Belajar dari NusantaRun Chapter 6

Di usianya yang ke 19 bulan, anak itu mengidap suatu penyakit yang membuatnya menjadi tuna netra dan tuna rungu. Bagaimana masa depannya? Bagaimana cara dia berkomunikasi nanti dengan dunia luar? Bertahun-tahun ia menjalani kehidupannya dengan marah-marah, sering memukul meja, frustasi karena sulit mengungkapkan apa yang ia rasakan. Secercah harapan muncul ketika usianya 7 tahun, Anne Mansfield Sulivan dari Tuscumbia datang menjadi gurunya. Anne mengajari anak itu berkomunikasi dengan cara-cara yang unik, yang kemudian membuat anak tersebut bisa berkomunikasi, dan akhirnya bisa berbicara. Sekarang kita mengenal anak tersebut dengan nama Hellen Keller, seorang pejuang kemanusiaan. Tanpa Anne dan lingkungan yang mendukung, Hellen mungkin sulit menjadi seseorang yang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, dan menerbitkan puluhan buku. Itulah yang saya bayangkan, banyak Hellen-Hellen lain di Indonesia, anak-anak penyandang disabilitas, namun lingkungannya belum banyak mendukung. Seperti wawancara saya dengan bu Purwanti dari SLBN Temanggung menurut beliau masih banyak orangtua yang overprotected terhadap anaknya. “Orangtua kurang membuka diri, masih menganggap anak-anak terbatas.” ujar Bu Purwanti. Menurut pak Pungguh, guru SLBN 1 Gunung Kidul hal lain adalah karena setelah lulus anak-anak biasanya bingung akan melakukan apa. Beberapa di antaranya malah kembali ke sekolah, mendaftar menjadi karyawan di sekolah. Orangtua yang memandang sebelah mata, guru yang tidak memiliki kemampuan mengembangkan murid penyandang disabilitas, sarana prasarana bahkan akses pendidikan yang belum mendukung membuat anak-anak penyandang disabilitas kadang harus memendam mimpinya. Bersama demi #PendidikanUntukSemua Seorang pelari memakai baju pemadam kebakaran memasuki arena finish lari NusantaRun Chapter 6. Ia lari menuju garis finish yang sudah berada di depannya, air matanya mulai mengalir, dan menjadi tumpah ketika ia mencapai garis finish. Sebuah yel-yel dari murid dan guru membuat suasana siang itu menjadi tambah sendu. “Terima kasih..terima kasih pelari NusantaRunSudah dukung… sudah dukung Pendidikan untuk Semua” Kemudian Gita seorang anak disabilitas dari SLBN 1 Gunung Kidul menghampirinya, memakaikan gelang dan memberikan bunga sebagai wujud apresiasi kepada pelari tersebut yang telah berjuang lari puluhan kilometer. Bunga dan gelang merchandise untuk pelari adalah hasil karya murid-murid disabilitas di Solo dalam workshop yang diadakan Komunitas Guru Belajar Solo. Teman-teman Guru Belajar Solo juga hadir di garis finish NusantaRun chapter 6 untuk mengapresiasi para pelari. Masih banyak pelari lain yang mencapai garis finish dengan bangga bahkan membawa anggota keluarga. Siang itu (9 Desember 2018) di Pantai Sepanjang saya melihat kekuatan dari kontribusi. Seorang pemadam kebakaran,bankir, pengusaha, guru, murid, bahkan staf ahli presiden bersama-sama melakukan aksi untuk perubahan. Saya jadi teringat kutipan dari Hellen Keller Alone we can do so little ,together we can do so much. Anda ingin ikut terlibat dalam #PendidikanUntukSemua klik https://kitabisa.com/nusantarun

Berlari dan Berkontribusi untuk Pendidikan Murid Disabilitas

“Saya tidak pernah absen menjadi pelari sekaligus fundriser NusantaRun sejak chapter pertama. Awalnya saya pikir kaki saya bisa copot setelah mengikuti NusantaRun yang menempuh puluhan bahkan ratusan kilometer.”, Sandy, salah satu pelari NusantaRun chapter 6 bercerita tentang pengalamanya berlari di NusantaRun. NusantaRun Chapter 6 adalah perhelatan tahunan yang mengusung ultra marathon for charity. Bukan sekadar event lari, namun juga wujud nyata pelari dalam berkontribusi untuk pendidikan di Indonesia. “Jika para pelari ingin berlari, banyak event yang bisa diikuti. Kalau pelari mau ikut event lari sekaligus bisa berkontribusi, bisa melakukannya di NusantaRun” ujar Chirtopher Tobing, co-founder NusantaRun. Dalam event lari NunsantaRun selain berlari, para pelari tidak hanya berlari puluhan kilometer. Namun juga menggalang donasi. Untuk chapter 6 ini penggalangan donasi dimulai sejak 24 Agustus 2018 dan akan berakhir 11 januari 2019. Adapun target yang ingin dicapai NusantaRun adalah sebesar 2,5 milyar. Donasi tersebut akan digunakan untuk program Pengembangan Pendidikan Murid Penyandang Disabilitas di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal. Berdasarkan riset potret pendidikan  inklusi di dua provinsi tersebut sudah ada arah untuk mengembangkan pendidikan inklusi, ini terlihat dari kebijakan dan pertaturan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Namun di lapangan, implementasi kebijakan tersebut masih jauh dari harapan. “Melalui program tersebut kami berharap ada contoh nyata keberhasilan pendidikan inklusi yang dapat meyakinkan orangtua, guru, dan masyarakat luas mengenai potensi murid penyandang disabilitas”, ujar Najelaa Shihab, pendiri Kampus Guru Cikal Najelaa Shihab menyebut bahwa ada tiga pilar utama untuk program yang akan dijalankan yaitu : 1) menyiapkan guru bimbingan karier yang bisa mengarahkan dan memberi dukungan bagi anak penyandang disabilitas, 2) pengembangan Komunitas Komunitas Guru Belajar Bimbingan Karier sebagai sistim dukungan bagi murid penyandang disabilitas, dan 3) pengembangan diri dan penyediaan beasiswa pendidikan tinggi bagi murid penyandang disabilitas. Pada chapter 6 ini akan dilaksanakan dari tanggal 7 Desember hingga 9 Desember 2018. Ada dua kategori yang akan ditempuh pelari, yaitu half course (86 km) dan full course (169 km) yang akan berjuang menuju garis finish di Pantai Sepanjang, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Walaupun menuju garis finish yang sama, namun kedua kategori tersebut memulai lari dari garis start yang berbeda. Pelari kategori full course akan mulai berlari di garis start yang berada di Kledung Pass Hotel, Wonosobo, Jawa Tengah dan pelari half course akan mulai berlari di garis start yang berada di Kantor Kepala Desa Karangwuni, Wates, Daerah Istimewa Yogyakarta. “Untuk  chapter 6 ini saya sudah menyiapkannya dari bulan Januari tahun ini. Mulai darilatihan 5 km, 10 km dan juga mengikuti beberapa race.” Ujar Irene peserta lariNusantaRun 6 ini yang tidak pernah melewatkan ajang lari ini. Kolaborasi dari berbagai pihak dalam mendorong kemajuan pendidikan bagi penyandang disablitias menjadi semangat yang ingin disebarkan NusantaRun tahun ini. “Kami meyakini bahwa siapapun dapat berkontribusi memajukan pendidikan Indonesia. Dengan semangat power of contribution serta fokus terhadap isu pendidikan bagi penyandang disabilitas, kami berharap dapat membuka mata banyak orang bahwa sejatinya pendidikan harus dapat diakses oleh siapapun tanpa terkecuali.’ Kata Cristopher. “Benar, bahwa kolaborasi antarpihak yang dilakukan oleh NusantaRun ini penting. Karena pendidikan bukan sekedar urusan guru dan murid yang berkecimpung langsung di masyarakat, namun juga urusan bersama” ujar Najelaa Shihab.