Membaca Tanpa Terpaksa

Pastinya tiap guru/orangtua memiliki strategi Yang berbeda. Kalau saya melakukan tiga langkah yakni pre-reading, whilst reading Dan post reading. Rincian kegiatannya dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Namun, ini saya lakukan dalam pertemuan di kelas untuk membahas satu teks tertentu ya Selama saya mengajar baik di SD, Les atau pun di SMK tempat saya mengajar sekarang. Strategi tersebut selalu berhasil Dan bikin kelas pecah Pertanyaan dari Guru Tuti  Saya masih belum terbayang seperti apa kira-kira pembelajarannya. Karena bisa jadi ini dapat diterapkan but anak-anak saya mohon penjelasannya Bu Jawaban  Kurang lebihnya Karena saya mengampu mapel Bahasa Inggris, maka di awal saya memperkenalkan dulu kosakata yang akan digunakan dalam pembelajaran. Caranya dengan memperagakan, pronunciation drill dan melengkapi kalimat. Sesudah itu, saya membagikan potongan kertas berisi satu paragraf Dalam teks yang akan dibaca. Sesudah itu, siswa mencari bagian paragraf lain, Dan menyusun menjadi teks yang runtut. Di sinilah secara tidak sadar siswa membaca. Di bagian akhir, Ada kegiatan wawancara terkait isi teks dan evaluasi. Bedanya evaluasi disini yakni dengan memberikan kertas berisi jawaban kepada semua anak, baru melontarkan pertanyaan. Apakah bisa dipahami Ibu?. Pertanyaan dari Guru Siyohelpiyanti Membaca dalam mata pelajaran bahasa (Bahasa Inggris)  atau umum? Jawaban Saya mengajar Bahasa Inggris, namun bisa juga diterapkan Dalam mapel lain yang membutuhkan pemahaman bacaan. Misalnya, Sejarah, PKN, dll Pertanyaan dari Guru Novie Bagaimana gambaran pelaksanaan pembelajaran jika bidang studi yang saya ampu adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Apakah dalam kegiatan pengenalan kosakata,kita perkenalkan kata-kata tersebut termasuk kelompok kata apa, atau bagaimana Bu? Mohon penjelasannya Jawaban  Untuk Bahasa Indonesia bisa saja dengan kelompok kata seperti yang Ibu bilang, atau penggunaan istilah-istilah asing yang ada pada bacaan. Bisa juga di skip ke kegiatan intinya jika dirasa siswa sudah paham semua kosakata. Pertanyaan dari Guru Popi Ramlan  Saya pernah mencobakan dengan memberi siswa potongan  paragraf yang berbeda di tandai dengan warna dengan, pertama siswa duduk berkelompok dengan paragraf dengan no yang sama, dan di diskusikan, kemudian siswa duduk dikelompok berbeda berdasarkan nomor pada paragraf, apa sma dengan yang saya lakukan Bu? Jawaban Sepertinya agak berbeda, Bu. Kegiatan yang saya lakukan tanpa diskusi. Saat siswa mencari bagian paragraf yang lain mereka kadang blank. Alih-alih mencari paragraf lain malah berkelompok dengan paragraph yang sama. Siswa juga harus mencari tahu sendiri jumlah paragrafnya yang membutuhkan kemampuan analisis Apakah wawancaranya kita guru yang menyediakan pertanyaannya bu? Jawaban Untuk wawancara pertanyaan boleh disiapkan oleh guru utk anak usia muda. Tapi utk SMK, mereka bisa membuat sendiri agar merangsang kemampuan bertanya juga Pertanyaan dari Guru Priska  Strategi yang ibu sampaikan tadi sangat menarik, namun apakah strategi ini bisa juga di gunakan dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yaitu dalam membaca dalil-dalil Al-Qur’an maupun dalil-dalil hadits? Mohon penjelasannya Bu Jawaban  Menurut saya bisa banget Bu. Pre-readingnya bisa dengan memperkenalkan kosakata dalam dalil yang akan dibahas. Whilst readingnya Sama dengan kegiatan saya. Jika dalil pendek bisa dipecah berdasarkan kata, jika panjang dipecah berdasarkan ayat per ayat. Untuk wawancara nya bisa menyesuaikan dengan dalil yang dibahas. Evaluasi bisa menggunakan strategi yang serupa. Pasti seru Oh ya, supaya gambaran ya lebih jelas, Misal membahas satu teks berisi 5 paragraf. Nantinya beberapa siswa akan mendapat paragraf yang Sama. Jadi pembagiannya diusahakan dengan jumlah siswa di kelas agar semua mendapat kelompok Membaca, seringkali menjadi  tantangan tersendiri. Apalagi di kelas Bahasa asing. Namun, dengan melibatkan siswa, memberikan kesempatan untuk berkolaborasi dan berkomunikasi, maka belajar membaca akan menjadi menyenangkan dan penuh gelak tawa.

Literasi Sebagai Proses Pembelajaran Seumur Hidup

Temu Pendidik Daring KGB- Sijunjung kali ini membahas tentang literasi. Dengan Narasumber Guru Irma Nurul dari KGB –Depok, dan moderator Widya Apri Wandini.  Berikut materi yang disampaikan oleh Guru Irma Nurul :  Perjalanan kami memahami literasi cukup panjang. Tahun 2014 kami mempunyai jam khusus untuk literasi. Saat itu literasi kami anggap kemampuan baca tulis. Murid berkunjung ke perpustakaan selama 30 menit membaca. Tahun ajaran berikutnya aktivitas membaca kami kembangkan lagi menjadi 30 menit membaca dan 30 menit menulis.  Pada tahun ini kami diliputi kegalauan. Kami memiliki kelas 9 yang diwajibkan membuat Karya Ilmiah. Kemampuan murid dalam memahami dan menginterpretasikan bacaan ilmiah masih belum sesuai dengan harapan.  Fakta ini membuat kami memikirkan ulang target kegiatan membaca dan menulis sebagai kegiatan literasi. Berpikir ulang apakah pemahaman kami akan pengertian literasi sudah tepat? Kami mulai mencari sumber dari dalam dan luar negeri. Akhirnya kami merumuskan dan  menempatkan literasi dalam bentuk kemampuan yang diasah melalui pengalaman belajar untuk meningkatkan kecintaan terhadap ilmu, eksplorasi belajar dari lingkungan sekitar dimana murid mendapatkan ilmu, membuat asosiasi antar bidang ilmu, dan menggunakannya untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan. Pengalaman belajar dilakukan melalui kegiatan belajar mengajar dan kegiatan kunjungan tematik. Pada rapat awal tahun ajaran setiap guru melakukan curah ide tentang pembelajaran masing-masing. Lalu bersama-sama guru akan membuat satu tema yang dapat didekati dari beberapa pelajaran. Guru membuat daftar kemampuan dan keterampilan apa saja yang dapat tercakup dari kegiatan tersebut. Setelah itu tim guru akan menentukan tempat yang sesuai dengan tema. Kunjungan tematik dilakukan setiap 2-3 bulan sekali dengan pilihan tempat yang dekat atau terjangkau transportasi massal seperti stasiun kereta api, museum, pusat budaya, perpustakaan, kantor pemerintahan, sampai bioskop.  Salah satu contoh kegiatan implementasi literasi budaya, baca tulis, dan numerasi, adalah dengan kegiatan kunjungan ke sebuah museum. Pada pelajaran Bahasa Inggris, guru bidang studi mengambil topik tour guide. Guru menjelaskan bahwa mereka akan pergi ke museum Ciputra di Jakarta. Moda transportasi tercepat apa yang bisa digunakan? Murid belajar untuk memahami peta dan menggunakan aplikasi Trafi dan dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok di kelas 7 akan mengatur perjalanan dan pembiayaan yang paling efisien untuk mencapai lokasi. Mereka akan menghitung jumlah guru, murid dan staf yang akan ikut, membaginya dalam kelompok kendaraan dan menghitung keseluruhan biaya yang dibutuhkan hingga sampai ke museum Ciputra. Murid belajar mengasah literasi visual spasialnya ketika memahami peta di Google maps dan literasi numerasi ketika memperhitungkan biaya dan moda transportasi tercepat. Setelah sampai di museum murid dipandu untuk memahami lukisan Hendra Gunawan dari lukisan naturalis ke lukisan modern kemudian diberikan pertanyaan mengenai perbedaan lukisan. Pemandu museum meminta murid mengamati lebih dekat tentang elemen garis, bentuk, dan warna. Pada sisi ruang pamer yang lain murid melihat bagian lukisan kontemporer pada era masa kini. Murid mengamati lukisan dan diperbolehkan bertanya. Membaca keterangan tentang lukisan dan mengamati kembali. Apa yang mereka rasakan ketika melihat lukisan? Elemen apa dalam lukisan yang membuat murid dapat merasa seperti itu? Apakah interpretasi mereka sama atau berbeda dengan temannya? Murid membaca teks mengenai periode dimana lukisan itu dibuat, suasana yang melatarbelakangi pelukis menghasilkan karya, dan mengaitkannya ke dalam sejarah pasca kemerdekaan Indonesia. Setelah itu dilakukan tanya jawab dengan pemandu. Kemampuan ini mengasah literasi visual dan budaya. Pengalaman melihat langsung lukisan dan berbicara langsung dengan ahlinya membuat murid mendapatkan pengalaman belajar yang lebih kaya. Pada pertemuan setelah murid melakukan kunjungan, murid membuat tulisan tentang lukisan yang paling disukainya dan penjelasan yang membekas di ingatan mereka. Tahapan selanjutnya pada pelajaran Bahasa Indonesia murid akan membuat teks deskriptif terkait kunjungan mereka dan di pelajaran Seni Budaya murid membuat lukisan kontemporer versi mereka sendiri. Dalam kegiatan ini literasi baca tulis dan visualnya berkembang. Dari kegiatan di atas disimpulkan bahwa mengasah kemampuan literasi tidak harus terfokus ke satu kemampuan literasi secara spesifik seperti baca tulis. Literasi bukan merupakan hasil akhir namun merupakan pembelajaran seumur hidup. Peningkatan literasi di berbagai bidang dapat meningkatkan kemampuan murid dalam menghargai kearifan lokal, bekerja sama dan berkolaborasi dengan banyak pihak untuk menghadapi tantangan di masa depan. Sesi Tanya Jawa Pertanyaan dari Guru Tuti  Pemahaman Literasi di sekolah sangat minim saya rasakan. Hampir seluruh guru hanya paham bahwa literasi selalu tentang baca dan atau menulis saja. Membaca praktik baik yang ibu lakukan di sekolah menginspirasi saya untuk dan harusembuka wawasan guru tentang Literasi yang sesungguhnya. Namun permasalahannya untuk sekolah SMK tentu perlu kolaborasi semua guru, dan apakah program ini dapat  dilakukan di SMK? Dan apakah dimasukkan dalam program sekolah ? Jawaban  Program literasi dapat dilaksanakan dari jenjang TK hingga SMA dan SMK. Pertama-tama untuk memulai Ibu bisa coba di pelajarannya sendiri. Jika ada satu dua orang teman guru yang bersedia kolaborasi sudah cukup. Jadi didiskusikan berdua topiknya apa dan bagaimana bentuk kolaborasinya Mencoba melihat topik yang menarik tentunya. Namun alangkah baiknya jika ini merupakan program sekolah ya Bu. Masukan buat tim literasi sekolah di bawah koordinator wakil kurikulum dan kepala pustaka ya Bu 😊? Kalau di sekolah kami langsung di bawah Kepala Sekolah. Kami mengalokasikan waktu untuk curah gagasan aktivitas literasi apa yang bermakna.  Namun bisa dimulai dari individual guru bersama rekan yang satu visi jika dari sekolah belum ada program Iya harus coba dimulai bu. Kemarin kami membuat reading workshop. Jadi setelah anak membaca satu buku mereka membuat poster atau miniatur tentang buku tersebut. Ditambahkan dengan cat, pernak pernik disana sini. Kemudian ada hari presentasi dimana murid saling mempresentasikan bukunya dan melihat karya yang beraneka ragam. Pertanyaan dari Guru Sri  Bukankah dengan strategi yang ibu gunakan itu akan membuat perpustakaan menjadi sepi pengunjung dari murid karena murid-murid   sudah diajak ke lokasi lain untuk melakukan literasi. Jadi pertanyaan saya apa fungsinya dan peranan perpustakaan lagi, terimakasih Bu Irma atas jawabannya Jawaban  Dengan strategi itu tidak membuat sepi perpustakaan. Karena buku juga menjadi salah satu rujukan referensi. Kita berusaha mengikat makna pembelajaran dengan hal-hal yang ada di keseharian. Kunjungan ke perpustakaan tetap dilakukan. Tentunya dengan aktivitas yang menyenangkan dan sesuai dengan tahapan perkembangan muridnya Pertanyaan dari Guru Rini  Saya mengajar di Kelas Tiga SD Bu, saya menerapkan literasi di semua mata pelajaran, saya suruh murid baca materi 10 menit awal, kemudian saya ajukan pertanyaan sesuai isi … Read more

Tingkatkan Budaya Literasi dengan Masak Bareng

Kaum milenial nggak akan jauh dengan namanya gadget,  barang super penting dalam kehidupan mereka. Bicara tentang literasi,  sekarang tak akan mudah jika hanya disajikan dalam keadaan mentah seperti baca buku,  tulis menulis atau diskusi, namun tampaknya terobosan melalui literasi ketrampilan dalam hal ini keterampilan memasak perlu diuji coba dalam sajian menu baru untuk literasi generasi kita, terlebih salah satu hobi yang sedang diminati remaja yang kekinian adalah membahas tentang kuliner. Perlu ide segar,  kreativitas tanpa batas dan konsistensi dalam hal itu,  mengingat akan goal dari kegiatan ini adalah menghasilkan anak muda yang literat, peka terhadap hal sederhana dan akhirnya menjadikan mindset lebih berkembang. Melalui ketrampilan memasak, akan menjadikan pengalaman literasi yang berkesan bukan??   Naah gimana dan apa ya hubungannya memasak dgn literasi? Pada Temu Pendidik Daerah secara daring di whatsapp grup Komunitas Guru Belajar Wonogiri yang dilakukan pada hari Rabu tanggal 27 Maret 2019 membahas tentang “Tingkatkan Budaya Literasi dengan Masak Bareng”. Pada diskusi ini, materi dan pengalaman akan dibagikan oleh Heni Surya yang merupakan Founder TaBAH (Taman Belajar Anak Hebat) dan juga merupakan salah satu Penggerak Komunitas Guru Belajar Solo Raya. Beliau adalah pengelola Taman Belajar Anak Hebat. Taman yang difasilitator i oleh para penggerak Komunitas Guru Belajar Solo Raya ini lebih memberikan tempat yang nyaman untuk para anak – anak mengerjakan tugas sekolahnya. Lanjut tentang “Apa hubungan literasi dengan memasak”, pada diskusi lalu dibahas tentang bagaimana memulai budaya literasi melalui dapur? Pernah dengar acara masak bareng Chef di daerahmu? Seorang Chef datang dan membacakan resep, peserta mencatat. Sebelum memasak diskusi ringan hal kadar gizi dan manfaat masakan yang akan dibuat. Kemudian praktek bersama. Hingga akhirnya peserta melakukan hal yang sama di rumah atau tempat lain. Urutan seperti ini literasi, bukan? Menggunakan moment memasak untuk meningkatkan literasi anak adalah sangat efektif. Sebab kegiatan memasak adalah kegiatan kita sehari-hari. Mengajak anak melakukan literasi dasar yakni kemampuan dasar dalam membaca, menulis mendengarkan dan berhitung. Melalui memasak anak diminta aktif membaca resep menu di awal, mendapat tantangan untuk mempraktekkan di dapur, menggali dan memikirkan lamanya proses memasak spt (menggoreng, merebus dan sejenisnya) serta yang paling penting bisa mengemukakan bagaimana rasa dari masakannya sendiri. Menyampaikan ini enak dan kurang enak. Bahkan membuat anak mencoba ulang untuk mendapatkan hasil masakan yang lebih enak. Saya pikir kemampuan berliterasi bisa ditingkatkan melalui kuliner, dan memasak pada khususnya. Saat kita sedang lengang, ajak anak mempraktikkan apa itu memasak bersama-sama di rumah. Apa saja manfaatnya bagi peningkatan budaya literasi anak? Meningkatkan kemampuan berhitung atau matematika. Memasak adalah cara terampuh untuk belajar matematika. Saat memasak tanpa terasa ia harus mengukur takaran makanan dari resep yang ada, misalnya tiga butir telur, 1/2 sendok makan mentega, dan lain-lain. Membangun pemahaman. Meskipun Si Kecil belum bisa membaca, dengan memasak ia dapat membangun pemahaman tentang konsep step by step. Mulai dari langkah pertama misalnya mengupas bahan makanan, lalu memotong, memberi bumbu hingga dimasak sampai matang. Dari segi sains, bisa belajar sains. Memasak adalah bagian dari percobaan sains. Terlalu banyak garam atau baking soda dan terlalu sedikit tepung dapat menyebabkan adonan menjadi gagal. Hal ini sama saja dengan belajar sains. Selain itu, memasak dapat melatih percaya diri. Dapat menghasilkan suatu karya termasuk masakan dapat meningkatkan percaya diri anak. Agar lebih maksimal, beri label pada hasil masakannya dengan menggunakan nama Si Anak, misalkan Ayam Geprek meleleh ala chef Luna, atau puding roti manis syakira. Selanjutnya, manfaat memasak bagi peningkatan budaya literasi anak adalah membangun keahlian berkomunikasi. Atmosfer santai di dapur atau kelas memasak dapat membuat Anak lebih relaks untuk berbicara tentang apapun. Momen ini dapat dimanfaatkan orangtua untuk berbicara dari hati ke hati dengan anak. Nah, jika ia ikut serta dalam kelas memasak, ia bisa bersosialisasi dengan teman sebaya, Life skill. Dalam diskusi kali ini, ada 2 sesi diskusi, sesi pertama, dibuka dengan tiga penanya: Pertama, Muhammad Gangga dari Palembang : Untuk memasak, jika salah memasak atau hasil kurang memuaskan otomatis kita kecewa karena beberapa aspek salah satu nya biaya atau bahan yang dikeluarkan terlalu banyak atau besar. Bagaimana mengatasi itu ? Jawab: Kita bahas soal literasi melalui metode memasak ya. Bersama anak sepakati dulu dari awal. Mengenai kemungkinan berhasil dan tidak saat memasak. Sehingga akan meminimalisir perasaan kecewa, atau bahkan akan berganti antusias untuk menggali lebih jauh kenapa bisa gagal dan kenapa bisa tidak enak. Perihal rugi biaya ini akan tertutup dengan semangat anak berliterasi tadi. Saya ada tips untuk mengatasi gagal dalam memasak bersama anak, jika kita membaca satu resep. Maka kita bisa praktekkan memasak separuh resep dulu. Misalnya membuat brownies, jika resep menggunakan 8 telur kita coba 4 dulu. Penanya kedua Wuri Handayani dari Sragen: Saya sering membawa alat memasak seperti termos, wajan, susruk penggorengan, untuk menerangkan perbedaan isolator dan konduktor, apa ini termasuk literasi memasak? Kadang juga mencontohkan mencelupkan sendok ke air panas untuk konduksi, dan praktek merebus air untuk konveksi (aliran panas). Jawab:Senang sekali jika semua ibu bs melakukan ini disela memasak. Sambil memasak sambil belajar tentunya.. Terima kasih sudah menginspirasi. Saya kira ini literasi, seperti yang saya sampaikan di atas. Bahwa memasak bagian dari percobaan sains, jika SD ada IPA, jenjang lebih tinggi ada fisika nya. Jadi tidak akan rugi memasak bersama anak. Karena Literasi dalam hal ini adalah proses pembelajaran hidup. Anak akan mengetahui sebab dan akibat dari suatu peristiwa, pun dalam hal merebus dan menggunakan api” Penanya ketiga Indri Fatma dari Sragen: Memasak untuk meningkatkan budaya literasi ini kira – kira bisa diterapkan kepada anak – anak mulai usia berapa? Jawab:” Saya mengajarkan memasak pada keponakan saya di usia 1,5 tahun. Ketika dia bisa  bicara dan berjalan. Saat saya merebus air untuk membuat susu dia. Saat itu dia teriak api. Dan saya menjawab, iya ini api, untuk merebus air supaya panas dan buat susu kakak. Kejadian berulang seperti ini dirumah terus menerus dia ingat dan dia pahami bahwa api bisa untuk merebus air untuk membuat susu. Saat ada api atau kompor dimanapun dia melihat dia akan otomatis berkata, api – panas – untuk – masak air – bikin susu. Ketika anak mencoba mencari tahu, disitulah peluang untuk mensisipkan literasi sejak dini. Termasuk dalam momen memasak. … Read more

Bukan Literasi Biasa

BUKAN LITERASI BIASA Literasi sering dimaknai dengan kemampuan baca, tulis dan hitung. Literasi juga seringkali dilaksanakan sesuai program 15 menit membaca. Padahal, makna literasi lebih dari hanya itu. Mengangkat judul temu pendidik, Bukan Literasi Biasa, pagi itu, guru-guru yang berasal dari Pekalongan dan sekitarnya berkumpul di MAN 1 Kota Pekalongan, untuk belajar lebih lanjut memaknai literasi. Acara yang diadakan pada hari imlek yang cerah, 5 Februari 2019 itu diawali dengan materi berjudul “Personal Documentation Video” yang disampaikan oleh Guru Madya. Beliau menceritakan tentang media video yang dipraktikkan di kelas Universitas karena melihat fenomena yang sedang trend saat ini, seperti fenomena video challenge yang berbahaya, aplikasi TikTok dan fenomena video lain yang disalahgunakan. Melihat dampak negatif yang cenderung muncul, guru Madya memanfaatkannya sebagai wadah mahasiswa untuk berekspresi dengan memanfaatkan media video ini. Dalam personal documentation video ini, mahasiswa bisa mengangkat topik yang disukai dengan menggunakan pola OMC (Opening – Main – Closing). Tahap opening dimulai dengan menjawab pertanyaan what, where, when, who. Di tahapan selanjutnya, yakni main, mahasiswa menjelaskan topik dengan panduan pertanyaan menggunakan how. Sedangkan di tahapan terakhir yakni closing, mahasiswa akan menyimpulkan rangkaian topik yang tadi di bahas. Salah satu manfaat yang didapat dari kegiatan ini adalah mahasiswa dapat melatih kepercayaan diri untuk berbicara di depan umum menggunakan Bahasa Inggris. Lebih jauh lagi, kegiatan ini juga dapat membantu jika akan menempuh study di luar negeri atau tes IELTS. Dalam kesempatan ini, beberapa guru terlihat bersemangat unjuk gigi mendeskripsikan hal yang digeluti/ disukai dalam Bahasa Inggris. Guru Zinat mendeskripsikan tentang Pemilu karena beliau adalah anggota KPPS, sementara guru Kiki membahas tentang kopi karena beliau pecinta kopi. Narasumber berikutnya, Guru Inggil yang masih berstatus mahasiswa menceritakan pengalamannya menggunakan literature circle di klub membacanya. Beliau mengawali kelas dengan meminta peserta untuk mengunduh aplikasi Farfaria sebagai salah satu sumber bacaannya. Namun, pada dasarnya, guru bisa menggunakan buku apapun. Dalam literature circle ini, guru Inggil membagi peserta temu pendidik dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 6-8 orang. Kemudian, beliau memberikan peran kepada masing-masing anggota. Ada yang menjadi pendongeng, connector, illustrator, editor dan peramal. Masing-masing memiliki tugasnya tersendiri. Misalnya, connector bertugas untuk menghubungkan isi cerita dengan dunia nyata, dan peramal bertugas untuk meramalkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pada kesempatan ini, peserta temu pendidik diminta membaca cerita Thumbelina, lalu mempresentasikan perannya tadi. Gelak tawa terdengar karena khayalan peramal yang kadang tak terduga, atau melihat gambar sang illustrator yang jauh dari aslinya. Lebih menarik lagi karena guru Inggril memberikan giveaway pada sesi presentasi. Acara temu pendidik kali ini ditutup oleh Guru Dias yang mengawali kelasnya dengan ice breaking “Patung Pancoran”. Beliau membagikan tentang pengalaman saat menerapkan konsekuensi di sekolahnya. Guru Dias merupakan anggota STP2K (Satuan Tugas Pelaksana Pembinaan Kesiswaan) yang sering menangani siswa terlambat dan beberapa permasalahan lain terkait para siswa. Beliau menyatakan bahwa konsekuensi adalah sesuatu yang harus diterima jika melanggar kesepakatan yang dibuat sebelumnya. Alih-alih menghukum siswa yang sering terlambat, beliau lebih mengedepankan diskusi dua arah yang memiliki efek jangka panjang. Dalam membuat konsekuensi dengan siswa, guru perlu mempertimbangkan banyaknya konsekuensi, keterlibatan semua pihak, dan kejelasan poin aturannya agar konsekuensi tersebut dapat dilakukan secara berkesinambungan. Beliau juga menyampaikan bahwa konsekuensi bersifat tidak mutlak/ dinamis. Artinya, konsekuensi dapat diubah sesuai dengan kondisi yang ada. Namun, sebelum menerapkan strategi ini, siswa harus diedukasi terlebih dahulu, akan lebih baik jika dalam bentuk cerita sehingga mereka tidak merasa digurui. Di akhir sesi, guru Dias memberikan sebuah masalah dan meminta peserta temu pendidik untuk merancang strategi konsekuensi yang akan dilakukan dalam sebuah kelompok. Lalu, mereka mempresentasikan hasilnya. Dari temu pendidik kali ini, guru belajar literasi melalui media video, merancang literature circle yang menarik serta berliterasi dalam menerapkan konsekuensi. Pada dasarnya, literasi ada di semua bidang, tidak hanya dalam pelajaran Bahasa. Temu Pendidik siang itu pun ditutup dengan memberikan berbagai informasi acara dan pelatihan yang akan dilakukan KGB Pekalongan bulan Maret. Diantaranya yaitu kegiatan trauma healing untuk korban banjir di Pekalongan dan pelatihan Melukis Kelas dengan Video.

Miskonsepi Literasi

Ternyata Literasi Tak Cuma Soal Baca Tulis Selama ini banyak sekali kekeliruan dalam menafsirkan dan memaknai konsep dari literasi. Padahal konsep literasi itu bersifat dinamis. Di masa kini, ada banyak perubahan dan perluasan makna literasi yang sudah berbeda dari makna kata dasarnya. Pada Temu Pendidik Mingguan ke-81 yang dilaksanakan di telegram.me/mudikmingguan hari Jum’at, 18 Januari 2019, pukul 18.30 – 20.30 WIB, dibahas mengenai berbagai miskonsepsi literasi yang perlu dipahami. Ibu Najelaa Shihab, Pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar, menjadi Narasumber pada Temu Pendidik Mingguan kali ini dan dipandu oleh Ibu Rani Indriani Kusumah, Guru Sekolah Cikal Amri Setu dan KGB JakartaTimur, sebagai moderator. Profil Narasumber Pendidikan adalah belajar, bergerak dan bermakna. Pendidik adalah kita, “semua murid semua guru.” Hal tersebut yang mendorong Najelaa Shihab terus berusaha berkontribusi dalam reformasi pendidikan Indonesia yang utuh melalui karya-karya nyata. Najelaa Shihab menyelesaikan studi S1 dan S2 di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan setelah memulai karirnya di kampus yang sama, memutuskan untuk mendirikan Sekolah Cikal pada 1999, saat ini berada di 9 lokasi di berbagai kota di Indonesia, melayani ribuan murid – mulai tingkat pra sekolah sampai dengan Sekolah Menengah Atas dan Kampus Guru Cikal. Lahir 11 September 1976 dari keluarga dengan nilai-nilai mendalam mengenai pendidikan dan kehidupan menumbuhkan keyakinannya untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya pada masyarakat. Elaa, panggilan akrabnya, dikaruniai tiga orang anak. Kontribusinya di dunia pendidikan selama puluhan tahun, dilakukan dengan meluncurkan berbagai inisiatif dan mendirikan organisasi pendidikan. Najelaa bukan hanya sekedar peduli pada kebutuhan anak-anak di berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga sangat yakin bahwa perubahan yang cepat yang terjadi di dunia saat ini, membuat kolaborasi dengan pemerintah, pendidik/guru, orang tua, keluarga, mutlak diperlukan untuk masa depan anak-anak kita. Mendirikan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) sejak 2007, Keluarga Kita dengan RANGKUL (relawan keluarga kita) sejak 2012, inibudi.org yang mengajak Guru Berbudi dan Teman Belajar sejak 2012, IslamEdu sejak 2013, Komunitas Guru Belajar Nusantara dengan penggerak-nya sejak 2014, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) di 2015, Sinedu, serta Youthmanual sejak 2016. Najelaa menginisiasi Pesta Pendidikan di tahun 2016, yang mengawali jaringan Semua Murid Semua Guru (SMSG). Jaringan ini bertujuan untuk menjadi simpul kolaborasi antar pemangku kepentingan pendidikan. SMSG juga berupaya meningkatkan kapasitas komunitas dan organisasi pendidikan untuk berinovasi dan memberikan contoh praktik baik dalam berbagai isu pendidikan yang penting disebarluaskan. Saat ini lebih dari 400 komunitas/organisasi yang beroperasi di 252 kota di Indonesia telah bergabung dalam jaringan. Merdeka Belajar, Merdeka dari Miskonsepsi Literasi Membaca adalah memahami rangkaian makna, bukan sekadar mengeja bahan pustaka. Artinya, pandai membaca adalah proses yang terus dipelajari, jauh sesudah kita bisa menggabungkan suku kata yang berarti. Karenanya, pembaca jagoan adalah yang terus mengusahakan pengenalan lingkungan, bukan sekadar melafalkan tulisan. Belajar membaca tidak sederhana. Dimulai dari bayi yang membaca emosi diri dan mengobservasi apa yang terjadi. Anak yang membedakan kanan dan kiri, mengeksplorasi bunyi dan pengalaman lain yang kadang tidak disadari, tapi sebenarnya bagian dari persiapan literasi dini. Berada di lingkungan yang kaya tulisan, seperti papan pengumuman atau koran di meja makan cukup untuk menunjukkan ke anak tentang pentingnya peraturan dan membuatnya mengenal pesan. Namun tidak ada yang lebih berkesan daripada orang dewasa dan teman sebaya yang meneladankan kegemaran bertukaran pikiran setelah menikmati bacaan. Karena dengan terlibat percakapan, anak belajar mendengarkan dan membuktikan kekuatan gagasan. Cita-cita agar literasi bisa membumi di negeri ini terasa hanya sekadar janji. Selama ini proses pendidikan menumbuhkan kegemaran membaca dengan sangat terbatas, menghafal lagu tentang vokal dan konsonan, kadang kala ditakuti ujian masuk sekolah dasar. Saat anak belum menguasai mekanik membaca, semua pemangku kepentingan “bekerjasama” membuatnya cepat bisa menamatkan buku. Guru PAUD khawatir dilabel tidak kompeten, orangtua ingin pamer anak pintar pada tetangga, toko buku bahkan tempat les membaca menyediakan sebanyak-banyaknya pilihan untuk anak usia dini. “Konspirasi” bertolak belakang terjadi saat anak sudah “bisa” membaca. Tugas bacaan di buku pegangan makin tidak relevan, semangat orang tua membacakan cerita tidak lagi jadi prioritas, bahkan penerbit dan pengarang buku pun tidak tertarik berusaha karena anggaran membeli bacaan terkalahkan biaya jajan atau permainan. Tidak heran hasil tes internasional menunjukkan walau anak Indonesia cukup mampu bersaing di pengukuran kemampuan dasar membaca usia dini, saat diukur beberapa tahun kemudian kita terus turun peringkat karena gagal memahami bacaan atau mengevaluasi informasi berkualitas. Tidak perlu tercengang, saat rasio antara warga dan perpustakaan kita cukup tinggi, pengunjung rutin bangunannya sering bisa dihitung jari. Dalam literasi kita seringkali mudah puas dengan pencapaian tujuan jangka pendek. Sulit untuk bisa mengharapkan ada perubahan signifikan bila propaganda pemerintah 72 tahun setelah kemerdekaan masih sekadar kesuksesan pemberantasan buta huruf. Tantangan masyarakat masa kini dan masa depan sudah banyak disuarakan, satu hal yang perlu reformasi segera adalah melek literasi. Reformasi tersebut adalah perjuangan melawan miskonsepsi literasi agar upaya menuju melek literasi mengarah pada tujuan esensial, bukan hanya untuk memenuhi kepentingan jangka pendek. Inilah lima miskonsepsi literasi Bukan hanya kemampuan membaca tapi juga kemampuan menalarLiterasi berkait kompetensi berpikir dan memproses informasi, karenanya bukan hanya soal keterampilan membaca apalagi mengeja. Seseorang dengan tingkat literasi tinggi, mempunyaikemampuan penalaran dan pemecahan masalah dalam berbagai bidang, berkait sains dan numerasi juga finansial. Belajar untuk membaca tapi tidak membaca untuk belajarBelajar untuk membaca berkait dengan kemampuan bahasa dalam mengenal huruf, mengeja dan instruksi yang cendrung lebih sederhana, bisa dikuasai di tingkat dasar dalam waktu singkat. Membaca untuk belajar adalah kemampuan lintas disiplin yang menempatkan membaca sebagai alat untuk memahami dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan. Membaca bukan tujuan akhir, tapi alat untuk tujuan belajar yang lebih besar. Aktif membaca tapi tidak membaca aktifMembaca banyak tulisan, tidak otomatis meningkatkan kemampuan, malah terkadang menurunkan minat atau menghasilkan pengetahuan yang tidak tepat. Kunci keberhasilan dari setiap aktivitas membaca adalah membaca aktif. Memprediksi isi bacaan atau berempati dengan latar belakang penulis sebelum membaca, mempertanyakan argumen dan beridentifikasi dengan karakter selama membaca, menyimpulkan dan mengaplikasikan dengan hal yang relevan dalam kehidupan sesudah membaca. Jangan bangga pada jumlah buku atau lama waktu membaca, belajar terjadi dari interaksi dengan literasi. Tidak menghubungkan kemampuan menulis dengan kemampuan membacaSalah satu cara paling efektif meningkatkan kemampuan sebagai penulis adalah pelajaran dari bacaan berkualitas. Semakin beragam bacaan, dari sudut genre, format ataupun penulis yang dipaparkan … Read more

Budaya Literasi Pendidik

Semua proses pembelajaran itu pahit. Mengapa pahit? Karena ada proses panjang dan tidak enak harus dilalui untuk meraih sebuah tujuan. Mereka yang ingin bergabung di dunia pendidikan adalah mereka yang rindu dengan masa lalu. Masa lalu saat awal belum mengenal baca dan tulis sampai akhirnya meraih impian yang sejak dulu di impikan baik sesuai cita-citanya maupun berbeda dengan cita-citanya. Ketika melihat gurunya, ia akan ingat masa lalu saat masih sekolah. Ketika melihat anak bersekolah, ia akan ingat kenangan masa lalu. Kenangan mengingat siapa itu guru, mengingatkan saya waktu masih duduk di kelas 3 SD, ada sebuah kegiatan yang dilakukan yaitu “Setor Moco” apa itu? Ya. Karena di kelas 3 nantinya ada tes kemampuan dasar, setiap 5 hari sekali kami harus menyetorkan buku fiksi yang harus selesai kami baca dan dibuat resume, awalnya memang terasa sangat malas, membosankan, menghabiskan waktu bahkan mengurangi jam bermain. Ternyata, setelah dilaksanakan asyik juga, maklum saja buku fiksi merupakan salah satu buku yang menjadi favorit anak karena terdapat gambar dan alur cerita yang seru. Semenjak itu saya juga suka bercerita dan mengekspresikan apa yang saya alami ke dalam sebuah cerita yang sering kita sebut dengan buku diari. Ternyata melalui sebuah pembudayaan dapat memberikan dampak positif bagi kita. Pengalaman waktu masih SD dulu tentang membaca, coba saya terapkan saat menjadi guru, bagaimana cara mengajak anak untuk menyukai bacaaan, menyukai judul buku, menyukai isi buku, bahkan beberapa yang awalnya sama sekali tidak tertarik untuk melihat buku, sekarang menjadi terbiasa untuk membaca. Bukan hanya sekedar membaca tetapi memahami isi bacaan buku, menjadi aktif membaca. Pernah suatu ketika saya sangat malas mengajak anak untuk membuka buku cerita yang tersedia di lemari, biasanya sebelum istirahat ada waktu “Semaan Baca” seperti kegiatan membaca anak satu persatu, lalu ada anak yang mendekat dan bilang “Bu, kenapa saya tidak disuruh untuk membaca? Saya tidak mau istirahat sebelum diminta untuk membaca”. Semenjak saat itu membaca bukan lagi sebuah keharusan tetapi menjadi sebuah kebudayaan yang melekat bagi anak. Kebudayaan yang sering kita sebut dengan budaya literasi. Melalui Temu Pendidik Daerah Komunitas Guru Belajar Kudus yang dilaksanakan pada 13 Januari 2019 yang lalu, Guru Galih Adhyatomo sebagai narasumber mengajak membahas topik budaya literasi ini. Literasi, Sebagian besar orang  hanya menganggap bahwa literasi identik dengan membaca, sebenarnya lebih dari itu literasi bukan hanya tentang membaca. Dengan literasi seorang mampu membaca sekitar. Setelah melihat,  membaca dan memahami ia mampu memprediksi isi bacaan, latar belakang penulis bahkan dapat diaplikasikan dalam tulisan maupun kehidupan sehari-hari. Dengan mengembangkan literasi maka akan berkembang pula skill seseorang dalam membaca aktif. Bagaimana ia mampu  mengaplikasikan hasil bacaan baik dengan buku maupun tidak. Semakin banyak sumber yang dibaca seseorang, maka semakin banyak pula kosakata yang di miliki. Sebagian besar orang mengukur kecakapan atau kemampuan seseorang dari bahasanya. Sebenarnya semua orang sama, tidak ada yang cerdas dan tidak. Hanya saja orang yang cerdas sering mendengar, melihat, dan memahami bahasa orang lain serta mampu menyinkronkan keduanya menjadi tulisan dan rangkaian kata. Salah satu cara pengaplikasikan budaya literasi memang sedikit sulit untuk diterapkan. Dibutuhkan keseriusan serta kesabaran untuk mengajak membudayakan literasi. Murid merupakan gambaran dari gurunya. Guru perlu mampu untuk menjalin hubungan dengan murid secara memanusiakan. Memanusiakan hubungan itu perlu. Apalagi hubungan berdasarkan emosi, sosial, hubungan guru, anak, orang tua dan steakholder. Belajar membaca Membaca dimulai dari mengenal huruf, mengenal kosa kata, mengenal kata, dan mengenal kalimat. Baru mengenal membaca secara aktif. Berdasarkan data tentang literasi yang dikumpulkan oleh beberapa lembaga survey menunjukkan bahwa warga Indonesia lebih mempercayai media sosial dan langsung menjadikannya sebagai sumber tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu. Dan yang lebih mencemaskan lagi warga Indonesia dalam kurun waktu 1 tahun hanya mampu menghabiskan 2 buku untuk dibaca. Ini menunjukkan bahwa minat baca warga Indonesia sangat rendah. Untuk apa murid kita diminta untuk membaca banyak tanpa mengetahui isi bacaan dan hanya sekedar membaca. Dibutuhkan panutan seperti guru yang mampu mendorong murid untuk mau membaca. Mudik dilanjutkan dengan sesi pertanyaan Sebagai penanya pertama Guru Etika Puspa Sari mengajukan. “Bagaimana cara membudayakan kebiasaan literasi bertahan lebih lama?” Di sekolah saya setiap hari sabtu diadakan pojok literasi, siswa bisa membaca buku yang mereka bawa sendiri dari rumah. Kegiatan membaca hanya bertahan beberapa menit saja dan selebihnya ramai sendiri, bagi yang memang memiliki hobi membaca ia akan melanjutkan bacaannya namun yang tidak memiliki hobi membaca meraka akan gaduh. Guru Galih Adhyatomo sebagai narasumber memaparkan bahwa anak SMP dan SMA merupakan masa dimana anak berada di tahap peralihan jati diri, rasa ingin tahu tinggi terhadap segala hal, kembali kita sebagai guru mencoba msauk ke dunia mereka, karena mereka berada di fase peralihan dari Tayo-Tayoan ke Black Pink. Buat mereka menyukai dulu apa itu membaca, buat mereka menceritakan dalam tulisan apa yang merekan sukai kemudian memaparkan isi cerita tersebut ke depan kelas, pasti sangat seru dan menyenangkan. Diskusi dilanjutkan melalui pertanyaan kedua Guru Shofi. “Bagaimana menerapkan budaya literasi yang lebih identik dengan membaca aktif untuk kelas 1 dan 2, yang notabennya ada beberapa anak yang belum bisa membaca?” Menurut Guru Galih, untuk kelas rendah bisa dengan cara mendongeng atau guru mencontohkan. Karena pada fase ini anak lebih banyak meniru dan melihat, belum mampu menuliskan lewat kata-kata. Kita bisa memancing mereka dengan hal-hal yang ringan dulu yang menjadi kesukaan meraka. Seperti tayo-tayo, spiderman, dan lain-lain. Sesekali pancing mereka untuk bercerita sebelum masuk materu yang berat-berat. Kalau kadang orang dewasa saja merasa malas untuk membaca buku yang tebal apalagi anak-anak. Anak lebih tertarik dengan buku yang memiliki warna dan gambar yang beragam. Tanggapan datang dari Guru Arif tentang cara untuk menyesuaikan pada perkembangan anak kelas bawah. Anak bisa menonton tayangkan film yang mengacu untuk berpikir lebih kritis. Seperti pada film anak “Jalan Sesama” ada salah satu tokoh yang bernama Jabrik, dalam cerita di jelaskan bahwa jabrik akan pergi ke stasiun untuk melihat peswat terbang, kemudian salah satu temannya menegur jabrik bahwa di stasiun tidak ada pesawat terbang. Dan di akhir cerita baru diketahui bahwa di stasiun jabrik ingin melihat pesawat terbang yang dibawa oleh pamannya. Pada certia tersebut dapat dijadikan sebagai pemacu anak untuk lebih menalar. Sebagai penanya terakhir Guru Nailil turut bertutur tentang pengalaman dirinya. Saya mengajar di … Read more