Motivasi Guru Penggerak Merdeka Belajar, Berani Berubah Meskipun Tertatih-Tatih

Ketika pandemi melanda beberapa waktu yang lalu, bapak dan ibu guru pasti merasakan dan mengalami untuk beradaptasi dengan perubahan kebiasaan tersebut tampak jelas terasa karena pada saat kondisi normal, belajar menggunakan sistem tatap muka (luring), lalu berubah menjadi pembelajaran jarak jauh (daring) yang dijalankan sekolah. Oleh karena itu, apakah bapak dan ibu guru pernah merasa bingung, galau, dan tidak mengetahui harus memulai dari mana saat pembelajaran secara daring dilakukan? Untuk lebih jelasnya, mari kita dengarkan cerita inspirasi guru penggerak merdeka belajar yaitu Ibu Theresia A. T. Astuti yang mengajar di TK Yos Sudarso Bandung, dan beliau juga merupakan anggota Komunitas Guru Belajar Bandung. Pandemi Covid-19 adalah awal cerita inspirasi Ibu Tere ini dimulai. Pada Tahun Pelajaran 2020/2021, Ibu Tere mendapat tugas baru, diberi kepercayaan untuk memimpin TK Yos Sudarso Bandung. Ini merupakan pengalaman pertama beliau untuk pindah tugas setelah selama 16 tahun menjadi guru di tempat yang sama, atau berada di zona nyaman beliau.  Tempat baru, suasana baru, rekan kerja baru, dan beban tugas baru yang belum pernah terbayang sebelumnya harus Ibu Tere hadapi. Banyak cerita negatif yang beliau dengar tentang sekolah ini. Seketika Ibu Tere merasa ciut, ragu, minder, dan tidak percaya diri. “Apakah saya sanggup melakukan perubahan?”, ujar Ibu Tere dalam hati. Lantas, beliau dan dua rekan guru pun memutuskan untuk melakukan perubahan. Awalnya beliau memiliki perasaan yang sama dengan bapak dan ibu guru kebanyakan, beliau merasa bingung, galau, dan tidak mengetahui harus memulai dari mana saat pembelajaran secara daring wajib dilaksanakan. Baca juga: Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan Pembelajaran pun dimulai. Para guru melakukan tugasnya, melayani murid secara daring. Pembelajaran saat normal ditransfer menjadi daring. Tidak ada yang berbeda. Para guru melakukan pembelajaran dengan menggunakan aplikasi WhatsApp. Pembelajaran berfokus pada materi dan tema. Berbagai saran dan masukan coba Ibu Tere berikan agar pembelajaran tidak monoton. Namun, berbagai alasan dilontarkan para guru. Mereka berdalih adanya keterbatasan sarana, baik pihak guru maupun murid, serta keterbatasan penguasaan teknologi. Dan lebih kurang tiga bulan pembelajaran model ini dilakukan. Menurut Ibu Tere, pembelajaran terasa hambar, interaksi terbatas, satu arah, dan inisiatif serta instruksi selalu dari guru. Ibu Tere menyaksikan, setiap hari para guru melakukan komunikasi dengan orang tua murid melalui telepon atau video call untuk menjalin kedekatan. Namun, relasi yang harmonis belum tampak. Para guru mulai lelah dan mengeluh. Mereka merasa respons yang terlalu biasa, baik dari orang tua maupun murid. Ibu Tere mengungkapkan jika beliau dan mayoritas guru lainnya di sekolahan tersebut adalah guru senior. Tepatnya guru jadul yang belum terbuka dan paham banyak penggunaan teknologi, sehingga dalam melakukan pembelajaran hanya mengedepankan rasa, insting, dan pengalaman. Saat briefing pagi ataupun pertemuan, Ibu Tere berulang kali memberi masukan kepada rekan guru agar melakukan perubahan. Beliau mencoba mengajak mereka lebih terbuka, berani mencoba hal baru. Setelah sekian lama, akhirnya muncul juga keinginan salah satu guru untuk melakukan perbaikan pembelajaran. Dia mengajak guru lain mempelajari berbagai aplikasi pembelajaran berbasis teknologi sebagai variasi dalam pembelajaran daring. Tujuannya agar murid dapat lebih antusias. Awalnya, tampak gurat keraguan dalam diri guru yang diajak belajar. Mereka terpaksa saat belajar bersama. Lewat pendekatan secara pribadi, akhirnya terwujud juga kegiatan belajar bersama. Berbagai cara dan variasi pembelajaran mulai dipelajari. Ibu Tere mendukung dan mendampingi para guru, turut belajar dan mengembangkan diri. Beliau merasa jika belajar dari siapa pun dan dari mana pun. Terutama tentang penggunaan aplikasi yang dapat digunakan supaya pembelajaran lebih menarik. Para guru memerlukan waktu lama untuk memahami pengetahuan baru. Namun, di sini Ibu Tere melihat semangat mereka, keinginan kuat untuk terus belajar, mencoba, dan mempraktikkan pengetahuan maupun keterampilan baru yang berhubungan dengan teknologi. Guru saling belajar, berbagi pengetahuan dan praktik baik, menguatkan, dan membantu. Bahkan, persiapan pembelajaran dilakukan secara bersama-sama. Sedikit demi sedikit pembelajaran mulai bervariasi. Berbagai aplikasi dipraktikkan dalam pembelajaran. Namun, Ibu Tere merasa masih ada yang kurang dan masih terasa hambar. Peran guru masih sangat dominan di sini. Mereka belum konsisten melakukan perubahan pembelajaran, masih mengadopsi cara dan pola lama. Pada pertengahan Oktober 2020, melalui platform Sekolah.mu, Ibu Tere berkenalan dengan Merdeka Belajar. Kemudian, beliau sering mendengar istilah tersebut. Namun saat itu, Ibu Tere belum memahami maknanya. Akhirnya, beliau mengikuti program Sekolah Lawan Corona. Ibu Tere dan para guru pun belajar bersama. Dari program ini akhirnya beliau menyadari bahwa pembelajaran yang selama ini, pelayanan yang kami berikan, masih mengalami miskonsepsi. Bersama para guru, Ibu Tere belajar membuat persiapan pembelajaran dengan mengedepankan prinsip 5M, belajar membuat dan menggunakan kanvas RPP yang diawali dengan melakukan pemetaan profil murid. Pembelajaran di Sekolah Lawan Corona sudah beliau tuntaskan. Ibu Tere yakin, banyak hal, informasi, dan ilmu baru yang guru dapatkan. Namun, pengimbasan ataupun dampaknya dalam pembelajaran belum terasa. Belum tampak perubahan yang signifikan. Padahal, pengetahuan, keterampilan, dan semangat sudah ada dalam diri para guru. Lantas, Ibu Tere tertantang mencari akar masalahnya. Rasa penasaran dan keinginan kuat menuntun beliau mencari informasi, belajar dari berbagai sumber. Faktor ini menjadi pemicu beliau untuk mengikuti beberapa program di Sekolah.mu, beliau mengharapkan jika ini dapat membantunya melakukan tugas sebagai pemimpin. Ibu Tere mengikuti program Guru Merdeka Belajar dari Kampus Guru Cikal, berdampingan dengan program Menjadi Pemimpin Merdeka Belajar dari Sekolah Merdeka Belajar. Kemudian, teori dan tips sebagai pemimpin merdeka belajar sudah beliau dapatkan. Ternyata masih ada miskonsepsi yang beliau lakukan dalam melakukan percakapan dan pengamatan sebagai pemimpin merdeka belajar. Dalam melakukan percakapan, Ibu Tere merasa perlu fokus dan selalu mengarahkan kepada tujuan. Percakapan beliau lakukan dengan lebih santai. Ibu Tere duduk bersama sambil menyelesaikan pekerjaan atau membuat persiapan pembelajaran bersama. Setelah melakukan obrolan dan percakapan dengan guru, beliau merasa ada yang kurang, “Gregetnya belum ada”. Hal ini terutama bila mendengar keluhan atau curhatan guru tentang murid yang dinilai terlalu berinisiatif. Misalnya sudah mengerjakan pekerjaan atau tugas yang seharusnya belum dikerjakan atau belum diperintahkan. Sebagai pemimpin, Ibu Tere mengingatkan mereka melalui percakapan untuk melakukan pembelajaran yang berpihak kepada murid. Beliau mengajak mereka melihat sisi positifnya: murid itu kreatif. Dengan demikian, perlu kreativitas guru dalam merancang pembelajaran dengan memaksimalkan pemanfaatan fasilitas dan penugasan yang berdiferensiasi. Ibu Tere merasa saat ini rekan-rekan guru sudah memahami bahwa pembelajaran harus fokus kepada kebutuhan anak, memaksimalkan pemanfaatan fasilitas yang … Read more

Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan

“Memaknai Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan, oleh karena itu sebagai seorang guru, maka akan menghadapi banyak sekali tuntutan yang saling bersaing, tetapi untuk setiap tantangan yang bapak dan ibu guru hadapi, ada imbalan yang setara atau lebih besar. Saat bapak dan ibu guru memasuki profesi yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi kehidupan orang lain, bapak dan ibu guru juga mengambil bagian dalam karier yang penuh makna.” Profesi sebagai seorang guru bisa dikatakan adalah garda paling penting dari kehidupan masyarakat kita. Guru mendukung murid menentukan tujuan, memfasilitasi murid memperoleh kompetensi untuk sukses sebagai warga dunia kita, dan mengilhami mereka dorongan untuk berbuat baik dan sukses dalam hidup. Murid-murid hari ini adalah pemimpin masa depan, dan peran guru adalah titik kritis yang membuat murid siap untuk masa depan mereka.  “Menjadi seorang guru tidak akan membuat siapapun menjadi kaya—namun ini adalah salah satu karier paling berharga di dunia ini. Seorang guru dapat memiliki dampak besar pada kehidupan seorang murid, dan melihat seorang murid berkembang dan tumbuh adalah sesuatu yang membawa sukacita besar bagi seorang guru.” Ketika berbicara dengan semua guru yang ada, maka hanya sedikit yang akan memberi tahu  bahwa menjadi guru adalah sesuatu yang mereka sesali lakukan, bahkan hampir tidak ada. Alasan umum dari semua itu adalah bahwa mereka menemukan kepuasan menjadi seorang guru dalam mempengaruhi murid dan membantu mereka dalam membentuk masa depan. Meskipun mungkin tidak sama untuk setiap pendidik, akan selalu ada alasan bagus untuk menjadi satu. Oleh karena itu dalam tulisan kali ini kita akan membahas tentang “Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan”. Baca Juga: Guru Merdeka Belajar, Cukupkah Jadi Pendidik? Atau Perlu Jadi Penggerak? Menjadi Guru itu Penting Murid-murid membawa apa yang dipelajari kepada mereka di usia muda ke sepanjang hidup mereka. Mereka akan menggunakan apa yang telah mereka pelajari untuk mempengaruhi masyarakat. Bapak dan ibu guru mungkin mengetahui juga bahwa generasi muda hari ini akan menjadi pemimpin masa depan, dan para guru memiliki akses untuk mendidik generasi muda di tahun-tahun mereka yang paling berkesan — baik itu dalam mengajar prasekolah, mengajar ekstrakurikuler, olahraga, atau kelas konvensional. Guru memiliki kemampuan untuk membentuk pemimpin masa depan dengan cara terbaik bagi masyarakat untuk membangun generasi masa depan yang positif dan menginspirasi dan oleh karena itu merancang masyarakat, baik dalam skala lokal maupun global. Dan faktanya, guru memiliki pekerjaan paling penting di dunia. Peran bapak dan ibu guru saat ini yang berdampak pada anak-anak masyarakat memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan. Bukan hanya untuk anak-anak itu sendiri, tetapi untuk kehidupan banyak orang. Peran Seorang Guru Membawa Perubahan dalam Kehidupan Murid Percayalah peran seorang guru ternyata memberi perubahan dalam kehidupan murid. Peran guru menjadi berpengaruh dalam kehidupan murid, menginspirasi dan memotivasi mereka untuk mencapai potensi mereka. Suatu hari nanti mungkin murid bapak dan ibu akan menjadi pemenang penghargaan Nobel, pebisnis terkemuka, pemimpin hebat, perdana menteri dan seniman terkenal atau individu yang berpengetahuan luas dengan cinta untuk belajar. Bukan hanya karena itu adalah profesi yang mulia, tetapi menjadi seorang guru juga memungkinkan bapak dan ibu untuk terus berkreasi dan menjadi lebih baik secara profesional. Peran guru saat ini memiliki banyak kesempatan di tangan mereka untuk menjadi kreatif dan menggunakan semua metode yang mungkin untuk membuat lingkungan belajar yang optimal bagi murid. Lalu, guru dapat bertindak sebagai sistem pendukung yang kurang di tempat lain dalam kehidupan murid. Dan menjadi seorang guru pasti akan menjadi panutan dan inspirasi murid untuk melangkah lebih jauh dan bermimpi lebih besar. Dengan menjadi seorang guru dan penggerak di bidang pendidikan, maka bapak dan ibu akan memberi manfaat bagi murid terlebih masyarakat secara keseluruhan. Kesan yang bapak dan ibu buat pada murid di kelas akan terus berlanjut ke generasi berikutnya. Ini adalah keistimewaan karir menjadi seorang guru, yang mana bapak dan ibu memiliki kesempatan untuk membawa sebuah perubahan bagi generasi kehidupan. Peran Seorang Guru sebagai Pembelajar Sepanjang Hayat Pendidikan telah banyak berubah mengikuti perkembangan zaman ini. Saat ini pendidikan lebih interaktif dengan intrusi media digital. Penerapan teknologi kini seperti kecerdasan buatan, augmented reality membuka dimensi baru dalam pendidikan. Namun, ada peran besar bapak dan ibu guru yang tetap berjalan hingga saat ini dan tidak bisa tergantikan. Sebagai seorang guru, bapak dan ibu harus mengeluarkan yang terbaik dalam diri murid dan menginspirasi mereka untuk berjuang demi kebesaran. Murid dianggap sebagai masa depan bangsa dan umat manusia, dan peran bapak dan ibu guru diyakini sebagai pemandu yang kredibel untuk kemajuan mereka.. Guru dapat melihat kekuatan dan kelemahan setiap murid dan dapat memberikan bantuan dan bimbingan untuk mempercepat atau mendorong mereka lebih tinggi. Sebagai seorang guru tidak hanya membimbing murid dalam bidang akademik atau kegiatan ekstrakurikuler, tetapi guru juga bertanggung jawab untuk mendukung masa depan murid, menjadikannya manusia yang lebih baik. Seorang guru menanamkan pengetahuan, nilai-nilai baik, tradisi, tantangan zaman modern dan cara-cara untuk menyelesaikannya dalam diri murid.  Bapak dan ibu guru juga menjadi sumber inspirasi dan motivasi. Guru menginspirasi murid untuk melakukannya dengan baik, dan memotivasi mereka untuk bekerja keras dan menjaga tujuan akademik mereka tetap pada jalurnya. Menjadi seorang guru sebagai pembelajar sepanjang hayat memungkinkan bapak dan ibu guru untuk terus belajar dan berkembang dalam pengetahuan. Perang Seorang Guru sebagai Penggerak Pendidikan Pengetahuan dan pendidikan merupakan dasar dari segala sesuatu yang dapat dicapai dalam kehidupan. Guru memberikan kekuatan pendidikan kepada generasi muda saat ini, sehingga memberi mereka kemungkinan untuk masa depan yang lebih baik. Pola pikir guru sebagai penggerak pendidikan ialah memperlakukan kesalahan dan tantangan sebagai bagian dari proses belajar. Bapak dan ibu guru diminta untuk tidak melihat kesalahan sebagai kegagalan. Kesalahan memberi murid sebuah pengalaman atau informasi baru yang dapat mereka gunakan saat mereka terus menemukan cara untuk memecahkan masalah atau tantangan. Guru juga tidak pernah tahu jenis pertanyaan apa yang akan diajukan oleh murid. Sebagai penggerak Pendidikan, guru menjadikan belajar sebagai kebiasaan rutin untuk beradaptasi dengan perubahan dan tindakan murid. Dedikasi dalam Peran Seorang Guru Salah satu bagian terpenting dalam peran seorang guru adalah memiliki dedikasi. Bapak dan ibu guru mungkin merasakan jika peran guru tidak hanya mendengarkan, tetapi juga melatih dan membimbing murid. Guru mampu membantu membentuk tujuan akademik dan berdedikasi untuk membuat murid  mencapainya. Bapak dan ibu guru memiliki … Read more

Asesmen Diagnosis: Trik Jitu Supaya PJJ Tidak Lesu

“Bingung, nih. Rasanya sudah berusaha supaya PJJ-nya efektif. Ternyata murid-murid  pada bosan, pasif, dan susah ngertinya. Harus bagaimana lagi?” Pernah mengeluh atau mendengar keluhan seperti itu? Sebagai sesuatu yang baru dan tidak terduga, PJJ memang memberi banyak kisah. Umumnya berupa kebingungan dan penuh tanda tanya.  Namun, show must go on. Bagaimanapun, kegiatan belajar harus berjalan.  Tapi tidak bisa asal jalan saja kan? Harus ada usaha supaya PJJ berjalan efektif.  Tentu ingin tahu kiat-kiatnya kan? Nah, Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar pada 3 April 2021 mengangkat topik yang ditunggu-tunggu banyak pemimpin dan guru merdeka belajar, yakni bagaimana kiat jitu pemimpin saat PJJ. Bu Natalia Lilipaly dari TK Aletheia Jember dan Bu Elisabet Indah Susanti dari Kampus Guru Cikal berbagi pengalaman dan membedah kiat jitu pemimpin dalam PJJ. Dipandu Pak Andrie Firdaus dari Sekolah Cikal, obrolan pada malam Minggu ini terasa lebih hidup. Ternyata, memang banyak guru dan sekolah yang bingung menghadapi PJJ sebagai imbas  pandemi COVID-19. Tidak ada satu pun yang siap. Semuanya sama-sama belajar dari titik nol. Bu Natalia menuturkan, menghadapi PJJ, sekolahnya memilih membuat video sebagai media belajar.  Di awal tidak ada masalah. Namun, lama kelamaan murid-murid bosan. Mereka kehilangan sesuatu. Apa itu?  Murid-murid kehilangan kesempatan berinteraksi dengan gurunya. Mereka tidak lagi bisa menyapa atau bertanya. Hanya bisa menatap wajah guru di video, tak bisa say hello. Tentu saja bukan seperti itu yang diinginkan murid. Mereka butuh terhubung dengan gurunya. Keresahan dan dan kebutuhan murid terdeteksi oleh guru-guru. Setelah mendengar informasi dan masukan dari  orang tua, guru-guru melakukan refleksi. Bagaimanapun, kebutuhan murid harus terpenuhi. Mengirimkan video pembelajaran bukan sebuah solusi holistik. Perlu cara lain agar interaksi guru dengan murid terjalin kembali. Dipilihlah untuk melakukan panggilan video per murid. Di sekolah Bu Natalia disebutnya one on one.  Di samping one on one, ada juga sesi kelompok dan sesi kelas besar. Panggilan video per murid durasinya paling lama 30 menit. Dalam satu hari, satu guru bisa berinteraksi lewat panggilan video dengan lima murid.  Sesi kelompok dilaksanakan selama 40 menit.  Ada sesi kelompok kecil yang terdiri dari 3-5 murid (25-50% dari jumlah murid).  Pada sesi ini murid-murid  bisa belajar dan berinteraksi dalam kelompok. Pembagian kelompok kecil ini di bentuk berdasarkan kesamaan tipe (gaya) belajar. Ada juga sesi untuk satu kelas, di mana mereka bisa berinteraksi dengan teman sekelas. Sedangkan sesi kelas besar merupakan gabungan dari semua kelas. Sesi ini dilaksankan dalam bentuk ibadah bersama. Nah, setelah dipraktikkan, ternyata murid-murid lebih bersemangat mengikuti PJJ. Ada sisi lain dari pelaksanaan PJJ ini. Menurut Bu Natalia, beberapa guru harus mengganti gawainya karena tidak kompatibel. Pun demikian dengan orang tua. Bukan hanya guru dan orang tua, manajemen sekolah juga harus meng-up grade kapasitas wifi sekolah supaya bisa dipakai untuk PJJ. Ternyata yang berubah bukan hanya sumber daya manusia, perangkat dan fasilitas pendukung juga perlu ditingkatkan. Sementara itu, Bu Susan menyampaikan pentingnya selalu melakukan refleksi. Ketika secara tiba-tiba pembelajaran harus berubah, mau tidak mau guru harus cepat belajar dan berusaha menemukan solusi terbaik. Bu Susan mengibaratkan, apa yang dilakukan guru sama dengan apa yang dilakukan dokter. Untuk mengetahui kondosi kesehatan seseorang secara akurat, doktek melakukan medical check up.  Semua organ tubuh diperiksa. Dari hasil pemeriksaan itulah dokter membuat diagnosis  kondisi kesehatan seseorang. Kemudian memberikan treatment yang tepat berdasarkan diagnosis tersebut. Guru pun perlu melakukan check up yang komprehensif terhadap murid-muridnya. Aspek yang diperiksa meliputi sisi kognitif, nonkognitif, emosi, dan lingkungan.  Bukan hanya tentang diri murid, kondisi keluarganya juga perlu diketahui.   Kegiatan seperti itu merupakan bagian dari asesmen diagnosis. Hal penting yang membuat asesmen diagnosis perlu dilakukan adalah agar guru tidak salah memberikan treatment kepada murid. Di samping itu, dari hasil asesmen diagnosis guru akan mengetahui kebutuhan setiap murid sehingga bisa merancang program belajar yang efektif. Asesmen diagnosis merupakan asesmen untuk pembelajaran. Bisa dilaksanakan kapan saja, tidak mesti di awal tahun pelajaran. Bisa di awal semester atau di awal materi baru. Bagaimana caranya? Strategi untuk melakukan asesmen diagnosis tergantung tujuannya. Jadi, tentukan dulu tujuannya, baru memilih strategi yang tepat.  Asesmen diagnosis bisa dilakukan lewat kuis, pretest, game, wawancara, observasi, angket, dan lain-lain. Sekali lagi, stategi yang dipakai tergantung tujuannya. Bagi  pemimpin sekolah, asesmen diagnosis merupakan bekal untuk mengambil kebijakan yang tepat. Harapan, kondisi,  serta  kebutuhan murid dan orang tua terpetakan sehingga lebuh mudah dipahami. Di akhir obrolan, Bu Natalia menyampaikan supaya sekolah (guru) berani mencoba dan membuka komunikasi dengan orang tua.  Sedangkan Bu Susan menegaskan pentingnya dilakukan asesmen diagnosis untuk lebih memahami murid. Baca Juga: Siap AN, Siap Berubah? Nah, setelah mendapatkan paparan tentang strategi pemimpin merdeka belajar saat PJJ, inspirasi apa yang Anda dapatkan? Perubahan apa yang ingin Anda lakukan? Jurus jitu apa yang akan Anda tampilkan?  selalu bergerak: membuat dan mengusahakan perbaikan. Yuk! Ingin mengikuti program pelatihan kepemimpinan sekolah?Klik tombol di bawah ini!

Menghidupkan Visi Sekolah dengan Asesmen

Beberapa waktu yang lalu, Nadiem Makarim umumkan bahwa UN dihapuskan. Kabar ini menggembirakan, sekaligus membingungkan. Hal ini menggembirakan karena kebijakan yang kurang mengapresiasi keunikan murid itu telah dihapuskan. Namun, hal ini pun membingungkan bagi sebagian pemimpin sekolah. Pemimpin sekolah seakan kehilangan tujuan. Bila bukan mengejar nilai, lalu mengejar apa? Pemimpin sekolah bingung akan diarahkan kemana guru dan murid yang dipimpinnya.  Adanya keresahan ini mendorong @SekolahMerdekaBelajar mengadakan Obrolan #PemimpinMerdekaBelajar (OPMB), pada 6 Maret 2021 di YouTube. Kali ini mengundang ibu-ibu pembelajar, yang akrab disapa Bu Andri dari Lazuardi Al-Falah Klaten sebagai narasumber dan Bu Pima dari Sekolah Cikal sebagai pemandu obrolan. OPMB kali ini mengangkat judul Bagaimana Asesmen Menghidupkan Visi Sekolah.  Kembali ke Visi Ibu Andri yang sempat memiliki keresahan tersebut pun akhirnya tersadar bahwa tidak perlu merasa kehilangan tujuan, kembalikan saja lagi pada visi sekolah, dimana hal ini nampak pada profil lulusan sekolah.  Membuat Program Asesmen Untuk mewujudkan profil lulusan yang sekolah cita-citakan. Salah satu langkah awalnya adalah dengan melakukan asesmen diagnostik. Asesmen ini dilakukan bukan untuk melabeli murid atau calon murid. Asesmen ini dilakukan untuk memetakan ada di titik mana warga sekolah berada, sehingga selanjutnya dapat dirumuskan strategi-strategi untuk mewujudkan profil murid yang dicita-citakan.  Bagaimana Bu Andri melakukan asesmen? Bu Andri menjawab, “Saya pakai inkuiri. Jadi betul-betul, saya memakai kekuatan bertanya. Dan saya melihat sebenarnya proses inkuiri itu setara atau selaras dengan visi misi kita.” Ia melanjutkan, “Kenapa? Karena saya ingin kalau saya banyak bertanya, guru-guru juga banyak bertanya, dan kemudian anak-anak pun juga akan banyak bertanya.” Terdapat 3 pertanyaan yang biasa Bu Andri tanyakan, “Apa yang kira-kira sudah oke? Apa yang belum oke? Dan kalau belum oke, kira-kira saya bisa bantu apa?” Ia pun menambahkan bahwa program asesmen ini bukan hanya memetakan kognitif, melainkan juga non kognitif. Bukan hanya dilakukan pada murid, melainkan juga pada guru. Dengan memetakan murid dan guru, maka pemimpin dapat menemukan bila ada gap di antara keduanya. Lalu pemimpin dapat membantu pengembangan guru, agar guru dapat memenuhi kebutuhan murid.  Dinamika Melaksanakan Asesmen Ketika menyimak obrolan, para peserta membayangkan penerapannya di sekolah masing-masing. Tentunya juga membayangkan tantangan-tantangan yang mungkin dihadapi. Para peserta nampak begitu penasaran dengan mengajukan banyak pertanyaan. Salah satu pertanyaannya adalah “Apakah rekan pemimpin atau guru lain langsung setuju, ketika diajak untuk melakukan asesmen tersebut? Bila tidak, apa yang ibu lakukan?” Bu Andri menyatakan bahwa belum tentu guru itu menolak, ada kemungkinan bahwa guru itu ragu-ragu. Guru butuh dukungan, bantuan, dan keyakinan bahwa ia mampu melakukannya. Guru butuh rasa aman bahwa dirinya tidak akan ditinggal, sehingga pemimpin mesti siap membantu ketika guru butuh bantuan. Ketika itulah pemimpin perlu menyiapkan dengan berbagai hal dan membantu dengan berbagai cara, agar guru menjadi mampu melakukannya.  Baca Juga: Siap AN, Siap Berubah? Begitulah cara Bu Andri menjawab kebingungannya atas kebijakan Nadiem Makarim menghapus UN. Bagaimana cara Bapak/Ibu mengatasi kebingungan serupa? Apa Bapak/Ibu terinspirasi melakukan asesmen yang selaras dengan visi sekolah?