Dari Alam Menuju Guru Belajar Pekalongan

Belajar dari alam, belajar dari Penggerak Komunitas Guru Belajar Pekalongan. Ketika sekolah dasar dulu, saya mendapat tugas mencangkok. Saya memilih mencangkok pohon jeruk yang banyak tumbuh di halaman rumah. Dengan susah payah, akhirnya berhasil juga mencangkoknya. Ketika dipindah, cangkokan tumbuh, bahkan lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pohon jeruk sebelumnya. Singkat cerita, pohon jerukan cangkokan berbunga dan berbuah lebat. Tapi tanpa disangka-sangka, malam badai lebat, dan paginya pohon jeruk cangkokan itu tumbang.  Kenapa?  Kata orang, pohon hasil cangkok tidak mempunyai akar tunggang yang menancap pada kedalaman tanah. Pohon hasil cangkok tumbuh mengalami proses pertumbuhan berbeda dengan pohon yang tumbuh dari biji, atau melalui proses alaminya.  Apa hubungannya cangkok dan guru belajar? Begini ceritanya  Dua tahun lalu, saya diundang menghadiri Temu Pendidik Daerah yang diadakan Komunitas Guru Belajar Pekalongan. Saya sampai di Pekalongan sehari sebelum kegiatan. Keesokan harinya, saya diajak makan siang bersama orang dinas pendidikan sambil ngobrol tentang aktivitas pengembangan guru. Selesai makan siang, saya meluncur ke lokasi Temu Pendidik Daerah yang diadakan di sebuah sekolah. Sesampai di sana, saya disambut kepala sekolah dan kami pun bicara panjang lebar sekaligus menanti para peserta datang. Banyak guru yang hadir, dua ruang kelas yang disatukan pun penuh sesak.  Temu Pendidik Daerah Pekalongan edisi perdana pun dimulai. Pada sesi inspirasi, 3 orang guru berbagi praktik pengajarannya. Seorang Bu Guru bercerita pengalaman awal menjadi guru yang harus ditempuh dengan mengendara motor disambung dengan jalan kaki mendaki gunung. Selanjutnya sesi refleksi, saya memandu para guru melakukan refleksi, menarik pelajaran dari pengalaman guru pada sesi sebelumnya. Dan diakhiri dengan sesi aksi, komitmen tindak lanjut setelah kegiatan. Selesai acara, saya menyatakan kekaguman saya pada dua penggerak Guru Belajar Pekalongan, Pak RIzqy dan Pak Rudi. Temu Pendidik Daerah dipenuhi peserta. Kami habiskan sore dengan obrolan santai sampai jadwal kereta datang dan saya kembali ke Jakarta. Kembali dengan hati gembira.  Tapi entah mengapa, beberapa bulan berlalu, Komunitas Guru Belajar kembali sepi. Tidak ada aktivitas belajar, tidak ada diskusi. Ada apa?  Ketika saya bertanya, Penggerak Guru Belajar Pekalongan menjelaskan dari sekian banyak peserta Temu Pendidik Daerah tidak ada yang tertarik untuk bergabung. Rupanya mereka hadir di Temu Pendidik Daerah karena ada surat edaran dari Dinas Pendidik. Ketika tidak ada surat edaran, keterlibatan mereka pun berhenti. Saya pun jadi ingat Salah Kaprah Pertama Guru Belajar: Guru belajar hanya ketika ada insentif atau ada ancaman hukuman.  Namun, rupanya Penggerak Guru Belajar Pekalongan pantang menyerah. Terus mencari cara ketika ada hambatan menghadang pencapaian tujuan. Satu cara gagal, cari cara lain, yang meninggalkan salah kaprah guru belajar. Mereka mencari guru yang mau belajar karena kemauannya sendiri, bukan karena keinginan mendapat insentif atau menghindari hukuman.  Sebagaimana pohon jeruk yang tumbuh dari biji, Komunitas Guru Belajar Pekalongan tumbuh perlahan. Kegiatan kecil demi kegiatan kecil dilakukan. Sedikit demi sedikit akhirnya menjadi bukit. Tahun ini, Komunitas Guru Belajar Pekalongan bekerjasama dengan Universitas Pekalongan menggelar Temu Pendidik Pekalongan Raya yang dihadiri 200 guru dari berbagai daerah. Ada kelas kemerdekaan, ada kelas kompetensi, ada kelas kolaborasi dan ada kelas karier. Paket lengkap! Biji itu rupanya sudah berkembang pohon yang berbuah ranum dan lebat. Apa pilihan Anda, terburu-buru mencangkok atau bersabar menumbuhkan biji Komunitas Guru Belajar di daerah Anda?

Membela Bu Ela

Kenapa bu Ela harus dibela? Bukan karena Bu Ela tidak berdaya. Sebaliknya, karena berdaya maka tidak boleh dibiarkan sendiri.   Saya sudah tiba di Makassar. Tiga hari di Jakarta mengikuti Temu Pendidik Nusantara 2018. Beasiswa penuh. Semua transportasi dan penginapan ditanggung panitia. Ucap syukur pada kawan-kawan panitia. Sebagai peserta beasiswa, saya berkewajiban membagi pengetahuan, keterampilan dan pengalaman baru selama Temu Pendidik Nusantara. Catatan ini dimaksudkan untuk maksud di atas. Puncak Temu Pendidik Nusantara 2018 dipusatkan di GOR PKP Jakarta Timur. Saya duduk di area 1 C dari tiga area yang disiapkan panitia. Duduk paling depan bersama guru dari KGB Wajo dan perwakilan PGRI.  Di area yang saya tempati dipenuhi kawan-kawan guru dari berbagai daerah di Indonesia.  Acara utama dimulai. Ibu Najelaa Shihab tampil ke panggung utama. Panggungnya luas. Di lantai, terpampang tiga kata: inspirasi, aksi dan refleksi. Tulisan itu adalah pesan. Guru adalah sumber inspirasi di kelas. Untuk menginspirasi, guru terus menerus melakukan aksi-aksi. Dengan apa?  Pembaruan cara mengajar. Setiap guru harus membekali dirinya dengan beragam penguasaan keterampilan mengajar. Jika tidak, cepat atau lambat guru akan ditinggalkan para pengikut.  Muaranya adalah refleksi. Apakah aksi yang sudah dilakukan berdampak atau tidak. Dampaknya bisa besar atau kecil. Harus diukur. Hasil pengukuran akan  menentukan tindakan selanjutnya. Begitulah guru yang merdeka belajar menunaikan tugasnya.  Bukan Ibu Ela yang menyampaikan. Saya yang menafsirnya begitu. Apa yang diucapkan ibu Ela sebagai penggagas TPN tidak mudah saya ingat dengan baik. Saya tidak bisa mengandalkan ingatanku yang bermasalah. Mencatat semua yang beliau sampaikan akan menyulitkanku fokus  dan bertepuk tangan.  Saya tidak bisa menahan haru ketika  ibu Ela mengajak ibu Rahmi dan Ibu Wanti  naik ke panggung. Lelaki macam apa saya: kumisan plus cambang, duduk paling depan tapi berlinang air mata. Percayalah, jika hati bapak-ibu masih ditempatnya, akan mengalami hal yang sama.  Ibu Rahmi dari Pesisir Selatan. Ibu Wanti dari Sanggau. Keduanya mengajar di pedalaman, akses yang terbatas. Jika hujan, Ibu Wanti berjalan kaki cukup jauh untuk sampai di sekolahnya. Saya tidak bisa menahan tangis melihat gambar ibu Wanti mendorong motor di jalan berlumpur. Lumpurnya sampai di lutut. Cerita ibu Rahmi juga menyedihkan. Saya belajar, fasilitas  bukan segalanya. Ibu Ela benar, guru-murid adalah sekutu utama. Ibu Rahmi dan Bu Wanti sudah menunaikan tugasnya sebagai guru yang merdeka belajar.  Kenapa bu Ela harus dibela? Bukan karena Bu Ela tidak berdaya. Sebaliknya, karena berdaya maka tidak boleh dibiarkan sendiri.  Perjuangannya tentang kemerdekaan belajar harus dibagi di seluruh pelosok negeri. Semua guru semua murid harus terasa di setiap ruang waktu. Ibu Najelaa telah memilih berdiri di sisi bu Rahmi dan Bu Wanti, memperjuangkan cita guru yang merdeka belajar. Mendengarkan cerita ibu Najelaa, serasa dibawa kembali masa silam, hadir pada pertemuan Selasa Kliwon  di Puri Pakualaman. Rumah pendiri taman siswa. Ada kegelisahan dan juga banyak harapan. Ki Hajar Dewantara prihatin dengan kemerdekaan berpikir para peserta didik. Ki Hajar kukuh berjuang pada tiga hal: bahwa pendidikan harus mencakup wilayah yang luas. Bahwa perjuangan itu menuntut kemandirian. Bahwa Pendidikan kita harus mengajarkan sistem ketahanan diri.  Guru berdaya tidak lahir dengan tiba-tiba. Guru harus bersentuhan dengan beragam peristiwa dan kesulitan. Semua guru mesti membangun banyak relasi dan hubungan dengan rekan sesama guru di banyak tingkatan. Ini akan menguatkan sekaligus mengayakan. Taman Siswa adalah dialektika. Temu Pendidik Nusantara juga begitu. Kolaborasi dengan banyak unsur adalah kemestian. Karena alasan itulah saya ingin berdiri bersama ibu Ela, Ibu Wanti dan juga Bu Rahmi. Perjalanan dari GOR PKP ke Bandara butuh waktu 1 jam 45 menit. Saya baca di aplikasi transportasi. Saya percaya dampak TPN pada guru, tapi tidak dengan waktu tempuh  perjalanan di Jakarta. Kepastian jarak tempuh di Jakarta hanya Tuhan yang tahu. Karena kepercayaan ini, saya tidak sempat pamit pada panitia. Terima kasih saya ucapkan pada panitia Temu Pendidik Nusantara 2018. Makassar, 8 Oktober 2018 Tulisan ini pertama dipublikasikan sebagai status Facebook.

Perjuangan dan Kesenangan Belajar Temu Pendidik Regional Jawa Timur

Apakah bisa kegiatan pengembangan guru dilakukan tanpa iming-iming uang transportasi dan surat penugasan dari dinas atau sekolah? Apa ada guru yang mau ikut kegiatan di hari libur dan jauh dari tempat tinggalnya? Mungkin dua pertanyaan di atas yang terkadang membuat kita pesimis untuk melakukan kegiatan pelatihan atau pertemuan guru, karena asumsi sebagian orang bahwa guru hanya akan mengikuti pelatihan jika ada uang transportasi dan surat penugasan, guru kurang punya semangat untuk mengembangkan kompetensi dan mengikuti perkembangan dunia pendidikan yang bergerak begitu pesat. Untuk menjawab keraguan itu, komunitas guru belajar mengadakan Temu Pendidik Regional Jawa Timur. Temu Pendidik Regional Jawa Timur adalah pertemuan tahunan yang mempertemukan pendidik di wilayah Jawa Timur untuk berbagi praktik baik pengajaran, mengembangkan kompetensi, membangun kolaborasi dan merintis karier. Kegiatan ini berawal dari inisiasi Komunitas Guru Belajar Surabaya yang ingin mengadakan “pemanasan” sebelum kegiatan besar tahunan komunitas guru belajar yaitu Temu Pendidik Nusantara 2018. Kegiatan ini terdiri dari 5 sesi, yaitu kelas kemerdekaan, kelas kolaborasi, kelas kompetensi, kelas karier dan acara puncak. Acara diselenggarakan pada Sabtu, 1 september 2018 di Sekolah Cikal Surabaya, dalam pertemuan ini ada 36 kelas yang dihadiri oleh 180 guru yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur. Perjuangan mereka untuk mengikuti acara ini sangat besar, selain meluangkan hari libur selama 1 hari untuk belajar bersama, ada 8 orang guru yang harus berangkat jam 04.00 WIB dari rumahnya untuk dapat hadir tepat waktu, dan ada sekitar 15 orang guru dari berbagai daerah yang karena jarak kegiatan yang jauh mereka harus berangkat satu hari sebelum acara dimulai dan sampai di Surabaya jam 23.00 WIB. Mereka berbagi dan bercerita tentang perkembangan Komunitas Guru Belajar di wilayahnya, setelah itu mereka menginap di lokasi acara, tidur di dalam kelas menggunakan kantung tidur bersama-sama. Ya.. Anda tidak salah baca, tidur di dalam kelas menggunakan kantung tidur bersama rekan guru merdeka belajar lainnya. Kenapa merdeka belajar? Karena para guru tahu tujuan mengikuti Temu Pendidik Regional. Mereka sadar bahwa dalam kegiatan ini mereka akan bertemu rekan-rekan guru lainnya yang memiiki semangat belajar internal, bukan dari pihak eksternal yang memaksa mereka untuk hadir. Para guru mandiri terhadap cara, tidak tergantung keadaan atau fasilitas yang disiapkan. Mereka juga memiliki pilihan, bukan hanya sebagai peserta, namun beberapa dari mereka juga menjadi narasumber dari kegiatan ini, mereka tidak hanya disodorkan kelas-kelas apa saja yang harus mereka harus ikuti, tapi mereka bisa memilih topik apa yang mereka anggap sesuai dengan kebutuhan, Dan setelah mengikuti acara ini, mereka berkomitmen untuk membagikan semangat dan pengetahuan yang mereka dapatkan ke rekan di komunitas guru belajar daerahnya sambil berefleksi. Acara ditutup oleh penampilan “GBN”, singkatan dari Guru Bisa Nge-band yang anggotanya adalah anggota Komunitas Guru Belajar Surabaya, mereka membawakan beberapa lagu bertema pendidikan, para peserta bahkan sampai beranjak dari tempat duduknya dan berkumpul di depan panggung, untuk ikut bernyanyi bersama. https://www.instagram.com/p/BnQYTAih0pd/?tagged=tprjatim2018 Kegiatan ini menjawab keraguan tentang guru belajar. Ternyata motivasi internal itu lebih kuat dan abadi dari iming-iming yang tanpa disadari meracuni dan merusak kesenangan yang kita dapatkan dari proses belajar, ternyata belajar itu bukan hanya dari para ahli yang terkadang tidak menginjakkan kaki di kelas seperti para guru, tapi rekan seperjuangan yang memiliki semangat yang sama untuk perbaikan pendidikan yang dapat menjaga api semangat untuk terus belajar sepanjang hayat.

Guru Desa: Empat Keanehan Temu Pendidik Nusantara

Ketika guru yang lain menatap kagum, guru desa satu ini justru merasakan keanehan Temu Pendidik Nusantara. Apa keanehannya? “Bu Lani, saya mau menjadi penggerak”Saya mengumpulkan segenap keberanian untuk menuliskan chat tersebut ke bu Lany waktu itu beliau masih menjadi koordinator penggerak untuk wilayah Sumatera. Inisiatif tersebut saya kemukakan bukan tanpa alasan karena satu ada kuota beasiswa untuk penggerak untuk ikut Temu Pendidik Nusantara, dan sangat sayang untuk dilewatkan. Oh ya sebelumnya saya sudah mendiskusikannya di grup Guru Belajar Pesisir Selatan siapa yang akan ditunjuk menjadi penggerak dan ternyata tidak ada respon. ketika itu grup kami masih berisi sekitar 25 orang dan masih sangat pasif dan anggota gruppun kebanyakkan teman-teman yang belum saya kenal, karena ketika grup dibuat oleh pak Bukik Setiawan isinya hanya kita bertiga, pak Bukik, Bu Lany dan saya. Ada banyak keanehan yang saya rasakan di Temu Pendidik Nusantara 2017. Saya merasa dunia saya mulai berubah. *Keanehan Pertama* Saya adalah seorang guru dari pelosok di pesisir pantai Sumatera yang sempat ketinggalan telepon genggam di bandara, gugup karena baru pertama kali naik pesawat, dan sempat berfikir di udara jika pesawat jatuh kemana saya akan menapak.. Saya berangkat bersama 4 orang penggerak hebat lainnya Pak Adhan Chaniago Bungsu, Pak Dicky Irawan, dan Bu Verawati Koto yang mewakili 4 Kabupaten di Sumatera Barat. Sesampai di Soeta kami dipandu oleh relawan menuju penginapan. Saya beserta dua teman menginap di LPMP dan salah dan satu teman saya menginap di rumah relawan orang tua murid Sekolah Cikal. Hari pertama saya masuk kelas penggerak karena penggerak wajib mengikuti kelas ini, saya bersama teman-teman mendapat materi tentang Guru Merdeka Belajar oleh Ibu Najelaa Shihab dan Pak Bukik Setiawan. Dari pemaparan beliau berdua tentang salah kaprah guru mardeka belajar terjadi pergulatan batin dalam diri saya. Logika saya seperti dibolak-balik, ada pertentangan batin untuk menerima itu semua. Saya sempat ragu apakah saya tidak salah masuk? Apakah saya berteman dengan orang-orang yang tepat? Apakah saya tidak salah pilih teman dan lain sebagainya? Hmmm tak mudah memang untuk merubah keyakinan yang sudah terbangun selama puluhan tahun. *Keanehan kedua* Saya adalah seorang guru dari pelosok desa yang terbiasa dengan pola pelatihan konvensional, dilatih dengan narasumber ahli, wajib bawa laptop, duduk manis walaupun terkantuk-kantuk, siap menampung materi dari pagi sampai malam, duduk diruangan yang sama. Di Temu Pendidik Nusantara, kondisinya berbanding terbalik. Saya belajar bersama guru-guru yang memiliki pengalaman berhadapan langsung dengan anak-anak, antar jenjang dan antar lintas, mulai TK,SD, SMP, SMA/SMK, perguruan tinggi bahkan orang-orang yang yang peduli dengan pendidikan. Belajar dengan antusias, energi positif memenuhi seluruh rungan, tepukan riuh pertanda memberi dukungan sehingga membangun percaya diri. Setiap sesi dengan kelas yang berbeda dan suasana yang berbeda. Tak jarang saya belajar di luar ruangan dan harus pindah mencari kelas yang sesuai, dan laptop saya sempat nganggur selama pelatihan. *Keanehan ketiga* Saya adalah guru dari sebuah desa yang terheran-heran dengan gaya menulis teman-teman. Ada yang menulis dengan banyak kotak-kotak, memakai banyak panah, berbentuk gambar, diagram dan begitu banyak spidol dalam tas mereka untuk membuat tulisannya menjadi berwarna. Mungkin bagi sebagian orang menulis seperti itu sangat biasa tapi waktu itu saya menganggap itu sesuatu yang sangat luar biasa. *Keanehan keempat* Saya guru desa yang tak pernah bermimpi bertemu dengan Ibu Menteri Sri Pujiastuti. Namun, di Temu Pendidik Nusantara 2017, saya bertemu dengan beliau dan hanya dibatasi jarak beberapa buah kursi. Dari cerita beliau saya jadi tahu, kesukaan beliau adalah membaca dan beliau pernah membaca habis seluruh buku perpustaaan yang ada di desanya. Beliau masih ingat dengan sebagian besar judul buku-buku yang pernah dibacanya puluhan tahun silam. Beliau juga cerita sering lupa waktu ketika membaca, karena kebiasaan tersebut orang tuanya sempat marah tapi tak mengentikan kebiasaannya membaca dengan bersembunyi di kolong tempat tidurnya. Ternyata keanehan di TPN 2017 silam berlanjut sampai detik ini, saya masih merasa aneh kenapa bisa menulis sepanjang ini (walaupun masih banyak teknik yang mungkin harus dibenahi). Padahal beberapa waktu yang lalu untuk menulis satu baris status di FB saja harus butuh waktu lamaaaa baru bisa menuliskannya. Sampai saat ini saya masih merasa aneh sudah mulai terbiasa bicara di depan umum padahal dulu sering gemetar dan tidak percaya diri, dan satu lagi yang sangat-saaaaaangat aneh menurut saya adalah ketika memberanikan diri untuk menjadi pembicara di Temu Pendidik Nusantara 2018. Temu Pendidik Nusantara ini tingkat Nasional Meeeeen masih ada rasa tak percaya, apa iya aku bisa… Entah apalagi keanehan yang akan ditawarkan oleh TPN 2018, yang pasti saya ingin kembali merasakannya. See you TPN 2018. Pesisir Selatan, Negeri Sejuta PesonaSabtu, 8 September 2018 RahmiGuru SMP Negeri Lengayang Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Status Facebook.

Membaca & Menulis, Terampilkah Kita? Mari Belajar Mengembangkannya

Narasumber : Rosmayanti Mutiara & Elisabet Indah SusantiHari, Tanggal : Jum’at – Sabtu, 24-25 Agustus 2018Tempat : Rumah Kreatif Wadas Kelir & SMP Permata Hati, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah. Membaca dan menulis merupakan kegiatan yang selalu ada sejak kita membuka mata pagi hari hingga sebelum kita tertidur kembali. Mulai dari membaca dan menulis pesan melalui gawai, membaca koran media cetak, membaca iklan yang terpampang di sepanjang jalan, membaca jurnal, menulis surat elektronik, menulis catatan singkat, dan masih banyak lagi aktifitas membaca dan menulis dalam kehidupan keseharian kita. Bahkan mulai sebelum kita sekolah dan hingga kini bekerja, baik membaca dan menulis sudah dilakukan sejak dahulu. Karena merupakan kegiatan harian yang selalu ada sejak dahulu, maka mudahkah membaca dan menulis itu? Apakah tetap diperlukan keterampilan untuk membaca dan menulis? Kembali, Kampus Guru Cikal yang diprakarsai oleh NusantaRun memberikan pelatihan kepada guru-guru di SMP Permata Hati Purwokerto. Topik yang diangkat kali ini adalah keterampilan membaca dan menulis. Selama dua hari kegiatan pelatihan ini, tepatnya, 24-25 Agustus 2018, mulai pukul 08.00 – 15.30 WIB. Pelatihan ini dipandu oleh rekan-rekan guru Sekolah Cikal, yaitu Ibu Rosmayanti Mutiara & Ibu Elisabet Indah Susanti. Sedikit mengulas tentang Ibu Rosmayanti, yang kerap disapa Yanti yang kini menjabat sebagai kepala sekolah di Sekolah Cikal Serpong yang memiliki pengalaman mengajar selama kurang lebih 19 tahun, sedangkan Ibu Susan merupakan pengajar di Sekolah Cikal Serpong dan telah memiliki pengalaman mengajar hampir 15 tahun. Selain itu, belajar kali ini sangatlah berbeda, dengan mengambil tempat belajar di Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK), sehingga kami harus mengendarai transportasi umum “angkot” untuk menuju ke sana. Biasanya kami hanya berjalan kaki ke Sekolah Permata Hati. Kurang lebih 30 menit menuju lokasi RKWK dan tibalah kami di sana. Langsung disambut hangat oleh Bapak Heru Kurniawan M.A, sebagai penggagas RKWK. Didirikan pada tahun 2013 karena keprihatinan pada pendidikan masyarakat sekitar. Dengan fokus pada dunia pendidikan, RKWK menyelenggarakan berbagai kegiatan edukatif pada masyarakat secara berkesinambungan. Dari kegiatan-kegiatan inilah, RKWK kemudian berkembang dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan pendidikan yang dikelola oleh Relawan, Remaja, dan Masyarakat. RKWK terus melakukan berbagai kegiatan pendidikan setiap harinya tanpa henti dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat melalui pendidikan. Harapannya, dengan memberikan pendidikan terbaik pada masyarakat, semoga kelak dari Rumah Kreatif Wadas Kelir akan lahir pemimpin-pemimpin bangsa yang akan memajukan bangsa kita tercinta: Indonesia.   Menulis Dengan RasaTeriknya Kota Purwokerto saat itu tidak menyurutkan keinginan kami untuk belajar bersama. Pelatihan keterampilan membaca dan menulis ini diperuntukkan bagi guru yang kesulitan membantu anak untuk membaca dan menulis, belum memahami tujuan dari kegiatan membaca dan menulis, memaknai membaca sebagai tugas perkembangan yang hanya selesai pada usia sekolah dasar, demikian pula halnya dengan menulis, serta tidak memiliki atau mengetahui strategi apa saja yang bisa digunakan untuk membaca dan menulis bersama anak di kelas.Selama kurang lebih 3 jam, Pak Guru begitu sapaan bersahabat rekan relawan kepada Pak Heru, mengemukakan tentang dasar-dasar penulisan. Beliau mengemukakan standar tulisan berliterasi harus memiliki 4 syarat, yaitu benar, baik, bermanfaat dan menginspirasi. Ke empat hal ini wajib dalam sebuah tulisan esai. Tulisan dapat membahas suatu masalah di sekolah dari sudut pandang penulis dan dielaborasi dengan pengalaman dan pengetahuan penulisnya. Tambahnya lagi, bawah dalam menulis tidak lupa untuk memasukan unsur rasa, sehingga pembaca dapat pula mengalami atau turut merasakan apa yang dialami atau rasakan oleh penulisnya. Hal ini dialami oleh Bu Yani, salah seorang peserta sampai tidak sanggup membacakan hasil tulisannya karena tulisannya sanggup menyentuh rasa bagi diri dan orang lain yang mendengarnya, sehingga harus dibantu oleh Ibu Gayuh dalam membaca tulisan tersebut. Kegiatan belajar bersama pak guru pun berakhir. Sedangkan Ibu Yanti dan Ibu Susan menambahkan, bahwa ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan dalam menulis, yaitu: Pra-writing: gagasan atau ide tulisan. Drafting: gagasan atau ide tulisannya dibuat dalam bentuk draft (pengorganisasian gagasan/ide). Sharing: penulis mendapat masukan dari pembaca/pendengar terhadap draft kasar yang dibuatnya. Revising: melakukan refleksi terhadap draft dan melakukan perubahan berdasarkan ciri-ciri penulisan. Editing: mengkoreksi tulisan yang meliputi pengecekan tanda baca, huruf besar dan kecil, ejaan, paragraf dan penggunaan grammar. Publishing: tulisan yang sudah dikemas dengan baik Dalam kesempatan pelatihan menulis ini dipaparkan pula tentang salah kaprah dalam menulis dan tingkatan kemampuan anak dalam menulis, sebagai berikut: Emerging/Scribble:  Anda mungkin tidak dapat memahami gambar ini; namun Anda perlu menaruh perhatian pada tahap awal anak mulai menggambar. Pictoral: Anak mulai menggambar lebih jelas dan memiliki arti. Anak mulai dapat mengimitasi gambar. Pre-communicative: Mulai dapat menulis huruf secara acak, namanya, maupun bentuk lain yang dilihat di sekitarnya. Mencoba menuliskan pesan yang tidak dapat dimengerti karena belum memiliki makna. Semi-phonetic: Mulai menggunakan dan menuliskan huruf untuk disamakan dengan bunyinya. Biasanya menulis dari kiri ke kanan. Masih menulis huruf dengan terbalik. Phonetic: Dapat mengeja dan menuliskan kata dengan awalan dan akhiran bunyi konsonan. Anak mungkin menambahkan huruf vokal. Pada tahap ini tulisan anak mulai dapat dimengerti. Transitional: Dapat menuliskan kata sesuai bunyinya. Terkadang menuliskan huruf yang sama dua kali.Dapat menulis lebih dari satu kalimat. Dapat membuat spasi antar kata dan dapat mengeja banyak kata dengan benar. Conventional: Dapat mengeja banyak kata dengan benar; meskipun masih berdasarkan dasar bunyi fonik.Dapat mengeja kata yang sudah dipelajari. Mulai menggunakan huruf kapital, huruf kecil serta tanda baca seperti tanda titik dan tanda tanya. Traditional: Dapat mengeja kata dan  menggunakan banyak kosa kata.  Memakai tanda baca seperti tanda tanya, tanda koma dan tanda seru secara tepat. Membuat paragraf dengan baik. Membaca memahami makna Sejenak beristirahat, kami pun melanjutkan kegiatan pelatihan berikutnya, yakni keterampilan membaca. Ibu Yanti dan Ibu Susan menanyakan kepada para peserta, apa sebenarnya membaca dan peserta kemudian menuliskan serta mengemukakan pendapatnya mengenai membaca. Dipaparkan pula, bahwa masih terdapat konsepsi yang tidak tepat terhadap konsep membaca. Membaca, selain menambah kosakata dan perbendaharaan kata, namun sesungguhnya membaca adalah memahami makna. Untuk memahami makna tersebut ada tahapan-tahapan dalam membaca sehingga pengamalan membaca jadi semakin menyenangkan. Agar pengalaman membaca menjadi menyenangkan, maka dibutuhkan pula strategi yang dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti: bercerita  membaca tanda dan simbol di sekitar sekolah, bermain drama, visualisasi (tulisan ke gambar), atau juga dapat mengajukan pertanyaan yang cukup kompleks untuk melatih dan meningkatkan pemahaman (sebelum, ketika, dan setelah membaca). … Read more

Kebutuhan Belajar

Sewaktu SMA saya tidak berani ke ibukota sendirian, karena kabar-kabar dari televisi, dari omongan orang bahwa ibukota kejam, tidak aman, macet dan sulit tranportasinya. Namun beberapa tahun belakangan ini, banyak murid saya seusia SMA yang sudah bolak-balik ke ibukota. Ketakutan-ketakutan saya dulu sepertinya sudah mulai berkurang. “Kamu kok berani ke Jakarta sendirian?” tanyaku.“Sekarang apa-apa mudah kok Pak. Kemarin beli tiket kereta saja tidak perlu ke stasiun. Kalau udah sampai Jakarta juga mudah Pak, ada banyak ojek online, langsung sampai rumah orangtua di Jakarta”, jawabnya. Apa yang menjadi masalahku sewaktu SMA dulu ada jawabannya sekarang. Masyarakat butuh kenyamanan, kemudahan dan keamaan dalam memakai transportasi umum, muncullah aplikasi transportasi online. Masyarakat butuh kemudahan dalam pembelian tiket, pemesanan hotel muncullah Traveloka, Airbnb,dsb. Masyarakat butuh kemudahan berbelanja, muncullah tokopedia, bukalapak, shopee dan sebagainya. Startup-startup di atas memahami masalah yang ada pada masyarakat dan kemudian menciptakan solusi, menjawab persoalan kebutuhan yang selama ini tidak terpikirkan. Ya, kebutuhan! Seringkali kita lupa hal yang mendasar yaitu kebutuhan. Sebagai guru contohnya : Menghabiskan uang untuk membeli media-media pembelajaran, sampai berjuta-juta. Namun nyatanya hanya untuk pajangan di kelas. Membeli rencana pelaksanaan pembelajaran, yang nyatanya apa yang ada di dalamnya tidak sesuai dengan murid yang diajar. Ikut-ikutan trends tidak memberikan tugas di rumah, ikut-ikutan cara mengajar guru di suatu sekolah yang nyatanya tidak pas diterapkan di lingkungan tempat kita mengajar. Tidak pernah bertanya pada diri sendiri “Apa sekolahku butuh ini ya?”, “Apa kelasku butuh ini ya?” “Apakah murid yang aku ajar benar-benar butuh?” Para pendiri strartup-startup tahu benar apa yang dibutuhkan masyarakat, melakukan riset bertahun-tahun, memetakkan apa yang dibutuhkan, menciptakan jawaban dari kebutuhan itu. Pertanyaanya adalah sudahkah kita melakukan riset di kelas? Memetakkan apa yang menjadi kebutuhan belajar murid?

Semangat Merdeka Belajar di Pesisir Selatan

Semangat guru Pesisir Selatan dalam mengikuti pelatihan sungguh luar biasa. Padahal mereka guru PNS yang sering dinilai tidak suka mengembangkan diri. Kok bisa? Saya bersama dua pelatih, Ibu Unun dan Ibu Nuli berangkat ke Pesisir Selatan. Kami akan mengadakan pelatihan Merdeka Belajar dan Memanusiakan Hubungan yang berlokasi di kota Painan yang merupakan ibu kota Pesisir Selatan. Jarak Painan dari kota Padang kurang lebih 72 kilometer yang membutuhkan waktu tempuh 2 jam. Pelatihan tiga hari ini merupakan bagian dari Playground of Minang, program Sekolah Cikal untuk berkontribusi terhadap kualitas pendidikan Indonesia. Pada tahun ini, Cikal memilih Minang sebagai fokus belajar yang dipelajari para murid sehingga disebut sebagai Playground of Minang. Kegiatan ini melibatkan murid, guru, orangtua, manajemen dari Rumah Main Cikal, Sekolah Cikal dan Kampus Guru Cikal. Kami datang di lokasi pelatihan jam 07.00, UPTD kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan. Para peserta pelatihan yang merupakan guru dan kepala sekolah datang dengan semangat membara. Pelatihan dimulai dengan kegiatan penyemangat, setiap peserta mendapatkan kertas dengan berbagai jenis aktivitas dengan maksud agar mengenal satu sama lain. Setelah itu pelatih menyampaikan materi Merdeka Belajar. Mengapa diawali dengan Merdeka Belajar, padahal tema POMIN tahun ini adalah “2000 Anak Sumatera Barat Melek Literasi dengan Memanusiakan Hubungan”? Pelatih menjelaskan pentingnya mempelajari materi dasar sebelum mempelajari literasi. Karena melalui merdeka belajar, guru dapat mengembangkan belajar berkelanjutan baik pada diri sendiri maupun pada muridnya. Ciri merdeka belajar itu sendiri yaitu berkomitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara, dan melakukan refleksi. Pada hari kedua dan ketiga, peserta mempelajari Memanusiakan Hubungan dengan semangat merdeka belajar yang telah dipelajari sebelumnya. Tujuan dari materi ini adalah adanya pemahaman bermakna bahwa keberlangsungan kegiatan belajar mengajar memerlukan interaksi positif antarmanusia yang ada di sekolah. Peserta dipandu membuat kesepakatan bersama, membedakan antara hukuman dan konsekuensi dan menerapkan lima posisi kontrol sebagai acuan komunikasi dalam membangun disiplin positif. Semangat para peserta semakin membara di hari terakhir pelatihan. Semua antusias dan terlibat dalam semua aktivitas yang dipandu oleh pelatih. “Pelatihan ini merupakan pelatihan yang jelas, jelas dalam artian kami jadi tahu tujuan kami,  dimana posisi kami dan apa yang harus kami lakukan untuk mencapai tujuan dan semoga kami tidak bergerak sendirian, tapi juga didukung oleh sekolah” tutur Ibu Rahmi yang juga merupakan penggerak Komunitas Guru Belajar setelah mengikuti pelatihan. Pelatihan ditutup dengan tanya jawab bersama Kepala Dinas Pendidikan Pesisir Selatan. Pada sesi penutup, para peserta mengungkapkan harapan mereka agar pelatihan seperti ini diadakan lebih sering dan dapat dihadiri oleh lebih banyak guru. Mereka juga meminta dukungan dari pihak Dinas Pendidikan agar para kepala sekolah dapat mendukung proses penerapan praktik hasil pelatihan di sekolah mereka. “Pelatihan hebat yang belum pernah saya dapatkan selama kurang lebih 10 tahun saya menjadi seorang pendidik di SD, ternyata selama ini kami pendidik di Pesisir Selatan khususnya, banyak sekali kurangnya dari segala segi, semoga Kampus Guru Cikal selalu membimbing kami baik daring maupun luring” tutur Ibu Elvadeni salah satu peserta pelatihan.

Pelatihan Pembuatan Video dengan Handphone

Setiap mengisi pelatihan video, pertama kali yang ditanyakan guru menjelang pelatihan antara lain : “Apa saja alat yang harus saya bawa? Apakah saya harus membawa laptop? Wah saya tidak punya laptop?” Saya biasanya menjawab, “Cukup bawa handphone saja dan semangat untuk belajar”. Mungkin Anda yang membaca ini langsung mengernyitkan dahi, dan bertanya hal serupa dengan calon peserta pelatihan tadi “Hah! Handphone, memangnya bisa”. Agar percaya silakan lihat video-video di bawah ini. Video yang dibuat oleh guru Dian hanya menggunakan handphone. Oleh karena itulah seminggu sebelum pelatihan pembuatan video pembelajaran di Palembang, 4 Agustus 2018, kami (Kampus Guru Cikal dan Inibudi.org) melakukan diskusi bersama calon peserta. Diskusinya dimulai dari pembuatan kelompok, ide skenario pembelajaran yang akan dibuat, hingga media yang digunakan dalam pembuatan video. Saya menyarankan kepada peserta untuk mengunduh aplikasi Kinemaster di handphonenya masing-masing. Aplikasi tersebutlah yang akan digunakan dalam editing video nanti. Dasar-dasar Kinemaster. Diskusi di grup Whatsapp calon peserta memudahkan kami dalam memetakan kebutuhan guru dan membuat efektif serta efisien waktu pelatihan. Benar saja, saat pelatihan berlangsung di Singapore Indonesia School peserta lebih terkoordinir. Alat dan bahan untuk keperluan shooting sudah dibawa, dan di setiap handphone peserta sudah terinstal aplikasi Kinemaster. Pelatihan dimulai dengan membentuk lingkaran besar, kemudian setiap peserta mencari pasangan untuk mengobrol mengenai tujuan mereka mengikuti pelatihan pembuatan video. Dari hasil obrolan tersebut didapatkan kesimpulan bahwa kebanyakan peserta ingin menjadi Guru Zaman Now yang menyampaikan pembelajaran menggunakan video. “Murid-muridnya sudah canggih, masa’ gurunya ketinggalan” sahut salah satu peserta ketika diminta menyampaikan tujuannya di depan khalayak. Penyampaian tujuan merupakan salah satu bagian dari kunci merdeka belajar, selain merdeka terhadap cara dan refleksi. Setelah itu, peserta langsung menuju ke kelompoknya masing-masing yang sudah dibentuk melalui grup Whatsapp. Bu Upik yang merupakan ketua dari Inibudi.org menyampaikan proses pembuatan video pembelajaran, dari pencarian ide, format skenario, hingga teknis dalam pengambilan gambar. Tak lebih dari satu jam, materi tersebut selesai. Peserta langsung mengonsep apa saja yang perlu ditambahkan dari skenario yang sudah dibuat sebelumnya. Waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB, beberapa peserta sudah mulai mengambil gambar. Ada yang mengambil di kelas, ada yang di dekat musala, ada yang naik-naik ke lantai atas mencari lokasi yang sesuai dengan skenario yang dibuatnya. Ini adalah prinsip kedua dari merdeka belajar yaitu merdeka terhadap cara. Selain bebas menentukan lokasi yang nyaman untuk shooting, peserta juga dibebaskan untuk mengonsep videonya. Ada yang menggunakan role playing, menyanyi, berpuisi, dan ada juga yang menggunakan animasi untuk mengemas pembelajaran dalam video jadi menyenangkan. Pengambilan gambar selesai pukul 14.00 WIB, dilanjutkan materi editing. Terlihat sangat antusias peserta saat materi ini. Karena mungkin rasa penasaran yang besar dengan aplikasi editing video mobile ini. Hal ini terlihat, setelah pemateri menyampaikan materi tentang dasar-dasar Kinemaster, banyak pertanyaan yang muncul dari peserta. “Bagaimana cara menaik-turunkan volume?” “Bagaimana memasukkan video lain di tengah-tengah video yang sudah ada?” “Bagaimana mengganti background?” “Berapa ukuran video agar kualitas masih terjaga?” Akhirnya pelatihan ditutup dengan refleksi oleh peserta. “Pak saya dari Muara Enim, 4 jam perjalanan dari sini. Saya ingin sekali mengembangkan chanel youtube saya setelah mengikuti pelatihan video ini.” sahut salah satu peserta diskusi. Jika kita selalu terbatas, maka kapan kita akan menembus batas?

Refleksi Diri : Memanusiakan Hubungan

Supir bus Sinar Jaya memasuki bus yang sudah penuh dengan penumpang yang tak sabar bertemu sanak saudara di kampung halaman. Dengan gaya yang necis ia memasuki bus dan langsung menyalakan televisi. “Halo Bapak, Ibu hari ini ingin memutar lagu apa untuk menemani perjalanan?” tanyanya sambil berdiri di depan layar televisi 32 inch yang ada di dalam bus tersebut. “Via Valen wae Pak..” “Muter film Dono aja..” “Dangdut koplo mantap Kang..” Suara saling bersautan menyampaikan apa yang ingin menjadi keinginanya. Pak supir, menengahinya dengan memilih memutar video kompilasi dangdut koplo yang menjadi pilihan terbanyak sore itu. Bus melaju kencang, seorang penumpang menghampiri supir dan memintanya untuk menurunkan suhu AC. Pak supir langsung menurunkan suhu AC, dan penumpang kembali tertidur nyenyak. Tak sampai di situ, setiap penumpang turun ia selalu bilang ‘terima kasih’. Hampir setiap minggu aku pulang kampung, namun tidak pernah menjumpai supir yang seperti ini. Biasanya naik bus – memutar lagu sesukanya dengan volume sesukanya – memaki-maki penumpang jika meminta AC diturunkan – cuek dan kadang memarahi penumpang yang turun sewaktu-waktu. Kalau saya menyebutnya adalah supir yang memanusiakan manusia, menganggap penumpangnya adalah sesama manusia yang memiliki hati dan pikiran. Maka proses interaksi yang terjadi adalah selayaknya dengan manusia. Bukan dengan robot. Hal yang sama juga aku temui saat mengisi pelatihan videografi bersama Inibudi.org di Palembang akhir minggu kemarin (4 Agustus 2018). Selesai pelatihan video, Inibudi.org menyempatkan diri untuk membuat profil salah satu pengusaha makanan tradisional Palembang, yaitu Bunda Raya. Selama proses shooting Bunda Raya menceritakan prosesnya hingga menjadi seperti sekarang ini. Ada beberapa poin yang saya pelajari dari cerita Bunda Raya tersebut. Ia adalah sosok yang selalu suka mengobrol dengan pelangganya, apapun obrolannya ia selalu layani. Beberapa malah ada yang mengobrol tentang rumah tangga. Pengikutnya di akun Instagram sudah 20.000 (yang sebelumnya sudah mencapai 40.000 namun terkena hack), dan ia selalu memposting apapun sendiri tanpa bantuan admin. Setiap komentar ia balas satu per satu dengan bahasa khasnya. “Saya kadang tidur jam 12 malam karena harus membalas semua pesan WA dan Instagram” tuturnya di akhir sesi wawancara. Itulah kunci dari sukses usaha yang digeluti Bunda Raya, memanusiakan pelanggan. Seperti supir tadi, ia menganggap pelangganya adalah manusia yang memiliki hati dan pikiran. Kini banyak artis ibukota yang jika datang ke Palembang selalu mengunjungi toko Bunda Raya, dengan sukarela mempromokan di akun instagramnya. Saya belajar banyak dari Bunda Raya dan Pak Supir, sebagai manusia harus memanusiakan hubungan dengan manusia, apapun profesinya. Karena kita hidup di bumi manusia…