni membuat video animasi dengan latar background kapal bajak laut, dan masih banyak lagi. Keseruan kelas semakin nampak ketika Guru Dani memberikan evaluasi kepada masing-masing peserta. “Video bu Herlina menarik. Pemberian suaranya pas dengan mimik dari karakter animasi. Menggunakan animasi di aplikasi Toontastic ini sangat mudah. Jika ingin menggerak-gerakkan karakter, cukup dengan menggeser-geserkan saja. Lalu, untuk menggerak-gerakkan bibir saat merekam suara karakter cukup dengan klik dan tahan karakter yang dituju.”Ujar Guru Dani. Di akhir sesi, Guru Bagus memberikan link dari program #BantuKuatkanGuru. Melalui program yang digagas oleh KGB Nasional ini, KGB Malang turut mengajak setiap orang yang ikhlas untuk memberi donasi yang akan nantinya akan didistribusikan oleh KGB Nasional kepada guru-guru dan sekolah yang terdampak pandemi Covid-19. Tak dapat dipungkiri, keberadaan guru honorer maupun sekolah banyak yang terdampak finansial akibat adanya pandemi Covid-19 memerlukan dukungan dari segenap pihak.