Membuat Asesmen yang Menyenangkan dengan Ekshibisi Mini Digital

Bingung membuat asesmen yang menyenangkan saat pembelajaran di masa pandemi? Asesmen sejatinya tidak hanya berupa penilaian atas hasil ulangan dan semacamnya. Rupanya asesmen seperti itu sudah menjadi momok bagi murid. Padahal kita tahu cara belajar masing-masing murid berbeda, maka dibutuhkan asesmen yang bisa mengakomodir perbedaan tersebut. Sehingga asesmen akan terasa lebih menyenangkan karena murid merasa dipahami. Tapi apa mungkin asesmen seperti itu bisa dilakukan saat pembelajaran di masa pandemi? Bagaimana menerapkannya? Nah, pada tulisan kali ini kita akan membahas kisah guru belajar dari PYP Al Firdaus Surakarta bernama Ibu Dwi Rakhmawati. Beliau juga pernah mengalami masalah serupa seperti yang sudah disebutkan di atas. Namun, beliau menganggap pandemi bukanlah hambatan melainkan tantangan tersendiri untuk tetap dapat melaksanakan asesmen yang memberi kegembiraan bagi murid. Beliau ingin menjadikan asesmen sebagai bentuk perayaan bagi murid untuk menunjukkan kemampuan, talenta, dan keahlian yang dimiliki sesuai dengan bakat kecerdasannya masing-masing meskipun tehalang oleh jarak. Selama diberlakukannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), di sekolah Bu Rakhmawati kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dengan penuh secara daring. Jadwal disusun dengan jam belajar sejak pukul 07.30 hingga 13.30 WIB. Platform digital yang digunakan yakni Zoom Meeting. Seperti Zoom Morning Briefing, Zoom materi Homeroom Teacher,  Zoom Subject Teacher, serta Zoom Refleksi. Sedangkan penugasan murid menggunakan ClassDojo. Dan tema yang dipelajari waktu itu tentang energi. Sejujurnya tidak mudah bagi Bu Rakhmawati membangun iklim belajar daring di kota kecil seperti di Solo. Berbagai kendala mulai dari perangkat, jaringan, hingga orangtua yang bekerja menjadi perkara tersendiri. Mau tidak mau guru kelas harus membangun kerja sama dengan orangtua agar kegiatan pembelajaran tetap berjalan.  Selain itu juga diharapkan mampu membawa manfaat serta pengalaman belajar. Karena itu, agar tidak membosankan, menu Zoom terus dibenahi dengan memberikan sentuhan berbagai aplikasi pendukung seperti memanfaatkan Whiteboard Zoom, Jamboard, Pear Deck, Quizizz, dan Kahoot. Baca juga: Mengembangkan Bakat Murid saat Pembelajaran di Masa Pandemi Melalui Asesmen Diagnosis Selaku pengampu murid kelas 4 dan 6, Bu Rakhmawati memberikan tugas sebagai asesmen akhir unit berupa pameran kecil yang dilakukan secara digital atau istilahnya Ekshibisi Mini Digital. Murid akan memamerkan karya sains yang dibuat berdasarkan tema yang pembelajaran waktu itu. Sebagai contoh kelas 4 yang mengambil topik pemanfaatan energi dan cara bijak menggunakannya. Bu Rakhmawati memberi kemerdekaan murid untuk bereksplorasi dengan berbagai bahan dan alat yang ada di sekitar rumahnya. Memang pameran karya ini dilakukan sejak kelas 4 agar nantinya saat di kelas 6, mereka telah terbiasa berbagi ide dan pengetahuan dalam ekshibisi di akhir pembelajaran di PYP. Tahapan pameran karya dalam asesmen ini tidak terlalu sulit. Tentu saja di masa pandemi ini peran orangtua murid sangat penting dalam mendukung murid. Langkah yang dilakukan antara lain: Menyusun perencanaan asesmen. Memberikan beberapa alternatif pilihan bentuk proyek yang dapat dipilih murid seperti benda miniatur, percobaan, atau poster tentang energi dan cara bijak menggunakannya. Hal ini bertujuan agar murid dapat dengan mudah menjelaskan perubahan energi yang terjadi. Menyusun rubrik penilaian dari setiap subjek (transdisiplinary). Menyusun rubrik penilaian skill yang diharapkan. Mempersiapkan perangkat dan jaringan yang mendukung pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Melakukan koordinasi antar wali kelas ataupun guru mata pelajaran yang terkait dengan tema. Menjalin komunikasi dengan orangtua murid tentang asesmen di akhir unit. Prinsip pameran karya ini antara lain sebagai media menampilkan ide, kreasi, dan yang terpenting adalah berani serta dapat menjelaskan bagaimana alat atau percobaan tersebut mengalami perubahan energi. Selama 4 hari dengan 4 rombel kelas, setiap murid mencoba mempresentasikan dan menjawab pertanyaan dari teman-temannya. Murid yang tampil dan murid yang menjadi audiensi akan memperoleh pengalaman belajar melalui pertemuan daring tersebut. Berikut ditampilkan hasil dokumentasi berupa gambar dari murid kelas 4 yang sedang presentasi. Murid yang ada pada gambar di atas sedang mempresentasikan alat rangkaian berbentuk miniatur elevator. Alasan murid tersebut membuatnya karena tidak lama lagi di kota Solo akan banyak gedung-gedung bertingkat dan bangunan yang ke atas. Jadi akan banyak menggunakan elevator yang memakai energi listrik yang diubah menjadi energi gerak. Dalam proyeknya, murid boleh dibantu orangtua dalam membeli perlengkapan hingga merangkainya. Presentasi dilakukan dengan menggunakan bahasa inggris. Namun, murid diperbolehkan menggunakan bahasa lain atau bilingual. Sedangkan gambar di atas menunjukkan presentasi dari seorang murid inklusi. Murid inklusi tersebut memiliki gangguan pendengaran, sehingga dibantu dengan mind mapping  atau teks dalam presentasinya. Dengan bantuan guru pendamping khusus, ia mampu menampilkan sebuah eksperimen berupa nyala lilin yang dapat memutarkan kertas di atasnya. Asesmen semacam ini memberikan beberapa manfaat antara lain: Kreativitas terbangun melalui proyek sains sederhana ataupun eksperimen sains. Mendorong murid untuk berani menampilkan ide gagasan. Melatih keahlian berkomunikasi. Melatih keberanian di depan pemirsa dalam Zoom Meeting (presentasi). Melatih berargumentasi dalam tanya jawab dengan teman sebaya ataupun guru. Sedangkan untuk kelas 6 nanti akan diadakan penelitian sederhana yang menjadi kemasan ekshibisi dengan bimbingan guru mentor dan asesmen dari leader. Puncaknya adalah perayaan dengan mengundang teman-teman dari sekolah lain untuk berkunjung. Inilah salah satu tantangan bagi Bu Rakhmawati dan sekolahnya dalam menyiapkan mental , skill berkomunikasi, serta melatih manajemen waktu sejak kelas bawah. Asesmen menjadi sarana perayaan yang dinanti. Pembelajaran akan bermakna apabila memberikan ruang bagi murid untuk berinovasi. Jika sebelum pandemi presentasi dilakukan di depan kelas masing-masing, kali ini teman dari kelas lain juga berkesempatan mengikuti kegiatan presentasi dan tanya jawab dalam Zoom Meeting. Hal in ternyata mampu menambah kepercayaan diri bagi murid. Mereka yang aktif akan banyak bertanya dan yang awalnya pasif juga termotivasi untuk ikut bertanya. Terakhir, setiap murid akan belajar menjawab pertanyaan dari audiensi dengan waktu yang sama. Tujuan lain dari kegiatan tersebut adalah jika asesmen dikemas secara fun learning, maka akan menghilangkan kesan menakutkan seperti sebuah ujian. Wah, ternyata membuat asesmen yang menyenangkan untuk murid tidak sulit ya. Meskipun harus dilakukan saat pembelajaran di masa pandemi. Bahkan punya poin lebih dan banyak manfaatnya lagi. Sekarang Bapak dan Ibu guru pasti sudah tidak bingung lagi kan membuat asesmen yang menyenangkan saat pembelajaran di masa pandemi. Untuk menemukan cerita inspiratif  lainnya, yuk ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII. Tema TPN kali ini adalah “Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar” yang akan diselenggarakan pada tanggal 20-21 November 2021. Dan di sini Bapak Ibu guru akan mendapat inspirasi dari #1000Pembicara. Cara daftarnya gampang banget. Tinggal klik tpn.gurubelajar.org Sumber: Surat … Read more

Temu Pendidik Nusantara VIII, Ada Apa?

Bapak dan Ibu Guru sudah mempraktikkan merdeka belajar? Ingin menambah inspirasi? Mengembangkan kompetensi dan karier? Atau ingin melakukan perubahan dalam dunia pendidikan?. Dalam Temu Pendidik Nusantara VIII akan menjadi momen refleksi menyeluruh terhadap merdeka belajar, menjadi sebuah asesmen formatif untuk penggerak perubahan pendidikan, karena merdeka belajar sebagai cita tidak hanya membutuhkan peran pendidik saja tetapi juga membutuhkan ekosistem yang merdeka belajar. Tidak hanya guru yang belajar, tetapi juga kepala sekolah, kepala madrasah, bahkan pengawas yang yang sering ditakuti oleh guru, tetapi ternyata dapat berjumpa dan berkolaborasi dalam semangat yang sama yaitu merdeka belajar.  Dalam Temu Pendidik Nusantara guru tidak hanya ikut begitu saja, tetapi guru dapat memilih. Setiap guru dapat memilih perannya dapat sebagai peserta, pembicara atau relawan panitia.  Setiap guru yang memilih menjadi peserta, juga bisa memilih topik yang ingin dipelajarinya. Berbeda dengan kebanyakan kegiatan lainnya, biasanya guru dituntut belajar topik yang ditentukan pihak lain, bukan pilihannya sendiri. Di Temu Pendidik Nusantara VIII, guru dapat memilih topik yang sesuai kebutuhan dan keinginannya. Topik yang dipilih yang dapat membantu dalam mengatasi permasalahan di kelas maupun sekolah. Guru yang sudah memiliki pengalaman mengajar juga mendapatkan kesempatan untuk menjadi pembicara. Guru yang menjadi pembicara dapat menyampaikan pengalaman dan keadaannya ketika di lapangan. Guru yang menjadi pembicara diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi guru lain, memberikan dampak yang luas dan memberikan perubahan, mengawali karier menjadi pelatih, dan dikenal oleh 30.000 guru se-nusantara.  Tidak hanya belajar, tetapi guru juga mengembangkan karir. Karena sejak tahun lalu, Temu Pendidik Nusantara sudah dirancang sebagai kegiatan pengembangan karier guru. Pembagian kegiatan di Temu Pendidik Nusantara dilakukan untuk memberi pengalaman dan tantangan karier yang beragam. Peserta Temu Pendidik Nusantara akan belajar mencoba suatu strategi pengajaran di kelas kemerdekaan, mengembangkan potensi di kelas kompetensi, dan memperluas kesempatan dan jejaring belajar di kelas kolaborasi. Peserta Temu Pendidik Nusantara juga bisa belajar dan mengetahui bahwa menjadi kepala sekolah bukanlah satu-satunya pilihan karier guru. Di kelas karier, peserta Temu Pendidik Nusantara dapat belajar bahwa profesi guru dapat menghasilkan banyak spesialisasi. Dengan mempelajari perjuangan setiap pembicara dalam merintis kariernya. Di Pameran Karier, peserta Temu Pendidik Nusantara juga bisa menyaksikan dan mendapatkan karya dan layanan guru. Harapannya setelah mengikuti Temu Pendidik Nusantara, peserta mendapatkan pelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan karier untuk merintis dan mengembangkan kariernya. Peserta tidak hanya menjadi pendengar, tidak hanya dimintai kartu nama untuk tindak lanjut presentasi produk atau layanan. Tetapi peserta menjadi berdaya karena mendapatkan kesempatan menghasilkan karya yang bermanfaat baik untuk sesama guru maupun masyarakat luas. Peserta Temu Pendidik Nusantara diajak untuk berdaya, dalam melangkah dari jenjang ke jenjang lebih lanjut hingga menghasilkan karya. Baca Juga : Inilah 5 Keistimewaan Temu Pendidik Nusantara Tidak hanya berkembang, tetapi juga melakukan perubahan. Meski terbuka untuk umum, sebagian besar peserta Temu Pendidik Nusantara adalah guru-guru dari beragam organisasi profesi dan komunitas yang menjadi bagian dari perubahan pendidikan Indonesia. Seperti dari Yayasan Guru Belajar, Cerita Guru Belajar, Kampus Guru Cikal, Sekolah Merdeka Belajar, Komunitas Guru Nusantara, Komunitas Pengawas Belajar, Jaringan Sekolah Madrasah Belajar, Ikatan Guru Indonesia, Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia, Lingkar Daerah Belajar, Federasi Guru Independen Indonesia, Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia, PERGUNU, Forum Guru Muhammadiyah, dan Badan Musyawarah Perguruan Swasta. Disponsori oleh Nusantarun, Sekolah.mu, Wardah Inspiring Teacher, dan Nutrifood. Serta diliput oleh media-media Kumparan.com, Tempo.com, dan Kompas.com. Organisasi-organisasi ini hadir bukan sekedar belajar untuk kepentingan dan capaian pribadi, tetapi juga untuk mengubah praktik pengajaran dan menyebarkannya ke guru-guru yang lain. Tidak semua bertahan, namun mereka yang hadir adalah mereka yang berkomitmen kuat pada tujuan, yang menunjukkan ciri dari guru merdeka belajar. Konten pada Temu Pendidik Nusantara diharapkan dapat menjadi konten yang menjawab kebutuhan ekosistem guru dan pendidikan di Indonesia. Konten Temu Pendidik Nusantara dirancang dan dipilih sesuai dengan topik Temu Pendidik Nusantara juga selaras dengan semangat merdeka belajar. Konten yang dapat membantu guru memandu murid menjadi pelajar merdeka. Namun keistimewaan yang utama pada Temu Pendidik Nusantara bukan berkaitan dengan konten, kelas, maupun pembicara. Temu Pendidik Nusantara istimewa karena menjadi wadah perjumpaan antar guru yang berbagi cerita dan membahas bagaimana momen asesmen nasional dapat digunakan oleh semua pemangku kepentingan untuk mendesain, mengembangkan, mewujudkan ekosistem yang membantu semua dan setiap murid untuk mengalami pengalaman merdeka belajar di rumah, di kelas, dan di komunitasnya.  Apakah Bapak dan Ibu Guru berminat untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII?  Yuk jangan lupa untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem belajar.  Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara.  Mari daftar di Temu Pendidik Nusantara VIII!  klik : https://tpn.gurubelajar.org

Implementasi Asesmen Diagnosis untuk Membangun Disiplin Murid

Merasa pusing ketika mendisiplinkan murid? Lelah memikirkan cara agar murid bisa mengumpulkan tugas secara disiplin,  tepat waktu dan sesuai ketentuan? Apalagi ketika pandemi datang dan PJJ diberlakukan, rasa-rasanya hal tersebut menjadi semakin pelik meski sekadar dibayangkan. Apakah perkara-perkara tersebut masih sering mengganggu pikiran Bapak dan Ibu guru hingga tidur pun rasanya tidak nyenyak? Jangan Khawatir Bapak Ibu! Seperti kata pepatah “Di balik setiap masalah pasti ada solusi”. Pilihan yang tepat ketika Bapak dan Ibu sedang membaca tulisan ini maka Bapak dan Ibu guru juga akan menemukan solusi dari permasalahan yang kini tengah menghantui seperti yang telah disebutkan di atas. Lalu apa kaitannya dengan asesmen diagnosis ya? Bagaimana implementasi Asesmen Diagnosis bisa membangun disiplin murid? Simak penjelasannya di bawah ini ya! Sejak dicetuskannya Asesmen Nasional (AN) pada tahun 2020 sebagai pengganti Ujian Nasional (UN), mau atau tidak mau, siap atau tidak siap semua sekolah harus mengimplementasikannya, maka semua guru juga harus memahaminya. Meskipun asesmen menjadi trending topik kala itu, nyatanya masih banyak yang bingung bahkan terjadi miskonsepsi di antara pendidik maupun orangtua murid. Bersumber dari Surat Kabar Guru Belajar (SKGB) No.28 dengan judul Asesmen untuk Personalisasi Belajar, ada kisah guru belajar yang menghadapi masalah serupa. Guru tersebut bernama Ida Widaningsih, guru di SMP Negeri 160 sekaligus anggota Komunitas Guru Belajar (KGB) Jakarta Timur. Layaknya guru-guru lain, Guru Ida juga pernah mengalami miskonsepsi tentang asesmen. Padahal jauh sebelum AN dicetuskan, Guru Ida sudah sering mendengar dan membaca tentang asesmen, sayangnya semua itu bagai angin lalu. Awalnya Guru Ida menganggap asesmen hanya digunakan untuk mengetahui capaian belajar murid di akhir pembelajaran, namun kini Guru Ida tahu justru yang penting adalah bagaimana penilaian mampu meningkatkan kemampuan murid dalam proses belajar. Setelah mengetahui betapa esensialnya asesmen, Guru Ida segera mempelajari lebih lanjut mengenai Asesmen. Guru Ida mencari dan membuka berbagai sumber yang terkait dengan asesmen. Guru Ida mulai menonton konten-konten di Kanal Youtube KGBN (Komunitas Guru Belajar Nusantara), Kanal Youtube Kemendikbud dan membaca buku-buku yang membahas mengenai asesmen. Dari sini Guru Ida membuat kesimpulan bahwasannya selama ini dia belum paham sepenuhnya tentang tiga macam asesmen, yakni assessment for learning, assessment as learning, dan assessment of learning. Assessment for learning (asesmen diagnosis) mempunyai fungsi yang mirip dengan assessment as learning (asesmen formatif), yakni sebagai formatif dan dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. Sedangkan assessment of learning (asesmen sumatif) merupakan penilaian yang dilakukan setelah proses pembelajaran selesai dan tidak selalu di akhir tahun. Baca juga: Fungsi Asesmen Formatif: Mendukung Murid Belajar Ketika berbicara mengenai asesmen diagnosis, tidak dapat dipisahkan dengan pemahaman akan 5M (Memanusiakan hubungan, Memahami Konsep, Membangun keberlanjutan, Memilih tantangan, Memberdayakan konteks) karena secara tidak langsung sangat berkaitan erat. Untuk asesmen diagnosis sendiri dibagi menjadi dua yaitu asesmen diagnosis kognitif dan nonkognitif. Guru Ida mengaitkan asesmen diagnosis nonkognitif dengan 5M, yakni pada elemen Memanusiakan hubungan dengan mencari tahu profil murid dan elemen kedua, yakni Membangun keberlanjutan dengan memberikan tugas yang beragam sesuai minat murid. Pada awal pembelajaran jarak jauh (PJJ) Guru ida memang lebih fokus pada implementasi asesmen diagnosis nonkognitif, ia melihat adanya keberagaman situasi sosial dari profil murid. Guru Ida mencari tahu keadaan atau kondisi murid dengan mengajak mereka mengobrol santai melalui WA pribadi. Dan data pengamatan langsung sebelum diberlakukannya PJJ. Ternyata ada murid yang dengan tertatih berusaha mengumpulkan tugasnya. Dari obrolan tersebut terlihat kesungguhan murid, meski dalam keadaan yang serba sulit karena berasal dari keluarga kurang mampu. Itu contoh murid Guru Ida yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Guru Ida sangat memperhatikan kondisi murid dan tidak memaksakan tugas harus dikumpulkan pada hari itu juga. Murid tersebut tidak mempunyai gawai sendiri dan harus meminjam gawai milik anggota keluarga lain. Yang membuat Guru Ida bangga murid tersebut menabung untuk membeli gawai karena menganggap benda itu menjadi kebutuhan yang sangat penting untuk menunjang pembelajaran. Guru Ida mengajar materi tentang ikhtiar, tawakal, dan optimisme yang berkenaan dengan pandemi Covid-19 dan berhubungan dengan anjuran pemerintah. Dengan menerapkan diferensiasi dalam penyelesaian tugas, Guru Ida memberi kesempatan muridnya untuk mengerjakan tugasnya sesuai dengan minat masing-masing, sehingga mereka mengerjakan dengan suka cita, tanpa beban. Ada yang memilih untuk membuat video, PPT, poster, dll. Hasilnya sungguh di luar dugaan. Murid lebih bersemangat mengerjakan karena sesuai minatnya. Selain itu waktu yang diberikan juga longgar tapi bukan berarti tidak tegas. “Saya kagum akan kompetensi mereka yang beragam, termasuk kompetensi menulis, menggambar, atau bercerita yang selama ini terpendam.” (Ida Widaningsih) Menurut Guru Ida, ternyata dengan memperhatikan asesmen diagnosis non kognitif dapat memberikan ruang kepada murid untuk bereksplorasi dan memberikan kemerdekaan belajar. Tugas yang mereka kerjakan menjadi beragam. Guru Ida juga dapat mengetahui minat belajar murid. Dan guru tidak akan stres atau marah-marah lagi kepada murid. Kesimpulannya dengan dapat memahami asesmen khususnya asesmen diagnosis beserta implementasi-nya, guru dapat memahami muridnya. Guru jadi tahu keadaan murid dan alasan murid tidak mengumpulkan tugas secara disiplin, tepat waktu dan sesuai ketentuan. Dari pengalaman Guru Ida yang dilakukannya untuk menyikapi masalah tersebut adalah dengan mengubah sistem pengumpulan tugas dengan menerapkan diferensiasi penyelesaian tugas sesuai minat murid dan kelonggaran waktu pengumpulan. Apakah pening di kepala Bapak dan Ibu guru sudah hilang setelah membaca kisah Guru Ida di atas? Atau Bapak dan Ibu guru masih membutuhkan kisah inspiratif dan solutif lainnya? Yuk langsung aja daftar di Temu Pendidik Nusantara (TPN) VIII dengan tema Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar yang akan diselenggarakan pada tangga 20-21 November 2021. Di sini Bapak Ibu akan mendapatkan inspirasi dari #1000Pembicara. Langsung aja klik tpn.gurubelajar.org

Observasi Kelas Merdeka Belajar

Pusing menghadapi murid yang acuh dalam belajar khususnya saat PJJ? Ragu akan pentingnya observasi dalam pembelajaran di kelas? Bingung cara apalagi yang bisa dilakukan untuk melakukan asesmen selain asesmen kognitif? Yuk ikuti Obrolan Guru Merdeka Belajar (OGMB)! Deretan pertanyaan di atas terjawab tuntas pada Obrolan Guru Merdeka Belajar pada hari Selasa tanggal 31 Agustus 2021 secara live streaming di youtube. Obrolan berupa bincang seru ini dihadiri oleh dua narasumber keren. Ada ibu Cornelia Amita atau yang akrab disapa bu Mita yang juga berprofesi sebagai konselor middle school di Sekolah Cikal Serpong. Selain itu hadir juga ibu Anik Puspowati seorang guru PAUD di Fatif Edu. Bincang seru ini digawangi oleh moderator keren ibu Ira Ari Nuraini dari Kampus Guru Cikal. Perbincangan yang berlangsung secara santai selama tapi sarat makna dan kaya pengetahuan serta berdasarkan pengalaman empiris dua nara sumber yang mumpuni di bidangnya ini benar-benar mencerahkan. Peserta yang berasal dari guru-guru pembelajar seluruh Indonesia, dosen dan praktisi pendidikan ini membahas tentang pentingnya melakukan observasi yang dapat berfungsi sebagai asesmen di kelas-kelas merdeka belajar. Waktu 90 menit berlalu tak terasa karena diskusi mengalir dengan lugas dan berkualitas. Ketika membahas tentang pentingnya observasi bagi murid, bu Anik  memaparkan agar guru bisa memahami muridnya. Kenapa murid A begini. Guru bisa mengidentifikasi kemampuan dan aspek perkembangannya. Saat ditanya tentang caranya agar bisa mengenal murid lebih baik secara kognitif maupun nonkognitif, kedua narasumber sepakat melakukannya melalui observasi di kelas merdeka belajar. Menurut bu Mita, observasi adalah melakukan pengamatan dengan tujuan. Apalagi saat PJJ dimana kita hanya ketemu murid melalui tatap maya. Sebagian murid remaja menurut bu Mita cenderung untuk off cam karena sebagian murid usia remaja ini feeling insecure dengan penampilan fisiknya di layar. “Sebaiknya kita buat suatu kesepakatan bersama atau essential agreement dimana 10 menit pertama mereka harus buka kamera”, saran bu Mita. Beliau juga menjelaskan bahwa dari penampilan fisik murid, chatnya di WAG kelas dan memfollow IG nya, kita bisa mendapatkan data primer tentang murid. Selain itu, kita bisa mendapatkan dokumen sekunder dari rekaman, video bersama orang tuanya dan informasi dari guru sebelumnya. Baca juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Sementara itu, bu Anik yang merupakan seorang pendidik di tingkat PAUD justru menemukan kalau murid-muridnya lebih senang, kalau wajahnya kelihatan di kamera, karena usia seperti memang lebih suka melakukan eksplorasi dengan memencet tombol yang ada di piranti gawai atau laptop saat PJJ daring. Setelah itu, para murid akan berlari-lari terang bu Anik. Sama dengan bu Mita, bu Anik juga setuju, kalau dengan mengamati rekaman sesi zoomnya dan obrolan di WAG wali murid, data tentang murid akan didapatkan. Mengenai hal apa yang perlu disiapkan sebelum melakukan asesmen observasi di kelas merdeka belajar, kedua narasumber sepakat mengenai perlunya persiapan khusus. Menurut bu Anik, kita perlu mempersiapkan apa, kapan, bagaimana cara serta metodenya. Persiapan menyangkut format check list, anecdote, foto, HP , kertas dan sticky note. Sementara bu Mita lebih melihat ke tujuan asesmennya dan evaluasi kegiatan sebelumnya. Disamping itu, menurut beliau hendaknya ada semacam guidelines, check list, dan template untuk memasukkan foto dan video. Sasaran observasi menyangkut murid, orang tua atau teman-temannya juga perlu dipersiapkan agar bisa lebih fokus. Bu Ira sebagai pemandu diskusi juga menanyakan tentang sasaran yang tepat untuk observasi. Bu Anik menegaskan bahwa semua anak bisa diobservasi. Murid dilihat tumbuh kembangnya, orang tua diobservasi kondisi keluarganya serta bagaimana mereka berinteraksi dengan anaknya. Warga sekolah berupa orang dewasa sekitar anakpun tak luput menjadi sasaran observasi. Bu Mita menyatakan hal yang sama bahwa semua anak berhak, dan harus diobservasi. Observasi bisa berupa semacam personal treatment dan preferences yang hanya dimiliki anak. Atau dengan kata lain ada benchmark bagi setiap anak. Kita biasanya cenderung mengingat anak yang paling pintar atau paling sulit belajar. Ketika ditanya adakah cerita menarik selama melakukan observasi, keduanya kompak menjawab. Menurut bu Mita, di awal tahun ajaran baru selalu ada kejutan seperti murid kelihatan lebih cantik atau ganteng. Terkadang kita kaget dengan respon murid yang out of the box secara akademik. Makanya kita janganlah membatasi informasi yang masuk karena kita punya standar sendiri. Sering terjadi kejutan saat asesmen atau saat belajar. Menurut bu Anik, beliau kadang terkejut dengan anak yang bertambah tinggi badannya pas saat masuk sekolah lagi. Hal yang mengagetkan menurut beliau, kadang saat daring mereka berlarian, tapi saat luring bisa lebih fokus belajarnya. Bahkan murid yang hanya merepon dengan mengangguk atau menggeleng saat daring , bisa memberikan respon lebih saat luring. Berbicara soal tindak lanjut yang tepat setelah mendapatkan data observasi primer dan sekunder, kedua narasumber menyampaikan kalau mereka amat paham dengan beban administrasi guru yang banyak. Bu Mita mengingatkan para guru agar lebih teliti dalam menyeleksi data dan bukti pembelajaran, lalu melakukan kompilasi sehingga lebih paham akan tujuan observasi. Disamping itu, disarankan untuk sharing dengan guru kelas dalam rangka pengerucutan data serta mendiskusikan hasilnya dengan orang tua murid. Sedangkan bu Anik juga mengungkapkan hal yang senada. Data yang didapat disimpulkan, diinterpretasi dan hasilnya dibawa untuk bahan diskusi dengan orang tua. Hasil observasi disusun dalam google drive. Setelah sebulan, data tersebut diidentifikasi tindak lanjutnya sehingga didapat informasi aktual misalnya masih ada anak yang belum bisa mewarnai di usianya dan menggambar tidak sesuai dengan kemauannya. Pertanyaan terakhir dari bu Ira sebagai pemandu jalannya diskusi menyangkut bagaimana mengaitkan berbagai asesmen seperti proyek, observasi, wawancara, tugas dan tes tertulis. Hal ini dijawab secara lugas oleh bu Mita bahwa keseluruhan asesmen di atas saling terkait dan dapat dijadikan bahan untuk saling memperkaya pemahaman terhadap anak sehingga kita memiliki pemahaman yang utuh terhadap seorang anak. Bu Anik menambahkan perlu adanya penekanan pada aspek mana yang akan disasar dan tujuan pembelajarannya. Intinya menurut beliau, sebagai guru kita harus cerdas dalam memilih asesmen. Sementara itu, peserta terlihat sangat antusias dengan mengajukan berbagai pertanyaan di kolom chat. Diantaranya ada Ibu Supadmi yang meminta contoh observasi di tingkat SD dan kapan pelaksanaanya. Ada lagi ibu Anggun Dwi Lestari yang menanyakan bagaimana bentuk asesmen murid dengan tingkat kognitif rendah saat PJJ. Ibu Ayu Ade Irene ingin tahu adakah bentuk asesmen khusus untuk observasi. Berikutnya ada ibu Carla Adi Pramono yang bertanya tentang pengalaman empiris terkait asesmen observasi  yang digunakan … Read more

Konsep Asesmen di Berbagai Bidang

Sebelumnya kita sudah membahas mengenai miskonsepsi asesmen. Bagaimana pemahaman Bapak Ibu mengenai konsep asesmen sudah betul? Kali ini kita akan memperdalam pemahaman tentang konsep asesmen, apakah asesmen bisa dipraktikkan hanya digunakan di dunia pendidikan saja atau juga ada di berbagai bidang lain? Yuk, kita lihat pandangan asesmen dari berbagai sudut pandang dan latar belakang pekerjaan yang beragam. Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Seperti yang kita pahami sebelumnya, secara konsep dan praktik asesmen tidak hanya penilaian yang bentuknya angka (scoring), tetapi asesmen adalah sekumpulan kegiatan yang melibatkan pengumpulan dan analisis informasi dengan melihat kinerja murid, menginformasikan apa yang diketahui, dipahami, dapat dilakukan, dan dirasakan serta merasakan pada tahapan mana murid dalam proses pembelajaran, yang nantinya dapat dijadikan pandangan awal atau bekal dalam mempersiapkan dan menjalankan proses pembelajaran. Asesmen dalam Bidang Kedokteran yang Berpengaruh Pada Kesehatan Pasien Konsep asesmen dalam Bidang Kedokteran dijelaskan oleh FX Kristandiyoko MPH  yang berprofesi dokter di salah satu RSUD Simo Boyolali. Asesmen dalam bidang kedokteran dikenal dengan istilah asesmen pasien dimana tahapan proses dokter mengevaluasi data pasien baik data subjektif maupun data objektif dalam membuat suatu keputusan terkait status kesehatan pasien. Status kesehatan pasien ini diperlukan untuk mengetahui kondisi riwayat kesehatan, hasil pemeriksaan fisik, asesmen psikologi dan asesmen sosial ekonomi pasien, kumpulan informasi atau asesmen terbentuk menjadi kesimpulan yang disebut dengan diagnosis.  Selain asesmen pasien digunakan untuk mendiagnosa seorang pasien, asesmen pasien juga diperlukan dalam mengetahui kebutuhan pasien dalam hal perawatan, contohnya untuk menentukan pasien ditempatkan di ruang inap biasa, ruang HCU atau ICU, dan asesmen pasien digunakan untuk mengintervensi pasien dalam perbaikan atau perburukan riwayat perjalanan penyakitnya, dan yang terakhir digunakan sebagai bahan mengevaluasi pasien sudah dapat dinyatakan sembuh atau belum.  Informasi data pasien tertuang dalam rekam medis pasien yang berupa berkas yang berisi catatan dan dokumen identitas pasien, pemeriksaan pasien, pengobatan yang diberikan, tindakan medis yang sudah dan akan dilakukan, dan layanan informasi lain yang diberikan dan dibutuhkan. Asesmen pasien ini dilakukan oleh dokter sebagai penanggung jawab masing-masing pasien yang menjadi salah satu indikator mutu yang menggambarkan tentang pemenuhan harapan pasien dan tanggung jawab dokter. Asesmen adalah salah satu standar nasional akreditasi suatu rumah sakit. Begitu detail dan kompleks kebutuhan akan asesmen yang dilakukan dalam bidang kedokteran ini karena menyangkut dengan nyawa seseorang dan memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi pasien.  Asesmen dalam Bidang Keuangan yang Berpengaruh pada Pembiayaan Sebuah Perusahaan Narasumber berikutnya datang dari bidang keuangan, akuntansi dan pajak yaitu Tuti Noor Ermayanti, asesmen digunakan untuk data pelaporan dengan pihak ketiga yaitu pihak perbankan, stakeholder yang memiliki andil dalam sebuah perusahaan ataupun pemerintah dalam hal pelaporan pajak dan untuk kepentingan good governance lainnya. Asesmen dalam bidang keuangan dan akuntansi dapat dibedakan kedalam 2 hal, Pertama, nilai kekayaan untuk mengetahui posisi nilai kekayaan yang dimiliki yang diukur melalui laporan neraca. Kedua, dilihat dari asesmen prestasi manajemen yang bisa dilihat melalui laporan laba-rugi. Setelah dua asesmen ini akan ada yang proses audit yang dilakukan oleh pihak ketiga untuk mengetahui apakah keuangan yang dijalani bisa dikatakan wajar atau tidak karena akan menjadi bukti pertanggungjawaban kepada pihak-pihak yang turut andil dalam keuangan tersebut. Pencatatan keuangan sendiri dilakukan berdasarkan klasifikasi atau yang sudah menjadi standar dalam hal akuntansi, yang disebut dengan Pedoman Standar Akuntansi Keuangan. Asesmen menjadi kunci untuk pihak ketiga untuk dapat menilai kinerja suatu perusahaan dan menilai kekayaan dalam perusahaan tersebut.  Asesmen prestasi manajemen untuk mengetahui perjalanan suatu perusahaan apakah mengalami profit, stagnan atau justru naik turun keuangan suatu perusahaan. Pihak ketiga sebagai seorang investor baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang akan melihat laporan analisa fundamental perusahaan kurang lebih selama 5 tahun kebelakang dalam menilai keadaan perusahaan apakah cocok atau tidak dengan melakukan analisis beberapa tahapan, seperti menilai dari angka yang terdapat pada laporan laba-rugi, laporan neraca, mengukur seberapa jauh dan seberapa bagus suatu perusahaan, kemudian menetapkan apakah akan berinvestasi atau tidak baik dalam jangka waktu yang pendek atau panjang.  Dari sisi kekayaan perusahaan dapat dilihat melalui laporan neraca perusahaan, untuk mengetahui seberapa kuat aset perusahaan untuk dapat membayar kewajiban-kewajiban yang keluar dari suatu perjanjian yang dilakukan antar perusahaan.  Asesmen dalam Perusahaan untuk Memahami Kebutuhan Kinerja Karyawan Selanjutnya akan membahas asesmen dalam bidang Talent Development (HRD)  oleh Fricilia Yesica Simbolon, dalam bidang HRD ini perusahaan bergerak dalam mengelola sumber daya manusia yang dipekerjakan dalam hal ini asesmen sangat penting terkait dalam proses perekrutan maupun ketika seseorang sudah bergabung di suatu perusahaan. Asesmen dalam perusahaan dikenal dengan istilah asesmen kinerja atau Key Performance Indicators (KPI), asesmen ini diukur berdasarkan pencapaian target perusahaan terhadap kinerja karyawannya, penilaian dapat dilakukan oleh perusahaan dalam rentang waktu bulanan, semester ataupun tahunan, walaupun pada umumnya perusahaan melakukan asesmen kinerja dalam rentang waktu tahunan.  Selain asesmen kinerja perusahaan juga memiliki asesmen pengembangan diri, yang memiliki tujuan untuk melihat kompetensi seseorang dalam bekerja. Kemudian asesmen yang dilakukan adalah talent mapping, dimana memetakan talenta ke dalam box-box, box itu sendiri terbagi menjadi 2 bagian yaitu box dari kiri bawah sampai kanan atas yang menggambarkan rentang kinerja karyawan, sedangkan box dari bawah lurus ke atas menggambarkan potensi karyawan. Melalui asesmen ini menjadi pedoman perusahaan atau HRD dalam menilai kinerja seorang atau sekelompok karyawan berada di tahapan mana, yang nanti bisa dilakukan untuk perusahaan atau karyawan yang bersangkutan merefleksikan kira-kira apa yang perlu ditingkatkan dan dikembangkan lagi. Tujuan asesmen dalam bidang HRD adalah untuk memahami kebutuhan karyawan dan perusahaan, yang nantinya dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan muncul kedepannya.  Asesmen dalam Bidang Seni Peran yang Berpengaruh pada Kualitas Produksi Film Terakhir dengan Muhammad Firdaus yang menggeluti bidang cinematography atau perfilman, dalam pembuatan sebuah produk dalam hal ini adalah film ada sebuah proses mendesain berbagai macam informasi yang kemudian terbentuklah sebuah asesmen yang disebut dengan asesmen kreatif. Asesmen kreatif ini digunakan untuk menganalisa target market sebuah film akan dimasukkan pada rentang usia berapa, bagaimana penampilan karakter yang akan dimunculkan, setelah asesmen kreatif ini didiskusikan dan dianalisa akan berkembang lagi menjadi asesmen terkait dengan peralatan yang digunakan apa saja dan besaran biaya yang akan dikeluarkan. Di dunia seni peran sendiri memiliki asesmen yang disebut dengan asesmen based on competencies untuk mengetahui kemampuan dan kompetensi yang diperlukan dari … Read more

Video Guru Merdeka Belajar – Pendidikan yang Lebih Unggul

Video Merdeka Belajar menjadi hal yang kami perbincangkan pada Senin, 30 September 2019. Mengikuti satu kegiatan Komunitas Guru Belajar (KGB) yang merupakan bentuk dari sosialisasi sebuah Komunitas, seyogyanya kegiatan berbentuk Nonton Bareng (Nobar) Video Guru Merdeka Belajar ini dilaksanakan pukul 09.20 – 11.00 WIB. Tapi berhubung karena bersamaan dengan Kegiatan Tengah Semester (KTS) beberapa teman guru mengikutinya secara bergantian karena menyelingi KTS tersebut, sehingga durasi jadi terasa lebih Panjang. Menggerakkan Guru di Karo Sumatra Utara Kegiatan saya buka sendiri karena di Karo belum ada KGB dengan menyampaikan tujuan kegiatan Nobar hari ini, harapan saya setelah menyaksikan video tentang Guru Merdeka Belajar ini akan ada guru penggerak-penggerak selanjutnya yang senantiasa akan saling mendukung. Kemudian saya sebagai pemandu meminta pendapat awal dari 3 temanguru tentang “Apa itu Merdeka Belajar?”. “Merdeka itu tidak terikat dan variasi biar gak bosan” Yang lain berpendapat bahwa “Merdeka Belajar itu bebas tapi masih dalam koridor RPP”. Lalu yang lain lagi mengungkapkan bahwa “Merdeka Belajar itu bebas. Bebas memberikan pendapat, memberi jawaban, tidak didikte dan tidak dituntut. Sesi awal ini peserta nobar hanya bisa berpendapat. Lalu dilanjut dengan sesi pemutaran video guru merdeka belajar. Tampak pada layar bu Najelaa Shihab dengan tampilan yang sederhana. Beliau mengatakan bahwa tidak ada yang lebih ekspresif dibanding anak-anak. Pernyataan bu Najelaa sangat benar. Mendengar ini peserta mulai terlihat semakin serius. Mereka meminta video guru merdeka belajar untuk dibagi ke grup wa sekolah atau wa pribadi, dengan alasan supaya bisa diulang-ulang di rumah. Menarik, respon yang lumayan bagus meski suara Bu Najelaa kadang-kadang menghilang di tengah suara peserta didik yang lumayan hilir mudik di depan kantor karena lomba vokal grup bertempat di sekitar kantor. Namun, kata-kata Bu Najelaa tentang anak-anak yang merdeka belajar yang memiliki aspirasi setinggi langit seperti menggugah hati teman guru sehingga mereka mulai tampak semakin menyimak setiap kata yang diucapkan ibu Najelaa. Merdeka belajar pada peserta didik hanya akan terjadi pada saat anak-anak punya kemerdekaan belajar. Kemerdekaanbelajar peserta didik hanya akan terjadi pada saat pendidik atau guru juga memiliki kemerdekaan. Refleksi Para Guru Deg, rasanya di jantung. Sudahkah selama ini menjadi guru/pendidik yang merdeka? Banyak tanya menggelayuti. Walaupun sebenarnya saya sendiri belum paham betul apa yang dimaksud merdeka belajar. Pendapat saya masih sama seperti pendapat 3 teman guru di atas. Peserta lainpun sudah semakin serius menyimak setiap kata yang disampaikan hinggavideo guru merdeka belajar selesai. Lalu masuk ke sesi refleksi, ada 5 pertanyaan yang harus kami jawab tentang merdeka belajar. Pertanyaan pertama,”Di antara miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri anda?” Salah satu di antara kami menyatakan “Selama ini menurut saya kita harus belajar sama yang sudah ahli, ya bu De” Rata-rata jawaban secara umum begitu. “Lalu kalau tidak ada yang ahli, apa kita jadi berhenti belajar?” tanya saya. Serentak meskipun lirih mereka menjawab “Ya tidak lah,” dan kami pun meluruskan miskonsepsi itu. Belajar tidak harus menunggu keberadaan sang ahli, terkadang yang kita sebut sebagai ahli hanya mampu secara teoritis tapi tidak pada praktiknya. Seorang ahli atau pakar kadang hanya melihat di lingkungannya, sementara hal itu bisa jadi tidak sama dengan kondisi di lingkungan yang lain. Kita para guru, kitalah yang mengetehui permasalahan anak didik kita. Jadi kita (guru) lah yang menemukan cara yang cocok dalam mengajar, apa dan bagaimana praktik baik di dalam kelas untuk setiap pokok bahasan. Jadi tidak harus ada penyeragaman. “Iya kan,” celetuk salah satu teman guru. Diskusipun berlanjut hingga kami menemukan kesepakatan bahwa belajar butuh waktu, belajar tidak bisa dipaksakan mengejar target kurikulum, belajar harus memberi efek perubahan bagi peserta didik ke arah yang positif. Kompetensi peserta didik harus tumbuh dari lingkungan bukan secara individu. Ciri Guru Merdeka Belajar Pertanyaan kedua saya bacakan, “ciri guru merdeka belajar adalah komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar dan melakukan refleksi. Apakah Anda setuju dengan pernyataan tersebut? Apa alasannya?”. “setujuuuu, jawab mereka kompak. Bu Peber memberi alasan, kita memang harus komitmen pada tujuan, seperti maksud dari pemaparan Bu Najelaa Shihab bahwa guru merdeka belajar itu harus paham mengapasebuah materi itu perlu diajarkan dan apa kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, agar peserta didik merasa materi yang dipelajari ini bermakna untuk dirinya dan mampu menumbuhkan motivasi secara instrinsik bahwa belajar itu memang perlu. Guru Merdeka Belajar itu mandiri, selalu bersemangat menyelesaikan setiap tantangan, tidak mudah menyerah dan menyalahkan orang lain atau keadaan. Guru merdeka belajar harus bisa melakukan refleksi, berani meminta umpan balik secara aktif dan menilai diri sendiri secara subjektif. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Pertanyaan ketiga untuk sesi refleksi ini adalah “Apakah Anda ingin menjadi Guru Merdeka Belajar? Apa Alasannya?”, “mauuuuu” lagi-lagi mereka menjawab serentak. “Hanya saja kadang-kadang kami kehilangan semangat, kadang-kadang lagi mood baik kami lakukan praktik baik pembelajaran sehingga belajar menjadi bermakna tapi kadang-kadang kami bad mood. Sambil tersenyum salah seorang dari teman guru menjawab, dan yang lain angguk-angguk tanda setuju bahwa yang dialami adalah sama. Tapi kami mau kok menjadi Guru merdeka belajar dan kami perlu waktu untuk itu. Kami harus merubah mindset kami tentang belajar dan peserta didik. Kami akan mencoba mencari solusi dari permasalahan tentang peserta didik ketimbang menyalahkan mereka. Mudah-mudahanseiring berjalannya waktu kami pun akan menjadi guru merdeka belajar”. Ungkap Bu Meini. “Sip, beri tepuk tangan untuk diskusi hari ini, seru ya”, kata saya memberi semangat kepada Bu Meini dan peserta yang lain, meskipun yang tepuk tangan hanya saya. Masuk pertanyaan keempat “Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa perubahan yang ingin Anda lakukan di kelas?”. “Kami akan memulai dengan menata kelas, berdialog dengan peserta didik tentang aturan kelas, membuat ice breaking di sela-sela pembelajaran agar tidak bosan, mencoba melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan dan tidak lupa mengadakan refleksi di akhir pembelajaran”. Guru Merdeka Belajar, Guru yang Mengembangkan Diri Pertanyaan terakhir, “Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa pengembangan diri yang ingin Anda lakukan Bersama Komunitas Guru Belajar?”, “Kami ingin belajar menulis, kami ingin bisa menulis PTK sendiri” Kata salah seorang peserta. “Hmmm, bagus sekali itu Bu”, jawab saya. Akhirnya sebagai penutup sesi saya mengulas sedikit bahwa guru merdeka belajar adalah guru yang berkomitmen pada tujuan belajar, mengetahui kenapa melakukan sesuatu dan apa manfaatnya serta bagaimana cara mengaplikasikan hasil belajar tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari sehingga peserta … Read more