Literasi, Senjata Melawan Berita Hoax

Apa anda tahu bahwa beberapa waktu belakangan ini grup-grup pendidik diramaikan oleh berita hoax tentang kebijakan menteri? Apa Anda tahu siapa penyebar berita hoax tersebut? Jawabannya adalah pendidik itu sendiri. Ketika banyak pendidik sibuk menyebarkan hoax tentang kebijakan pendidikan. KGB Bandung, Cimahi, Pekalongan dan Kampus Guru Cikal, justru sibuk meningkatkan literasi dengan Bedah Buku Literasi Menggerakkan Negeri bersama Pak Bukik dan Pak Suhud di SMKN 5 Bandung. Perilaku pendidik yang kontradiktif sekali bukan? Apa yang menyebabkannya? Apakah karena  literasi yang menyebabkan perilakunya menjadi berbeda? Tak Sekadar Membaca Buku Kelas TPD Karier Bedah Buku kali ini diawali oleh Pak Suhud. Ia menyampaikan bahwa literasi tidak hanya sekadar membaca buku, dengan menunjukkan banyaknya praktik baik dalam meningkatkan literasi, seperti literasi dengan berjalan-jalan, bermain game, bercerita, dll. Diakhir pemaparan, ia bertanya, “Lantas, apa itu literasi?”. Mendengarnya membuat peserta menjadi bertanya-tanya. Selagi peserta bertanya-tanya dalam hati, kelas pun berlanjut dengan pemaparan Pak Bukik. Ia menyampaikan bahwa karya buku kolaborasi KGB dan KGC seperti ini, dapat mendorong berbagai pihak agar menjadi lebih peduli dengan pendidikan. Itulah kekuatan buku ini. “Wow, iya juga ya, dengan begini perubahan kondisi pendidikan bisa menjadi lebih cepat,” bisik salah seorang peserta. Sesi pemaparan berakhir, sesi bertanya pun dimulai. Kelas ini pun menjadi semakin seru dengan pertanyaan yang dilontarkan. Pertanyaan pertama datang dari Bu Nining. Ia menyampaikan bahwa di awal buku ini, Pak Bukik langsung menghujam tentang program membaca senyap 15 menit, hal tersebut membuatnya terkejut. Pak Bukik pun menanggapinya. Ia berkata bahwa di Permendikbud, kegiatan membaca 15 menit memang diwajibkan, namun berdasarkan kenyataan, ketika kita tidak melaksanakannya pun, tidak ada sanksi yang diberikan, terlebih bila kita bisa menunjukkan pengganti kegiatan literasi yang lebih bermakna. Hal seperti itu ia beliau sampaikan dengan maksud membuka besi-besi penjara yang rasanya telah memenjarakan guru selama ini. Ia berharap sebagai guru, kita bisa merdeka, fokus pada tujuan literasi, serta mandiri dan kreatif mencari cara yang tepat untuk murid-murid kita, yang bisa jadi caranya tidak dengan membaca senyap selama 15 menit. Cara Meningkatkan Literasi Pertanyaan berlanjut dengan pertanyaan Pak Yoga, bila bukan dengan membaca senyap 15 menit, lalu bagaimana caranya kita bisa meningkatkan literasi? Pertanyaan tersebut sebenarnya sudah terjawab oleh paparan Pak Suhud di awal kegiatan ini. Pak Bukik menanggapi bahwa akan lebih bermakna apabila murid diberikan kemerdekaan memilih buku yang disukainya dan setiap anak diizinkan memiliki target membaca yang berbeda sesuai kemampuannya. Hal tersebut sesuai dengan 5M yakni memahami konsep, memanusiakan hubungan, membangun keberlanjutan, memilih tantangan dan memberdayakan konteks. Ruangan pun menjadi ramai karena seorang guru menyatakan bahwa faktanya ada anak yang membaca UUD dan ada juga anak yang berulang-ulang membaca buku yang sama dalam satu tahun. Kuat dugaan, hal tersebut terjadi karena kegiatan membaca senyap 15 menit dipandang tidak bermakna oleh murid-murid. Pak Bukik pun menambahkan contoh lain sebagai tanggapan dari pertanyaan Pak Yoga, “Anak dapat diajak berjalan-jalan ke taman, lalu ditanya tentang warna bunga dan jumlah bunga, lalu esok harinya diajak kembali ke taman, lalu ditanya pertanyaan yang sama, dan ditanya tentang perbedaan jumlah bunga hari ini dengan hari kemarin. Ini adalah literasi matematika.” Diskusi mengalir hingga menjawab pertanyaan Pak Suhud di awal tentang “Apa itu literasi?”. Literasi dapat dimaknai sebagai cita, cara, dan cakupan. Sebagai cita, literasi dimaknai sebagai kompetensi. Sedangkan sebagai cara, literasi dicontohkan dengan membaca buku untuk menyelesaikan masalah. Sebagai cakupan, dicontohkan dengan kegiatan membaca senyap 15 menit. Hal-hal yang kedudukannya cakupan, sebenarnya dapat mudah berubah sesuai konteks. Masalah Dalam Praktik Literasi Sekolah Bedah buku kali ini rasanya benar-benar menunjukkan bahwa masalah literasi seperti kegiatan membaca senyap 15 menit itu merupakan masalah nasional yang penting untuk diselesaikan. Kegiatan tersebut mestinya dapat berubah sesuai konteks. Namun mengapa kegiatan tersebut justru diwajibkan? Sebagai guru, apa yang perlu kita lakukan? Jawabannya adalah guru merdeka belajar. Guru yang fokus pada tujuan, mandiri pada cara, dan reflektif. Bicara tentang refleksi, kegiatan tersebut ditutup oleh refleksi salah seorang peserta, dan ditutup oleh moderator. Pak Iwan selaku moderator menyampaikan bahwa praktiknya, “literasi pun dapat dimaknai sebagai ritual”. Mendengarnya, tiba-tiba terasa sesak di dada, karena pemaknaan tersebut nyata ada, namun faktanya kebanyakan ritual yang ada justru membodohkan. Pak Iwan pun mengingatkan, jangan sampai buku ini pun membuat kita terjebak dalam miskonsepsi literasi. Potensi tersebut memang ada. Terima kasih telah diingatkan. Karenanya literasi menjadi sangat penting dimiliki oleh guru, murid, dan semua orang, apalagi di era digital seperti ini. Agar tidak ada lagi realita seperti yang sekilas disampaikan di awal, agar tidak ada lagi pendidik yang dengan mudah membagikan berita hoax. Dapatkah Anda bayangkan bagaimana literasi muridnya, bila pendidiknya mudah termakan hoax? Penasaran Bagaimana Menerapkan Literasi Numerasi di Sekolah Dasar? Yuk ikuti pelatihan online klik tombol di bawah ini

Guru yang Merdeka Belajar, Guru Adaptif

“Bagaimanakah pendidik yang adaptif itu?”Pertanyaan yang diajukan guru Niam membuat peserta Nonton bareng video Guru Merdeka Belajar dari Najelaa Shihab di TPN 2016 terhenyak. Kemarin tepatnya pada hari Sabtu, tanggal 21 September 2019 telah dilaksanakan nonton bareng video guru Merdeka Belajar yang dipandu oleh saya sendiri, Mahendrayana. Kegiatan ini dilakukan di kediaman saya yang berlokasi di Jl. Pembangunan 2, Pekalongan. Penonton tampak serius menyaksikan menit demi menit video rekaman ibu Najelaa Shihab tersebut. Beberapa penonton nobar terlihat penasaran, ketika sesi diskusi, berbagai ide dan pandangan mulai dituangkan satu per satu oleh para peserta Nobar yang terdiri dari Guru Niam, Guru Madya, Guru Eki, Guru Li’lli, Guru Danny dan Guru Uzly. Ada beberapa pertanyaan yang langsung terbersit begitu mendengar definisi ini, terutama bagi kita yang jarang mempertanyakan tujuan, dan sekadar ikut saja dalam perjalanan. Komitmen seseorang yang Merdeka Belajar adalah ketekunannya dalam perjalanan menuju tujuan yang bermakna bagi diri sendiri. Banyak murid maupun guru yang masuk kelas tanpa tujuan dan kejelasan. Tak heran saat ditanya bagaimana kelas hari ini, atau apa yang dipelajari hari ini, jawaban langganan adalah biasa saja atau malah tidak tahu. Padahal, negara menganggarkan tak sedikit untuk pendidikan dari APBN, bahkan telah diatur di pasal 31 UUD 1945 bahwa sedikitnya 20% anggaran digunakan untuk sektor Pendidikan. Tujuan pendidikan yang mencerdaskan bangsa lewat jalan demokratis tak boleh menyia-nyiakan anggaran tersebut.  Sangat diperlukan proses belajar yang bermakna mensyaratkan kemerdekaan guru dan murid dalam menentukan tujuan dan cara belajar agar menciptakan proses pembelajaran yang sangat efektif. Murid merdeka menetapkan tujuan belajar bersama, memilih cara belajar yang efektif, dan terbuka melakukan refleksi bersama guru.  “Sebagian besar anak Indonesia mimpinya hanya sebatas tingginya tangan saat menjawab pertanyaan guru di kelas” begitu yang disampaikan Ibu Najelaa. Hal ini dibenarkan oleh pendapat Guru Niam yang menceritakan pengalamannya ketika menjadi kepala sekolah. “Sekarang, zaman sudah berubah, guru di sekolah saya harus menjadi guru merdeka belajar…” tuturnya.  Padahal seharusnya lewat pendidikan, anak-anak mampu memiliki aspirasi yang tinggi. Menurut video tersebut, kondisi ini hanya terjadi saat anak-anak memiliki kemerdekaan belajar. “Jadi, tak hanya gurunya saja yang merdeka, namun juga muridnya” begitu pendapat dari guru Eki.  Proses kemerdekaan belajar baik itu dari sisi murid maupun guru, adalah bukan sesuatu yang diberikan melainkan sesuatu yang diusahakan. Ada hal yang sangat esensial dalam kemerdekaan belajar yaitu Komitmen, Mandiri, dan Refleksi.  Komitmen artinya adalah tetap berpegang teguh pada tujuan. Tentu hal ini tak mudah. Pendidik sering terjebak pada tugas-tugas administratif, ketentuan birokratis, akreditasi, ujian, nilai, yang semua itu adalah cara atau teknis pelaksanaan, bukan tujuan. Cara dilakukan untuk mencapai tujuan dari pendidikan, akan tetapi prioritas seolah mengunggulkan cara lebih tinggi daripada tujuan. Kemandirian memiliki banyak tingkatan yang harus dilewati yaitu manipulasi, kesadaran, dialog, kemitraan, masukan, kendali, pemberdayaan. Sebagian dari pendidik tak mampu melewati tingkatan kemandirian karena terhalang bahkan sejak awal langkahnya. Masih banyak manipulasi dan kemandegan dialog serta kemitraan di lingkungan pendidikan.  Refleksi sering susah dilakukan sebab kita takut akan perubahan. Yang ada kita beralasan murid belum paham, orang tua menentang, dan lain sebagainya.  Diskusi makin serius ketika membahas permasalahan ruwetnya kemerdekaan belajar di sistem pendidikan di Indonesia. Ibu Najelaa memaparkan mengenai kompetensi yang beragam dan sering tak sesuai dengan siswa. Hal ini memicu guru Uzly untuk beropini tentang kasus yang pernah ditemui. Bagaimana ada seorang guru mengampu beberapa mata pelajaran yang sangat berbeda dikarenakan kurangnya tenaga pendidik.  Reformasi pendidikan butuh waktu, bahkan dalam video disebutkan “Lebih susah dibanding menerbangkan Apollo”. Hal ini menyangkut pemangku kepentingan, sumberdaya, dan keberhasilan itu sulit dilihat.  Hal yang sekarang perlu dilakukan oleh pendidik adalah melawan miskonsepsi tentang proses guru belajar. Banyak yang bilang guru itu mau belajar jika ada insentif dan sertifikat. Padahal seharusnya belajar adalah proses alamiah, yang akan terjadi terus menerus. Miskonsepsi selanjutnya adalah guru hanya mampu belajar dari ahli atau pakar. Guru yang Merdeka Belajar mampu belajar dengan sesama guru. Dan cara inilah yang paling efektif. “Guru tak perlu figur sempurna, guru itu perlu figur realitis, guru lain yang belajar dan mempraktekkan apa yang dia pelajari” papar Najelaa Shihab. Guru cukup belajar how to nya? Resepnya? Oh ternyata, guru belajar adalah guru yang paham konsep, belajar dengan tujuan dalam konteks. Guru yang profesional adalah guru yang adaptif, sebab kebutuhan setiap murid akan berbeda setiap harinya.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Ingin mengubah dunia pendidikan ke arah yang jauh lebih maju adalah impian saya sejak masih di bangku sekolah. Saya tergolong sangat awam di dunia pendidikan, profesi saya yang jauh dari inner circle pendidikan, bahkan beberapa rekan saya menyayangkan saya ketika mendaftar untuk menjadi anggota Komunitas Guru Belajar. Namun ketika mendengar ibu Najelaa bilang “Guru yang merdeka belajar adalah kunci pendidikan” rasanya ini sangat memacu untuk lebih banyak mencari tahu soal ini. Pada saat bicara guru merdeka belajar adalah kunci, maka ini bukan menyangkut individu melainkan ekosistem. Sebab tidak ada guru yang bisa belajar sendirian, perlu adanya jaring-jaring saling mengisi kompetensi antar guru.  “Bahwa kita dan apa yang kita lakukan adalah yang kita nanti-nantikan, jadi kita tak perlu menunggu siapapun untuk merdeka belajar” tutup Ibu Najelaa Shihab yang disambut tepuk tangan peserta nobar. “Sepakat untuk bersama-sama mewujudkan guru merdeka belajar” ucap Guru Niam sebagai refleksi atas video. “Siap melewati tingkatan menuju kemandirian” sambut guru Eki. Saya sebagai pemandu acara nobar ini senang sekali dengan antusiasme yang diperlihatkan teman-teman. Pada nobar Merdeka Belajar ini boleh jadi saya baru bisa mengajak 6 peserta, namun hal ini justru menguatkan semangat saya untuk mengajak lebih banyak lagi teman-teman agar konsep merdeka belajar ini semakin meluas efeknya. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik:

Membangun Kemampuan Literasi dengan Komikstrip, Memahami Murid dengan Bahasa Cinta

Pagi itu matahari begitu terik, padahal waktu baru menunjukkan pukul sembilan pagi. Satu persatu orang mulai berdatangan sambil membawa tentengan di tangan, yang sepertinya berisi jajan. Ya, pagi itu adalah kegiatan Temu Pendidik (mudik) pertama Komunitas Guru Belajar (KGB) Pekalongan setelah libur lebaran. Ada sekitar tiga puluh peserta yang hadir dalam kegiatan mudik itu.  Sekitar pukul 09.30, semua peserta sudah siap dan duduk melingkar. Sebelum acara dimulai, terlebih dahulu dibuka oleh Guru Anifah, sebagai moderator yang memandu perkenalan antar anggota. Cukup unik metode perkenalan yang dipakai. Setiap anggota wajib memperkenalkan namanya, tempat mengajarnya, dan teman yang sebelumnya. Jika sebelumnya ada empat teman yang sudah memperkenalkan diri, maka kita harus menyebutkan nama empat orang tersebut. Misalnya saya yang duduk di lingkaran agak tengah, maka saya harus menyebutkan cukup banyak teman sebelum saya. Begini bunyinya : nama saya Lilik – saya mengajar les private khusus anak SD – saya adalah temannya Bu Anif, Pak Lukman, Pak Septiar, Pak Wahyu, Pak Maman Basyaiban, Bu Laily, dan Bu Zidnil. Begitupun bila posisi duduk berada di ujung lingkaran, artinya harus menyebutkan semua teman-teman yang sudah memperkenalkan diri sebelumnya. Sebuah perkenalan yang cukup esensial untuk mencapai target tahu nama dan orangnya sekaligus. Selesai perkenalan, moderator langsung memperkenalkan dua narasumber yang sudah hadir dan siap berbagi praktik baik pengajaran. Mudik kali ini dikemas dalam konsep kelas kemerdekaan, sehingga tanpa pertanyaan dan praktik. Komikstrip Untuk Literasi Berbicara tentang miskonsepsi literasi, telah kita ketahui bersama bahwa media literasi bukan hanya buku saja. Banyak media yang bisa kita jadikan bahan penunjang literasi, salah satunya adalah komikstrip.  Komikstrip adalah komik singkat. Guru Lukman Hakim (Ukluk) memaparkan, berbeda dengan komik yang kita kenal pada umumnya, komikstrip hanya terdiri dari 4 / 5 / 6 panel saja. Bahkan ada komikstrip yang tanpa percakapan sama sekali, namun tetap bisa dipahami oleh pembaca. Hal ini dikarenakan bentuk komikstrip memiliki gambar yang berbeda dan berurutan, sehingga bisa memberikan penjelasan meskipun tanpa tulisan.  Komikstrip bisa digunakan sebagai media untuk menyampaikan poin-poin pembelajaran, khususnya pembelajaran yang memiliki materi yang lumayan kompleks. Penggunaan komikstrip akan memudahkan guru untuk menampilkan bentuk sederhana penjelasan tersebut.  “Lalu bagaimana penerapannya di pembelajaran ? apakah guru yang membuat kemudian menyampaikan ke murid, atau murid diajak untuk membuat komikstrip ?” Karena komikstrip ini adalah media ajar, maka bentuk penerapannya adalah dimulai dari guru. Guru yang membuat komikstrip untuk membantu mempermudah penjelasan atau untuk memberikan visualisasi kepada murid tentang materi yang sedang disampaikan. Cara membuat komikstrip tidak harus menggunakan gambar manual dengan tangan. Bisa juga menggunakan foto dan kemudian diedit dengan menambahkan pitch bentuk balon untuk menampilkan dialog. Demikian penyampaian penggunaan komikstrip untuk menunjang pembelajaran di kelas oleh Guru Ukluk. Sebelumnya, Guru Ukluk juga sudah membuka kelas komikstrip dalam acara Ransel yang digelas Bulan Ramadhan kemarin oleh Komunitas Guru Belajar Pekalongan. Kelas komikstrip lumayan diminati oleh peserta yang terdiri dari siswa SMP dan SMA di Pekalongan. Bahasa Cinta Untuk Murid Di sesi bahasa cinta, Guru Muchamad Arifin (Ipin) memberikan peserta sepuluh lembar sticky notes dengan warna yang berbeda. Masing-masing warna memiliki makna yang berbeda sesuai dengan aturan pemateri. Kuning 🡪 berkumpul  Hijau 🡪 motivasi  Pink 🡪 pelukan  Jingga 🡪 pelayanan  Peserta diajak untuk bermain menggunakan sticky notes yang sudah dibagikan. Aturan mainnya sebagai berikut : Peserta harus berkeliling dan menanyakan kepada peserta lainnya tentang apa yang menjadi kebutuhannya  Bila jawaban peserta yang ditanyai itu sesuai dengan warna yang dipegang oleh penanya, maka penanya wajib memberikan satu sticky notes kepada penjawab Dilakukan terus untuk menanyai peserta lainnya hingga sticky notes habis.  Para peserta nampak sangat menikmati permainan tersebut. Bertanya dan ditanya oleh peserta lainnya tentang kebutuhannya. Bukankah sebuah kebahagiaan jika kita ditanya tentang apa yang menjadi kebutuhan kita ? semacam ada yang mau memperhatikan kita begitu.  Sepuluh menit permainan selesai. Yang baru saja dilakukan bersama adalah simulasi menanyakan kebutuhan murid. Dalam profesi kita sebagai guru, menanyakan apa yang menjadi kebutuhan murid adalah hal yang sangat penting untuk kita dilakukan sebelum kita memulai proses belajar mengajar. Kebutuhan murid adalah input utama bagi kita sebagai guru untuk menyusun bahan belajar. Dengan begitu, rencana dan proses belajar yang kita buat benar-benar berangkat dari murid. Setiap murid pasti memiliki satu kebutuhan dominan. Entah itu kebutuhan berkumpul, motivasi, pelukan, atau pelayanan.  Penerapan bahasa cinta ini membutuhkan latihan dan kecerdasan guru. Jangan sampai setelah melakukan pemetaan kebutuhan ini kemudian kita menjadi terjebak, tidak bisa menjadikannya sebagai formulasi bahan belajar mengajar. Misalnya ada anak yang kebutuhan dominannya adalah motivasi, kemudian dia hanya mau belajar dengan diberikan cerita-cerita motivasi saja dan mata pelajaran lainnya diabaikan. Hal ini tidak boleh. Kebutuhan dominan adalah inputan bagi kita untuk memberikan penyikapan yang tepat sesuai dengan kondisi murid, bukan untuk mengikuti apa maunya murid kemudian mengabaikan proses belajar. Dengan mengetahui kebutuhan dominan, kita akan tahu kemampuan murid dan bagaimana kita memposisikan diri untuk menjadi teman belajar murid kita, tanpa memaksa atau memberikan target belajar yang jauh dari kondisi realistis murid.  Sepintar dan sekreatif apapun, bila kita tidak menggunakan cinta maka proses belajar tidak akan diterima dengan baik oleh murid.  Mudik kali ini memberikan wawasan baru kepada kita tentang media literasi, yaitu komikstrip. Komikstrip yang selama ini hanya kita kenal hanya sebagai media hiburan atau meme di media sosial, ternyata bisa juga kita gunakan sebagai media untuk proses pembelajaran kita di kelas.  Di sesi kedua, Guru Ipin kembali mengingatkan kita untuk memulai awal tahun ajaran baru dengan membuat pemetaan tentang kebutuhan murid. Dengan mengetahui kebutuhan murid, kita akan bisa membuat sistem pembelajaran yang memanusiakan hubungan di kelas, yang berangkat dari murid. 

Apakah Kegiatan Literasi di Sekolah Bisa Berdampak pada Murid?

Hari Minggu adalah hari yang ditunggu bapak/ibu guru, karena ada mudik (temu pendidik) dengan konsep yang asik dan menarik. 17 Maret 2019, pagi itu gerimis datang tetapi tidak menyurutkan semangat bapak/ibu guru untuk belajar di SD Muhammadiyah 02 Bendan Pekalongan bersama guru Nazilatul Khusna dan guru Zidnil Karomah. Temu pendidik dengan tema “Kegiatan Literasi Bermakna” merupakan temu pendidik yang ke-23 yang dilaksanakan oleh KGB (Komunitas Guru Belajar) Pekalongan. Nazilatul Khusna adalah guru di SD Baitussalam 01 Pekalongan yang menyampaikan materi tentang “Membangun Budaya Literasi di Sekolah.“ Tahun 2018 yang lalu, di sekolah saya baru memulai kurikulum 2013. Tetapi dengan adanya kurikulum tersebut, justru menjadi keresahan bagi guru. Terlebih guru kelas satu dan empat, karena di dalam kurikulum 2013, terdapat program yang mewajibkan anak setiap harinya harus membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Okey, jika membaca 15 menit diterapkan di kelas empat, ya memungkinkan saja, karena murid-murid sudah bisa membaca dengan lancar. Namun, jika hal itu diterapkan di kelas satu, bagaimana? Susah! Apalagi untuk murid yang belum bisa membaca. Jangankan membaca, hampir keseluruhan murid belum hafal huruf. Duh, bagaimana coba?!”, paparnya. Peserta mudik sangat antusias mendengarkan pemaparan bu Nazil tentang keresahannya dalam menghadapi kurikulum K13. Mengenai program literasi, beliau tidak menggembar-gemborkan apa itu literasi kepada murid-muridnya. Tetapi, sebisa mungkin beliau mencoba untuk memperkenalkan program literasi di sekolah. “Apa sih literasi itu? Apakah hanya sekedar membaca? Apakah dengan membaca 15 menit sebelum memulai pelajaran akan berdampak pada murid?” Guru Nazil memulai materinya dengan bertanya tentang literasi dan membuka sudut pandang peserta mudik tentang literasi. “Tantangan terbesar di kelas bagi saya adalah menjelaskan materi. Terlebih masih ada beberapa murid kelas dua belum lancar membaca, dan juga ada yang malas sekali menulis. Saya sering kewalahan ketika menyampaikan materi. Suatu hari ketika pelajaran bahasa Indonesia, saya mengajak murid-murid mengunjungi perpustakaan. Kemudian saya menyuruh mereka mengambil buku cerita, lalu menugaskan untuk membuat rangkuman terhadap apa yang sudah mereka baca. Sebelumnya saya telah menjelaskan berkali-kali materinya, tetapi setelah saya menyuruh mereka demikian, hasilnya nihil alias gagal. Hanya beberapa murid saja yang paham. Dari situlah saya mulai berpikir. Aduh bagaimana ya? Apakah ada yang salah dengan cara saya? Atau jangan-jangan macam literasi itu banyak”, kata beliau. Beliau melanjutkan ceritanya: “Saya mencoba menelusuri dengan mengikuti temu pendidik di KGB Pekalongan dan bertanya-tanya kepada guru-guru saya juga. Ternyata, literasi itu sangat luas. Makna literasi sesungguhnya adalah belajar. Literasi tidak hanya sekedar membaca, menulis pun termasuk literasi. Nyatanya kemampuan membaca dan kemampuan menulis sangat erat hubungannya. Membaca tanpa menulis, maka akan mengakibatkan lupa. Sedangkan menulis tanpa membaca, maka proses menuliskannya tidak akan berkembang”. Melalui ilmu yang diperolehnya beliau langsung mencoba mengaitkan antara kemampuan membaca dan kemampuan menulis murid. Dalam materi yang disampaikannya, beliau bercerita tentang salah satu siswanya yang bernama Tiara: “Tiara adalah anak pendiam dan selalu menjadi bahan perbincangan anak-anak karena nilainya selalu saja rendah. Memang, kemampuannya dari awal kelas satu berada di bawah rata-rata teman-temannya. Namun, Alhamdulilah dia bersikap biasa-biasa saja atau cuek ketika diejek temannya. Setelah kelas dua, saya mengamati bahwa dia sudah mengalami perubahan dalam hal membaca. Kemampuan membacanya hingga sekarang cukup baik. Akan tetapi, ketika disuruh menulis dia belum sempurna, walaupun dia hanya menyalin tulisan saya di papan tulis. Mengapa masih saja salah-salah? Ini nih menjadi bagian penting dari literasi. Korelasi antara membaca dan menulis harus diperhatikan”. Beliau berusaha untuk menyelesaikan permasalahan mengenai miskonsepsi literasi selama ini. Beliau melanjutkan ceritanya: “Suatu ketika, mata pelajaran bahasa Indonesia membahas tentang puisi. Setelah selesai menjelaskan dan memberi beberapa contoh puisi, saya mencoba memberikan tugas kepada murid-murid untuk membuat puisi bertema ibu. Membebaskan imajinasi mereka sendiri. Saya berjalan dari meja ke meja guna melihat kreasi murid-murid. Beberapa murid merasa kebingungan menuliskan hingga saya pun akhirnya membantu menyebutkan kata-kata. Akan tetapi, beberapa murid yang lain ada pula yang berusaha sendiri, termasuk Tiara (anak yang mampu membaca tapi tidak mampu menulis dengan benar). Hasil karya Tiara membuat saya takjub. Berikut karyanya: Kemudian beliau mengakhiri ceritanya: “Ternyata dibalik kekurangan Tiara yang demikian, nyatanya dia mampu menuliskan kata-kata mesra untuk ibunya. Disitulah saya tersadar bahwa kemungkinan daya mengarangnya cukup baik. Dia mampu berimajinasi. Nah, itu merupakan proses literasi lhoo…!! Literasi bukan sekedar memahami huruf abjad. Tapi proses merangkai kata pun bisa”. Guru Nazil pun menutup pembahasannya dengan memberikan sebuah kalimat bermakna: “Dunia sekarang cepat sekali berubah. Jika saya tidak MEMULAI, maka saya akan TERTINGGAL”. Peserta temu pendidik sangat antusias mendengarkan pengalaman beliau dalam melaksanakan praktik pembelajaran di kelas. Selanjutnya, materi disampaikan oleh guru Zidnil Karomah yang merupakan guru di SD Muhammadiyah 02 Bendan Pekalongan. Guru Zidnil menyampaikan materi “Literasi Asik, Ajak Anak Aktif”. Literasi sering dihubungkan dengan kegiatan membaca. Membaca merupakan kata kerja yang sering dipasangkan dengan objek berupa buku. Apakah literasi itu lingkupnya hanya kegiatan membaca buku? tentu semua sepakat jawabannya TIDAK. Ketika program literasi di sekolah hanya terpusat pada aktivitas siswa untuk membaca 15 menit di awal pembelajaran saja, kemudian mencatat halaman buku yang telah selesai mereka baca di kartu baca (literasi), maka kegiatan tersebut lama-lama akan membosankan. Guru akan menjumpai siswa yang lebih senang bercerita dengan teman-temannya dibandingkan membaca buku cerita mereka. Bagaimana usaha guru sebagai pendidik untuk membuat kegiatan literasi yang asik, yang bisa mengajak mereka untuk aktif? Beliau menjawab: “ Salah satu usaha yang saya lakukan adalah mengajak siswa untuk membaca tetapi melalui video. Video tersebut berupa cerita pendek (kartun animasi) yang ada subtitlenya dalam bahasa Inggris. Saya mendapatkan video tersebut dari youtube. Banyak sekali jenis videonya, oleh karena itu kita juga harus menyesuaikan dengan tema atau materi yang akan kita sampaikan”. Kemudian beliau menampilkan video dan mengatakan: “Saya menggunakan video yang berjudul “The Old Lion and the Fox”, ketika saya harus mengajarkan materi tentang hewan (animals). Pertama, saya putarkan full video tersebut. Siswa tampak antusias mengamati dan mendengar cerita dari video yang diputar. Setelah itu, saya ajak mereka untuk berdiskusi tentang isi ceritanya, kira-kira tentang apa?” Di awal sebagian jawaban siswa adalah hasil dari pengamatan gambar videonya saja, yaitu siswa belum memahami arti dari bacaan cerita bahasa inggris tersebut. Dari informasi yang siswa dapatkan, semua ditampung untuk selanjutnya dirangkai bersama-sama menjadi cerita yang utuh. Termasuk didalamnya … Read more

Merdeka Belajar, Mewujudkan Pengalaman Belajar yang Bermakna

Pertama kali mendengar kata “merdeka belajar” cukup menggelitik hati saya. Apakah guru  bebas seenaknya mengajar, atau apakah murid bebas seenaknya belajar. Hal ini terjawab sudah setelah saya bergabung dalam KGB Pekalongan. Saya mulai mengenal KGB Pekalongan sejak mengikuti kegiatan Ransel Ramadhan tahun lalu. Mengikuti kegiatan-kegiatan KGB Pekalongan membuat semangat belajar saya semakin bertambah. Dengan mengikuti kegiatan KGB Pekalongan membuat saya sadar bahwa guru haruslah selalu meng-upgrade ilmu, guru harus selalu belajar, lebih-lebih bisa berbagi kepada teman sesama guru. Semakin lama semakin kami penasaran dengan praktek merdeka  belajar. Akhirnya ketika TPN 2018 saya memilih mengikuti kelas Guru Unun tentang Merdeka Belajar. Tidak hanya itu saja, sembari praktek merdeka belajar di kelas, agar sewaktu-waktu saya bisa kembali membuka materi, saya beli buku tentang merdeka belajar. Saya ingin praktek merdeka belajar yang positif ini menyebar di kota Pekalongan. Karena pengalaman belajar bermakna dapat terwujud karena adanya kemerdekaan belajar bagi guru dan siswa di sekolah. Dengan melobi sana sini, akhirnya ada sekolah yang bersedia untuk dijadikan tempat. Pada hari Kamis, 23 Mei 2019 pukul 13.00 WIB saya berkesempatan mengadakan nobar merdeka belajar. Tidak hanya nobar merdeka belajar saja, tetapi saya mengajak Guru Desi dan Guru Zidnil untuk berbagi. Guru Zidnil berbagi materi merdeka belajar menjelang PAT dan Guru Desi berbagi materi peningkatan literasi dengan panen tumbar. Tentang Guru Zidnil, beliau berbagi 3 kegiatan sekaligus. Yang pertama math challenge. Math challenge ini untuk mengetahui seberapa pemahaman anak terkait Matematika untuk persiapan PAT. Guru Zidnil mengolahnya dalam bentuk games. Anak tak terasa kalau masih evaluasi. Beberapa soal Matematika disebar di beberapa tempat dan anak menjelajahi beberapa sambil mengerjakan soal. Anak terlihat antusias mengerjakan dan belajar. Kegiatan kedua adalah smart id. Guru Zidnil memanfaatkan meja dan lantai untuk menempel double tip. Saling mengkaitkan dan membentuk sudut. Anak dibagi dalam beberapa kelompok dan dengan metode widow shopping. Ternyata cara ini membuat anak lebih semangat belajar daripada dengan metode ceramah saja. Kegiatan ketiga, Guru Zidnil berbagi pembelajaran dengan film memakai sinedu.id yang dipadukan dengan materi bahasa Indonesia. Anak-anak sangat senang dengan cara ini.  Selanjutnya, Guru Desi berbagi materi tentang peningkatan literasi dengan panen tumbar (papan temple dan kartu bergambar berbantuan kamus digital). Guru Desi mengajar mapel TIK. Sebelumnya guru Desi memilih musik untuk mengiringi pembelajaran. Sambil bermain dan belajar. Tiap kali music berhenti, giliran anak mencoba membaca kartu dan kemudian menempel pada papan. Kartu ini berisi gambar perangkat keras computer disertai dengan tulisan. Jadi anak tak hanya mengetahui tulisan dan pengucapan bahasa Inggris tetapi juga tahu fungsi dari alat tersebut. Jika anak masih salah dalam pelafalan maka bisa belajar sambil membuka oxford living dictionaries. Sebelum Guru Desi dan Guru Zidnil berbagi, kita mengadakan nobar merdeka belajar, kemudian dilanjut dengan diskusi, dan terakhir adalah refleksi. Kesimpulan hasil diskusi kami di antaranya adalah kita sepakat bahwa : Proses belajar membutuhkan kemerdekaan dan harus melibatkan semua pihak Pelajar dan guru yang merdeka mempunyai komitmen pada tujuan belajar. Pelajar mengetahui mengapa dan untuk apa dia belajar, begitu pun guru Pelajar dan guru merdeka adalah yang mandiri mengatur strategi untuk mencapai tujuan belajar. Seperti menekankan bahwa motivasi internal dalam belajar sangatlah penting, pelajar harus dilibatkan dalam merencanakan tujuan belajar, menjelaskan manfaat dan tujuan belajar, memberikan dukungan yang tepat, memberi kritik yang konstruktif, pelajar bertanggung jawab dalam proses belajarnya sendiri, merancang tantangan belajar, memberikan pilihan dalam proses belajar, melibatkan pelajar dalam proses asessment Pelajar dan guru merdeka harus melakukan refleksi. Memahami sejauh mana belajar, mengetahui sisi mana yang perlu dikembangkan, memantau seberapa jauh proses perjalanan belajarnya kemudian merencanakan follow up Pengalaman belajar bermakna akan terwujud jika ada kemerdekaan dalam belajar. Belajar itu tidak harus dengan ahli, tapi dengan sesama guru pun bisa belajar Belajar sebagai kebutuhan Belajar dengan tujuan dalam konteks Belajar butuh waktu Kompetensi tumbuh bersama lingkungan Merdeka belajar itu kita bisa belajar dengan siapapun, di manapun kita berada, dan kapan pun selalu belajar. Setelah nobar dan berdiskusi, saya mengajak teman-teman guru untuk berefleksi bersama. Setelah nobar kita jadi semakin sadar bahwa selama ini kita masih terkurung dengan segala miskonsepsi belajar. Padahal sebenarnya merdeka belajar adalah sebuah kebutuhan. Kita semua sepakat mengikis sedikit demi sedikit miskonsepsi yang selama ini ada dalam diri kita.

Merdeka Belajar, Kesadaran Sudah Dijajah Motivasi Eksternal

Sebagai ketua MGMP Bahasa Indonesia saya merasa tergerak untuk mengajak para pengurus MGMP untuk merdeka belajar. Ya, istilah Merdeka belajar pertama kali saya dapatkan saat mengikuti The Festeachval yang diselenggarakan Komunitas Guru Belajar Pekalongan tahun 2018 di Unikal. Kelas yang saya pilih dalam kegiatan tersebut yaitu Kelas Merdeka Belajar yang di pandu oleh Pak Bukik Setiawan. Setelah mengikuti kegiatan tersebut dan membaca buku Merdeka Belajar saya menjadi sadar bahwa selama ini ternyata ada motivasi-motivasi eksternal yang menjajah guru. Oleh karena itu, saya ingin mengajak para guru Bahasa Indonesia di Kota Pekalongan untuk Merdeka Belajar, mulai dari pengurus MGMP Bahasa Indonesia Kota Pekalongan. Akhirnya pada tanggal 27 Mei 2019 saya berkesempatan mengajak teman-teman pengurus MGMP Bahasa Indonesia Kota Pekalongan untuk menonton film Guru Merdeka Belajar. Kegiatan tersebut saya laksanakan di SMP 5 Pekalongan jam 09.00 sampai dengan 10.30 WIB. Memang awalnya teman-teman MGMP kurang memahami pesan film tersebut. Akhirnya setelah diskusi dan pemutaran film yang kedua kali mereka baru bisa memahami tentang miskonsepsi pendidikan dan guru merdeka belajar. Setelah menonton dan berdiskusi saya mengajak pengurus untuk melakukan refleksi. Dan teman-teman pengurus menyadari bahwa selama ini telah terjajah dengan motivasi eksternal seperti takut dengan atasan, belajar untuk sertifikat, dan lain-lain. Dan setelah tahu konsep tentang merdeka belajar saya dan teman-teman sepakat untuk bangun dari  zona nyaman dan ingin meningkatkan diri karena dorongan internal bahwa untuk mengembangkan diri dan untuk merdeka belajar memang sebuah kebutuhan.

Guru Merdeka Belajar, Apakah Kita Melakukan Miskonsepsi Guru Belajar?

Dalam sebuah adegan persidangan akademik akibat menjalankan praktik pengobatan tanpa lisensi, Hunter “Patch” Adams, mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran Virgina, mengajukan pembelaannya bahwa mahasiswa kedokteran perlu berkolaborasi secara erat dengan perawat.  Perawatlah yang tiap hari berinteraksi dengan pasien dan, karena itu, mereka dapat menceritakan berbagai hal tentangnya. Perawat punya begitu banyak kekayaan pengalaman yang sangat bermanfaat bagi calon dokter. Setidaknya kesan itu yang terlukis jelas di film Patch Adams. Hal yang sama agaknya juga berlaku di dunia pendidikan. Pihak yang setiap hari berhubungan dengan murid adalah guru. Merekalah yang memiliki keragaman pengalaman pengajaran untuk dibagi kepada rekan guru lain dan diolah menjadi solusi-solusi pembelajaran. Melalui itu, guru tidak hanya belajar perihal materi pelajaran, tetapi juga macam-macam metode pembelajaran yang cocok di situasi tertentu, kelas tertentu, atau bahkan murid tertentu. Itu lah yang kiranya sedikit tergambar di acara Nonton Bareng  (Nobar) Guru Merdeka Belajar di SMK Negeri 1 Karangdadap, Pekalongan, Jumat (31/5/2019), yang dihadiri belasan guru sekolah itu. Merdeka Belajar dan Kebiasaan Mengajar “Saat bicara tentang merdeka belajar, selalu terbayang anak-anak,” kata Najelaa Shihab, pembicara dalam video yang dinikmati peserta. Merdeka belajar, yang mulai bergaung luas berkat giatnya Komunitas Guru Belajar (KGB) atas inisiasinya, merupakan cara pandang yang humanis dan terpusat pada murid. Diawali dengan pengenalan miskonsepsi guru belajar, peserta nobar kemudian membandingkan praktik pembelajaran yang lazim dilakukannya dengan miskonsepsi tersebut.  “Yang sesuai dengan keadaan saya ada di poin tiga, yaitu cukup tahu ‘how to’ dalam mengajar,” kata Guru Yeni, pengajar Matematika. Lebih jauh, ia juga menceritakan pengalaman mengajarnya yang amat berkesan, yakni saat mendapati muridnya mengerjakan salah satu soal Matematika dengan cara yang bahkan tidak terpikirkan sebelumnya oleh Guru Yeni.  “Bagi saya ini termasuk merdeka dalam memilih cara, dan saya membebaskan murid yang punya ide-ide seperti ini,” lanjutnya dengan semangat. Guru Musyafiah selaku fasilitator mengatakan, hadirnya guru-guru SMK Negeri 1 Karangdadap dalam acara tersebut merupakan bukti tindakan yang menegasikan salah satu miskonsepsi tadi, yakni ‘guru hanya mau belajar jika ada iming-iming sertifikat atau motivasi eksternal lainnya’. Dipaparkan dalam video itu, setidaknya terdapat lima miskonsepsi guru belajar yang disampaikan Najelaa, diantaranya yaitu guru hanya mau belajar jika ada iming-iming sertifikat, guru hanya dapat belajar dari para ahli,  dan belajar itu soal kompetisi, bukan kolaborasi.  “Permasalahan pendidikan memang sangat kompleks. Untuk mereformasinya pasti butuh waktu dan kesepakatan dari berbagai kepentingan,” lanjut Najelaa.  Oleh karenanya menjadi guru belajar adalah sebuah proses. Selanjutnya guru Musyafiah memaparkan tiga ciri guru belajar, antara lain komitmen pada tujuan, mandiri, dan refleksi, yang mendapat beragam respon dan pertanyaan dari peserta. Menanggapi ciri guru belajar tersebut, Guru Fullu, pengajar matematika, mengatakan, “Kita sebenarnya perlu mencari banyak aplikasi ilmu matematika dalam kehidupan sehari-hari agar murid tahu dan sadar bahwa belajar matematika punya manfaat praktis.” Ia juga melanjutkan, manfaat matematika muncul sesuai dengan profesi yang dijalani. Sebagai pedagang dan peneliti, misalnya, murid akan melihat bagaimana mapel itu diterapkan. Ketika ditanya mengenai aktivitas refleksi, semua peserta setuju bahwa langkah itu telah dilakukan, hanya saja tidak didokumentasikan.  “Refleksi harus dicoba, dilakukan dengan variasi cara, dan didokumentasikan,” ujar Guru Musyafiah memberi tanggapan. Refleksi membantu guru dalam melihat  dampak pembelajaran yang telah guru dan murid lakukan. Hal ini perlu dilakukan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk pembelajaran selanjutnya. Antusiasme  Ketika hendak menutup sesi refleksi bersama, baik mengenai miskonsepsi merdeka belajar maupun ciri guru belajar, sebagai akhir acara nobar, salah satu peserta menginterupsi fasilitator dengan pertanyaan.  Meski pada awalnya menolak, Guru Musyafiah, yang juga penggerak KGB Pekalongan, akhirnya memberikan tanggapan. Tidak hanya kepada satu penanya, bahkan empat hingga lima penanya. Diskusi pun berlangsung. Pertanyaan peserta lebih berupa kemungkinan bagaimana mewujudkan konsep merdeka belajar daripada sikap keputusasaan. Melihat antusiasme guru SMK Negeri 1 Karangdadap di acara Nobar Guru Merdeka Belajar itu, Guru Musyafiah mengajukan tawaran apakah berminat untuk mengadakan Temu Pendidik Sekolah (TPS). “Saya yakin sebenarnya bapak dan ibu guru ingin mengadakan TPS, terlihat dari pertanyaan yang panjenengan semua sampaikan ke saya beberapa waktu lalu.” ungkapnya diakhir acara. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Guru Merdeka Belajar, Melawan Miskonsepsi Belajar

Hari Jum’at sore tanggal 24 Mei 2019, dalam rangka Temu Pendidik Daerah (TPD), Komunitas Guru Belajar (KGB) mengadakan nonton bareng atau nobar video Guru Merdeka Belajar di salah satu rumah penggerak, Guru Niken. Sambil menunggu waktu berbuka puasa, kami mencoba mengobrol ringan sambil menonton bersama video ibu Najelaa Shihab, pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar, saat berbicara di acara Temu Pendidik Nasional (TPN) 2016.  Banyak hal yang kami dapatkan setelah menonton video ini. Kami merasa mendapat sebuah pencerahan sebagai seorang guru. Pencerahan yang nantinya diharapkan dapat memberikan perubahan bagi kami. Perubahan yang sangat penting bagi kami yang mengabdikan separuh waktu dan tenaga untuk selalu menjadi bagian dari dunia pendidikan Indonesia. Apa yang kami rasakan adalah guru perlu menjadi guru yang merdeka belajar. Guru yang tidak berhenti untuk mengembangkan dirinya dan merasa terkekang. Guru yang terus berusaha melawan beberapa miskonsepsi yang terjadi di pendidikan. Dari sinilah kami menjadi paham dan menyadari bahwa setidaknya guru harus mencari solusi menjadi guru merdeka belajar di kelas untuk membawa pembelajaran di kelas lebih bermakna.  Sebelum menginjak acara inti yaitu pemutaran video guru merdeka belajar, saya sebagai fasilitator sekaligus moderator membuka acara nonton bareng dengan memberikan gambaran susunan acara. Peserta yang seluruhnya adalah guru terlihat sangat antusias. Ada sekitar 13 peserta yang hadir saat itu sehingga saya juga mengajak mereka untuk bertukar pikiran tentang hal-hal yang berkaitan dengan arti kata “merdeka”, apa sebenarnya merdeka belajar, bagaimana menciptakan kelas yang merdeka belajar, dsb. Ada beberapa jawaban mengenai apa itu merdeka belajar dari salah satu guru yang berkomentar bahwa guru merdeka belajar adalah guru yang punya kebebasan untuk belajar apapun yang tujuannya untuk selalu upgrade kemampuan diri. Setelah sesi bincang santai dilanjutkan sesi pemutaran video dengan durasi 15 menit.  Video yang berisi pemaparan dari Ibu Najelaa Shihab ini membuka jendela wawasan para peserta terutama diri saya pribadi. Video ini mampu menjawab rasa keingintahuan saya selama ini bahwa guru adalah seseorang yang perlu merasa merdeka dalam belajar. Bukan hanya saya saja yang merasakan pentingnya merdeka belajar, namun semua peserta guru merasakan hal sama. Bu Najelaa menjelaskan banyak sekali cara-cara seorang guru yang merdeka belajar. Menurut beliau ada tiga hal urgensi utama guru sebagai pendidik yang merdeka yaitu; 1) Komitmen, 2) Memiliki kemandirian, dan 3) Berefleksi. Di bawah ini akan saya paparkan secara singkat tiga hal di atas sesuai dengan apa yang Ibu Najelaa Shihab jelaskan di dalam video yang kami tonton bersama; 1). Komitmen Guru harus memiliki komitmen kuat terhadap tujuan yang akan diraih. Tujuan pembelajaran yang memberi pengaruh terhadap perkembangan anak didik di dalam kelas. Tujuan yang membawa guru untuk selalu semangat menciptakan inovasi-inovasi pembelajaran.Namun, ada saja tantangan yang dirasakan di dalam prosesnya yaitu kadangakala guru lupa membedakan mana yang termasuk cara dan tujuan komitmen. Banyak guru malah menghabiskan waktunya untuk fokus mengurus tugas administrasi, menyiapkan akreditasi, atau ketentuan birokrasi lainnya yang sebenarnya adalah cara namun kemudian menjadi prioritas dan tujuan utama. Sehingga, guru cenderung mengesampingkan komitmen awal yang dimiliki. 2). Kemandirian Dalam kemandirian, ada sebuah anak tangga tingkatan dimulai dari tingkata pertama yaitu anak tangga (1) manipulasi, (2) kesadaran, (3) interaksi/dialog, (4) masukan/konsultasi, (5) kemitraan, (6) pemberdayaan, (7) kendali, dan (8) mandiri. Menjadi guru mandiri tidaklah mudah karena ada banyak anak tangga yang perlu dilewati dan konsistensi sehingga menjadi guru yang memegang kendali atas proses belajar masing-masing dan kemudian berada di atas puncak sebagai guru mandiri.  3). Refleksi Kegiatan refleksi adalah kegiatan melihat cermin dan mengamati diri sendiri sebagai pelaku utama dalam kelas namun hal ini sulit untuk dilakukan. Akhirnya, banyak diantaranya yang selalu berdalih untuk melihat pelaku lain sebagai alasannya, seperti masyarakat belum paham, murid-murid tidak mengerti, orang tua yang menentang yang faktanya diri sendirilah yang merasa takut untuk berubah.  Ada banyak hambatan dan permasalahan untuk menjadi guru yang merdeka belajar yaitu memahami adanya miskonsepsi di dalam dunia pendidikan. Miskonsepsi yang perlu ditindaklanjuti oleh guru belajar agar dapat mewujudkan sistem pendidikan nasional, yaitu: Guru mau belajar seringnya terdorong karena motivasi eksternal (mendapat sertifikat, insentif, namun sejatinya guru perlu belajar sebagai kebutuhan alamiah. Tidak ada paksaan ataupun iming-iming saat mau belajar. Guru banyak yang ingin belajar dari para pakar pendidikan, padahal belajar antarsesama guru dapat menjadi salah satu cara efektif untuk saling bertukar informasi dan berbagi tentang praktik baik di pembelajaran. Guru hanya terbatas membangun pertanyaan dengan “how to”, tetapi secara aplikatif guru perlu mengenalkan hal-hal yang berbeda dan menarik kepada murid-muridnya. Guru yang adaptif belajar dengan tujuan dalam konteks yaitu dengan mmberikan pertanyaan-pertanyaan tentang “why” dalam setiap kondisi di dalam kelas. Guru sering fokus terhadap pemenuhan target yang dipaksakan  untuk selesai serta nilai capaian KKM dengan mengejar ketertinggalan materi di dalam kompetensi dasar pembelajaran. Namun, secara alami, proses belajar membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Seiring dengan proses belajar yang membutuhkan waktu, guru dapat menciptakan inovasi dengan baik dengan melihat dan memahami inovasi tersebut apakah sudah sesuai kebutuhan murid atau belum. Guru lebih mengutamakan kompetensi secara individual ketika belajar. Tetapi, guru merdeka belajar adalah mereka yang berani mengambil aksi untuk kompetensi tumbuh bersama lingkungan. Oleh karena itu, guru butuh teman kolaborasi untuk bertindak dan menyamakan persepsi menjadi guru merdeka belajar.  Setelah pemutaran video, sesi berikutnya adalah refleksi bersama. Di sesi refleksi, guru secara bergantian menjawab pertanyaan. Beberapa peserta menjelaskan pengalamannya berkaitan dengan miskonsepsi yang terjadi di lingkup pendidikan sekolah mereka. Pak Huda berpendapat bahwa miskonsepi yang beliau rasakan adalah belajar dikejar target materi yang terkadang membuat murid jenuh dan tertekan ditambah dengan adanya kompetisi-kompetisi atau lomba yang dapat mengurangi jam murid untuk belajar. Padahal idealnya, belajar membutuhkan waktu yang tidak sebentar (tidak bisa instan). Selain itu, masih banyak pendapat lain terkait menjadi guru merdeka belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan miskonsepsi di dunia pendidikan.  Akhirnya dari serangkaian kegiatan nonton bareng video merdeka belajar, kami sama-sama memahami bersama bahwa guru yang merdeka belajar tidak semudah yang dibayangkan. Guru merdeka belajar yaitu dia memiliki komitmen pada tujuan pencapaian, meningkatkan kemandirian, dan berusaha melakukan refleksi di setiap akhir kegiatannya. Pastinya guru merdeka belajar adalah guru yang memiliki semangat berkembang dan mandiri demi terwujudnya pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Merdeka Belajar, Mengembalikan Tujuan Guru Belajar

“Merdeka belajar” itulah kata yang sering kita dengar di komunitas guru belajar. Guru belajar, akhir-akhir ini itulah yang dilakukan oleh banyak guru disetiap pelosok negeri salah satunya guru-guru MI Walisongo Kranji 01, Pekalongan yang terus belajar, dan salah satu bentuk realisasinya adalah dengan mengadakan In House Training atau biasa disebut IHT setiap hari senin dan juga diskusi santai yang dilakukan beberapa guru disela-sela kesibukan sekolahan. Namun seiring waktu kadang kita lupa apa itu tujuan guru belajar? Apakah berubah hanya sebagai formalitas atau adat sekolah saja tanpa ada esensi lain. Dari hal tersebutlah diadakan nonton bareng video Merdeka Belajar pada hari Kamis, 2 Mei 2019 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Video yang ditayangkan ini adalah cuplikan dari kegiatan Temu Pendidik Nusantara tahun 2016, dimana Ibu Najelaa shihab (Pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar) membahas tentang Merdeka Belajar. Banyak yang dijelaskan oleh Ibu Najelaa Shihab tentang merdeka belajar. Beliau mengatakan bahawa kemerdekaan itu bukan diberikan begitu saja, namun harus diperjuangkan yakni melalui guru yang belajar, agar sampai pada yang dinamakan guru merdeka belajar. Video ini sangat tepat untuk memantapkan sebuah tujuan dari kegiatan yang sering dilakukan oleh guru belajar sehingga menjadi menjadi sebuah komitmen. Tujuan guru belajar adalah melawan miskonsepsi tentang proses guru belajar, karena banyak yang mengatakan guru hanya mau belajar jika mendapat insentif, guru hanya mau belajar jika mendapat sertifikat atau uang. Dan guru yang belajar di MI Walisongi Kranji 01 mau membuktikan bahwa guru belajar karena kebutuhan alamiah. Miskonsepsi tentang bahwa guru hanya bisa belajar dari para ahli, dari pakar pendidikan, padahal belajar paling efektif adalah belajar dari sesama guru karena guru butuh figur yang realistis yakni adalah teman sesama guru dan masih ada miskonsepsi lain. Jadi, Apa Merdeka Belajar? Banyak dari peserta nonton bareng ini begitu antusias untuk mengajukan pertanyaan atau sekadar curhat tentang keluh kesahnya menjadi seorang guru. Salah satunya Pak Azam (Guru MI Kranji 01) yang mempertanyakan “Apakah konsep merdeka belajar sejalan dengan kompetensi guru pedagogik, kepribadian, profesional, sosial?” pertanyaan tersebut dijadikan bahan diskusi antarguru, ada yang mengatakan saling mengisi, ada yang mengatakan kedua hal itu sejalan pun juga ada yang mengatakan, “Merdeka belajar adalah praktik dari kompetensi guru tersebut.” Banyak hal yang didiskuskan di dalam acara nobar tersebut, mulai dari apa yang di maksud dengan cita-cita anak yang melampaui batas, bagaimana sudut pandang tentang bahwa anak belajar butuh waktu , sedangkan realitanya di sekolahan konvensional guru selalu dikejar waktu untuk menyelesaikan materi sesuai target bahkan terkadang tidak peduli apakahanak-anak sudah menguasai materi tersebut atau belum, juga membahas tentang bagaimana merdeka belajar di kelas. Diskusi pun berjalan hangat dan renyah. Seluruh petanyaan yang muncul setelah sesi nobar, terjawablah semuanya, dan terjawab bersama dengan cara diskusi, sehingga diakhir acara nobar terwujudlah kesepahaman. karena setiap persoalan yang muncul dalam acara tersebut diselesaikan bersama, bukan oleh hanya satu orang. Itulah yang dibutuhkan oleh seorang guru, ngobrol atau diskusi tentang persoalan pendidikan yang membuat guru menuju pada merdeka belajar yang sesungguhnya. Bukan membahas administrasi saja, tapi yang terpenting adalah ekosistem dari pembelajaran kita, belajar kita bersama anak yang kadang perlu senantiasa diobrolkan dengan sesama guru, karena dengan mengobrol sesama guru, diskusi sesama guru, belajar sesama guru adalah hal tepat karena gurulah yang secara realitas hadir disekitar anak. MI Walisongo Kranji 01 berharap kedepannya praktik positif seperti ini bisa ditularkan ke teman-teman guru lain tidak hanya di MI kranji 01. Memang saat ini belum bisa mempraktikkan seluruh praktik baik dari komunitas guru belajar namun setidaknya kita di awal memulai untuk mengadaptasi sesuatu yang setidaknya kita bisa coba terlebih dahulu.

Bukan Literasi Biasa

BUKAN LITERASI BIASA Literasi sering dimaknai dengan kemampuan baca, tulis dan hitung. Literasi juga seringkali dilaksanakan sesuai program 15 menit membaca. Padahal, makna literasi lebih dari hanya itu. Mengangkat judul temu pendidik, Bukan Literasi Biasa, pagi itu, guru-guru yang berasal dari Pekalongan dan sekitarnya berkumpul di MAN 1 Kota Pekalongan, untuk belajar lebih lanjut memaknai literasi. Acara yang diadakan pada hari imlek yang cerah, 5 Februari 2019 itu diawali dengan materi berjudul “Personal Documentation Video” yang disampaikan oleh Guru Madya. Beliau menceritakan tentang media video yang dipraktikkan di kelas Universitas karena melihat fenomena yang sedang trend saat ini, seperti fenomena video challenge yang berbahaya, aplikasi TikTok dan fenomena video lain yang disalahgunakan. Melihat dampak negatif yang cenderung muncul, guru Madya memanfaatkannya sebagai wadah mahasiswa untuk berekspresi dengan memanfaatkan media video ini. Dalam personal documentation video ini, mahasiswa bisa mengangkat topik yang disukai dengan menggunakan pola OMC (Opening – Main – Closing). Tahap opening dimulai dengan menjawab pertanyaan what, where, when, who. Di tahapan selanjutnya, yakni main, mahasiswa menjelaskan topik dengan panduan pertanyaan menggunakan how. Sedangkan di tahapan terakhir yakni closing, mahasiswa akan menyimpulkan rangkaian topik yang tadi di bahas. Salah satu manfaat yang didapat dari kegiatan ini adalah mahasiswa dapat melatih kepercayaan diri untuk berbicara di depan umum menggunakan Bahasa Inggris. Lebih jauh lagi, kegiatan ini juga dapat membantu jika akan menempuh study di luar negeri atau tes IELTS. Dalam kesempatan ini, beberapa guru terlihat bersemangat unjuk gigi mendeskripsikan hal yang digeluti/ disukai dalam Bahasa Inggris. Guru Zinat mendeskripsikan tentang Pemilu karena beliau adalah anggota KPPS, sementara guru Kiki membahas tentang kopi karena beliau pecinta kopi. Narasumber berikutnya, Guru Inggil yang masih berstatus mahasiswa menceritakan pengalamannya menggunakan literature circle di klub membacanya. Beliau mengawali kelas dengan meminta peserta untuk mengunduh aplikasi Farfaria sebagai salah satu sumber bacaannya. Namun, pada dasarnya, guru bisa menggunakan buku apapun. Dalam literature circle ini, guru Inggil membagi peserta temu pendidik dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 6-8 orang. Kemudian, beliau memberikan peran kepada masing-masing anggota. Ada yang menjadi pendongeng, connector, illustrator, editor dan peramal. Masing-masing memiliki tugasnya tersendiri. Misalnya, connector bertugas untuk menghubungkan isi cerita dengan dunia nyata, dan peramal bertugas untuk meramalkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pada kesempatan ini, peserta temu pendidik diminta membaca cerita Thumbelina, lalu mempresentasikan perannya tadi. Gelak tawa terdengar karena khayalan peramal yang kadang tak terduga, atau melihat gambar sang illustrator yang jauh dari aslinya. Lebih menarik lagi karena guru Inggril memberikan giveaway pada sesi presentasi. Acara temu pendidik kali ini ditutup oleh Guru Dias yang mengawali kelasnya dengan ice breaking “Patung Pancoran”. Beliau membagikan tentang pengalaman saat menerapkan konsekuensi di sekolahnya. Guru Dias merupakan anggota STP2K (Satuan Tugas Pelaksana Pembinaan Kesiswaan) yang sering menangani siswa terlambat dan beberapa permasalahan lain terkait para siswa. Beliau menyatakan bahwa konsekuensi adalah sesuatu yang harus diterima jika melanggar kesepakatan yang dibuat sebelumnya. Alih-alih menghukum siswa yang sering terlambat, beliau lebih mengedepankan diskusi dua arah yang memiliki efek jangka panjang. Dalam membuat konsekuensi dengan siswa, guru perlu mempertimbangkan banyaknya konsekuensi, keterlibatan semua pihak, dan kejelasan poin aturannya agar konsekuensi tersebut dapat dilakukan secara berkesinambungan. Beliau juga menyampaikan bahwa konsekuensi bersifat tidak mutlak/ dinamis. Artinya, konsekuensi dapat diubah sesuai dengan kondisi yang ada. Namun, sebelum menerapkan strategi ini, siswa harus diedukasi terlebih dahulu, akan lebih baik jika dalam bentuk cerita sehingga mereka tidak merasa digurui. Di akhir sesi, guru Dias memberikan sebuah masalah dan meminta peserta temu pendidik untuk merancang strategi konsekuensi yang akan dilakukan dalam sebuah kelompok. Lalu, mereka mempresentasikan hasilnya. Dari temu pendidik kali ini, guru belajar literasi melalui media video, merancang literature circle yang menarik serta berliterasi dalam menerapkan konsekuensi. Pada dasarnya, literasi ada di semua bidang, tidak hanya dalam pelajaran Bahasa. Temu Pendidik siang itu pun ditutup dengan memberikan berbagai informasi acara dan pelatihan yang akan dilakukan KGB Pekalongan bulan Maret. Diantaranya yaitu kegiatan trauma healing untuk korban banjir di Pekalongan dan pelatihan Melukis Kelas dengan Video.