Magang Guru Merdeka Belajar: Siapkan Calon Guru Penggerak

Kuliah sudah hampir lulus tapi belum siap untuk mengajar? Atau bahkan sudah lulus tapi ragu untuk jadi guru? Mungkin karena kamu belum mendapatkan ilmu mengajar merdeka seperti yang sudah didapatkan teman-teman peserta Magang Guru Merdeka Belajar (MGMB). Awalnya, teman-teman peserta MGMB juga meresahkan banyak hal terkait mengajar, seperti; “Ternyata susah bikin murid fokus. Lima menit mengajar, semua sudah pada sibuk sendiri. Haruskah aku jadi guru yang galak agar mereka jadi nurut? ”  “Kok sepertinya guru-guru pusing banget ya sama RPP? Ternyata aplikasinya kok sulit, aku bisa nggak ya nantinya?” Mengapa Harus “Guru Merdeka Belajar”? Saat memutuskan untuk menjadi guru, apa yang kamu bayangkan? Mungkin kamu akan membayangkan datang setiap hari ke sekolah, masuk ke kelas, menjelaskan materi, menyiapkan soal ulangan, dan memasukkan nilai ke raport. Baca juga: 5 Cerita Inspiratif Mentor dan Mentee Magang Guru Merdeka Belajar Jika ada murid yang dapat nilai jelek, kamu akan berpikir mereka butuh mendapat pengajaran tambahan di luar kelas. Atau yang paling buruk adalah melabeli murid tersebut bodoh. Sebaliknya, murid dengan nilai 90 ke atas adalah murid yang pintar. Sayangnya hal tersebut adalah hasil miskonsepsi belajar yang sudah mendarah daging di dunia pendidikan kita. Murid yang belajar tapi malah menjadi objek dari aktivitas guru mengajar. Berikut beberapa miskonsepsi belajar yang pasti sering kamu temukan; 1. Belajar hanya untuk ujian2.  Kendali belajar ada pada guru3.  Pelajar dipaksa memiliki kebutuhan belajar dan minat yang sama4.  Belajar itu menghafal dan menggunakan rumus5. Keberhasilan belajar terstandar dengan nilai angka6. Penilaian belajar sepenuhnya adalah wewenang guru Padahal, menurut Ki Hajar Dewantara, anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik memiliki peran yang besar namun hanya sampai pada titik merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu. Dengan kata lain, murid harus merdeka dalam proses belajarnya. Dengan menjadi peserta Magang Guru Merdeka Belajar, kamu bisa menjadi penggerak perubahan agar tidak ada lagi miskonsepsi seperti di atas yang sangat merugikan murid. Pada akhirnya, prinsip ini juga akan membantu kamu untuk menghadapi permasalahan dan keresahan seperti pada bagian awal tulisan ini. Apa Itu Magang Guru Merdeka Belajar (MGMB)? MGMB adalah program magang Kampus Guru Cikal (KGC) yang secara resmi menjadi mitra industri Kemendikbud dan Ristek melalui program Magang dan Studi Independen Bersertifikat pada tahun 2021. KGC memberikan kesempatan pada mahasiswa dengan latar studi keguruan maupun non keguruan minimal semester 5 untuk menjadi peserta magang ini. “Kami menerima 107 mahasiswa dari 51 perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia,” jelas Elisabet Susan, ketua KGC. Setelah mengikuti mentoring pedagogi selama satu bulan secara daring, peserta magang akan praktik mengajar dengan model blended learning. “Mahasiswa magang ditugaskan ke sekolah/madrasah di berbagai wilayah. Untuk tahun ini berada di 17 titik yang tersebar di 4 pulau besar di Indonesia,” lanjut Elisabet. Baca juga: Katrol Nilai dengan Hasil Asesmen Formatif, Bolehkah? WIlayah penempatan peserta Magang Guru Merdeka Belajar yakni Binjai, Tangerang, Tangerang Selatan, Depok, Jakarta Selatan, Bandung, Sukabumi, Jombang, Lamongan, Batu, Sidoarjo, Surabaya, Hulu Sungai Tengah, Sanggau, Makassar, dan Gowa. Seluruh sekolah yang menerima mahasiswa magang merupakan sekolah dari Jaringan  Sekolah Madrasah Belajar dan Komunitas Guru Belajar Nusantara. Selama magang, mahasiswa akan mendapatkan uang saku termasuk uang akomodasi penuh termasuk saat penempatan mengajar tatap muka. Elisabet mengungkapkan bahwa tujuan MGMB adalah agar semakin banyak mahasiswa yang tergerak untuk menjadi penggerak pendidikan dan melakukan perubahan ekosistem pendidikan yang lebih kolaboratif dan berpihak pada anak. “(Harapannya) semakin banyak calon guru merdeka belajar yang siap terjun ke sekolah-sekolah, sehingga semakin banyak murid yang mengalami merdeka belajar di kelas,” pungkasnya. Apa Kata Mentee? Riswan, salah satu mentee Magang Guru Merdeka Belajar angkatan pertama berharap bahwa kedepannya semakin banyak mahasiswa yang tertarik untuk mengikuti program magang yang diselenggarakan oleh KGC ini. Harapan tersebut tidak lepas dari pengalaman mahasiswa Universitas Negeri Makassar itu saat menjalani MGMB. Ia merasa banyak belajar dari para mentor dan lebih siap untuk mengajar nantinya setelah lulus. “Sebelumnya sudah magang di tempat lain. Saat program tersebut, aku tanya-tanya bagaimana caranya mengajar dan sebagainya. Aku menemukan banyak guru yang mengeluh. Seperti misalnya membuat RPP yang sangat banyak, lalu ada yang tidak diterapkan,” ungkap Riswan. “Tapi setelah ikut Magang Guru Merdeka Belajar kan dapat banyak modul, salah satunya modul Guru Merdeka Belajar. Pandanganku berubah drastis. Guru merdeka belajar itu enjoy-enjoy menjalankan tugasnya. RPP yang mereka rancang tidak memberatkan dan semua dapat diterapkan” lanjut mentee yang mendapat penempatan praktik di SDI Binakheir Depok ini. Selain itu, Riswan juga mendapat pandangan baru bahwa menjadi guru tidak hanya sekadar mengajar atau menyelesaikan target kurikulum. Ia menyampaikan bahwa orientasi pembelajaran adalah murid sehingga poin-poin pencapaian pun harus merupakan kesepakatan yang melibatkan murid. Apa Kata Mentor? Theresia Tri Darini merupakan salah satu mentor Magang Guru Merdeka Belajar berasal dari Yayasan Salib Suci Bandung. Keputusan Guru Theresia untuk menjadi mentor tidak lepas dari keresahannya ketika sulit mencari guru merdeka belajar untuk mengajar di tempat Ia bekerja. “Jangan sampai yang baru lulus hendak jadi guru, masih terpola dengan pola pendidikan konvensional. Hal ini terasa banget ketika saya banyak melakukan wawancara dengan pelamar-pelamar calon guru,” ungkapnya. Baca juga: Asesmen Nasional: Memperpanjang Derita atau Sebaliknya? “Sehingga kemudian sempat terpikir perubahan mindset ini harus dimulai dari bangku universitas. Berharap para pendatang bukan yang akan terpengaruh dengan gaya mengajar lama, tapi justru memberikan aura baru (yang merdeka belajar),” lanjut Guru Theresia. Ia pun mengatakan bahwa sangat senang menerima mentee dari program Magang Guru Merdeka Belajar. Sebagai mentor, ia dilibatkan dalam setiap proses sehingga merasa memiliki peran pada mahasiswa untuk menyiapkan bekal dunia kerja secara nyata. “Saya terlibat dengan apa yang mentee lakukan. Dari menyusun bersama bahan observasi, diskusi, hingga merencanakan prototype sesuai kebutuhan siswa,” jelas Guru Theresia. “Sebelumnya pernah jadi tempatnya belajar mahasiswa namun serasa hanya tempat,” lanjutnya. Guru Theresia mengungkapkan bahwa mahasiswa magang yang ia terima dari KGC sangat kritis dan percepatan belajarnya luar biasa. Ia menilai bahwa mahasiswa ini adalah jembatan antara (guru) yang konvensional dan millennial. Yuk Berproses di #AyoJadiGuru! Belum sempat ikut Magang Guru Merdeka Belajar tapi siap berproses untuk jadi guru yang merdeka belajar? Nantikan program #AyoJadiGuru dari Kampus Guru Cikal tahun 2022 ini!  #AyoJadiGuru merupakan program persiapan dan sertifikasi profesi guru yang terstruktur untuk mempersiapkanmu untuk jadi guru … Read more

Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek: Students’ Movie Project

Murid lesu, tidak bersemangat dan termotivasi, sering membuat kegaduhan di kelas, atau prestasi terus menerus mengalami penurunan? Apakah bapak dan ibu guru pernah mendapati keadaan seperti ini? Bisa jadi ini adalah gejala-gejala ketika murid sedang merasa bosan dengan metode pembelajaran, dan mungkin juga ini adalah bentuk keluhan murid jika mereka sedang bosan dengan metode pembelajaran yang diterapkan. Jika iya jangan dibiarkan ya bapak dan ibu guru, karena ini tentunya akan menghambat murid dalam belajar. Namun tenang bapak dan ibu guru, kali ini bapak dan ibu guru akan dikenalkan dengan Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek. Lantas, apa sih Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek itu? Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek adalah metode pengajaran di mana murid memperoleh pengetahuan dan keterampilan dengan secara aktif terlibat dalam dunia nyata dan proyek yang bermakna secara pribadi atau berkelompok. Dalam Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek ini, murid akan memanfaatkan keterampilan membangun tim melalui kolaborasi. Murid dibebaskan memberikan pembagian tugas dalam tim dan merencanakan bagaimana mereka akan bekerja sama. Lalu, bagaimana contoh nyata dari Praktik Pembelajaran Proyek ini? Untuk lebih jelasnya, mari kita simak cerita dari Pak Madya Giri Aditama, yang merupakan anggota KGB Batang serta mengajar di STKIP Muhammadiyah Batang.  Menerapkan pembelajaran yang dapat membangun dan mengembangkan kompetensi serta kreativitas murid merupakan tujuan keberlanjutan yang ingin dicapai semua guru. Begitu juga dengan Pak Madya, dalam pembelajaran bahasa Inggris yang diampunya, murid dituntut menguasai empat kemampuan dasar, yaitu Berbicara (speaking), mendengar (listening), membaca (reading), serta menulis (writing). Menurut beliau, tentu saja ini membutuhkan waktu dan instrumen lebih banyak jika melakukan asesmen terhadap setiap kemampuan dasar secara terpisah. Pak Madya menerapkan kegiatan asesmen formatif yang dilakukan secara berkala dan bertahap sehingga dapat membantu murid untuk lebih memahami materi pembelajaran dengan lebih matang. Dikatakan oleh Pak Madya jika hambatan dan kendala yang sering dilakukan oleh murid dalam praktik bahasa Inggris diantaranya adalah keterbatasan kosa kata (vocabulary) yang dimiliki, tata bahasa (grammar), serta pelafalan (pronunciation). Faktor-faktor tersebut sangat penting dalam pembelajaran bahasa serta penerapannya dalam kehidupan nyata. Ditambah lagi jika durasi dan jumlah pertemuan yang terbatas juga mempengaruhi tingkat keberhasilan murid dalam memahami konteks isi pembelajaran dengan sempurna. Oleh karenanya, menurut beliau sangat penting bagi murid untuk menguasai keempat kemampuan dasar tersebut beserta faktor penunjang yang menjadi komponen dalam kemampuan dasar bahasa Inggris tersebut.  Baca juga: Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar, Solusi Persoalan Guru Lantas, Pak Madya pun memikirkan untuk menerapkan metode pembelajaran berbasis proyek. Hal ini yang telah coba diterapkan oleh Pak Madya dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk mahasiswa semester 2 di Universitas Muhammadiyah Surakarta program English for International Class (EIC) selama tiga tahun dan mahasiswa semester 2 di STKIP Muhammadiyah Batang selama dua tahun ini. Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek berupa asesmen yang beliau terapkan dilakukan dengan menggunakan satu metode yang dapat melakukan asesmen terhadap semua kriteria penilaian yang ada dalam pembelajaran bahasa Inggris secara bertahap dan berkelanjutan. Ternyata prasangka tentang kesulitan belajar dan menggunakan bahasa Inggris masih menjadi momok serta kendala dalam pembelajaran bahasa Inggris, terutama bagi mahasiswa di luar program studi bahasa Inggris. Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek yang melibatkan strategi, dan media yang variatif dirasa cocok oleh Pak Madya guna meningkatkan ketertarikan murid dapat mengembangkan rasa ingin tahu dan kesadaran akan kebutuhan bahasa Inggris. Walaupun sudah dewasa, tetap tidak mudah dalam memberikan pemahaman tentang pentingnya bahasa asing kepada mahasiswa. Kesadaran akan kebutuhan penguasaan bahasa Inggris perlu disampaikan di awal pembelajaran agar guru dapat memetakan tahap-tahap asesmen dan evaluasi. Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek memudahkan guru dalam melakukan asesmen Bernama Students’ Movie Project, yang mana adalah kegiatan serta tugas yang Pak Madya berikan kepada mahasiswa untuk merancang, merekam suatu cerita dengan menggunakan bahasa Inggris, serta mengemasnya dalam suatu video yang menarik dan mendidik. Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan kemampuan literasi digital, murid tidak mendapat beban berat dalam mengadakan alat untuk mengerjakan tugas karena semua bisa menggunakan gawai yang mereka miliki. Di sini ada beberapa tahap yang Pak Madya lakukan dalam penyusunan Students’ Movie Project, sekaligus sebagai asesmen formatif. Diawali dengan membentuk kelompok, kemudian dilanjutkan dengan merencanakan konsep cerita serta menulis naskah percakapan yang akan dibawakan oleh setiap anggota kelompok. Beliau memberikan kebebasan dalam menentukan topik (tema), sesuai dengan kesukaan dan ketertarikan murid, selama sesuai dengan pendidikan dan motivasi remaja, serta tidak mengandung unsur sara dan ditentukan secara berdiskusi. Pada proses penulisan cerita dan naskah, Pak Madya melakukan asesmen kemampuan menulis (writing), sekaligus memberikan revisi dan koreksi pada sesi konsultasi. Hasil tulisan dijadikan sebagai sumber latihan pembacaan naskah guna melancarkan serta menghafalkan pengucapan yang benar. Pada tahap ini, beliau sekaligus melakukan asesmen kemampuan membaca (reading), sembari memberikan umpan balik terhadap cara eksekusi membaca murid. Konsep cerita dan naskah yang telah dihafalkan dibawakan secara spontan dan dikembangkan sesuai dengan improvisasi masing-masing. Pada sesi ini beliau juga melakukan asesmen kemampuan berbicara (speaking) tahap awal sebelum asesmen pada hasil akhir nanti. Setelah tahap tersebut cukup, dilanjutkan tahap perekaman video. Proses ini tidak berlangsung secara cepat. Diperlukan waktu dan percobaan berulang-ulang guna menghasilkan cerita dan pengucapan yang tepat. Proses penyuntingan, pemilihan gambar, dan penyelesaian keseluruhan dilakukan secara berkelompok dan merupakan bentuk hasil karya buah kerja sama seluruh anggota kelompok. Video hasil akhir pembuatan tugas ini dikumpulkan dan diputar untuk dievaluasi bersama. Evaluasi dan tukar pendapat dilakukan dengan murid dari kelompok lain guna mendapatkan umpan balik variatif dan membangun. Dalam evaluasi bersama ini diterapkan asesmen kemampuan mendengar (listening), yaitu dengan meminta murid untuk menyimak, menuliskan ulang konsep cerita, serta menjawab pertanyaan mengenai video hasil karya kelompok lain. Dari hasil akhir evaluasi karya, dapat diketahui perbedaan dan perkembangan dalam memahami dan melakukan eksekusi terhadap perbaikan yang telah dilakukan pada setiap tahapan asesmen dalam proses pembuatan tugas tersebut. Hasil akhir dalam pembelajaran bahasa Inggris adalah praktik. Dengan menerapkan movie project ini, murid dapat melakukan praktik berbahasa Inggris dengan senang dan terkonsep. Guru dapat melakukan asesmen dalam setiap tahap proses. Setidaknya ada lima tahap pembuatan tugas. Pertama, tahap penyusunan dan penulisan cerita serta naskah. Kedua, proses berlatih membaca naskah. Ketiga, proses berlatih berbicara dan peran. Keempat, proses perekaman dan penyuntingan. Kelima, penyelesaian tugas dan evaluasi bersama. Seperti kata peribahasa: sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui, dalam keseluruhan tahap tersebut Pak Madya melakukan … Read more

Media Ajar Matematika dengan GPS

Apakah Bapak dan Ibu guru merasa sedih saat mengajar matematika? Karena seperti yang kita tahu, banyak murid yang tidak suka dengan mata pelajaran matematika. Ingin membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, tapi bagaimana caranya? Ingin menggunakan media ajar? Tapi media ajar seperti apa yang selain menyenangkan juga bisa berdampak bagi murid dan masih relevan di masa sekarang maupun di masa depan? Jangan khawatir Bapak Ibu, karena pada tulisan kali ini kita akan membahas kisah dari seorang guru yang juga mengalami hal serupa. Guru ini mengajar matematika kelas 7. Namun guru ini mampu membuat pembelajaran matematika menjadi lebih menyenangkan sekaligus berdampak bagi murid dengan media ajar yang digunakannya. Nah kira-kira, siapa guru ini dan media ajar matematika apa yang digunakannya ya? Penasaran? Yuk langsung simak kisah selengkapnya di bawah ini! Guru ini bernama Febriandrini dari SMP Lazuardi Al Falah GIS Depok. Awalnya Guru Febri merasa dengan menyisipkan permainan atau menggunakan alat peraga saat beliau mengajar dulu, dirasa sudah cukup untuk membuat pembelajarannya menjadi lebih menyenangkan. Namun tidak untuk sekarang. Melihat pesatnya perkembangan zaman dan teknologi, Guru Febri sadar jika hampir separuh ilmu yang diajarkan saat ini bakal hilang ditelan zaman sekian tahun mendatang. Sudah banyak profesi baru yang membutuhkan ilmu baru yang bahkan belum diajarkan di sekolah. Karena itu Guru Febri juga mencoba hal baru dalam mengajar. yakni mencoba media ajar matematika menggunakan aplikasi peta dengan fitur GPS. Kebetulan waktu itu materi yang diajarkan tentang bilangan dan operasi dasar matematika. Guru Febri mengaitkan materi bilangan dengan aplikasi peta dengan fitur GPS. Di awal pembelajaran Guru Febri biasa memberikan sesi inkuiri dan bertanya apa gunanya angka atau bilangan dalam kehidupan manusia. Ada yang menjawab untuk mengetahui seberapa banyak barang yang kita miliki, seberapa tinggi sebuah gedung dan sebagainya. Lalu Guru Febri lanjutkan dengan bertanya, “Kalian tahu tidak kalau angka itu bisa menyelamatkan nyawa manusia?” “Masa? Kok angka bisa menyelamatkan manusia, Teacher?” sahut nurid-muridnya. “Iya, bisa. Ada yang tahu tentang GPS?” tanya Guru Febri. “Saya tahu. Itu biasanya yang ada di Google Maps, untuk menunjukkan lokasi kita,” sahut salah satu murid. “Betul, sekali. GPS atau  Global Positioning System menggunakan satelit yang mengirim data tentang lokasi kita di bumi. Jika kita tersesat di hutan dan sinyal smartphone masih aktif, kita bisa mengirimkan data lokasi dan meminta pertolongan untuk datang ke lokasi tersebut,” kata Guru Febri. “Data lokasi itu koordinat GPS, kan ya, Teacher?” murid lain menimpali. “Yep, betul. Nah, ada yang pernah tahu jenis bilangan apa yang digunakan untuk menuliskan koordinat GPS?” Guru Febri lanjut bertanya. Murid diam. “Ada yang tahu bagaimana kita bisa mendapat koordinat GPS dari Google Maps?” Guru Febri bertanya lagi. Murid saling melirik satu sama lain, lalu menggelengkan kepalanya. Di sini, Guru Febri akan menerapkan media ajar matematika yang telah ditentukannya. Guru Febri mulai mengajak murid mengeksplorasi bilangan desimal dalam koordinat GPS, mengaitkan pengetahuan mereka tentang posisi berdasarkan lintang dan bujur, serta kuadran dalam koordinat Kartesius. Baca juga: Membuat Asesmen yang Menyenangkan dengan Ekshibisi Mini Digital “Oke, sekarang Teacher akan tunjukkan caranya. Kita buka Google Maps, pastikan tombol Location atau GPS dalam keadaan aktif ya. Nanti akan terlihat titik biru seperti in, kita zoom hingga makimal, lalu tekan di titik biru itu sampai keluar pin merah. Nah, akan muncul deretan angka yang merupakan koordinat GPS. Yuk, yang bawa smartphone, bisa di coba.” Murid yang membawa smartphone pun mulai mencoba dan mereka heran ternyata mereka mendapatkan angka yang berbeda. Guru Febri pun meminta dua murid membacakan deretan angka tersebut dan Guru Febri menuliskan di papan tulis. Lalu Guru Febri bertanya, “Menurut kalian, ini angka apa?” “Desimal ya, Teacher?” jawab salah satu murid. “Betul, ada dua angka desimal di sini dan Kalian lihat dari dua koordinat yang Teacher tulis di sini, ada angka yang berbeda. Ini menunjukkan bahwa teman kalian tadi berada pada posisi yang berbeda. Nah, sekarang yang mau Teacher tanyakan adalah mengapa angka bulatnya –6 dan 106? Ada yang tahu?” “Apa ya? Tidak tahu,” jawab murid yang lain. “Coba masih ingat, Indonesia berada di bujur dan lintang berapa?” Guru Febri bertanya lagi. Sambil menunggu jawaban murid, Guru Febri menggambar sumbu koordinat di papan tulis. “Ingat, 6o lintang utara –11o lintang selatan kan?” jawab salah satu murid. “95o—141o bujur timur!” teriak murid yang di belakang. “Good. Coba sekarang lihat ke sini. Masih ingat empat arah mata angin, apa saja?” “Betul. Barat, Timur, Selatan, dan Utara.” Guru Febri dan murid-muridnya bersama-sama meletakkan nama mata angin di gambar. “Kalau gambar ini melambangkan posisi di bumi, kira-kira sumbu X ini menunjukkan apa?” sambil menggerakkan tangan Guru Febri di sepanjang sumbu X. “Khatulistiwa?” seorang murid menjawab dengan ragu-ragu. “Yak betul khatulistiwa. Selanjutnya, kalau batas Indonesia terletak di 6o lintang utara –11o lintang selatan, 95o—141o bujur timur. Bagaimana kita menggambarkannya di sini?” Guru Febri dan muridnya lalu meletakkan posisi batas-batas dan mereka sepakat tentang letak Indonesia. “Nah, sekarang kalau tadi Depok berada di (-6, 106), yang -6 menunjukkan lintang utara atau selatan?” Guru Febri bertanya. Ada yang menjawab utara, ada yang menjawab selatan. “Coba perhatikan baik-baik, tanda negatif di bagian utara apa selatan?” “Berarti lintang selatan, Teacher.” “Betul, berarti 106 menunjukkan bujur timur karena tanda positif ya.” Guru Febri dan muridnya lalu menggambar letak titik (-6, 106). “Sekarang, lihat dua pasangan koordinat yang tadi Teacher tulis. Kalau titik ini adalah A, kira-kira titik B di sebelah mana A? Perhatikan baik-baik angka desimalnya, ya.” Guru Febri dan muridnya lalu menggambar letak titik A dan B. “Nah, sekarang kalian sudah paham tentang koordinat GPS dan cara mendapatkannya. Teacher akan bagi kalian menjadi grup kecil. Satu orang dari setiap grup akan menempati sebuah posisi di sekitar sekolah, seakan menjadi orang yang harus kita selamatkan. Orang tersebut nanti akan mengirim data GPS lokasi ke kelompoknya supaya yang hilang sampai ketemu. Kalau sudah ketemu, langsung kembali ke tempat Teacher menunggu. Siap?” Berbekal alat tulis dan smartphone, setiap grup bersemangat keliling sekitar sekolah, mencari anggota mereka yang hilang.  Mereka melihat peta dan membangdingkn dengan data GPS yang dikirim dengan lokasi mereka. Akhirnya, semua grup berhasil menemukan anggota kelompoknya. Dari kegiatan ini, murid bisa merasakan kegunaan angka sebagai data GPS yang bisa digunakan … Read more

Membuat Asesmen yang Menyenangkan dengan Ekshibisi Mini Digital

Bingung membuat asesmen yang menyenangkan saat pembelajaran di masa pandemi? Asesmen sejatinya tidak hanya berupa penilaian atas hasil ulangan dan semacamnya. Rupanya asesmen seperti itu sudah menjadi momok bagi murid. Padahal kita tahu cara belajar masing-masing murid berbeda, maka dibutuhkan asesmen yang bisa mengakomodir perbedaan tersebut. Sehingga asesmen akan terasa lebih menyenangkan karena murid merasa dipahami. Tapi apa mungkin asesmen seperti itu bisa dilakukan saat pembelajaran di masa pandemi? Bagaimana menerapkannya? Nah, pada tulisan kali ini kita akan membahas kisah guru belajar dari PYP Al Firdaus Surakarta bernama Ibu Dwi Rakhmawati. Beliau juga pernah mengalami masalah serupa seperti yang sudah disebutkan di atas. Namun, beliau menganggap pandemi bukanlah hambatan melainkan tantangan tersendiri untuk tetap dapat melaksanakan asesmen yang memberi kegembiraan bagi murid. Beliau ingin menjadikan asesmen sebagai bentuk perayaan bagi murid untuk menunjukkan kemampuan, talenta, dan keahlian yang dimiliki sesuai dengan bakat kecerdasannya masing-masing meskipun tehalang oleh jarak. Selama diberlakukannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), di sekolah Bu Rakhmawati kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dengan penuh secara daring. Jadwal disusun dengan jam belajar sejak pukul 07.30 hingga 13.30 WIB. Platform digital yang digunakan yakni Zoom Meeting. Seperti Zoom Morning Briefing, Zoom materi Homeroom Teacher,  Zoom Subject Teacher, serta Zoom Refleksi. Sedangkan penugasan murid menggunakan ClassDojo. Dan tema yang dipelajari waktu itu tentang energi. Sejujurnya tidak mudah bagi Bu Rakhmawati membangun iklim belajar daring di kota kecil seperti di Solo. Berbagai kendala mulai dari perangkat, jaringan, hingga orangtua yang bekerja menjadi perkara tersendiri. Mau tidak mau guru kelas harus membangun kerja sama dengan orangtua agar kegiatan pembelajaran tetap berjalan.  Selain itu juga diharapkan mampu membawa manfaat serta pengalaman belajar. Karena itu, agar tidak membosankan, menu Zoom terus dibenahi dengan memberikan sentuhan berbagai aplikasi pendukung seperti memanfaatkan Whiteboard Zoom, Jamboard, Pear Deck, Quizizz, dan Kahoot. Baca juga: Mengembangkan Bakat Murid saat Pembelajaran di Masa Pandemi Melalui Asesmen Diagnosis Selaku pengampu murid kelas 4 dan 6, Bu Rakhmawati memberikan tugas sebagai asesmen akhir unit berupa pameran kecil yang dilakukan secara digital atau istilahnya Ekshibisi Mini Digital. Murid akan memamerkan karya sains yang dibuat berdasarkan tema yang pembelajaran waktu itu. Sebagai contoh kelas 4 yang mengambil topik pemanfaatan energi dan cara bijak menggunakannya. Bu Rakhmawati memberi kemerdekaan murid untuk bereksplorasi dengan berbagai bahan dan alat yang ada di sekitar rumahnya. Memang pameran karya ini dilakukan sejak kelas 4 agar nantinya saat di kelas 6, mereka telah terbiasa berbagi ide dan pengetahuan dalam ekshibisi di akhir pembelajaran di PYP. Tahapan pameran karya dalam asesmen ini tidak terlalu sulit. Tentu saja di masa pandemi ini peran orangtua murid sangat penting dalam mendukung murid. Langkah yang dilakukan antara lain: Menyusun perencanaan asesmen. Memberikan beberapa alternatif pilihan bentuk proyek yang dapat dipilih murid seperti benda miniatur, percobaan, atau poster tentang energi dan cara bijak menggunakannya. Hal ini bertujuan agar murid dapat dengan mudah menjelaskan perubahan energi yang terjadi. Menyusun rubrik penilaian dari setiap subjek (transdisiplinary). Menyusun rubrik penilaian skill yang diharapkan. Mempersiapkan perangkat dan jaringan yang mendukung pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Melakukan koordinasi antar wali kelas ataupun guru mata pelajaran yang terkait dengan tema. Menjalin komunikasi dengan orangtua murid tentang asesmen di akhir unit. Prinsip pameran karya ini antara lain sebagai media menampilkan ide, kreasi, dan yang terpenting adalah berani serta dapat menjelaskan bagaimana alat atau percobaan tersebut mengalami perubahan energi. Selama 4 hari dengan 4 rombel kelas, setiap murid mencoba mempresentasikan dan menjawab pertanyaan dari teman-temannya. Murid yang tampil dan murid yang menjadi audiensi akan memperoleh pengalaman belajar melalui pertemuan daring tersebut. Berikut ditampilkan hasil dokumentasi berupa gambar dari murid kelas 4 yang sedang presentasi. Murid yang ada pada gambar di atas sedang mempresentasikan alat rangkaian berbentuk miniatur elevator. Alasan murid tersebut membuatnya karena tidak lama lagi di kota Solo akan banyak gedung-gedung bertingkat dan bangunan yang ke atas. Jadi akan banyak menggunakan elevator yang memakai energi listrik yang diubah menjadi energi gerak. Dalam proyeknya, murid boleh dibantu orangtua dalam membeli perlengkapan hingga merangkainya. Presentasi dilakukan dengan menggunakan bahasa inggris. Namun, murid diperbolehkan menggunakan bahasa lain atau bilingual. Sedangkan gambar di atas menunjukkan presentasi dari seorang murid inklusi. Murid inklusi tersebut memiliki gangguan pendengaran, sehingga dibantu dengan mind mapping  atau teks dalam presentasinya. Dengan bantuan guru pendamping khusus, ia mampu menampilkan sebuah eksperimen berupa nyala lilin yang dapat memutarkan kertas di atasnya. Asesmen semacam ini memberikan beberapa manfaat antara lain: Kreativitas terbangun melalui proyek sains sederhana ataupun eksperimen sains. Mendorong murid untuk berani menampilkan ide gagasan. Melatih keahlian berkomunikasi. Melatih keberanian di depan pemirsa dalam Zoom Meeting (presentasi). Melatih berargumentasi dalam tanya jawab dengan teman sebaya ataupun guru. Sedangkan untuk kelas 6 nanti akan diadakan penelitian sederhana yang menjadi kemasan ekshibisi dengan bimbingan guru mentor dan asesmen dari leader. Puncaknya adalah perayaan dengan mengundang teman-teman dari sekolah lain untuk berkunjung. Inilah salah satu tantangan bagi Bu Rakhmawati dan sekolahnya dalam menyiapkan mental , skill berkomunikasi, serta melatih manajemen waktu sejak kelas bawah. Asesmen menjadi sarana perayaan yang dinanti. Pembelajaran akan bermakna apabila memberikan ruang bagi murid untuk berinovasi. Jika sebelum pandemi presentasi dilakukan di depan kelas masing-masing, kali ini teman dari kelas lain juga berkesempatan mengikuti kegiatan presentasi dan tanya jawab dalam Zoom Meeting. Hal in ternyata mampu menambah kepercayaan diri bagi murid. Mereka yang aktif akan banyak bertanya dan yang awalnya pasif juga termotivasi untuk ikut bertanya. Terakhir, setiap murid akan belajar menjawab pertanyaan dari audiensi dengan waktu yang sama. Tujuan lain dari kegiatan tersebut adalah jika asesmen dikemas secara fun learning, maka akan menghilangkan kesan menakutkan seperti sebuah ujian. Wah, ternyata membuat asesmen yang menyenangkan untuk murid tidak sulit ya. Meskipun harus dilakukan saat pembelajaran di masa pandemi. Bahkan punya poin lebih dan banyak manfaatnya lagi. Sekarang Bapak dan Ibu guru pasti sudah tidak bingung lagi kan membuat asesmen yang menyenangkan saat pembelajaran di masa pandemi. Untuk menemukan cerita inspiratif  lainnya, yuk ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII. Tema TPN kali ini adalah “Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar” yang akan diselenggarakan pada tanggal 20-21 November 2021. Dan di sini Bapak Ibu guru akan mendapat inspirasi dari #1000Pembicara. Cara daftarnya gampang banget. Tinggal klik tpn.gurubelajar.org Sumber: Surat … Read more

Mendaftar Temu Pendidik Nusantara, Ini Alasan Penting yang Perlu Guru Ketahui

Merasa ekosistem pendidikan di Indonesia masih terjadi miskonsepsi atau salah kaprah? Ingin melakukan perubahan tapi bingung mulai dari mana dan dengan siapa? Rasa-rasanya tidak mungkin melakukan perubahan seorang diri. Adakah wadah untuk bergerak bersama melakukan perubahan pendidikan yang lebih baik? Ada lah tentunya, bernama Temu Pendidik Nusantara (TPN). Temu Pendidik Nusantara merupakan ajang pertemuan tahunan yang mempertemukan seluruh pemangku kepentingan ekoistem pendidikan di Indonesia untuk mengekspresikan kemerdekaan belajar, mengembangkan kompetensi, menginisiasi kolaborasi dan membangun karier. Pemangku kepentingan ekosistem pendidikan itu siapa saja? Ada Guru, Pengawas, dan Pemimpin Sekolah. Meskipun begitu, semua orang bisa kok belajar bersama di Temu Pendidik Nusantara. Tapi khusus yang berprofesi sebagai guru perlu tahu alasan penting mendaftar Temu Pendidik Nusantara. 1.      Diberi Kebebasan Memilih Di Temu Pendidik Nusantara, guru bebas memilih ingin berpartisipasi menjadi apa. Apakah menjadi pembicara, peserta, atau relawan panitia. Guru yang sudah memiliki pengalaman mengajar bisa menjadi pembicara. Apalagi di TPN VIII ini akan ada #1000Pembicara untuk menyampaikan praktik baik guna melakukan perubahan pendidikan di konteks kelas, sekolah, hingga daerah. Sebagai peserta pun, guru bebas memilih topik yang ingin dipelajarinya. Guru bisa memilih topik yang sesuai kebutuhan, dan permasalahan di lapangan, dapat membantu menyelesaikan persoalan di kelas maupun sekolah. Nah, pada TPN VIII ini akan ada 7 sub topik yang akan menjadi pembahasan; (1) Pameran karya sebagai perayaan merdeka belajar; (2) Asesmen untuk personalisasi belajar; (3) Asesmen sebagai upaya merawat kemerdekaan belajar; (4) Asesmen terhadap capaian belajar murid; (5) Asesmen untuk pengembangan sekolah/madrasah merdeka belajar; (6) Asesmen lingkungan belajar, asesmen pelibatan warga sekolah; (7) Manajemen kelas campuran. 2.      Dapat Mengembangkan Karier Menjadi kepala sekolah bukanlah satu-satunya pilihan karier guru, di TPN guru belajar mengembangan karier dengan banyak cabang. Maksudnya guru dapat mengembangkan kariernya di berbagai bidang spesialisasi. Sebagai contoh guru bisa menjadi pelatih, penulis, dan masih banyak lagi. Karena memang, TPN ini dirancang sebagai kegiatan pengembangan karier guru. Belajar di TPN akan memberi pengalaman dan tantangan karier yang beragam. Di Temu Pendidik Nusantara ada namanya kelas karier, di sini peserta diharapkan untuk mempelajari perjuangan dalam merintis karier dari setiap pembicara untuk selanjutnya dapat mereka implementasikan sendiri guna merintis atau mengembangkan kariernya. 3.      Lebih Berdaya dan Produktif Di Temu Pendidik Nusantara ada kelas kemerdekaan. Di sini peserta belajar untuk berani mencoba menerapkan suatu strategi pengajaran. Strategi ini tentunya akan berdampak pada murid. Di kelas karier peserta dapat menyaksikan serta mendapatkan karya dan layanan guru. Peserta memang diajak berdaya dan lebih produktif. Peserta dituntun untuk melangkah dari awal sampai tingkat lanjut hingga mampu menghasilkan karya. Karena seyogyanya menjadi berdaya bukan hanya belajar lalu paham tapi juga menghasilkan. Menghasilkan karya yang bermanfaat untuk sesama guru maupun masyarakat luas, dengan atau tanpa peralatan canggih. 4.      Bergerak Melakukan Perubahan Seperti keresahan yang sudah disebutkan di awal, mustahil melakukan perubahan seorang diri. Dibutuhkan tempat untuk saling berkolaborasi melakukan gerakan perubahan pendidikan yang lebih baik. Di Temu Pendidik Nusantara VIII ini meskipun berada di tengah pandemi semangat kolaborasi tidak pernah surut, bahkan cakupannya semakin luas dan berdampak. Tidak hanya kolaborasi antar organisasi guru bahkan kolaborasi antar organisasi guru dengan jaringan sekolah, jaringan madrasah, komunitas pengawas, komunitas orangtua, komunitas pendidikan, penyedia sumber alat belajar, pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Kontenyang disajikan di Temu Pendidik Nusantara adalah konten yang membantu guru memandu murid menjadi pelajar merdeka. 5.      #BelajarDiTPNVIII Bersama #1000Pembicara Ada yang istimewa lho di Temu Pendidik Nusantara VIII ini karena kita akan belajar bersama #1000Pembicara. Apa yang menarik? Tentunya kita kan mendapatkan pembelajaran yang; (a) Lebih praktis, berupa praktik baik yang telah terbukti sesuai konteks kelas; (b) Lebih beragam, berasal dari lintas jenjang, jenis (swasta dan negeri) dan lintas daerah; (c) lebih berdampak, sehingga bermanfaat pada murid untuk perubahan pendidikan Indonesia yang lebih baik. Nah, sudah tidak bingung lagi kan mencari wadah untuk bergerak melakukan perubahan pendidikan. Dan pastinya sudah semakin yakin  untuk bergerak melakukan perubahan pendidikan yang lebih baik. Artinya semakin berminat untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara. Yuk mulai bergerak dengan mendaftar Temu Pendidik Nusantara (TPN) VIII yang bertemakan “Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar” pada tanggal 20-21 November 2021 dengan klik tpn.gurubelajar.org. atau tonton video tutorial “Cara Mendaftar Temu Pendidik Nusantara VIII” berikut. Sumber: Inilah 5 Keistimewaan Temu Pendidik Nusantara Ada apa di Temu Pendidik Nusantara VIII? Mengapa Guru, Pengawas dan Pemimpin Sekolah Harus ikut Temu Pendidik Nusantara?

Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar, Solusi Persoalan Guru

Bapak dan Ibu guru masih memiliki persoalan dalam kegiatan pembelajaran? Apakah bapak dan ibu guru belum menemukan solusi yang pas dalam mengatasi hal tersebut? Apakah bapak dan ibu guru pernah mendengar Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar? Tenang bapak dan ibu guru, melalui pembahasan di tulisan ini mungkin bapak dan ibu guru akan bisa menemukan solusi dari persoalan yang bapak dan ibu guru rasakan dengan Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar. Ya, karena pada tulisan kali ini, kita akan membahas dan mengenalkan kepada bapak dan ibu guru tentang “Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar, Solusi Persoalan Guru”, tanpa perlu berlama-lama, yuk mari kita simak tulisan di bawah ini Mengapa Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar Menjadi Solusi atas Persoalan Guru? Kurikulum ini sendiri dirancang dengan pendekatan praktis, sehingga nantinya bapak dan ibu guru dapat berdaya dengan merancang dan mempraktikkan solusi berlandaskan teori dan dan menyesuaikannya dengan konteks kelas dan kondisi di daerahnya masing-masing.  Berikutnya, kurikulum ini juga dirancang secara modular agar fleksibel dalam memenuhi kebutuhan guru. Dengan pendekatan modular, bapak dan ibu guru dapat memilih dan mengikuti modul pembelajaran yang sesuai untuk mengatasi persoalan di kelasnya. Di sini setiap guru memiliki kemerdekaan untuk merancang dan mengalami personalisasi pengalaman belajar.  Kurikulum ini juga dirancang sebagai solusi terhadap kebutuhan guru yang telah teruji lebih dari 20 tahun. Kurikulum ini bukan saja telah digunakan untuk pendidikan guru pada satu sekolah, namun telah diterapkan di lebih dari 1000 sekolah di berbagai penjuru nusantara.  Baca juga: Memahami Merdeka Belajar Lalu, Apa itu Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar? Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar ialah kurikulum yang bertujuan mengembangkan kompetensi pedagogik guru melalui cara melalui 5 cara, yaitu; Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Membangun Keberlanjutan, Memilih Tantangan, dan Memberdayakan Konteks. Cara ini lebih dikenal dengan cara 5M,  sehingga nantinya mampu menumbuhkan murid yang Merdeka Belajar, yang mana murid yang belajar karena kemauan sendiri. Bapak dan ibu guru bisa mempelajari Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar dengan mengunduh di https://pembelajaran.kampusgurucikal.com/ Kurikulum ini terdiri dari 1 pondasi, 3 blok modular dan 1 atap. Pondasinya ialah program Guru Merdeka Belajar. Dilanjut Blok Modular yang terdiri dari tiga blok yaitu:  A. Manajemen Kelas Merdeka Belajar  B. Strategi Pembelajaran Merdeka Belajar C. Asesmen Pembelajaran Merdeka Belajar Lalu, kurikulum ini dilengkapi dengan Atap yang mana kitab isa melihat program Karier Guru Merdeka Belajar Di setiap blok modular terdiri dari program yang disusun berdasarkan alur penguasaan kompetensi guru merdeka Belajar. Dimulai level 0, level 1, level 2 dan seterusnya. Lantas, Bagaimana Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar Menjadi Solusi atas Persoalan Guru? Nah, Alur Belajar kurikulum ini, yang mana Langkah pertamanya adalah pijak pondasi, ikuti program Guru Merdeka Belajar. Setelah mendapat pijakan pondasi, langkah berikutnya adalah dengan mengikuti blok modular. Setiap blok modular dimulai pada level 1, namun bila bapak dan ibu guru masih kesulitan pada level 1, bapak dan ibu guru bisa coba ikuti level 0. Sementara, apabila bapak dan ibu guru sudah menguasai level 1, maka bapak dan ibu guru bisa melanjutkan ke level yang lebih tinggi sesuai persoalan pembelajaran dan kebutuhan belajar. Bila ingin mengembangkan karier, ikuti program yang termasuk pada kategori Atap, yang mana bapak dan ibu guru dapat mengembangkan Karier Guru Merdeka Belajar. Kemudian, Bagaimana Contoh Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar Menjadi Solusi untuk Persoalan Guru? Mari kita gambarkan contohnya seperti ini. Awalnya di sebuah sekolah, ada seorang guru, sebut saja Guru Agus. Di sini guru Agus curhat jika muridnya ribut dan mencari perkara, dari ramai di kelas, tidak taat protokol kesehatan . Ia coba mengatasi persoalan tersebut dengan cara sederhana namun tetap saja tidak terjadi perubahan pada muridnya. Hal ini hingga membuat guru Agus pusing bagaimana mendisiplinkan muridnya tersebut. Lantas, bagaimana cara menertibkannya? dan kira-kira apa program yang bisa membantu guru Agus menyelesaikan persoalan tersebut? Akhirnya guru Agus mencoba untuk mulai mengikuti program Guru Merdeka Belajar. Yang mana pada program tersebut Guru Agus melihat-lihat pada blok modular. Lalu, apa ya blok modular yang cocok untuk guru Agus? Ternyata, setelah direnungkan beberapa saat, Guru Agus merasa bahwa persoalannya kali ini adalah terkait dengan kemampuannya dalam melakukan manajemen kelas. Ia pun fokus mempelajari blok modular Manajemen Kelas Merdeka Belajar tersebut. Dan kemudian ia pun memutuskan mengikuti program Kesepakatan Kelas Merdeka Belajar. Demikianlah cerita guru Agus dalam yang menemukan solusi atas persoalannya selama ini dengan mengikuti contoh Guru Merdeka Belajar, yang mana bersinergi dengan kurikulum ini. Nah, bagaimana bapak dan ibu guru, apakah pembahasan ini bisa memberikan insight baru dan menjawab persoalan bapak dan ibu guru saat ini? Jika bapak dan ibu guru masih penasaran, yuk bapak dan ibu guru pelajari lebih dalam lagi dan akses modul-modul di Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar lainnya dengan mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII pada 20-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem merdeka belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Ayo Jadi Guru Merdeka Belajar! Guru Penggerak Perubahan Pendidikan! Mari berjumpa rekan seperjuangan di Temu Pendidik Nusantara VIII, untuk #DukungGuruBelajar bergerak bersama demi Pendidikan. Perubahan pada diri Bapak dan Ibu Guru adalah awal perubahan untuk masa depan murid Indonesia! Klik: https://tpn.gurubelajar.org

Motivasi Guru Penggerak Merdeka Belajar, Berani Berubah Meskipun Tertatih-Tatih

Ketika pandemi melanda beberapa waktu yang lalu, bapak dan ibu guru pasti merasakan dan mengalami untuk beradaptasi dengan perubahan kebiasaan tersebut tampak jelas terasa karena pada saat kondisi normal, belajar menggunakan sistem tatap muka (luring), lalu berubah menjadi pembelajaran jarak jauh (daring) yang dijalankan sekolah. Oleh karena itu, apakah bapak dan ibu guru pernah merasa bingung, galau, dan tidak mengetahui harus memulai dari mana saat pembelajaran secara daring dilakukan? Untuk lebih jelasnya, mari kita dengarkan cerita inspirasi guru penggerak merdeka belajar yaitu Ibu Theresia A. T. Astuti yang mengajar di TK Yos Sudarso Bandung, dan beliau juga merupakan anggota Komunitas Guru Belajar Bandung. Pandemi Covid-19 adalah awal cerita inspirasi Ibu Tere ini dimulai. Pada Tahun Pelajaran 2020/2021, Ibu Tere mendapat tugas baru, diberi kepercayaan untuk memimpin TK Yos Sudarso Bandung. Ini merupakan pengalaman pertama beliau untuk pindah tugas setelah selama 16 tahun menjadi guru di tempat yang sama, atau berada di zona nyaman beliau.  Tempat baru, suasana baru, rekan kerja baru, dan beban tugas baru yang belum pernah terbayang sebelumnya harus Ibu Tere hadapi. Banyak cerita negatif yang beliau dengar tentang sekolah ini. Seketika Ibu Tere merasa ciut, ragu, minder, dan tidak percaya diri. “Apakah saya sanggup melakukan perubahan?”, ujar Ibu Tere dalam hati. Lantas, beliau dan dua rekan guru pun memutuskan untuk melakukan perubahan. Awalnya beliau memiliki perasaan yang sama dengan bapak dan ibu guru kebanyakan, beliau merasa bingung, galau, dan tidak mengetahui harus memulai dari mana saat pembelajaran secara daring wajib dilaksanakan. Baca juga: Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan Pembelajaran pun dimulai. Para guru melakukan tugasnya, melayani murid secara daring. Pembelajaran saat normal ditransfer menjadi daring. Tidak ada yang berbeda. Para guru melakukan pembelajaran dengan menggunakan aplikasi WhatsApp. Pembelajaran berfokus pada materi dan tema. Berbagai saran dan masukan coba Ibu Tere berikan agar pembelajaran tidak monoton. Namun, berbagai alasan dilontarkan para guru. Mereka berdalih adanya keterbatasan sarana, baik pihak guru maupun murid, serta keterbatasan penguasaan teknologi. Dan lebih kurang tiga bulan pembelajaran model ini dilakukan. Menurut Ibu Tere, pembelajaran terasa hambar, interaksi terbatas, satu arah, dan inisiatif serta instruksi selalu dari guru. Ibu Tere menyaksikan, setiap hari para guru melakukan komunikasi dengan orang tua murid melalui telepon atau video call untuk menjalin kedekatan. Namun, relasi yang harmonis belum tampak. Para guru mulai lelah dan mengeluh. Mereka merasa respons yang terlalu biasa, baik dari orang tua maupun murid. Ibu Tere mengungkapkan jika beliau dan mayoritas guru lainnya di sekolahan tersebut adalah guru senior. Tepatnya guru jadul yang belum terbuka dan paham banyak penggunaan teknologi, sehingga dalam melakukan pembelajaran hanya mengedepankan rasa, insting, dan pengalaman. Saat briefing pagi ataupun pertemuan, Ibu Tere berulang kali memberi masukan kepada rekan guru agar melakukan perubahan. Beliau mencoba mengajak mereka lebih terbuka, berani mencoba hal baru. Setelah sekian lama, akhirnya muncul juga keinginan salah satu guru untuk melakukan perbaikan pembelajaran. Dia mengajak guru lain mempelajari berbagai aplikasi pembelajaran berbasis teknologi sebagai variasi dalam pembelajaran daring. Tujuannya agar murid dapat lebih antusias. Awalnya, tampak gurat keraguan dalam diri guru yang diajak belajar. Mereka terpaksa saat belajar bersama. Lewat pendekatan secara pribadi, akhirnya terwujud juga kegiatan belajar bersama. Berbagai cara dan variasi pembelajaran mulai dipelajari. Ibu Tere mendukung dan mendampingi para guru, turut belajar dan mengembangkan diri. Beliau merasa jika belajar dari siapa pun dan dari mana pun. Terutama tentang penggunaan aplikasi yang dapat digunakan supaya pembelajaran lebih menarik. Para guru memerlukan waktu lama untuk memahami pengetahuan baru. Namun, di sini Ibu Tere melihat semangat mereka, keinginan kuat untuk terus belajar, mencoba, dan mempraktikkan pengetahuan maupun keterampilan baru yang berhubungan dengan teknologi. Guru saling belajar, berbagi pengetahuan dan praktik baik, menguatkan, dan membantu. Bahkan, persiapan pembelajaran dilakukan secara bersama-sama. Sedikit demi sedikit pembelajaran mulai bervariasi. Berbagai aplikasi dipraktikkan dalam pembelajaran. Namun, Ibu Tere merasa masih ada yang kurang dan masih terasa hambar. Peran guru masih sangat dominan di sini. Mereka belum konsisten melakukan perubahan pembelajaran, masih mengadopsi cara dan pola lama. Pada pertengahan Oktober 2020, melalui platform Sekolah.mu, Ibu Tere berkenalan dengan Merdeka Belajar. Kemudian, beliau sering mendengar istilah tersebut. Namun saat itu, Ibu Tere belum memahami maknanya. Akhirnya, beliau mengikuti program Sekolah Lawan Corona. Ibu Tere dan para guru pun belajar bersama. Dari program ini akhirnya beliau menyadari bahwa pembelajaran yang selama ini, pelayanan yang kami berikan, masih mengalami miskonsepsi. Bersama para guru, Ibu Tere belajar membuat persiapan pembelajaran dengan mengedepankan prinsip 5M, belajar membuat dan menggunakan kanvas RPP yang diawali dengan melakukan pemetaan profil murid. Pembelajaran di Sekolah Lawan Corona sudah beliau tuntaskan. Ibu Tere yakin, banyak hal, informasi, dan ilmu baru yang guru dapatkan. Namun, pengimbasan ataupun dampaknya dalam pembelajaran belum terasa. Belum tampak perubahan yang signifikan. Padahal, pengetahuan, keterampilan, dan semangat sudah ada dalam diri para guru. Lantas, Ibu Tere tertantang mencari akar masalahnya. Rasa penasaran dan keinginan kuat menuntun beliau mencari informasi, belajar dari berbagai sumber. Faktor ini menjadi pemicu beliau untuk mengikuti beberapa program di Sekolah.mu, beliau mengharapkan jika ini dapat membantunya melakukan tugas sebagai pemimpin. Ibu Tere mengikuti program Guru Merdeka Belajar dari Kampus Guru Cikal, berdampingan dengan program Menjadi Pemimpin Merdeka Belajar dari Sekolah Merdeka Belajar. Kemudian, teori dan tips sebagai pemimpin merdeka belajar sudah beliau dapatkan. Ternyata masih ada miskonsepsi yang beliau lakukan dalam melakukan percakapan dan pengamatan sebagai pemimpin merdeka belajar. Dalam melakukan percakapan, Ibu Tere merasa perlu fokus dan selalu mengarahkan kepada tujuan. Percakapan beliau lakukan dengan lebih santai. Ibu Tere duduk bersama sambil menyelesaikan pekerjaan atau membuat persiapan pembelajaran bersama. Setelah melakukan obrolan dan percakapan dengan guru, beliau merasa ada yang kurang, “Gregetnya belum ada”. Hal ini terutama bila mendengar keluhan atau curhatan guru tentang murid yang dinilai terlalu berinisiatif. Misalnya sudah mengerjakan pekerjaan atau tugas yang seharusnya belum dikerjakan atau belum diperintahkan. Sebagai pemimpin, Ibu Tere mengingatkan mereka melalui percakapan untuk melakukan pembelajaran yang berpihak kepada murid. Beliau mengajak mereka melihat sisi positifnya: murid itu kreatif. Dengan demikian, perlu kreativitas guru dalam merancang pembelajaran dengan memaksimalkan pemanfaatan fasilitas dan penugasan yang berdiferensiasi. Ibu Tere merasa saat ini rekan-rekan guru sudah memahami bahwa pembelajaran harus fokus kepada kebutuhan anak, memaksimalkan pemanfaatan fasilitas yang … Read more

Media Ajar yang Menarik untuk Asesmen

“Memori HP sudah penuh, Pak. Sudah gak bisa instal aplikasi lagi. “ “Aplikasi yang digunakan guru kok beda-beda, ya, Pak? Kami jadi bingung cara menggunakannya.” Bapak dan Ibu Guru sedang bingung mencari media ajar yang sesuai untuk pembelajaran jarak jauh? Hingga bingung asesmen apa yang cocok dilakukan? Jangan khawatir pertanyaan tersebut akan terjawab pada pengalaman Pak Virandy Putra. Pak Virandy Putra adalah guru dari SMA Negeri 1 Sijuk. Ketika pandemi Covid-19 membuat Pak Virandy harus memikirkan cara dan ide-ide inovatif untuk tetap melaksanakan pembelajaran. Pak Virandy sangat keteteran karena harus menggunakan beberapa aplikasi yang  menunjang pembelajaran jarak jauh. Dalam proses pembelajaran, sering terjadi apa yang dipikirkan oleh Pak Virandy tidak sesuai dengan yang dipikirkan murid-muridnya. Harapannya membuat pembelajaran menarik dan efisien, ternyata murid kurang antusiasnya. Hambatannya bukan karena aplikasi pembelajaran yang kurang canggih, tetapi ada beberapa kendala seperti guru tidak melibatkan murid dalam pemilihan media ajar yang akan digunakan ketika pembelajaran dilaksanakan. Kurang semangatnya murid di sekolah juga terlihat ketika sedikitnya yang ikut pertemuan virtual maupun pada kelas maya yang Pak Virandy buat. Ada juga berbagai alasan murid terkait dengan kurangnya semangat ketika mengikuti kegiatan pembelajaran seperti adanya beberapa murid yang mengeluh karena banyak aplikasi yang harus diunduh di gawainya. Pak Virandy lalu memikirkan cara untuk membuat pembelajaran lebih menarik dan membuat murid-muridnya antusias dalam pembelajaran jarak jauh. Dari Survei yang dilakukan Tanoto Foundation pada tahun 2020 menunjukkan bahwa 47% murid merasa kurang senang belajar di rumah karena banyaknya tugas yang diberikan, serta kegiatan pembelajaran membosankan karena tidak adanya interaksi yang baik antara guru dan murid. Kondisi tersebut selaras dengan yang dilakukan guru terhadap murid. Survei tersebut menunjukan, 85% guru memberikan tugas kepada murid. Hanya sebagian kecil yang memberikan pengajaran, meminta murid membuat penelitian sederhana atau kreativitas. Baca Juga : Asesmen Diagnosis adalah Solusi Dari survei tersebut setidaknya menunjukkan gambaran bahwa banyaknya tugas yang diberikan kepada murid dan tidak adanya umpan balik terhadap murid membuat kebosanan dalam belajarnya. Pak Virandy adalah pengguna aktif sosial media. Sehingga ada beberapa guru yang bilang kalau Pak Virandy sedikit narsis, karena apapun selalu diunggah ke media sosial. Pak Virandy  juga sering mengamati perilaku muridnya ketika menggunakan media sosial. Ternyata muridnya banyak belajar dari medsos. Contohnya belajar membuat kue di saluran YouTube, belajar membuat konten unboxing melalui Instagram, dan lainnya. Fenomena belajar dari internet membuat Pak Virandy berpikiran untuk menggunakan media sosial sebagai media ajar untuk asesmen pembelajaran. Harapannya, antusias murid meningkat dan lebih senang belajar, seperti pada masa pandemi yang mengharuskan pembelajaran jarak jauh. Pak Virandy memilih Instagram sebagai media ajarnya karena aplikasi tersebut adalah salah satu media sosial yang paling banyak digunakan. Selain itu, Instagram juga masih jarang digunakan untuk media ajar dalam pembelajaran. Menurut Pak Virandy Instagram menyediakan fitur-fitur yang keren. Berikut ini langkah-langkah yang dilakukan Pak Virandy menggunakan media ajar Instagram dalam pembelajaran jarak jauh NO KEGIATAN 1 Menggunakan postingan di feed Instagram untuk memberikan materi pembelajaran dan menginformasikan kepada murid tentang tugas proyek yang akan kerjakan. 2 Pak Virandy berkomunikasi dengan muridnya secara langsung (sinkronus), menggunakan fitur live di Instagram. Beberapa kali, ketika live, Pak Virandy melakukan simulasi praktik tentang listrik. Murid dapat bertanya secara langsung di kolom komentar. 3 Pak Virandy menghubungkan melalui tautan yang ada di biodata Instagram, yang terkoneksi langsung dengan Google Form untuk pemberian daftar hadir secara daring. 4 Pak Virandy melakukan asesmen menggunakan fitur kuis yang ada di story Instagram. Langkah-langkah Pak Virandy Menurut Pak Virandy asesmen berupa kuis itu paling keren. Murid-muridnya merasa mendapat pengalaman baru dalam proses belajar. Sebelum membuat kuis, Pak Virandy menyiapkan bank soal, kemudian membuat kunci jawaban. Setelah itu, mendesain bentuk soal. Agar terlihat menarik, dalam mendesainnya menggunakan aplikasi desain grafis,  seperti Canva. Setelah itu Pak Virandy mengunggah soalnya di story Instagram pribadinya. Beberapa soal dibuat lebih menarik dengan menampilkan suatu karakter gif di salindia soal tertentu. Pak Virandy merasa senang sekali, ternyata murid-muridnya sangat antusias mengikuti kuis melalui story Instagram. Pembelajaran melalui Instagram membuat Pak Virandy lebih memahami bahwa pembelajaran jarak jauh tidak harus dirancang melalui aplikasi pembelajaran yang konvensional. Dengan media sosial, ternyata dapat membuat pembelajaran lebih menarik. Harapan Pak Virandy adalah pembelajarannya semoga dapat lebih bermakna. Fitur kuis dalam Instagram sangat membantu dalam proses asesmen. Seperti statistik atau analisis butir soal dapat dilihat melalui fitur tersebut. Beberapa rekan Pak Virandy ternyata juga ikut menyelesaikan kuisnya. Pak Virandy percaya bahwa jika guru mau berinovasi sedikit saja, proses pembelajaran akan lebih bermakna. Dengan memanfaatkan fungsi fitur-fitur media sosial, seperti Instagram. Bagaimana Bapak dan Ibu Guru apakah pengalaman Pak Virandy menjawab permasalahan pembelajaran dan memberikan inspirasi? Bapak dan Ibu Guru mari ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari daftar di Temu Pendidikan Nusantara VIII!  Klik : https://tpn.gurubelajar.org Sumber : Surat Kabar Guru Belajar Edisi 3 Tahun Keenam

Praktik Asesmen Diagnosis, Tatap Maya Seindah Tatap Muka

Bapak dan Ibu guru merasa praktik asesmen diagnosis saat tatap maya tak seindah tatap muka? Merasakan banyak yang hilang dan memengaruhi proses belajar di kelas? Yap, pandemi yang datang ternyata menjungkirbalikkan kebiasaan-kebiasaan bapak dan ibu guru. Mungkin banyak para guru yang sudah memiliki kebiasaan pembelajaran dengan praktik asesmen diagnosis tatap muka namun tiba-tiba harus menjalankan pembelajaran praktik asesmen diagnosis tatap maya.  Tapi tenang bapak dan ibu guru, di dalam tulisan ini kita akan bahas lebih lanjut bagaimana sih membuat praktik asesmen diagnosis saat tatap maya seindah tatap muka. Tanpa berlama-lama, kita akan dengarkan cerita dari Ibu Anggi Rizka Pustika, yang mana anggota KGB Klaten dan mengajar di SD Negeri Bogem 2. Baca Juga: Praktik Asesmen Formatif dalam Pembelajaran Jarak Jauh “Lah, bikin nilai anak, ya tinggal kasih soal, beri nilai. Udah, deh. Beres! Ngapain repot mikir lainnya? Jawaban anaknya itu, ya udah itu nilai dia. Titik!” Proses belajar itu ya murid datang ke sekolah, guru membuka pertemuan, memberikan penjelasan, berlatih soal, membahas soal. Sudah cukup. Ketika materi habis, oh, ini artinya murid akan guru berikan ulangan untuk tahu capaian belajar mereka. Ulangan, koreksi, beri nilai selesai. Ya, semudah itulah saat awal-awal kegiatan Ibu Anggi dalam melakukan penilaian kepada murid. Apalagi belia seringkali mendengar kalimat-kalimat seperti ini. “Ah, guru itu gak bikin ulangan, gak koreksi aja udah tahu mana murid yang pinter mana yang enggak” atau “Hanya melihat wajahnya saja sudah hafal. Sudahlah tidak perlu repot. Seperti teman pada umumnya saja)”. Lagi-lagi tidak usah repot adalah kata sakti yang sempat membuat Ibu Anggi meyakini ketika melakukan penilaian kepada murid: yo wes (ya sudah). Gak usah repot. Lalu, tiba-tiba pandemi datang dan menjungkirbalikkan kebiasaan-kebiasaan yang selama ini Ibu Anggi lakukan. Ibu Anggi, guru yang sudah memiliki kebiasaan mengajar lebih dari delapan tahun, merasa bingung seketika. Tidak ada interaksi fisik langsung. Tidak ada teriakan, yang dari jauh dulu beliau tahu ini adalah suara si A. “Ya ampun….! Ini lembar kerja milik siapa? Kenapa gak dikasih nama, sih?” Ibu Anggi benar-benar merasa kebingungan, padahal sebelumnya beliau hafal tulisan setiap muridnya. Ibu Anggi merasa ada banyak yang hilang dan memengaruhi proses belajar di kelas. Beliau pun sempat menganggap jika tatap maya tak seindah tatap muka. Termasuk dalam proses penilaian. Keyakinan beliau bahwa penilaian gak usah repot, goyah.  “Si B suaranya kenceng. Mengerjakan tugas pasti dengan mengetuk-ngetuk meja. Kekuatannya ada pada numerasi, lemah dalam seni.”. Suara, gestur, tulisan, sifat, sikap, cara mengerjakan biasanya bisa beliau kenali dengan interaksi langsung. Lalu saat pandemi? Benar-benar menjadi big problem bagi Ibu Anggi. Beliau gak bisa mengetahui perkembangan si A ini bagaimana, si F seperti apa, si C kuat di bagian apa. Beliau merasa asing dengan murid-murid. Lantas beliau  bertanya kepada dirinya sendiri, “Kalau begini caranya, bagaimana bisa saya melakukan penilaian tanpa repot?”. Beruntunglah pada 2017, Ibu Anggi dipertemukan dengan Komunitas Guru Belajar. Kebingungannya tentang proses belajar kala pandemi mendapat jawaban dari komunitas ini. Termasuk tentang penilaian. Asesmen diagnosis menjadi jawaban atas masalah beliau dalam mengenal murid. Melalui KGB, Ibu Anggi menjadi paham bahwa penilaian untuk murid itu menyeluruh. Bukan hanya kasih soal, koreksi, beri nilai, selesai. Asesmen bagi murid itu hal yang kompleks dan butuh beragam cara untuk mendapat hasil yang akurat. Mudahnya, asesmen bisa diibaratkan seperti proses ketika kita sakit dan butuh pergi ke dokter. Ketika kita datang, dokter tidak akan langsung memvonis, “Oh, kamu sakit X”. Dokter akan memberikan beberapa pertanyaan terlebih dahulu. “Apa yang Anda rasakan? Sejak kapan? Bagian mana yang sakit?” Setelah itu, barulah pemeriksaan dimulai. Dokter akan mengaitkan hasil pemeriksaan dengan gejala yang nampak. Jika diperlukan, didukung dengan hasil tes laboratorium untuk menegaskan diagnosisnya. Ibu Anggi pun sadar, proses yang dilakukan oleh dokter ini seharusnya beliau lakukan pula kepada muridnya. Sayangnya, beliau tidak lakukan. Hasil belajar di KGB kemudian Ibu Anggi terapkan, refleksi. Apa yang selama ini bisa dengan mudah beliau ketahui ketika tatap muka, lantas beliau catat. Apa yang butuh beliau ketahui dari murid, beliau jadikan acuan untuk membuat asesmen diagnosis, membuat profil murid. Ibu Anggi kemudian membuat daftar pertanyaan melalui Google Form. Pertanyaan tersebut beliau klasifikasikan menjadi dua jenis, berupa daftar pertanyaan yang umum dan daftar pertanyaan yang khusus serta detail. Daftar pertanyaan yang umum itu seperti ketika kita membuat biodata bagi murid baru. Pertanyaannya seputar nama orang tua, nama anak, alamat tinggal, serta pekerjaan. Jika biasanya dalam biodata isian diwakilkan data ayah, maka dalam data ini Ibu Anggi meminta diisi baik data ayah maupun ibu. Untuk apa? Untuk mendapatkan gambaran detail apakah anak ini tinggal bersama orang tua atau keluarga lainnya. Data pekerjaan membuat beliau memahami apakah orang tua bekerja semua atau ada salah satu yang di rumah. Jika di rumah, apa yang dia kerjakan? Dilanjutkan dengan pertanyaan khusus. Ibu Anggi mulai dengan menanyakan jumlah anggota keluarga serta dengan siapa tinggal dalam satu rumah. Data ini bermanfaat untuk mengetahui orang dewasa yang berpotensi untuk menjadi pendamping belajar murid selain ayah atau ibunya. Berapa jumlah gawai yang dimiliki dan apa saja juga beliau tanyakan. PJJ dalam gambaran Ibu Anggi pastinya akan sangat membutuhkan gawai. Oleh karena itu kepemilikan gawai ini sangat penting untuk beliau ketahui agar beliau dapat menentukan bagaimana proses belajar yang sesuai dengan kondisi mereka. Salah satu pertanyaan penting lainnya adalah berapa rupiah yang digunakan seluruh keluarga dalam satu bulan untuk kuota internet. Akan sangat tidak bijak jika Ibu Anggi tidak tahu hal ini, lalu setiap hari mengajak murid menggunakan video conference, padahal untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari orang tua masih mengalami kesulitan. Oh, iya, Ibu Anggi tanyakan hal ini sebelum ada kuota dari Kemendikbud. Ibu Anggi merasa tetap penting juga untuk mengetahui meskipun saat ini telah ada kuota bantuan dari Kemendikbud.  Setelah Ibu Anggi kirimkan tautan Google Form ini ke grup WhatsApp, orang tua merespon dengan sangat baik. Tak berapa lama, beliau sudah mendapatkan data anak-anak dari orang tua. Ibu Anggi juga meminta murid untuk menceritakan dirinya untuk mendapatkan data diri yang lebih personal. Beliau ajukan pertanyaan panduan seperti yang beliau ajukan kepada orang tua mereka. Ada pertanyaan umum dan khusus juga. Pertanyaan umum seperti nama diri, alamat tinggal, nama orang tua, dan pekerjaan orang tua. Pertanyaan khusus seperti … Read more