Bagaimana Ya Cara Mengembangkan Ide Cerita?

Saya yakin teman-teman disini suka bercerita, dan saya yakin juga semuanya bisa menulis. Tapi saya yakin juga banyak yang malu-malu mau bercerita ataupun menulis. Nah, kali ini pada Temu Pendidik Daring Komunitas Guru Belajar Sragen, saya ingin sedikit berbagi agar teman-teman mempunyai keberanian untuk menulis bagi yang suka bercerita. Sebenarnya menulis tidak memerlukan pakem khusus, pakem atau kita sebut aturan justru muncul belakangan ketika si penulis telah menemukan pola tulisannya sendiri. Yang penting, ketika kita mempunyai ide, bisa satu kata, satu kalimat, satu adegan cerita atau seberapapun itu merupakan modal awal ketika ingin menulis. Sesi Tanya Jawab Pertanyaan 1 Indri Fatma : Bagaimana caranya memulai, mengembangkan dan merampungkan sebuah cerita (tulisan), kalau ide yang kita punya baru sebatas pesan moral yang akan disampaikan? Belum tau alurnya. Andy Hermawan : Bisa diberikan contoh pesan moralnya? Indri Fatma : Contoh bahwa salam itu harus dijawab, jangan mudah ngambek, jujur. Andy Hermawan : Pesan moral biasanya muncul di akhir. Bisa dibuat pola dari belakang ke depan dengan metode sebab akibat. Mengapa ngambek, siapa yang menyebabkan ngambek, apa yang menyebabkan ngambek, ngambeknya dimana. Dari situ akan terangkai kata demi kata. Pilih kata yang mudah dipahami. Indri Fatma : Saya sudah buat pola misal tokohnya anak-anak sendiri. Di awal mereka antusias (saat mendengarkan cerita) namun tiba saatnya di tengah-tengah saya kurang mampu menunjukkan klimaksnya. Andy Hermawan : Klimaks kata lainnya goals, tinggal mau memunculkan apa, goalnya keberhasilan, harapan, dsb. Alur yang biasanya dipakai oleh kebanyakan penulis atau pencerita adalah, awal cerita, isi, kemudian penutup yang disertai dengan pesan moral. Misal ya : Idenya tentang lapar. Satu kata. Bisa diawali dengan setting waktu pada suatu siang yang terik. “Seekor itik berjalan ke hutan ditemani oleh 3 ekor anaknya yang masih kecil-kecil. Jarak antara tempat dia tinggal dengan hutan, kira-kira hanya seperempat hari lamanya. Mengapa ia rela berjalan sejauh itu. Ia berjalan ke hutan hanya ingin mencari makan untuk anak-anaknya.” Dari cerita itu apa yang bisa disimpulkan? Indri Fatma : Usaha mendapatkan makanankah? Mencari makan karena mereka lapar? Perjuangan? Kasih sayang? Mencari makan di hutan? Andy Hermawan : Kata lapar tidak harus selalu masuk dalam ranah penulisan atau penceritaan. Lapar hanya ide. Dan ketika dituangkan, banyak sekali makna pembelajaran yang dapat diambil. Begitu kira-kira. Harus telaten itu kuncinya. Pertanyaan 2 Rika : Kalau diawali dengan deskripsi tokoh. Bakalan menyulitkan cerita kebelakangnya tidak? Bukan setting. Andy Hermawan : Kembali kepada goals apa yang ingin disampaikan, ibarat kita mau berjalan ke mall, jika ternyata yang dicari tersedia di warung dekat rumah ya itulah alurnya. Rika :  Hehe, saya cuma sering menemui cerita cerita yang diawali dengan setting waktu. Kalau tidak juga tidak apa kan. Pertanyaan 3 Vitriya : Bagaimana  cara menulis dongeng atau cerita yang asyik untuk dijadikan bahan dongeng secara langsung. Jadi memang dijadikan bahan untuk diperankan 🙏🙏 terimakasih pak. Andy Hermawan : Ini mau ditulis atau diceritakan langsung?😁pada intinya materi yang akan disampaikan layak dituturkan kepada anak semakin beragam, dan pada prinsipnya cerita apapun sejauh dapat menghibur, edukatif dan reflektif pantas didongengkan. Vitriya : Awalnya mau ditulis pak. Terus setelah itu diceritakan. Sepertinya memang power dikemampuan bercerita harus diasah dulu ya pak agar semua cerita kece untuk diceritakan. Andy Hermawan : Tokoh dalam dongeng tidak perlu banyak-banyak, cukup 2 saja, munculkan konflik dalam cerita, tutup dengan solusi dan pesan moral. Pertanyaan 4 Sigit :  Di awal tadi ada materi malu-malu bercerita maupun menulis. Saya yakin disini ada yg masih awam atau baru niat atau baru mau mengaplikasikan dll. Pertanyaannya kalau mau terjun di dunia dongeng, kita menulis dulu atau kita praktikan dulu. Kalau menulis dulu, langkah awal utk menulis itu gimana ya? Kalau praktik, malam ini diskusi nya membahas tentang menulis. Terima kasih atas jawabannya Kak Andy ☺ Andy Hermawan : Dongeng bukan ilmu pasti, mau langsung cerita atau ditulis dulu bebas, karena kita memainkan imajinasi dan bebas berekspresi, kembali kepada masalah kenyamanan dan kebutuhan, yang perlu dituangkan adalah gagasan-gagasan yang ada dalam pikiran, panggung ataupun pena dan kertas hanyalah media, sedangkan cerita merupakan isi, sinambi golek dalan yo karo gawe dalan (sambil mencari jalan, juga membuat jalan). Sigit : Untuk mengawali praktik menulisnya kak ? Andy Hermawan :  Mengawali praktek menulis ya berani dan mau, itu aja kuncinya. Tidak ada salah dan benar dalam proses, karena ‘rasa’ akan muncul dengan sendirinya Closing Baik teman-teman, banyak orang mengatakan bahwa diam itu emas, tetapi tidak menutup kemungkinan jika kita berani berbicara atau menyuarakan sesuatu maka kita akan mendapat emas bahkan gunung emas, cerita dapat dituangkan secara verbal maupun dinarasikan, menulis adalah kegiatan positif yang bebas, dapat kita lakukan dimana saja, kapan saja, dengan siapa, pokoknya bebas, yang penting perangi rasa malu, malas, dan selalu berkata susah sebelum mencoba.

Mengapa Guru Harus Menulis?

Eka Wardhana Saya sering menyebut diri sebagai tukang nulis, karena menulis di mana pun dan kapan pun. Beberapa tulisan bahkan hasil menulis di kereta listrik antara stasiun Tebet dan Stasiun Bojonggede. Selepas kuliah, di KRL mengetik sambil bergelentungan. Moderator Keren pak…mungkin bisa berbagi tips dengan kami disini pak Eka Wardhana Dulu kerap saya dan Pak Bukik saling kontak, apakah naskah sudah cukup untuk SKGB? jika kurang, maka malam-malam saya kirim naskah untuk menggenapi. Terpaksa? oh tidak saya senang saja. menulis itu menyenangkan kok. Masa menyenangkan terpaksa? Apa manfaat menulis? mempertajam gagasan. Setiap kali menulis maka semua tenaga diarahkan pada bagaimana gagasan sampai kepada pembaca. Maka menulis lebih hati-hati, cermat dan tajam. Ada yang bilang tulisannya jelak. oh tidak apa-apa, itu bagus. Daripada tidak pernah menulis. Salah kalau ingin disebut semua tulisan itu bagus. Tulisan itu yang pertama jelek, lalu jelek, lalu jelek. Kemudian bagus. Semua penulis punya risiko. Yang yakni terkenal. Bisa karena terkenal jelek bisa karena bagus. Masalahnya menjadi terkenal itu lebih sulit daripada tidak terkenal. Karena setiap kali menulis, orang akan terpaksa membaca. Mengapa? Coba saja tidak pernah menulis, apa yang bisa membuat orang tertarik? Di fb orang tertarik pada tulisan dan menanggapinya dengan tulisan. orang tertarik dengan tulisan. Masalahnya apa yang akan ditulis? Saya memilih tulisan yang bisa menyuarakan kelas. Moderator Oke…baiklah, mungkin cukup pengantar dr pak Eka, selanjutnya sy akan membuka tanya jawab, untuk yermin pertama silakan 3 org sebutkan nama Endang Ayu Patrianingsih Saya memilih tulisan yang bisa menyuarakan kelas. Maksudnya tulisan yang bisa menyuarakan kelas yang gimana pak? Eka Wardhana Ya, kelas memang tidak bisa bersuara secara harfiah. Tapi banyak hal kelas yang bisa dibagi ke guru lain. Contohnya : Tentang kebiasaan bertanya. Guru bertanya? Murid bertanya? atau perihal pelajaran IPS atau PKn, atau tentang praktik pembelajaran di kelas yang saya bagi. Baik tantangan dan peluangnya. Apakah hal tersebut menarik? sangat, banyak guru yang enggan menyuarakan hal kelas, karena dianggap tidak menarik. Atau biasa saja Usman Tentang konsisten menulis pak. Susah benar menjaga ini. Eka Wardhana Nikmati saja saat-saat menulis. Jangan ada target. Begitu ada target, maka kepala akan dengan cepat menekan seluruh syaraf untuk merespon keras. Rileks saja, tulis pelan, lalu selesaikan. Begitu terus hingga banyak tulisan dihasilkan. Adelia Bagaimana tulisan itu dibilang jelek atau bagus? Seperti apakah tulisan bagus itu? Terkadang kalau menulis agak tertahan dalam pemilihan kata..bagaimana itu melancarkannya? Eka Wardhana Tulisan bagus: ide mudah ditangkap, redaksi sesuai kaidah bahasa, enak dibaca, melancarkan tulisan: perbanyak baca, kuasai perbendaharaan kata, banyak latihan menulis. Endang Ayu Patrianingsih Tantangan di kelas, masih banyak siswa yang enggan menulis, kisaran 50% atau lebih dgn alasannya masing2, sehingga kami mencoba menerapkan tugas menulis, meski masih dlm bentuk kegiatan belajar. Terima kasih banyak ilmunya pak Eka. Alhamdulillah. Eka Wardhana Ya sebelum siswa, tentu gurunya perlu senang menulis. Olle Apakah yang dimaksud ‘suara kelas’ itu tanggapan guru terhadap proses pembelajaran atau malah siswanya? Saya cukup sering menulisttg suasana kjelas ke fb dan respon pembaca selalu antusias Eka Wardhana Ya, makna suara kelas itu bukan berarti harfiah. Tapi hal yang terkait dengan kelas. Kalau saya lebih banyak merupakan refleksi mengajar. Selepas mengajar saya gunakan untuk menulis sebagai bahan refleksi. Olle Bagaimana mengumnpulkan tulisan2 yang sudah berupa artikel-artiukel lepas menjadi satu buku? Bisa diberikan contoh cara menyatukannya? Eka wardhana Gampang, satukan dalam folder. Naskah lalu kurasi lalu kelompokan sesuai tema. Sri Wahyuni Bagaimana pak Eka menjadikan kegiatan menulis di kelas sebagai kelas literasi di mata pelajaran yg diampuh?  Saya penasaran sejak tdi pak eka ngajar pelajaran apa Eka Wardhana Saya sering memberikan tugas IPS dan PKn yanh sifatnya telaah. Anak, mau tidak menulis dengan sendirinya. Contoh: Menurut kamu, Gajah Mada itu orang seperti apa? Sebelumnya saya kasih tulisan tentang sejarah Gajah Mada. Eka Wardhana Oh, tentang karir menulis. Saya senang, tulisan saya saya ajukan ke beberapa penerbit mayor.  Hasilnya banyak yang belum siap, karena alasan pemasaran. Tapi akhirnya saya cetak sendiri dan hasilnya saya sudah cetak berulang kali. Sebelas judul sudah saya buat. Buku saya tidak laku? kalau tidak laku maka saya tidak bisa cetak ulang. Saya ditawari untuk memasukkan buku ke jaringan besar. Saya hanya diberi keuntungan 10 persen, sisanya mereka. Saya mundur, saya jual sendiri. Saya senang buku tersebar kemana-mana. Urusan laku, masa saya guru bisa mencetak sendiri 11 judul? Takut? tidak, Kalau tidak gigih, jangan harap naskah bisa terbit sendiri. Dunia penulisan sangat ketat dan kejam. ini contoh tulisan ringan. SEJENAK MERAYAKAN KEBERHASILAN MENGAJAR Oleh Eka Wardana*) Pagi yang indah kala bincang ringan dengan kepala sekolah. Apa agenda terdekat dari raker sekolah? Kepala sekolah menyodorkan daftar acara yang telah dirancang jauh-jauh hari. Cukup mengernyit membacanya. Tiga hari dengan perencanaan kegiatan yang berjubel. Dari tugas-tugas yang berkaitan dengan administrasi pembelajaran yang seperti biasa dikerjakan sampai kegiatan yang melibatkan siswa. Dalam bincang itu tercetus bagaimana dengan refleksi yang bisa dilakukan oleh guru? Terhadap langkah yang telah dilakukan dan capaian apa yang sudah nampak? Atau bahkan pertanyaan tidak penting, apa yang membahagiakan selama mengajar disemester ini? Jika menggunakan kata evaluasi yang ada biasanya guru cenderung tersudut karena yang muncul adalah kekurangan-kekurangan. Dan selama bertahun-tahun guru dikenalkan pada model evaluasi yang kerap menampilkan sisi kegagalan, walaupun tidak selalu begitu. Jadi kata “evaluasi” sepertinya agak mengancam dibandingkan dengan refleksi. Sebagaimana makna asli refleksi yakni bercermin, guru bisa melihat “wajah”-nya sendiri. Mengapa guru tidak diajak merayakan keberhasilan mengajarnya. Seperti pergeseran kognitif apa saja yang terlihat dari siswa? Keterampilan-keterampilan apa saja yang tampak menonjol? Pemahaman-pemahaman apa saja yang terbentuk dan membawa arah belajar siswa? Ada kalanya guru menjawab dengan klise “banyak yang telah anak-anak pelajari” namun kesulitan merumuskannya dalam kalimat yang spesifik. Sehingga guru tidak dapat mengenali apa saja yang berkembang dari siswanya. Perayaan yang dilakukan sederhana saja, bisa antara teman guru memberi selamat dilanjutkan dengan apresiasi atas keberhasilan yang spesifik itu. Tidak terlalu mewah dan mahal. Namun memberi dampak yang tidak kecil. Setiap keberhasilan yang dirayakan apa pun bentuknya memberi kesan yang mendalam bagi guru. Kesan apa yang muncul saat keberhasilan dirayakan? Banyak guru yang penulis temui dalam beberapa diskusi mengenai keberhasilan dan kegagalan enggan membicarakan keberhasilan dihadapan teman atau atasan. Hal ini … Read more

Guru Belajar Cimahi Berbagi Cara Menulis

Hujan besar sempat menahan berkumpulnya guru-guru merdeka belajar di SD Peradaban Insan Mulia. Luar biasanya, di tengah derasnya guyuran hujan, ada yang memaksakan diri tiba di lokasi Temu Pendidik Daerah (TPD) Cimahi, untuk belajar menulis. TPD diawali dengan pemutaran vlog tentang buku yang ditulis Pak Inan, narasumber utama. Videonya bergaya reportase yang dikemas dengan style amat muda banget. Asyik, deh, pokoknya. Nah, setelah videonya selesai, Pak Inan mulai berbagi pengalaman tentang bagaimana mulai menulis. Ada satu pertanyaan mendasar yang patut dijadikan renungan, yaitu mengapa guru tidak menulis? Padahal guru adalah profesi yang sangat dengan dengan kegiatan menulis. Ada dua hal yang membuat guru tidak menulis Pertama, guru tersebut belum menemukan alasan untuk menulis. Kedua, guru tersebut belum tahu cara menulis. Untuk sebab pertama, belum menemukan alasan menulis, ada beberapa alasan yang bisa digunakan supaya guru mau menulis, yaitu Supaya bisa naik pangkat Memperoleh popularitas Mendapatkan keuntungan materi (uang) Meski bukan hal yang salah, ketiga alasan tersebut tidak cukup kuat untuk membuat guru membuat tekad yang kuat untuk menulis. Kalau berdasarkan tujuan-tujuan di atas, biasanya semangat hanya berkobar di awal dan semakin lama kian redup. Bahkan tak jarang terlalu cepat padam. Alasan yang cukup kuat untuk menggerakkan guru menulis adalah untuk menyebarkan inspirasi dan mengabadikan ide, gagasan, atau pun pengalaman. Kemudian tentang sebab kedua guru tidak menulis, yaitu belum tahu cara menulis, ada trik jitu dan sudah terbukti manjur. Apa itu? Menulislah. Kalau mau bisa menulis, ya menulislah. Tidak ada cara lain yang lebih ampuh. Apa yang ditulis? Apa yang kita kuasai atau apa yang dekat dengan kita. Menuliskannya tidak harus langsung banyak. Bisa dengan cara menulis sambil secara kredit. Tulis dulu, simpan. Kalau sudah banyak, kumpulkan dan kelompokkan. Jadilah naskah buku yang siap dikirim ke penerbit. Tapi saya kan tidak bisa nulis? Nah, untuk guru yang serig mengatakan demikian, ada penjelasan simpel yang mempu membalikkan pernyataan tersebut. Ini disebut dengan sindrom tali kekang gajah. Sejak kecil, gajah diikat dengan rantai di salah satu kaki belakangnya. Setiap kali gajah kecil mencoba bergerak lebih jauh jangkauannya, ia merasa kesakitan kakinya tertahan oleh rantai besi. Setelah berkali-kali merasakan sakit, akhirnya gajah tersebut menyerah. Ia hanya bergerak sampai di sekitar rantai itu saja. Gajah tumbuh dan berkembang. Tubuhnya kian besar dan jauh bertambah kuat. Semetara kaki tetap dirantai dengan rantai yang sama. Kalau saja gajah itu mau bergerak lebih jauh, niscaya rantai itu akan putus. Tetapi karena dalam mindsetnya adalah jika dia bergerak agak lincah akan merasakan sakit, maka gajah itu terperangkap dalam ketidakmampuan diri. Jadi sebenarnya ketakutan itu muncul dari dalam diri. Bukannya tidak mampu menulis, tetapi guru merasa tidak bisa menulis. Padahalnya potensinya bisa jadi sangat besar. Di bagian akhir, Pak Inan memberi trik bagaimana menjual buku tapi tidak seperti orang jualan. Triknya sederhana, jadikan pembeli atau figur tertentu mengendors buku kita tanpa dia sadari.Menarik, kan? Sedangkan narasumber kedua, Pak Suhud, membahas tentang menulis praktik pengajaran dengan pola ATAP (Awal-Tantangan-Aksi-Perubahan). Sesi tanya jawab berkembang sampai ke trik-trik menulis buku. Walaupun pesertanya tidak banyak, tetapi kegiatan ini mampu menggugah motivvasi guru yang hadir untuk menulis. Dalam kesan-kesan yang disampaikan, mereka menyatakan bahwa motivasinya terlecut dan tak sabar untuk mulai menulis. Anda Guru yang ingin belajar menulis juga?Yuk bergabung di Klub Guru Belajar Menulis Oleh Suhud Rois, Komunitas Guru Belajar Bekasi