Menulis Praktik Baik Pembelajaran Inklusi

“Saya guru BK, jarang menulis. Tapi memiliki banyak praktik baik pembelajaran dengan murid disabilitas..” tutur salah seorang guru Program Pendidikan untuk Semua. Banyak guru yang merasa bahwa keterampilan menulis hanya dimiliki oleh guru bahasa. Sehingga banyak guru yang memiliki praktik baik, yang harusnya bisa disebarkan, terpaksa harus memendamnya. Oleh karena itulah dalam program Pendidikan untuk Semua ada sesi belajar menulis praktik baik. Kampus Guru Cikal mengadakan Program Pelatihan Penulisan Praktik Baik  Pendidikan Untuk Semua. Pelatihan diadakan pada tanggal 15 Juni hingga 22 Juni 2020. Pelatihan ini diikuti oleh 15 guru dari Yogyakarta dan 2 dari Jawa Tengah. Namun sebelumnya, telah diadakan sesi asesmen, intervensi, seminar orang tua, daring diskusi di WhatsApp dan pelatihan menulis. Pelatihan penulisan dilakukan di akhir rangkaian kegiatan dengan hasil akhir adalah peneribatan Surat Kabar Guru Belajar edisi Pendidikan Untuk Semua. Tujuan dari pelatihan ini adalah peserta mampu membuat tulisan praktik baik yang telah dilakukan menggunakan format ATAP, melakukan asesmen untuk memberi umpan balik mengenai tulisannya, dan peserta memiliki tulisan yang telah diperbaiki. Tahapan awal dari pelatihan ini berupa orientasi pelatihan menulis praktik baik program NusantaraRun. Untuk orientasi ini dilakukan dengan video conference melalui google meet. Ada 15 guru dari Yogjakarta dan 2 dari Jawa Tengah. Setelah peserta memperkenalkan diri, maka pelatih memperkenalkan penyelenggara kegiatan yaitu Kampus Guru Cikal atau yang biasa disingkat dengan KGC. KGC merupakan lembaga pengembangan karier guru yang percaya guru dengan kemerdekaan belajar adalah kunci perubahan pendidikan untuk mewujudkan pelajar yang kompeten, ekosistem pendidikan yang kolaboratif dan Indonesia yang demokratis. Peserta kemudian berkenalan dengan Komunitas Guru Belajar. Guru Belajar adalah komunitas pendidik untuk berdiskusi dan berbagi praktik baik pengajaran dan pendidikan yang diinisiasi oleh Kampus Guru Cikal. Komunitas Guru Belajar (KGB) percaya bahwa belajar bisa dari siapa saja. Sumber inspirasi bukan figur yang serba tahu dan sempurna, tapi rekan seperjalanan yang  realistis dengan pengalaman nyata, dan praktis, seringkali gagal sebelum berhasil. Selanjutnya berkenalan dengan pelatih dan pemandunya yang terdiri dari guru Rizqy Rahmat Hani dan guru Rizky Satria sebagai pelatih serta guru Kristijorini selaku pemandu.  Kenalan dengan pelatih dan pemandu Selama orientasi, peserta dijelaskan tentang hasil pelatihan akan mengirim tulisan praktik baik pembelajaran. Jika tulisan sudah dikirim, ada proses penyuntingan dan hasil penyuntingan akan diberikan umpan balik kepada peserta maka peserta tinggal memperbaiki tulisannya. Revisi akan dilakukan 3 kali perbaikan dan waktunya tidak terlalu panjang. Setelah mengikuti orientasi, peserta melakukan refleksi. Guru Iin Indarti ingin sekali menulis dengan baik. Dia bersemangat mengikuti kegiatan pelatihan menulis sampai selesai. Guru Dian Nurpita dari SKM Muhamadiyah 2 Yogyakarta berefleksi bahwa setelah sesi orientasi, menjadi lebih termotivasi untuk menulis. Mulai berlatih dengan menulis status dulu. Dia berharap, setelah mengikuti pelatihan akan menjadi lebih terarah lagi tulisannya. Guru Esti dari SLB Negeri 1 Sleman pertanyaan pada diri sendiri yang berujung pada memotivasi diri sendiri. “Apakah saya bisa menulis? Terkadang waktu menjadi alasan saya. Dengan sekuat tenaga, saya akan berusaha mencoba menuliskan goresan tinta walau dipandang hanya alakadarnya.” Guru Rufaidah dari SMK Negeri 1 Pringapus berefleksi bahwa setelah mengikuti orientasi tadi muncul kesiapan dalam diri untuk berlatih. Siap dibimbing, siap menjadi hebat bersama para pembimbing dan teman-teman yang luar biasa. Guru Shola Fibria dari SMA 3 Maretik berefleksi bahwa pelatihan ini keren sebab awalnya dia berpikir jika pelatihan akan membosankan karena pelatihan dilakukan secara mandiri. Ternyata dengan orientasi, dia melihat banyak teman yang semangat. Dia jadi tertular dan tidak merasa sendiri. Merasa ada teman dan didampingi. Semoga dengan pelatihan ini, dia dapat menyelesaikan pelatihan dengan baik dan mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan. Berharap mampu melaksanakan fasilitas yang ada dengan baik. Guru Maria Suprabaningtyas dari SMK Pangudi Luhur berefleksi bahwa dia merasa akan mendapatkan pelatihan yang sangat formal dan membosankan. Setelah mengikuti orientasi dia menjadi termotivasi untuk mencoba belajar menulis lagi. Dia merasa, pendampingnya freandly dan sabar. Menuntun step by step sampai peserta paham benar. Dia membutuhkan cara untuk menjaga agar tetap bisa fokus ketika menulis hingga tulisan mengalir, tidak kaku dan ide tidak melompat-lompat. Refleksi dari guru Amalia Ahadini dari SLB Negeri Pembina Yogyakarta adalah dirinya merasa terpacu untuk belajar menulis. Dia merasa diajari, dibimbing sampai jadi tulisan. Kesempatan ini membuatnya bahagia. Tahapan setelah orientasi adalah melakukan pelatihan mandiri di platform digital, sekolahmu.com sekaligus pendampingan dari pembimbing dimulai pada hari Selasa sampai Jumat, tanggal 16-19 Juni 2020. Para peserta merasakan keseruan saat mengikuti dan mengerjakan pelatihan mandiri. Materi yang disampaikan mudah dipahami dari yang berupa ebook, video tutorial pembelajaran hingga tugas mandiri yang menantang. Hasil tugas juga dapat segera diketahui. Ada yang merasa bahwa materinya berat tapi dikemas dengan sangat praktis dan bermakna. Merubah pola pikir guru bahwa menulis itu tidak sulit. Peserta tidak merasa digurui, namun dibuka wawasannya tentang menulis. Jika mereka kesulitan, bisa langsung bertanya kepada pemandu maupun pembimbing pelatihan. Peserta selanjutnya melalui tahapan akhir dengan mencoba menulis praktik baik  menggunakan format ATAP, peserta akan mendapatkan sertifikat secara otomatis. Peserta merasa tidak terbebani dalam mengikuti pelatihan karena bisa mengikuti kapan saja dan dimana saja. Tahapan berikutnya adalah refleksi setelah mengikuti pelatihan menulis menggunakan video conference, google meet pada hari Senin, 22 Juni 2020. Sebelum refleksi, peserta diajak bermain menggunakan menti.com. Jawaban dari peserta yang mengikuti permainan ini sungguh menyenangkan. Peserta diajak untuk mengingat perasaan diawal pelatihan hingga akhirnya merasakan akhir pelatihan. Mereka berefleksi dengan seru dan asyik. Kesimpulan dari refleksi adalah mulai saja apa yang ingin ditulis, mulai banyak membaca dan mulai melakukan praktik baik pembelajaran yang dituliskan. Mulai dengan menuliskan semua ide yang dipunyai, tumpahkan saja dulu apa yang dirasakan. Lanjutkan dengan menyusun kerangka dalam bentuk pertanyaan. Masukkan semua yang sudah ditulis tadi kedalam format ATAP. Tidak perlu merasa ragu dan takut salah sebab tulisan akan mendapatkan umpan balik dan peserta dapat memperbaiki tulisan sesuai dengan umpan balik tersebut. Selanjutnya, peserta melakukan pengumpulan tulisan mulai dari tanggal 23-30 Juni 2020. Pemberian umpan balik dan pendampingan akan dilakukan pada tanggal 1-10 Juli 2020. Terbit menjadi Surat Kabar Guru Belajar Edisi Pendidikan  Untuk Semua adalah 20 Juli 2020. Pada akhirnya peserta berkomitmen untuk memulai dulu. Mencari ide tentang praktik baik pembelajaran dan menyusun kerangka tulisan dengan format ATAP. Memulai dan berkomitmen bisa jadi adalah kunci untuk … Read more

Beasiswa Murid Penyandang Disabilitas

Beasiswa Murid Penyandang Disabilitas yang diberikan oleh NusantaRun melalui program Pendidikan untuk Semua tidak seperti membalikkan telapak tangan. Ada serangkaian aktivitas sebelum murid mendapatkannya. Ada proses pelatihan guru, agar murid yang akan menerima beasiswa murid penyandang disabilitas ini bisa mendapatkan asesmen dan intervensi yang tepat pula. Beasiswa ini juga tidak sekadar menuntuk guru untuk melakukan sesuatu, juga mengajak orangtua untuk peduli. Karena sebelumnya banyak orangtua tidak tahu akan karier murid penyandang disabilitas setelah lulus nanti. Setelah melakukan seleksi terhadap 175 murid yang mendaftarkan diri untuk mendapatkan beasiswa murid penyandang disabilitas. Maka diputuskan sebanyak 80 murid yang akan mendapat kesempatan ke tahap berikutnya. Delapan puluh murid inilah yang akan mengikuti pelatihan keterampilan belajar. Silakan bisa diunduh undangan serta pengumuman di tautan di bawah ini. PENGUMUMAN JAWA TENGAHPENGUMUMAN YOGYAKARTA

Pelatihan Pemetaan Potensi Karir ABK Pasca Pendidikan Menengah

Pelatihan ini dilaksanakan selama 3 hari yaitu pada hari Kamis sampai Sabtu, 3 – 5 Oktober 2019 yang bertempat di LPP Garden Hotel, Yogyakarta. Peserta yang ikut  sejumlah 26 orang ,19 orang perempuan dan 7 orang laki-laki. Sebagai gambaran, bimbingan karir untuk anak berkebutuhan khusus adalah hal penting yang prosesnya tidak terjadi begitu saja. Berbagai persiapan untuk membimbing anak berkebutuhan khusus adalah proses yang cukup panjang yang harus dilalui oleh seorang guru untuk membuat analisa, profil dan Program Pembelajaran Individu. Pelatihan Pemetaan Potensi Karier Murid ABK ini merupakan sebuah pelatihan tatap muka yang diselenggarakan oleh Kampus Guru Cikal dan Nusantarun dengan tujuan memberikan pembekalan guru-guru di Jawa Tengah untuk bisa memetakan potensi ABK dan membuat Program Pembelajaran Individu. Pelatihan dibuka dengan pemaparan mengenai Kampus Guru Cikal (KGC), Komunitas Guru Belajar (KGB), dan profil tim KGC yang akan mendampingi peserta selama pelatihan. Aktivitas selanjutnya adalah para  peserta diminta  untuk berkenalan melalui kegiatan “Sepatu Bicara”. Peserta diminta untuk melepas sepatu sisi kiri dan meletakkannya di tengah. Setelah itu, kembali ke tempat duduknya masing-masing. Setelah duduk, peserta diminta mengambil sepatu secara acak yang bukan sepatunya sendiri. Setelah itu, mereka diminta untuk mencari pasangan sepatunya. Ketika menemukan jodoh pasangan sepatunya, peserta diminta untuk saling bercerita. Pada pelatihan sebelumnya, peserta belajar mengenai asesmen, wawancara, observasi, serta minat berdasarkan teori Holland. Beberapa peserta juga mengemukakan perasaan dan pengalamannya dalam melakukan asesmen dan membuat laporan profiling, seperti kesulitan menyesuaikan kosakata saat wawancara dengan anak tunagrahita. Setelah review, pelatih memaparkan mengenai alur pelatihan dan meminta peserta untuk menuliskan apa yang sudah mereka ketahui (S) dan apa yang ingin mereka ketahui (I) mengenai bimbingan karir ABK pada kertas post-it. Peserta lalu diminta untuk mengisi kolom S, I dan P. Berikutnya peserta dijelaskan tentang tujuan dan alur pelatihan, sebelum akhirnya sesi ini ditutup dengan menyepakati kesepakatan bersama tentang apa yang dapat dilakukan agar pelatihan berjalan secara lancar. Peserta telah paham mengenai tujuan dan metode-metode asesmen (seperti observasi, wawancara, dan tes). Pada saat aktivitas refleksi profiling pelatih membuka dengan membagi kelompok menjadi berpasangan dengan kegiatan mencari jodoh melalui potongan kertas dalam kalimat. Masing-masing anggota kelompok berdiskusi mengenai keberhasilan dan tantangan yang dihadapi dalam membuat profiling asesmen yang mereka jalani sebelum pelatihan ini. Kemudian peserta diminta untuk menempelkan profiling asesmennya di meja, dan melakukan gallery walk, yaitu membaca profiling assessment yang lain, dan memberikan umpan balik dengan menuliskan post it dan menempelkan di kertas profiling assessment temannya. Kemudian setelah semua peserta menerima umpan balik dari peserta lainnya, peserta kembali kepada pasangannya dan bersama merumuskan kunci keberhasilan dan tantangan dalam membuat profiling assessment. Lalu dalam kelompok besar, pelatih membuat daftar dari hasil diskusi dalam tabel tampak seperti dan tidak seperti. Kemudian masing-masing peserta membuat catatan untuk revisi profil assessment yang sudah dibuat oleh masing-masing. Kegiatan ini berhasil membuat para peserta untuk berpikir kembali mengenai apa saja yang harus dilakukan dan penting dilakukan untuk membuat profiling assessment. Kegiatan selanjutnya adalah  Analisa Hasil Profiling  dengan mengajak para peserta bermain peran dengan menjadi detektif.  Peserta diminta untuk menyimak baik-baik  kasus, alat bukti dan dugaan yang dilakukan. Selanjutnya peserta diminta untuk menjelaskan motifnya dan siapa pelakunya.  Melalui kegiatan bermain peran ini para  peserta terlihat sangat antusias pada saat kegiatan menonton video. Beberapa peserta bisa memberikan jawaban pertanyaan dari video yang telah ditonton seperti apa saja hal yang diamati oleh sang detektif, menjelaskan kesimpulan yang diambil oleh sang detektif, bagaimana cara detektif bisa membuat kesimpulan dan apa yang bisa dipelajari dari cara detektif mengambil kesimpulan tersebut. Di hari  kedua Jumat, 4 Oktober 2019 para peserta belajar tentang Program Pembelajaran Individu (PPI): Konsep, Tujuan, Cara Kerja. Sesi dimulai dengan diskusi bersama peserta mengenai analisa profil yang sudah mereka buat sudah dapat langsung dibuat menjadi PPI. Sebagian peserta menjawab belum cukup, harus dibicarakan lagi dengan orang tua. Lalu dilanjutkan dengan apa yang mereka ketahui tentang PPI. Setelah itu pelatih memaparkan tujuan, konsep, dan prinsip PPI. Setelah itu, sesi pun diakhiri dengan contoh lembar PPI beserta penjelasan mengenai isinya. Beberapa peserta sudah familiar dengan istilah konferensi. Beberapa peserta juga memiliki pengalaman melakukan konferensi kelas dengan orang tua. Saat menuliskan apa yang ada di pikiran mereka mengenai PPI, sebagian besar sudah memiliki pandangan yang sesuai dan sama mengenai PPI. Peserta mengetahui bahwa PPI bersifat individu sesuai dengan kebutuhan dan minat anak, berisikan identitas, target/rencana perilaku yang ingin dicapai, waktu pelaksanaan, kemampuan anak saat ini, materi yang diberikan, strategi pengajaran, serta evaluasi yang dilakukan. Mereka juga sudah tahu kalau PPI merupakan program yang disusun berdasarkan informasi dari berbagai pihak yang terlibat dengan anak.  Pada saat materi tentang keterampilan komunikasi dengan murid dan orangtua ABK  dimulai dengan diskusi apa saja yang peserta ketahui tentang keterampilan komunikasi, terutama dengan ABK dan orang tua ABK. Kegiatan berikutnya adalah berbagi pengalaman melihatkan orangtua murid ABK dalam merencanakan karirnya. Dilanjutkan dengan diskusi tantangan terbesar dalam berkomunikasi dengan orang tua dan murid saat merencanakan karirnya diteruskan  dengan paparan tentang konferensi 2 dan 3 arah. Pada saat masuk materi PPI, peserta diberikan  penjelasan tentang elemen dalam PPI seperti deskripsi kemampuan siswa saat ini yang bisa diperoleh dari lembar konferensi, menentukan tujuan umum yang akan dicapai dan harus  relevan, fungsional dan rasional. Pelatih menjelaskan setelah menuliskan tujuan umum peserta bisa membuat tujuan pembelajaran khusus dan deskripsi tentang pembelajaran yang menunjang tujuan pembelajaran. Dengan ini program pembelajaran individual setidaknya bisa diukur tingkat keberhasilannya.  Penentuan waktu pelaksanaan program dan berakhirnya kapan  juga perlu dituliskan di awal dikarenakan akan menentukan kapan akan dilakukan evaluasi program.  Selanjutnya para peserta diminta untuk membuat PPI dari studi kasus Wira dan setelah itu mereka mempresentasikannya kedepan. Kegiatan selanjutnya adalah membuat lembar konferensi 3 arah dari profiling murid masing-masing dan berlanjut membuat program pembelajaran individual  dari lembar konferensi 3 arah yang telah mereka buat. Pada hari ketiga peserta  belajar tentang Program Bimbingan Karir dengan tujuan   Menggali pemahaman peserta  tentang apa itu bimbingan karir bagi abk.   Pada  materi Perencanaan Bimbingan Karir dan Menyusun Rancangan Bimbingan Karir. Sesi awal,  peserta diminta diskusi mengenai perbedaan pendidikan vokasional dan pendidikan akademik, beserta karakteristik anak yang direkomendasikan pada masing-masing pendidikan tersebut. Setelah itu pelatih memaparkan mengenai hal penting dalam menyusun rancangan bimbingan karir, … Read more

Persiapkan Karier Murid Disabilitas di Masa Depan lewat Pelatihan Pemetaan Potensi ABK Yogyakarta

Hermawan, Penyandang Disabilitas Grahita asal Solo Jawa Tengah, pasca lulus SMALB 2 tahun lalu merasa bingung dengan arah karir nya. Pasca lulus ia masih datang ke Sekolah untuk sekedar main. Sudah tidak tercatat sebagai murid di sekolah, aktifitas Hermawan hanya duduk-duduk di halaman sekolah. Hingga tiba waktu pulang, Hermawan akan ikut pulang bersama  murid lain. Cerita tersebut tidak hanya dialami oleh Hermawan, tetapi juga dialami sebagian besar murid disabilitas di Indonesia. Pasca lulus di jenjang Sekolah Menengah Atas, sebagian besar anak dan orangtua bingung apa yang harus dilakukan, mau diarahkan kemana karier si anak kedepan. Berangkat dari permasalahan tersebut, Kampus Guru Cikal  bekerja sama dengan Nusantarun menyelenggarakan Pelatihan Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas. Acara yang berlangsung di LPP Hotel tersebut diikuti oleh 40 peserta yang berlatar belakang guru SMALB, Guru BK SMA inklusi dan Guru BK Sekolah reguler. Pelatihan ini adalah rangkaian Acara Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas Jateng & DIY. Pelatihan yang berlangsung selama 3 hari ini (27-29  Agustus 2019) bertujuan untuk peserta memiliki persepsi yang sama mengenai tujuan pendidikan inklusi, dan mampu melakukan asesmen untuk mengetahui arah karier ABK. Sehingga kedepan guru mampu memetakan potensi peserta didik dan membantu peserta didik penyandang disabilitas untuk menentukan arah kariernya. Ada 4 pelatih yang memberikan materi pada pelatihan ini, Dina Febrina Ekasari, Yulita Patricia Semet dan Amalia Jiandra dan Budi Setiawan. Acara pelatihan ini diawali dengan sesi Pesta Permen. Sesi ini bertujuan sebagai sesi perkenalan antar peserta. Setelah sesi perkenalan,  Pelatih Budi Setiawan mengawali sesi pelatihan dengan memberikan gambaran dan alur secara keseluruhan tentang Program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas serta menjelaskan tentang Kampus Guru Cikal. Pelatih Budi menjelaskan, Program ini merupakan program yang sumber dananya berasal dari masyarakat yang digalang oleh pelari Nusantarun. Sumber dana ini digunakan untuk pengembangan murid penyandang disabilitas Jateng & DIY. Sesi selanjutnya diisi materi orientasi pelatihan oleh Pelatih Dina Febriana. Selanjutnya, peserta diminta untuk mengisi kolom S, I dan P.  Berikutnya peserta dijelaskan tentang tujuan dan alur pelatihan, sebelum akhirnya sesi ini ditutup dengan menyepakati kesepakatan bersama tentang apa yang dapat dilakukan agar pelatihan berjalan secara lancar. Pada Sesi Keberagaman Karakteristik ABK, Pelatihan diawali dengan menebak profesi orang dengan kebutuhan khusus dari fotonya (tuna daksa, tuna rungu) lalu berdiskusi dengan tantangan yang dialami oleh orang tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Materi Keragaman karakteristik disampaikan melalui pemainan kartu. Peserta nampak antusias dengan permainan kartu yang diberikan oleh pelatih. Sesi selanjutnya adalah sesi Miskonsepsi Pendidikan Inklusi. Dalam Sesi ini, pelatih Dina mengorek tajam mengenai salah kaprah pendidikan inklusi yang selama ini menjadi opini masyarakat. Hari ketiga, peserta materi diberi materi tentang Prinsip, Tujuan dan Asas asesmen. Tujuan dari penyampaian materi ini adalah diharapkan guru dapat memetakan potensi murid disabilitas. Materi ini dilanjutkan dengan materi Ragam Asesmen yang disampaikan oleh Pelatih Dina. Melalui pasangan janji yang di jam tertentu, awalnya peserta diminta untuk berdiskusi menggunakan kegiatan think-pair-share tentang asesmen sumatif dan formatif. Beberapa peserta diminta untuk berbagi pendapat hasil diskusinya. Lalu peserta diberikan penjelasan tentang asesmen untuk, terhadap dan sebagai proses belajar. Dari penjelasan tersebut, peserta lalu diajak melakukan kegiatan simulasi tentang 3 kegiatan yang berbeda. Untuk kegiatan ini peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Setelah simulasi, peserta diminta untuk menentukan jenis asesmen mana yang dapat dilakukan dari masing-masing kegiatan, sesuai dengan karakteristik asesmen yang telah dijabarkan Sesi selanjutnya adalah praktik pembuatan asesmen. Pembuatan Asesmen ini bertujuan agar peserta dapat memetakan potensi peserta didiknya. Nantinya, hasil asesmen ini akan dijadikan acuan untuk membantu peserta didik menentukan arah kariernya. Pelatihan ini disambut baik oleh peserta. “Alhamdulillah…terima untuk pelatihan yang asyik dari tim Kampus Guru Cikal. Materi yang menarik jadi semakin menyenangkan dibungkus dengan games yang seru. InsyaAllah sangat bermanfaat bagi saya.” Ujar Amelia, peserta pelatihan yang berasal dari SLBN Pembina Yogyakarta. Sejalan dengan pendapat Amelia, Fatrik Marandau, guru SMA Tumbuh mengatakan “Terimakasih kampus Guru Cikal sudah memperlengkapi kami dengan pemahaman yang semakin lengkap dan keterampilan yang baru, untuk kami dapat semakin efektif mendampingi anak-anak. Sukses untuk Bapak Ibu semua. Sukses juga untuk Kampus Guru Cikal. Mari terus tebarkan kebaikan kepada anak-anak kita! Terimakasih”

Memetakan Potensi ABK dengan Asesmen

Apa jadinya seorang ahli bedah yang dikenal hebat, terlempar ke masa di mana alat-alat bedah tidak ada. Apakah ia masih bisa melakukan praktik membedahnya?  Namanya Jyin Hyuk, seorang dokter bedah yang hidup dan tinggal di masa modern yang mengalami kejadian aneh, yang membuatnya harus terlempar jauh ke masa Dinasti Joseon. Dalam masa itu, teknologi medis masih dalam tahap awal. Banyak kasus yang dialami Jyin Hyuk ketika ia terlempar ke waktu yang berbeda. Salah satunya adalah ketika ia menemui seorang anak yang sakit perut, mual, mata tampak cekung, dan juga kulit kering.  Dari sekilas melihat kondisi anak tersebut, Jyin Hyuk meminta warga untuk menjaga kebersihan dan melakukan beberapa tindakan. Namun tak disangka, wabah melebar, ada beberapa warga yang meninggal karena penyakit tersebut. Di masa belum ada peralatan medis tersebut, Jyin Hyuk membuat alat alternatif, obat alternatif dan melakukan beberapa keputusan agar virus tersebut tidak tersebar. Asesmen, saya melihat apa yang Jyin Hyuk sebagai seorang dokter melakukan asesmen, dia memperkirakan apa yang sedang dialami si anak dari mengobservasinya, seringnya mual, sakit perut hingga kulit kering membuatnya mendiagnosis bahwa si anak terkena kolera. Ia pun tahu kalau virus itu akan cepat menyebar dan mengambil beberapa keputusan sampai membuat beberapa obat dan alat untuk mengobati yang sudah terkena dampak. Sebagai seorang guru, salah satu yang perlu dimiliki adalah kemampuan seperti dokter Jyin Hyuk, yaitu melakukan asesmen. Oleh karena itulah dalam program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas pelatihan pertama difokuskan mengajak guru peserta program untuk bisa melakukan asesmen. Pelatihan bertema  “Pemetaan Potensi ABK Pasca Pendidikan Menengah” ini diikuti sekitar 40 guru pembimbing khusus dari SMALB, dan guru BK dari  SMA/SMK/Madrasah Inklusi di Jawa Tengah. Pelatihan yang berlangsung selama 3 hari ini (5-7 Agustus 2019) bertujuan untuk peserta memiliki persepsi yang sama mengenai tujuan pendidikan inklusi, dan mampu melakukan asesmen untuk mengidentifikasi ABK. “Sering banget terjadi miskonsepsi diantara guru mengenai pendidikan inklusi”, ujar Vitriani Sumarlis salah satu pelatih dari Kampus Guru Cikal. Oleh karena itulah di bagian awal pelatihan, peserta diajak untuk berpikir dan berdiskusi mengenai miskonsepsi pendidikan inklusi, seperti : Murid dengan disabilitas/ berkebutuhan khusus tidak akan mampu mengikuti kurikulum yang sama seperti anak-anak pada umumnya  Kurikulum khusus perlu dirancang untuk anak-anak dengan disabilitas/ kebutuhan khusus Menerima murid disabilitas/berkebutuhan khusus dalam kelas reguler hanya akan menghambat pencapaian murid-murid yang lain di kelas tersebut  Pernyataan-pernyataan tersebut membawa peserta berbeda pendapat, ada yang setuju ada pula yang tidak setuju. Dari proses inilah, kami melihat beberapa guru memang masih kebingungan mengenai tujuan pendidikan inklusi. Untuk lebih memberikan gambaran mengenai pendidikan inklusi, pelatih memutarkan sebuah video tentang praktik pendidikan inklusi di negara-negara eropa. Peserta kemudian diajak berdiskusi antarkelompok. “Saya jadi mulai memiliki gambaran sebagai guru BK menerapkan pendidikan inklusi di sekolah saya. Kalau memang pendidikan untuk semua, mengapa perlu kurikulum khusus. Saya mulai memahami bahwa untuk mencapai itu, salah satu yang perlu dilakukan adalah kolaborasi..” ujar salah satu peserta guru BK. Setelah itu pelatihan yang berlangsung di Gedung BP-Diksus, Semarang ini mengajak peserta untuk mengenali keragaman ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Karena jika guru mengetahui tentang keragaman ABK, guru bisa lebih mudah memberikan tindakan yang tepat sesuai ragam ABK-nya. Dalam sesi ini, peserta diajak bermain kartu Murid Istimewaku, kartu permainan yang bertujuan mengajak peserta tahu dan mengerti ragam ABK. Melalui permainan, ragam ABK yang berjumlah banyak memudahkan untuk dimengerti oleh peserta dan kemudian mengelompokkannya ke dalam area-area disabilitas, mana ragam disabilitas yang masuk area disabilitas fisik, mana yang masuk disabilitas sensori, mental, dan intelektual. “Permainannya seru, mengasah peserta untuk bisa merancang strategi agar mendapat skor banyak. Selain itu, penggunaan perbedaan warna memudahkan kami memetakan area disabilitas murid..” ujar salah satu peserta program. Harapannya setelah mengetahui tujuan pendidikan inklusi dan ragam ABK, guru bisa melakukan asesmen yang tepat untuk murid. Oleh karena itulah sesi selanjutnya yang berlangsung di hari kedua membahas tentang prinsip, tujuan dan cara asesmen.  Jika diandaikan seorang dokter Jyin Hyuk yang terlempar ke masa belum mengenal peralatan medis, dan menggunakan apa yang ada di lingkungannya untuk membantu mengobati pasien, maka sebenarnya tantangan guru adalah itu. Tidak bergantung asesmen-asesmen dari lembaga lain yang biasanya berharga tinggi melalui serangkaian tes. “Tantangannya adalah mengajak guru menggunakan apa yang ada untuk melakukan asesmen. Dari sesederhana melakukan pengamatan kepada murid, melakukan wawancara. Karena selama ini yang terjadi di kalangan guru adalah cara melakukan asesmen menggunakan alat berupa tes, yang terkadang berbiaya..” ujar Rizqy salah satu pelatih dalam tahap ini. Lewat berbagai simulasi permainan, peserta diajak untuk saling mengamati satu sama lain. Mencatat apa yang dilakukan, bagaimana perilakunya, menanyainya untuk mendapat gambaran orang tersebut.  “Memang tantangannya dalam asesmen, bagaimana melakukan asesmen tidak secara langsung dan murid mengetahui bahwa mereka sedang diamati/diwawancarai.” ujar Vitriani Sumarlis kepada peserta setelah melakukan simulasi observasi dan wawancara. Di hari terakhir, peserta diajak mengenali bakat dan minat murid melalui teori Holland. Di sesi ini peserta antusias sekali mempelajari mengenai Teori Holland, yang membagi minat menjadi 6 yaitu realistik (sang pekerja), investigatif (sang pemikir), artistik (sang kreator), sosial (sang penolong), wirausaha (sang pembujuk), dan konvensional (sang pengatur). Harapannya, para peserta memiliki pengetahuan mengenai minat sehingga bisa menumbuhkan minat-minat yang murid miliki. “Pelatihan yang berbeda dari pelatihan lainnya. Tiap hari hampir 8 jam pelatihan namun tidak terasa.” Ujar Nanik Qomariyah, salah satu peserta 

Kerja Barengan untuk Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas

“Saya sangat senang sekali dengan program ini. Bahwa benar seorang guru harus belajar dan belajar terus, karena saya ingin sekali mengoptimalkan kembali potensi yang dimiliki oleh anak, biar anak-anak itu bisa.” ungkap Septi Mardianti seorang guru dari SLBN Kota Tegal yang mengikuti kegiatan Sosialisasi Program Pengembangan Murid Disabilitas oleh Kampus Guru Cikal, Jumat 3 April 2019 di Gedung B Aula Ki Hajar Dewantara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah yang dihadiri 120 Kepala Sekolah SMA, SMK, MA Inklusi serta SLB di Jawa Tengah Kegiatan sosialisasi ini merupakan kegiatan awal dari serangkaian kegiatan dalam program Pengembangan Murid Disabilitas yang dilakukan oleh Kampus Guru Cikal. Pendanaan dari program ini didapatkan dari donasi yang digalang melalui lari ultra marathon yang diadakan NusantaRun pada 7-9 Desember 2018 lalu. Upaya penggalangan dana oleh para pelari tersebut berhasil mengumpulkan dana sejumlah 2,65 miliar. Hasil donasi tersebut yang digunakan untuk membiayai Program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas di Jawa Tengah dan DIY. Ada 3 subjek yang menjadi sasaran dalam program ini, yaitu murid penyandang disabilitas, guru BK dan orangtua. Murid penyandang disabilitas selain mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, juga mendapat pelatihan keterampilan belajar untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Guru BK mendapatkan pelatihan pendidikan inklusi dan pelatihan bimbingan karier. Harapannya dari pelatihan tersebut guru BK memiliki keterampilan dalam mendampingi murid penyandang disabilitas untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Orangtua juga menjadi sasaran program karena dukungan orangtua penting bagi keberhasilan pendidikan murid penyandang disabilitas. Dalam sosialisasi program pengembangan murid disabilitas, Bukik Setiawan selaku ketua Kampus Guru Cikal menyatakan bahwa ekosistem pendidikan kita membutuhkan murid penyandang disabilitas yang melanjutkan pendidikan tinggi sebagai kisah sukses agar semakin banyak dukungan bagi pendidikan inklusi. “Layaknya seorang petani yang menanam bibit tanaman dengan metode yang ia gunakan, maka jika berhasil akan bisa ditiru oleh petani lainnya. Program ini akan berjalan jika ada keterlibatan banyak pihak, baik dinas, sekolah, guru, dan juga masyarakat” ujar Bukik dalam acara tersebut. Sejalan dengan Bukik Setiawan, wakil gubernur Jawa Tengah Taj Yasin yang hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa perlu jangkauan yang lebih luas untuk pendidikan inklusi, jika pemerintah provinsi saja jangkauannya kecil. Program yang digagas NusantaRun merupakan dukungan nyata dari masyarakat dalam mendukung cita-cita pendidikan untuk semua.

Menemukan Teman Seperjalanan di Jalan Sepi #PendidikanUntukSemua

Hamzah (32 tahun) seorang tuna netra dari Makassar, mengatakan ia sering menerima komentar negatif dari para guru yang mengeluhkan kinerjanya di kelas tetapi ia tidak pernah mendapatkan dukungan atau materi yang disesuaikan untuk membantu dirinya untuk terlibat. Meskipun kurangnya dorongan dari gurunya, Hamzah bersikeras untuk mengejar pendidikan tinggi seperti teman-temannya yang tidak cacat, dan bermimpi menjadi guru di sebuah sekolah Islam. Tetapi Hamzah ditolak pada tahun 2003 oleh fakultas pendidikan (tarbiyah) di Alauddin UIN. Dia diberi tahu bahwa orang buta tidak bisa menjadi guru dan institut itu tidak bisa menampungnya. Dia akhirnya diterima ke departemen sastra Inggris di UNM. Sosok Hamzah yang dituliskan oleh Dina Afrianty, peneliti La Trobe University, Australia dalam artikel berjudul “People with Disability: Locked out of Learning?” adalah salah satu contoh berhasil seorang disabilitas bisa mengenyam pendidikan tinggi. Namun masih banyak pekerjaan rumah berkait dengan akses masuk perguruan tinggi bagi murid disabilitas. “Usaha-usaha memang sudah dimulai, tapi di seluruh Indonesia belum banyak. Hanya beberapa perguruan tinggi yang mampu menyediakan fasilitas yang memudahkan civitas academica dalam belajar dan mencapai semua tempat dengan menjaga keselamatannya,” kata Staf Ahli Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) bidang Akademik, Paulina Pannen. Itulah salah satu alasan program #PendidikanUntukSemua dijalankan, memberikan akses perguruan tinggi kepada murid-murid penyandang disabilitas. Tantanganya adalah mencari perguruan tinggi yang sudah menjalankan pendidikan inklusi. Selasa (19/2/2019) Kampus Guru Cikal mulai melakukan audiensi dengan berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Audiensi ini bertujuan untuk mempelajari, sejauh mana perguruan tinggi tersebut peduli dengan mahasiswa penyandang disabilitas. Perguruan tinggi yang menjadi kunjungan awal oleh tim Kampus Guru Cikal adalah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pemilihan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta karena perguruan tinggi tersebut yang menjadi pelopor perguruan tinggi yang memfasilitasi penyandang disabilitas sejak tahun 2007. Dalam audiensi tersebut tim Kampus Guru Cikal diwakili oleh Bukik Setiawan selaku ketua Kampus Guru Cikal dan Rizqy Rahmat Hani selaku ketua program #PendidikanUntukSemua . Audiensi dilakukan di gedung PAU lantai 2 UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kami disambut dengan hangat oleh bapak Waryono, selaku wakil rektor bidang kerjasama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Arif Maftuhin selaku ketua Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Keseriusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam menjalankan pendidikan inklusi di perguruan tinggi tidak main-main. Pusat Layanan Difabel menjadi tonggak dalam memperjuangkan pendidikan inklusi. “Mahasiswa difabel belajar bersama mahasiswa lainnya, tidak ada kelas khusus, tidak ada program khusus bagi mereka. Tugas Pusat Layanan Difabel adalah memastikan bahwa proses mereka dalam kegiatan belajar mengajar dan kegiatan akademik yang lain itu dapat terlibat secara penuh.  Misalnya kalau ada mahasiswa tuli, kita mengirimkan pendamping, baik berupa no taker maupun juru bahasa isyarat. Misalnya ada mahasiswa tuna netra, kita memfasilitasi mereka untuk mengakses materi-materi kuliah dengan proses digitalisasi. Kita mencoba agar proses menjadi inklusif itu bisa benar-benar dirasakan oleh mahasiswa yang belajar di UIN SUKA.” kata Arif Maftuhin. Dalam audiensi tersebut Kampus Guru Cikal juga menjajaki kemungkinan kerjasama untuk program #PendidikanUntukSemua dengan memberikan beasiswa NusantaRun Enam kepada murid penyandang disabilitas potensional. Gayung bersambut, PLD juga mengakomodir beasiswa untuk mahasiswa penyandang disabilitas. Namun selama ini mengalami kendala, sedikit yang mengikuti seleksi tersebut. “Kami sudah lama membuka pendaftaran mahasiswa difabel, bahkan sudah ada jalur khusus dan berbeasiswa, tapi justru yang daftar tidak banyak. Ada kuota 15, pendaftar maksimal 20” ujar Waryono. Hal tersebut dikarenakan orangtua yang masih merasa takut dan tidak percaya bahwa anaknya mampu melanjutkan ke perguruan tinggi. Tantangan ini terjawab oleh program #PendidikanUntukSemua yang menyiapkan guru, orangtua dan murid penyandang disabilitas untuk siap melanjutkan ke perguruan tinggi. “Jadi yang lebih penting sebenarnya adalah adaptasi kelas itu terhadap difabel, bukan pada prasarana fisik atau apa yang mungkin jika disiapkan belum tentu digunakan.” ujar Arif mengakhiri sesi audiensi siang itu. Apa yang UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta perjuangkan selama ini sesuai dengan program #PendidikanUntukSemua Kampus Guru Cikal, pertemuan ini seperti menemukan teman seperjalanan di jalan sepi #PendidikanUntukSemua.

Merayakan Kebaikan

“Menyenangkan hatiMenempati lazuardi, melintasiAnganku cemerlangBerhiasakan warna-warna..” Lirik lagu berjudul Warna-Warna yang dinyanyikan Andien menjadi pamungkas yang tepat untuk acara Rayakan Kebaikan. Dengan berbagai warna-warna kostum bertema pantai, para pelari, media, pihak yang terlibat dalam penggalangan dan penyaluran dana berkumpul di ONBC NISP Tower, Kuningan Jakarta Selatan pada Sabtu, 9 Februari 2019 untuk merayakan kebaikkan. Acara ini diadakan dalam rangka penyerahan donasi kepada Kampus Guru Cikal yang dipercaya untuk merancang dan melaksanakan program Pengembangan Murid Disabilitas di Jawa Tengah dan DIY. Seperti nama acaranya Rayakan Kebaikkan, runtutan acara pun memperlihatkan kebaikan-kebaikkan yang ada dalam proses penggalangan dana oleh para pelari. Cerita pak Rahmat salah satu pelari tertua yang berhasil menyelesaikan 169 Km, cerita para relawan yang dengan sigap membantu para pelari, cerita media tentang event ini, cerita Jurian Andika dan Cristopher Tobing sebagai founder NusantaRun tentang awal mula mereka melakukan ini, cerita Syn film mengapa mereka mau berkontribusi dalam event ini, cerita yayasan IOA tentang apa yang mereka lakukan dalam program sebelumnya, cerita Kampus Guru Cikal tentang program yang akan dilakukan dan cerita Andien melalui lagu Warna-Warna yang menyiratkan bahwa kontribusi dari berbagai warna akan disalurkan kepada murid-murid disabilitas dengan berbagai warna. Dana yang terkumpul dari penggalangan dana pelari sebesar Rp 2.650.073.357. Dana tersebut akan digunakan oleh Kampus Guru Cikal untuk program Pengembangan Murid Disabilitas di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Program ini dilakukan karena hanya 54,26% penyandang disabilitas yang berpendidikan SD ke atas, bandingkan dengan non disabilitas yang mencapai angka 87,31%.  Selain itu penyandang disabilitas yang berpartisipasi dalam pasar kerja hanya 51,2 %, bandingkan dengan non disabilitas yang mencapai 70,40%. Beberapa penyebab mengapa ada angka-angka tersebut salah satunya karena faktor persepsi keluarga, guru dan masyarakat yang menjadi hambatan utama bagi penyandang disabilitas untuk mendapatkan akses pendidikan dan pekerjaan. Faktor lain: perlakuan diskriminatif, sarana dan prasarana yang tidak menunjang. Oleh karena itu dalam program ini, Kampus Guru Cikal tidak sekadar fokus kepada murid penyandang disabilitasnya, namun sistem pendukungnya juga akan menjadi fokus program ini. Guru, orangtua, lingkungan sekolah, perguruan tinggi akan menjadi fokus program Pengembangan Murid Disabilitas Jawa Tengah dan Yogyakarta. Harapan dari program ini antara lain : Adanya kesadaran sekolah, guru dan orangtua untuk memberikan dukungan bagi anak penyandang disabilitas Adanya guru bimbingan karier yang bisa mengarahkan dan memberi dukungan bagi anak penyandang disabilitas Adanya komunitas guru belajar bimbingan karier sebagai sistem dukungan bagi anak penyandang disabilitas Pengembangan diri dan penyediaan beasiswa pendidikan tinggi bagi murid penyandang disabilitas. Adanya kerjasama dengan perguruan tinggi yang bersedia menerima dan mendukung murid penyandang disabilitas Tongkat estafet yang diberikan oleh para pelari ini masih panjang perjalanannya, ada banyak tantangan di depan dalam menjalankan program ini. Namun kebaikan teman-teman akan menjadi semangat bagi Kampus Guru Cikal.

Nusantarun ke 6 – Berlari Untuk Pendidikan Murid Difabel

Apa iya berlari bisa memberikan kontribusi terhadap pendidikan?Apa iya tujuan besar pendidikan hanya tanggung jawab sekolah dan guru? Saya berangkat ke Wonosobo menggunakan kereta api bersama Pak Bukik dan Pak Rizqy untuk menghadiri acara lari dari Nusantarun. Saya bertugas membantu meliput dan mengorganisir guru serta murid yang akan mendukung dan memberikan semangat para pelari. Ada 210 pelari yang menempur rute sejauh 169 Km untuk menggalang dana program pengembangan murid difabel di daerah Wonosobo dan Gunung Kidul. Hari pertama kami datang ke SLBN Wonosobo. Ini pertama kali saya datang ke sebuah SLB. Kami disambut dengan kegiatan olehraga bersama yang diikuti oleh semua murid. Ada beberapa hal yang berbeda dengan kegiatan olahraga disekolah ini. Beberapa diantaranya adalah sebagian murid didampingi oleh orang tua atau keluarga dan murid dapat mengikuti kegiatan sesuai dengan kemampuannya. Saya berbincang dengan beberapa guru disana mengenai keunikan disekoah tersebut. Disekolah tersebut tidak hanya mengajarkan kemampuan kognitif terhadap murid, namun juga mengajarkan dan melatih murid untuk untuk dapat berkarya sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Terlihat sekali bahwa murid-murid sangat menikmati proses belajar disekolah. Salah satu hal yang sangat saya ingat adalah cerita dari seorang guru mengenai beberapa murid yang sangat senang berada di sekolah, sampai-sampai lebih suka di sekolah daripada dirumah (kebetulan sekolah ini memiliki fasilitas menginap). Guru tersebut bercerita mengapa banyak murid yang lebih suka di sekolah karena mereka merasa lebih dipahami, dihargai, dan merasa punya harapan untuk masa depan. Kami melanjutkan kegiatan dengan mewawancarai beberapa murid dibantu oleh gurunya. Kami menanyakan apa yang disukai disekolah, apa cita-cita mereka dan apa yang mereka harapkan untuk masa depan. Ada yang bercita-cita ingin menjadi programmer, dokter dan guru. Hati saya terenyuh saat mereka mengungkapkan alasan mereka memiliki cita-cita tersebut adalah agar bisa membuktikan bahwa disabilitas tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk berkarya dan bermanfaat bagi orang lain. Setelah itu kami mewawancarai beberapa guru. Para guru bercerita bahwa mengajar murid disabilitas memiliki banyak tantangan. Guru wajib memahami murid sebelum menyiapkan program yang tepat bagi murid. Guru juga wajib memiliki kemampuan yang mendukung interaksi dengan muridnya. Contohnya adalah memiliki kemampuan berbahasa isyarat bagi guru yang mengajar murid tuna daksa. Dari wawancara kami dengan beberapa guru tersebut, ada guru yang menyayangkan akses pendidikan yang terbatas bagi murid difabel. Banyak murid yang bingung dan merasa kesulitan untuk mengenyam pendidikan yang lbih tinggi. Bukan hanya soal fasilitas, namun yang lebih penting lagi belum banyak perguruan tinggi yang mendukung murid difabel untuk bisa berkuliah dan mencapai pendidikan yang menunjang cita-cita besar mereka. Salah satu tujuan program Nusantarun ke-6 adalah menyuarakan dan mendukung murid difabel untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan setara dengan murid biasa. untuk mewujudkan tujuan tersebut Nusantarun bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal sebagai penanggung jawab program pengembangan murid difabel di Wonosobo dan Gunung Kidul Dari perjalanan singkat tersebut saya menyaksikan bahwa tujuan besar tidak dapat dicapai jika hanya 1 atau 2 pihak yang berkomitmen untuk mewujudkannya, namun harus semua pemangku kepentingan yang bergerak. siapa pemangku kepentingan dalam pendidikan ? bukan hanya sekolah, guru atau pemerintah saja, tapi semua orang, dan itu termasuk kita. Apa yang bisa kita lakukan untuk pendidikan? bukan orang lain yang tahu tapi kita sendiri yang harus menjawab. Mari berkontribusi untuk pendidikan sesuai dengan apa yang kita miliki, baik itu materi, tenaga atau pemikiran.

Tiga pelajaran dari Nusantarun untuk Komunitas Guru Belajar

Mengubah hobi menjadi kontribusi adalah pelajaran terpenting yang saya dapatkan dari Nusantarun. Bagaimana ceritanya?  Nusantarun sebenarnya sudah tidak asing lagi. Saya mengenalnya sejak 2 tahun yang lalu dalam kerjasama program pengembangan guru sekolah inklusi SMP Permata Hati Purwokerto, bagian dari program donasi Nusantarun ke-4. Meski begitu, saya sendiri lebih banyak berkutat dalam pengelolaan program sehingga tidak banyak berinteraksi dengan tim Nusantarun.  Tahun 2018 ini berbeda, saya selaku Ketua Kampus Guru Cikal berinteraksi lebih intens dengan tim Nusantarun untuk mengembangkan program pengembangan murid disabilitas. Interaksi mulai pertemuan, siaran langsung hingga pada awal Desember 2018 yang lalu, saya hadir bersama tim Kampus Guru Cikal dalam kegiatan inti, berlari 169 km dari Wonosobo menuju Gunung Kidul. Nusantarun tahun ingin memasang target menggalang donasi sebesar 2,5 milyar untuk membiayai pengembangan murid disabilitas di Jawa Tengah dan Yogya. Dan luar biasa, target tersebut tercapai berkat perjuangan para pelari melakukan penggalangan dana. Informasi penggalangan dana Nusantarun bisa dilihat di halaman KitaBisa.com. View this post on Instagram Para Pelari, Relawan, Rekan Guru Belajar menggaungkan Lagu Indonesia Raya dipimpin rekan SLBN Temanggung _______ Malam ini, 210 Pelari NusantaRun memulai perjuangan berlari 169 km dari Wonosobo, Wates hingga Gunungkidul! Mari kita beri doa dan dukungan untuk para pelari! Serentakkan langkah demi #PendidikanUntukSemua dengan cara: 1. Posting foto selfie sendiri atau bersama murid membawa kertas/poster bertuliskan #PendidikanUntukSemua di sosial media 2. Tag akun sosial media Kampus Guru Cikal dan NusantaRun 3. Tag dan tantang minimal 3 teman untuk berpartisipasi di #PendidikanUntukSemua A post shared by Kampus Guru Cikal (@kampusgurucikal) on Dec 7, 2018 at 5:24am PST Tim Kampus Guru Cikal bersama Komunitas Guru Belajar dan murid-murid penyandang disabilitas hadir pada titik pemberangkatan, titik tengah dan titik akhir. Kami sampai di titik pemberangkatan di Wonosobo pada Kamis malam dengan mengendarai kereta sampai di Pekalongan dan dilanjutkan dengan mobil. Seusai pemberangkatan pelari, kami masih menginap di Wonosobo. Sabtu pagi meluncur ke titik tengah untuk ikut pada penerimaan dan pelepasan pelari pada titik tengah. Sabtu sore meluncur ke Gunung Kidul untuk menyambut pelari di titik akhir di Pantai Sepanjang.  Tiga hari petualangan seru bersama tim Nusatarun, para pelari, panitia, dari relawan dari berbagai komunitas. Capek pastinya, tidak terbayanng capeknya pelari, panitia dan relawan yang menyusuri sepanjang perjalanan. Senang pastinya, bisa terlibat bukan sekedar kegiatan lari, tapi kegiatan pendidikan. Tapi lebih dari itu semua, saya belajar banyak hal dari keseluruhan kegiatan Nusantarun.  Memahami kebutuhan dan aspirasi komunitas. Setiap komunitas tentu punya kebutuhan dan aspirasinya sendiri. Setiap kegiatan tentu harus berpihak pada kebutuhan dan aspirasi dari komunitas yang mengikuti kegiatan tersebut. Dari kegiatan Nusantarun, saya belajar menyiapkan kegiatan yang bisa memenuhi kebutuhan dan aspirasi komunitas guru. Bukan sekedar diangankan atau kebutuhan yang bersifat umum, tapi ditulis secara rinci. Bukan sekedar menyiapkan, tapi juga menata alur penggunaannya secara sistematis. Semuanya akan berujung pada pengalaman pengguna yang memuaskan. Melibatkan pemangku kepentingan dalam kegiatan berlari. Sama sekali tidak menduga, ternyata banyak sekali pemangku kepentingan yang terlibat dalam kegiatan Nusantarun. Ada banyak peran yang disediakan untuk para pemangku kepentingan. Siapa saja pemangku kepentingan? Ada komunitas, perusahaan, dan lembaga lokal. Kuncinya pada memberi peran yang tepat pada pemangku kepentingan. Saya membayangkan bahwa panitia tidak menyiapkan penawaran standar yang berlaku umum. Penawaran selalu mengacu pada kekuatan dari pemangku kepentingan.  Mengubah hobi menjadi berkontribusi. Ini pelajaran paling penting. Nusantarun berangkat dari sekelompok pelari yang peduli pada pendidikan. Mereka berpikir bagaimana dari hobi berlari bisa menjadi kontribusi terhadap pendidikan. Lahirlah format lari Nusantarun yang menggabungkan berlari dengan kontribusi. Para pelari memasang target donasi untuk dipenuhi sebagai syarat mengikuti Nusantarun. Bayangkan, mereka menggalang donasi untuk bisa berlari 169 Km. Luar biasa! Dan Nusantarun berhasil mengubah kegiatan berlari menjadi kegiatan berkontribusi. Dari hobi menjadi kontribusi. Itulah 3 pelajaran yang saya dapatkan dari Nusantarun. Dalam konteks pekerjaan, harapannya pelajaran tersebut bisa digunakan oleh Komunitas Guru Belajar dalam menyelenggarakan konferensi tahunan, Temu Pendidik Nusantara 2019. Dalam konteks personal, jadi tantangan buat saya bagaimana mengubah hobi bisa menjadi kontribusi terhadap pendidikan. Terima kasih Nusantarun untuk pelajarannya. Bagaimana hobi Anda bisa diubah menjadi kontribusi terhadap pendidikan?