Belajar Memahami Keberagaman, Menggali Potensi Anak

Setahun lalu, saya mulai mengajar di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) setara Paket C bernama PKBM Al-Bayan. Sekolah tersebut merupakan sekolah boarding school yang pada awalnya diperuntukkan bagi anak yatim dan dhuafa penyintas bencana gempa Yogyakarta. Namun, pada perkembangannya, sekolah ini menerima siswa dari berbagai daerah dan latar belakang ekonomi. Saat masuk kelas XI, saya cukup terkejut karena ternyata harus berhadapan dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Arif namanya. Saat itu, sulit untuk mengidentifikasi kebutuhan Arif. Secara sekilas, Arif mungkin dikira tunagrahita karena kesulitan untuk berbicara (gagap dan kurang jelas) dan motorik yang kurang seimbang. Tangannya sering gemetar, dan Arif berjalan dengan menyeret salah satu kakinya. Informasi yang saya dapatkan pun kurang memadai, baik dari guru lain maupun dari keluarga. Keadaan yang demikian seringkali membuat Arif diremehkan oleh beberapa temannya. Misalnya dengan memandang dengan pandangan yang meremehkan, atau mencemooh (meski tidak keras, namun cukup terdengar) saat Arif menjawab pertanyaan. Arif kesulitan menulis dengan tangan, dan hal ini sering membuat pekerjaannya yang berkaitan dengan tulis-menulis menjadi lambat. Selain itu, diperlukan perhatian khusus untuk menyimak kata-kata Arif sehingga terkadang membuat teman-temannya tidak sabar menyimak. Terlebih, pada pelajaran Bahasa Indonesia yang saya ampu, kegiatan menyimak, berdiskusi, dan menulis merupakan hal esensial. Jujur saja, saya pun awalnya kikuk karena baru pertama kali mengajar ABK. Terlebih, saya mengajar Bahasa Indonesia dan selalu mengajak murid untuk berinteraksi. Namun, saya sadar bahwa sikap saya merupakan contoh bagi siswa, dan sebisa mungkin saya bersikap wajar dengan ‘kespesialan’ yang dimiliki Arif.  Saya mencoba untuk belajar mengenai pembelajaran inklusi, mulai dari browsing internet hingga mengikuti workshop menjadi guru kreatif di sekolah inklusif. Dari pembelajaran tersebut, saya menyimpulkan sebuah ‘pekerjaan rumah’ dalam menghadapi situasi ini: Memahami kebutuhan dan potensi Arif, serta mengubah stigma negatif dan menumbuhkan sikap saling menghargai di kelas. Kegiatan Belajar Untuk Mengenal Keberagaman Potensi Pada awal semester, saya memberi tugas yang sama di kelas tanpa pengecualian untuk melihat seberapa jauh kemampuan dan potensinya. Setelah saya amati, rupanya kesulitan Arif hanya terletak pada motorik halusnya saja. Ia tidak bisa menulis dan bicara dengan lancar. Namun, secara kognitif, Arif dapat mengikuti pelajaran seperti murid lainnya. Secara emosional, Arif bisa dibilang lebih dewasa dibanding teman-temannya. Mental Arif tidak menciut dengan keadaannya. Arif menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan selama pelajaran (Seringkali pertanyaan kritis: Mengapa begini? Menurut kamu bagaimana?) dengan baik. Ia juga tidak malu untuk bertanya bagian yang tidak dipahaminya. Terkadang, suatu materi perlu disampaikan 2-3 kali hingga ia mengangguk paham. Dibandingkan temen-temannya, tugas-tugas Arif dalam bentuk tulisan seringkali sangat singkat. Misalnya saat materi membuat teks pidato,  Arif hanya menulis kurang lebih seratus kata. Meski begitu, Arif melengkapi bagian pembuka, isi, dan penutupnya. Hal ini menunjukan bahwa ia tidak asal-asalan dalam mengerjakan tugas dan memahami hal yang esensial dari materi tersebut. Dari tugas-tugas tersebut, saya menjadi lebih paham akan kekuarangan dan potensi yang dimilikinya. Saat ujian semester, Arif juga cenderung menjawab soal esai dengan singkat, yang terkadang membuat jawabannya kurang komprehensif dibandingkan teman-temannya. Pada akhirnya, saya bisa melakukan assesment tambahan dari pertanyaan-pertanyaan lisan di kelas. Saya juga mengajak siswa lain untuk mengenal potensi dirinya lewat aktivitas belajar. Misalnya, menonton sebuah video film dokumenter mengenai dunia hewan dan membuat tulisan mengenai impresi akan film tersebut. Dari tugas tersebut, saya mengajak siswa untuk bersama mengidentifikasi jenis tulisan yang dibuat. Misalnya, ada siswa yang menulis mengenai satu hewan saja, namun sangat rinci. Ada juga yang menulis mengenai impresinya terhadap keseluruhan film secara general. Ada siswa yang menuliskan dalam bentuk deskripsi, narasi, dan puisi. Jenis tulisan yang dibuat, merepresentasikan potensi yang dimiliki oleh penulisnya. Bersama, kami mengidientifikasi keberagaman jenis tulisan  yang telah dibuat. Ada anak yang suka menulis secara umum, ada yang secara rinci. Ada yang suka mendeskripsikan sesuatu secara detail, ada yang lebih suka bercerita, dan ada juga yang menulis puisi. Dari kegiatan tersebut, saya mengajak siswa untuk mengenal potensi yang dimilikinya, dan potensi yang dimilki temannya. Apa kelebihan, serta perbedaan antara satu dengan yang lain. Misalnya sama-sama generalis, tapi apa yang membedakan karya ini dengan karya yang lain? Pada akhirnya, dibagi kelompok anak yang lebih suka menulis secara general dan kelompok yang suka menulis secara detail. Anak-anak dari kelompok generalis dan detail kemudian membentuk kelompok dan diminta untuk membuat satu karya yang komprehensif. Melalui refleksi aktivitas pembelajaran, siswa dapat diarahkan untuk mengenal potensi-potensi dirinya dan orang lain. Harapannya, siswa dapat mengenal kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya, serta menerima hal tersebut pada diri sendiri maupun orang lain. Dengan mengajak siswa untuk merefleksikan sendiri potensinya, dan menyadari keragaman yang ada di kelas, lebih mudah untuk mendorong siswa saling belajar dan bekerjasama. Sekarang saya sering bertanya kepada siswa, “Jadi, apa kelebihanmu dalam materi ini?” Dalam empat pilar pendidikan yang dicanangkan UNESCO, tujuan proses pembelajaran tidak hanya untuk tahu, dan menguasai, tetapi juga untuk bisa hidup bersama. Saya sendiri ingat pada masa SMA, saya sering merasa ‘tidak ada apa-apanya’ karena cenderung bertipe generalis yang suka pada banyak hal sekaligus. Karena stigma sosial, saya merasa orang-orang yang hanya fokus pada bidang tertentu secara saklek lah yang akan berhasil. Padahal, seringkali dalam mencapai tujuan, kolaborasi dengan banyak pihak sangat penting untuk keberhasilan bersama. Oleh Anisah Zuhriyati – Komunitas Guru Belajar Yogyakarta

Guru Belajar Pekalongan Membangun Pembelajaran Mengasyikkan

Menjemukan, mungkin itu yang sering murid rasakan saat mengikuti mata pelajaran tertentu di kelas, atau menjelang jam-jam kritis yakni jam terakhir saat murid sudah tidak lagi kondusif. Pikiran mereka sudah tertuju pada rumah dan tempat mereka biasa  bermain. Hal demikian tentu pernah dialami oleh kita semua sebagai seorang guru. Lantas apa yang seharusnya kita lakukan agar belajar lebih mengasyikan dan tidak lagi menjemukan? Dalam Temu Pendidik 19 ini, Komunitas Guru Belajar Pekalongan berbagai ilmu seputar pembelajaran yang menyenangkan namun tidak mengubah esensi dari belajar itu sendiri. Dengan mengusung 3 pemateri, yakni dua Guru dari SMK 1 Karangdadap, Guru Alan seorang guru Fisika dan Guru Musyafiah yang merupakan guru Bahasa Inggris, serta Guru Eki seorang dosen dari Stikes Muhammadiyah Pekalongan. Masing-masing Guru menyampaikan parktik cerdasnya dengan tema yang berbeda-beda. Guru Alan menyampaikan praktiknya yang diadopsi dari TPN Oktober lalu. Guru Eki dengan Brain Academy dan terakhir Guru Musyaifah yang juga mengadopsi ide belajarnya dari Sekolah Kembang Jakarta. Acara tersebut dimulai pukul 09.30 dengan dibuka oleh Ketua KGB Pekalongan yang baru yaitu Guru Hida. Dalam sambutanya beliau mengajak agar semua guru berdaya, sebab adanya KGB ini diharapkan setiap anggota berperan untuk membagikan praktik cerdasnya agar dapat menjadi inspirasi bagi guru-guru lain. Lebih jauh beliau menuturkan, “Komunitas ini ada untuk kita dan semua jenjang ada disini, sehingga kita bisa belajar bersama”. Di akhir sambutan, guru MI Kranji 1 Kedungwuni ini juga menakankan bahwa anggota yang ikut berperan aktif di KGB Pekalongan memperoleh kesempatan untuk menerima beasiswa di TPN mendatang. Sesi pertama TPD 19 ini diawali dengan materi mengenai sains yang menyenangkan. Jika murid biasanya anti dengan pelajaran eksak terutama fisika dan kimia, Guru Alan justru memberikan hal yang berbeda. Mengadopsi materi TPN Oktober lalu, ia mencoba menerapkan pembelajaran dengan metode window shopping. ”Saya ibaratkan cara ini dengan ibu-ibu yang ingin membeli kosmetik. Biasanya ibu-ibu akan menanyakan hal yang mendetail jika memilih kosmetik dan penjual harus mampu menjelaskan produk yang ia jual” tuturnya. Guru Alan sendiri awalnya sering merasa gelisah lantaran materi yang ia ajarkan hanya sekadar ceramah yang membosankan sehingga ia mencoba window shopping sebagai cara agar antusiasme murid dalam belajar makin tinggi. Dalam praktiknya ini, ia membagi satu kelas menjadi 6 kelompok. Sebagain kelompok berperan menjadi penjual dan kelompok lain berperan sebagai pembeli. Tema yang diusung pun menarik, yakni mengenai Mitigasi Bencana. Murid membuat poster sebagai katalog barang yang akan mereka jual. Jika jual beli biasanya berupa barang, namun dalam window shopping ini murid melakukan jual beli informasi mengenai mitigasi bencana. Cara ini menjadi lebih menarik karena setiap penjual diharuskan untuk mengatur strategi agar murid lain tertarik menyambangi “warungnya”. Banyak murid mengaku senang dengan pembelajaran tersebut, menjadi lebih percaya diri karena dapat menjawab pertanyaan temanya, dan dapat berkreasi membuat poster yang menarik. Namun, Guru Alan juga mengakui jika metodenya kali ini masih memiliki banyak kekurangan. “Banyak murid yang merasa kuang kurang puas karena tidak bisa menyambangi warung teman-temanya. Mereka juga mengeluhkan pada saya, sebab tidak ada tambahan informasi dari saya sendiri sebagai guru dan saya masih sedikit bingung untuk aspek penilaian” jelas pria berkacamata ini. Setelah Guru Alan selesai menyampaikan materi, di sesi ke dua Guru Eki menyampaikan materi mengenai Brain Academy. Materi ini penting dipelajari oleh guru untuk mengatasi murid yang jenuh dalam balajar. Jenuh sendiri dapat dipahami karena otak bekerja tidak maksimal.  Guru Eki mengemas materi begitu apik dan komunikatif dengan melibatkan semua peseta melakukan gerakan kecil yang befungsi untuk membantu melakukan aktivasi otak. Gerakan tersebut berupa tangan saling mengepal dan kaki bersila, membentuk angka delapan dimulai dari kanan ke kiri dan yang terakhir menempelkan siku tangan kanan kekaki kiri atau sebaliknya. Seluruh peserta yang mencoba gerakan tersebut tampak riang. “Walaupun gerakannya cuma ditempat dan sedikit, tapi kita bisa memahami bagian otak yang dominan digunakan anak. Dengan begitu maka kita bisa melakukan aktivasi” tambahnya. Materi tersebut tentunya sangat membantu terutama saat mengelola kelas dimana muridnya sudah mengalami kejenuhan. “Kalo kita sadar, kunci utama dalam proses pembelajaran itu adalah otak yang bekerja. Untuk itu kita perlu memahami bagaimana cara otak bekerja, dan apa saja yang bisa memaksimalkan fungsi kerjanya” tukasnya diakhir sesi saat ia berbagi cerita. Sesi terakhir, Guru Fiah menyampaikan materi mengenai mengelola perpustakaan sekolah. ia mengawali materi dengan perkenalan menggunakan human bingo. Peserta dibawa berpetualang dalam perkenalan dan swafoto bersama. Disinilah peserta TPD 19 suasana ceria dan hangat. Selepas bermain human bingo Guru Fiah mulai memberikan materi. Ia mengungkapkan keprihatinanya pada perpustakaan sekolah yang saat ini  tidak lagi menarik, Guru Fiah mencoba mengadopsi ide dari Guru Sekar yang merupakan guru dari Sekolah Kembang Jakarta. Guru Sekar adalah sosok yang mampu menghidupkan perpustakaan seperti pada zaman Cinta dan Rangga. Guru Fiah menyampaikan pengembangan perpustakaan ini memiliki banyak manfaat diantaranya dapat membantu tugas murid terutama yang berhubungan dengan literasi. Manfaat lain yaitu literasi mampu menjadikan kita tidak termakan isu hoax, apalagi sekarang merupakan era digital di mana berita palsu menyebar begitu masif melalui media. Dalam memberdayakan perpustakaan sekolah pertama kali yang kita perlu lakukan yaitu kurasi buku bacaan. “Kurasi buku ini penting, jangan sampai buku untuk dewasa ditaruh di perpustakaan SD. Tentu hal ini tidak sesuai dengan jenjangya” tambah Guru Fiah. Tidak hanya murid yang bisa belajar melalui perpustakaan, guru juga dapat ikut belajar. Di akhir sesi Guru Fiah mengungkapkan bahwa guru juga dapat mengembangkan diri terutama kemampuan menulis. Misal jika ada buku bacaan tertentu, kemudian guru bantu resensi buku tersebut. Hasil resensi bisa ditempel di perpustakaan, sebagai kail yang membuat murid penasaran dengan isi buku tersebut. Jadi dari perpustakaan guru dan murid bersama-sama belajar. Oleh Anifah, Komunitas Guru Belajar Pekalongan

Memang Beda, Tapi Kami Memilih Jalan Bersama

Berangkat dari arah berbeda, kami berkumpul di Stasiun Rawa Buntu, menuju satu tujuan, melakukan refleksi bersama. Saya berangkat dari Kantor Pusat Cikal di Cilandak. Amel, anggota terbaru kami, berangkat dari kos seusai penerbangan Lombok – Jakarta. Empat anggota tim yang lain, Baja, Rizqy, Mahayu dan Maman berangkat dari kantor kami. Lengkap lah enam orang tim Kampus Guru Cikal. Kami berenam merasakan terik siang yang sama, terik yang menusuk kulit kepala. Kami menantikan kereta yang sama, kereta yang akan membawa kami ke Ujungkulon, menuju Honje Ecoledge.  Kami berenam memang berasal dari daerah yang berbeda, dua berasal dari Jawa Timur, dua berasal dari Jawa Tengah, satu dari Jakarta dan satu dari Sumatera. Kami berbeda pula masa bergabungnya di Kampus Guru Cikal. Baja dan saya adalah anggota terlama, disusul oleh Rizqy. Awal tahun ini bergabung Mahayu, dan semester ini, Maman dan Amel baru saja bergabung. Meski bekerja di kantor yang sama, kami menjalankan peran yang berbeda. Saya dan Amel di Manajemen Belajar, Mahayu dan Baja di Pelibatan Komunitas, sementara Rizqy dan Maman di Manajemen Pengetahuan. Bila mau mencari perbedaan kami, sama sekali tidak susah. Dari hal-hal yang kasat mata saja sudah berbeda, belum lagi bicara keterampilan, minat, aspirasi, kepribadian dan cita-cita. Kami memang beda. Tapi Jumat siang itu, kami bersepakat melakukan perjalanan, tujuan dan cara yang sama. Perjalanan refleksi akhir tahun.  Di dunia perhotelan dikenal istilah peak season. Begitu kiranya akhir tahun bagi kami, lembaga pengembangan karier guru. Selepas Temu Pendidik Nusantara, kami sudah dihadapkan dengan berbagai proyek, di luar misi utama kami menemani Komunitas Guru Belajar. Proyek literasi Pesisir Selatan dan proyek bersama IniBudi di ujung selesai. Kami sudah dinanti proyek literasi di Jawa Timur (2 daerah), proyek pengembangan guru PAUD di NTB (2 daerah), proyek pengembangan murid penyandang disabilitas bersama Nusantarun (2 – 3 daerah), proyek Foundation Program untuk penyiapan guru baru Cikal (1 daerah) dan proyek Temu Pendidik Nusantara 2019 (9 daerah). Satu tim, enam orang, tujuh proyek dan banyak daerah 🙂 Apa yang harus kami lakukan? Alih-alih ngebut mengerjakan proyek, kami memilih berhenti, karena sadar jalan masih panjang. Perjalanan panjang butuh banyak bekal. Bekal sebagai tim berupa pengalaman positif bersama, pengalaman yang layak diperbincangkan bertahun-tahun kemudian.  Dua hari sebelumnya, kami memutuskan menggunakan voting untuk menentukan moda transportasi. Empat dari kami memilih moda transportasi kereta kemudian baru memikirkan di tempat tujuan antara. Pilihan nekat karena perjalanan panjang yang menuntut berganti moda transportasi. Itulah kenapa di siang yang terik ini justru kami berkumpul di stasiun Rawa Buntu menuju stasiun terakhir di Rangkas Bitung.  Tantangan pertama berdiri di kereta hampir dua jam. Sudah dihajar panas terik, lanjut berdiri pula. Lima dari kami ngobrol iseng, satu yang lain membaca buku dari penulis favoritnya. Sampai di Rangkas Bitung, kami keluar dari stasiun dan mulai mencari kendaraan untuk melanjutkan perjalanan 4 jam menuju Ujungkulon. Kami menuju terminal, mencari mobil bak terbuka atau angkutan umum yang mau disewa. Cari sana sini, akhirnya kami memilih seorang sopir angkutan umum untuk menemani perjalanan kami. Awalnya kami mau diantar ke terminal Mandala untuk mencari kendaraan ke arah Ujung Kulon, tapi di sepanjang perjalanan terjadi obrolan disertai tawar menawar. Akhirnya sang bapak bersedia mengantar sampai ke tempat tujuan.  Dua jam pertama perjalanan penuh semangat. Mobil angkot yang kami tumpangi melaju pada kecepatan rata-rata 50 km/jam, kecuali di 1 – 2 titik tertentu. Kami pun masih penuh semangat, obrolan ringan disertai karaoke tembang kenangan *eh. Satu jam berikutnya, keadaan sudah mulai sunyi. Pak sopirnya pun sesekali lepas konsentrasi yang mengakibatkan angkotnya melompat sekali dua kali di jalan dan jembatan yang memberi kejutan. Mulai bertanya, apakah masih jauh? Mana tujuan sebenarnya? Pertanyaan yang mengusik di perjalanan yang semakin banyak diwarnai tanjakan dan turunan curam.  Satu jam terakhir, suasana terus menurun. Pak sopir mulai bicara ditunggu temannya. Jalan semakin sempit. Dan banyak sekali bagian badan jalan yang rusak parah. Kecepatan maksimal 30 km/jam, kecepatan rata-rata turun menjadi 15 km/jam, karena seringkali kendaraan terpaksa berjalan 5 – 10 km/jam karena jalan yang rusak. Saya sudah berpikir apa jadinya bila Pak Sopir menolak melanjutkan perjalanan. Akankah kami jalan kaki menembus hutan yang gelap? Pak Sopirnya sendiri sudah mengeluh tidak berani balik pulang sendiri. Bukan takut pada orang, tapi takut pada penghuni hutan. Entah apa  Setelah menempuh satu jam menegangkan, kami pun tiba di Honje Ecoledge sekitar pukul 8 malam. Legaaaaaa……… Kami disambut makan malam yang nikmat. Atau karena kami lapar setelah bergoncang di angkot selama 4 jam?  Setelah sebagian mandi (tebak siapa?), sebagian lagi tetap duduk santai. Malam itu, acara tidak sesuai rencana. Kami memilih duduk di beranda rumah penginapan. Topik obrolan tentang fiml dan serba-serbinya. Tanpa terasa sudah hampir tengah malam. Kami pun masuk ke tiga kamar di rumah penginapan.  Apa artinya waktu berhenti? Itu lah yang saya rasakan pada hari Sabtu di Honje. Pagi subuh sebagian dari kami sudah di tepi pantai yang sepelemparan batu dari rumah penginapan. Tepat sesuai jadwal, Baja memimpin kami untuk senam pagi. Senam sebentar dan kemudian lanjut melakukan aktivitas pantai bagi yang mau. Sebentar saja, ketua panitia sudah memanggil. Kami pun makan dan mandi pagi untuk memulai sesi refleksi personal.  Kami diminta untuk berburu dua foto yang menggambarkan perubahan positif yang kami alami dan harapan di masa mendatang. Waktunya satu jam. Saya memanfaatkan waktu dengan berburu foto ke area pantai yang belum saya kunjungi pada dua kunjungan sebelumnya. Area pantai yang ditumbuhi pohon, sebagian diantaranya pohon bakau. Saya dibuat kagum oleh sejumlah pohon. Ada satu pohon yang tegak lurus berdiri meski sendiri dikelilingi air laut. Ada tiga pohon yang berdiri sejajar, seolah bergandengan tangan menghadang ombak. Keduanya saya foto dan ceritakan di sesi refleksi personal.  Saya punya banyak teman sepemikiran. Saya pun dulu mendidik mahasiswa untuk memenuhi panggilan hidup, mengaktualkan potensi dan mengejar cita. Tidak banyak yang bertahan. Lebih banyak memilih bekerja semata mendapatkan uang. Ketika muda, mahasiswa saya bertanya tentang idealisme. Semakin lama, semakin jarang dan memilih jalan kompromi. Awalnya kompromi untuk tetap jadi idealis, makin lama kompromi hanya demi kompromi, menjadi satu. Teman dari masa lalu menjadi semakin sedikit yang sejalan. Terlebih masuk dunia pendidikan. Pendidikan menumbuhkan adalah jalan yang sepi. Mayoritas masyarakat, bukan saja … Read more

Guru Belajar Sanggau membuat Media Pembelajaran Kekinian

Pada Kamis, 08 November 2018. Komunitas Guru Belajar Sanggau melakukan kolaborasi bersama Gugus IV, Kecamatan Tayan Hilir dalam Kegiatan Learning Adventure of KGB Sanggau, salah satu program kegiatan yang sudah dirancang KGB Sanggau sejak lama dan dikemas dalam kegiatan Temu Pendidik Daerah, mengingat kegiatan ini beberapa tim dari KGB Sanggau akan berkunjung ke daerah-daerah untuk menyebarkan Praktik baik dari kegiatan belajar atau dari hasil pembelajaran. Menjadi salah satu aksi dari TPN 2018 yaitu membagikan “Oleh-oleh TPN 2018” ke berbagai Kelompok belajar, untuk program Learning Adventure of KGB kali ini, sasaran kami adalah KKG yaitu Kelompok Kerja Guru, dimana juga secara langsung akan mengaktifkan kembali kerja KKG di berbagai daerah, tentunya dengan menanamkan kesadaran semangat Merdeka Belajar. Kegiatan ini dilaksanakan di SDN 20 Simpang Mandong, Kecamatan TayanHulu, Kabupaten Sanggau, dengan jumlah peserta lebih kurang 49 orang terdiri dari Guru Kelas, Guru Agama, Guru PJOK dan Kepala Sekolah. Dimulai pada pukul 08.00 hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Pihak dinas pendidikan dan kebudayaan turut serta hadir dalam kegiatan ini, dalam hal ini Bapak Donatus, selaku Kepala UPT Dinas Pendidikan Pemuda danOlahraga Kecamatan Tayan Hulu memberi kata sambutan sekaligus membuka kegiatan, dalam kesempatan ini bapak Ka.UPT ini mengapresiasi sekali kegiatan ini, beliau juga meminta para guru untuk aktif dan giat dalam belajar, dalam kondisi apapun sebagai seorang pendidik harus mampu ikut beradaptasi dengan perkembangan zaman yang ada, salah satunya adalah dengan cara tak henti untuk belajar. Hal ini juga diaminioleh bapak Pengawas, dan dipertegas oleh bapak Ketua Inti Gugus IV, bahwa seorang pendidik itu sudah seharusnya mau bergerak, belajar dan mencari tau, beliau mengutip pembicaraan salah satu professor “Orang yang tidak ingin maju adalah orang merugi di muka bumi, karena ilmu pengetahuan itu sangat dinamis, perkembangan zaman yang maju ini harus diikuti dan diadaptasi agar kita tidak menjadi seorang pendidik yang naif” Selaku ketua Gugus IV kecamatan Tayan, Ibu Surnia Ratih berharap kegiatan ini dapat berkelanjutan, agar memotivasi rekan-rekan guru untuk terus mengupdate kompetensi diri. KGB Sanggau melaksanakan kegiatan sharing terkait Alat Peraga dan Pembelajaran dengan narasumber Ibu Titis Kartikawati. Materi yang disampaikan merujuk pada hasil kegiatan TPN 2018, yang merupakan salah satu Aksi dari TPN 2018, yaitu membagikan oleh-oleh pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan beberapa waktu lalu. Dalam TPD #1 ini, Ibu Titis membagikan apa yang diperolehnya di kelas Bercerita dan di kelas Maker Space. Selain itu dibahas pula terkait pembuatan Alat Peraga yang diperoleh dari Ini Budi, serta beberapa materi lain hasil inovasi beliau sendiri. Ibu Titis sangat mengapresiasi semangat belajar rekan-rekan di KKG gugus IV, Kecamatan Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau ini. Meskipun banyak para guru yang berusia sudah lanjut namun semangat belajar mereka masih sangat kuat. Peserta kegiatan pun memberikan pesan dan kesan atau harapan akan kegiatan ini, mereka merasa benar-benar menemukan cara belajar yang mereka harapkan. Fleksibel tidak kaku, memiliki semangat keceriaan bukan sekedar menggurui. Terasa santai namun sarat makna dan pengetahuan. Mereka berharap kegiatan seperti ini akan berlanjut secara rutin. Karena melalui kegiatan ini mereka memperoleh pencerahan terkait strategi pembelajaran yang menarik dan kontekstual serta memperoleh inspirasi terkait pembuatan alat peraga inovatif yang ternyata dapat dibuat sendiri dan menggunakan bahan sederhana yang berasal dari sekitar. Dalam kegiatan ini, Ibu Titis mengajak tiap peserta terlibat aktif,  memancing para serta untuk bertanya, sharing pengalaman pribadi terkait kegiatan pembelajaran bahkan mengajak para guru membuat suatu karya sederhana berupa alat peraga dengan memanfaatkan benda yang ada disekitar mereka. Demikianlah sekilas informasi terkait kegiatan Temu Pendidik Daerah #1 Komunitas Guru Belajar Sanggau. Pada hakikatnya bahwa suatu tujuan akan dapat tercapai dengan baik jika dilakukan dengan niat baik, keyakinan, keberanian, serta kolaborasi. Karena menumbuhkembangkan kesadaran untuk belajar dan membelajarkan dengan baik adalah tugas bersama, Pendidikan itu adalah untuk semua, bukan segelintir orang, atau sebatas usia, namun lebih kepada membangun komitmen bersama demi pencapaian cita-cita. Oleh Wanti Sila Sakti, Komunitas Guru Belajar Sanggau

Guru Belajar Cimahi Berbagi Cara Menulis

Hujan besar sempat menahan berkumpulnya guru-guru merdeka belajar di SD Peradaban Insan Mulia. Luar biasanya, di tengah derasnya guyuran hujan, ada yang memaksakan diri tiba di lokasi Temu Pendidik Daerah (TPD) Cimahi, untuk belajar menulis. TPD diawali dengan pemutaran vlog tentang buku yang ditulis Pak Inan, narasumber utama. Videonya bergaya reportase yang dikemas dengan style amat muda banget. Asyik, deh, pokoknya. Nah, setelah videonya selesai, Pak Inan mulai berbagi pengalaman tentang bagaimana mulai menulis. Ada satu pertanyaan mendasar yang patut dijadikan renungan, yaitu mengapa guru tidak menulis? Padahal guru adalah profesi yang sangat dengan dengan kegiatan menulis. Ada dua hal yang membuat guru tidak menulis Pertama, guru tersebut belum menemukan alasan untuk menulis. Kedua, guru tersebut belum tahu cara menulis. Untuk sebab pertama, belum menemukan alasan menulis, ada beberapa alasan yang bisa digunakan supaya guru mau menulis, yaitu Supaya bisa naik pangkat Memperoleh popularitas Mendapatkan keuntungan materi (uang) Meski bukan hal yang salah, ketiga alasan tersebut tidak cukup kuat untuk membuat guru membuat tekad yang kuat untuk menulis. Kalau berdasarkan tujuan-tujuan di atas, biasanya semangat hanya berkobar di awal dan semakin lama kian redup. Bahkan tak jarang terlalu cepat padam. Alasan yang cukup kuat untuk menggerakkan guru menulis adalah untuk menyebarkan inspirasi dan mengabadikan ide, gagasan, atau pun pengalaman. Kemudian tentang sebab kedua guru tidak menulis, yaitu belum tahu cara menulis, ada trik jitu dan sudah terbukti manjur. Apa itu? Menulislah. Kalau mau bisa menulis, ya menulislah. Tidak ada cara lain yang lebih ampuh. Apa yang ditulis? Apa yang kita kuasai atau apa yang dekat dengan kita. Menuliskannya tidak harus langsung banyak. Bisa dengan cara menulis sambil secara kredit. Tulis dulu, simpan. Kalau sudah banyak, kumpulkan dan kelompokkan. Jadilah naskah buku yang siap dikirim ke penerbit. Tapi saya kan tidak bisa nulis? Nah, untuk guru yang serig mengatakan demikian, ada penjelasan simpel yang mempu membalikkan pernyataan tersebut. Ini disebut dengan sindrom tali kekang gajah. Sejak kecil, gajah diikat dengan rantai di salah satu kaki belakangnya. Setiap kali gajah kecil mencoba bergerak lebih jauh jangkauannya, ia merasa kesakitan kakinya tertahan oleh rantai besi. Setelah berkali-kali merasakan sakit, akhirnya gajah tersebut menyerah. Ia hanya bergerak sampai di sekitar rantai itu saja. Gajah tumbuh dan berkembang. Tubuhnya kian besar dan jauh bertambah kuat. Semetara kaki tetap dirantai dengan rantai yang sama. Kalau saja gajah itu mau bergerak lebih jauh, niscaya rantai itu akan putus. Tetapi karena dalam mindsetnya adalah jika dia bergerak agak lincah akan merasakan sakit, maka gajah itu terperangkap dalam ketidakmampuan diri. Jadi sebenarnya ketakutan itu muncul dari dalam diri. Bukannya tidak mampu menulis, tetapi guru merasa tidak bisa menulis. Padahalnya potensinya bisa jadi sangat besar. Di bagian akhir, Pak Inan memberi trik bagaimana menjual buku tapi tidak seperti orang jualan. Triknya sederhana, jadikan pembeli atau figur tertentu mengendors buku kita tanpa dia sadari.Menarik, kan? Sedangkan narasumber kedua, Pak Suhud, membahas tentang menulis praktik pengajaran dengan pola ATAP (Awal-Tantangan-Aksi-Perubahan). Sesi tanya jawab berkembang sampai ke trik-trik menulis buku. Walaupun pesertanya tidak banyak, tetapi kegiatan ini mampu menggugah motivvasi guru yang hadir untuk menulis. Dalam kesan-kesan yang disampaikan, mereka menyatakan bahwa motivasinya terlecut dan tak sabar untuk mulai menulis. Anda Guru yang ingin belajar menulis juga?Yuk bergabung di Klub Guru Belajar Menulis Oleh Suhud Rois, Komunitas Guru Belajar Bekasi

Manfaat Guru Belajar Membuat Video

oleh Rizqy Rahmat Hani Pernahkah Anda melihat murid Anda belajar memakai hijab dari video di youtube? Atau belajar kunci gitar lagu-lagu Nisa Sabyan dengan melihat tutorial  di internet? Di zaman sekarang, murid terbiasa belajar melalui video yang ada di internet. Selain itu murid juga tidak sekadar menjadi konsumen. Beberapa di antaranya menggunakan video sebagai media berkarya dan berpendapatnya. Ada Agung Hapsah yang mulai membuat video youtube dari sejak SMP. Lifia Naila, youtubers anak yang fokus videonya adalah tentang permainan anak-anak. Pun anak Deddy Corbuzier yaitu Azka Corbuzier yang beberapa kali menyampaikan pendapatnya di videonya. Tantanganya ialah sebagai guru apakah sudah memahami murid dengan belajar dari anak? Memfasilitasi apa yang menjadi ketertarikan anak seperti video? Video can be a powerful professional learning tool for nurturing the culture of teaching, learning, and connecting ideas and innovations. Ultimately, the more we develop and grow as teachers, the more we grow our students as learners. – Edutopia Melihat fenomena saat ini, keterampilan membuat video menjadi keterampilan yang penting dimiliki oleh guru. Oleh karena itu Inibudi.Org dan Kampus Guru Cikal mengadakan pelatihan pembuatan video bagi Guru Belajar. Beberapa daerah yang sudah kami sambangi bersama antara lain Labuan Bajo, Bali, Palembang, Tangerang, Jakarta Timur, Bogor dan sebagai pamungkas road show tersebut kami memilih Solo. Komunitas Guru Belajar Solo Raya sangat antusias dalam mempersiapkan kegiatan ini, terlihat dari penyambutan yang dilakukan yaitu adanya penampilan gamelan, paduan suara hingga angkulng dari murid-murid SD Kristen Widya Wacana Jamsaren. Guru-guru yang datang dari berbagai daerah sekitaran Solo pun ikut terbius dengan penampilan murid-murid tersebut. Guru pun mulai belajar membuat skenario dengan kelompoknya, pengambilan gambar, hingga editing sederhana menggunakan handphone. Keterampilan-keterampilan di atas bisa digunakan guru sebagai modal dalam memfasilitasi anak di kelas. Di dalam kelas dengan video guru bisa membuat pembelajaran yang berpusat pada murid.  Ada beberapa jenis video yang bisa guru gunakan untuk membantu memfasilitasi murid, antara lain  1.Tutorial  VideoBanyak tutorial yang  dibuat anak-anak ada di youtube, seperti tutorial hijab, tutorial game, tutorial foto, tutorial alat musik, bahkan membagikan resep-resep masakan yang mereka rancang. Berikut contoh-contoh video tutorial buatan murid : Resep Makanan – Adit Sekolah Cikal Tutorial foto makanan oleh murid SMA 1 Sragi, Pekalongan 2. Membuat Produk Video Guru bisa memfasilitasi murid dengan menggunakan video sebagai tugas akhir dalam pembelajaran. Seperti tugas akhir dari murid saya ini. Video tersebut merupakan tugas yang mengintergrasikan beberapa kompetensi dasar antara lain menulis biografi, wawancara, menyampaikan isi berita, dsb.  3. Video TanggapanGuru bisa menggunakan video sebagai media untukmengumpulkan pendapat murid mengenai sesuatu. Seperti misalnya pendapat murid tentang puisi Chairil Anwar, pendapat murid tentang fenomena yang terjadiakhir-akhir ini. Video tersebut pun bisa digunakan guru sebagai bahan penilian. 4. Video RefleksiGuru bisa menggunakan video sebagai bahan refleksi. Guru bertanya tentang pembelajaran dan meminta murid untuk menyampaikan hasil refleksinya. Video tersebut bisa dilihat lagi untuk refleksi guru di pembelajaran selanjutnya. Video saya di atas membantu saya untuk menjadi guru yang lebih baik di pertemuan berikutnya.  Banyak jenis video yang bisa guru gunakan seperti contoh-contoh di atas, namun yang terpenting adalah  apakah kita siap menjadi guru bagi murid zaman now? Jika siap, yuk belajar membuat video bersama kami. Silakan tulis ‘mau’ beserta alasannya di kolom komentar ya!

Guru Belajar Bandung Membangun Suasana Belajar

oleh Umi Kalsum – Penggerak KGB Bandung 3 November 2018, sore itu jalanan macet dan hujan pun mulai turun. Sekilas semua itu nampak menghambat. Namun nyatanya tidak, tidak ada kata menghambat, bagi belasan guru yang hadir di SD Mutiara Bunda saat itu. Mereka adalah guru-guru yang sangat ingin belajar dari Bu Lala dan Pak Aye, tentang “Membangun Suasana Kelas di Sekolah Dasar dan Strategi Menerapkan Gamifikasi untuk Pembelajaran yang Lebih Berarti.” Sungguh, aku sangat kagum dengan mereka, guru-guru pembelajar. Pembelajaran pun dimulai. Pembelajaran diawali oleh Bu Lala dengan kalimat-kalimat pembuka yang terngiang-ngiang di kepalaku. Ia berkata,  “Tak Senang, Maka Tak SayangTak Sayang, Maka Tak CintaTak Cinta, Maka Tak PAHAMJadi, Supaya PAHAM, harus SENANG dulu!” Bu Lala benar, untuk paham memang harus senang dulu, maka menjadi jelas maksud Bu Lala membangun suasana kelas itu maksudnya membangun suasana kelas yang menyenangkan. Bu Lala pun menunjukkan 8 cara untuk membangun suasana kelas yang menyenangkan. 8 cara tersebut adalah Ciptakan Games, Bermain Peran, Gunakan Musik, Bersenang-senang, Belajar di Luar Kelas, Beri Waktu untuk Curhat, Beri Apresiasi, Refleksi. Dari 8 cara tersebut, ada 2 cara yang sangat menarik perhatianku yakni gunakan musik dan bermain peran. Menurutku, “karena kedua cara itu Wow Banget,” kuyakin banyak yang tak percaya, sama halnya denganku yang tak percaya, bahwa Bu Lala mengajar dengan sangat kreatif. Bagaimana tidak, ia datang ke kelas dengan membawa gitar dan memulai kelas dengan menyanyikan lagu berbahasa ‘alien’ (baca : bahasa sunda yang didengar oleh anak-anak zaman now, yang jauh dari bahasa lokal). Bu Lala pun menyanyikan lagunya, “Wilujeng enjing nami Ibu, Bu LalaSumping kadieu hoyong kenal sadayanaWilujeng enjing hey nu nganggo acuk hideungSebutkeun nami sareung naon karesepna…” Lagu ini dinyanyikan dengan nada sebuah lagu lokal yaitu cingcangkeling. Mendengar lagu tersebut dinyanyikan, anak-anak pun mulai penasaran, berusaha menebak-nebak lagu yang dibawakan Bu Lala. Lagu ini dinyanyikan berulang-ulang oleh anak-anak, agar anak juga dapat lebih mengenal bahasa sunda dan lebih mengenal teman-temannya. “Keren…” bisikku dalam hati, dengan seperti ini tentu anak-anak tertarik dan penasaran sekali dengan pembelajaran hari itu. Selain dengan menyanyikan lagu, Bu Lala pun bermain peran dengan anak-anak. Dan yang paling mengejutkan adalah Bu Lala memerankan dirinya layaknya seorang tokoh dari sebuah dongeng. “Wow banget,” ucapku. Mulai dari make up di wajah, pakaian yang dikenakan, hingga suara dalam 1,5 jam yang semuanya menyerupai seorang nenek dari sebuah dongeng. Hal seperti ini tentu akan menarik perhatian siswa dan membuat suasana kelas menjadi sangat fresh, buktinya adalah anak-anak yang meminta lagi untuk belajar bersama tokoh kartun lain seperti Ben 10, Batman, Captain America, dsb. Menarik bukan? Apa kita akan tetap pakai strategi mengajar yang lama? Atau ingin mencoba menggunakan strategi dari Bu Lala yang fresh and happy? ☺ Masih dengan suasana kelas yang menyenangkan, sesi Bu Lala dilanjut oleh Pak Aye, sang Master Game, jika saya boleh menyebutnya begitu. Kali ini Pak Aye membangun suasana kelas yang menyenangkan dengan cara yang berbeda. Ia mengenalkan kami dengan gamifikasi. Apaan tuh? Pak Aye pun mengawali pembelajaran dengan bertanya, “Ada yang baru dengar kata gamifikasi?” Beberapa orang pun mengacungkan tangan, tidak termasuk aku, tapi aku sendiri sebenarnya tak paham apa itu gamifikasi. Pak Aye pun menjelaskannya dengan menampilkan sebuah video terlebih dahulu. Video tersebut menunjukkan perilaku orang dalam menggunakan keset. Biasanya, orang menggunakan keset hanya dalam beberapa detik saja, namun tidak dengan orang-orang dalam video tersebut. Orang-orang di video tersebut dapat menggunakan keset dalam jangka waktu bermenit-menit lamanya, bahkan hingga berinteraksi, mengobrol dan bekerja sama untuk menyelesaikan puzzle berbentuk keset. Video tersebutlah yang Pak Aye sebut dengan realitas gamifikasi. Pak Aye menjelaskan bahwa “Gamifikasi adalah sebuah metode yang menerapkan elemen-elemen permainan ke dalam konteks non permainan.” Hal ini berbeda dengan game based learning. Salah satu perbedaannya adalah game based learning mengubah pemahaman, sedangkan gamifikasi mengubah perilaku. Pak Aye pun menunjukkan fakta yang mencengangkan menurutku yakni 83% alasannya, pelajarannya tidak menarik 51% mengaku setiap hari bosan di Sekolah 41% alasannya, pelajaran tidak ada kaitannya dengan kehidupan. Mulutku menganga melihatnya. Semua fakta-fakta ini yang menjadikan gamifikasi menjadi hal yang penting untuk dipraktikkan. Karena gamifikasi dapat membuat pembelajaran menjadi menarik, seru, dan bermakna. Namun, tak lupa Pak Aye pun menyampaikan bahwa “Gamifikasi hanyalah salah satu teknik, bukan ‘obat’ bagi segala kondisi kelas.” Pak Aye pun mengajak kami untuk bermain beberapa media yang dibawanya. Kami dibagi menjadi 3 kelompok. Ada yang bermain dorino, cocok, dan pemerintahan. Dorino merupakan media belajar berhitung. Cocok merupakan media belajar bangun datar. Dan Pemerintahan merupakan media belajar sistem pemerintahan. Keseruan bermain nampak dari respon para pemain, ada yang sangat berisik sambil teriak-teriak “cocok, cocok, cocok,” ada yang terburu-buru menjumlahkan, ada yang kalem sambil berpikir strategi, dsb. Aku yang bermain game pemerintahan, menyadari bahwa permainan yang kumainkan ini mengajariku bukan hanya untuk menang, tapi juga untuk memikirkan (baca : peduli) pada orang lain. Oh… ini yang Pak Aye sebut bahwa gamifikasi itu adalah permainan yang bermakna, permainan yang dapat mengubah perilaku. Setelah bermain, Pak Aye menjelaskan bahwa pada prinsipnya, untuk membuat sebuah permainan, kita hanya perlu ATM, yakni Amati, Tiru, dan Modifikasi. Tentunya hal ini mesti sesuai dengan tujuan pembelajaran. Bagaimana, seru bukan? Ingin mencoba membuat sebuah permainan yang menarik, seru, dan bermakna ala Pak Aye? ☺ Di akhir kata liputan ini saya ucapkan, semoga ilmu yang kami peroleh hari itu dapat banyak bermanfaat untuk kami yang hadir, untuk para pembaca liputan ini, untuk para guru yang mempraktikkan dan menyebarkan ilmu ini. Amin.

Autisme 101 : Belajar Bersama Guru Belajar Denpasar

Temu Pendidik Daerah KGB Denpasar Apa jadinya jika guru-guru berkumpul dan berdiskusi?PECAH!! (bahasa anak muda jaman Now.) Demikian pula yang terjadi ketika komunitas para guru ini bertemu. Minggu, 04 November 2018 dipilih sebagai waktu untuk bertemu kembali oleh anggota KGB Denpasar. Pertemuan bulanan ini adalah kegiatan Temu Pendidik Daerah ke-8 yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar Denpasar, yang bertujuan menggerakkan semangat belajar di ekosistem pendidikan Indonesia. #MerdekaBelajar. Bertempat di sekolah Inklusi Youth Shine Academy, Denpasar, kegiatan dimulai dari pukul 09.30 wita. Hadir pada saat itu 9 anggota yang berasal dari sekolah PAUD sampai jenjang SMA. Suasana jelas terlihat akrab dan hangat bahkan selama acara berlangsung terasa antusiasme para anggota yang hadir. Diawali dengan perkenalan dan mengisi daftar hadir online, narasumber pertama, ibu @jentinapakpahan memulai diskusi tentang intervensi dini mengenal autisme dan segala hal terkait tipe, ciri dan penanganannya. Fokus pada pertemuan ini adalah mengubah paradigma anggota KGB para rekan guru untuk lebih mengerti panduan penanganan ketika proses belajar mengajar berlangsung. Salah satu kutipan dari narasumber tentang anak-anak kebutuhan khusus adalah, “Anak-anak adalah aset bukan liabilitas. Pergunakan waktu sekarang untuk berproses daripada menyesali dikemudian hari”. Banyak contoh pengalaman dan berbagai file tentang autisme serta berbagai saran terapi penanganan yang disampaikan oleh narasumber. Salah satunya adalah terapi wicara yang disarankan untuk anak-anak dengan gangguaan komunikasi serta terapi perilaku yang diperuntukkan bagi anak dengan gangguan hiperaktif. Diskusi tentang berbagai masalah penanganan dikelas banyak diungkapkan terkait cara pengelolaan emosi guru dan siswa. Banyak ide yang dilontarkan untuk selanjutnya dapat dipraktekkan dikelas termasuk pola displin positif bagi siswa untuk membuat kelas bisa tetap kondusif. Narasumber kedua, ibu @devianasafitri berbagi pengalamannya mengikuti Temu Pendidik Nusantara, Oktober lalu di Jakarta. Fokus pembahasan adalah tentang memahami cara guru untuk memanusiakan hubungan. Banyak contoh permainan edukasi dan presentasi saat kelas yang diikuti bu Devi membuat anggota yang lain menjadi bersemangat untuk mengikuti TPN 2019. Salah satu kutipan yang menarik dari narasumber yaitu,”Perubahan tidak menunggu kebijakan, tetapi praktik baik yang dilakukan dikelas, ketika para guru bertemu dan berinteraksi dengan para siswa. Sentuh HOT BOTTOM mereka dan nantikan perubahan terjadi pada anak, pada rekan kerja bahkan pemegang kebijakan”. Narasumber juga memandu para anggota untuk melakukan teknik bernafas agar mengurangi ketegangan emosi saat mengajar dikelas. Diskusi mengalir dengan berbagai pertanyaan seputar TPN dan komunitas guru belajar. Salah satu ide adalah mendukung rencana KGB bisa segera dilaksanakan di Singaraja, agar rekan-rekan guru tidak perlu jauh ke kota Denpasar untuk melaksanakan Temu Pendidik Daerah. Puncaknya adalah ketika ibu Wanda, anggota terjauh dari kota Singaraja, membagikan buku berjudul “Sulitkah mengasuh anak” terbitan dari Yayasan Gemah Ripah Pacung ke semua orang yang hadir secara gratis dan juga buku “Memanusiakan Hubungan” dari Komunitas Guru Belajar untuk dipinjamkan ke semua anggota bergantian. KGB Denpasar mendukung gerakan Literasi dengan cara membuat jadwal peminjaman buku milik KGB Denpasar, yang sementara akan diberikan saat Temu Pendidik berlangsung setiap bulannya. Saat sesi refleksi, ada ungkapan menarik dari para anggota, salah satunya dari ibu Marli, yang baru pertama kali mengikuti TPD. Ibu Marli sangat antusias karena akhirnya menemukan komunitas guru yang saling melengkapi, merdeka berbagi dan bisa menambah wawasan untuk berkembang. Begitu pula saat ibu Wanda, merasa diingatkan kembali kepada panggilannya ketika memilih profesinya sebagai guru. Meskipun kadang berbenturan dengan kebijakan atau peraturan dilembaga yang mengikat kebebasan untuk bereksplorasi. Ada momen ketika ibu Jentina berbagi pengalamannya sebagai pendidik anak kebutuhaan khusus selama 16 tahun terakhir, mengutarakan proses jatuh bangunnya untuk tetap bertahan dengan mereka karena ia percaya profesi ini adalah panggilan hidupnya bukan sekedar untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan. Beberapa orang lagi mengutarakan kesungguhan untuk lebih lagi berbuat sesuatu daripada mengeluhkan kebijakan atau sekedar mengajar demi akreditasi. Pada sesi penutup, para penggerak meminta kepada semua anggota untuk lebih aktif memulai Temu Pendidik Sekolah serta mendorong anggota untuk bersedia jika diminta mengisi sebagai narasumber dan moderator untuk berbagi ilmu dan mengembangkan diri. Termasuk membuka kesempatan untuk setiap anggota bisa memposting karya dan ide mereka dalam surat kabar KGB. Para penggerak juga memperkenalkan berbagai kelas online yang guru dapat ikuti selanjutnya untuk menambah ilmu dan wawasan serta jaringan. Untuk itu akan ada pertemuan lanjutan terkait penyusunan agenda dan rencana kegiatan tahun 2019. Karena semangat dari komunitas ini adalah semua murid semua guru, yang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi semua guru untuk aktif dan berkembang.

Purwokerto, Bicara tentang Pendidikan Seksualitas

Mendobrak Hal Tabu “Kalau kita bicara tentang  Seksualitas  apa yang ada dibenak kita?”, begitu tanya Bu Vitri membuka pelatihan di SMP Permata Hati di Purwokerto. Kebayang nggak sih, Purwokerto bicara tentang Pendidikan Seksualitas? Bahkan di kota besar saja bicara tentang Seksualitas adalah hal yang tabu. Banyak salah kaprah tentang Seksualitas, Seksualitas seringkali dikaitkan dengan hubungan Laki-Laki dan Perempuan.  Sehingga seringkali orang tua tidak membahas seksualitas dengan alasan “Anak Kecil tidak perlu tahu tentang seks. Nanti malah coba-coba, lho” “Malu ngomongin seks sama anak.  Memangnya dia akan mengerti?” Atau “Pendidikan seksualitas diajarkan di sekolah,  bukan tugas orangtua” Padahal  “Seks itu alamiah, tapi perilaku seks yang bertanggungjawab adalah hasil PROSES belajar secara EKSPLISIT” begitu bu Vitri dan bu Sishi membuka pikiran guru dan wali murid yang datang ke pelatihan hari itu.  Semangat Belajar Seksualitas Hawa semangat belajar  terasa di ruangan kelas yang sederhana tetapi hangat hari itu, semua guru dan wali murid semangat berproses dan belajar bersama. Diantara banyak ibu-ibu datang, ada dua bapak wali murid yang semangat  mengikuti pelatihan dari awal sampai akhir. Beliau bercerita kesulitan beliau saat mendampingi anak perempuannya yang telah menstruasi.  Bisa dibayangkan seorang bapak bersama putrinya datang ke pelatihan Pendidikan Seksualitas,  tidak malu belajar dan menceritakan masalahnya untuk mencari solusi bersama. Purwokerto membuktikan bahwa semangat belajar tidak terbatas faktor umur, gender bahkan dari mana kita tinggal. Pendidikan Seksualitas untuk Anak Berkebutuhan Khusus, memang bisa? Sesuai namanya Permata Hati, SMP Permata Hati memiliki “Permata” yang sehari-hari ikut belajar bersama di kelas, mereka adalah Anak Berkebutuhan Khusus.  Sehingga, pelatihan Pendidikan Seksualitas  yang diadakan di Purwokerto lebih memfokuskan pada Pendidikan Seksualitas untuk Anak Berkebutuhan Khusus. Jadi, Apa bisa Anak Berkebutuhan Khusus bisa diajarkan  Pendidikan Seksualitas? Bisa! Ada tiga prinsip yang ditekankan oleh Bu Vitri dan Bu Sishi sebagai pemateri; Kongkrit, Bertahap, Berulang. Ruang Lingkup membahas Pendidikan Seksualitas tidak hanya sebatas jenis kelamin. Kalau kita ingin membahas Pendidikan Seksualitas sebenarnya apa saja sih yang bisa kita bahas dengan anak? Perkembangan manusia: perkembangan tubuh & perubahannya. Kebersihan & perawatan diri. Kesehatan. Hubungan antar pribadi; daerah pribadi vs umum, lingkaran sosial. Perlindungan diri. Untuk Anak Berkebutuhan Khusus Pendidikan Seksualitas bisa menggunakan media yang bersifat visualisasi, misalnya  gambar, video, dan alat peraga, karena dengan media tersebut memudahkan Anak Berkebutuhan Khusus dalam memahami aspek-aspek yang perlu dipelajari terkait Pendidikan Seksualitas. Totalitas untuk yang tercinta Disaat yang bersamaan orang tua belajar Emosi dan Komunikasi  Efektif dengan Rangkul KeluargaKita, guru belajar membuat  kurikulum Pendidikan Seksualitas yang sesuai dengan kebutuhan anak. Kenapa orang tua dan guru sama-sama belajar? Pendidikan tidak hanya tanggung jawab satu pihak. Orang tua atau hanya Sekolah saja. Pendidikan tanggung jawab semua. Bukan saling menyalahkan, bukan saling menuntut. Itulah yang dibahas oleh Rangkul dari KeluargaKita saat orang tua belajar komunikasi. “Seringkali kita itu suka lupa mengucapkan terima kasih ke guru. Coba deh bapak-ibu sekali saja sebulan ngirim ‘Bu/Pak, Makasih banyak ya sudah mendampingi anak saya’. Saya yakin hal sederhana begini saja berharga lho pak/bu ” Ujar Bu Yulia Rangkul KeluargaKita Di kelas sebelah, guru membuat kurikulum Pendidikan Seksualitas dari hasil diskusi guru dan orang tua tentang kebutuhan aspek dalam Pendidikan Seksualitas. Seringkali guru membuat kurikulum berdasarkan sudut padang guru saja, padahal dengan mencocokan  data dari orang tua, kurikulum bisa dibuat sesuai kebutuhan anak baik di sekolah dan di rumah. “Misalnya kalau anak belum bisa menggunakan pembalut dan di rumah hanya ada bapak. Guru bisa membantu” penjelasan bu Vitri  yang menekankan pentingnya hubungan dua arah antara guru dan orang tua.     Masih merasa tabu bicara tentang seksualitas dengan anak? Mari buka pikiran kita tentang seksualitas, mari buka pembicaraan sederhana dengan anak tentang kebutuhan belajar tentang tubuhnya. 

Sudah Jadi Guru Kok Belajar Menulis?

Selepas salat Subuh guru Novi mengambil tas dan meminggulnya, lalu ia menghampiri suami dan anak-anaknya. Ia pamit untuk menuju Painan, sebuah kecamatan di Pesisir Selatan mengikuti pelatihan menulis. Ia harus berangkat Subuh karena memang Kecamatan Tapan, tempatnya tinggal berjarak kurang lebih 140 km dari lokasi pelatihan. “Saya tahu pelatihan ini tidak dapat sertifikat. Saya tahu pelatihan ini tidak menginap di hotel mewah. Saya tahu pelatihan ini tidak dapat uang transport. Tapi saya datang bukan karena itu. Saya datang karena memang ingin bisa menulis” kata Guru Novi di salah satu sesi pelatihan. Tidak hanya guru Novi, rekan-rekan seperjuanganya dari Tapan dan kecamatan lain di Pesisir Selatan pun sama. Harus menempuh ratusan kilometer untuk mengikuti pelatihan yang dilaksanakan di pusat kabupaten.  Karena memang Kabupaten Pesisir Selatan adalah kabupaten yang memanjang, sehingga jarak antarkecamatan pun berjauhan.  Kalau saya bisa menganalogikan, jarak Tapan sampai ke Painan, lokasi pelatihan menulis seperti perjalanan saya naik motor dari Tegal hingga Kudus yang melewati 7 kabupaten. Jadi bisa dibayangkan betapa memanjangnya sebuah kabupaten bernama Pesisir Selatan. Akhirnya Guru Novi dan beberapa rekan seperjuanganya sampai di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Pesisir Selatan pukul 08.00 WIB untuk mengikuti pelatihan menulis dari Kampus Guru Cikal. Pelatihan ini merupakan pelatihan pamungkas dari 3 pelatihan sebelumnya : Pelatihan Merdeka Belajar, pelatihan Memanusiakan Hubungan, dan pelatihan Numerasi dan Literasi. Guru Belajar Menulis Di awal, pelatih dari Kampus Guru Cikal, Mahayu Ismaniar mengajak peserta untuk bersepakat tentang tujuan belajar menulis. Peserta diminta untuk membuat kepanjangan dari akronim kata MENULIS. “Menurut saya, M-enulis itu menyampaikan pikiran, E-nak dan tidaknya N-amun selalu dituliskan, U-ntuk diketahui oleh orang lain, L-alu kita curahkan I-si hati pada S-emua pembaca” tulis seorang peserta di kertas yang kami bagikan. Tidak sampai di situ, akronim yang dibuat kepanjanganya tersebut diolah peserta dan kelompoknya menjadi kemasan yang menarik, seperti pantun, nyanyian, puisi, dan sebagainya. Akhirnya kami bersepakat keterampilan menulis penting dimiliki oleh guru. “Saya kadang ketika akan menulis itu sudah kebayang dulu tulisan orang-orang yang bagus, bagus dari segi kebahasaan, ejaan, serta pemilihan kata yang digunakan. Jadi dalam bayang-bayang saya, menulis itu susah.” Kata pak Afdhal saat sesi membongkar salah kaprah menulis. Dalam sesi membongkar salah kaprah menulis ada kejadian yang menarik. Adanyaperdebatan saat pelatih menyampaikan poin “Menulis seperti masak mie instan”.Guru Erna setuju bahwa menulis itu seperti memasak mie instan “Menulis itubukan hal yang sulit. Misalnya kita mendapat pengalaman waktu ini, bisalangsung dituliskan.” Guru Afdhal memiliki persepsi lain tentang menulis, bahwamenjadi penulis yang profesional tidaklah mudah. Butuh waktu untuk mengasahtulisannya menjadi bagus. Namun diakhir pendapatnya guru Afdhal berucap “Nah perbedaan pendapat dengan Bu Erna pun ini salah satu yang harus penulis punya, yakin dengan apa yang dituliskannya.” Setelah bersepakat tentang tujuan, membongkar salah kaprah menulis akhirnya kami menawarkan sebuah formula menulis yang biasanya kami gunakan untuk formula penulisan di Surat Kabar Guru Belajar, yaitu formula ATAP. ATAP memiliki kepanjangan awal, tantangan, aksi dan perubahan. Mahayu Ismaniar menganalogikan ATAP dengan bentuk gunung. Diawali dengan awal yang biasa saja, kemudian mulai menanjak ketika mendapati tantangan, lalu mulai menurun kembali ketika menemukan aksi untuk mengatasi tantangan sebelumnya, dan kembali normal saat adanya perubahan. Peserta mulai belajar formula ATAP dengan membuat tulisan singkat 4 kalimat proses mereka menuju lokasi pelatihan. Dilihat dari tulisan, peserta sudah mulai mengerti mengenai ATAP. “Saya senang dengan dengan formula ATAP ini. Mudah untuk diaplikasikan. Saya yang sebelumnya tidak suka menulis terbantu dengan formula ini.” Jelas Guru Son di akhir pelatihan. Memang jika dilihat format ATAP bisa dijumpai di alur sebuah novel, pada struktrur jurnal, dan sebagainya. Tantangan mulai menanjak, kalau di awal peserta hanya diminta menulis proses mereka menuju lokasi pelatihan. Di sesi siang peserta diminta mengidentifikasi topik pengajaran yang berhubungan dengan literasi dibantu oleh peserta lain dalam satu kelompok. Setelah mendapat topik yang berkaitan, peserta membuat ATAP 4 kalimat. Saat sesi ini setelah dikoreksi, banyak peserta yang masih kesulitan membedakan antara bagian awal dan tantangan. Di bagian awal peserta banyak yang menuliskan permasalahan yang mereka hadapi, bukan tujuan yang akan dituju atau tanggung jawab sebagai guru. Setelah diberi umpan balik, peserta memperbaikinya. Formula ATAP tersebut dikembangkan menjadi tulisan yang utuh oleh peserta dengan cara didiskusikan bersama kelompok. Peserta menyampaikan 4 kalimat ATAP-nya kemudian peserta lain dalam satu kelompok bertanya apapun untuk menggali tulisan tersebut. Dalam hal ini dimaksudkan agar peserta mengetahui bahwa proses menulis dan pencarian ide juga bisa dilakukan dengan mengobrol dengan orang lain. Akhirnya peserta mengembangkan 4 kalimat ATAP yang mereka buat. Peserta antusias dalam menulis, dalam waktu 30 menit beberapa guru menyerahkan tulisannya. Dan terlihat sudah mulai paham mengenai ATAP. “Pelatihan kali ini membuka pikiran saya, ternyata menulis itu adalah sebuah proses yang memang harus dimulai saja dulu. Saya jadi tahu formula yang memudahkan saya dalam menulis. Saya akan lebih banyak menulis setelah ini.” Kata Guru Rini di sesi akhir pelatihan. Anda Guru, kapan terakhir Anda menulis? Yuk ikut Klub Guru Menulis yuk !