Pelatihan Keterampilan Belajar untuk Murid Disabilitas

Keysia adalah murid penyandang tunadaksa yang memiliki hobi di bidang komputer dan memiliki cita-cita untuk berkuliah di Udinus Semarang. Pagi itu Keysia diantar oleh gurunya Pak Purwanto menuju ruang pelatihan keterampilan belajar untuk murid disabilitas. Ia melaju dengan kursi rodanya dengan menebar senyum kepada setiap teman yang ditemuinya. Lain cerita dengan Anas. Jauh-jauh datang dari Kebumen dengan diantar bapaknya, Anas rela datang ke Semarang satu hari sebelum pelaksanaan pelatihan. Murid kelas XII dari SMA Prembun ini yang juga penyandang tuna ganda bercita-cita ingin menjadi guru dan berkuliah di UNY. Keysia dan Anas merupakan dua orang murid disabilitas yang mendapat beasiswa untuk mengikuti pelatihan keterampilan belajar sebagai persiapan untuk menuju bangku perkuliahan. Perjalanan Program Pendidikan Untuk Semua yang dilaksanakan oleh Nusantarun merupakan perjalanan yang cukup panjang dan tidak mudah. Sangat bahagia rasanya, saya bisa mendampingi program sampai pada di titik ini. Program demi program telah dilalui mulai dari Pelatihan Pemetaan Potensi Murid Disabilitas untuk Guru BK/Pendamping Sekolah Inklusi, pemberian beasiswa TPN untuk guru, Seminar Orangtua Murid Penyandang Disabilitas, dan yang terakhir baru saja dilaksanakan Pelatihan Keterampilan Murid Disabilitas.  Bertempat di gedung BP2KLK Semarang sebanyak 45 murid disabilitas dari berbagai SLB dan sekolah inklusi di Jawa Tengah yang mendapat beasiswa mengikuti pelatihan keterampilan belajar sebagai persiapan menuju bangku perkuliahan. Saya merasa terharu ketika bertemu dan dapat berinteraksi langsung dengan mereka. Dari pelatihan ini saya bisa merasakan bagaimana semangat dan antusias murid disabilitas kelas XII ini untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Acara berlangsung selama dua hari mulai dari tanggal 10-11 Maret 2020. Kegiatan dimulai dengan orientasi pelatihan. Peserta dibagi kedalam 5 kelompok, masing-masing kelompok ada 1 pendamping. Yang menarik adalah setiap kelompok terdiri dari murid dengan berbagai jenis disabilitas. Kemudian masing-masing kelompok diminta duduk membuat lingkaran kecil. Peserta secara bergantian diminta berkenalan dengan menyebutkan nama dan mengatakan kesenangan sambil diperagakan. Kegiatan perkenalan ini membuat murid saling mengenal nama dan kesenangannya satu sama lain. Sehingga mulai dari topik tersebut, terjalinlah komunikasi diantara mereka. Namun yang menjadi tantangan adalah bagaimana anak dengan jenis disabilitas yang berbeda bisa saling memahami apa yang disampaikan. Misalnya anak tunarungu dengan tunanetra, anak autis dengan anak tunarungu, ataupun sebaliknya. Oleh karena itu, peran pendamping kelompok dan penerjemah bahasa isyarat sangat membantu dalam kegiatan ini. Peserta juga tampak saling membantu karena melihat kesulitan yang dihadapi teman lainnya.  Selanjutnya Bu Wani sebagai pelatih menyampaikan materi tentang keterampilan belajar. Apa saja keterampilan yang perlu disiapkan untuk murid siap kuliah? Keterampilan komunikasi? Keterampilan belajar? Biasanya seorang mahasiswa mendengarkan penjelasan materi kuliah dari dosen atau melakukan presentasi dengan menampilkan slide power point. Dalam kegiatan ini, peserta berlatih memberikan pendapat tentang bagaimana membuat slide presentasi yang baik dengan kegiatan identifikasi dua slide presentasi yang berbeda. Peserta kemudian diminta oleh Pelatih untuk menuliskan perbedaannya dan menuliskan bagaimana membuat slide presentasi yang baik dan mudah dipahami serta bagaimana menyampaikan presentasi dan menangkap materi supaya bisa dipahami. Tujuan dari kegiatan ini bagi murid adalah untuk mengetahui bahwa komunikasi yang digunakan harus jelas. Misalnya pada tunanetra, slide dijelaskan secara verbal konten yang dimuat, sedangkan untuk sebagian besar anak yang bukan tuna netra lebih nyaman berkomunikasi melalui gambar atau bahasa isyarat. Pada intinya, cara berkomunikasi yang digunakan setiap anak akan berbeda menyesuaikan dengan keunikan anak.  Sesi berikutnya peserta diajak mengenali diri dengan membuat peta berpikir. Kemudian masing-masing peserta dipandu untuk melakukan presentasi dari gambaran diri yang sudah dibuat di depan teman-teman kelompoknya. Bu Wani mengingatkan bahwa untuk melakukan presentasi yang baik perlu memiliki keterampilan komunikasi. Uniknya, dalam melakukan presentasi peserta tuna rungu menunjukkan usahanya melakukan presentasi dengan sebaik mungkin dengan membuat gambar yang menarik dan tulisan-tulisan pada peta berpikir serta dengan bantuan penerjemah bahasa isyarat sehingga bisa dipahami oleh teman-teman lainnya yang menyimak presentasi. Setelah semua peserta melakukan presentasi, peserta dipandu pelatih untuk berefleksi dengan diminta menyebutkan kembali hal apa saja yang diperlukan untuk melakukan presentasi yang baik dan memahami hal apa yang perlu ditingkatkan ketika melakukan presentasi. Peserta juga diminta untuk mengungkapkan perasaannya sebelum dan setelah presentasi dan dituangkan ke dalam post-it. Ardyan, salah seorang murid tuna rungu menuliskan “Sebelum presentasi yang aku rasakan : malu, tegang, grogi. Setelah presentasi : senang, lega dan puas”. Lain hal nya dengan Ayu yang merupakan siswa tunanetra, dirinya mengungkapkan “Saya percaya diri, dan saya juga merasa senang karena saya bisa mempresentasikan diri saya sendiri. Meskipun awalnya merasa takut”. Hari terakhir, Bu Wani menginstruksikan kepada para peserta untuk berdiskusi dalam kelompoknya dan menyampaikan ide tips siap kuliah. Mereka dibantu oleh pendamping berbagi tugas sesuai dengan keterampilan yang dimiliki. Misalnya dalam menyelesaikan tantangannya siswa tunanetra dan tunadaksa bertugas memberikan ide-ide nya sedangkan siswa tunarungu dan autis bertugas memvisualisasikan ide-ide tersebut ke dalam poster. Setiap kelompok memiliki cara yang unik dalam melakukan diskusi dan menyelesaikan tantangan. Ini pertama kalinya saya melihat anak-anak berkebutuhan khusus dengan jenis disabilitas yang berbeda-beda saling berdiskusi dalam kelompok dan saling bekerjasama menyelesaikan tantangan. Di luar dugaan saya, ternyata mereka bisa saling berkolaborasi bahkan dengan cara-cara yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Setelah semua kelompok menyelesaikan poster kemudian poster ditempel di dinding agar kelompok lain bisa melihat. Sesi materi ini ditutup oleh Bu Wani dengan menuliskan refleksi mengenai apa saja yang sudah dipelajari selama dua hari mengikuti pelatihan.  Sesi selanjutnya disampaikan oleh Bu Winda yang menjelaskan terkait beasiswa Nusantarun di empat perguruan Tinggi yang sudah bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal. Dalam sesi ini, para murid terlihat sangat antusias bertanya kepada Bu Winda mengenai teknis, timeline, dan seleksi masuk ke perguruan tinggi. Kemudian pelatihan ditutup dengan cerita dari kakak-kakak pelari Nusantarun yaitu Kak Amin dan Kak Fifin yang juga sekaligus menjadi pendamping murid pada pelatihan. Sembari memutarkan video, Kak Fifin dan Kak Amin menceritakan kisah para pelari Nusantarun yang berjuang untuk mengumpulkan donasi dan berkomitmen lari dari Wonosobo ke Gunungkidul dengan menempuh jarak 169 km demi membantu murid-murid disabilitas untuk dapat melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. “Kak Fifin dan Kak Amin ada disini untuk kalian. Kak Fifin berlari karena Kak Fifin sayang sama kalian semua. Kalian adalah inspirasi dan semangat buat kak Fifin untuk berlari. Kak Fifin ingin kalian jangan pernah menyerah ya adik-adik. Terus belajar dan raih cita-cita kalian. Kalian … Read more

Murid Sulit diatur, Guru Jenuh Menegur, Apa solusinya?

Temu Pendidik Nusantara 2019 yang diselenggarakan tanggal 25-27 Oktober 2019 menyisakan sebuah tanya bagi guru. Lalu apa setelah ini? Salah satu hal yang bisa dilakukan yaitu berbagi praktik baik dengan rekan seperjuangan di dunia pendidikan. Tidak terkecuali bagi Bu Ika. Jauh-jauh datang dari Semarang dengan membawa semangat merdeka belajar, sepulang TPN 2019 dirinya menerapkan ilmu yang didapat untuk dipraktikkan di ruang kelas dan membagikan praktik baiknya dengan guru-guru lainnya di grup WA dalam diskusi daring Grup Intervensi dengan tema “Murid Sulit diatur, Guru Jenuh Menegur, Apa solusinya?” yang dilaksanakan pada hari Rabu, 27 November 2019. Bu Ika merupakan salah seorang guru BK yang mendapatkan beasiswa pelatihan dari Nusantarun dan Kampus Guru Cikal beberapa waktu lalu di Semarang dan berkesempatan mengikuti TPN 2019. Bu Ika bercerita bagaimana dirinya mengelola kelas. Sebagai Guru BK, saat itu Bu Ika merasa resah ketika menemukan banyak permasalahan di kelasnya. Mulai dari penataan posisi kursi dalam kelas yang amburadul, banyak meja kursi yang tidak terpakai di dalam ruangan kelas, banyak murid yang curhat kelasnya mulai tidak nyaman, dan juga adanya kesalahpahaman antar siswa sehingga membuat kelas menjadi sepi dan tidak saling menyapa satu dengan lainnya. Guru-guru mata pelajaran juga seringkali mengeluhkan bahwa murid sangat sulit diatur padahal guru sudah berkali-kali memberikan teguran. Berawal dari keresahan tersebut, bu Ika berinisiatif untuk meminta izin kepada kepala sekolah untuk mengisi jam pelajaran guru lain karena sebagai guru BK biasanya tidak diberikan jam pelajaran mengisi kelas. Selama bu Ika mengisi kelas , ia menerapkan ilmu yang didapatkan selama mengikuti kelas kompetensi di TPN terkait strategi pengelolaan kelas. Ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas diantaranya : penataan kelas, kesepakatan, kebiasaan, pengelompokan, komunikasi dan motivasi. Bagaimana bu Ika menerapkan strategi pengelolaan tersebut di kelasnya?   Bu Ika bercerita bahwa awalnya ia mulai dengan penataan kelas dengan mengubah letak tempat duduk yang biasanya hanya empat berderet memanjang menjadi letter U. Selain mengubah tempat duduk menjadi letter U, dirinya juga memajang papan kebaikan yang dipajang di dinding kelas, membuat mading class, mengadakan counseling class, membuat birthday chart, pojok literasi dan menggantungkan tulisan berisi cita-cita siswa di langit-langit kelas. Beberapa hari setelah penataan kelas tersebut, banyak rekan guru-guru mapel yang lain merespon baik dan merasakan manfaat dari penataan kelas yang lebih variatif. Murid jadi tidak jenuh di kelas dan guru bisa lebih menguasai kelas. “Bu Ika, sekarang anak-anak kelas X.IA makin antusias bu belajarnya. Biasanya anak-anak kalau nggak geger ngobrol dewe ya ngantuk. Sekarang jadi lebih fokus belajarnya. Maturnuwun nggih bu Ika ” ujar salah seorang guru yang mengajar kelas tersebut.  Setelah selesai penataan kelas, bu Ika mulai dengan strategi berikutnya yaitu komunikasi. Awalnya, terdapat murid yang merasa tidak nyaman ketika belajar karena teman yang duduk di depan bangku murid tersebut badannya lebih besar sehingga menyulitkan dalam memperhatikan pelajaran dan keduanya seringkali berselisih. Kemudian bu Ika mengajak murid-muridnya di kelas untuk bermain game. Murid diminta untuk menuliskan nama-nama mereka dan menempelnya di lantai. Kemudian murid diminta menyusun mulai dari nama yang terpanjang dan kemudian disusul dengan nama-nama yang lainnya. Dengan permainan tersebut, murid yang berselisih paham tersebut bisa saling kolaborasi, terjalin komunikasi, dan bisa saling memaafkan satu dengan lainnya. Di akhir diskusi, bu Ika bercerita bagaimana dirinya membangun kesepakatan kelas. Setiap membuat kesepakatan kelas dirinya selalu melibatkan murid. Dengan melibatkan murid, murid merasa dirinya dihargai dan guru menjadi lebih mudah dalam melakukan pendekatan dan memberi masukan jika murid melakukan hal yang kurang  baik.