Menginspirasi Murid di New Normal, Bisakah?

Berdiam di dalam rumah ini denganmuDari malam hingga malam lagiTerkungkung langkah ragu tak ke mana-manaDari Rabu hingga Rabu lagi Tulus menyanyikan sepotong lirik lagu terbarunya Adaptasi di sesi akhir Seminar Wardah Inspiring Teacher 2020 di aplikasi Zoom. Lirik tersebut seakan mewakili kondisi saat ini. Saat di mana berbagai aktivitas terpaksa dikerjakan di rumah. Salah satunya adalah event tahunan Wardah Inspiring Teacher. Kegiatan yang pada tahun-tahun sebelumnya diadakan secara tatap muka, karena Corona terpaksa diadakan secara online. Lagu Adaptasi dari Tulus menggambarkan hal tersebut. Bagaimana membuat kegiatan belajar di Wardah Inspiring Teacher bisa bermakna walau dilakukan secara online? Bagaimana menjadi guru yang menginspirasi murid di masa pandemi ini? Itulah tantangan kami di Kampus Guru Cikal selaku lembaga pelatihan yang ditunjuk oleh Wardah untuk mendampingi guru-guru di Wardah Inspiring Teacher 2020. Seminar WIT 2020 “Wardah Inspiring Teacher 2020” “Memberi inspirasi untuk negeri.” Tagline tersebut sudah menjadi bagian Wardah Inspiring Teacher dari tahun-tahun sebelumnya. Namun terasa berbeda di tahun 2020 ini. Mungkin akan timbul pertanyaan seperti di atas, “Bagaimana memberi inspirasinya?”“Bagaimana memberi inspirasi di masa seperti ini?” “Mengajar aja susah, kendalanya banyak banget. Boro-boro memberi inspirasi..” Itu pulalah yang kami dapatkan saat sesi awal Wardah Inspiring Teacher 2020. Saat membuka slide presentasi dan memunculkan judul Menginspirasi Murid Belajar di New Normal banyak peserta yang bertanya-tanya. Dan benar saja, saat kami melakukan asesmen di awal mengenai pembelajaran jarak jauh, banyak yang merasa kesulitan. Berikut adalah kata  yang menggambarkan perasaan guru melakukan  pembelajaran di masa pandemi, Guru Merdeka Belajar Selain itu, di asesmen awal kami juga mengajak guru untuk berbagi mengenai kendala apa saja yang dihadapi guru saat melakukan pembelajaran jarak jauh. Ternyata banyak kendala yang guru hadapi, dari kuota, sinyal, pelibatan orangtua, hingga motivasi internal murid. Dari asemen ini, ternyata memang guru perlu dibantu. Memang prosesnya akan sulit, namun kami percaya Guru #MerdekaBelajar akan mencari cara untuk mencapai suatu tujuan. Seminar tahap 1 dan 2 yang dilaksanakan pada tanggal 18 dan 19 Juni 2020 itu mengajak guru untuk bercerita mengenai pembelajaran sebelum dan sesudah pandemi, selain itu narasumber dari Kampus Guru Cikal yaitu Rizqy Rahmat Hani menceritakan praktik baik guru yang tetap bisa menginspirasi walau di tengah pandemi. Para Guru yang Menginspirasi Ada cerita Guru Titis yang menginspirasi muridnya dengan membuat pembelajaran di Radio Republik Indonesia di Sanggau. Guru Dynna yang menginspirasi dengan melibatkan murid dan orangtua dalam merancang RPP. Guru Titik yang menginspirasi dengan refleksi dan memahami muridnya. Cerita tersebutlah membuat sekitar 200 guru yang mengikuti sesi tersebut seperti mendapatkan AHA moment. Terlihat di kolom komentar, “Benar juga ya, harusnya dari awal melibatkan orangtua dan murid.” “Ternyata asesmen yang beragam bisa juga ya, dan malah membantu murid.”“Ceritanya hampir sama dengan cerita saya, sangat menginspirasi Guru Titis!” Saya melihat walau dilakukan secara online, antusias peserta luar biasa, terlihat dari jumlah yang mengikuti sesi Seminar dari awal hingga akhir. Pada sesi Seminar WIT 2020 tersebut juga ada sesi talkshow bersama alumni Wardah Inspiring Teacher tahun 2019. Untuk tahap 1, ada guru Titik Nur Istiqomah dari Magelang, untuk tahap 2 ada Eki Nur Wulandari dari Pekalongan. Dua guru tersebut menceritakan bagaimana mereka mengikuti WIT 2019, dan apa saja yang didapatkan oleh keduanya. Guru yang Membangun Empati Pada Murid “Saya belajar tentang empati sebelum merancang di Wardah Inspiring Teacher. Salah satunya saat merancang board games aksara Jawa ini (sambil menunjukkan ke layar kamera).” ungkap Guru Titik. Dari talk show tersebut peserta lebih sadar akan tujuan mereka mengikuti Wardah Inspiring Teacher. “Saya jadi lebih semangat mengikuti Wardah Inspiring Teacher setelah mengikuti sesi talk show ini.” ungkap salah satu peserta di kolom komentar. “What an amazing  experience! Senangnya bertemu dengan guru dari berbagai daerah dan juga bersyukur bisa belajar dari pemateri yang luar biasa.” tutur @nisrinaqey di akun Instagramnya. Wardah Inspiring Teacher tahun 2020 ini ada 5500 guru yang direkomendasikan, 2300 mendaftar dan hanya 1800 yang mengikuti Wardah Inspiring Teacher 2020 ini. Setelah Seminar Wardah Inspiring Teacher, kira-kira selanjutnya tahap apa lagi ya? Ingin tahu ada apalagi? Yuk follow instagram @kampusgurucikal dan @wardahinspiringteacher. 

Uji Coba, Umpan Balik dan Media Inovatif yang Bermakna

Seandainya Anda adalah seorang yang suka masak dan ingin memasarkan masakan Anda. Apa yang Anda lalukan? Langsung menjualnya? Atau ada hal lain yang harus Anda lakukan sebelum Anda memasarkannya? Waktu itu di tahun 2013 saya bersama teman-teman berencana membuka warung makan kerang. Saya mencari resep di internet, bertanya kepada saudara yang ahli masak. Jadilah beberapa varian menu bumbu kerang : saus tiram, asam manis, sambal kacang, hingga saus padang. Setelah itu, untungnya saya tidak langsung menjualnya. Setelah beberapa kali gagal, lalu menyicipi sendiri bumbunya, merasa kurang, coba lagi dengan memadupadankan bahan bumbu lainnya lalu saya mengundang beberapa tester di antaranya teman-teman saya penikmat kuliner, saudara saya pengusaha kuliner, dsb. Dari aktivitas testing itulah saya mendapat banyak umpan balik dari yang datang.  Saya perbaiki lagi bumbunya, sesuai masukkan tester waktu itu. Kemudian saya berani membuka warung kerang. Banyak yang suka dan akhirnya menjadi langganan warung. Saya belajar banyak dari situ, proses testing sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas produk yang kita miliki. Bagaimana dengan media ajar? Media ajar yang dibuat guru untuk murid di kelas. Apakah media yang guru buat bisa langsung dipraktikkan di dalam kelas? Apakah media ajar yang dibuat bisa langsung dipasarkan? Sama halnya dengan kerang tadi, media ajar yang dibuat haruslah melalui tahapan testing (uji coba). Agar bisa mengetahui apakah media ajar yang kita buat sudah sesuai sasaran, sudah bermakna dan berguna untuk murid. Namun pertanyaannya adalah uji coba yang seperti apa? Jangan sampai sudah meluangkan waktu melakukan uji coba, namun tidak tepat sasaran. Bukannya mendapat umpan balik yang sesuai, malah membuat media ajar kita jauh dari harapan.  Kembali lagi ke atas? Coba saat saya akan membuka warung, tester saya bukanlah orang tepat, bumbu kerang saya akan menjadi amburadul. Oleh karena itu dalam tahapan Wardah Inspiring Teacher 2019 di Kota Surabaya, Kampus Guru CIkal mengajak guru-guru yang sudah membuat rancangan media dari tahap pra pelatihan melakukan uji coba dalam pelatihan “Validasi Karya melalui Uji Coba Bermakna” .  Di awal pelatihan guru-guru diajak untuk mulai merancang uji coba dari : Menentukan siapa yanng akan mengujicoba media yang dibuat. Mencari cara uji coba yang akan dilakukan. Membuat pertanyaan yang sesuai agar mendapat umpan balik yang diinginkan. Melakukan refleksi diri Menjadi guru berkarier Kegiatan pelatihan 2 wardah Inspiring Teacher ini bertempat di Hotel Ibis Style Jemur Sari Surabaya diikuti 33 guru dari berbagai jenjang dan daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dalam sesi ini, guru-guru diwajibkan membawa rancangan media yang ia buat dari sesi sebelumnya. Beragam media yang guru bawa, dari media papan permainan bernama Battlefield Trigonometri, yang dibuat untuk memudahkan belajar trigonometri. Kartu Walisongo, memudahkan orang mengetahui proses walisongo dalam menyebarkan Islam, Spin lembaga pemerintah, lingkaran bergerak untuk membantu murid belajar dan memahami fungsi lembaga-lembaga pemerintahm dan masih banyak lainnya. Dari sesi uji coba banyak yang terbantu, salah satunya adalah Ibu Tri Mutmainah seorang guru yang membuat video tutorial untuk memudahkan murid membuat baju. Bu Tri Mutmainah mendapat banyak feedback dari rekan-rekannya, seperti suara yag kurang jelas, yang menganggu pemahaman, video yang kurang ilustrasi, hingga gaya bahasa yang digunakan.  “Umpan balik yang diberikan membantu saya dalam memperbaiki videonya.” ujar Tri Mutmainah. Sejalan dengan Tri Mutmainah, guru Hibatun Wafiroh juga merasakan dampak dari tahapan uji coba.  “Pelatihan ini sangat penting bagi saya. Saya semakin tahu, bahwa setelah membuat media ada langkah yang sering kali tidak saya pikirkan yaitu uji coba. Dari uji coba tadi, saya mendapat banyak umpan balik. Insya Allah Setelah ini media yang saya buat bisa lebih baik.” ucap Guru Hibatun Wafiroh, salah satu peserta WIT dari Lamongan.

7 Model Media Ajar Inovatif

Pernahkah Anda mengalami kesulitan saat menjadi fasilitator murid di kelas? Apalagi mengajar murid yang beragam karakteristiknya, mengajar di jam-jam siang, mengajar di jam pembelajaran setelah pembelajaran olahraga, dan banyak faktor lainnya. Faktor-faktor tersebut kadang membuat murid menjadi bosan, tidak antusias dalam belajar. Jika mengalami kondisi tersebut, apa yang akan Anda lakukan? Tetap menjalankan pembelajaran seperti biasanya, atau mencari cara membuat murid antusias belajar. Ada berbagai macam cara yang Anda bisa lakukan untuk mengatasi kesulitan Anda tersebut, salah satunya adalah menghadirkan media ajar. Saya analogikan dengan televisi, sebuah informasi disampaikan oleh jurnalis melalui media televisi, agar informasi tersebut diterima dan dipahami oleh penonton televisi. Sama halnya dengan televisi, media ajar merupakan perantara antara guru dan murid. Membantu guru menyampaikan suatu pesan/materi agar sampai dan dipahami  murid, Dalam tahapan Wardah Inspiring Teacher 2019 (WIT 2019), peserta yang notabennya adalah guru-guru dari berbagai daerah diajak berinovasi membuat media ajar. Dalam artikel sebelumnya peserta WIT 2019 sudah diajak melakukan tahapan design thinking dalam membuat media ajar. Guru-guru mencoba berempati, menemukan masalah murid dan mencari solusi untuk memecahkan masalah yang dihadapi murid. Melalui Blended Learning, pelatih dari Kampus Guru Cikal mengajak guru-guru yang sudah mengalami tahap sebelumnya, untuk mengenal media ajar yang nantinya akan dikembangkan oleh guru-guru tersebut, apa saja media ajar yang bisa dikembangkan guru untuk pembelajaran. Berikut adalah 7 Model Media Ajar Inovatif : 1. Poster Mungkin terbilang konvensional memasukkan poster sebagai media ajar di era sekarang, namun penggunaannya yang mudah dan murah membuat poster menjadi media yang bisa dipertimbangkan untuk digunakan. Visual dalam poster bisa membantu murid memahami sebuah informasi. Apalagi visual yang digunakan dekat dengan murid. Di dalam kelas poster bisa dimodifikasi bergantung kebutuhan belajar murid. Poster bisa digunakan untuk menyampaikan informasi, poster bisa digunakan untuk memantik diskusi/pertanyaan murid, poster juga bisa digunakan untuk merekam proses/hasil belajar murid. 2. Papan atau buku interaktif Mengajak murid terlibat dalam pembelajaran, salah satu cara agar murid menjadi tidak bosan dan menjadi antusias. Salah satunya dengan membuat media yang interaktif, melibatkan murid. Memungkinkan murid untuk berinteraksi dengan komponen di dalamnya. Misalnya guru menciptakan media poster, di mana dari poster tersebut murid bisa melipat bagian tertentu, mengganti bagian yang ada di poster, menambahkan bagian yang lain, dan sebagainya. Buku pun juga bisa dirancang untuk interaktif, guru membuat buku yang mana murid bisa menambahkan karakter, merasakan tekstur buku, mengisi bagian yang kosong dsb. 3. Alat peraga Masih ingat saat Anda masih sekolah dulu dan masuk laboratorium biologi. Ada torso yang guru biologi gunakan untuk menjelaskan mengenai bagian-bagian tubuh manusia. Torso membantu guru memperlihatkan bagian-bagian tubuh manusia. Alat peraga merupakan alat yang membantu guru memperagakan suatu pengetahuan. Alat peraga 3 dimensi, untuk menjelaskan bangun ruang, torso untuk menjelaskan bagian tubuh manusia, uang kertas, uang koin, dsb. 4. Lagu Saya pernah merasakan kebingungan saat akan menyampaikan pembelajaran gurindam waktu menjadi guru Bahasa Indonesia di salah satu sekolah negeri di Jawa Tengah. Bingung karena sastra melayu lama tidak menarik lagi bagi murid-murid zaman now. Murid-murid biasanya sekadar formalitas menerima materi tanpa tahu apa tujuan mereka mempelajari ini. Saya kemudian memutar otak dan mengamati murid-murid saya. Murid-murid zaman now ternyata unik ya, banyak hal yang mereka sukai salah satunya adalah menyanyikan lagu-lagu rap, yang memang saat itu sedang heboh, dan banyak bermunculan penyanyi-penyanyi rap seperti Young Lex, Awkarin, Saykoji, dsb. Cling, kemudian terbesitlah ide. Kalau dilihat struktur gurindam dan syllables lagu rap hampir sama. Maka kemudian yang saya lakukan adalah membuat lagu rap untuk saya gunakan menyampaikan pembelajaran gurindam. Dan mengajak murid berkarya membuat lagu rap dengan gurindam. Apa yang terjadi? Murid-murid antusias sekali dalam membuat lagu, kemudian menyanyikannya bersama. Tak sadar mereka sedang belajar gurindam. Jadi lagu bisa menjadi salah satu media ajar yang bisa digunakan guru untuk berkomunikasi dengan murid dalam menyampaikan materi ataupun menyampaikan pesan, atau bahkan untuk mengakrabkan diri dengan murid. 5. Video Era sekarang sudah lazim video digunakan untuk pembelajaran. Audiovisual membantu guru menyampaikan materi. Ada berbagai jenis video yang bisa guru buat, antara lain : video penjelasan, video pengetahuan, video dan film. Tentu saja dalam membuat itu semua diperhatikkan pula apa yang murid sukai, sehingga dalam menyaksikan video, murid pun merasa antusias dan dilibatkan. Murid dalam pembelajaran menggunakan video, bisa ditempatkan pada dua posisi. Posisi sebagai konsumen, dan posisi sebagai produsen. Sebagai konsumen, murid diajak menjadi penonton video yang kadang pula diajak interaksi saat atau setelah pemutaran video, baik berupa diskusi, melakukan sesuatu, dsb. Selain itu murid juga bisa menjadi produsen, berarti murid lah yang membuat video. Era saat ini memungkinkan penilaian pembelajaran berupa video. Memanfaatkan keterampilan-keterampilan yang dimiliki murid. Seperti video-video berikut ini : 6. Permainan Siapa sih yang nggak suka main? Apalagi murid-murid. Sehingga tepat sekali jika permainan digunakan sebagai salah satu media ajar untuk membantu murid belajar. Ada beberapa jenis permainan yang guru bisa kembangkan menjadi media, antara lain :a. Permainan dalam bentuk aktivitasPermainan yang mengajak murid bergerak, seperti gobak sodor, petak umpet, engklek, dst.b. Permainan kartu/papanPermainan yang memanfaatkan kartu atau papan dalam bermainnya, seperti monopoli, ular tangga, fundora, ludo, dsb.c. Permainan berbasis alatPermainan yang dalam melakukannya membutuhkan bantuan alat, seperti galasin, enggrang, balok warna-warni, lego, boneka, dst.d. Permainan digitalPermainan yang memanfaatkan perangkat digital dalam memainkannya, seperli Mobile Legend, Pokemnon Go, Wining Eleven, dsb. 7. Aplikasi berbasis teknologi Pernah memakai aplikasi Quizizz untuk penilaian murid? Atau memakai Duolingo untuk membantu murid belajar bahasa Inggris? Dua-duanya adalah aplikasi berbasis teknologi yang merupakan media ajar. Sangat kompleks memang untuk mengembangkan media yang satu ini. Selain harus melek teknologi juga pembuatannya membutuhkan waktu yang sangat lama. Guru Anggayudha Anandarasa yang menjadi pelatih menyampaikan materi tersebut melalui Google Classroom pada Senin17 Juni 2019. Inilah salah satu keuntungan menggunakan sistem blanded learning, yaitu peserta dari berbagai daerah dan berjumlah 100an lebih bisa mengakses materinya, ada yang langsung dibuka pada saat itu juga, ada pula yang baru bisa membukannya keesokan harinya karena kesibukkan. “ “Materi kemarin di WIT tentang design thinking sangat membantu banget . Sebelum mengikuti kelas WIT, saat mengajar bangga banget kalau bisa pakai media dan yakin pasti anak-anak akan lebih mudah memahami materi. Eh, ternyata panggang jauh dari api, anak-anak justru kurang begitu berminat … Read more