Menghidupkan Visi Sekolah dengan Asesmen

Beberapa waktu yang lalu, Nadiem Makarim umumkan bahwa UN dihapuskan. Kabar ini menggembirakan, sekaligus membingungkan. Hal ini menggembirakan karena kebijakan yang kurang mengapresiasi keunikan murid itu telah dihapuskan. Namun, hal ini pun membingungkan bagi sebagian pemimpin sekolah. Pemimpin sekolah seakan kehilangan tujuan. Bila bukan mengejar nilai, lalu mengejar apa? Pemimpin sekolah bingung akan diarahkan kemana guru dan murid yang dipimpinnya.  Adanya keresahan ini mendorong @SekolahMerdekaBelajar mengadakan Obrolan #PemimpinMerdekaBelajar (OPMB), pada 6 Maret 2021 di YouTube. Kali ini mengundang ibu-ibu pembelajar, yang akrab disapa Bu Andri dari Lazuardi Al-Falah Klaten sebagai narasumber dan Bu Pima dari Sekolah Cikal sebagai pemandu obrolan. OPMB kali ini mengangkat judul Bagaimana Asesmen Menghidupkan Visi Sekolah.  Kembali ke Visi Ibu Andri yang sempat memiliki keresahan tersebut pun akhirnya tersadar bahwa tidak perlu merasa kehilangan tujuan, kembalikan saja lagi pada visi sekolah, dimana hal ini nampak pada profil lulusan sekolah.  Membuat Program Asesmen Untuk mewujudkan profil lulusan yang sekolah cita-citakan. Salah satu langkah awalnya adalah dengan melakukan asesmen diagnostik. Asesmen ini dilakukan bukan untuk melabeli murid atau calon murid. Asesmen ini dilakukan untuk memetakan ada di titik mana warga sekolah berada, sehingga selanjutnya dapat dirumuskan strategi-strategi untuk mewujudkan profil murid yang dicita-citakan.  Bagaimana Bu Andri melakukan asesmen? Bu Andri menjawab, “Saya pakai inkuiri. Jadi betul-betul, saya memakai kekuatan bertanya. Dan saya melihat sebenarnya proses inkuiri itu setara atau selaras dengan visi misi kita.” Ia melanjutkan, “Kenapa? Karena saya ingin kalau saya banyak bertanya, guru-guru juga banyak bertanya, dan kemudian anak-anak pun juga akan banyak bertanya.” Terdapat 3 pertanyaan yang biasa Bu Andri tanyakan, “Apa yang kira-kira sudah oke? Apa yang belum oke? Dan kalau belum oke, kira-kira saya bisa bantu apa?” Ia pun menambahkan bahwa program asesmen ini bukan hanya memetakan kognitif, melainkan juga non kognitif. Bukan hanya dilakukan pada murid, melainkan juga pada guru. Dengan memetakan murid dan guru, maka pemimpin dapat menemukan bila ada gap di antara keduanya. Lalu pemimpin dapat membantu pengembangan guru, agar guru dapat memenuhi kebutuhan murid.  Dinamika Melaksanakan Asesmen Ketika menyimak obrolan, para peserta membayangkan penerapannya di sekolah masing-masing. Tentunya juga membayangkan tantangan-tantangan yang mungkin dihadapi. Para peserta nampak begitu penasaran dengan mengajukan banyak pertanyaan. Salah satu pertanyaannya adalah “Apakah rekan pemimpin atau guru lain langsung setuju, ketika diajak untuk melakukan asesmen tersebut? Bila tidak, apa yang ibu lakukan?” Bu Andri menyatakan bahwa belum tentu guru itu menolak, ada kemungkinan bahwa guru itu ragu-ragu. Guru butuh dukungan, bantuan, dan keyakinan bahwa ia mampu melakukannya. Guru butuh rasa aman bahwa dirinya tidak akan ditinggal, sehingga pemimpin mesti siap membantu ketika guru butuh bantuan. Ketika itulah pemimpin perlu menyiapkan dengan berbagai hal dan membantu dengan berbagai cara, agar guru menjadi mampu melakukannya.  Baca Juga: Siap AN, Siap Berubah? Begitulah cara Bu Andri menjawab kebingungannya atas kebijakan Nadiem Makarim menghapus UN. Bagaimana cara Bapak/Ibu mengatasi kebingungan serupa? Apa Bapak/Ibu terinspirasi melakukan asesmen yang selaras dengan visi sekolah?

Literasi, Senjata Melawan Berita Hoax

Apa anda tahu bahwa beberapa waktu belakangan ini grup-grup pendidik diramaikan oleh berita hoax tentang kebijakan menteri? Apa Anda tahu siapa penyebar berita hoax tersebut? Jawabannya adalah pendidik itu sendiri. Ketika banyak pendidik sibuk menyebarkan hoax tentang kebijakan pendidikan. KGB Bandung, Cimahi, Pekalongan dan Kampus Guru Cikal, justru sibuk meningkatkan literasi dengan Bedah Buku Literasi Menggerakkan Negeri bersama Pak Bukik dan Pak Suhud di SMKN 5 Bandung. Perilaku pendidik yang kontradiktif sekali bukan? Apa yang menyebabkannya? Apakah karena  literasi yang menyebabkan perilakunya menjadi berbeda? Tak Sekadar Membaca Buku Kelas TPD Karier Bedah Buku kali ini diawali oleh Pak Suhud. Ia menyampaikan bahwa literasi tidak hanya sekadar membaca buku, dengan menunjukkan banyaknya praktik baik dalam meningkatkan literasi, seperti literasi dengan berjalan-jalan, bermain game, bercerita, dll. Diakhir pemaparan, ia bertanya, “Lantas, apa itu literasi?”. Mendengarnya membuat peserta menjadi bertanya-tanya. Selagi peserta bertanya-tanya dalam hati, kelas pun berlanjut dengan pemaparan Pak Bukik. Ia menyampaikan bahwa karya buku kolaborasi KGB dan KGC seperti ini, dapat mendorong berbagai pihak agar menjadi lebih peduli dengan pendidikan. Itulah kekuatan buku ini. “Wow, iya juga ya, dengan begini perubahan kondisi pendidikan bisa menjadi lebih cepat,” bisik salah seorang peserta. Sesi pemaparan berakhir, sesi bertanya pun dimulai. Kelas ini pun menjadi semakin seru dengan pertanyaan yang dilontarkan. Pertanyaan pertama datang dari Bu Nining. Ia menyampaikan bahwa di awal buku ini, Pak Bukik langsung menghujam tentang program membaca senyap 15 menit, hal tersebut membuatnya terkejut. Pak Bukik pun menanggapinya. Ia berkata bahwa di Permendikbud, kegiatan membaca 15 menit memang diwajibkan, namun berdasarkan kenyataan, ketika kita tidak melaksanakannya pun, tidak ada sanksi yang diberikan, terlebih bila kita bisa menunjukkan pengganti kegiatan literasi yang lebih bermakna. Hal seperti itu ia beliau sampaikan dengan maksud membuka besi-besi penjara yang rasanya telah memenjarakan guru selama ini. Ia berharap sebagai guru, kita bisa merdeka, fokus pada tujuan literasi, serta mandiri dan kreatif mencari cara yang tepat untuk murid-murid kita, yang bisa jadi caranya tidak dengan membaca senyap selama 15 menit. Cara Meningkatkan Literasi Pertanyaan berlanjut dengan pertanyaan Pak Yoga, bila bukan dengan membaca senyap 15 menit, lalu bagaimana caranya kita bisa meningkatkan literasi? Pertanyaan tersebut sebenarnya sudah terjawab oleh paparan Pak Suhud di awal kegiatan ini. Pak Bukik menanggapi bahwa akan lebih bermakna apabila murid diberikan kemerdekaan memilih buku yang disukainya dan setiap anak diizinkan memiliki target membaca yang berbeda sesuai kemampuannya. Hal tersebut sesuai dengan 5M yakni memahami konsep, memanusiakan hubungan, membangun keberlanjutan, memilih tantangan dan memberdayakan konteks. Ruangan pun menjadi ramai karena seorang guru menyatakan bahwa faktanya ada anak yang membaca UUD dan ada juga anak yang berulang-ulang membaca buku yang sama dalam satu tahun. Kuat dugaan, hal tersebut terjadi karena kegiatan membaca senyap 15 menit dipandang tidak bermakna oleh murid-murid. Pak Bukik pun menambahkan contoh lain sebagai tanggapan dari pertanyaan Pak Yoga, “Anak dapat diajak berjalan-jalan ke taman, lalu ditanya tentang warna bunga dan jumlah bunga, lalu esok harinya diajak kembali ke taman, lalu ditanya pertanyaan yang sama, dan ditanya tentang perbedaan jumlah bunga hari ini dengan hari kemarin. Ini adalah literasi matematika.” Diskusi mengalir hingga menjawab pertanyaan Pak Suhud di awal tentang “Apa itu literasi?”. Literasi dapat dimaknai sebagai cita, cara, dan cakupan. Sebagai cita, literasi dimaknai sebagai kompetensi. Sedangkan sebagai cara, literasi dicontohkan dengan membaca buku untuk menyelesaikan masalah. Sebagai cakupan, dicontohkan dengan kegiatan membaca senyap 15 menit. Hal-hal yang kedudukannya cakupan, sebenarnya dapat mudah berubah sesuai konteks. Masalah Dalam Praktik Literasi Sekolah Bedah buku kali ini rasanya benar-benar menunjukkan bahwa masalah literasi seperti kegiatan membaca senyap 15 menit itu merupakan masalah nasional yang penting untuk diselesaikan. Kegiatan tersebut mestinya dapat berubah sesuai konteks. Namun mengapa kegiatan tersebut justru diwajibkan? Sebagai guru, apa yang perlu kita lakukan? Jawabannya adalah guru merdeka belajar. Guru yang fokus pada tujuan, mandiri pada cara, dan reflektif. Bicara tentang refleksi, kegiatan tersebut ditutup oleh refleksi salah seorang peserta, dan ditutup oleh moderator. Pak Iwan selaku moderator menyampaikan bahwa praktiknya, “literasi pun dapat dimaknai sebagai ritual”. Mendengarnya, tiba-tiba terasa sesak di dada, karena pemaknaan tersebut nyata ada, namun faktanya kebanyakan ritual yang ada justru membodohkan. Pak Iwan pun mengingatkan, jangan sampai buku ini pun membuat kita terjebak dalam miskonsepsi literasi. Potensi tersebut memang ada. Terima kasih telah diingatkan. Karenanya literasi menjadi sangat penting dimiliki oleh guru, murid, dan semua orang, apalagi di era digital seperti ini. Agar tidak ada lagi realita seperti yang sekilas disampaikan di awal, agar tidak ada lagi pendidik yang dengan mudah membagikan berita hoax. Dapatkah Anda bayangkan bagaimana literasi muridnya, bila pendidiknya mudah termakan hoax? Penasaran Bagaimana Menerapkan Literasi Numerasi di Sekolah Dasar? Yuk ikuti pelatihan online klik tombol di bawah ini

Bagaimana Video Pembelajaran yang Bermakna?

TPD Kelas Kompetensi berjudul Membuat Video Pembelajaran Bermakna Menggunakan Smartphone, diikuti sekitar 20 orang guru, manajemen sekolah, pustakawan, hingga orang tua murid, yang sengaja hadir ke SD Gagas Ceria. Mereka hadir dengan berbagai motivasi, dari yang ingin menghadirkan pembelajaran kreatif untuk murid-murid, ingin mendokumentasikan kegiatan untuk orang tua, bahkan dokumentasi untuk kepentingan promosi. Berangkat dari para peserta yang kebanyakan tak mampu membuat video, akankah pada akhirnya para peserta mampu menjadi kompeten membuat video? Pada hari pertama kelas kompetensi ini, yakni tanggal 4 januari 2020, kelas dipandu oleh Anggayudha (Aye) dari KGB Bandung. Kelas dibuka dengan ice breaking perkenalan yang selain menghadirkan keseruan, juga membuat para peserta jadi saling mengenal satu sama lain. Kelas berlanjut dengan sesi 1 tentang merancang strategi pengajaran bermakna menggunakan video. Sesi ini menjadi penting agar video yang nanti dihasilkan tidak hanya sekedar menjadi video biasa, namun juga dapat menjadi video pembelajaran yang bermakna. Sesi ini terdiri dari berbagai kegiatan yakni diskusi, gallery walk, pembahasan, dan praktik penyusunan startegi. Kegiatan diskusi berlangsung dengan sangat hidup, tak jarang perdebatan antar anggota kelompok pun terdengar. Hasil diskusinya dibuat dalam bentuk poster yang ditampilkan dalam galeri. Kegiatan gallery walk berhasil membuka wawasan dan memperluas sudut pandang dengan pertanyaan-pertanyaan kritis yang dilemparkan oleh para peserta yang berjalan mengitari galeri. Kegiatan pembahasan memberikan pemahaman baru mengenai beberapa elemen yang selama ini seringkali dilupakan saat penyusunan strategi, yaitu profil murid, bukti dan asesmen. Tak jarang guru menyusun strategi tanpa menghiraukan apa minat murid, bagaimana cara belajar murid, dsb. Tak jarang juga, bukti dan asesmen baru dipikirkan setelah mendekati akhir semester, bukan sebelum memulai pembelajaran. Padahal ibarat kita mau ke suatu tempat, tentu kita menetapkan tujuan dahulu, dan telah menggambarkan indikator-indikator kita telah mencapai tujuan tersebut dengan tepat, sebelum menentukan cara kita berangkat ke tempat tersebut. Maka selain dari menemukan elemen-elemen yang seringkali terlupakan, terbahas juga tahapan merancang starteginya yaitu 1. Memetakan profil murid, 2. Menentukan tujuan, 3. Menentukan bukti dan asesmen, 4. Menentukan strategi, 5. Menentukan cakupan. Kegiatan berlanjut ke sesi 2. Pada sesi ini para peserta belajar mengenai beberapa hal, salah satunya mengenai story board. Hal ini berfungsi untuk memberi gambaran alur cerita sebelum membuat video, sehingga pembuatan video dapat menjadi lebih mudah. Pada sesi ini juga, Pak Aye memberikan rambu-rambu mengenai visual dan audio yang sebaiknya dipilih, agar tidak bertentangan dengan rambu-rambu yang telah ada di masyarakat. Sesi ini berakhir dengan memicu semangat peserta, hingga peserta masih berusaha mengumpulkan visual dan audio, padahal waktu peserta untuk belajar di kelas sudah habis. Pada hari kedua, para peserta dipandu oleh Arif dari KGB Bandung. Arif memulai sesi ini dengan memberi waktu tambahan pada para peserta untuk mengumpulkan visual dan audio. Pada sesi ketiga ini, suasana menjadi semakin seru karena para peserta mulai menggunakan aplikasi pembuat video kinemaster. Para peserta belajar cara mengedit video, cara mengedit gambar, cara mengedit audio, cara menambahkan teks, dsb. Suasana menjadi semakin ramai ketika para peserta belajar cara membuat gambar menjadi blur, seperti video yang memberitakan adanya tersangka atas sebuah tindakan kriminal. Menjadi sangat lucu karena gambar yang saat itu dibuat menjadi blur adalah gambar Pak Aye. Seakan-akan Pak Aye adalah seorang tersangka tindakan kriminal. “Hahaha”, begitulah suara tawa para peserta memenuhi seisi kelas. Suasana pun sangat ramai ketika kami menjadi mengerti bagaimana proses suara seperti chipmunk muncul, ketika kami jadi mengerti proses terciptanya efek slow motion, dsb. Begitu menariknya sesi 3 ini, hingga waktu coffee break pun dilewatkan oleh para peserta. Salah satu poin penting pada sesi ini adalah kami menjadi lebih sadar proses pembuatan video atau film yang biasa kami lihat. Sesi 3 berakhir, para peserta sudah menjadi lebih siap untuk membuat video, maka saatnya sesi 4 dimulai. Sesi ini adalah sesi yang paling dinanti-nanti oleh para peserta, karena pada sesi ini kami praktik membuat video. Pada sesi praktik ini, para narasumber pun bahkan sempat menjadi rebutan para peserta yang mengalami kendala-kendala. Setelah para narasumber tidak menjadi rebutan, saat inilah merupakan saat yang paling disenangi oleh Pak Aye, karena semua peserta tiba-tiba menjadi hening dan menjadi lebih fokus dengan smart phone masing-masing, saat inilah tanda bahwa semua peserta sudah mengerti dan menikmati apa yang dilakukannya.  Di akhir sesi kelas ini, para peserta mengumpulkan video yang telah dibuat. Video-video ini nantinya akan diberi feedback oleh para narasumber, agar para peserta dapat belajar lagi. Sesi 2 hari ini memberikan pengetahuan dan pengalaman pada para peserta, serta berbagai komentar. Pak Ambi berkata, “dari belum bisa, lalu kok bisa, dan akhirnya jadi bisa.” Apakah 2 hari ini cukup? Apakah para peserta telah menjadi kompeten? Belum, karenanya setelah 2 hari ini, para narasumber pun bersedia memberi pendampingan secara daring selama 1 bulan.  TPD kali ini menyisakan kesan positif dari para peserta dan memicu kegemaran belajar sepanjang hayat. Karena tak sedikit peserta yang terus belajar membuat video, meskipun kelas telah berakhir. Bagaimana dengan Anda, apakah Anda tertarik membuat video pembelajaran? Ataukah Anda sudah produktif membuatnya? Bila ya, apakah video pembelajaran yang Anda buat telah menjadi video pembelajaran yang bermakna?

Guru Merdeka Belajar, Reflektif dan Merancang Perubahan

Kegiatan Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar ini merupakan Temu Pendidik Sekolah (TPS) yang pertama diadakan di Aurora Fast and Fun Bandung. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 4 Mei 2018. Diadakan karena kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, maka diperlukan kolaborasi dengan semua orang dan semua peran. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan ekosistem pendidikan yang lebih baik. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama Para pengajar kami memiliki peran sebagai pengajar dengan motivasi yang berbeda-beda. Tak banyak yang memiliki passion tinggi terhadap peran dan bidangnya di dunia pendidikan. Hal ini menjadi sebuah tantangan ketika membahas tentang guru merdeka belajar. Tantangannya adalah para pengajar akan merasa bahwa bahasan hari itu tidak penting. Saya membayangkan akan lahir suara-suara dalam batin para pengajar seperti : “Apa sih nih acara gak penting banget. Dengan pendidikan saja aku tak peduli. Dengan proses belajar saja aku tak suka. Apalagi membahas tentang guru merdeka belajar. Ahhh…”Karenanya menurut saya menjadi penting, bersama-sama menyadari bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Pada hari itu, kami menyimpulkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, dengan cara mengamati bagian awal video Pesta Pendidikan 2019: Ngobrol Publik Online berikut dan video Lihatlah Pengaruh Tontonan TV pada Anak (https://youtu.be/-U5DOVoVhdU) . Salah satu yang paling mengena dari video tersebut adalah ketika anak-anak berkata bahwa selain dari orang tua dan keluarga, mereka juga belajar dari youtube. Hal itu menunjukkan bahwa anak-anak belajar dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja yang ada di sekitarnya. Tak masalah bila belajar dari youtube dengan content yang sesuai dengan usianya. Kenyataannya anak-anak yang alamiahnya memiliki kuriositas tinggi, akan tertarik dengan content yang menarik, tak peduli apakah content tersebut sesuai dengan usianya. Dan kenyataan inilah yang ada di sekitar kami. Dengan ini kepedulian kami terhadap pendidikan anak-anak pun meningkat. Belajar adalah kebutuhan alamiah Kepedulian terhadap belajar telah meningkat. Kesadaran bahwa belajar adalah kebutuhan pun perlu mengalami peningkatan. Bukan lagi bicara tentang suka atau tidak suka dengan belajar. Namun berbicara tentang belajar sebagai kebutuhan. Saya berpandangan bahwa seseorang akan merasa butuh, apabila ia merasakan adanya gap (kesenjangan) antara harapan dan kenyataan. Maka saya bertanya, “Sebagai orang tua atau calon orang tua, apa harapan Anda dalam mendidik anak sendiri? Sebagai pengajar, apa harapan dalam mendidik siswa? Adakah pengalaman yang menunjukkan kekuranganmasing-masing dari dIri kita, dalam mendidik mereka, dan apa dampaknya?” Penuh luapan emosi. Itu tiga kata yang menggambarkan kondisi saat itu ketika para pengajar menjawab tiga pertanyaan tersebut. Seorang pengajar di masa lalunya menginginkan agar dirinya menjadi dokter namun tidak didukung oleh orang tuanya, ia merasa masa depannya tidak ditentukan oleh dirinya sendiri, ia merasa tidak berdaya, sehingga ia bertekad tidak akan pernah mendidik dengan pola seperti itu. Seorang pengajar lain bercerita dengan mata berkaca-kaca, tentang pengalamannya yang seringkali dibanding-bandingkan dengan saudaranya, ia merasa menjadi pribadi yang pesimis dan tidak berdaya, sehingga ia pun ingin agar di masa depannya ia tidak menggunakan pola pendidikan yang seperti itu. Seorang pengajar yang lainnya bercerita tentang seorang siswa yang tak ingin lagi belajar dengannya. Ia berkata, “Hari itu adalah hari pertama dan terakhir bagi saya bertemu dengan siswa tersebut.” Pada saat ia sempat menggunakan gaya komunikasi ‘otoriter’ pada siswa tersebut, memerintah tanpa bertanya, hal itulah yang menjadikan peristiwa tersebut terjadi. Dari masalah-masalah tersebut kami dapat melihat dengan jelas adanya ketidakberdayaan siswa akibat orang dewasa yang tidak berdaya. Harapan dan kenyataan telah diungkap. Kami lanjut berdiskusi tentang bagaimana kami menyikapi kenyataan tersebut agar dapat mencapai harapan kami dalam mendidik. Seorang pengajar berkata, “Perlu ada perubahan.” Saya sangat setuju dengan hal tersebut. Saya pun berkata, “Kita perlu berubah. Dan berubah adalah hakikat dari belajar. Belajar itu dari gak tahu menjadi tahu, dari gak mau menjadi mau, dari gak bisa menjadi bisa, dari salah menjadi benar.” Hari itu kami sama-sama menyadari bahwa kami butuh belajar. Belajar untuk menjadi Guru Merdeka Belajar Sebelumnya kami telah mengungkap adanya kenyataan ketidak-berdayaan. Kenyataan seperti itulah yang melahirkan konsep Merdeka Belajar. Dimana ketidak-merdekaan seorang anak itu diakibatkan oleh ketidak-merdekaan orang dewasa di sekitarnya. Saya bertanya, “Apa itu merdeka?” Banyak pengajar dengan kompak menjawab, “Bebas”. Saya berkata, “Bebas itu terkesan negatif ya, seperti free sex, dsb. Merdeka disini maksudnya apa?” Seorang pengajar menjawabbebas yang bertanggung jawab. Seorang pengajar lain menjawab bebas yang terbatas. Kami pun mencari jawabanannya lewat video tentang Guru Merdeka Belajar () yang disampaikan oleh Mba Ela. Setelahnya kami membahas lebih detail tentang Guru Merdeka Belajar, serta penerapannya. Kami pun berefleksi hingga merancang rencana perubahan. Beberapa diantaranya adalah 1. Mengubah design RPP kami 2. Mengubah gaya kepengajaran kami Mengubah pola memotivasi yang lebih menumbuhkan motivasi internal dari pada motivasi eksternal yang berupa reward dan punishment Mengawali kelas dengan membahas bersama siswa tentang pentingnya materi pembelajaran Mengajar dengan lebih memandirikan siswa : menghindari teknik ceramah, menyalakan tanda tanya, menggunakanberbagai sumber pengetahuan, tidak hanya guru sebagai sumber pengetahuan Menutup pembelajaran dengan refleksi Melibatkan siswa dalam proses penilaian 3. Mengubah beberapa hal kaitannya dengan rekrutmen pengajar Mempertimbangkan passion calon pengajar Memperhatikan kemampuan calon pengajar dalam melibatkan siswa untuk membangun komitmen belajar Sebagai penutup. Hanya guru yang merdeka yang bisa membebaskan anak. Hanya guru yang antusias yang menularkan rasa ingin tahu. Hanya guru belajar yang pantas mengajar.

Literasi lewat Dongeng, Membangun Keterampilan Berpikir Kritis.

Siapa yang waktu kecil senang mendengarkan cerita? Faktanya, mau besar atau kecil, kita senang mendengar cerita. Cerita yang bermakna bisa membangun karakter-karakter positif dalam diri. Guru punya banyak kesempatan untuk menyentuh hati murid-muridnya melalui cerita yang disampaikan di ruang kelas. Cerita yang seperti apa yang bisa membuat murid berpikir kritis? Kita akan bahas lebih lanjut dalam TPD KGB Bandung dengan topik : “Literasi lewat Dongeng, Membangun Keterampilan Berpikir Kritis.” Begitulah sepenggal caption yang mengantarkanku untuk hadir menemui Guru Titin, di SMKN 5 Bandung pada tanggal 23 Februari 2019. Aku yang telah lama menanti diangkatnya tema ini, hadir dengan membawa pertanyaan yang senada dengan caption tersebut. Pertanyaanku adalah “bagaimana menumbukan keterampilan berpikir kritis secara menyenangkan?” Mendongeng adalah jawaban dari pertanyaanku tentang kegiatan yang menyenangkan. Mendongeng adalah kegiatan literasi yang menyenangkan dan sangat kaya makna. Bu Titin yang juga aktif menjadi narasumber parenting, membagi pengalamannya sebagai contoh. Bu Titin bercerita : Saat itu suami saya karena sebuah kondisi menyebabkannya tidak dapat bekerja. Hal tersebut berbeda dengan saya yang selain berperan sebagai ibu, istri, namun juga bekerja sebagai guru. Di satu hari, saya pulang mengajar dalam kondisi basah kuyup karena kehujanan. Namun, suami saya nampak tidak mempedulikan keadaan saya. Saya pun memanggilnya, “Yah, sini deh, ada cerita.” “Cerita apa?” sahutnya sambil menghampiri saya. “Itu Bu Cinta pulang kehujanan, suaminya langsung membawakan handuk dan teh hangat, padahal Bu Cinta baru pulang main, bukan pulang kerja” kata saya. Mendengar cerita tersebut, suami saya bergerak membawakan handuk dan teh hangat, dengan mengatakan, “nih handuknya, nih teh hangatnya”. Lalu ia pergi dan kembali tenggelam dalam aktivitasnya. Tawa pun menyeruak di ruang TPD. Tawa lahir karena suami Bu Titin termotivasi untuk berperilaku baik, namun terdengar tak ikhlas. Dibalik tawa tersebut, lahir kesadaran pada peserta TPD, bahwa mendongeng itu dapat memotivasi untuk berperilaku baik, dapat membangun karakter. Dimana hal tersebut dapat terbangun bukan hanya pada penikmat dongengnya, namun juga pada pendongengnya. Pada contoh diatas nampak bahwa Bu Titin sebagai pendongeng, memilih untuk mengelola emosinya, sehingga komunikasi dapat tetap efektif memotivasi orang lain berperilaku baik, sehingga pada akhirnya dapat membangun karakter positif. Kekayaan makna pada dongeng dapat diraih, apabila dongeng menjadi sangat berkesan bagi siswa, menjadi memorable bagi siswa. Salah satu cara untuk meninggalkan kesan tersebut adalah dengan mengkritisinya. Kebiasaan kritis inilah yang pada akhirnya dapat menumbuhkan keterampilan berpikir kritis pada siswa. Bu Titin pun membagikan praktik baik kepengajarannya tentang cara-cara melatih berpikir kritis terhadap dongeng. Bu Titin mengawalinya dengan mengajak kami memikirkan “Apa kata-kata yang tepat untuk menggambarkan ini?” Dan kami diajak menceritakannya pada selembar kertas. Berbagai cerita pun bermunculan. Salah satu ceritanya adalah cerita tentang suami-suami takut istri, seperti judul sinetron di layar televisi. Lalu, kami diajak menceritakan lagi, “Tokoh mana yang disukai, dan mengapa?” Selain Bu Titin mempraktikannya langsung pada kami, Bu Titin pun menegaskan cara-caranya, yang meliputi: 1. Di tengah cerita, guru mengajak siswa membayangkan kelanjutan ceritanya, sehingga memungkinkan lahirnya cerita yang sangat variatif dari siswa. 2. Di akhir cerita, guru mengajak siswa menentukan tokoh yang disukai dan alasannya. 3. Lalu mengajak siswa berandai-andai, bila siswa menjadi salah satu tokoh di cerita tersebut, apa yang akan dilakukan dan mengapa. Bu Titin memberi contoh untuk poin nomer 3,  Bu Titin berkata, “Pada cerita Malin Kundang, bila kamu menjadi istri Malin, apa yang akan kamu lakukan dan mengapa?” Mendengar pertanyaan tersebut, sontak peserta TPD terkejut karena merasa belum pernah mendengar pertanyaan seperti itu sebelumnya. Bu Titin menyimpulkan prinsip melatih berpikir kritis adalah bertanya dengan hal yang berbeda, bukan hanya menerjemahkan atau men-translate-nya. Bu Titin pun menceritakan cerita tentang siswanya, sebagai hasil dari kebiasaan praktik baik yang dilakukannya. Singkat cerita, lahirlah siswa yang percaya diri untuk bercerita, yang merasa aman bercerita, yang bercerita tanpa merasa tertekan atau terpaksa. Dan pada sesi inilah tiba-tiba ruangan menjadi sangat hening. Bu Titin bercerita dengan mata berkaca-kaca. Peserta TPD ada yang sempat membayangkan, andaikan dirinya dulu memiliki guru seperti Bu Titin, sebagai siswa tentu akan merasa sangat bahagia. Karena saat itu, terasa bahwa ia mengajar dari hati. Disini Bu Titin berhasil menunjukkan bahwa dongeng itu dapat menyentuh hati. Keheningan kami pun disadarkan dan dipecahkan oleh moderator yang akan membuka sesi tanya jawab. Dan alhasil gaya kepengajaran Bu Titin yang mengajak kami berpikir kritis, menstimulasi antusias para peserta bertanya. Dengan kompak kami mengacungkan tangan, kami bergiliran untuk bertanya, ada yang mengalah bertanya di akhir, ada yang bertanya lebih dari satu pertanyaan, dan bahkan ada yang bertanya melebar dari topik hingga perlu dibatasi. Sebagai penutup, Bu Titin membagikan quote dari Fisher (2008) : “Good Teacher makes you think even, when you don’t want to”. Dan catatan saya menulis, “Kita bukan penyampai materi, kita tidak akan kalah dengan google, sang mesin pencari informasi.”

Guru dan Realita Abad 21

“Koq anak zaman now itu sukanya komplen ama gurunya?, koq bisa sih mereka itu berkomunikasi tanpa rasa canggung atau takut ama gurunya?” “Anak zaman now itu aneh, cita-citanya seperti youtuber, blogger, selebgram, manajer medsos, ah.. semua itu pekerjaan aneh.” Yup, inilah realita di abad 21. Realita tersebut menunjukkan anak zaman now yang ingin lebih didengar dan dilibatkan, yang menuntut kreativitas,  kritis, dan kerjasama, serta yang menghadapi perkembangan teknologi. Lalu, bagaimana dengan kita sebagai gurunya yang merupakan produk masa lampau, berada di zaman now, mendidik siswa untuk hidup di zaman now dan di masa mendatang? Bagaimana guru dapat lebih mendengar siswanya? Bagaimana praktik mendengar yang kreatif? Bagaimana menggunakan media teknologi dengan lebih interaktif? Bagaimana menggunakan teknologi untuk membalik situasi : belajar di sekolah menjadi belajar di rumah, agar siswa lebih kritis? Bagaimana menggunakan teknologi dalam membagi kelompok yang lebih interaktif? Ingin tahu jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan itu? Yuk gabung di Temu Pendidik Komunitas Guru Belajar Bandung dengan tema “GURU ABAD 21,” bersama Bu Djuangsih Dewi dan Bu Amalia Fitri, hari sabtu pukul 15.30 di SD Mutiara Bunda. Tahun baru, Semangat baru, Ilmu baru ☺ Caption itulah yang membuat guru-guru merasa tertarik dan bergerak untuk menemui kedua narasumber sore itu. Narasumber pertama adalah Bu Dewi. Diawal Ia menerapkan role play dengan mengajak peserta untuk berbaris di luar area kegiatan, seperti siswa-siswa berbaris di luar ruangan. Peserta pun berbaris dengan rapi memasuki area kegiatan. Tak disangka, kemudian Ia mengajak peserta keluar area kegiatan lagi, namun kali ini peserta masuk dengan diiringi musik yang membuat peserta ingin bergerak dan menari-nari dengan bahagia. Tak sampai disitu, Ia mengajak peserta keluar area kegiatan lagi, dan kali ini peserta diajak memasuki area dengan diiringi musik sambil bergaya bebas. Ada yang bergaya hip hop, menari jaipong, dsb. Lalu disambut oleh Bu Dewi sambil high five (baca : tos). Tawa pun memenuhi seisi ruangan. Kemudian Ia menstimulasi dengan pertanyaan, sehingga peserta membandingkan dan dapat menyimpulkan pada sesi memasuki ruangan yang ke berapakah, yang dapat membuat suasana menjadi sangat bahagia. View this post on Instagram A post shared by Umi Kalsum (@ka_umi) on Jan 9, 2019 at 8:26pm PST Mindfullness dan Memahami Anak Setelah pembukaan tersebut, Bu Dewi pun mulai berusaha menjawab pertanyaan pertama : Bagaimana guru dapat lebih mendengar siswa? Bu Dewi berkata, “Belakangan istilah mindfullness mulai populer. Konon, praktik mindfullness adalah salah satu kunci menghindari dan mengatasi rasa cemas, pun stres. Apa itu mindfullness? Menurut Marsha Lucas, mindfullness adalah memusatkan perhatian sedemikian rupa, menghayati apa yang sedang Anda lakukan, tanpa melakukan penilaian.”  Namun, perhatian yang kita berikan perlu dilakukan dengan cara tertentu yaitu : on purpose (secara sengaja, diniatkan), in the present moment (pada saat ini), dan non-judgmentally (tanpa menghakimi). Manfaat dari mempraktikan hal ini yaitu : mengurangi kadar stres, meningkatkan kemampuan regulasi dan kendali diri, menurunkan kecemasan dan depresi, meningkatkan kinerja, dan meningkatkan kemampuan membangun relasi. Hal ini dapat dilakukan dengan : menyayangi siswa kita seperti anak sendiri, tidak menghakimi, lebih berfokus pada sisi positif siswa, menyelesaikan masalah tidak dengan kemarahan agar siswa tidak merasa takut, mengangkat dan menurunkan jari sambil menarik napas, mendengarkan dengan fokus musik instrumen, menuliskan perasaan untuk mengurangi konflik dan agar dapat mengelola emosi. Secara kongkrit, Ia pun menunjukkan beberapa praktik-praktik yang kreatif seperti buku emosi, sebagai media bagi siswa dalam mengungkapkan perasaannya, dan sebagai media bagi guru dalam memperhatikan dan memahami siswa. Selain itu, ada juga media yang dapat digunakan agar guru dapat memperoleh perhatian siswa, yaitu berupa media seperti lampu lalu lintas berwarna merah, kuning, dan hijau, dimana “saat guru mengangkat warna merah, perhatian anak-anak harus fokus pada saya, kuning peringatan karena mungkin ada yang melanggar komitmen kelas, hijau tiba waktunya anak-anak mengemukakan pendapat atau sebagai pengganti mengangkat jari saat ada pertanyaan,” kata Bu Dewi. Sesi pertama pun berakhir dengan memberikan kesadaran pada peserta. Bu Nur yang merupakan peserta kegiatan berkata, “TPD hari ini mengenai GURU ABAD 21 sangat membuka mata saya bahwa untuk menjadi seorang guru itu butuh tenaga (effort) yang sangat besar, … harus lebih peduli terhadap murid … karena anak-anak zaman sekarang atau murid kita itu bukan kita di zaman dulu, jadi tidak bisa disamakan, oleh karenanya harus lebih peka terhadap perasaan murid, harus lebih mau mendengarkan murid, … tidak boleh semaunya sendiri”. Tools Kekinian untuk Pembelajaran Sesi kedua pun dimulai oleh Bu Fitri. Ia memulai dengan melibatkan peserta untuk belajar sambil bermain dengan mengakses website kahoot.it. Website merupakan website yang berisi kuis yang telah dibuat oleh guru, agar siswa dapat menjawabnya. Peserta acara TPD pun diposisikan sebagai siswa dan narasumber memposisikan sebagai guru. Langkah-langkah bermainnya adalah Akses website kahoot.it. Masukkan pin yang telah diberikan guru Pilih bermain secara individuatau bermain secara berkelompok. Masukkan nama panggilan. Tunggu hingga soal ditampilkan. Mulailah mengerjakan kuis. Keseruan terasa dari ekspresi peserta yang berbeda-beda dan berubah-ubah, ada yang bingung ketika merasa kesulitan mengakses soal, ada yang cemberut karena koneksi internetnya lambat, ada yang senyum-senyum ketika mengetahui jawabannya benar, dan bahkan ada yang ketawa-ketawa karena melihat jawabannya yang keliru. Setelahnya pun nampak keterlibatan peserta TPD menjadi semakin meningkat. Bu Fitri pun melanjutkan dengan pendasaran penggunaan teknologi dalam pembelajaran, serta contoh-contohnya. Pendasaran-pendasarannya karena Kegiatan pembelajaran yang padat Kegiatan/acara disekolah Kalender akademis yang dirasa tidak cukup Karakteristik siswa yang sudah memasuki era digital : Bebas, tidak mau terkekang Selalu update Bermain, bukan hanya bekerja Ekspresif Cepat, enggan menunggu Unggah, bukan hanya unduh Interaktif Berkolaborasi Beberapa situs maupun aplikasi dikenalkan, yakni seesaw, padlet, edmodo, quizizz, phet, google classroom, dan flipgrid. Dan aplikasi yang akan dipelajari hari ini adalah google classroom dan flipgrid. Google classroom adalah aplikasi atau fitur yang dapat membantu dalam pembuatan, pembagian, dan penggolongan setiap penugasan tanpa kertas. Sebagai siswa, langkah-langkah menggunakan google classroom adalah Klik simbol (+). Masukkan kode kelas yang diberikan guru. Pada laman stream, nampak tampilan seperti wall di facebook. Pada laman ini, guru dan siswa dapat berinteraksi seperti menyapa, memberi tugas, mengakses soal, dsb. Pada laman classroom, siswa dapat mengakses soal dengan klik dua kali pada soal yang hendak diselesaikan. Ia menyampaikan bahwa kelebihan dari google classroom adalah akun google sudah umum dimiliki banyak orang, google memiliki tampilan yang … Read more