Praktik Asesmen Formatif dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Bapak dan ibu guru merasa lebih susah mengajar saat pandemi? Lantas, apakah bapak dan ibu guru juga merasakan kebingungan dan ketidakpastian dalam beradaptasi dengan proses belajar mengajar selama pandemi ini? Pandemi ini ternyata mulai mengubah tatanan kehidupan, tak terkecuali pada dunia pendidikan di Indonesia. Proses belajar mengajar yang semula dilakukan dengan tatap muka, namun kini proses belajar mengajar dilakukan secara jarak jauh dengan memanfaatkan jaringan internet, serta teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini pun memengaruhi juga dalam penerapan asesmen yang diberikan baik praktik asesmen formatif dan sumatif yang dilakukan oleh bapak dan ibu guru. Dari segi manfaat, dilakukannya pembelajaran jarak jauh telah menjejakkan proses pendidikan di Indonesia ke arah digitalisasi. Namun di sisi lain, hal itu juga menimbulkan beberapa tantangan. Tantangan berupa bagaimana menerapkan praktik asesmen formatif maupun sumatif, dan juga bagi daerah yang mengalami kendala akses internet dan ketiadaan gawai yang dimiliki murid karena beberapa hal, ini menjadikan pembelajaran jarak jauh cukup sulit untuk dilakukan. Lantas bagaimana menjawab tantangan mengenai pembelajaran jarak jauh dan juga penerapan praktik asesmen formatif dari perspektif guru? Berikut kita simak cerita dari Ibu Arni Idawati, guru di SMA Negeri 5 Sinjai, Sulawesi Selatan. Seperti yang dirasakan oleh guru-guru lain di Indonesia, awalnya Ibu Arni juga merasakan jika tantangan mengajar lebih besar saat pandemi ini, beliau pun juga mencoba beradaptasi dengan proses belajar mengajar di tengah kebingungan dan ketidakpastian selama pandemi ini. Ibu Arni pun mencoba untuk  mendesain cara dan metode pembelajaran terbaik yang karakternya sangat berbeda dengan pembelajaran tatap muka, dengan harapan tujuan pembelajaran yang beliau  rancang tersebut dapat tercapai. Meski demikian, masih ditemukan murid yang belum aktif, seperti tidak mengikuti saat online class berlangsung atau tidak bisa dihubungi saat online class berlangsung.. Imbasnya, murid tersebut tidak memahami konten, dan tentunya tidak mampu menggunakannya dalam konteks kehidupan nyata. Kondisi tersebut diketahui oleh Ibu Arni dari hasil penilaian yang beliau praktikkan. Ternyata Ibu Arni hanya fokus kepada asesmen sumatif yang menekankan perolehan hasil belajar murid. Padahal, murid lebih membutuhkan pengalaman belajar yang berorientasi kepada proses, umpan balik, dan tindak lanjut pencapaian belajar. Bukan sekadar penugasan melalui tes dan pemberian nilai. Baca juga: Asesmen Formatif Membuat Murid Berkembang, Guru Senang, Orang Tua Tenang Berangkat dari hal tersebut, dalam pembelajaran tentang fluida (zat yang dapat mengalir) di kelas XI IPA, Ibu Arni menerapkan asesmen diagnosis untuk mendapatkan informasi tingkat kompetensi murid dalam ranah sikap, pengetahuan, maupun keterampilan. Diketahui jika murid di kelas tersebut rata-rata berusia 16 – 17 tahun, dengan komposisi putra-putri sebesar 1:2. Sebagian besar murid suka menonton YouTube, belajar menggunakan ponsel, dan terbiasa menggunakan ponsel dalam aktivitas sehari-hari. Data ini beliau peroleh dari diagnosis awal yang dilakukan pada awal tahun pelajaran. Adapun tujuan pembelajaran yang hendak dicapai dalam materi fluida adalah murid dapat menjelaskan tekanan, memformulasikan tekanan, menjelaskan tekanan hidrostatis, memformulasikan tekanan hidrostatis, menerapkan tekanan hidrostatis dalam kehidupan sehari-hari. Ibu Arni pun melakukan praktik asesmen formatif karena beliau benar menyadari bahwa murid membutuhkan penilaian yang berorientasi kepada proses pembelajaran agar mereka memperoleh umpan balik dari guru untuk memperbaiki capaian belajar. Melalui bimtek guru belajar di masa pandemi yang diselenggarakan oleh Kemendikbud secara daring melalui Sim PKB, beliau semakin paham bahwa pada masa pandemi praktik asesmen formatif jauh lebih penting dibandingkan praktik asesmen sumatif untuk mengetahui perkembangan penguasaan kompetensi. Saat melakukan praktik asesmen formatif, Ibu Arni juga mengumpulkan informasi yang bisa membantu beliau dalam memberi umpan balik dan tindak lanjut proses belajar, serta membantu murid memperbaiki cara belajar dengan menentukan kembali strategi belajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Skenario pembelajaran untuk memperbaiki proses dan hasil pembelajaran, yang dibuktikan dengan kemampuan murid menerapkan konten materi dalam kehidupan sehari-hari, dapat Ibu Arni gambarkan seperti berikut ini. Pada awal pertemuan, Ibu Arni memberi tautan Google Teams kepada muridnya. Mereka menonton video yang menjelaskan kompetensi dasar fluida statis dalam materi tekanan hidrostatis. Setelah itu, beliau meminta murid untuk menjawab beberapa pertanyaan untuk mengetahui tingkat pemahaman awal mereka. Pertanyaan-pertanyaan yang beliau berikan seperti ini: 1. Mengapa paku dibuat runcing?  2. Apa hubungan antara paku runcing dengan tekanan?  3. Mengapa ban mobil jip berbeda dengan ban mobil sedan? 4. Apa hubungannya dengan tekanan? Kemudian, saya berikan pertanyaan lagi pertanyaan simpulan tentang persamaan tekanan. Setelah murid mendefinisikan materi tekanan, beliau pun bertanya, โ€œMengapa struktur jembatan semakin ke bawah semakin tebal?โ€ Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut murid dapat menjelaskan dan memformulasikan persamaan tekanan hidrostatis. Selanjutnya murid mengerjakan soal-soal latihan sederhana tentang formulasi persamaan tekanan dan tekanan hidrostatis menggunakan Google Form. Berikutnya, beliau meminta murid menyaksikan tayangan video singkat tentang tekanan hidrostatis dan pembuktian materi ini dengan percobaan sederhana menggunakan botol bekas. Murid membuat lubang di kedalaman yang berbeda, kemudian mengamati dan menghitung jarak pancuran air di kedalaman yang berbeda. Lalu, murid mengamati bagaimana pancuran air jika botol dalam keadaan terbuka dan bagaimana jika botol dalam keadaan tertutup. Mereka menjatuhkan botol dari ketinggian tertentu untuk menyelidiki ada tidaknya pengaruh gravitasi terhadap air yang keluar pada botol. Pada tahap ini, murid belajar mandiri, secara kontekstual membuktikan teori. Mulai dari tahap identifikasi, pengumpulan data, pengolahan data, pembuktian, dan menarik kesimpulan. Selain itu, murid dilatih berpikir kreatif dalam pemecahan masalah dan pembuktian konsep. Akhirnya, tiba saatnya murid mengaplikasikan konten dalam kehidupan nyata, yakni melakukan percobaan bersama kelompoknya. Sebagai tagihan, murid mendesain produk berupa sebuah video pembuktian materi tekanan hidrostatis dengan menggunakan botol bekas. Ada hal yang sangat membuat Ibu Arni bangga. Desain yang dirancang murid beragam. Mulai dari melakukan pengamatan langsung struktur jembatan/pelabuhan; kemudian merumuskan masalah dari berdasarkan hasil pengamatan, menjelaskan materi, melakukan percobaan untuk membuktikan teori, sampai kepada kesimpulan akhir. Video yang dihasilkan menunjukkan keragaman cara, teknik, dan model yang digunakan dalam percobaan. Berarti murid dapat meningkatkan kompetensi dengan cara yang berbeda-beda, tapi tetap bermakna.  Ada kelompok yang melakukan percobaan dengan menggunakan dua botol bekas. Dari kedua botol itu, ada yang dilubangi secara vertikal untuk mengamati pancuran air dari lubang di kedalaman yang berbeda. Botol yang lain dilubangi secara horizontal. Dalam percobaan ini, murid mengamati jarak pancuran jika botol dilubangi secara horizontal, bagaimana pancuran air ketika botol dalam keadaan tertutup dan dalam keadaan terbuka, apa hubungannya dengan tekanan hidrostatis, apa yang terjadi jika botol dijatuhkan pada ketinggian tertentu, dan adakah pengaruh gravitasi terhadap … Read more

Praktik Asesmen pada Perilaku Murid

Bapak dan Ibu Guru sedang mengalami permasalahan perilaku murid? Seperti murid sering marah-marah, teriak, guling-guling, dan sampai menangis? Praktik asesmen apa saja yang perlu dilakukan? Jangan khawatir pertanyaan tersebut akan terjawab dalam pengalaman Bu Amalia Ahadini. Bu Amalia Ahadini adalah guru yang mengajar di Sekolah Luar Biasa Negeri Pembina, Yogyakarta. Ketika bulan Agustus, Bu Amalia mendapatkan informasi bahwa akan ada murid pindahan dari sekolah lain. Secara prosedur, praktik asesmen kepada murid baru dilakukan oleh tim asesmen sekolah, seperti mendata murid tentang profil keluarga dan kemampuan umum yang akan menjadi bahan materi dalam praktik asesmen yang dilakukan oleh tim sekolah. Hasil data dari tim sekolah selanjutnya diserahkan kepada Bu Amalia yang akan menjadi guru kelas bagi murid baru pindahan dari sekolah lain. Setelah diamati hasil datanya, ternyata masih banyak hal yang perlu Bu Amalia ketahui sebagai guru kelasnya.  Bu Amalia mulai menghubungi Ibu calon murid barunya melalui WhatsApp. Bu Amalia meminta ibu calon muridnya untuk mengisi asesmen non-kognitif, asesmen kemampuan bahasa, asesmen kemampuan berhitung, asesmen prakarya, dan asesmen kemampuan kemandirian melalui Google Form. Sebelumnya murid Bu Amalia juga mengisi instrumen asesmen yang sama pada awal tahun ajaran baru. Ibu calon murid menjelaskan perilaku anaknya yang sering marah di rumah dalam asesmen non-kognitif. Bu Amalia juga melakukan komunikasi yang intensif dengan ibu calon murid, serta melakukan asesmen non-formal melalui pesan WhatsApp. Dengan begitu Bu Amalia mengetahui gambaran tentang kemampuan murid dalam bidang menghitung, bahasa, prakarya, dan kemandirian. Tetapi, ternyata Bu Amalia juga mengetahui bahwa murid barunya memiliki beberapa hambatan. Ibunya bercerita tentang perilaku anaknya yang tidak ingin belajar dan setiap hari selalu minta uang jajan sampai tiga kali sambil marah-marah, berkata kurang baik, dan suka bermain di luar rumah seharian. Beberapa tetangga sering menegur ibu calon murid untuk mendidik anaknya dengan benar. Bu Amalia meminta tolong kepada ibu calon murid barunya untuk merekam perilaku anaknya di rumah secara diam-diam, karena untuk mendapatkan informasi dan gambaran yang lengkap tentang perilaku murid barunya. Setelah menerima rekaman, ternyata benar bahwa murid barunya marah-marah dengan berteriak, berguling-guling sampai menangis karena meminta uang. Bu Amalia mengirimkan pesan motivasi untuk memberikan dukungan dan menguatkan ibu calon murid supaya tabah dan sabar. Menurut Bu Amalia mungkin, anggapan murid barunya ketika ibunya menolak untuk memberikan uang, permintaannya dianggap sepele bagi ibunya, sehingga murid barunya berperilaku marah-marah sampai menangis. Bu Amalia bersama ibu calon murid membuat prioritas masalah yang harus ditemukan solusinya. Sebelumnya ibu calon murid ingin memperbaiki kemampuan kognitif anaknya.Bu Amel menyakinkan ibu calon murid bahwa ketika belum ada kepatuhan dari anaknya, pasti tetap tidak mau belajar. Bu Amalia akhirnya membuat beberapa pertanyaan dasar tentang perilaku, lalu dilanjutkan berkomunikasi menggunakan WhatsApp. Setelah itu, Bu Amalia mencari instrumen yang sudah sesuai terkait perilaku. Bu Amalia mempraktikan asesmen menggunakan skala asesmen motivasi yang juga dapat disebut motivation assessment scale (MSA) yang didapatkan pada waktu mengikuti diklat. Bu Amalia mencoba mencari tahu penyebab perilaku yang kurang baik pada murid barunya dengan bertanya tentang pola pengasuhan, trauma masa kecil, dan hukuman yang pernah dialami murid barunya. Data praktik asesmen yang didapatkan langsung dianalisis dan dikonsultasikan dengan guru yang memiliki pengalaman tentang permasalahan perilaku. Hasil praktik asesmen Bu Amalia lalu disampaikan kepada ibu calon murid barunya. Bu Amalia menyampaikan bahwa perilaku anaknya yang suka marah-marah terjadi karena objek atau kegiatan tertentu (tangible). Maka agar tidak terjadi perilaku tersebut harus menghindari pemicunya. Berdasarkan asesmen, menunjukan bahwa ibu calon murid baru adalah single parent yang tinggal bersama orang tuanya. Tantangan terbesar mendidik anak dengan kakek dan nenek biasanya disebut inkonsistensi pengasuhan. Baca Juga :  Meningkatkan Motivasi Belajar pada Praktik Merdeka Belajar Ibu calon murid juga bercerita bahwa sering terjadi, pada saat anaknya meminta uang dan tidak diberi, anaknya akan teriak-teriak, marah dan menangis, tetapi neneknya terburu-buru menenangkan anaknya dengan memberikan uang. Alasan neneknya bertindak seperti itu karena tidak tega mendengar cucunya menangis minta uang. Pola pengasuhan yang berbeda dalam satu rumah akan membuat anak kebingungan. Anak akan mencari dan memilih tempat yang nyaman ketika merasa terancam seperti dimarahi. Ibu calon murid setuju perbedaan pola pengasuhan adalah penyebab yang mempengaruhi perilaku anaknya. Bu Amalia meminta ibu calon muridnya dalam memastikan anaknya menjadi bagian dalam keluarganya serta melibatkan anak berperan aktif di dalam rumah. Bu Amalia mengajak ibu, nenek, dan murid baru untuk membuat kesepakatan bersama. Contohnya pada saat murid tidak menunjukkan perilaku yang kurang baik, maka murid berhak mendapatkan kesempatan untuk menonton selama 15 menit. Proses perubahan perilaku pasti tidak mudah. Maka Bu Amalia selalu menguatkan ibu calon murid untuk sabar. Setelah itu, seluruh anggota keluarga diajak untuk membuat rutinitas yang terprediksi. Contohnya, ketika pagi hari setelah ibadah, mandi, dan makan, murid baru diajak neneknya ke warung. Murid baru diajarkan perilaku pengganti yang wajar. Jika biasanya murid berteriak dan berkata kurang baik ketika meminta sesuatu, murid diajari untuk berkata baik dan sopan saat meminta sesuatu. Peran nenek adalah memberikan motivasi cucunya. Setelah strategi dicoba ternyata perubahan perilaku murid belum terlihat. Akhirnya Bu Amalia membuat kesepakatan baru yaitu setiap hari, tugas murid adalah melakukan tiga kebaikan dengan bukti foto ketika murid melakukan kebaikan, dan ibunya memberikan pujian yang sesuai setelah anaknya melakukan kebaikan. Ternyata, strategi tersebut berhasil. Setiap hari murid baru dengan senang hati melakukan tiga tugas kebaikan. Kebaikan yang dilakukan seperti makan sendiri, mengembalikan piring ke tempat cuci piring, membantu mencuci sepeda motor, dan kegiatan baik lainnya. Tugas melakukan kebaikan ini merupakan strategi yang berfokus pada kegiatan perilaku baik. Solusi dalam menangani permasalahan perilaku yang kurang baik adalah dengan menumbuhkan perilaku yang baik melalui kegiatan kebaikan. Ibu calon murid merasa senang atas perubahan perilaku anaknya, meskipun terkadang masih marah ketika keinginan anaknya tidak dituruti, tetapi sudah tidak berkata kotor lagi. Bu Amalia menyadari pentingnya asesmen yang diterapkan seiring proses belajar akan membuat perubahan perilaku murid menjadi lebih baik. Bagaimana Bapak dan Ibu Guru apakah pengalaman Bu Amalia menginspirasi? Bapak dan Ibu Guru mari ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari daftar di Temu Pendidik Nusantara VIII!  Klik : https://tpn.gurubelajar.org

Pasar Praktik Baik itu Bernama Kelas Kemerdekaan

Mana yang lebih seru? Belanja di pasar tradisional atau di supermarket modern? Anda termasuk tim mana? Kalau tim pasar tradisional dan tim supermarket modern berjumpa, bisa berdebat berhari-hari membahas mana yang lebih seru. Pasar tradisional maupun supermarket modern mempunyai kelebihannya sendiri. Pasar tradisional lebih kaya dengan interaksi, bisa bercakap-cakap dengan beragam orang, ada beragam barang termasuk yang tidak diduga, kualitas barang tidak terstandar dan kondisi pasar biasanya becek atau tidak terlalu nyaman. Supermarket modern lebih nyaman dikunjungi, bersih dan dingin, persediaan barang terencana, kualitas barang terstandar, suasanya lebih tenang, dan tanpa atau sedikit percakapan yang terjadi. Bila sudah jelas barang yang dibutuhkan, dan waktunya terbatas, bisa jadi supermarket modern adalah pilihan terbaik. Bila ada waktu, butuh interaksi dan mencari barang yang otentik, bisa jadi pasar tradisional adalah pilihan terbaik. Apa hubungannya dengan kelas kemerdekaan? Sabar ๐Ÿ™‚ Dalam ekosistem guru lebih dikenal kegiatan pengembangan guru yang karakteristiknya mirip supermarket modern. Topik direncanakan, kualitas terstandar, pelaksanaan di ruang yang nyaman, dan suasananya cenderung tenang. Karakteristik yang penting untuk proses pengembangan kompetensi guru yang terstruktur. Kita butuh tapi tidak boleh tergantung pada pembelajaran kompetensi yang terstruktur sebagai satu-satunya mode pengembangan kompetensi guru. Karena proses yang mirip pasar modern tersebut tidak memadai untuk menjawab dinamika kebutuhan di lapangan. Semakin banyak tantangan, semakin butuh beragam solusi yang praktis. Moda pengembangan kompetensi guru yang mirip dengan karakteristik pasar tradisional menawarkan sudut pandang baru. Lebih banyak percakapan reflektif, berjumpa lebih banyak orang, dan lebih besar kemungkinan menemukan praktik yang otentik. Pada Temu Pendidik Nusantara, moda pertama disebut sebagai Kelas Kompetensi dan moda kedua disebut Kelas Kemerdekaan. Mana yang lebih seru? Keduanya ๐Ÿ™‚ Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Kelas Kemerdekaan diisi beragam pembicara mulai dari guru yang baru mengajar dua tahun hingga guru dan ahli yang sudah berpengalaman. Seperti pasar tradisional, Kelas Kemerdekaan lebih chaos, beragam dan lebih banyak diwarnai antusiasme para pembicara baru. Dalam hal antusiasme, tidak ada yang mengalahkan amatir. Kelas Kemerdekaan menjadi langkah pertama bagi guru mana pun melakukan rintisan. Bisa rintisan dalam berkarier, bisa rintisan mengenalkan praktik baik pembelajaran atau kepemimpinan yang baru diterapkan. Pengembangan praktik baik tidak bisa langsung lengkap dan sempurna tapi melalui upaya mencoba, membagikan, mendapatkan umpan balik dan melakukan perbaikan penerapan selanjutnya. Siapa yang bisa mengisi Kelas Kemerdekaan? Semua guru yang telah mengajar setidaknya 1 tahun. Mengapa? Dalam 1 tahun, semua guru pasti mengalami banyak tantangan. Dari sejumlah tantangan tersebut, pasti ada tantangan yang berhasil diselesaikan. Pengalaman mengatasi tantangan tersebut layak dibagikan di kelas kemerdekaan. Apa manfaat Kelas Kemerdekaan? Pada kelas konversi kemerdekaan sebenarnya sedang terjadi proses konversi dari pengetahuan tacit (tacit knowledge) yang dipraktikkan sehari-hari menjadi pengetahuan eksplisit yang dibagikan pada guru yang lain. Dengan melakukan konversi tersebut, guru yang menjadi narasumber Kelas Kemerdekaan menjadi berkembang kompetensinya pada level yang lebih kompleksi dibandingkan pengembangan kompetensi sebagai peserta pelatihan. Apa pentingnya pemimpin sekolah/madrasah memotivasi gurunya mengisi Kelas Kemerdekaan? Riset yang dilakukan oleh Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) menunjukkan bahwa kompetensi literasi murid yang diajar oleh guru yang berbagi praktik baik pembelajaran di Kelas Kemerdekaan hingga level Temu Pendidik Nusantara LEBIH TINGGI dibandingkan murid yang gurunya tidak berbagi praktik baik pembelajaran. Kesimpulan tersebut terjadi baik di Kota Batu yang perkotaan maupun Kabupaten Probolinggo yang pedesaan. (Baca di Kilas 22 dan Kilas 23) Jadi, bila Anda seorang pemimpin sekolah/madrasah yang ingin meningkatkan kompetensi literasi murid, maka salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah memfasilitasi guru berbagi praktik baik pembelajaran dengan format Kelas Kemerdekaan di level sekolah, level kecamatan, level daerah hingga level Temu Pendidik Nusantara. Lebih optimal lagi, bila mekanismenya diintegrasikan dengan manajemen kinerja sekolah. (Mari kita diskusikan lebih lanjut) Kembali ke pasar tradisional ๐Ÿ™‚ Kelas Kemerdekaan prosesnya lebih egaliter sebagaimana di pasar tradisional. Di Kelas Kemerdekaan, tidak ada ahli yang super bisa. Semuanya dianggap setara karena itu dihindarkan tanya jawab ke narasumber. Pertanyaan yang ada adalah pertanyaan reflektif yang dijawab oleh semua orang, pembicara maupun peserta. Tapi sebagaimana pasar tradisional, proses di Kelas Kemerdekaan lebih chaos, setidaknya jauh dari tertata. Ada pembicara yang mungkin masih mengalami kebingungan sehingga kurang fokus dan bahkan melenceng pembahasannya. Ada pembicara yang belum bisa memahami pentingnya kenyamanan peserta dalam belajar. Dua keluhan yang disampaikan seorang guru kepada saya mengenai proses Kelas Kemerdekaan di Temu Pendidik Nusantara ke-7. Tapi begitulah pasar tradisional, meski ramai, meski becek, meski chaos, tapi orang tetap berkunjung. Begitu pula di Kelas Kemerdekaan, peserta hadir untuk untuk berjumpa rekan seperjuangan, untuk melakukan percakapan bermakna, dan untuk menemukan solusi-solusi yang di luar dugaan. Apabila pada sebuah Kelas Kemerdekaan tidak menemukan solusi yang dicari, bergeser lah pada Kelas Kemerdekaan yang lain. Ada ratusan pilihan Kelas Kemerdekaan, sebagaimana ratusan lapak di pasar tradisional. Ayo merdeka belajar mulai dari Kelas Kemerdekaan ๐Ÿ™‚ Tulisan ini adalah refleksi dari pelaksanaan Temu Pendidik Nusantara ke-7.

Menulis Praktik Baik Pembelajaran Inklusi

โ€œSaya guru BK, jarang menulis. Tapi memiliki banyak praktik baik pembelajaran dengan murid disabilitas..โ€ tutur salah seorang guru Program Pendidikan untuk Semua. Banyak guru yang merasa bahwa keterampilan menulis hanya dimiliki oleh guru bahasa. Sehingga banyak guru yang memiliki praktik baik, yang harusnya bisa disebarkan, terpaksa harus memendamnya. Oleh karena itulah dalam program Pendidikan untuk Semua ada sesi belajar menulis praktik baik. Kampus Guru Cikal mengadakan Program Pelatihan Penulisan Praktik Baik  Pendidikan Untuk Semua. Pelatihan diadakan pada tanggal 15 Juni hingga 22 Juni 2020. Pelatihan ini diikuti oleh 15 guru dari Yogyakarta dan 2 dari Jawa Tengah. Namun sebelumnya, telah diadakan sesi asesmen, intervensi, seminar orang tua, daring diskusi di WhatsApp dan pelatihan menulis. Pelatihan penulisan dilakukan di akhir rangkaian kegiatan dengan hasil akhir adalah peneribatan Surat Kabar Guru Belajar edisi Pendidikan Untuk Semua. Tujuan dari pelatihan ini adalah peserta mampu membuat tulisan praktik baik yang telah dilakukan menggunakan format ATAP, melakukan asesmen untuk memberi umpan balik mengenai tulisannya, dan peserta memiliki tulisan yang telah diperbaiki. Tahapan awal dari pelatihan ini berupa orientasi pelatihan menulis praktik baik program NusantaraRun. Untuk orientasi ini dilakukan dengan video conference melalui google meet. Ada 15 guru dari Yogjakarta dan 2 dari Jawa Tengah. Setelah peserta memperkenalkan diri, maka pelatih memperkenalkan penyelenggara kegiatan yaitu Kampus Guru Cikal atau yang biasa disingkat dengan KGC. KGC merupakan lembaga pengembangan karier guru yang percaya guru dengan kemerdekaan belajar adalah kunci perubahan pendidikan untuk mewujudkan pelajar yang kompeten, ekosistem pendidikan yang kolaboratif dan Indonesia yang demokratis. Peserta kemudian berkenalan dengan Komunitas Guru Belajar. Guru Belajar adalah komunitas pendidik untuk berdiskusi dan berbagi praktik baik pengajaran dan pendidikan yang diinisiasi oleh Kampus Guru Cikal. Komunitas Guru Belajar (KGB) percaya bahwa belajar bisa dari siapa saja. Sumber inspirasi bukan figur yang serba tahu dan sempurna, tapi rekan seperjalanan yang  realistis dengan pengalaman nyata, dan praktis, seringkali gagal sebelum berhasil. Selanjutnya berkenalan dengan pelatih dan pemandunya yang terdiri dari guru Rizqy Rahmat Hani dan guru Rizky Satria sebagai pelatih serta guru Kristijorini selaku pemandu.  Kenalan dengan pelatih dan pemandu Selama orientasi, peserta dijelaskan tentang hasil pelatihan akan mengirim tulisan praktik baik pembelajaran. Jika tulisan sudah dikirim, ada proses penyuntingan dan hasil penyuntingan akan diberikan umpan balik kepada peserta maka peserta tinggal memperbaiki tulisannya. Revisi akan dilakukan 3 kali perbaikan dan waktunya tidak terlalu panjang. Setelah mengikuti orientasi, peserta melakukan refleksi. Guru Iin Indarti ingin sekali menulis dengan baik. Dia bersemangat mengikuti kegiatan pelatihan menulis sampai selesai. Guru Dian Nurpita dari SKM Muhamadiyah 2 Yogyakarta berefleksi bahwa setelah sesi orientasi, menjadi lebih termotivasi untuk menulis. Mulai berlatih dengan menulis status dulu. Dia berharap, setelah mengikuti pelatihan akan menjadi lebih terarah lagi tulisannya. Guru Esti dari SLB Negeri 1 Sleman pertanyaan pada diri sendiri yang berujung pada memotivasi diri sendiri. โ€œApakah saya bisa menulis? Terkadang waktu menjadi alasan saya. Dengan sekuat tenaga, saya akan berusaha mencoba menuliskan goresan tinta walau dipandang hanya alakadarnya.โ€ Guru Rufaidah dari SMK Negeri 1 Pringapus berefleksi bahwa setelah mengikuti orientasi tadi muncul kesiapan dalam diri untuk berlatih. Siap dibimbing, siap menjadi hebat bersama para pembimbing dan teman-teman yang luar biasa. Guru Shola Fibria dari SMA 3 Maretik berefleksi bahwa pelatihan ini keren sebab awalnya dia berpikir jika pelatihan akan membosankan karena pelatihan dilakukan secara mandiri. Ternyata dengan orientasi, dia melihat banyak teman yang semangat. Dia jadi tertular dan tidak merasa sendiri. Merasa ada teman dan didampingi. Semoga dengan pelatihan ini, dia dapat menyelesaikan pelatihan dengan baik dan mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan. Berharap mampu melaksanakan fasilitas yang ada dengan baik. Guru Maria Suprabaningtyas dari SMK Pangudi Luhur berefleksi bahwa dia merasa akan mendapatkan pelatihan yang sangat formal dan membosankan. Setelah mengikuti orientasi dia menjadi termotivasi untuk mencoba belajar menulis lagi. Dia merasa, pendampingnya freandly dan sabar. Menuntun step by step sampai peserta paham benar. Dia membutuhkan cara untuk menjaga agar tetap bisa fokus ketika menulis hingga tulisan mengalir, tidak kaku dan ide tidak melompat-lompat. Refleksi dari guru Amalia Ahadini dari SLB Negeri Pembina Yogyakarta adalah dirinya merasa terpacu untuk belajar menulis. Dia merasa diajari, dibimbing sampai jadi tulisan. Kesempatan ini membuatnya bahagia. Tahapan setelah orientasi adalah melakukan pelatihan mandiri di platform digital, sekolahmu.com sekaligus pendampingan dari pembimbing dimulai pada hari Selasa sampai Jumat, tanggal 16-19 Juni 2020. Para peserta merasakan keseruan saat mengikuti dan mengerjakan pelatihan mandiri. Materi yang disampaikan mudah dipahami dari yang berupa ebook, video tutorial pembelajaran hingga tugas mandiri yang menantang. Hasil tugas juga dapat segera diketahui. Ada yang merasa bahwa materinya berat tapi dikemas dengan sangat praktis dan bermakna. Merubah pola pikir guru bahwa menulis itu tidak sulit. Peserta tidak merasa digurui, namun dibuka wawasannya tentang menulis. Jika mereka kesulitan, bisa langsung bertanya kepada pemandu maupun pembimbing pelatihan. Peserta selanjutnya melalui tahapan akhir dengan mencoba menulis praktik baik  menggunakan format ATAP, peserta akan mendapatkan sertifikat secara otomatis. Peserta merasa tidak terbebani dalam mengikuti pelatihan karena bisa mengikuti kapan saja dan dimana saja. Tahapan berikutnya adalah refleksi setelah mengikuti pelatihan menulis menggunakan video conference, google meet pada hari Senin, 22 Juni 2020. Sebelum refleksi, peserta diajak bermain menggunakan menti.com. Jawaban dari peserta yang mengikuti permainan ini sungguh menyenangkan. Peserta diajak untuk mengingat perasaan diawal pelatihan hingga akhirnya merasakan akhir pelatihan. Mereka berefleksi dengan seru dan asyik. Kesimpulan dari refleksi adalah mulai saja apa yang ingin ditulis, mulai banyak membaca dan mulai melakukan praktik baik pembelajaran yang dituliskan. Mulai dengan menuliskan semua ide yang dipunyai, tumpahkan saja dulu apa yang dirasakan. Lanjutkan dengan menyusun kerangka dalam bentuk pertanyaan. Masukkan semua yang sudah ditulis tadi kedalam format ATAP. Tidak perlu merasa ragu dan takut salah sebab tulisan akan mendapatkan umpan balik dan peserta dapat memperbaiki tulisan sesuai dengan umpan balik tersebut. Selanjutnya, peserta melakukan pengumpulan tulisan mulai dari tanggal 23-30 Juni 2020. Pemberian umpan balik dan pendampingan akan dilakukan pada tanggal 1-10 Juli 2020. Terbit menjadi Surat Kabar Guru Belajar Edisi Pendidikan  Untuk Semua adalah 20 Juli 2020. Pada akhirnya peserta berkomitmen untuk memulai dulu. Mencari ide tentang praktik baik pembelajaran dan menyusun kerangka tulisan dengan format ATAP. Memulai dan berkomitmen bisa jadi adalah kunci untuk … Read more