Asesmen Nasional 2021, Siap(a) Berubah?

Jam menunjukkan pukul 11.00 ketika kegiatan seri webinar bertajuk “Siap Asesmen Nasional, Siap Berubah” pada 24 juni 2021 dimulai. Guru-guru sudah standby di depan gawai dan laptop masing-masing. Bahkan, saking antusiasnya para peserta, room Zoom yang disiapkan panitia tidak cukup. Hingga panitia mesti memutar otak, mengarahkan sebagian peserta untuk menonton live di YouTube. Ya, dengan sedikit usaha, kebaikan akan menemukan jalannya sendiri. Kegiatan diawali dengan doa, dilanjutkan pengantar oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng, Drs. Muhammad Haris, M.Si. Dipandu langsung oleh Bu Ilona Christina dari Kampus Guru Cikal. Dan menghadirkan Bu Elisabet Indah Susanti sebagai Narasumber, selaku ketua Kampus Guru Cikal. Dalam sambutannya Pak Kadis mengingatkan, bahwa program ini haruslah dijalankan oleh seluruh stakeholder secara integratif, hal ini guna meningkatkan kualitas pendidikan. Karenanya, kementerian pendidikan memberikan amanah kepada sekolah untuk mewujudkan murid yang memiliki profil Pancasila. Dan hal ini bagi Pak Kadis bisa dimulai dengan peningkatan kapasitas guru dan kepala sekolah. Ini menjadi fundamental, karena merupakan kunci bagi reformasi pendidikan, khususnya di Kabupaten Bantaeng. Bagi Pak Kadis, guru dan kepala sekolah adalah elemen penting dalam pembenahan tata kelola pendidikan kini. “Nah, kegiatan kita hari ini akan sangat mendukung guru dan kepala sekolah di Kabupaten Bantaeng.” Terang Pak Kadis. Ini pun sebangun dengan visi misi Pemerintah Kabupaten Bantaeng, di mana peningkatan sumber daya manusia menjadi program utamanya. Hal tersebut, jika dipilah, maka ada dua hal esensial yang mesti dipikirkan bersama. Pertama, bagaimana tata kelola Dinas Pendidikan Kabupaten Bantaeng sebagai induk dari lembaga satuan pendidikan. Kedua, pengembangan sumber daya manusia di satuan pendidikan, agar supaya selalu ada ikhtiar untuk menambah kapasitas dan kapabilitasnya dalam menjalankan peran dan fungsinya masing-masing. Lebih khusyuk, Pak Kadis kemudian memaparkan problem pendidikan di Bantaeng. Berlapik pada data Badan Pusat Statistik (BPS), mengatakan bahwa angka rata-rata lama sekolah kita, masih digolongkan rendah, dan ini memengaruhi human index development. Di mana salah satu ukuran utamanya adalah pendidikan. Inilah yang seyogianya menjadi perhatian kita bersama. Problem kedua adalah Pemetaan Mutu Pendidikan (PMP) yang masih dinilai rendah.  Problem ketiga, adalah kemampuan literasi yang rendah. Hal ini—menurut Pak Kadis—dimungkinkan karena sebagian guru tidak melakukan rencana tindak lanjut dari program yang sudah ada, yaitu Calistung (baca, tulis, dan hitung). Bagian refleksi yang seyogyanya menjadi bagian penting dari sebuah proses tampaknya tidak dimaksimalkan betul oleh guru-guru. “Saya ingin program ini berlanjut dan dibahas di forum KKKG/MGMP, serta terintegrasi dengan KKKS/MKKS agar supaya ada rencana yang berkesinambungan dari hasil refleksi. Menambah yang kurang. Memperbaiki yang salah.” Pak Kadis mengingatkan. Sebagai penutup, Pak Kadis menasihati guru dengan sebuah petuah bijak, “Hari ini kita guru, besok kita guru, dan hingga mati tetap menjadi guru. Sehingga pepatah dalam bahasa Makassar benar-benar menyata dalam hidup, jappo buku-buku tala jappo kana-kana baji (hancur tulang belulang, tidak habis cerita-cerita baik).”  Meluruskan Miskonsepsi Belajar  Membuka pembicaraan Bu Susan kemudian mengajak para guru melakukan refleksi: apakah murid inisiatif belajar meski tidak disuruh guru/orangtua? Seberapa banyak murid yang sedih ketika lonceng jam pulang berbunyi? Seberapa banyak murid yang belajar ketika jam kosong? Pertanyaan refleksi di atas sudah kita ketahui bersama jawabannya. Nah, apa sebenarnya yang terjadi dengan pendidikan kita? Murid yang tidak punya inisiatif, tidak belajar jika tak disuruh adalah bukti bahwa kita sedang menghadapi sebuah krisis pembelajaran. Memang banyak murid yang sekolah, tapi sedikit yang belajar.  Sekotahnya menjadi bahan renungan bersama. Sepertinya memang ada miskonsepsi tujuan pendidikan kita selama ini. Inilah yang kemudian dipaparkan oleh Bu Susan dengan sangat apik. Penulis pun menyadari bahwa inilah yang seyogianya menjadi perhatian utama guru jika ingin mereposisi tujuan pendidikan. Seperti, apakah tujuan pendidikan adalah siap sekolah, atau siap hidup? Nilai angka, atau kompetensi yang membekali murid dengan life skill? Ujian terstandar, atau ujian yang bermakna? Apakah murid harus menghafal, atau menalar? Murid dituntut untuk terus patuh, atau diajari untuk mandiri?  Sekolah adalah miniatur kehidupan. Karenanya, sekolah dituntut untuk bisa membekali murid dengan keterampilan-keterampilan yang membantunya kelak hidup di tengah-tengah masyarakat. Jika kita percaya bahwa menghafal tidak akan membantu, maka mulai sekarang kita mesti mengajar murid untuk menalar. Memaksimalkan akal pikiran yang dianugerahkan Tuhan.  “Murid ketika dihadapkan pada kehidupan nyata, tidak hanya dituntut untuk menghafal saja, kok. Karena belajar itu bukan hanya tentang konten/pengetahuan. Yang lebih prioritas adalah bagaimana murid untuk dapat menalar/berpikir kritis.” Terang Bu Susan. Sayangnya—menurut Bu Susan—kita masih banyak terjebak pada banyak miskonsepsi belajar. Inilah yang harus dihadapi terlebih dahulu, karena bicara soal asesmen nasional, maka dituntut perubahan paradigma berpikir tentang pelajaran. Nah, menghadapi asesmen nasional bukanlah mengondisikan murid, tetapi menyiapkan guru. Supaya guru mampu merubah praktik pembelajaran di kelasnya. Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional 2021 Nah, apa saja miskonsepsi belajar yang dimaksud Bu Susan? Check this out. Pertama, dari segi manajemen kelas. Di kelas murid masih terjajah belajar, ini ditandai dengan murid yang dituntut untuk patuh sepenuhnya. Guru mendikte aturan pada murid, sedang murid cukup melaksanakannya saja. Jika melanggar dapat hukuman, patuh dapat reward. Bagaimana idealnya? Dalam konsep merdeka belajar, murid diharapkan mandiri, dilibatkan dalam membuat kesepakatan kelas, sehingga murid juga bisa menyuarakan keinginannya. Serta dilanjutkan dengan refleksi yang dialogis. Murid dan guru melakukan komunikasi dua arah dalam proses belajar. Kedua, dari segi strategi pembelajaran. Di kelas, pembelajaran masih berorientasi target. Hanya mengacu pada kurikulum, dengan penyampaian konten yang satu arah, juga mengejar ketuntasan konten. Sayangnya, guru berhasil menuntaskan kurikulum, tapi murid tak menguasai kurikulum. Padahal dalam konsep merdeka belajar, pembelajaran seyogianya berorientasi pada murid. Kurikulum mestinya dipadukan dengan kebutuhan murid. Melakukan kegiatan yang mengarah pada penguasaan kompetensi. Bu Susan mengigatkan bahwa diksi kompetensi yang digunakan mengacu pada tiga hal: pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Serta bagaimana murid melakukan aksi guna menyelesaikan masalah. Jadi concern dari kompetensi bukan pengetahuan semata.  Ketiga, dari segi asesmen pembelajaran. Di kelas, semua penilaian digunakan untuk menentukan nilai akhir. Ulangan harian, PR, ulangan semester, ujian akhir, kesemuanya diakumulasi dengan menggunakan rumus tertentu, hingga jadilah nilai akhir. Murid tidak diberikan asesmen diagnostik dan asesmen formatif. Padahal inilah bagian yang paling menentukan. Guna meluruskan miskonsepsi ini, maka amat penting untuk melakukan asesmen yang lebih berorientasi diagnosis dan formatif. Apa sih asesmen diagnosis dan formatif itu? Asesmen diagnosis adalah asesmen yang dilakukan untuk mengidentifikasi dan memahami kondisi … Read more

Mengenal Asesmen Nasional Lebih Dekat

Sebenarnya apa sih, AN dan AKM itu?Apakah Asesmen Nasional adalah UN versi baru atau justru ada sesuatu yang benar-benar baru dan belum banyak kita tahu?Mari mengenal Asesmen Nasional lebih dekat. Asesmen Nasional dan AKM sedang naik daun di Indonesia. Sejumlah persiapan telah dilakukan sekolah. Meskipun ramai diperbincangkan, tapi nyatanya masih ada miskonsepsi AN & AKM yang berkembang. Loh, kok bisa ya?Apa urgensi keduanya dan strategi apa yang harus dipersiapkan sekolah? KGB Jakarta Timur dengan bangga mempersembahkan Temu Pendidik Daerah (TPD) ke-21 yang dilaksanakan pada hari Jumat, 2 April 2021 pukul 19.30-21.00 WIB. Acara ini dilaksanakan secara live di kanal Youtube KGB Jakarta Timur. Mengangkat topik Mengenal Asesmen Nasional (AN). TPD kali ini dipandu oleh Ibu Fitria Juwita Santi, S.Pd dari SDN Rawamangun 12 Pagi selaku moderator dan Pak Ari Wibowo dari Yayasan Guru Belajar selaku pembicara. Harapannya apa yang dibahas di TPD kali ini bisa jadi pencerahan sekaligus kesempatan belajar bareng untuk teman-teman pendidik yang masih bingung mempersiapkan AN.  Acara dibuka dengan doa oleh Pak Tohirin dari SMA PB Soedirman Jakarta lalu dilanjutkan sambutan dari Ketua KGB Jakarta Timur, Ibu Ida Widaningsih dari SMPN 160 Jakarta. Bu Ida selaku ketua juga menyampaikan beberapa hal, mulai dari Program Guru Merdeka Belajar yang kini dialihkan ke KGB daerah, lalu program TPD sebagai agenda rutin yang diadakan setiap bulannya, dan juga keterbukaan KGB Jakarta Timur untuk menerima masukan terkait program KGB ke depannya. Mengawali pemaparannya saat itu, Pak Ari Wibowo dari Yayasan Guru Belajar mengajak semua peserta TPD merefleksikan pengalaman tentang ujian. Menurutnya, ini jadi bagian penting juga dalam pembahasan mengenal Asesmen Nasional. Refleksi dimaksudkan sebagai pemantik dalam asesmen awal untuk mengetahui kebutuhan belajar yang dalam konteks ini adalah mengenal Asesmen Nasional. Momen ini langsung disambut baik oleh peserta yang hadir. Terlihat dari beberapa komentar di kolom chat, salah satunya dari Pak Fandi Karami. “tergantung. Kalo mata pelajaran yang dikuasai yang A, kalo gak yang B”.  Beliau juga menambahkan lagi komentarnya. “datang, kerjakan, lupakan“ Komentar tersebut seakan memperkuat gambaran ujian yang mungkin Pak Fandi rasakan dulu. Ada juga komentar senada dari peserta lain yaitu dari Bu Wiwit. “ B B B B masa sekolah dulu Pak Ari, tapi masih ada juga zaman sekarang “ Seakan memahami perasaan peserta, Pak Ari langsung memberikan penguatan dengan melanjutkan pemaparannya dan mengajak peserta untuk flashback ke masa pendidikan di zaman abad 20. Pendidikan saat itu jauh dari kata merdeka. Tidak banyak guru saat itu yang menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna. Selain itu, ada banyak salah kaprah atau miskonsepsi dalam proses belajar, pembelajaran dilakukan hanya dengan satu cara, dan tidak heran akhirnya banyak murid tidak suka belajar UN Dihapus? Untuk menjawab pertanyaan tersebut,  Pak Ari membagikan beberapa fakta berupa hasil riset, diantaranya : 1.  Tahun 2014, tagar #TolakUN jadi salah satu aksi yang mengawali perubahan saat ini. Gerakan beberapa tahun lalu ini jadi saksi betapa tidak adilnya UN untuk Pendidikan Indonesia. Pak Ari kemudian mengajak peserta mengingat kembali analogi yang dibuat Albert Einstein tentang Sistem Pendidikan. Einstein menggambarkan ketidakadilan dimana hanya ada satu ujian yang digunakan untuk individu yang beragam. Analogi ini tentu bisa dikaitkan dengan gambaran ketidakadilan UN untuk murid di Indonesia saat itu. 2.  Riset dari Smeru.or.id melalui rise program yang dilakukan selama 4 tahun ( 2000-2014). Dari riset ini disimpulkan bahwa banyak anak pergi ke sekolah tetapi tidak belajar dilihat dari skor awal yang rendah, sedikitnya peningkatan kompetensi murid antar jenjang kelas, dan menurunnya capaian belajar murid selama 4 tahun. Hasil riset ini tentunya semakin meyakinkan pendidik bahwa keadaan Pendidikan Indonesia saat itu memang tidak baik-baik saja. 3.  Hasil Skor PISA Indonesia mengalami penurunan, terkonfirmasi dari hasil UN selama 5 tahun terakhir. Kebanyakan murid bisa membaca tetapi belum bisa memahami makna apa yang dibacanya. Hasil riset ini menyimpulkan bahwa UN tidak sesuai dengan kebutuhan murid karena terbukti hanya berfokus pada konten kurikulum bukan berfokus pada kebutuhan belajar murid. Murid tidak mendapatkan proses pengalaman belajar yang bermakna dan belum dipersiapkan untuk menghadapi real life. Saat UN masih diwajibkan, bisa dikatakan bahwa UN adalah tujuan belajar dan kini AN menghadirkan solusi salah kaprah ini. Menurut Pak Ari, guru yang merdeka belajar harus tahu mulai dari mana. Jika dulu terjebak miskonsepsi, sekarang belajar lagi mana yang harus diperbaiki. Misalnya saja mulai melibatkan murid dalam membuat kesepakatan kelas, merancang pembelajaran yang berpihak dan mengakomodasi kebutuhan murid, dan melakukan berbagai cara untuk melakukan penilaian yang menggambarkan proses serta hasil belajar murid. Tentang AN dan AKM Lalu, apakah AN sama dengan UN? Pak Ari mengajak peserta flashback kembali. Dulu saat UN menentukan kelulusan murid, pastinya semua merasakan ada ritual tersendiri. Bahkan, ada yang mengambil jalan pintas dan menghalalkan segala cara demi kelulusan murid. Kini, mari  memahami AN dengan cara baru. Penetapan AN memiliki beberapa perbedaan yang mencolok dengan UN, seperti: 1.  AN bukan sebagai penentu kelulusan murid 2.  Hasil AN digunakan sebagai informasi tentang pemetaan kemampuan murid dan sekolah. 3.  AN meliputi 3 instrumen, yaitu : AKM, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan belajar. Nah, hubungan antara AKM dan AN dimulai dari sini. AKM adalah salah satu dari aspek penilaian AN. AKM menekankan pada literasi dan numerasi. Lalu mengapa minimum? karena harapannya setelah menempuh pendidikan di sekolah, murid bisa menjadi problem solver di kehidupan nyata. Selain AKM ada juga Survei Karakter. Instrumen ini mengukur karakter yang diperoleh murid selama proses pembelajaran yang telah dialami di sekolah. Maksudnya, melalui instrumen ini murid bisa merefleksikan pengalaman dari sikap-sikap yang berwawasan Pancasila.  Baca Juga: Siap AN, Siap Berubah? Sementara Survei Lingkungan Belajar memotret lingkungan sosial murid. Dimulai dari lingkungan di rumah yang menekankan kembali pentingnya pembentukan karakter anak, guru yang membentuk proses belajar murid agar bermakna, serta kepala sekolah yang kini tidak lagi hanya jadi pemimpin sekolah melainkan terlibat dalam proses belajar guru bersama murid. Mengapa hanya di level/kelas tertentu? Untuk AKM, memang dilaksanakan hanya di kelas 5,8, dan 11. Tujuannya agar ada umpan balik untuk perbaikan. Mulai dari perubahan cara, berbagai inovasi, praktik baik,dan lainnya. Lalu di tengah pemaparan, salah satu peserta bertanya. “ AKM perlu les ya pak ? “ Tidak seperti UN yang menjadi penentu kelulusan, AN hanya mengukur kemampuan murid … Read more

Membahas Asesmen Kompetensi Minimum

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim memastikan Ujian Nasional (UN) ditiadakan. Kemudian diluncurkan Asesmen Kompetensi Minimum dan survey karakter. Asesmen Kompetensi Minimum dan survey karakter bukanlah pengganti UN, karena memiliki tujuan yang berbeda dari UN. Asesmen ini akan menilai kompetensi literasi dan numerasi. Selain asesmen kompetensi, juga akan memberlakukan konsep survei karakter. Survei karakter ini digunakan untuk mengetahui karakter anak di sekolah. Untuk mengetahui ekosistem di sekolahnya bagaimana implementasi gotong-royong. Serta Survei itu, digunakan untuk menjadi tolok ukur supaya sekolah-sekolah memberikan umpan balik bagi kegiatan pembelajarannya. Selama ini  murid selalu dikejar-kejar dengan tuntutan prestasi dengan berbagai tekanan untuk mencapai nilai tinggi, selalu dibayangin keresahan dan  rasa takut untuk tidak lulus pada hasil ujian sehingga berbagai cara dilakukan untuk mendapatkannya. Tekanan itu bukan hanya dirasakan oleh murid saja tetapi juga guru karena menginginkan agar muridnya memperoleh nilai yang tinggi dan dinyatakan lulus. Hal senada disampaikan oleh Pak Ari Wibowo dari Cerita Guru Belajar yang menjadi Narasumber pada TPD KGBN Jeneponto dengan topik NGOPI (Ngobrol Pintar) Asesmen Kompetensi Minimum yang dipandu oleh Bu Ninik Angraeni penggerak KGBN Jeneponto. Pak Ari mengawali materinya dengan menyampaikan pertanyaan Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Pendidikan Kita? Dari pertanyaan tersebut tergambar bahwa yang banyak terjadi adalah masih banyaknya miskonsepsi belajar mulai dari miskonsepsi di ruang belajar, strategi pembelajaran yang berdasar target, asesmen pembelajaran yang berorientasi sumatif. Pada kesempatan ini Pak Ari mengupas habis mengenai konsep merdeka belajar di ruang kelas, pembelajaran berorientasi pada murid dan asesmen berorientasi diagnosis dan formatif. Lanjut Pak Ari, pada kesempatan ini juga menyampaikan perbandingan antara UN dan AN baik dari segi tujuan, aspek yang dinilai, jenis responden, penentuan responden, level responden, penentuan butir soal serta bentuk laporan. Pada UN bertujuan menjadi Penentuan kelulusan murid dan menjadi Pemetaan kualitas satuan pendidikan dan daerah. Aspek yang dinilai berfokus pada Penguasaan konten dari mata pelajaran yang diajarkan, murid menjadi responden tunggal yang ditentukan melalui sensus sekolah dan murid, yang pelaksanaannya pada murid tingkat akhir di setiap tingkatan, semua murid memperoleh bobot soal yang sama,bentuk laporan berdasar capaian murid. Sedangkan pada AN bertujuan Pemetaan kualitas satuan pendidikan dan daerah, Aspek yang dinilai Penguasaan kompetensi literasi dan numerasi, Penguasaan kompetensi sosial emosional yang tercakup pada Profil Pelajar. Baca Juga: Siap AN, Siap Berubah? Pancasila melalui survey karakter, Kualitas proses belajar di sekolah melalui survey lingkungan belajar, respondennya murid, guru dan kepala sekolah yang ditentukan melalui Sensus sekolah, sensus guru dan kepala sekolah, serta survei murid (sampling) level responden yakni murid Kelas 5, 8, 11, penentuan butir soal Murid mendapat butir soal yang disesuaikan atau bersifat adaptif (khusus AKM) serta bentuk laporannya tidak ada capaian murid dimana Capaian sekolah dibandingkan tahun sebelumnya. Pada sesi diskusi dan tanya jawab, salah satu peserta yakni Pak Syam menyampaikan kaitannya dengan penerapan asesmen nasional di kalangan teman-teman guru di Jeneponto masih banyak ditemukan miskonsepsi mengenai asesmen nasional dimana masih banyak guru yang beranggapan bahwa AN masih sama dengan UN yang akan menjadi penentu kelulusan murid, Bagaimana mengubah pemikiran guru yang selama ini sudah menjadikan kebiasaan mendrilling murid dengan soal-soal yang dibuku? Jawab Pak Ari, Untuk berubah memang butuh tantangan yang cukup berat dimana kita akan melalui jalan terjal dan berliku, tetapi itu bukan sebuah halangan untuk guru berubah. Pemerintah saja melakukan transformasi besar-besaran untuk sebuah perubahan. Olehnya itu Sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah dan Guru didorong untuk melakukan kolaborasi untuk berubah. Dengan asesmen nasional miskonsepsi yang ada kita harus tinggalkan secara menyeluruh karena hasil AN bukan menjadi penentu kelulusan tetapi dikembalikan ke sekolah sebagai potret kualitas hasil pembelajaran murid di Sekolah, olehnya itu Sekolah dituntut  untuk terus melakukan terobosan berupa inovasi untuk capain mutu pembelajaran. View this post on Instagram A post shared by Kampus Guru Cikal (@kampusgurucikal) Pertanyaan berikutnya dari Pak Murdin Guru SMK. Mengapa AN diterapkan?. Lanjut Pak Ari Menjawab, Kenapa AN diterapkan karena kita ingin terhubung dengan sistem pendidikan global dengan model asesemen yang diterapkan. Pada kesempatan ini hadir pula membersamai teman guru Jeneponto ketua KGBN Pak Usman dengan memberi semangat belajar, Apakah Sekolah untuk hidup atau hidup untuk sekolah. Serta pada kesempatan ini peserta membangun komitmen bersama untuk SIAP AN, SIAP Berubah serta komitmen untuk terus belajar dan sesi ditutup dengan foto bersama. Ingin mengikuti program Siap AN, Siap Berubah?Klik tombol di bawah ini

Siap AN, Siap Berubah?

Tidak dapat dipungkiri bahwa keputusan penghapusan Ujian Nasional dan penetapan Asesmen Nasional (AN) memicu tumbuhnya kegelisahan, kekhawatiran dan pertanyaan dari guru dan sekolah/madrasah. Hasil survey yang dilakukan Kampus Guru Cikal terkait kesiapan guru dalam pelaksanaan AN, menampilkan sejumlah data. Dari data tersebut diketahui bahwa 67% guru telah memahami tujuan asesmen nasional, 70% menyatakan telah paham perbedaan antara Ujian Nasional dan Asesmen Nasional, 50% guru menjawab telah memahami manfaat laporan hasil Asesmen Nasional, dan 60% menyatakan telah paham apa yang dinilai melalui Asesmen Nasional.  Meskipun demikian, dari data survey juga diketahui bahwa 56% dari responden masih memiliki kekhawatiran terkait AN. Guru khawatir murid tidak dapat melakukan Asesmen Nasional dengan baik, khawatir murid menyepelekan pembelajaran karena hanya fokus pada asesmen literasi dan numerasi, khawatir murid tidak mampu  mencapai level kompetensi yang diharapkan, khawatir akan masih banyak guru yang mengejar nilai, khawatir karena murid selama ini belum berlatih bernalar dan tidak terbiasa dengan soal-soal Higher Order Thinking Skills, serta khawatir dengan rapor AN yang akan diterima sekolah. Kekhawatiran itu pula yang mendorong sekolah-sekolah gencar melakukan tryout AN, drilling soal AKM untuk siap menghadapi AN. Guru kembali terjebak dalam malpraktik pembelajaran dalam melakukan persiapan menghadapi asesmen nasional. Kemudian muncul pertanyaan lagi. Jika drilling soal tidak diperlukan untuk persiapan AN, lalu apa yang sekolah harus lakukan? Bagaimana dengan buku latihan soal dan bimbel yang sudah disediakan? Jika tidak ada jam tambahan, itu artinya murid tanpa persiapan? Bagaimana nanti nilainya? Katanya AN terkait literasi dan numerasi. Bukankah tugas guru bahasa dan matematika yang menghadapi? Lalu apakah pelajaran yang lain masih dianggap penting oleh murid?  Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Kegelisahan dan pertanyaan tersebut jika diperhatikan masih menunjukan adanya miskonsepsi terhadap pelaksanaan AN secara khusus, sekaligus miskonsepsi terhadap belajar secara umum. Kekhawatiran yang ditunjukan dari survey, membebankan pelaksanaan dan hasil AN pada pundak murid, sebagai penentu kualitas pendidikan. Kekhawatiran dan pertanyaan tersebut juga memberikan gambaran miskonsepsi belajar secara umum yang yang berorientasi pada target penguasaan materi bukan kompetensi, serta asesmen yang terlalu berorientasi pada asesmen sumatif sehingga semua penilaian berupa skor digunakan untuk menentukan nilai akhir. Sudah seharusnya pemahaman dan kesiapan menghadapi AN dibarengi dengan perubahan paradigma guru mengenai konsep belajar dan asesmen. Bukik Setiawan, ketua Yayasan Guru Belajar mengatakan “Ada perbedaan nyata pada konsep baru tapi tidak akan bermakna bila pemahaman lama yang digunakan untuk memahami konsep baru”. Memahami Asesmen Nasional berarti memahami perubahan untuk peningkatan kualitas pembelajaran mulai dari kelas masing-masing dimana guru sebagai kuncinya. Sebagai respon terhadap keadaan ini Kampus Guru Cikal menginisiasi program  Siap AN, Siap Berubah yang diluncurkan pada Jumat, 26 Maret 2021. Elisabet Indah Susanti, Ketua Kampus Guru Cikal menjelaskan, “Program ini dirancang untuk membantu kepala sekolah dan guru menerapkan strategi pembelajaran berbasis kompetensi untuk peningkatan kualitas pembelajaran, membantu kepala sekolah dan guru menerapkan berbagai strategi asesmen untuk  mendukung pencapaian kompetensi murid, serta membantu kepala sekolah dan guru mengintegrasikan kompetensi literasi dan numerasi dalam pembelajaran dan asesmen.” View this post on Instagram A post shared by Kampus Guru Cikal (@kampusgurucikal) “Melalui program ini diharapkan guru mampu meninggalkan miskonsepsi dan membangun paradigma baru mengenai konsep belajar dan asesmen yang lebih berorientasi pada perkembangan kompetensi murid” lanjutnya. Program Siap AN, Siap Berubah – Kampus Guru Cikal ingin memberikan dampak seluas-luasnya pada guru dan kepala sekolah di seluruh Nusantara. Untuk itu progam Siap AN, Siap Berubah disediakan dalam beberapa bentuk menu belajar yang bisa dipilih oleh kepala sekolah dan guru, baik secara perorangan maupun kolektif. Menu belajar  yang disediakan terdiri dari; menu Merdeka, dimana kepala sekolah dan guru bebas memilih program dari kurikulum yang disediakan sesuai kebutuhan masing-masing; menu Kompetensi, dimana kepala sekolah dan guru secara perorangan dapat mengikuti paket kurikulum belajar secara lengkap dengan harga promo; serta Paket Beasiswa Sekolah yang bisa diadakan secara kolektif untuk guru dan kepala sekolah. Bukik Setiawan menambahkan, “Tidak ada kenyamanan dalam perubahan. Semua perubahan menuntut kita meninggalkan zona nyaman dan masuk pada zona belajar. Siapkah kita?” Salam Hangat, Ketua Kampus Guru CikalElisabet Indah Susanti Ingin mengikuti program Siap AN, Siap Berubah?Klik tombol di bawah ini

Asesmen Nasional : Memperpanjang Derita atau Sebaliknya?

Senin lalu, 01 Februari 2021, lepas tengah hari, saat orang-orang bergegas pulang dari aktivitas  kerja, tepatnya pukul 16.00 Wita, Komunitas Guru Belajar Nusantara Makassar kembali menggelar Temu Pendidik Daerah di awal tahun dengan topik Asesmen Nasional sebagai  Pemetaan Pendidikan. Apa yang Harus Dilakukan Sekolah, Guru, dan Murid?  Topik ini sedang hangat-hangatnya jadi buah bibir dan akan digadang-gadang sebagai tema besar  Temu Pendidik Nusantara VIII nantinya. Lewat kanal Youtube KGB Makassar, Pak Ari Wibowo,  Pelatih Kampus Guru Cikal, sebagai pembicara, praktis dengan tegas dan terukur memulai webinar dengan pernyataan penolakan Ujian Nasional yang dulu telah lama dicetuskan oleh  Menteri Pendidikan Nasional era Kabinet Indonesia Bersatu, Bambang Sudibyo,sejak tahun 2005.  “Ujian Nasional sudah tidak relevan menjadi alat ukur dalam menentukan kompetensi murid.”  terang Pak Ari.  Sederet Menteri pun ikut menggaungkan wacana tersebut. Mulai dari M. Nuh, Anies Baswedan,  dan Muhadjir Effendy. Bahkan, saya dulu menganggap bahwa penghapusan Ujian Nasional merupakan hal utopis.  Tapi siapa sangka, di bawah Nadiem Makarim, hal itu terwujud. Kegaduhan terjadi dibanyak  tempat. Sekolah dan guru akhir-akhir ini sibuk tak karuan setelah Menteri Pendidikan dan  Kebudayaan mengeluarkan kebijakan yang tak terduga: Menghapus Ujian Nasional dan  menghadrikan Asesmen Nasional yang meliputi, Asesmen Kompetensi Minimum, Survei  Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.  Di tengah jalannya webinar, salah satu peserta, Emi Hardyanti, tiba-tiba mencurahkan  kegelisahannya di kolom live chat, “Bagaimana, Pak? Di luar sana banyak agen yang menawarkan  buku latihan untuk Asesmen Nasional, nyaris dipahami bahwa Asesmen Nasional merupakan  pengganti Ujian Nasional.”   Lalu disusul juga oleh Ibu Permata Hati, seperti namanya, komentarnya di kolom live chat ia  sampaikan dengan penuh emosional, “Sekarang banyak pelatihan pembuatan soal Asesmen  Kompetensi Minimum, bahkan buku pembahasannya juga ada. Apakah ini tidak berdampak pada  persaingan nilai? Jadinya, tujuan Asesmen Kompetensi Minimum malah tersamarkan.”  Dua celetukan dari peserta webinar membuat pembicara dan pemandu, Pak Multazam, Guru  MTsN 2 Maluku Tenggara yang baru saja hijrah dari Makassar, menahan tawa dengan sedikit rasa  heran. “Iya, Bu. Masih ada oknum-oknum yang memanfaatkan momen-momen seperti ini,” kata  Pak Ari.  Kedua komentar dari peserta menggambarkan bahwa selama ini tercipta miskonsepsi. Apa yang  diresahkan oleh peserta Temu Pendidik Daerah, mungkin itu juga yang dirasakan sebagian  teman-teman guru yang lain. Jadinya, guru kembali lagi terjebak pada konsep yang lama dan  menyamarkan tujuan cita-cita Asesmen Nasional.  Pembicara lanjut menyampaikan materinya, ia mengutip pernyataan dari Mas Bukik Setiawan,  “Ada perbedaan yang nyata pada konsep baru, tapi tidak akan bermakna bila pemahaman lama  yang digunakan untuk memahami konsep baru.”  Pada Temu Pendidik Daerah kali ini, pembicara berusaha mendobrak gap tersebut. Ia  menerangkan tiga dasar tujuan Asesmen Nasional. Pertama, ingin melihat kualitas pembelajaran  di sekolah. Kedua, mendapatkan umpan balik peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.  Ketiga, menjadi dasar untuk penyusunan program-program dalam meningkatkan proses  pembelajaran di sekolah.  “Pak, kenapa siswa yang menjadi target Asesmen Kompetensi Minimum hanya diperuntukkan  bagi siswa yang berada di kelas 5, 8, dan 11?” tanya peserta lagi.  Pertanyaan dari peserta langsung direspon oleh pembicara dengan menampilkan tabel  perbandingan Asesmen Nasional dan Ujian Nasional. Tabel itu menggambarkan tujuh perbedaan  dari masing-masing program.  Lanjut, pembicara mulai menjelaskan tiap-tiap perbandingan. Ia menegaskan sekali lagi bahwa  dalam Asesmen Kompetensi Minimum, tujuannya bukan untuk menilai hasil akhir, tapi keinginan  perbaikan yang diharapkan oleh pemangku kebijakan. Dengan menjadikan siswa kelas 5, 8, dan  11 sebagai sasaran, tujuannya tentu agar tahun depan siswa yang sudah naik tingkat ke kelas 6,  9, dan 12 ikut merasakan perubahan iklim yang berada di sekolah.  Jika Ujian Nasional mendapat bobot butir soal yang sama untuk mengukur kompetensi, Asesmen  Kompetensi Minimum malah bersifat adaptif yang menekankan pada kompetensi Literasi dan  Numerasi. Semuanya ini, bertolak pada hasil PISA beberapa tahun belakangan ini.  Bahkan, sasaran juga tidak hanya ditujukan kepada siswa, melainkan guru dan kepala sekolah  dalam ranah survei karakter yang termaktub dalam profil pelajar Pancasila dan survei lingkungan  belajar untuk melihat kualitas proses belajar mengajar di sekolah.  Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Jadi sudah menjadi barang yang jelas, bahwa Asesmen Nasional tidak berpacu pada target  seberapa banyak siswa yang berhasil lulus, tetapi berpacu pada target capaian sekolah tahun tahun sebelumnya agar tercipta peradaban dalam lingkungan sekolah.  Untuk mencapai itu, pembicara memaparkan lima strategi yang harus dilakukan sekolah, terlebih  pemimpin sekolah dalam hal ini kepala sekolah. Langkah pertama, kepala sekolah tidak  mengambil jalan pintas, misalnya menghimbau guru dan siswa untuk melakukan latihan  pengerjaan soal, tapi melihat kesemua sisi.   Kedua, kepala sekolah harus memprioritaskan waktu dan energi lebih banyak untuk memandu  perencanaan, pendampingan, dan refleksi proses pembelajaran dan melibatkan seluruh elemen,  termasuk orang tua murid. Ketiga, melakukan pembelajaran yang kolaboratif. Maksudnya, kepala  sekolah memastikan semua mata pelajaran harus terintegrasi pada kompetensi literasi, numerasi  dan karakter.  Keempat, mengembangkan kebiasaan berbagi praktik baik di lingkungan sekolah sebagai wadah  bertukar pikiran, karena belajar yang nyata itu ialah belajar dengan sesama rekan seperjuangan.  Terakhir, hapus program-program yang sudah tidak relevan, apalagi memakan anggaran yang  cukup banyak dan segera memulai menyusun program-program jangka panjang yang lebih relevan.  Nah, pilihan itu bergantung pada kita semua. Saya harap, setelah ini, ajaklah murid belajar untuk  hidup, bukan sekadar belajar untuk ujian. Sebab kata Einstein, “Seni tertinggi guru adalah  membangun kegembiraan dalam ekspresi kreatif dan pengetahuan.”

Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional

“Sekolah saya sekolah pinggiran, jika ujian nasional saja kesulitan, bagaimana saat Asesmen Nasional diterapkan?” Tahun 2021 mulai diberlakukan Asesmen Nasional, apa yang harus sekolah persiapkan? Menyelenggarakan PJJ saat pandemi saja kewalahan, apalagi dengan Asesmen Nasional di tahun depan. Hhhmm dilihat-lihat banyak permasalahan ya?Apa Bapak Ibu juga begitu atau permasalahannya justru lebih akut nih? Waduuh, daripada terus-terusan memikirkannya, lebih baik kita kupas saja apa itu Asesmen Nasional, agar hilang rasa takut Bapak Ibu dan tidak ada kata ragu diantara kita *eh tidak ada ragu dengan Asesmen Nasional maksudnya. Konsep Asesmen Sebelum membahas Asesmen Nasional, sebenarnya Apa sih asesmen itu? Jika dilihat dari fungsinya ada tiga jenis asesmen, yaitu asesmen terhadap proses belajar, asesmen untuk belajar,  dan asesmen sebagai proses belajar. Pada AN penilaian tidak berpatokan pada hasil belajar murid atau angka perolehan tetapi proseslah yang dinilai, penilaian mengenai proses pembelajaran di  kelas, potret layanan dan kinerja dari sekolah/madrasah,  dan pemahaman murid dari tujuan atau esensi dari proses belajar yang berlangsung. Jika diperdalam lagi pendidikan Indonesia dari tahun ke tahun sampai sekarang ini masih menggunakan pola pembelajaran yang sama. Wah apa ini maksudnya? Mungkin bapak Ibu ada yang tahu? Ok kita lanjutkan kalau begitu ya, maksud dari penggunaan pola pembelajaran yang sama ini, anak-anak atau murid dituntut untuk menghafalkan materi, rumus-rumus, dan murid diberikan beban tugas yang banyak dari setiap mata pelajaran setiap harinya, wah bisa dibayangkan bagaimana murid merasakan capek dan tentunya Bapak Ibu juga merasakan capek bukan kalau harus menyiapkan beberapa tugas untuk murid, lalu para guru dan sekolah lebih mengapresiasi murid yang pintar, yang nanti dapat mengkatrol nilai murid-murid lain yang merasa tertinggal baik secara akademik maupun non akademik. Jika dibandingkan dengan menjalankan Asesmen Nasional baik murid dan guru tidak ada yang merasa terbebani, karena pola pembelajaran jadi menitikberatkan pada penalaran dan literasi, pemberian tugas atau PR dengan meningkatkan kualitas soal bukan pada kuantitasnya, dan penilaian yang akan diambil secara sampling dari setiap sekolah/madrasah masing-masing. Tidak akan ada lagi membandingkan dengan sekolah tetangga. Bagaimana menghadapi Asesmen Nasional? Nah, Bapak Ibu mau tahu bagaimana caranya bisa lulus Asesmen Nasional? Kita lihat jawabannya pada Obrolan #GuruMerdekaBelajar yang bertajuk Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional, Bagaimana Seharusnya Guru & Kepala Sekolah menyikapi AN? Pada Obrolan ini ada Pak Bukik Setiawan selaku Narasumber dan Ibu Elisabet Indah Susanti sebagai Pemandu. Acara melalui live di kanal youtube Kampus Guru Cikal ini penuh dengan pertanyaan dan rasa penasaran dari para peserta mengenai Asesmen Nasional, tampak beberapa komentar dari para peserta, terlihat Ibu Mahayu Ismaniar yang mengatakan“Enak nih jadi murid! Ga ditanyain hafalan mulu 🙁 terus dibandingin sama murid yang lebih pinter” Ibu Puti Hamid dengan sangat antusias mengatakan“bagus nih, aplikasi lintas mata pelajaran jadi berkesinambungan dari perencanaan-pembelajaran-asesmen-laporan perkembangan,”yang selaras dengan yang diungkapkan Ibu Theresia Tri Darini bahwa Asesmen Nasional dapat dimanfaatkan untuk refleksi proses pembelajaran. Cukup seru obrolan #GuruMerdekaBelajar malam itu membahas topik yang sedang hangat-hangatnya, pasti banyak pro dan kontra dengan kebijakan baru ini, jika ditilik lebih jauh Asesmen Nasional memiliki banyak manfaat yang bisa dirasakan baik oleh pengajar, peserta didik dan satuan pendidikan sekalipun, dengan Asesmen Nasional akan mengetahui sampai sejauh mana proses keberhasilan dan ketercapaian tujuan proses pembelajaran, tahu bahwa manfaatnya bisa dirasakan oleh murid, guru dan sekolah, serta apa yang perlu dikurangi (baik dari segi pemberian atau penyampaian materi dan kualitas tugas yang diberikan), mengetahui layanan dan kinerja apa yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan, dalam segi pengajar, guru secara tidak langsung juga mengalami penurunan beban kerja tetapi dengan peningkatan kualitas kerja yang lebih baik.Wah asyik nih Bapak Ibu! Bagaimana mengetahui keberhasilan dan ketercapaian Asesmen Nasional yang sudah dijalankan? Semakin banyak yang bisa kita kupas mengenai Asesmen Nasional ini, berdasarkan pemaparan Pak Bukik dalam obrolan live tersebut dijelaskan bahwa AN memiliki 3 bagian, yaitu Asesmen Kompetensi Minimal (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. Pada pedoman AKM nantinya akan ada rubrik penilaian yang memiliki 4 urutan tingkat kompetensi, yaitu perlu intervensi khusus, dasar, cakap dan mahir. AKM dirancang untuk mengukur capaian murid dari hasil belajar kognitif, yaitu kompetensi literasi dan numerasi. Rubrik penilaian pada AKM diambil secara sampling atau survei yang dapat memberikan gambaran secara jelas mengenai ketercapaian asesmen yang mengarah pada penguasaan kompetensi literasi, numerasi dan karakter apakah sudah berhasil dan mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Rubrik penilaian inilah yang akan menjadi pegangan untuk menjalankan asesmen selanjutnya.  Tips Menghadapi Asesmen Nasional Dari Obrolan seru #GuruMerdekaBelajar Pak Bukik turut memberikan tips untuk mempersiapkan dalam menjalankan Asesmen Nasional Tahun 2021 bagi pemimpin Sekolah/Madrasah dan Guru.Siapa yang mau tahu tipsnya? Kira-kira apa saja tips yang bisa dilakukan? Tips tersebut antara lainPertama, setiap pemimpin Sekolah/Madrasah diharapkan dapat mengajak guru untuk melakukan analisis terhadap tujuan. Tujuan bahwa dengan menjalakan Asesmen Nasional untuk memperbaiki sistem proses pembelajaran ke arah yang lebih baik, baik pihak guru, sekolah bahkan murid bisa mendapatkan manfaat dari proses pembelajaran yang kita berikan;Kedua, kegiatan dan konten pembelajaran yang berpotensi pada mengembangkan kompetensi literasi, numerasi dan karakter, melakukan perencanaan pembelajaran kolaboratif berbasis pada murid yang diajar;Ketiga, melakukan forum berbagi praktik baik pembelajaran berbasis kompetensi yang mengarah pada penguasaan kompetensi literasi numerasi dan karakter. Sedangkan tips yang bisa diterapkan oleh guru antara lainPertama, melakukan asesmen di awal pembelajaran untuk memahami kompetensi awal murid;Kedua, melakukan dan memperbanyak pelaksanaan asesmen formatif berbasis kompetensi literasi,numerasi dan karakter sebagai dasar untuk penyesuaian pembelajaran;Ketiga, mengurangi jumlah tugas sekaligus meningkatkan kualitas tugas yang diberikan kepada murid. Video selengkapnya dapat ditonton di bawah ini Pilih tips yang mana nih Bapak Ibu? atau semua tips mau dicoba? Tuntutan perubahan dan tantangan yang akan dihadapi kedepannya. Diperlukan adanya rasa ingin tahu dan rasa ingin belajar yang kuat antar semua pihak yang berkepentingan. Seiring berjalannya waktu akan dirasakan manfaat dan tujuan dari suatu program yang dibentuk. Pro-kontra pasti akan selalu ada dan selalu mengiringi setiap perubahan, karena dengan pro-kontra tersebutlah akan menciptakan resep bumbu perubahan ke arah yang lebih baik, dan terasa semakin kuat rasa semangat untuk dapat menciptakan perubahan pendidikan Indonesia untuk berani bersaing dengan dunia.  Nah, sudah jelas bukan, Asesmen Nasional adalah jawaban dari kita semua untuk perbaikan mutu pendidikan kita. Tidak perlu diragukan dan meragukan lagi. Tentunya tidak perlu mengikuti bimbingan belajar dan drilling … Read more