Purwokerto, Bicara tentang Pendidikan Seksualitas

Mendobrak Hal Tabu “Kalau kita bicara tentang  Seksualitas  apa yang ada dibenak kita?”, begitu tanya Bu Vitri membuka pelatihan di SMP Permata Hati di Purwokerto. Kebayang nggak sih, Purwokerto bicara tentang Pendidikan Seksualitas? Bahkan di kota besar saja bicara tentang Seksualitas adalah hal yang tabu. Banyak salah kaprah tentang Seksualitas, Seksualitas seringkali dikaitkan dengan hubungan Laki-Laki dan Perempuan.  Sehingga seringkali orang tua tidak membahas seksualitas dengan alasan “Anak Kecil tidak perlu tahu tentang seks. Nanti malah coba-coba, lho” “Malu ngomongin seks sama anak.  Memangnya dia akan mengerti?” Atau “Pendidikan seksualitas diajarkan di sekolah,  bukan tugas orangtua” Padahal  “Seks itu alamiah, tapi perilaku seks yang bertanggungjawab adalah hasil PROSES belajar secara EKSPLISIT” begitu bu Vitri dan bu Sishi membuka pikiran guru dan wali murid yang datang ke pelatihan hari itu.  Semangat Belajar Seksualitas Hawa semangat belajar  terasa di ruangan kelas yang sederhana tetapi hangat hari itu, semua guru dan wali murid semangat berproses dan belajar bersama. Diantara banyak ibu-ibu datang, ada dua bapak wali murid yang semangat  mengikuti pelatihan dari awal sampai akhir. Beliau bercerita kesulitan beliau saat mendampingi anak perempuannya yang telah menstruasi.  Bisa dibayangkan seorang bapak bersama putrinya datang ke pelatihan Pendidikan Seksualitas,  tidak malu belajar dan menceritakan masalahnya untuk mencari solusi bersama. Purwokerto membuktikan bahwa semangat belajar tidak terbatas faktor umur, gender bahkan dari mana kita tinggal. Pendidikan Seksualitas untuk Anak Berkebutuhan Khusus, memang bisa? Sesuai namanya Permata Hati, SMP Permata Hati memiliki “Permata” yang sehari-hari ikut belajar bersama di kelas, mereka adalah Anak Berkebutuhan Khusus.  Sehingga, pelatihan Pendidikan Seksualitas  yang diadakan di Purwokerto lebih memfokuskan pada Pendidikan Seksualitas untuk Anak Berkebutuhan Khusus. Jadi, Apa bisa Anak Berkebutuhan Khusus bisa diajarkan  Pendidikan Seksualitas? Bisa! Ada tiga prinsip yang ditekankan oleh Bu Vitri dan Bu Sishi sebagai pemateri; Kongkrit, Bertahap, Berulang. Ruang Lingkup membahas Pendidikan Seksualitas tidak hanya sebatas jenis kelamin. Kalau kita ingin membahas Pendidikan Seksualitas sebenarnya apa saja sih yang bisa kita bahas dengan anak? Perkembangan manusia: perkembangan tubuh & perubahannya. Kebersihan & perawatan diri. Kesehatan. Hubungan antar pribadi; daerah pribadi vs umum, lingkaran sosial. Perlindungan diri. Untuk Anak Berkebutuhan Khusus Pendidikan Seksualitas bisa menggunakan media yang bersifat visualisasi, misalnya  gambar, video, dan alat peraga, karena dengan media tersebut memudahkan Anak Berkebutuhan Khusus dalam memahami aspek-aspek yang perlu dipelajari terkait Pendidikan Seksualitas. Totalitas untuk yang tercinta Disaat yang bersamaan orang tua belajar Emosi dan Komunikasi  Efektif dengan Rangkul KeluargaKita, guru belajar membuat  kurikulum Pendidikan Seksualitas yang sesuai dengan kebutuhan anak. Kenapa orang tua dan guru sama-sama belajar? Pendidikan tidak hanya tanggung jawab satu pihak. Orang tua atau hanya Sekolah saja. Pendidikan tanggung jawab semua. Bukan saling menyalahkan, bukan saling menuntut. Itulah yang dibahas oleh Rangkul dari KeluargaKita saat orang tua belajar komunikasi. “Seringkali kita itu suka lupa mengucapkan terima kasih ke guru. Coba deh bapak-ibu sekali saja sebulan ngirim ‘Bu/Pak, Makasih banyak ya sudah mendampingi anak saya’. Saya yakin hal sederhana begini saja berharga lho pak/bu ” Ujar Bu Yulia Rangkul KeluargaKita Di kelas sebelah, guru membuat kurikulum Pendidikan Seksualitas dari hasil diskusi guru dan orang tua tentang kebutuhan aspek dalam Pendidikan Seksualitas. Seringkali guru membuat kurikulum berdasarkan sudut padang guru saja, padahal dengan mencocokan  data dari orang tua, kurikulum bisa dibuat sesuai kebutuhan anak baik di sekolah dan di rumah. “Misalnya kalau anak belum bisa menggunakan pembalut dan di rumah hanya ada bapak. Guru bisa membantu” penjelasan bu Vitri  yang menekankan pentingnya hubungan dua arah antara guru dan orang tua.     Masih merasa tabu bicara tentang seksualitas dengan anak? Mari buka pikiran kita tentang seksualitas, mari buka pembicaraan sederhana dengan anak tentang kebutuhan belajar tentang tubuhnya. 

Sudah Jadi Guru Kok Belajar Menulis?

Selepas salat Subuh guru Novi mengambil tas dan meminggulnya, lalu ia menghampiri suami dan anak-anaknya. Ia pamit untuk menuju Painan, sebuah kecamatan di Pesisir Selatan mengikuti pelatihan menulis. Ia harus berangkat Subuh karena memang Kecamatan Tapan, tempatnya tinggal berjarak kurang lebih 140 km dari lokasi pelatihan. “Saya tahu pelatihan ini tidak dapat sertifikat. Saya tahu pelatihan ini tidak menginap di hotel mewah. Saya tahu pelatihan ini tidak dapat uang transport. Tapi saya datang bukan karena itu. Saya datang karena memang ingin bisa menulis” kata Guru Novi di salah satu sesi pelatihan. Tidak hanya guru Novi, rekan-rekan seperjuanganya dari Tapan dan kecamatan lain di Pesisir Selatan pun sama. Harus menempuh ratusan kilometer untuk mengikuti pelatihan yang dilaksanakan di pusat kabupaten.  Karena memang Kabupaten Pesisir Selatan adalah kabupaten yang memanjang, sehingga jarak antarkecamatan pun berjauhan.  Kalau saya bisa menganalogikan, jarak Tapan sampai ke Painan, lokasi pelatihan menulis seperti perjalanan saya naik motor dari Tegal hingga Kudus yang melewati 7 kabupaten. Jadi bisa dibayangkan betapa memanjangnya sebuah kabupaten bernama Pesisir Selatan. Akhirnya Guru Novi dan beberapa rekan seperjuanganya sampai di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Pesisir Selatan pukul 08.00 WIB untuk mengikuti pelatihan menulis dari Kampus Guru Cikal. Pelatihan ini merupakan pelatihan pamungkas dari 3 pelatihan sebelumnya : Pelatihan Merdeka Belajar, pelatihan Memanusiakan Hubungan, dan pelatihan Numerasi dan Literasi. Guru Belajar Menulis Di awal, pelatih dari Kampus Guru Cikal, Mahayu Ismaniar mengajak peserta untuk bersepakat tentang tujuan belajar menulis. Peserta diminta untuk membuat kepanjangan dari akronim kata MENULIS. “Menurut saya, M-enulis itu menyampaikan pikiran, E-nak dan tidaknya N-amun selalu dituliskan, U-ntuk diketahui oleh orang lain, L-alu kita curahkan I-si hati pada S-emua pembaca” tulis seorang peserta di kertas yang kami bagikan. Tidak sampai di situ, akronim yang dibuat kepanjanganya tersebut diolah peserta dan kelompoknya menjadi kemasan yang menarik, seperti pantun, nyanyian, puisi, dan sebagainya. Akhirnya kami bersepakat keterampilan menulis penting dimiliki oleh guru. “Saya kadang ketika akan menulis itu sudah kebayang dulu tulisan orang-orang yang bagus, bagus dari segi kebahasaan, ejaan, serta pemilihan kata yang digunakan. Jadi dalam bayang-bayang saya, menulis itu susah.” Kata pak Afdhal saat sesi membongkar salah kaprah menulis. Dalam sesi membongkar salah kaprah menulis ada kejadian yang menarik. Adanyaperdebatan saat pelatih menyampaikan poin “Menulis seperti masak mie instan”.Guru Erna setuju bahwa menulis itu seperti memasak mie instan “Menulis itubukan hal yang sulit. Misalnya kita mendapat pengalaman waktu ini, bisalangsung dituliskan.” Guru Afdhal memiliki persepsi lain tentang menulis, bahwamenjadi penulis yang profesional tidaklah mudah. Butuh waktu untuk mengasahtulisannya menjadi bagus. Namun diakhir pendapatnya guru Afdhal berucap “Nah perbedaan pendapat dengan Bu Erna pun ini salah satu yang harus penulis punya, yakin dengan apa yang dituliskannya.” Setelah bersepakat tentang tujuan, membongkar salah kaprah menulis akhirnya kami menawarkan sebuah formula menulis yang biasanya kami gunakan untuk formula penulisan di Surat Kabar Guru Belajar, yaitu formula ATAP. ATAP memiliki kepanjangan awal, tantangan, aksi dan perubahan. Mahayu Ismaniar menganalogikan ATAP dengan bentuk gunung. Diawali dengan awal yang biasa saja, kemudian mulai menanjak ketika mendapati tantangan, lalu mulai menurun kembali ketika menemukan aksi untuk mengatasi tantangan sebelumnya, dan kembali normal saat adanya perubahan. Peserta mulai belajar formula ATAP dengan membuat tulisan singkat 4 kalimat proses mereka menuju lokasi pelatihan. Dilihat dari tulisan, peserta sudah mulai mengerti mengenai ATAP. “Saya senang dengan dengan formula ATAP ini. Mudah untuk diaplikasikan. Saya yang sebelumnya tidak suka menulis terbantu dengan formula ini.” Jelas Guru Son di akhir pelatihan. Memang jika dilihat format ATAP bisa dijumpai di alur sebuah novel, pada struktrur jurnal, dan sebagainya. Tantangan mulai menanjak, kalau di awal peserta hanya diminta menulis proses mereka menuju lokasi pelatihan. Di sesi siang peserta diminta mengidentifikasi topik pengajaran yang berhubungan dengan literasi dibantu oleh peserta lain dalam satu kelompok. Setelah mendapat topik yang berkaitan, peserta membuat ATAP 4 kalimat. Saat sesi ini setelah dikoreksi, banyak peserta yang masih kesulitan membedakan antara bagian awal dan tantangan. Di bagian awal peserta banyak yang menuliskan permasalahan yang mereka hadapi, bukan tujuan yang akan dituju atau tanggung jawab sebagai guru. Setelah diberi umpan balik, peserta memperbaikinya. Formula ATAP tersebut dikembangkan menjadi tulisan yang utuh oleh peserta dengan cara didiskusikan bersama kelompok. Peserta menyampaikan 4 kalimat ATAP-nya kemudian peserta lain dalam satu kelompok bertanya apapun untuk menggali tulisan tersebut. Dalam hal ini dimaksudkan agar peserta mengetahui bahwa proses menulis dan pencarian ide juga bisa dilakukan dengan mengobrol dengan orang lain. Akhirnya peserta mengembangkan 4 kalimat ATAP yang mereka buat. Peserta antusias dalam menulis, dalam waktu 30 menit beberapa guru menyerahkan tulisannya. Dan terlihat sudah mulai paham mengenai ATAP. “Pelatihan kali ini membuka pikiran saya, ternyata menulis itu adalah sebuah proses yang memang harus dimulai saja dulu. Saya jadi tahu formula yang memudahkan saya dalam menulis. Saya akan lebih banyak menulis setelah ini.” Kata Guru Rini di sesi akhir pelatihan. Anda Guru, kapan terakhir Anda menulis? Yuk ikut Klub Guru Menulis yuk !

Bantu Guru Melihat Dunia Chapter Australia

Temu Pendidik Mingguan Daerah #16 Bantu Guru Melihat Dunia Chapter Australia Narasumber : Panji Irfan Moderator : Niken Emiria F. Notulen : Kurniasih Hari dan tanggal : Rabu, 18 Juli 2018 Grup WA Komunitas Guru Belajar Pekalongan Moderator : Selamat malam rekan-rekan guru yang penuh semangat belajar. Satu jam lagi menuju diskusi kita malam ini. Kita absen dulu yuk untuk yang sudah hadir disini. Alhamdulillah sudah banyak yang hadir. Semangat yang luar biasa dari guru-guru yang tidak biasa. Pak Panji sudah ada di tengah-tengah kita. Ayo teman-teman jangan mau kalah dengan semangatnya pak panji ya. Teman-teman guru yang luar biasa semangat belajarnya, beberapa menit lagi menuju diskusi kita malam ini, sebelumnya perkenankan saya Niken, sebagai pemandu diskusi anda malam ini memperkenalkan terlebih dahulu narasumber kita yang keren banget. Bapak Panji Irfan, beliau lahir di Bandung, 26 januari 1985. Guru hebat kita ini adalah lulusan S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI, dan yang saya heran sampai saat ini saya belum tahu kenapa beliau sekarang ada di Kalimantan Tengah dan menjadi salah satu guru di SMP Tunas Argo Seruyan Kalteng. Teman-teman, pak panji pernah 5 hari penuh di sekolah di daerah Bacchus Marsh, 3 hari di CBD Melbourne, 2 hari perjalanan, transit Singapura & Malaysia. Beliau adalah salah seorang yang lulus ke Aussie dalam program Bantu Guru Untuk Melihat Dunia yang akan menjadi topik diskusi kita malam ini. Silakan Pak Panji. Panji : Baik, terima kasih untuk KGB Pekalongan yang telah berinisiatif membuat group ini. Kewajiban saya diseminasi sebagai bagian dari program BGMD. Berikut ini saya kirimkan artikel pengantar sebagai panduan kegiatan diskusi untuk termin pertama. Isinya mengenai 1) tanya jawab program & 2) relasi siswa, guru, & orang tua Moderator : Teman-teman, keren ya programnya. Nah, untuk selanjutnya agar kita tidak penasaran, saya akan segera memulai termin pertama untuk 3 orang penanya, sila sebutkan nama dan asalnya ya, termin 1 telah dibuka. Najib : Dari program BGMD, hasil apa yang bisa diadaptasi di kita, terutama bagi sekolah-sekolah di daerah seperti di Pekalongan ini? Dan seberapa besar dampak program ini (setelah mengikuti program) dalam pengembangan pendidikan (khususnya secara pribadi). Panji : Saya tak punya peta pendidikan di Pekalongan dan tak bisa pula menggeneralisasi untuk saya di Seruyan, kabupaten tertinggal. PR masih banyak, yang menarik adalah perjumpaan saya dengan guru Bahasa Indonesia di Australia dan mahasiswa PPI menciptakan ruang kenangan tersendiri mereka itu bisa enak-enakan kuliah master tapi repot-repot bikin proposal mau ngurusin guru-gurunya supaya punya kesempatan yang sama melihat dunia. Itu kan benar-benar membuat saya terharu, mereka bisa saja undang penyanyi-penyanyi untuk menghibur sekira 16.000 WNI di Meulborne tapi mereka malah mempercayai kami, kemudian pendaan ini lewat Crowdfunding Kitabisa.Com , mahasiswa ngamen, performance art buat galang dana. Ada pula ana-anak lelang lukisan di SD Cita Buana, Jakarta dan berdonasi. Keharuannya seperti menikah berdampak seumur hidup. jika pertanyaannya seberapa besar saya akan berjuang menumbuhkan dan memperbesar dampaknya kita di forum ini menyisihkan waktu untuk istirahat sudah berjuang membuat perubahan sesederhana apapun. Moderator : Wah meleleh… Jadi Crowdfunding itu artinya benar-benar mencari dana sendiri ya pak. Luar biasa.. bagaimana pak Najib ada tanggapan? Najib : Wah Amazing ya! Walau jawabannya tidak terfokus pada yang saya maksud, tapi malah dapat jawaban yang lebih wow ternyata. Berjuang membuat perubahan sesederhana apapun, dengan melihat contoh-contoh yang ada, dengan melihat pengalaman yang susah kita dapatkan. Keren. Rizki : Sebagai kota literasi dunia, apakah sekolah di Melbourne menerapkan minimum jumlah bacaan pada siswa? Kriteria buku wajib baca bagi siswa di sana bagaimana? Panji : Membaca sudah menjadi bagian keseharian. Perpustakaan atau TBM yang dikelola masyarakat sangat bagus dan lengkap. Kemudian terintegrasi dengan perpustakaan daerah dan perpustakaan sekolah-sekolah. Orangtua pun bisa berpartisipasi. Bisa dibaca langsung di web https://www.premier.vic.gov.au/premiers-reading-challenge-kicks-off-for-2018/ https://wwww.education.vic.gov.au/about/events/prc/Pages/default.aspx?Redirect=1 dan ini web resmi Meulborne kota literasi: http://cityfliterature.com.au/ Rizki : Jika telah menjadi keseharian, lalu penguatan di sekolah mengenai literasi bagaimana pak? Apakah ada jam khusus membaca? Panji : Pengelolaan perpustakaan, profesional, membeli rutin buku, penjenjangan buku untuk usia anak jelas, perpustakaannya asyik. Pustakawan dibekali kemampuan konseling jadi dia bisa dengan lihai, merekomendasikan buku untuk anak sesuai karakter dan keperluannya. Rizki : Ini yang menarik, terima kasih jawabannya pak panji. Mohon maaf jadi bertambah pertanyaannya, soalnya penasaran dengan kegiatan literasi disana. Arsyad : Selama pengalaman dalam guru melihat dunia, berkunjung ke sekolah. Apa yang membuat Pak Panji ada moment AHA yang akhirnya harus dilakukan dalam lingkungan terkecil di sekolah atau pemerintah lakukan misalnya? Panji : 1. Manajemen sekolah rapi, padahal mengurusi 250-an guru dan 2000-an murid, tak ada kelas kosong tanpa ditemani. 2. Profesi guru sangatlah serius dijalani. Ditambah dengan mekanisme penilaian 3 bulanan dirumahkan 3. Pihak yang diajak kerja sama sekolah sangat banyak dan tak umum ditemui di Indonesia. Saya kadang merasa disebuah perusahaan ketika disekolah. Saking rapi dan profesionalnya sekolah kerja sama dengan 28 unit bus besar mengantar siswa ke daerah-daerah yang berbeda atau menyediakan 2000-an laptop untuk disewa siswa Arsyad: Terjawab kak, makasih banyak. Ternyata ya manajemen sekolah sepertinya PR utama untuk lingkungan sekolah yang baik untuk anak. Moderator : Oke teman-teman saya buka untuk termin ke dua ya. Panji : Sebelum ke termin kedua, saya memiliki materi lagi Bu. Berikut materinya tentang kurikulum dan manajemen kelas. Neneng: Pak Panji, pertanyaan saya mengacu pada slide pertama boleh ya? 1. Di tulisan tersebut, pak Panji menuliskan bahwa guru dibekali dengan child protection program? Itu bentuknya seperti apa aplikasi di kelas bagaimana (selain no body contact)? 2. Apakah di sekolah yang bapak kunjungi ada edukasi untuk orang tua terkait program literasi? Jika ada seperti apa? Panji : Child Protection Program ada banyak versi dan di-update terus. Intinya guru dibekali kemampuan konseling dan memberdayakan anak. Anak benar-benar difasilitasi masksimal, guru dibekali teknik investigatif pada anak-anak yang rawan dan punya masalah dari rumah, masalah di sekolah cukup berat, terutama setelah pernikahan sejenis dilegalkan di meulborne. Jika terjadi anak mencari solusi dengan pergi ke polisi mengadukan masalahnya, maka gurunya akan dikenai sanksi karena tidak profesional (ada di slide 2), saking seriusnya child protection sampai ada poster wajib lock down procedure supaya anak-anak bisa mengamankan diri dikelas dari ancaman orang asing, penjahat, pedofil, … Read more

Kesepakatan Kelas

Temu Pendidik Mingguan 59 – Belajar Sepakat, Bisa Dong! Narasumber : Anik Puspowati – KGB Semarang Moderator : Nur Padilah – KGB Depok Hari, tanggal : Jumat, 20 Juli 2018 Moderator : Sebelum memulai temu pendidik malam ini, saya perkenalkan dulu narasumber kita pada malam hari ini. Namanya Anik Puspowati, lahir tanggal 10 Maret. Belajar dan mengajar di unit PG-TK Sekolah Alam Ar-Ridho Semarang, sebelumnya pernah mengajar di salah satu SD Negeri di Semarang sebagai guru honorer. Guru Anik pernah menulis di buku Merdeka Belajar, menulis juga di 3 buku Antologi pendidikan. Menjadi kontributor penulis di Surat Kabar Guru Belajar, dan menjadi narasumber di TPN 2017 di kelas kemerdekaan. Silakan Bu Anik untuk emnyampaikan materi. Anik Puspowati : “Kalau mau ikut belajar sholat nanti Ibu kasih bintang deh. Nanti bintangnya jadi banyak lho… “ Atau bila ada murid yang suka mengganggu teman maka saya katakan, “Kalau mengganggu teman, bintangmu diambil untuk teman yang kamu ganggu ya?”  Biasanya anak langsung menghentikan gangguannya Karena tidak mau sticker bintangnya diambil. Namun apakah hal ini baik bagi murid saya?  Dulu saya berfikir hal itu baik bagi saya dan adil buat anak. Belakangan saya menyadari sebaliknya. Namun suatu pagi ada salah satu wali murid datang mengeluhkan anaknya yang pulang menangis karena kemarin bergulat dengan teman dan dia tidak suka kakinya ditarik teman-teman. Wali murid tersebut khawatir anaknya mengalami perundungan di kelas. Dengan adanya kejadian tersebut maka saya merefleksi kejadian dan mencoba membuat kesepakatan baru bersama anak-anak. Kesepakatan baru telah dibuat atas kesepakatan bersama : Tidak main gulat di dalam kelas, bermain hati-hati dan tidak boleh memaksa teman. Kesepakatan bersama tadi saya tempel di kelas dengan diberi gambar di tiap item kesepakatannya. Maksudnya supaya anak-anak bisa melihat dan ingat akan kesepakatan yang telah kami buat bersama. Selanjutnya saya hanya perlu mengingatkan mereka bila ada yang lupa atau melanggar kesepakatan yang sudah dibuat bersama. Apa efeknya? Anak-anak lebih mudah untuk diingatkan. Anak juga belajar untuk selalu melakukan refleksi, belajar menemukan sendiri problem solving mereka, dan belajar untuk memiliki komitmen terhadap tujuan belajarnya. Saya sangat bahagia, anak-anak sejatinya memang pembelajar sepanjang hayat. Tidak perlu sogokan dan hukuman. Yang perlu ditumbuhkan adalah motivasi dari dalam diri sendiri. Silakan baca tulisan lengkap saya Moderator : Ada pertanyaan dari kanal media sosial tentang tips kesepakatan kelas di tiap tingkatan ini Bu? Anik Puspowati :  Untuk SMP, saya sih terus terang belum pernah mengajar di SMP. Namun menurut saya anak SMP Insya Allah lebih mudah diajak untuk membuat kesepakatan kelas. Karena anak usia 4-5 tahun pun sudah bisa. Jadi ketika akan membuat aturan yang akan ditaati bersama, sebaiknya setiap anak diajak untuk mengungkapkan pendapatnya tentang masalah yang perlu dibuatkan kesepakatan bersama. Brainstorming, kumpulkan semua pendapat kemudian dipilih lagi mana yang kira-kira paling dibutuhkan untuk dibuat aturan bersama. Prinsipnya, guru berperan sebagai fasilitator saja. Untuk murid SMK sebenarnya sama saja sih, karena disiplin positif ini mampu diterapkan dari pre school sampai SMA. Untuk murid yang telat masuk meskipun lonceng telah berbunyi, kalau menurut saya, kita perlu mencari tahu dulu mengapa anak ini sering terlambat masuk kelas meskipun lonceng telah berbunyi. Apakah anak tersebut paham mengapa ia harus masuk ketika lonceng berbunyi? Kita perlu mendengarkan dan kemudian mencari solusi bersama anak tersebut langkah apa yang perlu dilakukan supaya tidak terlambat masuk kelas. Untuk murid bermasalah karena mengalami perlakukan kasar di rumah, ini saya pernah belajar dari teman saya seorang guru MAN Salatiga yang sangat menginspirasi saya. Beliau mempunyai masalah yang sama. Apa yang beliau lakukan? Beliau pergi mendatangi rumah murid tersebut, berusaha berkomunikasi dengan orang tuanya, mengetahui latar belakang permasalahan anak tersebut. Yang beliau lakukan adalah membuat koneksi dengan murid yang bermasalah itu, mendengar dan memahami. Dan ketika beliau sudah mendengar dan memahami muridnya tersebut, beliau akhirnya mampu mendapatkan perhatiannya dan sekarang murid tersebut sangat kooperatif di kelas. Bahkan menjadi murid favorit beliau. Murid yang masih ditunggui orang tua di kelas. Saya sering mengalami ini, hehehe.. biasanya saya komunikasikan dengan orang tua murid saya untuk menyampaikan apa kecemasannya, kemudian saya menyampaikan apa saja yang akan kami lakukan bersama anak-anak. Saya meyakinkan beliau bahwa anak-anak aman di sekolah, dan kami sebagai guru butuh kepercayaan dari walimurid. Biasanya kalau orang tuanya sudah percaya pada sekolah, akan berefek sih terhadap anak. Anak jadi mudah untuk mempercayai guru dan lingkungan baru. Saya juga biasanya men share foto-foto kegiatan belajar hari itu via grup walimurid. Moderator : Apa konsekuensi yang tepat jika murid tidak masuk atau datang terlambat ke sekolah? Anik Puspowati : Murid ijin saat pelajaran dan tidak kembali ke kelas. Ini saya kira sama sih jawabannya, kita perlu tahu mengapa dan kemudian mencari solusi bersama anak. Sebagai referensi Ibu / bapak guru bisa membaca di Surat Kabar Guru Belajar. Disana banyak cerita pengalaman atau strategi pembelajaran dari teman2 guru lain yang salah satunya mungkin kita alami dan sudah berhasil diterapkan di kelas. Moderator : Jika ada anak yang ngobrol saat pelajaran, bagaimana penanganannya?   Anik Puspowati : Jika ada anak yang ngobrol saat pelajaran, bagaimana penanganannya? Mungkin ini perlu refleksi kita, mungkinkah anak ngobrol saat pelajaran itu karena apa yang kita sampaikan itu kurang menarik? Bila iya, mungkin kita bisa coba metode lain yang lebih mengakomodir gaya belajar anak. Moderator : Bagaimana menegur murid yang melanggar peraturan tanpa menyudutkannya, dan apakah perlu membuat kesepakatan dengan anak tentang konsekuensi jika melanggar? Anik Puspowati : Bagaimana menegur murid yang melanggar peraturan tanpa menyudutkannya, dan apakah perlu membuat kesepakatan dengan anak tentang konsekuensi jika melanggar? Yang saya lakukan biasanya mengajaknya ngobrol berdua saja, agak jauh dari teman-teman yang lain. Berusaha membuat anak nyaman dulu. Dengan demikian insya Allah anak akan lebih mampu diajak merefleksikan kesalahannya. Apakah perlu konsekuensi? Menurut saya tergantung kesepakatan, perlu konsekuensi atau tidak. Moderator : Bagaimana menumbuhkan minat pelajar SMK yang tidak sesuai dengan jurusan yang dipilihnya? Anik Puspowati : Wah, salah jurusan ya? Hmmm… Pasti dulu dipilihkan sama orang tuanya, *eh Gini, bisa jadi jurusan yang tidak disukainya itu akan bermanfaat dikemudian hari, karena kan sudah terlanjur. Mau gimana lagi? Banyak juga kan orang yang salah jurusan tapi akhirnya sukses? Banyak lho contohnya. Bantu murid kita itu untuk menentukan … Read more

Hari Pertama Sekolah

Temu Pendidik 58 : Hari Pertama Sekolah Narasumber : 1. Puti Almirsha Hamid/Puti (Sekolah Cikal) 2. Husnul Chotimah/Nuli (Rumah Main Cikal) Moderator : Baja Seto (Kampus Guru Cikal) Hari, tanggal : Jumat, 13 Juli 2018 Nuli : Sebentar lagi tahun ajaran baru akan segera dimulai dan kita akan menyambut para murid kita kembali ke sekolah dengan semangat yang baru. Biasanya, murid-murid memiliki semangat bersekolah di hari pertama dan melengkapi dirinya dengan seragam, sepatu, dan peralatan sekolah baru. Bagaimana dengan kita para pendidik? Hal apa saja yang kita lakukan untuk menyambut hari pertama bekerja menyambut tahun ajaran baru? Banyak hal-hal menarik yang dapat kita gali dari murid di minggu pertama sekolah, apalagi mengingat sekolah adalah rumah kedua bagi murid kita. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah untuk 5 hari dalam seminggu, dan selama beberapa tahun. Hal-hal seperti bagaimana gaya belajar murid, apa kekuatan diri dari setiap murid, sampai kebiasaan yang dapat mendukung proses belajar murid, dapat kita peroleh dengan adanya persiapan yang matang untuk menyambut hari/minggu pertama sekolah. Proses adaptasi juga merupakan hal yang penting untuk diperhatikan bagi murid baik itu dari usia prasekolah sampai dengan tingkat SMA. Selain itu, kerjasama antara orangtua dan sekolah/guru memegang peranan penting dalam keberhasilan proses adaptasi di awal masuk sekolah. Puti : Naaah menyambung penjelasan bu Nuli di atas, kalau di Sekolah Cikal, para guru meluangkan waktu untuk merencanakan program untuk dijalankan pada minggu-minggu pertama sekolah. Mulai dari menetapkan tema kelas, proses pengenalan kelas baru, teman-teman baru, sampai lingkungan sekolah. Program ini dilakukan untuk nantinya membuka kesempatan lebih banyak bagi kelancaran proses belajar selama satu tahun ke depan. Kegiatannya pun dilihat berdasarkan karakteristik murid yang ada di kelas 🙂 Naah, ada pertanyaan pancingan nih.. kalau bapak dan ibu sekalian, apa saja yang menjadi perhatian dalam merencanakan minggu pertama sekolah? Apa suasana yang ingin dibangun di kelas untuk satu tahun ke depan? Kegiatan seperti apa saja yang dapat dilakukan secara kolaborasi dengan guru-guru di sekolah untuk menyambut murid di minggu pertama sekolah? Moderator : Apa yang sebaiknya harus dipersiapkan dalam menghadapi hari pertama sekolah bagi guru & orang tua? (Rochmadi – MI Muhammadiyah PK Kartasura, Sukoharjo; Nafis – Sekolah Islam Umar Harun, KGB Rembang; instagram : @amaliainsani) Puti : Hari-hari pertama sekolah itu biasanya adalah masa-masa canggung terutama untuk siswa yang baru di sekolah tersebut, sehingga sebisa mungkin di masa minggu pertama sekolah, kita merencanakan kegiatan yang bersifat kolaborasi yang tujuannya untuk saling mengenal satu sama lain. Ini juga saatnya bagi guru untuk bisa membangun rasa percaya di kelasnya, baik dari murid maupun dari orangtua. Pada hari-hari pertama sekolah akan lebih menyenangkan dan membantu untuk mencairkan suasana dengan permainan yang tujuannya untuk lebih mengenal satu sama lain dan meminta pendapat murid untuk tema dekorasi kelas, atau menghias kelas dengan membuat label nama/loker mereka masing-masing atau menghias kalender kelas 🙂 Penting bagi guru juga untuk mengenal siswanya sebelum mereka masuk sekolah, biasanya bisa diambil informasinya dari profil murid/berkas murid, agar kita juga tahu karakteristik anak-anak yang ada di kelas kita :). Intinya, banyak kegiatan yang bisa dilakukan (belum masuk materi pembelajaran) yang bersifat mencairkan suasanya.. itu kalau dari segi guru. Nuli : Kalau untuk orang tua, yang paling penting adalah percaya kepada pihak sekolah dalam hal ini guru. kepercayaan orangtua kepada sekolah akan sangat memperngaruhi hubungan orangtua guru dan murid selama proses pembelajaran. Untuk anak usia dini, mungkin sedikit lebih menantang dalam hal adaptasi mengingat ini adalah masa peralihan pertama mereka dari lingkungan rumah ke lingkungan yang lebih luas di luar rumah. Beberapa tips untuk mengatasi rasa cemas pada proses perpisahan anak prasekolah dengan pendamping 1. Sempatkan waktu untuk mengunjungi sekolah dalam masa orientasi agar dapat mengenal guru dan lingkungan kelasnya sebelum kegiatan sekolah dimulai. 2. Cobalah untuk tetap tenang dan berfikir positif tentang anak saat ia pergi sekolah, terutama bila ini pengalaman pertama mereka. Anak dapat merasakan suasana hati orangtua, bahkan walau mereka belum bisa mengartikulasikan perasaan. 3. Percayakan anak kepada guru dan yakinlah guru tahu bagaimana cara membuat anak merasa nyaman. Peluk anak, lambaikan tangan saat mengucapkan selamat tinggal. Usahakan tidak tinggal atau kembali jika sang anak menangis. 4. Bangun rasa ketertarikan anak terhadap sekolahnya dengan cara menanyakan hal-hal menarik yang terjadi di sekolah atau membicarakan teman-teman yang biasa bermain dengannya. 5. Berada di tempat penjemputan anak sesuai waktu kepulangan sangatlah penting, karena hal ini akan membangun rasa percaya anak terhadap pendamping dan guru. 6. Dengan menerapkan pola yang konsisten dalam berpamitan dan penjemputan yang menyenangkan, orang tua akan membangun rasa percaya anak terhadap pendamping dan guru serta hubungan antara pendamping-anak. Moderator : Apa tujuan orientasi dan apa yang dilakukan selama masa orientasi itu, serta berapa lamakah masa orientasi untuk masing-masing level pendidikan? Serta meteri apa yang diberikan selama masa orientasi? Penanya: (Siti Rodliyah – SD Islam Umar Harun, KGB Rembang; Azhar – KGB Rembang) Nuli : Tujuan dari masa orientasi sekolah tentunya sama dengan yang sudah dijelaskan oleh Ibu yaitu untuk perkenalan dengan lingkungan sekolah, guru dan teman-teman di kelas, pembiasaan kegiatan yang akan dilakukan oleh murid selama satu tahun ajaran ke depan, dan juga sebagai masa observasi bagi guru mengenai kebiasaan belajar setiap muridnya, untuk kemudian guru dapat menyusun pengalaman belajar atau rencana pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan setiap muridnya. Lama dari masa orientasi ini sendiri dapat terjadi antara 2 minggu sampai 3 bulan pertama. Masa orientasi selama 2 minggu biasanya diisi dengan pembinaan keterampilan siswa seperti keterampilan riset, atau keterampilan komunikasi atau keterampilan berpikir dengan aktifitas atau permainan. Lepas dari 2 minggu pertama, masuklah masa observasi dan murid sudah mulai menerima materi pengajaran di kelas. Moderator : Apa pentingya RPP & bagaimana membuat RPP yang sesuai kurikulum namun menyenangkan dan mudah dilaksanakan di kelas? Penanya : (Ila Maya Suprapti, KGB Probolinggo; instagram: @haristorahman; @syafiriin_1995) Puti : Bagaimana menyusun RPP yang menarik? Hmm.. kalau menurut saya, dalam menyusun RPP, penting untuk seorang guru untuk melihat kebutuhan dari murid-murid di kelas, dari kebutuhan ini, kita dapat menyusun pengalaman belajar yang tepat. Bentuk asesmen yang lebih kepada pengerjaan project tertentu juga dapat menjadi salah satu cara untuk menyusun RPP yang menarik. Murid tidak … Read more

Panduan Komunitas Guru Belajar 2.0

Temu Pendidik Mingguan – Nusantara Hari, tanggal : Jumat, 6 Juli 2018 Pemateri : Bukik Setiawan (Kampus Guru Cikal) Moderator : Mahayu Ismaniar (Kampus Guru Cikal) Bukik Setiawan : Komunitas Guru Belajar Mulai dari Kecil, Menggerakkan Perubahan Pendidikan “Sudah sampai Simatupang Mas. Di bawah jembatan penyebrangan”. Itulah pesan yang masuk ke telepon genggam saya pada suatu siang tiga tahun yang lalu. Pesan yang dikirim oleh guru Rizqy dan guru Rudy. Saya kemudian mengendarai motor untuk menjemput dan mengajak dua guru sekolah negeri dari Pekalongan yang berkeringat akibat naik kereta ekonomi dan angkot menuju kos saya. Setelah mereka, berdatangan guru-guru lain dari 10 daerah yang berbeda mulai Ambon, Bandung, Cirebon, Depok, Jember, Lampung, Purwakarta, Semarang, Soroako hingga Timika. Mereka datang dengan semangat yang sama, melakukan perubahan pendidikan sekaligus mendukung gagasan Komunitas Guru Belajar. Malam hari pertama, para penggerak berkumpul di rumah Bu Najelaa Shihab, berbagi keresahan tentang dunia pendidikan sekaligus berbagi kemungkinan tindakan yang bisa dilakukan. Bukan hal-hal besar, rekan-rekan guru yang hadir membicarakan praktik perubahan yang sudah dilakukan di daerah masing-masing. Sambil sesekali menunjukkan foto di telepon genggam, para guru menceritakan apa yang sudah mereka lakukan dengan penuh rasa bangga. Tidak terasa obrolan sesama rekan perjuangan sampai melewati tengah malam dan terpaksa dihentikan karena besok pagi akan menghadiri Temu Pendidik Nusantara 2015. Guru laki-laki menginap di rumah Bu Elaa, panggilan akrab Najelaa Shihab, guru perempuan menginap di rumah Bu Hani Kariko, salah satu pimpinan Sekolah Cikal. Hanya satu yang nyeleneh, Guru Ivan dari Lampung, yang memilih tidur berdempetan di kos saya 🙂 Sebelum Temu Pendidik Nusantara (TPN) 2015 dimulai, para guru sarapan pagi bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Obrolan di sarapan pagi adalah versi singkat dari obrolan lewat tengah malam. Ternyata obrolan tersebut menarik minat sehingga Pak Menteri meminta pengalaman tersebut ditulis. Penulisan pengalaman guru ini yang kemudian menjadi cikal bakal Surat Kabar Guru Belajar yang hari ini telah terbit 15 edisi, konsisten setiap dua bulan. Temu Pendidik Nusantara 2015 dimulai yang pada puncaknya mendeklarasikan Komunitas Guru Belajar (KGB) sekaligus meluncurkan buku Panduan KGB versi pertama. Pada versi pertama, konten terbesar adalah prinsip dan gambaran besar, hanya sedikit panduan teknis, yaitu panduan Temu Pendidik. Sesuai TPN 2015, Komunitas Guru Belajar berkomunikasi secara intens melalui grup WA baik berbagi praktik cerdas pengajaran maupun mencari strategi mengembangkan KGB. Berawal dari ide-ide liar, dirapikan, dicoba, gagal, diperbaiki, coba lagi hingga berhasil. Eksperimentasi teman-teman di satu daerah, menjadi pelajaran bagi daerah itu sendiri maupun daerah yang lain. Upaya coba-gagal-coba lagi perlahan merangkum banyak pelajaran, disebarkan dan pada akhirnya Komunitas Guru Belajar menular ke berbagai daerah yang lain. Dari 10 daerah pada 2015, 43 daerah pada 2016, 67 daerah pada 2017 dan 145 daerah pada 2018. Semakin banyak daerah yang terlibat KGB merupakan suatu tanda kemajuan tapi sekaligus tantangan besar. Sesederhana pada masa sebelumnya semua guru penggerak bisa bergabung di 1 grup WA, sekarang sudah harus dibagi menjadi sejumlah regional yang mewakili provinsi, pulau atau wilayah tertentu. Pada sisi lain, setiap daerah mempunyai karakteristik dan kecepatan perkembangan yang beragam, bahkan ada pula yang jalan di tempat. Pola-pola pengembangannya pun bervariasi sesuai dinamika daerah masing-masing yang mudah terlihat pada variasi cara keterlibatan pada TPN 2017 yang lalu. Komunitas Guru Belajar Sanggau yang digerakkan sejumlah guru sekolah negeri berprestasi berhasil membangun kolaborasi dengan dinas pendidikan berkat rangkaian aktivitas di daerah yang berdampak positif. Komunitas Guru Belajar Pekalongan yang digerakkan guru-guru muda menginisiasi beragam aktivitas belajar sehingga berhasil menabung untuk memberangkatkan 1 bis guru ke TPN 2017. Komunitas Guru Belajar Makassar yang digerakkan guru-guru dengan latar belakang aktivis dengan jaringan yang luas berhasil menyelenggarakan Pesta Pendidikan 2017 di Makassar. Tiga daerah tersebut setidaknya mencerminkan 3 pola pengembangan KGB melalui tahapan perkembangan yang berbeda. Di luar perkembangan KGB berbasis daerah, ada pula perkembangan KGB berbasis minat. Awalnya dipicu penerbitan Surat Kabar Guru Belajar yang melibatkan guru secara bertahap. Pada awalnya, kebanyakan guru terlibat sebatas menjadi penulis, tapi kemudian berkembang menjadi penyunting hingga desainer grafis. Dinamika ini yang kemudian melahirkan Klub Guru Belajar Menulis dan Klub Guru Belajar Komunikasi Visual. Jadi selain meluas dan berkembang berdasarkan daerah, juga berdasarkan minat. Terlepas perkembangan berdasarkan daerah maupun minat, kesemuanya merupakan bukti nyata dari 4 kunci pengembangan guru: kemerdekaan, kompetensi, kolaborasi dan karier. Guru yang merdeka menentukan cita-citanya, belajar menguasai kompetensi, membangun kolaborasi dengan berbagai lembaga dan komunitas, pada akhirnya membuahkan hasil karya yang mencerminkan karier guru secara individual maupun sebagai komunitas. Beragam dinamika dan berbagai perkembangan Komunitas Guru Belajar selama 3 tahun ini yang disarikan menjadi pelajaran-pelajaran penting bagi siapapun yang menjadi guru penggerak KGB. Pelajaran tersebut disusun menjadi buku Panduan KGB 2.0, panduan berdasar bukti nyata. Proses penyusunannya tidak mudah, mulai dari mencari pelajaran dari berbagai daerah, menyusun menjadi sebuah bangunan, mengkaji berulang kali dengan melibatkan berbagai pihak, hingga pada akhirnya hadir di tangan Anda. Panduan dalam buku ini bukan barang mati yang siap pakai, tapi perlu dipelajari untuk mendapat esensinya, dipraktikkan, direfleksikan dan dikembangkan lagi. Panduan ini menjembatani otonomi setiap daerah dengan keteraturan sebagai sebuah komunitas yang harapannya melahirkan percikan kreativitas untuk menggerakkan perubahan pendidikan yang lebih luas dan bermakna bagi anak-anak Indonesia. Pada akhirnya, sebuah kehormatan bagi kami, Kampus Guru Cikal, karena telah dipercaya rekan-rekan guru untuk menjadi inisiator serta teman belajar bagi Komunitas Guru Belajar. Kobarkan semangat untuk terus merdeka belajar bersama. Ketua Kampus Guru Cikal Bukik Setiawan Mahayu Ismaniar : Pertanyaan dari @kgbpekalongan di instagram “Apa yang didapat guru jika mengikuti KGB?” Bukik Setiawan : Di komunitas guru belajar, guru bisa mendapat banyak hal, tergantung niatnya ya. Ada yang dapat solusi atas persoalan di kelas, ada yang dapat teman baik, ada yang dapat kesempatan tampil jadi narasumber/penulis/desainer, ada yang dapat undangan menjadi pembicara, ada yang dapat pembeli bukunya. Tapi ada juga yang cuma dapat capek. Niatnya apa dulu. Kalau niat belajar, gak pernah capek, bonus banyak hal. Mahayu Ismaniar : Pertanyaan kedua dari akun @jentinapakpahan “Bagaimana cara memulai KGB di daerah? Siapa yang bisa menjadi anggota dan narasumbernya?” Bukik Setiawan : Mulai dengan mencari 1 rekan guru yang mempunyai visi yang sama: kemauan belajar yang kuat untuk menemukan solusi atar persoalan pengajaran di kelas. Mulai … Read more