Salah Kaprah Pendidikan dan Saya

“Patriarki sesungguhnya adalah purwarupa dari segala bentuk eksploitasi, tidak hanya eksploitasi kelas, tetapi juga eksploitasi separuh umat manusia oleh setengah yang lain. Perubahan hanya dimungkinkan kala mayoritas orang pada suatu hari nanti mampu melihat bahwa keadaan tidak bisa berlanjut seperti saat ini, kita harus melepaskan ilusi kita.” Kutipan kalimat dari Buku yang belum habis untuk dicerna namun beberapa lembar saja sudah membuatku mengangguk dan tersenyum manis. Hampir enam bulan belajar di Kampus Guru Cikal, proses menuju babak ini pun cukup tidak mudah. Satu per satu melempar pertanyaan, kenapa pindah dari perusahaan sebelumnya? Kamu mau cari apa sih di dalam hidup? Kamu suka menantang hidup ya, jadi pegawai dengan hidup terjamin itu kan idaman banyak perempuan dan orang. Bagaimana tanggapan orangtua? Kenapa bidang pendidikan? Begini ceritanya: Bersekolah di sekolah unggulan dan masuk peringkat 10 besar adalah kewajiban. Saat kelas kecil ada beberapa guru yang menerapkan murid membaca saat malam hari lalu esoknya diskusi, sungguh saya senang sekali belajar tidak hanya dengan metode ceramah tetapi aksi nyata. Saya terkena drama matematika, kalau salah terkena hukuman fisik! Padahal di rumah dan di sekolah saya diajarkan untuk jujur kalau belum mengerti atau tidak bisa mengerjakan, kenapa saya dihukum? Akhirnya saya membenci matematika, karena ujung-ujungnya nilai. Hal ini berlanjut, setiap matematika ya contekan donk (keahlian mencontek saya hanya untuk matematika, prinsipnya bohong disini, pelajaran lain jujur), saya bawa sampai tingkat menengah atas. “Kenapa sih harus belajar x dan y diterapkan kapan di kehidupan sehari-hari? Kenapa kalau saya salah mengerjakan tugas dihukum? Kenapa saya dicap bodoh hanya karena tidak bisa matematika padahal saya cukup pintar di pelajaran lainnya? Hal ini berubah saat saya bersekolah di sekolah menengah atas yang tidak berstatus unggulan dan terletak di ujung sana, saya bertemu guru matematika yang membuat saya mau belajar. “Bu Nelly, maaf ya saya belum mengerti materi ini. Ibu mau ulang lagi materinya? Mau bantuin saya gak Bu? Bu Nelly mengangguk dan meningkatkan kepercayaan diri saya. Meski tidak pintar tapi saya mengerjakan matematika, hanya hitungan jari saya remedial. Saya senang belajar dari orang yang saya sukai, saya belajar dari orang yang tidak menghakimi. Saya masuk IPS dengan kepercayaan bahwa anak IPS juga bisa sukses. Saya masuk Ilmu Pemerintahan melalui jalur PKAB dengan kepercayaan bahwa kelak yang bisa menjadi guru bukan hanya lulusan FKIP, saya juga ingin mematahkan anggapan mahasiswa yang mengurusi organisasi bisa lulus tepat waktu, bahkan pertama diangkatannya. Saya juga lulusan Desain Grafis, mendapat kucuran dana saat menjadi pelatih Corel Draw. Disisi lain, akhirnya saya tidak menyelesaikan Sastra Inggris di semester akhir. Menjadi penyanyi, penyiar, presenter, pembawa acara membawa saya bertemu dengan tokoh-tokoh penting, Walikota, Gubernur, Pejabat Politik bahkan Menteri sekalipun. Menjadi Liasion Officer beberapa event lokal bahkan menjadi asisten dosen untuk beberapa mata kuliah. Hal-hal ini yang saya tekuni disela padatnya kegiatan akademik. Yeay! Lulus dengan predikat berprestasi dan punya segudang pengalaman kerja itu menyenangkan dan membanggakan untuk saya, sekalian hadiah bisa mematahkan prasangka kepada orang yang tidak cukup pintar di matematika. 2014, akhirnya saya bekerja dan berubah status menjadi perantau. Mulai tidak betah kalau hanya kantor dan kosan. Mencari aktivitas lain, sebagai guru privat untuk anak usia dini dengan banyak sekali karakter di setiap sore saat pulang kerja. Akhirnya berhenti, karena masih bingung bagaimana memahami murid yang usianya dini. Menjadi relawan di sosial pendidikan, sampai akhirnya bertemu dengan kegiatan peningkatan kapasitas guru. Ulala, senang sekali rasanya membawakan materi disiplin positif di depan bapak ibu guru dan mendengar cerita mereka setelahnya. 2016, “Selamat Pagi Kampus Guru Cikal, Bagaimana ya menjadi relawan di Komunitas Guru Belajar Palembang? Tapi saya bukan seorang guru” E-mail perdana saya tapi tidak kunjung ada balasan. 2017, saya meyakinkan untuk menjadi seorang guru, di beberapa sekolah yang sudah saya kirimkan lamarannya, termasuk Sekolah Cikal. Tahun ini juga, saya bergabung dan menjadi Penggerak KGB Palembang serta mendapatkan beasiswa TPN 2017. Yeay! Sebagai seorang Account Officer dan mengikuti kegiatan guru ini tambah kebelet pengen jadi guru tapi belum ada yang mau menerima. Yu, kamu lagi sibuk kegiatan apa? Cari rezeki Pak, kerjaan baru. Oh gitu, dimana? Jadi guru sih, di beberapa sekolah. (((Percakapan berlanjut via telegram sesaat sepulang TPN) Halo. Selamat Siang Mahayu! Saya Rangga dari Sekolah Cikal ingin mengabarkan bahwa Anda berhak mengikuti tahapan seleksi disini. Tiba-tiba berdering, bersuara dan seakan mengiyakan harapan lama. Tebak posisi apa? (((Cerita Bersambung))) Salah kaprah pendidikan pertama bagi saya yang saya alami adalah bersekolah di sekolah unggulan dan mendapatkan peringkat terbaik di sekolah.  Kalau Anda, bagaimana?

Apakah Kita Sudah Merdeka Belajar di Tempat Kerja?

Belajar adalah konsep yang paling sering kita dengar sepanjang hidup, sejak kita kanak-kanak, masa sekolah, masa kuliah hingga bahkan ketika telah bekerja. Belajar sejak belajar naik sepeda, disuruh belajar dengan mengerjakan PR di rumah hingga mengikuti pelatihan di tempat kerja. Tapi mari berhenti sejenak, apakah kita sudah merdeka belajar di tempat kerja? 

Read more

Guru Belajar Manajemen Kelas bersama NusantaRun

Apa itu manajemen kelas? Dari mana memulainya? Bagaimana menetapkan peraturannya? Strategi apa yang ingin dipakai? Apa pentingnya manajemen kelas bagi guru? Pertanyaan tersebut selalu muncul dan tentu masih banyak pertanyaan lainnya muncul dari para guru, dan hal ini selalu dihadapi dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Mau tahu lebih lanjut mengenai manejemen kelas? Nah, Kampus Guru Cikal bersama NusantaRun memberikan pelatihan kepada guru-guru di SMP Permata Hati Purwokerto. Sudah hampir satu tahun kegiatan pelatihan rutin ini dilakukan, dan guru-guru SMP Permata Hati tetap semangat mengikutinya. Selama dua hari kegiatan pelatihan manajemen kelas ini, tepatnya,  27 – 28 Juli 2018, mulai pukul 08.00 – 15.30 WIB. Pelatihan ini dipandu oleh rekan-rekan guru Sekolah Cikal, yaitu Ibu Boki Nur Astuty & Bapak Mohammad Rizky Satria. Sedikit mengulas tentang Ibu Boki selain sebagai guru di Sekolah Cikal yang memiliki pengalaman mengajar selama kurang lebih 10 tahun & juga menjabat instruktur nasional kompetensi guru, sedangkan Pak Rizky pengajar guru SMP di Sekolah Cikal dan juga menjabat sebagai editor di Kampus Guru Cikal. Kelas pelatihan dimulai dengan melakukan asesmen kepada guru mengenai apa itu manajemen kelas menggunakan KWL chart. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pemahaman dasar mengenai topik yang akan dibahas. Ternyata guru memahami pengetahuan dasar mengenai manajemen kelas hanya sebatas pengaturan ruang belajar sehingga suasana belajar menjadi menyenangkan. Namun, apakah pengaturan ruang saja sudah cukup bisa disebut dengan manajemen kelas? Dan akhirnya berbagai pertanyaan muncul dari para guru terkait dengan manajemen kelas ini. Setelah melakukan perkenalan antara pemateri dan peserta yang diselingi dengan kegiatan pembuka, dan kelas pelatihan pun dimulai. Ibu Boki menjelaskan bahwa manajemen kelas adalah segala sesuatu yang guru lakukan untuk mengorganisasikan murid, ruang, waktu dan materi pembelajaran, sehingga instruksi dalam pembelajaran bisa terlaksana dan murid dapat belajar dengan baik. Tambahnya lagi, bahwa terdapat 3 elemen penting dalam manajemen kelas, yaitu mengatur lingkungan fisik; memelihara iklim belajar yang kondusif; dan menguatkan interaksi positif. Pembahasan dan praktek mengenai 3 elemen ini dilakukan dalam 2 hari pelatihan ini. Mengatur Lingkungan Fisik Bagaimana suasana kelas anda saat ini? Apa yang anda lihat, apa yang anda rasakan dan apa yang anda dengar? Dibuka dengan kegiatan refleksi, guru diminta untuk menggambarkan suasana kelas yang diajarkannya pada saat ini. Ruang kelas guru saat ini adalah menggambarkan guru itu  sendiri. Karena ruang kelas yang diajarkan dapat merefleksikan gaya mengajar dan karakteristik pribadi anda sebagai guru. Kelas berantakan dan tidak teratur, itulah anda, namun sebaliknya kelas yang rapi dan teratur menggambarkan bahwa anda adalah guru yang siap mengajar. Selain itu lingkungan fisik dan suasana/atmosfir kelas yang baik dapat turut membantu murid dalam penguatan aspek akademik, sosial dan emosional, karena: Memaksimalkan kemampuan guru untuk melihat dan terlihat; Memfasilitasi kemudahan bergerak; Meminimalisir gangguan; Menyediakan ruang pribadi; Presentasi dan materi yang ditampilkan dapat mudah terlihat. Berikut ini beberapa ciri pengaturan kelas yang baik: Ada pembagian ruang yang jelas sesuai dengan kegunaannya dan memastikan setiap siswa tahu perilaku yang diharapkan di tiap area tersebut. Pengaturan duduk yang memfasilitasi interaksi sosial antar siswa. Guru mempunyai pandangan yang jelas, dan juga sebaliknya. Tempatkan siswa berkebutuhan khusus atau mempunyai masalah perilaku dekat dengan meja guru. Jaga ruang kelas agar tetap teratur dan terorganisasi dengan baik. Memelihara Iklim Belajar yang Kondusif Pada hari kedua pelatihan dipandu oleh Pak Rizky, yang membahas pentingnya iklim belajar yang kondusif sebagai elemen penting manajemen kelas. Tambahnya lagi bahwa guru yang efektif memperkenalkan kesepakatan, prosedur, dan rutin di hari pertama belajar dan melanjutkannya sepanjang tahun ajaran. Pada sesi ini dibahas mengenai jadwal rutin harian, transisi, pengelompokan, disiplin dan prosedur kelas yang didiskusikan bersama antara guru dan murid. Berikut ini beberapa syarat dalam kesepakatan bersama sebaiknya yang sebaiknya :  Dibuat – Disetujui – Diikuti oleh semua anggota kelas (guru dan murid); dibuat berdasarkan kebutuhan kelas; dan gunakan gambar atau tanda yang menarik perhatian dengan kata-kata sederhana untuk ditampilkan di kelas. Lebih lanjutnya lagi, dalam membuat peraturan sebaiknya memperhatikan hal berikut ini: Peraturan harus dinyatakan secara positif dan fokus pada tujuan jangka panjang; Batasi jumlah peraturan, utamakan hubungan antar individu; Penerapan peraturan tidak secara terburu-buru; Jadilah reflektif, bersedia mengganti peraturan yang tidak berjalan dengan baik; Keterlibatan siswa adalah suatu keharusan dan sebaiknya disesuaikan dengan kelompok usia siswa; Ketika seseorang melanggar peraturan, harus ada konsekuensi logis yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sebaiknya konsekuensi harus relevan, masuk akal dan penuh rasa hormat.   Menguatkan Interaksi Positif Kegiatan pelatihan diakhiri dengan menguatkan interaksi positif. Interaksi antar sesama anggota kelas pasti terjadi, bukan hanya antar sesama murid, namun juga antar murid dan guru atau sebaliknya. Interaksi ini bukanlah merupakan hal yang mudah. Bisa saja terdapat interaksi yang tidak menyenangkan, oleh sebab itu perlu sekali membangun interaksi positif di sekolah. Dijelaskan oleh kedua pemateri bahwa dalam meningkatkan interaksi  positif perlu dilakukan dengan mempertimbangkan hal berikut: intonasi suara dalam berbicara, bahasa dan sikap tubuh, teknik bertanya, pemilihan bahasa dan kontak fisik. Dengan mempertimbangkan ke 3 elemen dalam manajemen kelas tadi, diharapkan akan mampu membuat lingkungan belajar yang kondusif, karena terdapat struktur yang jelas, melibatkan pengaturan ruang fisik dan komunikasi dengan anak, sehingga dapat membangun rasa percaya diri pada anak dan guru dapat dijadikan sebagai panutan, yang terpenting pula adalah persiapan guru di kelas. Narasumber : Boki Nur Astuty & Mohammad Rizky Satria Hari, Tanggal : Jum’at – Sabtu, 27 – 28 Juli 2018 Tempat : SMP Permata Hati, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah

Bantu Guru Belajar Berkomunikasi dengan Orangtua

Orang tua dan guru di sekolah memiliki keterlibatan dan peran yang sama pentingnya dalam pendidikan dan mengembangkan anak. Hanya saja, terkadang orang tua merasa posisinya lebih superior karena sudah membayar uang sekolah dan berbagai biaya lain yang dibebankannya, sedangkan guru merasa lebih inferior, sehingga merasa tak berdaya, jadi orang yang dibayar dan tanggung jawab sepenuhnya ada pada dirinya dalam pendidikan anak. Guru merasa posisinya menjadi kalah tinggi dengan orang tua. Semestinya tidaklah demikian, oleh sebab itu perlu sekali membangun hubungan yang bersifat positif antara guru dan orang tua jadi sangatlah penting. Namun, apa yang diperlukan oleh seorang guru untuk hal itu? Salah satu caranya adalah dengan membangun komunikasi positif guru dan orang tua. Pada pelatihan di Bekasi, Sabtu, 28 Juli 2018, “Membangun Komunikasi Positif Guru & Orang Tua” dijadikan topik untuk berdiskusi. Sebelum membahas hal ini lebih lanjut, ada baiknya mengetahui beberapa harapan orang tua terhadap guru bagi anaknya. Berikut ini hasil riset kecil melalui media sosial yang dilakukan pemateri terkait harapan orang tua terhadap guru: Komunikatif, Responsif, Perhatian, Mendidik, Memberikan kasih sayang, Memberikan kabar tentang anak di sekolah. Masih banyak harapan orang tua terhadap anaknya di sekolah, baik dalam hal akademik maupun non-akademik. Dan apa yang diharapkan orang tua untuk mencapai hal tersebut berdasarkan hasil riset kecil tadi adalah komunikasi. Komunikasi dua arah menjadi penting dan perlu dibangun berdasarkan ketiga nilai yang dianggap perlu oleh kedua belah pihak, yaitu kepercayaan, kepedulian & kerjasama. Tentunya tidak mudah dalam membangun 3 hal tersebut. Masing-masing pihak baik orang tua dan guru perlu mengetahui perannya di sekolah. Baik orang tua dan guru harus sama-sama mengetahui adanya kebijakan, sistem dan prosedur di sekolah yang membatasi agar tidak salah dalam bertindak. Sudah menjadi tugas guru untuk melakukan dan menjalankan kegiatan belajar dan mengajar di kelas, selain itu guru juga menjadi penghubung antara sekolah dan orang tua. Karena fungsinya sebagai penghubung dan menduduki peran penting dalam hal ini, maka hal yang mendasari hubungan ini adalah komunikasi. Oleh sebab itu perlu bagi guru untuk mengembangkan keterampilan berkomunikasi. Dalam berkomunikasi terdapat etika yang perlu diketahui, diantaranya adalah: Sikap: posisi berdiri atau duduk dengan tegak, menatap lawan bicara, tenang dan tersenyum. Yang diperlukan juga adalah “no gadget” ketika berbicara dengan orang tua; Pahami isi pembicaraan: jangan membicarakan hal-hal yang tidak perlu dan tidak dikuasai, karena dapat berakibat salah pengertian. Sebaiknya catat terlebih dahulu topik yang akan dibicarakan; Gunakan selalu kalimat positif: hindari menggunakan kata-kata yang tidak pantas dan tidak sesuai. Fokus pada solusi: orang tua berharap guru sebagai mitra dalam tugas mengembangkan anak. Sudah sewajarnya, jika ada masalah yang terjadi dapat memberikan solusi, dan bukan malahan semakin memperkeruh suasana. Diharapkan dengan terbangunnya komunikasi yang baik antara guru dan orang tua dapat menciptakan proses kolaborasi yang baik pula, sehingga tercapailah tujuan semua pihak.   Pada pelatihan ini, guru yang hadir mengajar di level yang berbeda. Terdapat 51 guru sebagai peserta pelatihan yang berasal dari area Bekasi dan sekitarnya. Suasana pelatihan terbangun kondusif, hal ini terlihat pada saat pemaparan, diskusi dan presentasi yang berlangsung baik pemateri maupun peserta terjalin komunikasi intens. Guru semakin berdaya, guru semakin percaya. Yuk Bantu Guru Belajar Lagi di Kampus Guru Cikal.   Narasumber : Irene Puti Damayanti Hari, Tanggal : Sabtu, 28 Juli 2018 Tempat : SMK Kesehatan Driewanti Husada Mandiri, Bekasi

Bantu Guru Belajar Melibatkan Orangtua Murid

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai guru, orang tua dan warga sekolah untuk turut berkontribusi dalam menumbuhkan potensi dan memaksimalkan prestasi dan potensi anak didik. Pada hari Sabtu, 21 Juli 2018 bertempat di SMK Kesehatan Driewanti Husada Mandiri Bekasi, rekan-rekan Kampus Guru Cikal dan tim Rumah Main Cikal Bintaro kembali belajar bersama pada kegiatan Bantu Guru Belajar Lagi. Kali ini topik yang diangkat adalah “Pelibatan Orang Tua dalam Kegiatan di Sekolah.” Mengapa topik ini dianggap perlu diberikan? Hal ini dirasa perlu karena saat ini keterlibatan orang tua di sekolah sangatlah sedikit. Semakin besar usia dan kelas seorang anak, maka semakin kecil pula keterlibatan orang tuanya. Padahal peran orang tua dalam hal keterlibatannya di sekolah bisa dikatakan krusial. Dan pastinya akan ada pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar anaknya. Namun, pertanyaan sebaliknya, apakah sekolah juga memberikan tempat bagi orang tua untuk berperan di sekolah? Apakah pihak sekolah merasa takut jika melibatkan orang tua yang akhirnya dapat mengganggu stabilitas sekolah itu sendiri? Nah, sekolah yang baik, sejatinya memberikan tempat bagi orang tua untuk turut membantu anak dalam hal pendidikannya. Diharapkan dari pelatihan ini para guru percaya dapat mengoptimalisasi peran guru di kemudian hari. Kegiatan pelatihan yang dipandu oleh Ibu Irene Puti Damayanti dan Tim Guru Rumah Main Cikal Bintaro ini mengemukakan hubungan yang sebenarnya bisa terjadi antara orang tua dengan sekolah; konteks apa saja orang tua dapat berhubungan langsung dengan sekolah (Administrasi, Akademik & Kegiatan Sekolah), dan bentuk kegiatan di sekolah yang turut melibatkan orang tua dan sekolah. Ada beberapa alasan mendasar yang dapat dipergunakan orang tua untuk beralasan sehingga keterlibatan orang tua menjadi kecil berdasarkan, yaitu : Waktu: sibuk bekerja, sehingga orang tua tidak memiliki cukup waktu untuk ambil bagian dalam kegiatan sekolah, Bahasa: terkadang terdapat istilah akademik yang tidak dikuasai orang tua, ataupun cara penyampaian bahasa yang sulit sehingga tidak diketahui oleh orang tua dan menjadi enggan untuk turut berpartisipasi, Pengetahuan: orang tua merasa tidak memiliki pengetahuan yang cukup dan kurang paham, sehingga menyerahkan seluruhnya kepada sekolah, Ketidaknyamanan : tentunya tantangan tersendiri bagi orang tua untuk ambil bagian terlibat dalam kegiatan sekolah, sehingga ekspresi yang muncul jadi merasa tidak nyaman karena harus melakukan banyak tugas dan tanggung jawab yang terkait dengan pengorganisasian, perencanaan, dan hal-hal kecil lainnya. Motivasi: adanya motivasi yang salah dari orang tua yang merasa perlu dihargai dan diterima atas pengorbanan waktu dan usaha yang telah dilakukannya. Oleh sebab itu, perlunya diciptakan kegiatan-kegiatan sederhana yang dapat membantu orang tua. Berikut ini beberapa hal keterlibatan orang tua yang dapat dilakukan, diantaranya: Membaca & memberikan informasi melalui buku penghubung dari sekolah; Terlibat dalam forum orang tua & aktif dalam diskusi group jika ada hal yang terkait dengan sekolah; Mendukung anak dalam kegiatan ekstrakulernya; Membantu anak dalam menyelesaikan proyek sekolahnya; Berkomunikasi dengan guru kelasnya Disampaikan pula oleh Ibu Puti, bahwa penting sekali menjaga hubungan antara orang tua dan sekolah, salah satu caranya adalah dengan mengenali orang tua lebih dalam dengan mengetahui beragam karakter yang ada pada orang tua. Pelatihan kali ini diakhiri dengan menganalisis isu-isu yang biasanya terjadi antara hubungan sekolah dengan pihak orang tua. Tak terasa 6 jam pelatihan berakhir, sementara antusiasme peserta pelatihan dalam diskusi mulai dari awal hingga akhir sangat baik. Hal ini tercermin dari beberapa komentar peserta pelatihan berikut ini: Alhamdulillah terimakasih @bantugurubelajarlagi dan @kampusgurucikal , kegiatan ini bener2 sangat bermanfaat, saya sangat bersyukur sekali ada kegiatan ini, jadi bisa terus mengupgrade ilmu, karena belajar dan terus belajar. – Ririn Banyak pengetahuan yang didapat, diskusi & pembahasan yang menarik, tidak monoton – Nurul Fadhila. Saya jadi paham dan mengerti betapa pentingnya keterlibatan orang tua dan guru dalam pendidikan anak, serta pengaruh dari kedekatan guru & orang tua Oleh sebab itu, pelibatan orang tua di sekolah merupakan faktor penting yang prosesnya bersifat dinamis dan berlangsung sepanjang waktu. Jika pelibatan ini sudah berjalan dengan baik, niscaya dapat membantu meningkatkan lingkungan belajar yang kondusif dan membangun relasi yang positif setara dengan guru. – Win   Narasumber : Tim Rumah Main Cikal Bintaro Hari, Tanggal : Sabtu, 21 Juli 2018 Tempat : SMK Kesehatan Driewanti Husada Mandiri, Bekasi

Komitmen Pada Tujuan

“Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya .” Pramoedya Ananta Toer (Rumah Kaca) Malam itu menjadi malam yang sangat sibuk bagi saya, guru Nunuk dan guru Najib. Ketiganya sama-sama mengisi Temu Pendidik Dalam Jaringan (daring). Saya menjadi narasumber di grup whatsapp Komunitas Guru Belajar (KGB) Palembang, guru Nunuk menjadi narasumber di grup whatsapp KGB Pekalongan, pun dengan guru Najib menjadi moderator mendampingi guru Nunuk di Pekalongan. Karena temu pendidiknya adalah daring, sehingga dibutuhkan jaringan internet. Dan sialnya, malam itu jaringan provider yang saya gunakan sedang bermasalah dan di kos tidak ada wifi. Setengah jam sebelum diskusi langsung mencari counter untuk membeli kartu perdana provider lain agar mendapatkan sinyal. Alhamdulilah 15 menit sebelum diskusi kartu sudah terbeli. Namun ternyata untuk mengaktifkan kartu tersebut harus mendaftarkan terlebih dahulu menggunakan nomor Kartu Kelurarga (KK) dan nomor KTP. Saya pun buru-buru untuk mendaftarkan. Send, pesan pendaftaran kartu perdana terkirim. Nunggu satu menit belum ada tanda-tanda terdaftar, 5 menit masih nihil. Sampai waktu menunjukkan 19.28 WIB masih belum muncul tanda-tanda itu. Padahal 19.30 WIB temu pendidik akan segera dimulai. Tanpa pikir panjang, langsung memasukkan laptop ke dalam tas, lari menuju ke sekolah untuk mendapatkan wifi. Alhamdulilah sekitar pukul 19.32 WIB sudah stand by dan bisa belajar bersama guru-guru di KGB Palembang. Sama halnya denganku, permasalahannya adalah sinyal, namun cerita guru Nunuk lebih tragis. Guru Nunuk adalah seorang guru yang mengajar di sebuah daerah yang jauh dari perkotaan dan untuk mencapainya dibutuhkan waktu kurang lebih 2,5 jam perjalanan. Kisah Guru Nunuk .Setelah menumpuh perjalanan yang lama sekitar pukul 18.30 WIB ia pun sampai rumah. Dibukanya laptop yang akan ia gunakan dalam mengisi diskusi. Namun tak dinaya, ternyata wifi di rumah guru Nunuk mati. Sinyal provider yang ia gunakan juga tidak begitu kuat. Ia harus menuju kota, ke tempat yang ada wifi yang lumayan kencang. Ia pun mengendarai motor trail-nya untuk mengejar waktu. Padahal baru saja ia sampai rumah. Cerita guru Najib mungkin yang paling menakjubkan. Ia tahu, malam hari ia akan menjadi moderator temu pendidik KGB Pekalongan, dan malam itu pulalah ia akan mengobservasi dan mendirikan tenda untuk kemah muridnya esok hari. Lokasi perkemahan cukup jauh dari kota. Oleh karena itu siang hari, ia sudah siap dengan membeli kartu perdana yang dirasa ada sinyal di lokasi perkemahahan. Menjelang waktu diskusi teman-teman guru Najib mulai turun, karena sudah selesai mengobservasi dan mendirikan tenda. Guru Najib tidak bisa turun terlebih dahulu karena akan mengisi temu pendidik. Ia pun tinggal sendirian di pinggir hutan sambil memegangi handphone dan memimpin temu pendidik di WA KGB Pekalongan. (untung ya Pak, nggak ada yang nggondeli dari belakang). Seminggu sebelumnya, KGB Pekalongan menghadirkan seorang narasumber dari Seruyan, Kalimantan Tengah namanya guru Panji. Untuk bisa menemani guru-guru Pekalongan belajar, guru Panji pun harus mengendarai kendaraan 25 Km agar mendapatkan sinyal yang stabil. Itulah mengapa saya menggunakan kutipan Pramoedya untuk mengawali tulisan ini. Tujuan membawa guru Nunuk rela kembali lagi ke kota padahal baru sampai rumah untuk mendapatkan sinyal. Guru Najib melawan kedinginan dan kengerian hutan agar bisa menjadi moderator, dan juga guru Panji rela menerbas malam, melawan dingin, dan menempuh perjalanan puluhan kilo untuk menemani guru-guru belajar. Semua cara dilakukan, jika cara pertama belum berhasil, mencari cara lain, jika belum juga, cari lagi. Apa jadinya jika seorang supir mengendarai kendaraan namun tidak tahu kemana ia akan pergi, apa yang akan ia tuju? Supir yang sudah tahu tujuan mana yang akan dituju, jika jalan A tidak bisa dilewati, maka akan mencari jalan lain. Karena saya percaya komitmen pada tujuan akan memunculkan merdeka terhadap cara.

Belajar Menjadi Guru Belajar

Awal tahun 2015, saya janjian ketemu dengan dua pendidik perempuan, Najelaa Shihab dan Tari Sandjojo di sebuah cafe di pusat Jakarta. Sambil sesekali menghirup minuman, kami membicarakan berbagai kemungkinan kerjasama untuk melakukan perubahan pendidikan. Hasil pembicaraan tersebut, saya bergabung di Cikal. Saya bergabung di Cikal sejak 1 Mei 2015, tepatnya di Lifelong Learning – School of Education (LLE), lembaga Cikal yang bergerak melakukan pelatihan guru, yang sekarang lebih dikenal sebagai Kampus Guru Cikal. Peran saya sebagai Manajer Pengembangan yang bertanggung jawab melakukan persiapan pendirian pendidikan S1 guru. Sebuah rencana yang sampai saat ini masih menjadi rencana karena terkendala moratorium ijin pendirian pendidikan keguruan. Cerita awalnya bisa dibaca di sini. Pada awalnya, komitmen saya bertahan di Cikal adalah dua tahun, dengan asumsi tanggung jawab bisa selesai dalam 2 tahun. Sekarang sudah lebih dari 3 tahun dan saya memilih bertahan di Cikal. Apa yang membuat saya bertahan di Cikal? Judul tulisan ini adalah jawaban singkatnya, belajar menjadi guru belajar. Jawaban panjangnya akan saya coba uraikan Belajar pendidikan menumbuhkan Ketika dikenalkan dengan tim Cikal, biasanya saya dikenalkan sebagai penulis buku Anak Bukan Kertas Kosong dan tentu ada ekspresi kagum. Padahal ketika saya mengikuti Foundation Training, pelatihan untuk tim baru Cikal, saya justru belajar banyak sekali tentang pendidikan menumbuhkan. Belajar pendidikan bukan dari para ahli, tapi dari guru yang mempraktikkan pendidikan menumbuhkan setiap hari. Apa yang dulu menjadi angan-angan ideal, saya saksikan di kenyataan. Pengalaman tentang Fondation Training bisa dibaca di sini. Saya belajar disiplin positif, pendekatan untuk menumbuhkan kedisiplinan tanpa hukuman dan sogokan. Saya belajar strategi inkuiri, pendekatan untuk memandu murid menemukan pemahaman yang esensial. Saya belajar diferensiasi, pendekatan untuk mengembangkan cara pengajaran yang beragam berpusat pada murid. Saya belajar asesmen, pendekatan untuk memberi umpan balik pada murid dan guru sepanjang proses belajar. Saya belajar service learning, pendekatan untuk memandu murid menyelesaikan persoalan nyata di kehidupan. (Di kemudian hari, poin-poin yang saya pelajari ini disebut sebagai Cara Mengajar 5M). Jangan bayangkan kerumitannya. Saya belajar hal sederhana. Dulu ketika jadi fasilitator, saya mengajak peserta yang orang dewasa melakukan refleksi. Ternyata di Cikal, saya dibuat kagum dengan hasil refleksi yang dilakukan murid, bahkan pada kelas kecil. Saya baca hasil refleksi para murid yang ditempel di dinding kelas, dan membayangkan semangat belajar dibalik tulisan tersebut. Saya belajar dari sebuah sekolah yang bisa memberi contoh baik untuk guru maupun sekolah yang lain. Belajar bersama guru dari penjuru nusantara Saya lupa persisnya, tapi yang jelas di antara sejumlah obrolan dengan Najelaa Shihab, tercetus gagasan mengembangkan komunitas guru. Satu kalimat yang saya ingat, “Kita ingin anak-anak di seluruh Indonesia bisa mendapatkan pendidikan berkualitas seperti Cikal, dengan maupun tanpa harus masuk Cikal”. Dari cita-cita itu, Cikal menginisiasi komunitas guru yang disebut Komunitas Guru Belajar. Namanya sederhana, tiga kata esensial yang menggambarkan cita dan cara. Cita dan cara yang dirumuskan dalam buku Panduan Komunitas Guru Belajar 1.0. Saya pun mulai menghubungi teman-teman yang menjadi guru di berbagai daerah. Saya jelaskan misi komunitas, manfaat dan aktivitasnya. Seorang teman di Sorowako, Bu Hesti, tertarik bergabung dan mengadakan Temu Pendidik pertama yang mengikuti Panduan Komunitas Guru Belajar. Saya berangkat ke Sorowako melalui dua penerbangan. Kisah Temu Pendidik Sorowako bisa dibaca di sini. Kiprah Komunitas Guru Belajar Sorowako menjadi bahan cerita sehingga akhirnya beberapa teman tertarik dan terlibat dalam pendirian Komunitas Guru Belajar. Mereka bersama rekan guru yang lain dari 10 daerah pada akhirnya ikut deklarasi pendirian Komunitas Guru Belajar yang dilakukan pada Temu Pendidik Nusantara 2015. Dan semenjak itu, saya melakukan perjalanan ke berbagai daerah untuk belajar dari guru, seperti ke Pekanbaru, Maluku, Makassar, Sinjai atau safari 6 kota di Jawa Timur. Beberapa perjalanan memang penugasan resmi dari Cikal, beberapa perjalanan adalah agenda pribadi yang saya selipin agenda Komunitas Guru Belajar. Sekali mengayuh, dua tiga pulau terlampui 🙂 Saya belajar dari guru tentang keterbatasan, kerumitan administrasi, dan resiko politik. Saya belajar bagaimana segala kesulitan tersebut tidak meruntuhkan semangat belajar. Saya berjumpa dengan guru-guru yang sama sekali berbeda dengan sosok guru yang ditampilkan di media atau jadi bahan obrolan di media sosial. Sosok di media dan media sosial seringkali menampilkan guru yang tidak berdaya, layak dikasihani dan butuh bantuan. Saya justru menemui guru berdaya, penuh perjuangan, dan butuh teman seperjuangan. Bagi saya pribadi, sebuah kehormatan bisa menjadi teman perjalanan para guru berdaya tersebut. Dalam sebuah obrolan dengan Najelaa Shihab, saya merevisi komitmen saya, “Saya berkomitmen dua tahun di Cikal, tapi menjadi teman perjalanan Komunitas Guru Belajar adalah komitmen saya sepanjang hidup”. Belajar menghadapi tantangan perubahan Saya bocorkan rahasia Cikal……..Cikal itu bukan lembaga yang sempurna, banyak hal yang perlu diperbaiki dan dikembangkan lagi. Meski tidak sempurna, Cikal adalah lembaga yang selalu belajar. Setiap tahunnya ada saja inisiatif perubahan yang dilakukan, minor maupun mayor, improvisasi maupun inovasi. Dan setiap kali inisiatif perubahan, setiap kali pula kesempatan bagi semua anggota, bisa terlibat di dalamnya. Sepanjang tahun yang saya alami, sepanjang itu pula saya mendapat tantangan perubahan. Saya beri contoh sederhana yang tampak mata, Temu Pendidik Nusantara. Pada tahun 2014, LLE (sebelum menjadi Kampus Guru Cikal) mengadakan konferensi pendidikan sehari, gabungan seminar dan kelas lokakarya. Pada tahun 2015, konferensi tersebut berubah nama menjadi Temu Pendidik Nusantara, dengan format yang relatif tetap. Pada tahun 2016, Temu Pendidik Nusantara resmi disebut sebagai Konferensi Tahunan Komunitas Guru Belajar. Formatnya masih sama, seminar dilanjutkan dengan kelas lokakarya, hanya jumlah hari bertambah, kelas bertambah, peserta bertambah dan Komunitas Guru Belajar daerah yang terlibat pun bertambah. Kisah TPN 2016 bisa dibaca di sini. Temu Pendidik Nusantara 2017 menjadi semakin jelas arahnya, kegiatan untuk pengembangan guru. Bila sebelumnya, seminar dengan pembicara kunci di awal kegiatan dengan asumsi memancing minat peserta, maka seminar di TPN 2017 digeser menjadi penutupan, karena ternyata guru hadir lebih didorong untuk kemajuan belajar dan berkolaborasi dengan sesama guru, dibandingkan berjumpa pembicara kunci. Jenis dan format kelasnya pun mengikuti Kerangka 4 Kunci Pengembangan Guru: Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi dan Karier. Setiap jenis kelas menggambarkan tahapan dan memenuhi kebutuhan berbeda dalam perjalanan karier seorang guru. Jadi bila dulu, guru cukup puas dengan menjadi pelatih di kelas lokakarya, kini masih ada dua kunci lainnya, kolaborasi dan karier. Perubahan mendasar ini mendapat respon luar biasa dari peserta. … Read more

Merdeka Belajar di Lereng Gunung Slamet

Temu Pendidik Daerah Ke-18 Komunitas Guru Belajar Purwokerto Merdeka Belajar di Lereng Gunung Slamet Narasumber : Guru Isrodin Hari, tanggal : Minggu, 22 juli 2018 Tempat : MTS Pakis Pesawahan Gunung Lurah, Cilongok Banyumas Untuk mencapai yang indah memang jalan yang ditempuh tidak mudah. Hal sederhana bukan berarti tidak bisa jadi luar biasa. Hal yang biasa bisa jadi Istimewa. Dari pinggir hutan bisa jadi nasional. Beberapa kata yang bisa menggambarkan MTS Pakis, Pesawahan Gunung Lurah. Jauh dari keramaian kota , jauh dari gelimangan teknologi yang biasa memanjakan kita setiap harinya. Jauh di Kampung Pesawahan Desa Gunung Lurah ada sekolah bernama MTS Pakis yang diperjuangkan oleh guru Isrodin dan para relawan. Sekolah ini berhasil membuka mata kita, bahwa ternyata masih banyak sekali potensi-potensi di sekitar kita. Sekolah ini berhasil mencambuk kesadaran kita sebagai pendidik bahwa sumber belajar bisa dari apa saja. Kita belajar banyak dari anak-anak desa yang bersahabat dengan alam sebagai ruang belajarnya. Semangat belajar mereka luar biasa. MTs Pakis bulan Juli 2018 sempat viral di televisi nasional. Karena saat tahun ajaran baru kemarin, sistem pembayaran pendaftaran muridnya menggunakan sayuran dan hasil bumi lainnya. Hal inilah yang membuat Komunitas Guru Belajar Purwokerto tertarik menggali lebih dalam apa yang ada di MTs Pakis, menggali apa yang telah dilakukan guru Isrodin. Rute perjalanan menuju MTs Pakis kita disuguhi bukit-bukit hijau di kanan kiri setelah memasuki desa Gunung Lurah. Sesampainya di MTs Pakis murid-murid sedang membuat kripik tempe dan sebagian di dalam kelas sedang belajar. Di depan MTs ada kolam ikan dan di belakang ada kebun cabai, tambah membuat kami penasaran dengan keunikan madrasah yang satu ini. Akhirnya Temu Pendidik Komunitas Guru Belajar Purwokerto dibuka pukul 10.00 WIB saat suhu udara mencapai 24 derajat celcius. Guru Daru selaku penggerak Komunitas Guru Belajar membuka temu pendidik kali ini dengan menceritakan profil KGB Purwokerto dan perkenalan anggota KGB. Selanjutnya Guru Isrodin selaku tuan rumah memperkenalkan relawan-relawan di MTs Pakis (di Madrasah ini tidak ada guru tetap semua yang mengajar adalah relawan). “Diawali dari kegelisahan yang sama tentang pendidikan dan anak-anak. Saya bertekad membagikan apa yang saya bisa, apa yang saya ketahui untuk anak-anak MTs Pakis. Saya bisa membuat kripik tempe jadi saya berinisiatif mengajari anak-anak membuat kripik tempe. Awalnya ada pertanyaan : Apakah anak-anak bisa melakukannya? Tapi saya percaya, ilmu apapun bisa dipelajari ketika kita tahu metodenya. Murid MTs Pakis itu istimewa , karena istimewa jadi butuh perlakuan istimewa.”, ujar salah satu relawan MTs Pakis Anak-anak di sekitar MTs Pakis sudah terbiasa membantu orang tuanya bekerja maka dari itu didirikannya MTs Pakis bertujuan untuk mengenalkan literasi ekonomi sejak dini. Sekolah ini lahir dari kegelisahan para relawan melihat kondisi masyarakat kampung Pesawahan. Satu kampung hanya satu anak yang lulus SMA. Lainya putus sekolah dan perkawinan dini. Pendidikan anak-anak kampung inilah sebenarnya berdampak langsung pada kemajuan peradaban desa. Langkah awal dilakukan dengan menumbuhkembangkan kebanggaan sebagai petani. Mandiri menanam, mandiri merawat, mandiri memanen. Belajar mengenal potensi kampung, mendata dan mengenali potensi persoalan di kampung. Berujung pada simpulan, Anak desa harus sekolah. Sekolah dengan kearifan lokal, belajar dengan alam sekitar adalah pilihan bijak guru Isrodin dan relawan. Guru Isrodin yang lebih suka dipanggil Kang Isrodin ini mulai menjemput satu persatu anak kampung tepian hutan ini untuk bersekolah. Bukan hal yang mudah, tetapi melihat binar kebahagian di raut wajah mereka dan orangtuanya, membuat Guru Isrodin semakin semangat mengajak mereka bersekolah. Perjalanan MTs Pakis dimulai dari 2011 saat itu guru Isrodin dan para relawan blusukan menyensus 97 KK dan terdapat 170 lebih warganya. Dari 170 warganya tersebut hanya ada 1 warga saja yang tamat SMA. Warga yang lain putus sekolah dan drop out. Pada saat itu guru Isrodin membuat rumah baca & membentuk gerakan sedekah buku. Guru Isrodin mempunyai mimpi setiap desa di Banyumas ada rumah bacanya . Berkat data hasil sensus yang pernah dilakukan pada tahun 2013. Guru Isrodin menyebar informasi lowongan pekerjaan untuk mengajar di MTs Pakis. Saat itu ada 26 guru yang mendaftar rata-rata adalah S2 dan S1. Mereka dikumpulkan, guru Isrodin menayangkan foto-foto keadaan MTs Pakis yang masih gubuk di pinggir telaga & hanya mempunyai 13 siswa. Para pelamar tidak ada satupun yang berlanjut setelah melihat keadaan MTs Pakis. Jadi sampai sekarang tidak ada guru tetap di MTs Pakis. Sampai saat ini yang mengajar adalah guru Isrodin dan para relawan yg rela memberikan ilmu yg mereka miliki untuk diberikan kepada anak anak MTS Pakis. Pada angkatan pertama jumlah murid yang masuk 13, yang lulus 4 murid (yang lain menikah & tidak bisa melanjutkan sekolah). Angkatan kedua berjumlah 9, yang lulus 3. Angkatan ketiga berjumlah 4 dan tidak ada yg lulus karna mereka putus sekolah semua. Angkatan keempat berjumlah 10 anak dan lulus 8 anak. Angkatan kelima berjumlah 11 anak lulus 10 dan sekarang berjumlah 14 anak. Sekolah tanpa seragam, tidak perlu bersepatu, tidak perlu bayar SPP bulanan ini memilih menekuni bidang pertanian kehutanan. Lahan yang cukup luas milik Perhutani ini dijadikannya sebagai lahan praktik kehidupan. Nilai-nilai kepribadian luhur ditumbuh kembangkan di sekolah ini. Merdeka Belajar versi Mts Pakis Pakis sendiri memiliki filosofi yaitu harapan agar anak-anak dapat tumbuh seperti pohon pakis ynag dapat beradaptasi di lingkungan lembab maupun kering. Artinya anak-anak dapat beradaptasi di lingkungan manapun kelak mereka berada. Anak-anak diajarkan untuk bersepakat menentukan tujuan belajarnya, menyukai apa yang sedang dilakukannya. Menentukan strategi atau cara belajar secara mandiri. Lalu melakukan refleksi dengan cara presentasi di depan teman-temanya. Pada saat ada anak yang tidak masuk sekolah, guru Isrodin dan anak-anak lainnya berkunjung ke rumah anak yang tidak masuk untuk belajar bersama di rumah anak tersebut. Sehingga anak tetap bisa belajar bersama. Terkadang mereka belajar di bawah pohon pinus , di pinggir telaga. Guru Isrodin membiasakan kepada murid bahwa segala sesuatu bisa menjadi sumber belajar. Murid-murid pun sudah dibiasakan belajar mandiri karena terkadang beliau tidak bisa berangkat sekolah dan tidak ada relawan. Saat tidak ada yang mengajar mereka belajar sendiri. Mereka mencatat hal yang hari itu mereka amati dan dipresentasikan kepada teman-teman yang lainnya menggunakan bahasa mereka sendiri sehingga mereka dapat belajar bersama dari masing-masing hal berbeda yang mereka dapatkan. Dengan berbagai keterbatasan, mereka mengubah hal sederhana menjadi … Read more

Bantu Guru Melihat Dunia Chapter Australia

Temu Pendidik Mingguan Daerah #16 Bantu Guru Melihat Dunia Chapter Australia Narasumber : Panji Irfan Moderator : Niken Emiria F. Notulen : Kurniasih Hari dan tanggal : Rabu, 18 Juli 2018 Grup WA Komunitas Guru Belajar Pekalongan Moderator : Selamat malam rekan-rekan guru yang penuh semangat belajar. Satu jam lagi menuju diskusi kita malam ini. Kita absen dulu yuk untuk yang sudah hadir disini. Alhamdulillah sudah banyak yang hadir. Semangat yang luar biasa dari guru-guru yang tidak biasa. Pak Panji sudah ada di tengah-tengah kita. Ayo teman-teman jangan mau kalah dengan semangatnya pak panji ya. Teman-teman guru yang luar biasa semangat belajarnya, beberapa menit lagi menuju diskusi kita malam ini, sebelumnya perkenankan saya Niken, sebagai pemandu diskusi anda malam ini memperkenalkan terlebih dahulu narasumber kita yang keren banget. Bapak Panji Irfan, beliau lahir di Bandung, 26 januari 1985. Guru hebat kita ini adalah lulusan S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI, dan yang saya heran sampai saat ini saya belum tahu kenapa beliau sekarang ada di Kalimantan Tengah dan menjadi salah satu guru di SMP Tunas Argo Seruyan Kalteng. Teman-teman, pak panji pernah 5 hari penuh di sekolah di daerah Bacchus Marsh, 3 hari di CBD Melbourne, 2 hari perjalanan, transit Singapura & Malaysia. Beliau adalah salah seorang yang lulus ke Aussie dalam program Bantu Guru Untuk Melihat Dunia yang akan menjadi topik diskusi kita malam ini. Silakan Pak Panji. Panji : Baik, terima kasih untuk KGB Pekalongan yang telah berinisiatif membuat group ini. Kewajiban saya diseminasi sebagai bagian dari program BGMD. Berikut ini saya kirimkan artikel pengantar sebagai panduan kegiatan diskusi untuk termin pertama. Isinya mengenai 1) tanya jawab program & 2) relasi siswa, guru, & orang tua Moderator : Teman-teman, keren ya programnya. Nah, untuk selanjutnya agar kita tidak penasaran, saya akan segera memulai termin pertama untuk 3 orang penanya, sila sebutkan nama dan asalnya ya, termin 1 telah dibuka. Najib : Dari program BGMD, hasil apa yang bisa diadaptasi di kita, terutama bagi sekolah-sekolah di daerah seperti di Pekalongan ini? Dan seberapa besar dampak program ini (setelah mengikuti program) dalam pengembangan pendidikan (khususnya secara pribadi). Panji : Saya tak punya peta pendidikan di Pekalongan dan tak bisa pula menggeneralisasi untuk saya di Seruyan, kabupaten tertinggal. PR masih banyak, yang menarik adalah perjumpaan saya dengan guru Bahasa Indonesia di Australia dan mahasiswa PPI menciptakan ruang kenangan tersendiri mereka itu bisa enak-enakan kuliah master tapi repot-repot bikin proposal mau ngurusin guru-gurunya supaya punya kesempatan yang sama melihat dunia. Itu kan benar-benar membuat saya terharu, mereka bisa saja undang penyanyi-penyanyi untuk menghibur sekira 16.000 WNI di Meulborne tapi mereka malah mempercayai kami, kemudian pendaan ini lewat Crowdfunding Kitabisa.Com , mahasiswa ngamen, performance art buat galang dana. Ada pula ana-anak lelang lukisan di SD Cita Buana, Jakarta dan berdonasi. Keharuannya seperti menikah berdampak seumur hidup. jika pertanyaannya seberapa besar saya akan berjuang menumbuhkan dan memperbesar dampaknya kita di forum ini menyisihkan waktu untuk istirahat sudah berjuang membuat perubahan sesederhana apapun. Moderator : Wah meleleh… Jadi Crowdfunding itu artinya benar-benar mencari dana sendiri ya pak. Luar biasa.. bagaimana pak Najib ada tanggapan? Najib : Wah Amazing ya! Walau jawabannya tidak terfokus pada yang saya maksud, tapi malah dapat jawaban yang lebih wow ternyata. Berjuang membuat perubahan sesederhana apapun, dengan melihat contoh-contoh yang ada, dengan melihat pengalaman yang susah kita dapatkan. Keren. Rizki : Sebagai kota literasi dunia, apakah sekolah di Melbourne menerapkan minimum jumlah bacaan pada siswa? Kriteria buku wajib baca bagi siswa di sana bagaimana? Panji : Membaca sudah menjadi bagian keseharian. Perpustakaan atau TBM yang dikelola masyarakat sangat bagus dan lengkap. Kemudian terintegrasi dengan perpustakaan daerah dan perpustakaan sekolah-sekolah. Orangtua pun bisa berpartisipasi. Bisa dibaca langsung di web https://www.premier.vic.gov.au/premiers-reading-challenge-kicks-off-for-2018/ https://wwww.education.vic.gov.au/about/events/prc/Pages/default.aspx?Redirect=1 dan ini web resmi Meulborne kota literasi: http://cityfliterature.com.au/ Rizki : Jika telah menjadi keseharian, lalu penguatan di sekolah mengenai literasi bagaimana pak? Apakah ada jam khusus membaca? Panji : Pengelolaan perpustakaan, profesional, membeli rutin buku, penjenjangan buku untuk usia anak jelas, perpustakaannya asyik. Pustakawan dibekali kemampuan konseling jadi dia bisa dengan lihai, merekomendasikan buku untuk anak sesuai karakter dan keperluannya. Rizki : Ini yang menarik, terima kasih jawabannya pak panji. Mohon maaf jadi bertambah pertanyaannya, soalnya penasaran dengan kegiatan literasi disana. Arsyad : Selama pengalaman dalam guru melihat dunia, berkunjung ke sekolah. Apa yang membuat Pak Panji ada moment AHA yang akhirnya harus dilakukan dalam lingkungan terkecil di sekolah atau pemerintah lakukan misalnya? Panji : 1. Manajemen sekolah rapi, padahal mengurusi 250-an guru dan 2000-an murid, tak ada kelas kosong tanpa ditemani. 2. Profesi guru sangatlah serius dijalani. Ditambah dengan mekanisme penilaian 3 bulanan dirumahkan 3. Pihak yang diajak kerja sama sekolah sangat banyak dan tak umum ditemui di Indonesia. Saya kadang merasa disebuah perusahaan ketika disekolah. Saking rapi dan profesionalnya sekolah kerja sama dengan 28 unit bus besar mengantar siswa ke daerah-daerah yang berbeda atau menyediakan 2000-an laptop untuk disewa siswa Arsyad: Terjawab kak, makasih banyak. Ternyata ya manajemen sekolah sepertinya PR utama untuk lingkungan sekolah yang baik untuk anak. Moderator : Oke teman-teman saya buka untuk termin ke dua ya. Panji : Sebelum ke termin kedua, saya memiliki materi lagi Bu. Berikut materinya tentang kurikulum dan manajemen kelas. Neneng: Pak Panji, pertanyaan saya mengacu pada slide pertama boleh ya? 1. Di tulisan tersebut, pak Panji menuliskan bahwa guru dibekali dengan child protection program? Itu bentuknya seperti apa aplikasi di kelas bagaimana (selain no body contact)? 2. Apakah di sekolah yang bapak kunjungi ada edukasi untuk orang tua terkait program literasi? Jika ada seperti apa? Panji : Child Protection Program ada banyak versi dan di-update terus. Intinya guru dibekali kemampuan konseling dan memberdayakan anak. Anak benar-benar difasilitasi masksimal, guru dibekali teknik investigatif pada anak-anak yang rawan dan punya masalah dari rumah, masalah di sekolah cukup berat, terutama setelah pernikahan sejenis dilegalkan di meulborne. Jika terjadi anak mencari solusi dengan pergi ke polisi mengadukan masalahnya, maka gurunya akan dikenai sanksi karena tidak profesional (ada di slide 2), saking seriusnya child protection sampai ada poster wajib lock down procedure supaya anak-anak bisa mengamankan diri dikelas dari ancaman orang asing, penjahat, pedofil, … Read more

Kesepakatan Kelas

Temu Pendidik Mingguan 59 – Belajar Sepakat, Bisa Dong! Narasumber : Anik Puspowati – KGB Semarang Moderator : Nur Padilah – KGB Depok Hari, tanggal : Jumat, 20 Juli 2018 Moderator : Sebelum memulai temu pendidik malam ini, saya perkenalkan dulu narasumber kita pada malam hari ini. Namanya Anik Puspowati, lahir tanggal 10 Maret. Belajar dan mengajar di unit PG-TK Sekolah Alam Ar-Ridho Semarang, sebelumnya pernah mengajar di salah satu SD Negeri di Semarang sebagai guru honorer. Guru Anik pernah menulis di buku Merdeka Belajar, menulis juga di 3 buku Antologi pendidikan. Menjadi kontributor penulis di Surat Kabar Guru Belajar, dan menjadi narasumber di TPN 2017 di kelas kemerdekaan. Silakan Bu Anik untuk emnyampaikan materi. Anik Puspowati : “Kalau mau ikut belajar sholat nanti Ibu kasih bintang deh. Nanti bintangnya jadi banyak lho… “ Atau bila ada murid yang suka mengganggu teman maka saya katakan, “Kalau mengganggu teman, bintangmu diambil untuk teman yang kamu ganggu ya?”  Biasanya anak langsung menghentikan gangguannya Karena tidak mau sticker bintangnya diambil. Namun apakah hal ini baik bagi murid saya?  Dulu saya berfikir hal itu baik bagi saya dan adil buat anak. Belakangan saya menyadari sebaliknya. Namun suatu pagi ada salah satu wali murid datang mengeluhkan anaknya yang pulang menangis karena kemarin bergulat dengan teman dan dia tidak suka kakinya ditarik teman-teman. Wali murid tersebut khawatir anaknya mengalami perundungan di kelas. Dengan adanya kejadian tersebut maka saya merefleksi kejadian dan mencoba membuat kesepakatan baru bersama anak-anak. Kesepakatan baru telah dibuat atas kesepakatan bersama : Tidak main gulat di dalam kelas, bermain hati-hati dan tidak boleh memaksa teman. Kesepakatan bersama tadi saya tempel di kelas dengan diberi gambar di tiap item kesepakatannya. Maksudnya supaya anak-anak bisa melihat dan ingat akan kesepakatan yang telah kami buat bersama. Selanjutnya saya hanya perlu mengingatkan mereka bila ada yang lupa atau melanggar kesepakatan yang sudah dibuat bersama. Apa efeknya? Anak-anak lebih mudah untuk diingatkan. Anak juga belajar untuk selalu melakukan refleksi, belajar menemukan sendiri problem solving mereka, dan belajar untuk memiliki komitmen terhadap tujuan belajarnya. Saya sangat bahagia, anak-anak sejatinya memang pembelajar sepanjang hayat. Tidak perlu sogokan dan hukuman. Yang perlu ditumbuhkan adalah motivasi dari dalam diri sendiri. Silakan baca tulisan lengkap saya Moderator : Ada pertanyaan dari kanal media sosial tentang tips kesepakatan kelas di tiap tingkatan ini Bu? Anik Puspowati :  Untuk SMP, saya sih terus terang belum pernah mengajar di SMP. Namun menurut saya anak SMP Insya Allah lebih mudah diajak untuk membuat kesepakatan kelas. Karena anak usia 4-5 tahun pun sudah bisa. Jadi ketika akan membuat aturan yang akan ditaati bersama, sebaiknya setiap anak diajak untuk mengungkapkan pendapatnya tentang masalah yang perlu dibuatkan kesepakatan bersama. Brainstorming, kumpulkan semua pendapat kemudian dipilih lagi mana yang kira-kira paling dibutuhkan untuk dibuat aturan bersama. Prinsipnya, guru berperan sebagai fasilitator saja. Untuk murid SMK sebenarnya sama saja sih, karena disiplin positif ini mampu diterapkan dari pre school sampai SMA. Untuk murid yang telat masuk meskipun lonceng telah berbunyi, kalau menurut saya, kita perlu mencari tahu dulu mengapa anak ini sering terlambat masuk kelas meskipun lonceng telah berbunyi. Apakah anak tersebut paham mengapa ia harus masuk ketika lonceng berbunyi? Kita perlu mendengarkan dan kemudian mencari solusi bersama anak tersebut langkah apa yang perlu dilakukan supaya tidak terlambat masuk kelas. Untuk murid bermasalah karena mengalami perlakukan kasar di rumah, ini saya pernah belajar dari teman saya seorang guru MAN Salatiga yang sangat menginspirasi saya. Beliau mempunyai masalah yang sama. Apa yang beliau lakukan? Beliau pergi mendatangi rumah murid tersebut, berusaha berkomunikasi dengan orang tuanya, mengetahui latar belakang permasalahan anak tersebut. Yang beliau lakukan adalah membuat koneksi dengan murid yang bermasalah itu, mendengar dan memahami. Dan ketika beliau sudah mendengar dan memahami muridnya tersebut, beliau akhirnya mampu mendapatkan perhatiannya dan sekarang murid tersebut sangat kooperatif di kelas. Bahkan menjadi murid favorit beliau. Murid yang masih ditunggui orang tua di kelas. Saya sering mengalami ini, hehehe.. biasanya saya komunikasikan dengan orang tua murid saya untuk menyampaikan apa kecemasannya, kemudian saya menyampaikan apa saja yang akan kami lakukan bersama anak-anak. Saya meyakinkan beliau bahwa anak-anak aman di sekolah, dan kami sebagai guru butuh kepercayaan dari walimurid. Biasanya kalau orang tuanya sudah percaya pada sekolah, akan berefek sih terhadap anak. Anak jadi mudah untuk mempercayai guru dan lingkungan baru. Saya juga biasanya men share foto-foto kegiatan belajar hari itu via grup walimurid. Moderator : Apa konsekuensi yang tepat jika murid tidak masuk atau datang terlambat ke sekolah? Anik Puspowati : Murid ijin saat pelajaran dan tidak kembali ke kelas. Ini saya kira sama sih jawabannya, kita perlu tahu mengapa dan kemudian mencari solusi bersama anak. Sebagai referensi Ibu / bapak guru bisa membaca di Surat Kabar Guru Belajar. Disana banyak cerita pengalaman atau strategi pembelajaran dari teman2 guru lain yang salah satunya mungkin kita alami dan sudah berhasil diterapkan di kelas. Moderator : Jika ada anak yang ngobrol saat pelajaran, bagaimana penanganannya?   Anik Puspowati : Jika ada anak yang ngobrol saat pelajaran, bagaimana penanganannya? Mungkin ini perlu refleksi kita, mungkinkah anak ngobrol saat pelajaran itu karena apa yang kita sampaikan itu kurang menarik? Bila iya, mungkin kita bisa coba metode lain yang lebih mengakomodir gaya belajar anak. Moderator : Bagaimana menegur murid yang melanggar peraturan tanpa menyudutkannya, dan apakah perlu membuat kesepakatan dengan anak tentang konsekuensi jika melanggar? Anik Puspowati : Bagaimana menegur murid yang melanggar peraturan tanpa menyudutkannya, dan apakah perlu membuat kesepakatan dengan anak tentang konsekuensi jika melanggar? Yang saya lakukan biasanya mengajaknya ngobrol berdua saja, agak jauh dari teman-teman yang lain. Berusaha membuat anak nyaman dulu. Dengan demikian insya Allah anak akan lebih mampu diajak merefleksikan kesalahannya. Apakah perlu konsekuensi? Menurut saya tergantung kesepakatan, perlu konsekuensi atau tidak. Moderator : Bagaimana menumbuhkan minat pelajar SMK yang tidak sesuai dengan jurusan yang dipilihnya? Anik Puspowati : Wah, salah jurusan ya? Hmmm… Pasti dulu dipilihkan sama orang tuanya, *eh Gini, bisa jadi jurusan yang tidak disukainya itu akan bermanfaat dikemudian hari, karena kan sudah terlanjur. Mau gimana lagi? Banyak juga kan orang yang salah jurusan tapi akhirnya sukses? Banyak lho contohnya. Bantu murid kita itu untuk menentukan … Read more