Membahas Asesmen Kompetensi Minimum

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim memastikan Ujian Nasional (UN) ditiadakan. Kemudian diluncurkan Asesmen Kompetensi Minimum dan survey karakter. Asesmen Kompetensi Minimum dan survey karakter bukanlah pengganti UN, karena memiliki tujuan yang berbeda dari UN. Asesmen ini akan menilai kompetensi literasi dan numerasi. Selain asesmen kompetensi, juga akan memberlakukan konsep survei karakter. Survei karakter ini digunakan untuk mengetahui karakter anak di sekolah. Untuk mengetahui ekosistem di sekolahnya bagaimana implementasi gotong-royong. Serta Survei itu, digunakan untuk menjadi tolok ukur supaya sekolah-sekolah memberikan umpan balik bagi kegiatan pembelajarannya. Selama ini  murid selalu dikejar-kejar dengan tuntutan prestasi dengan berbagai tekanan untuk mencapai nilai tinggi, selalu dibayangin keresahan dan  rasa takut untuk tidak lulus pada hasil ujian sehingga berbagai cara dilakukan untuk mendapatkannya. Tekanan itu bukan hanya dirasakan oleh murid saja tetapi juga guru karena menginginkan agar muridnya memperoleh nilai yang tinggi dan dinyatakan lulus. Hal senada disampaikan oleh Pak Ari Wibowo dari Cerita Guru Belajar yang menjadi Narasumber pada TPD KGBN Jeneponto dengan topik NGOPI (Ngobrol Pintar) Asesmen Kompetensi Minimum yang dipandu oleh Bu Ninik Angraeni penggerak KGBN Jeneponto. Pak Ari mengawali materinya dengan menyampaikan pertanyaan Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Pendidikan Kita? Dari pertanyaan tersebut tergambar bahwa yang banyak terjadi adalah masih banyaknya miskonsepsi belajar mulai dari miskonsepsi di ruang belajar, strategi pembelajaran yang berdasar target, asesmen pembelajaran yang berorientasi sumatif. Pada kesempatan ini Pak Ari mengupas habis mengenai konsep merdeka belajar di ruang kelas, pembelajaran berorientasi pada murid dan asesmen berorientasi diagnosis dan formatif. Lanjut Pak Ari, pada kesempatan ini juga menyampaikan perbandingan antara UN dan AN baik dari segi tujuan, aspek yang dinilai, jenis responden, penentuan responden, level responden, penentuan butir soal serta bentuk laporan. Pada UN bertujuan menjadi Penentuan kelulusan murid dan menjadi Pemetaan kualitas satuan pendidikan dan daerah. Aspek yang dinilai berfokus pada Penguasaan konten dari mata pelajaran yang diajarkan, murid menjadi responden tunggal yang ditentukan melalui sensus sekolah dan murid, yang pelaksanaannya pada murid tingkat akhir di setiap tingkatan, semua murid memperoleh bobot soal yang sama,bentuk laporan berdasar capaian murid. Sedangkan pada AN bertujuan Pemetaan kualitas satuan pendidikan dan daerah, Aspek yang dinilai Penguasaan kompetensi literasi dan numerasi, Penguasaan kompetensi sosial emosional yang tercakup pada Profil Pelajar. Baca Juga: Siap AN, Siap Berubah? Pancasila melalui survey karakter, Kualitas proses belajar di sekolah melalui survey lingkungan belajar, respondennya murid, guru dan kepala sekolah yang ditentukan melalui Sensus sekolah, sensus guru dan kepala sekolah, serta survei murid (sampling) level responden yakni murid Kelas 5, 8, 11, penentuan butir soal Murid mendapat butir soal yang disesuaikan atau bersifat adaptif (khusus AKM) serta bentuk laporannya tidak ada capaian murid dimana Capaian sekolah dibandingkan tahun sebelumnya. Pada sesi diskusi dan tanya jawab, salah satu peserta yakni Pak Syam menyampaikan kaitannya dengan penerapan asesmen nasional di kalangan teman-teman guru di Jeneponto masih banyak ditemukan miskonsepsi mengenai asesmen nasional dimana masih banyak guru yang beranggapan bahwa AN masih sama dengan UN yang akan menjadi penentu kelulusan murid, Bagaimana mengubah pemikiran guru yang selama ini sudah menjadikan kebiasaan mendrilling murid dengan soal-soal yang dibuku? Jawab Pak Ari, Untuk berubah memang butuh tantangan yang cukup berat dimana kita akan melalui jalan terjal dan berliku, tetapi itu bukan sebuah halangan untuk guru berubah. Pemerintah saja melakukan transformasi besar-besaran untuk sebuah perubahan. Olehnya itu Sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah dan Guru didorong untuk melakukan kolaborasi untuk berubah. Dengan asesmen nasional miskonsepsi yang ada kita harus tinggalkan secara menyeluruh karena hasil AN bukan menjadi penentu kelulusan tetapi dikembalikan ke sekolah sebagai potret kualitas hasil pembelajaran murid di Sekolah, olehnya itu Sekolah dituntut  untuk terus melakukan terobosan berupa inovasi untuk capain mutu pembelajaran. View this post on Instagram A post shared by Kampus Guru Cikal (@kampusgurucikal) Pertanyaan berikutnya dari Pak Murdin Guru SMK. Mengapa AN diterapkan?. Lanjut Pak Ari Menjawab, Kenapa AN diterapkan karena kita ingin terhubung dengan sistem pendidikan global dengan model asesemen yang diterapkan. Pada kesempatan ini hadir pula membersamai teman guru Jeneponto ketua KGBN Pak Usman dengan memberi semangat belajar, Apakah Sekolah untuk hidup atau hidup untuk sekolah. Serta pada kesempatan ini peserta membangun komitmen bersama untuk SIAP AN, SIAP Berubah serta komitmen untuk terus belajar dan sesi ditutup dengan foto bersama. Ingin mengikuti program Siap AN, Siap Berubah?Klik tombol di bawah ini

Pemanfaatan Permainan Papan untuk Proses Belajar yang Bermakna

Bagaimana aktivitas belajar dengan bermain, yang bermakna itu? Kami dari Komunitas Guru Belajar Jeneponto hadir di Kecamatan Tarowang, Sabtu, 11 Januari 2020 dengan agenda pelatihan “Aktivitas Belajar Bermakna dengan Permainan Papan Jelajah Nusantara” yang merupakan rangkaian Program Playground of Ujung Pandang dari Sekolah Cikal & Kampus Guru Cikal, dalam pelatihan ini juka dilaksanakan pemberian permainan papan dari Cikal kepada guru-guru yang hadir. Pelatihan ini dibuka langsung oleh Korwil Kecamatan Tarowang Bapak Taufik,S.Sos,MM, dalam sambutannya beliau menyampaikan mengenai 4 kebijakan baru Mas Menteri dan kaitannya dengan Guru Merdeka Belajar. Belajar sambil bermain bukan hal yang baru dalam pembelajaran. salah satu permainan yang biasa dilakukan itu adalah permainan Monopoli, ular tangga, dan halma adalah permainan papan yang sudah dikenal sejak masih SD. Bahkan permainan Monopoli, ular tangga dan halma permainan yang telah ada sejak awal abad ke-20 ini sangat populer di Indonesia dan booming tahun 1970-1980-an. Permainan ini biasanya dilakukan hanya untuk mengisi waktu luang dan sekedar untuk bersenang-senang saja dan tidak bermakna padahal media permainan papan sebenarnya punya potensi untuk membangkitkan daya literasi. Untuk itu Komunitas Guru Belajar melalui Kampus Guru Cikal mengembangkan Permainan Papan sebagai media pembelajaran agar belajar bermakna dan salah satunya melalui aktivitas belajar bermakna dengan Permainan Papan Jelajah Nusantara. Pelatihan ini dimulai dengan arahan moderator Bu Ninik Anggraeni sambil melakukan sesi perkenalan dengan membuat kalimat berirama. Sesi berikutnya moderator mempersilakan pelatih Hadrawi yang biasa disapa Pak Awi untuk memulai kegiatan dengan dinamika kelompok untuk membagi peserta kedalam beberapa kelompok berdasarkan kecerahan warna pakaian. Kelompok yang sudah terbentuk kemudian dibimbing untuk membagi tugas dalam setiap kelompok. Sesi potret belajar S-I-P dimulai dengan Apa yang sudah anda ketahui tentang belajar dan Apa yang ingin anda ketahui tentang belajar dengan bermakna dan tiap kelompok mempresentasikan S dan I. Peserta kemudian diberi kesempatan untuk memaparkan, Pak Suaib menyampaikan “Saya masih membutuhkan bimbingan mengajar yang bermakna, masih merasakan bingung mengenai belajar dengan bermain yang bermakna.” Peserta lain, Pak Mansyur bertanya “Bagaimana guru mengajar sambil bermain yang bermakna, Bagaimana cara saya membuat inovasi belajar sambil bermain dengan bermakna” Sesi dilanjutkan dengan diskusi desain pengajaran dengan puzzle desain pengajaran dan tiap kelompok mempresentasikan desain pengajaran yang sudah dirancang dalam tiap kelompok. Berlanjut dengan penggunaan Permainan Papan Jelajah Nusantara dalam permainan ini kami bagi dalam 2 sesi bermain, sesi pertama juru bicara dalam kelompok ditugaskan untuk membaca petunjuk permainan selama  5 menit selanjutnya juru bicara memberikan arahan permainan dalam kelompoknya berdasar petunjuk permainan. Pada sesi pertama para pemain masih terlihat kebingungan bagaimana memainkan papan permainannya ada yang membagi rata kartu, ada yang menghambur kartu diatas meja permainan dan berbagai keseruan lainnya. sesi pertama diakhiri dengan meminta peserta menyampaikan problem yang dihadapi pada saat bermain dengan papan permainan dengan memberikan tanggapan terhadap pemandu pertama. Ibu Kasma pada sesi pertama menyampaikan tentang kurangnya penyampaian dari juru bicara, kurang membaca petunjuk, sedangkan Ibu Pariah menyampaikan kalau pemandu dalam membaca petunjuk tidak sesuai urutan petunjuk permainan. Pak Irpan Jaya menyatakan masih bermasalah dari juru bicara yang tidak tuntas dalam memberikan petunjuk bermain. Sesi bermain kedua dimulai dengan meminta tiap kelompok  untuk berbagi tugas dengan juru bicara yang baru dengan bimbingan pelatih Pak Awi dan Pak Syam permainan dimulai berdasar petunjuk permainan yang ada pemandu kedua membaca buku petunjuk sesuai urutan petunjuk permainan sehingga permainan lebih terarah dan pemain dengan mudah paham melakukan permainan. Usai permainan peserta melakukan refleksi, salah satunya dari Pak Mansyur yang menyatakan bahwa permainan ini menumbuhkan banyak nilai karakter dan sangat bermakna ketika dilakukan dalam pengajaran di kelas untuk menumbuhkan karakter murid. Unduh Permainan Papan Jelajah Nusantaraklik tombol di bawah ini

Bersenang-senang dalam Belajar, Apakah Tujuan Belajarnya Tercapai?

Saya sudah sering mengajak murid bersenang-senang di kelas.Tapi terkadang kok yang diingat murid hanya bagian senangnya,Tujuan belajar tidak tercapaiBagaimana ya? Jam baru menunjukkan angka 11.00 WITA namun kala itu cuaca sudah amat terik diikuti oleh angin yang kencang. Nampak sebuah mobil sedan AVANZA berwarna abu-abu sedang parkir di depan RuSun alias Rumah Susun, Ya RuSun menjadi basecamp sementara KGB Jeneponto selama kegiatan pelatihan dalam program “POPANG (Playground of Ujung Pandang)” berlangsung hingga selesai. Setelah semua barang keperluan kegiatan pelatihan diangkut ke atas mobil, kami pun akhirnya menuju ke lokasi pelatihan yang berjarak sekitar ± 20 KM, tepatnya di SD 13 Allu, Kecamatan Bangkala. Jumat, 06 Desember 2019 merupakan merupakan pelaksanaan pelatihan pertama “Aktivitas Belajar Bermakna dengan Permainan Papan” hal ini merupakan follow up dari kegiatan kelas Kompetensi CKOM014 pada kegiatan Temu Pendidik Nusantara 2019 Oktober lalu. Pelatihan tahap satu berbasis Kelompok Kerja Guru (KKG), sasarannya ialah guru SD kelas 4-6 yang berada pada KKG Gugus 1 Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto. Pukul 13.00 WITA nampak beberapa peserta sudah berdatangan, kami pun selaku pelaksana kegiatan mengarahkan para peserta yang sudah hadir untuk mengisi formulir pendaftaran dan daftar hadir pelatihan secara online dan berbasis Barcode. Ternyata banyak peserta yang belum memiliki aplikasi QR Barcode Scanner, sehingga mereka kami arahkan untuk terlebih dahulu mengunduh ataupun berbagi lewat aplikasi shareit, darn hal ini ternyata menguras waktu sekitar 30 menit, namun akhirnya semua peserta dapat melakukan presensi secara online. Total peserta yang mengikuti pelatihan tahap 1 ini ialah 63 orang. Pukul 14.00 WITA acara pun kami mulai. Berawal dari sambutan Pengawas Sekolah Gugus 1 Kec. Bangkala bapak H. Abdul Thalib, S.Pd., M.Pd. yang sekaligus akan membuka kegiatan pelatihan secara resmi. Dalam sambutannya, beliau sangat bersyukur dan berterima kasih dengan kedatangan KGB Jeneponto. Beliau berjanji akan mengikuti kegiatan hari ini hingga selesai. “Kita sangat bersyukur karena gugus kita didatangi oleh KGB, oleh karena ilmu itu sangat mahal, mendatangkan pemateri tidaklah mudah dan tentunya semua itu memerlukan biaya, namun pada hari ini kita sangat senang dan berterima kasih karena KGB mau berkunjung berbagi ilmu dan pengalaman secara cuma-cuma” ucap pak Thalib. Beliaupun memaparkan bahwa pemanfaatan teknologi khususnya android sangatlah urgent di era 4.0 ini.  Hal ini mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari peserta, hore. Acara pun dibuka secara resmi oleh bapak Thalib. Acara dilanjutkan oleh pak Syam Mahadi, S.Pd., M.Si. selaku salah satu pelatih dalam kegiatan tersebut. Pak Syam dengan suaranya yang khas mulai menyapa peserta pelatihan yang sudah sejak tadi sangat antusias. Pak Syam kemudian menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan “Ole-ole TPN 2019”. Dia pun menyampaikan bahwa KGB Jeneponto menerima bantuan board game dari Kampus Guru Cikal sebanyak 2000 yang kemudian akan menyasar dan dibagikan ke 250 guru SD yang ada di Kabupaten Jeneponto, termasuk bapak ibu guru yang hadir pada hari ini. Terdengar tepukan tangan yang meriah dari peserta, hore. Masuk pada sesi perkenalan peserta, kegiatan dipandu oleh Ibu Hasmawati Hafid, S.Pd. Dengan kaos merah dan kerudung merah sontak menarik perhatian para peserta. Bu Hasma pun memandu peserta untuk melakukan perkenalan yaitu dengan membuat 2 kalimat berirama seperti “Perkenalkan nama saya Hasmawati, saya tidak suka melatih”. Wah perkenalannya HOTS banget ya, haha. Peserta diberikan waktu untuk membuat kalimat perkenalan. Kini Pak Syam dan Bu Hasma berkolaborasi memandu kegiatan, diajaklah peserta yang menghafal 3-5 orang temannya. Salah seorang peserta kemudian menyebutkan nama teman yang sudah diajak berkenalan, pertama ada ibu Hatija yang di jalan suka hati-hati, pak Asis yang tidak suka krisis, ada ibu Sahriani yang jelas bukan saudaranya Syahrini, hiihii, ada pak Subair Tutu Sikatutuiki Ribajika (Saling menjaga dalam kebaikan), ibu Rahmawati yang suka mawar melati dan ibu Sunarti yang namanya punya arti. Arti apa ya, hehe. Sesi perkenalan akhirnya selesai dengan sangat menyenangkan. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.45 WITA, bu Hasma kembali memandu kegiatan dengan mengarahkan peseta mengisi format S dan I, S adalah apa yang peserta sudah ketahui tentang bermain yang bermakna dan I adalah apa yang ingin diketahui oleh peserta tentang bermain yang bermakna. Beberapa peserta nampak kebingungan pada aktivitas ini, namun berkat kerjasama KGB Jeneponto akhirnya semua peserta bisa menuliskan form S dan I yang kemudian ditempel pada kertas plano. Beberapa menuliskan bahwa yang mereka sudah pahami tentang bermain bermakna ialah bermain yang tidak hanya menyenangkan tapi tujuan tersampaikan, ada pula yang menuliskan bermain yang membuat murid senang, nyaman dan aktif dalam menerima pelajaran. Dan yang ingin diketahui peserta ialah tata cara penerapan belajar bermakna dengan bermain dalam kelas serta beberapa orang ingin mengetahui jenis-jenis permianan yang bisa digunakan dalam pembelajaran. Kegiatan dilanjutkan pada kesepakatan belajar. Semua peserta sepakat dengan apa yang sudah ditawarkan oleh pelatih dengan penambahan “No Smoking”. Setelah Kesepakatan belajar selesai, kami mengundang Kak Ommenk (sapaan akrab Pak Usman Djabbar) selaku Ketua KGB Nusantara untuk memperkenalkan tentang KGB. Kak Ommenk pun dengan gayanya yang kece tampil ke depan peserta memaparkan tentang KGB, tentang bagaimana literasi baca pada murid, pelibatan murid dalam pembelajaran, dan bagaimana penggunaan boardgame yang akan dilatihkan pada hari ini bisa membangun empati murid, serta bagaimana para guru bisa mengkritisi ataupun melakukan modifikasi pada permainan yang akan dibagikan nantinya. Tampak atensi peserta yang begitu antusias dengan penjelasan dari kak Ommenk. Waktu terus bergulir, setelah Ishoma acara kembali dilanjutkan. Namun sebelumnya peserta diberikan ice breaking oleh Bu Hasma dan Pak Syam, namanya “Cui Cui”, nampak peserta antusias dan kembali segar setelah melakukan ice breaking tersebut. Acara dilanjutkan dengan penentuan desain pembelajaran. Setiap kelompok diminta untuk menentukan desain melalui diskusi kelompok. Kelompok dari SD 13 Allu naik mempresentasikan hasil diskusi kelompok mereka, namun sebelumnya mereka menampilkan sebuah yel-yel. Pak Rasihun nampak begitu semangat memandu yel-yel kelompok mereka “Mana semangatmu, kahe, sekali lagi kahe, berkali-kali kahe kahe kahe” sambil mereka menggerakkan anggota badan ke depan, yel-yel yang sungguh unik dan menantang. Kemudian pak Rasihun perwakilan dari SD 13 Allu menyampaikan hasil diskusi kelompok mereka. Dia memaparkan bahwa dalam mendesain pembelajaran, hal yang paling utama ialah menentukan tujuan sebagai acuan dalam melakukan pengajaran, kemudian dilanjutkan dengan pemahaman terhadap murid. “Setelah penetapan tujuan, kita identifikasi kemampuan murid kita” ucak pak Rasihun, lalu kita tentukan strategi yang sesuai dengan kemampuan … Read more

Belajar dari Karaeng Pattingalloang

“Siapa yang pernah mendengar tentang Karaeng Pattingalloang?”“Beliau adalah salah satu Raja dari Kerajaan Gowa Tallo dan lahir pada tahun 1600-an. Beliau tokoh yang cinta pengetahuan. Mari coba Bapak Ibu, boleh cari info mengenai beliau di HP masing-masing” Kalimat ini disampaikan pada 15 November, saya Syamsuddin Mahadi diberi amanah menjadi pemateri pada kelompok kerja guru (KKG) gugus 1 Binamu di SDN No. 48 Bontosunggu Kota. Pada kegiatan KKG tersebut saya membawakan materi tentang papan permainan Jelajah Nusantara dan sekaligus melakukan sosialisasi Komunitas Guru Belajar Jeneponto. Kegiatan tersebut diikuti oleh 40 Guru yang tergabung dalam KKG Gugus 1 Binamu. Di awali dengan memperkenalkan boardgame Kareng Pattingaloang dan selanjutnya melakukan dinamika kelompok untuk membagi peserta dalam beberapa keompok kecil dan membimbing kelompok untuk berbagi peran atau tugas dalam setiap kelompok yang sudah terbentuk. Sebelum masuk pada dinamika kelompok kami melakukan aktivitas ice breaking dengan kata petunjuk “Hitung Mundur Bilangan Genap dan Ganjil”, dimana peserta diajak untuk konsentrasi dan memahami setiap petunjuk yang diberikan, hitung mundur bilang genap atau ganjil, satu orang akan menyebutkan 1 angka sesuai urutan yang disepakatilevel 10 dari angka 10-1level 20 dari angka 20-1 dst.Peserta membentuk lingkaran besar lalu diberi instruksi dimulai dari kata konsentrasi sambil bertepuk tangan. Level 10, hitung mundur bilangan genap 10-8-6-4-2, atau hitung mundur bilangan ganjil 9-7-5-3-1. Dari petunjuk ini maka setiap orang akan menyebut salah satu angka dari urutan tersebut Setelah itu setiap kelompok diberikan penjelasan mengenai tugas dan tanggung jawab dalam kelompoknya dan yang bertugas sebagai juru logistik di masing-masing kelompok diperintahkan untuk mengambil papan permainan yang sudah disiapkan. Selanjutnya yang bertugas sebagai juru bicara ditugaskan untuk mempelajari petunjuk permainan dan melakukan permainan berdasar petunjuk permainan yang ada dalam kegiatan awal permainan ternyata kelompok pada umumnya tidak mengikuti petunjuk permainan dan di situlah awal keseruan dan kehebohan permainan ini karena ada kelompok yang hanya membagi rata kartunya menganggap permainannya sudah selesai. Pada sesi berikutnya dengan petunjuk dan arahan pemateri dan teman KGB yang menyempatkan hadir dalam kegiatan KKG, permainan semakin terarah dan setiap kelompok semakin paham dan mengerti bagaimana bermain papan permainan Jelajah Nusantara. Di akhir sesi kita membuat simpulan mengenai papan permainan dan kaitannya dengan pengajaran, aktivitas literasi serta karakter yang terbentuk dari permainan papan.  Pandangan Ketua KKG ibu Marhaeni Baso, S.Pd. “Terkait dengan papan permainan Karaeng Pattingalloang sungguh luar biasa karena dapat memotivasi kita untuk meningkatkan minat belajar, mengidentifkasi nilai-nilai karakter yang terbangun dari permainan tersebut.” Ibu Sudiarti, S.Pd. pun menyatakan “Permainannya sangat seru dan sempat bingung bagaimana cara memainkannya karena awal memainkan tidak membaca petunjuk permainan.” Dari pelatihan ini guru bisa belajar menggunakan permainan papan, mengajak murid memahami tujuan belajar dan nilai-nilai yang dipetik dari karakter yang ada. Anda pernah juga menggunakan permainan papan untuk pengajaran di kelas? Unduh Permainan Papan Jelajah Nusantaraklik tombol di bawah ini

Bermain Sambil Belajar, Perlukah?

Bermain sambil belajar. Hal ini sering dianggap sebagai solusi untuk agar tertarik belajar. Sebelum kita bahas lebih lanjut, yuk lihat percakapan berikut:A: “Si W ternyata setiap pulang sekolah kalau tidak ke warnet gim, ya ke rental playstation, pantas nilainya turun”B: “Lhah kalau Si X, Y, Z kata orangtua si X kalau di rumah suka main game di HP bersama di teras sampai maghrib, kewalahan buat memberi tahu”A: “Pantas nilai mereka turun, kapan belajarnya “ Familiar dengan percakapan ini?Kita mungkin pernah menyimpulkan bahwa murid lebih mementingkan hobi, atau bahkan bermain dibanding sekolahnya. Lalu guru tertentu justru menjadikan hobi murid, dan bermain sambil belajar sebagai media atau sumber belajar. Seperti yang bisa dilihat pada kolom komentar post instagram.com/kampusgurucikal ini View this post on Instagram A post shared by Kampus Guru Cikal (@kampusgurucikal) on Nov 3, 2019 at 4:19am PST Dari kolom komentar kita dapat temui guru yang bercerita pernah membahas permainan kesukaan murid, dan bahkan mengajak murid bermain sambil belajar di kelas. Namun sebenarnya perlukah kita memakai permainan di dalam kelas saat proses pengajaran? Pada Temu Pendidik Nusantara 26 Oktober 2019 yang lalu. Kampus Guru Cikal menyajikan topik “Aktivitas Belajar Bermakna Melalui Permainan Papan”. Kelas ini menjadi salah satu kelas kompetensi yang bisa dipilih peserta. Ada 27 orang termasuk 6 orang guru Jeneponto dari Program Playground of Ujung Pandang menjadi peserta kelas ini. Kami belajar mengurai miskonsepsi belajar melalui permainan. Belajar sambil bermain. Kita juga belajar menyusun pengajaran bermakna melalui permainan papan Jelajah Nusantara Edisi Ujung Pandang. Kelas ini dipandu oleh 2 orang pelatih, Guru Maman Basyaiban dan Guru Hadrawi. Guru Maman dari Kampus Guru Cikal sedangkan Guru Hadrawi dari Komunitas Guru Belajar Regional Sulawesi Selatan. Agar membangun keakraban antarpeserta yang juga berasal dari berbagai daerah. Di sesi awal pelatih mengajak bermain peserta melalui berkenalan dengan menyusun kalimat berima. “Perkenalkan nama saya Maman, saya suka menyiram tanaman”. Setelah mencari diksi yang tepat untuk kalimatnya, peserta “berburu.” Apa yang diburu? Peserta berburu untuk berkenalan satu sama lain. Muncullah kalimat seperti “Nama saya Misbah yang tetap Tabah”. Adapula “Saya biasa dipanggil Joko, dan saya orang jowo” dll. Usai perkenalan dan pembagian kelompok. Kelas dilanjutkan dengan drama dua cara pengajaran bermain sambil belajar dengan Tema Jual Beli. Peserta berperan sebagai murid, pelatih sebagai guru. Tidak hanya bertindak sebagai murid, peserta akan mendiskusikan perbedaan pengajaran 1 dan pengajaran 2 dari sudut pandang murid. Saat pengajaran satu, guru mengajak murid bermain sambil belajar. Permainan dilakukan dengan bernyanyi lagu Naik Delman membentuk lingkaran. Sembari lagu dinyanyikan kartu bergambar barang-barang yang dijual di pasar diedarkan. Barang kemudian berpindah tangan antarmurid. Saat lagu berhenti maka kartu yang dipegang adalah kartu yang didapat murid. Guru kemudian mengajak murid menulis barang yang didapat sesuai gambar di kartu. Guru meminta murid secara acak untuk segera mengumpulkan tugas dengan batasan waktu 3 menit. Berpindah ke pengajaran 2. Guru membuka kelas dengan menanyakan aktivitas apa yang sering dilakukan saat di rumah. Murid menyebutkan berbagai aktivitas dari bermain, berkumpul keluarga, hingga dimintai tolong orang tua. Obrolan guru murid ini berlanjut pada topik membantu orangtua, hingga guru mengajak murid melakukan bermain sambil belajar. Permainan dilakukan dengan kartu membantu orangtua belanja. Pemain harus menghapal daftar belanjaan dari kartu yang teks dan gambarnya berbeda. Selesai permainan guru mengajak murid mendiskusikan. “Apa yang sulit saat berbelanja dalam permainan?” Murid mengatakan lupa daftar belanja. Guru pun meminta murid berdiskusi bagaimana tips agar bisa belanja dengan baik. Beragam jawaban dipresentasikan oleh murid. Dari mengucap berulang, fokus, membawa catatan, membawa contoh barang dll. Guru dan murid memberikan umpan balik atas jawaban yang muncul. Setelah mengalamai dua cara pengajaran dengan permainan. Peserta pelatihan mengidentifikasi perbedaan dari pikiran, perasaan, perilaku murid. Peserta pun menyatakan bahwa cara pengajaran 1 bagian seru hanya di awal saat menyanyi. Namun pengajaran 1 saat penugasan tidak dikoreksi. “Guru memburu-buru pengerjaan tugasnya jadi kadang takut.” “Tugas akhirnya hanya begitu saja.” Sedangkan di pengajaran 2 permainan mengajak murid merasa tertantang. Murid boleh berpikir menemukan cara sendiri untuk solusi permasalahan yang ada sehari-hari. Peserta menyepakati bahwa pengajaran nomor 2 adalah pengajaran dengan bermain yang bermakna. Kelas berlanjut dengan diskusi bagaimana desain strategi belajar dengan permainan yang bermakna. Peserta menyusun puzzle kanvas desain pengajaran. Puzzle disusun di kelompok masing-masing kemudian dipresentasikan. Diskusi begitu dinamis. Beberapa peserta menyusun sambil berargumen dengan memaparkan struktur RPP. Adapula yang mengurutkan dengan alur aktivitas yang biasa dilakukan saat merancang RPP. Di tengah diskusi, bapak Nadiem Makarim. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Datang mengunjungi kelas kami. Beliau ingin mendengar apa yang dirasakan para guru di daerah masing-masing.”Ketika harus mengurus berkas ke provinsi, kadang harus meninggalkan kelas, karena jarak dari sekolah ke provinsi sampai lebih dari 3 jam, belum lagi jika mengurusnya tidak bisa sehari jadi.” Ujar Guru Vivi dari Pesisir Selatan. Dengan antusias kami kemudian melakukan foto bersama. Ada peserta yang mengatakan “Saya pasang foto ini di medsos, kemudian diberi komentar, jadi orang Jeneponto pertama berfoto dengan Mas Menteri yang baru dilantik”. Belajar Memandu Permainan Papan menjadi topik selanjutnya. Peserta mempelajari panduan permainan. Secara bergantian mencoba menjadi pemain dengan pemandu yang berbeda antarkelompok. Pada percobaan pertama beberapa pemandu nampak langsung mengeluarkan semua komponen permainan papan dan menjelaskannya. Peserta tampak menunggu, karena permainan tidak segera dimulai. Pada percobaan kedua, semakin banyak pemandu yang fokus mengikuti alur yang ada pada panduan pemainan. Selesai bermain kami melakukan refleksi. Kondisi apa yang membingungkan peserta? Penjelasan seperti apa yang akhirnya membuat paham? Salah satu peserta mengatakan “Tadi saya bingung, karena melihat pemandu membolak-balik komponen, mengeluarkan semuanya, namun belum dipakai. Pemandunya bingung pemainnya ikut bingung. Sedangkan kami jadi paham ketika pemandu tidak buru-buru dan menjelaskan alurnya satu persatu.” Kami kemudian membuat simpulan Tips Memandu Permainan Papan dengan tabel tampak seperti dan tidak tampak seperti. Selesai sesi memandu permainan papan, peserta menanyakan lebih lanjut tentang permainan papan Jelajah Nusantara. Kita membahas tentang ilustrasi yang dibuat murid-murid Cikal, serta tokoh yang ada dalam permainan. Guru Syam, peserta dari Jeneponto ikut berbicara “Kami orang Sulawesi jadi tahu, tentang Karaeng Pattingalloang, ternyata ada raja dari Gowa-Tallo yang cinta pengetahuan, tadi saya juga mengabarkannya lewat chat ke teman-teman guru yang lain tentang tokoh ini.” Permainan ini menjadi media yang dibongkar … Read more

Apa Arti Merdeka Belajar?

“Apa sih arti Merdeka Belajar itu?”Pertanyaan yang muncul dari rasa penasaran saya setelah membaca frasa “Merdeka Belajar”. Saya mendapat informasi mengenai Pelatihan Guru Merdeka Belajar yang dilaksanakan di Kota Makassar dimana akan dibahas Arti Merdeka Belajar. Info pelatihan pada Sabtu 14 September 2019 tersebut, saya peroleh dari Story Whatsapp salah seorang teman. Agar memahami apa arti merdeka belajar. Akhirnya saya pun mengikuti pelatihan tersebut dengan menempuh jarak ±120 km. Menggunakan sepeda motor dari Kabupaten Jeneponto tempat saya tinggal dan mengabdi sebagai seorang guru honorer di sekolah menengah negeri.  Setelah mengikuti pelatihan tersebut, akhirnya saya memahami bahwa Merdeka Belajar memiliki 3 dimensi : 1. Komitmen pada tujuan, 2. Madiri pada cara, 3. Refleksi. Selain itu saya juga megetahui tentang adanya Komunitas Guru Belajar yang diinisiasi oleh Kampus Guru Cikal Jakarta. Komunitas Guru Belajar (KGB) ini sendiri sudah tersebar di lebih dari 145 daerah di seluruh Indonesia, guru belajar bersama berbagi praktik pengajaran untuk mencapai cita-cita bersama. Egois namanya ketika seorang pendidik seperti saya telah mendaptkan ilmu baru namun pelit untuk membagikannya ke sesama, olehnya saya sangat tergerak untuk bisa membagi ilmu dan pengetahuan saya mengenai KGB dan Merdeka Belajar kepada rekan-rekan pendidik di sekolah saya. Mengenal Komunitas Guru Belajar “Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”, seperti itulah bunyi sebuah pepatah yang menginisiasi saya untuk melakukan kegiatan nonton bareng Merdeka Belajar. Hingga sepakatlah saya dengan guru-guru SMP Negeri 1 Arungkeke untuk melaksanaknnya pada Jumat, 4 Oktober 2019 di SMP Negeri 1 Arungkeke, Kabupaten Jeneponto sebagai langkah awal mengenalkan tentang Komunitas Guru Belajar dan konsep Merdeka Belajar. Segala sesuatu pun saya siapkan dibantu oleh rekan guru dari sekolah lain yaitu Muh. Akbar Adnan (Guru IPA SMPN 1 Tarowang) dan dibimbing oleh Pak Maman Basyaiban (sapaan akrab bapak Muhammad Abdurrahman) dari Kampus Guru Cikal Jakarta melalui Whatsapp. Acara nobar ini berlangsung selama ±90 menit. Diawali dengan pembukaan oleh saya sendiri, menceritakan sekilas tentang KGC dan KGB. Mengajak peserta untuk mengisi daftar hadir online. Hingga akhirnya sebelum masuk pada acara inti yaitu nobar, saya melontarkan sebuah pertanyaan “Mendengar frasa Merdeka Belajar, apa yang timbul dalam pikiran bapak ibu?”. Salah seorang peserta menjawab “Arti Merdeka Belajar adalah Belajar tanpa tekanan” (Ibu Rahmawati Salim, guru mapel Bhs. Indonesia). Kembali seorang staff berpendapat “Arti Merdeka Belajar yaitu Belajar kapan dan di mana saja”. Sementara guru mapel SBD, Hj. Nuryanti Bahar menjawab bahwa Merdeka Belajar berarti bebas belajar. Sungguh jawaban yang luar biasa dari rekan-rekan guru. Ahirnya saya pun mengajak mereka untuk nobar video Merdeka Belajar. Video diawali dengan munculnya ibu Najelaa Shihab memberikan statement “Selalu tidak enak bicara sesudah anak-anak karena saya yakin tidak ada pembicara yang lebih baik dan lebih ekspresif dibandingkan anak-anak yang sudah tampil tadi”. Melihat dan mendengar hal ini ternyata menarik perhatian peserta yang hadir hari itu, mereka begitu Nampak serius menyaksikan video tersebut, beberapa pernyataan dari ibu Najelaa Shihab dalam video termasuk arti merdeka belajar diiyakan oleh peserta.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Setelah video tersebut selesai diputar dan dinonton bersama, tibalah saatnya tahap refleksi. Selaku pemandu acara, saya melontarkan beberapa pertanyaan terkait isi video : “Di antara semua miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri anda?” Beberapa peserta hampir bersamaan menjawab tentang miskonsepsi yang paling pertama yaitu bahwa guru hanya mau belajar karena ingin mendapatkan insentif atau sertifikat. Hal ini mengundang peserta lain untuk bersuara. Salah seorang guru mapel IPS (Rahmiati, S.Pd) menambahkan bahwa miskonsepsi yang terjadi selama ini ialah guru belajar diburu target yang dipaksakan, sementara belajar sebenarnya butuh waktu, butuh waktu untuk memahami inovasi dan butuh waktu untuk memiliki inovasi, pun butuh waktu untuk mebuktikan bahwa inovasi itu sesuai atau tidak sesuai. Dua miskonsepsi tersebut ialah yang paling menggambarkan diri para guru yang ada di SMPN 1 Arungkeke. Apakah anda ingin menjadi Guru Merdeka Belajar? Selanjutnya pertanyaan yang membuat bapak ibu guru antusias ialah saat ditanyakan “Apakah anda ingin menjadi Guru Merdeka Belajar? Apa alasannya?” Semua peserta menjawab “Mau”. Bapak Mukhtar salah seorang guru mapel Bhs. Inggris mengatakan bahwa sesungguhnya kita telah merdeka dalam belajar, hanya saja kita belum merasa merdeka karena keinginan dari dalam. Pernyataan ini membuat peserta lain terpancing dan merasa bingung. Hingga ibu Sutriani, salah satu guru mapel Bhs. Indonesia memberikan tanggapannya “Iya, saya ingin Merdeka Belajar. Kita seringkali terkendala dengan begitu banyaknya birokrasi yang harus dipenuhi. Kita sebagai guru hampir tidak merasa merdeka atau bahkan belum bisa dikatakan merdeka.” Pernyatan ibu Sutri tersebut mendapat anggukan dari sebagian besar peserta yang hadir dalam acara nobar tersebut, hingga suasana pun semakin hangat dan cair. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 WITA. Sebentar lagi memasuki waktu sholat Jumat hingga kegiatan refleksi pun kami akhiri. Kami mengajak peserta untuk menuliskan hasil refleksi Nobar Merdeka Belajar di media sosial masing-masing. Dan terakhir mengajak mereka untuk foto bareng. Di penghujung acara salah seorang peserta melontarkan sebuah pertanyaan tentang apa follow up dari kegiatan KGB maupun KGC itu sendiri? Apa dampak positifnya, apakah pemerintah mau mendengar suara kita? Hal ini merupakan pertanyaan yang cukup berat sehingga harus dikomunikasikan dengan pak Maman. Melalui panduan beliau saya pun menyampaikan bahwa KGC sudah sering bekerja sama dengan pihak pemerintah. Konsep berbagi praktik baik pengalaman masing-masing juga mulai diterapkan pemerintah di program tertentu. Nampaknya jawaban ini belum memberikan rasa puas kepada ibu Sutri. Saya dan pak Akbar mengajak dia dan rekan guru yang lain untuk ikut bergabung dalam grup Komunitas Guru Belajar Jeneponto untuk lebih mengenal program-program yang bisa membawa dampak positif. Salam Merdeka Belajar! Ingin Mengikuti Pelatihan Guru Merdeka Belajar? Klik link di bawah ini