Kenapa Guru Harus Melek Film?

“Wah parah ini film tidak mendidik!” “Hati-hati ya para guru, film ini tidak cocok ditonton anak-anak” Sering mendengar perkataan ini? Atau bahkan petisi? Sebenarnya yang salah filmnya atau jangan-jangan kita yang belum melek film? Nah lho…. Film selalu menjadi media belajar yang menarik bagi murid, Baik itu dari jenjang kelas paling kecil PAUD sampai tingkat SMA. Saya teringat ketika dulu waktu masih sekolah, ketika SMP saya selalu antusias ketika ada kegiatan menonton film. Sekalipun ada tugas mencatat kosata yang terdapat di dialog semua terasa menyenangkan. Banyak alasan yang membuat film menjadi media belajar yang menarik. Dalam film ada gambar dan suara sehingga cenderung lebih atraktif bahkan terkadang anak-anak bisa hanyut dalam alur ceritanya. Namun yang perlu disadari terkadang guru belum menggunakan film dengan baik dan maksimal. Waktu dulu saya mengajar, terkadang guru-guru membuat kegiatan menonton film yang tidak sesuai dengan anak. Misalnya film yang berbahasa Inggris dengan durasi panjang untuk kelas 1 SD, sedangkan anak-anak belum paham bahasa Inggris sehingga anak-anak sibuk bermain sendiri. Guru juga cenderung kebingungan membuat kegiatan setelah menonton film. Sedikit fenomena yang terjadi, membuat Sinedu bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal mengadakan Guru Melek Film. Apa itu Guru Melek Film? Guru Melek Film merupakan program pemberdayaan guru untuk menjadi penggerak literasi film di daerahnya. Kegiatan berupa pelatihan dalam rangka peningkatan kompetensi dan pengalaman memanfaatkan film sebagai media belajar yang menarik dan bermanfaat serta mampu menciptakan interaksi dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Tanggal 27 April 2019 lalu, Sinedu dan Kampus Guru Cikal mengadakan pelatihan Guru Melek Film di Pekalongan. Pernah nggak nonton film yang sebenarnya untuk umur 17+ tapi ada orang tua yang membawa anak di bioskop beberapa menit kemudian orang tua tersebut keluar dari bioskop? Pengalaman tersebut sama persis dengan yang dirasakan salah satu peserta, Pak Ahyat “Dulu saya punya pengalaman nonton sama anak saya. Kapok. Karena nggak sesuai ternyata untuk anak-anak. Sebaiknya memang menonton filmnya terlebih dahulu, sebelum menonton bersama anak-anak”  ujar beliau ketika sesi cerita pengalaman menonton film. Ada tips dari Sinedu “Bagaimana agar sebagai orang dewasa tidak salah pilih film?” Baca dulu sinopsi film Lihat dulu batasan umur filmnya Lalu, Bagaimana penggunaan film untuk pembelajaran? Seperti saat mengajak anak menonton film di bioskop, begitu pula untuk pembelajaran. Guru perlu memilih film yang tepat. Bagaimana caranya?    Memilih Film Yang Tepat Identifikasi kebutuhan pembelajaran, siswa dan guru. Cari referensi film di www.sinedu.id atau website lain. Pilih film sesuai dengan rating usia dan genre yang tepat. Tonton film dan buat catatan hal-hal menarik sepanjang film. Menurut beberapa peserta mengaku bahwa sering kali film yang dipakai tidak ditonton dulu atau terkadang asal pilih karena piihan terbatas.   Karena itu Guru harus Melek Film! Dengan guru yang melek film, guru menjadi pemikir yang kritis. Guru memiliki kemampuan evaluasi dan memahami, Di akhir sesi, peserta diajak menonton film yang ada dalam daftar website Sinedu. Setelah itu, peserta secara berkelompok membuat pembelajaran dengan menjadikan film sebagai media pembelajaran. Salah satu peserta melakukan simulasi pengajaran, setelah menonton film murid-murid diajak untuk melakukan aktivitas yang sama seperti yang ada di film. Menurut salah satu peserta mengaku bahwa sekarang menjadi lebih terbuka tentang pemanfaatan film sebagai media pembelajaran. Tidak hanya menonton lalu tanya jawab seputar film, tetapi bisa dihubungkan dengan pembelajaran lain, Misal olahraga atau bermain drama. Selain itu juga bisa dengan media atraktif seperti bermain dadu. Salah satu peserta dari KGB Pekalongan Pak Wahyu berinisiatif untuk membuat boardgames film. Guru, Belum Melek Film? Yuk ikutan Guru Melek Film yang akan diadakan di kota-kota lain. Tunggu pengumuman di Instagram Kampus Guru Cikal @KampusGuruCikal  

Perubahan Pendidikan, Mulai Darimana? : Kisah dari Nusa Tenggara Barat

Ketika sehari-hari kita masih sering melihat orang-orang yang tidak taat lalu lintas atau menyerobot ketika mengantri, apakah kita bisa menyimpulkan ini sebuah kegagalan pendidikan? Atau ketika peringkat PISA Indonesia masih jauh dari negara-negara lain, apakah itu pertanda kualitas pendidikan kita masih jauh dibanding negara lain? Lalu, siapa yang harus pertanggung jawab? Bagaimana memulai perubahan? Mulai dari kebijakan pemerintah harus diubah….. Yang bertanggung jawab pemerintah dong……. Setuju dengan pernyataan itu? Kisah Nusa Tenggara Barat Belakangan ini ada kabar bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi di Nusa Tenggara Barat menempati peringkat ke-29 dari 34 provinsi di Indonesia tahun 2017.  Apa reaksi pemerintah dengan kabar tersebut? Bayangkan, anak anda dateng dateng ngabarin kalau dia dapat peringkat 3 terbawah di kelas. Kalau saya sih, biasa aja (lah kok?). Tapi kebanyakan tidak seperti itu sih reaksinya.  Saya ingat waktu dulu ada teman saya yang dapat peringkat terakhir di kelas. Dia dicibir teman-teman. Saya masih ingat sekali wajahnya, sedih merunduk malu. Besoknya saya dapat kabar dia pindah sekolah. Sangat disayangkan ya? Bagaimana peringkat dipandang harga mati keberhasilan seseorang.  Lalu bagaimana jika ini peringkat IPM sebuah provinsi?  Mendengar hal tersebut tidak membuat pemerintah Nusa Tenggara Barat merasa berkecil hati, mereka memilih berdaya dengan mengajak berkolaborasi dengan Kampus Guru Cikal, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), dan  Keluarga  Kita dengan membuat Program Peningkatan PAUD Berkualitas. Seperti yang selalu Kampus Guru Cikal percaya, kekuatan pendidikan ada pada Guru Berdaya.  Dengan Pemerintah yang berdaya, kitapun bisa mengajak guru-guru dan masyarakat juga berdaya. Program Peningkatan PAUD Berkualitas ini fokus mengembangkan 50 PAUD berkualitas di desa Prioritas Penanganan Penanggulangan Kemiskinan (P3K) di NTB  melalui peningkatan kualitas guru dan orang tua. Penandatangan Nota Kesepahaman Pengembangan PAUD Berkualitas NTB antara PKK Prov. NTB dengan Kampus Guru Cikal Mengapa harus berkolaborasi? Kenapa tidak mengubah kebijakan saja? Mengapa tidak memperbaiki kualitas guru saja? Kenapa juga melibatkan orang tua? Tak Sendiri, Kolaborasi Dalam pidatonya Bu  Sitti Rohmi Djalilah (Wakil Gubernur NTB), menyatakan pentingnya kolaborasi. Bahwa dalam upaya perubahan pendidikan perlu berkerjasama dengan semua elemen dalam masyarakat. Setali tiga uang, begitu yang selalu ditekankan oleh Bu Najelaa Shihab (penggagas Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan, Kampus Guru Cikal dan Keluarga Kita) bahwa pentingnya kolaborasi. Beliau menambahkan ketika bicara tentang Pendidikan Anak Usia Dini, pentingnya peran keluarga  terutama peran orang tua yang menCINTAi lebih baik. Orang tua yang selalu ingat cita-cita yang tinggi untuk anaknya dan menerima tanpa drama.  Bu Elaa (panggilan akrab Bu Najelaa Shihab) juga menjelaskan guru belajar adalah kunci perubahan pendidikan. Guru yang punya cita-cita, punya kemerdekaan dan yang berkolaborasi. Bu Najelaa Shihab berdiskusi dengan peserta Kampus Guru Cikal percaya bahwa kita tidak bisa berjuang sendirian. Kami percaya pada pentingnya kolaborasi. Dari kepercayaan tersebut dalam Program Peningkatan PAUD Berkualitas ini juga melibatkan masyarakat umum dengan memilih mentor-mentor  yang mewakili tiap daerah yang nantinya akan membantu intervensi dalam meningkatkan PAUD di setiap daerah.  Dari pelamar 230 orang, dipilih 34 orang yang diseleksi dengan wawancara dan  Focus Group Discussion (FGD), kemudian terpilihlah 7 orang  Mentor.  Sebelum mentor-mentor tersebut terjun di lapangan, mereka dibekali dengan pelatihan yang diadakan oleh Kampus Guru Cikal, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), dan Keluarga Kita. Dua hari mentor-mentor belajar berbagai macam; Komunikasi Efektif, Salah Kaprah Guru Belajar, Coaching.  Mentor-mentor antusias sekali ketika berdiskusi bersama, mereka ikut bercerita bagaimana kondisi pendidikan di lingkungan mereka dan apa yang sudah mereka lakukan selama ini. Tua, Muda, Sama Ketika bicara tentang gerakan perubahan banyak yang berpendapat “Susahlah kalau ngajak yang tua tua. Pemikirannya kolot” atau “Anak muda jaman sekarang suka mikirin diri sendiri aja. Beda sama kita dulu waktu muda”. Hal tersebut yang tidak terlihat dari para mentor. Mentor-mentor ini berasal dari berbagai daerah, ada yang asli NTB ada yang pendatang, ada yang umur 20-an ada yang sudah punya anak ABG (Anak Baru Gede), ada yang masih bujang ada yang sudah berkeluarga. Ketika berdiskusi tentang “Apa Faktor Pendukung dan Penghambat Guru Belajar” para mentor saling bertukar pendapat dan cerita baik dari sisi guru, orang tua, pengalamannya sebagai Assessor, pengalamannya sebagai penggiat literasi. Tak ada yang merasa lebih tahu, semua mencari tahu. Kebanyakan mentor adalah orang-orang yang sudah lama terjun di dunia Pendidikan. Bu Jessica, seorang mahasiswa S2 PAUD yang aktif membuat gerakan dongeng dan membuat PAUD di daerah Mataram, Bu Wiwin guru PAUD yang aktif mencari tahu solusi  pembelajaran di kelas, Bu Atul seorang assessor dan mendirikan sekolah karena prihatin dengan kondisi pendidikan di sekitar. Sebelum ada program ini, mereka memulai langkah mereka sendiri, tidak menunggu yang lain, berbuat apa yang mereka bisa. Tua muda sama, karena pembedanya bukan usia tapi semangat berdaya.  Foto bersama PKK, mentor-mentor, perwakilan Kampus Guru Cikal, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) dan Keluarga Kita Kisah Bu Mar, PAUD yang tidak punya bangunan sendiri bisa bertahan Tentang Tua Muda, ada kisah menarik ketika perwakilan Kampus Guru Cikal, PSPK, Keluarga Kita, para Mentor dan Bu Elaa berkunjung ke sebuah sekolah di Mataram. Kami bertemu seorang kepala sekolah, namanya Bu Mar. Bu Mar menceritakan bagaimana sekolahnya yang dulunya hanya sepetak sekarang ada beberapa kelas dan sudah ada tempat bermain. Beliau menceritakan bagaimana dalam perjalanannya  mengembangkan sekolah tersebut selalu dipertemukan dengan orang-orang baik. Beliau menuturkan kepada kami bahwa jika niat kita baik maka Tuhan akan selalu memudahkan jalan kita. “Niatnya saya ngobrol ngobrol aja, cerita tentang sekolah. Kok tahu tahu ada yang menawarkan mau bantu bangun sekolah, Saya bersyukur sekali”, begitu ujar Bu Mar. Beliau juga menceritakan bagaimana kegiatan murid-murid di sekolahnya, tidak perlu pembelajaran yang mahal, beliau lebih sering mengajak anak-anak bermain di Sawah. Karena menurut beliau kita bisa membuat pembelajaran dengan media yang ada di sekitar atau memanfaatkan lingkungan sekitar. Dari Kisah Bu Mar, dimana ada keinginan tulus dan kuat selalu ada solusi. Tidak menyalahkan, menghakimi pihak tertentu, Merdeka dan Berdaya.    Dari Kisah Nusa Tenggara Barat, kita belajar bahwa menyalahkan salah satu pihak tidak akan membuat masalah tersebut selesai. Mulai dari diri sendiri, memilih merdeka, berdaya. Jangan merasa sendiri, kolaborasi. Tua Muda bersama-sama. Menuju Perubahan. Mari kita mulai perubahan, dari diri sendiri.  Lihat sekitar, apa yang bisa kita lakukan. Mau ikut menuju perubahan?

Naik Angkot ke Ujung Kulon?

“Mbak, akhirnya pulang ya?” “Iya mbak. Tapi ini mau berangkat lagi” “Mau berangkat lagi kapan mbak?” “Ini nanti jam 2” Begitu percakapan saya dengan mbak Sharah, mbak yang biasa menjaga kos.  Iya, jam 13.30 baru sampai kos setelah perjalanan dari Lombok jam 14.00 sudah harus berangkat ke stasiun Rawa Buntu janjian dengan temen-temen KGC lain. Mau kemana? Ujung Kulon!  Nggak capek? Anehnya saya nggak capek, cuma laper aja.  Jadi setelah sampai stasiun langsung buru-buru beli Roti Maryam Salman.  Penyelamat perut paling bisa diandalkan ketika kelaperan di stasiun. Teman-teman KGC lain sudah lengkap menunggu di peron kearah Rangkas Bitung.  Mahayu dengan buku dari pengarang favoritnya, Pak Bukik sedang asyik live facebook, Pak Baja dan Mas Rizky seperti biasa bersenda gurau khas mereka, sedangkan Maman sebagai kordinator studi tour Honje ((studi tour hahaha)) beberapa kali terlihat membuka hape untuk melihat alternatif transport menuju Honje.  Nah loh mau udah berangkat kok baru lihat alternatif transport? Nekat emang ya… anehnya saya kok mau maunya ikut nekat. Mau cerita sedikit, saya baru bergabung di KGC sekitar bulan Agustus lalu. Dan ini adalah pekerjaan pertama saya selain guru selama saya bekerja.  Saya suka berinteraksi dengan anak-anak dan menikmati proses belajar bersama anak-anak.  Lalu kenapa akhirnya bergabung di KGC?  Entah. Ini seperti Moana yang mengikuti suara hatinya.  Sayapun seperti itu. Walaupun saya tahu saya tidak punya pengalaman dan saya pasti akan harus mendorong lebih diri saya untuk menyesuaikan diri. Dan memang itu yang saya rasakan selama beberapa bulan ini. Rasanya diawal tiga bulan rasanya seperti tiga tahun. Tidak jarang saya seperti memaksa diri saya berlari. Berlari Banyak yang bilang ke saya kalau tipe orang-orang di Jakarta itu ritme kerjanya cepat. Bahasa jawanya “tak tek”. Setelah disini beberapa bulan saja saya yang susah membuat keputusan mulai belajar lebih cepat dalam mengambil keputusan.  Contoh sederhananya mau naik apa kalau harus ke suatu tempat di Jakarta. Mana yang lebih murah dan cepat.  Dan itu proses yang kami lakukan juga saat perjalanan menuju Honje. Bagaimana caranya ke Honje dengan budget yang ada dan bisa selamat sampai tujuan? Begitu turun dari stasiun Rangkasbitung kami berjalan kearah sumber transport umum di sekitar. “Eh ada pickup. Mau naik ini nggak?” begitu Pak Bukik menawarkan ke kita.  Sebenernya kita semua tipe yang asik asik aja naik apa saja tapi sayangnya pickup tersebut tidak disewakan.  Pilihan yang lain adalah angkot. Awalnya kita berniat naik angkot sampai Terminal saja lalu lanjut naik Damri, tetapi karena ternyata karena tidak ada Damri akhirnya kita coba merayu bapak supir mengantar kita sampai Honje. Dimana ada proses tawar menawar disitu Mahayu beraksi. Sudah tentu Mahayu pakarnya dibantu rayuan Pak Bukik dan muka-muka memelas kita. Ya, kita tidak berlari otak kita yang berlari dalam mengambil keputusan. Salah memilih bisa bisa jalan kaki di tengah hutan malam-malam.  Berjalan Whuah! Bagaimana rasanya bangun pagi denger suara ombak? Seneng banget! Saya pada dasarnya suka air; air kolam, air kamar mandi, air kolam ikan, air sungai, air danau, air es degan. Apalagi air laut. Bawaan pengen deket-deket aja. Selesai senam dan lari pagi kami dapat tugas untuk mencari foto “Apa perubahan positif yang dirasakan akhir-akhir ini?” dan “Apa harapan kedepannya?”    Kami mulai berjalan menyusuri  Honje, mulai dari pinggiran pantai hingga semak-semak. Saya mulai berhenti di beberapa titik yang saya rasa sesuai dengan apa yang saya rasakan. Saya suka sekali menulis. Entah kenapa saya seperti tidak menemukan diri saya setahun lalu. Otak saya dipenuhi rasa cemas “kalau saya nulis gini gimana ya kalau dibaca orang?”. Seperti yuyu keluar dari lubang tanah, sejak saya di Kampus Guru Cikal saya kembali menemukan diri saya.  Amel yang pikirannya kemana-mana. Hahaha.. dan berani untuk menuangkannya di tulisan. Goal dalam waktu dekat saya ingin membuat blog baru khusus membahas pendidikan dan tetap menulis cerita pendek di blog lama. Seketika waktu bagian Honje berjalan lebih lambat. Semua pikiran jadi lebih jernih.  Padahal sebenarnya ada banyak tugas yang menanti tapi kami memilih untuk ambil jeda, menikmati alam, saling mengenal satu sama lain, refleksi diri. Seperti kaki kanan dan kiri kami yang berjalan beriringan. Satu titik saya merasa penting memiliki ekosistem yang mendukung proses belajarmu. Sama-sama berani salah dan berani memperbaiki. Berjalan bersama. Tidak sendiri Sebenarnya  sehari-hari  kami sering bercakap-cakap membicarakan banyak hal, mulai dari musik kesukaan,  selera lidah asin atau manis, hobi, passion sampai ke kehidupan percintaan masing-masing. Tetapi dari sudut saya, saya tidak benar-benar tahu mereka secara keseluruhan. Sampai akhirnya….. kami main Truth or Truth hahaha.. karena nggak ada yang milih Dare. Mending kebongkar semua daripada harus beranjak dari tempat duduk.  Dari permainan sesi Truth or Truth keterampilan bertanya  kami diuji.  Semakin tajam semakin bagus. Semakin membuat yang ditanya berkeringat atau nampakkan gelagat cemas semakin bagus. Kemudian suasana menjadi  hangat. Kami semakin memahami satu sama lain. Memahami rahasia-rahasia satu sama lain maksudnya. Hahaha.. Mungkin kami pernah resah dengan kondisi dan masing-masing melakukan apa yang bisa kita lakukan . Ada yang sering membuat diskusi dan membuat gagasan, ada yang melibatkan murid di kelas hingga menginspirasi orang lain, ada yang memasukkan passionnya game ketika mengajar, ada yang suka membuat video sekaligus seorang bapak yang berusaha untuk menerapkan Disiplin Positif pada anaknya, ada akuntan yang resah dengan pendidikan dan memilih terjun langsung di dunia pendidikan. Sekarang kami bersama. Tidak lagi sendiri. Refleksi Yang saya suka dengan lingkungan bekerja yang sekarang kami selalu diajak refleksi. Dan itu yang kami juga lakukan selama di Honje. Kami mengevaluasi diri apakah cara bekerja kami sudah sesuai  5M; Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Membangun Keberlanjutan, Memilih Tantangan dan Memberdayakan Konteks. Apa yang sudah sesuai dan apa yang masih belum sesuai. Kami juga saling memberi masukkan.  Di hari terakhir kami juga membantu atasan kami untuk refleksi.  Kami diminta untuk menggambar sebuah benda yang menggambarkan Pak Bukik, kemudian Pak Bukik menebak kira-kira apa yang dimaksud oleh yang menggambar. Saya rasa jarang ada atasan yang mau dengan terbuka menerima masukkan dari rekan kerja. Saya teringat sebuah kutipan, “Don’t pick a job. Pick a Boss. Your first boss is the biggest factor in your career success. A boss who doesn’t  trust you won’t give you opportunities to grow”  – William Raduchel. Dulu saya memiliki … Read more

Purwokerto, Bicara tentang Pendidikan Seksualitas

Mendobrak Hal Tabu “Kalau kita bicara tentang  Seksualitas  apa yang ada dibenak kita?”, begitu tanya Bu Vitri membuka pelatihan di SMP Permata Hati di Purwokerto. Kebayang nggak sih, Purwokerto bicara tentang Pendidikan Seksualitas? Bahkan di kota besar saja bicara tentang Seksualitas adalah hal yang tabu. Banyak salah kaprah tentang Seksualitas, Seksualitas seringkali dikaitkan dengan hubungan Laki-Laki dan Perempuan.  Sehingga seringkali orang tua tidak membahas seksualitas dengan alasan “Anak Kecil tidak perlu tahu tentang seks. Nanti malah coba-coba, lho” “Malu ngomongin seks sama anak.  Memangnya dia akan mengerti?” Atau “Pendidikan seksualitas diajarkan di sekolah,  bukan tugas orangtua” Padahal  “Seks itu alamiah, tapi perilaku seks yang bertanggungjawab adalah hasil PROSES belajar secara EKSPLISIT” begitu bu Vitri dan bu Sishi membuka pikiran guru dan wali murid yang datang ke pelatihan hari itu.  Semangat Belajar Seksualitas Hawa semangat belajar  terasa di ruangan kelas yang sederhana tetapi hangat hari itu, semua guru dan wali murid semangat berproses dan belajar bersama. Diantara banyak ibu-ibu datang, ada dua bapak wali murid yang semangat  mengikuti pelatihan dari awal sampai akhir. Beliau bercerita kesulitan beliau saat mendampingi anak perempuannya yang telah menstruasi.  Bisa dibayangkan seorang bapak bersama putrinya datang ke pelatihan Pendidikan Seksualitas,  tidak malu belajar dan menceritakan masalahnya untuk mencari solusi bersama. Purwokerto membuktikan bahwa semangat belajar tidak terbatas faktor umur, gender bahkan dari mana kita tinggal. Pendidikan Seksualitas untuk Anak Berkebutuhan Khusus, memang bisa? Sesuai namanya Permata Hati, SMP Permata Hati memiliki “Permata” yang sehari-hari ikut belajar bersama di kelas, mereka adalah Anak Berkebutuhan Khusus.  Sehingga, pelatihan Pendidikan Seksualitas  yang diadakan di Purwokerto lebih memfokuskan pada Pendidikan Seksualitas untuk Anak Berkebutuhan Khusus. Jadi, Apa bisa Anak Berkebutuhan Khusus bisa diajarkan  Pendidikan Seksualitas? Bisa! Ada tiga prinsip yang ditekankan oleh Bu Vitri dan Bu Sishi sebagai pemateri; Kongkrit, Bertahap, Berulang. Ruang Lingkup membahas Pendidikan Seksualitas tidak hanya sebatas jenis kelamin. Kalau kita ingin membahas Pendidikan Seksualitas sebenarnya apa saja sih yang bisa kita bahas dengan anak? Perkembangan manusia: perkembangan tubuh & perubahannya. Kebersihan & perawatan diri. Kesehatan. Hubungan antar pribadi; daerah pribadi vs umum, lingkaran sosial. Perlindungan diri. Untuk Anak Berkebutuhan Khusus Pendidikan Seksualitas bisa menggunakan media yang bersifat visualisasi, misalnya  gambar, video, dan alat peraga, karena dengan media tersebut memudahkan Anak Berkebutuhan Khusus dalam memahami aspek-aspek yang perlu dipelajari terkait Pendidikan Seksualitas. Totalitas untuk yang tercinta Disaat yang bersamaan orang tua belajar Emosi dan Komunikasi  Efektif dengan Rangkul KeluargaKita, guru belajar membuat  kurikulum Pendidikan Seksualitas yang sesuai dengan kebutuhan anak. Kenapa orang tua dan guru sama-sama belajar? Pendidikan tidak hanya tanggung jawab satu pihak. Orang tua atau hanya Sekolah saja. Pendidikan tanggung jawab semua. Bukan saling menyalahkan, bukan saling menuntut. Itulah yang dibahas oleh Rangkul dari KeluargaKita saat orang tua belajar komunikasi. “Seringkali kita itu suka lupa mengucapkan terima kasih ke guru. Coba deh bapak-ibu sekali saja sebulan ngirim ‘Bu/Pak, Makasih banyak ya sudah mendampingi anak saya’. Saya yakin hal sederhana begini saja berharga lho pak/bu ” Ujar Bu Yulia Rangkul KeluargaKita Di kelas sebelah, guru membuat kurikulum Pendidikan Seksualitas dari hasil diskusi guru dan orang tua tentang kebutuhan aspek dalam Pendidikan Seksualitas. Seringkali guru membuat kurikulum berdasarkan sudut padang guru saja, padahal dengan mencocokan  data dari orang tua, kurikulum bisa dibuat sesuai kebutuhan anak baik di sekolah dan di rumah. “Misalnya kalau anak belum bisa menggunakan pembalut dan di rumah hanya ada bapak. Guru bisa membantu” penjelasan bu Vitri  yang menekankan pentingnya hubungan dua arah antara guru dan orang tua.     Masih merasa tabu bicara tentang seksualitas dengan anak? Mari buka pikiran kita tentang seksualitas, mari buka pembicaraan sederhana dengan anak tentang kebutuhan belajar tentang tubuhnya.