Memahami Murid untuk Membangun Kesepakatan Kelas

Rameeee… Mudik KGB yang ke 13 ini diadakan di Warung Upnormal Lidah Wetan Surabaya pada tanggal 24 Juni 2019 jam 18.00. Tema Membangun Kesepakatan Kelas cukup menarik minat para pendidik yang ada di Surabaya. Hal ini terlihat dari tingkat partisipasi anggota KGB di mana ada 20 orang peserta yang hadir dalam kegiatan ini.  Mudik kali ini sangat beragam pesertanya. Ada Guru Pendamping Khusus yang mengajar di SMP negeri, guru BK. guru SD, guru SMP, guru SMK maupun aktivis pendidikan. Suasana terasa sangat heterogen dimana peserta bisa saling belajar dari masing-masing jenjang.  Acara dibuka oleh Ibu Shanti selaku moderator. Pertanyaan seperti : Apa itu kesepakatan kelas, bagaimana membuat kesepakatan kelas, apa perlunya kesepakatan kelas, menjadi topic yang menarik untuk dibicarakan. Topik ini dipandu oleh 2 narasumber yaitu Bu Amel dan Bu Ely yang membantu untuk menyampaikan praktik baik yang pernah dilakukan.  Sesi pertama diisi oleh Ibu Amalia Jiandra Tiasari dari Kampus Guru Cikal. Karena suasana di warung Upnormal cukup ramai, maka Ibu Amel membagi peserta secara berpasangan. Setelah itu masing-masing pasangan diharapkan dapat bercerita mengenai pandangannya tentang apa yang harusnya dilakukan saat memulai tahun ajaran baru bersama murid. Salah satu pasangan menceritakan pengalamannya saat menjadi murid dan mahamurid. Dosen ataupun guru tidak mengajak anak-anak untuk berdiskusi mengenai apa tujuan yang ingin dicapai atau membuat kesepakatan kelas. Bahkan muncul kalimat yang menarik “Tahun ajaran baru tapi kok ndak ada yang baru” Ketika waktu mempresentasikan sharingnya  telah habis, bu Amel mengambil kesimpulan bahwa  mengenal murid menjadi hal yang utama sebelum masuk ke agenda atau jadwal belajar yang disusun. Mengenal ini bukan hanya sekedar mengenal nama, melainkan juga mengenal minat murid supaya Guru bisa mencari sela-sela murid saat memulai hubungan di tahun ajaran tersebut. Setelah pengenalan karakter dan minat murid, baru kemudian dibuat kesepakatan kelas. Yang perlu diingat adalah kesepakatan ini dipatuhi oleh kedua belah pihak yaitu pihak sang guru maupun murid. Kegiatan selanjutnya adalah mencari games yang bisa dijadikan sebagai ice breaking untuk mengenal murid. Hasil diskusi peserta mudis mengenai games yang bisa dipakai untuk mengenal murid langsung dibagikan juga ke grup WA KGB Surabaya, sehingga guru yang tidak hadir bisa mendapat informasi dari kegiatan mudik kali ini. Sesi berikutnya diisi oleh Ibu Ely dari Sekolah Cikal Surabaya, Di sesi ini bu Ely membagikan pengalamannya membuat kesepakatan kelas bersama para murid. Bu Ely menjelaskan bahwa dalam membangun kesepakatan kelas, maka yang menjadi dasar pemikiran adalah dialog yang diarahkan pada kebutuhan murid sehingga murid tidak diabaikan dalam pembuatan kesepakatan itu. Bu Ely mengajarkan bahwa murid juga harus dapat memahami tujuan pembuatan kesepakatan kelas dan poin-poin kesepakatan. Murid diajak untuk berdiskusi kesepakatan macam apa saja yang hendak diterapkan dan menggali pemahaman mereka, mengapa kesepakatan itu dibuat, dan apa akibatnya apabila kesepakatan itu dilanggar. Dari pemahaman akan akibat pelanggaran, maka murid diharapkan dapat menjaga diri untuk berperilaku sesuai dengan kesepakatan di kelas. Bu Ely juga mengajarkan, walau mungkin kesepakatan yang dibuat dengan murid dirasa tidak efektif, namun bukan berarti harus dihentikan sama sekali, melainkan harus dievaluasi dalam pelaksanaannya. Evaluasi bisa dilakukan sebulan sekali, per-semester, atau bahkan seminggu sekali jika diperlukan. Kesepakatan kelas itu sendiri bersifat fleksibel,  bisa berkurang atau bertambah sesuai dengan kebutuhan dan tentu saja disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak.  Setelah bercerita mengenai praktik yang pernah dilakukan, bu Ely kemudian membagi menjadi 2 kelompok untuk mencoba membuat kesepakatan kelas. Para peserta tampak antusias dan bersedia untuk sharing mengenai contoh kesepakatan yang dibuat di kelas. Tak terasa diskusi yang sangat informatif ini berlangsung selama 3 jam. Ada banyak kesan dan pesan yang disampaikan oleh para peserta mudik. Bu Rida yang terpaksa absen beberapa kali dari kegiatan mudik KGB menyatakan bahwa mudik kali ini mengobati kangennya. Pak Gharud pun menimpali “mudik ini sangat menarik, apalagi karena banyak yang datang”. Pak Gharud berharap semoga makin banyak acara yang diadakan oleh KGB agar makin banyak ide untuk belajar dan berkembang bersama para murid. 

Kalau Guru Senang Main Game, Bagaimana Perasaan Muridnya?

Seruuu!!! Itu komentar yang tercetus dari para peserta Mudik KGB Surabaya edisi 11 kali ini. Temu Pendidik yang dilaksanakan pada 2 Desember 2018 di Loop Station ini diikuti oleh sekitar 26 guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Belajar Surabaya maupun dari luar KGB. Ketika para anggota KGB tahu bahwa tema mudik kali ini adalah Board game, banyak guru yang bersemangat untuk mendaftar. Banyak peserta yang ingin tahu, seperti apa sih board game itu? Bagaimana board game itu bisa diaplikasikan pada pembelajaran di kelas? Atau bahkan pertanyaan yang inspiratif seperti bagaimana / games apa yang bisa menarik perhatian anak-anak ketika lab komputer atau jam pelajaran Komputer tidak ada? Karena temanya adalah boardgame, maka narasumber mudik kali ini sangat istimewa yaitu Guru Adhi Wiryawan. Beliau adalah pencipta games LINIMASA, sebuah board game yang digunakan untuk belajar sejarah. Game LINIMASA ini telah dicobakan pada siswa kelas 5 SD dan hasil penelitian menunjukkan bahwa game ini mampu meningkatkan minat membaca siswa pada sejarah Indonesia. Kegiatan diawali dengan pertanyaan pemantik yaitu kenapa sih harus bermain? Guru Adhi menjelaskan bahwa dengan bermain kita bisa belajar banyak hal. Contoh sederhana adalah ketika kita bermain sembunyi-sembunyian. Dalam permainan itu kita bisa merangsang indera kita, mengatur taktik atau strategi, melatih visual kita, belajar untuk memahami aturan permainan, dan disiplin diri. Ketika kita bermain, hormon kitapun terlibat yaitu hormon dopamine atau hormon yang berhubungan dengan kesenangan sehingga dapat merangsang kita untuk eksplorasi terhadap permainan. Bermain juga dapat menjadi jembatan untuk memfasilitasi berbagai gaya belajar di kelas. Guru yang kadang cenderung visual harus berhadapan dengan gaya belajar siswa yang auditory atau malah kinestetik. Dalam 21st century learning outcome, anak diharapkan punya pemikiran kritis, mampu berkolaborasi, mampu beradaptasi, memiliki kelincahan (agility), punya inisiatif dan efektif dalam berkomunikasi secara lisan ataupun tertulis. Kemampuan ini dapat dipelajari melalui bermain.   Game LINIMASA adalah game yang baru dikembangkan ini berisi berbagai tokoh dan peristiwa sejarah. Salah satu cara dalam bermain adalah dengan mengurutkan peristiwa sejarah dari gambar yang ada.   Pemaparan dari Guru Adhi memantik diskusi yang seru. Guru Hariadi sebagai salah satu peserta mudik bertanya bagaimana caranya memadukan boardgame dengan mata pelajaran di level SMP? Guru Adhi kemudian menjelaskan bahwa sebelum menemukan game yang akan dipakai, maka guru harus melihat tujuan pencapaian pembelajarannya dulu. Setelah tahu tujuan pembelajarannya, maka game bisa dicari, baik dengan cara membuat sendiri dari sesuatu yang baru ataupun modifikasi dari permainan yang sudah ada. Melihat banyak peserta yang tampak antusias untuk menggunakan game sebagai salah satu model belajar, Guru Adhi menyarankan guru untuk bekerja sama dengan game designer sehingga bisa menciptakan game yang dapat dimainkan di kelas . Guru Adhi juga memberikan tips membuat game dengan sederhana yaitu belajar secara otodidak (belajar tentang games design) dan guru harus banyak bermain juga supaya punya referensi permainan yang mungkin bisa digunakan di kelas. Dari kegiatan yang seru ini, ternyata ada juga guru seru yang sudah mengaplikasikan boardgame sebagai project siswa. Guru Ratih dari level SMU mengajak para muridnya yang berada di kelas 12 untuk menciptakan boardgame sebagai tugas belajar mereka. Mereka harus melalui proses yang tidak mudah karena harus direvisi berkali-kali. Namun walau prosesnya tidak mudah, tetapi mereka tidak menyerah. Kini boardgame hasil dari anak-anak telah dapat dimainkan di kelas mereka. Puncak dari kegiatan ini adalah saat guru mencoba ikut bermain game LINIMASA. Para peserta yang mayoritas adalah guru, harus mampu menebak urutan peristiwa sejarah kemerdekaan Indonesia. Suasana sangat riuh dan seru saat permainan mulai dijalankan. Guru Herlina berkata “Gamenya seru dan bikin gak takut salah, karena ini kan permainan”. Guru Fifi ikut menimpali “Gamenya jadi bikin pengen baca lagi buku sejarah”. Kalau guru saja senang main game maka bisa dibayangkan bagaimana perasaan muridnya. Salah satu refleksi dari kegiatan ini adalah bahwa bermain tidak hanya untuk senang-senang tapi dapat juga diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran. Dari aktivitas ini peserta juga makin tertantang untuk lebih berani berkreasi dalam pendidikan dan mampu menyimpulkan bahwa guru bukan menjadi pekerjaan yang monoton jika kita mampu lebih kreatif dalam mengajar. Jadi, apa game kita di kelas hari ini?