Belajar Memahami Keberagaman, Menggali Potensi Anak

Setahun lalu, saya mulai mengajar di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) setara Paket C bernama PKBM Al-Bayan. Sekolah tersebut merupakan sekolah boarding school yang pada awalnya diperuntukkan bagi anak yatim dan dhuafa penyintas bencana gempa Yogyakarta. Namun, pada perkembangannya, sekolah ini menerima siswa dari berbagai daerah dan latar belakang ekonomi. Saat masuk kelas XI, saya cukup terkejut karena ternyata harus berhadapan dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Arif namanya. Saat itu, sulit untuk mengidentifikasi kebutuhan Arif. Secara sekilas, Arif mungkin dikira tunagrahita karena kesulitan untuk berbicara (gagap dan kurang jelas) dan motorik yang kurang seimbang. Tangannya sering gemetar, dan Arif berjalan dengan menyeret salah satu kakinya. Informasi yang saya dapatkan pun kurang memadai, baik dari guru lain maupun dari keluarga. Keadaan yang demikian seringkali membuat Arif diremehkan oleh beberapa temannya. Misalnya dengan memandang dengan pandangan yang meremehkan, atau mencemooh (meski tidak keras, namun cukup terdengar) saat Arif menjawab pertanyaan. Arif kesulitan menulis dengan tangan, dan hal ini sering membuat pekerjaannya yang berkaitan dengan tulis-menulis menjadi lambat. Selain itu, diperlukan perhatian khusus untuk menyimak kata-kata Arif sehingga terkadang membuat teman-temannya tidak sabar menyimak. Terlebih, pada pelajaran Bahasa Indonesia yang saya ampu, kegiatan menyimak, berdiskusi, dan menulis merupakan hal esensial. Jujur saja, saya pun awalnya kikuk karena baru pertama kali mengajar ABK. Terlebih, saya mengajar Bahasa Indonesia dan selalu mengajak murid untuk berinteraksi. Namun, saya sadar bahwa sikap saya merupakan contoh bagi siswa, dan sebisa mungkin saya bersikap wajar dengan ‘kespesialan’ yang dimiliki Arif.  Saya mencoba untuk belajar mengenai pembelajaran inklusi, mulai dari browsing internet hingga mengikuti workshop menjadi guru kreatif di sekolah inklusif. Dari pembelajaran tersebut, saya menyimpulkan sebuah ‘pekerjaan rumah’ dalam menghadapi situasi ini: Memahami kebutuhan dan potensi Arif, serta mengubah stigma negatif dan menumbuhkan sikap saling menghargai di kelas. Kegiatan Belajar Untuk Mengenal Keberagaman Potensi Pada awal semester, saya memberi tugas yang sama di kelas tanpa pengecualian untuk melihat seberapa jauh kemampuan dan potensinya. Setelah saya amati, rupanya kesulitan Arif hanya terletak pada motorik halusnya saja. Ia tidak bisa menulis dan bicara dengan lancar. Namun, secara kognitif, Arif dapat mengikuti pelajaran seperti murid lainnya. Secara emosional, Arif bisa dibilang lebih dewasa dibanding teman-temannya. Mental Arif tidak menciut dengan keadaannya. Arif menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan selama pelajaran (Seringkali pertanyaan kritis: Mengapa begini? Menurut kamu bagaimana?) dengan baik. Ia juga tidak malu untuk bertanya bagian yang tidak dipahaminya. Terkadang, suatu materi perlu disampaikan 2-3 kali hingga ia mengangguk paham. Dibandingkan temen-temannya, tugas-tugas Arif dalam bentuk tulisan seringkali sangat singkat. Misalnya saat materi membuat teks pidato,  Arif hanya menulis kurang lebih seratus kata. Meski begitu, Arif melengkapi bagian pembuka, isi, dan penutupnya. Hal ini menunjukan bahwa ia tidak asal-asalan dalam mengerjakan tugas dan memahami hal yang esensial dari materi tersebut. Dari tugas-tugas tersebut, saya menjadi lebih paham akan kekuarangan dan potensi yang dimilikinya. Saat ujian semester, Arif juga cenderung menjawab soal esai dengan singkat, yang terkadang membuat jawabannya kurang komprehensif dibandingkan teman-temannya. Pada akhirnya, saya bisa melakukan assesment tambahan dari pertanyaan-pertanyaan lisan di kelas. Saya juga mengajak siswa lain untuk mengenal potensi dirinya lewat aktivitas belajar. Misalnya, menonton sebuah video film dokumenter mengenai dunia hewan dan membuat tulisan mengenai impresi akan film tersebut. Dari tugas tersebut, saya mengajak siswa untuk bersama mengidentifikasi jenis tulisan yang dibuat. Misalnya, ada siswa yang menulis mengenai satu hewan saja, namun sangat rinci. Ada juga yang menulis mengenai impresinya terhadap keseluruhan film secara general. Ada siswa yang menuliskan dalam bentuk deskripsi, narasi, dan puisi. Jenis tulisan yang dibuat, merepresentasikan potensi yang dimiliki oleh penulisnya. Bersama, kami mengidientifikasi keberagaman jenis tulisan  yang telah dibuat. Ada anak yang suka menulis secara umum, ada yang secara rinci. Ada yang suka mendeskripsikan sesuatu secara detail, ada yang lebih suka bercerita, dan ada juga yang menulis puisi. Dari kegiatan tersebut, saya mengajak siswa untuk mengenal potensi yang dimilikinya, dan potensi yang dimilki temannya. Apa kelebihan, serta perbedaan antara satu dengan yang lain. Misalnya sama-sama generalis, tapi apa yang membedakan karya ini dengan karya yang lain? Pada akhirnya, dibagi kelompok anak yang lebih suka menulis secara general dan kelompok yang suka menulis secara detail. Anak-anak dari kelompok generalis dan detail kemudian membentuk kelompok dan diminta untuk membuat satu karya yang komprehensif. Melalui refleksi aktivitas pembelajaran, siswa dapat diarahkan untuk mengenal potensi-potensi dirinya dan orang lain. Harapannya, siswa dapat mengenal kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya, serta menerima hal tersebut pada diri sendiri maupun orang lain. Dengan mengajak siswa untuk merefleksikan sendiri potensinya, dan menyadari keragaman yang ada di kelas, lebih mudah untuk mendorong siswa saling belajar dan bekerjasama. Sekarang saya sering bertanya kepada siswa, “Jadi, apa kelebihanmu dalam materi ini?” Dalam empat pilar pendidikan yang dicanangkan UNESCO, tujuan proses pembelajaran tidak hanya untuk tahu, dan menguasai, tetapi juga untuk bisa hidup bersama. Saya sendiri ingat pada masa SMA, saya sering merasa ‘tidak ada apa-apanya’ karena cenderung bertipe generalis yang suka pada banyak hal sekaligus. Karena stigma sosial, saya merasa orang-orang yang hanya fokus pada bidang tertentu secara saklek lah yang akan berhasil. Padahal, seringkali dalam mencapai tujuan, kolaborasi dengan banyak pihak sangat penting untuk keberhasilan bersama. Oleh Anisah Zuhriyati – Komunitas Guru Belajar Yogyakarta

Guru Belajar Sanggau membuat Media Pembelajaran Kekinian

Pada Kamis, 08 November 2018. Komunitas Guru Belajar Sanggau melakukan kolaborasi bersama Gugus IV, Kecamatan Tayan Hilir dalam Kegiatan Learning Adventure of KGB Sanggau, salah satu program kegiatan yang sudah dirancang KGB Sanggau sejak lama dan dikemas dalam kegiatan Temu Pendidik Daerah, mengingat kegiatan ini beberapa tim dari KGB Sanggau akan berkunjung ke daerah-daerah untuk menyebarkan Praktik baik dari kegiatan belajar atau dari hasil pembelajaran. Menjadi salah satu aksi dari TPN 2018 yaitu membagikan “Oleh-oleh TPN 2018” ke berbagai Kelompok belajar, untuk program Learning Adventure of KGB kali ini, sasaran kami adalah KKG yaitu Kelompok Kerja Guru, dimana juga secara langsung akan mengaktifkan kembali kerja KKG di berbagai daerah, tentunya dengan menanamkan kesadaran semangat Merdeka Belajar. Kegiatan ini dilaksanakan di SDN 20 Simpang Mandong, Kecamatan TayanHulu, Kabupaten Sanggau, dengan jumlah peserta lebih kurang 49 orang terdiri dari Guru Kelas, Guru Agama, Guru PJOK dan Kepala Sekolah. Dimulai pada pukul 08.00 hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Pihak dinas pendidikan dan kebudayaan turut serta hadir dalam kegiatan ini, dalam hal ini Bapak Donatus, selaku Kepala UPT Dinas Pendidikan Pemuda danOlahraga Kecamatan Tayan Hulu memberi kata sambutan sekaligus membuka kegiatan, dalam kesempatan ini bapak Ka.UPT ini mengapresiasi sekali kegiatan ini, beliau juga meminta para guru untuk aktif dan giat dalam belajar, dalam kondisi apapun sebagai seorang pendidik harus mampu ikut beradaptasi dengan perkembangan zaman yang ada, salah satunya adalah dengan cara tak henti untuk belajar. Hal ini juga diaminioleh bapak Pengawas, dan dipertegas oleh bapak Ketua Inti Gugus IV, bahwa seorang pendidik itu sudah seharusnya mau bergerak, belajar dan mencari tau, beliau mengutip pembicaraan salah satu professor “Orang yang tidak ingin maju adalah orang merugi di muka bumi, karena ilmu pengetahuan itu sangat dinamis, perkembangan zaman yang maju ini harus diikuti dan diadaptasi agar kita tidak menjadi seorang pendidik yang naif” Selaku ketua Gugus IV kecamatan Tayan, Ibu Surnia Ratih berharap kegiatan ini dapat berkelanjutan, agar memotivasi rekan-rekan guru untuk terus mengupdate kompetensi diri. KGB Sanggau melaksanakan kegiatan sharing terkait Alat Peraga dan Pembelajaran dengan narasumber Ibu Titis Kartikawati. Materi yang disampaikan merujuk pada hasil kegiatan TPN 2018, yang merupakan salah satu Aksi dari TPN 2018, yaitu membagikan oleh-oleh pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan beberapa waktu lalu. Dalam TPD #1 ini, Ibu Titis membagikan apa yang diperolehnya di kelas Bercerita dan di kelas Maker Space. Selain itu dibahas pula terkait pembuatan Alat Peraga yang diperoleh dari Ini Budi, serta beberapa materi lain hasil inovasi beliau sendiri. Ibu Titis sangat mengapresiasi semangat belajar rekan-rekan di KKG gugus IV, Kecamatan Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau ini. Meskipun banyak para guru yang berusia sudah lanjut namun semangat belajar mereka masih sangat kuat. Peserta kegiatan pun memberikan pesan dan kesan atau harapan akan kegiatan ini, mereka merasa benar-benar menemukan cara belajar yang mereka harapkan. Fleksibel tidak kaku, memiliki semangat keceriaan bukan sekedar menggurui. Terasa santai namun sarat makna dan pengetahuan. Mereka berharap kegiatan seperti ini akan berlanjut secara rutin. Karena melalui kegiatan ini mereka memperoleh pencerahan terkait strategi pembelajaran yang menarik dan kontekstual serta memperoleh inspirasi terkait pembuatan alat peraga inovatif yang ternyata dapat dibuat sendiri dan menggunakan bahan sederhana yang berasal dari sekitar. Dalam kegiatan ini, Ibu Titis mengajak tiap peserta terlibat aktif,  memancing para serta untuk bertanya, sharing pengalaman pribadi terkait kegiatan pembelajaran bahkan mengajak para guru membuat suatu karya sederhana berupa alat peraga dengan memanfaatkan benda yang ada disekitar mereka. Demikianlah sekilas informasi terkait kegiatan Temu Pendidik Daerah #1 Komunitas Guru Belajar Sanggau. Pada hakikatnya bahwa suatu tujuan akan dapat tercapai dengan baik jika dilakukan dengan niat baik, keyakinan, keberanian, serta kolaborasi. Karena menumbuhkembangkan kesadaran untuk belajar dan membelajarkan dengan baik adalah tugas bersama, Pendidikan itu adalah untuk semua, bukan segelintir orang, atau sebatas usia, namun lebih kepada membangun komitmen bersama demi pencapaian cita-cita. Oleh Wanti Sila Sakti, Komunitas Guru Belajar Sanggau

Guru Belajar Cimahi Berbagi Cara Menulis

Hujan besar sempat menahan berkumpulnya guru-guru merdeka belajar di SD Peradaban Insan Mulia. Luar biasanya, di tengah derasnya guyuran hujan, ada yang memaksakan diri tiba di lokasi Temu Pendidik Daerah (TPD) Cimahi, untuk belajar menulis. TPD diawali dengan pemutaran vlog tentang buku yang ditulis Pak Inan, narasumber utama. Videonya bergaya reportase yang dikemas dengan style amat muda banget. Asyik, deh, pokoknya. Nah, setelah videonya selesai, Pak Inan mulai berbagi pengalaman tentang bagaimana mulai menulis. Ada satu pertanyaan mendasar yang patut dijadikan renungan, yaitu mengapa guru tidak menulis? Padahal guru adalah profesi yang sangat dengan dengan kegiatan menulis. Ada dua hal yang membuat guru tidak menulis Pertama, guru tersebut belum menemukan alasan untuk menulis. Kedua, guru tersebut belum tahu cara menulis. Untuk sebab pertama, belum menemukan alasan menulis, ada beberapa alasan yang bisa digunakan supaya guru mau menulis, yaitu Supaya bisa naik pangkat Memperoleh popularitas Mendapatkan keuntungan materi (uang) Meski bukan hal yang salah, ketiga alasan tersebut tidak cukup kuat untuk membuat guru membuat tekad yang kuat untuk menulis. Kalau berdasarkan tujuan-tujuan di atas, biasanya semangat hanya berkobar di awal dan semakin lama kian redup. Bahkan tak jarang terlalu cepat padam. Alasan yang cukup kuat untuk menggerakkan guru menulis adalah untuk menyebarkan inspirasi dan mengabadikan ide, gagasan, atau pun pengalaman. Kemudian tentang sebab kedua guru tidak menulis, yaitu belum tahu cara menulis, ada trik jitu dan sudah terbukti manjur. Apa itu? Menulislah. Kalau mau bisa menulis, ya menulislah. Tidak ada cara lain yang lebih ampuh. Apa yang ditulis? Apa yang kita kuasai atau apa yang dekat dengan kita. Menuliskannya tidak harus langsung banyak. Bisa dengan cara menulis sambil secara kredit. Tulis dulu, simpan. Kalau sudah banyak, kumpulkan dan kelompokkan. Jadilah naskah buku yang siap dikirim ke penerbit. Tapi saya kan tidak bisa nulis? Nah, untuk guru yang serig mengatakan demikian, ada penjelasan simpel yang mempu membalikkan pernyataan tersebut. Ini disebut dengan sindrom tali kekang gajah. Sejak kecil, gajah diikat dengan rantai di salah satu kaki belakangnya. Setiap kali gajah kecil mencoba bergerak lebih jauh jangkauannya, ia merasa kesakitan kakinya tertahan oleh rantai besi. Setelah berkali-kali merasakan sakit, akhirnya gajah tersebut menyerah. Ia hanya bergerak sampai di sekitar rantai itu saja. Gajah tumbuh dan berkembang. Tubuhnya kian besar dan jauh bertambah kuat. Semetara kaki tetap dirantai dengan rantai yang sama. Kalau saja gajah itu mau bergerak lebih jauh, niscaya rantai itu akan putus. Tetapi karena dalam mindsetnya adalah jika dia bergerak agak lincah akan merasakan sakit, maka gajah itu terperangkap dalam ketidakmampuan diri. Jadi sebenarnya ketakutan itu muncul dari dalam diri. Bukannya tidak mampu menulis, tetapi guru merasa tidak bisa menulis. Padahalnya potensinya bisa jadi sangat besar. Di bagian akhir, Pak Inan memberi trik bagaimana menjual buku tapi tidak seperti orang jualan. Triknya sederhana, jadikan pembeli atau figur tertentu mengendors buku kita tanpa dia sadari.Menarik, kan? Sedangkan narasumber kedua, Pak Suhud, membahas tentang menulis praktik pengajaran dengan pola ATAP (Awal-Tantangan-Aksi-Perubahan). Sesi tanya jawab berkembang sampai ke trik-trik menulis buku. Walaupun pesertanya tidak banyak, tetapi kegiatan ini mampu menggugah motivvasi guru yang hadir untuk menulis. Dalam kesan-kesan yang disampaikan, mereka menyatakan bahwa motivasinya terlecut dan tak sabar untuk mulai menulis. Anda Guru yang ingin belajar menulis juga?Yuk bergabung di Klub Guru Belajar Menulis Oleh Suhud Rois, Komunitas Guru Belajar Bekasi

Guru Belajar Bandung Membangun Suasana Belajar

oleh Umi Kalsum – Penggerak KGB Bandung 3 November 2018, sore itu jalanan macet dan hujan pun mulai turun. Sekilas semua itu nampak menghambat. Namun nyatanya tidak, tidak ada kata menghambat, bagi belasan guru yang hadir di SD Mutiara Bunda saat itu. Mereka adalah guru-guru yang sangat ingin belajar dari Bu Lala dan Pak Aye, tentang “Membangun Suasana Kelas di Sekolah Dasar dan Strategi Menerapkan Gamifikasi untuk Pembelajaran yang Lebih Berarti.” Sungguh, aku sangat kagum dengan mereka, guru-guru pembelajar. Pembelajaran pun dimulai. Pembelajaran diawali oleh Bu Lala dengan kalimat-kalimat pembuka yang terngiang-ngiang di kepalaku. Ia berkata,  “Tak Senang, Maka Tak SayangTak Sayang, Maka Tak CintaTak Cinta, Maka Tak PAHAMJadi, Supaya PAHAM, harus SENANG dulu!” Bu Lala benar, untuk paham memang harus senang dulu, maka menjadi jelas maksud Bu Lala membangun suasana kelas itu maksudnya membangun suasana kelas yang menyenangkan. Bu Lala pun menunjukkan 8 cara untuk membangun suasana kelas yang menyenangkan. 8 cara tersebut adalah Ciptakan Games, Bermain Peran, Gunakan Musik, Bersenang-senang, Belajar di Luar Kelas, Beri Waktu untuk Curhat, Beri Apresiasi, Refleksi. Dari 8 cara tersebut, ada 2 cara yang sangat menarik perhatianku yakni gunakan musik dan bermain peran. Menurutku, “karena kedua cara itu Wow Banget,” kuyakin banyak yang tak percaya, sama halnya denganku yang tak percaya, bahwa Bu Lala mengajar dengan sangat kreatif. Bagaimana tidak, ia datang ke kelas dengan membawa gitar dan memulai kelas dengan menyanyikan lagu berbahasa ‘alien’ (baca : bahasa sunda yang didengar oleh anak-anak zaman now, yang jauh dari bahasa lokal). Bu Lala pun menyanyikan lagunya, “Wilujeng enjing nami Ibu, Bu LalaSumping kadieu hoyong kenal sadayanaWilujeng enjing hey nu nganggo acuk hideungSebutkeun nami sareung naon karesepna…” Lagu ini dinyanyikan dengan nada sebuah lagu lokal yaitu cingcangkeling. Mendengar lagu tersebut dinyanyikan, anak-anak pun mulai penasaran, berusaha menebak-nebak lagu yang dibawakan Bu Lala. Lagu ini dinyanyikan berulang-ulang oleh anak-anak, agar anak juga dapat lebih mengenal bahasa sunda dan lebih mengenal teman-temannya. “Keren…” bisikku dalam hati, dengan seperti ini tentu anak-anak tertarik dan penasaran sekali dengan pembelajaran hari itu. Selain dengan menyanyikan lagu, Bu Lala pun bermain peran dengan anak-anak. Dan yang paling mengejutkan adalah Bu Lala memerankan dirinya layaknya seorang tokoh dari sebuah dongeng. “Wow banget,” ucapku. Mulai dari make up di wajah, pakaian yang dikenakan, hingga suara dalam 1,5 jam yang semuanya menyerupai seorang nenek dari sebuah dongeng. Hal seperti ini tentu akan menarik perhatian siswa dan membuat suasana kelas menjadi sangat fresh, buktinya adalah anak-anak yang meminta lagi untuk belajar bersama tokoh kartun lain seperti Ben 10, Batman, Captain America, dsb. Menarik bukan? Apa kita akan tetap pakai strategi mengajar yang lama? Atau ingin mencoba menggunakan strategi dari Bu Lala yang fresh and happy? ☺ Masih dengan suasana kelas yang menyenangkan, sesi Bu Lala dilanjut oleh Pak Aye, sang Master Game, jika saya boleh menyebutnya begitu. Kali ini Pak Aye membangun suasana kelas yang menyenangkan dengan cara yang berbeda. Ia mengenalkan kami dengan gamifikasi. Apaan tuh? Pak Aye pun mengawali pembelajaran dengan bertanya, “Ada yang baru dengar kata gamifikasi?” Beberapa orang pun mengacungkan tangan, tidak termasuk aku, tapi aku sendiri sebenarnya tak paham apa itu gamifikasi. Pak Aye pun menjelaskannya dengan menampilkan sebuah video terlebih dahulu. Video tersebut menunjukkan perilaku orang dalam menggunakan keset. Biasanya, orang menggunakan keset hanya dalam beberapa detik saja, namun tidak dengan orang-orang dalam video tersebut. Orang-orang di video tersebut dapat menggunakan keset dalam jangka waktu bermenit-menit lamanya, bahkan hingga berinteraksi, mengobrol dan bekerja sama untuk menyelesaikan puzzle berbentuk keset. Video tersebutlah yang Pak Aye sebut dengan realitas gamifikasi. Pak Aye menjelaskan bahwa “Gamifikasi adalah sebuah metode yang menerapkan elemen-elemen permainan ke dalam konteks non permainan.” Hal ini berbeda dengan game based learning. Salah satu perbedaannya adalah game based learning mengubah pemahaman, sedangkan gamifikasi mengubah perilaku. Pak Aye pun menunjukkan fakta yang mencengangkan menurutku yakni 83% alasannya, pelajarannya tidak menarik 51% mengaku setiap hari bosan di Sekolah 41% alasannya, pelajaran tidak ada kaitannya dengan kehidupan. Mulutku menganga melihatnya. Semua fakta-fakta ini yang menjadikan gamifikasi menjadi hal yang penting untuk dipraktikkan. Karena gamifikasi dapat membuat pembelajaran menjadi menarik, seru, dan bermakna. Namun, tak lupa Pak Aye pun menyampaikan bahwa “Gamifikasi hanyalah salah satu teknik, bukan ‘obat’ bagi segala kondisi kelas.” Pak Aye pun mengajak kami untuk bermain beberapa media yang dibawanya. Kami dibagi menjadi 3 kelompok. Ada yang bermain dorino, cocok, dan pemerintahan. Dorino merupakan media belajar berhitung. Cocok merupakan media belajar bangun datar. Dan Pemerintahan merupakan media belajar sistem pemerintahan. Keseruan bermain nampak dari respon para pemain, ada yang sangat berisik sambil teriak-teriak “cocok, cocok, cocok,” ada yang terburu-buru menjumlahkan, ada yang kalem sambil berpikir strategi, dsb. Aku yang bermain game pemerintahan, menyadari bahwa permainan yang kumainkan ini mengajariku bukan hanya untuk menang, tapi juga untuk memikirkan (baca : peduli) pada orang lain. Oh… ini yang Pak Aye sebut bahwa gamifikasi itu adalah permainan yang bermakna, permainan yang dapat mengubah perilaku. Setelah bermain, Pak Aye menjelaskan bahwa pada prinsipnya, untuk membuat sebuah permainan, kita hanya perlu ATM, yakni Amati, Tiru, dan Modifikasi. Tentunya hal ini mesti sesuai dengan tujuan pembelajaran. Bagaimana, seru bukan? Ingin mencoba membuat sebuah permainan yang menarik, seru, dan bermakna ala Pak Aye? ☺ Di akhir kata liputan ini saya ucapkan, semoga ilmu yang kami peroleh hari itu dapat banyak bermanfaat untuk kami yang hadir, untuk para pembaca liputan ini, untuk para guru yang mempraktikkan dan menyebarkan ilmu ini. Amin.

Autisme 101 : Belajar Bersama Guru Belajar Denpasar

Temu Pendidik Daerah KGB Denpasar Apa jadinya jika guru-guru berkumpul dan berdiskusi?PECAH!! (bahasa anak muda jaman Now.) Demikian pula yang terjadi ketika komunitas para guru ini bertemu. Minggu, 04 November 2018 dipilih sebagai waktu untuk bertemu kembali oleh anggota KGB Denpasar. Pertemuan bulanan ini adalah kegiatan Temu Pendidik Daerah ke-8 yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar Denpasar, yang bertujuan menggerakkan semangat belajar di ekosistem pendidikan Indonesia. #MerdekaBelajar. Bertempat di sekolah Inklusi Youth Shine Academy, Denpasar, kegiatan dimulai dari pukul 09.30 wita. Hadir pada saat itu 9 anggota yang berasal dari sekolah PAUD sampai jenjang SMA. Suasana jelas terlihat akrab dan hangat bahkan selama acara berlangsung terasa antusiasme para anggota yang hadir. Diawali dengan perkenalan dan mengisi daftar hadir online, narasumber pertama, ibu @jentinapakpahan memulai diskusi tentang intervensi dini mengenal autisme dan segala hal terkait tipe, ciri dan penanganannya. Fokus pada pertemuan ini adalah mengubah paradigma anggota KGB para rekan guru untuk lebih mengerti panduan penanganan ketika proses belajar mengajar berlangsung. Salah satu kutipan dari narasumber tentang anak-anak kebutuhan khusus adalah, “Anak-anak adalah aset bukan liabilitas. Pergunakan waktu sekarang untuk berproses daripada menyesali dikemudian hari”. Banyak contoh pengalaman dan berbagai file tentang autisme serta berbagai saran terapi penanganan yang disampaikan oleh narasumber. Salah satunya adalah terapi wicara yang disarankan untuk anak-anak dengan gangguaan komunikasi serta terapi perilaku yang diperuntukkan bagi anak dengan gangguan hiperaktif. Diskusi tentang berbagai masalah penanganan dikelas banyak diungkapkan terkait cara pengelolaan emosi guru dan siswa. Banyak ide yang dilontarkan untuk selanjutnya dapat dipraktekkan dikelas termasuk pola displin positif bagi siswa untuk membuat kelas bisa tetap kondusif. Narasumber kedua, ibu @devianasafitri berbagi pengalamannya mengikuti Temu Pendidik Nusantara, Oktober lalu di Jakarta. Fokus pembahasan adalah tentang memahami cara guru untuk memanusiakan hubungan. Banyak contoh permainan edukasi dan presentasi saat kelas yang diikuti bu Devi membuat anggota yang lain menjadi bersemangat untuk mengikuti TPN 2019. Salah satu kutipan yang menarik dari narasumber yaitu,”Perubahan tidak menunggu kebijakan, tetapi praktik baik yang dilakukan dikelas, ketika para guru bertemu dan berinteraksi dengan para siswa. Sentuh HOT BOTTOM mereka dan nantikan perubahan terjadi pada anak, pada rekan kerja bahkan pemegang kebijakan”. Narasumber juga memandu para anggota untuk melakukan teknik bernafas agar mengurangi ketegangan emosi saat mengajar dikelas. Diskusi mengalir dengan berbagai pertanyaan seputar TPN dan komunitas guru belajar. Salah satu ide adalah mendukung rencana KGB bisa segera dilaksanakan di Singaraja, agar rekan-rekan guru tidak perlu jauh ke kota Denpasar untuk melaksanakan Temu Pendidik Daerah. Puncaknya adalah ketika ibu Wanda, anggota terjauh dari kota Singaraja, membagikan buku berjudul “Sulitkah mengasuh anak” terbitan dari Yayasan Gemah Ripah Pacung ke semua orang yang hadir secara gratis dan juga buku “Memanusiakan Hubungan” dari Komunitas Guru Belajar untuk dipinjamkan ke semua anggota bergantian. KGB Denpasar mendukung gerakan Literasi dengan cara membuat jadwal peminjaman buku milik KGB Denpasar, yang sementara akan diberikan saat Temu Pendidik berlangsung setiap bulannya. Saat sesi refleksi, ada ungkapan menarik dari para anggota, salah satunya dari ibu Marli, yang baru pertama kali mengikuti TPD. Ibu Marli sangat antusias karena akhirnya menemukan komunitas guru yang saling melengkapi, merdeka berbagi dan bisa menambah wawasan untuk berkembang. Begitu pula saat ibu Wanda, merasa diingatkan kembali kepada panggilannya ketika memilih profesinya sebagai guru. Meskipun kadang berbenturan dengan kebijakan atau peraturan dilembaga yang mengikat kebebasan untuk bereksplorasi. Ada momen ketika ibu Jentina berbagi pengalamannya sebagai pendidik anak kebutuhaan khusus selama 16 tahun terakhir, mengutarakan proses jatuh bangunnya untuk tetap bertahan dengan mereka karena ia percaya profesi ini adalah panggilan hidupnya bukan sekedar untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan. Beberapa orang lagi mengutarakan kesungguhan untuk lebih lagi berbuat sesuatu daripada mengeluhkan kebijakan atau sekedar mengajar demi akreditasi. Pada sesi penutup, para penggerak meminta kepada semua anggota untuk lebih aktif memulai Temu Pendidik Sekolah serta mendorong anggota untuk bersedia jika diminta mengisi sebagai narasumber dan moderator untuk berbagi ilmu dan mengembangkan diri. Termasuk membuka kesempatan untuk setiap anggota bisa memposting karya dan ide mereka dalam surat kabar KGB. Para penggerak juga memperkenalkan berbagai kelas online yang guru dapat ikuti selanjutnya untuk menambah ilmu dan wawasan serta jaringan. Untuk itu akan ada pertemuan lanjutan terkait penyusunan agenda dan rencana kegiatan tahun 2019. Karena semangat dari komunitas ini adalah semua murid semua guru, yang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi semua guru untuk aktif dan berkembang.

Guru Desa: Empat Keanehan Temu Pendidik Nusantara

Ketika guru yang lain menatap kagum, guru desa satu ini justru merasakan keanehan Temu Pendidik Nusantara. Apa keanehannya? “Bu Lani, saya mau menjadi penggerak”Saya mengumpulkan segenap keberanian untuk menuliskan chat tersebut ke bu Lany waktu itu beliau masih menjadi koordinator penggerak untuk wilayah Sumatera. Inisiatif tersebut saya kemukakan bukan tanpa alasan karena satu ada kuota beasiswa untuk penggerak untuk ikut Temu Pendidik Nusantara, dan sangat sayang untuk dilewatkan. Oh ya sebelumnya saya sudah mendiskusikannya di grup Guru Belajar Pesisir Selatan siapa yang akan ditunjuk menjadi penggerak dan ternyata tidak ada respon. ketika itu grup kami masih berisi sekitar 25 orang dan masih sangat pasif dan anggota gruppun kebanyakkan teman-teman yang belum saya kenal, karena ketika grup dibuat oleh pak Bukik Setiawan isinya hanya kita bertiga, pak Bukik, Bu Lany dan saya. Ada banyak keanehan yang saya rasakan di Temu Pendidik Nusantara 2017. Saya merasa dunia saya mulai berubah. *Keanehan Pertama* Saya adalah seorang guru dari pelosok di pesisir pantai Sumatera yang sempat ketinggalan telepon genggam di bandara, gugup karena baru pertama kali naik pesawat, dan sempat berfikir di udara jika pesawat jatuh kemana saya akan menapak.. Saya berangkat bersama 4 orang penggerak hebat lainnya Pak Adhan Chaniago Bungsu, Pak Dicky Irawan, dan Bu Verawati Koto yang mewakili 4 Kabupaten di Sumatera Barat. Sesampai di Soeta kami dipandu oleh relawan menuju penginapan. Saya beserta dua teman menginap di LPMP dan salah dan satu teman saya menginap di rumah relawan orang tua murid Sekolah Cikal. Hari pertama saya masuk kelas penggerak karena penggerak wajib mengikuti kelas ini, saya bersama teman-teman mendapat materi tentang Guru Merdeka Belajar oleh Ibu Najelaa Shihab dan Pak Bukik Setiawan. Dari pemaparan beliau berdua tentang salah kaprah guru mardeka belajar terjadi pergulatan batin dalam diri saya. Logika saya seperti dibolak-balik, ada pertentangan batin untuk menerima itu semua. Saya sempat ragu apakah saya tidak salah masuk? Apakah saya berteman dengan orang-orang yang tepat? Apakah saya tidak salah pilih teman dan lain sebagainya? Hmmm tak mudah memang untuk merubah keyakinan yang sudah terbangun selama puluhan tahun. *Keanehan kedua* Saya adalah seorang guru dari pelosok desa yang terbiasa dengan pola pelatihan konvensional, dilatih dengan narasumber ahli, wajib bawa laptop, duduk manis walaupun terkantuk-kantuk, siap menampung materi dari pagi sampai malam, duduk diruangan yang sama. Di Temu Pendidik Nusantara, kondisinya berbanding terbalik. Saya belajar bersama guru-guru yang memiliki pengalaman berhadapan langsung dengan anak-anak, antar jenjang dan antar lintas, mulai TK,SD, SMP, SMA/SMK, perguruan tinggi bahkan orang-orang yang yang peduli dengan pendidikan. Belajar dengan antusias, energi positif memenuhi seluruh rungan, tepukan riuh pertanda memberi dukungan sehingga membangun percaya diri. Setiap sesi dengan kelas yang berbeda dan suasana yang berbeda. Tak jarang saya belajar di luar ruangan dan harus pindah mencari kelas yang sesuai, dan laptop saya sempat nganggur selama pelatihan. *Keanehan ketiga* Saya adalah guru dari sebuah desa yang terheran-heran dengan gaya menulis teman-teman. Ada yang menulis dengan banyak kotak-kotak, memakai banyak panah, berbentuk gambar, diagram dan begitu banyak spidol dalam tas mereka untuk membuat tulisannya menjadi berwarna. Mungkin bagi sebagian orang menulis seperti itu sangat biasa tapi waktu itu saya menganggap itu sesuatu yang sangat luar biasa. *Keanehan keempat* Saya guru desa yang tak pernah bermimpi bertemu dengan Ibu Menteri Sri Pujiastuti. Namun, di Temu Pendidik Nusantara 2017, saya bertemu dengan beliau dan hanya dibatasi jarak beberapa buah kursi. Dari cerita beliau saya jadi tahu, kesukaan beliau adalah membaca dan beliau pernah membaca habis seluruh buku perpustaaan yang ada di desanya. Beliau masih ingat dengan sebagian besar judul buku-buku yang pernah dibacanya puluhan tahun silam. Beliau juga cerita sering lupa waktu ketika membaca, karena kebiasaan tersebut orang tuanya sempat marah tapi tak mengentikan kebiasaannya membaca dengan bersembunyi di kolong tempat tidurnya. Ternyata keanehan di TPN 2017 silam berlanjut sampai detik ini, saya masih merasa aneh kenapa bisa menulis sepanjang ini (walaupun masih banyak teknik yang mungkin harus dibenahi). Padahal beberapa waktu yang lalu untuk menulis satu baris status di FB saja harus butuh waktu lamaaaa baru bisa menuliskannya. Sampai saat ini saya masih merasa aneh sudah mulai terbiasa bicara di depan umum padahal dulu sering gemetar dan tidak percaya diri, dan satu lagi yang sangat-saaaaaangat aneh menurut saya adalah ketika memberanikan diri untuk menjadi pembicara di Temu Pendidik Nusantara 2018. Temu Pendidik Nusantara ini tingkat Nasional Meeeeen masih ada rasa tak percaya, apa iya aku bisa… Entah apalagi keanehan yang akan ditawarkan oleh TPN 2018, yang pasti saya ingin kembali merasakannya. See you TPN 2018. Pesisir Selatan, Negeri Sejuta PesonaSabtu, 8 September 2018 RahmiGuru SMP Negeri Lengayang Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Status Facebook.