Membuat Animasi dengan PowerPoint

Secara daring, kami belajar membuat animasi mulut berbicara melalui power point dengan judul kegiatan, “Apa itu Animasi Mulut berbicara di PowerPoint”. Acara diselenggarakan kamis, 27 Agustus 2020 lalu. KGB Bandung mengadakan Temu Pendidik daerah yang ke 22 ini melalui aplikasi G-Meet. Kegiatan yang dilakukan secara virtual ini membuat kami belajar banyak hal dalam teknologi terutama membuat animasi di powerpoint sehingga pembelajaran bisa diberikan pada murid dengan lebih menarik.  Kelas ini diawali dengan melihat dua karakter animasi yang sedang berbicara sambil menggerakan mulut. Tayangan itu membuat kami semakin penasaran untuk segera mempelajarinya. Melalui kelas ini, guru-guru diajak untuk belajar membuat video animasi pembelajaran mulut bergerak. Setelah diajarkan cara meletakan dan menggerakan mulut dalam powerpoint, kami diajarkan mencari dan mendapatkan gambar dari sebuah situs.  Kami disarankan untuk menggunakan gambar tipe GIF untuk mulut agar dapat terlihat bergerak ketika berbicara. Kami menyadari bahwa era digital semakin berkembang dan ini menuntut kita sebagai guru yang merdeka belajar, untuk terus mencari cara dalam menyesuaikan diri dengan teknologi dalam menjawab kebutuhan belajar murid.  Kelas ini dinarasumberi oleh Pak Rahman Sapta, seorang desainer grafis dari Semarang. Selain aktif membuat konten tentang animasi di channel youtube “Dunia Kita”, beliau pun membuka kursus desain grafis “Pixel Design” di kota Semarang.  Hadir juga Pak Zaenuri Arif dari KGB Bandung yang menjadi pemandu jalannya kelas. Ide ini diinisiasi oleh ibu Dewi Djuangsih, penggerak dari KGB Bandung sekaligus fundraiser program bantu kuatkan guru. Beliau tertarik dengan animasi powerpoint berbicara, sebagai media pembelajaran yang dapat menjawab kebutuhan murid. Dari yang kami pelajari, ternyata membuat media ajar animasi dengan powerpoint ini tidak harus memiliki keahlian khusus pembuatan animasi.  Dalam pembuatannya, ada dua tipe file gambar yang digunakan. Yaitu PNG dan GIF. Kita bisa mencari tipe file GIF bisa bergerak di PowerPoint. GIF biasa dipakai juga untuk stiker pada WhatsApp atau aplikasi chat lainnya. dengan demikian kita bisa memanfaatkan file tersebut untuk membuat animasi yang bergerak dengan lebih mudah. Sedangkan file PNG adalah tipe file yang statis, tidak bergerak, tetapi memiliki background yang transparan sehingga hanya bagian gambar saja yang akan terlihat. ini cocok untuk penggunaan gambar yang akan dipasang di latarbelakang atau dasar manapun.  Di situs freepik.com, kita bisa memilih berbagai karakter yang dapat kita gunakan. Kami diajarkan mengambil gambar dari sebuah situs yaitu situs Freepik images. Cari character → free download → copy and attribute dan diubah dulu ke format EPS. Dari EPS kita kita harus mengkonversinya terlebih dahulu ke bentuk WMF lalu di download. Konversi file ini bisa dilakukan secara online pada situs cloudconvert.com.  “Untuk menambahkan suara, kita bisa merekamnya sendiri lalu klik speaker abu-abu di powerpoint dan langsung bisa dimasukan.” Jelas pak Rahman sembari memberi penayangan video di kelas Temu Pendidik Daerah ini. “Sebelumnya kita bisa mempersiapkan naskah, apa saja yang akan kita masukan dalam dialog. Bisa berupa materi pelajaran, seperti tanya jawab guru dengan murid. Atau pun hal-hal lain yang ingin kita masukan ke dalamnya. Bila kita mempersiapkannya dengan matang, hasilnya pun akan lebih baik.” Tambah pak Rahman.  Agar peserta tidak bingung, Pak Rahman mempersilahkan para peserta untuk bertanya. Ibu Dhea bertanya cara mencari gambar yang tidak berbayar karena di internet banyak sekali situs yang mengharuskan kita membayar gambar yang kita pakai. Pak Iwan juga yang bertanya tentang bagaimana caranya mengconvert powerpoint yang sudah dibuat ke dalam bentuk video, karena setelah membuat powerpoint mulut bergerak, terkadang sebagai guru beliau merasa perlu untuk menyimpannya dalam bentuk video. Diterangkan oleh pak Rahman cara melakukannya yaitu: dari file→ save and send→ create video.  Namun 90 menit memang tidak cukup untuk mempelajari powerpoint mulut bergerak ini. Masih banyak rasa penasaran kami yang belum terjawab. Sepertinya kami masih membutuhkan pertemuan lanjutan berupa praktek bersama agar lebih menguasai materi ini. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab karena terbatasnya waktu. Hal itu membuat kami semakin penasaran sehingga pertemuan lanjutan sepertinya akan dapat menjawab kebutuhan kami. Oleh karena itu pak Rahman memberikan kesempatan pada kami untuk menghubunginya jika ada pertanyaan lebih lanjut disamping mencari waktu lain yang tepat untuk membuat sesi kedua workshop ini.  Baca Juga: 7 Model Media Ajar Inovatif Kegiatan yang diadakan dalam rangkaian mengumpulkan donasi “Bantu Kuatkan Guru” di kitabisa.com ini mendapat respon positif dari para peserta. Melalui program yang digagas oleh KGB Nusantara ini, KGB Bandung turut mengajak setiap peserta yang ikhlas dan sedang diberi kemudahan rezeki dari Tuhan Yang Maha Esa, untuk memberi donasi yang nantinya akan didistribusikan oleh KGB Nusantara kepada guru-guru dan sekolah yang terdampak pandemi Covid-19. Tak dapat dipungkiri, bahwa keberadaan guru honorer maupun sekolah banyak yang terdampak finansial akibat adanya pandemi Covid-19 memerlukan dukungan dari segenap pihak. Semoga langkah ini senantiasa diberikan kemudahan dan keberkahan dari yang Mahakuasa. Aamiin.

Strategi PJJ dengan Coaching

Sudah berbulan-bulan sekolah di Indonesia melakukan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Akibat pandemi yang terjadi berdampak pada berbagai aspek termasuk ke bidang pendidikan. Hal ini bukan sesuatu yang mudah bagi guru, bagi anak dan bagi orang tua. Situasi dan kondisi antara rumah dan sekolah yang berbeda tentunya sangat mempengaruhi mood murid dan tidak semua murid memiliki device yang mumpuni, sehingga menjalin kerjasama dengan orang tua menjadi coach yang sinergi menjadi kunci keberhasilan dalam pengembangan anak, orang tua dan guru harus menjadi partner. Lalu bagaimana peran pendidik dan orang tua terutama saat PJJ? Untuk itu pada kegiatan temu pendidik daerah kali ini akan mencoba mengupas tentang bagaimana peran guru dan orang tua dalam mengembangkan anak. Tema yang diangkat adalah “Teachers and Parents as Coaches” dimana yang menjadi narasumbernya adalah Mharta Adji Wardana, beliau aktif dalam dunia pendidikan dan pengajaran serta pengembangan karakter.\ Sebagai pembuka narasumber memberikan pernyataan tentang apa arti ‘Coach’ itu sendiri adalah seseorang yang mendampingi coachee nya untuk berkembang lebih baik lagi. Lalu kenapa dihubungkan dengan pendidikan? karena pada hakikatnya pendidikan sendiri adalah membawa seseorang untuk lebih beradab karena pendidikan itu sendiri adalah membawa orang menjadi lebih baik lagi dari waktu ke waktu. Saat ini dunia berubah secara eksponensial, sehingga tantangan saat ini untuk para pendidik adalah pendidik harus segera berbenah meningkatkan kualitasnya mengingat sekarang kita melakukan pembelajaran jarak jauh dimana pendidikan sudah berubah ke era digital dan mau tidak mau guru adalah elemen utama dalam dunia pendidikan, sehingga guru harus meninjau ulang pada diri masing-masing apa performa yang harus ditingkatkan? Bisakah kita mempertahankan kualitas kita saat mengajar langsung dengan saat kita mengajar daring? PJJ ini menjadi momentum bagaimana kita untuk bisa membuat pembelajaran yang berpusat pada murid dan tugas kita memfasilitasi murid untuk tahu tentang bagaimana cara belajar, membangun motivasi intrinsik anak agar tidak selalu bergantung kepada guru dan anak diharapkan menjadi pembelajar mandiri. Jika anak masih tergantung pada guru berarti motivasi intrinsik anak belum tersentuh, untuk itu penting untuk menguatkan anak bahwa dia punya kehebatan/kemampuan. Saat ini pendidikan menggunakan teknologi dijadikan teman untuk murid belajar, sehingga guru harus dapat membuat sebuah kualitas konten pembelajaran jarak jauh. Konten (kualitas pengajaran/materi) dan motivasi belajar mengajar saat PJJ memiliki porsi 50:50. Sebelum masuk ke konten yang perlu kita benahi adalah paradigma kita tentang kesediaan kita untuk berperforma lebih baik lagi sebagai pengajar yaitu paradigma inside out bukan outside in. PJJ Daring membutuhkan platform, maka kegiatan yang dapat dilakukan seperti: Video Conference Dubbing Video Materi Pelajaran Share Slide Materi Live Whiteboarding Open -ended question/project/portfolio Kegiatan saat ini harus mulai bergerak ke arah open-ended question/project/portfolio dimana anak melakukan sesuatu dalam jangka waktu tertentu. Materi dikemas dalam sebuah tugas dimana indikatornya dapat tercapai semua melalui hasil karya murid, dimana hasilnya tidak akan sama, murid berkreasi sendiri. Makna coaching sendiri adalah : Mengarahkan murid melalui pertanyaan ‘What do you want?’ (bukan directing). Sehingga tugas kita adalah mendampingi/menampung untuk menggerakkan, kita bukan mengarahkan anak maunya kemana, kata kuncinya adalah pertanyaan. Coach berorientasi pada kebahagiaan dan ketenangan hati sang coachee untuk terus berkembang sesuai dengan resources yang ia miliki. Teachers and parent as a coach Prinsip coaching: 1. Bangun kedekatan :Setelah kita bangun kedekatan kita bisa memberikan follow up, sebisa mungkin anak merasa nyaman. Jika anak masih pasif biasanya karena anak belum merasa percaya. Bisa dilakukan dengan pendekatan secara personal2. Berikan pertanyaan yang berorientasi pada penggalian potensi anak kita Penggalian potensi dengan memberikan banyak pertanyaan terbuka dan provokatif yang memancing murid untuk berpikir kritis.3. Hibur dan semangati Narasumber menceritakan sebuah kisah nyata tentang perjuangan dan dedikasi dari seorang yang bernama Dasrath Mnadji dan hikmah yang dapat dapat diambil dari kisah Dasrath Manji tersebut adalah dedikasi dan semangat yang tinggi untuk berkontribusi (purpose of life), sehingga kisah ini dapat kita jadikan acuan dalam mendidik yaitu ‘Educating with purpose’ (mendidik murid dengan tujuan mulia), untuk itu kita dapat mulai mencobanya dengan membuat purpose statement yang diawali dengan tiga pertanyaan: 1. (ACTION) Hal menyenangkan apa yang akan Anda lakukan ? Misalnya : Membuat video pengajaran Mengajar dengan semangat dan keceriaan Melakukan penelitian 2. (PEOPLE) Kepada siapa anda ingin memberi manfaat sebesar besarnya ? Misalnya : Anak saya Murid-murid saya Institusi saya 3. (HELPING) Jika Anda memiliki kekuatan lebih, apa yang akan Anda lakukan untuk membantu orang lain ? Misalnya : Mengembangkan Memajukan Memberdayakan Lalu buatlah purpose statement itu dalam rangkaian sebuah kalimat, seperti: “Dalam upaya menjadi pendidik terbaik saya ingin mengembangkan, memajukan, memberdayakan anak saya, murid-murid saya, dan institusi saya dengan membuat video pengajaran, mengajar dengan semangat dan penuh keceriaan, dan melakukan penelitian sebaik mungkin” Harapannya dengan kita membuat purpose statement ini kita ingat apa yang kita punya, sesuai dengan habbit 2 (begin with the end in mind), sebagai pengajar kita tahu bahwa apa yang kita tuju itu apa? Saat kita ingat purpose kita, maka kita akan punya dorongan yang lebih kuat untuk meningkatkan kualitas performa di tempat masing-masing. Di sesi akhir sharing TPD kali ini, narasumber memberikan sebuah kutipan yang memberikan semangat bagi kita para pengajar agar terus selalu berusaha lebih baik, “Selagi kita masih dimampukan untuk olah pikir dan olah rasa kembangkan pemikiran dan lakukan kebaikan semaksimal mungkin kita bisa, meski dihadapkan dengan rintangan dan kendala jangan sekali kali kita berputus asa karena Tuhan sangat bangga melihat kita terus berjuang dan berusaha, karena kita ditugaskan oleh Tuhan menjadi pelopor mengembangkan murid sehingga kita bisa maksimal selama kita bisa.” Ingin mengikuti pelatihan Merancang Pembelajaran Jarak Jauh?

Literasi, Senjata Melawan Berita Hoax

Apa anda tahu bahwa beberapa waktu belakangan ini grup-grup pendidik diramaikan oleh berita hoax tentang kebijakan menteri? Apa Anda tahu siapa penyebar berita hoax tersebut? Jawabannya adalah pendidik itu sendiri. Ketika banyak pendidik sibuk menyebarkan hoax tentang kebijakan pendidikan. KGB Bandung, Cimahi, Pekalongan dan Kampus Guru Cikal, justru sibuk meningkatkan literasi dengan Bedah Buku Literasi Menggerakkan Negeri bersama Pak Bukik dan Pak Suhud di SMKN 5 Bandung. Perilaku pendidik yang kontradiktif sekali bukan? Apa yang menyebabkannya? Apakah karena  literasi yang menyebabkan perilakunya menjadi berbeda? Tak Sekadar Membaca Buku Kelas TPD Karier Bedah Buku kali ini diawali oleh Pak Suhud. Ia menyampaikan bahwa literasi tidak hanya sekadar membaca buku, dengan menunjukkan banyaknya praktik baik dalam meningkatkan literasi, seperti literasi dengan berjalan-jalan, bermain game, bercerita, dll. Diakhir pemaparan, ia bertanya, “Lantas, apa itu literasi?”. Mendengarnya membuat peserta menjadi bertanya-tanya. Selagi peserta bertanya-tanya dalam hati, kelas pun berlanjut dengan pemaparan Pak Bukik. Ia menyampaikan bahwa karya buku kolaborasi KGB dan KGC seperti ini, dapat mendorong berbagai pihak agar menjadi lebih peduli dengan pendidikan. Itulah kekuatan buku ini. “Wow, iya juga ya, dengan begini perubahan kondisi pendidikan bisa menjadi lebih cepat,” bisik salah seorang peserta. Sesi pemaparan berakhir, sesi bertanya pun dimulai. Kelas ini pun menjadi semakin seru dengan pertanyaan yang dilontarkan. Pertanyaan pertama datang dari Bu Nining. Ia menyampaikan bahwa di awal buku ini, Pak Bukik langsung menghujam tentang program membaca senyap 15 menit, hal tersebut membuatnya terkejut. Pak Bukik pun menanggapinya. Ia berkata bahwa di Permendikbud, kegiatan membaca 15 menit memang diwajibkan, namun berdasarkan kenyataan, ketika kita tidak melaksanakannya pun, tidak ada sanksi yang diberikan, terlebih bila kita bisa menunjukkan pengganti kegiatan literasi yang lebih bermakna. Hal seperti itu ia beliau sampaikan dengan maksud membuka besi-besi penjara yang rasanya telah memenjarakan guru selama ini. Ia berharap sebagai guru, kita bisa merdeka, fokus pada tujuan literasi, serta mandiri dan kreatif mencari cara yang tepat untuk murid-murid kita, yang bisa jadi caranya tidak dengan membaca senyap selama 15 menit. Cara Meningkatkan Literasi Pertanyaan berlanjut dengan pertanyaan Pak Yoga, bila bukan dengan membaca senyap 15 menit, lalu bagaimana caranya kita bisa meningkatkan literasi? Pertanyaan tersebut sebenarnya sudah terjawab oleh paparan Pak Suhud di awal kegiatan ini. Pak Bukik menanggapi bahwa akan lebih bermakna apabila murid diberikan kemerdekaan memilih buku yang disukainya dan setiap anak diizinkan memiliki target membaca yang berbeda sesuai kemampuannya. Hal tersebut sesuai dengan 5M yakni memahami konsep, memanusiakan hubungan, membangun keberlanjutan, memilih tantangan dan memberdayakan konteks. Ruangan pun menjadi ramai karena seorang guru menyatakan bahwa faktanya ada anak yang membaca UUD dan ada juga anak yang berulang-ulang membaca buku yang sama dalam satu tahun. Kuat dugaan, hal tersebut terjadi karena kegiatan membaca senyap 15 menit dipandang tidak bermakna oleh murid-murid. Pak Bukik pun menambahkan contoh lain sebagai tanggapan dari pertanyaan Pak Yoga, “Anak dapat diajak berjalan-jalan ke taman, lalu ditanya tentang warna bunga dan jumlah bunga, lalu esok harinya diajak kembali ke taman, lalu ditanya pertanyaan yang sama, dan ditanya tentang perbedaan jumlah bunga hari ini dengan hari kemarin. Ini adalah literasi matematika.” Diskusi mengalir hingga menjawab pertanyaan Pak Suhud di awal tentang “Apa itu literasi?”. Literasi dapat dimaknai sebagai cita, cara, dan cakupan. Sebagai cita, literasi dimaknai sebagai kompetensi. Sedangkan sebagai cara, literasi dicontohkan dengan membaca buku untuk menyelesaikan masalah. Sebagai cakupan, dicontohkan dengan kegiatan membaca senyap 15 menit. Hal-hal yang kedudukannya cakupan, sebenarnya dapat mudah berubah sesuai konteks. Masalah Dalam Praktik Literasi Sekolah Bedah buku kali ini rasanya benar-benar menunjukkan bahwa masalah literasi seperti kegiatan membaca senyap 15 menit itu merupakan masalah nasional yang penting untuk diselesaikan. Kegiatan tersebut mestinya dapat berubah sesuai konteks. Namun mengapa kegiatan tersebut justru diwajibkan? Sebagai guru, apa yang perlu kita lakukan? Jawabannya adalah guru merdeka belajar. Guru yang fokus pada tujuan, mandiri pada cara, dan reflektif. Bicara tentang refleksi, kegiatan tersebut ditutup oleh refleksi salah seorang peserta, dan ditutup oleh moderator. Pak Iwan selaku moderator menyampaikan bahwa praktiknya, “literasi pun dapat dimaknai sebagai ritual”. Mendengarnya, tiba-tiba terasa sesak di dada, karena pemaknaan tersebut nyata ada, namun faktanya kebanyakan ritual yang ada justru membodohkan. Pak Iwan pun mengingatkan, jangan sampai buku ini pun membuat kita terjebak dalam miskonsepsi literasi. Potensi tersebut memang ada. Terima kasih telah diingatkan. Karenanya literasi menjadi sangat penting dimiliki oleh guru, murid, dan semua orang, apalagi di era digital seperti ini. Agar tidak ada lagi realita seperti yang sekilas disampaikan di awal, agar tidak ada lagi pendidik yang dengan mudah membagikan berita hoax. Dapatkah Anda bayangkan bagaimana literasi muridnya, bila pendidiknya mudah termakan hoax? Penasaran Bagaimana Menerapkan Literasi Numerasi di Sekolah Dasar? Yuk ikuti pelatihan online klik tombol di bawah ini

Membahas Makna Merdeka Belajar

Apa makna Merdeka Belajar?Apa yang terbesit dalam benak para guru ketika mendengar kata MerdekaBelajar?Apakah bebas tidak melakukan tugas administrasi yang seabrek?Atau membebaskan materi yang diajarkan di kelas?Itulah pertanyaan pembuka di acara Nobar Guru Merdeka Belajar. Acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar yang diinisiasi Kampus Guru Cikal. Acara ini dilaksanakan pada Sabtu, 05 Desember 2019 yang lalu di Aula SD Gagas Ceria Kota Bandung. Kegiatan Nobar Guru Merdeka Belajar menghadirkan 4 penggerak Komunitas Guru Belajar Bandung: Luthfia Nurrahmi dari Cendekia Leadership School, Ela Nurlaela dari Sekolah PAUD, Khaerudin Sodiq dari MI Manba’ul Huda, dan Wina Rosmelawati dari SD IT Uswatun Hasanah Baleendah serta Bu Budiyanti, Pak Zaenuri Arif, Bu Karin dan Pak Iwan. Kegiatan puncak dalam acara Temu Pendidik Daerah Bandung adalah menonton video bersama mengenai makna ‘Apa itu Merdeka Belajar?’ oleh Najelaa Shihab, selaku Pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar. Tiga Dimensi Merdeka Belajar Video tersebut membuka perspektif baru bahwa kemerdekaan belajar bukanlah sesuatu yang diberikan namun proses yang harus digerakan layaknya proses emansipasi. Beliau memaparkan tiga hal esensial yang harus dimiliki pendidik jika ingin merdeka belajar: KomitmenTantangan terbesar pendidik masa kini adalah membedakan cara dan tujuan. Adapun Komitmen dan konsisten terhadap tujuan pembelajaran merupakan hal yang sulit dilakukan karena pendidik masih terjebak pada hal-hal administratif dan birokratif yang bukanlah tujuan dari pendidikan itu sendiri. Tujuan dalam pendidikan adalah hal yang akan membawa pendidik ke ruang yang lebih luas untuk berkreasi dan menciptakan inovasi-inovasi pembelajaran. MandiriUntuk meraih kemandirian belajar, pendidik harus melewati berbagai proses panjang yang sulit ditempuh, dimulai dari pahamnya manipulasi yang terjadi, kesadaran atas kegiatan yang bersifat manipulatif, interaksi atau dialog yang positif antar rekan pendidik, masukan atau konsultasi untuk menunjang keberlangsungan belajar, kemitraan karena pendidikan tidak bisa dilaksanakan oleh satu pihak saja, pemberdayaan potensi baik guru dan murid, dan proses terakhir adalah kendali. Untuk dapat mandiri kita harus memegang kendali atas keseluruhan proses pembelajaran kita sendiri. RefleksiRefleksi adalah cermin diri atas apa yang kita lakukan dan meninjau kembali proses baik yang telah dilakukan sebagai pendidik. Ketiga hal esensial ini saling terhubung membentuk karakter guru merdeka belajar, guru merdeka belajar ini diharapkan mampu melahirkan kompetensi yang berdampak pada murid yang diharapkan menumbuhkan potensi individunya, menumbuhkan jiwa kolaborasi dalam ekosistem pendidikan dan mampu membangun peran dan jenjang karir tak hanya sebagai pendidik di kelas, contohnya menjadi penulis aktif yang dapat menginspirasi pendidik lain. Salah satu tugas yang diemban guru merdeka belajar adalah melawan miskonsepsi-miskonsepsi yang ada di dunia pendidikan itu sendiri. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Setelah menonton penjelasan makna Merdeka Belajar dari video, Bu Juliasih selaku MC membawakan acara dan membagi peserta yang hadir menjadi 4 kelompok dan masing-masing kelompok didampingi oleh penggerak sebagai mentor untuk berdiskusi serta merefleksikan bersama hasil dari pemaparan video. Pertanyaan refleksi terbagi menjadi 5 : Terdapat miskonsepsi seperti : 1) guru belajar hanya mau dari pakar pendidikan 2) guru hanya ingin belajar jika terdapat motivasi eksternal seperti sertifikat atau uang intensif 3) guru hanya berfokus pada urusan administratif 4) guru mengajar terbatas pada “how to atau bagaimana mengajarkan melakukan sesuatu namun kurang mencakup pada dasar berfikir yang lain seperti membangun rasa ingin tahu “why”. Dari miskonsepsi tersebut adakah salah satunya yang melekat pada diri Anda? Ciri Guru Merdeka Belajar Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar dan melakukan refleksi.Apakah setuju dengan pernyataan tersebut? Apa alasannya?Apakah Anda ingin menjadi Guru Merdeka Belajar? Apa Alasannya?Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa perubahan yang ingin Anda lakukan di kelas?Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa pengembangan diri yang ingin Anda lakukan Bersama Komunitas Guru Belajar? Terdapat pertanyaan dan pernyataan yang menarik terkait diskusi refleksi yang dilontarkan oleh beberapa peserta yang hadir. Dalam kelompok yang saya pandu, salah satu pendidik memiliki kegelisahan mengenai membangun semangat membaca pada murid di kelasnya terutama murid yang belum bisa membaca. Beliau mengatakan bahwa program membaca yang ia berikan di kelas memberi kesan kaku dan hanya melanjutkan program yang sudah dijalankan. Ia ingin memberikan perubahan pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak terasa monoton dengan bertanya bagaimana membuat pembelajaran lebih menarik. Dengan mengikuti Komunitas Guru Belajar, Beliau berharap dapat mengembangkan diri dalam hal membangun strategi baik dalam pembelajaran dan mencari inspirasi dalam mengajar yang lebih kreatif dan inovatif. Adapun pernyataan lain dari pendidik daerah terkait pertanyaan refleksi adalah diperlukan dorongan positif dari sesama pendidik yang ingin melakukan perubahan dalam wajah belajar-mengajar disekolahnya. Hal tersebut membuktikan bahwa para pendidik sudah memiliki bekal untuk menjadi ‘Guru Merdeka Belajar’. Mereka memiliki semangat dalam melakukan perubahan di ruang kelas melalui sikap kolaborasi aktif serta mau belajar dari sesama guru. Mereka membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, baik rekan guru, kepala sekolah, beserta jajaran instansi dan pemangku kepentingan. Dari hasil kegiatan Temu Pendidik Daerah ini saya belajar bahwa di Komunitas Guru Belajar ini kita dapat memandang pendidikan dari sisi lain yang lebih positif dan optimis dengan melihat semangat kolektif pendidik yang ingin wajah pendidikan lebih baik. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Bagaimana Video Pembelajaran yang Bermakna?

TPD Kelas Kompetensi berjudul Membuat Video Pembelajaran Bermakna Menggunakan Smartphone, diikuti sekitar 20 orang guru, manajemen sekolah, pustakawan, hingga orang tua murid, yang sengaja hadir ke SD Gagas Ceria. Mereka hadir dengan berbagai motivasi, dari yang ingin menghadirkan pembelajaran kreatif untuk murid-murid, ingin mendokumentasikan kegiatan untuk orang tua, bahkan dokumentasi untuk kepentingan promosi. Berangkat dari para peserta yang kebanyakan tak mampu membuat video, akankah pada akhirnya para peserta mampu menjadi kompeten membuat video? Pada hari pertama kelas kompetensi ini, yakni tanggal 4 januari 2020, kelas dipandu oleh Anggayudha (Aye) dari KGB Bandung. Kelas dibuka dengan ice breaking perkenalan yang selain menghadirkan keseruan, juga membuat para peserta jadi saling mengenal satu sama lain. Kelas berlanjut dengan sesi 1 tentang merancang strategi pengajaran bermakna menggunakan video. Sesi ini menjadi penting agar video yang nanti dihasilkan tidak hanya sekedar menjadi video biasa, namun juga dapat menjadi video pembelajaran yang bermakna. Sesi ini terdiri dari berbagai kegiatan yakni diskusi, gallery walk, pembahasan, dan praktik penyusunan startegi. Kegiatan diskusi berlangsung dengan sangat hidup, tak jarang perdebatan antar anggota kelompok pun terdengar. Hasil diskusinya dibuat dalam bentuk poster yang ditampilkan dalam galeri. Kegiatan gallery walk berhasil membuka wawasan dan memperluas sudut pandang dengan pertanyaan-pertanyaan kritis yang dilemparkan oleh para peserta yang berjalan mengitari galeri. Kegiatan pembahasan memberikan pemahaman baru mengenai beberapa elemen yang selama ini seringkali dilupakan saat penyusunan strategi, yaitu profil murid, bukti dan asesmen. Tak jarang guru menyusun strategi tanpa menghiraukan apa minat murid, bagaimana cara belajar murid, dsb. Tak jarang juga, bukti dan asesmen baru dipikirkan setelah mendekati akhir semester, bukan sebelum memulai pembelajaran. Padahal ibarat kita mau ke suatu tempat, tentu kita menetapkan tujuan dahulu, dan telah menggambarkan indikator-indikator kita telah mencapai tujuan tersebut dengan tepat, sebelum menentukan cara kita berangkat ke tempat tersebut. Maka selain dari menemukan elemen-elemen yang seringkali terlupakan, terbahas juga tahapan merancang starteginya yaitu 1. Memetakan profil murid, 2. Menentukan tujuan, 3. Menentukan bukti dan asesmen, 4. Menentukan strategi, 5. Menentukan cakupan. Kegiatan berlanjut ke sesi 2. Pada sesi ini para peserta belajar mengenai beberapa hal, salah satunya mengenai story board. Hal ini berfungsi untuk memberi gambaran alur cerita sebelum membuat video, sehingga pembuatan video dapat menjadi lebih mudah. Pada sesi ini juga, Pak Aye memberikan rambu-rambu mengenai visual dan audio yang sebaiknya dipilih, agar tidak bertentangan dengan rambu-rambu yang telah ada di masyarakat. Sesi ini berakhir dengan memicu semangat peserta, hingga peserta masih berusaha mengumpulkan visual dan audio, padahal waktu peserta untuk belajar di kelas sudah habis. Pada hari kedua, para peserta dipandu oleh Arif dari KGB Bandung. Arif memulai sesi ini dengan memberi waktu tambahan pada para peserta untuk mengumpulkan visual dan audio. Pada sesi ketiga ini, suasana menjadi semakin seru karena para peserta mulai menggunakan aplikasi pembuat video kinemaster. Para peserta belajar cara mengedit video, cara mengedit gambar, cara mengedit audio, cara menambahkan teks, dsb. Suasana menjadi semakin ramai ketika para peserta belajar cara membuat gambar menjadi blur, seperti video yang memberitakan adanya tersangka atas sebuah tindakan kriminal. Menjadi sangat lucu karena gambar yang saat itu dibuat menjadi blur adalah gambar Pak Aye. Seakan-akan Pak Aye adalah seorang tersangka tindakan kriminal. “Hahaha”, begitulah suara tawa para peserta memenuhi seisi kelas. Suasana pun sangat ramai ketika kami menjadi mengerti bagaimana proses suara seperti chipmunk muncul, ketika kami jadi mengerti proses terciptanya efek slow motion, dsb. Begitu menariknya sesi 3 ini, hingga waktu coffee break pun dilewatkan oleh para peserta. Salah satu poin penting pada sesi ini adalah kami menjadi lebih sadar proses pembuatan video atau film yang biasa kami lihat. Sesi 3 berakhir, para peserta sudah menjadi lebih siap untuk membuat video, maka saatnya sesi 4 dimulai. Sesi ini adalah sesi yang paling dinanti-nanti oleh para peserta, karena pada sesi ini kami praktik membuat video. Pada sesi praktik ini, para narasumber pun bahkan sempat menjadi rebutan para peserta yang mengalami kendala-kendala. Setelah para narasumber tidak menjadi rebutan, saat inilah merupakan saat yang paling disenangi oleh Pak Aye, karena semua peserta tiba-tiba menjadi hening dan menjadi lebih fokus dengan smart phone masing-masing, saat inilah tanda bahwa semua peserta sudah mengerti dan menikmati apa yang dilakukannya.  Di akhir sesi kelas ini, para peserta mengumpulkan video yang telah dibuat. Video-video ini nantinya akan diberi feedback oleh para narasumber, agar para peserta dapat belajar lagi. Sesi 2 hari ini memberikan pengetahuan dan pengalaman pada para peserta, serta berbagai komentar. Pak Ambi berkata, “dari belum bisa, lalu kok bisa, dan akhirnya jadi bisa.” Apakah 2 hari ini cukup? Apakah para peserta telah menjadi kompeten? Belum, karenanya setelah 2 hari ini, para narasumber pun bersedia memberi pendampingan secara daring selama 1 bulan.  TPD kali ini menyisakan kesan positif dari para peserta dan memicu kegemaran belajar sepanjang hayat. Karena tak sedikit peserta yang terus belajar membuat video, meskipun kelas telah berakhir. Bagaimana dengan Anda, apakah Anda tertarik membuat video pembelajaran? Ataukah Anda sudah produktif membuatnya? Bila ya, apakah video pembelajaran yang Anda buat telah menjadi video pembelajaran yang bermakna?

Guru Merdeka Belajar, Reflektif dan Merancang Perubahan

Kegiatan Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar ini merupakan Temu Pendidik Sekolah (TPS) yang pertama diadakan di Aurora Fast and Fun Bandung. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 4 Mei 2018. Diadakan karena kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, maka diperlukan kolaborasi dengan semua orang dan semua peran. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan ekosistem pendidikan yang lebih baik. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama Para pengajar kami memiliki peran sebagai pengajar dengan motivasi yang berbeda-beda. Tak banyak yang memiliki passion tinggi terhadap peran dan bidangnya di dunia pendidikan. Hal ini menjadi sebuah tantangan ketika membahas tentang guru merdeka belajar. Tantangannya adalah para pengajar akan merasa bahwa bahasan hari itu tidak penting. Saya membayangkan akan lahir suara-suara dalam batin para pengajar seperti : “Apa sih nih acara gak penting banget. Dengan pendidikan saja aku tak peduli. Dengan proses belajar saja aku tak suka. Apalagi membahas tentang guru merdeka belajar. Ahhh…”Karenanya menurut saya menjadi penting, bersama-sama menyadari bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Pada hari itu, kami menyimpulkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, dengan cara mengamati bagian awal video Pesta Pendidikan 2019: Ngobrol Publik Online berikut dan video Lihatlah Pengaruh Tontonan TV pada Anak (https://youtu.be/-U5DOVoVhdU) . Salah satu yang paling mengena dari video tersebut adalah ketika anak-anak berkata bahwa selain dari orang tua dan keluarga, mereka juga belajar dari youtube. Hal itu menunjukkan bahwa anak-anak belajar dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja yang ada di sekitarnya. Tak masalah bila belajar dari youtube dengan content yang sesuai dengan usianya. Kenyataannya anak-anak yang alamiahnya memiliki kuriositas tinggi, akan tertarik dengan content yang menarik, tak peduli apakah content tersebut sesuai dengan usianya. Dan kenyataan inilah yang ada di sekitar kami. Dengan ini kepedulian kami terhadap pendidikan anak-anak pun meningkat. Belajar adalah kebutuhan alamiah Kepedulian terhadap belajar telah meningkat. Kesadaran bahwa belajar adalah kebutuhan pun perlu mengalami peningkatan. Bukan lagi bicara tentang suka atau tidak suka dengan belajar. Namun berbicara tentang belajar sebagai kebutuhan. Saya berpandangan bahwa seseorang akan merasa butuh, apabila ia merasakan adanya gap (kesenjangan) antara harapan dan kenyataan. Maka saya bertanya, “Sebagai orang tua atau calon orang tua, apa harapan Anda dalam mendidik anak sendiri? Sebagai pengajar, apa harapan dalam mendidik siswa? Adakah pengalaman yang menunjukkan kekuranganmasing-masing dari dIri kita, dalam mendidik mereka, dan apa dampaknya?” Penuh luapan emosi. Itu tiga kata yang menggambarkan kondisi saat itu ketika para pengajar menjawab tiga pertanyaan tersebut. Seorang pengajar di masa lalunya menginginkan agar dirinya menjadi dokter namun tidak didukung oleh orang tuanya, ia merasa masa depannya tidak ditentukan oleh dirinya sendiri, ia merasa tidak berdaya, sehingga ia bertekad tidak akan pernah mendidik dengan pola seperti itu. Seorang pengajar lain bercerita dengan mata berkaca-kaca, tentang pengalamannya yang seringkali dibanding-bandingkan dengan saudaranya, ia merasa menjadi pribadi yang pesimis dan tidak berdaya, sehingga ia pun ingin agar di masa depannya ia tidak menggunakan pola pendidikan yang seperti itu. Seorang pengajar yang lainnya bercerita tentang seorang siswa yang tak ingin lagi belajar dengannya. Ia berkata, “Hari itu adalah hari pertama dan terakhir bagi saya bertemu dengan siswa tersebut.” Pada saat ia sempat menggunakan gaya komunikasi ‘otoriter’ pada siswa tersebut, memerintah tanpa bertanya, hal itulah yang menjadikan peristiwa tersebut terjadi. Dari masalah-masalah tersebut kami dapat melihat dengan jelas adanya ketidakberdayaan siswa akibat orang dewasa yang tidak berdaya. Harapan dan kenyataan telah diungkap. Kami lanjut berdiskusi tentang bagaimana kami menyikapi kenyataan tersebut agar dapat mencapai harapan kami dalam mendidik. Seorang pengajar berkata, “Perlu ada perubahan.” Saya sangat setuju dengan hal tersebut. Saya pun berkata, “Kita perlu berubah. Dan berubah adalah hakikat dari belajar. Belajar itu dari gak tahu menjadi tahu, dari gak mau menjadi mau, dari gak bisa menjadi bisa, dari salah menjadi benar.” Hari itu kami sama-sama menyadari bahwa kami butuh belajar. Belajar untuk menjadi Guru Merdeka Belajar Sebelumnya kami telah mengungkap adanya kenyataan ketidak-berdayaan. Kenyataan seperti itulah yang melahirkan konsep Merdeka Belajar. Dimana ketidak-merdekaan seorang anak itu diakibatkan oleh ketidak-merdekaan orang dewasa di sekitarnya. Saya bertanya, “Apa itu merdeka?” Banyak pengajar dengan kompak menjawab, “Bebas”. Saya berkata, “Bebas itu terkesan negatif ya, seperti free sex, dsb. Merdeka disini maksudnya apa?” Seorang pengajar menjawabbebas yang bertanggung jawab. Seorang pengajar lain menjawab bebas yang terbatas. Kami pun mencari jawabanannya lewat video tentang Guru Merdeka Belajar () yang disampaikan oleh Mba Ela. Setelahnya kami membahas lebih detail tentang Guru Merdeka Belajar, serta penerapannya. Kami pun berefleksi hingga merancang rencana perubahan. Beberapa diantaranya adalah 1. Mengubah design RPP kami 2. Mengubah gaya kepengajaran kami Mengubah pola memotivasi yang lebih menumbuhkan motivasi internal dari pada motivasi eksternal yang berupa reward dan punishment Mengawali kelas dengan membahas bersama siswa tentang pentingnya materi pembelajaran Mengajar dengan lebih memandirikan siswa : menghindari teknik ceramah, menyalakan tanda tanya, menggunakanberbagai sumber pengetahuan, tidak hanya guru sebagai sumber pengetahuan Menutup pembelajaran dengan refleksi Melibatkan siswa dalam proses penilaian 3. Mengubah beberapa hal kaitannya dengan rekrutmen pengajar Mempertimbangkan passion calon pengajar Memperhatikan kemampuan calon pengajar dalam melibatkan siswa untuk membangun komitmen belajar Sebagai penutup. Hanya guru yang merdeka yang bisa membebaskan anak. Hanya guru yang antusias yang menularkan rasa ingin tahu. Hanya guru belajar yang pantas mengajar.