Praktik Asesmen Formatif dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Bapak dan ibu guru merasa lebih susah mengajar saat pandemi? Lantas, apakah bapak dan ibu guru juga merasakan kebingungan dan ketidakpastian dalam beradaptasi dengan proses belajar mengajar selama pandemi ini? Pandemi ini ternyata mulai mengubah tatanan kehidupan, tak terkecuali pada dunia pendidikan di Indonesia. Proses belajar mengajar yang semula dilakukan dengan tatap muka, namun kini proses belajar mengajar dilakukan secara jarak jauh dengan memanfaatkan jaringan internet, serta teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini pun memengaruhi juga dalam penerapan asesmen yang diberikan baik praktik asesmen formatif dan sumatif yang dilakukan oleh bapak dan ibu guru. Dari segi manfaat, dilakukannya pembelajaran jarak jauh telah menjejakkan proses pendidikan di Indonesia ke arah digitalisasi. Namun di sisi lain, hal itu juga menimbulkan beberapa tantangan. Tantangan berupa bagaimana menerapkan praktik asesmen formatif maupun sumatif, dan juga bagi daerah yang mengalami kendala akses internet dan ketiadaan gawai yang dimiliki murid karena beberapa hal, ini menjadikan pembelajaran jarak jauh cukup sulit untuk dilakukan. Lantas bagaimana menjawab tantangan mengenai pembelajaran jarak jauh dan juga penerapan praktik asesmen formatif dari perspektif guru? Berikut kita simak cerita dari Ibu Arni Idawati, guru di SMA Negeri 5 Sinjai, Sulawesi Selatan. Seperti yang dirasakan oleh guru-guru lain di Indonesia, awalnya Ibu Arni juga merasakan jika tantangan mengajar lebih besar saat pandemi ini, beliau pun juga mencoba beradaptasi dengan proses belajar mengajar di tengah kebingungan dan ketidakpastian selama pandemi ini. Ibu Arni pun mencoba untuk  mendesain cara dan metode pembelajaran terbaik yang karakternya sangat berbeda dengan pembelajaran tatap muka, dengan harapan tujuan pembelajaran yang beliau  rancang tersebut dapat tercapai. Meski demikian, masih ditemukan murid yang belum aktif, seperti tidak mengikuti saat online class berlangsung atau tidak bisa dihubungi saat online class berlangsung.. Imbasnya, murid tersebut tidak memahami konten, dan tentunya tidak mampu menggunakannya dalam konteks kehidupan nyata. Kondisi tersebut diketahui oleh Ibu Arni dari hasil penilaian yang beliau praktikkan. Ternyata Ibu Arni hanya fokus kepada asesmen sumatif yang menekankan perolehan hasil belajar murid. Padahal, murid lebih membutuhkan pengalaman belajar yang berorientasi kepada proses, umpan balik, dan tindak lanjut pencapaian belajar. Bukan sekadar penugasan melalui tes dan pemberian nilai. Baca juga: Asesmen Formatif Membuat Murid Berkembang, Guru Senang, Orang Tua Tenang Berangkat dari hal tersebut, dalam pembelajaran tentang fluida (zat yang dapat mengalir) di kelas XI IPA, Ibu Arni menerapkan asesmen diagnosis untuk mendapatkan informasi tingkat kompetensi murid dalam ranah sikap, pengetahuan, maupun keterampilan. Diketahui jika murid di kelas tersebut rata-rata berusia 16 – 17 tahun, dengan komposisi putra-putri sebesar 1:2. Sebagian besar murid suka menonton YouTube, belajar menggunakan ponsel, dan terbiasa menggunakan ponsel dalam aktivitas sehari-hari. Data ini beliau peroleh dari diagnosis awal yang dilakukan pada awal tahun pelajaran. Adapun tujuan pembelajaran yang hendak dicapai dalam materi fluida adalah murid dapat menjelaskan tekanan, memformulasikan tekanan, menjelaskan tekanan hidrostatis, memformulasikan tekanan hidrostatis, menerapkan tekanan hidrostatis dalam kehidupan sehari-hari. Ibu Arni pun melakukan praktik asesmen formatif karena beliau benar menyadari bahwa murid membutuhkan penilaian yang berorientasi kepada proses pembelajaran agar mereka memperoleh umpan balik dari guru untuk memperbaiki capaian belajar. Melalui bimtek guru belajar di masa pandemi yang diselenggarakan oleh Kemendikbud secara daring melalui Sim PKB, beliau semakin paham bahwa pada masa pandemi praktik asesmen formatif jauh lebih penting dibandingkan praktik asesmen sumatif untuk mengetahui perkembangan penguasaan kompetensi. Saat melakukan praktik asesmen formatif, Ibu Arni juga mengumpulkan informasi yang bisa membantu beliau dalam memberi umpan balik dan tindak lanjut proses belajar, serta membantu murid memperbaiki cara belajar dengan menentukan kembali strategi belajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Skenario pembelajaran untuk memperbaiki proses dan hasil pembelajaran, yang dibuktikan dengan kemampuan murid menerapkan konten materi dalam kehidupan sehari-hari, dapat Ibu Arni gambarkan seperti berikut ini. Pada awal pertemuan, Ibu Arni memberi tautan Google Teams kepada muridnya. Mereka menonton video yang menjelaskan kompetensi dasar fluida statis dalam materi tekanan hidrostatis. Setelah itu, beliau meminta murid untuk menjawab beberapa pertanyaan untuk mengetahui tingkat pemahaman awal mereka. Pertanyaan-pertanyaan yang beliau berikan seperti ini: 1. Mengapa paku dibuat runcing?  2. Apa hubungan antara paku runcing dengan tekanan?  3. Mengapa ban mobil jip berbeda dengan ban mobil sedan? 4. Apa hubungannya dengan tekanan? Kemudian, saya berikan pertanyaan lagi pertanyaan simpulan tentang persamaan tekanan. Setelah murid mendefinisikan materi tekanan, beliau pun bertanya, “Mengapa struktur jembatan semakin ke bawah semakin tebal?” Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut murid dapat menjelaskan dan memformulasikan persamaan tekanan hidrostatis. Selanjutnya murid mengerjakan soal-soal latihan sederhana tentang formulasi persamaan tekanan dan tekanan hidrostatis menggunakan Google Form. Berikutnya, beliau meminta murid menyaksikan tayangan video singkat tentang tekanan hidrostatis dan pembuktian materi ini dengan percobaan sederhana menggunakan botol bekas. Murid membuat lubang di kedalaman yang berbeda, kemudian mengamati dan menghitung jarak pancuran air di kedalaman yang berbeda. Lalu, murid mengamati bagaimana pancuran air jika botol dalam keadaan terbuka dan bagaimana jika botol dalam keadaan tertutup. Mereka menjatuhkan botol dari ketinggian tertentu untuk menyelidiki ada tidaknya pengaruh gravitasi terhadap air yang keluar pada botol. Pada tahap ini, murid belajar mandiri, secara kontekstual membuktikan teori. Mulai dari tahap identifikasi, pengumpulan data, pengolahan data, pembuktian, dan menarik kesimpulan. Selain itu, murid dilatih berpikir kreatif dalam pemecahan masalah dan pembuktian konsep. Akhirnya, tiba saatnya murid mengaplikasikan konten dalam kehidupan nyata, yakni melakukan percobaan bersama kelompoknya. Sebagai tagihan, murid mendesain produk berupa sebuah video pembuktian materi tekanan hidrostatis dengan menggunakan botol bekas. Ada hal yang sangat membuat Ibu Arni bangga. Desain yang dirancang murid beragam. Mulai dari melakukan pengamatan langsung struktur jembatan/pelabuhan; kemudian merumuskan masalah dari berdasarkan hasil pengamatan, menjelaskan materi, melakukan percobaan untuk membuktikan teori, sampai kepada kesimpulan akhir. Video yang dihasilkan menunjukkan keragaman cara, teknik, dan model yang digunakan dalam percobaan. Berarti murid dapat meningkatkan kompetensi dengan cara yang berbeda-beda, tapi tetap bermakna.  Ada kelompok yang melakukan percobaan dengan menggunakan dua botol bekas. Dari kedua botol itu, ada yang dilubangi secara vertikal untuk mengamati pancuran air dari lubang di kedalaman yang berbeda. Botol yang lain dilubangi secara horizontal. Dalam percobaan ini, murid mengamati jarak pancuran jika botol dilubangi secara horizontal, bagaimana pancuran air ketika botol dalam keadaan tertutup dan dalam keadaan terbuka, apa hubungannya dengan tekanan hidrostatis, apa yang terjadi jika botol dijatuhkan pada ketinggian tertentu, dan adakah pengaruh gravitasi terhadap … Read more

Fungsi Asesmen Formatif: Mendukung Murid Belajar

Apakah Bapak dan Ibu guru sering bingung ketika mengisi penilain Kompetensi Dasar murid di akhir semester? Biasanya Bapak dan Ibu isi dengan apa? Nilai tugas akhir atau ulangan akhir murid yang hanya berupa angka? Apakah Bapak dan Ibu guru yakin penilaian semacam itu akurat dan dapat dipertanggungjawabkan? Dengan adanya standar pencapaian angka tertentu untuk mengukur keberhasilan murid dan memunculkan pelabelan terhadap murid seperti bisa atau tidak bisa, bukankah hal itu sudah termasuk tindak penghakiman? Dan bagaimana sih rasanya jadi orang yang dihakimi? Tertekan, takut, tidak nyaman, pengin marah atau protes tapi tidak bisa. Mungkin perasaan semacam itu yang sekarang dirasakan oleh murid Bapak dan Ibu. Atau mungkin yang Bapak dan Ibu rasakan sewaktu jadi murid dulu? Lalu apa kaitannya dengan Asesmen Formatif? Apa itu asesmen formatif dan fungsi-nya dalam kegiatan pembelajaran? Harap tenang! Bapak dan Ibu guru jangan risau karena pada tulisan kali ini akan membahas solusi dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Bersumber dari Surat Kabar Guru Belajar (SKGB) Edisi ke-3 tahun keenam dengan tema Asesmen Formatif sebagai Upaya Merawat Kemerdekaan Belajar, terdapat kisah guru belajar yang mengalami masalah serupa. Guru Maryati Hulalata namanya, mengajar di SMP Lazuardi dan anggota Komunitas Guru Belajar Depok. Lalu bagaimana beliau mengatasi pertanyaan-pertanyaan yang meresahkan di atas? Semuanya akan diulas dalam tulisan ini. Yuk Bapak dan Ibu segera simak kisahnya di bawah ini! Setiap awal tahun pelajaran, guru-guru diminta menyiapkan berbagai instrumen administrasi, seperti Program Tahunan , Program Semester, dan Program Project Plan atau yang sering dikenal dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Tidak hanya masalah administrasi, intrumen pra-mengajar pun tidak kalah penting untuk disiapkan, salah satunya adalah Rencana Asesmen. Namun Guru Maryati sering mengenyampingkannya, beliau hanya akan menyalin file tahun lalu yang sering kali sudah tidak relevan. Hingga Pandemi datang dan PJJ diberlakukan, Guru Maryati bingung untuk memberi nilai Kompetensi Dasar murid-muridnya karena pembelajaran seluruhnya dilakukan secara online. Pasalnya semua penugasan langsung diberikan skor tanpa ada masukan perbaikan dan penyesuaian pengajaran di dalam kelas online-nya. Guru Maryati merasa seperti kembali ke masa lalu ketika penilaian berpatok pada angka dan penghakiman bisa atau tidak bisa dan tahu atau tidak tahu. Memberi nilai layaknya sebuah ulangan harian waktu sekolah dulu. Ulangan harian yang kemudian menjadi nilai tambah nilai ujian akhir. Guru Maryati menganggap penilaian semaca itu tidaklah akurat dan kurang dapat dipertanggungjawabkan. Beliau merasa kecolongan, ketika kelas yang dibawakan sudah demikian menarik, penugasan proyek yang menantang, eh nilai diberikan begitu saja tanpa memberi masukan berkala. Setelah menyadari kekeliruan besar yakni dengan tidak menerapkan Asesmen Formatif dalam pembelajarannya, Guru Maryati segera membuka catatan ketika mengikuti pelatihan asesmen yang pernah diselenggarakan sekolahnya dan berdiskusi dengan rekan guru lainnya. Selain itu, Guru Maryati juga amat terbantu dengan konten-konten yang membahas mengenai asesmen dari media sosial Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar. Beliau membaca dan berusaha memahami kembali mengenai asesmen. “Asesmen sejatinya merupakan alat bantu kita untuk mengetahui kemajuan murid dan membantu mereka mencapai target pembelajaran. Asesmen tidak melulu sesuatu yang diberi nilai, berupa angka dan dilakukan di akhir” (Maryati Hulalata) Baca juga: Merdeka Belajar di PAUD, Bagaimana Menerapkannya? Guru Maryati melakukan refleksi pembelajaran selama satu semester yang lalu. Sudahkah memberikan kesempatan murid-muridnya untuk merefleksikan pembelajaran dan mengevaluasi diri sendiri? Sudahkah memberi umpan balik sepanjang proses belajar yang membantu murid melakukan perbaikan? Menyadari betapa esensialnya peran sebuah asesmen khususnya fungsi asesmen formatif, di awal semester baru Guru Maryati menyediakan waktu untuk menyusun rencana asesmen dengan memperhatikan asesmen formatif secara seksama dan dilaksanakan dengan benar agar tujuan asesmen tercapai. Berbekal format yang diberikan sekolahnya, Guru Maryati memulai dari tujuan belajar yang diambil dari Kompetensi Dasar. 1.      Tujuan belajar ini dibuat lebih pendek penjelasannya dan langsung pada kegiatan yang akan dilakukan di kelas. 2.      Di sebelah kolom Learning Goals, ada kolom jenis asesmen yang dilakukan. Ini penting, sebagai bentuk informasi kegiatan apa yang membutuhkan masukan intensif dan mana yang bisa diambil penilaian berupa angka. 3.      Menuliskan bentuk asesmen. Tidak kalah penting karena membantu untuk mempersiapkan proses asesmen agar menjadi lebih terarah sesuai dengan tujuan pembelajaran. 4.      Terdapat kolom untuk rencana diferensiasi (akomodasi) dan rubrik. Kolom diferensiasi disiapkan sebagai tindakan awal , meskipun saat pelaksanaan sangat bisa disesuaikan sesuai kebutuhan. Sedangkan kolom rubrik hanya sebagai pelengkap dan pengingat. Dengan merencanakan asesmen secara matang, kini Guru Maryati sudah tidak pusing untuk memberi penilaian di akhir pembelajaran saat kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring. Dan yakin jika penilaian yang diberikan sudah akurat dan dapat dipertanggungjawabkan serta tidak menghakimi. Guru Maryati tidak ingin keliru lagi dan berupaya memastikan efektivitas asesmen formatif dan memaksimalkan fungsi-nya dalam proses belajar murid. Selain itu murid juga terbantu dengan adanya asesmen ini. mereka menyadari keberadaan guru yang siap membantu dan peran rekan sebaya yang masukannya membantu mereka memperbaiki kualitas kerja. Bagaimana Bapak dan Ibu guru, apakah kisah guru belajar di atas sudah meyakinkan Bapak dan Ibu guru untuk memberi nilai kepada murid secara akurat dengan menerapkan Aseesmen Formatif? Atau Bapak dan Ibu guru masih membutuhkan kisah-kisah inspiratif dan solutif dari  guru belajar lainnya? Tenang, semua yang Bapak dan Ibu guru cari bisa didapatkan dengan mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII yang akan diselenggarakan pada 20-21 November 2021 dengan tema Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000Pembicara. Caranya gimana? Gampang banget, tinggal klik tpn.gurubelajar.org

Katrol Nilai Murid dengan Hasil Asesmen Formatif, Bolehkah?

Pusing dengan nilai murid menjelang rapotan? Sebelum rapot dibagikan, Bapak dan Ibu Guru mungkin memiliki kebiasaan baru (atau mungkin mengulang kebiasaan yang sudah ada), ketika makin pusing dan makin sering mengusap balsem atau minyak kayu putih di kepala, guru pun mengumpulkan seluruh catatan murid untuk mendapat nilai. Untuk apa sih? Kemungkinan besar adalah untuk mengangkat nilai murid atau yang sering disebut katrol nilai.  Loh, tapi yang mau dinilai kan kemampuan akhir murid? Kenapa para guru mengumpulkan nilai-nilai tugas yang sifatnya asesmen formatif untuk memberikan nilai akhir? Apakah praktik ini betul? Pertanyaan di atas menjadi bahasan utama dari OGMB 7. Pada tanggal 25 Mei 2021, dua narasumber, yaitu Pak Mirwan Abdul Aziz dan Ibu Amalia Jiandra,  membagikan informasi mengenai asesmen formatif berdasarkan pengalaman mereka masing-masing. Dalam obrolan yang dipandu oleh moderator Ibu Ilona Christina, Bapak dan Ibu Guru dapat mengetahui lebih jauh mengenai penggunaan asesmen formatif yang tepat dan bagaimana penggunaannya. Apa itu Asesmen Formatif? Untuk membuka OGMB, Pak Mirwan dan Bu Amel menjelaskan apa yang dimaksud dengan asesmen formatif. Pak Mirwan menjabarkan asesmen formatif sebagai “proses yang digunakan oleh guru atau murid untuk mendapatkan umpan balik”. Sesuai dengan komentar Aris Ariyanti mengenai asesmen formatif, yaitu “asesmen untuk mengecek pemahaman murid”, Pak Mirwan menjabarkan lebih lanjut manfaat asesmen formatif. Bagi murid, data asesmen formatif dapat digunakan untuk mengetahui celah pemahaman yang dimiliki dengan tujuan pembelajaran. Untuk mencapai tujuan ini, penting bagi murid untuk mengetahui tujuan pembelajaran sehingga mereka dapat melakukan refleksi diri dari hasil asesmen formatif. Di sisi lain, asesmen formatif dapat digunakan pula oleh guru. Bila diolah dengan baik, data asesmen formatif dapat dimanfaatkan untuk melakukan penyesuaian proses belajar mengajar guna meningkatkan pencapaian siswa. Dengan kata lain, asesmen formatif bukan hanya memberikan informasi bagi murid, tetapi juga untuk guru.  Bu Amel kemudian mengungkapkan beberapa miskonsepsi mengenai asesmen formatif yang sering terjadi di antara para guru. Seperti yang sudah disebutkan di atas, asesmen formatif dianggap berfungsi untuk mengatrol nilai akhir. Bila murid tampak belum paham, akan semakin banyak asesmen formatif yang diberikan guru kepada murid tersebut. Padahal asesmen formatif adalah bagian dari asesmen sebagai proses belajar, bukan asesmen terhadap belajar. Dengan kata lain, tujuan asesmen formatif berbeda dengan asesmen yang dilakukan di akhir semester, atau asesmen sumatif.  Masih terkait dengan nilai akhir, Bu Amel mengutarakan miskonsepsi lain, yaitu asesmen formatif sering digunakan untuk langsung menentukan nilai akhir, atau keputusan akhir, kemampuan yang dimiliki murid. Beliau menjelaskan miskonsepsi ini dengan analogi kesalahan diagnosis penyakit, yaitu pemberian diagnosis di saat seseorang hanya menunjukkan satu gejala. Satu kali murid gagal dalam asesmen formatif, maka guru langsung memberikan label bahwa murid tidak mampu. Praktik ini tentu berlawanan dengan proses asesmen formatif yang harusnya berlangsung selama proses belajar berlangsung. Perlu diingat juga bahwa asesmen formatif tidak bertujuan menggambarkan kompetensi yang dimiliki murid di akhir semester. Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Pengambilan Data dan Tindak Lanjut Asesmen Formatif sama Pentingnya “Saya keinget, cara Pak Mirwan ajak anak-anak refleksi, sampe ada yang nyebut “Saya ga pengen jadi baligh, nanti nanggung dosa” Artinya refleksinya bener-bener nunjukkan anak sudah paham.”, komentar Maman, salah seorang peserta OGMB. Selain refleksi, apa saja cara yang bisa dilakukan dalam asesmen formatif ya? Pak Mirwan membagikan beberapa cara yang pernah beliau lakukan dalam proses belajar mengajar di kelas. Salah satunya adalah melalui cara self-assessment. Murid diberikan sebuah kertas kosong dan diminta untuk menuliskan pemahaman dari materi yang baru saja diajarkan. Hasilnya menarik karena murid dapat menggambarkan pemahaman mereka dalam berbagai cara di kertas tersebut. Ada murid yang menjelaskan pemahaman mereka, ada pula yang membuat mind-map. Ketika masa pandemi, beliau menggunakan bantuan beberapa aplikasi agar murid dapat mengomunikasikan pemahaman mereka. Terlepas dari cara apa yang digunakan, sekali lagi Pak Mirwan berpesan agar guru tidak hanya fokus pada cara melakukan asesmen formatif, tetapi juga bagaimana menindaklanjuti data yang sudah ada. Mengaitkan dengan salah satu komentar peserta, diferensiasi merupakan bentuk tindak lanjut yang dapat dipilih oleh guru. Ini tidak berarti bahwa guru harus membedakan cara pengajaran untuk masing-masing anak. Guru justru dapat melakukan pengelompokkan murid berdasarkan asesmen formatif dan mengajak murid yang dinilai lebih mampu untuk membantu temannya yang membutuhkan bantuan dalam memahami materi, atau sering disebut tutor sebaya. Asesmen Formatif Membantu Guru dan Murid Menjadi Merdeka Belajar Terakhir, Bu Amel menekankan adanya proses berkelanjutan dari asesmen formatif. Asesmen formatif berguna bagi guru dalam memodifikasi cara pengajaran secara berkala agar dapat memfasilitasi murid untuk mencapai tujuan pembelajaran. Murid juga dapat terus menerus merefleksikan pemahaman yang dimiliki melalui adanya asesmen formatif. Pak Mirwan menambahkan pula bahwa guru perlu memahami tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam memilih cara melakukan asesmen formatif. Cara yang dibagikan beliau belum tentu sesuai dengan tujuan pembelajaran dan kondisi murid di sekolah yang lain. Begitu pula sebaliknya. Yang terpenting adalah guru mau mencoba melakukan asesmen formatif guna membantu murid dan menyesuaikan proses pengajarannya. Dengan begitu, guru dan murid dapat mengalami Merdeka Belajar di dalam kelas.  Baca Juga Dari penjelasan Pak Mirwan dan Bu Amel, Bapak dan Ibu Guru dapat merefleksikan pemahaman mengenai asesmen formatif. Adakah miskonsepsi tentang asesmen formatif yang Bapak dan Ibu Guru miliki selama ini? Setelah mendengar obrolan ini, adakah perubahan dalam melakukan asesmen formatif yang ingin dilakukan? Bila Bapak dan Ibu Guru melewatkan atau ingin melihat kembali Obrolan Guru Merdeka Belajar “Salah Paham Guru Terhadap Asesmen Formatif”, Bapak dan Ibu Guru dapat menyaksikan di tautan berikut ini: