Murid Diam Karena Takut, Bukan Paham, Guru Perlu Bagaimana?
RodiyantoDi Temu Pendidik Daring #3 KGB Tegal kali ini, kita akan membahas tentang “Strategi Komunikasi : Dari Marah-marah Menjadi Komunikasi Hati”. Berikut profil beliau : Ratno Kumar Jaya. Profesi beliau sebagai guru SMK Muhammadiyah Pekalongan. Mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kegiatan lainnya, beliau aktif di Komunitas Guru Belajar Pemalang. Ratno Kumar JayaBapak ibu guru yang baik, izinkan saya berbagi cerita malam ini ya. Sebelum saya masuk ke cerita, ada gambar nih buat bapak dan ibu. Bisa berikan pendapatnya ya tentang gambar berikut. Apa yang bapak dan ibu pikirkan tentang gambar ini? Boleh kasih pendapatnya ya. Semua hampir sepakat bahwa nomor gambar nomor 1 adalah gambar yang baik. Terlihat jelas ketulusan hati dan cinta seorang guru dalam mendidik muridnya. Lain halnya dengan gambar yang nomor 2. Tampak ada ekspresi kemarahan dan ancaman yang diarahkan ke murid. Dampaknya apa? Tentu akan mempengaruhi keharmonisan hubungan antara guru dan murid dan kegiatan belajar pun akan berlangsung tidak efektif. Persis seperti cerita saya beberapa waktu lalu. Ceritanya begini bapak dan ibu: Berawal dari beberapa murid yang memancing kegaduhan saat ulangan remedial yang saya bagi menjadi dua kloter. Kloter pertama melakukan ulangan dan kloter kedua inilah yang di luar kelas tetapi mengganggu murid yang sedang ulangan remedial. Bukannya belajar mereka malah bermain sok sok peng (himpit-himpitan) di tempat duduk depan kelas sambil teriak-teriak dan tertawa lepas. Sudah saya ingatkan berkali-kali tetapi mereka tidak mempedulikan saya, sampai akhirnya emosi saya sampai pada titik puncaknya. Tak kurang dari sepuluh menit, saya minta semua murid masuk kelas. Saya lampiaskan kekesalan saya di kelas. Saya minta murid-murid tersebut untuk berdiri di depan kelas. Kemudian memintanya maju ke depan meja saya dan menyebutkan namanya satu-persatu, saat itu juga saya coret nama mereka di buku jurnal penilaian dan saya katakan ke mereka “Jangan harap kalian akan tuntas nilainya”. Peringatan ini sekaligus sebagai ultimatum untuk semua murid agar tidak seenaknya berperilaku kurang sopan dengan saya. Seketika kondisi kelas hening semua murid menundukkan kepalanya, sedangkan saya masih terus memarahi mereka hingga mengancam tidak akan naik kelas. Melihat reaksi mereka seperti itu, saya pikir dengan cara seperti ini (marah serta mengancam) akan membuat jera dan mereka tidak akan mengulanginya lagi, serta bisa bersikap lebih sopan dengan saya ataupun guru yang lain. Tergambar tidak bapak ibu galaknya saya dulu? Ternyata cara yang saya lakukan untuk merespons emosi yang muncul dalam diri saya itu kurang tepat. Emosi marah yang muncul karena ketidaksukaan saya terhadap perilaku yang menyimpang dari murid tidak sepatutnya saya luapkan dengan ancaman-ancaman atau pun menantang murid yang bermasalah. Tidak semua murid bisa terima dan takut dengan ancaman. Kecenderungan meluapkan emosi dengan perkataan-perkataan yang menyakitkan atau menakuti-nakuti murid dilatarbelakangi kurang pahamnya saya bagaimana untuk mengelola emosi. Saat ada hal yang bertentangan saya bersikap reaktif tanpa pikir panjang yang kemudian justru membuat masalah baru. Seperti saat saya memarahi dua anak yang mengulang di kelas sebelas, bisa jadi kedua anak ini sudah terbiasa diancam oleh guru-guru yang lain dan sudah merasakan konsekuensi langsungnya yakni tinggal di kelas sebelas. Alhasil, saat saya nasehati seperti sudah tidak mempan malah mereka menyanyikan cuplikan lagu Iwan Fals “Masalah moral, masalah akhlak biar kami cari sendiri. Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu peraturan yang sehat yang kami mau”. Langsung saya minta mereka keluar kelas tanpa pikir panjang. Ternyata keputusan saya ini berimbas terhadap kondisi kelas yang akan saya ajar. Atmosfer kelas jadi sunyi, tetapi bukan karena tenang melainkan lebih ke rasa takut yang menyelimuti kondisi kelas sehingga proses pengajaran tidak berlangsung efektif. Dari refleksi tersebut saya mencoba mempraktikkan apa yang saya peroleh dari kelas parenting mengenai pengelolaan emosi dan strategi komunikasi untuk menjalin hubungan yang baik dengan murid meskipun dalam kondisi marah. Jika dulu saya lebih reaksional terhadap sikap murid di kelas, sekarang saya bisa lebih tenang untuk merespons hal tersebut. Adapun caranya tiap kali saya marah saya memberi jeda untuk bereaksi dengan duduk dan diam lebih dahulu ketika murid di kelas sudah tenang saya baru mulai berbicara. Hal ini cukup efektif karena saya merasa lebih bisa mengontrol emosi marah saat mendapat perlakuan kurang mengenakkan di kelas. Selain itu, strategi komunikasi yang awalnya saya gunakan dengan mengancam atau menakuti-nakuti murid, saya ubah dengan menerapkan strategi komunikasi dengan i-message. I-message adalah strategi komunikasi yang mengedepankan kemampuan mengungkapkan kebutuhan diri tanpa menyerang. Atau bisa dibilang i-message itu strategi komunikasi dengan cara mengungkapkan perasaan yang dirasakan agar lawan bicara bisa lebih berempati. Di dalam i-message ada empat bagian utama yakni: saya merasa (…), saat (…), saya ingin (…), dan karena (…). Misalnya, saat murid tidak mengerjakan PR yang saya berikan, jika biasanya saya marah dan menghukumnya berlari keliling lapangan, saya coba menggunakan strategi komunikasi i-message seperti ini. “Sebetulnya Bapak merasa marah, saat kalian tidak mengerjakan PR. Bapak ingin kalian menjadi pribadi yang bertanggung jawab, karena kita harus bertanggung jawab saat diberikan amanah dan PR ini juga tak lain tujuannya untuk belajar kalian di rumah”. Saat saya mengucapkan kalimat ini murid di kelas bisa lebih menerima dibanding saat saya marah-marah kemudian menghukum mereka. Saat itu juga saya minta mereka mengerjakan PRnya dan setelah selesai baru kami bahas. Memang awalnya saya canggung menggunakan strategi komunikasi tersebut karena tidak mudah bagi saya sebagai guru laki-laki. Saya yang biasanya lebih mudah menghukum harus mengungkapkan perasaan yang dirasakan ke murid. Selain itu, strategi komunikasi ini butuh konsistensi karena tidak semua kelas bisa menerimanya terlebih dengan karakter saya yang dulu lebih suka mengancam atau marah-marah. Silakan bisa dibaca terlebih dulu ya bapak dan ibu. Setelah selesai bisa langsung sharing aja ya? SESI TANYA JAWAB Dini SofiPak Kumar, apakah setiap masalah cocok menggunakan imessage? Apakah peraturan yang telah dibuat bersama berupa punishment itu baik? Ratno Kumar JayaCocok atau tidaknya, patrikan terlebih dulu dalam hati kita bahwa apa yang akan kita lakukan ini hal baik dan insyaAllah berhasil. Karena menurut saya, i-message ini sangat efektif untuk komunikasi dengan murid karena dalam proses ini kita juga mengajari mereka untuk berempati. Tantangan sebenarnya bukan di i-message tapi di konsistensi dan kesabaran kita untuk terus menumbuhkan sikap positif terhadap murid. Kalau kami lebih suka menyebut konsekuensi bukan punishment/ hukuman karena dua hal tersebut beda. Jika … Read more