Memulai Blended Learning

Saya punya hobi fotografi dan juga videografi, bahkan hobi saya tersebut akhirnya menjadi pekerjaan saya. Bagaimana saya memulai itu semuanya, padahal pendidikan formal yang saya ambil tidak ada kaitannya dengan dua keterampilan tersebut? Jawabannya adalah internet. Adanya internet membantu saya bisa belajar di mana saja dan kapan saja. Ilmu-ilmu dasar foto dan video saya dapatkan melalui kegiatan berselancar di internet. Membaca artikel di beberapa website, saya padukan dengan menonton video di youtube dan tak jarang mengikuti diskusi di grup-grup Facebook. Dan sesekali mengikuti pelatihan atau kelas tatap muka. Internet mengubah kebiasaan belajar zaman dulu. Belajar di tempat formal seperti sekolah, dan lembaga pelatihan. Belajar yang waktu dan tempatnya sudah ditentukan, sehingga kita yang ingin ikut belajar harus mengikuti waktu dan lokasi yang sudah ditentukan. Dan itu kadang membuat kita tidak leluasa. Oleh karena itulah Kampus Guru Cikal dalam program Wardah Inspiring Teacher 2019 (WIT 2019) menggunakan konsep Blended Learning dalam pelaksanaan pelatihan. Peserta WIT 2019 diajak merasakan pembelajaran bermakna dengan konsep Blended Learning. Konsep yang menggabungkan berbagai macam metode belajar, baik luar jaringan (luring) dengan tatap muka, atau dalam jaringan (daring) melalui aplikasi digital. Sebelumnya sekitar bulan April 2019 yang lalu Kampus Guru Cikal sudah memberikan pelatihan tatap muka di 4 daerah yaitu Yogyakarta, Bandung, Surabaya dan Jakarta untuk memulai berinovasi untuk menciptakan media ajar. Dalam kesempatan tersebut, peserta mendapatkan pengetahuan mengenai langkah awal untuk berinovasi dengan design thinking . Peserta baru melaksanakan 3 langkah design thinking, yaitu 1) empati (memahami murid), 2) mendefinisikan masalah yang dihadapi murid saat belajar, dan 3) mencari solusi dari permasalahan murid. Masih ada dua tahapan lagi yang perlu peserta ikuti yaitu 4) membuat portofolio (purwarupa) media ajar, dan terakhir adalah 5) melakukan uji coba/testing. Untuk itulah tahapan 4 dan 5 akan dimulai dari pembelajaran dalam jaringan (daring). Untuk memudahkan pembelajaran daring Kampus Guru Cikal menggunakan dua platform yaitu aplikasi Whatsapp dan Google Classroom. Alasan digunakannya Whatsapp karena sudah umum di kalangan guru, sehingga memudahkan untuk berkomunikasi. Adapun penggunaan Google Classroom digunakan untuk menyajikan materi dan asesmen, dan memudahkan mengecek peserta siapa saja yang sudah membaca materi dan mengirimkan tugas yang diberikan. Seperti tulisan Badrul H.Khan dalam artikel yang berjudul The Global E-Learning Framework, salah satu prinsipnya yaitu aspek pedagogis, di mana pelaksana E-Learning terlebih dahulu harus menganalisis kebutuhan pelatihan dari pesertanya, konten, media yang digunakan, strategi pembelajarannya. Sehingga peserta bisa belajar dengan efektif dan efisien. Seperti yang Kampus Guru Cikal lakukan sebelum pelaksanaan Blended Learning, yaitu mengadakan sesi diskusi pengenalan platform yang akan digunakan. Sesi diskusi dipandu oleh Anggayuda Anandarasa dari Kampus Guru Cikal. Ternyata dari sesi diskusi yang dilakukan tersebut, banyak peserta yang belum pernah menggunakan Google Classroom. Sehingga sesi perkenalan dengan platform tepat dilaksanakan karena membantu peserta mengenal lebih dulu sebelum menggunakannya. “Ini pertama kali saya memakai Google Classroom. Terima kasih ilmunya Kampus Guru Cikal.” ungkap salah satu peserta setelah sesi diskusi berakhir. Beberapa peserta yang tidak bisa mengikuti diskusi di waktu yang ditentukan masih bisa mempelajari Google Classroom. Karena memang kelebihan pembelajaran ini yaitu fleksibilitas. Peserta bisa mengakses materi kapan saja dan di mana saja.

Udinus Berdayakan Teknologi untuk Mahasiswa Penyandang Disabilitas

“Sepuluh tahun yang lalu, ada salah satu orangtua mahasiswa yang meminta anaknya yang notabennya penyandang disabilitas untuk bisa mengenyam pendidikan di Udinus. Kami belum punya pengalaman untuk mendampingi anak berkebutuhan khusus belajar, namun bagi kami ini tantangan. Akhirnya kami terima, dan kami kemudian mencari cara agar anak tersebut bisa belajar dengan maksimal.” , tutur Prof Dr Ir Edi Noersasongko M.Kom Rektor Universitas Dian Nuswantoro Semarang (Udinus) yang kami temui Kamis (16 Mei 2019) di Gedung rektorat Udinus, Semarang. Dalam pertemuan bertajuk audiensi program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas untuk NusantaRun 6 ini rektor Udinus menceritakan bagaimana Udinus memulai kepeduliannya dengan mahasiswa penyandang disabilitas. Seperti cerita di atas, untuk menghadapi tantangan tersebut pak Edi meminta beberapa dosennya untuk belajar, membuat riset mengenai penyandang disabilitas. Ternyata, usahanya tidak sia-sia, banyak dosen yang akhirnya tergerak membuat riset mengenai penyandang disabilitas. Misalnya Muljono S.Si, M.Kom dosen Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) yang mengembangkan Sistem Sintesis Ujaran Audio-Visual (SSUAV) untuk Bahasa Indonesia yaitu sebuah sistem yang dapat membangkitkan ujaran audiio visual secara simultan dari teks yang diinputkan, sistem tersebut memanfaatkan alat bernama Job Access With Speech (JAWS). Sistem dan alat ini mampu membantu para tunanetra untuk menggunakan komputer. Dalam kerjanya aplikasi tersebut membaca layar komputer dan mampu melafalkan teks. Selain Muljono, mahasiswa Teknik Biomedis Udinus juga menciptakan kursi roda berteknologi modern yaitu bisa berjalan hanya dengan kendali jari. Dari riset tersebut banyak mahasiswa penyandang disabilitas terbantu, salah satunya adalah Eka Pratiwi Taufanti, mahasiswa jurusan S1 Sastra Inggris Udinus ini berhasil menemukan jalan kariernya sebagai penulis saat belajar di Udinus. Berikut salah satu tulisan Eka : “Aku tentu bangga dan bahagia dengan apa yang kudapat sekarang ini. Memang yang kudapat ini belum apa-apa jika dibandingkan dengan teman-teman lainnya, namun aku tetap bersyukur karena meskipun aku harus tinggal berpisah dengan orang tuaku yang berjualan pecel serta nasi di luar jawa, namun aku bisa tetap melanjutkan pendidikanku. Pelita di kedua mataku kini memang telah tiada , terganti gulita yang sesakkan dada. Namun berkat rasa syukur dan mimpi yang berpijar dalam jiwa, gulita itu seolah bukan apa-apa. Pelita lain, pelita baru yang lebih benderang dari cahaya optic pada indera penglihatanku kini berpijar, menyinari kehidupan seorang anak manusia yang dianugerahi sebuah ketunanetraan, seorang anak manusia yang meski memiliki keterbatasan namun tetap memiliki mimpi sebesar bahkan lebih besar dari mereka; individu-individu yang sempurna secara fisik. Seseorang dengan keterbatasan nyatanya dapat menembus keterbatasan tanpa batas, berlari mengejar mimpi dengan keyakinan penuh dalam hati. Bagiku hidup adalah berawal dari mimpi, maka jangan takut bermimpi karena ketika kita takut bermimpi, kehidupan ini tak akan ada untuk kita. Kuncinya, ikhlas dengan takdir yang ada and do believe that God will give a hand for us!!” Udinus memang tak main-main dengan apa yang mereka lakukan untuk penyandang disabilitas, pada tahun 2017 Udinus mengundang perwakilan organisasi dan komunitas difabel untuk mengikuti Focuss Group Discussion (FGD) untuk menyusun bahan ajar yang aksesibel bagi mahasiswa difabel netra. Dalam audiensi tersebut, Kampus Guru Cikal yang diwakili Bukik Setiawan dan Rizqy Rahmat Hani ini mengajak Udinus menjadi salah satu perguruan tinggi tujuan calon mahasiswa penyandang disabilitas untuk program Pengembangan Murid Disabilitas. Gayung bersambut, pak rektor menyambut hangat ajakan kami.

Memahami Murid, Langkah Awal Guru Berinovasi

“Sekarang saya sadar bahwa saya adalah guru dengan fixed mindset. Saya harus berubah !” Kalimat diatas adalah salah satu refleksi dari peserta pelatihan. Kalimatnya pendek, namun sangat dalam maknanya. Pelatihan Wardah Inspiring Teacher 2019 adalah pelatihan yang di selenggarakan oleh PT Paragon Technology and Innovation (Wardah) bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal. Pelatihan ini diadakan di Hotel De Braga Bandung. Ada 50 peserta yang hadir, bukan hanya dari kota Bandung saja, namun juga dari daerah sekitarnya, ada cimahi, bogor, bahkan bekasi. Pelatihan ini adalah salah satu wujud dari kepedulian Wardah terhadap guru dan pendidikan di Indonesia. Umumnya guru selama ini belum dianggap sebagai profesi yang membanggakan, padahal guru sebagai roda perubahan, guru bersama pemangku kepentingan lain bersinergi bersama demi mewujudkan pendidikan Indonesia yang lebih baik. Dalam menjalankan tugasnya, guru seringkali dihadapkan dengan berbagai tantangan. Tantangan yang berasal dari internal maupun eksternal. Salah satu tantangannya adalah persepsi masyarakat yang umumnya menganggap guru hanya sebagai penyampai materi pelajaran, guru hanya petugas yang bekerja disekolah dan pulang saat jam pelajaran selesai. Lambat laun persepsi ini mengakar dan membuat profesi guru seakan-akan tidak begitu penting. Selain itu guru juga sering menghadapi tantangan dalam mendidik murid. Tantangan yang beragam di setiap jenjang. Guru harus menjadi ujung tombak pendidikan yang bisa membimbing murid, bukan hanya dari sisi akademik, namun juga dari sisi psikologis dan kebutuhan lainya. Kampus Guru Cikal dipercaya oleh wardah memberikan pelatihan dengan tema “Mendesain untuk Perubahan”. Pelatihan dimulai dengan mengajak peserta berefleksi tentang apa yang dirasakan saat ini. Sesi ini sangat seru, karena peserta diajak berdiskusi kelompok untuk membedakan guru jaman dahulu dan guru jaman sekarang. Kemudian dilanjutkan dengan memaparkan fakta yang terjadi di lapangan terkait pendidikan di abad 21. Selanjutnya peserta diajak untuk memahami 4 kunci pengembangan guru, yaitu kemerdekaan, kompetensi, kolaborasi dan karir, serta kaitan antara melakukan inovasi dengan mencapai cita-cita guru. Pelatihan dilanjutkan dengan materi merancang ide inovasi pengajaran. Dalam sesi ini pelatih mengajak peserta untuk memahami proses menghasilkan inovasi, yaitu empati, mendefinisikan masalah dan merumuskan ide. Para peserta dibagi dalam kelompok sesuai dengan jenjang kelas yang diajarnya. Hal ini bertujuan agar proses diskusi kelompok berjalan dengan lancar dan seluruh anggota kelompok dapat mencurahkan ide dan pengalaman sesuai dengan inovasi pengajaran yang akan dibuat untuk jenjang yang mereka ajar. Puncaknya, masing-masing kelompok mempresentasikan ide inovasinya kepada narasumber. Cara presentasi masing-masing kelompok dibebaskan, namun hal yang harus tercakup dalam presentasi tersebut adalah, 1. apa yang murid butuhkan untuk mencapai tujuan pembelajaran , 2. apa tantangan yang dialami oleh murid, dan 3. apa ide inovasi untuk mejawab tantangan murid tersebut. Pelatihan ditutup dengan persembahan paduan suara dari murid SD yang diundang oleh pihak Wardah. Haru menyelimuti ruangan saat para murid menyanyikan lagu “Guruku Tersayang” dan “Terimakasih Guru”. Para guru tersedu sedan, terlihat sekali betapa sayangnya guru dengan murid, betapa murid adalah tujuan besar dari cita-cita guru. Saya bangga menjadi bagian dari pelatihan ini. Menyaksikan guru dengan semangat belajar yang tinggi adalah sesuatu yang meyakinkan saya. Saya semakin yakin guru adalah pelajar sepanjang hayat. Guru adalah pribadi yang berdaya, tulus dan sangat peduli terhadap muridnya. Saya yakin guru bisa menjadi ujung tombak perubahan pendidikan indonesia. Sekali lagi, terimakasih guru.

Playground of Ujung Pandang : Perayaan Belajar yang Bermakna

Tidak sedikit masyarakat yang menyesalkan dengan perkembangan yang ada saat ini. Teknologi yang melesat, masuknya budaya global dan gaya hidup pop culture. Hal tersebut membuat sebagian orang bergeming tentang nasib budaya lokal. “Bagaimana warisan budaya nenek moyang nantinya? Apakah akan terus terjaga? Bagaimana jika suatu saat nanti hilang di telan zaman?” Menganggap seakan bahwa generasi penerusnya tidak akan melestarikan, menganggap bahwa perkembangan yang ada adalah suatu bahaya bagi budaya lokal. Alih-alih menyalahkan generasi penerus, Sekolah Cikal mengajak para murid mengenal budaya dengan cara yang menarik, yaitu dengan Playground. Playground merupakan perayaan belajar murid yang mengintegrasikan antara pelajaran, minat bakat, budaya Indonesia dan aksi sosial yang berkontribusi terhadap kualitas pendidikan Indonesia. Pada tahun ini, Cikal Playground memilih Ujung Pandang sebagai fokus yang dipelajari para murid sehingga disebut sebagai Playground of Ujung Pandang. “Ujung Pandang terkenal dengan Kapal Phinisinya, kapal terbesar dari Asia Tenggara yang berhasil mengelilingi dunia, itulah salah satu alasan mengangkat Ujung Pandang.” Ujar Pia Adiprima, Ketua Penyelenggara Playground of Ujung Pandang Perayaan keberhasilan belajar ini dikemas menjadi dua, yaitu berupa pameran dan pertunjukan. Saya sendiri sudah mengikuti 2 kali playground, yaitu Pobal (Playground of Bali) dan Pomin (Playground of Minang), dan keduanya berhasil membuat saya takjub. Bahwa mengenalkan budaya ternyata bisa dengan cara yang menarik, salah satunya diintergrasikan ke dalam pembelajaran. Hari ini (Jumat, 5 April 2019) saya berkesempatan datang di playground untuk ketiga kalinya, yaitu di Popang (Playground of Ujung Pandang) di Sekolah Cikal Cilandak. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang melangsungkan pameran dan pertunjukan di gedung pertunjukkan di luar sekolah. Kali ini beda, karena diselenggarakan di dalam sekolah. “Ini pertama kalinya panggung di dalam sekolah ya, sebelumnya tidak. Ini bagi orangtua dapat lebih dekat dengan anak, dan anak lebih percaya diri.” Afand orangtua murid. Salah satu yang spesial adalah pengunjung bisa masuk kelas-kelas yang berisi pameran hasil belajar murid. Ada layang-layang bermotif kain Ujung Pandang yang mana dihasilkan dari intergrasi pembelajaran seni dan matematika. Adapula tempelan-tempelan tentang tokoh, benda, dan sesuatu dari Ujung Pandang yang merupakan hasil pembelajaran bahasa. Selain itu ada pula beberapa barang yang dilelang kepada pengunjung, yang notabennya adalah karya murid. Seperti tahun sebelumnya di Pomin (Playground of Minang) hasil penjualan barang dan tiket akan disulurkan di suatu daerah. Tahun ini rencananya akan menyasar 250 guru dan 10.000 murid di Jeneponto, Sulawesi Selatan. Karena yang kita butuhkan bukan keluhan dan menyalahkan, namun harapan dan sebuah gerakan untuk kelestarian dan kemajuan Indonesia.

Bukan Literasi Biasa

BUKAN LITERASI BIASA Literasi sering dimaknai dengan kemampuan baca, tulis dan hitung. Literasi juga seringkali dilaksanakan sesuai program 15 menit membaca. Padahal, makna literasi lebih dari hanya itu. Mengangkat judul temu pendidik, Bukan Literasi Biasa, pagi itu, guru-guru yang berasal dari Pekalongan dan sekitarnya berkumpul di MAN 1 Kota Pekalongan, untuk belajar lebih lanjut memaknai literasi. Acara yang diadakan pada hari imlek yang cerah, 5 Februari 2019 itu diawali dengan materi berjudul “Personal Documentation Video” yang disampaikan oleh Guru Madya. Beliau menceritakan tentang media video yang dipraktikkan di kelas Universitas karena melihat fenomena yang sedang trend saat ini, seperti fenomena video challenge yang berbahaya, aplikasi TikTok dan fenomena video lain yang disalahgunakan. Melihat dampak negatif yang cenderung muncul, guru Madya memanfaatkannya sebagai wadah mahasiswa untuk berekspresi dengan memanfaatkan media video ini. Dalam personal documentation video ini, mahasiswa bisa mengangkat topik yang disukai dengan menggunakan pola OMC (Opening – Main – Closing). Tahap opening dimulai dengan menjawab pertanyaan what, where, when, who. Di tahapan selanjutnya, yakni main, mahasiswa menjelaskan topik dengan panduan pertanyaan menggunakan how. Sedangkan di tahapan terakhir yakni closing, mahasiswa akan menyimpulkan rangkaian topik yang tadi di bahas. Salah satu manfaat yang didapat dari kegiatan ini adalah mahasiswa dapat melatih kepercayaan diri untuk berbicara di depan umum menggunakan Bahasa Inggris. Lebih jauh lagi, kegiatan ini juga dapat membantu jika akan menempuh study di luar negeri atau tes IELTS. Dalam kesempatan ini, beberapa guru terlihat bersemangat unjuk gigi mendeskripsikan hal yang digeluti/ disukai dalam Bahasa Inggris. Guru Zinat mendeskripsikan tentang Pemilu karena beliau adalah anggota KPPS, sementara guru Kiki membahas tentang kopi karena beliau pecinta kopi. Narasumber berikutnya, Guru Inggil yang masih berstatus mahasiswa menceritakan pengalamannya menggunakan literature circle di klub membacanya. Beliau mengawali kelas dengan meminta peserta untuk mengunduh aplikasi Farfaria sebagai salah satu sumber bacaannya. Namun, pada dasarnya, guru bisa menggunakan buku apapun. Dalam literature circle ini, guru Inggil membagi peserta temu pendidik dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 6-8 orang. Kemudian, beliau memberikan peran kepada masing-masing anggota. Ada yang menjadi pendongeng, connector, illustrator, editor dan peramal. Masing-masing memiliki tugasnya tersendiri. Misalnya, connector bertugas untuk menghubungkan isi cerita dengan dunia nyata, dan peramal bertugas untuk meramalkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pada kesempatan ini, peserta temu pendidik diminta membaca cerita Thumbelina, lalu mempresentasikan perannya tadi. Gelak tawa terdengar karena khayalan peramal yang kadang tak terduga, atau melihat gambar sang illustrator yang jauh dari aslinya. Lebih menarik lagi karena guru Inggril memberikan giveaway pada sesi presentasi. Acara temu pendidik kali ini ditutup oleh Guru Dias yang mengawali kelasnya dengan ice breaking “Patung Pancoran”. Beliau membagikan tentang pengalaman saat menerapkan konsekuensi di sekolahnya. Guru Dias merupakan anggota STP2K (Satuan Tugas Pelaksana Pembinaan Kesiswaan) yang sering menangani siswa terlambat dan beberapa permasalahan lain terkait para siswa. Beliau menyatakan bahwa konsekuensi adalah sesuatu yang harus diterima jika melanggar kesepakatan yang dibuat sebelumnya. Alih-alih menghukum siswa yang sering terlambat, beliau lebih mengedepankan diskusi dua arah yang memiliki efek jangka panjang. Dalam membuat konsekuensi dengan siswa, guru perlu mempertimbangkan banyaknya konsekuensi, keterlibatan semua pihak, dan kejelasan poin aturannya agar konsekuensi tersebut dapat dilakukan secara berkesinambungan. Beliau juga menyampaikan bahwa konsekuensi bersifat tidak mutlak/ dinamis. Artinya, konsekuensi dapat diubah sesuai dengan kondisi yang ada. Namun, sebelum menerapkan strategi ini, siswa harus diedukasi terlebih dahulu, akan lebih baik jika dalam bentuk cerita sehingga mereka tidak merasa digurui. Di akhir sesi, guru Dias memberikan sebuah masalah dan meminta peserta temu pendidik untuk merancang strategi konsekuensi yang akan dilakukan dalam sebuah kelompok. Lalu, mereka mempresentasikan hasilnya. Dari temu pendidik kali ini, guru belajar literasi melalui media video, merancang literature circle yang menarik serta berliterasi dalam menerapkan konsekuensi. Pada dasarnya, literasi ada di semua bidang, tidak hanya dalam pelajaran Bahasa. Temu Pendidik siang itu pun ditutup dengan memberikan berbagai informasi acara dan pelatihan yang akan dilakukan KGB Pekalongan bulan Maret. Diantaranya yaitu kegiatan trauma healing untuk korban banjir di Pekalongan dan pelatihan Melukis Kelas dengan Video.

Melek Literasi dengan Memanusiakan Hubungan

Berawal dari sapaan di aplikasi Telegram di tengah malam, berakhir pada perubahan prak- tik pengajaran di Pesisir Selatan. Kok bisa? Selamat malam Pak Bukik Selamat malam Bu. Ada keperluan apa? Begini Pak. Saya tertarik dengan Komunitas Guru Belajar Apa Ibu bersedia menjadi Penggerak Komunitas Guru Belajar? Bersedia Pak. Itulah penggalan obrolan saya dengan Bu Rahmiyanti yang mengawali interasi Kampus Guru Cikal dengan rekan guru di Pesisir Selatan. Ketika pertama mendengar Pesisir Selatan, terus terang tidak terbayang dimana letak daerah tersebut. Saya menduga di Kalimantan, namun saya sadar dugaan itu keliru ketika mencari di mesin pencari. Di tengah semangat belajar seorang guru perempuan di Pesisir Selatan, Cikal menggelar Playground of Minang. Minang kebetulan menjadi pilihan fokus belajar pada tahun 2018. Setiap tahun fokus belajar Playgroud berganti-ganti dari budaya daerah yang satu ke budaya daerah yang lain. Playground meru- pakan perayaan belajar murid yang mengintegrasikan antara pelajaran, minat bakat, budaya Indonesia dan aksi sosial yang berkontribusi terhadap kualitas pendidikan Indonesia. Kegiatan ini melibatkan murid, guru, orangtua, dan manajemen dari Rumah Main Cikal, Sekolah Cikal dan Kampus Guru Cikal. Guru merancang proses belajar yang memandu murid mempelajari pelajaran dan mengembangkan minat bakat yang terintegrasi dengan budaya Minang. Budaya Minang menjadi konteks bagi murid Cikal dari jenjang PAUD, Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah dalam mempelajari Bahasa Indonesia, Matematika, Sains, Kewarganegaraan hingga Seni Budaya. Hasil belajarnya ditampilkan dalam bentuk pameran dan panggung seni. Tiket masuk pagelaran Playground of Minang dan hasil lelang karya murid digunakan untuk membiayai aksi sosial. Bayangkan ribuan murid Cikal dari berbagai suku dan agama belajar dan berkontribusi tentang dan dalam konteks Budaya Minang. Itulah wujud nyata kecintaan pada Indonesia. Unduh Surat Kabar Guru Belajar edisi khusus KGB Pesisir Selatan DI SINI

Berbagi Praktik Baik dengan Guru Se-Asia Tenggara

Pada 21-23 Januari 2019 yang lalu, sebagai perwakilan dari kampus Guru Cikal saya menghadiri sebuah workshop yang bertajuk “Developing Teachers’ Assosiation” di King Mongkut University of Technology Thonbury Bangkok, yang merupakan inisiasi dari British Council dan Hornby Educational Trust. Kampus Guru Cikal, yang merupakan inisiator dari Komunitas Guru Belajar, berperan untuk menceritakan praktik baik dalam mengembangkan Komunitas Guru Belajar yang selama beberapa tahun terakhir pesat perkembangannya dan juga belajar dari asosiasi profesi Guru Bahasa Inggris dari negara di Asia tenggara. Peserta dari workshop ini berasal dari 8 negara, Indonesia, Malaysia, Cambodia, Laos, Vietnam, Filipina, Myanmar, dan Thailand. Tujuan dari workshop ini adalah untuk mereview kembali bagaimana, di tahun 2019, organisasi kerelawanan dalam Pendidikan Bahasa Inggris, seperti Asosiasi Profesi Guru Bahasa Inggris, bisa menaungi kebutuhan anggota, terutama dalam skala Asia Tenggara. Diskusi dalam kegiatan ini membuka percakapan tentang apa yang terjadi pada asosiasi di negara masing-masing. Seperti negara Vietnam misalnya, yang baru saja meresmikan asosiasi profesi pengajar Bahasa Inggris, yang tentu saja menceritakan betapa tangguh proses dan juga persiapan bertahun-tahun sebelumnya. Lain hal dengan MELTA (Malaysian English Language Teahers Association) yang sudah lebih lama berdiri dan memiliki banyak praktik baik hingga dapat mengadvokasi kebijakan ke kementrian pendidikannya terkait pengajaran Bahasa Inggris. Perwakilan dari Cambodia juga memaparkan banyak sekali hal yang bisa dipelajari. Bagaimana mereka menginisiasi CamTESOL setiap tahunnya dan mengintegrasikan teknologi dalam pengelolaan konferensinya bisa ditiru. Sikap terbuka dan keinginan untuk membantu negara lain juga sangat terlihat dari apa yang dipaparkan. Indonesia? Dengan banyaknya organisasi dan asosiasi tentu saja menjadi tantangan tersendiri dalam mengembangkan asosiasi profesi ini. Diskusi tiga hari dalam workshop ini menghasilkan empat inisiatif, yakni: Adanya keinginan untuk membuat ASEANELTA yaitu asosiasi pengajar bahasa inggris se-Asia Tenggara untuk berbagi praktik baik dan advokasi kebijakan berdasarkan konteks pengajaran bahasa inggris sebagai bahasa kedua/asing. Teknis akan dikerjakan sepanjang tahun oleh para PIC dari workshop di bangkok. Adanya keinginan untuk menghubungkan pengajar bahasa inggris se-Asia Tenggara dalam sebuah platform digital. Adanya keinginan untuk mengukur dampak pengembangan guru dan asosiasi profesi pengajar Bahasa Inggris. Adanya keinginan untuk mengusahakan pendanaan terhadap ASIANELTA, agar bisa terus berjalan dalam mengembangkan kegiatan di organisasi beserta para anggotanya. Tidak ada inisiatif yang tidak menguntungkan tentu saja. Keinginan untuk terhubung dengan negara-negara di Asia Tenggara membuka wawasan untuk kemudian membantu kita mengembangkan kualitas pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia. Berangkat dari situasi permasalahan yang hampir mirip, perwakilan dari setiap negara bersepakat bahwa Asia Tenggara harus bersatu dan berbagi praktik baik. Oleh karena itu, Guru Bahasa Inggris, yang mengajar dengan Bahasa Inggris, dan juga yang tertarik untuk mengembangkan kemampuan Bahasa Inggris di Komunitas Guru Belajar mari bersatu. Kita lanjutkan diskusi lewat temu pendidik dan lakukan sesuatu untuk berkontribusi pada kemampuan Bahasa Inggris murid-murid kita di masa kini dan masa depan, berangkat dari persoalan yang ingin kita selesaikan di masa kini. Jadi, sudahkah Anda siap terhubung dengan guru-guru se-Asia Tenggara? 21-23 Januari 2019KMUTT, Bangkok, Thailand Chusnul ChotimahManajer Akademik Head Office Sekolah dan Rumah Main Cikal082111539935

Belajar Bahasa Bukan Sekadar Struktur Kalimat, Namun Persoalan Komunikasi

Ingatkah Anda bagaimana sewaktu belajar Bahasa Inggris dulu? Kalau saya, yang paling terekam di memori adalah betapa sulitnya menghafalkan verb 1, verb, 2, dan verb 3 dan kaitannya dengan tenses dalam Bahasa Inggris. Sungguh, pelajaran Bahasa Inggris tidak terlalu menyenangkan karena diisi dengan menghafal dan juga perasaan takut bila menjawab soal dengan salah. Beruntungnya, lewat Kampus Guru Cikal, saya semakin memahami bahwa belajar Bahasa Inggris murni adalah persoalan berkomunikasi, bukan sekadar perkara mengetahui subject+verb+ing+bla bla bla. Lewat undangan dari ThaiTESOL dan British Council, saya semakin memahami bahwa Pendidikan Bahasa Inggris adalah perihal keterampilan berkomunikasi yang utuh, yang mengukuhkan bahwa kompetensi komunikatif adalah sasaran utama dalam pembelajaran bahasa Inggris, yang merupakan kemampuan untuk mengetahui kapan, kepada siapa, mengapa, dan bagaimana kita menggunakan bahasa yang sesuai. ThaiTESOL sendiri merupakan organisasi non-profit dan non-politik, berlokasi di Thailand, yang bertujuan untuk menguatkan Pendidikan Bahasa Inggris untuk semua level, melakukan riset dalam pengajaran Bahasa Inggris sebagai pengantar bahasa kedua, pemberian beasiswa, dan juga untuk diseminasi informasi. ThaiTESOL tahun ini agak sedikit berbeda. Banyak sekali pembahasan menarik mengenai apa yang terjadi dalam pembelajaran Bahasa Inggris dan bagaimana hal tersebut bisa berkontribusi kepada masa yang akan datang. Dengan mengusung tema “Changes and Chances in English Language Teaching”, pada sesi Keynote Dr. Tinsiri Siribodhi membicarakan mengenai perubahan-perubahan yang terjadi seputar Pendidikan Bahasa Inggris yang diantaranya adalah prioritas area pada pengembangan SDM. Perubahan yang merupakan tantangan di depan mata adalah mengenai perubahan pada area teknologi. Saya yakin saya semakin merasa tertantang dengan pertanyaan bagaimana kita bisa beradaptasi pada ekosistem yang telah berubah, gaya hidup, dan perilaku murid yang semakin lama semakin berjarak dengan bagaimana guru belajar dulu dan bagaimana guru hidup di era sekarang. Oleh karena itu, tantangan perubahan yang bisa sama-sama kita pikirkan adalah bagaimana pendidik di Asia Tenggara dapat menjadi guru yang mengikuti perkembangan jaman dengan mempertimbangkan kemampuan kognitif, sosial-emosional, dan juga perilaku, dan bagaimana proses belajar kita bisa mengakomodir pikiran, hati, dan juga dapat diterapkan sesuai dengan perkembangan jaman. ThaiTESOL 2019 yang saya hadiri menyajikan beragam kelas-kelas yang dapat dipilih. Satu kelas bertajuk “Applying Science of Learning Principles” yang dipimpin oleh Jeff Puccini yang mengajar di Thailand menarik perhatian saya. Beliau memaparkan bagaimana perilaku belajar dapat membantu kita mempelajari suatu hal yang baru. Strategi yang dapat membantu kita adalah dengan membagi pengetahuan maupun keterampilan ke dalam beberapa bagian serta membagi waktu belajar ke dalam bagian-bagian kecil, semisal 20 menit dalam sehari dapat membantu kita untuk belajar dengan lebih baik. Memberikan jarak dalam belajar juga membantu kita dalam belajar, semisal belajar sesuatu 10 menit sebelum tidur dan mengulang kembali sesaat setelah bangun tidur dapat membantu otak kita bekerja dengan lebih baik untuk ingatan jangka panjang. Di sisi lain, belajar semua hal dalam satu waktu akan membuat otak kita bekerja dengan lebih lambat, karena seperti halnya sesuatu yang bersifat elastis, otak kita perlu jeda untuk bisa menyerap segala informasi. Pada sesi plenary, Ms. Marsha J. Chan memaparkan apa yang perlu guru ketahui dalam pronounciation. Setidaknya ada tiga hal yang dipelajari. Pertama, comprehensibility, yakni mempertimbangkan persepsi pendengar terhadap seberapa mudah atau seberapa sulit dalam memahami teknik wicara. Kedua, intelligibility, kemampuan pendengar untuk memahami maksud pembicara. Ketiga, aksen. Yang perlu diperhatikan pada aksen adalah pengukuran perbedaan fonologi dari produksi wicara yang berbeda dari kedua pembicara. Terakhir, bahwa tujuan dari instruksi dalam pembelajaran pola pengucapan adalah untuk mengembangkan intelligibility  dan comprehensibility. Dari hari kedua konferensi, saya banyak belajar mengenai bagaimana mengembangkan guru dan komunitas belajarnya. Dari paparan Ngoc Nguyen dari Vietnam, saya belajar tentang bagaimana mengkolaborasikan guru, lingkungan sekitar, para ahli dan juga praktisi dalam pengembangan guru Bahasa Inggris. Sudah banyak yang saya rasa yang sudah dilakukan oleh Komunitas Guru Belajar, namun bagaimana para ahli terlibat dan bagaimana perannya perlu didefinisikan lebih baik. Selain itu, saya juga belajar pentingnya tujuan awal dari sebuah komunitas untuk berefleksi dan mengukur pencapaian hasil belajarnya. Beragam strategi diterapkan, seperti halnya survey dan interview secara mendalam, yang saya juga percaya dapat memberikan umpan baik dalam pengembangan proses dan juga programnya. Yang tidak kalah menarik adalah sesi dengan judul “PD Needs of In-service Teachers of English”. Dari Bapak Peter Beech, University of Nottingham, muncul beberapa pertanyaan dalam bagaimana pembelajaran Bahasa Inggris dilakukan sepanjang pengetahuan saya: Di sekolah, sejauh apa aspek komunikatif telah diases, dan bagaimana asesmen tersebut dilakukan? Mengapa mempelajari kosakata Bahasa Inggris terus-menerus didorong untuk dilakukan di rumah? Sesi tersebut kembali mengingatkan tentang bagaimana kelas Bahasa Inggris terus menerus dilakukan, seolah-olah dengan bisa mencongak dan melafalkan kosakata dalam Bahasa Inggris, persoalan komunikasi bisa selesai. Semoga situasi ini tidak menggambarkan kelas kita semua :). Sesi selanjutnya yang saya hadiri adalah bagaimana Bahasa Inggris diases di sekolah-sekolah di Thailand. Sesi ini merupakan penjabaran hasil riset yang dilakukan oleh Richard Watson Todd. Dua hal yang paling saya pelajari adalah bahwa asesmen dalam pembelajaran Bahasa Inggris terlalu banyak bergantung pada asesmen sumatif dan yang kedua adalah kurangnya keterbukaan pada proses asesmen tersebut. Hal ini menguatkan keyakinan bahwa perubahan hanya akan dapat terjadi apabila umpan balik terus-menerus diberikan lewat asesmen formatif sehingga murid dapat mengetahui kekurangannya dan mencari cara untuk memperbaiki dan membuat perbaikan, tanpa menunggu hasil akhir yang belum tentu menggambarkan pengetahuan dan keterampilannya secara utuh. Banyak juga hasil riset yang dipaparkan dalam konferensi ini. Hal tersebut meyakinkan saya bahwa guru dapat mengambil peran sebagai peneliti. Tidak semua hasil risetnya juga membuktikan semua asumsi yang diajukan di awal penelitian. Namun, jelas terlihat bahwa pembicara yang juga merupakan guru merasa berdaya untuk menyelesaikan persoalan di dalam kelasnya secara ilmiah, yang dapat dibuktikan dengan data. Hal tersebut tentu saja membantu guru yang hadir pada saat itu untuk dapat merefleksikan praktiknya, dan mengambil pelajaran untuk dapat diterapkan di ruang kelas.    Pengalaman belajar di ThaiTESOL memberikan banyak pencerahan dan pengukuhan terhadap pengetahuan yang saya miliki sebelumnya. Jadi, siap belajar Bahasa Inggris bersama saya? 18-19 Januari 2019ThaiTESOLThe Ambassador Hotel, Bangkok, Thailand Chusnul ChotimahManajer Akademik Head Office Sekolah & Rumah Main Cikal

Kalau Guru Senang Main Game, Bagaimana Perasaan Muridnya?

Seruuu!!! Itu komentar yang tercetus dari para peserta Mudik KGB Surabaya edisi 11 kali ini. Temu Pendidik yang dilaksanakan pada 2 Desember 2018 di Loop Station ini diikuti oleh sekitar 26 guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Belajar Surabaya maupun dari luar KGB. Ketika para anggota KGB tahu bahwa tema mudik kali ini adalah Board game, banyak guru yang bersemangat untuk mendaftar. Banyak peserta yang ingin tahu, seperti apa sih board game itu? Bagaimana board game itu bisa diaplikasikan pada pembelajaran di kelas? Atau bahkan pertanyaan yang inspiratif seperti bagaimana / games apa yang bisa menarik perhatian anak-anak ketika lab komputer atau jam pelajaran Komputer tidak ada? Karena temanya adalah boardgame, maka narasumber mudik kali ini sangat istimewa yaitu Guru Adhi Wiryawan. Beliau adalah pencipta games LINIMASA, sebuah board game yang digunakan untuk belajar sejarah. Game LINIMASA ini telah dicobakan pada siswa kelas 5 SD dan hasil penelitian menunjukkan bahwa game ini mampu meningkatkan minat membaca siswa pada sejarah Indonesia. Kegiatan diawali dengan pertanyaan pemantik yaitu kenapa sih harus bermain? Guru Adhi menjelaskan bahwa dengan bermain kita bisa belajar banyak hal. Contoh sederhana adalah ketika kita bermain sembunyi-sembunyian. Dalam permainan itu kita bisa merangsang indera kita, mengatur taktik atau strategi, melatih visual kita, belajar untuk memahami aturan permainan, dan disiplin diri. Ketika kita bermain, hormon kitapun terlibat yaitu hormon dopamine atau hormon yang berhubungan dengan kesenangan sehingga dapat merangsang kita untuk eksplorasi terhadap permainan. Bermain juga dapat menjadi jembatan untuk memfasilitasi berbagai gaya belajar di kelas. Guru yang kadang cenderung visual harus berhadapan dengan gaya belajar siswa yang auditory atau malah kinestetik. Dalam 21st century learning outcome, anak diharapkan punya pemikiran kritis, mampu berkolaborasi, mampu beradaptasi, memiliki kelincahan (agility), punya inisiatif dan efektif dalam berkomunikasi secara lisan ataupun tertulis. Kemampuan ini dapat dipelajari melalui bermain.   Game LINIMASA adalah game yang baru dikembangkan ini berisi berbagai tokoh dan peristiwa sejarah. Salah satu cara dalam bermain adalah dengan mengurutkan peristiwa sejarah dari gambar yang ada.   Pemaparan dari Guru Adhi memantik diskusi yang seru. Guru Hariadi sebagai salah satu peserta mudik bertanya bagaimana caranya memadukan boardgame dengan mata pelajaran di level SMP? Guru Adhi kemudian menjelaskan bahwa sebelum menemukan game yang akan dipakai, maka guru harus melihat tujuan pencapaian pembelajarannya dulu. Setelah tahu tujuan pembelajarannya, maka game bisa dicari, baik dengan cara membuat sendiri dari sesuatu yang baru ataupun modifikasi dari permainan yang sudah ada. Melihat banyak peserta yang tampak antusias untuk menggunakan game sebagai salah satu model belajar, Guru Adhi menyarankan guru untuk bekerja sama dengan game designer sehingga bisa menciptakan game yang dapat dimainkan di kelas . Guru Adhi juga memberikan tips membuat game dengan sederhana yaitu belajar secara otodidak (belajar tentang games design) dan guru harus banyak bermain juga supaya punya referensi permainan yang mungkin bisa digunakan di kelas. Dari kegiatan yang seru ini, ternyata ada juga guru seru yang sudah mengaplikasikan boardgame sebagai project siswa. Guru Ratih dari level SMU mengajak para muridnya yang berada di kelas 12 untuk menciptakan boardgame sebagai tugas belajar mereka. Mereka harus melalui proses yang tidak mudah karena harus direvisi berkali-kali. Namun walau prosesnya tidak mudah, tetapi mereka tidak menyerah. Kini boardgame hasil dari anak-anak telah dapat dimainkan di kelas mereka. Puncak dari kegiatan ini adalah saat guru mencoba ikut bermain game LINIMASA. Para peserta yang mayoritas adalah guru, harus mampu menebak urutan peristiwa sejarah kemerdekaan Indonesia. Suasana sangat riuh dan seru saat permainan mulai dijalankan. Guru Herlina berkata “Gamenya seru dan bikin gak takut salah, karena ini kan permainan”. Guru Fifi ikut menimpali “Gamenya jadi bikin pengen baca lagi buku sejarah”. Kalau guru saja senang main game maka bisa dibayangkan bagaimana perasaan muridnya. Salah satu refleksi dari kegiatan ini adalah bahwa bermain tidak hanya untuk senang-senang tapi dapat juga diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran. Dari aktivitas ini peserta juga makin tertantang untuk lebih berani berkreasi dalam pendidikan dan mampu menyimpulkan bahwa guru bukan menjadi pekerjaan yang monoton jika kita mampu lebih kreatif dalam mengajar. Jadi, apa game kita di kelas hari ini?

Strategi Menyenangkan untuk Ulangan Harian

“Besok ulangan ya?” Tiba-tiba wajah murid menjadi berubah. Seakan-akan akan menemui monster yang menakutkan. Ulangan menjadi momok bagi sebagian murid. Tantanganya adalah membuat ulangan menjadi menyenangkan. Bukan hal yang menakutkan. Sebagai pembuka Guru Nazila mengajukan pertanyaan Rekan-rekan diskusi menimpaliSeriiing Bu!Sering BangetBudaya NyataDengar ulangan, anak-anak langsung galauBersorak huu! Nah, banyak hal yangg kita sering jumpai ya.Lantas, apa yg akan kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut? Kali ini Guru Gia akan berbagi pengalamannyamerancang penilaian yang menarik dan mengasikkannamun tetap bermakna. Assalamualaikum w.w. teman-teman Pendidik! Saya sungguh bersyukur sekali bisa berada di tengah teman-teman pendidik semua. Rasanya seperti mendapatkan saudara baru,teman belajar baru yang selalu berusaha memberikan yang terbaik.Karena saya meyakini bahwa guru yang baik adalah guru yang selalu memberikan yang terbaik dari dirinya untuk siswa-siswanya dan lingkungan di sekitarnya. Pada kesempatan malam ini, saya mohon izin untuk berbagai sesuatu kepada teman-teman pendidik semua tentang sesuatu hal yang telah membuat saya bahagia. Ilmu saya masih minim sekali, tapi saya punya keinginan yang besar untuk terus belajar memberikan yang terbaik. Perkenalkan, nama saya Sitti Ghaliyah. Biasa dipanggil Gia. Alhamdulillah saya diberi kesempatan belajar untuk menjadi Pendidik dan Wakil Kepala MTs Ibad ArRahman di Pandeglang, Banten. Saya mengampu mata pelajaran Fisika tingkat SMA/MA. Oia, saya suka sekali menulis, tapi belum juga menulis buku solo. Doakan yaaa. Saat ini saya aktif menulis #CatatanIbuGuruGia di instragam @giaghaliyah. Kalau yang belum follow boleh banget, semoga kita bisa tetap bersilaturahim. Sebelum ke materi utama, saya mau menyampaikan cemilan dulu yaaa. Tentang 7 Prinsip Seorang Pendidik Pembawa Perubahan. Insyaallah akan terkait dengan materi utama kita. Jujur deh… Sebagai guru, pernahkah teman-teman melihat ekspresi dan respon murid Anda ketika Anda mengumumkan bahwa pekan depan akan Ulangan Harian? Bagaimana ekspresi murid Anda? Sedih? Bingung? Muram? Atau, ada gak yang punya pengalaman justru murid Anda bilang, “Horeeeee!”? Terus, bagaimana responnya? Gak mau Ulangan Harian? Minta diundur waktunya? Saat awal-awal saya mengajar, jujur saya belum peka memahami murid saya. Apalagi ketika saya mengumumkan, “Nak, pekan depan Ulangan Harian Fisika Bab Dinamika yaaa! Mohon belajar semaksimal mungkin.” Ekspresi murid satu kelas langsung berubah tegang. Raut wajahnya menjadi muram. Terlihat sekali bahwa mereka merasa terbebani untuk menghadapi Ulangan Harian Fisika pekan depan. Responnya juga kompak, mereka bilang, “Buuuu Ulangan Harian Fisikanya diundur ajaa dong buuuu!” Awalnya saya berpikir, “Ah, wajarlah mereka begitu. Fisika kan emang salah satu mata pelajaran yang susah. Jadi wajarlah kalau mereka takut Ulangan Harian Fisika.” Oh, saya salah besar! Saya gak boleh menanggap bahwa hal itu merupakan sebuah kewajaran! Akhirnya, saya berusaha untuk merefleksi diri saya sendiri mencari apa penyebab sebenarnya. Menurut teman-teman semua, kira-kira apa yaa penyebab ekspresi dan respon yang kurang bersahabat dari siswa kita ketika akan Ulangan Harian? Mungkinkah ada rasa trauma dengan suasana kelas yang begitu mencekam? Bosen mengerjakan soal UH dengan duduk diam terpaku selama berpuluh-puluh menit? Izinkan saya mencoba menganalisis dari hasil refleksi yang telah saya lakukan berdasarkan pengalaman saya sendiri. Saya masuk kelas. Lalu, saya bilang, “Hari ini siap yaa Ulangan Harian Fisika. Sudah belajar semua?” Terus seluruh siswa diam. Kayaknya sih takut dan deg-degkan banget deh. “Kok diam semua? Tenang, soal yang keluar insyaAllah yang sudah kita pelajari bersama-sama, kok. Santai aja yaaa,” kata saya membuat mereka tenang. “Iya, bu,” jawab mereka dengan ekspresi tidak antusias. Ada juga yang masih terlihat grogi dengan keringat yang sudah mengembun di keningnya. Lalu, saya bagikan kertas soal Ulangan dan lembar jawabnya satu persatu. Tak lupa, saya pun bilang, “Ayo posisi duduknya saling dijauhkan. Pokoknya gak boleh ada yang menyontek ya!” Jujur, saya menginginkan murid saya duduk dengan tertib ketika Ulangan Harian berlangsung. 80 menit berlalu. Ada yang masih mengerjakan soal Ulangan Harian, ada juga yang sudah selesai. Biasanya yang sudah selesai akan menaruh kepalanya di atas meja, tanda menunjukkan bahwa murid tersebut sudah merasa bosan. Ya begitulah. Saya pelototin mereka ketika mengerjakan soal Ulangan Harian. Mungkin itu yang membuat murid menjadi takut dan grogi banget. Belum lagi mereka harus duduk diam terpaku, gak bisa bergerak-gerak. Lalu, bagaimana dengan kebosanan yang melanda mereka? Ok, saya harus mengubah metode Ulangan Harian menjadi sesuatu hal yang menyenangkan dan penuh tantangan. Saya ingin mereka justru antusias mengerjakan soal-soal Ulangan Harian. Tapi, bagaimana ya caranya? Ada 7 Prinsip Ulangan Harian yang sangat penting untuk kita ketahui bersama 1. Valid Buatlah soal-soal Ulangan Harian sesuai dengan tujuan pembelajaran, kompetensi dasar yang telah ditentukan, dan juga indikator-indikator pencapaian kompetensi yang telah dijabarkan dan telah diajarkan. Penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kamampuan yang diukur. 2. Mendidik Ulangan Harian harus bisa menjadi penghargaan yang memotivasi bagi murid yang berhasil dan sebagai pemicu semangat untuk meningkatkan hasil belajar bagi yang kurang berhasil. Saya pernah punya pengalaman, murid saya trauma dan pasrah menyerah sebelum Ulangan Harian Fisika. Katanya, “Ah bu, saya sudah belajar maksimal sesuai dengan kemampuan saya, tapi palingan nanti hasilnya saya remedial lagi, dan lagi.” Lho kenapa murid saya jadi pasrah menyerah ya? Pasti ada sesuatu yang salah dari cara Ulangan Harian yang saya terapkan kepadanya. Walaupun ia pernah remedial di Ulangan Harian pertama, maka Ulangan Harian selanjutnya selanjutnya bisa menjadi pemicu semangatnya untuk bisa berhasil mendapatkan nilai yang bagus juga. 3. Berorientasi pada Kompetensi Nah, untuk prinsip yang ketiga ini, kita harus membuat soal-soal Ulangan Harian yang mengacu pada pencapaian kompetensi ya. Jangan sampai, apa yang sudah kita ajarkan di kelas, tidak sesuai dengan soal Ulangan Harian yang kita berikan untuk murid. Kita pun harus benar-benar merancang soal yang baik, yang sesuai dengan kompetensi dalam kurikulum. 4. Adil dan Objektif Tentu cukup beragam latar belakang murid kita di kelas. Jangan mentang-mentang kita dekat dengan salah satu orang tua murid, maka kita berlaku tidak adil kepada murid tersebut saat Ulangan Harian. Nggak boleh, ya! Guru harus adil dan objektif, tidak ada murid kesayangan, tidak ada rasa pilih kasih kepada murid-murid tertentu saja. 5. Terbuka Maksudnya adalah guru harus ada bukti yang jelas tentang nilai-nilai Ulangan Harian murid. Mulai dari lembar jawaban Ulangan Harian, lembar penilaian Ulangan Harian, dll. Semua harus terarsip dengan baik ya. Begitupun dengan kriteria penilaian Ulangan Harian. 6. Berkesinambungan Guru harus telah merancang program semester, terutama sudah merancang mau berapa kali … Read more