Pengertian Asesmen, Apakah Kita Terjebak Miskonsepsi?

Apa pengertian asesmen? Kalau ulangan,ujian tentu sudah menjadi hal biasa bukan? Tapi kalau asesmen bagaimana? Kita tahu saat ini asesmen sedang menjadi perbincangan hangat di dunia pendidikan, tak lain karena tahun 2021 akan mulai diterapkannya Asesmen Nasional untuk pendidikan di Indonesia. Bukan hanya perbincangan, tapi juga menjadi ketakutan sendiri bagi guru untuk menjalankannya. Orientasi yang salah sudah menjadi budaya sejak pendidikan dasar yang mengagung-agungkan nilai dan melupakan aspek lain yang saling terkait dalam perkembangan setiap murid yang perlu menjadi perhatian. Miskonsepsi menjadi awal pemahaman guru terkait asesmen menjadi tantangan terbesar yang harus dilepaskan, karena dengan begitu akan lebih mudah menerima informasi yang kredibel dan komprehensif. Pemahaman konsep pengertian asesmen yang benar akan membawa dampak yang bermakna tidak hanya kepada guru tapi juga murid ikut merasakannya sebagai subjek belajar dalam pendidikan. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kampus Guru Cikal mengenai pemahaman Asesmen, dihasilkan bahwa 78% responden masih mengalami kebingungan akan  pengertian konsep asesmen itu sendiri, sedangkan 22% memilih sudah paham dengan asesmen. Seperti pertanyaan yang diajukan oleh Fatrica Ivana Dabukke sebagai moderator dalam acara Obrolan #GuruMerdekaBelajar yang diinisiasi oleh Kampus Guru Cikal mengajukan pertanyaan kepada peserta “Apa itu asesmen?” banyak yang mengatakan bahwa asesmen adalah penilaian proses belajar murid. Apa betul begitu? Atau asesmen hanya sebutan lain dari ujian? Nah, sudah sampai mana pemahaman asesmennya? Apa sudah benar pemahaman kita? Yuk cari tahu bersama! Berdasarkan paparan awal Elisabet Indah Susanti salah satu narasumber dalam OGMB menjelaskan “Asesmen adalah sekumpulan kegiatan yang melibatkan pengumpulan data dan analisis informasi tentang kinerja murid dan dirancang untuk menginformasikan, mengidentifikasi apa yang murid ketahui, pahami, dapat lakukan, dan rasakan pada tahapan yang berbeda di proses pembelajaran”. Melalui obrolan #GuruMerdekaBelajar ini meluruskan miskonsepsi yang selama ini menjadi pemahaman guru-guru bahwa asesmen itu terkait dengan ujian dan penilaian adalah scoring akhir ulangan atau ujian murid, padahal secara esensialnya asesmen adalah penilaian kinerja murid pada waktu sebelum, selama dan sesudah proses pembelajaran dilakukan, jadi tidak hanya menilai berdasarkan hasil ulangan atau ujian secara individu, tetapi berdasarkan proses pemahaman pembelajaran yang dilakukan dan dirasakan oleh murid dan sekolah secara komprehensif. Anggi Rizka Pustika guru dari SD Negeri Bogem 2 Sleman narasumber dalam obrolan tersebut menjelaskan bahwa  sudah melakukan asesmen dalam proses pembelajarannya bahwa ada perbedaan asesmen zaman dulu dengan asesmen zaman sekarang dijalani, dimana dulu dalam melakukan guru melakukan penilaian murid berdasarkan hasil akhir dari ulangan atau ujian dalam bentuk angka atau grade yang juga menjadi salah satu bentuk tuntutan dari orang tua yang ingin tahu anaknya berada di peringkat berapa atau sekadar ingin tahu nilai berapa diperoleh. Peringkat sudah menjadi patokan turun temurun yang membuat anak hanya mengejar untuk memperoleh nilai tinggi, tanpa mengetahui esensi atau tujuan kenapa mereka perlu belajar. Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Pengertian konsep asesmen yang benar menjadi jawaban bagaimana meningkatkan dan mengembangkan pendidikan Indonesia menjadi lebih merdeka, dimana guru, murid dan orang tua dituntut saling berkolaborasi dan bekerjasama menciptakan pembelajaran dengan melakukan strategi pembelajaran. Ketika guru-guru sudah memahami konsep asesmen yang sesuai dan benar bahwa yang menjadi orientasi adalah murid yang terus berkembang kompetensinya, bukan sekadar pencapaian nilai akhir, guru akan lebih memahami murid dengan melakukan berbagai macam strategi yang sesuai, dan orang tua perlu turut diberikan pemahaman bahwa asesmen tidak hanya sekadar skor. Obrolan tersebut juga mengulik mengenai prinsip asesmen terbagi menjadi tiga, yang pertama Asesmen Untuk Belajar (Asesmen Diagnostik) adalah asesmen yang dilakukan untuk mempersiapkan murid melakukan pembelajaran, adanya analisa yang dilakukan guru untuk melihat sudah sejauh mana kemampuan dan pemahaman murid, hasilnya untuk menindaklanjuti strategi apa yang cocok dengan murid; kedua Asesmen Sebagai Proses Belajar ini adalah asesmen yang dilakukan terhadap proses belajar yang berlangsung, murid menilai proses belajar yang terjadi pada dirinya sendiri sebagai subjek belajar mengenai pemahaman, ketercapaian, perbaikan yang perlu dilakukan atau tantangan yang dirasakan; ketiga  Asesmen Terhadap Belajar dimana pencapaian yang dilakukan adalah asesmen terhadap pembelajaran murid sebagai puncak selesainya kegiatan pembelajaran melalui indikator-indikator yang menjadi acuan pencapaian pembelajaran. Ketiga prinsip asesmen ini saling berkaitan satu sama lain untuk mengukur capaiannya yang diawali dengan persiapan, kemudian latihan-latihan sampai puncak proses pembelajaran selesai yang membawa hasil capaian murid secara komprehensif yang lebih luas. Pelaksanaan asesmen membawa dampak yang bermakna bagi guru, murid dan orang tua. Guru lebih memahami apa yang menjadi kebutuhan murid, strategi apa yang cocok untuk digunakan, perkembangan peningkatan yang terjadi pada murid, dan guru merasa terbantu karena beban kerja yang terasa lebih ringan karena menerapkan asesmen, sementara murid merasakan dampaknya dengan merasa lebih nyaman, berani dan percaya diri dalam menyampaikan sesuatu yang berkaitan dengan proses pembelajaran ataupun capaian yang telah mereka lakukan sendiri dan guru berikan yang tidak hanya berorientasi pada nilai, sedangkan orang tua lebih memahami dan menerima anak-anak memiliki kebutuhan dan keunikan sendiri yang tidak bisa disamakan dan dibandingkan satu sama lain, berujung pada tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan.Ini yang menjadi harapan kita semua bukan? Yuk merenung dan menjawab dalam hati apakah sudah sesuai pengertian konsep kita mengenai asesmen? Apakah kita memang terjebak atau justru sudah melakukan asesmen tetapi tidak menyadarinya? Yuk berefleksi… Ingin menonton ulang Video Obrolan Guru Merdeka Belajar edisi ini?Silakan tonton di bawah ini

Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional

“Sekolah saya sekolah pinggiran, jika ujian nasional saja kesulitan, bagaimana saat Asesmen Nasional diterapkan?” Tahun 2021 mulai diberlakukan Asesmen Nasional, apa yang harus sekolah persiapkan? Menyelenggarakan PJJ saat pandemi saja kewalahan, apalagi dengan Asesmen Nasional di tahun depan. Hhhmm dilihat-lihat banyak permasalahan ya?Apa Bapak Ibu juga begitu atau permasalahannya justru lebih akut nih? Waduuh, daripada terus-terusan memikirkannya, lebih baik kita kupas saja apa itu Asesmen Nasional, agar hilang rasa takut Bapak Ibu dan tidak ada kata ragu diantara kita *eh tidak ada ragu dengan Asesmen Nasional maksudnya. Konsep Asesmen Sebelum membahas Asesmen Nasional, sebenarnya Apa sih asesmen itu? Jika dilihat dari fungsinya ada tiga jenis asesmen, yaitu asesmen terhadap proses belajar, asesmen untuk belajar,  dan asesmen sebagai proses belajar. Pada AN penilaian tidak berpatokan pada hasil belajar murid atau angka perolehan tetapi proseslah yang dinilai, penilaian mengenai proses pembelajaran di  kelas, potret layanan dan kinerja dari sekolah/madrasah,  dan pemahaman murid dari tujuan atau esensi dari proses belajar yang berlangsung. Jika diperdalam lagi pendidikan Indonesia dari tahun ke tahun sampai sekarang ini masih menggunakan pola pembelajaran yang sama. Wah apa ini maksudnya? Mungkin bapak Ibu ada yang tahu? Ok kita lanjutkan kalau begitu ya, maksud dari penggunaan pola pembelajaran yang sama ini, anak-anak atau murid dituntut untuk menghafalkan materi, rumus-rumus, dan murid diberikan beban tugas yang banyak dari setiap mata pelajaran setiap harinya, wah bisa dibayangkan bagaimana murid merasakan capek dan tentunya Bapak Ibu juga merasakan capek bukan kalau harus menyiapkan beberapa tugas untuk murid, lalu para guru dan sekolah lebih mengapresiasi murid yang pintar, yang nanti dapat mengkatrol nilai murid-murid lain yang merasa tertinggal baik secara akademik maupun non akademik. Jika dibandingkan dengan menjalankan Asesmen Nasional baik murid dan guru tidak ada yang merasa terbebani, karena pola pembelajaran jadi menitikberatkan pada penalaran dan literasi, pemberian tugas atau PR dengan meningkatkan kualitas soal bukan pada kuantitasnya, dan penilaian yang akan diambil secara sampling dari setiap sekolah/madrasah masing-masing. Tidak akan ada lagi membandingkan dengan sekolah tetangga. Bagaimana menghadapi Asesmen Nasional? Nah, Bapak Ibu mau tahu bagaimana caranya bisa lulus Asesmen Nasional? Kita lihat jawabannya pada Obrolan #GuruMerdekaBelajar yang bertajuk Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional, Bagaimana Seharusnya Guru & Kepala Sekolah menyikapi AN? Pada Obrolan ini ada Pak Bukik Setiawan selaku Narasumber dan Ibu Elisabet Indah Susanti sebagai Pemandu. Acara melalui live di kanal youtube Kampus Guru Cikal ini penuh dengan pertanyaan dan rasa penasaran dari para peserta mengenai Asesmen Nasional, tampak beberapa komentar dari para peserta, terlihat Ibu Mahayu Ismaniar yang mengatakan“Enak nih jadi murid! Ga ditanyain hafalan mulu 🙁 terus dibandingin sama murid yang lebih pinter” Ibu Puti Hamid dengan sangat antusias mengatakan“bagus nih, aplikasi lintas mata pelajaran jadi berkesinambungan dari perencanaan-pembelajaran-asesmen-laporan perkembangan,”yang selaras dengan yang diungkapkan Ibu Theresia Tri Darini bahwa Asesmen Nasional dapat dimanfaatkan untuk refleksi proses pembelajaran. Cukup seru obrolan #GuruMerdekaBelajar malam itu membahas topik yang sedang hangat-hangatnya, pasti banyak pro dan kontra dengan kebijakan baru ini, jika ditilik lebih jauh Asesmen Nasional memiliki banyak manfaat yang bisa dirasakan baik oleh pengajar, peserta didik dan satuan pendidikan sekalipun, dengan Asesmen Nasional akan mengetahui sampai sejauh mana proses keberhasilan dan ketercapaian tujuan proses pembelajaran, tahu bahwa manfaatnya bisa dirasakan oleh murid, guru dan sekolah, serta apa yang perlu dikurangi (baik dari segi pemberian atau penyampaian materi dan kualitas tugas yang diberikan), mengetahui layanan dan kinerja apa yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan, dalam segi pengajar, guru secara tidak langsung juga mengalami penurunan beban kerja tetapi dengan peningkatan kualitas kerja yang lebih baik.Wah asyik nih Bapak Ibu! Bagaimana mengetahui keberhasilan dan ketercapaian Asesmen Nasional yang sudah dijalankan? Semakin banyak yang bisa kita kupas mengenai Asesmen Nasional ini, berdasarkan pemaparan Pak Bukik dalam obrolan live tersebut dijelaskan bahwa AN memiliki 3 bagian, yaitu Asesmen Kompetensi Minimal (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. Pada pedoman AKM nantinya akan ada rubrik penilaian yang memiliki 4 urutan tingkat kompetensi, yaitu perlu intervensi khusus, dasar, cakap dan mahir. AKM dirancang untuk mengukur capaian murid dari hasil belajar kognitif, yaitu kompetensi literasi dan numerasi. Rubrik penilaian pada AKM diambil secara sampling atau survei yang dapat memberikan gambaran secara jelas mengenai ketercapaian asesmen yang mengarah pada penguasaan kompetensi literasi, numerasi dan karakter apakah sudah berhasil dan mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Rubrik penilaian inilah yang akan menjadi pegangan untuk menjalankan asesmen selanjutnya.  Tips Menghadapi Asesmen Nasional Dari Obrolan seru #GuruMerdekaBelajar Pak Bukik turut memberikan tips untuk mempersiapkan dalam menjalankan Asesmen Nasional Tahun 2021 bagi pemimpin Sekolah/Madrasah dan Guru.Siapa yang mau tahu tipsnya? Kira-kira apa saja tips yang bisa dilakukan? Tips tersebut antara lainPertama, setiap pemimpin Sekolah/Madrasah diharapkan dapat mengajak guru untuk melakukan analisis terhadap tujuan. Tujuan bahwa dengan menjalakan Asesmen Nasional untuk memperbaiki sistem proses pembelajaran ke arah yang lebih baik, baik pihak guru, sekolah bahkan murid bisa mendapatkan manfaat dari proses pembelajaran yang kita berikan;Kedua, kegiatan dan konten pembelajaran yang berpotensi pada mengembangkan kompetensi literasi, numerasi dan karakter, melakukan perencanaan pembelajaran kolaboratif berbasis pada murid yang diajar;Ketiga, melakukan forum berbagi praktik baik pembelajaran berbasis kompetensi yang mengarah pada penguasaan kompetensi literasi numerasi dan karakter. Sedangkan tips yang bisa diterapkan oleh guru antara lainPertama, melakukan asesmen di awal pembelajaran untuk memahami kompetensi awal murid;Kedua, melakukan dan memperbanyak pelaksanaan asesmen formatif berbasis kompetensi literasi,numerasi dan karakter sebagai dasar untuk penyesuaian pembelajaran;Ketiga, mengurangi jumlah tugas sekaligus meningkatkan kualitas tugas yang diberikan kepada murid. Video selengkapnya dapat ditonton di bawah ini Pilih tips yang mana nih Bapak Ibu? atau semua tips mau dicoba? Tuntutan perubahan dan tantangan yang akan dihadapi kedepannya. Diperlukan adanya rasa ingin tahu dan rasa ingin belajar yang kuat antar semua pihak yang berkepentingan. Seiring berjalannya waktu akan dirasakan manfaat dan tujuan dari suatu program yang dibentuk. Pro-kontra pasti akan selalu ada dan selalu mengiringi setiap perubahan, karena dengan pro-kontra tersebutlah akan menciptakan resep bumbu perubahan ke arah yang lebih baik, dan terasa semakin kuat rasa semangat untuk dapat menciptakan perubahan pendidikan Indonesia untuk berani bersaing dengan dunia.  Nah, sudah jelas bukan, Asesmen Nasional adalah jawaban dari kita semua untuk perbaikan mutu pendidikan kita. Tidak perlu diragukan dan meragukan lagi. Tentunya tidak perlu mengikuti bimbingan belajar dan drilling … Read more