Menatap Garis Cerah Karier Penyandang Disabilitas

Pertama kali mendengar kabar Angkie Yudistia menjadi staf khusus presiden, saya tertegun. Diam-diam memikirkan perjalanan yang sudah ditempuh dan dukungan yang menjadi penguat beliau sebagai penyandang tuli- untuk sampai di titik itu. Sesekali saya juga membaca berita mengenai peraturan mengenai pekerja disabilitas yang harus ditampung dalam suatu perusahaan, dan beberapa gerai usaha yang inklusif. Namun di sisi lain, selama dua tahun saya menjadi guru di Sekolah Luar Biasa, lebih banyak alumni yang ‘dirumahkan’ ketimbang hadir di tengah masyarakat.  Sebuah ironi, mengingat sekolah luar biasa pada hakikatnya memiliki peran yang sama dengan sekolah lainnya. Sekolah bertanggung jawab akan kualitas peserta didiknya agar kelak mampu mengambil perannya di masyarakat. Sekolah luar biasa bertujuan untuk membentuk pribadi berkebutuhan khusus yang mandiri.  Definisi mandiri tersebut tentunya beragam, disesuaikan dengan tingkat kemampuan, bisa jadi mandiri cukup dengan mampu beraktivitas keseharian. Namun tidak menutup kemungkinan penyandang disabilitas juga memiliki karier pendidikan maupun pekerjaan, bukan? Sayangnya, sampai saat ini angka partisipasi penyandang disabilitas di pendidikan tingkat tinggi maupun lapangan pekerjaan masih rendah.  Ada beberapa hal yang melatarbelakangi fakta tersebut, diantaranya rendahnya pemahaman karier pada murid berkebutuhan khusus, kurangnya kemampuan guru dalam menggali potensi murid, serta persepsi orangtua, keluarga, maupun masyarakat yang cenderung memanjakan, menyepelekan, dan pada akhirnya berujung pada perilaku diskriminatif. Syukurlah muncul satu garis cerah. Berangkat dari konsep pendidikan adalah tanggung jawab bersama, Kampus Guru Cikal berkolaborasi dengan Yayasan Nusantara telah menyelesaikan program NusantaRun 6. Sebanyak 201 pelari menempuh jarak 160 km dan berhasil mengumpulkan dana sebanyak 2,6 milyar yang ditujukan untuk membantu penyandang disabilitas di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Salah satu penyaluran dari dana tersebut adalah beasiswa untuk penyandang disabilitas. Alih-alih memberikan beasiswa secara langsung kepada murid berkebutuhan khusus, Kampus Guru Cikal memilih untuk mengedukasi guru sekolah luar biasa/inklusi, orang tua murid berkebutuhan khusus, dan murid berkebutuhan khusus terlebih dahulu. Pada tanggal 17 Desember 2019, diadakan Seminar Karier Murid Penyandang Disabilitas Program yang diadakan di SLB N Kota Tegal. Para orang tua murid berkebutuhan khusus dari beberapa sekolah luar biasa, dan perwakilan guru sekolah menengah diberikan pemahaman mengenai karier murid berkebutuhan khusus, utamanya pada aspek pendidikan tinggi.   Materi dibuka oleh Bapak Joko Yuwono (dosen Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Sebelas Maret) yang menjelaskan bahwasanya regulasi mengenai inklusivitas perguruan tinggi diawali sejak tahun 2014 (Permendikbud No.46 tahun 2014). Dilanjutkan dengan sarana prasarana bagi mahasiswa disabilitas, dan skema penerimaanya baik melalui jalur SNMPTN, SBMPTN, maupun seleksi mandiri. Beliau juga menegaskan para orangtua tidak perlu khawatir, karena di awal masa adaptasi, pihak kampus akan mendampingi baik melalui advokasi, organisasi, serta konseling. Pemateri kedua, Mas Misbahul Arifin merupakan seorang mahasiswa penyandang disabilitas di Pascasarjana UNS. Hambatan penglihatan yang dimilikinya tidak menghalangi ruang geraknya. Beliau aktif di berbagai organisasi, bahkan saat ini beliau sedang menjabat sebagai ketua Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia. Mas Misbah menggarisbawahi peran orang tua dan keluarganya dalam membentuk regulasi dirinya sejak kecil. Motivasi, nasehat, dan pemberian layanan yang tepat dari orangtua, diakuinya sangat membantu dalam menghadapi problem perundungan dan diskriminasi di lingkungan sekitarnya. Dilanjutkan oleh Ibu Sepholindarsih selaku perwakilan SLBN Kota Tegal yang telah mengikuti pelatihan dari Kampus Guru Cikal sebelumnya. Beliau memaparkan betapa pentingnya proses asesmen supaya potensi murid bisa dikembangkan dengan optimal, dan mengajak orangtua untuk berkolaborasi bersama untuk membersamai persiapan karier murid.  Pak Rizqy Rahmat Hani sebagai pemateri terakhir menayangkan video kolaborasi Kampus Guru Cikal dan Yayasan Nusantara untuk memberikan gambaran mengenai tujuan dan tahapan program NusantaRun 6. Beliau juga memaparkan agenda setelah seminar untuk orang tua, yaitu berupa pelatihan Murid Belajar. Sebanyak 120 murid berkebutuhan khusus akan mengikuti pelatihan keterampilan belajar untuk selanjutnya diseleksi menjadi 16 penerima beasiswa di beberapa kampus inklusi, diantaranya Universitas Sebelas Maret, Universitas Sunan Kalijaga, dan Universitas Negeri Yogyakarta. Pemaparan tersebut menumbuhkan keyakinan para orang tua bahwa anak-anak berkebutuhan khusus juga memiliki masa depan. Respon dari peserta seminar beragam. Beberapa orang tua mulai mempertimbangkan apakah setelah lulus, anak melanjutkan pendidikan tingkat tinggi atau bekerja, serta menanyakan fakultas yang sesuai. Adapun perwakilan guru sekolah luar biasa menyatakan pendapat perlu adanya penyesuaian bahkan modifikasi kurikulum SMALB, jika murid menginginkan untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas. Pak Joko dan Pak Rizqy menjawab kedua respon tersebut dengan kembali ke prinsip memahami murid melalui asesmen, sehingga intervensi menjadi tepat. Peserta dari SMA/SMK menyimak dengan antusias karena di Kota Tegal belum ada sekolah inklusi di tingkat menengah, namun tidak menutup kemungkinan mereka menerima murid berkebutuhan khusus di masa mendatang.  Program NusantaRun 6 menjadi pemantik optimisme dan juga pemahaman baru para guru, orang tua, dan murid berkebutuhan khusus. Setelah acara selesai, ada salah satu orang tua murid yang berpamitan kepada saya sambil mengatakan, “Sebelumnya saya tidak ada bayangan anak saya melanjutkan kuliah. Selama ini dia hanya bilang mau kerja di Jakarta. Nanti saya coba tawarkan ke dia, kebetulan suka masak, barangkali rejeki dia dan bisa jadi koki hebat.” Saya hanya bisa mengamini kalimat beliau. Optimisme beliau menular ke saya, berharap pula ini menjadi garis start dari perjalanan panjang individu penyandang disabilitas mendapatkan hak pendidikan dan penghidupan yang layak sebagaimana tertulis dalam Undang-Undang Dasar 1945.  Penulis : Meisayu Dwitami (Guru SLBN Tegal)

Murid Diam Karena Takut, Bukan Paham, Guru Perlu Bagaimana?

RodiyantoDi Temu Pendidik Daring #3 KGB Tegal kali ini, kita akan membahas tentang “Strategi Komunikasi : Dari Marah-marah Menjadi Komunikasi Hati”. Berikut profil beliau : Ratno Kumar Jaya. Profesi beliau sebagai guru SMK Muhammadiyah Pekalongan. Mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kegiatan lainnya, beliau aktif di Komunitas Guru Belajar Pemalang. Ratno Kumar JayaBapak ibu guru yang baik, izinkan saya berbagi cerita malam ini ya. Sebelum saya masuk ke cerita, ada gambar nih buat bapak dan ibu. Bisa berikan pendapatnya ya tentang gambar berikut. Apa yang bapak dan ibu pikirkan tentang gambar ini? Boleh kasih pendapatnya ya. Semua hampir sepakat bahwa nomor gambar nomor 1 adalah gambar yang baik. Terlihat jelas ketulusan hati dan cinta seorang guru dalam mendidik muridnya. Lain halnya dengan gambar yang nomor 2. Tampak ada ekspresi kemarahan dan ancaman yang diarahkan ke murid. Dampaknya apa? Tentu akan mempengaruhi keharmonisan hubungan antara guru dan murid dan kegiatan belajar pun akan berlangsung tidak efektif. Persis seperti cerita saya beberapa waktu lalu. Ceritanya begini bapak dan ibu: Berawal dari beberapa murid yang memancing kegaduhan saat ulangan remedial yang saya bagi menjadi dua kloter. Kloter pertama melakukan ulangan dan kloter kedua inilah yang di luar kelas tetapi mengganggu murid yang sedang ulangan remedial. Bukannya belajar mereka malah bermain sok sok peng (himpit-himpitan) di tempat duduk depan kelas sambil teriak-teriak dan tertawa lepas. Sudah saya ingatkan berkali-kali tetapi mereka tidak mempedulikan saya, sampai akhirnya emosi saya sampai pada titik puncaknya. Tak kurang dari sepuluh menit, saya minta semua murid masuk kelas. Saya lampiaskan kekesalan saya di kelas. Saya minta murid-murid tersebut untuk berdiri di depan kelas. Kemudian memintanya maju ke depan meja saya dan menyebutkan namanya satu-persatu, saat itu juga saya coret nama mereka di buku jurnal penilaian dan saya katakan ke mereka “Jangan harap kalian akan tuntas nilainya”. Peringatan ini sekaligus sebagai ultimatum untuk semua murid agar tidak seenaknya berperilaku kurang sopan dengan saya. Seketika kondisi kelas hening semua murid menundukkan kepalanya, sedangkan saya masih terus memarahi mereka hingga mengancam tidak akan naik kelas. Melihat reaksi mereka seperti itu, saya pikir dengan cara seperti ini (marah serta mengancam) akan membuat jera dan mereka tidak akan mengulanginya lagi, serta bisa bersikap lebih sopan dengan saya ataupun guru yang lain. Tergambar tidak bapak ibu galaknya saya dulu?  Ternyata cara yang saya lakukan untuk merespons emosi yang muncul dalam diri saya itu kurang tepat. Emosi marah yang muncul karena ketidaksukaan saya terhadap perilaku yang menyimpang dari murid tidak sepatutnya saya luapkan dengan ancaman-ancaman atau pun menantang murid yang bermasalah. Tidak semua murid bisa terima dan takut dengan ancaman. Kecenderungan meluapkan emosi dengan perkataan-perkataan yang menyakitkan atau menakuti-nakuti murid dilatarbelakangi kurang pahamnya saya bagaimana untuk mengelola emosi. Saat ada hal yang bertentangan saya bersikap reaktif tanpa pikir panjang yang kemudian justru membuat masalah baru. Seperti saat saya memarahi dua anak yang mengulang di kelas sebelas, bisa jadi kedua anak ini sudah terbiasa diancam oleh guru-guru yang lain dan sudah merasakan konsekuensi langsungnya yakni tinggal di kelas sebelas. Alhasil, saat saya nasehati seperti sudah tidak mempan malah mereka menyanyikan cuplikan lagu Iwan Fals “Masalah moral, masalah akhlak biar kami cari sendiri. Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu peraturan yang sehat yang kami mau”. Langsung saya minta mereka keluar kelas tanpa pikir panjang. Ternyata keputusan saya ini berimbas terhadap kondisi kelas yang akan saya ajar. Atmosfer kelas jadi sunyi, tetapi bukan karena tenang melainkan lebih ke rasa takut yang menyelimuti kondisi kelas sehingga proses pengajaran tidak berlangsung efektif. Dari refleksi tersebut saya mencoba mempraktikkan apa yang saya peroleh dari kelas parenting mengenai pengelolaan emosi dan strategi komunikasi untuk menjalin hubungan yang baik dengan murid meskipun dalam kondisi marah. Jika dulu saya lebih reaksional terhadap sikap murid di kelas, sekarang saya bisa lebih tenang untuk merespons hal tersebut. Adapun caranya tiap kali saya marah saya memberi jeda untuk bereaksi dengan duduk dan diam lebih dahulu ketika murid di kelas sudah tenang saya baru mulai berbicara. Hal ini cukup efektif karena saya merasa lebih bisa mengontrol emosi marah saat mendapat perlakuan kurang mengenakkan di kelas. Selain itu, strategi komunikasi yang awalnya saya gunakan dengan mengancam atau menakuti-nakuti murid, saya ubah dengan menerapkan strategi komunikasi dengan i-message. I-message adalah strategi komunikasi yang mengedepankan kemampuan mengungkapkan kebutuhan diri tanpa menyerang. Atau bisa dibilang i-message itu strategi komunikasi dengan cara mengungkapkan perasaan yang dirasakan agar lawan bicara bisa lebih berempati. Di dalam i-message ada empat bagian utama yakni: saya merasa (…), saat (…), saya ingin (…), dan karena (…). Misalnya, saat murid tidak mengerjakan PR yang saya berikan, jika biasanya saya marah dan menghukumnya berlari keliling lapangan, saya coba menggunakan strategi komunikasi i-message seperti ini. “Sebetulnya Bapak merasa marah, saat kalian tidak mengerjakan PR. Bapak ingin kalian menjadi pribadi yang bertanggung jawab, karena kita harus bertanggung jawab saat diberikan amanah dan PR ini juga tak lain tujuannya untuk belajar kalian di rumah”. Saat saya mengucapkan kalimat ini murid di kelas bisa lebih menerima dibanding saat saya marah-marah kemudian menghukum mereka. Saat itu juga saya minta mereka mengerjakan PRnya dan setelah selesai baru kami bahas. Memang awalnya saya canggung menggunakan strategi komunikasi tersebut karena tidak mudah bagi saya sebagai guru laki-laki. Saya yang biasanya lebih mudah menghukum harus mengungkapkan perasaan yang dirasakan ke murid. Selain itu, strategi komunikasi ini butuh konsistensi karena tidak semua kelas bisa menerimanya terlebih dengan karakter saya yang dulu lebih suka mengancam atau marah-marah. Silakan bisa dibaca terlebih dulu ya bapak dan ibu. Setelah selesai bisa langsung sharing aja ya?  SESI TANYA JAWAB Dini SofiPak Kumar, apakah setiap masalah cocok menggunakan imessage? Apakah peraturan yang telah dibuat bersama berupa punishment itu baik? Ratno Kumar JayaCocok atau tidaknya, patrikan terlebih dulu dalam hati kita bahwa apa yang akan kita lakukan ini hal baik dan insyaAllah berhasil. Karena menurut saya, i-message ini sangat efektif untuk komunikasi dengan murid karena dalam proses ini kita juga mengajari mereka untuk berempati. Tantangan sebenarnya bukan di i-message tapi di konsistensi dan kesabaran kita untuk terus menumbuhkan sikap positif terhadap murid. Kalau kami lebih suka menyebut konsekuensi bukan punishment/ hukuman karena dua hal tersebut beda. Jika … Read more

Administrasi Menumpuk, Mengajar Saja Sudah Jadi Sibuk, Guru Masih Harus Belajar?

Erna Sugiarti: Narasumber kita malam ini adalah Rizqy Rahmat Hani, knowledge coordinator Kampus Guru Cikal, akrab dipanggil dengan Pak Rizqy. Beliau 7 tahun menjadi guru di sekolah menengah atas.  Selain guru, beliau juga seorang youtuber yang mengembangkan saluran tentang pendidikan dan pengajaran, serta saluran apresiasi bakat murid. Bisa teman-teman ikuti di YouTube Channel: Rizqy Rahmat. Ide-ide kreatif pembelajaran beliau juga mengantarkan beliau menjadi narasumber di berbagai acara, termasuk diundang di TV lokal maupun nasional.  Rizky Rahmat Hani: Sebelum saya sharing praktik baik belajar. Saya mau tanya, bagaimana dulu pertama kali masuk kelas?  Erna Sugiarti: Deg-degan  Teguh Prasetyo: Pertama kali, modal masih terbatas. Bawaan masih kaku, dan kurang memahami karakter siswa yang ternyata heterogen  Wayan : Grogi jadi ngomong nya belepotan  Rizky Rahmat Hani: Baiklah cukup yaaah manteman…  Aku mau berbagi cerita dulu..  Aku masih ingat benar kapan pertama kali masuk kelas dan menjadi guru, Senin 11 Juli 2010. Saat yang sangat mendebarkan bagiku tentunya. Apalagi mengajar murid menengah atas. Namun kucoba untuk menenangkan diri. Sehari sebelum hari H sudah kupersiapkan semua, apa yang harus disampaikan, diawali dengan apa. Sudah kutonton juga film-film pendidikan seperti Laskar Pelangi dan juga Great Teacher Onizuka. Mencoba memposisikan diri menjadi bu Muslimah dan pak Onizuka.  “Bisalah pasti!” aku mencoba menenangkan diri.  Dengan kemeja keki dan sepatu pantofel, aku menuju kelas XI IPA 3. Kelas pertama yang bakal aku masukki. Sebelum menuju kelas itu, di perjalanan banyak murid kelas lain yang melihatku dengan pandangan aneh.  “Halo Pak guru, baru ya di SMA Sragi?” tanya salah satu murid  “Iya..” jawabku  Pandangan anak-anak itu membuatku lebih gemetaran, keringat pun mulai bercucuran. Kelas yang dituju pun sudah di depan mata.  “Selamat pagi..” sapaku membuka kelas.  “Pagi Pak” yang jawab salamku hanya segelintir anak.  Beberapa anak lain ada yang sedang main dan ngobrol di belakang kelas. Buyar sudah apa yang sudah aku rencanakan untuk pembukaan.  Kelas menjadi riuh, beberapa murid mengobrol seenaknya, tertawa keras. Aku tak dihargai.  Apa yang aku bayangkan asyiknya menjadi guru seperti Onizuka ataupun guru Muslimah dalam mengatur murid ternyata tidak. Di awal membuka kelas saja aku sudah tak dihargai. Apa yang harus aku lakukan?  “Kesanku terhadap guru dihancurkan oleh siswa-siswa yang tak menganggapku ada di depan kelas”  Sepulang mengajar aku benar-benar frustasi. Ternyata sulit menjadi guru. Mengondisikan siswa saja aku tak bisa. Hari-hari penuh derita pun aku jalani saja. Masuk kelas – menyampaikan materi – dicuekin murid – memberikan tugas – pulang. Begitu seterusnya, tiap hari, tiap bulan.  Sampai akhirnya ada seorang muridku yang nyeletuk “Bisa ngajar nggak Pak!”. Kata-katanya walau terdiri atas beberapa kata saja, menukik dan menancap dalam hatiku. Ia membuatku sakit.  Salah satu yang membuatku kesulitan dalam mengajar adalah keterampilanku dalam berbicara. Aku sendiri adalah orang yang introvert dan jarang berbicara di depan umum. Padahal profesi guru mengharuskanku memiliki keterampilan itu.  Ada satu kisah yang menunjukkan bahwa berbicara adalah kelemahanku. Saat kuliah semester 5 ada pembelajaran bernama retorika, pembelajaran yang melatih untuk berbicara. Mungkin salah satu mata kuliah dasar menjadi guru. Bahwa guru memang dituntut menguasai itu. Namun karena dasarnya kurang berminat, maka tidak pernah memperhatikan saat kuliah berlangsung.  Permasalahan timbul saat ujian praktik berbicara di depan kelas dilihat oleh dosen dan mahasiswa lain. Aku tak bisa berbicara apa-apa, waktu 5 menit untuk aku bicara hanya terucap “Assalamualaikum…” selebihnya adalah diam, dan mencoba merangkai kata namun selalu gagal. Alhasil, nilaiku D di mata kuliah retorika, itu artinya harus mengulang lagi tahun depan.  Dan itu terjadi lagi saat aku menjadi guru. Kadang ada rasa menyesal, mengapa dulu waktu kuliah tidak benar-benar belajar. Ah rasanya ingin kembali ke masa-masa itu. Ingin benar-benar memperhatikan dosen, membaca buku tentang berbicara. Aku tak mau lagi terlihat tidak profesional di depan anak-anak. Gagap bahkan terlihat tidak bisa menguasai kelas.  “Apa bisa ya kemampuan berbicara itu ditingkatkan?” tanyaku pada salah satu teman.  “Bisa kok, coba deh Kamu tonton film The King Speech”  Film The King’s Speech bercerita tentang Duke of York (raja George VI) yang menggantikan ayahnya raja George V. Sebagai pimpinan tertinggi ia harus sering berbicara dengan rakyat atau bawahannya baik dengan pertemuan langsung ataupun pidato.Masalahnya adalah ketika berbicara ia gagap, gugup dan selalu mandi keringat.  Menonton adegan awal saja sudah membuatku tersenyum. Seperti layaknya diriku yang mengajar di depan kelas. Melihat hal tersebut banyak cara ia lakukan agar ia bisa terampil berbicara, mengundang dokter hingga psikiater profesional. Berbagai metode dari dokter dan psikiater tersebut tak mempan. Ia masih gagap. Sampai adegan ini aku mengiyakan apa yang aku pikirkan sebelumnya “Nah bener kan, nggak bisa keterampilan berbicara itu ditumbuhkan. Bawaan lahir”.  Film terus berlanjut.  Akhirnya istrinya membawa Lionel Logue seorang psikiater yang sebenarnya tidak memiliki sertifikat psikiater. Lionel sebenarnya adalah seorang aktor yang sudah tak laku, ia membuka praktek terapi bicara untuk tentara Inggris pada perang dunia I. Dengan terapi yang Lionel berikan secara berkala, Duck of York mampu mengatasi kegagapan dalam berbicara.  Aku mulai menyadari bahwa kemampuan berbicara bisa ditumbuhkan, yaitu dengan latihan- latihan. Selanjutnya aku merancang program latihan berbicara yaitu menggunakan media Facebook dan Youtube. Dua media tersebut aku gunakan untuk mengunggah video-video latihan berbicaraku. Jadi konsep videonya adalah sebagai pembicara aku akan berbicara apa saja selama 10 menit di depan kamera, tanpa dipotong, tanpa jeda, nge-roll berbicara selama 10 menit. Di akhir aku akan melihat bagaimana caraku berbicara, dari keefektifan kalimat, pemilihan diksi hingga gayaku berbicara. Kemudian aku unggah ke facebook dan youtube untuk mendapat umpan balik dari penonton videoku.  Umpan balik itulah yang menjadi catatanku dan akan aku gunakan sebagai acuan untuk perbaikan caraku berbicara di video episode berikutnya.Berkat acara itu pulalah aku mulai sedikit bisa berbicara, tidak gagap dan gemetar lagi kalau di depan kelas.  Dari cerita ini, point utamanya adalah belajar. Belajar yang bukan sekadar belajar. Kenapa bukan sekadar belajar? Karena belajar selama ini juga banyak salah kaprahnya. Di antaranya adalah :  1. Guru cuma belajar kalau dia dapat insentif, motivasinya eksternal.  https://www.facebook.com/watch/?v=1689909134642453  2. Guru cuman bisa belajar dari pakar atau ahli  https://www.facebook.com/watch/?v=1690357227930977  3. Guru cuma belajar cara/resep https://www.facebook.com/KampusGuruCikal/videos/1691003331199700/ 4. Guru belajar tidak butuh waktu lama  https://www.facebook.com/watch/?v=1691985334434833  5. Guru bisa belajar sendirian  https://www.facebook.com/KampusGuruCikal/videos/vl.139859363198931/1691985334434833/ Di Kampus Guru Cikal, kami menyebutnya untuk melawan miskonsepsi … Read more