Menginspirasi Murid di New Normal, Bisakah?

Berdiam di dalam rumah ini denganmuDari malam hingga malam lagiTerkungkung langkah ragu tak ke mana-manaDari Rabu hingga Rabu lagi Tulus menyanyikan sepotong lirik lagu terbarunya Adaptasi di sesi akhir Seminar Wardah Inspiring Teacher 2020 di aplikasi Zoom. Lirik tersebut seakan mewakili kondisi saat ini. Saat di mana berbagai aktivitas terpaksa dikerjakan di rumah. Salah satunya adalah event tahunan Wardah Inspiring Teacher. Kegiatan yang pada tahun-tahun sebelumnya diadakan secara tatap muka, karena Corona terpaksa diadakan secara online. Lagu Adaptasi dari Tulus menggambarkan hal tersebut. Bagaimana membuat kegiatan belajar di Wardah Inspiring Teacher bisa bermakna walau dilakukan secara online? Bagaimana menjadi guru yang menginspirasi murid di masa pandemi ini? Itulah tantangan kami di Kampus Guru Cikal selaku lembaga pelatihan yang ditunjuk oleh Wardah untuk mendampingi guru-guru di Wardah Inspiring Teacher 2020. Seminar WIT 2020 “Wardah Inspiring Teacher 2020” “Memberi inspirasi untuk negeri.” Tagline tersebut sudah menjadi bagian Wardah Inspiring Teacher dari tahun-tahun sebelumnya. Namun terasa berbeda di tahun 2020 ini. Mungkin akan timbul pertanyaan seperti di atas, “Bagaimana memberi inspirasinya?”“Bagaimana memberi inspirasi di masa seperti ini?” “Mengajar aja susah, kendalanya banyak banget. Boro-boro memberi inspirasi..” Itu pulalah yang kami dapatkan saat sesi awal Wardah Inspiring Teacher 2020. Saat membuka slide presentasi dan memunculkan judul Menginspirasi Murid Belajar di New Normal banyak peserta yang bertanya-tanya. Dan benar saja, saat kami melakukan asesmen di awal mengenai pembelajaran jarak jauh, banyak yang merasa kesulitan. Berikut adalah kata  yang menggambarkan perasaan guru melakukan  pembelajaran di masa pandemi, Guru Merdeka Belajar Selain itu, di asesmen awal kami juga mengajak guru untuk berbagi mengenai kendala apa saja yang dihadapi guru saat melakukan pembelajaran jarak jauh. Ternyata banyak kendala yang guru hadapi, dari kuota, sinyal, pelibatan orangtua, hingga motivasi internal murid. Dari asemen ini, ternyata memang guru perlu dibantu. Memang prosesnya akan sulit, namun kami percaya Guru #MerdekaBelajar akan mencari cara untuk mencapai suatu tujuan. Seminar tahap 1 dan 2 yang dilaksanakan pada tanggal 18 dan 19 Juni 2020 itu mengajak guru untuk bercerita mengenai pembelajaran sebelum dan sesudah pandemi, selain itu narasumber dari Kampus Guru Cikal yaitu Rizqy Rahmat Hani menceritakan praktik baik guru yang tetap bisa menginspirasi walau di tengah pandemi. Para Guru yang Menginspirasi Ada cerita Guru Titis yang menginspirasi muridnya dengan membuat pembelajaran di Radio Republik Indonesia di Sanggau. Guru Dynna yang menginspirasi dengan melibatkan murid dan orangtua dalam merancang RPP. Guru Titik yang menginspirasi dengan refleksi dan memahami muridnya. Cerita tersebutlah membuat sekitar 200 guru yang mengikuti sesi tersebut seperti mendapatkan AHA moment. Terlihat di kolom komentar, “Benar juga ya, harusnya dari awal melibatkan orangtua dan murid.” “Ternyata asesmen yang beragam bisa juga ya, dan malah membantu murid.”“Ceritanya hampir sama dengan cerita saya, sangat menginspirasi Guru Titis!” Saya melihat walau dilakukan secara online, antusias peserta luar biasa, terlihat dari jumlah yang mengikuti sesi Seminar dari awal hingga akhir. Pada sesi Seminar WIT 2020 tersebut juga ada sesi talkshow bersama alumni Wardah Inspiring Teacher tahun 2019. Untuk tahap 1, ada guru Titik Nur Istiqomah dari Magelang, untuk tahap 2 ada Eki Nur Wulandari dari Pekalongan. Dua guru tersebut menceritakan bagaimana mereka mengikuti WIT 2019, dan apa saja yang didapatkan oleh keduanya. Guru yang Membangun Empati Pada Murid “Saya belajar tentang empati sebelum merancang di Wardah Inspiring Teacher. Salah satunya saat merancang board games aksara Jawa ini (sambil menunjukkan ke layar kamera).” ungkap Guru Titik. Dari talk show tersebut peserta lebih sadar akan tujuan mereka mengikuti Wardah Inspiring Teacher. “Saya jadi lebih semangat mengikuti Wardah Inspiring Teacher setelah mengikuti sesi talk show ini.” ungkap salah satu peserta di kolom komentar. “What an amazing  experience! Senangnya bertemu dengan guru dari berbagai daerah dan juga bersyukur bisa belajar dari pemateri yang luar biasa.” tutur @nisrinaqey di akun Instagramnya. Wardah Inspiring Teacher tahun 2020 ini ada 5500 guru yang direkomendasikan, 2300 mendaftar dan hanya 1800 yang mengikuti Wardah Inspiring Teacher 2020 ini. Setelah Seminar Wardah Inspiring Teacher, kira-kira selanjutnya tahap apa lagi ya? Ingin tahu ada apalagi? Yuk follow instagram @kampusgurucikal dan @wardahinspiringteacher. 

Guru Masa Depan, Guru Merdeka Belajar yang Berinovasi

Pelatihan Wadah Inspiring Teacher Bandung tahap dua diadakan pada tanggal 20 Juli 2019 dan diikuti oleh 14 orang peserta. Proses pelatihan sebenarnya sudah dimulai beberapa minggu sebelum pelatihan tatap muka diadakan di hotel Ibis Style Braga, Bandung. Di proses pelatihan sebelumnya para peserta diberikan beberapa tugas dan laporan yang harus diselesaikan, tujuannya adalah para peserta dapat merancang dan membuat media ajar yang akan dibawa dan diuji coba pada pelatihan tatap muka. Tugas dan laporan dikerjakan secara online, ada yang melalui diskusi online dan google classroom. Selain karena kesibukan mengajar, hal ini menjadi tantangan tersendiri karena tidak semua peserta pelatihan terbiasa menggunakan media online dalam berkomunikasi dan bekerja. Dari sekitar 40 peserta yang ikut pelatihan tahap 1 hanya 14 orang yang berhasil menyelesaikan tugas untuk bisa lanjut ke tahap 2. Kegiatan dimulai pukul 08.00 pagi. Peserta yang sudah hadir melakukan registrasi melalui google form dan mengambil modul pelatihan. Kemudian peserta melakukan aktivitas Potret Belajar (S,I,P), yaitu berupa sesi refleksi dari Wardah Inspiring Teacher sesi sebelumnya. Peserta menuliskan pengalaman dari sesi pelatihan sebelumnya yaitu apa yang sudah mereka ketahui, apa yang sudah mereka ketahui dan apa yang telah mereka pelajari tentang inovasi media ajar. Pada sesi berikutnya, peserta diarahkan bisa merancang pertanyaan untuk proses uji coba media ajar secara berkelompok. Pada kegiatan ini peserta diharapkan bisa merumuskan pertanyaan esensial dalam uji coba. Peserta bisa mengetahui tahapan dalam melakukan uji coba, purwarupa media ajar, memahami teknik pengumpulan dan pengolahan data uji coba media ajar dan bagaimana menyusun rubrik penilaian media ajar. Tantangan peserta yaitu ketika bagaimana menilai dirinya sendiri menggunakan rubrik yang dicontohkan oleh pemateri. Meskipun terlihat sulit, dalam mengukur kemampuan diri menggunakan rubrik para peserta bisa menyelesaikannya. Selanjutnya peserta dibagi menjadi 3 kelompok. Para peserta diminta untuk melakukan uji coba. Peserta diharapkan bisa menangkap data ketika uji coba. Yaitu meliputi apa yang masih perlu dipertahankan, ditingkatkan dan dihentikan. Sesi yang sangat menakjubkan dimana para peserta dengan kreativitasnya menciptakan beragam media ajar yang disesuaikan dengan kebutuhan murid-muridnya. Pak Imam salah satu penggerak KGB Bekasi membuat papan kesepakatan bersama yang isinya bisa diganti-ganti dengan jadwal rutinitas belajar berupa gambar visual yang mudah dikenali murid-muridnya untuk yang memang kebanyakan anak berkebutuhan khusus. Kegiatan dilanjutkan dengan refleksi uji coba media ajar dilakukan setelah melakukan uji coba. Ada tiga hal yang perlu direfleksikan yaitu:1. Seberapa empati kita kepada kondisi dan kebutuhan murid?2. Aspek bentuk dan aspek penggunaan media ajar?3. Seberapa efektif media yang dibuat membantu ketercapaian tujuan belajar? Dalam kegiatan ini para peserta menilai media ajar yang telah mereka buat. Selain menilai secara pribadi, mereka pun meminta umpan balik dari peserta lainnya. Masuk ke materi selanjutnya, pelatih menjelaskan bahwa semua peserta wardah inspiring teacher adalah salah satu profil guru masa depan. Profil guru masa depan salah satunya adalah menjadi guru merdeka belajar, yaitu guru yang komitmen terhadap tujuan belajar, mandiri dengan menentukan cara belajar serta melakukan refleksi belajar. Empat kunci Cikal dalam pengembangan cita-cita guru.Pertama adalah kemerdekaan, yaitu guru mempunyai kesempatan menentukan tujuan, cara dan refleksi belajar untuk terus menerus melakukan pengembangan diri, seperti: terlibat dalam menetapkan target kinerja sekolah dan guru, memilih pelatihan yang sesuai kebutuhan belajarnya, dan melakukan refleksi berkala terhadap capaian dan proses mencapai target. Kedua adalah kompetensi yaitu guru mempunyai kesempatan mengembangkan kompetensinya sehingga siap menghadapi tantangan pengajaran sesuai bidang studi, murid yang diajar dan relevan dengan konteksnya, seperti kesempatan untuk mengikuti pelatihan yang sesuai kebutuhan belajarnya, kesempatan melakukan proyek percobaan, kesempatan mendapatkan umpan balik berkualitas dan kesempatan menilai kompetensinya. Ketiga adalah kolaborasi yaitu guru mempunyai kesempatan melakukan kolaborasi dengan guru dan komunitas untuk menghasilkan karya atau mencapai tujuan bersama, seperti: kesempatan berinteraksi ke sekolah lain, kesempatan terlibat di komunitas yang relevan dan kesempatan melakukan proyek bersama. Keempat adalah karier yaitu guru mempunyai kesempatan untuk mengenali, memilih, merencanakan dan mengembangkan karir sesuai potensi dan aspirasinya dengan tetap mengajar di kelas, seperti kesempatan berkarya, kesempatan mengenalkan karya melalui presentasi, pameran atau di web/aplikasi dan mendapat umpan balik terhadap karyanya. Di sesi akhir pembicara menjelaskan tentang karir protean guru. Pembicara menunjukkan sebuah gambar, yaitu karir guru diibaratkan sebuah tangga dan berakhir di kepala sekolah atau pengawas. Peserta diajak untuk membayangkan berapa jumlah kepala sekolah dan berapa yang hanya menjadi seorang guru. Karier guru diibaratkan sebuah pohon. Akar dan batang nya adalah guru tetapi bisa bercabang. Cabang cabang ini bisa berupa menjadi koki, fotografer, penulis, pelatih dan sebagainya.Guru bisa berkarir menjadi apapun dia mau. Untuk lebih memahami , sesi ini diisi dengan talkshow. Menghadirkan Pak Suhud Rois dari Komunitas Guru Belajar Cimahi dan pak Aye dari Kampus Guru Cikal. Pak Suhud menceritakan pengalamannya sebagai seorang guru dan bagaimana memulai karir protean sebagai penulis, editor SKGB dan buku lainnya yang pastinya sudah ber ISBN wow dan juga pembuat mainan. Pak Suhud menceritakan bahwa beliau tidak melalui jenjang pendidikan khusus untuk menjadi editor atau desain grafis melainkan beliau belajar sendiri alias otodidak. Pesan pak Suhud terhadap peserta adalah jangan takut untuk memulai menulis yaitu nulis aja dulu. Sementara pak Aye bercerita pengalamanya yang sejak tahun 2000-an aktif membuat dan memproduksi mainan edukasi anak anak bahkan sempat diliput media nasional dan menjuarai tingkat nasional pula. Namun motivasi terpenting untuk peserta adalah bagaimana kita ikhlas menjalani profesi guru, ikhlas meluangkan waktu untuk murid untuk mencapai tujuan belajarnya Dari rangkaian kegiatan di atas, saya melihat bahwa setiap guru punya kesempatan menjadi guru masa depan, guru yang didambakan murid untuk bisa jadi panutan dan teman belajar. Guru bukanlah profesi yang bisa digantikan oleh mesin atau kecerdasan buatan, karena guru memiliki kesempatan untuk bisa memanusiakan hubungan dengan semua pemangku kepentingan. Kemudian kita harus berefleksi kembali, apakah kita sudah menjadi guru yang akan mengantarkan murid kita mencapai tujuan pendidikan ? atau bahkan kita belum menjadi guru merdeka belajar ?

Kunci Pengembangan Guru di Wardah Inspiring Teacher 2019

Namanya Ernawati, beliau adalah guru SMP 1 Wates, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Guru Erna merupakan salah satu peserta program Wardah Inspiring Teacher 2019 yang diadakan di Yogyakarta. Saat kegiatan berlangsung, Guru Erna tampak antusias mengikuti sesi belajar berempati dengan murid sebelum membuat media ajar. Beberapa kali menyampaikan pendapatnya, antusias menyampaikan idenya, dan lincah bergerak saat pelatihan. Hal yang membuat kami kaget adalah ketika mengetahui beliau sudah berusia 53 tahun dan masih menjalani serangkaian perawatan penyakit kankernya. Apa sebenarnya yang bisa membuat guru Ernawati bisa antusias mengikuti program? Kalau di Kampus Guru Cikal, kami percaya 4 kunci pengembangan guru : Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi dan Karier.  Kampus Guru Cikal dan Wardah diawal sepakat bahwa kegiatan Wardah Inspiring Teacher bukan kegiatan kompetisi antarguru. Tidak ada arahan pada guru untuk mengalahkan guru yang lain, tapi lebih pada arahan agar guru menetapkan dan mencapai penguasaan kompetensi yang lebih tinggi. Tidak ada sogokan dan hukuman bagi guru agar termotivasi mengikuti program, tapi lebih pada kesempatan lebih pada guru yang belajar lebih cepat dan dukungan pada guru yang butuh waktu belajar lebih banyak. Peserta mengikuti kegiatan bukan karena ada hadiahnya, bukan karena perintah dari atasan, namun karena kemauan dari diri sendiri. Inilah yang disebut kunci Kemerdekaan.  Kemerdekaan, itulah yang menjadi alasan mengapa guru Ernawati semangat mengikuti kegiatan Wardah Inspiring Teacher. Guru Erna sadar akan tujuan, tahu tujuan belajarnya, tidak mudah menyerah menghadapi tantangan, tidak cepat menyalahkan keadaan dan selalu mencari cara yang lebih efektif mencapai tujuan. Dalam pelatihan Wardah Inspiring Teacher, Kampus Guru Cikal di awal pelatihan tidak langsung memberikan materi tentang “Bagaimana Membuat Media Ajar A, B, atau C?” . Kami mengajak peserta untuk memahami “Why”-nya. Kami ajak peserta untuk bisa berempati kepada murid. “Jika kondisi muridnya seperti ini, media seperti apa yang sesuai?” Karenanya, guru bisa lebih inovatif di beragam situasi. Karena kompetensi harus bisa ditunjukkan di mana saja, kepada murid yang bagaimana dan dalam hal mengerjakan apa. Dari sini kami melihat beragam media yang diciptakan peserta. Guru Wahyu Hidayat seorang guru Sekolah Menengah Atas membuat papan permainan yang terinspirasi dari game online yang marak dimainkan remaja. Papan permainan tersebut dibuat karena banyaknya murid yang lebih tertarik bermain game online daripada mengikuti pengajarannya. Guru Helvira membuat buku untuk meningkatkan kemampuan fungsional murid-murid berkebutuhan khusus yang diajarnya. Guru Anas membuat alat yang membantu murid SD yang diajarnya memahami dengan mudah langkah-langkah berwudhu. Guru Anggi yang mengamati muridnya lebih suka bergaul dengan tukang mainan daripada gurunya, oleh karenanya, kemudian ia memulai menciptakan permainan untuk muridnya. Guru Dina melihat banyak murid yang lebih suka audio visual, oleh karena itu ia membuat film dokumenter dalam materi biografi. Guru-guru tersebut alih-alih menyalahkan muridnya, memilih untuk mencari cara agar muridnya bisa belajar. Dalam proses pembuatan media, kami mengajak peserta untuk membuat prototipenya terlebih dahulu. Dari prototipe tersebut kemudian diuji cobakan kepada peserta lainnya, murid, dan lainnya. Dari hasil uji coba, didapatkan beberapa umpan balik yang kemudian digunakan guru-guru peserta program sebagai acuan memperbaiki media yang dibuatnya. Kolaborasi inilah yang membuat media yang awalnya biasa saja, bisa lebih baik. Masukkan guru lain, murid bahkan narasumber ahli membantu guru dalam menyempurnakan medianya. “Murid-muridku merasa permainannya kurang menantang, cepat selesai” “Lagu ciptaanku buat pengajaran ternyata sekadar membantu murid menghafal, sehingga perlu dikombinasikan agar bisa lebih bermakna.” “Ide media ajar yang aku buat prototipenya dipoles oleh temanku seorang desainer grafis.” Pengalaman kolaborasi ini membuat guru mendapat inspirasi dan praktik baik yang sudah teruji.  Kunci pengembangan guru yang keempat adalah karier.  Selama ini karier yang tersedia melalui jalur formal adalah kepala sekolah, itupun terbatas tidak untuk semua guru. Kami di Kampus Guru Cikal mendorong karier guru yang protean. Guru bisa terus menjadi guru, tetapi juga mengembangkan karier di bidang yang beragam. Guru bisa menjadi pelatih guru lain, penulis, pembuat media ajar, pendongeng, dsb.  Di Wardah Inspiring Teacher 2019 ini, Kampus Guru Cikal merancang kegiatan Temu Inovasi yaitu kegiatan pameran media guru. Harapannya dari pameran ini, banyak guru yang mulai berinisiatif mengembangkan kariernya walaupun kegiatan Wardah Inspiring Teacher sudah selesai.  “Di Temu Inovasi saya memasang media saya dan poster ‘How to Play’, tidak disangka ternyata banyak yang tertarik, dan kemudian saya jelaskan bagaimana proses membuat media ini. Mereka semakin tertarik dan kemudian membeli media saya. Dan laku sekitar 20 buah Pak. Tidak berhenti sampai di situ, banyak yang repeat order melalui Instagram@kadoka_edu …” Itulah cerita dari Guru Puspita Demy Amalia, seorang guru dari Homesantren Kebaikan Surabaya yang menjadi salah satu peserta Wardah Inspiring Teacher 2019.  Guru Imam Setiawan dari Sekolah Alam Atifa Bogor pun sama, setelah pameran Guru Imam memoles kembali media ajar yang ia buat untuk dipasarkan. Saat ini, media yang ia buat yaitu berupa buku, masih dalam tahap pengurusan ISBN. Anda sudah siap untuk Wardah Inspiring Teacher 2020?

Temu Inovasi Karya : Langkah Awal Meniti Karier Guru

Saya pernah mengikuti lomba guru berprestasi dan menjuarai kejuaraan tersebut. Namun setelah saya mendapat piala dan beberapa hadiah, tidak ada proses setelah itu. Apa yang saya ciptakan sekadar untuk lomba tersebut. Lomba selesai, kegiatan berinovasi selesai. Membuat inovasi pengajaran lagi ketika ada lomba lagi. Seakan inovasi pengajaran bukan berdasar kepada kebutuhan belajar murid, tapi keinginan saya mendapat piala. Saya tidak memiliki kemerdekaan dalam merancang inovasi pengajaran, saya hanya fokus kepada track record juri, sejarah pemenang inovasi pengajaran tahun-tahun sebelumnya, hadiah yang jumlahnya tentu tidak sedikit.  Saat Kampus Guru Cikal diajak Wardah untuk merancang Wardah Inspiring Teacher 2019 hal yang paling pertama dibicarakan adalah bagaimana agar kegiatan ini dihilangkan kesan kompetisinya. Maka sedari awal walau ada hadiah studi banding ke New Zealand bagi 2 guru di akhir program, kami tidak pernah menyampaikan hal tersebut. Kami ingin guru yang mengikuti program ini bukan semata-mata karena hadiahnya. Awalnya sih sangsi, apakah kegiatan tanpa iming-iming dan akan berlangsung cukup lama (Maret – September) peserta akan bertahan hingga akhir? Jangan-jangan di tengah peserta berguguran dan tidak melanjutkan hingga akhir program? Proses demi proses kami jalani, dari pelatihan dasar yang mana guru diajak berempati kepada murid untuk membuat media. Pra pelatihan lanjutan, guru dikenalkan kepada berbagai jenis media, canvas media ajar hingga diajak untuk membuat prototipe. Menariknya pada pra pelatihan lanjutan ini dilakukan secara online, namun peserta masih saja antusias mengikuti dan mengirimkan tugas demi tugas. Dilanjutkan pelatihan lanjutan mengenai validasi karya. Peserta diajak membuat poin-poin penilaian dari karya yang dibuat, dan melakukan uji coba kepada beberapa pihak, terutama kepada murid. Dari proses uji coba ini membuat media yang dibuat guru peserta program mendapat umpan balik baik dari narasumber ahli, murid, dsb. Tidak disangka sampai tahap akhir ada sekitar 60 guru yang masih bertahan. Kami melihat 60 guru ini mewakili guru-guru yang memiliki kemerdekaan. Mereka sadar akan tujuan, merasa apa yang dilakukan sesuai kebutuhan belajar. Bukan semata-mata karena hadiahnya.  Di sesi akhir sebagai apresiasi, kami undang sekitar 40 guru untuk melakukan pameran karya di Temu Pendidik Nusantara 2019, dimana banyak guru dari berbagai daerah datang ke sini. Harapannya dari sini, guru-guru peserta Wardah Inspiring Teacher 2019 bisa mengenalkan media ajar yang dibuatnya dan awal guru-guru memulai karier protean. Pameran digelar di Gedung Serba Guna Sekolah Cikal Cilandak pada tanggal 26-27 Oktober 2019. Berbagai media guru yang dibuat dipamerkan beserta poster proses pembuatan media tersebut. Banyak guru dari berbagai daerah berdatangan untuk mencoba media yang dipamerkan. “Di Temu Inovasi saya memasang media saya dan poster ‘How to Play’, tidak disangka ternyata banyak yang tertarik, dan kemudian saya jelaskan bagaimana proses membuat media ini. Mereka semakin tertarik dan kemudian membeli media saya. Dan laku sekitar 20 buah Pak. Tidak berhenti sampai di situ, banyak yang repeat order melalui Instagram@kadoka_edu …” Itulah cerita dari Guru Puspita Demy Amalia, seorang guru dari Homesantren Kebaikan Surabaya yang menjadi salah satu peserta Wardah Inspiring Teacher 2019.  Guru Imam Setiawan dari Sekolah Alam Atifa Bogor pun sama, setelah pameran Guru Imam memoles kembali media ajar yang ia buat untuk dipasarkan. Saat ini, media yang ia buat yaitu berupa buku, masih dalam tahap pengurusan ISBN. Kampus Guru Cikal percaya kunci pengembangan guru ada 4 yaitu kemerdekaan, kompetensi, kolaborasi dan karier. Tidak berhenti saat guru mendapat piala, namun mengajak guru untuk mengembangkan kariernya sebagai guru.

Membuka Jalur Karier Guru yang Tak Hanya Kepala Sekolah

Bagaimana guru bisa menjadi profesi yang juga tidak hanya mengajar dan belajar, tapi juga bisa sebagai inovator? Apakah bisa? Ternyata dalam pelatihan selama Wardah Inspiring Teacher ini, pertanyaan tersebut bisa terjawab. Pelatihan Wardah Inspiring Teacher 2019 ini dimulai dari belajar Proses Berpikir Desain, dimana para guru dalam pelatihan ini ditantang untuk menjadi guru yang berinovasi. Apa yang para guru ini akan inovasi? Yaitu media belajar yang digunakan untuk sehari-hari mengajarkan konsep atau pengetahuan yang menjadi tujuan pembelajarannya. Pelatihan yang diadakan pada tanggal Sabtu, 14 Juli 2019 di Ruang Ballroom Hotel Crystal Lotus, Yogyakarta ini merupakan tahap lanjutan dari proses Pelatihan Wardah Inspiring Teacher 2019. Kira-kira 20 orang peserta yang datang dari berbagai penjuru daerah Jogjakarta dan sekitarnya dimulai dengan meninjau kembali sampai dimana perjalanan para guru dalam belajar berinovasi. Para peserta diajak melihat kembali tahapan berpikir desain, dan menilai diri sendiri melalui yang disebut Pohon Blob, sampai dimana perjalanan mereka, dan diskusi dengan teman sebelahnya mengapa menurut mereka tahap itulah yang mereka pilih. Salah satu peserta berbagi dengan temannya dengan menganalogikan dirinya dengan gambar orang sedang bergantung kepada dahan pohon, “Karena saya masih coba untuk memanjat pohon seperti saya sedang dalam proses mencapai puncak pembelajaran saya.” Begitu kata salah satu guru menjelaskan tentang proses perjalanannya.  Pelatihan lanjutan kali ini berfokus kepada bagaimana para peserta bisa memperoleh umpan balik untuk media ajar yang dibuatnya. Diskusi mengenai pertanyaan apa saja yang bisa menjadi umpan balik, kemudian para peserta juga belajar untuk memberikan umpan balik kepada dirinya sendiri, dengan menggunakan perangkat rubrik yang memudahkan pembuat media belajar untuk menilai medianya sendiri.  Bagian paling seru dan dinanti-nantikan dalam pelatihan ini adalah dimana para peserta menguji coba media belajarnya dalam kelompok. Berbagai produk media belajar yang sudah didesain oleh para peserta dipresentasikan, diuji coba, dan diberikan umpan balik oleh peserta lainnya. Hampir semua produk media belajar yang ditampilkan sangat menarik untuk diulas, namun berikut beberapa yang memancing banyak komentar maupun umpan balik: Keran Wudhu dan Urutannya, media untuk belajar urutan berwudhu dalam pelajaran agama, dibuat dengan gambar di atas keran, sehingga siswa tinggal mengikuti urutan wudhu dalam belajar urutan wudhu dengan benar. Video Biografi, video buatan guru yang menginspirasi bagaimana cara membuat Biografi yang menggugah dan menginspirasi orang yang menontonnya. Berbagai modifikasi Board Games dan Flash Card, belajar tentang sains maupun bahasa Inggris. Pelatihan ditutup dengan bintang tamu dua orang guru yang sudah menjadi inspirasi di komunitasnya yaitu Pak Nuno dari Petungkriyono yang menggunakan media belajar Asesmen dengan QR Codenya sempat dimuat surat kabar lokal maupun nasional, beliau memperluas ranah medianya ke Board Games, sehingga mendapatkan proyek permainan yang bertema pelestarian binatang bernilai jutaan dari sebuah badan konservasi. Perjalanan belajar dari Pak Nuno, membuktikan bahwa guru yang berinovasi yang bermulai dari masalah, bisa membawanya menuju karier protean, yaitu jenjang karier yang bisa capai oleh guru, selain menjadi kepala sekolah, wakil kepala sekolah atau pengawas.  Salah satu narasumber lainnya yaitu ibu Pima Aditya dari Sekolah Cikal, beliau adalah koordinator kurikulum SD Cikal Cilandak yang juga mengembangkan karirnya sebagai Teknologi Integrator, walaupun Ibu Pima tidak punya latar belakang IT maupun Komputer Sains. Beliau terpilih menjadi salah satu Apple Distinguished Educator dari Indonesia. Pekerjaan sehari-hari ibu Pima adalah memetakan kurikulum dan proses belajar dengan teknologi. Menurut ibu Pima Pendidikan adalah Teknologi dan Teknologi adalah Pendidikan, tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, para guru harus berani menghadapi perubahan, dan juga membuat perubahan dengan berinovasi melalui media belajar. Acara pelatihan ditutup oleh video yang mengatakan: The Future of Education is You.  Masa depan pendidikan adalah: anda, sang guru.

Uji Coba, Umpan Balik dan Media Inovatif yang Bermakna

Seandainya Anda adalah seorang yang suka masak dan ingin memasarkan masakan Anda. Apa yang Anda lalukan? Langsung menjualnya? Atau ada hal lain yang harus Anda lakukan sebelum Anda memasarkannya? Waktu itu di tahun 2013 saya bersama teman-teman berencana membuka warung makan kerang. Saya mencari resep di internet, bertanya kepada saudara yang ahli masak. Jadilah beberapa varian menu bumbu kerang : saus tiram, asam manis, sambal kacang, hingga saus padang. Setelah itu, untungnya saya tidak langsung menjualnya. Setelah beberapa kali gagal, lalu menyicipi sendiri bumbunya, merasa kurang, coba lagi dengan memadupadankan bahan bumbu lainnya lalu saya mengundang beberapa tester di antaranya teman-teman saya penikmat kuliner, saudara saya pengusaha kuliner, dsb. Dari aktivitas testing itulah saya mendapat banyak umpan balik dari yang datang.  Saya perbaiki lagi bumbunya, sesuai masukkan tester waktu itu. Kemudian saya berani membuka warung kerang. Banyak yang suka dan akhirnya menjadi langganan warung. Saya belajar banyak dari situ, proses testing sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas produk yang kita miliki. Bagaimana dengan media ajar? Media ajar yang dibuat guru untuk murid di kelas. Apakah media yang guru buat bisa langsung dipraktikkan di dalam kelas? Apakah media ajar yang dibuat bisa langsung dipasarkan? Sama halnya dengan kerang tadi, media ajar yang dibuat haruslah melalui tahapan testing (uji coba). Agar bisa mengetahui apakah media ajar yang kita buat sudah sesuai sasaran, sudah bermakna dan berguna untuk murid. Namun pertanyaannya adalah uji coba yang seperti apa? Jangan sampai sudah meluangkan waktu melakukan uji coba, namun tidak tepat sasaran. Bukannya mendapat umpan balik yang sesuai, malah membuat media ajar kita jauh dari harapan.  Kembali lagi ke atas? Coba saat saya akan membuka warung, tester saya bukanlah orang tepat, bumbu kerang saya akan menjadi amburadul. Oleh karena itu dalam tahapan Wardah Inspiring Teacher 2019 di Kota Surabaya, Kampus Guru CIkal mengajak guru-guru yang sudah membuat rancangan media dari tahap pra pelatihan melakukan uji coba dalam pelatihan “Validasi Karya melalui Uji Coba Bermakna” .  Di awal pelatihan guru-guru diajak untuk mulai merancang uji coba dari : Menentukan siapa yanng akan mengujicoba media yang dibuat. Mencari cara uji coba yang akan dilakukan. Membuat pertanyaan yang sesuai agar mendapat umpan balik yang diinginkan. Melakukan refleksi diri Menjadi guru berkarier Kegiatan pelatihan 2 wardah Inspiring Teacher ini bertempat di Hotel Ibis Style Jemur Sari Surabaya diikuti 33 guru dari berbagai jenjang dan daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dalam sesi ini, guru-guru diwajibkan membawa rancangan media yang ia buat dari sesi sebelumnya. Beragam media yang guru bawa, dari media papan permainan bernama Battlefield Trigonometri, yang dibuat untuk memudahkan belajar trigonometri. Kartu Walisongo, memudahkan orang mengetahui proses walisongo dalam menyebarkan Islam, Spin lembaga pemerintah, lingkaran bergerak untuk membantu murid belajar dan memahami fungsi lembaga-lembaga pemerintahm dan masih banyak lainnya. Dari sesi uji coba banyak yang terbantu, salah satunya adalah Ibu Tri Mutmainah seorang guru yang membuat video tutorial untuk memudahkan murid membuat baju. Bu Tri Mutmainah mendapat banyak feedback dari rekan-rekannya, seperti suara yag kurang jelas, yang menganggu pemahaman, video yang kurang ilustrasi, hingga gaya bahasa yang digunakan.  “Umpan balik yang diberikan membantu saya dalam memperbaiki videonya.” ujar Tri Mutmainah. Sejalan dengan Tri Mutmainah, guru Hibatun Wafiroh juga merasakan dampak dari tahapan uji coba.  “Pelatihan ini sangat penting bagi saya. Saya semakin tahu, bahwa setelah membuat media ada langkah yang sering kali tidak saya pikirkan yaitu uji coba. Dari uji coba tadi, saya mendapat banyak umpan balik. Insya Allah Setelah ini media yang saya buat bisa lebih baik.” ucap Guru Hibatun Wafiroh, salah satu peserta WIT dari Lamongan.

Guru Berinovasi, Pendidikan Bergerak Pasti

PT Paragon Technology and Innovation (Wardah) bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal mengadakan pelatihan tahap 1 Wardah Inspiring Teacher Yogyakarta pada tanggal 24-25 Maret 2019. Pelatihan ini adalah bagian dari program CSR Wardah. Tujuan dari program ini adalah memberikan apresiasi dan  pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru. Ada 28 Guru yang mengikuti program ini. Peserta bukan hanya dari Yogyakarta saja, namun juga daerah sekitarnya, bahkan ada yang berasal dari Pekalongan yang jaraknya kurang lebih 200 KM dari Yogyakarta. Menjadi guru bukanlah hal yang mudah, butuh begitu banyak dedikasi dan usaha untuk selalu mengikuti perkembangan zaman. belum lagi sebagai guru harus mengenal dan memahami murid untuk dapat mengetahui hal-hal apa yang dapat membantu atau menjadi hambatan dalam proses belajar. Guru sebagai inovator adalah jawaban dari berbagai masalah yang dihadapi guru dalam mengajar. Dalam pelatihan ini guru dibagi berdasarkan jenjang kelas yang diajar, hal ini untuk memudahkan guru dalam berdiskusi dan mengembangkan ide inovasinya. Dalam pelatihan ini guru diajak untuk berempati dan memahami anak, karena inovasi yang berhasil dibangun atas dasar empati. Selanjutnya guru diajak untuk memahami tahap perkembangan anak serta menggali lebih dalam permasalahan yang dihadapi oleh murid. Hal ini bertujuan agar guru dapat menganalisa dan memilih permasalahan apa yang ingin diselesaikan. Dari pelatihan ini banyak guru yang merasa tercerahkan. bahwa sebenarnya guru bisa menyelesaikan masalah yang dihadapinya, asal guru mau selalu belajar dan terbuka terhadap perubahan. perubahan bukan untuk dihindari, karena perubahan adalah sesuatu yang pasti. jadi tugas utama kita sebagai seorang guru adalah belajar. Belajar memahami murid, belajar melihat tujuan besar, belajar mandiri terhadap cara untuk mencapai tujuan dan belajar untuk konsisten berefleksi.

7 Model Media Ajar Inovatif

Pernahkah Anda mengalami kesulitan saat menjadi fasilitator murid di kelas? Apalagi mengajar murid yang beragam karakteristiknya, mengajar di jam-jam siang, mengajar di jam pembelajaran setelah pembelajaran olahraga, dan banyak faktor lainnya. Faktor-faktor tersebut kadang membuat murid menjadi bosan, tidak antusias dalam belajar. Jika mengalami kondisi tersebut, apa yang akan Anda lakukan? Tetap menjalankan pembelajaran seperti biasanya, atau mencari cara membuat murid antusias belajar. Ada berbagai macam cara yang Anda bisa lakukan untuk mengatasi kesulitan Anda tersebut, salah satunya adalah menghadirkan media ajar. Saya analogikan dengan televisi, sebuah informasi disampaikan oleh jurnalis melalui media televisi, agar informasi tersebut diterima dan dipahami oleh penonton televisi. Sama halnya dengan televisi, media ajar merupakan perantara antara guru dan murid. Membantu guru menyampaikan suatu pesan/materi agar sampai dan dipahami  murid, Dalam tahapan Wardah Inspiring Teacher 2019 (WIT 2019), peserta yang notabennya adalah guru-guru dari berbagai daerah diajak berinovasi membuat media ajar. Dalam artikel sebelumnya peserta WIT 2019 sudah diajak melakukan tahapan design thinking dalam membuat media ajar. Guru-guru mencoba berempati, menemukan masalah murid dan mencari solusi untuk memecahkan masalah yang dihadapi murid. Melalui Blended Learning, pelatih dari Kampus Guru Cikal mengajak guru-guru yang sudah mengalami tahap sebelumnya, untuk mengenal media ajar yang nantinya akan dikembangkan oleh guru-guru tersebut, apa saja media ajar yang bisa dikembangkan guru untuk pembelajaran. Berikut adalah 7 Model Media Ajar Inovatif : 1. Poster Mungkin terbilang konvensional memasukkan poster sebagai media ajar di era sekarang, namun penggunaannya yang mudah dan murah membuat poster menjadi media yang bisa dipertimbangkan untuk digunakan. Visual dalam poster bisa membantu murid memahami sebuah informasi. Apalagi visual yang digunakan dekat dengan murid. Di dalam kelas poster bisa dimodifikasi bergantung kebutuhan belajar murid. Poster bisa digunakan untuk menyampaikan informasi, poster bisa digunakan untuk memantik diskusi/pertanyaan murid, poster juga bisa digunakan untuk merekam proses/hasil belajar murid. 2. Papan atau buku interaktif Mengajak murid terlibat dalam pembelajaran, salah satu cara agar murid menjadi tidak bosan dan menjadi antusias. Salah satunya dengan membuat media yang interaktif, melibatkan murid. Memungkinkan murid untuk berinteraksi dengan komponen di dalamnya. Misalnya guru menciptakan media poster, di mana dari poster tersebut murid bisa melipat bagian tertentu, mengganti bagian yang ada di poster, menambahkan bagian yang lain, dan sebagainya. Buku pun juga bisa dirancang untuk interaktif, guru membuat buku yang mana murid bisa menambahkan karakter, merasakan tekstur buku, mengisi bagian yang kosong dsb. 3. Alat peraga Masih ingat saat Anda masih sekolah dulu dan masuk laboratorium biologi. Ada torso yang guru biologi gunakan untuk menjelaskan mengenai bagian-bagian tubuh manusia. Torso membantu guru memperlihatkan bagian-bagian tubuh manusia. Alat peraga merupakan alat yang membantu guru memperagakan suatu pengetahuan. Alat peraga 3 dimensi, untuk menjelaskan bangun ruang, torso untuk menjelaskan bagian tubuh manusia, uang kertas, uang koin, dsb. 4. Lagu Saya pernah merasakan kebingungan saat akan menyampaikan pembelajaran gurindam waktu menjadi guru Bahasa Indonesia di salah satu sekolah negeri di Jawa Tengah. Bingung karena sastra melayu lama tidak menarik lagi bagi murid-murid zaman now. Murid-murid biasanya sekadar formalitas menerima materi tanpa tahu apa tujuan mereka mempelajari ini. Saya kemudian memutar otak dan mengamati murid-murid saya. Murid-murid zaman now ternyata unik ya, banyak hal yang mereka sukai salah satunya adalah menyanyikan lagu-lagu rap, yang memang saat itu sedang heboh, dan banyak bermunculan penyanyi-penyanyi rap seperti Young Lex, Awkarin, Saykoji, dsb. Cling, kemudian terbesitlah ide. Kalau dilihat struktur gurindam dan syllables lagu rap hampir sama. Maka kemudian yang saya lakukan adalah membuat lagu rap untuk saya gunakan menyampaikan pembelajaran gurindam. Dan mengajak murid berkarya membuat lagu rap dengan gurindam. Apa yang terjadi? Murid-murid antusias sekali dalam membuat lagu, kemudian menyanyikannya bersama. Tak sadar mereka sedang belajar gurindam. Jadi lagu bisa menjadi salah satu media ajar yang bisa digunakan guru untuk berkomunikasi dengan murid dalam menyampaikan materi ataupun menyampaikan pesan, atau bahkan untuk mengakrabkan diri dengan murid. 5. Video Era sekarang sudah lazim video digunakan untuk pembelajaran. Audiovisual membantu guru menyampaikan materi. Ada berbagai jenis video yang bisa guru buat, antara lain : video penjelasan, video pengetahuan, video dan film. Tentu saja dalam membuat itu semua diperhatikkan pula apa yang murid sukai, sehingga dalam menyaksikan video, murid pun merasa antusias dan dilibatkan. Murid dalam pembelajaran menggunakan video, bisa ditempatkan pada dua posisi. Posisi sebagai konsumen, dan posisi sebagai produsen. Sebagai konsumen, murid diajak menjadi penonton video yang kadang pula diajak interaksi saat atau setelah pemutaran video, baik berupa diskusi, melakukan sesuatu, dsb. Selain itu murid juga bisa menjadi produsen, berarti murid lah yang membuat video. Era saat ini memungkinkan penilaian pembelajaran berupa video. Memanfaatkan keterampilan-keterampilan yang dimiliki murid. Seperti video-video berikut ini : 6. Permainan Siapa sih yang nggak suka main? Apalagi murid-murid. Sehingga tepat sekali jika permainan digunakan sebagai salah satu media ajar untuk membantu murid belajar. Ada beberapa jenis permainan yang guru bisa kembangkan menjadi media, antara lain :a. Permainan dalam bentuk aktivitasPermainan yang mengajak murid bergerak, seperti gobak sodor, petak umpet, engklek, dst.b. Permainan kartu/papanPermainan yang memanfaatkan kartu atau papan dalam bermainnya, seperti monopoli, ular tangga, fundora, ludo, dsb.c. Permainan berbasis alatPermainan yang dalam melakukannya membutuhkan bantuan alat, seperti galasin, enggrang, balok warna-warni, lego, boneka, dst.d. Permainan digitalPermainan yang memanfaatkan perangkat digital dalam memainkannya, seperli Mobile Legend, Pokemnon Go, Wining Eleven, dsb. 7. Aplikasi berbasis teknologi Pernah memakai aplikasi Quizizz untuk penilaian murid? Atau memakai Duolingo untuk membantu murid belajar bahasa Inggris? Dua-duanya adalah aplikasi berbasis teknologi yang merupakan media ajar. Sangat kompleks memang untuk mengembangkan media yang satu ini. Selain harus melek teknologi juga pembuatannya membutuhkan waktu yang sangat lama. Guru Anggayudha Anandarasa yang menjadi pelatih menyampaikan materi tersebut melalui Google Classroom pada Senin17 Juni 2019. Inilah salah satu keuntungan menggunakan sistem blanded learning, yaitu peserta dari berbagai daerah dan berjumlah 100an lebih bisa mengakses materinya, ada yang langsung dibuka pada saat itu juga, ada pula yang baru bisa membukannya keesokan harinya karena kesibukkan. “ “Materi kemarin di WIT tentang design thinking sangat membantu banget . Sebelum mengikuti kelas WIT, saat mengajar bangga banget kalau bisa pakai media dan yakin pasti anak-anak akan lebih mudah memahami materi. Eh, ternyata panggang jauh dari api, anak-anak justru kurang begitu berminat … Read more

Memulai Blended Learning

Saya punya hobi fotografi dan juga videografi, bahkan hobi saya tersebut akhirnya menjadi pekerjaan saya. Bagaimana saya memulai itu semuanya, padahal pendidikan formal yang saya ambil tidak ada kaitannya dengan dua keterampilan tersebut? Jawabannya adalah internet. Adanya internet membantu saya bisa belajar di mana saja dan kapan saja. Ilmu-ilmu dasar foto dan video saya dapatkan melalui kegiatan berselancar di internet. Membaca artikel di beberapa website, saya padukan dengan menonton video di youtube dan tak jarang mengikuti diskusi di grup-grup Facebook. Dan sesekali mengikuti pelatihan atau kelas tatap muka. Internet mengubah kebiasaan belajar zaman dulu. Belajar di tempat formal seperti sekolah, dan lembaga pelatihan. Belajar yang waktu dan tempatnya sudah ditentukan, sehingga kita yang ingin ikut belajar harus mengikuti waktu dan lokasi yang sudah ditentukan. Dan itu kadang membuat kita tidak leluasa. Oleh karena itulah Kampus Guru Cikal dalam program Wardah Inspiring Teacher 2019 (WIT 2019) menggunakan konsep Blended Learning dalam pelaksanaan pelatihan. Peserta WIT 2019 diajak merasakan pembelajaran bermakna dengan konsep Blended Learning. Konsep yang menggabungkan berbagai macam metode belajar, baik luar jaringan (luring) dengan tatap muka, atau dalam jaringan (daring) melalui aplikasi digital. Sebelumnya sekitar bulan April 2019 yang lalu Kampus Guru Cikal sudah memberikan pelatihan tatap muka di 4 daerah yaitu Yogyakarta, Bandung, Surabaya dan Jakarta untuk memulai berinovasi untuk menciptakan media ajar. Dalam kesempatan tersebut, peserta mendapatkan pengetahuan mengenai langkah awal untuk berinovasi dengan design thinking . Peserta baru melaksanakan 3 langkah design thinking, yaitu 1) empati (memahami murid), 2) mendefinisikan masalah yang dihadapi murid saat belajar, dan 3) mencari solusi dari permasalahan murid. Masih ada dua tahapan lagi yang perlu peserta ikuti yaitu 4) membuat portofolio (purwarupa) media ajar, dan terakhir adalah 5) melakukan uji coba/testing. Untuk itulah tahapan 4 dan 5 akan dimulai dari pembelajaran dalam jaringan (daring). Untuk memudahkan pembelajaran daring Kampus Guru Cikal menggunakan dua platform yaitu aplikasi Whatsapp dan Google Classroom. Alasan digunakannya Whatsapp karena sudah umum di kalangan guru, sehingga memudahkan untuk berkomunikasi. Adapun penggunaan Google Classroom digunakan untuk menyajikan materi dan asesmen, dan memudahkan mengecek peserta siapa saja yang sudah membaca materi dan mengirimkan tugas yang diberikan. Seperti tulisan Badrul H.Khan dalam artikel yang berjudul The Global E-Learning Framework, salah satu prinsipnya yaitu aspek pedagogis, di mana pelaksana E-Learning terlebih dahulu harus menganalisis kebutuhan pelatihan dari pesertanya, konten, media yang digunakan, strategi pembelajarannya. Sehingga peserta bisa belajar dengan efektif dan efisien. Seperti yang Kampus Guru Cikal lakukan sebelum pelaksanaan Blended Learning, yaitu mengadakan sesi diskusi pengenalan platform yang akan digunakan. Sesi diskusi dipandu oleh Anggayuda Anandarasa dari Kampus Guru Cikal. Ternyata dari sesi diskusi yang dilakukan tersebut, banyak peserta yang belum pernah menggunakan Google Classroom. Sehingga sesi perkenalan dengan platform tepat dilaksanakan karena membantu peserta mengenal lebih dulu sebelum menggunakannya. “Ini pertama kali saya memakai Google Classroom. Terima kasih ilmunya Kampus Guru Cikal.” ungkap salah satu peserta setelah sesi diskusi berakhir. Beberapa peserta yang tidak bisa mengikuti diskusi di waktu yang ditentukan masih bisa mempelajari Google Classroom. Karena memang kelebihan pembelajaran ini yaitu fleksibilitas. Peserta bisa mengakses materi kapan saja dan di mana saja.

Inovasi Pembelajaran dengan Berempati kepada Murid

Suatu hari di pertengahan tahun 2013 saat menjadi guru di sebuah sekolah menengah negeri di Pekalongan saya mendapatan ide untuk saya sampaikan di dalam kelas. “Pasti ide ini berhasil.” batinku Seminggu setelahnya saya putarkan video yang saya buat. Video yang berisi cerita biografi orang-orang sukses seperti Bill Gates, Mark Zuckenberg dan saya kemas secara menarik. Namun entah kenapa murid biasa saja, seakan media yang saya buat sekadar menjadi media hiburan. Saat sesi membedah biografi tokoh, tidak ada ketertarikan. Murid malah mengobrol sendiri, bemain gawai, beberapa memperhatikan namun terlihat tidak antusias. “Video yang saya buat sudah bagus, sudah memakai beberapa animasi yang saya buat sendiri. Lalu apa yang salah. Mengapa murid saya tidak tertarik dengan pembelajaran yang kekinian.” Apa yang salah? Mungkin bukan saya saja yang pernah mengalami masalah di atas. Merencanakan sesuatu untuk murid di kelas namun tidak melibatkan murid. Bukan sesuatu yang murid butuh, tapi sesuatu yang guru ingin. Salah satu kutipan di produk adalah “Apakah murid Anda merasa dipahami?”. Kutipan tersebut mengingatkan guru untuk terus melibatkan murid, menjadikan murid subjek pembelajaran. Pertanyaanya selanjutnya adalah bagaimana cara melibatkan murid? Oleh karena itulah dalam Wardah Inspiring Teacher 2019, Kampus Guru Cikal memasukkan sesi melibatkan murid dalam pelatihan Mendesain untuk Perubahan. Mengajak guru berempati pada murid sebelum membuat inovasi pembelajaran. Melibatkan MuridPelatihan dua hari (13-14 April) yang diadakan di Hotel Ibis Style Jemursari, Surabaya ini diikuti kurang lebih 51 guru dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah dalam rangka Wardah Inspiring Teacher 2019. Di awal sebelum pelatihan dimulai, ada asesmen awal yang perlu diisi oleh guru. Dari data pra pelatihan, banyak guru yang masih belum melibatkan murid sebelum mendesain sesuatu untuk murid, baik media maupun metode belajar. Oleh karena itu kami melihat bahwa pelatihan ini diperlukan oleh guru. Pelatihan dimulai dengan mengajak guru untuk memahami tentang zaman yang sudah berkembang dan perlunya guru untuk terus belajar untuk bisa berinovasi. Karena menjadi inovator adalah sarana mencapai karier guru. Pada sesi ini Guru Ely dari Sekolah Cikal Surabaya yang memandu sesi. Untuk menjadi inovator pembelajaran yang perlu diperhatikan seperti di awal tulisan ini yaitu memahami murid. Memulai dengan berempati dengan murid yang kita ajar, tentang tahap perkembanganya serta aspek kemampuan yang murid miliki. Dalam sesi ini guru dibagi kelompok berdasar jenjang kelas yang diampunya. Guru TK – SD rendah (kelas 1-3 SD), guru SD besar (kelas 5-6 SD), guru SMP, dan guru SMK. Dari pembagian kelompok terlihat bahwa jumlah guru SMA dan SMP lebih banyak daripada guru SD. Oleh karena itu kelompok SMA dan SMP menjadi kelompok yang gemuk. Tiap kelompok mempelajari tahapan perkembangan yang sudah ada dalam modul. Kemudian, Guru Rizky Satria yang memandu sesi ini mengajak guru-guru untuk mengisi peta empati. Guru-guru diajak memahami muridnya. “Seandainya Anda jadi murid Anda apa yang murid Anda dengar, lihat, rasakan, pikir dan lakukan?” Guru-guru terlihat antusias dalam menyampaikan pendapatnya, terlihat bahwa sebenarnya guru sudah mengetahui bagaimana murid yang mereka ajar. Namun memang belum menyadari tentang tahap tersebut penting dilakukan untuk merancang sesuatu untuk pembelajaran. “Saya biasanya ya ikut-ikutan yang sedang trends saja di kalangan guru” kata seorang guru saat kami wawancara. Ada pula yang menjawab bahwa biasanya dalam merancang sesuatu dalam pembelajaran dari pelatihan yang baru saja diikuti yang biasanya hanya menjelaskan cara. Sehingga tujuan utama yaitu murid tidak menjadi fokus utama guru. Sesi mengisi peta empati ini guru seperti menemukan AHA! Momen. Sebuah cara yang sederhana namun berdampak. “Sesi ini membuka mata saya untuk lebih berempati kepada murid saya untuk menciptakan pembelajaran yang lebih peka terhadap murid saya.”, ujar Guru Yosef salah satu peserta dari Malang. Dari empati tersebut guru diajak mencari permasalahan yang dialami murid. Dalam sesi ini guru merasa kesulitan, masalah-masalah yang guru jabarkan kebanyakan berkaitan dengan sistem, metodu guru sendiri, dan lingkungan. Fokus masalah murid jarang yang ditulis guru. Seperti awal tulisan ini guru jarang memikirkan apa yang murid butuhkan, lebih sering kepada apa yang guru inginkan. Sistem, lingkungan, dan cara. Pelatih kemudian membantu guru untuk lebih memfokuskan masalah kepada murid. Akhirnya banyak masalah yang muncul seperti murid yang lebih asyik tertarik dengan hal yang lebih menarik seperti bermain gadged, mengobrol dengan teman, murid yang kesulitan dalam mengekspresikan diri, murid yang tidak mengetahui manfaat dari membaca dan lain sebagainya. Permasalahan tersebutlah yang kemudian membantu guru dalam membuat solusi yang sesuai. Banyak ide solusi yang ditawarkan guru yang muncul dari masalah tersebut, seperti : 1. Go-Viral, pemanfaatan media sosial untuk media belajar murid yang muncul dari permasalahan murid yang lebih suka bermain gawai daripada memperhatikan guru menyampaikan materi. 2. Perang Bintang, pemanfaatan permainan tukar bintang dengan bermain peran untuk mengatasi permasalahan murid-murid yang kesulitan konsentrasi. 3. Coll Laborate Acton Advanture, pembelajaran yang mengajak menciptakan petualangan antarkelompok dalam pengerjaaan soal-soal kritis yang dibuat karena latar belakang murid yang memiliki banyak minat yang berbeda. 4. Jam putar, pembelajaran matematika dengan jam yang bervisualisasi tokoh favorit murid untuk memudahkan pembelajaran matematika, inovasi ini dibuat untuk mengatasi masalah murid yang frustasi ketika menemui angka dalam pembelajaran matematika. Senang sekali rasanya melihat guru mulai berinovasi dengan cara memahami murid terlebih dahulu, Jadi pertanyaan dalam kaus Guru Belajar Esensial “Apakah murid Anda merasa dipahami?” sudah bisa terjawab dari apa yang guru lakukan di atas.