Mengembangkan Bakat Murid saat Pembelajaran di Masa Pandemi Melalui Asesmen Diagnosis

Bingung bagaimana memfasilitasi bakat murid saat pembelajaran di masa pandemi? Sulit menemukan wadah untuk menyalurkan bakat dan minat mereka? Padahal murid sudah sangat jenuh belajar dari rumah. Tidak ada lagi kegiatan semacam ekstrakulikuler yang dapat mereka ikuti seperti saat PTM (Pembelajaran Tatap Muka). Mungkin hal ini yang sekarang masih membuat Bapak dan Ibu guru bimbang. Tenang Bapak Ibu, karena pada tulisan kali ini kita akan membahas kisah dari guru belajar yang mengalami kasus serupa namun bisa menanganinya melalui asesmen diagnosis. Benar, melalui asesmen diagnosis guru ini mampu menghadirkan pembelajaran yang bisa mengembangkan bakat murid di saat pembelajaran di masa pandemi. Guru ini bernama Bu Fitriana. Bu Fitriana merupakan guru di SDN Tugu Utara 05 sekaligus menjadi anggota Komunitas Guru Belajar (KGB) Jakarta Selatan. Sejak diberlakukannya PJJ dibarengi munculnya kebijakan Asesmen Nasional (AN) dalam bentuk survei karakter, survei lingkungan belajar, dan asesmen kompetensi minimum menuntun Bu Fitri untuk mencari informasi dan bergerak mengikuti perkembangan mengenai hal yang masih dianggapnya baru tersebut. Bu Fitri banyak mengikuti kegiatan webinar seperti Wardah Inspiring Teacher (WIT) 2020. Dari kegiatan ini Bu Fitri belajar mengenai empati kepada murid. Tak berselang lama, Bu Fitri juga mengikuti Seri Guru Belajar yang diadakan oleh Kemendikbud. Dari sini Bu Fitri belajar tentang Asesmen Nasional, macam-macam asesmen dan cara menindaklanjutinya. Selain itu Bu Fitri juga mendapat pemahaman tentang kegiatan pembelajaran yang mempertimbangkan kondisi murid (tidak memberatkan murid) dengan menghadirkan pembelajaran yang lebih variatif, inovatif, dan kreatif agar potensi murid dapat dioptimalkan. Sebelum melaksanakan pembelajaran, Bu Fitri melakukan asesmen diagnosis guna menggali informasi terkait kondisi murid-muridnya. Informasi tersebut Bu Fitri jaring dengan menyebar kuesioner kesiapan belajar kelas VI-A dalam Google Form. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa orangtua murid dominan bekerja sebagai buruh. Selain itu, Bu Fitri juga tahu keberagaman hobi murid, mulai dari futsal hingga menari. Data menunjukkan jika 50% muridnya sudah menggunakan gawai milik sendiri. Untuk hambatan saat pembelajaran di masa pandemi, murid Bu Fitri sebagian besar mengeluh akan bosannya belajar dari rumah, keterbatasan kuota, gangguan jaringan atau sinyal, dan merepotkan orang tua karena tidak bisa terus mendampingi mereka. Dari hasil asesmen diagnosis tersebut, Bu Fitri memulai pembelajaran dengan kegiatan proyek perkenalan diri. Dimulai dengan murid mengenal Bu Fitri melalui media sosialnya, kemudian murid diminta untuk menyimpulkan tentang Bu Fitri. Proyek ini cukup ampuh untuk membuat murid mengenal dan dekat dengan Bu Fitri. Bu Fitri juga memberikan opsi pada pengumpulan tugas, bisa berbentuk mind map, video, atau voice note. Dari kegiatan tersebut, Bu Fitri memberi kesempatan murid mengembangkan bakat-nya. Baca juga: Implementasi Asesmen Diagnosis untuk Membangun Disiplin Murid Di luar pembelajaran, murid-murid juga mengalami kejenuhan karena tidak bisa menyalurkan bakat dan minatnya di kegiatan ekskul ataupun kegiatan memperingati hari besar nasional seperti saat PTM dulu. Dengan melihat data hasil asesmen diagnosis yang menunjukkan bahwa 50% muridnya menggunakan gawai sendiri, Bu Fitri berencana untuk membuat panggung virtual dengan memanfaatkan aplikasi Stream Yard, Zoom, dan YouTube sebagai medianya. Bu Fitri mengajak teman-teman guru berdiskusi membahas peringatan HUT RI  dengan menyelenggarakan lomba-lomba secara virtual. Mulai dari jenis lomba, teknis lomba, sistem penilaian dan hadiahnya diusahakan persis seperti saat pandemi belum datang. Contoh lomba yang berhasil diselenggarakan dapat ditonton melalui tautan berikut: https://youtu.be/1y-q4d1HqX8  Namun setelah melakukan refleksi, Bu Fitri merasa kegiatan tersebut belum sepenuhnya dapat memaksimalkan potensi dan minat bakat murid. Bu Fitri mulai melibatkan orangtua murid dengan mengajak mereka berdiskusi. Bu Fitri sadar bahwa peran orangtua sangat besar dalam membantu murid menampilkan unjuk kreasi mereka.  Oleh karena itu, saat Hari Guru, Bu Fitri dan teman-teman guru mengadakan kegiatan lagi berupa pentas seni dan penampilan terbaik dari tiap kelas. Kegiatan dapat dilihat melalui tautan berikut: https://youtu.be/AMf05WTBESs. Namun setelah melakukan refleksi kembali, ternyata masih ditemukan beberapa hambatan seperti h beberapa murid yang tampil dari setiap kelas, kendala sinyal, dan kuota internet.  Pantang menyerah, demi mengembangkan bakat murid, Bu Fitri dan teman-teman guru di sekolahnya kembali memanfaatkan momen yang pas yakni ketika Isra Mikraj sebagai wadah menyalurkan bakat dan minat murid-muridnya. Berbekal refleksi sebelumnya, Bu Fitri kembali mengadakan kegiatan pentas seni dengan menambah tema dan pengisi acara dalam kegiatan tersebut. Kegiatan dapat dilihat melalui tautan berikut: https://youtu.be/H54Ui-SLuHw  Dan Bu Fitri tidak menyangka banyak yang mengirim video dari tiap kelas. Artinya banyak yang ingin tampil di pentas seni virtual. Mereka sangat antusias menyaksikan penampilan teman-temannya melalui YouTube. Mereka juga tidak sabar menanti penampilan mereka ditayangkan. Murid-murid menyaksikan kegiatan tersebut hingga akhir tanpa takut kuota mereka habis. Nah, bagaimana Bapak Ibu guru, apakah cerita inspiratif di atas sudah cukup menghilangkan kebingungan Bapak dan Ibu? Atau Bapak Ibu masih ingin mendapat cerita-cerita inspiratif lainnya? Yuk langsung aja daftar di Temu Pendidik Nusantara (TPN) VIII dengan tema Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar yang akan diselenggarakan pada 20-21 November 2021. Di sini Bapak Ibu akan mendapat inspirasi dari #1000Pembicara lho! Langsung aja klik tpn.gurubelajar.org Sumber: Surat Kabar Guru Belajar No.28 

Implementasi Asesmen Diagnosis untuk Membangun Disiplin Murid

Merasa pusing ketika mendisiplinkan murid? Lelah memikirkan cara agar murid bisa mengumpulkan tugas secara disiplin,  tepat waktu dan sesuai ketentuan? Apalagi ketika pandemi datang dan PJJ diberlakukan, rasa-rasanya hal tersebut menjadi semakin pelik meski sekadar dibayangkan. Apakah perkara-perkara tersebut masih sering mengganggu pikiran Bapak dan Ibu guru hingga tidur pun rasanya tidak nyenyak? Jangan Khawatir Bapak Ibu! Seperti kata pepatah “Di balik setiap masalah pasti ada solusi”. Pilihan yang tepat ketika Bapak dan Ibu sedang membaca tulisan ini maka Bapak dan Ibu guru juga akan menemukan solusi dari permasalahan yang kini tengah menghantui seperti yang telah disebutkan di atas. Lalu apa kaitannya dengan asesmen diagnosis ya? Bagaimana implementasi Asesmen Diagnosis bisa membangun disiplin murid? Simak penjelasannya di bawah ini ya! Sejak dicetuskannya Asesmen Nasional (AN) pada tahun 2020 sebagai pengganti Ujian Nasional (UN), mau atau tidak mau, siap atau tidak siap semua sekolah harus mengimplementasikannya, maka semua guru juga harus memahaminya. Meskipun asesmen menjadi trending topik kala itu, nyatanya masih banyak yang bingung bahkan terjadi miskonsepsi di antara pendidik maupun orangtua murid. Bersumber dari Surat Kabar Guru Belajar (SKGB) No.28 dengan judul Asesmen untuk Personalisasi Belajar, ada kisah guru belajar yang menghadapi masalah serupa. Guru tersebut bernama Ida Widaningsih, guru di SMP Negeri 160 sekaligus anggota Komunitas Guru Belajar (KGB) Jakarta Timur. Layaknya guru-guru lain, Guru Ida juga pernah mengalami miskonsepsi tentang asesmen. Padahal jauh sebelum AN dicetuskan, Guru Ida sudah sering mendengar dan membaca tentang asesmen, sayangnya semua itu bagai angin lalu. Awalnya Guru Ida menganggap asesmen hanya digunakan untuk mengetahui capaian belajar murid di akhir pembelajaran, namun kini Guru Ida tahu justru yang penting adalah bagaimana penilaian mampu meningkatkan kemampuan murid dalam proses belajar. Setelah mengetahui betapa esensialnya asesmen, Guru Ida segera mempelajari lebih lanjut mengenai Asesmen. Guru Ida mencari dan membuka berbagai sumber yang terkait dengan asesmen. Guru Ida mulai menonton konten-konten di Kanal Youtube KGBN (Komunitas Guru Belajar Nusantara), Kanal Youtube Kemendikbud dan membaca buku-buku yang membahas mengenai asesmen. Dari sini Guru Ida membuat kesimpulan bahwasannya selama ini dia belum paham sepenuhnya tentang tiga macam asesmen, yakni assessment for learning, assessment as learning, dan assessment of learning. Assessment for learning (asesmen diagnosis) mempunyai fungsi yang mirip dengan assessment as learning (asesmen formatif), yakni sebagai formatif dan dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. Sedangkan assessment of learning (asesmen sumatif) merupakan penilaian yang dilakukan setelah proses pembelajaran selesai dan tidak selalu di akhir tahun. Baca juga: Fungsi Asesmen Formatif: Mendukung Murid Belajar Ketika berbicara mengenai asesmen diagnosis, tidak dapat dipisahkan dengan pemahaman akan 5M (Memanusiakan hubungan, Memahami Konsep, Membangun keberlanjutan, Memilih tantangan, Memberdayakan konteks) karena secara tidak langsung sangat berkaitan erat. Untuk asesmen diagnosis sendiri dibagi menjadi dua yaitu asesmen diagnosis kognitif dan nonkognitif. Guru Ida mengaitkan asesmen diagnosis nonkognitif dengan 5M, yakni pada elemen Memanusiakan hubungan dengan mencari tahu profil murid dan elemen kedua, yakni Membangun keberlanjutan dengan memberikan tugas yang beragam sesuai minat murid. Pada awal pembelajaran jarak jauh (PJJ) Guru ida memang lebih fokus pada implementasi asesmen diagnosis nonkognitif, ia melihat adanya keberagaman situasi sosial dari profil murid. Guru Ida mencari tahu keadaan atau kondisi murid dengan mengajak mereka mengobrol santai melalui WA pribadi. Dan data pengamatan langsung sebelum diberlakukannya PJJ. Ternyata ada murid yang dengan tertatih berusaha mengumpulkan tugasnya. Dari obrolan tersebut terlihat kesungguhan murid, meski dalam keadaan yang serba sulit karena berasal dari keluarga kurang mampu. Itu contoh murid Guru Ida yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Guru Ida sangat memperhatikan kondisi murid dan tidak memaksakan tugas harus dikumpulkan pada hari itu juga. Murid tersebut tidak mempunyai gawai sendiri dan harus meminjam gawai milik anggota keluarga lain. Yang membuat Guru Ida bangga murid tersebut menabung untuk membeli gawai karena menganggap benda itu menjadi kebutuhan yang sangat penting untuk menunjang pembelajaran. Guru Ida mengajar materi tentang ikhtiar, tawakal, dan optimisme yang berkenaan dengan pandemi Covid-19 dan berhubungan dengan anjuran pemerintah. Dengan menerapkan diferensiasi dalam penyelesaian tugas, Guru Ida memberi kesempatan muridnya untuk mengerjakan tugasnya sesuai dengan minat masing-masing, sehingga mereka mengerjakan dengan suka cita, tanpa beban. Ada yang memilih untuk membuat video, PPT, poster, dll. Hasilnya sungguh di luar dugaan. Murid lebih bersemangat mengerjakan karena sesuai minatnya. Selain itu waktu yang diberikan juga longgar tapi bukan berarti tidak tegas. “Saya kagum akan kompetensi mereka yang beragam, termasuk kompetensi menulis, menggambar, atau bercerita yang selama ini terpendam.” (Ida Widaningsih) Menurut Guru Ida, ternyata dengan memperhatikan asesmen diagnosis non kognitif dapat memberikan ruang kepada murid untuk bereksplorasi dan memberikan kemerdekaan belajar. Tugas yang mereka kerjakan menjadi beragam. Guru Ida juga dapat mengetahui minat belajar murid. Dan guru tidak akan stres atau marah-marah lagi kepada murid. Kesimpulannya dengan dapat memahami asesmen khususnya asesmen diagnosis beserta implementasi-nya, guru dapat memahami muridnya. Guru jadi tahu keadaan murid dan alasan murid tidak mengumpulkan tugas secara disiplin, tepat waktu dan sesuai ketentuan. Dari pengalaman Guru Ida yang dilakukannya untuk menyikapi masalah tersebut adalah dengan mengubah sistem pengumpulan tugas dengan menerapkan diferensiasi penyelesaian tugas sesuai minat murid dan kelonggaran waktu pengumpulan. Apakah pening di kepala Bapak dan Ibu guru sudah hilang setelah membaca kisah Guru Ida di atas? Atau Bapak dan Ibu guru masih membutuhkan kisah inspiratif dan solutif lainnya? Yuk langsung aja daftar di Temu Pendidik Nusantara (TPN) VIII dengan tema Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar yang akan diselenggarakan pada tangga 20-21 November 2021. Di sini Bapak Ibu akan mendapatkan inspirasi dari #1000Pembicara. Langsung aja klik tpn.gurubelajar.org

Fungsi Asesmen Formatif: Mendukung Murid Belajar

Apakah Bapak dan Ibu guru sering bingung ketika mengisi penilain Kompetensi Dasar murid di akhir semester? Biasanya Bapak dan Ibu isi dengan apa? Nilai tugas akhir atau ulangan akhir murid yang hanya berupa angka? Apakah Bapak dan Ibu guru yakin penilaian semacam itu akurat dan dapat dipertanggungjawabkan? Dengan adanya standar pencapaian angka tertentu untuk mengukur keberhasilan murid dan memunculkan pelabelan terhadap murid seperti bisa atau tidak bisa, bukankah hal itu sudah termasuk tindak penghakiman? Dan bagaimana sih rasanya jadi orang yang dihakimi? Tertekan, takut, tidak nyaman, pengin marah atau protes tapi tidak bisa. Mungkin perasaan semacam itu yang sekarang dirasakan oleh murid Bapak dan Ibu. Atau mungkin yang Bapak dan Ibu rasakan sewaktu jadi murid dulu? Lalu apa kaitannya dengan Asesmen Formatif? Apa itu asesmen formatif dan fungsi-nya dalam kegiatan pembelajaran? Harap tenang! Bapak dan Ibu guru jangan risau karena pada tulisan kali ini akan membahas solusi dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Bersumber dari Surat Kabar Guru Belajar (SKGB) Edisi ke-3 tahun keenam dengan tema Asesmen Formatif sebagai Upaya Merawat Kemerdekaan Belajar, terdapat kisah guru belajar yang mengalami masalah serupa. Guru Maryati Hulalata namanya, mengajar di SMP Lazuardi dan anggota Komunitas Guru Belajar Depok. Lalu bagaimana beliau mengatasi pertanyaan-pertanyaan yang meresahkan di atas? Semuanya akan diulas dalam tulisan ini. Yuk Bapak dan Ibu segera simak kisahnya di bawah ini! Setiap awal tahun pelajaran, guru-guru diminta menyiapkan berbagai instrumen administrasi, seperti Program Tahunan , Program Semester, dan Program Project Plan atau yang sering dikenal dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Tidak hanya masalah administrasi, intrumen pra-mengajar pun tidak kalah penting untuk disiapkan, salah satunya adalah Rencana Asesmen. Namun Guru Maryati sering mengenyampingkannya, beliau hanya akan menyalin file tahun lalu yang sering kali sudah tidak relevan. Hingga Pandemi datang dan PJJ diberlakukan, Guru Maryati bingung untuk memberi nilai Kompetensi Dasar murid-muridnya karena pembelajaran seluruhnya dilakukan secara online. Pasalnya semua penugasan langsung diberikan skor tanpa ada masukan perbaikan dan penyesuaian pengajaran di dalam kelas online-nya. Guru Maryati merasa seperti kembali ke masa lalu ketika penilaian berpatok pada angka dan penghakiman bisa atau tidak bisa dan tahu atau tidak tahu. Memberi nilai layaknya sebuah ulangan harian waktu sekolah dulu. Ulangan harian yang kemudian menjadi nilai tambah nilai ujian akhir. Guru Maryati menganggap penilaian semaca itu tidaklah akurat dan kurang dapat dipertanggungjawabkan. Beliau merasa kecolongan, ketika kelas yang dibawakan sudah demikian menarik, penugasan proyek yang menantang, eh nilai diberikan begitu saja tanpa memberi masukan berkala. Setelah menyadari kekeliruan besar yakni dengan tidak menerapkan Asesmen Formatif dalam pembelajarannya, Guru Maryati segera membuka catatan ketika mengikuti pelatihan asesmen yang pernah diselenggarakan sekolahnya dan berdiskusi dengan rekan guru lainnya. Selain itu, Guru Maryati juga amat terbantu dengan konten-konten yang membahas mengenai asesmen dari media sosial Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar. Beliau membaca dan berusaha memahami kembali mengenai asesmen. “Asesmen sejatinya merupakan alat bantu kita untuk mengetahui kemajuan murid dan membantu mereka mencapai target pembelajaran. Asesmen tidak melulu sesuatu yang diberi nilai, berupa angka dan dilakukan di akhir” (Maryati Hulalata) Baca juga: Merdeka Belajar di PAUD, Bagaimana Menerapkannya? Guru Maryati melakukan refleksi pembelajaran selama satu semester yang lalu. Sudahkah memberikan kesempatan murid-muridnya untuk merefleksikan pembelajaran dan mengevaluasi diri sendiri? Sudahkah memberi umpan balik sepanjang proses belajar yang membantu murid melakukan perbaikan? Menyadari betapa esensialnya peran sebuah asesmen khususnya fungsi asesmen formatif, di awal semester baru Guru Maryati menyediakan waktu untuk menyusun rencana asesmen dengan memperhatikan asesmen formatif secara seksama dan dilaksanakan dengan benar agar tujuan asesmen tercapai. Berbekal format yang diberikan sekolahnya, Guru Maryati memulai dari tujuan belajar yang diambil dari Kompetensi Dasar. 1.      Tujuan belajar ini dibuat lebih pendek penjelasannya dan langsung pada kegiatan yang akan dilakukan di kelas. 2.      Di sebelah kolom Learning Goals, ada kolom jenis asesmen yang dilakukan. Ini penting, sebagai bentuk informasi kegiatan apa yang membutuhkan masukan intensif dan mana yang bisa diambil penilaian berupa angka. 3.      Menuliskan bentuk asesmen. Tidak kalah penting karena membantu untuk mempersiapkan proses asesmen agar menjadi lebih terarah sesuai dengan tujuan pembelajaran. 4.      Terdapat kolom untuk rencana diferensiasi (akomodasi) dan rubrik. Kolom diferensiasi disiapkan sebagai tindakan awal , meskipun saat pelaksanaan sangat bisa disesuaikan sesuai kebutuhan. Sedangkan kolom rubrik hanya sebagai pelengkap dan pengingat. Dengan merencanakan asesmen secara matang, kini Guru Maryati sudah tidak pusing untuk memberi penilaian di akhir pembelajaran saat kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring. Dan yakin jika penilaian yang diberikan sudah akurat dan dapat dipertanggungjawabkan serta tidak menghakimi. Guru Maryati tidak ingin keliru lagi dan berupaya memastikan efektivitas asesmen formatif dan memaksimalkan fungsi-nya dalam proses belajar murid. Selain itu murid juga terbantu dengan adanya asesmen ini. mereka menyadari keberadaan guru yang siap membantu dan peran rekan sebaya yang masukannya membantu mereka memperbaiki kualitas kerja. Bagaimana Bapak dan Ibu guru, apakah kisah guru belajar di atas sudah meyakinkan Bapak dan Ibu guru untuk memberi nilai kepada murid secara akurat dengan menerapkan Aseesmen Formatif? Atau Bapak dan Ibu guru masih membutuhkan kisah-kisah inspiratif dan solutif dari  guru belajar lainnya? Tenang, semua yang Bapak dan Ibu guru cari bisa didapatkan dengan mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII yang akan diselenggarakan pada 20-21 November 2021 dengan tema Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000Pembicara. Caranya gimana? Gampang banget, tinggal klik tpn.gurubelajar.org

Penerapan Asesmen Sumatif di PAUD, Bagaimana?

Apakah Bapak dan Ibu pernah bingung dalam mendesain asesmen yang pas untuk diberikan ke murid? Atau bapak dan ibu guru pernah mendengar miskonsepsi jika asesmen cenderung dilakukan hanya untuk mengukur hasil belajar murid? Mendesain pembelajaran di awal tahun pelajaran merupakan sebuah hal yang biasa dilakukan oleh bapak dan ibu guru. Desain pembelajaran tersebut juga harus dilengkapi dengan asesmen baik asesmen formatif maupun asemen sumatif.  Ternyata Asesmen bukanlah sekadar untuk mengetahui pencapaian hasil belajar murid. Asesmen dapat meningkatkan kemampuan murid dalam proses belajar mengidentifikasi murid yang membutuhkan bantuan. Hal penting lainnya tentang asesmen bagi guru ialah untuk mengecek pemahaman dan pencapaian murid serta merencanakan dan merancang personalisasi pembelajaran dalam proses belajar. Pentingnya asesmen ini bukan hanya diperlukan oleh murid jenjang dasar sampai menengah, tetapi juga di jenjang anak usia dini. Di jenjang pendidikan usia dini, murid-murid perlu mendapatkan asesmen dalam aspek tumbuh kembangnya. Aspek tersebut meliputi perkembangan motorik, sosial emosi, bahasa, kognisi, moral, agama, dan seni. Lalu, bagaimana esensi “penting” dalam penerapan asesmen sumatif di jenjang usia dini? Berikut kita akan bahas cerita Ibu Anik Puspowati dari KGB Semarang yang mengajar di Fatiha Edu tentang pentingya penerapan asesmen sumatif di PAUD. Awalnya sebagai seorang guru yang mengajar anak-anak usia dini, Ibu Anik merasa bahwa dirinya memerlukan data untuk mengetahui capaian perkembangan murid-muridnya, sekaligus sebagai bahan refleksi dalam mengelola pembelajaran di kelasnya, tentang apa yang perlu beliau evaluasi dan apa yang sudah baik dari perencanaan pembelajaran yang sudah beliau tentukan. Menurut Ibu Anik, jika beliau tidak memiliki data maka tidak akan mampu menganalisis ketercapaian tujuan belajar murid-muridnya. Tanpa data, beliau juga tidak mempunyai bukti untuk melaporkan perkembangan murid-muridnya saat pertemuan dengan orang tua nanti. Oleh karena itu, beliau berinisiatif untuk menentukan metode yang saya butuhkan untuk mengumpulkan informasi. Baca juga Asesmen Nasional 2021, Siap(a) Berubah? Beliau pun memilih untuk mencoba melakukan teknik observasi dan mendokumentasikan kegiatan atau percakapan maupun perilaku murid, baik saat bermain sendiri maupun ketika dalam kelompok kecil atau kelompok besar, serta melalui catatan anekdot. Beliau juga mencoba dengan berinteraksi ringan dengan murid-muridnya, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, lalu mencatat semua respons mereka. Tidak lupa, Ibu Anik juga menggunakan ceklis untuk mencatat perkembangan spesifik, misalnya keterampilan motorik muridnya, sosial emosi, dan sebagainya. Berikutnya, beliau juga mengumpulkan hasil karya murid-muridnya, baik itu gambar, prakarya, atau penugasan lainnya. Dan terakhir, beliau juga intens bertanya kepada orang tua/wali murid terkait perkembangan anak mereka di rumah. Yang mana ada kalanya perilaku murid muncul di rumah tetapi tidak muncul di sekolah. Beliau juga mencari tahu dan mencatat keterangan dari guru-guru sebelumnya.  Ketika sudah memiliki begitu banyak data dari setiap murid, lantas Ibu Anik berpikir tentang  bagaimana membuat asesmen sumatif dari sekian banyak data yang beliau peroleh? Perlukah merencanakan asesmen tersendiri untuk kebutuhan penilaian akhir tema dan akhir semester? Jika iya, beliau merasa pasti akan kewalahan dalam mengelolanya. Akhirnya, Ibu Anik  mengumpulkan semua data yang ada, lalu menentukan mana yang akan dijadikan basis data untuk asesmen formatif dan mana yang dijadikan penilaian sumatif. Oleh beliau semua data tersebut dikelola dengan dikumpulkan dalam portofolio berdasarkan tanggal dan identitas murid. Hasil dari kumpulan data tersebut berupa foto hasil karya murid, rekaman suara, video kegiatan, dan sebagainya. Ibu Anik menyimpan seluruh data pertumbuhan dan perkembangan murid di dalam satu folder penilaian dan menyiapkan satu folder untuk setiap anak dalam Google Drive sehingga memudahkan beliau ketika mencarinya. Ibu Anik melakukan pengolahan data secara berkala, mingguan dan bulanan dengan menggunakan skala. Beliau menetapkan empat skala capaian perkembangan murid, yaitu BB (belum berkembang), MB (mulai berkembang), BSH (berkembang sesuai harapan), dan BSB (berkembang sangat baik). Beliau memasukkan semua data yang terkumpul setiap minggunya ke dalam format bulanan. Untuk menentukan capaian akhir setiap bulan, beliau melihat capaian tertinggi yang dicapai sepanjang bulan itu. Ketika Ibu Anik ingin mendapatkan hasil penilaian satu semester, maka memasukkan capaian akhir bulan di format bulanan untuk setiap bulan dalam satu semester ke format penilaian akhir semester. Untuk menentukan capaian akhir semester, beliau memilih capaian tertinggi yang telah dicapai murid pada setiap akhir bulan. Hasil capaian ini menjadi dasar untuk pembuatan laporan perkembangan anak pada semester tersebut. Ibu Anik biasanya menyampaikan laporan ini dengan dilakukan secara tatap muka sehingga tercipta hubungan dan informasi timbal balik antara guru dengan orang tua. Namun, dikarenakan dalam masa pandemi ini penyampaian laporan perkembangan, beliau lakukan melalui media daring dalam bentuk PDF (lewat e-mail atau WhatsApp orang tua). Laporan Perkembangan Anak biasanya beliau tulis langsung dalam bentuk narasi, sehingga dapat membaca laporan tersebut tidak hanya berupa data melainkan sebuah cerita singkat. Ketika waktu menyampaikan Laporan Perkembangan Anak, Ibu Anik juga menyampaikan keadaan murid, yaitu saat murid belajar secara fisik, sosial, dan emosional di sekolah. Selanjutnya, beliau melaporkan hal berupa kemampuan atau kompetensi yang sudah dan yang belum dikuasai murid. Kemudian yang terakhir, beliau menyampaikan apa saja yang harus dilakukan orang tua untuk membantu dan mengembangkan murid lebih lanjut. Waktu penyampaian Laporan Perkembangan Anak kepada orang tua dilakukan satu semester sekali, pada setiap akhir semester tahun pelajaran. Ibu Anik merasa jika strategi dalam mengelola asesmen ini membantunya dalam banyak hal, termasuk dalam mengelola waktu dan energi. Beliau belajar bahwa sebagai guru kita perlu untuk benar-benar memahami murid dan mampu membuat analisa dari data yang ada supaya tidak salah dalam menilai perkembangan murid. Bagi beliau, seorang guru memerlukan semua informasi tentang tingkat pencapaian dan perkembangan hasil belajar murid secara nyata yang bersumber pada data otentik dan berdasarkan fakta. Selanjutnya, guru membutuhkan strategi untuk mengelola dan menganalisanya supaya akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Terakhir, Ibu Anik mengatakan jika hal yang jauh lebih penting adalah refleksi terhadap apa yang kita lakukan sebagai guru dalam melihat hasil belajar murid-murid, lalu menggunakan refleksi tersebut untuk mendesain pembelajaran yang lebih baik kedepannya. Bagaimana Bapak dan Ibu Guru, Apakah cerita tersebut memberikan insight tentang pentingnya asesmen sumatif di jenjang usia dini? Temukan lebih banyak cerita menarik guru-guru lainnya dengan mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII pada 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem merdeka belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari #BelajarDiTPNVIII!  Klik https://tpn.gurubelajar.org Sumber Buku: Surat Kabar Guru Belajar  Edisi IV Tahun Keenam

Merdeka Belajar di PAUD, Bagaimana Menerapkannya?

Menerapkan merdeka belajar di PAUD susah? Bagaimana cara menetapkan tujuan belajarnya, kan harus melibatkan murid? Lalu cara menentukan asesmennya bagaimana, kan mereka masih kecil? Namun akan sangat sayang sekali kalau tidak segera diimplementasikan, karena merdeka belajar ini menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna sehingga murid menjadi berdaya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadikan guru khususnya di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) masih ragu dan bimbang untuk menerapkan merdeka belajar pada muridnya. Keraguan ini juga pernah dialami oleh Bu Anik Puspowati, guru di TK Sekolah Alam Arridho Semarang.  Berawal ketika mengikuti pelatihan Guru Merdeka Belajar, dari sini Bu Anik paham untuk menjadi pendidik yang merdeka belajar, perlu memiliki tiga hal esensial antara lain: komitmen pada tujuan, mandiri, dan reflektif. Awalnya Bu Anik sempat ragu untuk menerapkan proses menentukan tujuan belajar bersama anak usia dini. Namun Bu Anik tetap memberanikan diri untuk mencoba. Bu Anik menyatakan bahwa masa prasekolah merupakan masa yang sangat krusial dalam pendidikan seorang anak. Usia 0-6 tahun sering disebut sebagai masa emas perkembangan anak, karena otak anak mampu menyerap informasi hingga 80  persen. Di masa-masa ini, anak mulai terbentuk aspek perkembangannya: kognisi, bahasa, fisik-motorik, sosial-emosi, moral, kemandirian, dan seni. Bu Anik ingin memaksimalkan aspek-aspek perkembangan muridnya tersebut secara menyenangkan dan bermakna. Bu Anik mengidentifikasi gaya pembelajaran yang cocok dengan muridnya adalah gaya belajar kinestetik. Anak bisa mengeksplorasi dengan pancaindranya secara langsung pada objek pembelajaran dan secara tidak langsung hal tersebut mampu menumbuhkan aspek-aspek perkembangan mereka. Bu Anik menganggap belajar langsung dari objek belajarnya membuat anak lebih senang dan memiliki pengalaman bermakna. Metode yang digunakan Bu Anik adalah outing (belajar di luar kelas) atau belajar bersama alam istilahnya. Waktu itu tema pembelajaran mengenai ternak, kebetulan di dekat sekolah Bu Anik ada peternakan kuda pacu. Maka Bu Anik memanfaatkan tempat tersebut sebagai tempat pembelajaran yang kebetulan relevan dengan tema pembelajarannya. Sebelum berangkat mereka bersepakat tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama perjalanan dan ketika berkunjung. Ketika sampai di peternakan kuda, Bu Anik dan murid-muridnya berkumpul melingkar dan melakukan ice breaking. Hal seperti itu memang sudah biasa mereka lakukan sebelum memulai kegiatan. Lalu Bu Anik segera mengeluarkan kertas dan menempelkannya di papan tulis. Bu Anik mengajak tanya jawab murid-muridnya seputar apa yang mereka ketahui tentang ternak. Ada yang menjawab “ingin mengenal macam-macam binatang ternak (dalam hal ini kuda)”, dan lebih mengejutkan lagi ada yang menjawab “biar sayang sama ciptaan Allah”. Dan jawaban-jawaban tersebut ditulis Bu Anik sebagai tujuan pembelajaran. Dilanjutkan pembuatan rubrik penilaian sederhana ala anak-anak usia dini. Kriteria beserta dimensinya ditentukan bersama oleh Bu Anik dan murid-muridnya. Mereka menggunakan kriteria keren banget, keren dan keren sedikit. Keren banget untuk mengukur capaian kriteria tertinggi, keren berada di tengah antara capaian tertinggi dan terendah. Sebagai contoh, jika anak tidak berani mendekati kuda masuk kriteria keren sedikit, takut tapi mau mendekat masuk kriteria keren dan berani mendekat dan tidak takut masuk kriteria keren banget. Rubrik penilaian ini yang dijadikan sebagai bentuk asesmen. Berikut gambarannya. Secara umum rubrik penilaian seperti gambar di atas juga bisa digunakan untuk mengukur capaian murid dalam menguasai pembelajaran. Baca juga Memahami Merdeka Belajar Di tempat pembelajaran, anak-anak seolah sudah mengerti akan apa yang akan mereka lakukan. Mereka bahkan tidak sungkan untuk bertanya langsung (wawancara) dengan bapak-bapak pengurus istal di sana. Bertanya apa saja yang ingin mereka ketahui tanpa takut dan sungkan. Setelah outing, mereka kembali berdiskusi tentang apa yang mereka dapatkan atau mereka pelajari di tempat outing. Mereka merefleksikannya bersama. Anak-anak sangat antusias bercerita tentang apa yang telah mereka dapatkan melalui pancaindranya. Anak mampu belajar mengenai warna, ukuran besar-kecil, juga mampu belajar dengan indra peraba (kasar atau halus) ketika mengelus kuda. Mereka bahkan juga mendapatkan kosakata baru. Beberapa murid berinisiatif memberi makan kuda dan bahkan mencabut rumput untuk diberikan pada anak kuda. Ada juga anak yang awalnya takut mendekati kuda, lama kelamaan meminta Bu Anik untuk menemaninya mendekati kuda dan akhirnya berani mengelus dan tersenyum dengan senang. Tidak ada paksaan dan tekanan bagi murid yang masih takut. Bu Anik merasa tugasnya sebagai fasilitator belajar murid jauh lebih asyik dan mudah, karena pembelajaran dengan metode ini dirasa lebih mengakomodasi kebutuhan anak yang berbeda-beda. Dari cerita Bu Anik Puspowati yang bersumber dari buku Merdeka Belajar di Ruang Kelas karya Najelaa Shihab dan Komunitas Guru Belajar di atas dapat disimpulkan bahwasanya merdeka belajar bisa diterapkan pada murid usia dini. Yang perlu dilakukan guru adalah paham konsep merdeka belajar dan berani menerapkannya dengan kreatifitas masing-masing. Yang menunda keberhasilan bukanlah kegagalan melainkan keraguan dan ketakutan untuk mencoba. Nah, bagaimana Bapak Ibu guru? Apakah cerita guru merdeka belajar di atas sudah menjawab keraguan Bapak Ibu? Sebenarnya masih banyak lho cerita guru merdeka belajar yang inspiratif dan solutif lainnya. Dan semuanya akan Bapak Ibu temukan di Temu Pendidik Nusantara VIII dengan tema Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar yang akan diselenggarakan pada 20-21 November 2021. Yuk buruan daftar dengan klik tpn.gurubelajar.org dan jangan lupa catat tanggalnya ya!

Uji Coba, Umpan Balik dan Media Inovatif yang Bermakna

Seandainya Anda adalah seorang yang suka masak dan ingin memasarkan masakan Anda. Apa yang Anda lalukan? Langsung menjualnya? Atau ada hal lain yang harus Anda lakukan sebelum Anda memasarkannya? Waktu itu di tahun 2013 saya bersama teman-teman berencana membuka warung makan kerang. Saya mencari resep di internet, bertanya kepada saudara yang ahli masak. Jadilah beberapa varian menu bumbu kerang : saus tiram, asam manis, sambal kacang, hingga saus padang. Setelah itu, untungnya saya tidak langsung menjualnya. Setelah beberapa kali gagal, lalu menyicipi sendiri bumbunya, merasa kurang, coba lagi dengan memadupadankan bahan bumbu lainnya lalu saya mengundang beberapa tester di antaranya teman-teman saya penikmat kuliner, saudara saya pengusaha kuliner, dsb. Dari aktivitas testing itulah saya mendapat banyak umpan balik dari yang datang.  Saya perbaiki lagi bumbunya, sesuai masukkan tester waktu itu. Kemudian saya berani membuka warung kerang. Banyak yang suka dan akhirnya menjadi langganan warung. Saya belajar banyak dari situ, proses testing sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas produk yang kita miliki. Bagaimana dengan media ajar? Media ajar yang dibuat guru untuk murid di kelas. Apakah media yang guru buat bisa langsung dipraktikkan di dalam kelas? Apakah media ajar yang dibuat bisa langsung dipasarkan? Sama halnya dengan kerang tadi, media ajar yang dibuat haruslah melalui tahapan testing (uji coba). Agar bisa mengetahui apakah media ajar yang kita buat sudah sesuai sasaran, sudah bermakna dan berguna untuk murid. Namun pertanyaannya adalah uji coba yang seperti apa? Jangan sampai sudah meluangkan waktu melakukan uji coba, namun tidak tepat sasaran. Bukannya mendapat umpan balik yang sesuai, malah membuat media ajar kita jauh dari harapan.  Kembali lagi ke atas? Coba saat saya akan membuka warung, tester saya bukanlah orang tepat, bumbu kerang saya akan menjadi amburadul. Oleh karena itu dalam tahapan Wardah Inspiring Teacher 2019 di Kota Surabaya, Kampus Guru CIkal mengajak guru-guru yang sudah membuat rancangan media dari tahap pra pelatihan melakukan uji coba dalam pelatihan “Validasi Karya melalui Uji Coba Bermakna” .  Di awal pelatihan guru-guru diajak untuk mulai merancang uji coba dari : Menentukan siapa yanng akan mengujicoba media yang dibuat. Mencari cara uji coba yang akan dilakukan. Membuat pertanyaan yang sesuai agar mendapat umpan balik yang diinginkan. Melakukan refleksi diri Menjadi guru berkarier Kegiatan pelatihan 2 wardah Inspiring Teacher ini bertempat di Hotel Ibis Style Jemur Sari Surabaya diikuti 33 guru dari berbagai jenjang dan daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dalam sesi ini, guru-guru diwajibkan membawa rancangan media yang ia buat dari sesi sebelumnya. Beragam media yang guru bawa, dari media papan permainan bernama Battlefield Trigonometri, yang dibuat untuk memudahkan belajar trigonometri. Kartu Walisongo, memudahkan orang mengetahui proses walisongo dalam menyebarkan Islam, Spin lembaga pemerintah, lingkaran bergerak untuk membantu murid belajar dan memahami fungsi lembaga-lembaga pemerintahm dan masih banyak lainnya. Dari sesi uji coba banyak yang terbantu, salah satunya adalah Ibu Tri Mutmainah seorang guru yang membuat video tutorial untuk memudahkan murid membuat baju. Bu Tri Mutmainah mendapat banyak feedback dari rekan-rekannya, seperti suara yag kurang jelas, yang menganggu pemahaman, video yang kurang ilustrasi, hingga gaya bahasa yang digunakan.  “Umpan balik yang diberikan membantu saya dalam memperbaiki videonya.” ujar Tri Mutmainah. Sejalan dengan Tri Mutmainah, guru Hibatun Wafiroh juga merasakan dampak dari tahapan uji coba.  “Pelatihan ini sangat penting bagi saya. Saya semakin tahu, bahwa setelah membuat media ada langkah yang sering kali tidak saya pikirkan yaitu uji coba. Dari uji coba tadi, saya mendapat banyak umpan balik. Insya Allah Setelah ini media yang saya buat bisa lebih baik.” ucap Guru Hibatun Wafiroh, salah satu peserta WIT dari Lamongan.

Menjadi Guru Merdeka Belajar di Sekolah Biasa Saja

View this post on Instagram A post shared by Kampus Guru Cikal (@kampusgurucikal) on Jun 28, 2019 at 2:04am PDT Mendengar nama sekolahnya saja aku udah malas membayangkan ada di dalamnya. Apalagi menjadi guru di sana, nggak pernah terpikirkan sama sekali. Sebuah sekolah yang dianggap sekolah buangan. Sekolah yang muridnya merupakan buangan dari sekolah lain yang tidak menerimanya.  Namanya SMA 1 Sragi, sekolah negeri yang terletak di pinggiran Kabupaten Pekalongan, 17 Km menuju Kota Pekalongan. Tapi apa dikata, waktu lulus kuliah hanya sekolah itu yang membuka lowongan pekerjaan guru Bahasa dan Sastra Indonesia. “Coba daftar di sana ya!” pinta bapakku. “Tapi kan SMA Sragi Pak..” jawabku Hampir seminggu aku mengurungkan diri dan memikirkan ajakan bapakku untuk mendaftar menjadi guru di sana. Akhirnya setelah menimbang-nimbang, aku pun mendaftarkan diri di sana. Dan mungkin sudah jalannya, aku diterima di sekolah itu menjadi guru. Mau seneng karena keterima sebagai guru, tapi ngajarnya di sekolah yang nggak favorit. Bakal ketemu murid-murid yang “bermasalah”. Ditambah soal fasilitas, pasti ketinggalan jauh sama sekolah-sekolah favorit. Aku bakalan susah menjadi guru kreatif. Akhirnya aku menjadi guru di sana. Di awal-awal mengajar memang selalu menyalahkan banyak hal, seperti : “Ah seandainya ngajar murid-murid kayak sekolah itu, pasti nggak bakal secapek ini.” “Ah seandainya fasilitasnya lengkap, aku pasti udah ini.. Pasti udah itu..” “Ah sedandainya di sekolah sana, guru-gurunya pasti bisa diajak berdiskusi..” Di tahun kedua kemudian saya mulai berefleksi, bagaimana agar aku bisa mengajar dengan baik tanpa menyalahkan faktor-faktor lain? Aku mulai belajar, mengamati murid. Lalu yang aku lakukan adalah menggali tentang siapa yang saya ajar saat ini, dengan melakukan proyek berbicara Kemudian membuat formulir identitas diri yang bisa di isi murid. Saya baca satu per satu bagaimana murid saya, ternyata memang dari latar belakang yang berbeda, ada seorang murid yang hanya tinggal dengan neneknya di rumah, murid yang setelah pulang sekolah bekerja sebagai pembuat batu bata, murid yang bekerja sebagai pencuci piring, murid yang orangtuanya cerai, dsb. Selain itu, banyak murid yang memiliki kebergaman kesukaan, dari yang suka nyanyi, main handphone, mengaji, menggambar, balap motor, mekanik, dsb. “Aku harus buat sesuatu yang membuat apa yang mereka miliki bisa berkembang.” Akhirnya aku mulai merancang pembelajaran dengan memperhatikkan hasil observasi yang aku lakukan untuk mengakomodir murid-murid tersebut. Aku membuat pembelajaran gurindam menjadi panggung rap murid. Aku membuat pembelajaran pantun seperti layaknya Indonesian Idol dengan memanfaatkan diksi-diksi hal-hal yang ada di sekitar murid. Aku mengajak membuat video reportase tentang apapun yang ada di sekitar mereka. Aku mengajak murid membuat video reka ulang adegan perjuangan seseorang yang ada di sekitar mereka. Aku mengajak murid membuat penelitian/karya yang bisa membantu diri mereka/lingkungan mereka. Walau SMA Sragi tidak banyak memiliki fasilitas untuk melaksanakan itu semua, yang aku lakukan adalah memanfaatkan fasilitas yang ada. “Menggunakan laptopku untuk mengganti ketidakadaan proyektor” “Menggunakan handphone untuk mengganti ketidakadaan kamera dan perekam suara” “Menggunakan alat-alat sekitar untuk mengganti ketiadaan alat musik” Akhirnya dari mendobrak keterbatasan itu, lahir banyak karya dari murid-murid dari sekolah yang katanya buangan itu. Karya-karya murid SMA 1 Sragi bisa dilihat di akun Ngeselin Cinema Bagus Satria: Saya rasa waktu membaca sudah cukup. Diskusi kali ini saya buka 2 termin ya… setiap termin saya tunjuk 2 penanya. Bila ingin bertanya, tolong sebut nama. Lilik Nur Indah Apa yang membuat Pak Rizky akhirnya berefleksi? Ada hal apa hingga Pak Rizky terdorong berefleksi hingga bisa menemukan mekanisme belajar yang memanusiakan murid?  Rizky Rahmat Hani Pertayaanya bagus! Hal yang belum saya tulis di atas. Pertama melihat murid yang belajar di sekolah. Aku melihat sekolah sekadar untuk formalitas dapat ijazah. Datang tepat waktu, belajar, dapat nilai, pulang. Namun apa yang dipelajari tidak bisa bantu murid. Aku sedih melihat murid seperti tidak tau tujuan apa yang mereka ingin dapatkan dari sekolah. Sekadar ikut orangtua?Sekadar ingin dapat rangking 1, 2 dapat piala? Kalau belajar membuat mereka senang, pasti nggak perlu ditakut-takuti dulu dengan hukuman. Kalau mereka benar-benar mau belajar, tidak perlu diming-imingi peringkat, hadiah dulu. Itulah yang buat saya refleksi. Kemudian mencoba menghubungkan dengan apa yang disuka murid untuk mejadi jembatan mereka belajar. Fauzan Fajar Bagaimana Pak Rizky mengajak murid membuat suatu karya? Dan bagaimana bapak mengakomodir murid-murid menjadi tertarik dengan bapak?  Rizky Rahmat Hani  Kuncinya,  Jangan memaksa. Saya percaya tiap murid itu unik dan punya peran. Dan yakinkan bahwa setiap peran itu unik. Observasi yang saya lakukan membantu mengetaui peran-peran itu. Saya tahu ada yang suka dance, fotografi, mengaji, suka nulis, suka akting. Dari situ saya mulai berpikir. Bagaimana agar bakat-bakat itu tersalurkan dengan mengakomodir semua.  Jadi bukan kebalikan. Kita punya ide apa, lalu mengajak murid. “Bukan Mau Guru, Tapi Mau Murid” Sayangnya kadang kita kebanyakan gitu. Pengen ini pengen itu, tapi tidak tau sebenarnya apa yang kita (guru) pengen itu, beneran murid pengen tidak? Diah Nurtiara Apakah selama ini ada tekanan sosial terkait keputusan Bapak yang tidak bekerja di sekolah favorit, baik dari segi prestise maupun gaji yang tidak seberapa? Bagaimana bapak menyikapinya? Rizky Rahmat Hani  Ada Bu. Dari teman satu sekolah yang nggak suka lihat saya bikin ini itu. Dari keluarga juga, yang katanya gajinya dikit tapi malah sibuk banget bikin ini itu. Karena menjalaninya dengan senang, malah itu semua membuahkan hasil.Mungkin gaji nggak tinggi. Namun di belakang itu ternyata banyak yang didapat. Bisa masuk Metro TV, Net Tv, jadi pembicara di beberapa pelatihan. Bisa mengembangkan karir jadi guru pelatih, guru videografer. Umi Azizah Kalau untuk anak sekolah dasar yang punya kelebihan hiperaktif bagaimana cara mengaturnya? Karena seringkali mengganggu aktivitas teman lainnya. Rizky Rahmat Hani  Wah ini murid saya banget.Masak pas saya ngajar di kelas ada yang lari. Ada yang main meja. Pokoknya tidak bisa diam. Seperti tadi diawal, akomodir itu semua mejadi aktivitas pembelajaran.Aku pernah bikin kelas Jelajah Sekolah buat belajar Karya Ilmiah. Murid jadi bisa jalan-jalan sambil belajar. Dwi Rudi Seringkali guru-guru di sekolah tidak favorit ogah-ogahan dan  malas berkreasi. Bagaimana supaya kita istiqomah di jalan mengajar yang benar?Bagaimanakah tanggapan dari guru-guru lainnya? Rizky Rahmat Hani  Setuju Pak. Untung saya ikut Komunitas Guru Belajar Pekalongan. Saat lagi down, malas. Ikut temu pendidik di KGB serasa di-charge. Muncul semangat baru. Sering juga kok saya down, beruntung banyak … Read more

Merdeka Belajar, Tak Sesempit Arti Bebas

Pada hari Senin, 27 Mei 2019 yang bertepatan dengan 22 Ramadhan 1440, Komunitas Guru Belajar Solo Raya mengadakan acara Temu Pendidik Sekolah yang bertempat di MIM PK Kateguhan Boyolali. Sesi terakhir dari rangkaian acara Komunitas Guru Belajar yang bekerja sama dengan Guru-guru MIM PK Kateguhan Boyolali adalah nobar. Nonton bareng cuplikan video Najelaa Shihab (Bu Elaa) yang menjelaskan terkait “Merdeka Belajar” dalam acara Temu Pendidik Nusantara pada tahun 2016.  Acara ini dipandu oleh Kak Una, selaku anggota dari KGB Solo Raya. Kemudian sebelum video diputar ada beberapa untaian kata dari Bu Heni selaku Penggerak dari KGB Solo Raya, beliau mengatakan bahwa adanya Komunitas Guru Belajar ini sebagai wadah untuk menampung segala ide praktek belajar, tempat berbagi materi cerdas mengajar kepada guru-guru dari berbagai media. Bu Elaa dalam video tersebut menjelaskan bahwa sebagian besar anak Indonesia itu dunianya hanya sebatas ruang kelasnya, mimpinya hanya sebatas tingginya tangan untuk menjawab pertanyaan gurunya, yang kita inginkan adalah anak-anak yang mempunyai aspirasi tinggi, memiliki cita-cita yang melampaui langit, menembus batas, melampaui dunianya dan ini hanya terjadi pada saat anak-anak memiliki kemerdekaan belajar, tapi kemerdekaan belajar murid-murid hanya akan terjadi pada saat kita semua sebagai pendidik juga sebetulnya memiliki kemerderkaan. Dan kita sangat percaya bahwa proses kemerdekaan itu sebetulnya bukan sesuatu yang diberikan tapi sesuatu yang kita gerakkan dan harus diperjuangkan. Sebagai pendidik yang merdeka belajar adalah harus memiliki komitmen, memiliki kemandirian dan selalu reflektif. Pada saat kita berbicara tentang komitmen kita sebetulnya berbicara tentang komitmen terhadap tujuan, tapi semua dari kita yang setiap hari bergerak pasti dia tahu betapa susahnya untuk bisa konsisten terhadap tujuan. Tantangan utamanya adalah membedakan cara dengan tujuan, kita terjebak pada tugas-tugasadministratif, ketentuan-ketentuan birokrasi sehingga ujian, akreditasi, seleksi, nilai, yang sebetulnya semua hanya cara kemudian menjadi tujuan dan menjadi prioritas utama. Selanjutnya terkait kemandirian, kemandirian juga sulit, karena sebetulnya pada saat ketika kita melihat proses kemandirian pada tingkatan-tingkatannya itu banyak sekali. seperti manipulasi, kesadaran, interaksi/dialog, masukan/konsultasi, kemitraaan, pemberdayaan, Kenyataan dilapangan dalam upaya pengembangan guru yang penuh dengan manipulasi, banyak ketentuan, sebagian dari kita mungkin berhenti pada tingkatan ketiga yaitu menjadi teman konsultasi atau memberikan masukan, tapi masih jauh perjalanannya untuk sampai berdaya dan memegang kendali atas proses belajar kita sendiri. Kemudian hal yang menjadi bagian dari pendidik yang merdeka belajar adalah kemampuan untuk refleksi, refleksi ini mudah dikatakan tapi sulit sekali dilakukan, sebagian dari kita cenderung menutup mata menolak untuk melihat cermin dengan seribu satu alasan. Kita bilang masyarakat belum faham, kita bilang anak-anak tidak mengerti, kita bilang orang tua akan menentang, padahal itu sebetulnya alasan dari ketakutan diri kita sendiri untuk menuju  perubahan. Kita itu sedang melawan miskonsepsi, melawan miskonsepsi tentang guru belajar. Banyak yang bilang guru itu mau belajar kalau ada insentifnya, guru mau belajar kalau mendapatkan sertifikat atau uang, seharusnyaadalah guru-guru yang belajar berdasarkan kebutuhan alamiah. Banyak juga yang bilang bahwa guru itu hanya bisa belajar dari yang ahli,  dari pakar pendidikan, di temu pendidik ini kita buktikan bahwa guru itupaling belajar efektif dari sesama guru. Guru itu tidak perlu figur sempurna yang serba ahli, guru itu perlu figur yang realistis, yang belajar, mempraktekan apa yang dia pelajari, yang belajar banyak sekali kegagalan sebelum akhirnya berhasil. Guru profesional itu sebenarnya guru yang adaptif, kita yang ketemu anak setiap hari pasti tahu betapa pentingnya peran guru yang adaptif, setiap tahun ajaran, setiap pekan bahkan setiap hari, setiap murid kita butuh hal yang berbeda dari kita, sehingga tahu kenapa menjadi sangat esensial. Kita melawan target-target belajar yang diburu-buru dan dipaksakan, guru belajar itu butuh waktu. Pendidikan itu tidak pernah kekurangan inovasi, banyak sekali inovasi yang terjadi setiap saat, yang selalu kita katakan adalah guru butuh waktu, butuh waktu untuk memahami inovasi, butuh waktu untuk memiliki inovasi, butuh waktu untuk membuktikan apakah inovasi itu sesuatu yang sesuai atau sesuatu yang tidak bisa dipakai. Kita juga membuktikan bahwa kompetensi itu bukan soal individu, perlu kita sadari bahwa guru adalah kunci dalam pendidikan itu tidak cukup, tapi guru yang merdeka belajar adalah kunci. Karena pada saat orang bicara guru adalah kunci, sebetulnya yang sering ada dalam bayangannya adalah ini pabrik, gurunya input sehingga dia menjadi kunci terhadap sebuah output yang dihasilkan murid-murid kita, tapi pada saat kita bicara guru yang merdeka belajar adalah kunci maka kita yakin bahwa kompetensi itu bukan kompetensi individual. Kompetensi itu adalah potensi individu yang didukung oleh ekosistem yang baik, tidak ada guru yang bisa belajar sendirian, tidak ada guru yang bisa kompeten sendirian dan tidak ada guru yang bisa merdeka belajar sendirian. Setelah nonton bareng Kak Una selaku pemandu acara ini, kemudian mengajak para guru untuk merefleksikan terkait video merdeka belajar yang dipadukan dengan pengalaman praktek dilapangan. Pada acara itu, yang pertama memberikan ulasan adalah Bu Erma, beliau mengatakan: “Pertama, kami ucapkan terima kasih sekali kepada komunitas guru belajar solo raya, yang telah berkenan dan membagi ilmunya di sekolah kami. Alhamdulillah sudah membuka mindset kami semua, bahwa belajar yang sesungguhnya adalah yang seperti itu, kita bisa merasakan merdeka, dalam keadaan yang tak terbatasi dengan kelas, dengan kurikulum dsb. Namun, di lapangan kita masih sering terjebak dengan hal itu. Sebenarnya, jika sesi ini bisa dilanjutkan lagi, kami ingin lebih fokus; misalnya inspirasi mengelola kelas, untuk memanajemen peserta didik dan menelurkan materi-materi dalam media-media yang menarik, karena bapak-ibu guru yang ada di kelas atau sekolah tingkat dasar ini sangat memerlukan sekali. Supaya guru dan murid bisa belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar. Kami harap pertemuan yang singkat ini, bisa berlanjut ketahapan selanjutnya secara off-air atau on-air, offline ataupun online.” Kemudian dilanjutkan oleh Bu Narni, beliau mengatakan: “Senang sekali, siang ini bisa menikmati salah satu figur tentang Kampus Guru Cikal. Beberapakali di sosial media saya pernah melihat ada teman yang ikut juga, cuma saya tidak terlalu mengikuti lebih mendalam. Ternyata, sebuah komunitas yang menarik, gimana dengan tajuknya ‘merdeka belajar’. Ketika melihat kondisi kelas yang sekarang, mulai murid masuk kelas duduk, ya sepertinya belum merdeka belajar ya Bu.. sama yang diungkapkan oleh Ibu Kepala tadi, maka tantangannya kalau ingin merdeka belajar itu, gimana caranya jika dilihat sendiri misalnya sekolah formal kecuali memang mereka yang home schooling atau mereka yang … Read more

Guru Berinovasi, Pendidikan Bergerak Pasti

PT Paragon Technology and Innovation (Wardah) bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal mengadakan pelatihan tahap 1 Wardah Inspiring Teacher Yogyakarta pada tanggal 24-25 Maret 2019. Pelatihan ini adalah bagian dari program CSR Wardah. Tujuan dari program ini adalah memberikan apresiasi dan  pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru. Ada 28 Guru yang mengikuti program ini. Peserta bukan hanya dari Yogyakarta saja, namun juga daerah sekitarnya, bahkan ada yang berasal dari Pekalongan yang jaraknya kurang lebih 200 KM dari Yogyakarta. Menjadi guru bukanlah hal yang mudah, butuh begitu banyak dedikasi dan usaha untuk selalu mengikuti perkembangan zaman. belum lagi sebagai guru harus mengenal dan memahami murid untuk dapat mengetahui hal-hal apa yang dapat membantu atau menjadi hambatan dalam proses belajar. Guru sebagai inovator adalah jawaban dari berbagai masalah yang dihadapi guru dalam mengajar. Dalam pelatihan ini guru dibagi berdasarkan jenjang kelas yang diajar, hal ini untuk memudahkan guru dalam berdiskusi dan mengembangkan ide inovasinya. Dalam pelatihan ini guru diajak untuk berempati dan memahami anak, karena inovasi yang berhasil dibangun atas dasar empati. Selanjutnya guru diajak untuk memahami tahap perkembangan anak serta menggali lebih dalam permasalahan yang dihadapi oleh murid. Hal ini bertujuan agar guru dapat menganalisa dan memilih permasalahan apa yang ingin diselesaikan. Dari pelatihan ini banyak guru yang merasa tercerahkan. bahwa sebenarnya guru bisa menyelesaikan masalah yang dihadapinya, asal guru mau selalu belajar dan terbuka terhadap perubahan. perubahan bukan untuk dihindari, karena perubahan adalah sesuatu yang pasti. jadi tugas utama kita sebagai seorang guru adalah belajar. Belajar memahami murid, belajar melihat tujuan besar, belajar mandiri terhadap cara untuk mencapai tujuan dan belajar untuk konsisten berefleksi.

7 Model Media Ajar Inovatif

Pernahkah Anda mengalami kesulitan saat menjadi fasilitator murid di kelas? Apalagi mengajar murid yang beragam karakteristiknya, mengajar di jam-jam siang, mengajar di jam pembelajaran setelah pembelajaran olahraga, dan banyak faktor lainnya. Faktor-faktor tersebut kadang membuat murid menjadi bosan, tidak antusias dalam belajar. Jika mengalami kondisi tersebut, apa yang akan Anda lakukan? Tetap menjalankan pembelajaran seperti biasanya, atau mencari cara membuat murid antusias belajar. Ada berbagai macam cara yang Anda bisa lakukan untuk mengatasi kesulitan Anda tersebut, salah satunya adalah menghadirkan media ajar. Saya analogikan dengan televisi, sebuah informasi disampaikan oleh jurnalis melalui media televisi, agar informasi tersebut diterima dan dipahami oleh penonton televisi. Sama halnya dengan televisi, media ajar merupakan perantara antara guru dan murid. Membantu guru menyampaikan suatu pesan/materi agar sampai dan dipahami  murid, Dalam tahapan Wardah Inspiring Teacher 2019 (WIT 2019), peserta yang notabennya adalah guru-guru dari berbagai daerah diajak berinovasi membuat media ajar. Dalam artikel sebelumnya peserta WIT 2019 sudah diajak melakukan tahapan design thinking dalam membuat media ajar. Guru-guru mencoba berempati, menemukan masalah murid dan mencari solusi untuk memecahkan masalah yang dihadapi murid. Melalui Blended Learning, pelatih dari Kampus Guru Cikal mengajak guru-guru yang sudah mengalami tahap sebelumnya, untuk mengenal media ajar yang nantinya akan dikembangkan oleh guru-guru tersebut, apa saja media ajar yang bisa dikembangkan guru untuk pembelajaran. Berikut adalah 7 Model Media Ajar Inovatif : 1. Poster Mungkin terbilang konvensional memasukkan poster sebagai media ajar di era sekarang, namun penggunaannya yang mudah dan murah membuat poster menjadi media yang bisa dipertimbangkan untuk digunakan. Visual dalam poster bisa membantu murid memahami sebuah informasi. Apalagi visual yang digunakan dekat dengan murid. Di dalam kelas poster bisa dimodifikasi bergantung kebutuhan belajar murid. Poster bisa digunakan untuk menyampaikan informasi, poster bisa digunakan untuk memantik diskusi/pertanyaan murid, poster juga bisa digunakan untuk merekam proses/hasil belajar murid. 2. Papan atau buku interaktif Mengajak murid terlibat dalam pembelajaran, salah satu cara agar murid menjadi tidak bosan dan menjadi antusias. Salah satunya dengan membuat media yang interaktif, melibatkan murid. Memungkinkan murid untuk berinteraksi dengan komponen di dalamnya. Misalnya guru menciptakan media poster, di mana dari poster tersebut murid bisa melipat bagian tertentu, mengganti bagian yang ada di poster, menambahkan bagian yang lain, dan sebagainya. Buku pun juga bisa dirancang untuk interaktif, guru membuat buku yang mana murid bisa menambahkan karakter, merasakan tekstur buku, mengisi bagian yang kosong dsb. 3. Alat peraga Masih ingat saat Anda masih sekolah dulu dan masuk laboratorium biologi. Ada torso yang guru biologi gunakan untuk menjelaskan mengenai bagian-bagian tubuh manusia. Torso membantu guru memperlihatkan bagian-bagian tubuh manusia. Alat peraga merupakan alat yang membantu guru memperagakan suatu pengetahuan. Alat peraga 3 dimensi, untuk menjelaskan bangun ruang, torso untuk menjelaskan bagian tubuh manusia, uang kertas, uang koin, dsb. 4. Lagu Saya pernah merasakan kebingungan saat akan menyampaikan pembelajaran gurindam waktu menjadi guru Bahasa Indonesia di salah satu sekolah negeri di Jawa Tengah. Bingung karena sastra melayu lama tidak menarik lagi bagi murid-murid zaman now. Murid-murid biasanya sekadar formalitas menerima materi tanpa tahu apa tujuan mereka mempelajari ini. Saya kemudian memutar otak dan mengamati murid-murid saya. Murid-murid zaman now ternyata unik ya, banyak hal yang mereka sukai salah satunya adalah menyanyikan lagu-lagu rap, yang memang saat itu sedang heboh, dan banyak bermunculan penyanyi-penyanyi rap seperti Young Lex, Awkarin, Saykoji, dsb. Cling, kemudian terbesitlah ide. Kalau dilihat struktur gurindam dan syllables lagu rap hampir sama. Maka kemudian yang saya lakukan adalah membuat lagu rap untuk saya gunakan menyampaikan pembelajaran gurindam. Dan mengajak murid berkarya membuat lagu rap dengan gurindam. Apa yang terjadi? Murid-murid antusias sekali dalam membuat lagu, kemudian menyanyikannya bersama. Tak sadar mereka sedang belajar gurindam. Jadi lagu bisa menjadi salah satu media ajar yang bisa digunakan guru untuk berkomunikasi dengan murid dalam menyampaikan materi ataupun menyampaikan pesan, atau bahkan untuk mengakrabkan diri dengan murid. 5. Video Era sekarang sudah lazim video digunakan untuk pembelajaran. Audiovisual membantu guru menyampaikan materi. Ada berbagai jenis video yang bisa guru buat, antara lain : video penjelasan, video pengetahuan, video dan film. Tentu saja dalam membuat itu semua diperhatikkan pula apa yang murid sukai, sehingga dalam menyaksikan video, murid pun merasa antusias dan dilibatkan. Murid dalam pembelajaran menggunakan video, bisa ditempatkan pada dua posisi. Posisi sebagai konsumen, dan posisi sebagai produsen. Sebagai konsumen, murid diajak menjadi penonton video yang kadang pula diajak interaksi saat atau setelah pemutaran video, baik berupa diskusi, melakukan sesuatu, dsb. Selain itu murid juga bisa menjadi produsen, berarti murid lah yang membuat video. Era saat ini memungkinkan penilaian pembelajaran berupa video. Memanfaatkan keterampilan-keterampilan yang dimiliki murid. Seperti video-video berikut ini : 6. Permainan Siapa sih yang nggak suka main? Apalagi murid-murid. Sehingga tepat sekali jika permainan digunakan sebagai salah satu media ajar untuk membantu murid belajar. Ada beberapa jenis permainan yang guru bisa kembangkan menjadi media, antara lain :a. Permainan dalam bentuk aktivitasPermainan yang mengajak murid bergerak, seperti gobak sodor, petak umpet, engklek, dst.b. Permainan kartu/papanPermainan yang memanfaatkan kartu atau papan dalam bermainnya, seperti monopoli, ular tangga, fundora, ludo, dsb.c. Permainan berbasis alatPermainan yang dalam melakukannya membutuhkan bantuan alat, seperti galasin, enggrang, balok warna-warni, lego, boneka, dst.d. Permainan digitalPermainan yang memanfaatkan perangkat digital dalam memainkannya, seperli Mobile Legend, Pokemnon Go, Wining Eleven, dsb. 7. Aplikasi berbasis teknologi Pernah memakai aplikasi Quizizz untuk penilaian murid? Atau memakai Duolingo untuk membantu murid belajar bahasa Inggris? Dua-duanya adalah aplikasi berbasis teknologi yang merupakan media ajar. Sangat kompleks memang untuk mengembangkan media yang satu ini. Selain harus melek teknologi juga pembuatannya membutuhkan waktu yang sangat lama. Guru Anggayudha Anandarasa yang menjadi pelatih menyampaikan materi tersebut melalui Google Classroom pada Senin17 Juni 2019. Inilah salah satu keuntungan menggunakan sistem blanded learning, yaitu peserta dari berbagai daerah dan berjumlah 100an lebih bisa mengakses materinya, ada yang langsung dibuka pada saat itu juga, ada pula yang baru bisa membukannya keesokan harinya karena kesibukkan. “ “Materi kemarin di WIT tentang design thinking sangat membantu banget . Sebelum mengikuti kelas WIT, saat mengajar bangga banget kalau bisa pakai media dan yakin pasti anak-anak akan lebih mudah memahami materi. Eh, ternyata panggang jauh dari api, anak-anak justru kurang begitu berminat … Read more