Murid Diam Karena Takut, Bukan Paham, Guru Perlu Bagaimana?

RodiyantoDi Temu Pendidik Daring #3 KGB Tegal kali ini, kita akan membahas tentang “Strategi Komunikasi : Dari Marah-marah Menjadi Komunikasi Hati”. Berikut profil beliau : Ratno Kumar Jaya. Profesi beliau sebagai guru SMK Muhammadiyah Pekalongan. Mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kegiatan lainnya, beliau aktif di Komunitas Guru Belajar Pemalang. Ratno Kumar JayaBapak ibu guru yang baik, izinkan saya berbagi cerita malam ini ya. Sebelum saya masuk ke cerita, ada gambar nih buat bapak dan ibu. Bisa berikan pendapatnya ya tentang gambar berikut. Apa yang bapak dan ibu pikirkan tentang gambar ini? Boleh kasih pendapatnya ya. Semua hampir sepakat bahwa nomor gambar nomor 1 adalah gambar yang baik. Terlihat jelas ketulusan hati dan cinta seorang guru dalam mendidik muridnya. Lain halnya dengan gambar yang nomor 2. Tampak ada ekspresi kemarahan dan ancaman yang diarahkan ke murid. Dampaknya apa? Tentu akan mempengaruhi keharmonisan hubungan antara guru dan murid dan kegiatan belajar pun akan berlangsung tidak efektif. Persis seperti cerita saya beberapa waktu lalu. Ceritanya begini bapak dan ibu: Berawal dari beberapa murid yang memancing kegaduhan saat ulangan remedial yang saya bagi menjadi dua kloter. Kloter pertama melakukan ulangan dan kloter kedua inilah yang di luar kelas tetapi mengganggu murid yang sedang ulangan remedial. Bukannya belajar mereka malah bermain sok sok peng (himpit-himpitan) di tempat duduk depan kelas sambil teriak-teriak dan tertawa lepas. Sudah saya ingatkan berkali-kali tetapi mereka tidak mempedulikan saya, sampai akhirnya emosi saya sampai pada titik puncaknya. Tak kurang dari sepuluh menit, saya minta semua murid masuk kelas. Saya lampiaskan kekesalan saya di kelas. Saya minta murid-murid tersebut untuk berdiri di depan kelas. Kemudian memintanya maju ke depan meja saya dan menyebutkan namanya satu-persatu, saat itu juga saya coret nama mereka di buku jurnal penilaian dan saya katakan ke mereka “Jangan harap kalian akan tuntas nilainya”. Peringatan ini sekaligus sebagai ultimatum untuk semua murid agar tidak seenaknya berperilaku kurang sopan dengan saya. Seketika kondisi kelas hening semua murid menundukkan kepalanya, sedangkan saya masih terus memarahi mereka hingga mengancam tidak akan naik kelas. Melihat reaksi mereka seperti itu, saya pikir dengan cara seperti ini (marah serta mengancam) akan membuat jera dan mereka tidak akan mengulanginya lagi, serta bisa bersikap lebih sopan dengan saya ataupun guru yang lain. Tergambar tidak bapak ibu galaknya saya dulu?  Ternyata cara yang saya lakukan untuk merespons emosi yang muncul dalam diri saya itu kurang tepat. Emosi marah yang muncul karena ketidaksukaan saya terhadap perilaku yang menyimpang dari murid tidak sepatutnya saya luapkan dengan ancaman-ancaman atau pun menantang murid yang bermasalah. Tidak semua murid bisa terima dan takut dengan ancaman. Kecenderungan meluapkan emosi dengan perkataan-perkataan yang menyakitkan atau menakuti-nakuti murid dilatarbelakangi kurang pahamnya saya bagaimana untuk mengelola emosi. Saat ada hal yang bertentangan saya bersikap reaktif tanpa pikir panjang yang kemudian justru membuat masalah baru. Seperti saat saya memarahi dua anak yang mengulang di kelas sebelas, bisa jadi kedua anak ini sudah terbiasa diancam oleh guru-guru yang lain dan sudah merasakan konsekuensi langsungnya yakni tinggal di kelas sebelas. Alhasil, saat saya nasehati seperti sudah tidak mempan malah mereka menyanyikan cuplikan lagu Iwan Fals “Masalah moral, masalah akhlak biar kami cari sendiri. Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu peraturan yang sehat yang kami mau”. Langsung saya minta mereka keluar kelas tanpa pikir panjang. Ternyata keputusan saya ini berimbas terhadap kondisi kelas yang akan saya ajar. Atmosfer kelas jadi sunyi, tetapi bukan karena tenang melainkan lebih ke rasa takut yang menyelimuti kondisi kelas sehingga proses pengajaran tidak berlangsung efektif. Dari refleksi tersebut saya mencoba mempraktikkan apa yang saya peroleh dari kelas parenting mengenai pengelolaan emosi dan strategi komunikasi untuk menjalin hubungan yang baik dengan murid meskipun dalam kondisi marah. Jika dulu saya lebih reaksional terhadap sikap murid di kelas, sekarang saya bisa lebih tenang untuk merespons hal tersebut. Adapun caranya tiap kali saya marah saya memberi jeda untuk bereaksi dengan duduk dan diam lebih dahulu ketika murid di kelas sudah tenang saya baru mulai berbicara. Hal ini cukup efektif karena saya merasa lebih bisa mengontrol emosi marah saat mendapat perlakuan kurang mengenakkan di kelas. Selain itu, strategi komunikasi yang awalnya saya gunakan dengan mengancam atau menakuti-nakuti murid, saya ubah dengan menerapkan strategi komunikasi dengan i-message. I-message adalah strategi komunikasi yang mengedepankan kemampuan mengungkapkan kebutuhan diri tanpa menyerang. Atau bisa dibilang i-message itu strategi komunikasi dengan cara mengungkapkan perasaan yang dirasakan agar lawan bicara bisa lebih berempati. Di dalam i-message ada empat bagian utama yakni: saya merasa (…), saat (…), saya ingin (…), dan karena (…). Misalnya, saat murid tidak mengerjakan PR yang saya berikan, jika biasanya saya marah dan menghukumnya berlari keliling lapangan, saya coba menggunakan strategi komunikasi i-message seperti ini. “Sebetulnya Bapak merasa marah, saat kalian tidak mengerjakan PR. Bapak ingin kalian menjadi pribadi yang bertanggung jawab, karena kita harus bertanggung jawab saat diberikan amanah dan PR ini juga tak lain tujuannya untuk belajar kalian di rumah”. Saat saya mengucapkan kalimat ini murid di kelas bisa lebih menerima dibanding saat saya marah-marah kemudian menghukum mereka. Saat itu juga saya minta mereka mengerjakan PRnya dan setelah selesai baru kami bahas. Memang awalnya saya canggung menggunakan strategi komunikasi tersebut karena tidak mudah bagi saya sebagai guru laki-laki. Saya yang biasanya lebih mudah menghukum harus mengungkapkan perasaan yang dirasakan ke murid. Selain itu, strategi komunikasi ini butuh konsistensi karena tidak semua kelas bisa menerimanya terlebih dengan karakter saya yang dulu lebih suka mengancam atau marah-marah. Silakan bisa dibaca terlebih dulu ya bapak dan ibu. Setelah selesai bisa langsung sharing aja ya?  SESI TANYA JAWAB Dini SofiPak Kumar, apakah setiap masalah cocok menggunakan imessage? Apakah peraturan yang telah dibuat bersama berupa punishment itu baik? Ratno Kumar JayaCocok atau tidaknya, patrikan terlebih dulu dalam hati kita bahwa apa yang akan kita lakukan ini hal baik dan insyaAllah berhasil. Karena menurut saya, i-message ini sangat efektif untuk komunikasi dengan murid karena dalam proses ini kita juga mengajari mereka untuk berempati. Tantangan sebenarnya bukan di i-message tapi di konsistensi dan kesabaran kita untuk terus menumbuhkan sikap positif terhadap murid. Kalau kami lebih suka menyebut konsekuensi bukan punishment/ hukuman karena dua hal tersebut beda. Jika … Read more

Merdeka Belajar, Mengubah Keresahan Menjadi Keberdayaan

Guru adalah figur perubahan pendidikan yang penuh cita-cita. Tapi di ruang kelas, seringkali keresahan-keresahan membuat guru seolah tidak berdaya. Beberapa pekan sebelumnya, ruang percakapan di Grup Whatsapp Guru Belajar Tegal dipenuhi obrolan anggota grup tentang keresahan-keresahan yang paling sering ditemui guru di ruang kelas. Ada yang menemui keresahan yang berbeda, tak sedikit juga ternyata menemui keresahan yang serupa. Lalu, bagaimana guru bisa mengubah keresahan menjadi keberdayaan? Minggu (15/9), keresahan-keresahan tersebutlah yang menggerakkan guru-guru berkumpul dalam agenda Temu Pendidik Daerah kedua Komunitas Guru Belajar Tegal yang bertajuk “Ngobrolin Guru Belajar”. Agenda yang berlokasi di Spasi Kreative Space ini dihadiri oleh guru-guru dari kabupaten dan kota Tegal. Jenjang dan jalur pendidikannya pun beragam, mulai dari guru SD, MI, SMA, guru bimbel, hingga guru dari kelas kreatif. Miskonsepsi Guru Belajar Agenda berlangsung dari pukul 09.00 wib yang diawali dengan menonton bersama video Bu Najelaa Shihab tentang “Merdeka Belajar” yang dipandu oleh Bu Erna dari SDIT Alam Bina Insani. Seusai menyimak pemaparan “Merdeka Belajar” dari video, peserta antusias mendiskusikan refleksi bersama tentang miskonsepsi guru belajar yang sering ditemui atau dirasakan sendiri oleh peserta. Yang paling banyak direfleksikan peserta adalah bahwa selama ini guru dianggap perlu belajar hanya karena insentif eksternal (sertifikat, uang, dan sebagainya), padahal guru belajar adalah sebuah kebutuhan alamiah guru. Seperti agenda belajar di Temu Pendidik Daerah ini yang berangkat dari keresahan di ruang kelas masing-masing guru yang ingin dicari solusinya dengan belajar lewat saling berbagi praktik baik.  Guru Berdaya lewat Berkolaborasi Agenda dilanjutkan dengan sharing pengalaman Bu Dini dari Spasi Kreative Space tentang kolaborasi yang pernah dilakukan dengan Komunitas Guru Belajar. Menurut bu Dini, guru-guru yang merdeka belajar seringkali punya mindset yang antimainstream dalam pendidikan. Ketika tahun 2018 lalu muncul sebuah ide tentang kegiatan yang memberi dampak baik dengan mengajak anak-anak menjelajahi tempat-tempat ibadah di kota Solo bertajuk “Piknik Anak Hebat”. Ide tersebut ternyata disambut baik oleh guru-guru belajar untuk berkolaborasi bersama sehingga akhirnya sukses terselenggara.  Kolaborasi menjadi kunci yang penting dalam pendidikan. Kolaborasi guru dengan sesama guru maupun dengan komunitas atau pihak lain menjadikan pembelajaran untuk murid semakin kaya, tidak terbatas hanya di ruang kelas. Peserta antusias menanggapi bahkan mengungkapkan pendapat agar kegiatan kolaborasi guru dengan berbagai pihak juga harapannya bisa diselenggarakan di Tegal. Kekuatan Refleksi Salah satu sesi yang tidak kalah seru adalah saat sesi refleksi sebelum agenda diakhiri. Masing-masing peserta menyampaikan refleksi dari sesi-sesi agenda belajar. Bu Eva, peserta yang merupakan seorang guru bimbel mengungkapkan bahwa baru saat itu benar-benar merasa diakui sebagai guru. Beliau menyadari bahwa ternyata walau beliau hanya guru bimbel, ada tantangan yang sama, keresahan yang sama saat mendampingi murid. Pertemuan guru dengan berbeda bidang dan jenjang semacam ini juga bisa jadi sarana menyamakan persepsi, saling terbuka, saling melengkapi, dan bersinergi. Refleksi lain dari Bu Nurlina yang berasal dari kecamatan yang cukup jauh dari lokasi Temu Pendidik. Meski harus menempuh kurang lebih 1,5 jam untuk berangkat ke lokasi, tidak menyurutkan semangat beliau untuk belajar. “Saya ingin lebih memahami permasalahan dalam kelas dan belajar cara mengatasinya. Saya sangat senang dapat wawasan baru juga, kegiatan seperti ini sangat bermanfaat.” Ungkap Bu Nurlina di sesi refleksi. “Tidak ada guru yang bisa belajar sendirian. Tidak ada guru yang bisa kompeten sendirian. Dan tidak ada guru yang bisa merdeka belajar sendirian.” Begitulah kutipan kalimat bu Najelaa Shihab dalam video “Merdeka Belajar”. Maka agar bisa mengubah keresahan menjadi keberdayaan, mana jalan yang seharusnya dipilih guru: terus sibuk seorang diri mengeluhkan keadaan atau merdeka belajar bersama rekan seperjuangan?

Administrasi Menumpuk, Mengajar Saja Sudah Jadi Sibuk, Guru Masih Harus Belajar?

Erna Sugiarti: Narasumber kita malam ini adalah Rizqy Rahmat Hani, knowledge coordinator Kampus Guru Cikal, akrab dipanggil dengan Pak Rizqy. Beliau 7 tahun menjadi guru di sekolah menengah atas.  Selain guru, beliau juga seorang youtuber yang mengembangkan saluran tentang pendidikan dan pengajaran, serta saluran apresiasi bakat murid. Bisa teman-teman ikuti di YouTube Channel: Rizqy Rahmat. Ide-ide kreatif pembelajaran beliau juga mengantarkan beliau menjadi narasumber di berbagai acara, termasuk diundang di TV lokal maupun nasional.  Rizky Rahmat Hani: Sebelum saya sharing praktik baik belajar. Saya mau tanya, bagaimana dulu pertama kali masuk kelas?  Erna Sugiarti: Deg-degan  Teguh Prasetyo: Pertama kali, modal masih terbatas. Bawaan masih kaku, dan kurang memahami karakter siswa yang ternyata heterogen  Wayan : Grogi jadi ngomong nya belepotan  Rizky Rahmat Hani: Baiklah cukup yaaah manteman…  Aku mau berbagi cerita dulu..  Aku masih ingat benar kapan pertama kali masuk kelas dan menjadi guru, Senin 11 Juli 2010. Saat yang sangat mendebarkan bagiku tentunya. Apalagi mengajar murid menengah atas. Namun kucoba untuk menenangkan diri. Sehari sebelum hari H sudah kupersiapkan semua, apa yang harus disampaikan, diawali dengan apa. Sudah kutonton juga film-film pendidikan seperti Laskar Pelangi dan juga Great Teacher Onizuka. Mencoba memposisikan diri menjadi bu Muslimah dan pak Onizuka.  “Bisalah pasti!” aku mencoba menenangkan diri.  Dengan kemeja keki dan sepatu pantofel, aku menuju kelas XI IPA 3. Kelas pertama yang bakal aku masukki. Sebelum menuju kelas itu, di perjalanan banyak murid kelas lain yang melihatku dengan pandangan aneh.  “Halo Pak guru, baru ya di SMA Sragi?” tanya salah satu murid  “Iya..” jawabku  Pandangan anak-anak itu membuatku lebih gemetaran, keringat pun mulai bercucuran. Kelas yang dituju pun sudah di depan mata.  “Selamat pagi..” sapaku membuka kelas.  “Pagi Pak” yang jawab salamku hanya segelintir anak.  Beberapa anak lain ada yang sedang main dan ngobrol di belakang kelas. Buyar sudah apa yang sudah aku rencanakan untuk pembukaan.  Kelas menjadi riuh, beberapa murid mengobrol seenaknya, tertawa keras. Aku tak dihargai.  Apa yang aku bayangkan asyiknya menjadi guru seperti Onizuka ataupun guru Muslimah dalam mengatur murid ternyata tidak. Di awal membuka kelas saja aku sudah tak dihargai. Apa yang harus aku lakukan?  “Kesanku terhadap guru dihancurkan oleh siswa-siswa yang tak menganggapku ada di depan kelas”  Sepulang mengajar aku benar-benar frustasi. Ternyata sulit menjadi guru. Mengondisikan siswa saja aku tak bisa. Hari-hari penuh derita pun aku jalani saja. Masuk kelas – menyampaikan materi – dicuekin murid – memberikan tugas – pulang. Begitu seterusnya, tiap hari, tiap bulan.  Sampai akhirnya ada seorang muridku yang nyeletuk “Bisa ngajar nggak Pak!”. Kata-katanya walau terdiri atas beberapa kata saja, menukik dan menancap dalam hatiku. Ia membuatku sakit.  Salah satu yang membuatku kesulitan dalam mengajar adalah keterampilanku dalam berbicara. Aku sendiri adalah orang yang introvert dan jarang berbicara di depan umum. Padahal profesi guru mengharuskanku memiliki keterampilan itu.  Ada satu kisah yang menunjukkan bahwa berbicara adalah kelemahanku. Saat kuliah semester 5 ada pembelajaran bernama retorika, pembelajaran yang melatih untuk berbicara. Mungkin salah satu mata kuliah dasar menjadi guru. Bahwa guru memang dituntut menguasai itu. Namun karena dasarnya kurang berminat, maka tidak pernah memperhatikan saat kuliah berlangsung.  Permasalahan timbul saat ujian praktik berbicara di depan kelas dilihat oleh dosen dan mahasiswa lain. Aku tak bisa berbicara apa-apa, waktu 5 menit untuk aku bicara hanya terucap “Assalamualaikum…” selebihnya adalah diam, dan mencoba merangkai kata namun selalu gagal. Alhasil, nilaiku D di mata kuliah retorika, itu artinya harus mengulang lagi tahun depan.  Dan itu terjadi lagi saat aku menjadi guru. Kadang ada rasa menyesal, mengapa dulu waktu kuliah tidak benar-benar belajar. Ah rasanya ingin kembali ke masa-masa itu. Ingin benar-benar memperhatikan dosen, membaca buku tentang berbicara. Aku tak mau lagi terlihat tidak profesional di depan anak-anak. Gagap bahkan terlihat tidak bisa menguasai kelas.  “Apa bisa ya kemampuan berbicara itu ditingkatkan?” tanyaku pada salah satu teman.  “Bisa kok, coba deh Kamu tonton film The King Speech”  Film The King’s Speech bercerita tentang Duke of York (raja George VI) yang menggantikan ayahnya raja George V. Sebagai pimpinan tertinggi ia harus sering berbicara dengan rakyat atau bawahannya baik dengan pertemuan langsung ataupun pidato.Masalahnya adalah ketika berbicara ia gagap, gugup dan selalu mandi keringat.  Menonton adegan awal saja sudah membuatku tersenyum. Seperti layaknya diriku yang mengajar di depan kelas. Melihat hal tersebut banyak cara ia lakukan agar ia bisa terampil berbicara, mengundang dokter hingga psikiater profesional. Berbagai metode dari dokter dan psikiater tersebut tak mempan. Ia masih gagap. Sampai adegan ini aku mengiyakan apa yang aku pikirkan sebelumnya “Nah bener kan, nggak bisa keterampilan berbicara itu ditumbuhkan. Bawaan lahir”.  Film terus berlanjut.  Akhirnya istrinya membawa Lionel Logue seorang psikiater yang sebenarnya tidak memiliki sertifikat psikiater. Lionel sebenarnya adalah seorang aktor yang sudah tak laku, ia membuka praktek terapi bicara untuk tentara Inggris pada perang dunia I. Dengan terapi yang Lionel berikan secara berkala, Duck of York mampu mengatasi kegagapan dalam berbicara.  Aku mulai menyadari bahwa kemampuan berbicara bisa ditumbuhkan, yaitu dengan latihan- latihan. Selanjutnya aku merancang program latihan berbicara yaitu menggunakan media Facebook dan Youtube. Dua media tersebut aku gunakan untuk mengunggah video-video latihan berbicaraku. Jadi konsep videonya adalah sebagai pembicara aku akan berbicara apa saja selama 10 menit di depan kamera, tanpa dipotong, tanpa jeda, nge-roll berbicara selama 10 menit. Di akhir aku akan melihat bagaimana caraku berbicara, dari keefektifan kalimat, pemilihan diksi hingga gayaku berbicara. Kemudian aku unggah ke facebook dan youtube untuk mendapat umpan balik dari penonton videoku.  Umpan balik itulah yang menjadi catatanku dan akan aku gunakan sebagai acuan untuk perbaikan caraku berbicara di video episode berikutnya.Berkat acara itu pulalah aku mulai sedikit bisa berbicara, tidak gagap dan gemetar lagi kalau di depan kelas.  Dari cerita ini, point utamanya adalah belajar. Belajar yang bukan sekadar belajar. Kenapa bukan sekadar belajar? Karena belajar selama ini juga banyak salah kaprahnya. Di antaranya adalah :  1. Guru cuma belajar kalau dia dapat insentif, motivasinya eksternal.  https://www.facebook.com/watch/?v=1689909134642453  2. Guru cuman bisa belajar dari pakar atau ahli  https://www.facebook.com/watch/?v=1690357227930977  3. Guru cuma belajar cara/resep https://www.facebook.com/KampusGuruCikal/videos/1691003331199700/ 4. Guru belajar tidak butuh waktu lama  https://www.facebook.com/watch/?v=1691985334434833  5. Guru bisa belajar sendirian  https://www.facebook.com/KampusGuruCikal/videos/vl.139859363198931/1691985334434833/ Di Kampus Guru Cikal, kami menyebutnya untuk melawan miskonsepsi … Read more

Disiplin Tak Dipatuhi, Dihukum Malah Mengulangi, Solusinya?

Nurlina : narasumber pada malam ini adalah Nur Hamidah sebagai guru di SDI Ma’mur Ni’mah. Selain itu, seorang Ibu yang diamanahi lima buah hati dua diantaranya kembar special needs. Beliau sangat senang membaca dan menulis.  Motto “Sesungguhnya mengajar itu belajar”  Nur Hamidah: Pernahkan bapak/ ibu mengalami hal semacam ini? Ragil: Hampir setiap hari M. Z Nisa: Pernah, setiap hari setiap pagi  Nur Hamidah: Hampir setiap hari kan? sama berarti, lalu bagaimana sikap kita? langkah apa saja yang kita ambil? apakah langsung memberikan hukuman tanpa klarifikasi terlebih dahulu? anak/ peserta didik langsung di strap?  Amikamizar35: klarifikasi dulu, cari tahu pangkal masalah M. Z Nisa: Pendekatan personal untuk melakukan klarifikasi Nur Hamidah: Dulu saya mengalami bahkan saat ini pun masih saya terus belajar dan memperbanyak referensi membaca tentang disiplin positif tanpa hukuman. Dulu ketika anak tidak mengerjakan PR, tidak piket saya suruh lari mengitari halaman sekolah bahkan pakai denda akan tetapi tidak juga berubah bahkan anak- anak lebih suka memberikan uangnya di kaleng kecil daripada menyapu dan terus mengulanginya. Dan efek hukuman tidak membuat jera malah mengulanginya lagi. Erna: Malah lebih memilih melakukan hukumannya, yah Bu? Nur Hamidah: Iyess, dan yang pertama adalah manajemen emosi kita ketika memulai mengajar harus stabil terlebih dahulu, karena setiap peserta didik itu berbeda- beda, karena “Emotions are at the heart of teaching”. Jadi seorang pendidik itu harus selesai dengan dirinya sendiri terlebih dahulu.  Amikamizar35: betul Bu, kalau belum selesai dengan dirinya pasti nanti emosi menghadapi siswanya Nur Hamidah: Emosi itu sangat mendukung kita dalam mengajar dan kepribadian kita siap tidak untuk menjadi guru karena kalau belum siap yang menjadi guru. Lalu apa solusinya? karena seringnya anak- anak tidak menaati aturan? Praktek yang saya lakukan, yaitu : Pendekatan kepada kedua orangtuanya. Karena ada grup WA untuk memudahkan berkomunikasi. Saya bertanya kepada para Ibu apakah di rumahnya ada jadwal sederhana keseharian anak- anaknya? ketika mereka menjawab “ada” maka saya suruh menuliskan jadwalnya dan dibawa ke sekolah, selanjutnya di cek satu persatu. Saya pilih 5 terbaik jadwal harian anak, dari 5 terbaik itu saya share ke ibu- ibu yang lain. Tidak selesai sampai disitu saya cek lagi untuk ditempel di rumahnya dan harus dipraktekkan  Menulis di sticky notes nama anak. Semua saya suruh temple di rumah dan diingat hari apa tugas piketnya. Setelah mereka selesai piket saya suruh menuliskan namanya lalu ditempel di dinding sekolah. Dan ternyata sangat senang tanpa disuruh pun dilaksanakannya.  Menerapkan kedisiplinan bukan hukuman. Hukuman dibangun atas ketidakpercayaan guru atau orangtua bahwa anak dapat mengembangkan perilakunya dan dapat bertanggung jawab akan tindakan yang dipilihnya. Sementara disiplin dibangun atas relasi kepercayaan guru atau orangtua pada anak. Hukuman bersifat jangka pendek, spontan, negatif, dan pasif. Sementara disiplin bersifat jangka panjang, positif, dan aktif. Jika antara disiplin dan hukuman ada perbedaannya. Hukuman memberikan alternatif lain pada anak, memberikan instruksi larangan pada anak, mengakui dan menghargai upaya anak dan tingkah laku mereka. Baik menanggapi perilaku negatif anak dengan cara yang kurang baik dalam mentaati peraturan. TERMIN DISKUSI M. Z. Nisa: Saya sering menemui anak- anak yang sering melanggar aturan di sekolah. Misalnya, bermain melebihi area sekolah dan dilakukan setiap pagi. Klarifikasi secara personal sudah dilakukan. Dan kami refleksi. Tapi pagi hari masih saja keluar batasan. Akhirnya saya mencoba menerapkan kesepakatan kelas bersama anak. Tapi bagaimana itu juga agar bisa berdampak ke anak? karena sampai detik ini kesepakatan yang dibuat bersama anak masih dilanggar. Nur Hamidah: Kasus seperti ini hampir terjadi di semua sekolah. Di tempat mengajarku juga seperti itu. Kita terapkan prinsip yang keempat, yaitu dialogis. Kita ajak anak- anak berdialog dan lagi- lagi dengan tidak nada emosi dan saya pun masih terus belajar dengan manajemen emosi. Karena di depan siswa kita harus menampilkan emosi positif sebab kita tidak mau kan dilabeli seorang guru yang galak atau jutek.  M. Z Nisa: dialogis ini kira- kira ada tahapannya? juga terkait penggunaan bahasa yang bisa dipahami siswa kelas 1 – 3 sekolah dasar? Nur Hamidah: dialogis ini untuk semua umur dan tentunya penggunaan bahasa yang dipahami anak SD. Karena relasi hangat antara guru dan murid menumbuhkan kebahagian kepada kedua belah pihak. Ada istilah “Ibu bahagia anak juga bahagia” dan ini berlaku pula untuk kita sebagai guru. Makanya kita harus selesai dengan diri kita dulu. Danu: Bagaimana upaya supaya anak-anak menyadari akan ketidak disiplinannya? Padahal ruang diskusi dan peringatan sudah dilakukan.  Nur Hamidah: Untuk bapak Danu sebelumnya saya bertanya peserta didiknya kelas berapa? Kalau untuk anak- anak kelas 1- 2 SD untuk berdiskusi masih harus didampingi karena anak seumuran mereka bisa duduk anteng (tenang), menurut paling lama sekitar 15 menit saja, setelahnya akan ribut lagi. Kalaupun untuk umur 8 tahun ke atas berdiskusi masih ramai berarti ada yang kurang motoriknya.  Danu: peserta didiknya tsanawiyah dan aliyah Nur Hamidah: kalau untuk tsanawiyah dan aliyah ada empat prinsip konsekuensi yang diberikan, yaitu berhubungan (related), menghormati anak (respect), logis (reasonable), dialogis. Konsekuensi logis menekankan kekuatan otoritas personal mengekspresikan realitas kehidupan, saling menghargai. Misalnya dengan menggunakan kata atau kalimat yang baik tanpa ada rasa emosi. Contoh Ahmad tolong selesaikan diskusinya dengan tenang yah, waktu sudah hampir menunjukkan jam istirahat.  Ami Bagaimana mengatasi anak yang sudah tahu bahwa itu salah tapi tetap melakukannya. Dan untuk menutupi kesalahannya dilakukan dengan berbohong dan mengajak beberapa temannya untuk meyakinkan guru bahwa dia tidak bersalah.  Nur Hamidah: Untuk mengatasi anak-anak yang seperti ini kita harus mengetahui latar  belakang keluarganya terlebih dahulu, adakan pendekatan jangan langsung memvonis karena kemungkinan besar anak yang suka berperilaku tidak baik sebenarnya minta untuk diperhatikan karena di lingkungan keluarganya terabaikan, kurang perhatian dari kedua orangtuanya. Jadi berat tugas fasilitator zaman milenial tetapi tetap semangat kita memang dituntut jadi fasilitator dan konselor. Ami: sebenarnya saya sudah berbicara dengan Bundanya, perilaku ini dimulai sejak kelas 1 dan berlanjut sampai sekarang. Saya menyarankan ke orangtuanya agar ada kesamaan kebijakan antara Ayah dan Ibu ketika mengevaluasi sikap anak. Sikap anak terhadap gurunya cukup kurang sopan, terkadang bahasa yang digunakan kurang bagus, egonya cukup tinggi. Sampai saat ini saya belum bisa memberi nasihat secara langsung, jika si anak berbuat tidak baik kepada temannya karena setiap saya mulai memanggilnya dia sudah pasang barrier … Read more