Strategi PJJ dengan Coaching

Sudah berbulan-bulan sekolah di Indonesia melakukan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Akibat pandemi yang terjadi berdampak pada berbagai aspek termasuk ke bidang pendidikan. Hal ini bukan sesuatu yang mudah bagi guru, bagi anak dan bagi orang tua. Situasi dan kondisi antara rumah dan sekolah yang berbeda tentunya sangat mempengaruhi mood murid dan tidak semua murid memiliki device yang mumpuni, sehingga menjalin kerjasama dengan orang tua menjadi coach yang sinergi menjadi kunci keberhasilan dalam pengembangan anak, orang tua dan guru harus menjadi partner. Lalu bagaimana peran pendidik dan orang tua terutama saat PJJ? Untuk itu pada kegiatan temu pendidik daerah kali ini akan mencoba mengupas tentang bagaimana peran guru dan orang tua dalam mengembangkan anak. Tema yang diangkat adalah “Teachers and Parents as Coaches” dimana yang menjadi narasumbernya adalah Mharta Adji Wardana, beliau aktif dalam dunia pendidikan dan pengajaran serta pengembangan karakter.\ Sebagai pembuka narasumber memberikan pernyataan tentang apa arti ‘Coach’ itu sendiri adalah seseorang yang mendampingi coachee nya untuk berkembang lebih baik lagi. Lalu kenapa dihubungkan dengan pendidikan? karena pada hakikatnya pendidikan sendiri adalah membawa seseorang untuk lebih beradab karena pendidikan itu sendiri adalah membawa orang menjadi lebih baik lagi dari waktu ke waktu. Saat ini dunia berubah secara eksponensial, sehingga tantangan saat ini untuk para pendidik adalah pendidik harus segera berbenah meningkatkan kualitasnya mengingat sekarang kita melakukan pembelajaran jarak jauh dimana pendidikan sudah berubah ke era digital dan mau tidak mau guru adalah elemen utama dalam dunia pendidikan, sehingga guru harus meninjau ulang pada diri masing-masing apa performa yang harus ditingkatkan? Bisakah kita mempertahankan kualitas kita saat mengajar langsung dengan saat kita mengajar daring? PJJ ini menjadi momentum bagaimana kita untuk bisa membuat pembelajaran yang berpusat pada murid dan tugas kita memfasilitasi murid untuk tahu tentang bagaimana cara belajar, membangun motivasi intrinsik anak agar tidak selalu bergantung kepada guru dan anak diharapkan menjadi pembelajar mandiri. Jika anak masih tergantung pada guru berarti motivasi intrinsik anak belum tersentuh, untuk itu penting untuk menguatkan anak bahwa dia punya kehebatan/kemampuan. Saat ini pendidikan menggunakan teknologi dijadikan teman untuk murid belajar, sehingga guru harus dapat membuat sebuah kualitas konten pembelajaran jarak jauh. Konten (kualitas pengajaran/materi) dan motivasi belajar mengajar saat PJJ memiliki porsi 50:50. Sebelum masuk ke konten yang perlu kita benahi adalah paradigma kita tentang kesediaan kita untuk berperforma lebih baik lagi sebagai pengajar yaitu paradigma inside out bukan outside in. PJJ Daring membutuhkan platform, maka kegiatan yang dapat dilakukan seperti: Video Conference Dubbing Video Materi Pelajaran Share Slide Materi Live Whiteboarding Open -ended question/project/portfolio Kegiatan saat ini harus mulai bergerak ke arah open-ended question/project/portfolio dimana anak melakukan sesuatu dalam jangka waktu tertentu. Materi dikemas dalam sebuah tugas dimana indikatornya dapat tercapai semua melalui hasil karya murid, dimana hasilnya tidak akan sama, murid berkreasi sendiri. Makna coaching sendiri adalah : Mengarahkan murid melalui pertanyaan ‘What do you want?’ (bukan directing). Sehingga tugas kita adalah mendampingi/menampung untuk menggerakkan, kita bukan mengarahkan anak maunya kemana, kata kuncinya adalah pertanyaan. Coach berorientasi pada kebahagiaan dan ketenangan hati sang coachee untuk terus berkembang sesuai dengan resources yang ia miliki. Teachers and parent as a coach Prinsip coaching: 1. Bangun kedekatan :Setelah kita bangun kedekatan kita bisa memberikan follow up, sebisa mungkin anak merasa nyaman. Jika anak masih pasif biasanya karena anak belum merasa percaya. Bisa dilakukan dengan pendekatan secara personal2. Berikan pertanyaan yang berorientasi pada penggalian potensi anak kita Penggalian potensi dengan memberikan banyak pertanyaan terbuka dan provokatif yang memancing murid untuk berpikir kritis.3. Hibur dan semangati Narasumber menceritakan sebuah kisah nyata tentang perjuangan dan dedikasi dari seorang yang bernama Dasrath Mnadji dan hikmah yang dapat dapat diambil dari kisah Dasrath Manji tersebut adalah dedikasi dan semangat yang tinggi untuk berkontribusi (purpose of life), sehingga kisah ini dapat kita jadikan acuan dalam mendidik yaitu ‘Educating with purpose’ (mendidik murid dengan tujuan mulia), untuk itu kita dapat mulai mencobanya dengan membuat purpose statement yang diawali dengan tiga pertanyaan: 1. (ACTION) Hal menyenangkan apa yang akan Anda lakukan ? Misalnya : Membuat video pengajaran Mengajar dengan semangat dan keceriaan Melakukan penelitian 2. (PEOPLE) Kepada siapa anda ingin memberi manfaat sebesar besarnya ? Misalnya : Anak saya Murid-murid saya Institusi saya 3. (HELPING) Jika Anda memiliki kekuatan lebih, apa yang akan Anda lakukan untuk membantu orang lain ? Misalnya : Mengembangkan Memajukan Memberdayakan Lalu buatlah purpose statement itu dalam rangkaian sebuah kalimat, seperti: “Dalam upaya menjadi pendidik terbaik saya ingin mengembangkan, memajukan, memberdayakan anak saya, murid-murid saya, dan institusi saya dengan membuat video pengajaran, mengajar dengan semangat dan penuh keceriaan, dan melakukan penelitian sebaik mungkin” Harapannya dengan kita membuat purpose statement ini kita ingat apa yang kita punya, sesuai dengan habbit 2 (begin with the end in mind), sebagai pengajar kita tahu bahwa apa yang kita tuju itu apa? Saat kita ingat purpose kita, maka kita akan punya dorongan yang lebih kuat untuk meningkatkan kualitas performa di tempat masing-masing. Di sesi akhir sharing TPD kali ini, narasumber memberikan sebuah kutipan yang memberikan semangat bagi kita para pengajar agar terus selalu berusaha lebih baik, “Selagi kita masih dimampukan untuk olah pikir dan olah rasa kembangkan pemikiran dan lakukan kebaikan semaksimal mungkin kita bisa, meski dihadapkan dengan rintangan dan kendala jangan sekali kali kita berputus asa karena Tuhan sangat bangga melihat kita terus berjuang dan berusaha, karena kita ditugaskan oleh Tuhan menjadi pelopor mengembangkan murid sehingga kita bisa maksimal selama kita bisa.” Ingin mengikuti pelatihan Merancang Pembelajaran Jarak Jauh?

Literasi, Senjata Melawan Berita Hoax

Apa anda tahu bahwa beberapa waktu belakangan ini grup-grup pendidik diramaikan oleh berita hoax tentang kebijakan menteri? Apa Anda tahu siapa penyebar berita hoax tersebut? Jawabannya adalah pendidik itu sendiri. Ketika banyak pendidik sibuk menyebarkan hoax tentang kebijakan pendidikan. KGB Bandung, Cimahi, Pekalongan dan Kampus Guru Cikal, justru sibuk meningkatkan literasi dengan Bedah Buku Literasi Menggerakkan Negeri bersama Pak Bukik dan Pak Suhud di SMKN 5 Bandung. Perilaku pendidik yang kontradiktif sekali bukan? Apa yang menyebabkannya? Apakah karena  literasi yang menyebabkan perilakunya menjadi berbeda? Tak Sekadar Membaca Buku Kelas TPD Karier Bedah Buku kali ini diawali oleh Pak Suhud. Ia menyampaikan bahwa literasi tidak hanya sekadar membaca buku, dengan menunjukkan banyaknya praktik baik dalam meningkatkan literasi, seperti literasi dengan berjalan-jalan, bermain game, bercerita, dll. Diakhir pemaparan, ia bertanya, “Lantas, apa itu literasi?”. Mendengarnya membuat peserta menjadi bertanya-tanya. Selagi peserta bertanya-tanya dalam hati, kelas pun berlanjut dengan pemaparan Pak Bukik. Ia menyampaikan bahwa karya buku kolaborasi KGB dan KGC seperti ini, dapat mendorong berbagai pihak agar menjadi lebih peduli dengan pendidikan. Itulah kekuatan buku ini. “Wow, iya juga ya, dengan begini perubahan kondisi pendidikan bisa menjadi lebih cepat,” bisik salah seorang peserta. Sesi pemaparan berakhir, sesi bertanya pun dimulai. Kelas ini pun menjadi semakin seru dengan pertanyaan yang dilontarkan. Pertanyaan pertama datang dari Bu Nining. Ia menyampaikan bahwa di awal buku ini, Pak Bukik langsung menghujam tentang program membaca senyap 15 menit, hal tersebut membuatnya terkejut. Pak Bukik pun menanggapinya. Ia berkata bahwa di Permendikbud, kegiatan membaca 15 menit memang diwajibkan, namun berdasarkan kenyataan, ketika kita tidak melaksanakannya pun, tidak ada sanksi yang diberikan, terlebih bila kita bisa menunjukkan pengganti kegiatan literasi yang lebih bermakna. Hal seperti itu ia beliau sampaikan dengan maksud membuka besi-besi penjara yang rasanya telah memenjarakan guru selama ini. Ia berharap sebagai guru, kita bisa merdeka, fokus pada tujuan literasi, serta mandiri dan kreatif mencari cara yang tepat untuk murid-murid kita, yang bisa jadi caranya tidak dengan membaca senyap selama 15 menit. Cara Meningkatkan Literasi Pertanyaan berlanjut dengan pertanyaan Pak Yoga, bila bukan dengan membaca senyap 15 menit, lalu bagaimana caranya kita bisa meningkatkan literasi? Pertanyaan tersebut sebenarnya sudah terjawab oleh paparan Pak Suhud di awal kegiatan ini. Pak Bukik menanggapi bahwa akan lebih bermakna apabila murid diberikan kemerdekaan memilih buku yang disukainya dan setiap anak diizinkan memiliki target membaca yang berbeda sesuai kemampuannya. Hal tersebut sesuai dengan 5M yakni memahami konsep, memanusiakan hubungan, membangun keberlanjutan, memilih tantangan dan memberdayakan konteks. Ruangan pun menjadi ramai karena seorang guru menyatakan bahwa faktanya ada anak yang membaca UUD dan ada juga anak yang berulang-ulang membaca buku yang sama dalam satu tahun. Kuat dugaan, hal tersebut terjadi karena kegiatan membaca senyap 15 menit dipandang tidak bermakna oleh murid-murid. Pak Bukik pun menambahkan contoh lain sebagai tanggapan dari pertanyaan Pak Yoga, “Anak dapat diajak berjalan-jalan ke taman, lalu ditanya tentang warna bunga dan jumlah bunga, lalu esok harinya diajak kembali ke taman, lalu ditanya pertanyaan yang sama, dan ditanya tentang perbedaan jumlah bunga hari ini dengan hari kemarin. Ini adalah literasi matematika.” Diskusi mengalir hingga menjawab pertanyaan Pak Suhud di awal tentang “Apa itu literasi?”. Literasi dapat dimaknai sebagai cita, cara, dan cakupan. Sebagai cita, literasi dimaknai sebagai kompetensi. Sedangkan sebagai cara, literasi dicontohkan dengan membaca buku untuk menyelesaikan masalah. Sebagai cakupan, dicontohkan dengan kegiatan membaca senyap 15 menit. Hal-hal yang kedudukannya cakupan, sebenarnya dapat mudah berubah sesuai konteks. Masalah Dalam Praktik Literasi Sekolah Bedah buku kali ini rasanya benar-benar menunjukkan bahwa masalah literasi seperti kegiatan membaca senyap 15 menit itu merupakan masalah nasional yang penting untuk diselesaikan. Kegiatan tersebut mestinya dapat berubah sesuai konteks. Namun mengapa kegiatan tersebut justru diwajibkan? Sebagai guru, apa yang perlu kita lakukan? Jawabannya adalah guru merdeka belajar. Guru yang fokus pada tujuan, mandiri pada cara, dan reflektif. Bicara tentang refleksi, kegiatan tersebut ditutup oleh refleksi salah seorang peserta, dan ditutup oleh moderator. Pak Iwan selaku moderator menyampaikan bahwa praktiknya, “literasi pun dapat dimaknai sebagai ritual”. Mendengarnya, tiba-tiba terasa sesak di dada, karena pemaknaan tersebut nyata ada, namun faktanya kebanyakan ritual yang ada justru membodohkan. Pak Iwan pun mengingatkan, jangan sampai buku ini pun membuat kita terjebak dalam miskonsepsi literasi. Potensi tersebut memang ada. Terima kasih telah diingatkan. Karenanya literasi menjadi sangat penting dimiliki oleh guru, murid, dan semua orang, apalagi di era digital seperti ini. Agar tidak ada lagi realita seperti yang sekilas disampaikan di awal, agar tidak ada lagi pendidik yang dengan mudah membagikan berita hoax. Dapatkah Anda bayangkan bagaimana literasi muridnya, bila pendidiknya mudah termakan hoax? Penasaran Bagaimana Menerapkan Literasi Numerasi di Sekolah Dasar? Yuk ikuti pelatihan online klik tombol di bawah ini

Bagaimana Video Pembelajaran yang Bermakna?

TPD Kelas Kompetensi berjudul Membuat Video Pembelajaran Bermakna Menggunakan Smartphone, diikuti sekitar 20 orang guru, manajemen sekolah, pustakawan, hingga orang tua murid, yang sengaja hadir ke SD Gagas Ceria. Mereka hadir dengan berbagai motivasi, dari yang ingin menghadirkan pembelajaran kreatif untuk murid-murid, ingin mendokumentasikan kegiatan untuk orang tua, bahkan dokumentasi untuk kepentingan promosi. Berangkat dari para peserta yang kebanyakan tak mampu membuat video, akankah pada akhirnya para peserta mampu menjadi kompeten membuat video? Pada hari pertama kelas kompetensi ini, yakni tanggal 4 januari 2020, kelas dipandu oleh Anggayudha (Aye) dari KGB Bandung. Kelas dibuka dengan ice breaking perkenalan yang selain menghadirkan keseruan, juga membuat para peserta jadi saling mengenal satu sama lain. Kelas berlanjut dengan sesi 1 tentang merancang strategi pengajaran bermakna menggunakan video. Sesi ini menjadi penting agar video yang nanti dihasilkan tidak hanya sekedar menjadi video biasa, namun juga dapat menjadi video pembelajaran yang bermakna. Sesi ini terdiri dari berbagai kegiatan yakni diskusi, gallery walk, pembahasan, dan praktik penyusunan startegi. Kegiatan diskusi berlangsung dengan sangat hidup, tak jarang perdebatan antar anggota kelompok pun terdengar. Hasil diskusinya dibuat dalam bentuk poster yang ditampilkan dalam galeri. Kegiatan gallery walk berhasil membuka wawasan dan memperluas sudut pandang dengan pertanyaan-pertanyaan kritis yang dilemparkan oleh para peserta yang berjalan mengitari galeri. Kegiatan pembahasan memberikan pemahaman baru mengenai beberapa elemen yang selama ini seringkali dilupakan saat penyusunan strategi, yaitu profil murid, bukti dan asesmen. Tak jarang guru menyusun strategi tanpa menghiraukan apa minat murid, bagaimana cara belajar murid, dsb. Tak jarang juga, bukti dan asesmen baru dipikirkan setelah mendekati akhir semester, bukan sebelum memulai pembelajaran. Padahal ibarat kita mau ke suatu tempat, tentu kita menetapkan tujuan dahulu, dan telah menggambarkan indikator-indikator kita telah mencapai tujuan tersebut dengan tepat, sebelum menentukan cara kita berangkat ke tempat tersebut. Maka selain dari menemukan elemen-elemen yang seringkali terlupakan, terbahas juga tahapan merancang starteginya yaitu 1. Memetakan profil murid, 2. Menentukan tujuan, 3. Menentukan bukti dan asesmen, 4. Menentukan strategi, 5. Menentukan cakupan. Kegiatan berlanjut ke sesi 2. Pada sesi ini para peserta belajar mengenai beberapa hal, salah satunya mengenai story board. Hal ini berfungsi untuk memberi gambaran alur cerita sebelum membuat video, sehingga pembuatan video dapat menjadi lebih mudah. Pada sesi ini juga, Pak Aye memberikan rambu-rambu mengenai visual dan audio yang sebaiknya dipilih, agar tidak bertentangan dengan rambu-rambu yang telah ada di masyarakat. Sesi ini berakhir dengan memicu semangat peserta, hingga peserta masih berusaha mengumpulkan visual dan audio, padahal waktu peserta untuk belajar di kelas sudah habis. Pada hari kedua, para peserta dipandu oleh Arif dari KGB Bandung. Arif memulai sesi ini dengan memberi waktu tambahan pada para peserta untuk mengumpulkan visual dan audio. Pada sesi ketiga ini, suasana menjadi semakin seru karena para peserta mulai menggunakan aplikasi pembuat video kinemaster. Para peserta belajar cara mengedit video, cara mengedit gambar, cara mengedit audio, cara menambahkan teks, dsb. Suasana menjadi semakin ramai ketika para peserta belajar cara membuat gambar menjadi blur, seperti video yang memberitakan adanya tersangka atas sebuah tindakan kriminal. Menjadi sangat lucu karena gambar yang saat itu dibuat menjadi blur adalah gambar Pak Aye. Seakan-akan Pak Aye adalah seorang tersangka tindakan kriminal. “Hahaha”, begitulah suara tawa para peserta memenuhi seisi kelas. Suasana pun sangat ramai ketika kami menjadi mengerti bagaimana proses suara seperti chipmunk muncul, ketika kami jadi mengerti proses terciptanya efek slow motion, dsb. Begitu menariknya sesi 3 ini, hingga waktu coffee break pun dilewatkan oleh para peserta. Salah satu poin penting pada sesi ini adalah kami menjadi lebih sadar proses pembuatan video atau film yang biasa kami lihat. Sesi 3 berakhir, para peserta sudah menjadi lebih siap untuk membuat video, maka saatnya sesi 4 dimulai. Sesi ini adalah sesi yang paling dinanti-nanti oleh para peserta, karena pada sesi ini kami praktik membuat video. Pada sesi praktik ini, para narasumber pun bahkan sempat menjadi rebutan para peserta yang mengalami kendala-kendala. Setelah para narasumber tidak menjadi rebutan, saat inilah merupakan saat yang paling disenangi oleh Pak Aye, karena semua peserta tiba-tiba menjadi hening dan menjadi lebih fokus dengan smart phone masing-masing, saat inilah tanda bahwa semua peserta sudah mengerti dan menikmati apa yang dilakukannya.  Di akhir sesi kelas ini, para peserta mengumpulkan video yang telah dibuat. Video-video ini nantinya akan diberi feedback oleh para narasumber, agar para peserta dapat belajar lagi. Sesi 2 hari ini memberikan pengetahuan dan pengalaman pada para peserta, serta berbagai komentar. Pak Ambi berkata, “dari belum bisa, lalu kok bisa, dan akhirnya jadi bisa.” Apakah 2 hari ini cukup? Apakah para peserta telah menjadi kompeten? Belum, karenanya setelah 2 hari ini, para narasumber pun bersedia memberi pendampingan secara daring selama 1 bulan.  TPD kali ini menyisakan kesan positif dari para peserta dan memicu kegemaran belajar sepanjang hayat. Karena tak sedikit peserta yang terus belajar membuat video, meskipun kelas telah berakhir. Bagaimana dengan Anda, apakah Anda tertarik membuat video pembelajaran? Ataukah Anda sudah produktif membuatnya? Bila ya, apakah video pembelajaran yang Anda buat telah menjadi video pembelajaran yang bermakna?

Memahami Murid, Langkah Awal Guru Berinovasi

“Sekarang saya sadar bahwa saya adalah guru dengan fixed mindset. Saya harus berubah !” Kalimat diatas adalah salah satu refleksi dari peserta pelatihan. Kalimatnya pendek, namun sangat dalam maknanya. Pelatihan Wardah Inspiring Teacher 2019 adalah pelatihan yang di selenggarakan oleh PT Paragon Technology and Innovation (Wardah) bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal. Pelatihan ini diadakan di Hotel De Braga Bandung. Ada 50 peserta yang hadir, bukan hanya dari kota Bandung saja, namun juga dari daerah sekitarnya, ada cimahi, bogor, bahkan bekasi. Pelatihan ini adalah salah satu wujud dari kepedulian Wardah terhadap guru dan pendidikan di Indonesia. Umumnya guru selama ini belum dianggap sebagai profesi yang membanggakan, padahal guru sebagai roda perubahan, guru bersama pemangku kepentingan lain bersinergi bersama demi mewujudkan pendidikan Indonesia yang lebih baik. Dalam menjalankan tugasnya, guru seringkali dihadapkan dengan berbagai tantangan. Tantangan yang berasal dari internal maupun eksternal. Salah satu tantangannya adalah persepsi masyarakat yang umumnya menganggap guru hanya sebagai penyampai materi pelajaran, guru hanya petugas yang bekerja disekolah dan pulang saat jam pelajaran selesai. Lambat laun persepsi ini mengakar dan membuat profesi guru seakan-akan tidak begitu penting. Selain itu guru juga sering menghadapi tantangan dalam mendidik murid. Tantangan yang beragam di setiap jenjang. Guru harus menjadi ujung tombak pendidikan yang bisa membimbing murid, bukan hanya dari sisi akademik, namun juga dari sisi psikologis dan kebutuhan lainya. Kampus Guru Cikal dipercaya oleh wardah memberikan pelatihan dengan tema “Mendesain untuk Perubahan”. Pelatihan dimulai dengan mengajak peserta berefleksi tentang apa yang dirasakan saat ini. Sesi ini sangat seru, karena peserta diajak berdiskusi kelompok untuk membedakan guru jaman dahulu dan guru jaman sekarang. Kemudian dilanjutkan dengan memaparkan fakta yang terjadi di lapangan terkait pendidikan di abad 21. Selanjutnya peserta diajak untuk memahami 4 kunci pengembangan guru, yaitu kemerdekaan, kompetensi, kolaborasi dan karir, serta kaitan antara melakukan inovasi dengan mencapai cita-cita guru. Pelatihan dilanjutkan dengan materi merancang ide inovasi pengajaran. Dalam sesi ini pelatih mengajak peserta untuk memahami proses menghasilkan inovasi, yaitu empati, mendefinisikan masalah dan merumuskan ide. Para peserta dibagi dalam kelompok sesuai dengan jenjang kelas yang diajarnya. Hal ini bertujuan agar proses diskusi kelompok berjalan dengan lancar dan seluruh anggota kelompok dapat mencurahkan ide dan pengalaman sesuai dengan inovasi pengajaran yang akan dibuat untuk jenjang yang mereka ajar. Puncaknya, masing-masing kelompok mempresentasikan ide inovasinya kepada narasumber. Cara presentasi masing-masing kelompok dibebaskan, namun hal yang harus tercakup dalam presentasi tersebut adalah, 1. apa yang murid butuhkan untuk mencapai tujuan pembelajaran , 2. apa tantangan yang dialami oleh murid, dan 3. apa ide inovasi untuk mejawab tantangan murid tersebut. Pelatihan ditutup dengan persembahan paduan suara dari murid SD yang diundang oleh pihak Wardah. Haru menyelimuti ruangan saat para murid menyanyikan lagu “Guruku Tersayang” dan “Terimakasih Guru”. Para guru tersedu sedan, terlihat sekali betapa sayangnya guru dengan murid, betapa murid adalah tujuan besar dari cita-cita guru. Saya bangga menjadi bagian dari pelatihan ini. Menyaksikan guru dengan semangat belajar yang tinggi adalah sesuatu yang meyakinkan saya. Saya semakin yakin guru adalah pelajar sepanjang hayat. Guru adalah pribadi yang berdaya, tulus dan sangat peduli terhadap muridnya. Saya yakin guru bisa menjadi ujung tombak perubahan pendidikan indonesia. Sekali lagi, terimakasih guru.

Literasi lewat Dongeng, Membangun Keterampilan Berpikir Kritis.

Siapa yang waktu kecil senang mendengarkan cerita? Faktanya, mau besar atau kecil, kita senang mendengar cerita. Cerita yang bermakna bisa membangun karakter-karakter positif dalam diri. Guru punya banyak kesempatan untuk menyentuh hati murid-muridnya melalui cerita yang disampaikan di ruang kelas. Cerita yang seperti apa yang bisa membuat murid berpikir kritis? Kita akan bahas lebih lanjut dalam TPD KGB Bandung dengan topik : “Literasi lewat Dongeng, Membangun Keterampilan Berpikir Kritis.” Begitulah sepenggal caption yang mengantarkanku untuk hadir menemui Guru Titin, di SMKN 5 Bandung pada tanggal 23 Februari 2019. Aku yang telah lama menanti diangkatnya tema ini, hadir dengan membawa pertanyaan yang senada dengan caption tersebut. Pertanyaanku adalah “bagaimana menumbukan keterampilan berpikir kritis secara menyenangkan?” Mendongeng adalah jawaban dari pertanyaanku tentang kegiatan yang menyenangkan. Mendongeng adalah kegiatan literasi yang menyenangkan dan sangat kaya makna. Bu Titin yang juga aktif menjadi narasumber parenting, membagi pengalamannya sebagai contoh. Bu Titin bercerita : Saat itu suami saya karena sebuah kondisi menyebabkannya tidak dapat bekerja. Hal tersebut berbeda dengan saya yang selain berperan sebagai ibu, istri, namun juga bekerja sebagai guru. Di satu hari, saya pulang mengajar dalam kondisi basah kuyup karena kehujanan. Namun, suami saya nampak tidak mempedulikan keadaan saya. Saya pun memanggilnya, “Yah, sini deh, ada cerita.” “Cerita apa?” sahutnya sambil menghampiri saya. “Itu Bu Cinta pulang kehujanan, suaminya langsung membawakan handuk dan teh hangat, padahal Bu Cinta baru pulang main, bukan pulang kerja” kata saya. Mendengar cerita tersebut, suami saya bergerak membawakan handuk dan teh hangat, dengan mengatakan, “nih handuknya, nih teh hangatnya”. Lalu ia pergi dan kembali tenggelam dalam aktivitasnya. Tawa pun menyeruak di ruang TPD. Tawa lahir karena suami Bu Titin termotivasi untuk berperilaku baik, namun terdengar tak ikhlas. Dibalik tawa tersebut, lahir kesadaran pada peserta TPD, bahwa mendongeng itu dapat memotivasi untuk berperilaku baik, dapat membangun karakter. Dimana hal tersebut dapat terbangun bukan hanya pada penikmat dongengnya, namun juga pada pendongengnya. Pada contoh diatas nampak bahwa Bu Titin sebagai pendongeng, memilih untuk mengelola emosinya, sehingga komunikasi dapat tetap efektif memotivasi orang lain berperilaku baik, sehingga pada akhirnya dapat membangun karakter positif. Kekayaan makna pada dongeng dapat diraih, apabila dongeng menjadi sangat berkesan bagi siswa, menjadi memorable bagi siswa. Salah satu cara untuk meninggalkan kesan tersebut adalah dengan mengkritisinya. Kebiasaan kritis inilah yang pada akhirnya dapat menumbuhkan keterampilan berpikir kritis pada siswa. Bu Titin pun membagikan praktik baik kepengajarannya tentang cara-cara melatih berpikir kritis terhadap dongeng. Bu Titin mengawalinya dengan mengajak kami memikirkan “Apa kata-kata yang tepat untuk menggambarkan ini?” Dan kami diajak menceritakannya pada selembar kertas. Berbagai cerita pun bermunculan. Salah satu ceritanya adalah cerita tentang suami-suami takut istri, seperti judul sinetron di layar televisi. Lalu, kami diajak menceritakan lagi, “Tokoh mana yang disukai, dan mengapa?” Selain Bu Titin mempraktikannya langsung pada kami, Bu Titin pun menegaskan cara-caranya, yang meliputi: 1. Di tengah cerita, guru mengajak siswa membayangkan kelanjutan ceritanya, sehingga memungkinkan lahirnya cerita yang sangat variatif dari siswa. 2. Di akhir cerita, guru mengajak siswa menentukan tokoh yang disukai dan alasannya. 3. Lalu mengajak siswa berandai-andai, bila siswa menjadi salah satu tokoh di cerita tersebut, apa yang akan dilakukan dan mengapa. Bu Titin memberi contoh untuk poin nomer 3,  Bu Titin berkata, “Pada cerita Malin Kundang, bila kamu menjadi istri Malin, apa yang akan kamu lakukan dan mengapa?” Mendengar pertanyaan tersebut, sontak peserta TPD terkejut karena merasa belum pernah mendengar pertanyaan seperti itu sebelumnya. Bu Titin menyimpulkan prinsip melatih berpikir kritis adalah bertanya dengan hal yang berbeda, bukan hanya menerjemahkan atau men-translate-nya. Bu Titin pun menceritakan cerita tentang siswanya, sebagai hasil dari kebiasaan praktik baik yang dilakukannya. Singkat cerita, lahirlah siswa yang percaya diri untuk bercerita, yang merasa aman bercerita, yang bercerita tanpa merasa tertekan atau terpaksa. Dan pada sesi inilah tiba-tiba ruangan menjadi sangat hening. Bu Titin bercerita dengan mata berkaca-kaca. Peserta TPD ada yang sempat membayangkan, andaikan dirinya dulu memiliki guru seperti Bu Titin, sebagai siswa tentu akan merasa sangat bahagia. Karena saat itu, terasa bahwa ia mengajar dari hati. Disini Bu Titin berhasil menunjukkan bahwa dongeng itu dapat menyentuh hati. Keheningan kami pun disadarkan dan dipecahkan oleh moderator yang akan membuka sesi tanya jawab. Dan alhasil gaya kepengajaran Bu Titin yang mengajak kami berpikir kritis, menstimulasi antusias para peserta bertanya. Dengan kompak kami mengacungkan tangan, kami bergiliran untuk bertanya, ada yang mengalah bertanya di akhir, ada yang bertanya lebih dari satu pertanyaan, dan bahkan ada yang bertanya melebar dari topik hingga perlu dibatasi. Sebagai penutup, Bu Titin membagikan quote dari Fisher (2008) : “Good Teacher makes you think even, when you don’t want to”. Dan catatan saya menulis, “Kita bukan penyampai materi, kita tidak akan kalah dengan google, sang mesin pencari informasi.”