Kerja Barengan untuk Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas

“Saya sangat senang sekali dengan program ini. Bahwa benar seorang guru harus belajar dan belajar terus, karena saya ingin sekali mengoptimalkan kembali potensi yang dimiliki oleh anak, biar anak-anak itu bisa.” ungkap Septi Mardianti seorang guru dari SLBN Kota Tegal yang mengikuti kegiatan Sosialisasi Program Pengembangan Murid Disabilitas oleh Kampus Guru Cikal, Jumat 3 April 2019 di Gedung B Aula Ki Hajar Dewantara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah yang dihadiri 120 Kepala Sekolah SMA, SMK, MA Inklusi serta SLB di Jawa Tengah Kegiatan sosialisasi ini merupakan kegiatan awal dari serangkaian kegiatan dalam program Pengembangan Murid Disabilitas yang dilakukan oleh Kampus Guru Cikal. Pendanaan dari program ini didapatkan dari donasi yang digalang melalui lari ultra marathon yang diadakan NusantaRun pada 7-9 Desember 2018 lalu. Upaya penggalangan dana oleh para pelari tersebut berhasil mengumpulkan dana sejumlah 2,65 miliar. Hasil donasi tersebut yang digunakan untuk membiayai Program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas di Jawa Tengah dan DIY. Ada 3 subjek yang menjadi sasaran dalam program ini, yaitu murid penyandang disabilitas, guru BK dan orangtua. Murid penyandang disabilitas selain mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, juga mendapat pelatihan keterampilan belajar untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Guru BK mendapatkan pelatihan pendidikan inklusi dan pelatihan bimbingan karier. Harapannya dari pelatihan tersebut guru BK memiliki keterampilan dalam mendampingi murid penyandang disabilitas untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Orangtua juga menjadi sasaran program karena dukungan orangtua penting bagi keberhasilan pendidikan murid penyandang disabilitas. Dalam sosialisasi program pengembangan murid disabilitas, Bukik Setiawan selaku ketua Kampus Guru Cikal menyatakan bahwa ekosistem pendidikan kita membutuhkan murid penyandang disabilitas yang melanjutkan pendidikan tinggi sebagai kisah sukses agar semakin banyak dukungan bagi pendidikan inklusi. “Layaknya seorang petani yang menanam bibit tanaman dengan metode yang ia gunakan, maka jika berhasil akan bisa ditiru oleh petani lainnya. Program ini akan berjalan jika ada keterlibatan banyak pihak, baik dinas, sekolah, guru, dan juga masyarakat” ujar Bukik dalam acara tersebut. Sejalan dengan Bukik Setiawan, wakil gubernur Jawa Tengah Taj Yasin yang hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa perlu jangkauan yang lebih luas untuk pendidikan inklusi, jika pemerintah provinsi saja jangkauannya kecil. Program yang digagas NusantaRun merupakan dukungan nyata dari masyarakat dalam mendukung cita-cita pendidikan untuk semua.

Menuju Kolaborasi #PendidikanUntukSemua

Dalam pelaksanaan program Pengembangan Murid Disabilitas di Jawa Tengah dan DIY, butuh beberapa pihak untuk membuat program tersebut berjalan baik. Selain perguruan tinggi sebagai lembaga yang akan menerima murid penyandang disabilitas, butuh pihak sebagai sistem pendukung murid disabilitas tersebut, yaitu sekolah, guru dan orangtua. Oleh karena itulah langkah berikutnya yang kami lakukan adalah melakukan audiensi kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah dan Kementrian Agama Kanwil Jawa Tengah. Dalam audiensi tersebut, kami juga bertemu dengan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen. Beruntunglah kami, karena Jawa Tengah sedang membangun diri menjadi pioner pendidikan inklusi di Indonesia. Sebulan sebelum kami mengajak bekerjasama, ternyata sudah ada pertemuan yang dilakukan oleh pemerintah Provinisi Jawa Tengah berkaitan dengan inklusi. Artikel bisa dibaca di sinihttps://jatengprov.go.id/publik/sekolah-inklusi-dorong-abk-tak-minder-bersosialisasi/ “Saya ingin Jawa Tengah yang menjadi pionir tumbuhnya pendidikan inklusi. Kami ingin mendorong bahwa Jawa Tengah peduli dan tidak membeda-bedakan antara anak yang berkebutuhan khusus dan anak-anak yang normal,” ucap Gus Yasin dalam pertemuan tersebut. Gus Yasin juga menceritakan anak keduanya yang bersekolah di sekolah inklusi di sebuah sekolah di Rembang, terlihat berbeda dalam bersikap. Lebih peduli dan berjiwa sosial. Apa yang menjadi mimpi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sejalan dengan misi program Pendidikan Murid Disabilitas. Mimpinya sama-sama mencipttakan ekosistem pendidikan untuk semua. Sehingga apa yang Kampus Guru Cikal presentasikan di depan 3 pihak, langsung disepakati untuk dijalankan bersama. “Bagaimana kalau kegiatan tersebut kita laksanakan di Balai Pengembangan Pendidikan Khusus, karena kami memiliki gedung BP-Diksus di Jalan Elang. Sehingga kegiatan 3 acara tersebut bisa dilaksanakan di satu tempat. Lebih efisien.” Ungkap Dr. Padmaningrum, kepala bidang Pembinaan Pendidikan Khusus (Diksus) Dindikbud Jawa Tengah. Setelah berpamitan dengan Wakil Gubernur dan Kabid Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Jawa Tengah, akhirnya tim Kampus Guru Cikal dan tim Bidang Pendidikan Khusus Dindikbud menuju lokasi. Gedung yang berjejeran dengan SLBN Semarang ini sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Ada beberapa kamar dan aula untuk pertemuan. Pertemuan dengan berbagai pihak, dari perguruan tinggi hingga dinas yang terkait semata-mata untuk mewujudkan pendidikan inklusi. Harapannya dengan adanya murid-murid disabilitas yang menempuh hingga perguruan tinggi, bisa menjadi bukti, menjadi penyemangat bagi semua pelaku pendidikan, baik orangtua, guru bahwa murid disabilitas pun punya potensi dan harus diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi.