Pembelajaran Jarak Jauh dengan 5M

Masih mengangkat tema Pembelajaran 5M untuk mengoptimalkan pengalaman belajar jarak jauh anak di masa pandemi Covid-19. Memasuki hari ke -2 (dua) Temu Pendidik Daerah (TPD) dengan  kelompok guru yang berbeda di hari pertama mengingat perlu diperhatikan protokol kesehatan.  Kegiatan Komunitas Guru Belajar Makassar pada Temu Pendidik Daerah yang ke -28 pada Kamis , 23 Juni 2020 berlangsung di Ruang Guru SDIT Darussalam Makassar. Acara tersebut dimulai sejak pukul 08.00 WITA hingga pukul 10.00 WITA.  pada hari ke 2 tersebut dihadiri peserta yang berbeda  sekitar 22  orang. Masih sama seperti Temu Pendidik Sebelumnya, acara pertama diawali dengan nonton bareng video Merdeka Belajar yang menghadirkan narasumber ibu Najelaa Shihab. Masih sama dengan konsep hari pertama, Hadir menjadi narasumber dalam kegiatan workshop tersebut guru Maurensyiah guru SMK Darussalam Makassar yang juga sebagai pengurus dan sekaligus penggerak Komunitas Guru Belajar Makassar. Selanjutnya kegiatan tersebut juga menghadirkan guru Tasmin untuk membawakan materi pelatihan Office 365. Guru Tasmin adalah guru SDIT Darussalam Makassar.  Awal kegiatan masih sama dengan hari pertama, diawali dengan pemutaran video Guru Merdeka Belajar lalu dilanjutkan ke diskusi. Oleh narasumber menyampaikan materi dengan memberikan umpan balik. Kata narasumber, “menurut bapak/ibu guru seperti apakah guru merdeka itu ?” dan apakah bapak/ibu sudah merdeka ? Pertanyaan umpan balik tersebut kemudian direspon oleh para guru. Ada guru yang mengatakan bahwa guru merdeka itu adalah guru yang tahu bagaimana mengajar yang sesungguhnya. Ada juga guru yang mengatakan bahwa guru merdeka itu adalah guru yang bebas, bebas dalam teknik dan cara mengajar. Oleh narasumber dalam merespon jawaban-jawaban guru, lalu mengarahkan kembali ke tayangan video.  Oleh narasumber mengatakan guru yang merdeka seperti yang dijelaskan dalam tayangan video tersebut, bahwa guru merdeka adalah guru merdeka itu adalah guru yang yang mempunyai komitmen, guru yang  memiliki kemandirian dan guru yang mampu berefleksi atas setiap proses pembelajaran, semua demi para murid.  Selanjutnya, narasumber mulai menjelaskan lebih rinci tentang guru merdeka, hingga mengenalkan Komunitas Guru Belajar sebagai wadah untuk belajar dan berbagi. Dilanjutkan dengan penjelasan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan konsep 5M ala Kampus Guru Cikal yang telah digunakan oleh rekan-rekan guru anggota Komunitas Guru Belajar Nusantara. Oleh narasumber mengatakan bahwa belajar di rumah, belajar di sekolah, tetap berpihak pada anak. Bagaimana caranya? Guru dan orangtua yang berdaya menciptakan pengalaman belajar yang melibatkan anak. Sangat penting kolaborasi orangtua, guru dan murid untuk berdaya belajar dalam menghadapi situasi darurat akibat wabah virus Corona. Guru harus memastikan anak mendapatkan personalisasi pengalaman belajar yang bermakna, menantang dan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak. Narasumber mengatakan dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), poin paling utama yang perlu guru perhatikan adalah memanusiakan hubungan. Memanusiakan hubungan yang dimaksud adalah Praktik pembelajaran yang dilandasi orientasi pada anak berdasarkan relasi positif yang saling memahami antara guru, murid dan orangtua, ini adalah konsep 5M yang pertama. Konsep 5M yang kedua kemudian kembali dijelaskan oleh  narasumber, Memahami Konsep dimana seorang guru hendaknya memahami bahwa praktik pembelajaran yang memandu murid bukan sekedar menguasai konten tapi menguasai pemahaman mendalam terhadap konsep yang dapat diterapkan di beragam konteks. Selanjutnya narasumber membahas konsep 5M yang ketiga yaitu membangun keberlanjutan. Maksud dari 5 M yang ketiga tersebut adalah Praktik pembelajaran yang memandu murid mengalami rute pengalaman belajar yang terarah dan berkelanjutan melalui umpan balik dan berbagi praktik baik. Selanjutnya 5 M yang keempat kembali dijelaskan oleh narasumber Praktik pembelajaran yang memandu murid menguasai keahlian melalui proses yang berjenjang dengan pilihan tantangan yang bermakna yaitu memilih tantangan. Dan pada 5M yang ke 5, memberdayakan konteks yaitu Praktik Pembelajaran yang memandu murid melibatkan sumber daya dan kesempatan di komunitas sebagai sumber belajar sekaligus kesempatan berkontribusi terhadap perubahan.  Baca Juga: Sekolah Lawan Corona Narasumber mengingatkan bahwa di masa pandemi seperti saat ini, guru perlu memperhatikan kondisi psikologis  murid, janganlah diberikan beban yang pada akhirnya membuat mereka bukannya merasa nyaman belajar justru stress menghadapi guru yang justru memberikan beban tugas yang sungguh tidak memanusiakan hubungan, yang ada murid justru stress. Guru harus mampu menjadi partner yang baik bagi murid dan orang tua. Caranya bangun kolaborasi yang baik. Di akhir pembicaraan narasumber menutup dengan closing statemen, jadilah guru yang berdaya, guru yang tahu bagaiman membawa para murid memperoleh pengalaman belajar yang bermakna. Dan mari belajar bersama Komunitas Guru Belajar untuk membuat perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Kepala sekolah SDIT Darussalam dalam merespon diskusi lalu mengatakan sangat mendukung guru-guru SDIT untuk belajar dan mengembangkan diri. Laporan Liputan oleh Maurensyiah Komunitas Guru Belajar Makassar.  Unduh Panduan Pembelajaran Jarak Jauh, klik tombol di bawah ini

Literasi adalah Cara Menggerakkan Negeri

Tema Temu Pendidik kali ini adalah Literasi Menggerakan Negeri. Diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar (KGB) Makassar, bertempat di gedung Aula Penerbit PT. Erlangga. Temu Pendidik Daerah (TPD) kali ini diwarnai dengan diskusi menarik antara tim penggerak KGB Makassar dan para guru dari berbagai tingkatan., sekaligus mengajak para guru untuk ikut ambil bagian dalam Temu Pendidik Nasional yang akan berlangsung di Jakarta pada tanggal 25 -27 Oktober 2019. Literasi adalah … Temu Pendidik Daerah kali ini bertindak sebagai moderator ibu Anita Taursia Putri, dengan narasumber Ibu Erni Marlina dari SMKN 7 Makassar dan Ibu Andi Olle Mashurah guru dari sekolah Cendikia. Oleh ibu Erni Marlina mengatakan bahwa literasi bukan hanya sekadar membaca. Beliau memberikan contoh bahwa menulis ilmiah populer kita bisa menulis apa saja yang kita pikirkan dan ingin kita tulis. Pesannya, ‘mari kita bersama-sama mengikuti kegiatan TPN 2019. Ada banyak kelas dengan 4 kelas kompetensi, silahkan memilih. Dalam komunitas Guru belajar tidak ada tuntutan wajib masuk dan memilih kelas sesuai keinginan panitia akan tetapi setiap peserta diberi kebebasan memilih kompetensi sesuai  kebutuhannya. Teman-teman harus memahami bahwa banyak hal yang bisa kita lakukan.  KGB sangat fleksibel dan salah satu keunikan di KGB adalah kita menginap di rumah orang tua murid Cikal.  Mari memaknai literasi dengan baik karena literasi itu luas, literasi berasal dari murid dan berakhir di murid. Ada teknis bagaimana membuat murid penasaran dan KGB mengajarkan bagaimana  wujud dari sebuah kemandirian.  Berbagi Pengalaman di Temu Pendidik Tidak jauh berbeda dengan ibu Andi Olle Mashurah, belia dalam materi “Rakit Atraktif” beliau membagi pengalamannya ikut TPN awalnya karena penasaran saat melihat di komunitas Guru Belajar di Facebook,. Ia mengatakan bahwa saya tidak mengenal siapapun dan menjadi peserta murni di tahun 2017 akhirnya tahun 2018 mendaftar menjadi pemateri dan lulus. Tahun 2019 mendaftar lagi dan lolos kelas kemerdekaan dan kelas kolaborasi. Tahun ini saya membawa materi dengan tema ‘Rakit Atraktif “. Produk ini membutuhkan waktu kurang lebih 6 tahun dalam proses pembuatannya hingga bisa menjadi sebuah karya yang bisa dinikmati semua orang.  Lanjut  ibu Olle mengatakan bahwa literasi  membuat kemampuan menerima makna, baik kata maupun kalimat. Contohnya, membaca sebuah bacaan dan belajar mencerna makna kalimatnya.  Bisa membaca bukan berarti bisa memaknai. Kemampuan memahami bukan hanya  dari sisi  kemampuan berbahasa saja. Pemilihan kata mengikut pola,  dimana kunci dari Rakit Atraktif adalah pola dari kata. Oleh moderator Anita Taurisia Putri, kata kuncinya adalah bahwa literasi adalah memahami, memaknai apa yang ada di sekitar kita.  Permata Hati, membagi pengalaman,  bahwa hal yang membuat saya tertarik di Komunitas Guru Belajar adalah keaktifan para guru dalam berdiskusi untuk membagi pengalamannya serta praktek mengajarnya tidak hanya lewat tatap muka langsung akan tetapi hampir setiap saat melalui diskusi online (daring). Hal tersebut adalah sebuah motivasi yang sangat jarang ditemukan di kalangan guru ataupun komunitas guru lainnya. Menemukan banyak orang hebat yang tidak pernah merasa lebih pintar akan tetapi memiliki prinsip semua murid semua guru, prinsipnya siapapun boleh membagi ilmu dan pengalamannya, semua belajar dan semua sama serta punya tujuan yang sama. Kalau di KGB saja seperti itu bagaimana dengan TPN ada ratusan guru yang ikut berkumpul dan bertemu untuk membagi ilmu dan pengalamannya, dan hal tersebut meyakinkan rasa penasaran saya untuk ikut Temu Pendidik Nasional di tahun 2019. Persepsi Guru Terhadap Literasi Sama halnya oleh salah satu penggerak bapak Luktfi Alam, beliau mengatakan bergabung dengan KGB di tahun 2016, persepsi guru sangat mengkhawatirkan.  Setelah bergabung di KGB, saya merasakan kelas seperti sesuatu yang berharga buat saya. Hanya 15 menit  berbicara di depan kelas. Sebelum bergabung di KGB saya menjadi guru yang superior dan saya menyesal telah melakukan kesalahan selama kurang lebih 8 tahun.  Selama ini yang kita pahami tujuan sebagai guru reaktif adalah tujuan jangka pendek. Hampir semua energi kita tersalurkan. Sekarang kita perlu memahami bahwa penting memberikan apresiasi pada anak, misalnya dengan mengucapkan Alhamdulillah pada apa yang anak raih.  Kegiatan Temu Pendidik Daerah ini ditutup oleh bu Adel dengan ajakan “ mari ikut Temu Pendidik Nasional, karena dalam kegiatan ini banyak sekali tawaran praktik mengajar terbaik yang akan dibagi oleh ratusan guru dan pakar pendidikan. Mari memaknai  literasi menggerakkan negeri dengan tidak hanya memaknai membaca tetapi maknailah dalam banyak hal dan lebih luas, seperti yang dikatakan oleh erni Marlina literasi bukan hanya berbicara tentang membaca tetapi literasi sangat luas, salah satu contohnya adalah literasi bisa dimaknai dalam budaya, seni,  berhitung dan lain-lain. Gerakan Literasi untuk Menggerakkan Negeri  Sebagaimana diketahui bahwa Gerakan Literasi Menggerakkan Negeri adalah sebuah gerakan literasi di lingkungan Komunitas Guru Belajar. Gerakan yang juga merupakan bagian dari literasi nasional. Literasi merupakan kemampuan seorang guru untuk menggunakan potensi dan keterampilan. Literasi digunakan dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan aktivitas  membaca menulis, berhitung serta memecahkan masalah dalam kehidupannya sehari-hari. Tujuan ini adalah menumbuhkan dan mengembangkan budaya literasi di tengah-tengah masyarakat secara luas. Sehingga meningkatkan kualitas penggunaan waktu seseorang lebih bermanfaat.  Literasi Menggerakkan Negeri bukan pada seberapa banyak kita membaca. Akan tetapi bagaimana kita mampu memaknai segala sesuatunya dalam melahirkan generasi penerus bangsa. Reporter by Maurensyiah (SMK Darussalam Makassar ) #Literasi Menggerakkan Negeri#Guru Belajar#Komunitas Guru Belajar Makassar# Kampus Guru Cikal.  Penasaran Bagaimana Menerapkan Literasi Numerasi di Sekolah Dasar? Yuk ikuti pelatihan online klik 

Membahas Arti Merdeka Belajar

Apakah arti Merdeka Belajar itu? Bagaimana melaksanakannya? Apa yang didapatkan oleh guru dan siswa dengan merdeka belajar? Lalu bagaimana “Meneropong Konsep Merdeka Belajar Kemendikbud” dalam hal ini guru merdeka belajar melalui  Kebijakan Menteri Pendidikan? Pertanyaan –pertanyaan dan rasa penasaran membahas arti merdeka belajar muncul dari guru-guru Yayasan Al Hikmah, Maros. Komunitas Guru Belajar Maros berkolaborasi KGB Makassar meramu Temu Pendidik Daerah (TPD). TPD ini berisi kegiatan Nonton bareng Guru Merdeka Belajar pada Sabtu, 21 Desember 2019 di SDIT Al Hikmah Maros. Dalam diskusi kali ini sebagai narasumber adalah Ketua KGB Makassar dan para penggerak KGB Makassar. Seluruh sesi dipandu oleh moderator Pak Rudy.  Acara nonton bareng dilanjutkan dengan diskusi membahas arti merdeka belajar diantara para guru. Acara Nobar Guru merdeka dibuka oleh ibu kepala sekolah SDIT Al Hikmah, dalam sambutannya beliau mengatakan sangat senang dengan adanya kegiatan seperti ini, karena sebelumnya beliau punya  harapan ingin berdiskusi tentang bagaimana kebijakan menteri yang baru, dan sangat bersyukur Komunitas Guru Belajar hadir menjadi fasilitator dalam kegiatan tersebut. Hal tersebut juga diapresiasi oleh kepala sekolah TKIT Al Hikmah Maros, sangat senang dengan adanya diskusi seperti ini.  Sudahkah kita memahami arti Merdeka Belajar? Oleh Pak Rudy selaku moderator dalam acara nonton bareng tersebut, membuka dengan kalimat sudahkah kita merdeka belajar? Beliau memberikan contoh sebagai guru IPA dengan keterbatasan fasilitas LAB dan bahwa mengajar IPA tidak pumya LAB jatuhnya ke hafalan. Benarkah demikian? Menurutnya tidak seperti itu. harus kreatif dan tidak dibatasi kondisi fasilitas yang ada. Dia kemudian memberikan contoh dengan materi lensa cekung yang menggunakan sendok makan sebagai contoh.  Lanjut Pak Rudy, mengatakan bahwa bagaimana anak dapat merdeka belajar? Caranya sangat mudah, manfaatkan media yang ada di sekitar kita.  Ibu Guru Anita  Taurisia Putri selaku narasumber dalam diskusi nobar tersebut memberikan penjelasan mengenai empat kebijakan baru menteri pendidikan, bapak Nadien.  Termasuk tentang konsep guru merdeka berdasarkan konsep Komunitas Guru Belajar. Oleh Guru Indra dari KGB Maros, dari konsep pemahaman beliau masih terperangkap oleh miskonsepsi merdeka belajar. Oleh  guru Kasmiatang, mengatakan bahwa guru merdeka adalah bahwa membahas tentang guru endingnya adalah berawal dan berakhir di murid, guru merdeka  adalah guru yang bebas berinovasi tanpa tekanan. Tidak terjebak dan terfokus pada tugas administratif guru. Lain halnya oleh pak guru Irfan, menurutnya pendidikan adalah dakwah. Pernahkah guru mengeluh bahwa murid itu nakal ? Mengajar murid yang nakal adalah bagian dari dakwah juga.  Itulah tantangan dakwah. Visi pendidikan membawa murid ke surga, katanya. Dengan meningkatkan potensi amal, mari sinkronkan keinginan antara anak, orang tua dan guru. Memperjelas objek dakwah, kita harus mengambil sudut pandang pada anak-anak, jangan menggunakan sudut pandang pribadi sebagai guru untuk mengukur anak. Oleh pak guru Irfan mengatakan bahwa guru harus mampu memahami murid. Beliau memberikan contoh, kegiatan kepramukaan misalnya membagi pola pendidikan sesuai pola umur (1-4 tahun Siaga, Penggalang umur 5-6-7-8-9 Tahun dan penegak untuk SMA dan Mahasiswa). Pendidik yang Merdeka Belajar Sebagai pendidik harus bisa menyesuaikan dengan objek pendidikan kita dalam hal ini anak didik. Menurut pak Arif, bagaimana guru akan menjadi perwakilan Allah di muka bumi ini? Seorang guru harus memahami murid, mereka belajar (murid) adalah bagian dari tantangan belajar yang juga bagian dari dakwah. Misalnya rasanya keliru anak diminta belajar sementara orang tua sibuk main HP.  Oleh guru Adel, Penggerak KGB Makassar  mengatakan memanfaatkan potensi yang ada, memahami murid sesuai kebutuhan dan keadaan.Memahami murid menjadi rambu bagi muridnya. Guru mengikuti pola yang disenangi, dimasukkan kedalam pelajaran. Apa yang dibutuhkan anak itu yang harus diajarkan. Satu pesan dari Bu Guru Permata dari SMK Darussalam “Cukup jadi diri sendiri jika ingin menjadi ” Menjadi guru merdeka itu harus kreatif tidak mengajar karena tuntutan pimpinan tetapi karena beban moril, bahwa mengajar dengan baik adalah tanggungjawab di akhirat. Menjadi Guru Merdeka adalah guru yang kreatif dan inovatif dalam mengajar, memahami apa yang dibutuhkan oleh seorang murid.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Kutipan dari Bu Elaa “Guru tidak bisa belajar sendiri”-“Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen akan tujuan, Guru yang mandiri, dan Guru yang Bercermin (refleksi)” Merdeka belajar adalah proses dimana seorang guru mampu memerdekakan dirinya terlebih dahulu dalam proses belajar mengajar dan mampu memberikan rasa nyaman serta rasa merdeka belajar bagi siswa- siswanya. Atau dengan kata lain Merdeka belajar juga  adalah bagian dari proses belajar seorang guru untuk memiliki komitmen, mandiri serta reflektif, dimana seorang guru ketika belajar dan mengajar tidak terjebak pada persoalan-persoalan administratif tetapi memiliki kesadaran untuk belajar karena kebutuhan alamiah menuju tujuan yang bermakna bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

Guru Sejarah Merdeka Belajar

Guru Merdeka Belajar menjadi topik yang diangkat Komunitas Guru Belajar Makassar. Kegiatan bertajuk Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar dilaksanakan berkolaborasi dengan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI). Tidak hanya dari satu provinsi, ASGSI yang ikut berasal dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah. Diselenggarakan pada Sabtu, 14 Desember 2019 Pukul 08.00 – 10.00 WITA. Kegiatan bertempat di Gedung Guru Jusuf Kalla Disdik Sulsel, Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10 Makassar. Acara Nonton bareng Guru Merdeka Belajar yang dipandu oleh penggerak KGB Makassar. Aktivitas ini berlangsung di awal kegiatan sebelum acara Seminar Nasional dimulai. Pada sesi ini diputar video Guru Merdeka Belajar Najelaa Shihab. Nobar dipandu oleh guru Maurensyiah P., S.S., M.Pd dari SMK Darussalam Makassar yang biasa disapa Permata Hati.  Berikutnya, acara dilanjutkan dengan diskusi diantara para guru-guru sejarah 3 provinsi yang disebut tadi serta salah satu perwakilan Asosiasi Guru Sejarah Gorontalo. Acara Nobar Guru Merdeka Belajar sangat tepat ditampilkan dalam kegiatan AGSI kali ini, dan sesuai dengan tema yang diusung oleh panitia yaitu Sejarah Lokal : “Tantangan & Masa Depan “. Sudahkah Guru Sejarah Merdeka Belajar? Pemandu mengucap kalimat “Sudahkah guru-guru sejarah merdeka belajar?” Lalu, riuh muncul dari guru sejarah bahwa mereka adalah guru merdeka belajar. Jawaban spontan muncul “Ya, sudah pasti Guru Merdeka Belajar dong!” “Lalu, bagaimana anak dapat merdeka belajar?” “Dan bagaimana seorang guru sebagai guru yang merdeka dalam berinovasi mengajar”. Guru mampu memberikan inovasi-inovasi pembelajaran sejarah yang lebih kreatif. Bagaimana membangun kesan belajar sejarah bukanlah hal yang membosankan? Umpan pertanyaan ini lalu direspon beberapa guru. Guru Wartawati Damar dari  kabupaten Wajo menyatakan, “Guru sejarah itu harus kreatif menciptakan inovasi pembelajaran dan termasuk kreatif dalam mengenalkan literasi melalui karya tulisan sejarah.” Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Pemandu mengatakan “Cukup jadi diri sendiri jika ingin menajadi Guru Merdeka Belajar.” “Tidak perlu menjadi orang lain, perbaiki saja niat, tumbuhkan semangat dan ciptakan hal-hal yang kreatif dalam pembelajaran sehingga siswa akan menjadi nyaman dalam belajar.” Kreatif dalam berinovasi. Sebagai guru sejarah administrasi pembelajaran memang penting akan tetapi jangan dijadikan beban dan momok dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik. Sempat membagi pengalaman inovasi pembelajaran tentang belajar sejarah melalui video dokumenter, komik sejarah dan majalah sejarah yang diberi nama COMAAGTOON.  Guru Zulkifli mengatakan bahwa guru sejarah itu harus energik, karena guru sejarah tidak hanya mengajarkan masa lalu tapi juga mengajarkan masa kini dan masa yang akan datang karenanya dibutuhkan kreativitas mengajar yang baik. Guru Sejarah harus banyak berkarya lewat tulisan sejarah sebagai salah satu bentuk mengenalkan sejarah dan budaya bangsa kita. Dan bahwa literasi menulis dan literasi berupa lawatan sejarah adalah bagian atau wujud dari guru merdeka belajar. Guru sejarah memiliki potensi tersebut.  Diskusi tidak bisa berlangsung lebih lama lagi. Karena agenda utama seminar nasional telah siap dimulai dan dibuka dan presiden AGSI bapak Sumardiansyah Perdana Kusuma. Beliau yang akrab disapa mas Ryan telah tiba di lokasi kegiatan. Iringan musik dan tarian penyambutan telah bersiap-siap. Diskusi nobar guru merdeka belajar akhirnya berakhir. Harapannya diskusi akan hal tersebut akan kembali berulang di waktu yang akan datang. Arti Merdeka Belajar Di akhir diskusi pemandu kembali menyampaikan kutipan dari Bu Elaa “Guru tidak bisa belajar sendiri.”-“Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen akan tujuan, Guru yang mandiri, dan Guru yang Bercermin (refleksi).” Merdeka belajar adalah proses dimana seorang guru mampu memerdekakan dirinya terlebih dahulu dalam proses belajar mengajar. Guru mampu memberikan rasa nyaman serta rasa merdeka belajar bagi siswa- siswanya. Atau, dengan kata lain Merdeka belajar juga  adalah bagian dari proses belajar seorang guru untuk memiliki komitmen, mandiri serta reflektif. Seorang guru ketika belajar dan mengajar tidak terjebak pada persoalan-persoalan administratif. Tetapi memiliki kesadaran untuk belajar karena kebutuhan alamiah menuju tujuan yang bermakna bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

Pelatihan Guru Merdeka Belajar – Sudahkah Kita Merdeka Belajar?

KGB Makassar mengadakan kegiatan Pelatihan Guru Merdeka belajar pada Sabtu, 14 September 2019. Pelatihan kali ini dilaksanakan dengan berkolaborasi dengan Yayasan Pendidikan Darussalam Makassar, yang berlangsung di Meeting Room Kenanga SMK Darussalam Makassar. Acara pelatihan ini dimulai tepat pukul 09.00 WITA sampai pukul 17.00 WITA. Dalam pelatihan kali ini tampil pak Baja Seto dan pak Maman Basyaiban dari Kampus Guru Cikal selaku narasumber.  Pelatihan Guru Merdeka Belajar adalah proses belajar bersama para guru. Beberapa guru mengatakan bahwa awalnya sebelum pelatihan mereka mengira bahwa merdeka adalah bebas berekspresi. Awalnya mereka ingin tahu tentang apa itu Guru Merdeka Belajar. Belajar dari Pelatihan Guru Merdeka Belajar Menurut para peserta apa yang mereka pelajari dari Pelatihan Guru Merdeka Belajar adalah bagaimana guru sebagai seorang guru harus bisa merefleksi diri baik melalui kolaborasi sesama pendidik maupun melalui timbal-balik dari peserta didik. Oleh pak Maman mengatakan bahwa terdapat kolaborasi antar siswa  demikian halnya antar guru, jika guru ingin murid berkolaborasi, sebagai teladan, kita sebagai guru juga perlu berkolaborasi antarmata pelajaran. Beberapa guru juga masih mengingat dengan jelas ketika merefleksi hasil pelatihan Guru Merdeka Belajar salah satunya adalah pelajaran Matematika dengan materi bangun datar. Salah satu guru juga dalam refleksi pelatihan ketika pak Baja seto bertanya menyebutkan materi yang mereka dapatkan adalah diantaranya tentang Intentional Learning (Pengajaran langsung) dan Self Regulated learning. Materi lain penilaian diri dalam 4K. Oleh Anita Taurisia Putri salah seorang penggerak mengatakan bahwa dalam keseharian banyak hal yang berkaitan dengan Matematika, akan tetapi kita terpaku pada rumus atau angkanya, kita tidak memasukkan dalam realita kehidupan, sehingga menganggap peralatan Matematika susah, padahal keseharian kita penuh dengan Matematika. Penggerak lain, Erni Marlina mengatakan bahwa selaku guru  Bimbingan & Konseling, anak-anak selalu senang jika belajarnya tidak monoton berupa ceramah, jadi hendaknya belajar selalu diakhiri dengan ungkapan dan keinginan siswa, dan siswa pasti bahagia karena diberikan kesempatan untuk berpendapat.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Persoalan dunia pendidikan adalah persoalan kita bersama, kemajuan pendidikan adalah kebanggaan dan sekaligus harapan  kita bersama, oleh karena itu sudah siapkah kita mencetak generasi harapan bangsa? Sudahkah kita merasa merdeka dalam belajar? Jika belum bangunlah dan bangkitlah, mari belajar bersama Komunitas Guru Belajar untuk berkolaborasi dan saling berbagi praktek mengajar,saling menginspirasi satu sama lain. Ingin ikut pelatihannya secara online? Klik link di bawah ini

Sudahkah Kita Merdeka Belajar?

Komunitas Guru Belajar Makassar mengadakan kegiatan Temu Pendidik Daerah dengan tema “ Merdeka Belajar “ pada Kamis, 20 Juni 2019 di Kafe Temang. Kegiatan  tersebut diawali dengan nonton bareng video narasumber Najelaa Shihab, lalu dilanjutkan dengan diskusi bersama yang dipandu moderator Emi Hardiyanti yang akrab disapa miss Emy.  Acara tersebut berlangsung sejak pukul 16.00 Wita – 18.00 WITA. Miss Emy membuka diskusi dengan kalimat “Sudahkah kita merdeka belajar? lalu bagaimana anak dapat merdeka belajar?” Yang kemudian direspon oleh para peserta dengan cukup antusias.  Salah seorang peserta mengatakan bahwa menjadi guru yang paling penting adalah seorang guru harus merasa merdeka terlebih dahulu karena kalau tidak ada rasa itu dalam diri seorang guru pasti akan menimbulkan kendala. Katanya, saya berkegiatan dengan anak-anak berkebutuhan khusus, dan buat saya kelas reguler dan berkebutuhan khusus sama. Alhamdulillah saya banyak sepakat dengan konsep dari sekolah cendikia  karena dari awal kami telah melaksanakan ujian berbasis oriented. Demikian halnya dengan ibu Nurfadilla, dari SMK YPLP mengatakan mengenai masalah pendidikan. Saya dan beberapa teman saya di Pascasarjana berdiskusi dengan dosen, menemukan ada masalah dalam sistem pendidikan kita. Oleh karena itu, sebagai anak muda yang berusaha ingin menyelesaikan masalah pendidikan yang benar-benar konflik, saya dan teman-teman sedang menyelesaikan proyek konten pembelajaran berbasis psikologi. Jadi kita membuat konten pembelajaran sesuai dengan karakteristik kekuatan pembelajaran anak.  Apa yang menjadi kekuatannya serta apa yang menjadi kelemahannya. Guru Usman Djabbar juga mengatakan bahwa apakah selama ini proses belajar mengajar kita di hari pertama sekolah langsung gas materi?. Jika demikian, saya bisa bayangkan betapa stresnya anak-anak di hari pertama sekolah.  Mengubah pertanyaan anak-anak dari How to menjadi Why. Menurut Usman Djabar, guru merdeka belajar adalah guru yang mampu mengubah pertanyaan How to menjadi why.  Tidak jauh berbeda dengan guru Erni Marlina, guru SMK 7 Makassar, mengatakan miskonsepsi yang harus kita pecahkan di kelas ketika anak terpakem bahwa dia sebenarnya butuh nilai. Kalau guru mampu membangun keyakinan bahwa sebenarnya belajar untuk masa depan maka tanpa disuruh pun mereka akan belajar, tapi yang selama ini terjadi karena mereka akan belajar karena membutuhkan nilai dan hal tersebut yang harus diubah. Riset juga membuktikan bahwa mereka yang unggul secara akademis mungkin susah menyesuaikan diri dengan orang lain kenapa karena mereka cenderung mengabaikan yang lain. Ketika kita menerima rapor jangan melihat deretan angka yang ada di rapor tetapi ketika kita bertanda tangan tutup rapor kemudian berikan apresiasi kepada anak kita. Kenapa karena kadang kita juga orang tua egois selalu mengukur prestasi dari apa yang ada di rapornya. Saya rasa mari kita bersama-sama memberikan sugesti-sugesti positif ini kepada anak-anak kita, kepada orang tua kita dan kepada diri kita sendiri karena kita adalah orang tua  di rumah dan orang tua di sekolah bahwa pendidikan itu atau belajar itu harus terus menerus dilakukan bukan untuk mengejar nilai tetapi bagaimana pelajaran itu kita butuh karena kenapa ? ketika anak-anak merasa bahwa dia membutuhkan pelajaran itu maka tanpa disuruhpun dia akan termotivasi. Saya memberikan contoh salah satu sekolah di Malaysia, sekolah di Malaysia itu terbalik dengan kita. Kalau kita menunggu anak-anak di depan pagar dan segala macam untuk dia menyalami. Sekolah itu justru anak-anak yang menunggu dan menyalami gurunya. Mereka berbaris di depan kelas kemudan menunggu gurunya masuk. Saya sangat merindukan itu apakah kemungkinan suatu saat nanti di Indonesia atau di sekolah kita sendiri bisa terjadi. Guru Luktfi Alam mengatakan bahwa tanpa bertanya saya harapkan adalah bagaimana hubungan guru dan pesera didiknya. Makanya rekan-rekan guru menyiapkan hal yang administratif. Sebagai contoh ; sebelumnya pemerintah mengambil alih kelulusan tetapi tiga tahun belakangan pemerintah telah mengembalikan kelulusan ke sekolah, semestinya pihak guru dan sekolah memahami sebenarnya hal tersebut apa esensinya . Bahwa sebenarnya kurikulum nasional telah memberikan sinyal untuk merdeka belajar contohnya peniadaan rangking, pengembalian kelulusan ke satuan pendidikan dan perangkat-perangkat pembelajaran yang lain, hanya saja pihak guru dan pihak sekolahnya saja yang biasa kurang paham apa sih maksud kurikulum meniadakan ranking? padahal maksudnya adalah bagaimana setiap anak itu semua punya potensi. Apa coba maksudnya pemerintah mengembalikan kelulusan ke satuan pendidikan,, yah pihak sekolah diberikan kemerdekaan untuk mengapresiasi muridnya. Mengapa kurikulum menginstruksikan agar penilaian sebaiknya lebih banyak portofolio itu tidak lain agar penilaian menjadi utuh yg mampu merekam aktifitas pelajar secara komprehensif, Nilai 80 yang dilengkapi dengan narasi dan catatan yang merekam potensi murid lebih bermakna dibanding dengan nilai 95 tanpa keterangan, diam,membisu. Demikian halnya dengan guru Maurensyiah yang akrab disapa Permata Hati guru SMK Darussalam “hal yang pertama kita harus lakukan sebelum memerdekakan anak-anak dalam belajar adalah memerdekakan diri sendiri terlebih dahulu. Bagaimana caranya ? lepaskan beban-beban administratif, perasaan harus sama dengan orang lain, cukup menjadi diri sendiri jika ingin menjadi Guru Merdeka Belajar, karena mengajar itu bukan menyenangkan manusia dalam hal ini kepala sekolah tetapi mengajar bagian dari amanah yang kelak akan kita pertanggungjawabkan di akhirat, jadi mengajarlah dengan ikhlas  untuk memanusiakan manusia”  Diskusi ditutup oleh moderator dengan kutipan dari narasumber Najelaa Shihab “Guru tidak bisa belajar sendiri”-“Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen akan tujuan, Guru yang mandiri, dan Guru yang Bercermin (refleksi)”.  Pendidikan, dalam hal ini pendidikan di sekolah, pada era modern (atau postmodern) ini memiliki tantangan yang lebih berat daripada masa sebelum tahun 2000-an. Pada masa dahulu, seperti masa kita sebagai guru berada pada posisi murid kita, bersekolah adalah bagaimana agar murid dapat melanjutkan pendidikan pada tingkat universitas atau secepatnya mendapatkan pekerjaan selepas sekolah menengah atas. Sekolah menjadi tempat bagi pembentukan, dengan term Althusser, know-how. Sekolah menjadi perpanjangan tangan pemilik modal bagi penyiapan tenaga-tenaga kerja potensial yang kelak akan digunakan oleh pemilik-pemilik modal tersebut melanjutkan nafas perusahaannya. Apakah pada saat ini, di era milenium, peran sekolah sebagai ladang penyemaian bibit-bibit potensial bagi tenaga kerja dalam sistem kapitalistik sudah tidak terjadi lagi?. Sayangnya, hal tersebut masih berlanjut, bahkan lebih parah lagi. Persaingan ekonomi global, terutama pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean, menjadikan sekolah-sekolah semakin giat dalam mereproduksi tenaga kerja dengan spesifikasi keahlian kualitas tinggi. Pertanyaannya, apakah hal tersebut adalah sesuatu yang salah?. Menjawab “ya” atau “ tidak” secara bulat bukanlah jawaban yang pas. Pada kenyataannya realitas adalah campur aduk antara benar dan salah. Kenyataan dunia yang semakin kapitalistik, tidak serta merta diikuti sekolah dengan mereproduksi … Read more