Penggunaan Teknologi yang Lebih Humanis

Bagaimana penggunaan teknologi yang dapat menciptakan hubungan lebih humanis dengan adanya yang hampir semua kegiatan manusia menggunakan teknologi. Ditambah lagi dengan kondisi darurat Covid-19 yang mengharuskan untuk menjaga jarak?  ini mungkin yang menjadi pertanyaan besar bagi kita, apa bisa? melihat bahwa hampir semua kegiatan manusia ada penggunaan teknologi, bahkan karena begitu canggihnya teknologi sekarang ini sampai-sampai muncul slogan bahwa “Teknologi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.” Bagaimana tidak terkadang kita sebagai pengguna teknologi terkadang sibuk dengan “gadget” sampai melupakan hal-hal yang ada disekitar kita dan sibuk berselancar di dunia maya. Inilah yang menjadi kekhawatiran dari guru dan orang tua selama masa pembelajaran jarak jauh (PJJ) akan kehilangan sisi humanismenya, karena kondisi memaksa murid dalam proses pembelajaran menggunakan teknologi. Kali ini KBG Makassar Menghadirkan Bapak Ismail Nur Lc, M.Ag sebagai pembicara dalam kegiatan temu pendidik daerah ke 36 yang dilaksanakan secara live youtube di kanal Guru Belajar Makassar. Membahas tentang “Bagaimana Penggunaan Teknologi Menciptakan Hubungan Lebih Humanis? Antara Guru, Murid dan Orangtua kegiatan ini berlangsung pada hari Sabtu, 3 Oktober 2020 yang berlangsung satu setengah jam lebih.  Kegiatan ini berlangsung antara dua negara yakni indonesia dan Mesir. Ibu Anita Taurisia Putri yang bertindak sebagai medorator kegiatan membawa diskusi semakin menarik, diskusi ini mengenai praktik baik dalam proses PJJ antara kedua Negara, Baik dari metode pembelajaran yang menggunakan teknologi maupun sistem pembelajaran yang dilaksanakan di Sekolah Indonesia Kairo – Mesir dimana Bapak Ismail merupakan kepala sekolah disana. Bapak Ismail memulai materinya dengan memaparkan bahwa teknologi sangat dekat dan familiar dengan kita sebagai guru, murid dan orang tua, bagaimana cara mendampingi pembelajaran murid-murid generasi Z yang diajar oleh guru-guru generasi Y yang lahir dan baru mengenal teknologi mungkin di jenjang Sekolah Menengah, berbeda dengan generasi Z yang sejak balita sudah diperkenalkan dengan teknologi oleh orang tuanya. Bapak Ismail juga menjelaskan bahwa tantangan menjadi seorang guru adalah bagaimana menggali kemampuan berpikir kritis murid yang merupakan salah satu keterampilan esensial murid abad 21 Metode belajar abad 21 dimana murid menjadi fokus dalam pembelajaran bukan lagi guru sebagai sumber belajar satu-satunya, melainkan murid bisa menjadi sumber belajar di antara sesama murid saling belajar dengan saling berkolaborasi antara murid dan guru. Berbeda halnya dengan model pembelajaran sebelumnya yang mengedepankan nilai daripada proses dan rangking menjadi tolak ukur keberhasilan pembelajaran. Sehingga untuk pembelajaran abad 21 rangking tidak menjadi penting lagi karena dianggap bahwa rangking tidak dapat menentukan murid dapat bersosialisasi dan berkolaborasi dengan baik. Tetapi yang diharapkan adalah bagaimana murid dapat berkolaborasi sehingga perlu adanya penilaian autentik. Bagaimana menjadi guru abad 21 ? Pertanyaan yang sering kali muncul sekarang ketika harus dihadapkan dengan PJJ yang memaksa para guru untuk mau tidak mau, suka atau tidak suka harus berdamai dengan teknologi. Bapak Ismail dalam materinya membagikan tipsnya yakni dengan “Belajar Dengan Siapa Saja”, mudah namun apakah bisa terapkan. Salah satu pelajaran yang dapat dipetik dari praktik baik pembelajaran bapak ismail tentang “Ahli Waris” bapak Ismail melepaskan egonya untuk bertanya dan belajar kepada muridnya tentang bagaimana cara perhitungan matematika (metode pembagian) dalam materi pembagian ahli waris. Dari sini tercipta kolaborasi antara guru dan murid dimana murid merasa dihargai oleh guru dan guru banyak mengambil pelajaran dari hal tersebut. Tidak hanya itu bapak Ismail juga membagikan sebuah metode pembelajaran yang menarik untuk diterapkan oleh para guru yakni Metode Belajar Flipped Classroom. Flipped Classroom adalah metode belajar yang diberikan kepada murid dimana murid sudah mengetahui (belajar sebelumnya) materi yang akan dibahas di dalam kelas dari berbagai sumber yang murid peroleh, berbeda dengan tradisional class murid mengetahui materi atau belajar ketika sudah berada di dalam kelas. Menurut bapak Ismail metode ini sangat baik diterapkan karena mengurangi jumlah jam pelajaran di dalam kelas sehingga murid dapat aktif berkegiatan di luar kelas. Lanjut ke sesi tanya jawab, ibu lisnur Aiziah bertanya tentang “Bagaimana menghadapi masyarakat yang lebih cenderung berhati-hati dalam penggunaan teknologi karena mereka ingin mengunggulkan sisi Humanisasi itu sendiri? Dengan mengontrol dan membekali pengetahuan sejak dini dan bersosialisasi minimal dengan melakukan Video Conference (selama masa pandemi) terhadap keluarga atau teman dekat. Untuk di sekolah sendiri harapannya pembelajaran dibuat berkolaborasi sehingga sisi humanismenya muncul serta selalu mendampingi anak saat belajar. hal menarik yang disampaikan bapak Ismail bahwa keluarga dari orang-orang yang tinggal di Kairo sulit berkomunikasi dengan tetangga karena mungkin tidak memiliki halaman yang luas atau kebanyak dari mereka tinggal di apartemen berbeda dengan di Indonesia tetangga bisa saling menyapa di halaman rumah. Bagaimana Sekolah Indonesia-Kairo Membangun komunikasi dengan Orang tua ? Justru selama PJJ sekolah lebih muda dikendalikan dan umumnya keluarga diplomat yang bekerja adalah suami dan istrinya bertugas dirumah dan lebih banyak mendampingi murid dalam melaksanakan aktivitas PJJ. Di awal PJJ masalah Sekolah alami yakni banyak keluhan terhadap teknologi yang digunakan sekolah dan kurangnya updatenya orang tua terhadap hal tersebut. Namun sekolah berinisiatif untuk memberikan training kepada orang tua sebelum teknologi/aplikasi digunakan. Membuat grup-grup kelas dimana guru dan orang tua bisa saling berkomunikasi terkait kendala yang dihadapi sehingga terjadi komunikasi yang harmonis antara orang tua, murid dan guru.  Jumlah murid di sekolah juga sangat mempengaruhi hal tersebut dimana jumlah murid di sekolah Indonesia Kairo hanya sekitar 20 orang berbeda dengan jumlah murid di Sekolah Indonesia yang biasanya lebih dari 30 murid. Sehingga hal ini sangat sulit untuk membagun komunikasi bagi guru-guru yang berada di tanah air ditambah lagi dengan latar belakang pendidikan orang tua sehingga pada saat mendampingi anak-anaknya dapat menimbulkan kebingungan sehingga perlu ada kebijakan. di Sekolah indonesia-Kairo sendiri menurut Bapak Ismail pembelajaran untuk satu mata pelajaran tidak boleh lebih dari 60 menit sehingga tidak membuat murid dan orang tua lelah. mata pelajaran yang diberikan dalam sehari maksimal dua mapel setiap hari. tidak memberikan tugas yang banyak serta tidak terlalu mengejar target ketercapaian kurikulum namun lebih pada prosesnya. Bagaimana ketika guru mengajar menggunakan aplikasi berbeda dengan tujuan murid merasa nyaman atau sesuai dengan passionnya ?  Di awal PJJ menyebabkan banyak orang tua yang komplain dengan begitu banyaknya aplikasi yang harus digunakan murid. Sehingga sekolah memutuskan untuk menggunakan satu aplikasi sebagai aplikasi utama dan sisanya adalah aplikasi pendukung. Memanfaatkan teknologi ibarat mengendarai mobil yang berbeda setiap hari, hanya perlu penyesuaian sehingga … Read more

Memaksimalkan Whatsapp dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Apakah penggunaan Whatsapp dapat menghadirkan pembelajaran jarak jauh yang menarik, bermakna dan merdeka belajar? Yuk simak liputan berikut: Saat pukul 20.00 WITA para peserta sudah mulai masuk di ruang zoom conference, saling sapa dilakukan, menanyakan kabar sambil mengharapkan donasi kita bertambah. Narasumber : Rizqy Rahmat HaniModerator : Adelia OctorytaSelasa, 18 Agustus 202020.00-21.30 WITA Via Zoom Setelah dirasa sudah masuk semua, maka dimulai lah kegiatan kita oleh bu Adelia Octoryta dengan memperkenalkan maz Rizky sebagai tim knowledge di KGC serta bapak muda yang saat ini menetap di Pekalongan. Nah mas risky di persilahkan oleh moderator untuk mulai materinya,namun sebelum memulai  mas risky menyampaikan bahwa sekitar 1 bulan yang lalu sudah bukan di Tim Knowledge KGC namun sudah pindah ke pengembangan komunitas  Dimulailah asesmen awal menggunakan menti.com,1) Bagaimana pembelajaran Anda menggunakan Whatsapp dengan opsi-menyampaikan materi,-mengirim tugas  atau menyampaikan kesepakatan,-umpan balik,-diskusi.2) Apa tantangan selama ini menggunakan Whatsapp dalam Pembelajaran Jarak Jauh? dalam satu kata. Setelahnya dimulailah pemaparan materi dari pak Rizky. Sebelum penggunaan Whatsapp dalam Pembelajaran Jarak Jauh lakukan dulu Asesmen, bukan hanya langsung gasspol.  cari tahu bagaimana kondisi murid apakah memungkinkan penggunaan HP, kuota mereka mencukupi atau tidak. Bisa buat Flowchart untuk melakukan assessment Setelahnya disampaikan Tujuan Esensial Pendidikan yaitu Siap hidup,Kompetensi, Ujian Kebermaknaan, Menalar, Kemandirian Selanjutnya disampaikan tentang Kanvas RPP Merdeka Belajar untuk memetakan profil Murid sehingga membantu dalam tindak lanjut untuk memilih penggunaan WA Saat menjelaskan materi diatas, mas Rizky memberikan contoh materi pelajaran Bahasa Indonesia. Yang menjadi titik tekan dalam pembelajaran WA bahwa pesan suara itu mengasyikkan dan tidak menggunakan banyak kuota. Baca juga: Sekolah Lawan Corona, Sebuah Inisiasi untuk Membantu Pengajaran Jarak Jauh Tips berikutnya membuat 2 group WA, ada yang buat disksui dan ada juga buat upload meteri, supaya materinya tidak teggelam dan mudah di cari, membuat hastag awal dan akhir (sesuai kesepakatan bersama) sehingga ketika ada yang tidak ikut di waktu pembelajaran mudah mencarinya.  Di tengah penyampaian materi selalu ada gangguan sinyal juga hehe. Setelahnya dilanjut diskusi deh DISKUSI Bu Adel : WA ini efektif untuk murid yang sudah punya gawai sendiri, bagaimana dengan murid yang masih dalam pendampingan orang tua apakah efektif juga? Rizky : kelas dasar bisa banget (wjwkkjjjkwiung…. suara tidak terdengar…. karena gangguan jaringan) peran orang tua tetap dibutuhkan bukan hanya saat mau terima rapor baru gunakan WA. Emoticon apa yang tepat digunakan. Moderator mempersilakan guru lain untuk bertanya juga Anita : adakah dalam WA pengaturan font supaya bisa  berwarna-warni Rizky : saya belum eksplor, siapatau anak muda miss emmy pernah mencoba, tapi bisa digunakan emoji yang akhirnya akan membuat menarik dan interaktif serta stiker menarik. Membangun feedback yang membagun keberlanjutan (baca buku Merdeka Belajar yang tulisannya bu Puti) Emmy : Saya pegang grade 7, WAG khusus untuk kelas membuat aturan siapa saja yang bisa punya hak untuk mengatur settingan group, WA hanya utnuk share informasi link dan sebagainya karena dalam pembelajaran menggunakan Google suite.  Rizky : ini ide manrik karena memberikan peran ke murid sehingga pembelajaran berpihak ke murid.  Ada yang bertanya lagi nih kata mas Rizky Olle : Vitur Video Call WA bagusnya untuk dipakai dalam pembelajaran? Rizky : Bisa untuk dipakai diskusi langsung, namun apabila butuh conference lebih baik gunakan Aplikasi ZOOM atau Gmeet karena kalau WA terbatas orangnya, namun ingat perhatikan bahwa murid kita mempunyai cukup kuota dan sinyal bagus Bu adel : saya gunakan Video Call WA untuk mendamaikan anak yang bermasalah haha… Bury :  Kalau Video Call WA dapat memperhatikan tampilan murid (saya kalau VC suka di reject haha) Bisa kebaca tidaka sih, teks WA itu memperlihatkan kodisi seseorang RIzky: bisa salah satunya dengan pesan suara, kemudian tambah  emoji, namun yang pertama harus dilakukan ya Memanusiakan Hubungan dulu, supaya VC tidak di reject.  Eh, ditengah diskusi tampak juga dilayar anak dari bu Permata.Mas Rizky juga sudah minta izin untuk menutup sesi Diskusi karena anaknya menangis.  Wah keren yah semua bapak ibu guru yang tetap bersama anak saat belajar dan berbagi praktik baik. Yuk unduh dan pelajari Panduan Pembelajaran Jarak Jauh. Klik tombol di bawah ini!

Pembelajaran Jarak Jauh dengan 5M

Masih mengangkat tema Pembelajaran 5M untuk mengoptimalkan pengalaman belajar jarak jauh anak di masa pandemi Covid-19. Memasuki hari ke -2 (dua) Temu Pendidik Daerah (TPD) dengan  kelompok guru yang berbeda di hari pertama mengingat perlu diperhatikan protokol kesehatan.  Kegiatan Komunitas Guru Belajar Makassar pada Temu Pendidik Daerah yang ke -28 pada Kamis , 23 Juni 2020 berlangsung di Ruang Guru SDIT Darussalam Makassar. Acara tersebut dimulai sejak pukul 08.00 WITA hingga pukul 10.00 WITA.  pada hari ke 2 tersebut dihadiri peserta yang berbeda  sekitar 22  orang. Masih sama seperti Temu Pendidik Sebelumnya, acara pertama diawali dengan nonton bareng video Merdeka Belajar yang menghadirkan narasumber ibu Najelaa Shihab. Masih sama dengan konsep hari pertama, Hadir menjadi narasumber dalam kegiatan workshop tersebut guru Maurensyiah guru SMK Darussalam Makassar yang juga sebagai pengurus dan sekaligus penggerak Komunitas Guru Belajar Makassar. Selanjutnya kegiatan tersebut juga menghadirkan guru Tasmin untuk membawakan materi pelatihan Office 365. Guru Tasmin adalah guru SDIT Darussalam Makassar.  Awal kegiatan masih sama dengan hari pertama, diawali dengan pemutaran video Guru Merdeka Belajar lalu dilanjutkan ke diskusi. Oleh narasumber menyampaikan materi dengan memberikan umpan balik. Kata narasumber, “menurut bapak/ibu guru seperti apakah guru merdeka itu ?” dan apakah bapak/ibu sudah merdeka ? Pertanyaan umpan balik tersebut kemudian direspon oleh para guru. Ada guru yang mengatakan bahwa guru merdeka itu adalah guru yang tahu bagaimana mengajar yang sesungguhnya. Ada juga guru yang mengatakan bahwa guru merdeka itu adalah guru yang bebas, bebas dalam teknik dan cara mengajar. Oleh narasumber dalam merespon jawaban-jawaban guru, lalu mengarahkan kembali ke tayangan video.  Oleh narasumber mengatakan guru yang merdeka seperti yang dijelaskan dalam tayangan video tersebut, bahwa guru merdeka adalah guru merdeka itu adalah guru yang yang mempunyai komitmen, guru yang  memiliki kemandirian dan guru yang mampu berefleksi atas setiap proses pembelajaran, semua demi para murid.  Selanjutnya, narasumber mulai menjelaskan lebih rinci tentang guru merdeka, hingga mengenalkan Komunitas Guru Belajar sebagai wadah untuk belajar dan berbagi. Dilanjutkan dengan penjelasan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan konsep 5M ala Kampus Guru Cikal yang telah digunakan oleh rekan-rekan guru anggota Komunitas Guru Belajar Nusantara. Oleh narasumber mengatakan bahwa belajar di rumah, belajar di sekolah, tetap berpihak pada anak. Bagaimana caranya? Guru dan orangtua yang berdaya menciptakan pengalaman belajar yang melibatkan anak. Sangat penting kolaborasi orangtua, guru dan murid untuk berdaya belajar dalam menghadapi situasi darurat akibat wabah virus Corona. Guru harus memastikan anak mendapatkan personalisasi pengalaman belajar yang bermakna, menantang dan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak. Narasumber mengatakan dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), poin paling utama yang perlu guru perhatikan adalah memanusiakan hubungan. Memanusiakan hubungan yang dimaksud adalah Praktik pembelajaran yang dilandasi orientasi pada anak berdasarkan relasi positif yang saling memahami antara guru, murid dan orangtua, ini adalah konsep 5M yang pertama. Konsep 5M yang kedua kemudian kembali dijelaskan oleh  narasumber, Memahami Konsep dimana seorang guru hendaknya memahami bahwa praktik pembelajaran yang memandu murid bukan sekedar menguasai konten tapi menguasai pemahaman mendalam terhadap konsep yang dapat diterapkan di beragam konteks. Selanjutnya narasumber membahas konsep 5M yang ketiga yaitu membangun keberlanjutan. Maksud dari 5 M yang ketiga tersebut adalah Praktik pembelajaran yang memandu murid mengalami rute pengalaman belajar yang terarah dan berkelanjutan melalui umpan balik dan berbagi praktik baik. Selanjutnya 5 M yang keempat kembali dijelaskan oleh narasumber Praktik pembelajaran yang memandu murid menguasai keahlian melalui proses yang berjenjang dengan pilihan tantangan yang bermakna yaitu memilih tantangan. Dan pada 5M yang ke 5, memberdayakan konteks yaitu Praktik Pembelajaran yang memandu murid melibatkan sumber daya dan kesempatan di komunitas sebagai sumber belajar sekaligus kesempatan berkontribusi terhadap perubahan.  Baca Juga: Sekolah Lawan Corona Narasumber mengingatkan bahwa di masa pandemi seperti saat ini, guru perlu memperhatikan kondisi psikologis  murid, janganlah diberikan beban yang pada akhirnya membuat mereka bukannya merasa nyaman belajar justru stress menghadapi guru yang justru memberikan beban tugas yang sungguh tidak memanusiakan hubungan, yang ada murid justru stress. Guru harus mampu menjadi partner yang baik bagi murid dan orang tua. Caranya bangun kolaborasi yang baik. Di akhir pembicaraan narasumber menutup dengan closing statemen, jadilah guru yang berdaya, guru yang tahu bagaiman membawa para murid memperoleh pengalaman belajar yang bermakna. Dan mari belajar bersama Komunitas Guru Belajar untuk membuat perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Kepala sekolah SDIT Darussalam dalam merespon diskusi lalu mengatakan sangat mendukung guru-guru SDIT untuk belajar dan mengembangkan diri. Laporan Liputan oleh Maurensyiah Komunitas Guru Belajar Makassar.  Unduh Panduan Pembelajaran Jarak Jauh, klik tombol di bawah ini

Literasi adalah Cara Menggerakkan Negeri

Tema Temu Pendidik kali ini adalah Literasi Menggerakan Negeri. Diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar (KGB) Makassar, bertempat di gedung Aula Penerbit PT. Erlangga. Temu Pendidik Daerah (TPD) kali ini diwarnai dengan diskusi menarik antara tim penggerak KGB Makassar dan para guru dari berbagai tingkatan., sekaligus mengajak para guru untuk ikut ambil bagian dalam Temu Pendidik Nasional yang akan berlangsung di Jakarta pada tanggal 25 -27 Oktober 2019. Literasi adalah … Temu Pendidik Daerah kali ini bertindak sebagai moderator ibu Anita Taursia Putri, dengan narasumber Ibu Erni Marlina dari SMKN 7 Makassar dan Ibu Andi Olle Mashurah guru dari sekolah Cendikia. Oleh ibu Erni Marlina mengatakan bahwa literasi bukan hanya sekadar membaca. Beliau memberikan contoh bahwa menulis ilmiah populer kita bisa menulis apa saja yang kita pikirkan dan ingin kita tulis. Pesannya, ‘mari kita bersama-sama mengikuti kegiatan TPN 2019. Ada banyak kelas dengan 4 kelas kompetensi, silahkan memilih. Dalam komunitas Guru belajar tidak ada tuntutan wajib masuk dan memilih kelas sesuai keinginan panitia akan tetapi setiap peserta diberi kebebasan memilih kompetensi sesuai  kebutuhannya. Teman-teman harus memahami bahwa banyak hal yang bisa kita lakukan.  KGB sangat fleksibel dan salah satu keunikan di KGB adalah kita menginap di rumah orang tua murid Cikal.  Mari memaknai literasi dengan baik karena literasi itu luas, literasi berasal dari murid dan berakhir di murid. Ada teknis bagaimana membuat murid penasaran dan KGB mengajarkan bagaimana  wujud dari sebuah kemandirian.  Berbagi Pengalaman di Temu Pendidik Tidak jauh berbeda dengan ibu Andi Olle Mashurah, belia dalam materi “Rakit Atraktif” beliau membagi pengalamannya ikut TPN awalnya karena penasaran saat melihat di komunitas Guru Belajar di Facebook,. Ia mengatakan bahwa saya tidak mengenal siapapun dan menjadi peserta murni di tahun 2017 akhirnya tahun 2018 mendaftar menjadi pemateri dan lulus. Tahun 2019 mendaftar lagi dan lolos kelas kemerdekaan dan kelas kolaborasi. Tahun ini saya membawa materi dengan tema ‘Rakit Atraktif “. Produk ini membutuhkan waktu kurang lebih 6 tahun dalam proses pembuatannya hingga bisa menjadi sebuah karya yang bisa dinikmati semua orang.  Lanjut  ibu Olle mengatakan bahwa literasi  membuat kemampuan menerima makna, baik kata maupun kalimat. Contohnya, membaca sebuah bacaan dan belajar mencerna makna kalimatnya.  Bisa membaca bukan berarti bisa memaknai. Kemampuan memahami bukan hanya  dari sisi  kemampuan berbahasa saja. Pemilihan kata mengikut pola,  dimana kunci dari Rakit Atraktif adalah pola dari kata. Oleh moderator Anita Taurisia Putri, kata kuncinya adalah bahwa literasi adalah memahami, memaknai apa yang ada di sekitar kita.  Permata Hati, membagi pengalaman,  bahwa hal yang membuat saya tertarik di Komunitas Guru Belajar adalah keaktifan para guru dalam berdiskusi untuk membagi pengalamannya serta praktek mengajarnya tidak hanya lewat tatap muka langsung akan tetapi hampir setiap saat melalui diskusi online (daring). Hal tersebut adalah sebuah motivasi yang sangat jarang ditemukan di kalangan guru ataupun komunitas guru lainnya. Menemukan banyak orang hebat yang tidak pernah merasa lebih pintar akan tetapi memiliki prinsip semua murid semua guru, prinsipnya siapapun boleh membagi ilmu dan pengalamannya, semua belajar dan semua sama serta punya tujuan yang sama. Kalau di KGB saja seperti itu bagaimana dengan TPN ada ratusan guru yang ikut berkumpul dan bertemu untuk membagi ilmu dan pengalamannya, dan hal tersebut meyakinkan rasa penasaran saya untuk ikut Temu Pendidik Nasional di tahun 2019. Persepsi Guru Terhadap Literasi Sama halnya oleh salah satu penggerak bapak Luktfi Alam, beliau mengatakan bergabung dengan KGB di tahun 2016, persepsi guru sangat mengkhawatirkan.  Setelah bergabung di KGB, saya merasakan kelas seperti sesuatu yang berharga buat saya. Hanya 15 menit  berbicara di depan kelas. Sebelum bergabung di KGB saya menjadi guru yang superior dan saya menyesal telah melakukan kesalahan selama kurang lebih 8 tahun.  Selama ini yang kita pahami tujuan sebagai guru reaktif adalah tujuan jangka pendek. Hampir semua energi kita tersalurkan. Sekarang kita perlu memahami bahwa penting memberikan apresiasi pada anak, misalnya dengan mengucapkan Alhamdulillah pada apa yang anak raih.  Kegiatan Temu Pendidik Daerah ini ditutup oleh bu Adel dengan ajakan “ mari ikut Temu Pendidik Nasional, karena dalam kegiatan ini banyak sekali tawaran praktik mengajar terbaik yang akan dibagi oleh ratusan guru dan pakar pendidikan. Mari memaknai  literasi menggerakkan negeri dengan tidak hanya memaknai membaca tetapi maknailah dalam banyak hal dan lebih luas, seperti yang dikatakan oleh erni Marlina literasi bukan hanya berbicara tentang membaca tetapi literasi sangat luas, salah satu contohnya adalah literasi bisa dimaknai dalam budaya, seni,  berhitung dan lain-lain. Gerakan Literasi untuk Menggerakkan Negeri  Sebagaimana diketahui bahwa Gerakan Literasi Menggerakkan Negeri adalah sebuah gerakan literasi di lingkungan Komunitas Guru Belajar. Gerakan yang juga merupakan bagian dari literasi nasional. Literasi merupakan kemampuan seorang guru untuk menggunakan potensi dan keterampilan. Literasi digunakan dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan aktivitas  membaca menulis, berhitung serta memecahkan masalah dalam kehidupannya sehari-hari. Tujuan ini adalah menumbuhkan dan mengembangkan budaya literasi di tengah-tengah masyarakat secara luas. Sehingga meningkatkan kualitas penggunaan waktu seseorang lebih bermanfaat.  Literasi Menggerakkan Negeri bukan pada seberapa banyak kita membaca. Akan tetapi bagaimana kita mampu memaknai segala sesuatunya dalam melahirkan generasi penerus bangsa. Reporter by Maurensyiah (SMK Darussalam Makassar ) #Literasi Menggerakkan Negeri#Guru Belajar#Komunitas Guru Belajar Makassar# Kampus Guru Cikal.  Penasaran Bagaimana Menerapkan Literasi Numerasi di Sekolah Dasar? Yuk ikuti pelatihan online klik 

Guru Sejarah Merdeka Belajar

Guru Merdeka Belajar menjadi topik yang diangkat Komunitas Guru Belajar Makassar. Kegiatan bertajuk Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar dilaksanakan berkolaborasi dengan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI). Tidak hanya dari satu provinsi, ASGSI yang ikut berasal dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah. Diselenggarakan pada Sabtu, 14 Desember 2019 Pukul 08.00 – 10.00 WITA. Kegiatan bertempat di Gedung Guru Jusuf Kalla Disdik Sulsel, Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10 Makassar. Acara Nonton bareng Guru Merdeka Belajar yang dipandu oleh penggerak KGB Makassar. Aktivitas ini berlangsung di awal kegiatan sebelum acara Seminar Nasional dimulai. Pada sesi ini diputar video Guru Merdeka Belajar Najelaa Shihab. Nobar dipandu oleh guru Maurensyiah P., S.S., M.Pd dari SMK Darussalam Makassar yang biasa disapa Permata Hati.  Berikutnya, acara dilanjutkan dengan diskusi diantara para guru-guru sejarah 3 provinsi yang disebut tadi serta salah satu perwakilan Asosiasi Guru Sejarah Gorontalo. Acara Nobar Guru Merdeka Belajar sangat tepat ditampilkan dalam kegiatan AGSI kali ini, dan sesuai dengan tema yang diusung oleh panitia yaitu Sejarah Lokal : “Tantangan & Masa Depan “. Sudahkah Guru Sejarah Merdeka Belajar? Pemandu mengucap kalimat “Sudahkah guru-guru sejarah merdeka belajar?” Lalu, riuh muncul dari guru sejarah bahwa mereka adalah guru merdeka belajar. Jawaban spontan muncul “Ya, sudah pasti Guru Merdeka Belajar dong!” “Lalu, bagaimana anak dapat merdeka belajar?” “Dan bagaimana seorang guru sebagai guru yang merdeka dalam berinovasi mengajar”. Guru mampu memberikan inovasi-inovasi pembelajaran sejarah yang lebih kreatif. Bagaimana membangun kesan belajar sejarah bukanlah hal yang membosankan? Umpan pertanyaan ini lalu direspon beberapa guru. Guru Wartawati Damar dari  kabupaten Wajo menyatakan, “Guru sejarah itu harus kreatif menciptakan inovasi pembelajaran dan termasuk kreatif dalam mengenalkan literasi melalui karya tulisan sejarah.” Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Pemandu mengatakan “Cukup jadi diri sendiri jika ingin menajadi Guru Merdeka Belajar.” “Tidak perlu menjadi orang lain, perbaiki saja niat, tumbuhkan semangat dan ciptakan hal-hal yang kreatif dalam pembelajaran sehingga siswa akan menjadi nyaman dalam belajar.” Kreatif dalam berinovasi. Sebagai guru sejarah administrasi pembelajaran memang penting akan tetapi jangan dijadikan beban dan momok dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik. Sempat membagi pengalaman inovasi pembelajaran tentang belajar sejarah melalui video dokumenter, komik sejarah dan majalah sejarah yang diberi nama COMAAGTOON.  Guru Zulkifli mengatakan bahwa guru sejarah itu harus energik, karena guru sejarah tidak hanya mengajarkan masa lalu tapi juga mengajarkan masa kini dan masa yang akan datang karenanya dibutuhkan kreativitas mengajar yang baik. Guru Sejarah harus banyak berkarya lewat tulisan sejarah sebagai salah satu bentuk mengenalkan sejarah dan budaya bangsa kita. Dan bahwa literasi menulis dan literasi berupa lawatan sejarah adalah bagian atau wujud dari guru merdeka belajar. Guru sejarah memiliki potensi tersebut.  Diskusi tidak bisa berlangsung lebih lama lagi. Karena agenda utama seminar nasional telah siap dimulai dan dibuka dan presiden AGSI bapak Sumardiansyah Perdana Kusuma. Beliau yang akrab disapa mas Ryan telah tiba di lokasi kegiatan. Iringan musik dan tarian penyambutan telah bersiap-siap. Diskusi nobar guru merdeka belajar akhirnya berakhir. Harapannya diskusi akan hal tersebut akan kembali berulang di waktu yang akan datang. Arti Merdeka Belajar Di akhir diskusi pemandu kembali menyampaikan kutipan dari Bu Elaa “Guru tidak bisa belajar sendiri.”-“Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen akan tujuan, Guru yang mandiri, dan Guru yang Bercermin (refleksi).” Merdeka belajar adalah proses dimana seorang guru mampu memerdekakan dirinya terlebih dahulu dalam proses belajar mengajar. Guru mampu memberikan rasa nyaman serta rasa merdeka belajar bagi siswa- siswanya. Atau, dengan kata lain Merdeka belajar juga  adalah bagian dari proses belajar seorang guru untuk memiliki komitmen, mandiri serta reflektif. Seorang guru ketika belajar dan mengajar tidak terjebak pada persoalan-persoalan administratif. Tetapi memiliki kesadaran untuk belajar karena kebutuhan alamiah menuju tujuan yang bermakna bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

Pelatihan Guru Merdeka Belajar – Sudahkah Kita Merdeka Belajar?

KGB Makassar mengadakan kegiatan Pelatihan Guru Merdeka belajar pada Sabtu, 14 September 2019. Pelatihan kali ini dilaksanakan dengan berkolaborasi dengan Yayasan Pendidikan Darussalam Makassar, yang berlangsung di Meeting Room Kenanga SMK Darussalam Makassar. Acara pelatihan ini dimulai tepat pukul 09.00 WITA sampai pukul 17.00 WITA. Dalam pelatihan kali ini tampil pak Baja Seto dan pak Maman Basyaiban dari Kampus Guru Cikal selaku narasumber.  Pelatihan Guru Merdeka Belajar adalah proses belajar bersama para guru. Beberapa guru mengatakan bahwa awalnya sebelum pelatihan mereka mengira bahwa merdeka adalah bebas berekspresi. Awalnya mereka ingin tahu tentang apa itu Guru Merdeka Belajar. Belajar dari Pelatihan Guru Merdeka Belajar Menurut para peserta apa yang mereka pelajari dari Pelatihan Guru Merdeka Belajar adalah bagaimana guru sebagai seorang guru harus bisa merefleksi diri baik melalui kolaborasi sesama pendidik maupun melalui timbal-balik dari peserta didik. Oleh pak Maman mengatakan bahwa terdapat kolaborasi antar siswa  demikian halnya antar guru, jika guru ingin murid berkolaborasi, sebagai teladan, kita sebagai guru juga perlu berkolaborasi antarmata pelajaran. Beberapa guru juga masih mengingat dengan jelas ketika merefleksi hasil pelatihan Guru Merdeka Belajar salah satunya adalah pelajaran Matematika dengan materi bangun datar. Salah satu guru juga dalam refleksi pelatihan ketika pak Baja seto bertanya menyebutkan materi yang mereka dapatkan adalah diantaranya tentang Intentional Learning (Pengajaran langsung) dan Self Regulated learning. Materi lain penilaian diri dalam 4K. Oleh Anita Taurisia Putri salah seorang penggerak mengatakan bahwa dalam keseharian banyak hal yang berkaitan dengan Matematika, akan tetapi kita terpaku pada rumus atau angkanya, kita tidak memasukkan dalam realita kehidupan, sehingga menganggap peralatan Matematika susah, padahal keseharian kita penuh dengan Matematika. Penggerak lain, Erni Marlina mengatakan bahwa selaku guru  Bimbingan & Konseling, anak-anak selalu senang jika belajarnya tidak monoton berupa ceramah, jadi hendaknya belajar selalu diakhiri dengan ungkapan dan keinginan siswa, dan siswa pasti bahagia karena diberikan kesempatan untuk berpendapat.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Persoalan dunia pendidikan adalah persoalan kita bersama, kemajuan pendidikan adalah kebanggaan dan sekaligus harapan  kita bersama, oleh karena itu sudah siapkah kita mencetak generasi harapan bangsa? Sudahkah kita merasa merdeka dalam belajar? Jika belum bangunlah dan bangkitlah, mari belajar bersama Komunitas Guru Belajar untuk berkolaborasi dan saling berbagi praktek mengajar,saling menginspirasi satu sama lain. Ingin ikut pelatihannya secara online? Klik link di bawah ini

Merdeka Belajar dan Passion Guru

Berawal dari kata Remedial. Remedial kali ini tidak mengartikan kekecewaan karena saya harus mengulang, namun menjadikan saya lebih semangat atas dukungan dan energy positif yang diberikan Bapak Ibu Guru dari Komunitas Guru Belajar Makassar.  Remedial kali ini berbeda dengan makna ujian ulang yang saya kenal sejak dulu. Melainkan sebuah simbol, bahwa belajar tidak mengenal kata STOP. Saya dengan segenap keberanian mengajukan jadwal Nonton Bareng Video Guru Merdeka Belajar, tepat pada hari Kamis 8 Agustus 2019 bertempat di Sekolah Lazuardi Athaillah GIS. Kegiatan ini serangkaian dengan jadwal sharing di Sekolah saya sebut saja Teacher to Teacher, hampir semua guru Lazuardi ikut dalam kegiatan nonton bareng. Narasumber dari kegiatan ini adalah Ibu Guru Najelaa Shihab, pendiri Kampus Guru Cikal saat mengisi acara sebagai pembicara di Temu Pendidik Nasional (TPN) 2016. Sebelum pemutaran Video Ibu Guru Elaa dimulai, terlebih dahulu saya sebagai fasilitator sekaligus moderator memberikan pengantar terkait narasumber dan video yang akan ditonton. Antusias teman-teman guru membuat saya harus segera memulai pemutaran videonya yang merupakan acara inti dari kegiatan ini. Setelah video selesai ditonton, saya pun membuka sesi diskusi dengan pertanyaan awal, “Sebenarnya makna kata merdeka itu seperti apa teman-teman?’ Setiap teman guru memiliki persepsi dan jawaban yang berbeda-beda, salah satu nya diungkapkan oleh Pak Guru Nas “Merdeka itu memiliki definisi yang luas, saya pernah mendengar sebuah ungkapan terkait pendidikan di lingkungan Sekolah bahwa Sekolah itu lebih buruk dari penjara, mengapa? Karena seseorang yang terkurung dalam penjara cukup duduk diam saja, tidak sama halnya dengan sebuah sekolah di mana kita terkurung di dalamnya dan membaca buku secara terpaksa dalam hal ini sekolah dengan aneka ragam aturannya”. Ada tiga poin penting terkait ciri guru merdeka belajar, yaitu Guru yang komitmen akan tujuan Guru yang mandiri, yang pada akhirnya berada pada puncak di mana guru yang memegang kendali atas dirinya Guru yang reflektif, guru yang mengevaluasi dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan terkait miskonsepsi yang dipaparkan pada video, kemudian menjadi sesi yang alot kami diskusikan setelah pemahaman kata merdeka sebelumnya. “Cukup bayar saya dengan kopi!” Ungkap salah satu guru. Pak Guru Alamsyah adalah salah satu guru Bahasa Indonesia di Unit SMP, sebelum bergabung dengan Lazuardi hingga saat ini beliau mengelolah salah satu blog yang menampung tulisan-tulisan menarik namun mengkritik ☺. Pak Anca sapaan akrabnya, sangat senang jika diajak menjadi relawan dengan bayaran Kopi plus diskusi, “Saya mengajar bukan karena butuh uang melainkan karena ingin belajar dari pengalaman dan siswa saya nantinya bisa mengingat apa yang telah saya ajarkan, itulah tujuan saya”. Salah satu ciri guru merdeka belajar yang disampaikan oleh Ibu Elaa adalah komitmen akan tujuan. Memang tidak mudah untuk menjadi guru yang komitmen akan tujuan namun yang saya pahami  tentang makna seorang guru yang merdeka belajar adalah guru yang mampu memerdekakan dahulu anak didik di dalam kelasnya. Fasilitas dan sarana belajar yang lengkap belum bisa menjadi indikator seorang anak merdeka dalam belajar, lalu bagaimana dengan anak pelosok? Anak yang tinggal di daerah yang sulit dalam penggunaan teknologi?, pertanyaan saya ini dijawab langsung oleh Ibu Guru dian Ayu “Guru merdeka belajar adalah guru yang menemukan solusi dalam kesulitan!”.  Miskonsepsi yang terjadi di sekitar kita, dirasakan oleh setiap guru  dengan banyak cerita dan pengalaman dalam menghadapinya. Banyak rintangan untuk menjadi seorang guru yang merdeka belajar, bukan hanya guru Karena profesi melainkan guru yang merupakan passion. Passion yang tidak pernah bosan untuk dilakukan, mengorbankan segala hal demi mencapai tujuan mulia, serta tidak pernah memperhitungkan untung rugi yang telah dilakukan. Miskonsepsi yang perlu diberi perhatian lebih agar dapat mewujudkan tujuan dengan sistem pendidikan yang lebih terarah yaitu : Guru cenderung ingin belajar karena adanya dorongan lain (godaan sertifikat, insentif, dan sebagainya). Sebut saja ini profesi guru bukan passion guru. Tidak mengakui kelebihan orang lain, terlebih jika bukan seorang ahli atau tokoh terkenal. Guru dengan “How to” hanya terbatas kepada cara atau teknis. Guru perlu lebih ekstrim dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan esensial dan fundamental. Guru fokus administrasi, seperti Ujian Nasional yang dijadikan alat ukur kecerdasan seorang anak hanya dengan tiga hari pelaksanaan.  Guru yang masih bersifat individualis. Guru merdeka belajar harusnya dapat bekerja dengan tim serta mampu berkolaborasi dalam menyatukan atau menyamakan pendapat. Dari serangkaian kegiatan Nobar ini, saya dan teman-teman dapat menarik kesimpulan bahwa menjadi seorang guru yang merdeka belajar tidak semudah seperti yang dipikirkan. Banyak hambatan dan rintangan yang harus dihadapi. Kami sepakat bahwa cukuplah profesi guru itu disandang sebelum kegiatan ini, sekarang mari sama-sama kita aplikasikan “Guru adalah Passionku dan Passionmu”. Semangat ini akan menjadi pendorong dan motivasi dalam mengembangkan diri dan mandiri demi mencapai sebuah tujuan pendidikan “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”

Sudahkah Kita Merdeka Belajar?

Komunitas Guru Belajar Makassar mengadakan kegiatan Temu Pendidik Daerah dengan tema “ Merdeka Belajar “ pada Kamis, 20 Juni 2019 di Kafe Temang. Kegiatan  tersebut diawali dengan nonton bareng video narasumber Najelaa Shihab, lalu dilanjutkan dengan diskusi bersama yang dipandu moderator Emi Hardiyanti yang akrab disapa miss Emy.  Acara tersebut berlangsung sejak pukul 16.00 Wita – 18.00 WITA. Miss Emy membuka diskusi dengan kalimat “Sudahkah kita merdeka belajar? lalu bagaimana anak dapat merdeka belajar?” Yang kemudian direspon oleh para peserta dengan cukup antusias.  Salah seorang peserta mengatakan bahwa menjadi guru yang paling penting adalah seorang guru harus merasa merdeka terlebih dahulu karena kalau tidak ada rasa itu dalam diri seorang guru pasti akan menimbulkan kendala. Katanya, saya berkegiatan dengan anak-anak berkebutuhan khusus, dan buat saya kelas reguler dan berkebutuhan khusus sama. Alhamdulillah saya banyak sepakat dengan konsep dari sekolah cendikia  karena dari awal kami telah melaksanakan ujian berbasis oriented. Demikian halnya dengan ibu Nurfadilla, dari SMK YPLP mengatakan mengenai masalah pendidikan. Saya dan beberapa teman saya di Pascasarjana berdiskusi dengan dosen, menemukan ada masalah dalam sistem pendidikan kita. Oleh karena itu, sebagai anak muda yang berusaha ingin menyelesaikan masalah pendidikan yang benar-benar konflik, saya dan teman-teman sedang menyelesaikan proyek konten pembelajaran berbasis psikologi. Jadi kita membuat konten pembelajaran sesuai dengan karakteristik kekuatan pembelajaran anak.  Apa yang menjadi kekuatannya serta apa yang menjadi kelemahannya. Guru Usman Djabbar juga mengatakan bahwa apakah selama ini proses belajar mengajar kita di hari pertama sekolah langsung gas materi?. Jika demikian, saya bisa bayangkan betapa stresnya anak-anak di hari pertama sekolah.  Mengubah pertanyaan anak-anak dari How to menjadi Why. Menurut Usman Djabar, guru merdeka belajar adalah guru yang mampu mengubah pertanyaan How to menjadi why.  Tidak jauh berbeda dengan guru Erni Marlina, guru SMK 7 Makassar, mengatakan miskonsepsi yang harus kita pecahkan di kelas ketika anak terpakem bahwa dia sebenarnya butuh nilai. Kalau guru mampu membangun keyakinan bahwa sebenarnya belajar untuk masa depan maka tanpa disuruh pun mereka akan belajar, tapi yang selama ini terjadi karena mereka akan belajar karena membutuhkan nilai dan hal tersebut yang harus diubah. Riset juga membuktikan bahwa mereka yang unggul secara akademis mungkin susah menyesuaikan diri dengan orang lain kenapa karena mereka cenderung mengabaikan yang lain. Ketika kita menerima rapor jangan melihat deretan angka yang ada di rapor tetapi ketika kita bertanda tangan tutup rapor kemudian berikan apresiasi kepada anak kita. Kenapa karena kadang kita juga orang tua egois selalu mengukur prestasi dari apa yang ada di rapornya. Saya rasa mari kita bersama-sama memberikan sugesti-sugesti positif ini kepada anak-anak kita, kepada orang tua kita dan kepada diri kita sendiri karena kita adalah orang tua  di rumah dan orang tua di sekolah bahwa pendidikan itu atau belajar itu harus terus menerus dilakukan bukan untuk mengejar nilai tetapi bagaimana pelajaran itu kita butuh karena kenapa ? ketika anak-anak merasa bahwa dia membutuhkan pelajaran itu maka tanpa disuruhpun dia akan termotivasi. Saya memberikan contoh salah satu sekolah di Malaysia, sekolah di Malaysia itu terbalik dengan kita. Kalau kita menunggu anak-anak di depan pagar dan segala macam untuk dia menyalami. Sekolah itu justru anak-anak yang menunggu dan menyalami gurunya. Mereka berbaris di depan kelas kemudan menunggu gurunya masuk. Saya sangat merindukan itu apakah kemungkinan suatu saat nanti di Indonesia atau di sekolah kita sendiri bisa terjadi. Guru Luktfi Alam mengatakan bahwa tanpa bertanya saya harapkan adalah bagaimana hubungan guru dan pesera didiknya. Makanya rekan-rekan guru menyiapkan hal yang administratif. Sebagai contoh ; sebelumnya pemerintah mengambil alih kelulusan tetapi tiga tahun belakangan pemerintah telah mengembalikan kelulusan ke sekolah, semestinya pihak guru dan sekolah memahami sebenarnya hal tersebut apa esensinya . Bahwa sebenarnya kurikulum nasional telah memberikan sinyal untuk merdeka belajar contohnya peniadaan rangking, pengembalian kelulusan ke satuan pendidikan dan perangkat-perangkat pembelajaran yang lain, hanya saja pihak guru dan pihak sekolahnya saja yang biasa kurang paham apa sih maksud kurikulum meniadakan ranking? padahal maksudnya adalah bagaimana setiap anak itu semua punya potensi. Apa coba maksudnya pemerintah mengembalikan kelulusan ke satuan pendidikan,, yah pihak sekolah diberikan kemerdekaan untuk mengapresiasi muridnya. Mengapa kurikulum menginstruksikan agar penilaian sebaiknya lebih banyak portofolio itu tidak lain agar penilaian menjadi utuh yg mampu merekam aktifitas pelajar secara komprehensif, Nilai 80 yang dilengkapi dengan narasi dan catatan yang merekam potensi murid lebih bermakna dibanding dengan nilai 95 tanpa keterangan, diam,membisu. Demikian halnya dengan guru Maurensyiah yang akrab disapa Permata Hati guru SMK Darussalam “hal yang pertama kita harus lakukan sebelum memerdekakan anak-anak dalam belajar adalah memerdekakan diri sendiri terlebih dahulu. Bagaimana caranya ? lepaskan beban-beban administratif, perasaan harus sama dengan orang lain, cukup menjadi diri sendiri jika ingin menjadi Guru Merdeka Belajar, karena mengajar itu bukan menyenangkan manusia dalam hal ini kepala sekolah tetapi mengajar bagian dari amanah yang kelak akan kita pertanggungjawabkan di akhirat, jadi mengajarlah dengan ikhlas  untuk memanusiakan manusia”  Diskusi ditutup oleh moderator dengan kutipan dari narasumber Najelaa Shihab “Guru tidak bisa belajar sendiri”-“Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen akan tujuan, Guru yang mandiri, dan Guru yang Bercermin (refleksi)”.  Pendidikan, dalam hal ini pendidikan di sekolah, pada era modern (atau postmodern) ini memiliki tantangan yang lebih berat daripada masa sebelum tahun 2000-an. Pada masa dahulu, seperti masa kita sebagai guru berada pada posisi murid kita, bersekolah adalah bagaimana agar murid dapat melanjutkan pendidikan pada tingkat universitas atau secepatnya mendapatkan pekerjaan selepas sekolah menengah atas. Sekolah menjadi tempat bagi pembentukan, dengan term Althusser, know-how. Sekolah menjadi perpanjangan tangan pemilik modal bagi penyiapan tenaga-tenaga kerja potensial yang kelak akan digunakan oleh pemilik-pemilik modal tersebut melanjutkan nafas perusahaannya. Apakah pada saat ini, di era milenium, peran sekolah sebagai ladang penyemaian bibit-bibit potensial bagi tenaga kerja dalam sistem kapitalistik sudah tidak terjadi lagi?. Sayangnya, hal tersebut masih berlanjut, bahkan lebih parah lagi. Persaingan ekonomi global, terutama pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean, menjadikan sekolah-sekolah semakin giat dalam mereproduksi tenaga kerja dengan spesifikasi keahlian kualitas tinggi. Pertanyaannya, apakah hal tersebut adalah sesuatu yang salah?. Menjawab “ya” atau “ tidak” secara bulat bukanlah jawaban yang pas. Pada kenyataannya realitas adalah campur aduk antara benar dan salah. Kenyataan dunia yang semakin kapitalistik, tidak serta merta diikuti sekolah dengan mereproduksi … Read more