Merdeka Belajar, Bolehkah Mengajar, Jika Tidak Mau Belajar?

Siang itu, Selasa (28/5) matahari Semarang begitu terik namun tidak menjadi penghalang bagi peserta yang terdiri dari para guru yang mengajar di SMPN 10 Semarang dan para anggota KGB Semarang untuk menghadiri acara “Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar”. Istimewanya lagi, ada peserta yang datang jauh-jauh dari Jepara dan Demak khusus untuk mengikuti acara ini.  Acara ini dibuka langsung oleh Kepala SMPN 10 Semarang Bapak Erwan Rachmat. Dalam pembukaannya Pak Erwan Rachmat, menyampaikan pesan bahwa sebagai seorang pendidik sudah seharusnya kita belajar, kalau tidak mau belajar jangan coba-coba menjadi pendidik yang mengajar. Pak Erwan yang sering mengisi kegiatan pelatihan pada guru-guru pun menjelaskan bahwa saat ini anak-anak lebih cerdas dibandingkan gurunya. Oleh karena itu, guru harus terus meningkatkan kapasitas pengetahuannya.  Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar Acara nonton bareng kai ini dipandu oleh bu Anik Puspowati. Para peserta dengan antusias menyimak video yang dipaparkan oleh Bu Najelaa Shihab tentang merdeka belajar. Tujuan dari Guru Merdeka Belajar adalah sebuah tantangan untuk melawan miskonsepsi yang sering disematkan kepada guru bahwa guru hanya mau belajar jika mendapat insentif baik dalam bentuk uang ataupun sertifikat.  Selain itu, terdapat miskonsepsi bahwa guru hanya bisa belajar dari para ahli atau pakar. Selesai menonton, bu Anik memberikan pertanyaan reflektif seputar merdeka belajar. Seperti pemahaman tentang merdeka belajar, penerapan merdeka belajar termasuk saat mengajar, dan bagaimana cara agar merdeka belajar ini terus diterapkan. Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Peserta saling berdiskusi. Hasil diskusi tersebut mematahkan miskonsepsi-miskonsepsi belajar guru yang selama ini diyakini. Seperti yang disampaikan bu Ida Guru BK bahwa beliau dapat belajar hal baru yang sebelumnya ia tidak bisa dari anak-anak. Apalagi anak-anak mempunyai pergaulan yang luas sehingga ia bisa tau beragam komunitas dari anak-anak. Dalam menerapkan merdeka belajar perlu adanya komitmen, kemandirian, dan refleksi. Tentunya hal ini harus diupayakan semua pihak dengan menyebarkan virus merdeka belajar. Merdeka belajar tentunya memiliki tantangan namun bukan berarti tidak bisa bukan? Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Berisi praktik para Guru yang mengajar dengan menerapkan merdeka belajarUnduh GratisKlik:

Apakah Kegiatan Literasi di Sekolah Bisa Berdampak pada Murid?

Hari Minggu adalah hari yang ditunggu bapak/ibu guru, karena ada mudik (temu pendidik) dengan konsep yang asik dan menarik. 17 Maret 2019, pagi itu gerimis datang tetapi tidak menyurutkan semangat bapak/ibu guru untuk belajar di SD Muhammadiyah 02 Bendan Pekalongan bersama guru Nazilatul Khusna dan guru Zidnil Karomah. Temu pendidik dengan tema “Kegiatan Literasi Bermakna” merupakan temu pendidik yang ke-23 yang dilaksanakan oleh KGB (Komunitas Guru Belajar) Pekalongan. Nazilatul Khusna adalah guru di SD Baitussalam 01 Pekalongan yang menyampaikan materi tentang “Membangun Budaya Literasi di Sekolah.“ Tahun 2018 yang lalu, di sekolah saya baru memulai kurikulum 2013. Tetapi dengan adanya kurikulum tersebut, justru menjadi keresahan bagi guru. Terlebih guru kelas satu dan empat, karena di dalam kurikulum 2013, terdapat program yang mewajibkan anak setiap harinya harus membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Okey, jika membaca 15 menit diterapkan di kelas empat, ya memungkinkan saja, karena murid-murid sudah bisa membaca dengan lancar. Namun, jika hal itu diterapkan di kelas satu, bagaimana? Susah! Apalagi untuk murid yang belum bisa membaca. Jangankan membaca, hampir keseluruhan murid belum hafal huruf. Duh, bagaimana coba?!”, paparnya. Peserta mudik sangat antusias mendengarkan pemaparan bu Nazil tentang keresahannya dalam menghadapi kurikulum K13. Mengenai program literasi, beliau tidak menggembar-gemborkan apa itu literasi kepada murid-muridnya. Tetapi, sebisa mungkin beliau mencoba untuk memperkenalkan program literasi di sekolah. “Apa sih literasi itu? Apakah hanya sekedar membaca? Apakah dengan membaca 15 menit sebelum memulai pelajaran akan berdampak pada murid?” Guru Nazil memulai materinya dengan bertanya tentang literasi dan membuka sudut pandang peserta mudik tentang literasi. “Tantangan terbesar di kelas bagi saya adalah menjelaskan materi. Terlebih masih ada beberapa murid kelas dua belum lancar membaca, dan juga ada yang malas sekali menulis. Saya sering kewalahan ketika menyampaikan materi. Suatu hari ketika pelajaran bahasa Indonesia, saya mengajak murid-murid mengunjungi perpustakaan. Kemudian saya menyuruh mereka mengambil buku cerita, lalu menugaskan untuk membuat rangkuman terhadap apa yang sudah mereka baca. Sebelumnya saya telah menjelaskan berkali-kali materinya, tetapi setelah saya menyuruh mereka demikian, hasilnya nihil alias gagal. Hanya beberapa murid saja yang paham. Dari situlah saya mulai berpikir. Aduh bagaimana ya? Apakah ada yang salah dengan cara saya? Atau jangan-jangan macam literasi itu banyak”, kata beliau. Beliau melanjutkan ceritanya: “Saya mencoba menelusuri dengan mengikuti temu pendidik di KGB Pekalongan dan bertanya-tanya kepada guru-guru saya juga. Ternyata, literasi itu sangat luas. Makna literasi sesungguhnya adalah belajar. Literasi tidak hanya sekedar membaca, menulis pun termasuk literasi. Nyatanya kemampuan membaca dan kemampuan menulis sangat erat hubungannya. Membaca tanpa menulis, maka akan mengakibatkan lupa. Sedangkan menulis tanpa membaca, maka proses menuliskannya tidak akan berkembang”. Melalui ilmu yang diperolehnya beliau langsung mencoba mengaitkan antara kemampuan membaca dan kemampuan menulis murid. Dalam materi yang disampaikannya, beliau bercerita tentang salah satu siswanya yang bernama Tiara: “Tiara adalah anak pendiam dan selalu menjadi bahan perbincangan anak-anak karena nilainya selalu saja rendah. Memang, kemampuannya dari awal kelas satu berada di bawah rata-rata teman-temannya. Namun, Alhamdulilah dia bersikap biasa-biasa saja atau cuek ketika diejek temannya. Setelah kelas dua, saya mengamati bahwa dia sudah mengalami perubahan dalam hal membaca. Kemampuan membacanya hingga sekarang cukup baik. Akan tetapi, ketika disuruh menulis dia belum sempurna, walaupun dia hanya menyalin tulisan saya di papan tulis. Mengapa masih saja salah-salah? Ini nih menjadi bagian penting dari literasi. Korelasi antara membaca dan menulis harus diperhatikan”. Beliau berusaha untuk menyelesaikan permasalahan mengenai miskonsepsi literasi selama ini. Beliau melanjutkan ceritanya: “Suatu ketika, mata pelajaran bahasa Indonesia membahas tentang puisi. Setelah selesai menjelaskan dan memberi beberapa contoh puisi, saya mencoba memberikan tugas kepada murid-murid untuk membuat puisi bertema ibu. Membebaskan imajinasi mereka sendiri. Saya berjalan dari meja ke meja guna melihat kreasi murid-murid. Beberapa murid merasa kebingungan menuliskan hingga saya pun akhirnya membantu menyebutkan kata-kata. Akan tetapi, beberapa murid yang lain ada pula yang berusaha sendiri, termasuk Tiara (anak yang mampu membaca tapi tidak mampu menulis dengan benar). Hasil karya Tiara membuat saya takjub. Berikut karyanya: Kemudian beliau mengakhiri ceritanya: “Ternyata dibalik kekurangan Tiara yang demikian, nyatanya dia mampu menuliskan kata-kata mesra untuk ibunya. Disitulah saya tersadar bahwa kemungkinan daya mengarangnya cukup baik. Dia mampu berimajinasi. Nah, itu merupakan proses literasi lhoo…!! Literasi bukan sekedar memahami huruf abjad. Tapi proses merangkai kata pun bisa”. Guru Nazil pun menutup pembahasannya dengan memberikan sebuah kalimat bermakna: “Dunia sekarang cepat sekali berubah. Jika saya tidak MEMULAI, maka saya akan TERTINGGAL”. Peserta temu pendidik sangat antusias mendengarkan pengalaman beliau dalam melaksanakan praktik pembelajaran di kelas. Selanjutnya, materi disampaikan oleh guru Zidnil Karomah yang merupakan guru di SD Muhammadiyah 02 Bendan Pekalongan. Guru Zidnil menyampaikan materi “Literasi Asik, Ajak Anak Aktif”. Literasi sering dihubungkan dengan kegiatan membaca. Membaca merupakan kata kerja yang sering dipasangkan dengan objek berupa buku. Apakah literasi itu lingkupnya hanya kegiatan membaca buku? tentu semua sepakat jawabannya TIDAK. Ketika program literasi di sekolah hanya terpusat pada aktivitas siswa untuk membaca 15 menit di awal pembelajaran saja, kemudian mencatat halaman buku yang telah selesai mereka baca di kartu baca (literasi), maka kegiatan tersebut lama-lama akan membosankan. Guru akan menjumpai siswa yang lebih senang bercerita dengan teman-temannya dibandingkan membaca buku cerita mereka. Bagaimana usaha guru sebagai pendidik untuk membuat kegiatan literasi yang asik, yang bisa mengajak mereka untuk aktif? Beliau menjawab: “ Salah satu usaha yang saya lakukan adalah mengajak siswa untuk membaca tetapi melalui video. Video tersebut berupa cerita pendek (kartun animasi) yang ada subtitlenya dalam bahasa Inggris. Saya mendapatkan video tersebut dari youtube. Banyak sekali jenis videonya, oleh karena itu kita juga harus menyesuaikan dengan tema atau materi yang akan kita sampaikan”. Kemudian beliau menampilkan video dan mengatakan: “Saya menggunakan video yang berjudul “The Old Lion and the Fox”, ketika saya harus mengajarkan materi tentang hewan (animals). Pertama, saya putarkan full video tersebut. Siswa tampak antusias mengamati dan mendengar cerita dari video yang diputar. Setelah itu, saya ajak mereka untuk berdiskusi tentang isi ceritanya, kira-kira tentang apa?” Di awal sebagian jawaban siswa adalah hasil dari pengamatan gambar videonya saja, yaitu siswa belum memahami arti dari bacaan cerita bahasa inggris tersebut. Dari informasi yang siswa dapatkan, semua ditampung untuk selanjutnya dirangkai bersama-sama menjadi cerita yang utuh. Termasuk didalamnya … Read more

Sudahkah Kita Merdeka Belajar?

Komunitas Guru Belajar Makassar mengadakan kegiatan Temu Pendidik Daerah dengan tema “ Merdeka Belajar “ pada Kamis, 20 Juni 2019 di Kafe Temang. Kegiatan  tersebut diawali dengan nonton bareng video narasumber Najelaa Shihab, lalu dilanjutkan dengan diskusi bersama yang dipandu moderator Emi Hardiyanti yang akrab disapa miss Emy.  Acara tersebut berlangsung sejak pukul 16.00 Wita – 18.00 WITA. Miss Emy membuka diskusi dengan kalimat “Sudahkah kita merdeka belajar? lalu bagaimana anak dapat merdeka belajar?” Yang kemudian direspon oleh para peserta dengan cukup antusias.  Salah seorang peserta mengatakan bahwa menjadi guru yang paling penting adalah seorang guru harus merasa merdeka terlebih dahulu karena kalau tidak ada rasa itu dalam diri seorang guru pasti akan menimbulkan kendala. Katanya, saya berkegiatan dengan anak-anak berkebutuhan khusus, dan buat saya kelas reguler dan berkebutuhan khusus sama. Alhamdulillah saya banyak sepakat dengan konsep dari sekolah cendikia  karena dari awal kami telah melaksanakan ujian berbasis oriented. Demikian halnya dengan ibu Nurfadilla, dari SMK YPLP mengatakan mengenai masalah pendidikan. Saya dan beberapa teman saya di Pascasarjana berdiskusi dengan dosen, menemukan ada masalah dalam sistem pendidikan kita. Oleh karena itu, sebagai anak muda yang berusaha ingin menyelesaikan masalah pendidikan yang benar-benar konflik, saya dan teman-teman sedang menyelesaikan proyek konten pembelajaran berbasis psikologi. Jadi kita membuat konten pembelajaran sesuai dengan karakteristik kekuatan pembelajaran anak.  Apa yang menjadi kekuatannya serta apa yang menjadi kelemahannya. Guru Usman Djabbar juga mengatakan bahwa apakah selama ini proses belajar mengajar kita di hari pertama sekolah langsung gas materi?. Jika demikian, saya bisa bayangkan betapa stresnya anak-anak di hari pertama sekolah.  Mengubah pertanyaan anak-anak dari How to menjadi Why. Menurut Usman Djabar, guru merdeka belajar adalah guru yang mampu mengubah pertanyaan How to menjadi why.  Tidak jauh berbeda dengan guru Erni Marlina, guru SMK 7 Makassar, mengatakan miskonsepsi yang harus kita pecahkan di kelas ketika anak terpakem bahwa dia sebenarnya butuh nilai. Kalau guru mampu membangun keyakinan bahwa sebenarnya belajar untuk masa depan maka tanpa disuruh pun mereka akan belajar, tapi yang selama ini terjadi karena mereka akan belajar karena membutuhkan nilai dan hal tersebut yang harus diubah. Riset juga membuktikan bahwa mereka yang unggul secara akademis mungkin susah menyesuaikan diri dengan orang lain kenapa karena mereka cenderung mengabaikan yang lain. Ketika kita menerima rapor jangan melihat deretan angka yang ada di rapor tetapi ketika kita bertanda tangan tutup rapor kemudian berikan apresiasi kepada anak kita. Kenapa karena kadang kita juga orang tua egois selalu mengukur prestasi dari apa yang ada di rapornya. Saya rasa mari kita bersama-sama memberikan sugesti-sugesti positif ini kepada anak-anak kita, kepada orang tua kita dan kepada diri kita sendiri karena kita adalah orang tua  di rumah dan orang tua di sekolah bahwa pendidikan itu atau belajar itu harus terus menerus dilakukan bukan untuk mengejar nilai tetapi bagaimana pelajaran itu kita butuh karena kenapa ? ketika anak-anak merasa bahwa dia membutuhkan pelajaran itu maka tanpa disuruhpun dia akan termotivasi. Saya memberikan contoh salah satu sekolah di Malaysia, sekolah di Malaysia itu terbalik dengan kita. Kalau kita menunggu anak-anak di depan pagar dan segala macam untuk dia menyalami. Sekolah itu justru anak-anak yang menunggu dan menyalami gurunya. Mereka berbaris di depan kelas kemudan menunggu gurunya masuk. Saya sangat merindukan itu apakah kemungkinan suatu saat nanti di Indonesia atau di sekolah kita sendiri bisa terjadi. Guru Luktfi Alam mengatakan bahwa tanpa bertanya saya harapkan adalah bagaimana hubungan guru dan pesera didiknya. Makanya rekan-rekan guru menyiapkan hal yang administratif. Sebagai contoh ; sebelumnya pemerintah mengambil alih kelulusan tetapi tiga tahun belakangan pemerintah telah mengembalikan kelulusan ke sekolah, semestinya pihak guru dan sekolah memahami sebenarnya hal tersebut apa esensinya . Bahwa sebenarnya kurikulum nasional telah memberikan sinyal untuk merdeka belajar contohnya peniadaan rangking, pengembalian kelulusan ke satuan pendidikan dan perangkat-perangkat pembelajaran yang lain, hanya saja pihak guru dan pihak sekolahnya saja yang biasa kurang paham apa sih maksud kurikulum meniadakan ranking? padahal maksudnya adalah bagaimana setiap anak itu semua punya potensi. Apa coba maksudnya pemerintah mengembalikan kelulusan ke satuan pendidikan,, yah pihak sekolah diberikan kemerdekaan untuk mengapresiasi muridnya. Mengapa kurikulum menginstruksikan agar penilaian sebaiknya lebih banyak portofolio itu tidak lain agar penilaian menjadi utuh yg mampu merekam aktifitas pelajar secara komprehensif, Nilai 80 yang dilengkapi dengan narasi dan catatan yang merekam potensi murid lebih bermakna dibanding dengan nilai 95 tanpa keterangan, diam,membisu. Demikian halnya dengan guru Maurensyiah yang akrab disapa Permata Hati guru SMK Darussalam “hal yang pertama kita harus lakukan sebelum memerdekakan anak-anak dalam belajar adalah memerdekakan diri sendiri terlebih dahulu. Bagaimana caranya ? lepaskan beban-beban administratif, perasaan harus sama dengan orang lain, cukup menjadi diri sendiri jika ingin menjadi Guru Merdeka Belajar, karena mengajar itu bukan menyenangkan manusia dalam hal ini kepala sekolah tetapi mengajar bagian dari amanah yang kelak akan kita pertanggungjawabkan di akhirat, jadi mengajarlah dengan ikhlas  untuk memanusiakan manusia”  Diskusi ditutup oleh moderator dengan kutipan dari narasumber Najelaa Shihab “Guru tidak bisa belajar sendiri”-“Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen akan tujuan, Guru yang mandiri, dan Guru yang Bercermin (refleksi)”.  Pendidikan, dalam hal ini pendidikan di sekolah, pada era modern (atau postmodern) ini memiliki tantangan yang lebih berat daripada masa sebelum tahun 2000-an. Pada masa dahulu, seperti masa kita sebagai guru berada pada posisi murid kita, bersekolah adalah bagaimana agar murid dapat melanjutkan pendidikan pada tingkat universitas atau secepatnya mendapatkan pekerjaan selepas sekolah menengah atas. Sekolah menjadi tempat bagi pembentukan, dengan term Althusser, know-how. Sekolah menjadi perpanjangan tangan pemilik modal bagi penyiapan tenaga-tenaga kerja potensial yang kelak akan digunakan oleh pemilik-pemilik modal tersebut melanjutkan nafas perusahaannya. Apakah pada saat ini, di era milenium, peran sekolah sebagai ladang penyemaian bibit-bibit potensial bagi tenaga kerja dalam sistem kapitalistik sudah tidak terjadi lagi?. Sayangnya, hal tersebut masih berlanjut, bahkan lebih parah lagi. Persaingan ekonomi global, terutama pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean, menjadikan sekolah-sekolah semakin giat dalam mereproduksi tenaga kerja dengan spesifikasi keahlian kualitas tinggi. Pertanyaannya, apakah hal tersebut adalah sesuatu yang salah?. Menjawab “ya” atau “ tidak” secara bulat bukanlah jawaban yang pas. Pada kenyataannya realitas adalah campur aduk antara benar dan salah. Kenyataan dunia yang semakin kapitalistik, tidak serta merta diikuti sekolah dengan mereproduksi … Read more

Guru Merdeka Belajar di Pekanbaru, Belajar Tanpa Paksaan

Awalnya saya ragu untuk mengadakan Nonton bareng (Nobar) Video Guru Merdeka Belajar yang akan saya lakukan di Kota Pekanbaru. Rasa percaya diri saya seolah hilang karena melihat berbagai sisi kesibukan para guru ataupun berbagai steakholder yang akan saya ajak untuk “Nobar”. Ditambah lagi masyarakat Pekanbaru kurang mengerti atau belum tau apa itu “Komunitas Guru Belajar (KGB)”.  Di tengah keraguan itu muncul keberanian saya untuk mengalahkan ego pribadi, kapan lagi saya akan berbagi informasi penting kepada para guru-guru berdaya, penerus estafet peradaban bangsa, yang selalu berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada peserta didik yang memasuki era milenial ini. Melihat perkembangan yang sangat cepat lalu diimbangi dengan berbagai inovasi pembelajaran yang mudah diakses dan dipelajari maka saya mencoba mengenalkan dan memulai menggugah emosi para guru walaupun hanya beberapa orang sekitar 10 orang  tapi rasanya saya bahagia dapat berdiri tegap dihadapan para guru. Mulailah saya rancang waktu pelaksanaan Nobar Merdeka Belajarkarena berbagai kesibukan saya pilih hari Jumat tanggal 28 Juni 2019 bertempat di Café Kopi Kirapa Jl. Ahmad Dahlan yang terkenal dengan nama Jl. Pelajar. Pelaksanaan dimulai pukul 14.00 mula-mula saya khawatir soalnya setelah saya sampai di Café Kopi Kirapa tepatnya pukul 13.00, belum terlihat orang-orang yang saya undang melalui grup WA ada juga yang melalui telpon dan sms langsung di tempat acara. Lalu saya mulai bertanya jangan-jangan mereka lupa atau para guru memilih berlibur bersama keluarga dari pada menghadiri undangan “Nobar Merdeka Belajar KGB Pekanbaru” yang belum jelas ini.  Setelah kurang lebih 30 Menit saya menunggu, akhirnya harapan saya mulai cerah untuk kesuksesan acara nobar beberapa guru mulai datang, pertama adalah Ibu Atika Hermansyah, M.Pd. yang sudah lama malang melintang di dunia KGB bahkan menurut informasi yang saya dapatkan beliau adalah utusan TPN dari riau tahun 2016 yang lalu, yang lebih luar biasa di sela-sela kesibukannya studi S3 di Padang menyempatkan waktu balik ke Pekanbaru untuk menghadiri acara Nobar yang saya buat. Setelah itu ada beberapa kawan-kawan guru dari sekolah lain turut hadir dan peserta mencapai 12 orang. Rasanya luar biasa saya tidak dapat membayangkan baru sekali saya melaksanakan Nobar Merdeka Belajar KGB Pekanbaru 12 orang yang antusias. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Setelah menyiapkan berbagai alat perlengkapan Nobar mulai dari proyektor, pengeras suara, dan sebagainya maka kegiatan Nobar dilaksanakan. Pada awal sebelum memulai saya mengajak kepada seluruh peserta untuk menjawab dan menyatukan berbagai pandangan mengenai informasi tentang apa itu merdeka belajar? Pak Ripi salah satu guru berdaya di MA Ma’arif Nahdlatul Ulama Riau mencoba memberikan argumentasinya tentang konsep merdeka belajar. Menurut beliau “Merdeka belajar adalah sebuah kebebasan untuk mencari informasi tentang segala hal terkait ilmu pengetahuan”. Setelah memberikan jawaban itu saya menguatkan jawaban beliau luar biasa jawaban bapak.  Ibu Sri dari salah satu sekolah ternama di Siak menambahkan jawaban terkait merdeka belajar menurut beliau merdeka belajar adalah belajar yang melekat kepada siapapun tanpa ada paksaan, tanpa embel-embel, hadiah, sertifikat untuk terus belajar. Setelah selesai saya menguatkan dan mengapresiasi jawaban peserta. Setelah mencoba memberikan pertanyaan tentang merdeka belajar saya coba pecahkan suasana bertanya kepada peserta apakah bapak/ibu guru ingin merdeka belajar’. Mereka serentak menjawab “Iya” Baiklah setelah selesai dengan sedikit pengetahuan tentang merdeka belajar saya ajak bapak ibu guru untuk menyaksikan video yang sudah disiapkan oleh Kampus Guru Cikal di web. Dimulailah video tersebut para peserta hening. Suasana menjadi hangat dan sepi semuanya dengan seksama menonton dan menyimak betul penjelasan dari bu Najelaa tentang apa itu merdeka belajar dan bagaimana ibu Najelaa mencoba menggugah suasana batin bapak ibu yang hadir dengan menjelaskan berbagai miskonsepsi belajar yang selama ini dimiliki oleh bapak ibu guru di seluruh Indonesia. Ada semacam ide-ide baru yang muncul dari gagasan yang disampaikan Ibu Najelaa terhadap kondisi pendidikan di Indonesia ini dan banyak tidak terpikirkan oleh para guru di seluruh Indonesia. Miskonsepsi-miskonsepsi ini yang nantinya saya diskusikan kepada para peserta Nobar yang saya lakukan. Setelah pemutaran video nobar, saya mengajukan 5 pertanyaan penting dari kegiatan nobar kepada para peserta. Kemudian saya mencoba mengulas sedikit tentang berbagai miskonsepsi dari penjelasan Ibu Najelaa, antara lain guru belajar menunggu sertifikat, uang pesangon, belajar hanya kepada ahli, individual, dan lain-lain. Mengawali dari tanggapan atau refleksi setelah melihat video itu ibu atika memberikan refleksi atau tanggapannya. Beliau mengatakan video tersebut membuat saya tergugah karena 20 tahun mbak Najelaa berkecimpung dalam dunia mendidik banyak salah kaprah dalam memahami arti belajar. Banyak aturan-aturan yang malah tidak membuat kreativitas guru meningkat, malah jarang sekali terjadi inovasi dalam pembelajaran.  Ibu Rini juga menambahkan beliau merasa terharu setelah nonton video tersebut beliau merasa selama 15 tahun mengajar belum memberikan yang terbaik untuk peserta didik sampai saat ini, oleh karena itu kedepan saya akan lebih baik lagi dan berusaha untuk melakukan inovasi pembelajaran. Maklum karena peserta sedikit dan pertama kali mereka masih malu-malu untuk bercerita santai tentang kemajuan pendidikan yang selama ini, hanya dua orang yang mau berefleksi, hehehe. Walaupun demikian rasanya luar biasa sudah bergabung dan bersama-sama untuk nobar dan mendapatkan pengalaman baru gagasan pendidikan kedepan. Di akhir pertemuan kami bersepakat untuk menumbuhkan semangat baru mengeksplor berbagai pengetahuan dalam diri, menjadikan “KGB” sebagai sarana untuk berubah dan berkembang. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Guru Merdeka Belajar, Guru yang Berdaya dengan Berkolaborasi

Komunitas Guru Belajar Hulu Sungai Tengah (KGB HST) Kalimantan Selatan menyelenggarakan  Temu Pendidik Daerah dengan nonton bareng Guru Merdeka Belajar, Kamis 20 Juni 2019. Temu Pendidik Daerah ini mengambil tempat di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang dihadiri oleh sekitar 63 pendidik SD, SMP, dan Madrasah Aliyah. Dalam sambutannya Ketua KGB HST, Abdul Mujib melaporkan bahwa kegiatan ini mengawali dibentuknya KGB HST yang merupakan transformasi dari Komunitas Guru Menulis HST (KGM HST). Abdul Mujib juga menambahkan bahwa dia tidak menyangka kegiatan nobar tersebut mendapat respon positif dari para guru di Hulu Sungai Tengah yang semula dia mengira hanya akan dihadiri oleh sekitar 20 orang. Dalam 2 hari, pendaftaran peserta dibuka lewat formulir online, terpaksa harus ditutup dengan jumlah 63 pendaftar karena memperhitungkan kapasitas tempat acara. Dalam struktur kepengurusan KGB HST ada 3 orang, Abdul Mujib sebagai ketua, Taufik Rachman sebagai sekretaris dan Elizabeth Novita Y.L sebagai bendahara. KGB HST juga memiliki penasehat dari pengawas SMP Ibu Anton Nortasiah Rahmi yang juga hadir memberi sambutan pada agenda pembukaan. Dalam sambutannya Ibu Anton menegaskan bahwa guru tidak bisa berdaya sendirian, guru bisa berdaya dengan berbagi, bekerjasama dan berkolaborasi.    Temu Pendidik Daerah KGB HST dimulai dari jam 09.00 Wita juga dihadiri oleh Ibu Jumratil Kiptiah Kabid Bina SD mewakili Kepala Dinas Pendidikan HST bersama Bapak Muhammad Arsyad Kabid GTK dan Bapak Misran Kabid Paud Dikmas. Kepala Disdik HST dalam kesempatan ini diwakili Ibu Jumratil Kiptiah membuka acara, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas inisiatif dan inovasi guru-guru Hulu Sungai Tengah dalam berkumpul untuk berbagi dan bisa mengatasi permasalahan dengan duduk bersama.  Beliau juga menambahkan bahwa Disdik HST berharap lewat Komunitas Guru Belajar HST merupakan kumpulan orang-orang yang ingin maju bisa berkontribusi besar dalam memajukan pendidikan di bumi Murakata. Setelah seremoni pembukaan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan mengisi formulir daftar hadir secara online yang disediakan linknya oleh Kampus Guru Cikal. Pengisian tersebut dilaksanakan secara bersama-sama dan dipandu oleh Bapak Taufik Rachman. Kemudian acara dilanjutkan dengan nonton bareng video Guru Merdeka Belajar yang disampaikan  oleh ibu Najelaa Shihab, inisiator dan pendiri Kampus Guru Cikal. Sebelum pemutaran video, KGB HST melakukan survey kuisioner lewat aplikasi online (kahoot.it) kepada peserta. Survey berisi 8 pertanyaan tentang konsep merdeka belajar dan miskonsepsi yang ada dikalangan guru selama ini. Peserta nobar terlihat sangat antusias dan menikmati menjawab survey tersebut, dan beberapa peserta merasa kagum dengan penggunaan media digital dalam melakukan survey dan mereka menyatakan baru pertama kali melihatnya.  Video paparan tentang konsep merdeka belajar berdurasi sekitar 14 menit. Dalam video tersebut ibu Najelaa Shihab menyampaikan bahwa guru yang merdeka belajar adalah pendidik yang punya komitmen, memiliki kemandirian dan selalu reflektif. Beliau juga mengemukakan bahwa Guru Indonesia sulit untuk belajar karena sedang melawan banyak miskonsepsi yaitu: belajar perlu insentif, belajar harus dari ahli, belajar cukup tentang ‘how to’, belajar harus dengan target waktu, kompetensi bersifat individual, dan peran masyarakat adalah mensukseskan program pemerintah. Komunitas Guru Belajar hadir untuk membalik semua miskonsepsi tersebut. Dengan Komunitas Guru Belajar, guru bisa belajar sebagai kebutuhan alamiah, guru bisa belajar dengan efektif dari sesama guru sebagai figur realistis, guru bisa belajar dengan tujuan dalam konteks, guru bisa belajar dengan waktu yang tidak terbatas, guru bisa menumbuhkan kompetensi bersama lingkungan, dan Komunitas Guru Belajar punya mimpi dan harapan agar peran pemerintah bisa menguatkan praktik baik dari masyarakat. Selama pemutaran video tersebut seluruh peserta tampak memperhatikan dengan hikmat tayangan paparan konsep Merdeka Belajar. Selama 14 menit seisi ruangan tidak terdengar suara kecuali paparan dari video tersebut. Setelah tayangan video berakhir, rundown acara dilanjutkan dengan refleksi. Pada kegiatan refleksi ini dipandu oleh bapak Abdul Mujib dan peserta kegiatan duduk secara berkelompok dalam 6 kelompok kecil. Dalam kelompok, peserta melakukan kegiatan TPS (Think-Pair-Share). Peserta mendiskusikan refleksi mengikuti arahan 5 pertanyaan dari narasumber. Pertanyaan berisi tentang: gambaran miskonsepsi mana yang paling menggambarkan diri peserta? setujukah peserta dengan konsep merdeka belajar dan alasannya apa? inginkah peserta menjadi guru merdeka belajar? dan perubahan apa yang akan dilakukan di kelas sebagai guru merdeka belajar?. Ibu Barlian dari MAN 3 Hulu Sungai Tengah mengemukakan bahwa guru merupakan refleksi bagi peserta didiknya, apa yang dilakukan guru akan digugu dan ditiru peserta didiknya. Bapak Darlan guru MAN 3 HST juga menambahkan bahwa selain menjadi refleksi diri bagi peserta didik, guru merupakan saluran informasi utama bagi perserta didik untuk saling memberi dan menerima ilmu pengetahuan satu sama lain. Setelah diskusi dalam kelompok, peserta menuliskan refleksi mereka pada sticky note dan menempelkannya pada poster di dinding. Satu poster untuk catatan refleksi 2 kelompok. Selain membuat refleksi pada poster dinding, seluruh peserta juga memposting catatan refleksi mereka pada akun media sosial masing-masing dengan #NobarMerdekaBelajar #GuruBelajar dan #kgbhst. Acara nobar  diakhiri dengan foto bareng seluruh pendidik. Tampak raut kebahagian dalam kebersamaan Komunitas Guru Belajar HST. Apakah sahabat guru berdaya sudah atau ingin Merdeka Belajar? Mari bergabung bersama kami dalam wadah persaudaraan satu tujuan Komunitas Guru Belajar Hulu Sungai Tengah. Semua murid, semua guru.  Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Siapa Bilang Kesepakatan Hanya Bisa Dijalankan Orang Dewasa?

Semangattt… Hari ini (24/02/2019) penggerak KGB Rembang mengadakan TPD yang ke-15. Ada dua kelas, kelas Strategi Dasar Sekolah Inklusi dan Kesepakatan Kelas: Membangun Motivasi Intrinsik. Satu hari sebelumnya kedua narasumber dan moderator telah merancang alur berjalannya diskusi. Langsung saja kita simak liputan berikut, Hari ini penggerak KGB Rembang mengadakan TPD yang ke -15. Ada dua kelas, kelas Strategi Dasar Sekolah Inklusi dan Kesepakatan Kelas: Membangun Motivasi Intrinsik. Satu hari sebelumnya kedua narasumber dan moderator telah merancang alur berjalannya diskusi. Langsung saja kita simak liputan berikut, Strategi Dasar Sekolah Inklusi Sampai detik ini, Sekolah Inklusi atau Pendidikan Inklusi sangatlah cetar membahana di khalayak umum, sedang naik daun katanya. Tapi sampai detik ini juga, masih banyak yang  belum tahu sebenarnya apa itu sekolah inklusi atau pendidikan inklusi tersebut. Nah, di TPD ke 15 ini teman-teman guru dari berbagai sekolah di daerah Rembang akan mendapatkan pencerahan tentang Sekolah Inklusi  dan bagaimana penerapannya pada sebuah instansi sekolah, bersama Guru Fiqoh sebagai narasumbernya dan Guru Joko sebagai moderatornya. Sebelum kegiatan dimulai terlihat Guru Fiqoh mempersiapkan segala macam buku tentang Inklusi yang didapatkannya dari perpustakaan Umar Harun, sedangkan Guru Joko terlihat mempersiapkan peralatan untuk kegiatan ice breakingnya. Perlu sekali dalam sebuah kegiatan seperti TPD seorang moderator menyiapkan ice breaking untuk menghindari kebosanan saat kegiatan berlangsung. Tepat pada pukul 13.35 kegiatan sudah mulai dibuka oleh Guru Joko, dengan peserta yang berjumlah 5 guru dari Sekolah Islam Umar Harun. Guru Joko membuka salam pembuka dengan penuh semangat, hingga semua peserta juga terbawa oleh semangatnya,  karena ternyata semangat itu menular. Di ruang kelas TK A kegiatan berlangsung dengan sajian snack gorengan tempe dan ote-ote khas Sarang disertai buah pencuci mulut yang merah merona buah semangka. Sambil menikmati snack yang telah tersedia, Guru Joko mengajak untuk menebak hitungan jarinya yang diawal Guru Joko tanpa kita sadari sudah menyebutkan kata kunci dari jawaban tebak-tebakannya. Riuh rendah suara kami di kelas , berebut untuk bisa menjawab tebakan tersebut. Tapi dari kami berlima belum ada yang bisa menjawab dengan tepat, hingga akhirnya kami menyerah. Guru Joko pun membeberkan semua jawaban dari tebakannya. “Ooo…begitu jawabannya”, serentak itu yang keluar dari mulut kami masing-masing. Terlihat susah tapi ternyata sangat mudah. Permainan tersebut dapat melatih konsentrasi untuk memahami arahan. Ice breaking selesai, langsung dilanjut Guru Fiqoh mulai membuka laptopnya menampilkan sebuah tulisan yang terdapat dalam buku yang berjudul “Menjadi Guru Yang Kreatif” dari Sekolah Tumbuh Yogyakarta.  Sebelum Guru Fiqoh menjelaskan semua tulisan yang sudah ditampilkannya, Guru Fiqoh menggali pengetahuan peserta tentang makna Sekolah Inklusi itu sendiri. “Sekolah Inklusi adalah memfasilitasi segala macam latar belakang anak didik”, ungkap Guru Rodliyah. Guru Amal juga berpendapat, “Sekolah Inklusi adalah memfasilitasi kegiatan pembelajaran anak didik sesuai dengan kebutuhannya”. Sebagai moderator, Guru Joko ikut andil melengkapi pendapat teman guru lainnya,”Sekolah Inklusi adalah memfasilitasi semua keberagaman anak didik dari berbagai sudut pandang”. Luar biasa antusiasme peserta terlihat mendominasi saat  itu, tidak ada yang terlihat menguap atau tertidur. Merasa sudah cukup, Guru Fiqoh merangkum semua pendapat teman-teman dengan membaca buku “Menjadi Guru Yang Kreatif”, “Sekolah Inklusi adalah sekolah yang mengakomodasi keberagaman siswa termasuk keberagaman kebutuhan dan kemampuan. Guru memiliki peran dalam mengembangkan kurikulum sehingga semua siswa dapat berpartisipasi dalam pembelajaran. Pengembangan kurikulum di sini dimulai dari pemetaan kelas, pemetaan indikator belajar, menentukan metode belajar, merancang kegiatan pembelajaran, hingga menyusun evaluasi pembelajaran”. Setelah selesai membacakan buku tersebut, terlihat ada empat guru berdatangan, guru dari Sekolah Islam Umar Harun dan SMK Al Anwar. Jumlah peserta pun menjadi sembilan peserta. Guru Fiqoh melanjutkan kegiatan tersebut dengan strategi diskusi, terdapat dua kelompok diskusi yaitu kelompok guru laki-laki dan perempuan. Diskusi berjalan sangat mengalir dan aktif. Keaktifan diskusi salah satunya terlihat oleh Guru Dhorif yang selalu menyertakan referensi dari setiap tanggapannya. Semua peserta merasa nyaman dengan strategi diskusi yang dibuat oleh Guru Fiqoh. Peserta mempunyai kesempatan untuk berpendapat dan saling menghargai  tanpa harus menyalahkan pendapat satu sama lain. Hal yang sama begitu juga dirasakan oleh Guru Fiqoh bahwa narasumber di sini bukanlah satu-satunya sumber belajar. So, apa kesimpulan dari Pendidikan Inklusi? Pendidikan Inklusi adalah pendidikan yang terbuka dan ramah, dengan mengedepankan tindakan menghargai dan merangkul perbedaan. Difrensiasi atau sikap menghargai dan memfasilitasi keragaman ini harus ada pada setiap sisi dari pendidikan, baik dalam konten, proses, produk maupun lingkungan belajar. Hal ini tentu disesuaikan dengan kesiapan, minat, dan profil pembelajaran. Kunci sukses pendidikan Inklusi : Hadir bersama, Adanya capaian/ target yang jelas , dan Partisipasi. Waktu telah menunjukkan pukul 15.15 saatnya memasuki kegiatan selanjutnya. Guru Joko mengambil alih untuk memimpin peserta. Memberikan pilihan kegiatan selanjutnya, refleksi atau ice breaking terlebih dahulu. Peserta sepakat untuk refleksi terlebih dahulu. Guru Joko mempersilahkan semua peserta untuk menyiapkan alat tulis berupa buku dan pena. Guru Joko memberikan waktu sekitar 10 menit untuk peserta menuliskan aksi  yang akan dilakukan setelah mengetahui Pendidikan Inklusi . Tepat 10 menit, Guru Joko menyudahi kegiatan menulis refleksi dan mempersilahkan salah satu peserta untuk mempresentasikan aksi refleksinya. Ada Guru Dhorif yang menyatakan aksinya yaitu akan berusaha memahami murid dari latar belakang yang berbeda-beda melalui observasi harian dan meninggalkan labeling. Guru Joko seketika mengajak peserta untuk memberikan tepuk tangan sebagai apresiasi untuk Guru Dhorif yang sudah bersedia membacakan aksinya. Ice breaking penutup sudah siap dipimpin oleh Guru Joko dan terlaksana dengan sangat meriah, karena ice breaking penutup ini sifatnya membangun kerjasama dan kekompakan tim. Sebelum kegiatan ditutup dengan salam dari narasumber dan moderator, Guru Fiqoh menguatkan dengan kalimat penutupnya, ‘’ Inklusi tidak hanya pada guru atau sekolah, tapi lingkungan pun harus  Inklusi’’. Alhamdulillah,,,semua kegiatan TPD ke 15 hari ini berjalan dengan lancar dan penuh dengan aura semangat dari peserta. Itu membuktikan bahwa jumlah peserta bukanlah menjadi satu-satunya  penentu suksesnya suatu kegiatan, tapi semangat belajarlah yang akan menggiring kita menemukan kesuksesan itu sendiri. Kesepakatan Kelas: Membangun Motivasi Intrinsik Siapa bilang kesepakatan hanya bisa dijalankan orang dewasa? Anak-anak usia dini pun bisa. Menurut saya, dalam acara-acara TPD yang lalu pasti semua peserta terlibat dalam diskusi, seluruh waktu bukan milik narasumber. Begitu juga dengan acara TPD yang ke-15 ini, semua peserta terlibat untuk membahas tentang sebuah kesepakan kelas. Guru Ulya, sebagai narasumber mengajak para peserta untuk sharing pengalaman tentang membuat kesepakatan kelas. … Read more

Literasi lewat Dongeng, Membangun Keterampilan Berpikir Kritis.

Siapa yang waktu kecil senang mendengarkan cerita? Faktanya, mau besar atau kecil, kita senang mendengar cerita. Cerita yang bermakna bisa membangun karakter-karakter positif dalam diri. Guru punya banyak kesempatan untuk menyentuh hati murid-muridnya melalui cerita yang disampaikan di ruang kelas. Cerita yang seperti apa yang bisa membuat murid berpikir kritis? Kita akan bahas lebih lanjut dalam TPD KGB Bandung dengan topik : “Literasi lewat Dongeng, Membangun Keterampilan Berpikir Kritis.” Begitulah sepenggal caption yang mengantarkanku untuk hadir menemui Guru Titin, di SMKN 5 Bandung pada tanggal 23 Februari 2019. Aku yang telah lama menanti diangkatnya tema ini, hadir dengan membawa pertanyaan yang senada dengan caption tersebut. Pertanyaanku adalah “bagaimana menumbukan keterampilan berpikir kritis secara menyenangkan?” Mendongeng adalah jawaban dari pertanyaanku tentang kegiatan yang menyenangkan. Mendongeng adalah kegiatan literasi yang menyenangkan dan sangat kaya makna. Bu Titin yang juga aktif menjadi narasumber parenting, membagi pengalamannya sebagai contoh. Bu Titin bercerita : Saat itu suami saya karena sebuah kondisi menyebabkannya tidak dapat bekerja. Hal tersebut berbeda dengan saya yang selain berperan sebagai ibu, istri, namun juga bekerja sebagai guru. Di satu hari, saya pulang mengajar dalam kondisi basah kuyup karena kehujanan. Namun, suami saya nampak tidak mempedulikan keadaan saya. Saya pun memanggilnya, “Yah, sini deh, ada cerita.” “Cerita apa?” sahutnya sambil menghampiri saya. “Itu Bu Cinta pulang kehujanan, suaminya langsung membawakan handuk dan teh hangat, padahal Bu Cinta baru pulang main, bukan pulang kerja” kata saya. Mendengar cerita tersebut, suami saya bergerak membawakan handuk dan teh hangat, dengan mengatakan, “nih handuknya, nih teh hangatnya”. Lalu ia pergi dan kembali tenggelam dalam aktivitasnya. Tawa pun menyeruak di ruang TPD. Tawa lahir karena suami Bu Titin termotivasi untuk berperilaku baik, namun terdengar tak ikhlas. Dibalik tawa tersebut, lahir kesadaran pada peserta TPD, bahwa mendongeng itu dapat memotivasi untuk berperilaku baik, dapat membangun karakter. Dimana hal tersebut dapat terbangun bukan hanya pada penikmat dongengnya, namun juga pada pendongengnya. Pada contoh diatas nampak bahwa Bu Titin sebagai pendongeng, memilih untuk mengelola emosinya, sehingga komunikasi dapat tetap efektif memotivasi orang lain berperilaku baik, sehingga pada akhirnya dapat membangun karakter positif. Kekayaan makna pada dongeng dapat diraih, apabila dongeng menjadi sangat berkesan bagi siswa, menjadi memorable bagi siswa. Salah satu cara untuk meninggalkan kesan tersebut adalah dengan mengkritisinya. Kebiasaan kritis inilah yang pada akhirnya dapat menumbuhkan keterampilan berpikir kritis pada siswa. Bu Titin pun membagikan praktik baik kepengajarannya tentang cara-cara melatih berpikir kritis terhadap dongeng. Bu Titin mengawalinya dengan mengajak kami memikirkan “Apa kata-kata yang tepat untuk menggambarkan ini?” Dan kami diajak menceritakannya pada selembar kertas. Berbagai cerita pun bermunculan. Salah satu ceritanya adalah cerita tentang suami-suami takut istri, seperti judul sinetron di layar televisi. Lalu, kami diajak menceritakan lagi, “Tokoh mana yang disukai, dan mengapa?” Selain Bu Titin mempraktikannya langsung pada kami, Bu Titin pun menegaskan cara-caranya, yang meliputi: 1. Di tengah cerita, guru mengajak siswa membayangkan kelanjutan ceritanya, sehingga memungkinkan lahirnya cerita yang sangat variatif dari siswa. 2. Di akhir cerita, guru mengajak siswa menentukan tokoh yang disukai dan alasannya. 3. Lalu mengajak siswa berandai-andai, bila siswa menjadi salah satu tokoh di cerita tersebut, apa yang akan dilakukan dan mengapa. Bu Titin memberi contoh untuk poin nomer 3,  Bu Titin berkata, “Pada cerita Malin Kundang, bila kamu menjadi istri Malin, apa yang akan kamu lakukan dan mengapa?” Mendengar pertanyaan tersebut, sontak peserta TPD terkejut karena merasa belum pernah mendengar pertanyaan seperti itu sebelumnya. Bu Titin menyimpulkan prinsip melatih berpikir kritis adalah bertanya dengan hal yang berbeda, bukan hanya menerjemahkan atau men-translate-nya. Bu Titin pun menceritakan cerita tentang siswanya, sebagai hasil dari kebiasaan praktik baik yang dilakukannya. Singkat cerita, lahirlah siswa yang percaya diri untuk bercerita, yang merasa aman bercerita, yang bercerita tanpa merasa tertekan atau terpaksa. Dan pada sesi inilah tiba-tiba ruangan menjadi sangat hening. Bu Titin bercerita dengan mata berkaca-kaca. Peserta TPD ada yang sempat membayangkan, andaikan dirinya dulu memiliki guru seperti Bu Titin, sebagai siswa tentu akan merasa sangat bahagia. Karena saat itu, terasa bahwa ia mengajar dari hati. Disini Bu Titin berhasil menunjukkan bahwa dongeng itu dapat menyentuh hati. Keheningan kami pun disadarkan dan dipecahkan oleh moderator yang akan membuka sesi tanya jawab. Dan alhasil gaya kepengajaran Bu Titin yang mengajak kami berpikir kritis, menstimulasi antusias para peserta bertanya. Dengan kompak kami mengacungkan tangan, kami bergiliran untuk bertanya, ada yang mengalah bertanya di akhir, ada yang bertanya lebih dari satu pertanyaan, dan bahkan ada yang bertanya melebar dari topik hingga perlu dibatasi. Sebagai penutup, Bu Titin membagikan quote dari Fisher (2008) : “Good Teacher makes you think even, when you don’t want to”. Dan catatan saya menulis, “Kita bukan penyampai materi, kita tidak akan kalah dengan google, sang mesin pencari informasi.”

Kalau Guru Senang Main Game, Bagaimana Perasaan Muridnya?

Seruuu!!! Itu komentar yang tercetus dari para peserta Mudik KGB Surabaya edisi 11 kali ini. Temu Pendidik yang dilaksanakan pada 2 Desember 2018 di Loop Station ini diikuti oleh sekitar 26 guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Belajar Surabaya maupun dari luar KGB. Ketika para anggota KGB tahu bahwa tema mudik kali ini adalah Board game, banyak guru yang bersemangat untuk mendaftar. Banyak peserta yang ingin tahu, seperti apa sih board game itu? Bagaimana board game itu bisa diaplikasikan pada pembelajaran di kelas? Atau bahkan pertanyaan yang inspiratif seperti bagaimana / games apa yang bisa menarik perhatian anak-anak ketika lab komputer atau jam pelajaran Komputer tidak ada? Karena temanya adalah boardgame, maka narasumber mudik kali ini sangat istimewa yaitu Guru Adhi Wiryawan. Beliau adalah pencipta games LINIMASA, sebuah board game yang digunakan untuk belajar sejarah. Game LINIMASA ini telah dicobakan pada siswa kelas 5 SD dan hasil penelitian menunjukkan bahwa game ini mampu meningkatkan minat membaca siswa pada sejarah Indonesia. Kegiatan diawali dengan pertanyaan pemantik yaitu kenapa sih harus bermain? Guru Adhi menjelaskan bahwa dengan bermain kita bisa belajar banyak hal. Contoh sederhana adalah ketika kita bermain sembunyi-sembunyian. Dalam permainan itu kita bisa merangsang indera kita, mengatur taktik atau strategi, melatih visual kita, belajar untuk memahami aturan permainan, dan disiplin diri. Ketika kita bermain, hormon kitapun terlibat yaitu hormon dopamine atau hormon yang berhubungan dengan kesenangan sehingga dapat merangsang kita untuk eksplorasi terhadap permainan. Bermain juga dapat menjadi jembatan untuk memfasilitasi berbagai gaya belajar di kelas. Guru yang kadang cenderung visual harus berhadapan dengan gaya belajar siswa yang auditory atau malah kinestetik. Dalam 21st century learning outcome, anak diharapkan punya pemikiran kritis, mampu berkolaborasi, mampu beradaptasi, memiliki kelincahan (agility), punya inisiatif dan efektif dalam berkomunikasi secara lisan ataupun tertulis. Kemampuan ini dapat dipelajari melalui bermain.   Game LINIMASA adalah game yang baru dikembangkan ini berisi berbagai tokoh dan peristiwa sejarah. Salah satu cara dalam bermain adalah dengan mengurutkan peristiwa sejarah dari gambar yang ada.   Pemaparan dari Guru Adhi memantik diskusi yang seru. Guru Hariadi sebagai salah satu peserta mudik bertanya bagaimana caranya memadukan boardgame dengan mata pelajaran di level SMP? Guru Adhi kemudian menjelaskan bahwa sebelum menemukan game yang akan dipakai, maka guru harus melihat tujuan pencapaian pembelajarannya dulu. Setelah tahu tujuan pembelajarannya, maka game bisa dicari, baik dengan cara membuat sendiri dari sesuatu yang baru ataupun modifikasi dari permainan yang sudah ada. Melihat banyak peserta yang tampak antusias untuk menggunakan game sebagai salah satu model belajar, Guru Adhi menyarankan guru untuk bekerja sama dengan game designer sehingga bisa menciptakan game yang dapat dimainkan di kelas . Guru Adhi juga memberikan tips membuat game dengan sederhana yaitu belajar secara otodidak (belajar tentang games design) dan guru harus banyak bermain juga supaya punya referensi permainan yang mungkin bisa digunakan di kelas. Dari kegiatan yang seru ini, ternyata ada juga guru seru yang sudah mengaplikasikan boardgame sebagai project siswa. Guru Ratih dari level SMU mengajak para muridnya yang berada di kelas 12 untuk menciptakan boardgame sebagai tugas belajar mereka. Mereka harus melalui proses yang tidak mudah karena harus direvisi berkali-kali. Namun walau prosesnya tidak mudah, tetapi mereka tidak menyerah. Kini boardgame hasil dari anak-anak telah dapat dimainkan di kelas mereka. Puncak dari kegiatan ini adalah saat guru mencoba ikut bermain game LINIMASA. Para peserta yang mayoritas adalah guru, harus mampu menebak urutan peristiwa sejarah kemerdekaan Indonesia. Suasana sangat riuh dan seru saat permainan mulai dijalankan. Guru Herlina berkata “Gamenya seru dan bikin gak takut salah, karena ini kan permainan”. Guru Fifi ikut menimpali “Gamenya jadi bikin pengen baca lagi buku sejarah”. Kalau guru saja senang main game maka bisa dibayangkan bagaimana perasaan muridnya. Salah satu refleksi dari kegiatan ini adalah bahwa bermain tidak hanya untuk senang-senang tapi dapat juga diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran. Dari aktivitas ini peserta juga makin tertantang untuk lebih berani berkreasi dalam pendidikan dan mampu menyimpulkan bahwa guru bukan menjadi pekerjaan yang monoton jika kita mampu lebih kreatif dalam mengajar. Jadi, apa game kita di kelas hari ini?

Mengapa Guru Harus Menulis?

Eka Wardhana Saya sering menyebut diri sebagai tukang nulis, karena menulis di mana pun dan kapan pun. Beberapa tulisan bahkan hasil menulis di kereta listrik antara stasiun Tebet dan Stasiun Bojonggede. Selepas kuliah, di KRL mengetik sambil bergelentungan. Moderator Keren pak…mungkin bisa berbagi tips dengan kami disini pak Eka Wardhana Dulu kerap saya dan Pak Bukik saling kontak, apakah naskah sudah cukup untuk SKGB? jika kurang, maka malam-malam saya kirim naskah untuk menggenapi. Terpaksa? oh tidak saya senang saja. menulis itu menyenangkan kok. Masa menyenangkan terpaksa? Apa manfaat menulis? mempertajam gagasan. Setiap kali menulis maka semua tenaga diarahkan pada bagaimana gagasan sampai kepada pembaca. Maka menulis lebih hati-hati, cermat dan tajam. Ada yang bilang tulisannya jelak. oh tidak apa-apa, itu bagus. Daripada tidak pernah menulis. Salah kalau ingin disebut semua tulisan itu bagus. Tulisan itu yang pertama jelek, lalu jelek, lalu jelek. Kemudian bagus. Semua penulis punya risiko. Yang yakni terkenal. Bisa karena terkenal jelek bisa karena bagus. Masalahnya menjadi terkenal itu lebih sulit daripada tidak terkenal. Karena setiap kali menulis, orang akan terpaksa membaca. Mengapa? Coba saja tidak pernah menulis, apa yang bisa membuat orang tertarik? Di fb orang tertarik pada tulisan dan menanggapinya dengan tulisan. orang tertarik dengan tulisan. Masalahnya apa yang akan ditulis? Saya memilih tulisan yang bisa menyuarakan kelas. Moderator Oke…baiklah, mungkin cukup pengantar dr pak Eka, selanjutnya sy akan membuka tanya jawab, untuk yermin pertama silakan 3 org sebutkan nama Endang Ayu Patrianingsih Saya memilih tulisan yang bisa menyuarakan kelas. Maksudnya tulisan yang bisa menyuarakan kelas yang gimana pak? Eka Wardhana Ya, kelas memang tidak bisa bersuara secara harfiah. Tapi banyak hal kelas yang bisa dibagi ke guru lain. Contohnya : Tentang kebiasaan bertanya. Guru bertanya? Murid bertanya? atau perihal pelajaran IPS atau PKn, atau tentang praktik pembelajaran di kelas yang saya bagi. Baik tantangan dan peluangnya. Apakah hal tersebut menarik? sangat, banyak guru yang enggan menyuarakan hal kelas, karena dianggap tidak menarik. Atau biasa saja Usman Tentang konsisten menulis pak. Susah benar menjaga ini. Eka Wardhana Nikmati saja saat-saat menulis. Jangan ada target. Begitu ada target, maka kepala akan dengan cepat menekan seluruh syaraf untuk merespon keras. Rileks saja, tulis pelan, lalu selesaikan. Begitu terus hingga banyak tulisan dihasilkan. Adelia Bagaimana tulisan itu dibilang jelek atau bagus? Seperti apakah tulisan bagus itu? Terkadang kalau menulis agak tertahan dalam pemilihan kata..bagaimana itu melancarkannya? Eka Wardhana Tulisan bagus: ide mudah ditangkap, redaksi sesuai kaidah bahasa, enak dibaca, melancarkan tulisan: perbanyak baca, kuasai perbendaharaan kata, banyak latihan menulis. Endang Ayu Patrianingsih Tantangan di kelas, masih banyak siswa yang enggan menulis, kisaran 50% atau lebih dgn alasannya masing2, sehingga kami mencoba menerapkan tugas menulis, meski masih dlm bentuk kegiatan belajar. Terima kasih banyak ilmunya pak Eka. Alhamdulillah. Eka Wardhana Ya sebelum siswa, tentu gurunya perlu senang menulis. Olle Apakah yang dimaksud ‘suara kelas’ itu tanggapan guru terhadap proses pembelajaran atau malah siswanya? Saya cukup sering menulisttg suasana kjelas ke fb dan respon pembaca selalu antusias Eka Wardhana Ya, makna suara kelas itu bukan berarti harfiah. Tapi hal yang terkait dengan kelas. Kalau saya lebih banyak merupakan refleksi mengajar. Selepas mengajar saya gunakan untuk menulis sebagai bahan refleksi. Olle Bagaimana mengumnpulkan tulisan2 yang sudah berupa artikel-artiukel lepas menjadi satu buku? Bisa diberikan contoh cara menyatukannya? Eka wardhana Gampang, satukan dalam folder. Naskah lalu kurasi lalu kelompokan sesuai tema. Sri Wahyuni Bagaimana pak Eka menjadikan kegiatan menulis di kelas sebagai kelas literasi di mata pelajaran yg diampuh?  Saya penasaran sejak tdi pak eka ngajar pelajaran apa Eka Wardhana Saya sering memberikan tugas IPS dan PKn yanh sifatnya telaah. Anak, mau tidak menulis dengan sendirinya. Contoh: Menurut kamu, Gajah Mada itu orang seperti apa? Sebelumnya saya kasih tulisan tentang sejarah Gajah Mada. Eka Wardhana Oh, tentang karir menulis. Saya senang, tulisan saya saya ajukan ke beberapa penerbit mayor.  Hasilnya banyak yang belum siap, karena alasan pemasaran. Tapi akhirnya saya cetak sendiri dan hasilnya saya sudah cetak berulang kali. Sebelas judul sudah saya buat. Buku saya tidak laku? kalau tidak laku maka saya tidak bisa cetak ulang. Saya ditawari untuk memasukkan buku ke jaringan besar. Saya hanya diberi keuntungan 10 persen, sisanya mereka. Saya mundur, saya jual sendiri. Saya senang buku tersebar kemana-mana. Urusan laku, masa saya guru bisa mencetak sendiri 11 judul? Takut? tidak, Kalau tidak gigih, jangan harap naskah bisa terbit sendiri. Dunia penulisan sangat ketat dan kejam. ini contoh tulisan ringan. SEJENAK MERAYAKAN KEBERHASILAN MENGAJAR Oleh Eka Wardana*) Pagi yang indah kala bincang ringan dengan kepala sekolah. Apa agenda terdekat dari raker sekolah? Kepala sekolah menyodorkan daftar acara yang telah dirancang jauh-jauh hari. Cukup mengernyit membacanya. Tiga hari dengan perencanaan kegiatan yang berjubel. Dari tugas-tugas yang berkaitan dengan administrasi pembelajaran yang seperti biasa dikerjakan sampai kegiatan yang melibatkan siswa. Dalam bincang itu tercetus bagaimana dengan refleksi yang bisa dilakukan oleh guru? Terhadap langkah yang telah dilakukan dan capaian apa yang sudah nampak? Atau bahkan pertanyaan tidak penting, apa yang membahagiakan selama mengajar disemester ini? Jika menggunakan kata evaluasi yang ada biasanya guru cenderung tersudut karena yang muncul adalah kekurangan-kekurangan. Dan selama bertahun-tahun guru dikenalkan pada model evaluasi yang kerap menampilkan sisi kegagalan, walaupun tidak selalu begitu. Jadi kata “evaluasi” sepertinya agak mengancam dibandingkan dengan refleksi. Sebagaimana makna asli refleksi yakni bercermin, guru bisa melihat “wajah”-nya sendiri. Mengapa guru tidak diajak merayakan keberhasilan mengajarnya. Seperti pergeseran kognitif apa saja yang terlihat dari siswa? Keterampilan-keterampilan apa saja yang tampak menonjol? Pemahaman-pemahaman apa saja yang terbentuk dan membawa arah belajar siswa? Ada kalanya guru menjawab dengan klise “banyak yang telah anak-anak pelajari” namun kesulitan merumuskannya dalam kalimat yang spesifik. Sehingga guru tidak dapat mengenali apa saja yang berkembang dari siswanya. Perayaan yang dilakukan sederhana saja, bisa antara teman guru memberi selamat dilanjutkan dengan apresiasi atas keberhasilan yang spesifik itu. Tidak terlalu mewah dan mahal. Namun memberi dampak yang tidak kecil. Setiap keberhasilan yang dirayakan apa pun bentuknya memberi kesan yang mendalam bagi guru. Kesan apa yang muncul saat keberhasilan dirayakan? Banyak guru yang penulis temui dalam beberapa diskusi mengenai keberhasilan dan kegagalan enggan membicarakan keberhasilan dihadapan teman atau atasan. Hal ini … Read more

Guru Belajar Pekalongan Membangun Pembelajaran Mengasyikkan

Menjemukan, mungkin itu yang sering murid rasakan saat mengikuti mata pelajaran tertentu di kelas, atau menjelang jam-jam kritis yakni jam terakhir saat murid sudah tidak lagi kondusif. Pikiran mereka sudah tertuju pada rumah dan tempat mereka biasa  bermain. Hal demikian tentu pernah dialami oleh kita semua sebagai seorang guru. Lantas apa yang seharusnya kita lakukan agar belajar lebih mengasyikan dan tidak lagi menjemukan? Dalam Temu Pendidik 19 ini, Komunitas Guru Belajar Pekalongan berbagai ilmu seputar pembelajaran yang menyenangkan namun tidak mengubah esensi dari belajar itu sendiri. Dengan mengusung 3 pemateri, yakni dua Guru dari SMK 1 Karangdadap, Guru Alan seorang guru Fisika dan Guru Musyafiah yang merupakan guru Bahasa Inggris, serta Guru Eki seorang dosen dari Stikes Muhammadiyah Pekalongan. Masing-masing Guru menyampaikan parktik cerdasnya dengan tema yang berbeda-beda. Guru Alan menyampaikan praktiknya yang diadopsi dari TPN Oktober lalu. Guru Eki dengan Brain Academy dan terakhir Guru Musyaifah yang juga mengadopsi ide belajarnya dari Sekolah Kembang Jakarta. Acara tersebut dimulai pukul 09.30 dengan dibuka oleh Ketua KGB Pekalongan yang baru yaitu Guru Hida. Dalam sambutanya beliau mengajak agar semua guru berdaya, sebab adanya KGB ini diharapkan setiap anggota berperan untuk membagikan praktik cerdasnya agar dapat menjadi inspirasi bagi guru-guru lain. Lebih jauh beliau menuturkan, “Komunitas ini ada untuk kita dan semua jenjang ada disini, sehingga kita bisa belajar bersama”. Di akhir sambutan, guru MI Kranji 1 Kedungwuni ini juga menakankan bahwa anggota yang ikut berperan aktif di KGB Pekalongan memperoleh kesempatan untuk menerima beasiswa di TPN mendatang. Sesi pertama TPD 19 ini diawali dengan materi mengenai sains yang menyenangkan. Jika murid biasanya anti dengan pelajaran eksak terutama fisika dan kimia, Guru Alan justru memberikan hal yang berbeda. Mengadopsi materi TPN Oktober lalu, ia mencoba menerapkan pembelajaran dengan metode window shopping. ”Saya ibaratkan cara ini dengan ibu-ibu yang ingin membeli kosmetik. Biasanya ibu-ibu akan menanyakan hal yang mendetail jika memilih kosmetik dan penjual harus mampu menjelaskan produk yang ia jual” tuturnya. Guru Alan sendiri awalnya sering merasa gelisah lantaran materi yang ia ajarkan hanya sekadar ceramah yang membosankan sehingga ia mencoba window shopping sebagai cara agar antusiasme murid dalam belajar makin tinggi. Dalam praktiknya ini, ia membagi satu kelas menjadi 6 kelompok. Sebagain kelompok berperan menjadi penjual dan kelompok lain berperan sebagai pembeli. Tema yang diusung pun menarik, yakni mengenai Mitigasi Bencana. Murid membuat poster sebagai katalog barang yang akan mereka jual. Jika jual beli biasanya berupa barang, namun dalam window shopping ini murid melakukan jual beli informasi mengenai mitigasi bencana. Cara ini menjadi lebih menarik karena setiap penjual diharuskan untuk mengatur strategi agar murid lain tertarik menyambangi “warungnya”. Banyak murid mengaku senang dengan pembelajaran tersebut, menjadi lebih percaya diri karena dapat menjawab pertanyaan temanya, dan dapat berkreasi membuat poster yang menarik. Namun, Guru Alan juga mengakui jika metodenya kali ini masih memiliki banyak kekurangan. “Banyak murid yang merasa kuang kurang puas karena tidak bisa menyambangi warung teman-temanya. Mereka juga mengeluhkan pada saya, sebab tidak ada tambahan informasi dari saya sendiri sebagai guru dan saya masih sedikit bingung untuk aspek penilaian” jelas pria berkacamata ini. Setelah Guru Alan selesai menyampaikan materi, di sesi ke dua Guru Eki menyampaikan materi mengenai Brain Academy. Materi ini penting dipelajari oleh guru untuk mengatasi murid yang jenuh dalam balajar. Jenuh sendiri dapat dipahami karena otak bekerja tidak maksimal.  Guru Eki mengemas materi begitu apik dan komunikatif dengan melibatkan semua peseta melakukan gerakan kecil yang befungsi untuk membantu melakukan aktivasi otak. Gerakan tersebut berupa tangan saling mengepal dan kaki bersila, membentuk angka delapan dimulai dari kanan ke kiri dan yang terakhir menempelkan siku tangan kanan kekaki kiri atau sebaliknya. Seluruh peserta yang mencoba gerakan tersebut tampak riang. “Walaupun gerakannya cuma ditempat dan sedikit, tapi kita bisa memahami bagian otak yang dominan digunakan anak. Dengan begitu maka kita bisa melakukan aktivasi” tambahnya. Materi tersebut tentunya sangat membantu terutama saat mengelola kelas dimana muridnya sudah mengalami kejenuhan. “Kalo kita sadar, kunci utama dalam proses pembelajaran itu adalah otak yang bekerja. Untuk itu kita perlu memahami bagaimana cara otak bekerja, dan apa saja yang bisa memaksimalkan fungsi kerjanya” tukasnya diakhir sesi saat ia berbagi cerita. Sesi terakhir, Guru Fiah menyampaikan materi mengenai mengelola perpustakaan sekolah. ia mengawali materi dengan perkenalan menggunakan human bingo. Peserta dibawa berpetualang dalam perkenalan dan swafoto bersama. Disinilah peserta TPD 19 suasana ceria dan hangat. Selepas bermain human bingo Guru Fiah mulai memberikan materi. Ia mengungkapkan keprihatinanya pada perpustakaan sekolah yang saat ini  tidak lagi menarik, Guru Fiah mencoba mengadopsi ide dari Guru Sekar yang merupakan guru dari Sekolah Kembang Jakarta. Guru Sekar adalah sosok yang mampu menghidupkan perpustakaan seperti pada zaman Cinta dan Rangga. Guru Fiah menyampaikan pengembangan perpustakaan ini memiliki banyak manfaat diantaranya dapat membantu tugas murid terutama yang berhubungan dengan literasi. Manfaat lain yaitu literasi mampu menjadikan kita tidak termakan isu hoax, apalagi sekarang merupakan era digital di mana berita palsu menyebar begitu masif melalui media. Dalam memberdayakan perpustakaan sekolah pertama kali yang kita perlu lakukan yaitu kurasi buku bacaan. “Kurasi buku ini penting, jangan sampai buku untuk dewasa ditaruh di perpustakaan SD. Tentu hal ini tidak sesuai dengan jenjangya” tambah Guru Fiah. Tidak hanya murid yang bisa belajar melalui perpustakaan, guru juga dapat ikut belajar. Di akhir sesi Guru Fiah mengungkapkan bahwa guru juga dapat mengembangkan diri terutama kemampuan menulis. Misal jika ada buku bacaan tertentu, kemudian guru bantu resensi buku tersebut. Hasil resensi bisa ditempel di perpustakaan, sebagai kail yang membuat murid penasaran dengan isi buku tersebut. Jadi dari perpustakaan guru dan murid bersama-sama belajar. Oleh Anifah, Komunitas Guru Belajar Pekalongan