Penerapan Asesmen Sumatif di PAUD, Bagaimana?

Apakah Bapak dan Ibu pernah bingung dalam mendesain asesmen yang pas untuk diberikan ke murid? Atau bapak dan ibu guru pernah mendengar miskonsepsi jika asesmen cenderung dilakukan hanya untuk mengukur hasil belajar murid? Mendesain pembelajaran di awal tahun pelajaran merupakan sebuah hal yang biasa dilakukan oleh bapak dan ibu guru. Desain pembelajaran tersebut juga harus dilengkapi dengan asesmen baik asesmen formatif maupun asemen sumatif.  Ternyata Asesmen bukanlah sekadar untuk mengetahui pencapaian hasil belajar murid. Asesmen dapat meningkatkan kemampuan murid dalam proses belajar mengidentifikasi murid yang membutuhkan bantuan. Hal penting lainnya tentang asesmen bagi guru ialah untuk mengecek pemahaman dan pencapaian murid serta merencanakan dan merancang personalisasi pembelajaran dalam proses belajar. Pentingnya asesmen ini bukan hanya diperlukan oleh murid jenjang dasar sampai menengah, tetapi juga di jenjang anak usia dini. Di jenjang pendidikan usia dini, murid-murid perlu mendapatkan asesmen dalam aspek tumbuh kembangnya. Aspek tersebut meliputi perkembangan motorik, sosial emosi, bahasa, kognisi, moral, agama, dan seni. Lalu, bagaimana esensi “penting” dalam penerapan asesmen sumatif di jenjang usia dini? Berikut kita akan bahas cerita Ibu Anik Puspowati dari KGB Semarang yang mengajar di Fatiha Edu tentang pentingya penerapan asesmen sumatif di PAUD. Awalnya sebagai seorang guru yang mengajar anak-anak usia dini, Ibu Anik merasa bahwa dirinya memerlukan data untuk mengetahui capaian perkembangan murid-muridnya, sekaligus sebagai bahan refleksi dalam mengelola pembelajaran di kelasnya, tentang apa yang perlu beliau evaluasi dan apa yang sudah baik dari perencanaan pembelajaran yang sudah beliau tentukan. Menurut Ibu Anik, jika beliau tidak memiliki data maka tidak akan mampu menganalisis ketercapaian tujuan belajar murid-muridnya. Tanpa data, beliau juga tidak mempunyai bukti untuk melaporkan perkembangan murid-muridnya saat pertemuan dengan orang tua nanti. Oleh karena itu, beliau berinisiatif untuk menentukan metode yang saya butuhkan untuk mengumpulkan informasi. Baca juga Asesmen Nasional 2021, Siap(a) Berubah? Beliau pun memilih untuk mencoba melakukan teknik observasi dan mendokumentasikan kegiatan atau percakapan maupun perilaku murid, baik saat bermain sendiri maupun ketika dalam kelompok kecil atau kelompok besar, serta melalui catatan anekdot. Beliau juga mencoba dengan berinteraksi ringan dengan murid-muridnya, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, lalu mencatat semua respons mereka. Tidak lupa, Ibu Anik juga menggunakan ceklis untuk mencatat perkembangan spesifik, misalnya keterampilan motorik muridnya, sosial emosi, dan sebagainya. Berikutnya, beliau juga mengumpulkan hasil karya murid-muridnya, baik itu gambar, prakarya, atau penugasan lainnya. Dan terakhir, beliau juga intens bertanya kepada orang tua/wali murid terkait perkembangan anak mereka di rumah. Yang mana ada kalanya perilaku murid muncul di rumah tetapi tidak muncul di sekolah. Beliau juga mencari tahu dan mencatat keterangan dari guru-guru sebelumnya.  Ketika sudah memiliki begitu banyak data dari setiap murid, lantas Ibu Anik berpikir tentang  bagaimana membuat asesmen sumatif dari sekian banyak data yang beliau peroleh? Perlukah merencanakan asesmen tersendiri untuk kebutuhan penilaian akhir tema dan akhir semester? Jika iya, beliau merasa pasti akan kewalahan dalam mengelolanya. Akhirnya, Ibu Anik  mengumpulkan semua data yang ada, lalu menentukan mana yang akan dijadikan basis data untuk asesmen formatif dan mana yang dijadikan penilaian sumatif. Oleh beliau semua data tersebut dikelola dengan dikumpulkan dalam portofolio berdasarkan tanggal dan identitas murid. Hasil dari kumpulan data tersebut berupa foto hasil karya murid, rekaman suara, video kegiatan, dan sebagainya. Ibu Anik menyimpan seluruh data pertumbuhan dan perkembangan murid di dalam satu folder penilaian dan menyiapkan satu folder untuk setiap anak dalam Google Drive sehingga memudahkan beliau ketika mencarinya. Ibu Anik melakukan pengolahan data secara berkala, mingguan dan bulanan dengan menggunakan skala. Beliau menetapkan empat skala capaian perkembangan murid, yaitu BB (belum berkembang), MB (mulai berkembang), BSH (berkembang sesuai harapan), dan BSB (berkembang sangat baik). Beliau memasukkan semua data yang terkumpul setiap minggunya ke dalam format bulanan. Untuk menentukan capaian akhir setiap bulan, beliau melihat capaian tertinggi yang dicapai sepanjang bulan itu. Ketika Ibu Anik ingin mendapatkan hasil penilaian satu semester, maka memasukkan capaian akhir bulan di format bulanan untuk setiap bulan dalam satu semester ke format penilaian akhir semester. Untuk menentukan capaian akhir semester, beliau memilih capaian tertinggi yang telah dicapai murid pada setiap akhir bulan. Hasil capaian ini menjadi dasar untuk pembuatan laporan perkembangan anak pada semester tersebut. Ibu Anik biasanya menyampaikan laporan ini dengan dilakukan secara tatap muka sehingga tercipta hubungan dan informasi timbal balik antara guru dengan orang tua. Namun, dikarenakan dalam masa pandemi ini penyampaian laporan perkembangan, beliau lakukan melalui media daring dalam bentuk PDF (lewat e-mail atau WhatsApp orang tua). Laporan Perkembangan Anak biasanya beliau tulis langsung dalam bentuk narasi, sehingga dapat membaca laporan tersebut tidak hanya berupa data melainkan sebuah cerita singkat. Ketika waktu menyampaikan Laporan Perkembangan Anak, Ibu Anik juga menyampaikan keadaan murid, yaitu saat murid belajar secara fisik, sosial, dan emosional di sekolah. Selanjutnya, beliau melaporkan hal berupa kemampuan atau kompetensi yang sudah dan yang belum dikuasai murid. Kemudian yang terakhir, beliau menyampaikan apa saja yang harus dilakukan orang tua untuk membantu dan mengembangkan murid lebih lanjut. Waktu penyampaian Laporan Perkembangan Anak kepada orang tua dilakukan satu semester sekali, pada setiap akhir semester tahun pelajaran. Ibu Anik merasa jika strategi dalam mengelola asesmen ini membantunya dalam banyak hal, termasuk dalam mengelola waktu dan energi. Beliau belajar bahwa sebagai guru kita perlu untuk benar-benar memahami murid dan mampu membuat analisa dari data yang ada supaya tidak salah dalam menilai perkembangan murid. Bagi beliau, seorang guru memerlukan semua informasi tentang tingkat pencapaian dan perkembangan hasil belajar murid secara nyata yang bersumber pada data otentik dan berdasarkan fakta. Selanjutnya, guru membutuhkan strategi untuk mengelola dan menganalisanya supaya akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Terakhir, Ibu Anik mengatakan jika hal yang jauh lebih penting adalah refleksi terhadap apa yang kita lakukan sebagai guru dalam melihat hasil belajar murid-murid, lalu menggunakan refleksi tersebut untuk mendesain pembelajaran yang lebih baik kedepannya. Bagaimana Bapak dan Ibu Guru, Apakah cerita tersebut memberikan insight tentang pentingnya asesmen sumatif di jenjang usia dini? Temukan lebih banyak cerita menarik guru-guru lainnya dengan mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII pada 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem merdeka belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari #BelajarDiTPNVIII!  Klik https://tpn.gurubelajar.org Sumber Buku: Surat Kabar Guru Belajar  Edisi IV Tahun Keenam

Metode Memahami Isi Cerita Pada Anak Disleksia

Temu Pendidik Mingguan Daring 75 kali ini mengangkat tema “Metode Memahami Isi Cerita pada Anak Disleksia”. Tema yang sangat menarik bukan?. Kami semua jadi teringat Ichsan, si bocah kecil di film Taare Zamen Paar yang mengalami Disleksia. Beberapa guru angkat tangan dalam menangani si bocah kecil ini. Namun, di tangan guru yang hebat dan mengajar dengan hati Ichsan bisa melewati itu semua, memahami tulisan beserta isi dari cerita maupun pelajaran lainnya. Bagaimana dengan kenyataan? Sama kah dengan film Taare Zamen Paar?. Para audience diskusi menyambut hangat tema ini dan online dengan semangat yang membara. Pada sesi Temu Pendidik Daring di Telegram kali ini Ibu Guru Rizki Yuliani menyampaikan diskusi materi yang mengangkat tentang disleksi dan metode cara memahami isi cerita. Bisa kah seseorang yang mengalami disleksia yang notabennya mengalami kesulitan dalam memahami tulisan, membaca, huruf namun bisa memahami isi cerita? Bagaimana cara membuatnya mudah? Apa yang dimaksud dengan Disleksia? Kenapa dalam materi anak Disleksia mengalami kesulitan memahami isi cerita? Rizki Yuliani Jadi seperti yang kita ketahui disleksia ini termasuk ke dalam anak berkebutuhan khusus, yang biasanya memiliki hambatan dalam bidang akademisnya. apa sih yang menyebabkan seseorang mengalami disleksia? disleksia terjadi karena ada susunan saraf neurologis pada otak yang berbeda daripada orang pada umumnya, sehingga dalam mempersepsikan sesuatu juga bisa berbeda dibanding umumnya. khususnya dalam pemahaman bahasa. Karakteristik Umum Yang Sering Kita Jumpai Pada Anak Disleksia Yaitu : Terlambat membaca dibanding anak-anak seusianya Belum mampu mengenal dan menghapal alphabet Sering salah atau terbalik huruf saat membaca (b-d, p-q, n-u, dll) Sering lompat baris saat membaca Menghilangkan atau tertukar kata (kepala-kelapa, taman mini-paman tini) Ada huruf yang hilang saat membaca (menggambar-mengambar, menyanyi-meyayi) Sulit memahami isi bacaan Jadi kenapa anak disleksia kesulitan memahami bacaan, ya karena reseptor mereka terhadap bacaan berbeda dengan orang pada umumnya. sehingga bagaimana dia mempersepsikan kata-kata atau bacaan juga perlu cara lain daripada orang pada umumnya. Nurul, KGB Surabaya Bagaimana bisa membantu anak Disleksia belajar membaca sedangkan dia belum bisa membaca huruf ? Rizki Yuliani Kalau Kita sudah mengetahui kesulitannya bahwa anak ini belum bisa membaca huruf, maka kita harus mundur dulu ke tahap sebelum pengenalan huruf. Untuk bisa mengenal huruf-huruf, sebelumnya ia harus bisa membedakan bentuk terlebih dahulu, Maka bisa bisa dikenalkan terlebih dahulu dengan berbagai macam bentuk dengan berbagai macam media. Misal menulis di pasir dengan menggunakan jari. jadi anak bisa merasakan, kalau membuat persegi itu bagaimana tahapannya, misalkan kita buat garis sisi kiri dulu lalu kanan, lalu tarik garis ke atas, garis sisi atas, lalu garis sisi kanan. Setelah selesai dengan pengenalan bentuk, bisa mulai dikenalkan huruf sedikit demi sedikit. dengan metode menulis di pasir ini anak bukan hanya melihat bentuk itu seperti apa, tapi juga bisa merasakan setiap prosesnya, karena ada rangsangan sensoris dari media pasir (bisa diganti beras bila tidak ada) bagaimana rasanya membuat garis ke kiri,kanan, atas, mungkin lengkung dsb. Setelah mengenal huruf, bisa pindah media ke buku, flashcard dan sebagainya, dimulai dengan baca per suku kata, kata, lalu kalimat, dst. dikemas dalam kegiatan yang menarik tentunya. Adenovi Apakah metode tersebut bisa diterapkan segala jenjang, misalnya pada remaja dalam memahami isi cerita yang panjang? Rizki Yuliani Metode Ini memang saya terapkan bagi anak SD, itupun kelas bawah.sebetulnya metode ini memungkinkan untuk dipakai di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, namun kalau SMP dan SMA kan bacaannya sudah lebih rumit ya, jadi akan lebih menantang tentunya, karena bacaan di SMP-SMA lebih banyak mengandung informasi-informasi yang membutuhkan pemahaman lebih dalam lagi. jadi mungkin bentuk kemasannya yang berbeda, bisa menggunakan mind map mungkin untuk bacaan yang sifatnya informatif, dan jangan lupa sesuaikan dengan gaya belajar anak. kalau anak yang auditory bisa dengan mendengarkan cerita sambil sekaligua membaca teksnya. kalau tipe anak kinestetik mungkin bisa sambil memperagakan bacaan, dan lain lain, yang terpenting sih jangan lupa asesmen dulu untuk identifikasi dimana letak kesulitannya, sebelum menyusun metode pembelajarannya. Lenayanti Pertanyaan saya apakah hambatan disleksia mempengaruhi kecerdasan seseorang, bagaimana pengaruhnya terhadap mapel lainnya? Rizki Yuliani Tidak, disleksia tidak berkaitan dengan kecerdasan seseorang. secara IQ, disleksia ini memiliki IQ yang normal, bahkan ada yang di atas rata-rata. jadi mereka punya potensi kecerdasan sama seperti yang lainnya. namun, karena kondisi neurologisnya itu lah sehingga ia memiliki hambatan dalam proses belajarnya. Kalau dalam psikologi, disleksia ini termasuk kesulitan belajar spesifik. Spesifik disini dalam artian hanya bermasalah spesifik di masalah pemahaman bahasa saja. jadi tidak di aspek lain seperti hitungan, kemampuan berpikir logis, dll ia tidak mengalami masalah. hanya saja, bisa jadi berimbas juga di matpel lain yang membutuhkan skill membaca. misal PPKN, dalam matematika pun biasanya di soal cerita mereka kesulitan tapi begitu ia paham, maka tidak ada masalah dalam pengoperasian hitungannya. Paramita Laksmiandita Dalam memahami isi cerita, anak disleksia mengalami distorsi visual seperti blurry, shaky, seesaw. Bagaimana cara mengatasi distorsi visualnya dan bagaimana jika disleksia juga ada penyertanya seperti ADHD, gifted apa yg harus dilakukan karena anak disleksia yang ada penyerta memiliki IQ yg tinggi? Rizki Yuliani Betul, untuk anak disleksia biasanya mengalami distorsi visual. yang saya lakukan biasanya ukuran font tulisan saya perbesar biasanya 14, juga jarak spasi yang lebih besar antar baris, biasanya spasinya 2. bisa juga memberikan penutup kertas supaya bisa membaca lurus dan tidak lompat garis. Biasanya disleksia juga menjadi komorbid dari gangguan lain, kalau seperti ini kita juga perlu mengetahui karakteristik dari gangguan penyertanya. untuk gejala disleksia yang muncul bisa saja menggunakan metode-metode yang sudah kita diakusikan sebelumnya, namun perlu juga mempertimbangkan hambatan yang disebabkan gangguan penyertanya. misal ADHD, pemberian instruksinya diberikan secara lebih singkat untuk mengatasi kurangnya atensi dan pemberian sequence kegiatan diberikan berjenjang, misal 15 menit lalu istirahat, lalu lanjut lagi. atau pembelajaran bisa dilakukan outdoor sambil berkegiatan, dll. Sesan Sesanti Untuk anak PAUD, yang masih tertukar huruf + kalimatnya. Saya sudah mengubah strategi mulai bercerita, happy learning + remedial ? Yang mau saya tanyakan apakah remedial ini harus kita terapkan ke anak PAUD. Karena menurut saya tidak sesuai dengan umurnya ? Terkesan, memaksakan. Rizki Yuliani Sebagian besar psikolog beranggapan kalau anak PAUD memang belum waktunya diajarkan membaca bu. Jadi kalau anak PAUD masih lama kemampuan bacanya ya tidak apa-apa. Jangan dibebani dengan tuntutan … Read more