Pameran Karya Merdeka Belajar

Apa yang tertanam di benak atau yang dipikirkan jika mendengar kata “Pameran Karya” ? Apakah majalah dinding yang tertempel di papan sekolah, memajang piala-piala kejuaraan atau memamerkan karya seni yang dihasilkan oleh murid? Apa ya maksud dari pameran karya sebenarnya? Apalagi Pameran Karya Merdeka Belajar. Sebelum membahas pameran karya lebih dalam, kita akan kulik terlebih dahulu untuk menyamakan persepsi terkait apa itu pameran karya. Pameran Karya adalah sebuah program dimana anak-anak dapat menceritakan kembali apa yang sudah mereka dapatkan dan pahami dalam proses belajar, dimana anak-anak memiliki keinginan yang kuat dalam dirinya untuk  bisa membuat dan menghasilkan sebuah karya yang terbaik yang sekaligus dapat membagikan pesan yang ingin disampaikan melalui karya tersebut secara luas. Pameran karya menjadi salah satu bukti anak-anak dapat berkreasi dan bereksplorasi dengan pengetahuan, pengalaman dan kompetensi yang dimiliki, dan menjadi suatu kebanggan tersendiri ketika anak-anak dapat menghasilkan sebuah karya.   Pada Obrolan Guru Merdeka Belajar 9 Maret 2021 yang bertemakan “Pameran Karya Merdeka Belajar” tidak hanya mengajak guru menjadi narasumber tetapi turut serta mengajak murid-muridnya untuk bisa bergabung dan berbagi mengenai pameran karya yang sudah pernah dihasilkan di sekolah. Obrolan #GuruMerdekaBelajar dipandu oleh Mahayu Ismaniar dengan 4 narasumber, yaitu Dirayanti Bungawardani guru di Sekolah Cikal Serpong, Eka Priyantiningrum guru di Sekolah Pembangunan Jaya, sedangkan muridnya ada Rayyan Akman Arsyad dari Sekolah Cikal Serpong dan Ni Wayan Azalia Seca Devina murid dari Sekolah Pembangunan Jaya. Rayyan berbagi mengenai karya karya yang pernah dihasilkannya yaitu sebuah komik yang bercerita tentang sejarah kerusuhan yang terjadi pada tahun 1998, yang memiliki tujuan untuk menyelesaikan masalah kurang minatnya murid pada mata pelajaran sejarah dan adanya stigma bahwa mata pelajaran IPS yang membosankan, rumit dan banyak materi hafalan.  Sedangkan Azalia pada semester pertama membuat sebuah poster mengenai kerajaan-kerajaan di Indonesia salah satunya kerajaan Tidore, pada waktu semester kedua Azalia kembali membuat sebuah poster yang dilengkapi dengan video mengenai provinsi Kalimantan Barat yang dikerjakan secara berkelompok yang juga digunakan untuk penilaian tengah semester.  Menarik sekali hasil karya yang dihasilkan Rayyan dan Azalia yang mengangkat materi hafalan yang bisa dibilang membosankan dan kurang diminati bagi sebagian murid, justru menjadi cara belajar yang mengasyikkan melalui pameran karya ini yang membuktikan bahwa mata pelajaran apapun dapat dikemas dalam pameran karya yang unik dan menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Pameran karya menjadi salah satu bentuk asesmen yang dilakukan untuk mengetahui pemahaman murid, kompetensi yang dikuasai sampai dapat menghasilkan sebuah karya. Eka Priyantiningrum menjelaskan bahwa dengan adanya pameran karya ini mengandung sebuah istilah “ada udang dibalik batu”, maksudnya bahwa dalam sebuah pameran karya yang dihasilkan ada hal berharga yang dibagikan oleh murid-murid. Hal-hal berharga yang dimaksud antara lain keinginan guru-guru untuk dapat mengembangkan minat dan bakat siswa yang dimiliki, membuat sebuah project bermakna (berkolaborasi antar mata  pelajaran), melatih siswa membuat perencanaan, melatih dalam berkomunikasi (guru-guru; guru-siswa; siswa-siswa), critical thinking, dan yang terakhir dapat dijadikan sebagai penilaian lengkap kinerja murid (penilaian pengetahuan,keterampilan sampai penilaian sikap). Dirayanti Bungawardani pun menambahkan bahwa asesmen dalam pameran karya menggunakan rubrik yang mencakup beberapa kompetensi, yaitu komitmen, cerdas, dan berpusat pada aksi. Melalui proses pembuatan karya dapat dilihat seberapa besar komitmen murid dalam mengerjakan dan menyelesaikan sebuah tugas, mulai dari pembuatan timeline sebagai pedoman pengerjaan, pada kompetensi cerdas dapat digunakan untuk melihat apakah murid dapat menerapkan pengetahuan yang cukup komprehensif, dan pada kompetensi berpusat pada aksi untuk dapat mengambil solusi-solusi untuk dapat menyelesaikan tantangan selama pembuatan sebuah karya.  Kali ini Azalia bercerita tentang proses bagaimana membuat poster digital dan juga video yang sudah dipamerkan. Pada saat pembuatan poster digital dimulai dari bagaimana menggunakan aplikasi, penentuan tema agar tidak saling memiliki kesamaan tema, kemudian penentuan deadline pengumpulan karyanya, yang tentunya selama proses pembuatan guru turut serta menanyakan proses pembuatannya sudah sampai mana dan apakah menemukan kendala dalam proses pembuatan poster digitalnya. Setelah poster digital dikumpulkan dan dipertontonkan secara luas ada evaluasi yang diberikan dari hasil poster digital tersebut. Pada pembuatan poster dan video provinsi Kalimantan Barat yang dilakukan secara berkelompok tentunya ada beberapa bagian yang dibagi-bagi untuk saling berdiskusi, bekerja sama dan berkolaborasi, contohnya dalam pencarian informasi mengenai peta, lagu daerahnya, tarian yang dimiliki, dan yang lainnya.  Sedangkan Rayyan bercerita awal mula memilih kerusuhan tahun 1998 dikarenakan banyak perspektif teman-temannya mengenai pelajaran terutama pelajaran sejarah yang kurang menyenangkan, sedangkan menurut Rayyan sendiri pelajaran tersebut menyenangkan untuk dipelajari, lalu timbullah ide untuk membuat sebuah karya untuk mengemas pelajaran sejarah menjadi menarik untuk dipelajari yaitu melalui komik, tantangan terbesar yang ditemui selama proses membuat project itu adalah skill-skill yang dibutuhkan pada saat membuat project itu sendiri, seperti bagaimana membuat planning yang baik, riset informasi yang mendetail, dan mencari ide yang bisa menjadi pelajaran penting dalam menghasilkan karya.  Baca Juga: Lebih Penting Pameran Karya atau Memajang Nilai Murid? Pada Obrolan #GuruMerdekaBelajar peserta diberikan kesempatan untuk bertanya dengan narasumber antara lain Amalia Tjiandra dan Ika Amaliah. Ibu Amalia Tjiandra mengajukan pertanyaan kepada Rayyan dan Azalia tentang seberapa penting adanya pameran karya yang ada di sekolah untuk murid?, menurut Azalia sangat penting karena dengan adanya pameran karya dapat menambah kreativitas dan pengetahuan bagi murid itu sendiri, dan pada pameran virtual yang dilakukan dengan kecanggihan teknologi murid dapat lebih menguasai perkembangan dalam penggunaan teknologi sekarang ini yang dapat dengan mudah untuk membagikan hasil karyanya secara luas melalui link yang dibagikan. Sedangkan menurut Rayyan ilmu atau konsep yang diaplikasikan dalam menciptakan suatu karya akan sangat bermanfaat untuk kedepannya baik untuk belajar di jenjang yang lebih tinggi atau pada waktu bekerja nantinya.  Pertanyaan berikutnya dari Ibu Ika Amaliah untuk Azalia dan Ibu Eka tentang bagaimana menyiasati anggota kelompok yang tidak aktif dan sulit bekerja sama? Dan Bagaimana membuat kelompok tetap kondusif dari perencanaan sampai eksibisi? Wah banyak dirasakan juga oleh Bapak/Ibu juga sepertinya ya. Menurut Ibu Eka sebelum membentuk sebuah kelompok dalam pameran, sebaiknya sudah melakukan observasi kelas terlebih dahulu berdasarkan penilaian dari penugasan-penugasan yang diberikan secara individual untuk mengetahui murid siap dan bisa untuk bekerjasama dalam tugas yang dilakukan secara berkelompok, sedangkan menurut Azalia untuk teman yang bisa dikatakan kurang aktif akan selalu diingatkan dan ditagih terkait tugas atau peran yang sudah dibagikan kepada masing-masing murid di awal sesuai dengan kesepakatan dalam … Read more

Konsep Asesmen di Berbagai Bidang

Sebelumnya kita sudah membahas mengenai miskonsepsi asesmen. Bagaimana pemahaman Bapak Ibu mengenai konsep asesmen sudah betul? Kali ini kita akan memperdalam pemahaman tentang konsep asesmen, apakah asesmen bisa dipraktikkan hanya digunakan di dunia pendidikan saja atau juga ada di berbagai bidang lain? Yuk, kita lihat pandangan asesmen dari berbagai sudut pandang dan latar belakang pekerjaan yang beragam. Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Seperti yang kita pahami sebelumnya, secara konsep dan praktik asesmen tidak hanya penilaian yang bentuknya angka (scoring), tetapi asesmen adalah sekumpulan kegiatan yang melibatkan pengumpulan dan analisis informasi dengan melihat kinerja murid, menginformasikan apa yang diketahui, dipahami, dapat dilakukan, dan dirasakan serta merasakan pada tahapan mana murid dalam proses pembelajaran, yang nantinya dapat dijadikan pandangan awal atau bekal dalam mempersiapkan dan menjalankan proses pembelajaran. Asesmen dalam Bidang Kedokteran yang Berpengaruh Pada Kesehatan Pasien Konsep asesmen dalam Bidang Kedokteran dijelaskan oleh FX Kristandiyoko MPH  yang berprofesi dokter di salah satu RSUD Simo Boyolali. Asesmen dalam bidang kedokteran dikenal dengan istilah asesmen pasien dimana tahapan proses dokter mengevaluasi data pasien baik data subjektif maupun data objektif dalam membuat suatu keputusan terkait status kesehatan pasien. Status kesehatan pasien ini diperlukan untuk mengetahui kondisi riwayat kesehatan, hasil pemeriksaan fisik, asesmen psikologi dan asesmen sosial ekonomi pasien, kumpulan informasi atau asesmen terbentuk menjadi kesimpulan yang disebut dengan diagnosis.  Selain asesmen pasien digunakan untuk mendiagnosa seorang pasien, asesmen pasien juga diperlukan dalam mengetahui kebutuhan pasien dalam hal perawatan, contohnya untuk menentukan pasien ditempatkan di ruang inap biasa, ruang HCU atau ICU, dan asesmen pasien digunakan untuk mengintervensi pasien dalam perbaikan atau perburukan riwayat perjalanan penyakitnya, dan yang terakhir digunakan sebagai bahan mengevaluasi pasien sudah dapat dinyatakan sembuh atau belum.  Informasi data pasien tertuang dalam rekam medis pasien yang berupa berkas yang berisi catatan dan dokumen identitas pasien, pemeriksaan pasien, pengobatan yang diberikan, tindakan medis yang sudah dan akan dilakukan, dan layanan informasi lain yang diberikan dan dibutuhkan. Asesmen pasien ini dilakukan oleh dokter sebagai penanggung jawab masing-masing pasien yang menjadi salah satu indikator mutu yang menggambarkan tentang pemenuhan harapan pasien dan tanggung jawab dokter. Asesmen adalah salah satu standar nasional akreditasi suatu rumah sakit. Begitu detail dan kompleks kebutuhan akan asesmen yang dilakukan dalam bidang kedokteran ini karena menyangkut dengan nyawa seseorang dan memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi pasien.  Asesmen dalam Bidang Keuangan yang Berpengaruh pada Pembiayaan Sebuah Perusahaan Narasumber berikutnya datang dari bidang keuangan, akuntansi dan pajak yaitu Tuti Noor Ermayanti, asesmen digunakan untuk data pelaporan dengan pihak ketiga yaitu pihak perbankan, stakeholder yang memiliki andil dalam sebuah perusahaan ataupun pemerintah dalam hal pelaporan pajak dan untuk kepentingan good governance lainnya. Asesmen dalam bidang keuangan dan akuntansi dapat dibedakan kedalam 2 hal, Pertama, nilai kekayaan untuk mengetahui posisi nilai kekayaan yang dimiliki yang diukur melalui laporan neraca. Kedua, dilihat dari asesmen prestasi manajemen yang bisa dilihat melalui laporan laba-rugi. Setelah dua asesmen ini akan ada yang proses audit yang dilakukan oleh pihak ketiga untuk mengetahui apakah keuangan yang dijalani bisa dikatakan wajar atau tidak karena akan menjadi bukti pertanggungjawaban kepada pihak-pihak yang turut andil dalam keuangan tersebut. Pencatatan keuangan sendiri dilakukan berdasarkan klasifikasi atau yang sudah menjadi standar dalam hal akuntansi, yang disebut dengan Pedoman Standar Akuntansi Keuangan. Asesmen menjadi kunci untuk pihak ketiga untuk dapat menilai kinerja suatu perusahaan dan menilai kekayaan dalam perusahaan tersebut.  Asesmen prestasi manajemen untuk mengetahui perjalanan suatu perusahaan apakah mengalami profit, stagnan atau justru naik turun keuangan suatu perusahaan. Pihak ketiga sebagai seorang investor baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang akan melihat laporan analisa fundamental perusahaan kurang lebih selama 5 tahun kebelakang dalam menilai keadaan perusahaan apakah cocok atau tidak dengan melakukan analisis beberapa tahapan, seperti menilai dari angka yang terdapat pada laporan laba-rugi, laporan neraca, mengukur seberapa jauh dan seberapa bagus suatu perusahaan, kemudian menetapkan apakah akan berinvestasi atau tidak baik dalam jangka waktu yang pendek atau panjang.  Dari sisi kekayaan perusahaan dapat dilihat melalui laporan neraca perusahaan, untuk mengetahui seberapa kuat aset perusahaan untuk dapat membayar kewajiban-kewajiban yang keluar dari suatu perjanjian yang dilakukan antar perusahaan.  Asesmen dalam Perusahaan untuk Memahami Kebutuhan Kinerja Karyawan Selanjutnya akan membahas asesmen dalam bidang Talent Development (HRD)  oleh Fricilia Yesica Simbolon, dalam bidang HRD ini perusahaan bergerak dalam mengelola sumber daya manusia yang dipekerjakan dalam hal ini asesmen sangat penting terkait dalam proses perekrutan maupun ketika seseorang sudah bergabung di suatu perusahaan. Asesmen dalam perusahaan dikenal dengan istilah asesmen kinerja atau Key Performance Indicators (KPI), asesmen ini diukur berdasarkan pencapaian target perusahaan terhadap kinerja karyawannya, penilaian dapat dilakukan oleh perusahaan dalam rentang waktu bulanan, semester ataupun tahunan, walaupun pada umumnya perusahaan melakukan asesmen kinerja dalam rentang waktu tahunan.  Selain asesmen kinerja perusahaan juga memiliki asesmen pengembangan diri, yang memiliki tujuan untuk melihat kompetensi seseorang dalam bekerja. Kemudian asesmen yang dilakukan adalah talent mapping, dimana memetakan talenta ke dalam box-box, box itu sendiri terbagi menjadi 2 bagian yaitu box dari kiri bawah sampai kanan atas yang menggambarkan rentang kinerja karyawan, sedangkan box dari bawah lurus ke atas menggambarkan potensi karyawan. Melalui asesmen ini menjadi pedoman perusahaan atau HRD dalam menilai kinerja seorang atau sekelompok karyawan berada di tahapan mana, yang nanti bisa dilakukan untuk perusahaan atau karyawan yang bersangkutan merefleksikan kira-kira apa yang perlu ditingkatkan dan dikembangkan lagi. Tujuan asesmen dalam bidang HRD adalah untuk memahami kebutuhan karyawan dan perusahaan, yang nantinya dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan muncul kedepannya.  Asesmen dalam Bidang Seni Peran yang Berpengaruh pada Kualitas Produksi Film Terakhir dengan Muhammad Firdaus yang menggeluti bidang cinematography atau perfilman, dalam pembuatan sebuah produk dalam hal ini adalah film ada sebuah proses mendesain berbagai macam informasi yang kemudian terbentuklah sebuah asesmen yang disebut dengan asesmen kreatif. Asesmen kreatif ini digunakan untuk menganalisa target market sebuah film akan dimasukkan pada rentang usia berapa, bagaimana penampilan karakter yang akan dimunculkan, setelah asesmen kreatif ini didiskusikan dan dianalisa akan berkembang lagi menjadi asesmen terkait dengan peralatan yang digunakan apa saja dan besaran biaya yang akan dikeluarkan. Di dunia seni peran sendiri memiliki asesmen yang disebut dengan asesmen based on competencies untuk mengetahui kemampuan dan kompetensi yang diperlukan dari … Read more

Pengertian Asesmen, Apakah Kita Terjebak Miskonsepsi?

Apa pengertian asesmen? Kalau ulangan,ujian tentu sudah menjadi hal biasa bukan? Tapi kalau asesmen bagaimana? Kita tahu saat ini asesmen sedang menjadi perbincangan hangat di dunia pendidikan, tak lain karena tahun 2021 akan mulai diterapkannya Asesmen Nasional untuk pendidikan di Indonesia. Bukan hanya perbincangan, tapi juga menjadi ketakutan sendiri bagi guru untuk menjalankannya. Orientasi yang salah sudah menjadi budaya sejak pendidikan dasar yang mengagung-agungkan nilai dan melupakan aspek lain yang saling terkait dalam perkembangan setiap murid yang perlu menjadi perhatian. Miskonsepsi menjadi awal pemahaman guru terkait asesmen menjadi tantangan terbesar yang harus dilepaskan, karena dengan begitu akan lebih mudah menerima informasi yang kredibel dan komprehensif. Pemahaman konsep pengertian asesmen yang benar akan membawa dampak yang bermakna tidak hanya kepada guru tapi juga murid ikut merasakannya sebagai subjek belajar dalam pendidikan. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kampus Guru Cikal mengenai pemahaman Asesmen, dihasilkan bahwa 78% responden masih mengalami kebingungan akan  pengertian konsep asesmen itu sendiri, sedangkan 22% memilih sudah paham dengan asesmen. Seperti pertanyaan yang diajukan oleh Fatrica Ivana Dabukke sebagai moderator dalam acara Obrolan #GuruMerdekaBelajar yang diinisiasi oleh Kampus Guru Cikal mengajukan pertanyaan kepada peserta “Apa itu asesmen?” banyak yang mengatakan bahwa asesmen adalah penilaian proses belajar murid. Apa betul begitu? Atau asesmen hanya sebutan lain dari ujian? Nah, sudah sampai mana pemahaman asesmennya? Apa sudah benar pemahaman kita? Yuk cari tahu bersama! Berdasarkan paparan awal Elisabet Indah Susanti salah satu narasumber dalam OGMB menjelaskan “Asesmen adalah sekumpulan kegiatan yang melibatkan pengumpulan data dan analisis informasi tentang kinerja murid dan dirancang untuk menginformasikan, mengidentifikasi apa yang murid ketahui, pahami, dapat lakukan, dan rasakan pada tahapan yang berbeda di proses pembelajaran”. Melalui obrolan #GuruMerdekaBelajar ini meluruskan miskonsepsi yang selama ini menjadi pemahaman guru-guru bahwa asesmen itu terkait dengan ujian dan penilaian adalah scoring akhir ulangan atau ujian murid, padahal secara esensialnya asesmen adalah penilaian kinerja murid pada waktu sebelum, selama dan sesudah proses pembelajaran dilakukan, jadi tidak hanya menilai berdasarkan hasil ulangan atau ujian secara individu, tetapi berdasarkan proses pemahaman pembelajaran yang dilakukan dan dirasakan oleh murid dan sekolah secara komprehensif. Anggi Rizka Pustika guru dari SD Negeri Bogem 2 Sleman narasumber dalam obrolan tersebut menjelaskan bahwa  sudah melakukan asesmen dalam proses pembelajarannya bahwa ada perbedaan asesmen zaman dulu dengan asesmen zaman sekarang dijalani, dimana dulu dalam melakukan guru melakukan penilaian murid berdasarkan hasil akhir dari ulangan atau ujian dalam bentuk angka atau grade yang juga menjadi salah satu bentuk tuntutan dari orang tua yang ingin tahu anaknya berada di peringkat berapa atau sekadar ingin tahu nilai berapa diperoleh. Peringkat sudah menjadi patokan turun temurun yang membuat anak hanya mengejar untuk memperoleh nilai tinggi, tanpa mengetahui esensi atau tujuan kenapa mereka perlu belajar. Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Pengertian konsep asesmen yang benar menjadi jawaban bagaimana meningkatkan dan mengembangkan pendidikan Indonesia menjadi lebih merdeka, dimana guru, murid dan orang tua dituntut saling berkolaborasi dan bekerjasama menciptakan pembelajaran dengan melakukan strategi pembelajaran. Ketika guru-guru sudah memahami konsep asesmen yang sesuai dan benar bahwa yang menjadi orientasi adalah murid yang terus berkembang kompetensinya, bukan sekadar pencapaian nilai akhir, guru akan lebih memahami murid dengan melakukan berbagai macam strategi yang sesuai, dan orang tua perlu turut diberikan pemahaman bahwa asesmen tidak hanya sekadar skor. Obrolan tersebut juga mengulik mengenai prinsip asesmen terbagi menjadi tiga, yang pertama Asesmen Untuk Belajar (Asesmen Diagnostik) adalah asesmen yang dilakukan untuk mempersiapkan murid melakukan pembelajaran, adanya analisa yang dilakukan guru untuk melihat sudah sejauh mana kemampuan dan pemahaman murid, hasilnya untuk menindaklanjuti strategi apa yang cocok dengan murid; kedua Asesmen Sebagai Proses Belajar ini adalah asesmen yang dilakukan terhadap proses belajar yang berlangsung, murid menilai proses belajar yang terjadi pada dirinya sendiri sebagai subjek belajar mengenai pemahaman, ketercapaian, perbaikan yang perlu dilakukan atau tantangan yang dirasakan; ketiga  Asesmen Terhadap Belajar dimana pencapaian yang dilakukan adalah asesmen terhadap pembelajaran murid sebagai puncak selesainya kegiatan pembelajaran melalui indikator-indikator yang menjadi acuan pencapaian pembelajaran. Ketiga prinsip asesmen ini saling berkaitan satu sama lain untuk mengukur capaiannya yang diawali dengan persiapan, kemudian latihan-latihan sampai puncak proses pembelajaran selesai yang membawa hasil capaian murid secara komprehensif yang lebih luas. Pelaksanaan asesmen membawa dampak yang bermakna bagi guru, murid dan orang tua. Guru lebih memahami apa yang menjadi kebutuhan murid, strategi apa yang cocok untuk digunakan, perkembangan peningkatan yang terjadi pada murid, dan guru merasa terbantu karena beban kerja yang terasa lebih ringan karena menerapkan asesmen, sementara murid merasakan dampaknya dengan merasa lebih nyaman, berani dan percaya diri dalam menyampaikan sesuatu yang berkaitan dengan proses pembelajaran ataupun capaian yang telah mereka lakukan sendiri dan guru berikan yang tidak hanya berorientasi pada nilai, sedangkan orang tua lebih memahami dan menerima anak-anak memiliki kebutuhan dan keunikan sendiri yang tidak bisa disamakan dan dibandingkan satu sama lain, berujung pada tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan.Ini yang menjadi harapan kita semua bukan? Yuk merenung dan menjawab dalam hati apakah sudah sesuai pengertian konsep kita mengenai asesmen? Apakah kita memang terjebak atau justru sudah melakukan asesmen tetapi tidak menyadarinya? Yuk berefleksi… Ingin menonton ulang Video Obrolan Guru Merdeka Belajar edisi ini?Silakan tonton di bawah ini

Kapan Pendidikan Indonesia Maju?

Apakah Pendidikan Indonesia jalan di tempat?Lalu kapan Pendidikan di Indonesia akan semakin maju? Sekolah-sekolah bergerak mengembangkan dan memanfaatkan kemajuan terknologi secara masif di era digitalisasi yang datang lebih cepat di Indonesia terutama di masa pandemi sekarang ini, menjadi pintu gerbang bagi guru untuk berani berinovasi. Jika tidak bisa mengikuti perkembangan dan tidak mendorong ke arah yang lebih maju, tentu Indonesia akan menjadi primitif. Percepatan era digital yang lebih cepat dari apa yang diperkirakan, jika sekolah-sekolah tidak segera beradaptasi tentu akan menjadi sekolah dengan segala ketertinggalannya.  Tidak mau bukan kalau pendidikan Indonesia tidak berkembang? Perkembangan teknologi justru bisa menjadi modal dalam memperbarui secara terus menerus pengetahuan, keterampilan, kompetensi dan kemampuan dalam berbagai bidang untuk memenuhi tuntutan globalisasi. Era digital telah banyak mengubah berbagai hal dalam kehidupan, terutama dalam kepentingan pendidikan, karena akan menjadi terobosan yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran, dan meningkatkan kualitas pendidikan serta sumber daya manusia khususnya dalam ranah pendidikan. Transformasi pendidikan sudah menjadi keharusan untuk dilakukan sebagai jawaban atas tantangan dan kompetensi di era digital dan abad ke-21.  Seperti yang diketahui acara #BelajarDiTPNVII pun memanfaatkan kemajuan dan kecanggihan teknologi karena acara Konferensi Tahunan Pendidikan ini dilakukan secara virtual dimana bisa diakses dan diikuti oleh siapa saja dan dimana saja. Temu Pendidik Nusantara VII menjadi salah satu contoh bukti nyata bahwa sekolah, guru, orang tua, murid, dan stakeholder mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi akan mendorong dunia pendidikan terutama sekolah-sekolah untuk bisa menciptakan, menghasilkan bahkan mempraktikan program-program yang mendukung perkembangan pendidikan.  Terlihat pada acara Temu Pendidik Nusantara VII adanya sesi diskusi yang diisi oleh narasumber dari berbagai sekolah dan daerah, narasumber tersebut antara lain Ibu Ratih Saraswati perwakilan dari Sekolah Cikal, Bapak Johanes Eko Prasetyo perwakilan dari Sekolah Kristen Aletheia, Ibu Enik Chairul Umah, M.Si, M.Pd perwakilan dari SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo, dan Bapak Edi Gunawan, M.Pd perwakilan dari MTs Al Muthiyah. Pada sesi diskusi atau lebih tepatnya sharing mengenai program sekolah yang dikembangkan di sekolah masing-masing, yang diharapkan dapat memberikan inspirasi dan insight baru bagi guru, sekolah dan pendidikan Indonesia. Mari kita kulik satu per satu apa saja program-program yang akan dibagikan kepada kita semua. Baca juga #BelajarDiTPN7 Bersama #1000Pembicara Ibu Ratih Saraswati sebagai perwakilan dari Sekolah Cikal Surabaya, Bandung, Serpong, dan Jakarta memaparkan keresahan yang dirasakan selama di sekolah dimana sekolah ingin mengembangkan dimensi-dimensi yang tertuang dalam visi misi sekolah, seperti dimensi peduli, dimensi berorientasi pada aksi, dan dimensi pemimpin yang berdampak. Dari visi misi sekolah inilah ingin mencetuskan sebuah program yang diharapkan bisa berjalan secara keberlanjutan bukan sebuah program yang sekali kegiatan lalu tidak menimbulkan dampak yang terlihat. Berdasarkan kompetensi 5 bintang yang dimiliki oleh Sekolah Cikal sebagai visi misi ini melahirkan program yang bersifat berkelanjutan mulai dari pra-sekolah sampai SMA, yang disebut dengan program Cikal Aksi-Aksi (CAA). Cikal Aksi-Aksi yang dilakukan secara berjenjang ini dikembangkan dalam setiap kegiatan sosial baik bencana alam atau kegiatan yang berkaitan dengan perayaan keagamaan. Pelaksaan CAA ini mengalami beberapa kendala terutama untuk anak-anak pra-sekolah mulai dari usia, jarak, waktu dan kemampuan komunikasi, dari kendala tersebut Sekolah Cikal berkolaborasi dengan Komunitas Guru Belajar yang ada di daerah-daerah seperti Surakarta, Klaten, Sanggau, Rembang, dan daerah lainnya. Hasil dari kolaborasi antara Sekolah Cikal dengan sekolah daerah ini terlihat anak-anak mulai memahami kebutuhan orang lain dimana dimensi yang diharapkan yaitu dimensi peduli tercapai, anak-anak mulai bijaksana dalam mengambil keputusan atau tindakan yang berdampak pada orang lain, sekaligus mengarah pada jenjang yang lebih tinggi bahwa kepemimpinan anak-anak adalah kepemimpinan yang berdampak jadi murid mulai memandang orang lain untuk berpartisipasi dalam upaya meningkatkan pemahaman yang lebih baik. Cikal Aksi-Aksi ini memberikan rasa kesenangan dan kenyaman tidak hanya kepada murid tetapi juga oleh para guru. Diharapkan dengan sharing mengenai program Cikal Aksi-Aksi ini membuat jejaring antar guru dan murid untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya, bahwa kolaborasi tanpa memandang jarak karena jarak yang jauhpun bisa dijangkau dengan kemajuan teknologi yang sudah ada.  Bapak Johanes Eko Prasetyo sebagai perwakilan dari Sekolah Kristen Aletheia berbagi ketika sekolah menghadapi masa pandemi dimana program yang awalnya melibatkan orang tua dalam kegiatan belajar siswa mengalami perubahan dan tidak sedikit yang merasakan kesusahan dan kebingungan dalam mendampingi anak belajar di rumah dan hambatan komunikasi antar orang tua dengan pihak sekolah. Berdasarkan permasalahan inilah sekolah menerima berbagai masukan dan saran baik dari pihak orang tua dan guru dengan memberikan program pertemuan khusus bagi wali murid yang akan dilakukan oleh sekolah secara satu per satu bergiliran disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang ada dilapangan atau masing-masing orang tua. Program pertemuan khusus ini memperoleh sambutan yang baik dan membawa dampak bahwa orang tua bisa mendampingi anak belajar tanpa mengganggu aktivitas orang tua dan anak-anak terlihat dapat menghasilkan karya yang lebih baik dan memuaskan. Ibu Enik Chairul Umah, M.Si, M.Pd perwakilan dari SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo berbagi mengenai program Market Key yang dilakukan secara virtual, program Market Key ini berawal dari harapan sekolah untuk bisa mengembangkan literasi, numerasi kepada anak-aak tidak hanya di sekolah tetapi juga bisa dipraktikkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Market Key ini dilakukan 1 bulan sekali berjenjang mulai dari Kelas 1-6. Program ini memperoleh tanggapan yang bagus dari para orang tua, sehingga sekolah mulai menawarkan kepada orang tua dan guru untuk membuat flyer penjualan dan metode apa yang akan digunakan dalam mempromosikan produk yang akan dijual. Ternyata program ini menghasilkan sebuah kolaborasi yang produktif dan berdampak antara orang tua dengan anaknya yang terlihat pada saat proses pembuatan produk, promosi, sampai pengiriman dan pembayaran hasil berjualan dengan diskusi-diskusi yang menyenangkan. Program yang dilakukan secara virtual ini dapat menumbuhkan jiwa kemandirian, peduli terhadap orang-orang yang tidak mampu disekitarnya atau merasa patut untuk diberikan apresiasi, dan kreativitas dalam menciptakan suatu produk. Tak hanya anak-anak yang memperoleh dampaknya, orang tua turut merasakan terjalinnya komunikasi yang lebih baik dengan anak, dan merasa dilibatkan dalam menumbuhkan literasi dan numerasi kepada anak-anak, dan tentunya menjadi pengalaman menarik tersendiri bagi orang tua.  Terakhir sharing  yang dipaparkan oleh Bapak Edi Gunawan, M.Pd sebagai perwakilan dari MTs Al Muthiyah yang menceritakan bahwa masih banyak miskonsepsi yang dialami oleh guru-guru, orang tua, dan murid apalagi dihadapkan pada masa pandemi seperti sekarang ini … Read more

#BelajarDiTPN7 Bersama #1000Pembicara

“Kalau daring terus, apa anak-anak paham pelajaran?“Kalau daring terus, apa anak-anak tidak bosan?”“Kalau luring, khawatir kesehatan”“Pembelajaraan tatap muka atau tatap layar? Pilih yang mana?Keresahan kita ini pula yang dicari jawabannya saat #BelajarDiTPN7 Generasi Alpha adalah generasi yang paling muda pada masa ini, generasi ini tumbuh dengan dikelilingi kemajuan teknologi yang begitu pesat dan cepat yang sudah mereka terima sejak masih berusia dini. Merebaknya berbagai jenis informasi yang sangat mudah diakses, menjadi tantangan sendiri bagi Generasi Alpha dalam memilah-milah informasi. Hanya melalui genggaman tangan semua bisa diakses dengan mudah, informasi diperoleh begitu cepat, hiburan yang bisa dimainkan kapan saja. Nah, jika seperti ini apakah anak-anak justru lebih tertarik menghabiskan waktunya untuk bereksplorasi dengan gawainya dibandingkan belajar?. Kemajuan teknologi menjadi tantangan tersendiri bagi para guru, karena tidak hanya murid yang harus beradaptasi dengan teknologi, tetapi guru pun pada posisi yang sama harus mampu beradaptasi mengelola teknologi menjadi fasilitator dalam proses pembelajaran dan orang tua memiliki peran baru sebagai penerus penyampaian materi yang seharusnya dilakukan oleh guru, terutama pada kelas-kelas tingkat dasar. Kondisi demikian, menuntut sekolah untuk melakukan inovasi dalam proses pembelajaran. Awal tahun 2020 Indonesia tepatnya bulan Maret menjadi titik balik berubahnya tatanan kehidupan, perkantoran, pusat perbelanjaan, bahkan sekolah-sekolah pun ditutup. Pandemi berdampak, pandemi mengubah tatanan yang sudah dijalani bertahun-tahun dan memunculkan kebiasaan baru. Salah satu dampak yang terasa dan terlihat adalah dunia pendidikan karena sekolah-sekolah ditutup, pembelajaran berlangsung secara jarak jauh, guru-guru dan murid dihadapkan pada situasi harus mampu beradaptasi dengan teknologi secara cepat, tak urung guru-guru yang sudah berumur tetap harus bisa memberikan pembelajaran yang layak untuk anak didiknya.  Anak-anak bisa menerima pelajaran yang saya sampaikan tidak ya? Apa anak-anak merasa bosan dengan daring selama ini?Orang Tua apakah sudah lelah menemani anak-anak sekolah daring? Guru-guru di masa pandemi ini dihadapkan dengan begitu banyak tantangan, kelas yang dilakukan secara tatap muka berganti menjadi daring dan luring secara bergantian, guru-guru harus memutar otak bagaimana mengelola kelas agar anak-anak paham dengan yang diajarkan dan tidak merasa bosan karena menatap layar, tentunya juga mengelola psikologis anak-anak terutama untuk jenjang sekolah awal karena mereka merasa bahwa ini bukan sekolah tetapi selayaknya menonton youtube yang biasa mereka tonton dan dengarkan sebagai hiburan semata, jaringan internet pun tak bisa dielak menjadi hambatan pada proses pendidikan apalagi di daerah yang belum terjangkau jaringan internet dengan baik, kemampuan guru dalam menggunakan perangkat komputer pun diuji di masa pandemi ini, serta orang tua yang tidak bisa mendampingi anak untuk belajar mandiri. Wah, tentu berat jika dirasakan.  #BelajarDiTPN7 menjadi jawaban atas tantangan diatas yang dirasakan oleh guru-guru dan murid, melalui TPN VII inilah terlihat banyak guru-guru justru lebih kreatif dan inovatif di masa pandemi ini. Jika dilihat dari kelas-kelas #BelajarDiTPN7 yang diisi oleh guru-guru berdaya banyak kelas yang menjadi jawaban kebutuhan guru untuk mengelola kelas di masa pandemi ini. Bukan menyerah dan menyalahkan keadaan justru guru-guru semangat menciptakan suasana daring yang menyenangkan dan bermakna. Terlihat hampir 400 kelas yang diselenggarakan, yang terbagi menjadi 4 kategori kelas yaitu Kelas Kemerdekaan, Kelas Kompetensi, Kelas Kolaborasi dan Kelas Karier.  Di Kelas Kemerdekaan guru-guru berbagi praktik baik pengajaran dengan menyampaikan materi (konten) secara reflektif, yang mau menerima umpan balik secara aktif dan menilai diri sendiri secara objektif, serta pengalaman belajar dengan rekan sejawat lebih penting dibanding dengan orang ahli.  Inilah contoh kelas yang ada di Kelas Kemerdekaan. Baca Juga: Pasar Praktik Baik itu Bernama Kelas Kemerdekaan Melalui Kelas Kompetensi #BelajarDiTPN7 peserta belajar tentang kompetensi dari program-program yang tersedia, sehingga dapat mengembangkan diri berkait pedagogi, penggunaan teknologi, karier, bahkan pengasuhan. Contoh kelasnya seperti ini. Pada Kelas Kolaborasi menjadi strategi bahwa guru yang saling berkolaborasi dan bahkan dengan stakeholder yang berkompeten pada dunia pendidikan. Ini menjadi bukti nyata bahwa guru bisa menggerakkan, melakukan perubahan dan menjadi pemantik tersendiri bahwa sebetulnya para guru mampu untuk berdaya dan berkarya, berikut contoh Kelas Kolaborasi di TPN VII. Sedangkan pada Kelas Karier adalah kelas yang menjadi bukti profesi guru tidak terhenti menjadi guru saja atau paling tinggi menjabat sebagai Kepala Sekolah atau Pengawas, tetapi guru bisa mengembangkan karier dan meningkatkan kapasitas dirinya sesuai dengan kompetensi dan minatnya untuk lebih berkembang menjadi guru yang inovatif dan kreatif. Profesi yang bisa dikembangkanpun beragam, seperti karier protean menjadi seorang content creator, penulis naskah, pendongeng, dan karier protean lainnya. Bahkan Bapak Ibu guru & kepala sekolah juga bisa mendapat inspirasi program sekolah dari sekolah lain. Contoh program sekolahnya seperti berikut ini: Ayo belajar barengan, karena teknologi bukan menjadi hal yang perlu untuk ditakuti atau dihindari justru dengan teknologi inilah guru-guru bisa berkolaborasi, mengembangkan imajinasi dan ekspresi yang dimiliki guna menunjang pembelajaran yang kekinian penuh inovatif.  Baca juga: Guru akan Tergantikan Kecerdasan Buatan #BelajarDiTPN7 menjadi semangat tersendiri bagi guru-guru karena memberikan ruang belajar yang luas cakupannya, dan guru bisa mengeksplorasi dirinya kebutuhan apa yang diperlukan dan perlu ditingkatkan, serta menjadi ajang guru-guru untuk bisa saling kenal membuat jejaring untuk saling berkolaborasi dan berekspresi bersama. Terlihat dari cuplikan judul-judul kelas #BelajarDiTPN7, yang dilihat dari judulnya saja sudah menjadi daya tarik dan minat untuk belajar lebih dalam lagi. TPN VII yang diikuti oleh #1000pembicara dan sekitar 3640 peserta merupakan ajang pendidikan yang tidak bisa terlewatkan begitu saja, mengingat masih banyak guru-guru yang perlu kita jabat untuk belajar bersama. Masa pandemi bukan menjadi halangan tetapi menjadi bukti tantangan yang membawa perubahan positif dan maju untuk guru-guru lebih pe de akan kemampuan dan kompetensinya bahwa mereka bisa melahirkan generasi Alpha yang maju akan teknologi tetapi juga memiliki karakter yang bisa dibanggakan dan belajar daring atau luring tidak menjadi masalah sekarang. Kemajuan teknologi ini memunculkan peluang baru terhadap akses yang lebih luas terhadap konten multimedia yang lebih kaya dan berkembangnya metode pembelajaran baru yang tidak dibatasi lagi oleh ruang dan waktu. Jadi, mana yang akan Bapak/Ibu tingkatkan?Kompetensi Paedagogi, Penggunaan Teknologi, atau keduanya? Ayo menjadi guru pembelajar, guru yang tidak pernah lelah untuk belajar.

Menggerakkan Perubahan Bersama Jaringan Sekolah Madrasah Belajar

Tidak bisa dipungkiri bahwa Kepala Sekolah turut merasakan dan harus bisa memberikan solusi yang bisa dipraktikkan, seperti jumlah murid yang berkurang akibat adanya pandemi karena anak-anak yang kurang memiliki fasilitas yang menunjang untuk pembelajaran jarak jauh, pada beberapa sekolah terutama di daerah dimana jumlah guru dan anak-anak yang tidak sepadan atau sebaliknya, bahkan tidak adanya dukungan dari masyarakat di lingkungan sehingga sekolah kurang dapat  berkembang secara maksimal. Seperti yang kita ketahui, di dalam keluarga ada yang namanya Kepala Keluarga, sekolah mempunyai Kepala Sekolah, yayasan mempunyai Ketua Yayasan, perusahaan mempunyai Direktur, dan sebutan lainnya sebagai seorang pemimpin pada suatu lembaga atau organisasi. Seorang pemimpin dapat mempengaruhi suatu proses yang berjalan dan menjadi pemberi contoh bagi para anggotanya untuk dapat mencapai tujuan suatu organisasi. Pemimpin harus memiliki standar kualitas yang tinggi sehingga pemimpin itu sendiri yang akan memberikan contoh yang baik secara langsung dan nyata kepada anggotanya. Pandangan seorang pemimpin yang visioner dan realistis dapat mengalirkan suatu program kerja yang mendukung anggotanya untuk bisa saling bekerjasama untuk berdaya dan berkarya bersama. Namun, tak dipungkiri bahwa di dalam suatu organisasi atau lembaga jika di dalam dunia pendidikan seperti sekolah mengalami beberapa hambatan atau tantangan yang dihadapi oleh seorang pemimpin, terutama yang berkaitan dengan komunikasi. Seorang pemimpin harus memiliki jaringan komunikasi yang luas untuk memudahkan para anggotanya yaitu guru untuk memahami tujuan yang akan dicapai. Pemimpin juga harus mampu mendengarkan dengan cara memberikan kesempatan secara bijaksana untuk memahami kebutuhan dan kesulitan yang dialami oleh guru di sekolah. Maju mundurnya kondisi sekolah dan tinggi rendahnya kualitas pendidikan tidak lepas dari peran seorang pemimpin yaitu Kepala Sekolah. Bisa dikatakan Kepala Sekolah adalah nahkoda kapal dalam perubahan di sekolah yang dipimpinnya. Banyak tanggung jawab yang dipikul oleh Kepala Sekolah, yang menjadikan perlu adanya dukungan yang diberikan secara riil dan berkelanjutan bahwa Kepala Sekolah tidak bekerja sendiri, tetapi bisa bekerja sama dan berkolaborasi dengan berbagai pihak yang menghasilkan dampak yang bisa dipraktikkan dan dibagikan secara luas. Bertepatan dengan Konferensi Tahunan yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar dan Yayasan Guru Belajar yaitu #BelajarDiTPNVII diluncurkan jaringan dengan nama “Jaringan Sekolah Madrasah Belajar” (JSMB). JSMB ini akan menjadi organisasi untuk bisa mewujudkan cita dan tujuan guru dan orang tua untuk berkolaborasi secara langsung dalam mendidik anak-anak, memberikan dukungan dengan mengoptimalkan guru dan murid untuk mencapai kemerdekaan belajar yang sesungguhnya, cuplikan penjelasan Pak Bukik mengenai pentingnya Jaringan Sekolah Merdeka Belajar. Mengutip apa yang telah dikatakan oleh Ibu Najelaa Shihab bahwa “Kemerdekaan Belajar adalah pondasi yang perlu menjadi bagian dari kompetensi dari semua individu yang menyatakan sebagai pendidik, dan memiliki kompetensi untuk saling berkolaborasi”. Adanya Jaringan Sekolah Madrasah Belajar atau JSMB ini menjadi salah satu jembatan sekolah maupun madrasah untuk  melakukan perubahan pendidikan Indonesia dengan saling berkolaborasi dan bekerja sama. Sudah saatnya sekolah dan madrasah melakukan perubahan dengan menginisiasi, mengkonstruksikan program-program yang sudah berjalan secara konvensional selama bertahun-tahun bertransformasi menjadi program yang merdeka belajar melalui penggerak-penggerak, seperti pemimpin, guru dan orangtua. Sebagai tambahan #BelajarDiTPNVII Jaringan Sekolah Madrasah Belajar memiliki 3 tujuan utama yang telah dipaparkan oleh ketua JSMB secara langsung yaitu Bapak Muhammad Niamil Hida, yang pertama untuk mengembangkan kapasitas kepemimpinan di setiap lembaga; kedua mengembangkan kapasitas lembaga pendidikan beserta stakeholder; dan yang ketiga untuk meningkatkan jaringan-jaringan sekolah dan madrasah bisa saling berkolaborasi untuk perubahan pendidikan yang lebih berdampak terutama untuk murid-murid. Kegiatan Jaringan Sekolah Madrasah ini diharapkan menjadi jembatan untuk saling belajar,berdiskusi, bertukar pikiran, berkolaborasi termasuk para guru yang ingin mengembangkan karier sebagai pemimpin. Kegiatan JSMB dikembangkan dalam Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar, pelatihan, pendampingan, serta kolaborasi yang diciptakan oleh jejaring yang ada pada Jaringan Sekolah Madrasah Belajar. Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar (OPMB) sendiri sudah diadakan 26 kali obrolan secara live melalui kanal youtube Kampus Guru Cikal, OPMB ini merupakan sesi diskusi dengan para pemimpin yang membahas mengenai permasalahan yang dihadapi dan sharing mengenai praktik baik yang telah dilakukan di masing-masing lembaga atau sekolah yang dipimpin. Adanya Jaringan Sekolah Madrasah Belajar diharapkan dapat menunjang para pemimpin dan guru untuk berkontribusi secara aktif dengan mengembangkan program-program merdeka belajar baik di dalam lingkup lembaga atau secara luas. Sekolah maupun madrasah menjadi awal gerakan perubahan dimulai, dengan memberikan kesempatan para pemimpin, guru, orang tua dan murid menjadi bagian dalam perubahan pendidikan melalui proses pembelajaran yang berlangsung selama di sekolah maupun secara mandiri di rumah, karena dengan saling keterlibatan tersebut akan adanya kesiapan program-program yang mendukung merdeka belajar dan siap menghadapi tantangan secara bersama. Tidak perlu ragu-ragu lagi untuk Sekolah atau Madrasah yang ingin menggerakkan perubahan, karena sudah ada wadah yang bisa menjembatani, jadi masih tunggu apalagi? Oleh karena itu, Jaringan Sekolah Madrasah Belajar yang diinisiasi ini direalisasikan dan dimanfaatkan sebaik mungkin, tidak hanya sekolah tetapi madrasah juga akan memberikan kontribusinya, karena memiliki tujuan yang sama yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan menggerakkan perubahan pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Perubahan akan terjadi jika dilakukan secara kolaborasi, bukan berjalan sendiri-sendiri, perubahan yang dimulai dari pengembangan pada lingkup internal untuk dikembangkan secara eksternal melalui jaringan-jaringan yang sudah terbentuk. Kerja sama atau kolaborasi bisa diciptakan tidak hanya antar guru atau guru dengan pemimpin (kepala sekolah), tetapi kolaborasi bisa dilakukan dengan pihak diluar sekolah baik guru/pemimpin dari sekolah lain atau stakeholder sesuai dengan kompetensinya. Semakin banyak pihak yang terlibat menunjukkan tanda  suatu kemajuan   “Jadi untuk para pemimpin dan guru, bersiaplah menjadi bagian terpenting untuk berkolaborasi dan memberikan kontribusi terbaiknya melalui Jaringan Sekolah Madrasah Belajar”. Tunggu apalagi penggerak perubahan, jadilah bagian dari perubahan. Yuk bergabung bersama JSMB.Klik

Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional

“Sekolah saya sekolah pinggiran, jika ujian nasional saja kesulitan, bagaimana saat Asesmen Nasional diterapkan?” Tahun 2021 mulai diberlakukan Asesmen Nasional, apa yang harus sekolah persiapkan? Menyelenggarakan PJJ saat pandemi saja kewalahan, apalagi dengan Asesmen Nasional di tahun depan. Hhhmm dilihat-lihat banyak permasalahan ya?Apa Bapak Ibu juga begitu atau permasalahannya justru lebih akut nih? Waduuh, daripada terus-terusan memikirkannya, lebih baik kita kupas saja apa itu Asesmen Nasional, agar hilang rasa takut Bapak Ibu dan tidak ada kata ragu diantara kita *eh tidak ada ragu dengan Asesmen Nasional maksudnya. Konsep Asesmen Sebelum membahas Asesmen Nasional, sebenarnya Apa sih asesmen itu? Jika dilihat dari fungsinya ada tiga jenis asesmen, yaitu asesmen terhadap proses belajar, asesmen untuk belajar,  dan asesmen sebagai proses belajar. Pada AN penilaian tidak berpatokan pada hasil belajar murid atau angka perolehan tetapi proseslah yang dinilai, penilaian mengenai proses pembelajaran di  kelas, potret layanan dan kinerja dari sekolah/madrasah,  dan pemahaman murid dari tujuan atau esensi dari proses belajar yang berlangsung. Jika diperdalam lagi pendidikan Indonesia dari tahun ke tahun sampai sekarang ini masih menggunakan pola pembelajaran yang sama. Wah apa ini maksudnya? Mungkin bapak Ibu ada yang tahu? Ok kita lanjutkan kalau begitu ya, maksud dari penggunaan pola pembelajaran yang sama ini, anak-anak atau murid dituntut untuk menghafalkan materi, rumus-rumus, dan murid diberikan beban tugas yang banyak dari setiap mata pelajaran setiap harinya, wah bisa dibayangkan bagaimana murid merasakan capek dan tentunya Bapak Ibu juga merasakan capek bukan kalau harus menyiapkan beberapa tugas untuk murid, lalu para guru dan sekolah lebih mengapresiasi murid yang pintar, yang nanti dapat mengkatrol nilai murid-murid lain yang merasa tertinggal baik secara akademik maupun non akademik. Jika dibandingkan dengan menjalankan Asesmen Nasional baik murid dan guru tidak ada yang merasa terbebani, karena pola pembelajaran jadi menitikberatkan pada penalaran dan literasi, pemberian tugas atau PR dengan meningkatkan kualitas soal bukan pada kuantitasnya, dan penilaian yang akan diambil secara sampling dari setiap sekolah/madrasah masing-masing. Tidak akan ada lagi membandingkan dengan sekolah tetangga. Bagaimana menghadapi Asesmen Nasional? Nah, Bapak Ibu mau tahu bagaimana caranya bisa lulus Asesmen Nasional? Kita lihat jawabannya pada Obrolan #GuruMerdekaBelajar yang bertajuk Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional, Bagaimana Seharusnya Guru & Kepala Sekolah menyikapi AN? Pada Obrolan ini ada Pak Bukik Setiawan selaku Narasumber dan Ibu Elisabet Indah Susanti sebagai Pemandu. Acara melalui live di kanal youtube Kampus Guru Cikal ini penuh dengan pertanyaan dan rasa penasaran dari para peserta mengenai Asesmen Nasional, tampak beberapa komentar dari para peserta, terlihat Ibu Mahayu Ismaniar yang mengatakan“Enak nih jadi murid! Ga ditanyain hafalan mulu 🙁 terus dibandingin sama murid yang lebih pinter” Ibu Puti Hamid dengan sangat antusias mengatakan“bagus nih, aplikasi lintas mata pelajaran jadi berkesinambungan dari perencanaan-pembelajaran-asesmen-laporan perkembangan,”yang selaras dengan yang diungkapkan Ibu Theresia Tri Darini bahwa Asesmen Nasional dapat dimanfaatkan untuk refleksi proses pembelajaran. Cukup seru obrolan #GuruMerdekaBelajar malam itu membahas topik yang sedang hangat-hangatnya, pasti banyak pro dan kontra dengan kebijakan baru ini, jika ditilik lebih jauh Asesmen Nasional memiliki banyak manfaat yang bisa dirasakan baik oleh pengajar, peserta didik dan satuan pendidikan sekalipun, dengan Asesmen Nasional akan mengetahui sampai sejauh mana proses keberhasilan dan ketercapaian tujuan proses pembelajaran, tahu bahwa manfaatnya bisa dirasakan oleh murid, guru dan sekolah, serta apa yang perlu dikurangi (baik dari segi pemberian atau penyampaian materi dan kualitas tugas yang diberikan), mengetahui layanan dan kinerja apa yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan, dalam segi pengajar, guru secara tidak langsung juga mengalami penurunan beban kerja tetapi dengan peningkatan kualitas kerja yang lebih baik.Wah asyik nih Bapak Ibu! Bagaimana mengetahui keberhasilan dan ketercapaian Asesmen Nasional yang sudah dijalankan? Semakin banyak yang bisa kita kupas mengenai Asesmen Nasional ini, berdasarkan pemaparan Pak Bukik dalam obrolan live tersebut dijelaskan bahwa AN memiliki 3 bagian, yaitu Asesmen Kompetensi Minimal (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. Pada pedoman AKM nantinya akan ada rubrik penilaian yang memiliki 4 urutan tingkat kompetensi, yaitu perlu intervensi khusus, dasar, cakap dan mahir. AKM dirancang untuk mengukur capaian murid dari hasil belajar kognitif, yaitu kompetensi literasi dan numerasi. Rubrik penilaian pada AKM diambil secara sampling atau survei yang dapat memberikan gambaran secara jelas mengenai ketercapaian asesmen yang mengarah pada penguasaan kompetensi literasi, numerasi dan karakter apakah sudah berhasil dan mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Rubrik penilaian inilah yang akan menjadi pegangan untuk menjalankan asesmen selanjutnya.  Tips Menghadapi Asesmen Nasional Dari Obrolan seru #GuruMerdekaBelajar Pak Bukik turut memberikan tips untuk mempersiapkan dalam menjalankan Asesmen Nasional Tahun 2021 bagi pemimpin Sekolah/Madrasah dan Guru.Siapa yang mau tahu tipsnya? Kira-kira apa saja tips yang bisa dilakukan? Tips tersebut antara lainPertama, setiap pemimpin Sekolah/Madrasah diharapkan dapat mengajak guru untuk melakukan analisis terhadap tujuan. Tujuan bahwa dengan menjalakan Asesmen Nasional untuk memperbaiki sistem proses pembelajaran ke arah yang lebih baik, baik pihak guru, sekolah bahkan murid bisa mendapatkan manfaat dari proses pembelajaran yang kita berikan;Kedua, kegiatan dan konten pembelajaran yang berpotensi pada mengembangkan kompetensi literasi, numerasi dan karakter, melakukan perencanaan pembelajaran kolaboratif berbasis pada murid yang diajar;Ketiga, melakukan forum berbagi praktik baik pembelajaran berbasis kompetensi yang mengarah pada penguasaan kompetensi literasi numerasi dan karakter. Sedangkan tips yang bisa diterapkan oleh guru antara lainPertama, melakukan asesmen di awal pembelajaran untuk memahami kompetensi awal murid;Kedua, melakukan dan memperbanyak pelaksanaan asesmen formatif berbasis kompetensi literasi,numerasi dan karakter sebagai dasar untuk penyesuaian pembelajaran;Ketiga, mengurangi jumlah tugas sekaligus meningkatkan kualitas tugas yang diberikan kepada murid. Video selengkapnya dapat ditonton di bawah ini Pilih tips yang mana nih Bapak Ibu? atau semua tips mau dicoba? Tuntutan perubahan dan tantangan yang akan dihadapi kedepannya. Diperlukan adanya rasa ingin tahu dan rasa ingin belajar yang kuat antar semua pihak yang berkepentingan. Seiring berjalannya waktu akan dirasakan manfaat dan tujuan dari suatu program yang dibentuk. Pro-kontra pasti akan selalu ada dan selalu mengiringi setiap perubahan, karena dengan pro-kontra tersebutlah akan menciptakan resep bumbu perubahan ke arah yang lebih baik, dan terasa semakin kuat rasa semangat untuk dapat menciptakan perubahan pendidikan Indonesia untuk berani bersaing dengan dunia.  Nah, sudah jelas bukan, Asesmen Nasional adalah jawaban dari kita semua untuk perbaikan mutu pendidikan kita. Tidak perlu diragukan dan meragukan lagi. Tentunya tidak perlu mengikuti bimbingan belajar dan drilling … Read more