Diferensiasi Pembelajaran yang Disukai Murid

Diferensiasi pembelajaran itu apa sih? Lalu bagaimana menerapkannya? Apa dampaknya bagi murid? Temu pendidik daerah Makassar berjalan dengan penuh semangat saat pemandu acara membuka dan memperkenalkan narasumber ibu Dina Marta Aulia Ningrum seorang guru SMK Negeri 1 Kedungwuni Pekalongan. Ibu Dina membagi pengalaman mengajarnya dalam menghadapi beragam karakter murid. Saat ibu Dina memaparkan presentasinya yang membahas tentang deferensiasi. Inilah yang membuat saya dan beberapa teman KGBN Makassar turut ambisius untuk menyimak isi materi tentang pengalaman ibu Dina mampu membuat murid merasa nyaman dan semangat dalam belajar. Sekalipun pelajaran sulit, namun ibu Dina berhasil mengambil hati para muridnya dengan ide kreatifnya. Berikut ulasan terkait pengalaman ibu Dina dalam menerapkan diferensiasi pembelajaran. Berawal dari pembelajaran anekdot yang diberikan ibu Dina Marta Aulia Ningrum kepada muridnya, ia mendapat beberapa pengalaman sebagai bahan refleksi terhadap proses pembelajaran yang diterapkan. Dengan pembelajaran yang berfokus pada satu arah yaitu sekadar instruksi kepada murid mengerjakan “tugas” membuat anekdot menggunakan video. Namun, Ibu Dina belum memahami bahwa tidak semua murid bisa menggunakan video atau cenderung kurang berminat dalam menggunakan video. Serta ketidakpahaman murid terhadap pelajaran tentang anekdot.  Saat tiba hari pengumpulan tugas, hanya sebagian murid menyetor tugasnya dengan alasan sulit membuat anekdot dan video. Melihat hasil kerja murid yang jauh dari harapan, ibu Dina mulai berpikir langkah strategis untuk mencapai pembelajaran yang menyenangkan dan dapat mendorong semangat murid dalam belajar dan mengerjakan tugas anekdot yang diberikan. Ibu Dina mencari tahu kesukaan, kemamapuan, serta keahlian para muridnya. Jawaban murid beragam dengan berbagai pendapat. Ada yang suka menggambar, puisi, dan membuat pantun. Ibu Dina sontak melihat keberagaman bakat minat muridnya, namun dari situlah ibu Dina memberi kesempatan murid untuk memilih tantangan belajarnya sendiri sesuai potensi yang dimiliki.  Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Tantangan terbesar ibu Dina dalam menerapkan diferensiasi yaitu murid merasa aneh, karena penerapan murid berbeda dalam mengerjakan tugasnya. Namun Ibu Dina telah menjelaskan manfaat dari model deferensiasi ini. Deferensiasi dapat memaksimalkan potensi masing-masing murid dengan mambawa kedalam ranah pembelajaran agar bakat, minat murid dapat berkembang dan pembelajaran juga bisa menyenangkan.  Sebagai guru kita mengetahui bahwa setiap murid memiliki latar belakang bakat dan minat yang berbeda. Dan hal itulah yang membuat ibu Dina menyadari bahwa dalam menerapkan pembelajaran di kelas kita perlu melakukan diferensiasi/memahami kebutuhan murid. Maka dari itu, ibu Dina mengemas pembelajaran tentang anekdot dengan kolaborasi kemampuan murid. Artinya, murid mengerjakan tugas sesuai dengan hobi/passion masing-masing.  Sebagai contoh, murid yang suka musik bisa menyusun lagu menggunakan kata-kata anekdot. murid yang suka menggambar bisa menuangkan ide gambarnya ditambahkan kata anekdot di dalamnya. murid yang suka puisi, bisa menyusun puisi  menggunakan kalimat-kalimat anekdot. Bahkan ibu Dina memiliki murid yang bisa mendesain, maka ia membuat sebuah desain baju dengan kata-kata anekdot. Setelah selesai murid tersebut mencoba untuk mengirim ke sosial media. Alhasil baju yang ia desain dengan kata-kata anekdot yang dibuatnya menjadi laris. Ini adalah salah satu pencapaian yang sangat menakjubkan baik kepada guru maupun murid. Dalam hal ini bisa meningkatkan motivasi murid, semangat belajarnya, dan dapat juga memberi sumbangsih yang positif terhadap hasil belajar mereka. Tentu hal tersebut juga menjadi motivasi terhadap murid lainnya. Dan langkah yang inovatif ini bisa menjadi cerminan bagi guru-guru lain dimanapun berada. Bahwa kita perlu mengembangkan pelajaran menjadi menyenangkan dan bermakna.  Selain dari model pembelajaran yang diterapkan ibu Dina terkait diferensiasi/pembelajaran sesuai kebutuhan murid. Ibu Dina juga menerapkan sistem pengumpulan tugas sesuai keputusan bersama murid. Dengan melakukan musyawarah seperti ini, membuat murid juga ikut terlibat menyumbangkan ide mereka, dan murid merasa keberadaan mereka dihargai oleh guru. Bukan hanya perintah satu arah dari guru. Tapi kita mencoba mendiskusikan setiap kegiatan kelas dengan murid. Bahkan dalam menentukan durasi pengerjaan tugas. Meskipun mereka sudah sepakat mengumpulkan dalam waktu sepekan, namun beberapa murid telah menyelesaikan tugas sebelum deadline. Sebagai salah satu alasan murid bisa mengerjakan tugas sebelum deadline adalah mereka menganggap bahwa tugas yang diberika ibu Dina menyenangkan, karena mereka bebas membuat anekdot sambal memadukan passion mereka.  Dari sinilah kita mengerti, bahwa pembelajaran yang inovatif, kreatif menyenangkan bagi murid akan mendorong murid semangat dalam belajar. Untuk menjadikan murid kita paham dan berminat untuk belajar tentu yang pertama kita lakukan adalah menjamah hati mereka, mencari hal-hal yang mereka suka seperti hobi dan minat mereka. Dari minat itulah kita padukan dengan pelajaran. Dengan penuh yakin, point pelajaran yang hendak kita sampaikan dapat diterima dengan baik disebabkan pengemasannya juga bagus dan menarik perhatian murid. Ibu Dina berpesan sebagai seorang guru kita harus sering merefleksi diri dengan memberikan pertanyaan yang memantik agar dapat memacu semangat kita dalam mengajar dan mendidik yaitu “Apa upaya saya sebagai guru membantu murid dalam memahamkan pembelajaran dengan menciptakan beberapa inovasi selain pemberian teks saja yang kadang membuat anak-anak jenuh”.  Langkah yang diterapkan ibu Dina dalam hal diferensiasi ini lebih kepada empati kepada murid, memanusiakan hubungan dengan menjalin hubungan yang komunikatif dengan murid. Empatinya adalah berusaha memahami kebutuhan belajar murid yang memadukan pembelajaran sesuai dengan passion/hobi murid. Dan langkah memanusiakan hubungan yaitu kita dapat mengajak murid ikut terlibat dalam menentukan kesepakatan kelas, kesepkatan deadline pengumpulan tugas dan kegiatan-kegiatan belajar. Dipenghujung acara temu pendidik daerah komunitas guru belajar Makassar, beberapa peserta memberi apresiasi melalui kolom komentar di youtube dan termotivasi untuk menerapkan model pembelajaran yang diterapkan Ibu Dina. Selain dari itu, beberapa peserta juga melakukan sharing dengan bertanya apa yang menjadi kelebihan serta kekurangan dari model diferensiasi ini. Yang menjadi kelebihan serta kekurangannya telah dipaparkan pada paragraph sebelumnya bahwa diferensiasi pembelajaran tentu membuat murid senang dalam mengerjakan tugaas karena mereka bebas berkreasi tanpa mengurangi makna dari inti pembelajaran tentang anekdot misalnya. Kita juga bisa merasakan bahwa murid yang mengerjakan tugas dengan persaan senang dan semangat tentu berpengaruh pada kecepatan mereka mengerjakan tugas, serta pembelajaran akan mudah berkesan dalam hati dan ingatan mereka. Adapun kekurangannya kami merasa tidak begitu nampak, karena murid mengerjakan dengan senang hati, hanya saja dikembaalikaan pada murid terkait biaya dalam mengerjakan tugas tersebut seperti membuat desain baju menggunakan kata-kata anekdot tentu itu membutuhkan biaya untuk mendesain. Berbeda jika murid menulis anekdot di buku tulis tentu biayanya berbeda jauh dan lebih murah. Namun kembali lagi pada kualitas kerja. Tentu dengan pekerjaan yang berkualitas juga akan … Read more

Asesmen Nasional : Memperpanjang Derita atau Sebaliknya?

Senin lalu, 01 Februari 2021, lepas tengah hari, saat orang-orang bergegas pulang dari aktivitas  kerja, tepatnya pukul 16.00 Wita, Komunitas Guru Belajar Nusantara Makassar kembali menggelar Temu Pendidik Daerah di awal tahun dengan topik Asesmen Nasional sebagai  Pemetaan Pendidikan. Apa yang Harus Dilakukan Sekolah, Guru, dan Murid?  Topik ini sedang hangat-hangatnya jadi buah bibir dan akan digadang-gadang sebagai tema besar  Temu Pendidik Nusantara VIII nantinya. Lewat kanal Youtube KGB Makassar, Pak Ari Wibowo,  Pelatih Kampus Guru Cikal, sebagai pembicara, praktis dengan tegas dan terukur memulai webinar dengan pernyataan penolakan Ujian Nasional yang dulu telah lama dicetuskan oleh  Menteri Pendidikan Nasional era Kabinet Indonesia Bersatu, Bambang Sudibyo,sejak tahun 2005.  “Ujian Nasional sudah tidak relevan menjadi alat ukur dalam menentukan kompetensi murid.”  terang Pak Ari.  Sederet Menteri pun ikut menggaungkan wacana tersebut. Mulai dari M. Nuh, Anies Baswedan,  dan Muhadjir Effendy. Bahkan, saya dulu menganggap bahwa penghapusan Ujian Nasional merupakan hal utopis.  Tapi siapa sangka, di bawah Nadiem Makarim, hal itu terwujud. Kegaduhan terjadi dibanyak  tempat. Sekolah dan guru akhir-akhir ini sibuk tak karuan setelah Menteri Pendidikan dan  Kebudayaan mengeluarkan kebijakan yang tak terduga: Menghapus Ujian Nasional dan  menghadrikan Asesmen Nasional yang meliputi, Asesmen Kompetensi Minimum, Survei  Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.  Di tengah jalannya webinar, salah satu peserta, Emi Hardyanti, tiba-tiba mencurahkan  kegelisahannya di kolom live chat, “Bagaimana, Pak? Di luar sana banyak agen yang menawarkan  buku latihan untuk Asesmen Nasional, nyaris dipahami bahwa Asesmen Nasional merupakan  pengganti Ujian Nasional.”   Lalu disusul juga oleh Ibu Permata Hati, seperti namanya, komentarnya di kolom live chat ia  sampaikan dengan penuh emosional, “Sekarang banyak pelatihan pembuatan soal Asesmen  Kompetensi Minimum, bahkan buku pembahasannya juga ada. Apakah ini tidak berdampak pada  persaingan nilai? Jadinya, tujuan Asesmen Kompetensi Minimum malah tersamarkan.”  Dua celetukan dari peserta webinar membuat pembicara dan pemandu, Pak Multazam, Guru  MTsN 2 Maluku Tenggara yang baru saja hijrah dari Makassar, menahan tawa dengan sedikit rasa  heran. “Iya, Bu. Masih ada oknum-oknum yang memanfaatkan momen-momen seperti ini,” kata  Pak Ari.  Kedua komentar dari peserta menggambarkan bahwa selama ini tercipta miskonsepsi. Apa yang  diresahkan oleh peserta Temu Pendidik Daerah, mungkin itu juga yang dirasakan sebagian  teman-teman guru yang lain. Jadinya, guru kembali lagi terjebak pada konsep yang lama dan  menyamarkan tujuan cita-cita Asesmen Nasional.  Pembicara lanjut menyampaikan materinya, ia mengutip pernyataan dari Mas Bukik Setiawan,  “Ada perbedaan yang nyata pada konsep baru, tapi tidak akan bermakna bila pemahaman lama  yang digunakan untuk memahami konsep baru.”  Pada Temu Pendidik Daerah kali ini, pembicara berusaha mendobrak gap tersebut. Ia  menerangkan tiga dasar tujuan Asesmen Nasional. Pertama, ingin melihat kualitas pembelajaran  di sekolah. Kedua, mendapatkan umpan balik peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.  Ketiga, menjadi dasar untuk penyusunan program-program dalam meningkatkan proses  pembelajaran di sekolah.  “Pak, kenapa siswa yang menjadi target Asesmen Kompetensi Minimum hanya diperuntukkan  bagi siswa yang berada di kelas 5, 8, dan 11?” tanya peserta lagi.  Pertanyaan dari peserta langsung direspon oleh pembicara dengan menampilkan tabel  perbandingan Asesmen Nasional dan Ujian Nasional. Tabel itu menggambarkan tujuh perbedaan  dari masing-masing program.  Lanjut, pembicara mulai menjelaskan tiap-tiap perbandingan. Ia menegaskan sekali lagi bahwa  dalam Asesmen Kompetensi Minimum, tujuannya bukan untuk menilai hasil akhir, tapi keinginan  perbaikan yang diharapkan oleh pemangku kebijakan. Dengan menjadikan siswa kelas 5, 8, dan  11 sebagai sasaran, tujuannya tentu agar tahun depan siswa yang sudah naik tingkat ke kelas 6,  9, dan 12 ikut merasakan perubahan iklim yang berada di sekolah.  Jika Ujian Nasional mendapat bobot butir soal yang sama untuk mengukur kompetensi, Asesmen  Kompetensi Minimum malah bersifat adaptif yang menekankan pada kompetensi Literasi dan  Numerasi. Semuanya ini, bertolak pada hasil PISA beberapa tahun belakangan ini.  Bahkan, sasaran juga tidak hanya ditujukan kepada siswa, melainkan guru dan kepala sekolah  dalam ranah survei karakter yang termaktub dalam profil pelajar Pancasila dan survei lingkungan  belajar untuk melihat kualitas proses belajar mengajar di sekolah.  Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Jadi sudah menjadi barang yang jelas, bahwa Asesmen Nasional tidak berpacu pada target  seberapa banyak siswa yang berhasil lulus, tetapi berpacu pada target capaian sekolah tahun tahun sebelumnya agar tercipta peradaban dalam lingkungan sekolah.  Untuk mencapai itu, pembicara memaparkan lima strategi yang harus dilakukan sekolah, terlebih  pemimpin sekolah dalam hal ini kepala sekolah. Langkah pertama, kepala sekolah tidak  mengambil jalan pintas, misalnya menghimbau guru dan siswa untuk melakukan latihan  pengerjaan soal, tapi melihat kesemua sisi.   Kedua, kepala sekolah harus memprioritaskan waktu dan energi lebih banyak untuk memandu  perencanaan, pendampingan, dan refleksi proses pembelajaran dan melibatkan seluruh elemen,  termasuk orang tua murid. Ketiga, melakukan pembelajaran yang kolaboratif. Maksudnya, kepala  sekolah memastikan semua mata pelajaran harus terintegrasi pada kompetensi literasi, numerasi  dan karakter.  Keempat, mengembangkan kebiasaan berbagi praktik baik di lingkungan sekolah sebagai wadah  bertukar pikiran, karena belajar yang nyata itu ialah belajar dengan sesama rekan seperjuangan.  Terakhir, hapus program-program yang sudah tidak relevan, apalagi memakan anggaran yang  cukup banyak dan segera memulai menyusun program-program jangka panjang yang lebih relevan.  Nah, pilihan itu bergantung pada kita semua. Saya harap, setelah ini, ajaklah murid belajar untuk  hidup, bukan sekadar belajar untuk ujian. Sebab kata Einstein, “Seni tertinggi guru adalah  membangun kegembiraan dalam ekspresi kreatif dan pengetahuan.”

Memahami Konsep dengan Teknologi

Teknologi merupakan sejumlah kompetensi, metode dan proses menghasilkan produk atau layanan untuk mencapai tujuan sedangkan. Memahami Konsep adalah menguasai pemahaman terhadap konsep yang dapat diterapkan di beragam konteks. Nah apakah teknologi dapat membuat murid lebih memahami konsep yang esensial? Pada Temu pendidik daerah ke 44 yang berlangsung pukul 16:00, sabtu tanggal 21 Oktober 2020 pada kanal youtube komunitas guru belajar makassar, yang di pandu oleh Ibu Rienda Noor Asyifa yang sering disapa ibu Noor dengan tema Teknologi untuk Memahami Konsep yang dibawakan langsung oleh Ketua KGB Makassar Ibu Anita Taurisia Putri yang sering disapa ibu Anita. Mengawali materinya ibu Anita menjelaskan beberapa miskonsepsi yang kerap terjadi dalam penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran utamanya pada masa pandemi saat ini yakni, miskonsepsi yang pertama pendayagunaan teknologi pendidikan hanya sekedar untuk latihan soal atau penjelajahan pengetahuan. Padahal sesungguhnya murid menggunakan aplikasi untuk mendukung keterampilan berpikir tingkat tinggi, dalam proses pembelajaran yang dilakukan bu Anita dalam menggunakan aplikasi dengan murid-murid yang pertama bu Anita lakukan bukan sekedar mengirimkan soal-soal dengan menggunakan learning manajemen sistem (LMS), namun apakah dengan menggunakan aplikasi LMS terbaru murid dapat menggunakan kemampuan berpikir kritisnya? Sebagai contoh ketika guru mengirimkan soal menggunakan aplikasi apakah murid akan menggunakan kemampuan berpikir kritis untuk menjawab soal tersebut atau murid hanya sekedar menjawab soal-soal. Miskonsepsi yang kedua Penggunaan teknologi membuat proses memahami konsep dalam belajar menjadi lebih cepat, padahal sesungguhnya teknologi membuat proses memahami konsep lebih terstruktur secara personal. Integrasi digital yang membangun pemahaman utuh. Sebagai contoh ketika guru bertanya tentang suatu aplikasi dalam proses pembelajaran, namun ada murid yang mengalami kendala dalam hal aplikasi tersebut, ketika terjadi hal tersebut menurut bu Anita guru seharusnya menggunakan Teknologi yang secara personal bisa digunakan secara menyeluruh oleh semua murid. Miskonsepsi yang ketiga Platform digital hanya dinilai dari jumlah kumpulan konten yang diproduksinya, padahal sesungguhnya integrasi digital memungkinkan kesempatan kolaborasi dengan berbagai sumber pengetahuan yang ada. Di Masa awal PJJ yang bu Anita lakukan dalam menerapkan teknologi dalam memahami konsep dengan menentukan strategi pembelajaran, dalam pembelajaran yang pertama bu Anita lakukan adalah memetakan lokasi murid yang berbeda, karena seluruh murid bu Anita tersebar di beberapa kabupaten kota di Indonesia sehingga diperlukan pemetaan terkait kondisi jaringan. Memetakan kondisi orang tua hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana peran orang tua dalam PJJ. Berkomunikasi dengan orang tua/wali murid hal ini dilakukan agar capaian tujuan belajar dan teknologi yang digunakan dalam PJJ dapat terjangkau oleh semua murid dan orang tua. Memandu murid dalam pembelajaran jarak jauh.  Memandu murid untuk menguasai pemahaman mendalam konsep di beragam konteks. Mengapa hal tersebut dilakukan ibu Anita karena keseharian dari murid sebelum PJJ yang tinggal di pesantren terbiasa tidak menggunakan gawai dan PC. “Teknologi akan menjadi pembeda ketika guru melakukan proses pembelajaran. Teknologi mempunyai potensi membantu murid untuk mengembangkan pemahaman, mengkonstruksi pengetahuan dan mengembangkan kemampuan bernalar murid yang harus dipegang sebagai guru” – Anita Taurisia Putri Menurut bu Anita dalam melakukan praktik pembelajaran di kelas dalam hal menggunakan teknologi, masih banyak miskonsepsi seperti halnya banyak guru yang menggunakan teknologi hanya sekedar proses mengunduh materi seperti mengunduh materi di youtube. Bu Anita ingin Teknologi bukan hanya sampai pada proses mengunduh tetapi murid dapat menggunakan kemampuannya untuk memilih berbagai jenis proses belajar seperti, memverifikasi, menemukan pembeda, membandingkan, mensintesis, mengklarifikasi, berdiskusi, menguji/coba dan memproduksi pengetahuan. Bu Anita juga memberikan contoh proses proses belajar yang dialami semasa dirinya di sekolah dimana buku yang menjadi sumber belajar utama, berbeda dengan yang dialami anaknya sekarang yang duduk di bangku SMP dengan menggunakan teknologi murid dapat berkreasi dan mencipta dengan teknologi yang dikuasai oleh murid sehingga inilah yang menjadi pembeda proses belajar dengan adanya teknologi agar kemampuan bernalar murid menjadi berkembang. Baca Juga: Pembelajaran Jarak Jauh dengan 5M Salah satu contoh penggunaan teknologi untuk memahami konsep yang dibagikan oleh ibu Anita yakni “Mengajar Berekspresi dengan Roda Emosional” yang dilakukan oleh Elia Yovan Chandra dari KGB Tangerang Selatan Sekolah Cikal serpong. Dalam proses ini guru Elia Yovan mengajarkan murid untuk berekspresi. sehingga membantu murid-murid untuk memahami konsep berekspresi saat bermain dengan menggunakan roda emosional. Dengan bermain murid menjadi termotivasi sehingga konsep lebih mudah mengendap dengan roda emosional. “tolak ukur dari keberhasilan sebuah pembelajaran ialah bagaimana guru mampu membuat murid-muridnya tidak hanya sekedar paham materi tetapi juga mampu mengaplikasikan materi tersebut” Apa peran Asesmen dalam teknologi?” Pertanyaan dari salah satu peserta TPD. Dengan menggunakan teknologi. Teknologi biasa digunakan sebagai asesmen formatif dan asesmen sumatif, namun bu Anita memberikan saran agar sekolah menyepakati terlebih dahulu teknologi apa yang akan digunakan sehingga murid tidak menjadi bingung. Bagaimana Tips menyusun panduan belajar terkait teknologi agar murid dapat memahami konsep ? Tips menyusun panduan belajar terkait teknologi agar murid dapat memahami konsep. Dalam Menyusun panduan belajar sebelum memilih teknologi guru diharapkan Backward Thinking (Berpikir Mundur) dengan membuat profil murid, sehingga bisa dituangkan dalam RPP Merdeka Belajar sehingga guru lebih mudah nantinya dalam memilih teknologi dan membuat panduan belajar. Sebagai kesimpulan bahwa memahami konsep dalam usia belajar butuh proses yang tidak instan, kapan dan bagaimana teknologi digunakan konten serta integrasi digital seperti apa yang dipilih dalam rute pembelajaran sesungguhnya ditentukan oleh tujuan. Tujuan pembelajaran memastikan bahwa pengalaman belajar bukan hasil berisi ceklis informasi yang perlu diketahui yang tidak terintegrasi. Dalam membangun pemahaman utuh tentang hubungan antara tujuan pembelajaran dan pada akhirnya mampu memberikan umpan balik pada semua pemangku kepentingan tentang capaian pemahaman. Ingin mendapat inspirasi pembelajaran jarak jauh?Unduh Surat Kabar Guuru belajar Edisi Sekolah Lawan CoronaKlik gambar di bawah ini

Penggunaan Teknologi yang Lebih Humanis

Bagaimana penggunaan teknologi yang dapat menciptakan hubungan lebih humanis dengan adanya yang hampir semua kegiatan manusia menggunakan teknologi. Ditambah lagi dengan kondisi darurat Covid-19 yang mengharuskan untuk menjaga jarak?  ini mungkin yang menjadi pertanyaan besar bagi kita, apa bisa? melihat bahwa hampir semua kegiatan manusia ada penggunaan teknologi, bahkan karena begitu canggihnya teknologi sekarang ini sampai-sampai muncul slogan bahwa “Teknologi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.” Bagaimana tidak terkadang kita sebagai pengguna teknologi terkadang sibuk dengan “gadget” sampai melupakan hal-hal yang ada disekitar kita dan sibuk berselancar di dunia maya. Inilah yang menjadi kekhawatiran dari guru dan orang tua selama masa pembelajaran jarak jauh (PJJ) akan kehilangan sisi humanismenya, karena kondisi memaksa murid dalam proses pembelajaran menggunakan teknologi. Kali ini KBG Makassar Menghadirkan Bapak Ismail Nur Lc, M.Ag sebagai pembicara dalam kegiatan temu pendidik daerah ke 36 yang dilaksanakan secara live youtube di kanal Guru Belajar Makassar. Membahas tentang “Bagaimana Penggunaan Teknologi Menciptakan Hubungan Lebih Humanis? Antara Guru, Murid dan Orangtua kegiatan ini berlangsung pada hari Sabtu, 3 Oktober 2020 yang berlangsung satu setengah jam lebih.  Kegiatan ini berlangsung antara dua negara yakni indonesia dan Mesir. Ibu Anita Taurisia Putri yang bertindak sebagai medorator kegiatan membawa diskusi semakin menarik, diskusi ini mengenai praktik baik dalam proses PJJ antara kedua Negara, Baik dari metode pembelajaran yang menggunakan teknologi maupun sistem pembelajaran yang dilaksanakan di Sekolah Indonesia Kairo – Mesir dimana Bapak Ismail merupakan kepala sekolah disana. Bapak Ismail memulai materinya dengan memaparkan bahwa teknologi sangat dekat dan familiar dengan kita sebagai guru, murid dan orang tua, bagaimana cara mendampingi pembelajaran murid-murid generasi Z yang diajar oleh guru-guru generasi Y yang lahir dan baru mengenal teknologi mungkin di jenjang Sekolah Menengah, berbeda dengan generasi Z yang sejak balita sudah diperkenalkan dengan teknologi oleh orang tuanya. Bapak Ismail juga menjelaskan bahwa tantangan menjadi seorang guru adalah bagaimana menggali kemampuan berpikir kritis murid yang merupakan salah satu keterampilan esensial murid abad 21 Metode belajar abad 21 dimana murid menjadi fokus dalam pembelajaran bukan lagi guru sebagai sumber belajar satu-satunya, melainkan murid bisa menjadi sumber belajar di antara sesama murid saling belajar dengan saling berkolaborasi antara murid dan guru. Berbeda halnya dengan model pembelajaran sebelumnya yang mengedepankan nilai daripada proses dan rangking menjadi tolak ukur keberhasilan pembelajaran. Sehingga untuk pembelajaran abad 21 rangking tidak menjadi penting lagi karena dianggap bahwa rangking tidak dapat menentukan murid dapat bersosialisasi dan berkolaborasi dengan baik. Tetapi yang diharapkan adalah bagaimana murid dapat berkolaborasi sehingga perlu adanya penilaian autentik. Bagaimana menjadi guru abad 21 ? Pertanyaan yang sering kali muncul sekarang ketika harus dihadapkan dengan PJJ yang memaksa para guru untuk mau tidak mau, suka atau tidak suka harus berdamai dengan teknologi. Bapak Ismail dalam materinya membagikan tipsnya yakni dengan “Belajar Dengan Siapa Saja”, mudah namun apakah bisa terapkan. Salah satu pelajaran yang dapat dipetik dari praktik baik pembelajaran bapak ismail tentang “Ahli Waris” bapak Ismail melepaskan egonya untuk bertanya dan belajar kepada muridnya tentang bagaimana cara perhitungan matematika (metode pembagian) dalam materi pembagian ahli waris. Dari sini tercipta kolaborasi antara guru dan murid dimana murid merasa dihargai oleh guru dan guru banyak mengambil pelajaran dari hal tersebut. Tidak hanya itu bapak Ismail juga membagikan sebuah metode pembelajaran yang menarik untuk diterapkan oleh para guru yakni Metode Belajar Flipped Classroom. Flipped Classroom adalah metode belajar yang diberikan kepada murid dimana murid sudah mengetahui (belajar sebelumnya) materi yang akan dibahas di dalam kelas dari berbagai sumber yang murid peroleh, berbeda dengan tradisional class murid mengetahui materi atau belajar ketika sudah berada di dalam kelas. Menurut bapak Ismail metode ini sangat baik diterapkan karena mengurangi jumlah jam pelajaran di dalam kelas sehingga murid dapat aktif berkegiatan di luar kelas. Lanjut ke sesi tanya jawab, ibu lisnur Aiziah bertanya tentang “Bagaimana menghadapi masyarakat yang lebih cenderung berhati-hati dalam penggunaan teknologi karena mereka ingin mengunggulkan sisi Humanisasi itu sendiri? Dengan mengontrol dan membekali pengetahuan sejak dini dan bersosialisasi minimal dengan melakukan Video Conference (selama masa pandemi) terhadap keluarga atau teman dekat. Untuk di sekolah sendiri harapannya pembelajaran dibuat berkolaborasi sehingga sisi humanismenya muncul serta selalu mendampingi anak saat belajar. hal menarik yang disampaikan bapak Ismail bahwa keluarga dari orang-orang yang tinggal di Kairo sulit berkomunikasi dengan tetangga karena mungkin tidak memiliki halaman yang luas atau kebanyak dari mereka tinggal di apartemen berbeda dengan di Indonesia tetangga bisa saling menyapa di halaman rumah. Bagaimana Sekolah Indonesia-Kairo Membangun komunikasi dengan Orang tua ? Justru selama PJJ sekolah lebih muda dikendalikan dan umumnya keluarga diplomat yang bekerja adalah suami dan istrinya bertugas dirumah dan lebih banyak mendampingi murid dalam melaksanakan aktivitas PJJ. Di awal PJJ masalah Sekolah alami yakni banyak keluhan terhadap teknologi yang digunakan sekolah dan kurangnya updatenya orang tua terhadap hal tersebut. Namun sekolah berinisiatif untuk memberikan training kepada orang tua sebelum teknologi/aplikasi digunakan. Membuat grup-grup kelas dimana guru dan orang tua bisa saling berkomunikasi terkait kendala yang dihadapi sehingga terjadi komunikasi yang harmonis antara orang tua, murid dan guru.  Jumlah murid di sekolah juga sangat mempengaruhi hal tersebut dimana jumlah murid di sekolah Indonesia Kairo hanya sekitar 20 orang berbeda dengan jumlah murid di Sekolah Indonesia yang biasanya lebih dari 30 murid. Sehingga hal ini sangat sulit untuk membagun komunikasi bagi guru-guru yang berada di tanah air ditambah lagi dengan latar belakang pendidikan orang tua sehingga pada saat mendampingi anak-anaknya dapat menimbulkan kebingungan sehingga perlu ada kebijakan. di Sekolah indonesia-Kairo sendiri menurut Bapak Ismail pembelajaran untuk satu mata pelajaran tidak boleh lebih dari 60 menit sehingga tidak membuat murid dan orang tua lelah. mata pelajaran yang diberikan dalam sehari maksimal dua mapel setiap hari. tidak memberikan tugas yang banyak serta tidak terlalu mengejar target ketercapaian kurikulum namun lebih pada prosesnya. Bagaimana ketika guru mengajar menggunakan aplikasi berbeda dengan tujuan murid merasa nyaman atau sesuai dengan passionnya ?  Di awal PJJ menyebabkan banyak orang tua yang komplain dengan begitu banyaknya aplikasi yang harus digunakan murid. Sehingga sekolah memutuskan untuk menggunakan satu aplikasi sebagai aplikasi utama dan sisanya adalah aplikasi pendukung. Memanfaatkan teknologi ibarat mengendarai mobil yang berbeda setiap hari, hanya perlu penyesuaian sehingga … Read more

Memaksimalkan Whatsapp dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Apakah penggunaan Whatsapp dapat menghadirkan pembelajaran jarak jauh yang menarik, bermakna dan merdeka belajar? Yuk simak liputan berikut: Saat pukul 20.00 WITA para peserta sudah mulai masuk di ruang zoom conference, saling sapa dilakukan, menanyakan kabar sambil mengharapkan donasi kita bertambah. Narasumber : Rizqy Rahmat HaniModerator : Adelia OctorytaSelasa, 18 Agustus 202020.00-21.30 WITA Via Zoom Setelah dirasa sudah masuk semua, maka dimulai lah kegiatan kita oleh bu Adelia Octoryta dengan memperkenalkan maz Rizky sebagai tim knowledge di KGC serta bapak muda yang saat ini menetap di Pekalongan. Nah mas risky di persilahkan oleh moderator untuk mulai materinya,namun sebelum memulai  mas risky menyampaikan bahwa sekitar 1 bulan yang lalu sudah bukan di Tim Knowledge KGC namun sudah pindah ke pengembangan komunitas  Dimulailah asesmen awal menggunakan menti.com,1) Bagaimana pembelajaran Anda menggunakan Whatsapp dengan opsi-menyampaikan materi,-mengirim tugas  atau menyampaikan kesepakatan,-umpan balik,-diskusi.2) Apa tantangan selama ini menggunakan Whatsapp dalam Pembelajaran Jarak Jauh? dalam satu kata. Setelahnya dimulailah pemaparan materi dari pak Rizky. Sebelum penggunaan Whatsapp dalam Pembelajaran Jarak Jauh lakukan dulu Asesmen, bukan hanya langsung gasspol.  cari tahu bagaimana kondisi murid apakah memungkinkan penggunaan HP, kuota mereka mencukupi atau tidak. Bisa buat Flowchart untuk melakukan assessment Setelahnya disampaikan Tujuan Esensial Pendidikan yaitu Siap hidup,Kompetensi, Ujian Kebermaknaan, Menalar, Kemandirian Selanjutnya disampaikan tentang Kanvas RPP Merdeka Belajar untuk memetakan profil Murid sehingga membantu dalam tindak lanjut untuk memilih penggunaan WA Saat menjelaskan materi diatas, mas Rizky memberikan contoh materi pelajaran Bahasa Indonesia. Yang menjadi titik tekan dalam pembelajaran WA bahwa pesan suara itu mengasyikkan dan tidak menggunakan banyak kuota. Baca juga: Sekolah Lawan Corona, Sebuah Inisiasi untuk Membantu Pengajaran Jarak Jauh Tips berikutnya membuat 2 group WA, ada yang buat disksui dan ada juga buat upload meteri, supaya materinya tidak teggelam dan mudah di cari, membuat hastag awal dan akhir (sesuai kesepakatan bersama) sehingga ketika ada yang tidak ikut di waktu pembelajaran mudah mencarinya.  Di tengah penyampaian materi selalu ada gangguan sinyal juga hehe. Setelahnya dilanjut diskusi deh DISKUSI Bu Adel : WA ini efektif untuk murid yang sudah punya gawai sendiri, bagaimana dengan murid yang masih dalam pendampingan orang tua apakah efektif juga? Rizky : kelas dasar bisa banget (wjwkkjjjkwiung…. suara tidak terdengar…. karena gangguan jaringan) peran orang tua tetap dibutuhkan bukan hanya saat mau terima rapor baru gunakan WA. Emoticon apa yang tepat digunakan. Moderator mempersilakan guru lain untuk bertanya juga Anita : adakah dalam WA pengaturan font supaya bisa  berwarna-warni Rizky : saya belum eksplor, siapatau anak muda miss emmy pernah mencoba, tapi bisa digunakan emoji yang akhirnya akan membuat menarik dan interaktif serta stiker menarik. Membangun feedback yang membagun keberlanjutan (baca buku Merdeka Belajar yang tulisannya bu Puti) Emmy : Saya pegang grade 7, WAG khusus untuk kelas membuat aturan siapa saja yang bisa punya hak untuk mengatur settingan group, WA hanya utnuk share informasi link dan sebagainya karena dalam pembelajaran menggunakan Google suite.  Rizky : ini ide manrik karena memberikan peran ke murid sehingga pembelajaran berpihak ke murid.  Ada yang bertanya lagi nih kata mas Rizky Olle : Vitur Video Call WA bagusnya untuk dipakai dalam pembelajaran? Rizky : Bisa untuk dipakai diskusi langsung, namun apabila butuh conference lebih baik gunakan Aplikasi ZOOM atau Gmeet karena kalau WA terbatas orangnya, namun ingat perhatikan bahwa murid kita mempunyai cukup kuota dan sinyal bagus Bu adel : saya gunakan Video Call WA untuk mendamaikan anak yang bermasalah haha… Bury :  Kalau Video Call WA dapat memperhatikan tampilan murid (saya kalau VC suka di reject haha) Bisa kebaca tidaka sih, teks WA itu memperlihatkan kodisi seseorang RIzky: bisa salah satunya dengan pesan suara, kemudian tambah  emoji, namun yang pertama harus dilakukan ya Memanusiakan Hubungan dulu, supaya VC tidak di reject.  Eh, ditengah diskusi tampak juga dilayar anak dari bu Permata.Mas Rizky juga sudah minta izin untuk menutup sesi Diskusi karena anaknya menangis.  Wah keren yah semua bapak ibu guru yang tetap bersama anak saat belajar dan berbagi praktik baik. Yuk unduh dan pelajari Panduan Pembelajaran Jarak Jauh. Klik tombol di bawah ini!

Pembelajaran Jarak Jauh dengan 5M

Masih mengangkat tema Pembelajaran 5M untuk mengoptimalkan pengalaman belajar jarak jauh anak di masa pandemi Covid-19. Memasuki hari ke -2 (dua) Temu Pendidik Daerah (TPD) dengan  kelompok guru yang berbeda di hari pertama mengingat perlu diperhatikan protokol kesehatan.  Kegiatan Komunitas Guru Belajar Makassar pada Temu Pendidik Daerah yang ke -28 pada Kamis , 23 Juni 2020 berlangsung di Ruang Guru SDIT Darussalam Makassar. Acara tersebut dimulai sejak pukul 08.00 WITA hingga pukul 10.00 WITA.  pada hari ke 2 tersebut dihadiri peserta yang berbeda  sekitar 22  orang. Masih sama seperti Temu Pendidik Sebelumnya, acara pertama diawali dengan nonton bareng video Merdeka Belajar yang menghadirkan narasumber ibu Najelaa Shihab. Masih sama dengan konsep hari pertama, Hadir menjadi narasumber dalam kegiatan workshop tersebut guru Maurensyiah guru SMK Darussalam Makassar yang juga sebagai pengurus dan sekaligus penggerak Komunitas Guru Belajar Makassar. Selanjutnya kegiatan tersebut juga menghadirkan guru Tasmin untuk membawakan materi pelatihan Office 365. Guru Tasmin adalah guru SDIT Darussalam Makassar.  Awal kegiatan masih sama dengan hari pertama, diawali dengan pemutaran video Guru Merdeka Belajar lalu dilanjutkan ke diskusi. Oleh narasumber menyampaikan materi dengan memberikan umpan balik. Kata narasumber, “menurut bapak/ibu guru seperti apakah guru merdeka itu ?” dan apakah bapak/ibu sudah merdeka ? Pertanyaan umpan balik tersebut kemudian direspon oleh para guru. Ada guru yang mengatakan bahwa guru merdeka itu adalah guru yang tahu bagaimana mengajar yang sesungguhnya. Ada juga guru yang mengatakan bahwa guru merdeka itu adalah guru yang bebas, bebas dalam teknik dan cara mengajar. Oleh narasumber dalam merespon jawaban-jawaban guru, lalu mengarahkan kembali ke tayangan video.  Oleh narasumber mengatakan guru yang merdeka seperti yang dijelaskan dalam tayangan video tersebut, bahwa guru merdeka adalah guru merdeka itu adalah guru yang yang mempunyai komitmen, guru yang  memiliki kemandirian dan guru yang mampu berefleksi atas setiap proses pembelajaran, semua demi para murid.  Selanjutnya, narasumber mulai menjelaskan lebih rinci tentang guru merdeka, hingga mengenalkan Komunitas Guru Belajar sebagai wadah untuk belajar dan berbagi. Dilanjutkan dengan penjelasan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan konsep 5M ala Kampus Guru Cikal yang telah digunakan oleh rekan-rekan guru anggota Komunitas Guru Belajar Nusantara. Oleh narasumber mengatakan bahwa belajar di rumah, belajar di sekolah, tetap berpihak pada anak. Bagaimana caranya? Guru dan orangtua yang berdaya menciptakan pengalaman belajar yang melibatkan anak. Sangat penting kolaborasi orangtua, guru dan murid untuk berdaya belajar dalam menghadapi situasi darurat akibat wabah virus Corona. Guru harus memastikan anak mendapatkan personalisasi pengalaman belajar yang bermakna, menantang dan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak. Narasumber mengatakan dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), poin paling utama yang perlu guru perhatikan adalah memanusiakan hubungan. Memanusiakan hubungan yang dimaksud adalah Praktik pembelajaran yang dilandasi orientasi pada anak berdasarkan relasi positif yang saling memahami antara guru, murid dan orangtua, ini adalah konsep 5M yang pertama. Konsep 5M yang kedua kemudian kembali dijelaskan oleh  narasumber, Memahami Konsep dimana seorang guru hendaknya memahami bahwa praktik pembelajaran yang memandu murid bukan sekedar menguasai konten tapi menguasai pemahaman mendalam terhadap konsep yang dapat diterapkan di beragam konteks. Selanjutnya narasumber membahas konsep 5M yang ketiga yaitu membangun keberlanjutan. Maksud dari 5 M yang ketiga tersebut adalah Praktik pembelajaran yang memandu murid mengalami rute pengalaman belajar yang terarah dan berkelanjutan melalui umpan balik dan berbagi praktik baik. Selanjutnya 5 M yang keempat kembali dijelaskan oleh narasumber Praktik pembelajaran yang memandu murid menguasai keahlian melalui proses yang berjenjang dengan pilihan tantangan yang bermakna yaitu memilih tantangan. Dan pada 5M yang ke 5, memberdayakan konteks yaitu Praktik Pembelajaran yang memandu murid melibatkan sumber daya dan kesempatan di komunitas sebagai sumber belajar sekaligus kesempatan berkontribusi terhadap perubahan.  Baca Juga: Sekolah Lawan Corona Narasumber mengingatkan bahwa di masa pandemi seperti saat ini, guru perlu memperhatikan kondisi psikologis  murid, janganlah diberikan beban yang pada akhirnya membuat mereka bukannya merasa nyaman belajar justru stress menghadapi guru yang justru memberikan beban tugas yang sungguh tidak memanusiakan hubungan, yang ada murid justru stress. Guru harus mampu menjadi partner yang baik bagi murid dan orang tua. Caranya bangun kolaborasi yang baik. Di akhir pembicaraan narasumber menutup dengan closing statemen, jadilah guru yang berdaya, guru yang tahu bagaiman membawa para murid memperoleh pengalaman belajar yang bermakna. Dan mari belajar bersama Komunitas Guru Belajar untuk membuat perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Kepala sekolah SDIT Darussalam dalam merespon diskusi lalu mengatakan sangat mendukung guru-guru SDIT untuk belajar dan mengembangkan diri. Laporan Liputan oleh Maurensyiah Komunitas Guru Belajar Makassar.  Unduh Panduan Pembelajaran Jarak Jauh, klik tombol di bawah ini

Literasi adalah Cara Menggerakkan Negeri

Tema Temu Pendidik kali ini adalah Literasi Menggerakan Negeri. Diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar (KGB) Makassar, bertempat di gedung Aula Penerbit PT. Erlangga. Temu Pendidik Daerah (TPD) kali ini diwarnai dengan diskusi menarik antara tim penggerak KGB Makassar dan para guru dari berbagai tingkatan., sekaligus mengajak para guru untuk ikut ambil bagian dalam Temu Pendidik Nasional yang akan berlangsung di Jakarta pada tanggal 25 -27 Oktober 2019. Literasi adalah … Temu Pendidik Daerah kali ini bertindak sebagai moderator ibu Anita Taursia Putri, dengan narasumber Ibu Erni Marlina dari SMKN 7 Makassar dan Ibu Andi Olle Mashurah guru dari sekolah Cendikia. Oleh ibu Erni Marlina mengatakan bahwa literasi bukan hanya sekadar membaca. Beliau memberikan contoh bahwa menulis ilmiah populer kita bisa menulis apa saja yang kita pikirkan dan ingin kita tulis. Pesannya, ‘mari kita bersama-sama mengikuti kegiatan TPN 2019. Ada banyak kelas dengan 4 kelas kompetensi, silahkan memilih. Dalam komunitas Guru belajar tidak ada tuntutan wajib masuk dan memilih kelas sesuai keinginan panitia akan tetapi setiap peserta diberi kebebasan memilih kompetensi sesuai  kebutuhannya. Teman-teman harus memahami bahwa banyak hal yang bisa kita lakukan.  KGB sangat fleksibel dan salah satu keunikan di KGB adalah kita menginap di rumah orang tua murid Cikal.  Mari memaknai literasi dengan baik karena literasi itu luas, literasi berasal dari murid dan berakhir di murid. Ada teknis bagaimana membuat murid penasaran dan KGB mengajarkan bagaimana  wujud dari sebuah kemandirian.  Berbagi Pengalaman di Temu Pendidik Tidak jauh berbeda dengan ibu Andi Olle Mashurah, belia dalam materi “Rakit Atraktif” beliau membagi pengalamannya ikut TPN awalnya karena penasaran saat melihat di komunitas Guru Belajar di Facebook,. Ia mengatakan bahwa saya tidak mengenal siapapun dan menjadi peserta murni di tahun 2017 akhirnya tahun 2018 mendaftar menjadi pemateri dan lulus. Tahun 2019 mendaftar lagi dan lolos kelas kemerdekaan dan kelas kolaborasi. Tahun ini saya membawa materi dengan tema ‘Rakit Atraktif “. Produk ini membutuhkan waktu kurang lebih 6 tahun dalam proses pembuatannya hingga bisa menjadi sebuah karya yang bisa dinikmati semua orang.  Lanjut  ibu Olle mengatakan bahwa literasi  membuat kemampuan menerima makna, baik kata maupun kalimat. Contohnya, membaca sebuah bacaan dan belajar mencerna makna kalimatnya.  Bisa membaca bukan berarti bisa memaknai. Kemampuan memahami bukan hanya  dari sisi  kemampuan berbahasa saja. Pemilihan kata mengikut pola,  dimana kunci dari Rakit Atraktif adalah pola dari kata. Oleh moderator Anita Taurisia Putri, kata kuncinya adalah bahwa literasi adalah memahami, memaknai apa yang ada di sekitar kita.  Permata Hati, membagi pengalaman,  bahwa hal yang membuat saya tertarik di Komunitas Guru Belajar adalah keaktifan para guru dalam berdiskusi untuk membagi pengalamannya serta praktek mengajarnya tidak hanya lewat tatap muka langsung akan tetapi hampir setiap saat melalui diskusi online (daring). Hal tersebut adalah sebuah motivasi yang sangat jarang ditemukan di kalangan guru ataupun komunitas guru lainnya. Menemukan banyak orang hebat yang tidak pernah merasa lebih pintar akan tetapi memiliki prinsip semua murid semua guru, prinsipnya siapapun boleh membagi ilmu dan pengalamannya, semua belajar dan semua sama serta punya tujuan yang sama. Kalau di KGB saja seperti itu bagaimana dengan TPN ada ratusan guru yang ikut berkumpul dan bertemu untuk membagi ilmu dan pengalamannya, dan hal tersebut meyakinkan rasa penasaran saya untuk ikut Temu Pendidik Nasional di tahun 2019. Persepsi Guru Terhadap Literasi Sama halnya oleh salah satu penggerak bapak Luktfi Alam, beliau mengatakan bergabung dengan KGB di tahun 2016, persepsi guru sangat mengkhawatirkan.  Setelah bergabung di KGB, saya merasakan kelas seperti sesuatu yang berharga buat saya. Hanya 15 menit  berbicara di depan kelas. Sebelum bergabung di KGB saya menjadi guru yang superior dan saya menyesal telah melakukan kesalahan selama kurang lebih 8 tahun.  Selama ini yang kita pahami tujuan sebagai guru reaktif adalah tujuan jangka pendek. Hampir semua energi kita tersalurkan. Sekarang kita perlu memahami bahwa penting memberikan apresiasi pada anak, misalnya dengan mengucapkan Alhamdulillah pada apa yang anak raih.  Kegiatan Temu Pendidik Daerah ini ditutup oleh bu Adel dengan ajakan “ mari ikut Temu Pendidik Nasional, karena dalam kegiatan ini banyak sekali tawaran praktik mengajar terbaik yang akan dibagi oleh ratusan guru dan pakar pendidikan. Mari memaknai  literasi menggerakkan negeri dengan tidak hanya memaknai membaca tetapi maknailah dalam banyak hal dan lebih luas, seperti yang dikatakan oleh erni Marlina literasi bukan hanya berbicara tentang membaca tetapi literasi sangat luas, salah satu contohnya adalah literasi bisa dimaknai dalam budaya, seni,  berhitung dan lain-lain. Gerakan Literasi untuk Menggerakkan Negeri  Sebagaimana diketahui bahwa Gerakan Literasi Menggerakkan Negeri adalah sebuah gerakan literasi di lingkungan Komunitas Guru Belajar. Gerakan yang juga merupakan bagian dari literasi nasional. Literasi merupakan kemampuan seorang guru untuk menggunakan potensi dan keterampilan. Literasi digunakan dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan aktivitas  membaca menulis, berhitung serta memecahkan masalah dalam kehidupannya sehari-hari. Tujuan ini adalah menumbuhkan dan mengembangkan budaya literasi di tengah-tengah masyarakat secara luas. Sehingga meningkatkan kualitas penggunaan waktu seseorang lebih bermanfaat.  Literasi Menggerakkan Negeri bukan pada seberapa banyak kita membaca. Akan tetapi bagaimana kita mampu memaknai segala sesuatunya dalam melahirkan generasi penerus bangsa. Reporter by Maurensyiah (SMK Darussalam Makassar ) #Literasi Menggerakkan Negeri#Guru Belajar#Komunitas Guru Belajar Makassar# Kampus Guru Cikal.  Penasaran Bagaimana Menerapkan Literasi Numerasi di Sekolah Dasar? Yuk ikuti pelatihan online klik 

Guru Sejarah Merdeka Belajar

Guru Merdeka Belajar menjadi topik yang diangkat Komunitas Guru Belajar Makassar. Kegiatan bertajuk Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar dilaksanakan berkolaborasi dengan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI). Tidak hanya dari satu provinsi, ASGSI yang ikut berasal dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah. Diselenggarakan pada Sabtu, 14 Desember 2019 Pukul 08.00 – 10.00 WITA. Kegiatan bertempat di Gedung Guru Jusuf Kalla Disdik Sulsel, Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10 Makassar. Acara Nonton bareng Guru Merdeka Belajar yang dipandu oleh penggerak KGB Makassar. Aktivitas ini berlangsung di awal kegiatan sebelum acara Seminar Nasional dimulai. Pada sesi ini diputar video Guru Merdeka Belajar Najelaa Shihab. Nobar dipandu oleh guru Maurensyiah P., S.S., M.Pd dari SMK Darussalam Makassar yang biasa disapa Permata Hati.  Berikutnya, acara dilanjutkan dengan diskusi diantara para guru-guru sejarah 3 provinsi yang disebut tadi serta salah satu perwakilan Asosiasi Guru Sejarah Gorontalo. Acara Nobar Guru Merdeka Belajar sangat tepat ditampilkan dalam kegiatan AGSI kali ini, dan sesuai dengan tema yang diusung oleh panitia yaitu Sejarah Lokal : “Tantangan & Masa Depan “. Sudahkah Guru Sejarah Merdeka Belajar? Pemandu mengucap kalimat “Sudahkah guru-guru sejarah merdeka belajar?” Lalu, riuh muncul dari guru sejarah bahwa mereka adalah guru merdeka belajar. Jawaban spontan muncul “Ya, sudah pasti Guru Merdeka Belajar dong!” “Lalu, bagaimana anak dapat merdeka belajar?” “Dan bagaimana seorang guru sebagai guru yang merdeka dalam berinovasi mengajar”. Guru mampu memberikan inovasi-inovasi pembelajaran sejarah yang lebih kreatif. Bagaimana membangun kesan belajar sejarah bukanlah hal yang membosankan? Umpan pertanyaan ini lalu direspon beberapa guru. Guru Wartawati Damar dari  kabupaten Wajo menyatakan, “Guru sejarah itu harus kreatif menciptakan inovasi pembelajaran dan termasuk kreatif dalam mengenalkan literasi melalui karya tulisan sejarah.” Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Pemandu mengatakan “Cukup jadi diri sendiri jika ingin menajadi Guru Merdeka Belajar.” “Tidak perlu menjadi orang lain, perbaiki saja niat, tumbuhkan semangat dan ciptakan hal-hal yang kreatif dalam pembelajaran sehingga siswa akan menjadi nyaman dalam belajar.” Kreatif dalam berinovasi. Sebagai guru sejarah administrasi pembelajaran memang penting akan tetapi jangan dijadikan beban dan momok dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik. Sempat membagi pengalaman inovasi pembelajaran tentang belajar sejarah melalui video dokumenter, komik sejarah dan majalah sejarah yang diberi nama COMAAGTOON.  Guru Zulkifli mengatakan bahwa guru sejarah itu harus energik, karena guru sejarah tidak hanya mengajarkan masa lalu tapi juga mengajarkan masa kini dan masa yang akan datang karenanya dibutuhkan kreativitas mengajar yang baik. Guru Sejarah harus banyak berkarya lewat tulisan sejarah sebagai salah satu bentuk mengenalkan sejarah dan budaya bangsa kita. Dan bahwa literasi menulis dan literasi berupa lawatan sejarah adalah bagian atau wujud dari guru merdeka belajar. Guru sejarah memiliki potensi tersebut.  Diskusi tidak bisa berlangsung lebih lama lagi. Karena agenda utama seminar nasional telah siap dimulai dan dibuka dan presiden AGSI bapak Sumardiansyah Perdana Kusuma. Beliau yang akrab disapa mas Ryan telah tiba di lokasi kegiatan. Iringan musik dan tarian penyambutan telah bersiap-siap. Diskusi nobar guru merdeka belajar akhirnya berakhir. Harapannya diskusi akan hal tersebut akan kembali berulang di waktu yang akan datang. Arti Merdeka Belajar Di akhir diskusi pemandu kembali menyampaikan kutipan dari Bu Elaa “Guru tidak bisa belajar sendiri.”-“Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen akan tujuan, Guru yang mandiri, dan Guru yang Bercermin (refleksi).” Merdeka belajar adalah proses dimana seorang guru mampu memerdekakan dirinya terlebih dahulu dalam proses belajar mengajar. Guru mampu memberikan rasa nyaman serta rasa merdeka belajar bagi siswa- siswanya. Atau, dengan kata lain Merdeka belajar juga  adalah bagian dari proses belajar seorang guru untuk memiliki komitmen, mandiri serta reflektif. Seorang guru ketika belajar dan mengajar tidak terjebak pada persoalan-persoalan administratif. Tetapi memiliki kesadaran untuk belajar karena kebutuhan alamiah menuju tujuan yang bermakna bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

Pelatihan Guru Merdeka Belajar – Sudahkah Kita Merdeka Belajar?

KGB Makassar mengadakan kegiatan Pelatihan Guru Merdeka belajar pada Sabtu, 14 September 2019. Pelatihan kali ini dilaksanakan dengan berkolaborasi dengan Yayasan Pendidikan Darussalam Makassar, yang berlangsung di Meeting Room Kenanga SMK Darussalam Makassar. Acara pelatihan ini dimulai tepat pukul 09.00 WITA sampai pukul 17.00 WITA. Dalam pelatihan kali ini tampil pak Baja Seto dan pak Maman Basyaiban dari Kampus Guru Cikal selaku narasumber.  Pelatihan Guru Merdeka Belajar adalah proses belajar bersama para guru. Beberapa guru mengatakan bahwa awalnya sebelum pelatihan mereka mengira bahwa merdeka adalah bebas berekspresi. Awalnya mereka ingin tahu tentang apa itu Guru Merdeka Belajar. Belajar dari Pelatihan Guru Merdeka Belajar Menurut para peserta apa yang mereka pelajari dari Pelatihan Guru Merdeka Belajar adalah bagaimana guru sebagai seorang guru harus bisa merefleksi diri baik melalui kolaborasi sesama pendidik maupun melalui timbal-balik dari peserta didik. Oleh pak Maman mengatakan bahwa terdapat kolaborasi antar siswa  demikian halnya antar guru, jika guru ingin murid berkolaborasi, sebagai teladan, kita sebagai guru juga perlu berkolaborasi antarmata pelajaran. Beberapa guru juga masih mengingat dengan jelas ketika merefleksi hasil pelatihan Guru Merdeka Belajar salah satunya adalah pelajaran Matematika dengan materi bangun datar. Salah satu guru juga dalam refleksi pelatihan ketika pak Baja seto bertanya menyebutkan materi yang mereka dapatkan adalah diantaranya tentang Intentional Learning (Pengajaran langsung) dan Self Regulated learning. Materi lain penilaian diri dalam 4K. Oleh Anita Taurisia Putri salah seorang penggerak mengatakan bahwa dalam keseharian banyak hal yang berkaitan dengan Matematika, akan tetapi kita terpaku pada rumus atau angkanya, kita tidak memasukkan dalam realita kehidupan, sehingga menganggap peralatan Matematika susah, padahal keseharian kita penuh dengan Matematika. Penggerak lain, Erni Marlina mengatakan bahwa selaku guru  Bimbingan & Konseling, anak-anak selalu senang jika belajarnya tidak monoton berupa ceramah, jadi hendaknya belajar selalu diakhiri dengan ungkapan dan keinginan siswa, dan siswa pasti bahagia karena diberikan kesempatan untuk berpendapat.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Persoalan dunia pendidikan adalah persoalan kita bersama, kemajuan pendidikan adalah kebanggaan dan sekaligus harapan  kita bersama, oleh karena itu sudah siapkah kita mencetak generasi harapan bangsa? Sudahkah kita merasa merdeka dalam belajar? Jika belum bangunlah dan bangkitlah, mari belajar bersama Komunitas Guru Belajar untuk berkolaborasi dan saling berbagi praktek mengajar,saling menginspirasi satu sama lain. Ingin ikut pelatihannya secara online? Klik link di bawah ini

Merdeka Belajar dan Passion Guru

Berawal dari kata Remedial. Remedial kali ini tidak mengartikan kekecewaan karena saya harus mengulang, namun menjadikan saya lebih semangat atas dukungan dan energy positif yang diberikan Bapak Ibu Guru dari Komunitas Guru Belajar Makassar.  Remedial kali ini berbeda dengan makna ujian ulang yang saya kenal sejak dulu. Melainkan sebuah simbol, bahwa belajar tidak mengenal kata STOP. Saya dengan segenap keberanian mengajukan jadwal Nonton Bareng Video Guru Merdeka Belajar, tepat pada hari Kamis 8 Agustus 2019 bertempat di Sekolah Lazuardi Athaillah GIS. Kegiatan ini serangkaian dengan jadwal sharing di Sekolah saya sebut saja Teacher to Teacher, hampir semua guru Lazuardi ikut dalam kegiatan nonton bareng. Narasumber dari kegiatan ini adalah Ibu Guru Najelaa Shihab, pendiri Kampus Guru Cikal saat mengisi acara sebagai pembicara di Temu Pendidik Nasional (TPN) 2016. Sebelum pemutaran Video Ibu Guru Elaa dimulai, terlebih dahulu saya sebagai fasilitator sekaligus moderator memberikan pengantar terkait narasumber dan video yang akan ditonton. Antusias teman-teman guru membuat saya harus segera memulai pemutaran videonya yang merupakan acara inti dari kegiatan ini. Setelah video selesai ditonton, saya pun membuka sesi diskusi dengan pertanyaan awal, “Sebenarnya makna kata merdeka itu seperti apa teman-teman?’ Setiap teman guru memiliki persepsi dan jawaban yang berbeda-beda, salah satu nya diungkapkan oleh Pak Guru Nas “Merdeka itu memiliki definisi yang luas, saya pernah mendengar sebuah ungkapan terkait pendidikan di lingkungan Sekolah bahwa Sekolah itu lebih buruk dari penjara, mengapa? Karena seseorang yang terkurung dalam penjara cukup duduk diam saja, tidak sama halnya dengan sebuah sekolah di mana kita terkurung di dalamnya dan membaca buku secara terpaksa dalam hal ini sekolah dengan aneka ragam aturannya”. Ada tiga poin penting terkait ciri guru merdeka belajar, yaitu Guru yang komitmen akan tujuan Guru yang mandiri, yang pada akhirnya berada pada puncak di mana guru yang memegang kendali atas dirinya Guru yang reflektif, guru yang mengevaluasi dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan terkait miskonsepsi yang dipaparkan pada video, kemudian menjadi sesi yang alot kami diskusikan setelah pemahaman kata merdeka sebelumnya. “Cukup bayar saya dengan kopi!” Ungkap salah satu guru. Pak Guru Alamsyah adalah salah satu guru Bahasa Indonesia di Unit SMP, sebelum bergabung dengan Lazuardi hingga saat ini beliau mengelolah salah satu blog yang menampung tulisan-tulisan menarik namun mengkritik ☺. Pak Anca sapaan akrabnya, sangat senang jika diajak menjadi relawan dengan bayaran Kopi plus diskusi, “Saya mengajar bukan karena butuh uang melainkan karena ingin belajar dari pengalaman dan siswa saya nantinya bisa mengingat apa yang telah saya ajarkan, itulah tujuan saya”. Salah satu ciri guru merdeka belajar yang disampaikan oleh Ibu Elaa adalah komitmen akan tujuan. Memang tidak mudah untuk menjadi guru yang komitmen akan tujuan namun yang saya pahami  tentang makna seorang guru yang merdeka belajar adalah guru yang mampu memerdekakan dahulu anak didik di dalam kelasnya. Fasilitas dan sarana belajar yang lengkap belum bisa menjadi indikator seorang anak merdeka dalam belajar, lalu bagaimana dengan anak pelosok? Anak yang tinggal di daerah yang sulit dalam penggunaan teknologi?, pertanyaan saya ini dijawab langsung oleh Ibu Guru dian Ayu “Guru merdeka belajar adalah guru yang menemukan solusi dalam kesulitan!”.  Miskonsepsi yang terjadi di sekitar kita, dirasakan oleh setiap guru  dengan banyak cerita dan pengalaman dalam menghadapinya. Banyak rintangan untuk menjadi seorang guru yang merdeka belajar, bukan hanya guru Karena profesi melainkan guru yang merupakan passion. Passion yang tidak pernah bosan untuk dilakukan, mengorbankan segala hal demi mencapai tujuan mulia, serta tidak pernah memperhitungkan untung rugi yang telah dilakukan. Miskonsepsi yang perlu diberi perhatian lebih agar dapat mewujudkan tujuan dengan sistem pendidikan yang lebih terarah yaitu : Guru cenderung ingin belajar karena adanya dorongan lain (godaan sertifikat, insentif, dan sebagainya). Sebut saja ini profesi guru bukan passion guru. Tidak mengakui kelebihan orang lain, terlebih jika bukan seorang ahli atau tokoh terkenal. Guru dengan “How to” hanya terbatas kepada cara atau teknis. Guru perlu lebih ekstrim dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan esensial dan fundamental. Guru fokus administrasi, seperti Ujian Nasional yang dijadikan alat ukur kecerdasan seorang anak hanya dengan tiga hari pelaksanaan.  Guru yang masih bersifat individualis. Guru merdeka belajar harusnya dapat bekerja dengan tim serta mampu berkolaborasi dalam menyatukan atau menyamakan pendapat. Dari serangkaian kegiatan Nobar ini, saya dan teman-teman dapat menarik kesimpulan bahwa menjadi seorang guru yang merdeka belajar tidak semudah seperti yang dipikirkan. Banyak hambatan dan rintangan yang harus dihadapi. Kami sepakat bahwa cukuplah profesi guru itu disandang sebelum kegiatan ini, sekarang mari sama-sama kita aplikasikan “Guru adalah Passionku dan Passionmu”. Semangat ini akan menjadi pendorong dan motivasi dalam mengembangkan diri dan mandiri demi mencapai sebuah tujuan pendidikan “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”