Pembelajaran Efektif dengan Metode Grid
Bapak dan Ibu Guru merasa murid banyak yang pasif? Ketika diberi pertanyaan hanya satu atau dua murid yang merespon? Ingin pembelajaran efektif?
Bapak dan Ibu Guru merasa murid banyak yang pasif? Ketika diberi pertanyaan hanya satu atau dua murid yang merespon? Ingin pembelajaran efektif?
Apakah Bapak dan Ibu Guru merasa nilai murid-murid mengecewakan? Penilaian tengah semester, ujian akhir sekolah, penilaian akhir sekolah kurang maksimal? Pusing karena praktik asesmen sumatif belum menggambarkan tercapainya kompetensi murid?
“Memori HP sudah penuh, Pak. Sudah gak bisa instal aplikasi lagi. “ “Aplikasi yang digunakan guru kok beda-beda, ya, Pak? Kami jadi bingung cara menggunakannya.” Bapak dan Ibu Guru sedang bingung mencari media ajar yang sesuai untuk pembelajaran jarak jauh? Hingga bingung asesmen apa yang cocok dilakukan? Jangan khawatir pertanyaan tersebut akan terjawab pada pengalaman Pak Virandy Putra. Pak Virandy Putra adalah guru dari SMA Negeri 1 Sijuk. Ketika pandemi Covid-19 membuat Pak Virandy harus memikirkan cara dan ide-ide inovatif untuk tetap melaksanakan pembelajaran. Pak Virandy sangat keteteran karena harus menggunakan beberapa aplikasi yang menunjang pembelajaran jarak jauh. Dalam proses pembelajaran, sering terjadi apa yang dipikirkan oleh Pak Virandy tidak sesuai dengan yang dipikirkan murid-muridnya. Harapannya membuat pembelajaran menarik dan efisien, ternyata murid kurang antusiasnya. Hambatannya bukan karena aplikasi pembelajaran yang kurang canggih, tetapi ada beberapa kendala seperti guru tidak melibatkan murid dalam pemilihan media ajar yang akan digunakan ketika pembelajaran dilaksanakan. Kurang semangatnya murid di sekolah juga terlihat ketika sedikitnya yang ikut pertemuan virtual maupun pada kelas maya yang Pak Virandy buat. Ada juga berbagai alasan murid terkait dengan kurangnya semangat ketika mengikuti kegiatan pembelajaran seperti adanya beberapa murid yang mengeluh karena banyak aplikasi yang harus diunduh di gawainya. Pak Virandy lalu memikirkan cara untuk membuat pembelajaran lebih menarik dan membuat murid-muridnya antusias dalam pembelajaran jarak jauh. Dari Survei yang dilakukan Tanoto Foundation pada tahun 2020 menunjukkan bahwa 47% murid merasa kurang senang belajar di rumah karena banyaknya tugas yang diberikan, serta kegiatan pembelajaran membosankan karena tidak adanya interaksi yang baik antara guru dan murid. Kondisi tersebut selaras dengan yang dilakukan guru terhadap murid. Survei tersebut menunjukan, 85% guru memberikan tugas kepada murid. Hanya sebagian kecil yang memberikan pengajaran, meminta murid membuat penelitian sederhana atau kreativitas. Baca Juga : Asesmen Diagnosis adalah Solusi Dari survei tersebut setidaknya menunjukkan gambaran bahwa banyaknya tugas yang diberikan kepada murid dan tidak adanya umpan balik terhadap murid membuat kebosanan dalam belajarnya. Pak Virandy adalah pengguna aktif sosial media. Sehingga ada beberapa guru yang bilang kalau Pak Virandy sedikit narsis, karena apapun selalu diunggah ke media sosial. Pak Virandy juga sering mengamati perilaku muridnya ketika menggunakan media sosial. Ternyata muridnya banyak belajar dari medsos. Contohnya belajar membuat kue di saluran YouTube, belajar membuat konten unboxing melalui Instagram, dan lainnya. Fenomena belajar dari internet membuat Pak Virandy berpikiran untuk menggunakan media sosial sebagai media ajar untuk asesmen pembelajaran. Harapannya, antusias murid meningkat dan lebih senang belajar, seperti pada masa pandemi yang mengharuskan pembelajaran jarak jauh. Pak Virandy memilih Instagram sebagai media ajarnya karena aplikasi tersebut adalah salah satu media sosial yang paling banyak digunakan. Selain itu, Instagram juga masih jarang digunakan untuk media ajar dalam pembelajaran. Menurut Pak Virandy Instagram menyediakan fitur-fitur yang keren. Berikut ini langkah-langkah yang dilakukan Pak Virandy menggunakan media ajar Instagram dalam pembelajaran jarak jauh NO KEGIATAN 1 Menggunakan postingan di feed Instagram untuk memberikan materi pembelajaran dan menginformasikan kepada murid tentang tugas proyek yang akan kerjakan. 2 Pak Virandy berkomunikasi dengan muridnya secara langsung (sinkronus), menggunakan fitur live di Instagram. Beberapa kali, ketika live, Pak Virandy melakukan simulasi praktik tentang listrik. Murid dapat bertanya secara langsung di kolom komentar. 3 Pak Virandy menghubungkan melalui tautan yang ada di biodata Instagram, yang terkoneksi langsung dengan Google Form untuk pemberian daftar hadir secara daring. 4 Pak Virandy melakukan asesmen menggunakan fitur kuis yang ada di story Instagram. Langkah-langkah Pak Virandy Menurut Pak Virandy asesmen berupa kuis itu paling keren. Murid-muridnya merasa mendapat pengalaman baru dalam proses belajar. Sebelum membuat kuis, Pak Virandy menyiapkan bank soal, kemudian membuat kunci jawaban. Setelah itu, mendesain bentuk soal. Agar terlihat menarik, dalam mendesainnya menggunakan aplikasi desain grafis, seperti Canva. Setelah itu Pak Virandy mengunggah soalnya di story Instagram pribadinya. Beberapa soal dibuat lebih menarik dengan menampilkan suatu karakter gif di salindia soal tertentu. Pak Virandy merasa senang sekali, ternyata murid-muridnya sangat antusias mengikuti kuis melalui story Instagram. Pembelajaran melalui Instagram membuat Pak Virandy lebih memahami bahwa pembelajaran jarak jauh tidak harus dirancang melalui aplikasi pembelajaran yang konvensional. Dengan media sosial, ternyata dapat membuat pembelajaran lebih menarik. Harapan Pak Virandy adalah pembelajarannya semoga dapat lebih bermakna. Fitur kuis dalam Instagram sangat membantu dalam proses asesmen. Seperti statistik atau analisis butir soal dapat dilihat melalui fitur tersebut. Beberapa rekan Pak Virandy ternyata juga ikut menyelesaikan kuisnya. Pak Virandy percaya bahwa jika guru mau berinovasi sedikit saja, proses pembelajaran akan lebih bermakna. Dengan memanfaatkan fungsi fitur-fitur media sosial, seperti Instagram. Bagaimana Bapak dan Ibu Guru apakah pengalaman Pak Virandy menjawab permasalahan pembelajaran dan memberikan inspirasi? Bapak dan Ibu Guru mari ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari daftar di Temu Pendidikan Nusantara VIII! Klik : https://tpn.gurubelajar.org Sumber : Surat Kabar Guru Belajar Edisi 3 Tahun Keenam
Bapak dan Ibu Guru sudah mempraktikkan merdeka belajar? Ingin menambah inspirasi? Mengembangkan kompetensi dan karier? Atau ingin melakukan perubahan dalam dunia pendidikan?. Dalam Temu Pendidik Nusantara VIII akan menjadi momen refleksi menyeluruh terhadap merdeka belajar, menjadi sebuah asesmen formatif untuk penggerak perubahan pendidikan, karena merdeka belajar sebagai cita tidak hanya membutuhkan peran pendidik saja tetapi juga membutuhkan ekosistem yang merdeka belajar. Tidak hanya guru yang belajar, tetapi juga kepala sekolah, kepala madrasah, bahkan pengawas yang yang sering ditakuti oleh guru, tetapi ternyata dapat berjumpa dan berkolaborasi dalam semangat yang sama yaitu merdeka belajar. Dalam Temu Pendidik Nusantara guru tidak hanya ikut begitu saja, tetapi guru dapat memilih. Setiap guru dapat memilih perannya dapat sebagai peserta, pembicara atau relawan panitia. Setiap guru yang memilih menjadi peserta, juga bisa memilih topik yang ingin dipelajarinya. Berbeda dengan kebanyakan kegiatan lainnya, biasanya guru dituntut belajar topik yang ditentukan pihak lain, bukan pilihannya sendiri. Di Temu Pendidik Nusantara VIII, guru dapat memilih topik yang sesuai kebutuhan dan keinginannya. Topik yang dipilih yang dapat membantu dalam mengatasi permasalahan di kelas maupun sekolah. Guru yang sudah memiliki pengalaman mengajar juga mendapatkan kesempatan untuk menjadi pembicara. Guru yang menjadi pembicara dapat menyampaikan pengalaman dan keadaannya ketika di lapangan. Guru yang menjadi pembicara diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi guru lain, memberikan dampak yang luas dan memberikan perubahan, mengawali karier menjadi pelatih, dan dikenal oleh 30.000 guru se-nusantara. Tidak hanya belajar, tetapi guru juga mengembangkan karir. Karena sejak tahun lalu, Temu Pendidik Nusantara sudah dirancang sebagai kegiatan pengembangan karier guru. Pembagian kegiatan di Temu Pendidik Nusantara dilakukan untuk memberi pengalaman dan tantangan karier yang beragam. Peserta Temu Pendidik Nusantara akan belajar mencoba suatu strategi pengajaran di kelas kemerdekaan, mengembangkan potensi di kelas kompetensi, dan memperluas kesempatan dan jejaring belajar di kelas kolaborasi. Peserta Temu Pendidik Nusantara juga bisa belajar dan mengetahui bahwa menjadi kepala sekolah bukanlah satu-satunya pilihan karier guru. Di kelas karier, peserta Temu Pendidik Nusantara dapat belajar bahwa profesi guru dapat menghasilkan banyak spesialisasi. Dengan mempelajari perjuangan setiap pembicara dalam merintis kariernya. Di Pameran Karier, peserta Temu Pendidik Nusantara juga bisa menyaksikan dan mendapatkan karya dan layanan guru. Harapannya setelah mengikuti Temu Pendidik Nusantara, peserta mendapatkan pelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan karier untuk merintis dan mengembangkan kariernya. Peserta tidak hanya menjadi pendengar, tidak hanya dimintai kartu nama untuk tindak lanjut presentasi produk atau layanan. Tetapi peserta menjadi berdaya karena mendapatkan kesempatan menghasilkan karya yang bermanfaat baik untuk sesama guru maupun masyarakat luas. Peserta Temu Pendidik Nusantara diajak untuk berdaya, dalam melangkah dari jenjang ke jenjang lebih lanjut hingga menghasilkan karya. Baca Juga : Inilah 5 Keistimewaan Temu Pendidik Nusantara Tidak hanya berkembang, tetapi juga melakukan perubahan. Meski terbuka untuk umum, sebagian besar peserta Temu Pendidik Nusantara adalah guru-guru dari beragam organisasi profesi dan komunitas yang menjadi bagian dari perubahan pendidikan Indonesia. Seperti dari Yayasan Guru Belajar, Cerita Guru Belajar, Kampus Guru Cikal, Sekolah Merdeka Belajar, Komunitas Guru Nusantara, Komunitas Pengawas Belajar, Jaringan Sekolah Madrasah Belajar, Ikatan Guru Indonesia, Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia, Lingkar Daerah Belajar, Federasi Guru Independen Indonesia, Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia, PERGUNU, Forum Guru Muhammadiyah, dan Badan Musyawarah Perguruan Swasta. Disponsori oleh Nusantarun, Sekolah.mu, Wardah Inspiring Teacher, dan Nutrifood. Serta diliput oleh media-media Kumparan.com, Tempo.com, dan Kompas.com. Organisasi-organisasi ini hadir bukan sekedar belajar untuk kepentingan dan capaian pribadi, tetapi juga untuk mengubah praktik pengajaran dan menyebarkannya ke guru-guru yang lain. Tidak semua bertahan, namun mereka yang hadir adalah mereka yang berkomitmen kuat pada tujuan, yang menunjukkan ciri dari guru merdeka belajar. Konten pada Temu Pendidik Nusantara diharapkan dapat menjadi konten yang menjawab kebutuhan ekosistem guru dan pendidikan di Indonesia. Konten Temu Pendidik Nusantara dirancang dan dipilih sesuai dengan topik Temu Pendidik Nusantara juga selaras dengan semangat merdeka belajar. Konten yang dapat membantu guru memandu murid menjadi pelajar merdeka. Namun keistimewaan yang utama pada Temu Pendidik Nusantara bukan berkaitan dengan konten, kelas, maupun pembicara. Temu Pendidik Nusantara istimewa karena menjadi wadah perjumpaan antar guru yang berbagi cerita dan membahas bagaimana momen asesmen nasional dapat digunakan oleh semua pemangku kepentingan untuk mendesain, mengembangkan, mewujudkan ekosistem yang membantu semua dan setiap murid untuk mengalami pengalaman merdeka belajar di rumah, di kelas, dan di komunitasnya. Apakah Bapak dan Ibu Guru berminat untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII? Yuk jangan lupa untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari daftar di Temu Pendidik Nusantara VIII! klik : https://tpn.gurubelajar.org
Sudah melakukan asesmen diagnosis, tetapi hasilnya kurang maksimal? Bingung mencari inspirasi terkait asesmen diagnosis?
Proses pencarian sistem asesmen kognitif dan non-kognitif membuat Bu Marjenny sampai harus memikirkan ide baru bahwa asesmen harus dipersiapkan sedemikian rupa.
Bapak dan Ibu Guru sedang mengalami permasalahan perilaku murid? Seperti murid sering marah-marah, teriak, guling-guling, dan sampai menangis? Praktik asesmen apa saja yang perlu dilakukan? Jangan khawatir pertanyaan tersebut akan terjawab dalam pengalaman Bu Amalia Ahadini. Bu Amalia Ahadini adalah guru yang mengajar di Sekolah Luar Biasa Negeri Pembina, Yogyakarta. Ketika bulan Agustus, Bu Amalia mendapatkan informasi bahwa akan ada murid pindahan dari sekolah lain. Secara prosedur, praktik asesmen kepada murid baru dilakukan oleh tim asesmen sekolah, seperti mendata murid tentang profil keluarga dan kemampuan umum yang akan menjadi bahan materi dalam praktik asesmen yang dilakukan oleh tim sekolah. Hasil data dari tim sekolah selanjutnya diserahkan kepada Bu Amalia yang akan menjadi guru kelas bagi murid baru pindahan dari sekolah lain. Setelah diamati hasil datanya, ternyata masih banyak hal yang perlu Bu Amalia ketahui sebagai guru kelasnya. Bu Amalia mulai menghubungi Ibu calon murid barunya melalui WhatsApp. Bu Amalia meminta ibu calon muridnya untuk mengisi asesmen non-kognitif, asesmen kemampuan bahasa, asesmen kemampuan berhitung, asesmen prakarya, dan asesmen kemampuan kemandirian melalui Google Form. Sebelumnya murid Bu Amalia juga mengisi instrumen asesmen yang sama pada awal tahun ajaran baru. Ibu calon murid menjelaskan perilaku anaknya yang sering marah di rumah dalam asesmen non-kognitif. Bu Amalia juga melakukan komunikasi yang intensif dengan ibu calon murid, serta melakukan asesmen non-formal melalui pesan WhatsApp. Dengan begitu Bu Amalia mengetahui gambaran tentang kemampuan murid dalam bidang menghitung, bahasa, prakarya, dan kemandirian. Tetapi, ternyata Bu Amalia juga mengetahui bahwa murid barunya memiliki beberapa hambatan. Ibunya bercerita tentang perilaku anaknya yang tidak ingin belajar dan setiap hari selalu minta uang jajan sampai tiga kali sambil marah-marah, berkata kurang baik, dan suka bermain di luar rumah seharian. Beberapa tetangga sering menegur ibu calon murid untuk mendidik anaknya dengan benar. Bu Amalia meminta tolong kepada ibu calon murid barunya untuk merekam perilaku anaknya di rumah secara diam-diam, karena untuk mendapatkan informasi dan gambaran yang lengkap tentang perilaku murid barunya. Setelah menerima rekaman, ternyata benar bahwa murid barunya marah-marah dengan berteriak, berguling-guling sampai menangis karena meminta uang. Bu Amalia mengirimkan pesan motivasi untuk memberikan dukungan dan menguatkan ibu calon murid supaya tabah dan sabar. Menurut Bu Amalia mungkin, anggapan murid barunya ketika ibunya menolak untuk memberikan uang, permintaannya dianggap sepele bagi ibunya, sehingga murid barunya berperilaku marah-marah sampai menangis. Bu Amalia bersama ibu calon murid membuat prioritas masalah yang harus ditemukan solusinya. Sebelumnya ibu calon murid ingin memperbaiki kemampuan kognitif anaknya.Bu Amel menyakinkan ibu calon murid bahwa ketika belum ada kepatuhan dari anaknya, pasti tetap tidak mau belajar. Bu Amalia akhirnya membuat beberapa pertanyaan dasar tentang perilaku, lalu dilanjutkan berkomunikasi menggunakan WhatsApp. Setelah itu, Bu Amalia mencari instrumen yang sudah sesuai terkait perilaku. Bu Amalia mempraktikan asesmen menggunakan skala asesmen motivasi yang juga dapat disebut motivation assessment scale (MSA) yang didapatkan pada waktu mengikuti diklat. Bu Amalia mencoba mencari tahu penyebab perilaku yang kurang baik pada murid barunya dengan bertanya tentang pola pengasuhan, trauma masa kecil, dan hukuman yang pernah dialami murid barunya. Data praktik asesmen yang didapatkan langsung dianalisis dan dikonsultasikan dengan guru yang memiliki pengalaman tentang permasalahan perilaku. Hasil praktik asesmen Bu Amalia lalu disampaikan kepada ibu calon murid barunya. Bu Amalia menyampaikan bahwa perilaku anaknya yang suka marah-marah terjadi karena objek atau kegiatan tertentu (tangible). Maka agar tidak terjadi perilaku tersebut harus menghindari pemicunya. Berdasarkan asesmen, menunjukan bahwa ibu calon murid baru adalah single parent yang tinggal bersama orang tuanya. Tantangan terbesar mendidik anak dengan kakek dan nenek biasanya disebut inkonsistensi pengasuhan. Baca Juga : Meningkatkan Motivasi Belajar pada Praktik Merdeka Belajar Ibu calon murid juga bercerita bahwa sering terjadi, pada saat anaknya meminta uang dan tidak diberi, anaknya akan teriak-teriak, marah dan menangis, tetapi neneknya terburu-buru menenangkan anaknya dengan memberikan uang. Alasan neneknya bertindak seperti itu karena tidak tega mendengar cucunya menangis minta uang. Pola pengasuhan yang berbeda dalam satu rumah akan membuat anak kebingungan. Anak akan mencari dan memilih tempat yang nyaman ketika merasa terancam seperti dimarahi. Ibu calon murid setuju perbedaan pola pengasuhan adalah penyebab yang mempengaruhi perilaku anaknya. Bu Amalia meminta ibu calon muridnya dalam memastikan anaknya menjadi bagian dalam keluarganya serta melibatkan anak berperan aktif di dalam rumah. Bu Amalia mengajak ibu, nenek, dan murid baru untuk membuat kesepakatan bersama. Contohnya pada saat murid tidak menunjukkan perilaku yang kurang baik, maka murid berhak mendapatkan kesempatan untuk menonton selama 15 menit. Proses perubahan perilaku pasti tidak mudah. Maka Bu Amalia selalu menguatkan ibu calon murid untuk sabar. Setelah itu, seluruh anggota keluarga diajak untuk membuat rutinitas yang terprediksi. Contohnya, ketika pagi hari setelah ibadah, mandi, dan makan, murid baru diajak neneknya ke warung. Murid baru diajarkan perilaku pengganti yang wajar. Jika biasanya murid berteriak dan berkata kurang baik ketika meminta sesuatu, murid diajari untuk berkata baik dan sopan saat meminta sesuatu. Peran nenek adalah memberikan motivasi cucunya. Setelah strategi dicoba ternyata perubahan perilaku murid belum terlihat. Akhirnya Bu Amalia membuat kesepakatan baru yaitu setiap hari, tugas murid adalah melakukan tiga kebaikan dengan bukti foto ketika murid melakukan kebaikan, dan ibunya memberikan pujian yang sesuai setelah anaknya melakukan kebaikan. Ternyata, strategi tersebut berhasil. Setiap hari murid baru dengan senang hati melakukan tiga tugas kebaikan. Kebaikan yang dilakukan seperti makan sendiri, mengembalikan piring ke tempat cuci piring, membantu mencuci sepeda motor, dan kegiatan baik lainnya. Tugas melakukan kebaikan ini merupakan strategi yang berfokus pada kegiatan perilaku baik. Solusi dalam menangani permasalahan perilaku yang kurang baik adalah dengan menumbuhkan perilaku yang baik melalui kegiatan kebaikan. Ibu calon murid merasa senang atas perubahan perilaku anaknya, meskipun terkadang masih marah ketika keinginan anaknya tidak dituruti, tetapi sudah tidak berkata kotor lagi. Bu Amalia menyadari pentingnya asesmen yang diterapkan seiring proses belajar akan membuat perubahan perilaku murid menjadi lebih baik. Bagaimana Bapak dan Ibu Guru apakah pengalaman Bu Amalia menginspirasi? Bapak dan Ibu Guru mari ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari daftar di Temu Pendidik Nusantara VIII! Klik : https://tpn.gurubelajar.org
Apakah murid Bapak dan Ibu guru malas belajar? Tampak kurang memiliki motivasi belajar? Ketika pembelajaran murid menundukkan kepala di atas meja, pasif, dan cuek. Bingung bagaimana cara untuk mengatasinya? Bu Ameliasari Tauresia Kesuma adalah guru yang mengajar pelajaran Ekonomi dan Akuntansi di Madrasah Aliyah Negeri Salatiga. Bu Amel akan berbagi pengalamannya dalam meningkatkan motivasi belajar pada praktik merdeka belajar. Bu Amel memiliki satu kelas yang istimewa dengan jumlah 20 murid laki-laki dan 15 murid perempuan berusia sekitar 16-17 tahun. Murid laki-laki ini kurang menunjukkan motivasi belajarnya. Mereka juga belum melakukan empati karena mereka sering rebahan di meja, mendengarkan musik, dan bermain gawai. Selain itu mereka juga sering melakukan membolos dan terlambat masuk kelas. Latar belakang ekonomi keluarga murid laki-laki sebagian besar kurang mampu dan ada yang keluarganya bercerai. Bu Amel merasa kesulitan ketika belajar bersama mereka di dalam kelas karena tugas yang diberikan dikerjakan secara setengah-setengah. Pernah diputarkan video inspiratif tetapi komentar mereka menunjukkan ketidakpeduliannya dan ketika dijelaskan mereka malah cuek. Keadaan semakin parah, Bu Amel sampai membuat kesepakatan jika terlambat masuk kelas, konsekuensinya adalah harus ke ruang bimbingan konseling untuk mengambil surat izin masuk kelas. Setelah dari ruang bimbingan konseling mereka mendapatkan surat pernyataan yang tertulis mereka tidak akan mengulangi perbuatannya. Tetapi pada kenyataannya mereka tidak menyesali perbuatanya, sehingga Bu Amel merobek surat pernyataan mereka. Bu Amel tidak suka permintaan maaf yang palsu dan terkesan formalitas saja. Semua guru yang mengajar di kelas istimewa ternyata juga mengeluhkan hal yang sama seperti yang dirasakan Bu Amel. Bu Amel merasa kasihan karena ada 15 murid perempuan yang tentu akan terganggu karena sikap murid laki-laki. Bu Amel teringat tentang murid-muridnya Erin Gruwell dalam film Freedom Writer, Louanne Johnson, Dangerous Mind, dan Ron Clark. Bu Amel kemudian mendapatkan inspirasi dari film Freedom Writer. Rencananya jam pelajaran ke-3 dan ke-4 dialihkan untuk ulangan harian. Bu Amel memberikan selembar kertas putih untuk kemudian membuat jadwal apa yang ingin mereka lakukan saat pelajarannya selama tiga minggu menjelang ujian akhir semester. Bu Amel juga memberikan pilihan belajar yang sesuai rincian silabus pembelajaran seperti membaca artikel, membaca buku, mendengarkan musik, dan kegiatan sesuai yang murid inginkan seperti menggambar, mempelajari pelajaran lain, tidur, main gawai, merenung, dan apa saja. Bagi murid yang tidak belajar dengan Bu Amel, diwajibkan menulis kisahnya saat belajar bebas tentang apa yang ditemukan, dirasakan, atau apa saja. Setelah itu Bu Amel merekap data jadwal muridnya dan menempelkan di kelas. Dengan cara seperti itu semua tau apa yang diinginkan saat belajar bersama Bu Amel. Bu Amel mencoba menghargai keinginan murid-muridnya, tetapi tetap kondusif. Setelah itu Bu Amel merekap jadwal yang sudah dibuat murid-murid di komputer. Ketika pertemuan berikutnya Bu Amel menampilkan rekapan jadwal di depan kelas. Murid-murid yang tidak ingin belajar dengan Bu Amel diberikan selembar kertas untuk menuliskan apa saja yang akan mereka lakukan. Sebagian murid yang ingin belajar dengan Bu Amel mengerjakan berbagai worksheet yang sudah dipersiapkan. Bu Amel merasa tidak sabar karena menunggu hasil tulisan murid yang tidak ingin belajar bersamanya. Muncul pertanyaan apakah mereka mau menuliskan kisahnya sendiri?. Dan hasilnya ternyata, mereka mau menuliskan kisahnya sendiri. Tulisan yang mereka tulis sangat menarik ada yang lucu, menyenangkan, dan mengharukan. Bu Amel terkejut ketika membaca bahwa ada yang menulis meminta untuk didoakan supaya cepat sadar dan semangat karena sudah di kelas akhir dan sebentar lagi akan ujian nasional. Ada juga yang menjelaskan tentang perasaannya yang mau malas-malasan atau rajin mengikuti kelas dengan Bu Amel. Sebagian ada juga yang menulis tentang balapan, modifikasi motor, dan sepak bola. Baca juga : Gaya Belajar Murid & Merdeka Belajar Bu Amel merasa heran ketika pertemuan berikutnya bahwa murid-murid yang sebelumnya tidak ingin ikut belajar bersamanya, menjadi ingin ikut pelajaran. Mereka beralasan malu karena menulis. Padahal Bu Amel menyukai tulisan mereka dan ingin terus membaca serta mengetahui apa saja yang mereka sampaikan. Bu Amel juga merasa kaget ketika mereka meminta untuk tambahan waktu belajar bersamanya. Pada saat motivasi internal murid sudah muncul, maka merdeka belajar dapat dilakukan. Ternyata tujuan mereka adalah lulus ujian nasional. Hal itu memberikan tantangan Bu Amel untuk mengubah pola pikir mereka. Mungkin mereka tidak tahu bahwa ada tujuan lainnya ketika belajar Akuntansi. Bu Amel mengajak mereka mengobrol tentang menjadi pengusaha, berdagang, menghitung laba, menghitung kekayaan dan akhirnya mereka tau manfaatnya. Bu Amel mengajarkan berbagai metode belajar yang dapat dipilih murid-muridnya supaya membantu dalam belajar akuntansi. Bu Amel membuat asesmen akhir menjadi nyaman karena penilaian kemampuan didiskusikan bersama. Murid yang biasanya mendapatkan rangking akan merasa heran karena tidak ada yang baik dan jelek. Sehingga tidak ada persaingan, tetapi yang ada adalah saling membantu untuk maju bersama dan paham bersama. Bu Amel sangat menyadari karena butuh energi yang banyak untuk mengubah pola pikir merdeka belajar. Dengan begitu Bu Amel dan murid-murid akhirnya tau apa yang yang mereka inginkan saat belajar, mereka merasa dihargai dan didengarkan. Tumbuhnya kesadaran karena hidup membutuhkan belajar. Bagaimana Bapak dan Ibu Guru, apakah pengalaman Bu Amel menginspirasi dan memberikan solusi? Jangan lupa Bapak dan Ibu Guru mari ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem merdeka belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari daftar di Temu Pendidik Nusantara VIII! Klik : https://tpn.gurubelajar.org