Membahas Merdeka Belajar di Masa Pandemi

Perlukah membahas Merdeka Belajar di masa pandemi?Mengapa harus merdeka belajar dan harus memahami konsep tersebut? Apakah merdeka belajar hanya sekedar trend yang digaungkan?Apakah guru sudah memahami arti dari merdeka belajar sebelum menerapkan merdeka belajar itu sendiriApakah merdeka belajar lantas membuat guru terbebas dari tugasnya sebagai seorang pendidik? dan memberikan kebebasan sepenuhnya kepada siswa untuk belajar tentang apa saja yang mereka sukai dan mereka inginkan? Untuk menjawab pertanyaan dan menuntaskan rasa penasaran tersebut, Komunitas Guru Belajar Wajo berinisiasi melaksanakan Temu Pendidik Daerah. Namun karena nobar guru merdeka belajar dilaksanakan di masa pandemi, maka dilakukan melalui aplikasi Zoom Meeting. Nonton bareng melalui aplikasi Zoom Meeting ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 17 Agustus 2020 pukul 13.30 WITA. Yang bertindak sebagai host Besse Tenriola yang merupakan anggota KGB Wajo dan bertugas di SMP Negeri 1 Majauleng. Kemudian yang bertindak sebagai moderator adalah Lewa, M.Pd. yang merupakan anggota KGB Wajo yang bertugas di SMP Negeri 2 Majauleng. 30 menit sebelum acara dimulai host memulai untuk mengaktifkan room yang sudah dibua sebelum hari pelaksannan nobar. Tepat pukul 13.00 WITA, host memulai kegiatan dengan menjelaskan kepada peserta tentang aturan/tata tertib selama pelaksanaan berlangsung. Setelah itu dilanjutkan oleh moderator. Jumlah peserta yang bergabung diantaranya penggerak KGB Wajo, guru SMPN 1 Majauleng, Guru SMPN 3 Majauleng, Guru SMP Kec. Tanasitolo, Guru SMP Kab. Jeneponto, dan guru SD kabupaten Bulukumba. Acara  nobar dimulai dengan disapanya peserta oleh moderator, kemudian menyilahkan peserta untuk mengisi daftar hadir yang telah disematkan oleh host di kolom chat.kemudian selanjutnya moderator memberikan kesempatan kepada Ibu Sitti Rahmah untuk memberikan pengantar sebelum masuk ke inti acara. Dalam pengantarnya, Ibu Rahmah memperkenalkan tentang KGB Wajo dari awal terbentuknya sampai sekarang ini aktif menyelenggarakan kegiatan-kegiatan seperti ini. Ibu Rahmah juga menyampaikan harapan agar dengan diselenggarakannya acara ini guru bias lebih memahami konsep merdeka belajar dan meminimalisir adanya miskonsepsi tentang merdeka belajar itu sendiri. Setelah memberikan pengantar, moderator melanjutkan dengan pemutaran video. Dalam video tersebut yang menjadi pembicara adalah Ibu Najelaa Shihab, beliau adalah seorang pakar pendidikan sosok dibalik terbentuknya Komunitas Guru Belajar dan Merdeka Belajar. Dalam video tersebut Ibu Najelaa yang akrab disapa Bu Ela mengatakan bahwa salah satu tantangan utama guru sekarang ini adalah membedakan antara cara dan tujuan. Banyak murid maupun guru yang masuk kelas tanpa tujuan dan kejelasan. Tak heran saat ditanya bagaimana kelas hari ini, atau apa yang dipelajari hari ini, jawaban langganan adalah biasa saja atau tidak tahu. Kemudian lanjutnya pendidik yang merdeka adalah yang memiliki komitmen, mandiri, dan refleksi.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Komitmen seseorang yang merdeka belajar adalah ketekunannya dalam perjalanan menuju tujuan yang bermakna bagi diri sendiri. Ada beberapa pertanyaan yang langsung terbersit begitu mendengar definisi ini, terutama bagi kita yang jarang mempertanyakan tujuan, dan sekadar ikut saja dalam perjalanan. Proses yang memerdekakan terus menekankan pada kekuatan internal; setiap anak bisa memperbaiki kesalahan asal dijelaskan langkah menuju tujuan dan disiapkan bekal dalam perjalanan. Di sinilah fungsi guru yang sesungguhnya, memindahkan kompas dari tangannya ke tangan anak. Dalam proses yang ideal, tidak seharusnya ada murid yang ketergantungan pada guru, murid yang menyalahkan nasib atau mengandalkan kecurangan. Komitmen berarti bertanggung jawab, dan sebagaimana namanya hal ini tidak mungkin terjadi instan. Untuk bisa menumbuhkan komitmen yang berkelanjutan, murid membutuhkan kemampuan memahami tujuan belajar dan peran guru dalam mengajar. Banyak dari kita yang masuk kelas, tanpa memberikan gambaran tujuan dan rute perjalanan kita pada murid, seberapa jauh mereka akan ikut serta dan kapan mereka akan mandiri. Apakah kita menggunakan kegiatan dan melakukan interaksi yang membantu mencapai tujuan adalah bagian dari percakapan harian. Tentu jawabannya tidak akan 100% sempurna, tapi terus membahasnya atau mengingatnya dengan menempel tujuan besar dan tujuan antara di mading kelas, akan membantu semua orang berkomitmen bersama. Memberikan dan memahami instruksi bukan sekadar soal 2-3 poin di lembar kerja di setiap jam pelajaran, dalam belajar-mengajar instruksi demi instruksi adalah alat mencapai tujuan yang bukan sekedar menyelesaikan tugas atau mengikuti apa yang disuruh guru. Untuk bisa menumbuhkan komitmen berkelanjutan, murid membutuhkan kemampuan memusatkan perhatian, berkaitan dengan pencapaian tujuan harian maupun jangka panjang.  Selanjutnya menurut Bu Ela mandiri adalah proses yang kita gerakkan. Mandiri dalam arti sesungguhnya adalah memegang kendali. Dalam percakapan dengan guru belajar dari Sukabumi, saya terhenyak oleh masih banyaknya praktek manipulasi yang terjadi saat berbicara tentang pengembangan guru; uang, kepentingan dan jabatan – mengotori semangat belajar. Tingkat pelibatan publik di Indonesia sebetulnya cukup tinggi, secara umum data menunjukkan tingkat keterlibatan di negara berkembang memang lebih baik dibanding negara maju. Namun, saat kita melihat tahapan pelibatan publik, lebih banyak guru yang kemudian berhenti sampai di tingkat konsultasi atau kemitraan, belum sampai ke tingkat berdaya dan mengendalikan. Padahal perubahan nyata membutuhkan tingkat keterlibatan tertinggi. Kemampuan refleksi merupakan salah satu hal penting bagi seorang guru merdeka belajar.  Refleksi ini mudah dikatakan, namun sulit dilakukan. Sebagian dari kita menolak membuka mata dan melihat cermin, dengan seratus alasan, masyarakat belum siap, orangtua tidak mendukung, murid tidak paham, dan seterusnya. Transparansi dan akuntabilitas pendidik disederhanakan sampai kehilangan maknanya sekedar skor dan mengisi form. Refleksi selesai dengan selesainya tugas administrasi, tanpa percakapan yang bermakna dan mendorong kita untuk berubah.. sejatinya refleksi dilakukan untuk mendapatkan sesuatu yang bermakna yang akan memberikan semangat dan dasar perubahan ke yang lebih baik lagi. Yang menjadi penghambat pendidikan di Indonesia adalah terjadinya miskonsepsi yang mengungkung guru dalam pengembangan mengembangkan diri. Miskonsepsi yang dinyatakan oleh Bu Ela diantaranya : Miskonsepsi 1 : Guru hanya akan belajar bila ada insentif, janji sertifikat, atau penghargaan Miskonsepsi 2 : Guru hanya bisa belajar dari pakar dan ahli. Miskonsepsi 3 : Guru hanya perlu mengikuti resep standar “how to” bagaimana melakukan sesuatu.  Miskonsepsi 4 : Pengembangan guru bisa dilakukan instan, dipaksakan dengan target terburu-buru. Miskonsepsi 5 : Kompetensi guru adalah soal kemampuan dan pengukuran individu. Guru juga perlu figur yang realistis bukan yang ahli. Belajar dengan tujuan  dalam konteks, guru yang profesional adalah guru yang adaptif yang tahu apa yang dibutuhkan siswa. Guru belajar butuh waktu untuk belajar inovasi, kompetensi dan tumbuh bersama lingkungan. Guru yang merdeka belajar adalah kunci, bukan hanya pernyataan bahwa guru adalah kunci. Untuk melawan dan menaklukkan miskonsepsi tersebut Komunitas Guru … Read more