Membuat Video Pembelajaran dengan Toontastic

Kami belajar membuat video pembelajaran dengan aplikasi toontastic dalam rangkaian pesta kemerdekaan digelar oleh Komunitas Guru Belajar (KGB) Malang. Digelar mulai tanggal 20 Agustus 2020 hingga 31 Agustus 2020 nanti, kegiatan virtual ini mengajak guru-guru untuk menyemarakkan HUT RI ke 75 dengan aneka pembelajaran kelas merdeka belajar. Kelas merdeka belajar diawali dengan sesi kelas, “Merdeka Belajar Dengan Aplikasi Toontastic”. Melalui kelas ini, guru-guru diajak untuk belajar membuat video animasi pembelajaran dengan aplikasi toontastic. Tak dapat dipungkiri, semakin berkembangnya era digital menuntut kemerdekaan guru belajar untuk terus mencari cara untuk menyesuaikan diri dengan teknologi dalam menjawab kebutuhan belajar siswa. Kelas yang dilaksanakan pada, Kamis (20/08/2020) ini dinarasumberi langsung oleh Guru Dany Prima dari KGB Malang. Hadir juga Guru Bagus Satria yang menjadi pemandu jalannya kelas. Adanya ide ini berawal dari kegelisahan Guru Dany dalam merancang media pembelajaran yang menarik bagi siswa. Beliau mencari beberapa software animasi  untuk membuat konten pengajaran Bahasa Inggris hingga akhirnya Guru Dany berhasil menggunakan aplikasi toontastic dan membuktikan bahwa membuat media ajar animasi tak harus memiliki keahlian khusus pembuatan animasi. Aplikasi toontastic adalah aplikasi pembuat video berbasis animasi yang dipopulerkan oleh Google. Melalui aplikasi ini, pengguna dapat membuat video dengan mudah. Mulai dari pemilihan latar/background, karakter animasi, hingga pengisian suara dan efek suara yang ingin dihasilkan. Guru Dani juga mengatakan kemudahan dari aplikasi Toontastic ini,”Aplikasi ini tersedia untuk platform android dan IOS. Kerennya lagi, aplikasi ini gratis dan bisa dipakai secara offline.” Katanya. Terkait penggunaannya, aplikasi ini cukup mudah untuk digunakan oleh siapapun. “Pertama kita masuk aplikasi. Lalu, klik tanda panah. Kita dapat memilih scene yang akan diambil. Short, Classic, atau Science Story. Setelah dipilih, kita dapat memilih latar background yang ingin digunakan. Setelah itu, kita akan memilih berbagai karakter yang dapat kita gunakan. Jika ingin membuat karakter sendiri, pilih create own dan bisa digambar sendiri karakter yang akan digunakan. Untuk menambahkan suara, klik start lalu kita dapat merekam dengan suara kita sendiri. Secara otomatis aplikasi ini akan merekam dengan sendirinya. Jika suara telah terekam, bapak ibu dapat memilih apakah akan menggunakan efek suara apa tidak. Jika ya, maka suara yang sudah direkam volumenya harus lebih besar dari efek suara yang ingin ditambahkan. Terakhir klik extract untuk mengunduh video animasi yang sudah dibuat.” Jelas Guru Dani sembari memberi penayangan video yang disebar melalui WAG kelas Merdeka Belajar ini. Agar peserta tak bingung, Guru Bagus memberikan penugasan kepada peserta kelas kemerdekaan ini. Peserta diajak untuk langsung praktik membuat video animasi yang berisi perkenalan singkat masing-masing. Dengan durasi video maksimal tiga menit, masing-masing peserta mengumpulkan penugasan langsung melalui WAG. Bermacam-macam kreasi dibuat oleh para Guru KGB Malang.Guru Herlina membuat video perkenalan dengan latar dongeng, Guru Sakroni membuat video animasi dengan latar background kapal bajak laut, dan masih banyak lagi. Keseruan kelas semakin nampak ketika Guru Dani memberikan evaluasi kepada masing-masing peserta. “Video bu Herlina menarik. Pemberian suaranya pas dengan mimik dari karakter animasi. Menggunakan animasi di aplikasi Toontastic ini sangat mudah. Jika ingin menggerak-gerakkan karakter, cukup dengan menggeser-geserkan saja. Lalu, untuk menggerak-gerakkan bibir saat merekam suara karakter cukup dengan klik dan tahan karakter yang dituju.”Ujar Guru Dani. Di akhir sesi, Guru Bagus memberikan link dari program #BantuKuatkanGuru. Melalui program yang digagas oleh KGB Nasional ini, KGB Malang turut mengajak setiap orang yang ikhlas untuk memberi donasi yang akan nantinya akan didistribusikan oleh KGB Nasional kepada guru-guru dan sekolah yang terdampak pandemi Covid-19. Tak dapat dipungkiri, keberadaan guru honorer maupun sekolah banyak yang terdampak finansial akibat adanya pandemi Covid-19 memerlukan dukungan dari segenap pihak.

Menjadi Guru Merdeka Belajar di Sekolah Biasa Saja

View this post on Instagram A post shared by Kampus Guru Cikal (@kampusgurucikal) on Jun 28, 2019 at 2:04am PDT Mendengar nama sekolahnya saja aku udah malas membayangkan ada di dalamnya. Apalagi menjadi guru di sana, nggak pernah terpikirkan sama sekali. Sebuah sekolah yang dianggap sekolah buangan. Sekolah yang muridnya merupakan buangan dari sekolah lain yang tidak menerimanya.  Namanya SMA 1 Sragi, sekolah negeri yang terletak di pinggiran Kabupaten Pekalongan, 17 Km menuju Kota Pekalongan. Tapi apa dikata, waktu lulus kuliah hanya sekolah itu yang membuka lowongan pekerjaan guru Bahasa dan Sastra Indonesia. “Coba daftar di sana ya!” pinta bapakku. “Tapi kan SMA Sragi Pak..” jawabku Hampir seminggu aku mengurungkan diri dan memikirkan ajakan bapakku untuk mendaftar menjadi guru di sana. Akhirnya setelah menimbang-nimbang, aku pun mendaftarkan diri di sana. Dan mungkin sudah jalannya, aku diterima di sekolah itu menjadi guru. Mau seneng karena keterima sebagai guru, tapi ngajarnya di sekolah yang nggak favorit. Bakal ketemu murid-murid yang “bermasalah”. Ditambah soal fasilitas, pasti ketinggalan jauh sama sekolah-sekolah favorit. Aku bakalan susah menjadi guru kreatif. Akhirnya aku menjadi guru di sana. Di awal-awal mengajar memang selalu menyalahkan banyak hal, seperti : “Ah seandainya ngajar murid-murid kayak sekolah itu, pasti nggak bakal secapek ini.” “Ah seandainya fasilitasnya lengkap, aku pasti udah ini.. Pasti udah itu..” “Ah sedandainya di sekolah sana, guru-gurunya pasti bisa diajak berdiskusi..” Di tahun kedua kemudian saya mulai berefleksi, bagaimana agar aku bisa mengajar dengan baik tanpa menyalahkan faktor-faktor lain? Aku mulai belajar, mengamati murid. Lalu yang aku lakukan adalah menggali tentang siapa yang saya ajar saat ini, dengan melakukan proyek berbicara Kemudian membuat formulir identitas diri yang bisa di isi murid. Saya baca satu per satu bagaimana murid saya, ternyata memang dari latar belakang yang berbeda, ada seorang murid yang hanya tinggal dengan neneknya di rumah, murid yang setelah pulang sekolah bekerja sebagai pembuat batu bata, murid yang bekerja sebagai pencuci piring, murid yang orangtuanya cerai, dsb. Selain itu, banyak murid yang memiliki kebergaman kesukaan, dari yang suka nyanyi, main handphone, mengaji, menggambar, balap motor, mekanik, dsb. “Aku harus buat sesuatu yang membuat apa yang mereka miliki bisa berkembang.” Akhirnya aku mulai merancang pembelajaran dengan memperhatikkan hasil observasi yang aku lakukan untuk mengakomodir murid-murid tersebut. Aku membuat pembelajaran gurindam menjadi panggung rap murid. Aku membuat pembelajaran pantun seperti layaknya Indonesian Idol dengan memanfaatkan diksi-diksi hal-hal yang ada di sekitar murid. Aku mengajak membuat video reportase tentang apapun yang ada di sekitar mereka. Aku mengajak murid membuat video reka ulang adegan perjuangan seseorang yang ada di sekitar mereka. Aku mengajak murid membuat penelitian/karya yang bisa membantu diri mereka/lingkungan mereka. Walau SMA Sragi tidak banyak memiliki fasilitas untuk melaksanakan itu semua, yang aku lakukan adalah memanfaatkan fasilitas yang ada. “Menggunakan laptopku untuk mengganti ketidakadaan proyektor” “Menggunakan handphone untuk mengganti ketidakadaan kamera dan perekam suara” “Menggunakan alat-alat sekitar untuk mengganti ketiadaan alat musik” Akhirnya dari mendobrak keterbatasan itu, lahir banyak karya dari murid-murid dari sekolah yang katanya buangan itu. Karya-karya murid SMA 1 Sragi bisa dilihat di akun Ngeselin Cinema Bagus Satria: Saya rasa waktu membaca sudah cukup. Diskusi kali ini saya buka 2 termin ya… setiap termin saya tunjuk 2 penanya. Bila ingin bertanya, tolong sebut nama. Lilik Nur Indah Apa yang membuat Pak Rizky akhirnya berefleksi? Ada hal apa hingga Pak Rizky terdorong berefleksi hingga bisa menemukan mekanisme belajar yang memanusiakan murid?  Rizky Rahmat Hani Pertayaanya bagus! Hal yang belum saya tulis di atas. Pertama melihat murid yang belajar di sekolah. Aku melihat sekolah sekadar untuk formalitas dapat ijazah. Datang tepat waktu, belajar, dapat nilai, pulang. Namun apa yang dipelajari tidak bisa bantu murid. Aku sedih melihat murid seperti tidak tau tujuan apa yang mereka ingin dapatkan dari sekolah. Sekadar ikut orangtua?Sekadar ingin dapat rangking 1, 2 dapat piala? Kalau belajar membuat mereka senang, pasti nggak perlu ditakut-takuti dulu dengan hukuman. Kalau mereka benar-benar mau belajar, tidak perlu diming-imingi peringkat, hadiah dulu. Itulah yang buat saya refleksi. Kemudian mencoba menghubungkan dengan apa yang disuka murid untuk mejadi jembatan mereka belajar. Fauzan Fajar Bagaimana Pak Rizky mengajak murid membuat suatu karya? Dan bagaimana bapak mengakomodir murid-murid menjadi tertarik dengan bapak?  Rizky Rahmat Hani  Kuncinya,  Jangan memaksa. Saya percaya tiap murid itu unik dan punya peran. Dan yakinkan bahwa setiap peran itu unik. Observasi yang saya lakukan membantu mengetaui peran-peran itu. Saya tahu ada yang suka dance, fotografi, mengaji, suka nulis, suka akting. Dari situ saya mulai berpikir. Bagaimana agar bakat-bakat itu tersalurkan dengan mengakomodir semua.  Jadi bukan kebalikan. Kita punya ide apa, lalu mengajak murid. “Bukan Mau Guru, Tapi Mau Murid” Sayangnya kadang kita kebanyakan gitu. Pengen ini pengen itu, tapi tidak tau sebenarnya apa yang kita (guru) pengen itu, beneran murid pengen tidak? Diah Nurtiara Apakah selama ini ada tekanan sosial terkait keputusan Bapak yang tidak bekerja di sekolah favorit, baik dari segi prestise maupun gaji yang tidak seberapa? Bagaimana bapak menyikapinya? Rizky Rahmat Hani  Ada Bu. Dari teman satu sekolah yang nggak suka lihat saya bikin ini itu. Dari keluarga juga, yang katanya gajinya dikit tapi malah sibuk banget bikin ini itu. Karena menjalaninya dengan senang, malah itu semua membuahkan hasil.Mungkin gaji nggak tinggi. Namun di belakang itu ternyata banyak yang didapat. Bisa masuk Metro TV, Net Tv, jadi pembicara di beberapa pelatihan. Bisa mengembangkan karir jadi guru pelatih, guru videografer. Umi Azizah Kalau untuk anak sekolah dasar yang punya kelebihan hiperaktif bagaimana cara mengaturnya? Karena seringkali mengganggu aktivitas teman lainnya. Rizky Rahmat Hani  Wah ini murid saya banget.Masak pas saya ngajar di kelas ada yang lari. Ada yang main meja. Pokoknya tidak bisa diam. Seperti tadi diawal, akomodir itu semua mejadi aktivitas pembelajaran.Aku pernah bikin kelas Jelajah Sekolah buat belajar Karya Ilmiah. Murid jadi bisa jalan-jalan sambil belajar. Dwi Rudi Seringkali guru-guru di sekolah tidak favorit ogah-ogahan dan  malas berkreasi. Bagaimana supaya kita istiqomah di jalan mengajar yang benar?Bagaimanakah tanggapan dari guru-guru lainnya? Rizky Rahmat Hani  Setuju Pak. Untung saya ikut Komunitas Guru Belajar Pekalongan. Saat lagi down, malas. Ikut temu pendidik di KGB serasa di-charge. Muncul semangat baru. Sering juga kok saya down, beruntung banyak … Read more