Disiplin Positif Di Sekolah

Bagaimana cara menerapkan disiplin positif di sekolah?Diskusi dengan topik disiplin positif ini dibuka oleh Moderator Guru Nisa. Moderator memulai dengan mengenalkan Narasumber yaitu Guru Adelia Oktoryta, dari KGB Makassar. Diskusi ini diikuti oleh 105 peserta tercatat di WAG. Profil Narasumber adalah sebagai berikut:  Aktif di Komunitas Guru Belajar dan Relawan Keluarga Kita Adelia Octoryta memulai kariernya sebagai guru sejak tahun 2010 karena ajakan seorang teman yang ingin membuat sekolah dengan cara pengajaran berbeda dengan sekolah pada umumnya. Saat itu diamanahi jadi guru kelas 2 SD, kelas tertinggi di Rumah Sekolah Cendekia kala itu. 2 tahun mengajar di SD kemudian diamanahi sebagai Kepala Sekolah SD Rumah Sekolah Cendekia hingga 2017. Sejak itu Adelia diamanahi sebagai Kepala Sekolah TK Rumah Sekolah Sekolah Cendekia, sekaligus wakasek SD Rumah Sekolah Cendekia. Saat ini sedang membuat kurikulum literasi berjenjang mulai dari Kelompok Bermain hingga SD untuk Rumah Sekolah Cendekia. Kesehariannya, selain sibuk di sekolah juga aktif sebagai Penggerak Komunitas Guru Belajar Makassar serta Relawan Keluarga Kita. Silakan, ikuti beliau di Instagram.com/adeliaoctoryta  Disiplin positif dewasa ini menjadi sebuah praktik pendidikan yang dirasakan memberi efek positif bagi anak-anak. Dengan menerapkan di siplin positif di sekolah, di rumah maupun tempat lain diharapkan anak-anak mampu :  mengembangkan perilaku positif yang bertahan untuk jangka panjang mengembangakan kemampuan untuk mengelola diri dan tahan terhadap godaan/kesulitan mengembangkan motivasi internal dengan pembiasaan sejak dini.  Ketiga hal tersebut dapat dibentuk dengan membangun sebuah komunikasi yang positif antara guru-murid atau orangtua-anak. Komunikasi yang positif ditandai dengan saling memanusiakan hubungan sebagai salah satu pondasinya.  Definisi Memanusiakan Hubungan Istilah memanusiakan hubungan sendiri diadaptasi dari kata “characterized” yang definisinya adalah “describes characters or quality of …” (Merriam Webster) atau “describe the nature or features of …” Dalam konteks sebuah interaksi dan komunikasi, memanusiakan hubungan berarti menyadari bahwa setiap pribadi memiliki keunikan. Dalam setiap keunikannya, setiap pribadi memiliki harapan dan layak mendapatkan kepercayaan. Dengan sebuah interaksi yang memanusiakan hubungan, anak-anak akan mampu menumbuhkan rasa :  Saya baik  Mampu melakukan hal baik  Saya bisa dipercaya dan Mampu menguasai diri  Saya mampu menyelesaikan masalah  Dan saya memiliki solusi  Saya dapat berkontribusi  Guru/orangtua mempunyai peran penting dalam proses memanusiakan hubungan, antara lain dengan :  mengenali karakter, keunikan dan kebutuhan setiap anak  menghargai ide/gagasan/ inisiatif/kebutuhan mereka  memfasilitasinya dengan menemukan sebuah kesepakatan bersama  Contoh nyata antara lain: membuat kesepakatan di kelas, membuat kesepakatan di area bermain serta kesepakatan menggunakan gawai.  Komunikasi positif adalah wujud dari upaya memanusiakan hubungan. Hal ini menjadi pondasi dalam menerapkan disiplin positif di sekolah, rumah maupun tempat lain.  Setelah peserta diskusi membaca materi yang disampaikan, Moderator memberi kesempatan pertama bertanya kepada Guru Adelia.  Keresahan Guru dalam Penerapan Disiplin di Sekolah Pak Syarifuddin: ‘’ Jika ada perbedaan kesepakatan antarmurid saat mencari kesepakatan. Bagaimana cara mengatasinya?  Narasumber: “Yuk simak panduan membuat kesepakatan kelas berikut:  1. Berupa pernyataan positif yang fokus pada hasil jangka panjang2. Batasi jumlah peraturan, utamakan yang menyangkut hubungan antaranggota kelas (3-5 poin)3. Libatkan murid sejauh mungkin dalam membuat kesepakatan kelas4. Implementasi kesepakatan kelas tidak perlu terburu buru5. Jika ada yang melanggar, harus segera ditindaklanjuti6. Refleksi dan tinjau kembali bila perlu ubah aturan yang tidak berfungsi Sudirman: ‘’Bagaimana cara mengukur ketercapaian berhasilnya  penanaman kedisiplinan peserta didik pada sekolah yang memiliki murid banyak. Apa saja indikatornya?’’  Narasumber: Ada di poin 6 dalam panduan membuat kesepakatan kelas, Refleksi bersama murid sangat diperlukan secara berkala. Bisa disepakati setiap bulan atau setiap dua bulan. Atau saat aturan2 itu sudah terlihat kendor dilakukan anak-anak Dhani : “Bagaimana apabila kesepakatan telah dibuat tetapi masih dilanggar oleh beberapa murid?” Narasumber : Saat membuat kesepakatan, harus ditentukan juga konsekuensinya.  “Jika ada yang melanggar bagaimana ya?”“Kalau ternyata kamu yang melanggar kesepakatan kita, apa yang kamu akan lakukan?” Kisah Praktik Disiplin Positif Narasumber di Sekolah Di kelas kami, ada kesepakatan menahan kaki dan tangan untuk dirinya sendiri. Kesepakatan tersebut berisi 1. Menahan diri dari memukul teman lain secara sengaja2. Menahan menendang teman3. Menahan diri dari menjahili teman secara sengaja  Jika melanggar  1. Segera meminta maaf 2. Mengobati dan menghibur teman yang tersakiti 3. Tidak diajak bermain jika belum bisa menahan diri Di sekolah pernah ada perselisihan dua murid sehingga mereka saling dorong dan menyebabkan pelipis salah satu anak berdarah kena lantai.  Yang kami lakukan, mengobati anak yg terluka dan merangkul si pelaku. Apapun masalah yg terjadi pada anak, pasti ada kisah di balik itu, anak2 perlu dibantu untuk menyelesaikannya bukan sekedar diberi sanksi / hukuman.  Jadi kami mencari tau cerita dari versi pelaku dan cerita dari versi korban. Membantunya mencari solusi dan mengobati sakit fisik dan sakit hati diantara mereka. Kalau perlu menanyai juga saksi2 yang melihat kejadian.  Konsekuensi yang akan dikenai ke mereka pun, harus datang dari mereka(pelaku dan korban) juga.  Supaya saat mereka menjalani konsekuensi itu, mereka belajar terhadap perilakunya  Musbah: ‘’Bagaimana cara menerapkan Disiplin Positif di kelas secara menyeluruh jika ada beberapa murid yang selalu melanggar, meskipun telah diperingati dsb tetap melakukan pelanggaran sehingga teman sekelasnya yang lain protes? Narasumber: ‘’ Lakukan refleksi lagi kesepakatan bersama di kelas, mana yang masih relevan dan mana yang tidak’’  Kalimat Penutup Narasumber ‘’Penerapan Konsekuensi logis hendaknya melibatkan murid dengan melakukan refleksi sehingga murid menyadari sendiri kesalahan dan cara memperbaikinya’’  Moderator menutup diskusi dengan mengajak peserta membuat Refleksi. Serta ucapan Terima Kasih kepada Narasumber & Peserta. Masih penasaran dengan penerapan Disiplin Positif? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 16 Unduh Gratis Disiplin Positif PDFKlik

Video Guru Merdeka Belajar – Pendidikan yang Lebih Unggul

Video Merdeka Belajar menjadi hal yang kami perbincangkan pada Senin, 30 September 2019. Mengikuti satu kegiatan Komunitas Guru Belajar (KGB) yang merupakan bentuk dari sosialisasi sebuah Komunitas, seyogyanya kegiatan berbentuk Nonton Bareng (Nobar) Video Guru Merdeka Belajar ini dilaksanakan pukul 09.20 – 11.00 WIB. Tapi berhubung karena bersamaan dengan Kegiatan Tengah Semester (KTS) beberapa teman guru mengikutinya secara bergantian karena menyelingi KTS tersebut, sehingga durasi jadi terasa lebih Panjang. Menggerakkan Guru di Karo Sumatra Utara Kegiatan saya buka sendiri karena di Karo belum ada KGB dengan menyampaikan tujuan kegiatan Nobar hari ini, harapan saya setelah menyaksikan video tentang Guru Merdeka Belajar ini akan ada guru penggerak-penggerak selanjutnya yang senantiasa akan saling mendukung. Kemudian saya sebagai pemandu meminta pendapat awal dari 3 temanguru tentang “Apa itu Merdeka Belajar?”. “Merdeka itu tidak terikat dan variasi biar gak bosan” Yang lain berpendapat bahwa “Merdeka Belajar itu bebas tapi masih dalam koridor RPP”. Lalu yang lain lagi mengungkapkan bahwa “Merdeka Belajar itu bebas. Bebas memberikan pendapat, memberi jawaban, tidak didikte dan tidak dituntut. Sesi awal ini peserta nobar hanya bisa berpendapat. Lalu dilanjut dengan sesi pemutaran video guru merdeka belajar. Tampak pada layar bu Najelaa Shihab dengan tampilan yang sederhana. Beliau mengatakan bahwa tidak ada yang lebih ekspresif dibanding anak-anak. Pernyataan bu Najelaa sangat benar. Mendengar ini peserta mulai terlihat semakin serius. Mereka meminta video guru merdeka belajar untuk dibagi ke grup wa sekolah atau wa pribadi, dengan alasan supaya bisa diulang-ulang di rumah. Menarik, respon yang lumayan bagus meski suara Bu Najelaa kadang-kadang menghilang di tengah suara peserta didik yang lumayan hilir mudik di depan kantor karena lomba vokal grup bertempat di sekitar kantor. Namun, kata-kata Bu Najelaa tentang anak-anak yang merdeka belajar yang memiliki aspirasi setinggi langit seperti menggugah hati teman guru sehingga mereka mulai tampak semakin menyimak setiap kata yang diucapkan ibu Najelaa. Merdeka belajar pada peserta didik hanya akan terjadi pada saat anak-anak punya kemerdekaan belajar. Kemerdekaanbelajar peserta didik hanya akan terjadi pada saat pendidik atau guru juga memiliki kemerdekaan. Refleksi Para Guru Deg, rasanya di jantung. Sudahkah selama ini menjadi guru/pendidik yang merdeka? Banyak tanya menggelayuti. Walaupun sebenarnya saya sendiri belum paham betul apa yang dimaksud merdeka belajar. Pendapat saya masih sama seperti pendapat 3 teman guru di atas. Peserta lainpun sudah semakin serius menyimak setiap kata yang disampaikan hinggavideo guru merdeka belajar selesai. Lalu masuk ke sesi refleksi, ada 5 pertanyaan yang harus kami jawab tentang merdeka belajar. Pertanyaan pertama,”Di antara miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri anda?” Salah satu di antara kami menyatakan “Selama ini menurut saya kita harus belajar sama yang sudah ahli, ya bu De” Rata-rata jawaban secara umum begitu. “Lalu kalau tidak ada yang ahli, apa kita jadi berhenti belajar?” tanya saya. Serentak meskipun lirih mereka menjawab “Ya tidak lah,” dan kami pun meluruskan miskonsepsi itu. Belajar tidak harus menunggu keberadaan sang ahli, terkadang yang kita sebut sebagai ahli hanya mampu secara teoritis tapi tidak pada praktiknya. Seorang ahli atau pakar kadang hanya melihat di lingkungannya, sementara hal itu bisa jadi tidak sama dengan kondisi di lingkungan yang lain. Kita para guru, kitalah yang mengetehui permasalahan anak didik kita. Jadi kita (guru) lah yang menemukan cara yang cocok dalam mengajar, apa dan bagaimana praktik baik di dalam kelas untuk setiap pokok bahasan. Jadi tidak harus ada penyeragaman. “Iya kan,” celetuk salah satu teman guru. Diskusipun berlanjut hingga kami menemukan kesepakatan bahwa belajar butuh waktu, belajar tidak bisa dipaksakan mengejar target kurikulum, belajar harus memberi efek perubahan bagi peserta didik ke arah yang positif. Kompetensi peserta didik harus tumbuh dari lingkungan bukan secara individu. Ciri Guru Merdeka Belajar Pertanyaan kedua saya bacakan, “ciri guru merdeka belajar adalah komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar dan melakukan refleksi. Apakah Anda setuju dengan pernyataan tersebut? Apa alasannya?”. “setujuuuu, jawab mereka kompak. Bu Peber memberi alasan, kita memang harus komitmen pada tujuan, seperti maksud dari pemaparan Bu Najelaa Shihab bahwa guru merdeka belajar itu harus paham mengapasebuah materi itu perlu diajarkan dan apa kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, agar peserta didik merasa materi yang dipelajari ini bermakna untuk dirinya dan mampu menumbuhkan motivasi secara instrinsik bahwa belajar itu memang perlu. Guru Merdeka Belajar itu mandiri, selalu bersemangat menyelesaikan setiap tantangan, tidak mudah menyerah dan menyalahkan orang lain atau keadaan. Guru merdeka belajar harus bisa melakukan refleksi, berani meminta umpan balik secara aktif dan menilai diri sendiri secara subjektif. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Pertanyaan ketiga untuk sesi refleksi ini adalah “Apakah Anda ingin menjadi Guru Merdeka Belajar? Apa Alasannya?”, “mauuuuu” lagi-lagi mereka menjawab serentak. “Hanya saja kadang-kadang kami kehilangan semangat, kadang-kadang lagi mood baik kami lakukan praktik baik pembelajaran sehingga belajar menjadi bermakna tapi kadang-kadang kami bad mood. Sambil tersenyum salah seorang dari teman guru menjawab, dan yang lain angguk-angguk tanda setuju bahwa yang dialami adalah sama. Tapi kami mau kok menjadi Guru merdeka belajar dan kami perlu waktu untuk itu. Kami harus merubah mindset kami tentang belajar dan peserta didik. Kami akan mencoba mencari solusi dari permasalahan tentang peserta didik ketimbang menyalahkan mereka. Mudah-mudahanseiring berjalannya waktu kami pun akan menjadi guru merdeka belajar”. Ungkap Bu Meini. “Sip, beri tepuk tangan untuk diskusi hari ini, seru ya”, kata saya memberi semangat kepada Bu Meini dan peserta yang lain, meskipun yang tepuk tangan hanya saya. Masuk pertanyaan keempat “Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa perubahan yang ingin Anda lakukan di kelas?”. “Kami akan memulai dengan menata kelas, berdialog dengan peserta didik tentang aturan kelas, membuat ice breaking di sela-sela pembelajaran agar tidak bosan, mencoba melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan dan tidak lupa mengadakan refleksi di akhir pembelajaran”. Guru Merdeka Belajar, Guru yang Mengembangkan Diri Pertanyaan terakhir, “Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa pengembangan diri yang ingin Anda lakukan Bersama Komunitas Guru Belajar?”, “Kami ingin belajar menulis, kami ingin bisa menulis PTK sendiri” Kata salah seorang peserta. “Hmmm, bagus sekali itu Bu”, jawab saya. Akhirnya sebagai penutup sesi saya mengulas sedikit bahwa guru merdeka belajar adalah guru yang berkomitmen pada tujuan belajar, mengetahui kenapa melakukan sesuatu dan apa manfaatnya serta bagaimana cara mengaplikasikan hasil belajar tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari sehingga peserta … Read more