Belajar dari NusantaRun Chapter 6

Di usianya yang ke 19 bulan, anak itu mengidap suatu penyakit yang membuatnya menjadi tuna netra dan tuna rungu. Bagaimana masa depannya? Bagaimana cara dia berkomunikasi nanti dengan dunia luar? Bertahun-tahun ia menjalani kehidupannya dengan marah-marah, sering memukul meja, frustasi karena sulit mengungkapkan apa yang ia rasakan. Secercah harapan muncul ketika usianya 7 tahun, Anne Mansfield Sulivan dari Tuscumbia datang menjadi gurunya. Anne mengajari anak itu berkomunikasi dengan cara-cara yang unik, yang kemudian membuat anak tersebut bisa berkomunikasi, dan akhirnya bisa berbicara. Sekarang kita mengenal anak tersebut dengan nama Hellen Keller, seorang pejuang kemanusiaan. Tanpa Anne dan lingkungan yang mendukung, Hellen mungkin sulit menjadi seseorang yang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, dan menerbitkan puluhan buku. Itulah yang saya bayangkan, banyak Hellen-Hellen lain di Indonesia, anak-anak penyandang disabilitas, namun lingkungannya belum banyak mendukung. Seperti wawancara saya dengan bu Purwanti dari SLBN Temanggung menurut beliau masih banyak orangtua yang overprotected terhadap anaknya. “Orangtua kurang membuka diri, masih menganggap anak-anak terbatas.” ujar Bu Purwanti. Menurut pak Pungguh, guru SLBN 1 Gunung Kidul hal lain adalah karena setelah lulus anak-anak biasanya bingung akan melakukan apa. Beberapa di antaranya malah kembali ke sekolah, mendaftar menjadi karyawan di sekolah. Orangtua yang memandang sebelah mata, guru yang tidak memiliki kemampuan mengembangkan murid penyandang disabilitas, sarana prasarana bahkan akses pendidikan yang belum mendukung membuat anak-anak penyandang disabilitas kadang harus memendam mimpinya. Bersama demi #PendidikanUntukSemua Seorang pelari memakai baju pemadam kebakaran memasuki arena finish lari NusantaRun Chapter 6. Ia lari menuju garis finish yang sudah berada di depannya, air matanya mulai mengalir, dan menjadi tumpah ketika ia mencapai garis finish. Sebuah yel-yel dari murid dan guru membuat suasana siang itu menjadi tambah sendu. “Terima kasih..terima kasih pelari NusantaRunSudah dukung… sudah dukung Pendidikan untuk Semua” Kemudian Gita seorang anak disabilitas dari SLBN 1 Gunung Kidul menghampirinya, memakaikan gelang dan memberikan bunga sebagai wujud apresiasi kepada pelari tersebut yang telah berjuang lari puluhan kilometer. Bunga dan gelang merchandise untuk pelari adalah hasil karya murid-murid disabilitas di Solo dalam workshop yang diadakan Komunitas Guru Belajar Solo. Teman-teman Guru Belajar Solo juga hadir di garis finish NusantaRun chapter 6 untuk mengapresiasi para pelari. Masih banyak pelari lain yang mencapai garis finish dengan bangga bahkan membawa anggota keluarga. Siang itu (9 Desember 2018) di Pantai Sepanjang saya melihat kekuatan dari kontribusi. Seorang pemadam kebakaran,bankir, pengusaha, guru, murid, bahkan staf ahli presiden bersama-sama melakukan aksi untuk perubahan. Saya jadi teringat kutipan dari Hellen Keller Alone we can do so little ,together we can do so much. Anda ingin ikut terlibat dalam #PendidikanUntukSemua klik https://kitabisa.com/nusantarun

Half Point, Setengah Perjalanan untuk Pendidikan

Seorang pelari perempuan dengan langkah kesusahan memasukki area half point. Sambutan meriah membuat langkahnya menjadi lebih baik.Beberapa pelari di half point yang mengambil kategori half course menghampirinyadan menepuk pundaknya. Setengah jam berikutnya ia bersiap melanjutkan lagi setengah perjalannnya .  “Apa yang Kamu cari”, ucapnya kepada salah seorang teman sambil berlalu meniggalkannya. Kalimat tersebut membuat saya berpikir dan mendalaminya. Benar juga, apa yang dicari? Apa ya yang dicari pelari ? Sampai harus merogoh kocek untuk sampai Gunung Kidul dan kembali ke tempat asalnya. Apa ya yang dicari pelari ? Sampai harus cuti beberapa hari dari pekerjannya. Apa yang dicari pelari? Sampai harus mengumpulkan donasi minimal 3,5 juta, baru ia bisa berlari mengikuti event ini. Apa yang dicari pelari? Sampai harus menempuh jalanan menanjak, menurun, datar sejauh 169 km. Hal-hal itu jika dipikir memakai akal sehat sulit sekali diterima. “Di NusantaRun bukan cuma berlari,  juga  membuat para pelari memiliki value yang berbeda, dan selalu ada nilai-nilai kebaikkan di acara ini. Saya sudah empat kali ikut, dan setiap kali ikut optimisme saya selalu bertambah karena melihat banyak orang baik di Indonesia. Saya lebih percaya bahwa Indonesia bisa maju.” Ujar Adita salah seorang pelari perempuan. Itulah mengapa seorang pelari full course terlihat menangis melepas nomor peserta lari, ia tidak bisa melanjutkan larinya karena cidera di half point. Sementara itu sebanyak 121 pelari baru akan berjuang dari Balai Desa Karangwuni, Wates (Sabtu, 10 Desember 2018) menuju Pantai Sepanjang Gunung Kidul sejauh 83 Km.  Kampus Guru Cikal melibatkan Komunitas Guru Belajar Yogyakarta untuk  berkontribusi di half point. Sama halnya di garis start Kledung Pass, beberapa relawan dari Komunitas Guru Belajar terbagi dalam beberapa peran. Ada yang membantu di meja registrasi ulang, menempelkan tattoo dan juga membuat yel-yel untuk pelari yang akan dan melanjutkan perjalannya. “Di sini saya belajar banyak hal melihat semangat para pelari. Ternyata yang peduli akan pendidikan banyak, dari pelari, beberapa sponsor, dan relawan-relawan dari lintas profesi. Jadi nggak Cuma kami guru dari pendidikan.” Widy, Guru Belajar Yogyakarta. Tepat pukul 16.00 WIB, garis start di half point dibuka. “Tetap semangat… tetap semangatPelari NusantaRun..Untuk dukung.. untuk dukungPendidikan untuk semua” Yel-yel dari Komunitas Guru Belajar Yogyakarta mengalun untuk memberi tambahan energy kepada pelari menuju Pantai Sepanjang Gunung Kidul.

Murid Penyandang Disabilitas Ikut Berkontribusi di Garis Start NusantaRun Chapter 6

Noriko adalah murid penyandang tuna daksa yang memiliki hobi komputer serta memiliki cita-cita menjadi ahli komputer jika besar nanti. Sore itu di kursi roda yang sering dipakai di sekolah, ia dibantu pak Waluya gurunya menuju stand relawan. Matanya berbinar,senyumnya mengembang dan terkadang ia meminta gurunya untuk mempercepat langkahnya.  “Noriko mau pilih yang mana? Mau membantu kakak-kakak memasang tatoo kilometer? Atau itu (menunjuk) membantu kakak-kakak drop bag ke pelari? Atau yang ini, memberikan formulir daftar ulang ke pelari” tanya Harry salah seorang panitia NusantaRun chapter 6 “Aku mau ini aja.” Ujar Noriko dengan menunjuk stand bagian formulir. Ia mulai bertugas membantu relawan lainnya yang bersal dari berbagai daerah memberikan formulir kepada pelari. Noriko adalah satu diantara 12 murid dari SLBN Temanggung yang memilih menjadi relawan NusantaRun chapter 6 di garis start. Selain Noriko ada Rizki murid penyandang disabilitas tuna rungu ini dengan antusias menjadi relawan pemasang tattoo kilometer. Ia menempelkan kertas putih ke lengan pelari, kemudian menggosok-gosokkannya dan terakhir ia melepaskan kertas putih tersebut. Tatto kilometer pun terpasang di lengan pelari. Lain cerita dengan Noriko dan Rizki, adapun Bagas murid penyandang disabilitas dengan asik memilah ukuran-ukuran kaus. Bagas asik cerita dengan relawan lainnya tentang pengalamannya menjuarai turnamen futsal di Semarang. “Malam ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi anak-anak. Mungkin besok mereka akan berceloteh dengan teman-temannya di sekolah tentang apa yang mereka alami malam ini” ujar Guru Ina kepala SLBN Temanggung. Di perhelatan ini tampak #PendidikanUntukSemua , murid-murid penyandang disabilitas sejak awal memasukki lokasi start sudah disambut dengan hangat oleh para pelari. Beberapa di antaranya menghampiri anak-anak dengan Bahasa isyarat. Ada pula yang mengajak berswafoto tanpa ada sekat di antara mereka. Bertempat di pelataran hotel Kledung Pass (Jumat, 7 Desember 2018) sebanyak 80 pelari memantapkan diri mengambil kategori full course, ini artinya mereka akan berlari sejauh 169 km dari Kledung Pass sampai Pantai Sepanjang di Wonosobo dan melewati 16 titik point peristirahatan. “Saya memilih ikut NusantaRun bukan sekedar karena event larinya, tapi karena dampaknya. Dampaknya untuk pendidikan Indonesia” Ujar Adam seorang pelari dari Jakarta. Waktu menunjukkan pukul 06.45 beberapa pelari melakukan pengecekan perlatan yang dibawa, yang lainnya sudah siap berlari di garis start. Adapun murid-murid penyandang disabilitas sudah berkumpul di depan garis start. Sebelum memulai lari, Christhoper Tobing Co-Founder NusantaRun meminta pelari, dan pengunjung yang ada di garis start mengheningkan cipta untuk salah seorang pelari yang seminggu sebelum race minggal karena stroke. Setelah itu, Eriska murid  penyandang disabiltas dari SLBN Temanggung langsung memimpin menyanyikan lagu Indonesia Raya. “Indonesia tanah airku… tanah tumpah darahku…” Murid lainnya penyandang tuna rungu menyanyi menggunakan bahasa isyarat. “Garis start dan finish bukan Wonosobo atau Gunung Kidul, di rumah kita masing-masing. Safety first!” ujar Christopher sebelum melepas pelari. Diiringi lagu Tulus Manusia Kuat, malam itu pukul 19.00 WIB sebanyak 80 pelari mulai menapakkan langkahnya menuju Gunung Kidul. “Manusia… manusia kuat.. itu kita…. Jiwa. Jiwa yang kuat.. itu kitaaa” Sayup-sayup lagu tersebut sudah tidak terdengar lagi, pelari sudah mulai menjauh dari garis start. Malam itu di dinginya Wonosobo pelari menyusuri jalan.

Metode Memahami Isi Cerita Pada Anak Disleksia

Temu Pendidik Mingguan Daring 75 kali ini mengangkat tema “Metode Memahami Isi Cerita pada Anak Disleksia”. Tema yang sangat menarik bukan?. Kami semua jadi teringat Ichsan, si bocah kecil di film Taare Zamen Paar yang mengalami Disleksia. Beberapa guru angkat tangan dalam menangani si bocah kecil ini. Namun, di tangan guru yang hebat dan mengajar dengan hati Ichsan bisa melewati itu semua, memahami tulisan beserta isi dari cerita maupun pelajaran lainnya. Bagaimana dengan kenyataan? Sama kah dengan film Taare Zamen Paar?. Para audience diskusi menyambut hangat tema ini dan online dengan semangat yang membara. Pada sesi Temu Pendidik Daring di Telegram kali ini Ibu Guru Rizki Yuliani menyampaikan diskusi materi yang mengangkat tentang disleksi dan metode cara memahami isi cerita. Bisa kah seseorang yang mengalami disleksia yang notabennya mengalami kesulitan dalam memahami tulisan, membaca, huruf namun bisa memahami isi cerita? Bagaimana cara membuatnya mudah? Apa yang dimaksud dengan Disleksia? Kenapa dalam materi anak Disleksia mengalami kesulitan memahami isi cerita? Rizki Yuliani Jadi seperti yang kita ketahui disleksia ini termasuk ke dalam anak berkebutuhan khusus, yang biasanya memiliki hambatan dalam bidang akademisnya. apa sih yang menyebabkan seseorang mengalami disleksia? disleksia terjadi karena ada susunan saraf neurologis pada otak yang berbeda daripada orang pada umumnya, sehingga dalam mempersepsikan sesuatu juga bisa berbeda dibanding umumnya. khususnya dalam pemahaman bahasa. Karakteristik Umum Yang Sering Kita Jumpai Pada Anak Disleksia Yaitu : Terlambat membaca dibanding anak-anak seusianya Belum mampu mengenal dan menghapal alphabet Sering salah atau terbalik huruf saat membaca (b-d, p-q, n-u, dll) Sering lompat baris saat membaca Menghilangkan atau tertukar kata (kepala-kelapa, taman mini-paman tini) Ada huruf yang hilang saat membaca (menggambar-mengambar, menyanyi-meyayi) Sulit memahami isi bacaan Jadi kenapa anak disleksia kesulitan memahami bacaan, ya karena reseptor mereka terhadap bacaan berbeda dengan orang pada umumnya. sehingga bagaimana dia mempersepsikan kata-kata atau bacaan juga perlu cara lain daripada orang pada umumnya. Nurul, KGB Surabaya Bagaimana bisa membantu anak Disleksia belajar membaca sedangkan dia belum bisa membaca huruf ? Rizki Yuliani Kalau Kita sudah mengetahui kesulitannya bahwa anak ini belum bisa membaca huruf, maka kita harus mundur dulu ke tahap sebelum pengenalan huruf. Untuk bisa mengenal huruf-huruf, sebelumnya ia harus bisa membedakan bentuk terlebih dahulu, Maka bisa bisa dikenalkan terlebih dahulu dengan berbagai macam bentuk dengan berbagai macam media. Misal menulis di pasir dengan menggunakan jari. jadi anak bisa merasakan, kalau membuat persegi itu bagaimana tahapannya, misalkan kita buat garis sisi kiri dulu lalu kanan, lalu tarik garis ke atas, garis sisi atas, lalu garis sisi kanan. Setelah selesai dengan pengenalan bentuk, bisa mulai dikenalkan huruf sedikit demi sedikit. dengan metode menulis di pasir ini anak bukan hanya melihat bentuk itu seperti apa, tapi juga bisa merasakan setiap prosesnya, karena ada rangsangan sensoris dari media pasir (bisa diganti beras bila tidak ada) bagaimana rasanya membuat garis ke kiri,kanan, atas, mungkin lengkung dsb. Setelah mengenal huruf, bisa pindah media ke buku, flashcard dan sebagainya, dimulai dengan baca per suku kata, kata, lalu kalimat, dst. dikemas dalam kegiatan yang menarik tentunya. Adenovi Apakah metode tersebut bisa diterapkan segala jenjang, misalnya pada remaja dalam memahami isi cerita yang panjang? Rizki Yuliani Metode Ini memang saya terapkan bagi anak SD, itupun kelas bawah.sebetulnya metode ini memungkinkan untuk dipakai di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, namun kalau SMP dan SMA kan bacaannya sudah lebih rumit ya, jadi akan lebih menantang tentunya, karena bacaan di SMP-SMA lebih banyak mengandung informasi-informasi yang membutuhkan pemahaman lebih dalam lagi. jadi mungkin bentuk kemasannya yang berbeda, bisa menggunakan mind map mungkin untuk bacaan yang sifatnya informatif, dan jangan lupa sesuaikan dengan gaya belajar anak. kalau anak yang auditory bisa dengan mendengarkan cerita sambil sekaligua membaca teksnya. kalau tipe anak kinestetik mungkin bisa sambil memperagakan bacaan, dan lain lain, yang terpenting sih jangan lupa asesmen dulu untuk identifikasi dimana letak kesulitannya, sebelum menyusun metode pembelajarannya. Lenayanti Pertanyaan saya apakah hambatan disleksia mempengaruhi kecerdasan seseorang, bagaimana pengaruhnya terhadap mapel lainnya? Rizki Yuliani Tidak, disleksia tidak berkaitan dengan kecerdasan seseorang. secara IQ, disleksia ini memiliki IQ yang normal, bahkan ada yang di atas rata-rata. jadi mereka punya potensi kecerdasan sama seperti yang lainnya. namun, karena kondisi neurologisnya itu lah sehingga ia memiliki hambatan dalam proses belajarnya. Kalau dalam psikologi, disleksia ini termasuk kesulitan belajar spesifik. Spesifik disini dalam artian hanya bermasalah spesifik di masalah pemahaman bahasa saja. jadi tidak di aspek lain seperti hitungan, kemampuan berpikir logis, dll ia tidak mengalami masalah. hanya saja, bisa jadi berimbas juga di matpel lain yang membutuhkan skill membaca. misal PPKN, dalam matematika pun biasanya di soal cerita mereka kesulitan tapi begitu ia paham, maka tidak ada masalah dalam pengoperasian hitungannya. Paramita Laksmiandita Dalam memahami isi cerita, anak disleksia mengalami distorsi visual seperti blurry, shaky, seesaw. Bagaimana cara mengatasi distorsi visualnya dan bagaimana jika disleksia juga ada penyertanya seperti ADHD, gifted apa yg harus dilakukan karena anak disleksia yang ada penyerta memiliki IQ yg tinggi? Rizki Yuliani Betul, untuk anak disleksia biasanya mengalami distorsi visual. yang saya lakukan biasanya ukuran font tulisan saya perbesar biasanya 14, juga jarak spasi yang lebih besar antar baris, biasanya spasinya 2. bisa juga memberikan penutup kertas supaya bisa membaca lurus dan tidak lompat garis. Biasanya disleksia juga menjadi komorbid dari gangguan lain, kalau seperti ini kita juga perlu mengetahui karakteristik dari gangguan penyertanya. untuk gejala disleksia yang muncul bisa saja menggunakan metode-metode yang sudah kita diakusikan sebelumnya, namun perlu juga mempertimbangkan hambatan yang disebabkan gangguan penyertanya. misal ADHD, pemberian instruksinya diberikan secara lebih singkat untuk mengatasi kurangnya atensi dan pemberian sequence kegiatan diberikan berjenjang, misal 15 menit lalu istirahat, lalu lanjut lagi. atau pembelajaran bisa dilakukan outdoor sambil berkegiatan, dll. Sesan Sesanti Untuk anak PAUD, yang masih tertukar huruf + kalimatnya. Saya sudah mengubah strategi mulai bercerita, happy learning + remedial ? Yang mau saya tanyakan apakah remedial ini harus kita terapkan ke anak PAUD. Karena menurut saya tidak sesuai dengan umurnya ? Terkesan, memaksakan. Rizki Yuliani Sebagian besar psikolog beranggapan kalau anak PAUD memang belum waktunya diajarkan membaca bu. Jadi kalau anak PAUD masih lama kemampuan bacanya ya tidak apa-apa. Jangan dibebani dengan tuntutan … Read more

Hibernasi dan Berefleksi

Would you know my nameIf I saw you in heavenWill it be the sameIf I saw you in heavenI must be strong,and carry onCause I knowI don’t belong Here in heaven Lagu lawas dari Eric Clapton itu mengiringiku menulis pagi ini. Lagu yang bersejarah bagi Eric. Tanggal 20 Maret 1991, Connor Clapton anaknya meninggal karena jatuh dari sebuah apartemen. Hari itu sampai 9 bulan setelahnya Eric berkabung. Eric sangat-sangat terpukul kehilangan anak. Ia berdiam diri di rumah, ia memilih untuk tidak tampil, ia konsentrasi kepada apa yang baru menimpanya. Sembilan bulan setelahnya, ia kembali. Eric kembali dengan perbedaan. Musiknya lebih lembut, reflektif dan kuat. Salah satunya ia tunjukkan di lagu Tears in Heaven, lagu yang ia tujukkan untuk Connor Clapton. “Sering kali kita memang butuh berdiam diri, merefleksikan apa yang dilakukan dan memulai kembali dengan semangat yang baru” Itulah mengapa tim Kampus Guru Cikal Jumat, 16 November 2018 melakukan sebuah perjalanan ke Honje Ecolodge di Ujung Kulon. Salah satunya adalah untuk berefleksi. Setiap hari dihadapkan dengan Komunitas Guru Belajar yang ada di 145 daerah dengan beragam aktivitasnya dari Temu Pendidik Daerah, Temu Pendidik Mingguan, Temu Pendidik Nusantara, Surat Kabar Guru Belajar, Guru Promotor, konten harian, penggerak. Tiap hari ada puluhan percakapan di grup, media sosial. Ini yang saya salut dari teman-teman di Kampus Guru Cikal. Bergerak setiap hari. Dan kami memang membutuhkan waktu untuk berdiam. Waktu untuk berefleksi dari semua itu. Jumat siang itu kami memutuskan untuk melakukan perjalanan yang berbeda. Kami bisa saja menyewa mobil dan tidur sampaillah kami di tempat yang kami tuju. Tapi kami memilih naik KRL kemudian disambung naik angkot. Tapi yang terjadi dalam perjalanan tersebut sungguh luar biasa. Banyak obrolan yang kami lakukan. Belum sampai lokasinya saja, banyak refleksi dari obrolan singkat nan bermakna. Seperti yang saya tulis di awal, bahwa kegiatan kami ke Ujung Kulon adalah refleksi. Maka tiap aktivitas pun dirancang agar kami berefleksi. Nah mungkin ide-ide di bawah ini bisa di-ATM (Amati – Tirukan –Modifikasi) di sekolah Bapak Ibu untuk melakukan refleksi. A. Hunting Foto Bukan sekadar hunting foto, tapi hunting foto bermakna. “Ya jadi dalam hunting foto ini masing-masing harus mengambil dua foto. Satu foto tentang ‘perubahan positif’ dan satunya lagi tentang ‘harapan’. Kemudian nanti kita presentasikan ya! Waktunya satu jam dalam mengambil foto.” Kami pun menyebar untuk mencari foto yang sesuai  dua frasa tersebut. Ada yang ke bagian barat pantai, ada yang ke timur, ada yang masuk ke dalam penginapan, ada yang berdiam diri. Semua mencari foto sambil menikmati ‘waktu sendiri’. Akhirnya seperti waktu yang ditentukkan, kami pun berkumpul di gazebo depan penginapan untuk membahas foto yang diambil. Ada yang mengambil gambar karang, pohon, buku, kano. Satu per satu anggota KGC mempresentasikan hasil jepretannya. “Aku tu ambil foto ini karena mpresentasikan perubahan positif aku semenjak di KGC…..” “Nah ini adalah harapanku ke depan, kayak penginapan kita ini. Mmebangun namun tidak menggerus…” Senang sekali mendengar hasil presentasi teman-teman.   B. Mengutarakan “Tampak seperti dan tidak tampak seperti” Nah setelah sesi foto, masih di tempat yang sama. Pak Maman meminta kami untuk mengungkapkan apa yang sudah sesuai dan tidak sesuai dengan prinsip Cikal. “Medianya bebas apa saja, boleh menggambar, boleh menulis, boleh juga menyanyi” Kami pun melakukan apapun yang membuat kami nyaman mengungkapkanya. Dari sesi ini akhirnya aku pribadi tahu, masih banyak sekali hal yang kurang selama ini. Masih banyak evaluasi yang perlu diperbaiki. Dan masukan teman-teman menambah semakin tahu apa yang perlu diperbaiki ke depannya. C. Menggambar Malam hari, kami semua di kumpulkan di depan penginapan untuk sesi berikutnya. Kalau sebelumnya adalah sesi refleksi individu, sekarang sesi refleksi ketua KGC, yaitu mas Bukik. Kami diminta menggambar apa saja yang menggambarkan ketua KGC, pun dengan pemilihan warna spidol, harus memiliki arti. Ada yang gambar pohon, ada yang gambar tangga, dan lain sebagainya. Aku pribadi menggambar tangga, karena aku merasa banyak tantangan baru saat mas Bukik menjadi ketua KGC, dan tantangan-tantangan itu semakin membuatku belajar. Selain hal positif, kami juga mengutarakan hal-hal evaluasi mas Bukik sebagai ketua. Seneng banget karena dari sini bisa lebih leluasa mengutarakan apapun. Dan suka dengan apa yang mas Bukik lakukan. Suatu saat kalau jadi pemimpin akan kayak dia ah.. hehhe D. Tukar Kado Setelah sesi refleksi ketua KGC, kegiatan berikutnya yaitu tukar kado. Kami telah menyiapkan kado sebelumnya, dan malam itu kado kami saling ditukar. Kadonya lucu-lucu. Tapi rahasia ya. Dari sesi ini kami merasa semakin dekat satu sama lain di tim KGC. E. Truth and Dare Ini adalah aktivitas yang menakutkan buatku. Dengan botol di tengah, setiap orang berhak memutarkan botol tersebut secara bergantian. Setelah botol diputar, dan ujung botol mengarah ke seseorang, maka seseorang tersebut harus melmilih untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pemutar botol dengan jujur atau memilih melakukan aktivitas yang diinginkan oleh pemutar botol. Ini sesi yang membuat kami tertawa bersama malam itu. Membuat kami semakin tahu satu sama lain. Dan entah kenapa 2 hari tersebut benar-benar membuat kami semakin semangat untuk bareng-bareng berjuang bersama mendampingi teman-teman Komunitas Guru Belajar. Seperti Eric Clapton, semoga apa yang kami lakukan bisa membuat kami benar-benar berefleksi dan melakukan hal dengan lebih baik dalam mendampingi teman-teman KGB.

Belajar Memahami Keberagaman, Menggali Potensi Anak

Setahun lalu, saya mulai mengajar di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) setara Paket C bernama PKBM Al-Bayan. Sekolah tersebut merupakan sekolah boarding school yang pada awalnya diperuntukkan bagi anak yatim dan dhuafa penyintas bencana gempa Yogyakarta. Namun, pada perkembangannya, sekolah ini menerima siswa dari berbagai daerah dan latar belakang ekonomi. Saat masuk kelas XI, saya cukup terkejut karena ternyata harus berhadapan dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Arif namanya. Saat itu, sulit untuk mengidentifikasi kebutuhan Arif. Secara sekilas, Arif mungkin dikira tunagrahita karena kesulitan untuk berbicara (gagap dan kurang jelas) dan motorik yang kurang seimbang. Tangannya sering gemetar, dan Arif berjalan dengan menyeret salah satu kakinya. Informasi yang saya dapatkan pun kurang memadai, baik dari guru lain maupun dari keluarga. Keadaan yang demikian seringkali membuat Arif diremehkan oleh beberapa temannya. Misalnya dengan memandang dengan pandangan yang meremehkan, atau mencemooh (meski tidak keras, namun cukup terdengar) saat Arif menjawab pertanyaan. Arif kesulitan menulis dengan tangan, dan hal ini sering membuat pekerjaannya yang berkaitan dengan tulis-menulis menjadi lambat. Selain itu, diperlukan perhatian khusus untuk menyimak kata-kata Arif sehingga terkadang membuat teman-temannya tidak sabar menyimak. Terlebih, pada pelajaran Bahasa Indonesia yang saya ampu, kegiatan menyimak, berdiskusi, dan menulis merupakan hal esensial. Jujur saja, saya pun awalnya kikuk karena baru pertama kali mengajar ABK. Terlebih, saya mengajar Bahasa Indonesia dan selalu mengajak murid untuk berinteraksi. Namun, saya sadar bahwa sikap saya merupakan contoh bagi siswa, dan sebisa mungkin saya bersikap wajar dengan ‘kespesialan’ yang dimiliki Arif.  Saya mencoba untuk belajar mengenai pembelajaran inklusi, mulai dari browsing internet hingga mengikuti workshop menjadi guru kreatif di sekolah inklusif. Dari pembelajaran tersebut, saya menyimpulkan sebuah ‘pekerjaan rumah’ dalam menghadapi situasi ini: Memahami kebutuhan dan potensi Arif, serta mengubah stigma negatif dan menumbuhkan sikap saling menghargai di kelas. Kegiatan Belajar Untuk Mengenal Keberagaman Potensi Pada awal semester, saya memberi tugas yang sama di kelas tanpa pengecualian untuk melihat seberapa jauh kemampuan dan potensinya. Setelah saya amati, rupanya kesulitan Arif hanya terletak pada motorik halusnya saja. Ia tidak bisa menulis dan bicara dengan lancar. Namun, secara kognitif, Arif dapat mengikuti pelajaran seperti murid lainnya. Secara emosional, Arif bisa dibilang lebih dewasa dibanding teman-temannya. Mental Arif tidak menciut dengan keadaannya. Arif menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan selama pelajaran (Seringkali pertanyaan kritis: Mengapa begini? Menurut kamu bagaimana?) dengan baik. Ia juga tidak malu untuk bertanya bagian yang tidak dipahaminya. Terkadang, suatu materi perlu disampaikan 2-3 kali hingga ia mengangguk paham. Dibandingkan temen-temannya, tugas-tugas Arif dalam bentuk tulisan seringkali sangat singkat. Misalnya saat materi membuat teks pidato,  Arif hanya menulis kurang lebih seratus kata. Meski begitu, Arif melengkapi bagian pembuka, isi, dan penutupnya. Hal ini menunjukan bahwa ia tidak asal-asalan dalam mengerjakan tugas dan memahami hal yang esensial dari materi tersebut. Dari tugas-tugas tersebut, saya menjadi lebih paham akan kekuarangan dan potensi yang dimilikinya. Saat ujian semester, Arif juga cenderung menjawab soal esai dengan singkat, yang terkadang membuat jawabannya kurang komprehensif dibandingkan teman-temannya. Pada akhirnya, saya bisa melakukan assesment tambahan dari pertanyaan-pertanyaan lisan di kelas. Saya juga mengajak siswa lain untuk mengenal potensi dirinya lewat aktivitas belajar. Misalnya, menonton sebuah video film dokumenter mengenai dunia hewan dan membuat tulisan mengenai impresi akan film tersebut. Dari tugas tersebut, saya mengajak siswa untuk bersama mengidentifikasi jenis tulisan yang dibuat. Misalnya, ada siswa yang menulis mengenai satu hewan saja, namun sangat rinci. Ada juga yang menulis mengenai impresinya terhadap keseluruhan film secara general. Ada siswa yang menuliskan dalam bentuk deskripsi, narasi, dan puisi. Jenis tulisan yang dibuat, merepresentasikan potensi yang dimiliki oleh penulisnya. Bersama, kami mengidientifikasi keberagaman jenis tulisan  yang telah dibuat. Ada anak yang suka menulis secara umum, ada yang secara rinci. Ada yang suka mendeskripsikan sesuatu secara detail, ada yang lebih suka bercerita, dan ada juga yang menulis puisi. Dari kegiatan tersebut, saya mengajak siswa untuk mengenal potensi yang dimilikinya, dan potensi yang dimilki temannya. Apa kelebihan, serta perbedaan antara satu dengan yang lain. Misalnya sama-sama generalis, tapi apa yang membedakan karya ini dengan karya yang lain? Pada akhirnya, dibagi kelompok anak yang lebih suka menulis secara general dan kelompok yang suka menulis secara detail. Anak-anak dari kelompok generalis dan detail kemudian membentuk kelompok dan diminta untuk membuat satu karya yang komprehensif. Melalui refleksi aktivitas pembelajaran, siswa dapat diarahkan untuk mengenal potensi-potensi dirinya dan orang lain. Harapannya, siswa dapat mengenal kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya, serta menerima hal tersebut pada diri sendiri maupun orang lain. Dengan mengajak siswa untuk merefleksikan sendiri potensinya, dan menyadari keragaman yang ada di kelas, lebih mudah untuk mendorong siswa saling belajar dan bekerjasama. Sekarang saya sering bertanya kepada siswa, “Jadi, apa kelebihanmu dalam materi ini?” Dalam empat pilar pendidikan yang dicanangkan UNESCO, tujuan proses pembelajaran tidak hanya untuk tahu, dan menguasai, tetapi juga untuk bisa hidup bersama. Saya sendiri ingat pada masa SMA, saya sering merasa ‘tidak ada apa-apanya’ karena cenderung bertipe generalis yang suka pada banyak hal sekaligus. Karena stigma sosial, saya merasa orang-orang yang hanya fokus pada bidang tertentu secara saklek lah yang akan berhasil. Padahal, seringkali dalam mencapai tujuan, kolaborasi dengan banyak pihak sangat penting untuk keberhasilan bersama. Oleh Anisah Zuhriyati – Komunitas Guru Belajar Yogyakarta

Guru Belajar Sanggau membuat Media Pembelajaran Kekinian

Pada Kamis, 08 November 2018. Komunitas Guru Belajar Sanggau melakukan kolaborasi bersama Gugus IV, Kecamatan Tayan Hilir dalam Kegiatan Learning Adventure of KGB Sanggau, salah satu program kegiatan yang sudah dirancang KGB Sanggau sejak lama dan dikemas dalam kegiatan Temu Pendidik Daerah, mengingat kegiatan ini beberapa tim dari KGB Sanggau akan berkunjung ke daerah-daerah untuk menyebarkan Praktik baik dari kegiatan belajar atau dari hasil pembelajaran. Menjadi salah satu aksi dari TPN 2018 yaitu membagikan “Oleh-oleh TPN 2018” ke berbagai Kelompok belajar, untuk program Learning Adventure of KGB kali ini, sasaran kami adalah KKG yaitu Kelompok Kerja Guru, dimana juga secara langsung akan mengaktifkan kembali kerja KKG di berbagai daerah, tentunya dengan menanamkan kesadaran semangat Merdeka Belajar. Kegiatan ini dilaksanakan di SDN 20 Simpang Mandong, Kecamatan TayanHulu, Kabupaten Sanggau, dengan jumlah peserta lebih kurang 49 orang terdiri dari Guru Kelas, Guru Agama, Guru PJOK dan Kepala Sekolah. Dimulai pada pukul 08.00 hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Pihak dinas pendidikan dan kebudayaan turut serta hadir dalam kegiatan ini, dalam hal ini Bapak Donatus, selaku Kepala UPT Dinas Pendidikan Pemuda danOlahraga Kecamatan Tayan Hulu memberi kata sambutan sekaligus membuka kegiatan, dalam kesempatan ini bapak Ka.UPT ini mengapresiasi sekali kegiatan ini, beliau juga meminta para guru untuk aktif dan giat dalam belajar, dalam kondisi apapun sebagai seorang pendidik harus mampu ikut beradaptasi dengan perkembangan zaman yang ada, salah satunya adalah dengan cara tak henti untuk belajar. Hal ini juga diaminioleh bapak Pengawas, dan dipertegas oleh bapak Ketua Inti Gugus IV, bahwa seorang pendidik itu sudah seharusnya mau bergerak, belajar dan mencari tau, beliau mengutip pembicaraan salah satu professor “Orang yang tidak ingin maju adalah orang merugi di muka bumi, karena ilmu pengetahuan itu sangat dinamis, perkembangan zaman yang maju ini harus diikuti dan diadaptasi agar kita tidak menjadi seorang pendidik yang naif” Selaku ketua Gugus IV kecamatan Tayan, Ibu Surnia Ratih berharap kegiatan ini dapat berkelanjutan, agar memotivasi rekan-rekan guru untuk terus mengupdate kompetensi diri. KGB Sanggau melaksanakan kegiatan sharing terkait Alat Peraga dan Pembelajaran dengan narasumber Ibu Titis Kartikawati. Materi yang disampaikan merujuk pada hasil kegiatan TPN 2018, yang merupakan salah satu Aksi dari TPN 2018, yaitu membagikan oleh-oleh pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan beberapa waktu lalu. Dalam TPD #1 ini, Ibu Titis membagikan apa yang diperolehnya di kelas Bercerita dan di kelas Maker Space. Selain itu dibahas pula terkait pembuatan Alat Peraga yang diperoleh dari Ini Budi, serta beberapa materi lain hasil inovasi beliau sendiri. Ibu Titis sangat mengapresiasi semangat belajar rekan-rekan di KKG gugus IV, Kecamatan Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau ini. Meskipun banyak para guru yang berusia sudah lanjut namun semangat belajar mereka masih sangat kuat. Peserta kegiatan pun memberikan pesan dan kesan atau harapan akan kegiatan ini, mereka merasa benar-benar menemukan cara belajar yang mereka harapkan. Fleksibel tidak kaku, memiliki semangat keceriaan bukan sekedar menggurui. Terasa santai namun sarat makna dan pengetahuan. Mereka berharap kegiatan seperti ini akan berlanjut secara rutin. Karena melalui kegiatan ini mereka memperoleh pencerahan terkait strategi pembelajaran yang menarik dan kontekstual serta memperoleh inspirasi terkait pembuatan alat peraga inovatif yang ternyata dapat dibuat sendiri dan menggunakan bahan sederhana yang berasal dari sekitar. Dalam kegiatan ini, Ibu Titis mengajak tiap peserta terlibat aktif,  memancing para serta untuk bertanya, sharing pengalaman pribadi terkait kegiatan pembelajaran bahkan mengajak para guru membuat suatu karya sederhana berupa alat peraga dengan memanfaatkan benda yang ada disekitar mereka. Demikianlah sekilas informasi terkait kegiatan Temu Pendidik Daerah #1 Komunitas Guru Belajar Sanggau. Pada hakikatnya bahwa suatu tujuan akan dapat tercapai dengan baik jika dilakukan dengan niat baik, keyakinan, keberanian, serta kolaborasi. Karena menumbuhkembangkan kesadaran untuk belajar dan membelajarkan dengan baik adalah tugas bersama, Pendidikan itu adalah untuk semua, bukan segelintir orang, atau sebatas usia, namun lebih kepada membangun komitmen bersama demi pencapaian cita-cita. Oleh Wanti Sila Sakti, Komunitas Guru Belajar Sanggau

Guru Belajar Cimahi Berbagi Cara Menulis

Hujan besar sempat menahan berkumpulnya guru-guru merdeka belajar di SD Peradaban Insan Mulia. Luar biasanya, di tengah derasnya guyuran hujan, ada yang memaksakan diri tiba di lokasi Temu Pendidik Daerah (TPD) Cimahi, untuk belajar menulis. TPD diawali dengan pemutaran vlog tentang buku yang ditulis Pak Inan, narasumber utama. Videonya bergaya reportase yang dikemas dengan style amat muda banget. Asyik, deh, pokoknya. Nah, setelah videonya selesai, Pak Inan mulai berbagi pengalaman tentang bagaimana mulai menulis. Ada satu pertanyaan mendasar yang patut dijadikan renungan, yaitu mengapa guru tidak menulis? Padahal guru adalah profesi yang sangat dengan dengan kegiatan menulis. Ada dua hal yang membuat guru tidak menulis Pertama, guru tersebut belum menemukan alasan untuk menulis. Kedua, guru tersebut belum tahu cara menulis. Untuk sebab pertama, belum menemukan alasan menulis, ada beberapa alasan yang bisa digunakan supaya guru mau menulis, yaitu Supaya bisa naik pangkat Memperoleh popularitas Mendapatkan keuntungan materi (uang) Meski bukan hal yang salah, ketiga alasan tersebut tidak cukup kuat untuk membuat guru membuat tekad yang kuat untuk menulis. Kalau berdasarkan tujuan-tujuan di atas, biasanya semangat hanya berkobar di awal dan semakin lama kian redup. Bahkan tak jarang terlalu cepat padam. Alasan yang cukup kuat untuk menggerakkan guru menulis adalah untuk menyebarkan inspirasi dan mengabadikan ide, gagasan, atau pun pengalaman. Kemudian tentang sebab kedua guru tidak menulis, yaitu belum tahu cara menulis, ada trik jitu dan sudah terbukti manjur. Apa itu? Menulislah. Kalau mau bisa menulis, ya menulislah. Tidak ada cara lain yang lebih ampuh. Apa yang ditulis? Apa yang kita kuasai atau apa yang dekat dengan kita. Menuliskannya tidak harus langsung banyak. Bisa dengan cara menulis sambil secara kredit. Tulis dulu, simpan. Kalau sudah banyak, kumpulkan dan kelompokkan. Jadilah naskah buku yang siap dikirim ke penerbit. Tapi saya kan tidak bisa nulis? Nah, untuk guru yang serig mengatakan demikian, ada penjelasan simpel yang mempu membalikkan pernyataan tersebut. Ini disebut dengan sindrom tali kekang gajah. Sejak kecil, gajah diikat dengan rantai di salah satu kaki belakangnya. Setiap kali gajah kecil mencoba bergerak lebih jauh jangkauannya, ia merasa kesakitan kakinya tertahan oleh rantai besi. Setelah berkali-kali merasakan sakit, akhirnya gajah tersebut menyerah. Ia hanya bergerak sampai di sekitar rantai itu saja. Gajah tumbuh dan berkembang. Tubuhnya kian besar dan jauh bertambah kuat. Semetara kaki tetap dirantai dengan rantai yang sama. Kalau saja gajah itu mau bergerak lebih jauh, niscaya rantai itu akan putus. Tetapi karena dalam mindsetnya adalah jika dia bergerak agak lincah akan merasakan sakit, maka gajah itu terperangkap dalam ketidakmampuan diri. Jadi sebenarnya ketakutan itu muncul dari dalam diri. Bukannya tidak mampu menulis, tetapi guru merasa tidak bisa menulis. Padahalnya potensinya bisa jadi sangat besar. Di bagian akhir, Pak Inan memberi trik bagaimana menjual buku tapi tidak seperti orang jualan. Triknya sederhana, jadikan pembeli atau figur tertentu mengendors buku kita tanpa dia sadari.Menarik, kan? Sedangkan narasumber kedua, Pak Suhud, membahas tentang menulis praktik pengajaran dengan pola ATAP (Awal-Tantangan-Aksi-Perubahan). Sesi tanya jawab berkembang sampai ke trik-trik menulis buku. Walaupun pesertanya tidak banyak, tetapi kegiatan ini mampu menggugah motivvasi guru yang hadir untuk menulis. Dalam kesan-kesan yang disampaikan, mereka menyatakan bahwa motivasinya terlecut dan tak sabar untuk mulai menulis. Anda Guru yang ingin belajar menulis juga?Yuk bergabung di Klub Guru Belajar Menulis Oleh Suhud Rois, Komunitas Guru Belajar Bekasi

Guru Belajar Bandung Membangun Suasana Belajar

oleh Umi Kalsum – Penggerak KGB Bandung 3 November 2018, sore itu jalanan macet dan hujan pun mulai turun. Sekilas semua itu nampak menghambat. Namun nyatanya tidak, tidak ada kata menghambat, bagi belasan guru yang hadir di SD Mutiara Bunda saat itu. Mereka adalah guru-guru yang sangat ingin belajar dari Bu Lala dan Pak Aye, tentang “Membangun Suasana Kelas di Sekolah Dasar dan Strategi Menerapkan Gamifikasi untuk Pembelajaran yang Lebih Berarti.” Sungguh, aku sangat kagum dengan mereka, guru-guru pembelajar. Pembelajaran pun dimulai. Pembelajaran diawali oleh Bu Lala dengan kalimat-kalimat pembuka yang terngiang-ngiang di kepalaku. Ia berkata,  “Tak Senang, Maka Tak SayangTak Sayang, Maka Tak CintaTak Cinta, Maka Tak PAHAMJadi, Supaya PAHAM, harus SENANG dulu!” Bu Lala benar, untuk paham memang harus senang dulu, maka menjadi jelas maksud Bu Lala membangun suasana kelas itu maksudnya membangun suasana kelas yang menyenangkan. Bu Lala pun menunjukkan 8 cara untuk membangun suasana kelas yang menyenangkan. 8 cara tersebut adalah Ciptakan Games, Bermain Peran, Gunakan Musik, Bersenang-senang, Belajar di Luar Kelas, Beri Waktu untuk Curhat, Beri Apresiasi, Refleksi. Dari 8 cara tersebut, ada 2 cara yang sangat menarik perhatianku yakni gunakan musik dan bermain peran. Menurutku, “karena kedua cara itu Wow Banget,” kuyakin banyak yang tak percaya, sama halnya denganku yang tak percaya, bahwa Bu Lala mengajar dengan sangat kreatif. Bagaimana tidak, ia datang ke kelas dengan membawa gitar dan memulai kelas dengan menyanyikan lagu berbahasa ‘alien’ (baca : bahasa sunda yang didengar oleh anak-anak zaman now, yang jauh dari bahasa lokal). Bu Lala pun menyanyikan lagunya, “Wilujeng enjing nami Ibu, Bu LalaSumping kadieu hoyong kenal sadayanaWilujeng enjing hey nu nganggo acuk hideungSebutkeun nami sareung naon karesepna…” Lagu ini dinyanyikan dengan nada sebuah lagu lokal yaitu cingcangkeling. Mendengar lagu tersebut dinyanyikan, anak-anak pun mulai penasaran, berusaha menebak-nebak lagu yang dibawakan Bu Lala. Lagu ini dinyanyikan berulang-ulang oleh anak-anak, agar anak juga dapat lebih mengenal bahasa sunda dan lebih mengenal teman-temannya. “Keren…” bisikku dalam hati, dengan seperti ini tentu anak-anak tertarik dan penasaran sekali dengan pembelajaran hari itu. Selain dengan menyanyikan lagu, Bu Lala pun bermain peran dengan anak-anak. Dan yang paling mengejutkan adalah Bu Lala memerankan dirinya layaknya seorang tokoh dari sebuah dongeng. “Wow banget,” ucapku. Mulai dari make up di wajah, pakaian yang dikenakan, hingga suara dalam 1,5 jam yang semuanya menyerupai seorang nenek dari sebuah dongeng. Hal seperti ini tentu akan menarik perhatian siswa dan membuat suasana kelas menjadi sangat fresh, buktinya adalah anak-anak yang meminta lagi untuk belajar bersama tokoh kartun lain seperti Ben 10, Batman, Captain America, dsb. Menarik bukan? Apa kita akan tetap pakai strategi mengajar yang lama? Atau ingin mencoba menggunakan strategi dari Bu Lala yang fresh and happy? ☺ Masih dengan suasana kelas yang menyenangkan, sesi Bu Lala dilanjut oleh Pak Aye, sang Master Game, jika saya boleh menyebutnya begitu. Kali ini Pak Aye membangun suasana kelas yang menyenangkan dengan cara yang berbeda. Ia mengenalkan kami dengan gamifikasi. Apaan tuh? Pak Aye pun mengawali pembelajaran dengan bertanya, “Ada yang baru dengar kata gamifikasi?” Beberapa orang pun mengacungkan tangan, tidak termasuk aku, tapi aku sendiri sebenarnya tak paham apa itu gamifikasi. Pak Aye pun menjelaskannya dengan menampilkan sebuah video terlebih dahulu. Video tersebut menunjukkan perilaku orang dalam menggunakan keset. Biasanya, orang menggunakan keset hanya dalam beberapa detik saja, namun tidak dengan orang-orang dalam video tersebut. Orang-orang di video tersebut dapat menggunakan keset dalam jangka waktu bermenit-menit lamanya, bahkan hingga berinteraksi, mengobrol dan bekerja sama untuk menyelesaikan puzzle berbentuk keset. Video tersebutlah yang Pak Aye sebut dengan realitas gamifikasi. Pak Aye menjelaskan bahwa “Gamifikasi adalah sebuah metode yang menerapkan elemen-elemen permainan ke dalam konteks non permainan.” Hal ini berbeda dengan game based learning. Salah satu perbedaannya adalah game based learning mengubah pemahaman, sedangkan gamifikasi mengubah perilaku. Pak Aye pun menunjukkan fakta yang mencengangkan menurutku yakni 83% alasannya, pelajarannya tidak menarik 51% mengaku setiap hari bosan di Sekolah 41% alasannya, pelajaran tidak ada kaitannya dengan kehidupan. Mulutku menganga melihatnya. Semua fakta-fakta ini yang menjadikan gamifikasi menjadi hal yang penting untuk dipraktikkan. Karena gamifikasi dapat membuat pembelajaran menjadi menarik, seru, dan bermakna. Namun, tak lupa Pak Aye pun menyampaikan bahwa “Gamifikasi hanyalah salah satu teknik, bukan ‘obat’ bagi segala kondisi kelas.” Pak Aye pun mengajak kami untuk bermain beberapa media yang dibawanya. Kami dibagi menjadi 3 kelompok. Ada yang bermain dorino, cocok, dan pemerintahan. Dorino merupakan media belajar berhitung. Cocok merupakan media belajar bangun datar. Dan Pemerintahan merupakan media belajar sistem pemerintahan. Keseruan bermain nampak dari respon para pemain, ada yang sangat berisik sambil teriak-teriak “cocok, cocok, cocok,” ada yang terburu-buru menjumlahkan, ada yang kalem sambil berpikir strategi, dsb. Aku yang bermain game pemerintahan, menyadari bahwa permainan yang kumainkan ini mengajariku bukan hanya untuk menang, tapi juga untuk memikirkan (baca : peduli) pada orang lain. Oh… ini yang Pak Aye sebut bahwa gamifikasi itu adalah permainan yang bermakna, permainan yang dapat mengubah perilaku. Setelah bermain, Pak Aye menjelaskan bahwa pada prinsipnya, untuk membuat sebuah permainan, kita hanya perlu ATM, yakni Amati, Tiru, dan Modifikasi. Tentunya hal ini mesti sesuai dengan tujuan pembelajaran. Bagaimana, seru bukan? Ingin mencoba membuat sebuah permainan yang menarik, seru, dan bermakna ala Pak Aye? ☺ Di akhir kata liputan ini saya ucapkan, semoga ilmu yang kami peroleh hari itu dapat banyak bermanfaat untuk kami yang hadir, untuk para pembaca liputan ini, untuk para guru yang mempraktikkan dan menyebarkan ilmu ini. Amin.

Autisme 101 : Belajar Bersama Guru Belajar Denpasar

Temu Pendidik Daerah KGB Denpasar Apa jadinya jika guru-guru berkumpul dan berdiskusi?PECAH!! (bahasa anak muda jaman Now.) Demikian pula yang terjadi ketika komunitas para guru ini bertemu. Minggu, 04 November 2018 dipilih sebagai waktu untuk bertemu kembali oleh anggota KGB Denpasar. Pertemuan bulanan ini adalah kegiatan Temu Pendidik Daerah ke-8 yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar Denpasar, yang bertujuan menggerakkan semangat belajar di ekosistem pendidikan Indonesia. #MerdekaBelajar. Bertempat di sekolah Inklusi Youth Shine Academy, Denpasar, kegiatan dimulai dari pukul 09.30 wita. Hadir pada saat itu 9 anggota yang berasal dari sekolah PAUD sampai jenjang SMA. Suasana jelas terlihat akrab dan hangat bahkan selama acara berlangsung terasa antusiasme para anggota yang hadir. Diawali dengan perkenalan dan mengisi daftar hadir online, narasumber pertama, ibu @jentinapakpahan memulai diskusi tentang intervensi dini mengenal autisme dan segala hal terkait tipe, ciri dan penanganannya. Fokus pada pertemuan ini adalah mengubah paradigma anggota KGB para rekan guru untuk lebih mengerti panduan penanganan ketika proses belajar mengajar berlangsung. Salah satu kutipan dari narasumber tentang anak-anak kebutuhan khusus adalah, “Anak-anak adalah aset bukan liabilitas. Pergunakan waktu sekarang untuk berproses daripada menyesali dikemudian hari”. Banyak contoh pengalaman dan berbagai file tentang autisme serta berbagai saran terapi penanganan yang disampaikan oleh narasumber. Salah satunya adalah terapi wicara yang disarankan untuk anak-anak dengan gangguaan komunikasi serta terapi perilaku yang diperuntukkan bagi anak dengan gangguan hiperaktif. Diskusi tentang berbagai masalah penanganan dikelas banyak diungkapkan terkait cara pengelolaan emosi guru dan siswa. Banyak ide yang dilontarkan untuk selanjutnya dapat dipraktekkan dikelas termasuk pola displin positif bagi siswa untuk membuat kelas bisa tetap kondusif. Narasumber kedua, ibu @devianasafitri berbagi pengalamannya mengikuti Temu Pendidik Nusantara, Oktober lalu di Jakarta. Fokus pembahasan adalah tentang memahami cara guru untuk memanusiakan hubungan. Banyak contoh permainan edukasi dan presentasi saat kelas yang diikuti bu Devi membuat anggota yang lain menjadi bersemangat untuk mengikuti TPN 2019. Salah satu kutipan yang menarik dari narasumber yaitu,”Perubahan tidak menunggu kebijakan, tetapi praktik baik yang dilakukan dikelas, ketika para guru bertemu dan berinteraksi dengan para siswa. Sentuh HOT BOTTOM mereka dan nantikan perubahan terjadi pada anak, pada rekan kerja bahkan pemegang kebijakan”. Narasumber juga memandu para anggota untuk melakukan teknik bernafas agar mengurangi ketegangan emosi saat mengajar dikelas. Diskusi mengalir dengan berbagai pertanyaan seputar TPN dan komunitas guru belajar. Salah satu ide adalah mendukung rencana KGB bisa segera dilaksanakan di Singaraja, agar rekan-rekan guru tidak perlu jauh ke kota Denpasar untuk melaksanakan Temu Pendidik Daerah. Puncaknya adalah ketika ibu Wanda, anggota terjauh dari kota Singaraja, membagikan buku berjudul “Sulitkah mengasuh anak” terbitan dari Yayasan Gemah Ripah Pacung ke semua orang yang hadir secara gratis dan juga buku “Memanusiakan Hubungan” dari Komunitas Guru Belajar untuk dipinjamkan ke semua anggota bergantian. KGB Denpasar mendukung gerakan Literasi dengan cara membuat jadwal peminjaman buku milik KGB Denpasar, yang sementara akan diberikan saat Temu Pendidik berlangsung setiap bulannya. Saat sesi refleksi, ada ungkapan menarik dari para anggota, salah satunya dari ibu Marli, yang baru pertama kali mengikuti TPD. Ibu Marli sangat antusias karena akhirnya menemukan komunitas guru yang saling melengkapi, merdeka berbagi dan bisa menambah wawasan untuk berkembang. Begitu pula saat ibu Wanda, merasa diingatkan kembali kepada panggilannya ketika memilih profesinya sebagai guru. Meskipun kadang berbenturan dengan kebijakan atau peraturan dilembaga yang mengikat kebebasan untuk bereksplorasi. Ada momen ketika ibu Jentina berbagi pengalamannya sebagai pendidik anak kebutuhaan khusus selama 16 tahun terakhir, mengutarakan proses jatuh bangunnya untuk tetap bertahan dengan mereka karena ia percaya profesi ini adalah panggilan hidupnya bukan sekedar untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan. Beberapa orang lagi mengutarakan kesungguhan untuk lebih lagi berbuat sesuatu daripada mengeluhkan kebijakan atau sekedar mengajar demi akreditasi. Pada sesi penutup, para penggerak meminta kepada semua anggota untuk lebih aktif memulai Temu Pendidik Sekolah serta mendorong anggota untuk bersedia jika diminta mengisi sebagai narasumber dan moderator untuk berbagi ilmu dan mengembangkan diri. Termasuk membuka kesempatan untuk setiap anggota bisa memposting karya dan ide mereka dalam surat kabar KGB. Para penggerak juga memperkenalkan berbagai kelas online yang guru dapat ikuti selanjutnya untuk menambah ilmu dan wawasan serta jaringan. Untuk itu akan ada pertemuan lanjutan terkait penyusunan agenda dan rencana kegiatan tahun 2019. Karena semangat dari komunitas ini adalah semua murid semua guru, yang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi semua guru untuk aktif dan berkembang.